Anda di halaman 1dari 13

ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT

PENDIDIKAN

A. Filsafat Pendidikan Idealisme
B. Filsafat Pendidikan Realisme
C. Filsafat Pendidikan Materialisme








Filsafat pendidikan merupakan terapan dari
ilmu filsafat secara umum. Dalam mempelajari
filsafat terdapat beberapa aliran pemikiran:
Idealism, Realism, Perennialism, Essensialism,
Pragmatism, Progressivism dll. Aliran
Idealisme dan Realisme adalah dua aliran
klasik dari barat yang masih bertahan hinga
kini

A. Filsafat Pendidikan Idealism

1. Konsep dasar Aliran Idealisme

Menurut paham Idealisme bahwa yang sesungguhnya nyata
adalah ruh, mental atau jiwa. Alam semesta ini tidak akan berarti
apa-apa jika tidak ada manusia yang punya kecerdasan dan
kesadaran atas keberadaannya. Materi apapun ada karena diindra
dan dipersepsikan oleh otak manusia. Waktu dan sejarah baru ada
karena adanya gambaran mental hasil pemikiran manusia. Dahulu,
sekarang atau nanti adalah gambaran mental manusia. Ludwig
Noir berpendapat "The only space or place of the world is the
soul," and "Time must not be assumed to exist outside the soul.
2. Epistimologi Idealisme dalam pendidikan
Apa yang harus diketahui sesungguhnya sudah
ada dalam jiwa. Tugas pendidik adalah membuat
pengetahuan yang tersimpan dalam hati ini
menjadi kesadaran. Para mendidik berusaha agar
murid mencapai keadaan kesempurnaannya.
Untuk mencapai manusia sempurna ini
seperangkat kurikulum disusun secara terstruktur
(bertingkat) dengan berdasarkan warisan
pemikiran terbaik generasi demi generasi
3. Axiologi pandangan Idealist
Bagi Idealist maka nilai-nilai mencerminkan
kebaikan yang terkandung pada alam semesta.
Nilai-nilai ini bersifat absolut, universal dan
tidak berubah. Tindakan etis muncul dari
warisan budaya. Pendidik mengajarkan
kepada murid-muridnya akan nilai-nilai unggul
dari mahakarya manusia yang bertahan dari
masa ke masa.

4. Pengaruh Idealisme di Ruang Kelas
Guru menjadi agen penting dalam menolong siswa
mengembangkan potensinya semaksimal mungkin.
Guru idealis menyajikan bahan belajar berupa warisan
budaya yang terbaik. Membuat siswa berperan dalam
menyumbangkan karya mereka untuk kebudayaan.
Sejarah dilihat sebagai cara melihat bagaimana
manusia besar memberikan sumbangsih pada dunia.
Guru akan menyajikan karya klasik terbaik dibidang
seni, literatur maupun musik untuk dipelajari dan
dinikmati.


B. FILSAFAT PENDIDIKAN REALISME

Istilah realisme berasal dari Bahasa Latin realis yang berarti
sungguh-sungguh, nyata benar. Realisme adalah filsafat yang
menganggap bahwa terdapat satu dunia eksternal nyata yang dapat
dikenali. Karena itu, realisme berpandangan bahwa objek persepsi
indrawi dan pengertian sungguh-sungguh ada, terlepas dari indra
dan budi yang menangkapnya karena objek itu memang dapat
diselidiki, dianalisis, dipelajari lewat ilmu, dan ditemukan hakikatnya
lewat ilmu filsafat Maka penganut aliran filsafat realisme
berkeyakinan bahwa objek indera kita adalah riil atau sungguh-
sungguh nyata adanya. Realisme juga berkeyakinan bahwa alam
semesta hakikatnya berdiri sendiri diluar pikiran manusia (objektif).
Penekanan filosof Realisme adalah kepada dunia luar yang berdiri
sendiri.

1. KONSEP-KONSEP PENDIDIKAN REALISME

Metafisika
Realisme Rasional
Realisme Natural
Realisme Kritis

2. Prinsip-Prinsip Pendidikan Realisme

Belajar pada dasarnya mengutamakan perhatian pada peserta didik
seperti apa adanya. Hal ini guru harus memahami psikologi peserta
didik (siswa).
Inisiatif dalam pendidikan harus ditekankan pada pendidik bukan pada
anak. Guru menjadi contoh teladan bagi siswanya dan di saat
menyampaikan materi, guru harus lebih aktif agar pembelajaran
menyenangkan, tidak monoton dan siswa dapat memahami materi
secara keseluruhan.
Inti dari proses pendidikan adalah asimilasi dari subjek mater yang
telah ditentukan. Kurikulum diorganisasikan dan direncanakan dengan
pasti oleh guru. Secara luas lingkungan aspek materiil dan sosial
manusia, yaitu lingkungan keseharian siswa dalam berinteraksi juga
sangat menentukan bagaimana seharusnya siswa itu hidup.

3. FILOSOF-FILOSOF FILSAFAT PENDIDIKAN REALISME

Aristoteles
Johan Amos Comenius
Wiliam Mc Gucken
Francis Bacon
John Locke
Galileo
David Hume
John Stuart Mill

C. FILSAFAT PENDIDIKAN MATERIALISME

Materialisme mendasarkan bahwa sesuatu yang nyata
harus dapat diukur, diindra dan dibuktikan secara
nyata. Hal yang bersifat abstrak, gaib atau hanya ide
semata tidak boleh dijadikan dasar pijakan perbuatan
manusia. Materialisme sebagai dasar pemikiran Carl
Mark yang seperti inilah yang sering dipertentangkan
dengan idealisme agama. Menurut Mark konsep-
konsep yang diajukan agama (idealisme) seperti adanya
surga dan neraka merupakan candu agar orang lupa
kenyataan disekelilingnya.

Karakteristik umum materialisme pada abad delapan belas berdasarkan
pada suatu asumsi bahwa realitas dapat dikembangkan pada sifat-sifat
yang sedang mengalami perubahan gerak dalam ruang
(Randal,et.al,1942). Asumsi tersebut menunjukkan bahwa :

Semua sains seperti biologi,kimia,psikologi,fisika,sosiologi,ekonomi,dan yang
lainnya ditinjau dari dasar fenomena materi yang berhubungan secara kausal
(sebab akibat).jadi,semua sains merupakan cabang dari sains mekanika;
Apa yang dikatakan jiwa (mind) dan segala kegiatannya (berpikir,memahami)
adalah merupakan suatu gerakan yang kompleks dari otak,system urat saraf,
atau orga-organ jasmani yang lainnya.
Apa yang disebut dengan nilai dan cita-cita,makna dan tujuan hidup,
keindahan dan kesenangan, serta kebebasan,hanyalah sekedar nama-nama
atau semboyan, symbol subjektif manusia untuk situasi atau hubungan fisik
yang berbeda.

KESIMPULAN
Idealisme menetapkam bahwa kenyataan tersusun atas
gagasan-gagasan (ide)
Realisme menetapkan bahwa kita langsung
berhubungan dengan suatu dunia yang berada di luar,
bersifat materil, dan mandiri.
Materialisme merupakan salah satu aliran dalam dunia
filsafat. Materialisme adalah aliran yang memandang
bahwa segala sesuatu adalah relitas dan realitas
seluruhnya adalah materi belaka.