Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


2. 1. PENDAHULUAN
Air, merupakan sumber daya alam yang dapat memenuhi hajat hidup orang
banyak, oleh sebab itu perlu dilindungi agar dapat tetap bermanfaat bagi hidup dan
kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya. Hal ini berarti bahwa pemanfaatan
air untuk berbagai kepentingan harus dilakukan secara bijaksana dengan
memperhitungkan kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang.
Namun, sebagai akibat dari pesatnya proses pembangunan di segala bidang, baik
bidang pertanian, peternakan, industri dan lain-lain, serta laju pertumbuhan penduduk
yang sangat cepat seringkali pemanfaatan air tidak lagi dilakukan sebagaimana
mestinya. Hal ini memberikan dampak negatif yang tidak sedikit yaitu mempengaruhi
baik sifat fisik maupun sifat kimia air, sehingga menurunkan kualitas air.
Menurut PP. No 82 tahun 2001, menurut peruntukannya, air dapat dibagi atas 4 kelas
yaitu:
Kelas I : Air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung, tanpa
pengolahan terlebih dahulu.
Kelas II : Air yang dapat digunakan sebagai bahan air minum
Kelas III : Air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan
Universitas Sumatera Utara
Kelas IV : Air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, dan dapat
dimanfaatkan untuk usaha perkotaan, industri dan pembangkit listrik
tenaga air.

2. 2. SUMBER PENCEMARAN AIR
Sumber pencemaran air sangat ditentukan oleh jenis kegiatan serta pemanfaat
sumber daya air oleh manusia yang berada disekeliling air tersebut. Kualitas air
menjadi menurun sebagai akibat dari masuknya berbagai limbah, baik limbah cair
maupun padat kedalam aliran air ataupun danau. Limbah tersebut berasal dari:
1. Daerah pemukiman.
Yaitu berupa limbah domestik. Bahan pencemaran umumnya berupa bahan-bahan
organik seperti: karbohidrat, minyak dan lemak, protein dan lain-lain.
2. Daerah pertanian.
Bahan pencemar dapat berupa residu pestisida, pupuk dan lain-lain.
3. Daerah peternakan dan perikanan.
Bahan pencemar umumnya berupa sisa-sisa makanan ternak, kotoran ternak dan
lain-lain.
4. Kawasan industri.
Bahan pencemar dapat berupa bahan-bahan organik, unsur-unsur lain seperti
logam berat, serta barang berbahaya dan beracun lainnya.

Berbagai kegiatan/industri memang berpotensi menimbulkan pencemaran terhadap
kualitas lingkungan termasuk air, oleh sebab itu pemerintah telah menetapkan baku
Universitas Sumatera Utara
mutu limbah cair untuk berbagai jenis kegiatan maupun industri seperti yang diatur
pada KEPMEN LH. NO.51/ MENLH/10/1995, yang isinya antara lain perlu
dilakukan pengendalian terhadap pembuangan limbah cair ke lingkungan.
Yang dimaksud dengan baku mutu limbah cair adalah batas maksimum nilai-nilai
paremeter limbah cair yang diperbolehkan dibuang ke lingkungan (badan air).
Sedangkan limbah cair adalah limbah dalam wujud cair yang dihasilkan oleh suatu
kegiatan atau industri yang dibuang ke lingkungan dan diduga dapat menurunkan
kualitas lingkungan (air ).
Mutu limbah cair adalah keadaan limbah cair yang dinyatakan dengan debit
maksimum, kadar maksimum dan beban pencemaran.
Debit maksimum yaitu : debit tertinggi yang masih diperbolehkan dibuang
ke lingkungan.
Kadar maksimum yaitu : kadar tertinggi yang masih diperbolehkan dibuang
ke lingkungan.
Beban pencemaran maksimum : beban tertinggi yang masih diperbolehkan dibuang
ke lingkungan.

Itulah sebabnya sebelum dibuang ke sistem perairan, limbah cair terlebih dahulu
harus diolah pada Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL), sampai kualitas yang
dicapai memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Namum pada kenyatannya
kebanyakan industri maupun kegiatan lain masih membuang begitu saja limbahnya
kea badan air, tanpa mengolahnya terlebih dahulu. Hal inilah yang menyebabkan
terjadinya penurunan kualitas air.
Universitas Sumatera Utara
2. 3. DATA KUALITAS AIR
Kulaitas air ditenttukan oleh berbagai parameter antara lain parameter fisik
(warna, suhu, total padatan tersuspensi) dan parameter kimia (pH, DO, BOD, COD).
Jenis dan jumlah parameter yang dianalisis terhadap suatu badan air sangat
tergantung pada jenis kegiatan yang diprakirakan memberikan dampak terhadap
badan air tersebut.

2. 3. 1. Parameter Fisik
Ada beberapa parameter fisik yang menentukan kualitas air, antara lain:
a. Warna
Air alami, yang sama sekali belum mengalami pencemaran, berwarna bening,
atau sering dikatakan tak berwarna. Timbulnya warna disebabkan oleh kehadiran
bahan-bahan tersuspensi yang berwarna, ekstrak senyawa-senyawa organik ataupun
tumbuh-tumbuhan dan karena terdapatnya mikro organisme seperti plankton,
disamping itu juga akibat adanya ion-ion metal alami seperti besi dan mangan.
Komponen penyebab warna, khususnya yang berasal dari limbah industri
kemungkinan dapat membahayakan bagi manusia mau bagi biota air. Disamping itu
warna air juga memberi indikasi terdapatnya senyawa-senyawa organik, yang melalui
proses klorinasi dapat meningkatkan pertumbuhan mikro organisme air.
b. Bau dan Rasa
Air alami yang sama sekali belum tercemar dikatakan tidak berbau dan tidak
berasa. Air yang berbau sudah pasti menimbulkan rasa yang tidak menyenangkan.
Universitas Sumatera Utara
Adanya bau dan rasa pada air, menunjukkan terdapatnya organisme penghasil bau
dan juga adanya bahan-bahan pencemar yang dapat mengganggu kesehatan.
c. Suhu
Dalam setiap penentuan kualitas air, pengukuran suhu merupakan hal yang
mutlak dilakukan. Pengukuran suhu air biasanya dilakukan langsung di lapangan.
Suhu air yang normal berkisar 3
0
C dari suhu udara. Peningkatan suhu air bisa
disebabkan oleh berbagai hal, antara lain, air (sungai) yang dekat dengan gunung
berapi, ataupun akibat adanya pembuangan limbah cair yang panas ke badan air.
Disamping itu adanya limbah bahan organik, yang lebih lanjut mengalami proses
degradasi baik secara biologis maupun kima, seringkali meningkatkan suhu air.
Kenaikan suhu air dapat mengakibatkan kelarutan oksigen dalam air menjadi
berkurang, sehingga konsumsi oksigen oleh biota air juga menjadi terganggu .
d. Total padatan Tersuspensi (Total Suspended Solid,TSS)
Total padatan tersuspensi adalah bahan-bahan tersuspensi (diameter >1m) yang
tertahan pada saringan millipore dengan diameter pori 0,45 m. TSS terdiri atas
lumpur dan pasir halus serta jasad-jasad renik terutama yang disebabkan oleh kikisan
tanah atau erosi yang terbawa ke dalam badan air. Materi yang tersuspensi
mempunyai dampak buruk terhadap kualitas air karena mengurangi penetrasi
matahari ke dalam badan air, kekeruhan air meningkat yang menyebabkan gangguan
pertumbuhan bagi organisme produser.



Universitas Sumatera Utara
2. 3. 2. Parameter Kimia
Ada banyak parameter kimia yang menentukan kualitas air, namun yang
umum ada beberapa parameter, diantaranya:
a. pH
pH menunjukkan kadar asam atau basa dalam suatu larutan melalui
konsentrasi/aktifitas ion hidrogen (H
+
). Secara matematis dinyatakan sebagai:
pH = - log (H
+
).

H
+
selalu ada dalam keseimbangan yang dinamis dengan air(H
2
O) yang membentuk
suasana untuk semua reaksi kimiawi yang berkaitan dengan masalah pencemaran air,
dimana sumber ion hidrogen tidak pernah habis.
H
+
tidak hanya merupakan unsur molekul H
2
O saja, tetapi juga merupakan unsur
banyak senyawa lain. Dalam air murni, banyaknya molekul H
2
O yang terionkan ada
sebanyak 10
-7
, sehingga pH air dikatakan 7. Bila konsentrasi ion hidrogen bertambah,
maka nilai pH akan turun dan larutan disebut bersifat asam. Sebaliknya, jika
konsentrasi ion hidrogen berkurang, menyebabkan nilai pH naik dan larutan disebut
bersifat basa.
pH yang ideal bagi kehidupan biota air adalah antara 6,8 sampai 8,5. pH yang sangat
rendah, menyebabkan kelarutan logam-logam dalam air makin besar, yang bersifat
toksik bagi organisme air, sebaliknya pH yang tinggi dapat meningkatkan konsentrasi
amoniak dalam air yang juga bersifat toksik bagi organisme air.
pH air biasanya ditentukan langsung di lapangan dengan alat pH-meter, atau dapat
juga dengan kertas pH.
Universitas Sumatera Utara
b. Oksigen terlarut (DO)
Adanya oksigen terlarut dalam air adalah sangat penting untuk kelangsungan
kehidupan ikan dan organisme air lainnya yaitu untuk proses respirasi. Kemampuan
air untuk membersihkan pencemaran secara alamiah banyak tergantung pada cukup
tidaknya kadar oksigen terlarut. Adanya oksigen terlarut dalam air berasal dari udara
dan dari proses fotosintesa tumbuh-tumbuhan air. Kelarutan oksigen dalam air,
tergantung pada temperatur, tekanan atmosfer dan kandungan mineral dalam air.
Kelarutan maksimum oksigen dalam air, pada suhu 0
0
C yaitu sebesar 14,16 mg/L.
Sejalan dengan meningkatnya suhu, maka konsentrasi oksigen dalam air akan
berkurang.
Ada dua metode yang umum digunakan untuk analisa oksigen terlarut dalam air yaitu
dengan metode titrasi cara Winkler dan metode elektrokimia dengan alat DO-meter.
c. BOD
Angka BOD (Biochemical Oxygen Demand) atau disebut juga Kebutuhan
Oksigen Biokimiawi adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara
global proses-proses mikrobiologis yang sebenarnya terjadi di dalam air.
Angka BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme aerobik
untuk menguraikan hampir semua zat organik yang terlarut maupun yang tersuspensi
di dalam air. Pengukuran BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran
akibat air buangan penduduk ataupun industri dan untuk mendesain sistim
pengolahan biologis bagi air yang tercemar tersebut. Penguraian zat organik adalah
proses alamiah, yang kalau suatu badan air dicemari oleh zat organik maka selama
proses penguraiannya mikroorganisme dapat menghabiskan oksigen terlarut dalam air
Universitas Sumatera Utara
tersebut. Hal ini dapat mengakibatkan kematian ikan-ikan dalam air. Disamping itu
kehabisan oksigen dapat mengubah keadaan menjadi anaerobik sehingga dapat
menimbulkan bau busuk.
Pengukuran BOD didasarkan atas reaksi oksidasi zat organik oleh oksigen dalam air,
dan proses tersebut berlangsung disebabkan adanya bakter aerobik. Menurut
penelitian, untuk supaya 100% bahan organik terurai, diperlukan waktu kira-kira 20
hari. Namun dalam waktu 5 hari, pada temperatur inkubasi 20
0
C, bahan organik yang
dapat diuraikan mencapai 75%, sehingga waktu ini sudah dianggap cukup. Maka
timbullah istilah BOD
5
20
dapat ditentukan dengan mencari selisih antara harga DO
0
-
DO
5
dengan metode Azida modifikasi.
d. COD
Angka COD (Chemical Oxygen Demand) atau Kebutuhan Oksigen Kimiawi
adalah jumlah O
2
(mg) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi total zat-zat organik
yang terdapat dalam 1 liter sampel air. Angka COD merupakan ukuran bagi
pencemaran air oleh total zat-zat organik baik yang dapat diuraikan secara biologis,
maupun yang hanya dapat diuraikan dengan proses kimia.
Analisa COD berbeda dengan analisa BOD, namun perbandingan antara angka COD
dengan angka BOD dapat ditetapkan. Secara umum perbandingan BOD
5
/COD = 0,40
0,60. Pengukuran COD dilakukan dengan metode refluks titrimtri.



2. 4. Tawas
Universitas Sumatera Utara
Tawas (Alum) adalah sejenis koagulan dengan rumus kimia Al
2
(SO
4
)
3
.11 H2O
atau 14 H
2
O atau 18 H
2
O, umumnya yang digunakan adalah 18 H
2
O. Tawas
merupakan bahan koagulan yang paling banyak digunakan, karena bahan ini paling
ekonomis,mudah diperoleh di pasaran serta mudah penyimpanannya. Jumlah
pemakaian tawas tergantung kepada turbidity (kekeruhan) air baku. Semakin tinggi
turbidity air baku maka semakin besar jumlah tawas yang dibutuhkan. Pemakaian
tawas juga tidak terlepas dari sifat-sifat kimia yang dikandung oleh air baku tersebut.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
Al
2
(SO
4
)
3
2 Al
3
+ 3 (SO
4
)
-2
Air akan mengalami:
H
2
O H
+
+ OH
-
selanjutnya
2Al
+3
+ 6OH
-
2 Al(OH)
3
Selain itu akan dihasilkan asam
3 (SO
4
)
-2
+ 6H
+
3H
2
SO
4


Dengan demikian makin banyak dosis tawas yang ditambahkan maka pH akan
semakin turun, karena dihasilkan asam sulfat. Apabila alkalinitas alami dari air tidak
seimbang dengan dosis tawas perlu ditambahkan alkalinitas, biasanya ditambahkan
larutan kapur (Ca(OH)
2
) atau (Na
2
CO
3
). Reaksi yang terjadi:
Al
2
(SO
4
)
3
+ 3Ca(HCO
3
)
2
2 Al(OH)
3
+ 6CO
2

Al
2
(SO
4
)
3
+ 3Na
2
CO
3
+ 3H
2
O 2Al(OH)
3
+ 3 Na
2
SO
4
+ 3CO
2

Al
2
(SO
4
)
3
+ 3Ca(OH)
2
2Al(OH)
3
+ 3CaSO
4
Universitas Sumatera Utara
Gambar 2. 1. Reaksi penambahan larutan kapur

Koagulan yang berbasis aluminium seperti aluminium sulfat dan poly aluminium
klorida yang digunakan pada pengolahan air minum untuk memperkuat penghilangan
materi partikulat, kolloidal dan bahan-bahan terlarut lainnya melalui proses koagulasi.
Pemakaian alum sebagai koagulan dalam pengolahan air, sering menimbulkan
konsentrasi aluminium yang lebih tinggi dalam air yang diolah dari pada dalam air
mentah itu sendiri (Srinivasan).

2. 5. Aluminium
Aluminium merupakan logam yang paling banyak di dunia, ditemukan dalam
tanah, dalam air dan udara. Sekitar 6% kerak bumi terdiri dari aluminium. Elemen ini
adalah logam paling berlimpah yang secara alami terdapat di udara tanah dan air.
Oleh karena itu, eksposur lingkungan terhadap aluminium adalah memungkinkan
secara potensial. Perannya tidak bisa dihindari karena senyawa-senyawa aluminium
ditambahkan bukan hanya ke suplai air tapi juga kebanyak makanan dan obat yang di
proses (Tony Sarvinder Singh). Sifat-sifat kimia dan fisiknya membuatnya ideal
untuk berbagai jenis pemakaian. Misalnya, aluminium dan senyawa-senyawanya
sering digunakan dalam makanan sebagai aditif, dalam obat-obatan (misalnya
antacid), dalam produk konsumen (misalnya alat-alat masak dan aluminium foil) dan
dalam pengujian air minum (misalnya koagulan). Karena aluminium sangat pervasif
dalam lingkungan, pada titik yang tidak bisa dihindari, maka pengaruhnya terhadap
manusia menunjukkan hubungan antara intake aluminium dan dementia neurologis
Universitas Sumatera Utara
pada pasien dialisis ginjal (encephalopati dialisis). Akhir-akhir ini publik dan media
telah memperhatikan efek buruk yang mungkin dari aluminium terhadap kesehatan
manusia, termasuk perannya dalam penyakit Alzheimer, penyakit Parkison dan
Sclerosis lateral amyotropik (Lou Gehrings disease), juga mengenai resiko potensial
terhadap bayi yang minum formula bayi yang mengandung aluminium.

2. 6. Sulfur
Sulfur atau belerang adalah unsur kimia di dalam sistim periodik yang
mempunyai simbol S dan nomor atom 16. Sulfur bukan logam multivalen yang
berlimpah, tanpa rasa dan tanpa bau. Sulfur, dalam bentuk aslinya, adalah satu kristal
padat yang berwarna kuning. Dalam alam ia ditemukan dalam bentuk unsur murni
atau dalam bentuk mineral sulfida atau sulfat. Ia merupakan unsur penting untuk
kehidupan dan ditemukan dalam dua asam amino. Secara komersilnya, sulfur
digunakan terutama dalam baja dan juga digunakan secara meluas dalam mesiu,
korek api, racun serangga dan racun jamur.
Hidrogen sulfida (H
2
S) dikenal dengan nama sulfana, sulfur hidrida, gas asam (sour
gas), sulfurated hydrogen, asam hidrosulfurik, dan gas limbah (sewer gas). Asam
sulfida merupakan gas yang tidak berwarna, beracun, mudah terbakar dan berbau
seperti telur busuk. Gas ini dapat timbul dari aktivitas biologis ketika bakteri
mengurai bahan organik dalam keadaan tanpa oksigen (aktivitas anaerobik), seperti di
rawa, dan saluran pembuangan kotoran. Gas ini juga muncul pada gas yang timbul
dari aktivitas gunung berapi dan gas alam.

Universitas Sumatera Utara
2. 7. Tanaman Tebu
Tebu adalah tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula. Tanaman ini hanya
dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman ini termasuk jenis rumput-
rumputan. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih
1 tahun. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatra.
Untuk pembuatan gula, batang tebu yang sudah dipanen diperas dengan mesin
pemeras (mesin peras) di pabrik gula. Sesudah itu, nira atau air perasan tebu tersebut
disaring, dimasak, dan diputihkan sehingga menjadi gula pasir yang kita kenal. Dari
proses pembuatan tebu tersebut akan dihasilkan gula 5%, ampas tebu 90% dan
sisanya berupa tetes (molasse) dan air.

2. 8. Metode Analisis Parameter Air
2. 8. 1. Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)
Pada kondisi tertentu setiap zat-zat kimia mampu mengabsorpsi dan
memisahkan radiasi.prinsip tersebut diringkas oleh Hukum Kirchoff (1859). Para
sarjana kini dapat menggunakan prinsip ini seratus tahun kemudian, ketika A.
Waish (1995) dari australia menetapkan prinsip tersebut untuk menentukan elemen-
elemen kimia dengan Spektrum Serapan Atom (SSA).
Sejak dipekernalkan oleh A. Waslh metode SSA telah mengalami perkembangan
yang sangat pesat dan sampai saat ini dapat menentukan hampir keseluruhan unsur
logam yang terdapat dalam Jadwal Berkala (tabel periodik).

2. 8. 1. 1. Prinsip Dasar Analisis SSA
Universitas Sumatera Utara
Analisis SSA merupakan metode analisis untuk penentuan unsur atom
dalam keadaan gas (keadan dasar) bedasarkan serapan-serapan sinar yang mempunyai
jarak gelombang tertentu.
Kelebihan SSA adalah dapat menetukan logam dalam skala kualitatif karena
lampunya untuk setiap sampel tidak sama (untuk setiap logam Cd hanya dapat
digunakan lampu katoda Cd).

2. 8. 1. 2. Skema peralatan Spektrofotometer Serapan Atom


A B C D E F
Gambar 2.2. Sistematis ringkas dari alat SSA

A. Lampu katoda berongga
Lampu katoda berongga merupakan sumber sinar yang memancarkan
spektrum dari unsur logam yang akan dianalisa (setiap logam yang memiliki
lampu khusus untuk logam tersebut).

B. Chopper
Mengatur sinar yang dipancarkan.
C. Tungku
Tempat pembakaran (untuk memecahkan larutan sampel pada tetesan halus dan
meleburkannya ke dalam nyala untuk diatomkan).
Universitas Sumatera Utara
D. Monokromator
Mendispersi sinar yang ditransmisikan oleh atom.
E. Detektor
Mengukur sinar yang ditransmisikan dan memberikan signal sebagai respon
terhadap sinar yang diterima.
F. Rekorder
Untuk membaca nilai absorbansi (Khopkar, S.M.2002)

2. 8. 1. 3. Kegunaan Spektrofotometer Serapan Atom dalam Analisis Kimia
Sejak diperkenalkan oleh A. Walsh (1995) metode spektrofotometer
serapan atom (SSA) telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sampai saat
ini telah digunakan untuk mendeteksi (menganalisis) hampir keseluruhan unsur-unsur
logam yang tardapat dalam sistim periodik unsur. Metode SSA digunakan untuk
menganalisis sampel yang terdapat di dalam bentuk bahan-bahan biologi, pertanian,
makanan dan minuman, air tanah, pupuk, besi baja dan juga bahan-bahan pencemar
lingkungan. Pada tahun terakhir ini alat SSA semakin sensitif dan canggih dan dapat
digabungkan dengan komputer dalam pengolahan datanya.

2. 8. 2. Analisis Titrimetri
Analisis titrimetri merupakan analisis kimia kuantitatif yang dilakukan dengan
menetapkan volume suatu larutan yang kosentrasinya diketahui dengan tepat yang
diperlukan untuk bereaksi secara kuantitatif dengan larutan dari zat yang akan
Universitas Sumatera Utara
ditetapkan. Larutan dengan kosentrasi yang diketahui dengan tepat disebut larutan
standar.
Larutan standar ditambahkan dari dalam sebuah buret. Proses penambahan larutan
standar sampai reaksi tepat lengkap bereaksi, disebut titrasi, dan zat yang akan
ditentukan konsentrasinya disebut dititrasi. Titik pada saat reaksi itu tepat lengkap
bereaksi disebut titik ekivalen (Vogel, 1994).

2. 8. 3. pH Meter
pH Meter merupakan suatu alat yang berguna untuk mengukur pH larutan. pH
meter dapat juga digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi asam basa penganti
indikator. Alat ini dilengkapi dengan elektroda gelas dan elektroda kalomer (SCE)
atau gabungan dari keduanya/elektroda kombinasi (Sumar, 1995).
pH meter sebelum dipakai dikalibrasikan terlebih dahulu dengan menggunakan
larutan buffer pH 7. Elektroda pH meter dicelupkan ke dalam buffer 7, kemudian
skala pH meter disesuaikan, dan setelah itu dibilas dengan akuades. Sampel
dituangkan kedalam beaker gelas dan dicelupkan elektroda ke dalamnya, sampai
angka yang tertera tidak berubah.


3. 8. 4. Analisis Spektrofotometer Sinar Tampak
Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisis yang didasarkan pada
pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada
Universitas Sumatera Utara
panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi
difraksi dengan fototube.
Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel
sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran menggunakan
spektrofotometer ini, sering disebut dengan spektrofotometri.
Spektrofotometer sinar tampak adalah pengukuran panjang gelombang dan intensitas
sinar tampak yang diabsorbsi oleh sampel. Sinar tampak memiliki energi yang cukup
untuk mempromosikan elektron pada kulit terluar ke tingkat energi yang lebih tinggi.
Spektrofotometer sinar tampak digunakan untuk molekul dan ion anorganik atau
komplek di dalam larutan. Pengukuran sinar tampak pada panjang gelombang 400-
800 nm. Absorbsi sinar oleh larutan mengikuti hukum Lambert-Beer (Dachriyanus,
2004).
Hukum Beer : Absorbans, log (Po/P), radiasi monokromatik berbanding lurus dengan
konsentrasi sutu spesies penyerap dalam larutan.
Hukum Bouguer (Lambert) : Bayangkan suatu medium penyerap yang homogen
dalam lapisan-lapisan yang sama tebal. Tiap lapisan menyerap radiasi monokromatik
yang memasuki lapisan itu dalam fraksi yang sama seperti lapisan-lapisan lain.
Dengan semuanya yang lain sama, maka absorbans itu berbanding lurus dengan
panjang jalan yang melewati medium.

Gabungan Hukum Bouguer-Beer, sering di tuliskan sebagai:
A = abc atau A = bc
dengan A = absorbans
Universitas Sumatera Utara
= absorpsivitas molar (jika konsentrasi dalam molar) dengan satuan M
-
1
cm
-1

a = absorpsivitas (jika konsentrasi dalam %b/v) dituliskan E
1%
1cm

b = panjang jalan/kuvet
c = konsentrasi ( dalam molar atau %b/v)
Spektra absorpsi sering diyatakan dalam %T maupun dalam bentuk A (absorbansi).
Maka, A = log (%T)
A = log (P
o
/P), P
o
adalah daya cahaya masuk dan P adalah daya yang diteruskan
melewati sampel.


























Universitas Sumatera Utara