Anda di halaman 1dari 13

Macam-Macam Teknik Vokal dan Tips

Teknik Vokal Yang Baik



Teknik Vokal adalah cara memproduksi suara yang baik dan benar, sehingga suara yang keluar
terdengar jelas, indah, merdu, dan nyaring.
UNSUR-UNSUR TEKNIK VOCAL :
1. Artikulasi
ArtikulasiClick to show

Artikulasi sangat diwajibkan bagi seorang penyanyi, karena pesan sebuah lagu disampaikan
melalui syair yang dinyanyikan penyanyi tersebut.
Artikulasi berkaitan dengan bahasa yang digunakan pada lagu tersebut. untuk lagu berbahasa
Indonesia, latihan dapat Anda bagi menjadi dua, yaitu :
- Huruf Vokal/hidup
Huruf vokal terdiri dari huruf A, I, U , E, O. latihlah berulang-ulang melafalkan kelima huruf ini.
Buka mulut anda selebar-lebarnya sesuai dengan huruf yang anda lafalkan.
Perlu diperhatikan, setiap huruf harus dilafalkan dengan benar, huruf A harus benar-benar
berbunyi A bukan HA atau AH, huruf I bukan IH, huruf E, benar-benar berbunyi E bukan Ek,
dan seterusnya. Jadi latihlah selalu melafalkan huruf-huruf vokal ini secara rutin.
- Huruf Konsonan/mati
Huruf konsonan adalah huruf selain A,I,U,E dan O. lafalkan benar-benar huruf ini dengan baik.
Perlu diperhatikan pada huruf B, P, dan T, jangan melakukan penekanan yang berlebihan pada
ketiga huruf ini.
2. Pernafasan
PernafasanClick to show

Pernafasan ada dua yaitu pernapasan perut dan diafragma. Pada pernapasan perut, ronga perut
berfungsi untuk menyimpan udara, seseorang yang menggunakan pernapasan perut akan terlihat,
perutnya akan selalu bergerak seiring nafas orang tersebut. sedangkan pernapasan diafragma
menggunakan rongga dada untuk menyimpan udara. Dalam bernyanyi dan memainkan alat
musik tiup dianjurkan untuk menggunakan pernapasan diafragma ini. Dengan menggunakan
pernafasan diafragma, penggunaan udara/napas lebih efektif dalam membantu produksi suara.
Latihlah pernapasan ini, dengan cara menarik nafas dengan mengisi rongga dada, bukan perut.
Lalu buang/keluarkan nafas anda perlahan-lahan. Lakukan latihan ini bersamaan dengan latihan
huruf vokal A. I, U, E, O.
3. Solfegio
SolfegioClick to show

Latihan solfegio dapat dilakukan dengan bantuan gitar atau alat musik melodis lainnya. Misal
jika menggunakan gitar, petik satu senar/nada lalu ikuti dengan vokal anda. Tirulah nada gitar
tersebut seakurat mungkin dengan suara anda. Lanjutkan latihan dengan nada-nada lain. Latihan
ini berguna untuk melatif kepekaan anda terhadap nada, dan akurasi nada yang anda nyanyikan.
Pernafasan di bagi tiga jenis, yaitu :
* Pernafasan Dada: cocok untuk nada-nada rendah, penyanyi mudah lelah.
* Pernafasan Perut: udara cepat habis, kurang cocok digunakan dalam menyanyi, karena akan
cepat lelah.
*Pernafasan Diafragma: adalah pernafasan yang paling cocok digunakan untuk menyanyi,
karena udara yang digunakan akan mudah diatur pemakaiannya, mempunyai power dan stabilitas
vocal yang baik.
Teknik Vokal Yang Baik
Langkah-langkah teknik vocal yang baik dimulai dari :
PERNAPASAN
Pita suara manusia itu ibarat alat musik tiup. Penapasan menjadi kunci untuk membunyikan
instrumen tersebut. Jika teknik pernapasan benar, kata para ahli, maka setengah dari urusan
produksi suara sudah benar pula.
Ada tiga jenis pernapasan: pernapasan bahu, pernapasan dada, pernapasan perut. Teknik vokal
klasik menuntut PERNAPASAN DIAFRAGMA.
PITA SUARA LUWES
Syarat mutlak bernyanyi adalah pita suara dan tenggorokan yang luwes. Karena itu, perlu
pemanasan atau vokalisi setiap kali belatih atau sebelum naik ke panggung. Latihan dimulai
dengan suara lembut. Tenggorokan jangan tegang.
SIKAP MULUT
Jangan segan membuka mulut. Jangan takut wajah dan mulut Anda jelek dilihat orang lain.
Posisi mulut yang wajar, tidak dibuat-buat. Bibir sebaiknya membentuk corong ala trompet, tapi
tetap luwes.Rahang bawah perlu dibuka tutup secara luwes, khususnya sewaktu membawakan
nada-nada tinggi. Ini menghindari suara terjepit.Lidah bersikap luwes, tidak kaku.
ARTIKULASI VOKAL (HURUF HIDUP)
Lima huruf hidup alias vokal (a, i, u, e, o) harus dilatih terus-menerus pengucapannya. Mulut
dibuka lebar agar semua vokal tedengar jelas.
MERAWAT PITA SUARA
1. Jangan memaksakan diri menyanyikan nada tinggi-nada tinggi yang belum dikuasai. Pita suara
bisa aus.
2. Jangan minum es sebelum dan sesudah latihan atau hari yang sangat panas. Minuman yang
terlalu panas pun tidak dianjurkan. Nortier Simanungkalit, bapak paduan suara, juga melarang
penyanyi seriosa dan paduan suara menghindari wedang jahe.
3. Jangan memaksakan diri menyanyi ketika sedang sakit, batuk, pilek.
4. Hindari makanan berminyak, pedas, 3-4 jam sebelum menyanyi. Akan lebih afdal jika
penyanyi profesional tidak minum kopi, alkohol, dan merokok. Sebab, hal ini sangat
mempengaruhi pernapasan.
5. Biasakan minum segelas air putih ketika bangun tidur dan senam pagi sambil menghirup udara
bersih sebanyak-banyaknya.
6. Istirahat cukup. Tidak dianjurkan bergadang.
7. Jangan menyanyi dalam keadaan perut kosong atau terlalu kenyang. Ini mempengaruhi rongga
perut, diafragma, dan kualitas pernapasan.
8. Menyanyi dengan gembira, tidak tegang. Jangan bernyanyi hanya dengan suara, tapi juga
wajah Anda. Ekspresi atau penghayatan lagu mutlak perlu.

MENGGUNAKAN MIKROFON (MIKE)

1. Jaga jarak dengan mulut. Sekitar 20 cm dengan sudut 45 derajat. Jarak usahakan selalu sama.
Ketika nada tinggi, jauhkan mikrofon agar volume suara yang terdengar tidak terlalu keras.
2. Benyanyi dengan suara sedang. Fungsi mikrofon untuk mengeraskan suara. Maka, Anda tidak
perlu habis-habisan mengeluarkan suara. Suara terlalu keras akan berubah menjadi pecah dan
tajam.
3. Jangan mengambil napas yang dalam ke arah mikrofon. Sebab, suara napas Anda akan
terekam mikrofon yang sangat peka.
4. Rekam dan dengarkan suara Anda sendiri sebagai bahan evaluasi.





Teknik Vocal
TEKNIK VOCAL adalah : Cara memproduksi suara yang baik dan benar, sehingga suara yang
keluar terdengar jelas, indah, merdu, dan nyaring.

UNSUR-UNSUR TEKNIK VOCAL :
1. Artikulasi
Artikulasi sangat diwajibkan bagi seorang penyanyi, karena pesan sebuah lagu disampaikan
melalui syair yang dinyanyikan penyanyi tersebut.
Artikulasi berkaitan dengan bahasa yang digunakan pada lagu tersebut. untuk lagu berbahasa
Indonesia, latihan dapat Anda bagi menjadi dua, yaitu :

- Huruf Vokal/hidup
Huruf vokal terdiri dari huruf A, I, U , E, O. latihlah berulang-ulang melafalkan kelima huruf ini.
Buka mulut anda selebar-lebarnya sesuai dengan huruf yang anda lafalkan.
Perlu diperhatikan, setiap huruf harus dilafalkan dengan benar, huruf A harus benar-benar
berbunyi A bukan HA atau AH, huruf I bukan IH, huruf E, benar-benar berbunyi E bukan Ek,
dan seterusnya. Jadi latihlah selalu melafalkan huruf-huruf vokal ini secara rutin.

- Huruf Konsonan/mati
Huruf konsonan adalah huruf selain A,I,U,E dan O. lafalkan benar-benar huruf ini dengan baik.
Perlu diperhatikan pada huruf B, P, dan T, jangan melakukan penekanan yang berlebihan pada
ketiga huruf ini.

2. Pernafasan

Pernafasan ada dua yaitu pernapasan perut dan diafragma. Pada pernapasan perut, ronga perut
berfungsi untuk menyimpan udara, seseorang yang menggunakan pernapasan perut akan terlihat,
perutnya akan selalu bergerak seiring nafas orang tersebut. sedangkan pernapasan diafragma
menggunakan rongga dada untuk menyimpan udara. Dalam bernyanyi dan memainkan alat
musik tiup dianjurkan untuk menggunakan pernapasan diafragma ini. Dengan menggunakan
pernafasan diafragma, penggunaan udara/napas lebih efektif dalam membantu produksi suara.

Latihlah pernapasan ini, dengan cara menarik nafas dengan mengisi rongga dada, bukan perut.
Lalu buang/keluarkan nafas anda perlahan-lahan. Lakukan latihan ini bersamaan dengan latihan
huruf vokal A. I, U, E, O.

3. Solfegio

Latihan solfegio dapat dilakukan dengan bantuan gitar atau alat musik melodis lainnya. Misal
jika menggunakan gitar, petik satu senar/nada lalu ikuti dengan vokal anda. Tirulah nada gitar
tersebut seakurat mungkin dengan suara anda. Lanjutkan latihan dengan nada-nada lain. Latihan
ini berguna untuk melatif kepekaan anda terhadap nada, dan akurasi nada yang anda nyanyikan.

Pernafasan di bagi tiga jenis, yaitu :
Pernafasan Dada: cocok untuk nada-nada rendah, penyanyi mudah lelah.
Pernafasan Perut: udara cepat habis, kurang cocok digunakan dalam menyanyi, karena akan
cepat lelah.
Pernafasan Diafragma: adalah pernafasan yang paling cocok digunakan untuk menyanyi, karena
udara yang digunakan akan mudah diatur pemakaiannya, mempunyai power dan stabilitas vocal
yang baik.
Daftar Istilah

Daftar istilah vokal dalam bernyanyi
PERHATIAN: Dilarang copy paste konten dari situs ini!

A Capella: Bernyanyi tanpa iringan alat musik.
Accent (Aksen): Pemberian penekanan pada nada tertentu.
Accompaniment: Instrumentasi pengiring.
Accompanist: Pengiring
Alto: Jenis suara pada wanita di bawah soprano.
Aria: Sebuah lagu solo dalam opera.
Arpeggio: Nada-nada dalam kord yang dibunyikan secara berurutan, bukan secara bersamaan.
Art Song: Dalam musik klasik, lagu yang tidak ditulis untuk opera namun dinyanyikan dengan
gaya klasik.
Articulation (Artikulasi): Pembentukan kata-kata dalam lirik.
Attack: Cara mengawali sebuah nada.
Baritone: Jenis suara pria di antara tenor dan bass.
Bass: Jenis suara pria di bawah baritone.
Bel Canto: Cara bernyanyi yang mengutamakan keindahan suara dan bukan pada akting dan
emosi.
Belting: Menyanyikan nada tinggi dengan tenaga dan kualitas dari chest voice. (Ada beberapa
definisi belting versi lain)
Blend: Transisi yang halus antara chest head voice.
Break: Perubahan secara tiba-tiba dari chest voice ke head voice atau falsetto.
Breath Support: Pengunaan nafas yang efektif saat bernyanyi, dikendalikan diafragma.
Countertenor: Penyanyi pria yang bernyanyi dalam falsetto, di atas range vokal pria pada
umumnya.
Covering: Istilah dalam vokal klasik yang menggambarkan tone yang lebih dark.
Chest Voice: Wilayah nada penyanyi seperti ketika berbicara atau lebih rendah. Kualitasnya
lebih tebal dari head voice.
Croon: Gaya bernyanyi yang ringan seperti berbicara. Misalnya Frank Sinatra.
Dehydration (Dehidrasi): Kekurangan cairan.
Diaphragm (Diafragma): Otot berbentuk kubah di dasar paru, memisahkan rongga dada dan
perut. Fungsinya mengatur pernafasan.
Diction (Diksi): Kejelasan dalam mengucap kata-kata.
Dramatic: Dramatic tenor, atau dramatic soprano, gaya menyanyi yang lebih tebal dari
kebalikannya yaitu lyric.
Dynamics (Dinamika): Variasi keras dan lembutnya bernyanyi.
Falsetto: Wilayah nada yang tinggi seperti head voice, tetapi kualitasnya lebih tipis dan
mendesah.
Frequency (Frekuensi): Jumlah getaran dalam bunyi. Menentukan tinggi rendahnya nada.
Glottal Attack: Memulai nada dengan huruf hidup dengan kasar.
Head Voice: Wilayah nada yang lebih tinggi dengan kualitas yang lebih tipis dan lebih bright
dari chest voice. seperti suara Mickey Mouse.
Intonation (Intonasi): Ketepatan pitch atau tinggi-rendah nada dalam bernyanyi.
Lead Sheet: Lembaran kertas notasi musik yang berisi kord, nada melodi, serta lirik.
Legato: Perpindahan dari nada ke anda lain dengan halus dan tidak terputus. Kebalikan dari
Staccato.
Lyric: Kebalikan dari dramatic di atas.
Marking: Cara bernyanyi setengah tenaga ketika penyanyi sedang lelah suaranya, dan tidak
menyanyi kalimat secara full, hanya bagian depan setiap frase.
Mezzo-soprano: Jenis suara wanita di bawah soprano dan di atas alto.
Mix Voice: Gabungan antara suara chest voice dengan head voice. Biasanya digunakan untuk
menyanyikan nada tinggi dengan lantang tetapi tetap halus.
Nodes/Nodule: Sejenis polyp, benjolan, pada pita suara yang membuat pita suara tidak bisa
berfungsi dengan semestinya. Penyebab pada umumnya adalah penyalahgunaan vokal serta
penggunaan vokal terus-menerus tanpa istirahat.
Operetta: Jenis pertunjukkan yang berdiri di antara opera dan teater musikal.
Passaggio: Atau biasa disebut bridge, adalah transisi antara ruang resonansi suara penyanyi.
Misalnya transisi dari chest voice ke head voice.
Phrasing (Frasering): Cara memenggal kalimat dalam lirik. Biasanya untuk mengatur nafas.
Pitch: Tinggi atau rendahnya nada.
Placement: Penempatan resonansi suara pada penyanyi. Idealnya penempatan di depan wajah
agar suara jelas dan nyaring.
Projection: Pancaran suara penyanyi dalam ruang pertunjukkan. Bisa juga mengacu kepada
ekspresi yang seorang penyanyi pancarkan.
Range: Wilayah nada yang dimiliki penyanyi. range vokal
Repertoire: Koleksi lagu yang dikuasai seorang penyanyi.
Resonance (Resonansi): Getaran simpatik yang terjadi saat suara yang dihasilkan dari getaran
pita suara mulai memancar keluar. Menentukan kualitas tone serta nyaringnya suara.
Scat Singing: Gaya bernyanyi tanpa lirik, dengan nada improvisasi biasanya menirukan alat
musik tiup dalam style jazz.
Scoop: Memulai sebuah nada dengan sedikit ayunan dari bawah.
Sight Singing: Kemampuan membaca dan menyanyikan notasi tanpa menggunakan alat musik.
Soprano: Jenis suara pada wanita di atas suara alto dan mezzo-soprano.
Staccato: Membunyikan nada dengan sangat pendek, kebalikan dari legato.
Tenor: Jenis suara pada pria di atas bass dan baritone.
Timbre: Warna suara.
Tone: Kualitas suara.
Transpose: Mengubah nada dasar lagu.
Trill: Perubahan bolak-balik dua nada dengan sangat cepat.
Triple Threat: Istilah dalam teater musikal untuk seseorang yang pandai bernyanyi, menari dan
berakting.
Vibrato: Getaran halus dalam nada (biasanya nada panjang) yang dinyanyikan penyanyi.
Vocal Cords: Biasanya juga disebut vocal folds, adalah pita suara, terletak di laring.
Vocal Fry: Suara rendah di mana pita suara membuka tutup dengan tidak merata, biasanya
berbunyi seperti suara malas seseorang yang baru saja bangun tidur.
Warm Up: Pemanasan vokal, biasanya dilakukan dengan humming dan lip trill.
















Bahasa Indonesia/Bunyi
Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
< Bahasa Indonesia
Bunyi bahasa merupakan bunyi, yang merupakan perwujudan dari setiap bahasa, yang
dihasilkan oleh alat ucap manusia yang berperan di dalam bahasa. Bunyi bahasa adalah bunyi
yang menjadi perhatian para ahli bahasa. Bunyi bahasa ini merupakan sarana komunikasi melalui
bahasa dengan cara lisan. Dalam pembentukan bunyi bahasa ada tiga faktor utama yang terlibat,
yaitu (1) sumber tenaga, (2) alat ucap penghasil getaran, dan (3) rongga pengubah getaran.
Beberapa konsep yang perlu diketahui adalah:
1. Vokal dan konsonan
2. Diftong dan gugus konsonan
3. Fonem dan grafem
4. Fonotaktik
Daftar isi
1 Vokal dan konsonan
2 Diftong dan gugus
3 Fonem dan grafem
4 Fonotaktik
5 Pola Suku Kata
Vokal dan konsonan
Berdasarkan ada tidaknya rintangan terhadap arus udara, bunyi bahasa dapat dibedakan menjadi
dua kelompok: vokal dan konsonan.
Vokal adalah bunyi bahasa yang arus udaranya tidak mengalami rintangan dan kualitasnya
ditentukan oleh tiga faktor:
tinggi-rendahnya posisi lidah (tinggi, sedang, rendah)
bagian lidah yang dinaikkan (depan, tengah, belakang)
bentuk bibir pada pembentukan vokal itu (normal, bundar, lebar/terentang)
Konsonan adalah bunyi bahasa yang arus udaranya mengalami rintangan dan kualitasnya
ditentukan oleh tiga faktor:
keadaan pita suara (merapat atau merenggang - bersuara atau tak bersuara)
penyentuhan atau pendekatan berbagai alat ucap/artikulator (bibir, gigi, gusi, lidah, langit-
langit)
cara alat ucap tersebut bersentuhan/berdekatan
Artikulator adalah alat ucap yang bersentuhan atau yang didekatkan untuk membentuk bunyi
bahasa.
Daerah artiulasi adalah daerah pertemuan antara dua artikulator. Macamnya:
Bilabial - bibir atas dan bibir bawah (kedua bibir terkatup), mis.: [p], [b], [m]
Labiodental - bibir bawah dan ujung gigi atas, mis.: [f]
Alveolar - ujung/daun lidah menyentuh/mendekati gusi, mis.: [t], [d], [s]
Dental - ujung/daun lidah menyentuh/mendekati gigi depan atas
Palatal - depan lidah menyentuh langit-langit keras, mis.: [c], [j], [y]
Velar - belakang lidah menempel/mendekati langit-langit lunak, mis.: [k], [g]
Glotal (hamzah) - pita suara didekatkan cukup rapat sehingga arus udara dari paru-paru
tertahan, mis.: bunyi yang memisahkan bunyi [a] pertama dan [a] kedua pada kata saat
Cara artikulasi adalah cara artikulator menyentuh atau mendekati daerah artikulasi. Macamnya:
Bunyi hambat - kedua bibir terkatup, saluran ke rongga hidung tertutup, kemudian katup bibir
dibuka tiba-tiba. Mis.: [p] dan [b]
Bunyi semi-hambat - kedua bibir terkatup, udara dikeluarkan melalui rongga hidung. Mis.: [m]
Bunyi frikatif - arus udara dikeluarkan melalui saluran sempit sehingga terdengar bunyi berisik
(desis). Mis.: [f] dan [s]
Bunyi lateral - ujung lidah bersentuhan dengan gusi dan udara keluar melalui samping lidah.
Mis.: [l]
Bunyi getar - ujung lidah menyentuh tempat yang sama berulang-ulang. Mis.: [r]
Selain bunyi-bunyi di atas, ada bunyi yang cara pembentukannya sama seperti pembentukan
vokal, tetapi tidak pernah dapat menjadi inti suku kata. Mis.: [w] dan [y]
Diftong dan gugus
Diftong berhubungan dengan vokal, sedangkan gugus berhubungan dengan konsonan.
Diftong merupakan gabungan vokal dengan /w/ atau /y/, contohnya /aw/ pada /kalaw/ dan
/baau/ (untuk kata "kalau" dan "bangau"), tetapi bukan /au/ pada /mau/ dan /bau/.
Gugus adalah gabungan dua konsonan, atau lebih, yang termasuk dalam satu suku kata yang
sama. /kl/ dan /br/ (seperti dalam "klinik" dan "obral") adalah gugus, sedangkan /mp/ dan /rc/
(seperti dalam "tampak", "timpa", "arca", dan "percaya") bukanlah gugus dalam bahasa
Indonesia.
Diftong adalah vokal yang berubah kualiasnya. Dalam sistem tulisan diftong biasa dilambangkan
oleh dua huruf vokal. Kedua huruf vokal itu tidak dapat dipisahkan. Bunyi /aw/ pada kata
"harimau" adalah diftong, sehingga <au> pada suku kata "-mau" tidak dapat dipisahkan menjadi
"ma u" seperti pada kata "mau". Demikian pula halnya dengan deretan huruf vokal <ai> pada
kata "sungai". Deretan huruf vokal itu melambangkan bunyi diftong /ay/ yang merupakan inti
suku kata "-ngai".
Diftong berbeda dari deretan vokal. Tiap-tiap vokal pada deretan vokal mendapat hembusan
napas yang sama atau hampir sama; kedua vokal itu termasuk dalam dua suku kata yang berbeda.
Bunyi /aw/ dan /ay/ pada kata "daun" dan "main", misalnya, bukanlah diftong, karena baik [a]
maupun [u] atau [i] masing-masing mendapat aksen yang (hampir) sama dan membentuk suku
kata tersendiri sehingga kata "daun" dan "main" masing-masing terdiri atas dua suku kata.
Gugus konsonan adalah deretan dua konsonan atau lebih yang tergolong dalam satu suku kata
yang sama. Bunyi [pr] pada kata "praktik" adalah gugus konsonan, tetapi [kt] pada kata yang
sama itu bukanlah gugus konsonan. Pemisahan bunyi pada kata itu adalah praktik.
Dengan contoh di atas jelaslah bawha tidak semua deretan konsonan itu selalu membentuk gugus
konsonan. Dalam bahasa Indonesia cukup banyak kata yang memiliki dua konsonan yang
berdampingan, namun belum tentu deretan itu merupakan gugus konsonan. Contoh lain dari
deretan dua konsonan yang bukan gugus konsonan adalah "cipta", "aksi", dan "harga".
Fonem dan grafem
Fonem adalah bunyi bahasa yang berbeda atau mirip kedengarannya. Dalam ilmu bahasa fonem
itu ditulis di antara dua garis miring: /.../.
/p/ dan /b/ adalah dua fonem karena kedua bunyi itu membedakan arti. Contoh:
pola /pola/ : bola /bola/
parang /para/ : barang /bara/
peras /pras/ : beras /bras/
Fonem dalam bahasa dapat mempunyai beberapa macam lafal yang bergantung pada tempatnya
dalam kata atau suku kata. Fonem /p/ dalam bahasa Indonesia, misalnya, dapat mempunyai dua
macam lafal. Bila berada pada awal suku kata, fonem itu dilafalkan secara lepas. Pada kata
/pola/, misalnya, fonem /p/ itu diucapkan secara lepas untuk kemudian diikuti oleh fonem /o/.
Bila berada pada akhir kata, fonem /p/ tidak diucapkan secara lepas; bibir kita masih tetap rapat
tertutup waktu mengucapkan bunyi ini. Dengan demikian, fonem /p/ dalam bahasa Indonia
mempunyai dua variasi.
Variasi suatu fonem yang tidak membedakan arti dinamakan alofon. Alofon dituliskan di antara
dua kurung siku [...]. Kalau [p] yang lepas kita tandai dengan [p] saja, sedangkan [p] yang tak
lepas kita tandai dengan [p
>
], maka kita dapat berkata bahwa dalam bahasa Indonesia fonem /p/
mempunyai dua alofon, yakni [p] dan [p
>
].
Grafem berbicara tentang huruf, sedangkan fonem berbicara tentang bunyi. Seringkali
represenasi tertulis kedua konsep ini sama. Misalnya untuk menyatakan benda yang dipakai
untuk duduk yang bernama "kursi", kita menulis kata kursi yang terdiri dari grafem <k>, <u>,
<r>, <s>, dan <i>, dan mengucapkannya pun /kursi/ - dari segi grafem ada alima satuan, dan dari
segi fonem juga ada lima satuan. Akan tetapi, hubungan satu-lawan-satu seperti itu tidak selalu
kita temukan. Kata "ladang" mempunyai enam grafem, yakni <l>, <a>, <d>, <a>, <n>, dan <g>.
Dari segi bunyinya perkaatan yang sama itu hanya mempunyai lima fonem, yakni /l/, /a/, /d/, /a/,
dan // karena grafem <n> dan <g> hanya mewakili satu fonem // saja.
Bunyi yang dinyatakan oleh grafem <p> dan <g> dalam bahasa Indonesia jelas sangat berbeda.
Sebaliknya, bunyi yang dinyatakan oleh grafem <p> dan <b> sangat berdekatan. Dengan
perbedaan dan kemiripan seperti itu maka dalam percakapan telepon, perkataan "pula" dan
"gula" tidak akan keliru ditangkap, sedangkan "pola" dan "bola" dapa dengan mudah
membingungkan kita.
Fonotaktik
Fonotaktik
Pola Suku Kata
Pola suku kata yang umum dalam bahsa Indonesia, yaitu :
1. Suku kata berpola SV
o Contoh : Buku, ragam, sepatu, ranun, dsb.
2. Suku kata berpola VK
o Contoh : Iman, indah, arsip, untung, dsb
3. Suku Kata berpola VKK
o Contoh : Eksperimen
4. Suku kata berpola KKV
o Contoh : Klimaks, klasik
5. Suku kalimat berpola KVK
o Contoh: indah, struktur, gelap dsb.
6. Suku kata berpola KKVK
o Contoh: praktis, transmigran, dsb.
7. Suku kata berpola KKKVK
o Contoh: Struktur, konstruksi, dsb
8. Suku kata berpola KKVKK
o Contoh: Transmigrasi