Anda di halaman 1dari 166

M"nAHAILMU

Antena

Prinsip fi. Aplikasi

Mudrik Alaydrus

ANTENA

Prinsip & Aplikasi

Oleh : Mudrik Alaydrus

Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2011

f''*" u

%z l12

{i

/ WX /t I 2otz

q

1

t,

I

I

Hak Cipta O 2011 pada penulis, Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau rnemindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, secara elektronis maupun mekanis, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan teknik perekaman lainnya, tanpa izin ternrlis dari penerbit.

GRAHA ILMU

Ruko Jambusari No. 7A

Yogyakarta 55283

Telp.

: 027 4-889836; 0274-889398

Fax.

:0274-889057

E-mail

: info@grahailmu.co.id

Alaydrus, Mudrik ANTENA (Prinsip & Aplikasi) /Mudrik Alaydrus

-Edisi

Pertama -

Yogyakarta; Graha l1mu, 2011

:

23 cm.

xii + 324 hlm, 1 Ji1.

ISBN :

978-9'1 9-7 56*"7 31,'6

1 - Teknik

l.

.i

,J';'

I

i

'1i

,1,

I.

Judul

Kata Pengantar

i era informasi, yang ditandai dengan penyebaran berita

yang sangat cepat, dan berita yang bisa diakses kapan dan

dari mana saja, pengiriman data secara nirkabel (wireless, tanpa

kabel) menjadi tulang punggung penyebaran informasi tersebut. Dengan

komunikasi nirkabel, tidak diperlukan lagi kabel yang menghubungkan

sumber berita dengan pemakai berita, sehingga hubungan komunikasi ini menjadi lebih fleksibel dan menunjang mobilitas dari pengguna.

Di samping elektronika telekomunikasi, seperti modulator, osilator, dll., pada sistem komunikasi nirkabel diperlukan komponen yang bernama

antena. Secara definisi, antena pada sebuah pemancar berfungsi sebagai

pengubah gelombang yang tertuntun di rangkaian elektronika menjadi gelombang yang merambat bebas di udara, dan sebaliknya pada sebuah

penerima. Tugas bagi perancang antena adalah membuat transisi ini

seeflsien mungkin, yaitu gelombang dari pemancar yang dihasilkan oleh komponen-komponen elektronika ini harus diubah semaksimal mungkin

menjadi gelombang bebas. Gelombang yang dipancarkan melalui antena

ini akan didistribusikan ke udara dengan suatu pola tertentu, misalnya ke

semua arah, atathanya ke suatu arah tertentu saja. Pemitihan pola pancar ini tergantung dari aplikasi antena masing-masing.

Dcngan perkembangan teknologi dan aplikasi nirkabel, bermunculan pula berbagai jenis antena yang dirancang dengan karakter-karalternya

yang berbeda-beda. Buku ini ditulis untuk memberikan ulasan tentang prinsip dasar dari antena dan pemakaiannya di pelbagai aplikasi.

Bab I membahas dasar, sejarah singkat dan esensi antena dalam

telekomunikasi, yang dilanjutkan dengan bab 2 tentang besaran-besaran penting yang rnengkarakteristikkan antena. Besaran-besaran penting ini

menjadi pararneter dalarn spesifrkasi sebuah antena, yang hams dipenuhi pada proses perancangannya.

Karena dasar dari ilmu dan teknologi antena adalah elektromagnetika,

tidaklah lengkap kalau tidak disinggung persamaan-persamaan Maxwell

dan solusinya. Bab 3 mendapatkan tugas untuk melakukannya, solusi

untuk struktur antena sederhana, yaitu dipol dan loop Hertz diberikan di

sini. Bab 4 memberikan solusi untuk antena yang lebih aplikatif, yaitu dipol panjangyangjuga sering digunakan pada aplikasi nirkabel dewasa

ini. Antena dipol panjang ini adalah jenis antena kawat.

Dalam banyak aplikasinya, sering kali digunakan sekelompok an-

tena, yang membentuk suatu formasi tertentu. Kelompok antena ini dina- makan array. Bab 5 membahas teori dasar array, dan efek dari perubahan

parametemya terhadap pola pancar antena.

Bab 6, 7 dan 8 membahas jenis-jenis antena aperture, horn, reflek-

tor dan antena mikrostrip. Di sini dijelaskan prinsip dasar masing-masing

antena, perancangan dengan menggunakan rumus dan kurva sederhana,

sarnpai penggunaan software.

Perkembangan multimedia, yangditandai dengan semakin besarnya

data yang harus dikirimkan, seperti video, menuntut jaringan komunikasi

nirkabel yang semakin berkinerja tinggi, memiliki lebar pita yang besar,

bahkan sangat besar, atau multiband. Bab 9 membahas jenis-jenis antena

yang memiliki karakter seperti itu. Bab 10 membahas pengukuran besaran- besaran penting antena. Dua terobosan menarik yang dilakukan pada teknik

vt

Antena: Prinsip don Aplikasi

antena, yaitu teknik konfigurasi ulang antena dan sistem Multiple Input Multiple Output (MIMO) menjadi pokok bahasan di bab I l.

Bab 12 ditulis untuk aplikasi antena pada beberapa sistem nirkabel

yang populer sekarang ini, yaitu sistem seluler, Wireless Local Area

Network (WLAN) dan Radio Frequency ldentification (RFID). Bab terakhir

memberikan ulasan singkat beberapa metode numerik yang biasanya

dipakai untuk menganalisa dan merancang antena, yang diharapkan bisa

memberikan gambaran singkat kepada pembaca, metode apa yang bisa

mereka gunakan dan software mana yang bisa dipakai.

Buku ini ditulis sebagai suatu bentuk karya yang didedikasikan

untuk masyarakat Indonesia, yang diharapkan menjadi satu literatur dalam

bidang teknologi nirkabel. Dan penulis berpesan, bahwa suatu tujuan dan

cita-cita hanya bisa dicapai dengan keyakinan, ketekunan dan kesabaran.

Ketiganya harus dijalankan secara konsisten dan kontinu. Semoga Allah SWT merestui usaha kita.

Ucapan terima kasih penulis haturkan kepada Maryam ZA yang se- lalu menemani dengan penuh pengertian dan perhatian, juga kepada anak-

anak kami, Zainal Abidin, Muhammad Fatih, Adni, Muhammad Ayman

dan Sofia.

Kato Pengontar

Jakarta, Januari 201 I

Mudrik Alaydrus

Ilaftar Isi

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

v

ix

1

I

1.2 Esensi Antena pada Dunia Telekomunikasi Wireless 4

1.1 Pendahuluan

BAB I

PENGENALANANTENA

BAB II

1.3 Jenis-jenis Antena

BESARAN PENTING PADA ANTENA

2.1 Diagram Radiasi

2.2 Direktivitas dan Gain

2.3 Polarisasi

2.4 Impedansi Masukan

2.5 Lebar Pita Kerja Antenna (bandwidth)

2.6 Datasheet Antena

g

l7

18

23

30

35

37

38

BAB III

PERSAMAAN MAXWELL DAN SOLUSINYA PADA ANTENA KECIL

3.1 Persamaan Maxwell

3.2 Potensial Vektor dan Skalar

3.3 Solusi:PotensialTerretardasi

4t

41

46

50

 

3.4 Aplikasi Integral Radiasi pada Dipol Hertz

55

BAB IX

3.5 Aplikasi Integral Radiasi pada Loop Hertz

62

BAB IV

ANTENA KAWAT

75

4.1 Dipol Pendek

75

4.2 Dipol Panjang

78

4.3 Dipol Setengah Gelombang (Dipol )" l2)

86

4.4 Antena Yagi-Uda

87

BAB V

ANTENA ARRAY

95

BAB X

5.1 Pendahuluan

95

5.2 Array dua Antena

97

5.3 Array Linier N Antena

106

BAB VI ANTBNAAPERTURE DAN HORN

131

 

6.1 Pendahuluan

131

6.2 Teorema Keunikan (Uniqueness Theorem) dan

BAB XI

ANTENA BROADBAND, ULTRAWIDEBAND DAN

MULTIBAND

9.1 Pendahuluan

9.2 Antena Helix

9.3 Antena planar

9.4 Antena Log Periodik

9.5 Antena Fractal

9.6 Antena Ultrawideband (UWB)

PENGUKURAN BESARAN ANTENA

10.1 Pendahuluan

10.2 Skema Sistem Pengukuran Besaran Antena

10.3 Pengukuran Diagram Radiasi

10.4 Pengukuran Gain

10.5 Pengukuran Impedansi dan Faktor Refleksi

2ts

215

216

22t

223

229

233

237

237

239

245

247

2s0

PERKEMBANGAI\ KIIUSUS PADA TEKNIKANTENA 255

Teorema Ekuivalensi (Equivalence Theorem)

133

6.3 Antena Aperture Persegi Panjang

137

6.4 Simulasi dengan program Wipl-D

t49

6.5 Antena Hom Sektor E

t52

6.6 Antena Horn Sektor H

161

6.7 Antena Horn Piramid

163

6.8 Antena Hom Berulir (Comrgated Horn)

168

BAB VII ANTENA REFLEKTOR

7.1 Pendahuluan

7.2 Sistem Reflektor Dasar

7.3 Sistem Reflektor Banyak

169

r69

170

184

I l.l

Antena yang bisa Dikonfigurasi Ulang

(Reconfigurable Antennas)

ll.2

Multi Antenna Systems: Antena Cerdas (Smart Antennas) dan MIMO

BAB XII ANTENNAS IN ACTION

12.1 Antena Stasiun Basis (Base station) di Komunikasi Bergerak

12.2 Antena pada Alat Komunikasi Genggam (Handheld)

12.3 Antena di RFID

12.4 Antena di WLAN

ZSA

ZS9

271

273

280

282

288

BAB VIII ANTENA MIKROSTRIP

187

8.1 Pendahuluan

187

8.2 Metode Analisa: Model Saluran Transmisi

189

8.3 Metode Analisa: Model Cavity

8.4 Pencatuan antena mikrostrip

8.5 Antena Mikrostrip dalam Array

r99

206

2t0

BAB XIII APLIKASI METODE NUMERIK PADA ANTENA 293

13.1 Pendahuluan

13.2 Metode Persamaan Integral (Integral Equation

Method)

293

294

13.3 Metode Elemen Hingga (Finite Element Method) 300

Antena: Prinsip dan Aplikasi

Daftar lsi

13.4 Metode Diferensi Hingga Wilayah Waktu (Finite Difference Time Domain)

13.5 Metode Frekuensi Tinggi (High Frequency

301

Methods)

307

13.6 Metode Hibrida

310

DAFTAR PUSTAKA

313

GLOSARIUM

317

TENTANG PENULIS

321

xlt

-oo0oo-

Antena: Prinsip dan Aplikasi

Pengenalan Antena

1.1 PENDAHULUAN

Antena adalah elemen penting yang ada pada setiap sistem teleko-

munikasi tanpa kabel (nirkabel/wireless), tidak ada sistem telekomunikasi

wireless yang tidak memiliki antena.

Pemilihan antena yang tepat, perancangan yang baik dan pemasangan

yang benar akan menjamin kinerja (performansi) sistem tersebut.

Sebuah contoh yang khas adalah pada aplikasi penerimaan sinyal

pada pesawat televisi terestrial. Dengan menggunakan antena yang me- miliki gain (faktor pemfokusan) yang tinggi, seperti antena Yagi, kualitas

sinyal terima bisa diperbaiki secara signifikan.

Antena adalah sebuah komponen yang dirancang untuk bisa meman-

carkan dan atau menerima gelombang elektromagnetika. Antena sebagai

alat pemancar (transmitting antenna) adalah sebuah transduser (pengubah)

elektromagnetis, yang digunakan untuk mengubah gelombang tertuntun di dalam saluran transmisi kabel, menjadi gelombang yang merambat di

ruang bebas, dan sebagai alat penerima (receiving antenna) mengubah ge-

lombang ruang bebas menjadi gelornbang tertuntun (gambar 1.1).

selombms

remm

gelombmg

. rumg bebas

\\z

\Y

LI

/

waveguide

--

Antena 1rcmmcr

gelombaug

rumg bebas

\ w +

Antena penerima

waveguide

gelombang

terhutun

Gambar l.l Peran antena di sistem komunikasi nirkabel

Dengan definisi antena di atas, adalah suatu kepastian, bahwa di setiap

sistem komunikasi tanpa kabel terdapat komponen yang bisa mengubah gelombang tertuntun menjadi gelombang ruang bebas dan kebalikannya,

komponen ini adalah antena.

Pada sistem komunikasi tanpa kabel yang modern, sebuah antena harus berfirngsi sebagai antena yang bisa memancarkan dan menerima

gelombang dengan baik untuk suatu arah tertentu.

Sejarah perkembangan antena dirunut balik pada konsep yang

dikembangkan oleh James Clerk Maxwell, yang menyatukan teori listrik

dan magnet menjadi teori elektromagnetika, yang dirangkumnya di dalam sebuah sistem persamaan yang kemudian dikenal dengan nama

persamaan-persamaan Maxwell. Dengan persamaan yang diturunkan

di tahun 1873 ini ia meramalkan adanya medan listrik dan magnet yang

merambat di ruang bebas tanpa adanya kabel. Medan listrik dan magnet

yang berubah dengan waktu ini dan merambat di udara, disebut juga gelombang elektromagnetika. Dengan bantuan persamaan ini Maxwell

memprediksikan bahwa pada dasarnya cahaya juga merupakan gelombang

elektromagnetika dan gelombang elektromagnetika merambat di udara

dengan kecepatan cahay a.

Sembilan tahun setelah kematian Maxwell, tahun 1886 Heinrich Hertz melakukan verifikasi terhadap prediksi Maxwell secara eksperimen.

Dia membangun dua buah alat berbentuk permukaan silinder yang terpisah

sekitar I meter (alat ini kemudian dikenal dengan nama antena reflektor

Antena: Prinsip dan Aplikasi

silinder di gambar 1.2). Dengan alat ini dia bisa membuktikan adanya induksi sinyal pada antena yang satu akibat sumber yang dipasangkan

pada antena yang lainnya. Peristiwa ini merupakan momen kelahiran dari

telekomunikasi tanpa kabel modern yang gunanya bisa kita rasakan sekali

dewasa ini. Atas dasar eksperimen ini Hertz dikenal dengan nama Mr.

Antenna.

Setahun setelah kematian Hertz,di tahun 1901 Guglielmo Marconi berhasil merealisasikan telekomunikasi jarak jauh, dari kota Cornwall di

Inggris ke kota Newfoundland di benua Amerika, dengan menggunakan gelombang elektromagnetika. Antena yang dipergunakan adalah 50 buah

antena pemancar yang vertikal, yang dilibatkan dengan bantuan kawat

secara horizontal dengan 2 tonggak kayu yang berjarak 60 meter (gambar

1.3). Sebagai antena penerima dipergunakan sebuah kawat vertikal dengan

panjang 200 m yang mengambang di udara dengan bantuan sebuah layang- layang.

Sejak saat itu perkembangan antena makin cepat, dan berkembang pula jenis-jenis antena sesuai dengan tuntutan padanya di setiap bidang aplikasi.

Gambar 1.2 Antena refiector silinder yang bekerja padafrekuensi 455

MHz

Pengenolan Antena

Gambar 1.3 Antena vertikal yang digunakan oleh Marconi pada

frekuensi 70kJIz

1.2 ESENSI ANTENA PADA DUNIA

.TELEKOMUN

IKASI WIRELESS

Sebuah antena didefinisikan sebagai piranti yang dipergunakan un-

tuk rnengubah gelombang tertuntun di pemancar menjadi gelombang ruang bebas. Gelombang radio ini akan merambat di ruang bebas dari pemancar ke penerima. Di penerima, arrterra akan mengubah gelombang ruang bebas ini menjadi gelombang tertuntun.

Keberadaan antena pada sistem telekomunikasi tanpa kabel menjadi suatu yang tidak bisa dihindarkan. Setiap aplikasi menuntut suatu karak- teristik dari antena yang dipakainya, yang harus didapatkan pada proses

perencanaan perancangan antena. Berikut ini diberikan tiga bidang aplika-

si penting dari penggunaan antena:

l.

Telekomunikasi

Penggunaan antena pada sistem telekomunikasi ini, diprioritaskan

ketimbang penggunaan kabel (saluran transmisi) dikarenakan oleh alasan-

alasan ketidak-mungkinan, ketidakpraktisan dan ketidakefi sienan:

Antena: Prinsip don Aplikasi

a. Telekomunikasi antara pengguna yang bergerak, seperti sistem sclu- ler.

Gambar 1.4 menunjukkan antena panel yang biasa digunakan di

stasiun basis (Base Transceiver StationlBTS) sistem seluler. Gambar

sebelah kiri menunjukkan foto antena yang ditutupi oleh radome (radar dome) yang melindungi bagian dalam antena dari pengaruh cuaca. Bagian dalam antena terdiri dari 6 buah dipole dengan reflektor di belakangnya. Masing-masing dua dipole dipasangkan ke arah horizontal, dan berbaris tiga dipole ke arah vertikal.

Wffi

Foto dan 3 x 2 dipole di dalam

antena

diagram radiasi

Gambar 1.4 Panel antennas 730 684 Kathrein 890 - 960 MHz

(data dari perusahaan Kathrein)

Gambar sebelah kanan menunjukkan diagram radiasi horizontal dan

vertikal antena tersebut. Di bidang horizontal didapatkan beamwidth

(lebar pancaran efektif) sebesar 65o, sedang di bidang vertikal 18". Semakin besar jumlah elemen di bidang horizontal ataupun vertikal,

akan semakin kecil beamwidth-nya, pengarahan energi menjadi

semakin terfokus ke arah pancarar, utama.

Dalam penggunaannya di menara, antena panel sering dipasangkan

dalam jumlah tertentu dengan arah pancaran berbeda-beda seperti

yang ditunjukkan di gambar L5. Diagram radiasi dari gabungan antena

tersebut secara praktis bersifat omnidireksional.

Pengenalan Anteno

I 11

IT

r:l

F-A-*

r= D

Gambar 1.5 Antena panel yang dipasangkan pada menara (data dari perusahaan Kathrein)

b. Telekomunikasi broadcasl (televisi dan radio), antena pemancar di-

tempatkan di tengah-tengah wilayah yang akan disuplai dan antena

yang dipergunakan antena omnidireksional. Jika antena pemancar terletak di pinggir wilayah penyuplaian, maka antena direksional-lah

yang akan digunakan. Penggunaan antena pada aplikasi televisi men- dapat saingan dengan penggunaan "TV-cable", yang padanya diper-

gunakan kabel-kabel yang menghubungi setiap rumah pelanggannya.

Di sini tentu akan ada pemilihan mana yang lebih diprioritaskan. Te- tapi pada dasarnya jika jarak pemancar-penerima cukup jauh, maka

antena akan lebih mungkin dipergunakan karena faktor atenuasi kabel

yang cukup besar. Gambar 1.6 contoh antena aplikasi TV broadcast.

c. Telekomunikasi hubungan gelombang mikro (microwave link system),

di sini dipergunakan antena direksional dengan gain yang sangat tinggi

(beam width yang kecil), sehingga terbentuk hubungan komunikasi

yang dinamakan point-to-point (gambar I .7).

Antena: Prinsip dan Aplikasi

YG-053

Gambar 1.6 Kiri: qntena pemancar broadcast, kanan: antena Yagi

penerima broadcast TV

Gambar 1.7 Antena microwave link sebagai penghubung point to point

2. Radar

Antena merupakan pilihan satu-satunya untuk komunikasi dengan

benda bergerak. Di teknik radar, antenayangdipergunakan harus memiliki

beamwidth yang sangat kecil, sehingga bisa membedakan objek satu dengan yang lainnya (resolusi tinggi).

Pengenolan An,tena

Gambar 1.8 Antena pemandu rudal patriot

3. Astronomi Radio

Seperti juga halnya pada teknik radar, untuk aplikasi astronomi

di-

pergunakan antena yang memp:unyai beamwidthyang sangat sempit.

Gambar 1.9 Arecibo Observotory, Puerto Rico

8

I 'r

t. 1"'

,- i:,

j ',:.

Anteno: Prinsip don Aplikasi

1.3 JENIS.JENIS ANTENA

Buku ini memberikan prinsip dasar tentang antena, teknik perancang-

an dan aplikasinya. Walaupun akan ditekankan pada prinsip dasar setiap

antena dan aplikasinya, tetapi, bahkan untuk level pemula, kita tetap akan bertemu dengan persamaan-persamaan Maxwell, perhitungannya dengan

vektor, diferensiasi dan integrasi (analisa vektor). Sebelum kita masuk ke sana, di bagian dari bab ini kita akan berkenalan dahulu dengan jenis-jenis

antena yang ada, karakteristiknya dan kegunaannya.

Antena yang paling sederhana dan yang paling luas penggunaannya

adalah antena dipol. Antena dipol terdiri dariduabuah kawatyang terpisah

satu dengan lainnya (gambar 1.10a), yang pada fungsinya sebagai antena

pemancar, ia akan dihubungkan dengan sumber tegangan, dan pada fungsi

sebagai antena penerima, akan dihubungkan dengan beban.

Gambar l.l0 Antena dipol dan monopol di atas penghantar besar

Antena itu sendiri dianggap berfungsi secara resiprok, artinya, ka-

rakteristik dari antena satna apakah ia dipakai sebagai antena pemancar

ataupun sebagai antena penerima.

Antena dipol bersifat omnidireksional, artinya antena ini memancar-

kan energinya, pada suatu potongan bidang tertentu, sama rata ke semua

arah. Tidak ada arah yang diprioritaskan dalam penyuplaian energinya. Tipe antena omnidireksional digunakan pada aplikasi TV/radio broadcast,

pemancar terletak di tengah-tengah wilayah penyuplaian. Dalam peneri-

maan sinyal, antena omnidireksional juga akan mendeteksi sinyal dari

Pengenalon Antena

semua arah di bidang potongan teisebut. sehingga antena jenis ini digu-

nakan oleh sebuah alat penerima jika tidak diketahui dari arah mana sinyal

radio datang

Dengan memanfaatkan bidang penghantar, dengan bantuan sebuah

kawat yang berada vertikal di atasnya, kita bisa mendapatkan antena dipol

dengan kawat bayangan (gambar l.lOb). Gambar 1.l r menunjukkan foto antenna monopole, yang terbuat dari sebuah konektor tipe N, yang pada

penghantar bagian dalamnya disolderkan kawat sepanjang 3 cm. Antena

ini bekerja sangat bagus pada frekuensi 2,4 GHz.

Gambar l.ll Foto antena monopol

Di banyak sekali aplikasi teknis, seperti radar, sistem seluler, di-

inginkan antena yang mengkonsentrasikan pancaran energinya pada suatu

arah tertentu, sedangkan ke arah lain tidak diinginkan terjadinya penyu-

plaian energi. Untuk mencapai tujuan ini, biasanya hanya sebuah antena

dipole tidak bisa digunakan, karena antena dipol mempunyai karakteristik pancar yang omnidireksional. untuk mendapatkan suatu karakter peman_

caran (yang disebut juga diagram radiasi/pancar) tertentu, dipergunakan

beberapa buah antena dipol yang disusun sedemikian rupa membentuk se-

buah grup antena, atauanay.Ada bermacam-macam susunan array, misar-

nyaanay satu dimensi /l-D (gambar l.l2).

10

Anteno: Prinsip dan Aplikasi

\.-\r\ 'i\-t,,

"\t\,

,_-----\

'\\5);:-:'

-\*=0"

a)

-\="

b)

c)

lo=o.

)'1.

a.y

i+i

tNl

i+)

L./

I

(

S=0o

lo=o.

)-l

I

I

I

I

l./

v)

Gambar 1.12 Array satu dimensi dengan antena dipol sebagai penyusunnya

Array satu dimensi akan mempunyai diagram radiasi yang akan

mengonsentrasikan energinya hanya ke satu arah sudut tertentu, misalnya

hanya untuk sudut I atau g ffan-like radiation diagram). Supaya bisa

didapatkan pengonsentrasian energi di dua arah sudutQtencil-like radiation

diagram) sering kali dipergunakan array dua dimensi, yang merupakan

pengembangan array satu dimensi ke arah yang orthogonal dengannya,

seperti terlihat di gambar 1.13.

Gambar l.l3 Array dua dimensi (2D)

Pengenalan Anteno

Gambar f .i4 adalah foto aritenna Yagi yang sering dipergunakan

pada aplikasi penerimaan TV di rumah. Aplikasi di gambar ini, antena

Yagi digunakan untuk jaringan komputer tanpa kabel (Wireless Local Area Network/WLAIt). Perbedaan kedua aplikasi ini di samping terletak

pada frekuensi kerjanya, juga pada polarisasi gelombang yang digunakan.

Pada aplikasi TV, gelombang elektromagnetika berpolarisasi horizontal, sehingga elemen dipole harus terletak horizontal, sedangkan pada aplikasi

WLAN, polarisasi yang dipergunakan vertikal, sehingga orientasi elemen

dipole juga harus vertikal.

ittr

-r-*1r

i

Gambar l.l4 Antena Yagi dengan 9 elemen (satu driven elemen terlihat

dengan konektor SMA, 7 director dan sebuah refiector melengkung)

Gambar 1.15 menunjukkan aplikasi array dua dimensi pada antenna

stasiun basis, yang mempunyai tujuan mendapatkan beamwidth yang lebih

kecil di kedua bidang penting (bidang horizontal dan vertikal).

12

Antena: Prinsip don Aplikasi

Flat panel antennas untuk frekuenst

900 MHz

1800 MHz

Gambar L.lS Array 2D dengan elemen antena dipol pada antena stasiun basis

Jenis antena yang menggunakan teknologi lain adalah antena hom,

yang bisa dilihat di gambar 1.16. Antena horn menggunakan teknologi

waveguide (pemandu gelombang yang berbentuk seperti pipa air).

Waveguide yang

diperbesar

Gambar l.16 Antena horn

Bagian tjung waveguide dibiarkan terbuka, sehingga diharapkan

gelombang yang merambat di dalam waveguide akan memancar di bukaan

itl (aperture). Untuk menjaga refleksi gelombang supaya tetap kecil, pada

bagian transisi waveguide-udara, bagian dat'^ waveguide diperlebar seperti

berbentuk corong, sehingga gelombang elektromagnetik yang merambat

di dalam waveguide menuju ruang bebas mengalami perubahan geometri

secara gradual.

Pengenalan Anteno

13

Teknik lain dalam menggunakan waveguide sebagai antena adalah

dengan membuat slot (torehan/potongan/irisan) pada waveguide di bagian badannya. Sehingga gelombang elektromagnetik bisa'merembes' keluar

dari waveguide dan merambat di udara. Gambar 1.17 adalah variasi slot

antena dengan teknologi waveguide, yang sudah tersusun dalam bentuk

artay.

Slotpadabagian kiri digambar l.l7 harus dibuatmiring, seandainya

tegak tidak akan terjadi pemancaran yang efektif. Demikian juga slot pada

gambar bagian kanan, tidak dibuat tepat di tengah bidang, tetapi akan ke

arah pinggir, supaya pemancaran menjadi besar.

waveguide

Gambar l.l7 Array dengan elemen dasar antena slot

Gambar 1.18 adalah salah satu contoh aplikasi penggunaan array

dari antena slot pada sistem radar. Di aplikasi ini, sekumpulan antena slot

yang tersusun dalam array dua dimensi dipasangkan di hidung (nose) dari sebuah pesawat tempur, sehingga antena ini akan memiliki beamwidth yang sangat tipis di dua bidang tersebut. Pancaran utama antenna ini bisa

di-'steer' dengan cepat dengan bantuan phasa sinyal penyuplaian yang

divariasikan dengan bantuan prosesor sinyal digital. Radar pada pesawat

ini disebut j uga phased array radar.

Untuk lebih mengonsentrasikan

energi ke suatu orientasi tertentu

seringkali dipergunakan reflektor sebagai tambahan untuk antena dipol

ataupun horn. Di gambar I . I 5 sudah kita lihat antena dipol yang ditempatkan

di depan reflektor datar akan menghasilkan pemancaran secara dominan

hanya ke arah depan, dan sangat sedikit ke arah belakangnya. Gambar 1.19

menunjukkan sebuah antena horn yang dikombinasikan dengan sebuah reflektor parabola untuk menerima sinyal dari satelit.

Antena: Prinsip dan Aplikosi

Gambar l.l8 Array dengan elemen antena slot pada hidung pesawat F' 1 6 (http : //www. airforce-tec hno logy. com/proi ects/fl 6/index. htm l)

Gambar l.l9 Antena refiektor parabola

Jenis antena yang

kedua teknologi di atas,

dibuat dengan teknologi yang berbeda dengan

adalah antena mikrostrip (gambar 1.20). Antena

Pengenolan Antena

ini terbuat dari sebuah substrate dielektrika yang mempunyai lapisan metal

di bawahnya dan di sebelah atasnya melalui proses etching atau litograhpy

dibentuk suatu form profil tertentu, yang disebut juga patch (di bawah

berupa segi empat denganfeed-nya).

Gambar 1.20 Antenna Mikrostrip tipefractal

Antena ini diterapkan misalnya untuk aplikasi-aplikasi yang me-

mentingkan aerodinamis dari suatu struktur, misalnya penggunaan antena

pada roket, pesawat terbang, dll.

Di buku ini, kita akan mempelajari bentuk dasar dari antena-antena tersebut di atas, karakteristik pancarnya, kelebihannya, variasinya dan aplikasi yang khas untuk setiap antena itu.

16

-oo0oo-

Antena: Prinsip don Aplikosi

Besaran Penting

Antena

pada

Dalam melakukan penilaian pada sebuah antena digunakan besa-

ran-besaran penilai. Yang dengan bantuan besaran-besaran penting ini,

kita bisa menentukan apakah suatu antena cocok dipakai pada aplikasi

yang kita dalami.

Ada beberapa besaran penting sebagai karakteristik dari setiap an-

tena. Besaran-besaran penting dari setiap antena biasanya ditentukan pada

pengamatan medan jauh (far-field). Berikut ditampilkan beberapa besaran-besaran karakteristik terse-

but:

Diagram radiasi : sebagai besaran yang menentukan ke arah sudut mana

sebuah antena memancarkan/mendistribusikan ener-

Direktivitas D

Gain G

ginya. : besaran yang menyatakan perbandingan antara kera- patan daya maksimal dengan kerapatan rata-rata.

: direktivitas dikurangi dengan kerugian pada antena.

Pada antena yang tak memiliki kerugian, G : D. Gain

menentukan seberapa besar sebuah antena memfokus-

kan energi pancarnya.

L".:, I'

rrtih

Polarisasi

: menyatakan arah dan orientasi dari medan listrik da-

lam perambatannya dari antena pemancar.

Impedansi

Bandwidth

: adalah impedansi masukan antena dilihat dari saluran transmisi penghubungpemancar dan antena. lmpedansi

masukan antena harus mendekati nilai impedansi ge- lombang saluran transmisi supaya tidak terjadi reflek-

si.

Besaran lainnya yang dipakai untuk mengkuantifikasi

gelombang refleksi juga digunakan faktor refleksi atau

rasio gelombang tegangan berdiri (voltage standing

wave ratioNSWR)

: lebar pita frekuensi, di interval ini kinerja antena ma- sih sesuai dengan data-datayang diberikan.

2.1 DIAGRAM RADIASI

Diagram radiasi adalah besaran yang paling penting pada antena.

Diagram radiasi menggambarkan distribusi energi yang dipancarkan oleh

antena di ruang. Besaran ini diukur/dihitung pada medan jauh (far-field)

dengan jarak yang konstan ke antena, dan divariasikan terhadap sudut,

biasanya sudut t} dan g. Sehingga bisa dibedakan antena-antena yang

mempunyai sifat pancar isotrop, yang hanya ada secara fiktif, antena omnidireksional, yang bersifat isotrop hanya di suatu bidang potong

tertentu, dan antena direksional, yang bisa mengonsentrasikan energinya ke arah sudut tertentu.

Gambar 2.1Diagram radiasi tiga dimensi dari antenna dipole

t8

Antena: Prinsip dan Aplikosi

-

Sinyal terima

mengecil

Sinyal terima

sama besar

Gambar 2.2 Diagram radiasi 2D dipole a) bidang horizontal b) bidang vertikal

Sebagai contoh yang sederhana adalah antena dipol yang diletakkan

di sumbu asal dari sistem kordinat. Antena ini mempunyai diagram pancar

secara tiga dimensi seperti yang terlihat di gambar 2.1. Sebuah bentuk

konsentrasi energi yang seperti bentuk donat.

Bentuk ini didapat dengan melakukan perhitungan atau pengukuran di atas titik-titik pengamatan yang terletak di atas sebuah bola (fiktif) deng-

an radius r. Jarak ini, r, harus cukup besar sehingga titik+itik ini berada di

medan jauh antena. Mengenai definisi medan jauh akan dibahas nanti, di sini hanya diberikan batasannya, yaitu

2D2

1.

Besaran Penting poda Antena

(2.1)

19

D adalah dirnensi terbesar antena dan l, adalah panjang gelornbang

pada frekuensi yang digunakan. Diagram radiasi antena secara tiga dimensi

adalah diagram radiasi yang lengkap. Tetapi seringkali diagram radiasi 3D

tidak praktis