Anda di halaman 1dari 17

1

PENDAHULUAN
Perdarahan uterus abnormal (PUA) merupakan kelainan pada wanita yang
bisa dihadapi oleh tenaga medik dari bidan, dokter umum, spesialis maupun
spesialis konsultan. Penyakit ini bisa ringan sampai berat yang memerlukan
penanganan segera. Perdarahan ini bisa rancu dengan penyakit yang disebabkan
oleh neoplasma, keganasan bahkan penyakit kelainan pembekuan darah. Oleh
sebab itu amatlah tepat jika sebagai dokter umum mengetahui pedoman
penanganannya.
1
Perdarahan abnormal terjadi saat periode menstruasi tidak teratur, saat
perdarahan berlangsung lebih lama dan lebih banyak dibandingkan normal, atau
saat terjadinya perubahan pola haid. Abnormal uterine bleeding meliputi
dysfunctional uterine

bleeding dan perdarahan akibat kelainan struktural.
1
Dysfunctional

bleeding dapat berupa anovulatoar, berupa perdarahan
irreguler secara tiba-tiba, atau ovulatoar dimana jumlah perdarahan lebih banyak
tetapi mempunyai periode yang reguler (menoragia). Penyebab struktural meliputi
fibroid, polip, ca endometrium, dan komplikasi kehamilan, dapat pula karena
metode kontrasepsi.
1
Komplikasi pada kehamilan adalah penyebab yang umum dari perdarahan
abnormal. Abortus inkomplitus atau abortus yang mengancam dan kehamilan
ektopik bisa menyebabkan perdarahan abnormal. Pertumbuhan jinak dalam
rongga rahim (seperti polip atau mioma), keganasan pada saluran reproduksi,
servisitis, endometritis, salphingitis, endometriosis, adenomiosis, kista-kista
fungsional, dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim), keganasan pada serviks
maupun uterus bisa menimbulkan perdarahan abnormal.
2

2

Penyakit-penyakit sistemik yang bisa menyebabkan perdarahan abnormal
termasuk penyakit perdarahan seperti trombositopenia. Pada kelompok usia
reproduksi, purpura trombositopenia idiopatik (PTI). Pada remaja, perdarahan
abnormal yang disertai oleh trombositopenia disebabkan oleh leukemia akut.
Hipotiroidisme atau hipertiroidisme bisa menyebabkan perdarahan abnormal.
Penyakit hati dapat menyebabkan perdarahan uterus abnormal (PUA) dengan
mengganggu metabolisme estrogen yang beredar dalam sirkulasi. Diabetes,
hipertensi, dan gangguan fungsi adrenal bisa disertai oleh PUA.
2
Berdasarkan International Federation of Gynecology and Obstetrics
(FIGO), terdapat sembilan kategori utama klasifikasi PUA yang disusun sesuai
dengan akronim PALM-COEIN yakni; polip, adenomiosis, leiomioma,
malignancy and hyperplasia, coagulopathy, ovulatory dysfunction, endometrial,
iatrogenik dan not yet classified. Kelompok PALM merupakan kelainan struktur
yang dapat dinilai dengan berbagai teknik pencitraan dan atau pemeriksaan
histopatologi. Kelompok COEIN merupakan kelainan non struktur yang tidak
dapat dinilai dengan teknik pencitraan atau histopatologi. Sistem klasifikasi
tersebut disusun berdasarkan pertimbangan bahwa seorang pasien dapat memiliki
satu atau lebih faktor penyebab PUA. Dengan pendekatan ini, diharapkan tata
laksana untuk pasien dengan PUA dapat menjadi lebih komprehensif.
3-5
Berikut ini dilaporkan kasus perdarahan uterus abnormal yang dirawat di
Bagian Obstetri Ginekologi RSU Prof dr. R.D. Kandou Manado.



3

LAPORAN KASUS
IDENTITAS PENDERITA
Nama : Ny. Kristina Lagung / 39.63.22
Umur : 18 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Mahasiswa
Suku bangsa : Indonesia
Agama : Kristen Protestan
TTL : Manado, 10 November 1995
Alamat : Wonasa kombos
Status Perkawinan : Belum Kawin
Tanggal MRS : 10 Januari 2014

ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
Keluar darah dari jalan lahir
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir. Keluhan
dirasakan sejak 7 hari yang lalu. Perdarahan keluar banyak dan bergumpal,
nyeri perut tidak dirasakan. Riwayat haid tidak teratur. Riwayat keputihan
disangkal oleh pasien. Mual, muntah, dan demam tidak ada. BAB/BAK :
biasa.


4

3. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit jantung, paru, ginjal, kencing manis, darah tinggi
disangkal oleh pasien.
4. Riwayat Pribadi dan Sosial
Riwayat merokok (-), Riwayat minum alkohol (-), Riwayat KB (-)

ANAMNESIS GINEKOLOGI
1. Hal Perkawinan dan Kehamilan
Kawin : (-)
Kehamilan : (-)
2. Hal Haid
Menarche : 13 tahun, siklus : tidak teratur, lamanya : 7 hari
Sakit waktu haid hingga tidak dapat bekerja : (-)
3. Penyakit Operasi dan Pemeriksaan Dahulu
Keputihan : (-)
Riwayat penyakit kehamilan : (-)
Riwayat operasi : (-)
RIWAYAT PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Cukup
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital : Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 96 x/menit
Respirasi : 24 x/menit
Suhu Badan : 36,7
0
c
5

Warna Kulit : Sawo matang
Edema : (-)
Kepala : Normocephal
Mata : Pupil isokor dextra dan sinistra
Konjungtiva anemis
+
/
+
, Sklera ikterik
-
/
-

Lidah : Beslag (-)
Gigi : Caries (-)
Kerongkongan : T
1
-T
1
, Hiperemis (-)
Leher : Pembesaran Kelenjar Getah Bening (-)
Dada : Simetris
Jantung : S
I
-
II
(n), bising (-)
Paru : Sp.Vesikuler, Rhonki
-
/
-
, Wheezing
-
/
-
Perut : BU (+) Normal
Hati : s.d.e
Limpa : s.d.e
Ekstremitas : Edema
-
/
-
, Varises (-)
Refleks fisiologis : (+) Normal
Refleks patologis : (-)
PEMERIKSAAN GINEKOLOGI
1. Status Lokalis (Abdomen)
Inspeksi : Datar
Palpasi : Lemas, massa (-), nyeri tekan (-).
Perkusi : WD (-).
Auskultasi : BU (+) Normal.
6


2. Status Ginekologi
Inspeksi : Fluksus (+), vulva t.a.k
Inspekulo : Tidak dilakukan karena pasien belum menikah.
Periksa Dalam : Tidak dilakukan karena pasien belum menikah.
RT : Sfingter cekat, mukosa licin, ampula kosong.
RESUME MASUK
Pasien P
0
A
0
, 18 tahun, MRS tanggal 10 Januari 2014 dengan keluhan
keluar darah dari jalan lahir. Pada anamnesis didapatkan perdarahan dari
jalan lahir sejak 7 hari yang lalu. Perdarahan banyak dan bergumpal-
gumpal. Nyeri perut tidak dirasakan. Riwayat haid tidak teratur. Riwayat
keputihan disangkal oleh pasien. Mual, muntah, dan demam tidak ada.
BAB/BAK : biasa.
Status Praesens :
Keadaan umum : Cukup
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 96 x/menit
Respirasi : 24 x/menit
Suhu Badan : 36,7
0
c
Status Ginekologi :
Inspeksi : Fluksus (+), vulva t.a.k
Inspekulo : Tidak dilakukan karena pasien belum menikah.
Periksa Dalam: Tidak dilakukan karena pasien belum menikah.
7

RT : Sfingter cekat, mukosa licin, ampula kosong.
Laboratorium :
Laboratorium 10 Januari 2014
Leukosit : 5000/mm
3
Eritrosit : 2,43 x 10
6
/mm
3
Hemoglobin : 3,9 g/dL
Hematokrit : 14,2 %
Trombosit : 354.000/mm
3

USG :
VU terisi cukup, uterus normal, EL (+), adneksa massa (-). Kesan: gyn
t.a.k.

DIAGNOSA SEMENTARA : P
0
A
0
, 18 tahun dengan Heavy Menstrual Bleeding
+ Anemia

SIKAP/TINDAKAN
1. Masuk rumah sakit
2. Perbaiki keadaan umum
3. Transfusi darah s/d Hb 10 gr/dL
4. As. Mefenamat 3x1
5. As. Tranexamat 3x1
6. Sf 2x1
7. Lapor konsulen
8

DISKUSI
Hal-hal yang akan didiskusikan pada kasus ini terdiri dari :
1. Diagnosis
2. Penanganan
3. Komplikasi
4. Prognosis

1. Diagnosis
Pada kasus ini, diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan ginekologik, dan pemeriksaan penunjang
sebagai berikut :
Anamnesis
Anamnesis dilakukan untuk menilai kemungkinan adanya kelainan
uterus, faktor risiko kelainan tiroid, penambahan dan penurunan BB yang
drastis, serta riwayat kelainan hemostasis pada pasien dan keluarganya.
Perlu ditanyakan siklus haid sebelumnya serta waktu mulai terjadinya
perdarahan uterus abnormal.
Prevalensi penyakit von Willebrand pada perempuan perdarahan
haid rata-rata meningkat 10% dibandingkan populasi normal. Karena itu
perlu dilakukan pertanyaan untuk mengidentifikasi penyakit von
Willebrand. Pada perempuan pengguna pil kontrasepsi perlu ditanyakan
tingkat kepatuhannya dan obat-obat lain yang diperkirakan mengganggu
koagulasi.
3
Penilaian jumlah darah haid dapat dinilai menggunakan piktograf
(PBAC) atau skor perdarahan. Data ini juga dapat digunakan untuk
diagnosis dan menilai kemajuan pengobatan PUA. Anamnesis terstruktur
dapat digunakan sebagai penapis gangguan hemostasis dengan sensitifitas
90%. Perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut pada perempuan dengan
hasil penapisan positif.
5
9

Perdarahan uterus abnormal yang terjadi karena pemakaian
antikoagulan dimasukkan ke dalam klasifikasi PUA-C1.

Tabel 1. Penapisan klinis pasien dengan perdarahan haid banyak karena kelainan
hemostasis

Tabel 2. Diagnosis banding PUA

- Pada anamnesis kasus ini didapatkan perdarahan dari jalan lahir sejak 7
hari yang lalu. Perdarahan banyak dan bergumpal-gumpal. Nyeri perut
tidak dirasakan. Riwayat haid tidak teratur. Riwayat keputihan disangkal
oleh pasien. Mual, muntah, dan demam tidak ada. Riwayat penyakit
jantung, paru, ginjal, kencing manis, darah tinggi disangkal oleh pasien.







10

Pemeriksaan Umum
Pemeriksaan fisik pertama kali dilakukan untuk menilai stabilitas
keadaan hemodinamik. Pastikan bahwa perdarahan berasal dari kanalis
servikalis dan tidak berhubungan dengan kehamilan.

Pemeriksaan indeks massa tubuh, tanda tanda hiperandrogen,
pembesaran kelenjar tiroid atau manifestasi hipotiroid/hipertiroid,
galaktorea (hiperprolaktinemia), gangguan lapang pandang (adenoma
hipofisis), purpura dan ekimosis wajib diperiksa.


Pemeriksaan Ginekologi
Pemeriksaan ginekologi yang teliti perlu dilakukan termasuk pemeriksaan
pap smear.
Harus disingkirkan pula kemungkinan adanya mioma uteri, polip,
hiperplasia endometrium atau keganasan.

- Pada pemeriksaan ginekologi kasus ini, pemeriksaan inspekulo dan
pemeriksaan dalam tidak dilakukan karena pasien belum menikah.


11


Gambar 1. Pemeriksaan fisik untuk untuk menyingkirkan kelainan yang dapat
menyebabkan PUA






12

Pemeriksaan Penunjang

Tabel 3. Pemeriksaan penunjang

Tabel 4. Langkah diagnostik perdarahan uterus abnormal menurut strata kesehatan

13


- Pada kasus ini pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah USG dan
pemeriksaan laboratorium, dari hasil pemeriksaan USG tidak ditemukan
adanya kelainan. Pada pemeriksaan lab didapatkan adanya anemia.
Hemoglobin 3.9 g/dL, Eritrosit 2,43 x 10
6
/mm
3
, dan Hematokrit 14,2 %,
masing-masing dibawah batas normal.

2. Penanganan
A. Jika perdarahan aktif dan banyak disertai dengan gangguan hemodinamik
dan atau Hb < 10 g/dl perlu dilakukan rawat inap.
B. Jika hemodinamik stabil, cukup rawat jalan (kemudian ke langkah D).
C. Pasien rawat inap, berikan infus cairan kristaloid, oksigen 2 liter/menit dan
transfusi darah jika Hb < 7 g/dl, untuk perbaikan hemodinamik.
D. Stop perdarahan dengan estrogen ekuin konyugasi (EEK) 2.5 mg per oral
setiap 4-6 jam, ditambah prometasin 25 mg peroral atau injeksi IM setiap
4-6 jam (untuk mengatasi mual). Asam traneksamat 3 x 1 gram atau anti
inflamasi non-steroid 3 x 500 mg diberikan bersama EEK. Untuk pasien
dirawat, dapat dipasang balon kateter foley no. 10 ke dalam uterus dan
diisi cairan kurang lebih 15 ml, dipertahankan 12-24 jam.
E. Jika perdarahan tidak berhenti dalam 12-24 jam lakukan dilatasi dan
kuretase (D&K).
F. Jika perdarahan berhenti dalam 24 jam, lanjutkan dengan kontrasepsi oral
kombinasi (KOK) 4 kali 1 tablet perhari (4 hari), 3 kali 1 tablet perhari (3
hari), 2 kali 1 tablet perhari (2 hari) dan 1 kali 1 tablet sehari (3 minggu),
kemudian stop 1 minggu, dilanjutkan KOK siklik 3 minggu dengan jeda 1
minggu sebanyak 3 siklus atau LNG-IUS.
G. Jika terdapat kontraindikasi KOK, berikan medroksi progesteron asetat
(MPA) 10 mg perhari (7 hari), siklik, selama 3 bulan.
H. Untuk riwayat perdarahan berulang sebelumnya, injeksi gonadotropin-
releasing hormone (GnRH) agonis dapat diberikan bersamaan dengan
pemberian KOK untuk stop perdarahan (langkah D). GnRH diberikan 2-3
siklus dengan interval 4 minggu.
14

I. Ketika hemodinamik pasien stabil, perlu upaya diagnostik untuk mencari
penyebab perdarahan. Lakukan pemeriksaan USG transvaginal
(TV)/transrektal (TR), periksa darah perifer lengkap (DPL), hitung
trombosit, prothrombin time (PT), activated partial thromboplastin time
(aPTT) dan thyroid stimulating hormone (TSH). Saline-infused
sonohysterogram (SIS) dapat dilakukan jika endometrium yang terlihat
tebal, untuk melihat adanya polip endometrium atau mioma submukosum.
Jika perlu dapat dilakukan pemeriksaan histeroskopi office.
J. Jika terapi medikamentosa tidak berhasil atau ada kelainan organik, maka
dapat dilakukan terapi pembedahan seperti ablasi endometrium,
miomektomi, polipektomi, histerektomi.
3




















Bagan 1. Panduan Investigasi Perdarahan Uterus Abnormal Akut Dan
Banyak
15

Pada kasus ini pasien dirawat inap dikarenakan perdarahan aktif dan banyak
disertai dengan anemia. Keadaan umum pasien diperbaiki, transfusi darah hingga
Hb > 10 g/dL untuk perbaiki hemodinamik. Pada penderita, medikamentosa yang
diberikan adalah asam mefenamat 3x1, asam traneksamat 3x1 dan sulfas ferosus
2x1. Dan setelah keadaan penderita membaik, penderita diperbolehkan untuk
pulang dengan anjuran kembali kontrol pada poliklinik kebidanan dan kandungan.

3. Komplikasi
Pada penderita PUA kadang terjadi komplikasi-komplikasi yang dapat
membahayakan, seperti perdarahan hebat sampai syok, dan infeksi, namun pada
penderita ini tidak dijumpai adanya syok ataupun infeksi.

4. Prognosis
Dengan melihat manajemen penanganan dari penderita ini mulai dari
diagnosis, tindakan, sampai pada follow up, semua dilaksanakan dengan tepat.
Maka pada penderita ini dapat dikatakan mempunyai prognosis dubia ad bonam.

16

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
PUA merupakan penyakit kelainan haid baik dalam jumlah maupun
lamanya. Diagnosis PUA dapat diketahui dari anamnesis bila didapatkan
keluar perdarahan dari jalan lahir baik bersifat akut maupun kronik. Namun
untuk mengetahui penyebab PUA perlu dilakukan rangkaian pemeriksaan
yang lengkap dan teliti yang meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang.
Pada pasien ini terjadi perdarahan yang hebat hingga terjadi anemia.
Komplikasi seperti syok ataupun infeksi tidak dijumpai pada pasien ini,
pasien dipulangkan setelah 4 hari rawat inap dengan keadaan umum yang
sudah membaik.

Saran
Dianjurkan agar tiap kasus PUA dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan
penunjang dengan terarah dan cepat agar penyebab dapat diketahui dengan
cepat dan penangan dapat segera dilakukan.
Pasien dianjurkan kembali kontrol pada poliklinik kebidanan dan kandungan
untuk melakukan pemeriksaan kembali agar dapat dilihat adanya komplikasi
yang mungkin bisa terjadi pada penderita ini

17

DAFTAR PUSTAKA.
1. Hanafiah Jusuf, Wibowo B. Mioma Uteri. Ilmu Kebidanan. Edisi Ketiga
Cetakan Ketujuh. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: Jakarta.
2005 : 421-23
2. Rayburn WF, Carey JC, Chalik TMA. Menstruasi Normal dan Abnormal.
Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : Widya Medika, 2001 : 309-11
3. Baziad A, Hestiantoro A,Wiweko B. Panduan Tata Laksana Perdarahan
Uterus Abnormal. Lokakarya Himpunan Endrokrinologi Reproduksi dan
Fertilitas Indonesia Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. 2011. H.
3-6.
4. Munro MG, Critchley HOD, Broder MS, Fraser IS. FIGO classification
system (PALM-COEIN) for causes of abnormal uterine bleeding in nongravid
women of reproductive age. International Journal of Gynecology and
Obsterics. 2011.
5. Hestiantoro A. Kosensus Tatalaksana Perdarahan Uterus Abnormal Karena
Efek Samping Kontrasepsi. Lokakarya Himpunan Endrokrinologi
Reproduksi dan Fertilitas Indonesia Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi
Indonesia. 2011. H. 8-12.