Anda di halaman 1dari 26

STEPHANI E VANI A EMBANG

1 0201 01 88


UNI VERSI TAS KRI STEN KRI DA WACANA

Anamnesis
Poliuria
Polidipsia
Poliphagia
Penurunan berat badan.
Neuropati.
Infeksi.
Retinopati

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik
Adapun hal-hal yang perlu dilakukan pada pemeriksaan
fisik Diabetes adalah sebagai berikut :
Inspeksi
1. Atrofi/hipotrofi otot
2. Gerakan-gerakan terbatas
3. Lesi kulit (infi Kontraktur/sikatriks
4. lnfitat, abses, ulkus, gangren)

Pemeriksaan Fisik

Palpasi
1. Pemeriksaan suhu raba (kulit dingin atau
hangat/panas)
2. Pemeriksaan pulsasi a. dorsalis pedis, a.tibialis
posterior
3. Pemeriksaan monofilamen (disentuh pada telapak
kaki)

Epidemiologi
Faktor-faktor yang
memengaruhi timbulnya
DM
1. Keturunan
2. Suku bangsa
3. Aktifitas fisik
4. Infeksi
5. Keganasan
6. Jenis kelamin
7. Bahan2 kimia
8. Pekerjaan
9. Sosial ekonomi
10. Geografi
11. Obat-obatan
12. Penyakit tertentu
(endokrin)
Epidemiologi
Pada negara-negara maju resiko DM lebih tinggi
Di indonesia urutan paling banyak di menado, ujung
pandang, jakarta, tasikmalaya, surabaya, semarang,
padang.
Working Diagnosis
DM tipe 2 merupakan sekelompok kelainan yang
dicirikan dengan berbagai derajat resistensi insulin,
gangguan sekresi insulin, dan peningkatan produksi
glukosa. Defek metabolik dan genetic yang jelas pada
fungsi/sekresi insulin merupakan penyebab
hiperglikemia yang umum pada pasien DM tipe 2,
Penunjang
Penunjang
Cara pelaksanaan TTGO (WHO 1994):
3 (tiga) hari sebelum pemeriksaan tetap makan seperti
kebiasaan sehari-hari (dengan karbohidrat yang cukup)
dan tetap melakukan kegiatan jasmani seperti biasa
berpuasa paling sedikit 8 jam (mulai malam hari)
sebelum pemeriksaan, minum air putih tanpa gula tetap
diperbolehkan
diperiksa konsentrasi glukosa darah puasa
diberikan glukosa 75 gram (orang dewasa) atau 1,75
gram/kgBB (anak-anak), dilarutkan dalam air 250 mL
dar diminum dalam waktu 5 menit

Penunjang
berpuasa kembali sampai pengambilan sampel darah
untuk pemeriksaan 2 jam setelah minum larutan
glukosa selesai
diperiksa glukosa darah 2 (dua) jam sesudah beban
glukosa
selama proses pemeriksaan subyek yang diperiksa
tetap istirahat dan tidak merokok
Hasil pemeriksaan glukosa darah 2 jam pasca
pembebanan dibagi menjadi 3 yaitu:

Penunjang
<140mg/dL normal
140-<200mg/dL toleransi glukosa terganggu
> 200 mg/dL diabetes

DD
DM tipe 1
Penderita akan mengalami gangguan metabolik di
mana tidak ada insulin dalam sirkulasi, glukagon
plasma meningkat, dan sel sel beta pankreas gagal
berespon terhadap semua rangsangan insulinogenik
yang telah diketahui.

Patofisiologi dan Etiologi
DM 2 gangguan sekresi insulin atau resistensi
insulin ke jaringan perifer.
Genetika : toleransi karbohidrat dikontrol oleh
berjuta pengaruh genetik. Oleh karena itu DM II
merupakan kelainan poligenik dengan faktor
metabolik berganda yang berinteraksi dengan
pengaruh eksogen untuk menghasilkan fenotip
tersebut koordinasi genetik pada DM tipe 2 pada
kembar identik mendekati 90%.

Patofisiologi dan Etiologi
Resistensi Insulin
Mekanisme mayor resistensi insulin pada otot
skeletal meliputi gangguan aktivasi sintase
glikogen , disfungsi regulator metabolis, reseptor
doen-regulation, dan abnormalitas transporter
glukosa.
Obesitas, terutama obesitas abdomen,
berhubungan langsung dengan peningkatan
derajat resistensi insulin.

Patofisiologi dan Etiologi
Meningkatkan penurunan ambilan glukosa
selular yang dimediasi oleh insulin.
Hepar juga menjadi resisten terhadap insulin,
yang biasanya berespon terhadap
hiperglikemia dengan menurunkan produksi
glukosa. Pada DM II, produksi glukosa hepar
terus berlangsung meskipun terjadi
hiperglikemia, mengakibatkan peningkatan
keluaran glukosa hepar basal secara tidak
tepat.

Patofisiologi dan Etiologi
Disfungsi sel beta
Disfungsi sel beta mengakibatkan
ketidakmampuan sel pulau (sel islet)
penkreas menghasilkan insulin yang
memadai untuk menyediakan insulin yang
cukup setalah sekresi insulin dipengaruhi.
Diteorikan bahwa hiperglikemia dapat
membuat sel beta semakin tidak responsif
terhadap glukosa karena toksisitas glukosa.

Patofisiologi dan Etiologi
Sekresi insulin normalnya terjadi dalam
dua fase. Fase pertama terjadi dalam
beberapa menit setelah suplai glukosa dan
kemudian melepaskan cadangan insulin
yang disimpan dalam sel beta; fase dua
merupakan pelepasan insulin yang baru
disintesis dalam beberapa jam setelah
makan. Pada DM II, fase pertama
pelepasan insulin sangat terganggu.
Patofisiologi dan Etiologi
Fungsi sel beta (termasuk fase awal
sekresi insulin) dan resistensi insulin
membaik dengan penurunan berat
badan dan peningkatan aktivitas fisik.

Komplikasi
Komplikasi Akut
Ketoasidosis diabetik
Koma hiperosmolar
hiperglikemik non
ketotik
Hipoglikemik iatrogenik

Komplikasi Kronik
Retinopati diabetik
Nefropati diabetik
Neuropati diabetik
Penyakit Jantung
Koroner

Penataksanaan
Macam-Macam Obat Anti Hiperglikemik Oral
Golongan Insulin Sensitizing
Biguanid
Glitazone
Golongan Sekretagok Insulin
Sulfonylurea
Glinid
Penghambat Alfa Glukosidase
Penghambat Dipeptidyl Peptidase IV
(Penghambat DPP-IV).

Penatalaksanaan
Non medika mentosa perubahan pola hidup
terapi gizi medis. Manfaat :
menurunkan berat badan
menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik
menurunkan kadar glukosa darah
memperbaiki profil lipid
meningkatkan sensitivitas reseptor insulin
memperbaiki system koaguasi darah
Penatalaksanaan
Tujuan Terapi Gizi Medis
Adapun tujuan dari terapi gizi medis ini adalah untuk
mencapai dan mempertahankan:
kadar glukosa darah mendekati normal
glukosa puasa berkisar 90 130 mg/dl
glukosa darah 2 jam setelah makan <180 mg/dl
kadar A1c <7%
tekanan darah < 130/80
profil lipid
kolesterol LDL < 100 mg/dl
kolesterol HDL > 40 mg/dl
Trigliserida <150 mg/dl
berat badan senormal mungkin.
Penatalaksanaan
Klasifikasi status gizi berdasarkan IMT:
Berat badan kurang < 18,5
BB normal 18, 5 22,9
BB lebih 23,0
Dengan risiko 23 24,9
Obes I 25 29,9

Preventif
Menurut WHO tahun 1994, upaya pencegahan pada
diabetes ada tiga jenis atau tahap yaitu:
Pencegahan primer
Pencegahan sekunder
Pencegahan tersier
Strategi
Pendekatan populasi / masyarakat.
Pendekatan individu berisiko tinggi.

Prognosis
Prognosis pada umumnya baik jika disertai dengan
penanganan yang baik dan sedini mungkin.
Pencegahan seperti penyuluhan oleh petugas
kesehatan dapat mencegah terjadinya komplikasi
yang dapat memperberat penyakit sampai terjadinya
kematian.