Anda di halaman 1dari 70

1

BAB I
Pendahuluan

1.1. Latar Belakang
Seiring berkembangnya teknologi dan permintaan masyarakat akan
penggunaan kertas, para pemain di industri kertas dan turunannya dituntut
untuk dapat menjawab tantangan tersebut. Kebutuhan masyarakat tersebut
kini bergeser, tidak hanya kertas secara lembaran yang digunakan untuk
menulis dan percetakan, namun juga kertas untuk pengemasan (packaging
paper), kertas dengan pengaman (security paper), dan kertas khusus
(special paper).
Berdasarkan data dari Swedish Forest Industries (2011), produksi
kertas dunia didominasi oleh kertas karton (corrugated material), kertas
cetak dan tulis (printing and writing paper), dan kertas untuk kemasan
(paperboard for packaging). Untuk setiap tahunnya, total produksi
diperkirakan sebesar 394 miliar ton per tahun.

Grafik 1.1.
Produksi Kertas Dunia berdasarkan Jenis
Sumber : Swedish Forest Industries (2011)



2

Indonesia, sebagai salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di
dunia, memiliki keunggulan komparatif yang perlu dioptimalkan.
Indonesia memiliki sumber daya alam potensial yang belum banyak
terkelola dalam produksi kertas (CIC, 2002). Menurut Misbahul Huda,
Ketua Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), dalam Bisnis Indonesia
(2013), pertumbuhan industri pulp dan kertas masih terbuka lebar karena
saat ini penggunaan hutan tanaman industri seluas 10 juta hektar baru
mencapai sekitar 4 juta hektar. Selain itu, kodisi geografis Indonesia yang
berada di lingkar khatulistiwa menjadikan pertumbuhan hutan empat kali
lebih cepat dari negara subtropis dan dingin.
Di sisi lain, konsumsi kertas nasional tergolong masih rendah,
sehingga potensi untuk melakukan ekspor cukup tinggi. Berdasarkan data
Kementerian Perindustrian (Jurnal Nasional, 2012), saat ini ada 12 industri
pulp dan 79 industri kertas dengan kapasitas rata-rata 7,9 juta ton per
tahun dan rata-rata produksi pulp dan kertas nasional sebanyak 12,99 juta
ton per tahun. Tahun 2011, realisasi produksi pulp mencapai 7,3 juta ton
per tahun dan kertas 10,7 juta ton per tahun. Kebutuhan kertas dunia saat
ini berkisar 340 juta ton per tahun. Dengan demikian masih ada potensi
sekitar 2,29 juta ton per tahun untuk di ekspor.

Grafik 1.2.
Produksi Kertas Dunia berdasarkan Negara
Sumber : Swedish Forest Industries (2011)


3


Data dari Swedish Forest Industries (2011), menunjukkan bahwa
negara dengan produsen kertas tertinggi, diduduki oleh China, Amerika,
dan Jepang. Indonesia berada pada posisi ke sembilan di tahun 2010, dan
menjadi peringkat ketiga di Asia. Apabila potensi industri kertas Indonesia
dapat dimaksimalkan, maka impian menjadi pemain tiga besar dunia
dalam bisnis pulp dan kertas akan dapat tercapai.
Impian Indonesia menjadi salah satu pemain industri kertas di
dunia tidak terlepas dari usaha para pelaku bisnis di industri tersebut. Pura
Group sebagai salah satu pemain dalam industri kertas dan turunannya,
memiliki kontribusi besar dalam industri kertas nasional. Sebagai pemain
terdepan dalam industri kertas, Pura Group memiliki strategi untuk
mencapai tujuan perusahaan.
Penyusunan strategi dalam pengelolaan bisnis dalam perusahaan
menjadi bagian yang penting untuk mencapai tujuannya. Tidak hanya
lingkungan internal, lingkungan eksternal diperlukan untuk menjawab
tantangan bisnis. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu analisis yang
mendalam mengenai lingkungan eksternal perusahaan agar dapat bersaing
dengan para kompetitornya dan tetap dapat menjaga keberlangsungan
bisnisnya.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan pada latar belakang diatas, adapun
rumusan masalah yang akan penulis bahas dalam makalah ini, antara lain:
1. Peluang dan ancaman apa yang muncul dari perubahan faktor-faktor
eksternal Pura Group?
2. Bagaimana implikasi bisnis dari peluang dan ancaman tersebut bagi
Pura Group?





4

1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk menganalisis
faktor-faktor lingkungan bisnis eksternal dengan menganalisis peluang dan
ancaman yang mempengaruhi Pura Group sehingga dapat terbentuk
implikasi yang digunakan sebagai prospek bisnis dimasa yang akan
datang.

1.4. Metode Penelitian
1.4.1. Metode Penelitian
1.4.1.1. Penelitian Kualitatif
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dalam penulisannya.
Metodologi kualitatif menurut Bogdan dan Taylor (1975) dalam Moleong
(2005) didefinisikan sebagai prosedur penelitian yang bertujuan
mengumpulkan dan menganalisis data deskriptif berupa tulisan, ungkapan
lisan dari orang dan perilakunya yang dapat diamati. Di lain sisi, penelitian
kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan prosedur analitis yang tidak
menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantifikasi lainnya.

1.4.1.2. Analisis PESTEL
Untuk menganalisis lingkungan eksternal perusahaan, penulis
menggunakan alat analisis PESTEL. PESTEL merupakan alat analisis
yang biasa digunakan dalam membaca lingkungan eksternal. PESTEL
merupakan akronim untuk politik, ekonomi, sosial, teknologi, ekologikal,
dan legal, yang digunakan untuk meninjau strategi atau posisi, arah
perusahaan, proposisi pemasaran, atau sebuah ide. PESTEL merupakan
pengembangan dari model awal PEST, yang melibatkan pengumpulan dan
penggambaran informasi mengenai faktor internal dan eksternal yang
memiliki, atau mungkin memiliki, dampak pada bisnis (Rothaermel,
2012).


5

Dalam penulisan makalah ini, penulis membagi analisis PESTEL
tersebut menjadi beberapa bagian yang lebih spesifik dari faktor-faktor
lingkungan, antara lain:
1. Politik, yaitu terdiri atas politik domestik yang ada di dalam negeri
dan politik internasional.
2. Ekonomi, terdiri atas ekonomi regional, fiskal dan moneter,
ekonomi pembangunan dan ekonomi industri.
3. Sosial, terdiri atas demografi, budaya, dan lingkungan sosial itu
sendiri
4. Teknologi, terdiri atas teknologi pemrosesan dan teknologi
informasi.
5. Ekologikal, berupa faktor terkait lingkungan alam.
6. Legal, yaitu terkait dengan hukum dan pemerintahan.


Grafik 1.3.
Analisis PESTEL
Sumber : diolah oleh penulis.





6

1.4.1.2. Garis Waktu
Batasan garis waktu diperlukan dalam membatasi pembahasan
dalam makalah ini. Penulis mengambil batasan waktu dari tahun 2012
hingga tahun 2015. Pembatasan waktu dilakukan karena beberapa isu
mungkin tidak lagi relevan dalam lingkungan bisnis pada saat ini dan
beberapa tahun mendatang.
Dalam batasan waktu empat tahun, ada beberapa isu penting yang
perlu dibahas dalam makalah ini. Isu pertama adalah terkait pemilihan
umum, baik pemilihan kepala daerah (bupati dan walikota), pemilihan
gubernur, pemilihan presiden dan wakil rakyat lainnya. Isu kedua terkait
tantangan Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA),
yang mana akan direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2015. Isu
ketiga mengenai imbas regulasi pemerintah yang disusun pada tahun-tahun
sebelumnya, yang masih berakibat pada eksternal lingkungan perusahaan.
Serta isu terakhir mengenai berbagai permasalahan yang belum dapat
diselesaikan oleh perusahaan.


Grafik 1.4.
Garis waktu pembahasan masalah
Sumber : diolah oleh penulis.



7

1.4.2. Sumber Data
1.4.2.1. Data Primer
Data primer diperoleh melalui wawancara kepada beberapa
pegawai di Pura Group.

1.4.2.2. Data Sekunder
Untuk mendapatkan data sekunder, penulis menggunakan sejumlah
data yang diperoleh dari website Pura Group dan website yang
berhubungan dengan lingkungan bisnis serta artikel dari majalah, surat
kabar dan literatur.

1.5. Manfaat Penelitian
Dengan mengetahui peluang dan ancaman yang akan dihadapi
serta implikasi terhadap kegiatan bisnis Pura Group dapat dijadikan
sebagai acuan dalam pengambilan keputusan terkait dengan keputusan-
keputusan manajemen. Pengambilan keputusan akan mempengaruhi
kondisi perusahaan pada masa yang akan datang. Pengambilan keputusan
yang tepat diharapkan dapat menjamin keberlangsungan perusahaan
sebagai tujuan dari berdirinya sebuah perusahaan.














8

BAB II
Profil Perusahaan

2.1. Sejarah Perusahaan
Berawal dari percetakan kecil yang memiliki karyawan berjumlah
kurang dari delapan orang, kini Pura Group (Perseroan) menjadi
perusahaan besar yang memiliki 25 divisi produksi yang telah bertumbuh
menjadi salah perusahaa yang cukup disegani di industri percetakan &
pengepakan di Asia Tenggara. Hingga tahun 2013, perusahaan ini telah
memiliki lebih dari 8500 karyawan.
Didirikan pada tahun 1908 oleh Ong Djing Tjong Electriche
Drukkery, pada awalnya perusahaan ini merupakan perusahaan keluarga.
Kini, Pura Group dipimpin oleh Jacobus Busono, generasi ketiga penerus
bisnis perusahaan tersebut. (Achmad Rudiyat, 2009). Ketika didirikan
tahun 1908, kakek dan ayahnya dari pemimpin Pura tak pernah bermimpi
bahwa percetakannya bakal dikenal seperti sekarang. Saat itu Electriche
Drukkery hanyalah satu dari tiga percetakan kecil lain yang ada di Kudus,
Jawa Tengah, yaitu: Sam Hoo Kongso, dan Tjung Hwa.
Pura Group berlokasi di Kudus, sekitar 50 kilometer di timur kota
Semarang, Indonesia. Sebagai kota kecil yang jauh dari pusat bisnis, Pura
Group telah berhasil mengembangkan wilayah sekitarnya menjadi kota
kecil yang modern. Meski proses produksi dilakukan di Kudus,
perusahaan telah memiliki dua kantor representatif di Semarang, Surabaya
dan Jakarta yang melayani pesanan penjualan.

2.2. Logo, Visi, Misi, dan Budaya Perusahaan

Gambar 2.1.
Logo Pura Group


9

Berdasarkan website resmi Pura Group, adapun visi, misi, dan
budaya perusahaan adalah sebagai berikut.
i. Visi
Menjadi pemain utama di industri percetakan dan pengepakan
global, dengan memanfaatkan inovasi produk, sinergi, dan solusi
yang komprehensif.
ii. Misi
Memenuhi permintaan dan kebutuhan akan produk-produk
pengepakan dan percetakan di pasar domestik dan di luar negeri,
dengan menawarkan solusi yang inovatif, berkualitas, dan berbasis
teknologi canggih dan bahan baku lokal.
iii. Budaya
Inovasi/ gebrakan dan pembelajaran yang berkesinambungan
adalah kunci untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.
1. Sumber daya manusia adalah kunci dari inovasi.
2. Membangun karakter adalah langkah pertama untuk
melahirkan sumber daya manusia yang kompeten.

2.3. Bisnis Pura Group
Berawal dari perusahaan percetakan, Pura Group terus berinovasi
untuk memberikan nilai lebih kepada para pelanggannya. Perseroan
tersebut kini memiliki kelompok usaha yang terintegrasi secara vertikal
dan terdiri dari berbagai divisi/ unit bisnis, yang bergerak di bidang-bidang
usaha sebagai berikut:
1. Sistem Anti Pemalsuan.
2. Pembuatan Kertas Security & Kertas Uang.
3. Konversi Kertas & Film.
4. Percetakan & Pengepakan.
5. Teknologi Identifikasi Tingkat Tinggi.
6. Rekayasa.



10

Berdasarkan enam bidang usaha tersebut, perusahaan membagi
unit produksinya menjadi 25 unit bisnis, yang dikepalai oleh empat anak
perusahaan, antara lain: PT. Pura Barutama, PT. Pura Nusa Persada, PT.
Pura Dekorindo, dan PT. Pura Binaka Mandiri. Struktur bisnis untuk
masing-masing perusahaan, ditunjukkan pada gambar 2.2.


Gambar 2.2.
Struktur Bisnis Pura Group
Sumber : Puragroup.com

Pura Group telah dipercaya oleh para pelanggan-pelanggannya
baik dari perusahaan besar tingkat nasional, maupun pengadaan barang
oleh pemerintah. Hal ini tentu menjadi pencapaian yang membanggakan
bagi perusahaan tersebut. Adapun beberapa pelanggan dari Pura Group
berdasarkan produk yang dihasilkan, antara lain:
1. Kartu Pintar Ada dua jenis yaitu, (1) contact card Berupa kartu
dengan chip yang biasa digunakan dalam kartu perdana telepon


11

genggam dan kartu atm/kredit, dan (2) contact less card, yang sering
disebut kartu prabayar. Pelanggan yang telah menggunakan jasa Pura
Group seperti: Telkom Flexi, Mentari, Esia, Bank Jatim, TransJakarta,
dan Pertaminagas
2. Dokumen Kenegaraan seperti Paspor, Ijasah Pendidikan, Soal Ujian
Nasional (untuk regional Jawa Tengah dan sekitarnya), KTP, SIM, dan
Akta lainnya.
3. Kertas dengan Pengaman salah satunya Uang Rupiah RI yang pernah
dimenangkan tendernya pada tahun 2003, dan pesanan uang di negara
Somalia dan negara timur tengah lainnya.
4. Kertas Kemasan Lanjutan - produk-produknya telah banyak dipakai
berbagai perusahaan, antara lain oleh Bayer, LOreal, Pfizer, Chering,
P&G, Tempo Scan Pacific, Sanbe Farma, HM Sampoerna, dan
Djarum.

2.4. Perkembangan Usaha
Dalam perkembangan usahanya, Pura Group mencatatkan berbagai
pencapaian yang telah dilakukan. Adapun milestones yang telah dilakukan
perusahaan tersebut:

1. Embrio Pura Group (1908 1970)
Selama lebih dari 60 tahun, Pura Group beroperasi secara
turun-temurun sebagai rumah cetak letter press, yang merupakan
embrio dari Pura Group sekarang ini.

2. Divisi Baru (1970 1979)
Perkembangan kebutuhan masyarakat mendorong Pura Group
untuk terus berinovasi dengan membuat divisi-divisi baru, yang
nantinya diharapkan dapat berfokus dalam memproduksi barang.
Adapun diantaranya Divisi Cetak Offset, Divisi Pre press, Divisi
Cetak Rotogravure (dengan produksi silinder cetak sendiri), Divisi


12

Metallizing, Divisi Corrugated Box, Paper Mill 23, dan fasilitas
pembuatan tinta Cetak. Dengan adanya divisi-divisi tersebut,
menjadikan Pura Group sebagai pemain utama di bidang
percetakan terintegrasi di Asia Tenggara.

3. Era Kertas Bebas Karbon dan Holografi (1980 - 1989)
Pada dekade ini Pura Group menjadi perusahaan pertama di
kawasan negara-negara tropis tanpa karbon. Selain itu, upaya
menjadi pelopor dalam industrinya juga dilakukan dengan
pendirian divisi holografi dan divisi hot stamping foil, serta divisi
rekayasa dan elektronika industri yang khusus menangani pabrik
dan mesin-mesin.

4. Era Mikrokapsul dan Kertas dengan Pengaman (1990 2000)
Microcapsule adalah tonggak penting dalam sejarah Pura
Group, sebab hal itu menjadikan Pura Group sebagai produsen
microcapsule pertama di Asia Tenggara. Microcapsule adalah
bahan baku pembuat kertas tanpa karbon. Pencapaian lain pada
dekade ini adalah, Pura Group menjadi satu-satunya perusahaan
swasta di Asia Tenggara yang mengembangkan sistem dan fitur
anti pemalsuan perkembangan yang menjadi cikal bakal
kelahiran Divisi Total Security System. Pada saat yang sama Pura
Group mulai membuat kertas uang (bank note paper) dengan
menggunakan peralatan yang dirancang dan diproduksi sendiri,
serta memroduksi melamine phenolic impregnated paper melalui
divisi Dekorindo.

5. Era Teknologi Hijau (2001 sekarang)
Ada tiga pencapaian yang dicapai di era teknologi hijau yaitu
Pura Group membangun Pura Power Plant sebagai tantangan atas
kebutuhan listrik dalam perusahaan. Pencapaian kedua yaitu


13

pengembangan dan aplikasi teknologi nano yang dimanfaatkan
menjadi produk penyaring sinar matahari untuk jendela kaca (solar
window film), yang kemudian diterapkan pada jendela mobil,
gedung, rumah, dan bangunan lainnya sehingga pemanfaatan sinar
matahari optimal. Pencapaian terakhir yaitu pengembangan
generator listrik dengan bahan bakar nabati untuk operasional
perusahaan.


























14

BAB III
Analisis Faktor Eksternal Bisnis

3.1. Politik Domestik
Isu pada aspek politik domestik adalah Pemilihan Umum. Pada
tahun 2013 ini, masyarakat Indonesia akan disibukkan dengan kemeriahan
Pemilihan Kepala Daerah, Kabupaten, (PILKADA) dan Gubernur
(PILGUB), dan puncaknya, pada tahun 2014 mendatang akan diadakan
Pemilihan Presiden beserta anggota DPR, DPD, dan DPRD. Sejak adanya
UU Otonomi Daerah dan UU Pemilihan Umum, setiap daerah
kota/kabupaten berhak untuk menyelenggarakan pemilihan umum sendiri.
Pemilihan umum merupakan salah satu sarana utama untuk
menegakkan tatanan politik yang demokratis. Fungsinya adalah sebagai
alat menyehatkan dan menyempurnakan demokrasi, bukan sebagai tujuan
demokrasi (Amin Hidayat, 2012). Indonesia telah sepuluh kali
melaksanakan pemilu; tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997,
1999, 2004. Dengan belajar dari kelebihan dan kekurangan dari
pelaksanaan pemilu tersebut, tentunya pelaksanaan pemilu mendatang
tahun 2014, diharapkan akan lebih baik.
Permasalahan di dunia bisnis adalah adanya PEMILU akan
meningkatkan ketidakpastian dalam investasi. Bedasarkan data dari ADB
2011, tingkat investasi luar negeri langsung menurun drastis pada saat
tahun 2002 ke 2004, dimana pada tahun 2003 terjadi proses pra PEMILU.
Sebanyak Rp 600 miliar investasi di Indonesia menghilang, yang berarti
beberapa investor dengan nilai investasi Rp 600 miliar hengkang dari
Indonesia. Begitu pula di tahun sebelumnya yaitu tahun 1999.
Meskipun tidak terjadi lagi di tahun 2009, pergolakan politik pada
saat PEMILU di Indonesia, khususnya pada saat pergantian presiden,
cukup harus diwaspadai oleh para investor agar tidak mengalami kerugian.


15




Gambar 3.1.
FDI bedasarkan Negara dari tahun 1990 2010
ADB (2011)

Ketidakpastian politik selama beberapa hari di sekitar peristiwa
politik akan berpengaruh terhadap iklim investasi di suatu wilayah.
Bedasarkan penelitian Adler dan Cahyanti (2008), investasi pada beberapa
sektor yang terlalu reaktif terhadap peristiwa politik sebaiknya dihindari
jika ada indikasi bahwa informasi yang muncul tidak sesuai dengan
harapan investor secara umum. Sektor keuangan, sektor perdagangan, jasa
dan investasi, serta sektor konstruksi, properti dan real estat menunjukkan
reaksi setiap kali peristiwa politik terjadi. Peristiwa politik tersebut
meliputi pengumuman hasil PEMILU legislatif, pemilihan presiden,
kabinet, dan reshuffle kabinet. Meskipun penelitian mengkerucutkan objek
penelitian melalui bursa efek, namun transaksi di bursa efek merupakan
representasi dari transaksi di lapangan.
Dalam melihat fenomena ini, para pelaku bisnis harus waspada
akan adanya tantangan politik domestik. Adapun tiga kategori pelaku


16

bisnis dalam melihat peluang dan ancaman dari peristiwa politik, antara
lain:
1. Konservatif
Tipe pebisnis ini akan menunda investasi mereka sampai peristiwa
politik selesai dan kondisi benar-benar stabil sehingga terhindar dari
risiko akibat iklim politik yang tidak kondusif.
2. Moderat
Pada pelaku bisnis dengan karakter moderat, pilihan investasi akan
dilakukan dengan melakukan wait and see apakah iklim politik benar-
benar mempengaruhi investasi yang dilakukan. Ada beberapa sektor
yang akan bepengaruh besar terhadap peristiwa politik seperti industri
padat karya, sehingga mereka akan menghindari investasi pada sektor
tersebut.
3. Agresif
Pelaku bisnis dengan karakter agresif merupakan investor yang berani
menanggung risiko, dimana pada saat peristiwa politik, mereka tidak
terlalu memperhatikan pengaruh dari iklim politik sehingga terus
bertransaksi. Adanya pemikiran bahwa perbaikan sistem bisnis yang
tidak akan mengganggu iklim investasi, menjadi acuan dalam
kelompok ini.

3.1.1. Peluang Bisnis
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofyan
Wanandi menyatakan bahwa perbaikan iklim investasi akan berubah
apabila terjadi pergantian kepemimpinan nasional. Hal tersebut dapat
dilakukan kecuali dengan suksesi kepemimpinan nasional. Dibutuhkan
leadership atau kepemimpinan nasional yang kuat untuk dapat menentukan
arah dan prioritas program pembangunan untuk dapat keluar dari krisis
karena kepemimpinan nasional saat ini tidak menaruh perhatian terhadap
masalah investasi dan kesultan yang dihadapi dunia usaha (Tempo, 2004).


17

Peluang baru para pelaku bisnis adalah harapan akan adanya
perbaikan sistem birokrasi/perijinan dan praktik pengadaan tenaga kerja di
lingkungan wilayah perusahaan berada. Hal tersebut dapat berupa
dukungan pimpinan daerah atau provinsi dalam keberlangsungan hidup
organisasi dan bisnis, atau perubahan kebijakan yang pro pengusaha.
Selain penyusunan kebijakan yang mendukung, harapan dari
pengusaha terhadap pemimpin baru berupa sikap pro pengusaha juga dapat
ditunjukkan melalui inovasi pengembangan wilayah dan pembangunan
sarana-prasarana yang mendukung investasi. Misalnya pembangunan
akses jalan raya, pengembangan kawasan ekonomi khusus, pembangunan
akses transportasi, dan sebagainya.

3.1.2. Ancaman Bisnis
Disisi lain, ancaman baru juga datang apabila memiliki pimpinan
baru. Banyaknya jargon para calon pemimpin baru tentang kenaikan upah
tenaga kerja, penyerapan tenaga kerja besar-besaran, membuat para pelaku
bisinis wait and see dalam mengambil keputusan investasi atau melakukan
ekspansi.
Misalnya saja saat kepemimpinan Jokowi pada akhir tahun 2012
untuk menaikkan UMR setelah terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Kebijakan menetapkan upah minimum provinsi (UMP) Rp 2,2 juta per
bulan di 2013 dan ditindaklanjuti dengan Surat Edaran yang diterbitkan
oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar terkait
antisipasi pelaksanaan upah minimum tahun 2013. Surat edaran tersebut
ditujukan untuk mengantisipasi dampak kelangsungan usaha di industri
padat karya (usaha tekstil, alas kaki dan indutri mainan) akibat kenaikan
upah minimum 2013. Pada kenyataannya, tidak semua perusahaan mampu
membayar upah para karyawannya sebesar nominal yang ditentukan
Jokowi karena ukuran perusahaan serta kapasitas usaha juga belum
dipertimbangkan secar matang oleh Gubernur DKI tersebut.


18

Pada saat PEMILU di Orde Baru. Pada saat itu, Presiden tidak
berganti, sehingga tidak ada perubahan kebijakan terkait stabilitas
ekonomi. Pembangunan Ekonomi didasarkan pada PELITA, sehingga arah
kebijakan jelas. Berbeda dengan paska reformasi, keberhasilan kebijakan
yang mendukung perekonomian belum terlihat performanya, namun saat
pergantian Presiden dan Kepala Daerah, sudah banyak yang diganti. Hal
tersebut akan membingungkan para investor, khususnya yang akan
menanamkan modal berupa investasi fisik seperti pabrik dan aset lainnya.
Ketakutan lain yang dirasakan oleh para pelaku usaha adalah
keamanan dari bisnis yang dijalankan. Ketika kondisi politik memanas
saat PEMILU, terlebih pada saat pengumuman, maka akan banyak
diprediksikan terjadi kerusuhan antar pendukung parpol maupun calon
gubernur. Terlebih jika lokasi perusahaan dekat dengan pusat kota,
sehingga mungkin kerusuhan tidak dapat dihindarkan seperti pada era
Reformasi, tahun 1998 lalu.

3.1.3. Implikasi Perusahaan
Pura Group sebagai perusahaan padat karya, memiliki tingkat
sensitifitas tinggi terhadap isu politik. Meski berlokasi di Kudus, Jawa
Tengah, potensi terjadinya konflik akibat ketidakpastian politik cukup
besar. Oleh karena itu, Pura Group melakukan wait and see dalam
melakukan ekspansi atau investasi lainnya. Hal ini dengan pertimbangan
bahwa agenda politik di tahun 2013 dan 2014 memiliki durasi yang lama,
sehingga apabila keputusan bisnis tidak dilakukan, perusahaan tersebut
akan kehilangan kesempatan.

3.2. Politik Internasional
Agenda Masyarakat Ekonomi ASEAN yang dicetuskan pada
Kongres ASEAN di Bali pada 17-19 November 2011 lalu menghasilkan
Bali Concord III, dimana seluruh negara bersepakat untuk menandatangani
perjanjian pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Konsep utama


19

dari AEC atau Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah menciptakan ASEAN
sebagai sebuah pasar tunggal dan kesatuan basis produksi dimana terjadi
free flow atas barang, jasa, faktor produksi, investasi dan modal serta
penghapusan tarif bagi perdagangan antar negara ASEAN yang kemudian
diharapkan dapat mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi
diantara negara-negara anggotanya melalui sejumlah kerjasama yang
saling menguntungkan (Ditjen KPI, 2011). Perjanjian tersebut didasarkan
atas pertimbangan globalisasi ekonomi, dimana para anggota negara di
ASEAN perlu memperkuat integrasi perekonomian di regional ASEAN,
serta meningkatkan peran serta ASEAN dalam perekonomian global.
Selanjutnya, KTT ASEAN 2012 ke 21, di Phnom Penh,
menindaklanjuti mengenai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015,
dimana para anggota negara ASEAN harus mempercepat upaya
memperdalam integrasi perekonomian jelang MEA. Pada kesempatan itu,
Perdana Menteri Myanmar selaku pemimpin ASEAN 2012, mengajak
para kepala negara di ASEAN untuk menyelesaikan beberapa isu seperti
hambatan tarif dan non-tarif, liberalisasi investasi, konektivitas dan
trasportasi dan UMKM. Selain itu layanan profesional dan perpindahan
tenaga kerja, infrastruktur kelembagaan dan reformasi peraturan juga
menjadi perhatian dalam konferensi tersebut.
Dalam menghadapi MEA 2015, iklim bisnis akan sangat
berpengaruh pada kelangsungan bisnis tersebut. Bedasarkan data dari
Global Competitiveness Forum (Tabel 1.2), Indonesia berada di posisi
kedua teratas, dibandingkan beberapa negara di Asia Tenggara. Jarak
peringkat antara Indonesia dan Singapura sebagai nomor satu sangat jauh,
hal tersebut masih memungkinkan untuk melakukan perbaikan dari segi
makro. Meskipun demikian, Indonesia tetap menjadi negara pilihan dalam
berbisnis dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya.





20

Tabel 3.1
Indeks Kompetisi Global dalam Makro Ekonomi
(Global Competitiveness Forum, 2013)

Peringkat ASEAN Negara Peringkat dalam GCI
1 Singapore 17
2 Indonesia 25
3 Thailand 27
4 Malaysia 35
5 Filipina 36

Persiapan dalam menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN memang
tidak memilliki waktu yang lama. Namun apabila para pelaku bisnis di
Indonesia tidak siap dalam menghadapinya, maka bisnis dari Indonesia
akan kalah saing dibandingkan negara ASEAN lainnya.


3.2.1. Peluang Bisnis dan Ancaman Bisnis
Pura Group telah memiliki rekam jejak yang baik di lingkup Asia
Tenggara, namun tidak semua perusahaan di lingkup regional tersebut
mengenal perusahaan pengolah kertas tersebut. Dengan demikian, MEA
2015 dapat dijadikan momen untuk melakukan ekspansi bisnis, membuka
pasar baru di wilayah ASEAN, dan mungkin kedepannya dapat melakukan
kerjasama bisnis dengan perusahaan lain atau membuka anak perusahaan
di wilayah Asia Tenggara..
Indonesia sebagai pemain utama dalam bisnis kertas di Asia
Tenggara, bukan berarti Indonesia tidak memiliki kompetitor potensial.
Pura Group bergerak tidak hanya bergerak dalam bisnis pengolahan kertas,
namun juga kertas dengan sekuritas dan teknologi. Perlu diakui bahwa
Malaysia dan Singapura merupakan kompetitor terbesar dari segi
teknologi. Dengan demikian, mungkin kedepannya akan ada perusahaan
pengolahan kertas dan turunannya dari kedua negara tersebut.




21

3.2.2. Implikasi
Untuk dapat menjaga kelangsungan bisnisnya, Pura Group
melakukan kerjasama bisnis dengan perusahaan Miroza Leather dari
Malaysia untuk mengembangkan tanaman jarak, sebagai bahan baku
energi alternative (bio oil) dan teknologi industri d beberapa Negara di
kawasan Indochina. Selain itu, kerjasama dilakukan juga untuk teknologi
industri lain seperti percetakan , kemasan, converting ( proses lanjut kertas
) rekayasa kembali dan system antipemalsuan terpadu. Industri kertas
berharga, kertas uang, mesin pembuatan es, screw press dan refinery
machine yang tengah dikembangkan Pura juga menjadi fokus kerjasama
dengan perusahaan Malaysia tersebut. (Website Resmi Pura Group, 2012).
Selain itu, Pura Group juga tidak hanya menggantungkan pasar
ASEAN sebagai pelanggannya, namun juga bermain di pasar luar
ASEAN, seperti Bolivia dan Timur Tengah. Pura Group telah berhasil
menjadi supplier yang dipercaya dan diakui untuk security product
bekerjasama dengan Artes Holograficas, perusahaan terkemuka di negara
Bolivia. (Website Resmi Pura Group, 2012).

3.3. Ekonomi Regional
Isu Visit Jateng 2013, menjadi fokus utama pada pembahasan
ekonomi regional. Pada tahun 2013, pemerintah provinsi Jawa Tengah
menggelar kembali ajang pariwisata melalui Visit Jawa Tengah 2013,
yang pada awalnya tertunda karena belum siapnya acara tersebut di tahun
2012. Ada empat wilayah destinasi yang menjadi fokus di Visit Jateng
2013 ini, antara lain: Semarang-Karimunjawa, Solo-Sangiran, Borobudur-
Dieng, dan Nusa Kambangan. Bedasarkan data dari BPS (2010) ada 284
destinasi wisata di Jawa Tengah yang tersebar di 35 Kota/Kabupaten.
Pemerintah provinsi mengeluarkan anggaran sebesar Rp 51 miliar
untuk mengembangkan pariwisata Jawa Tengah (Kompas, 2012). Dana ini
tersebut digunakan untuk pembangunan daya tarik wisata, seperti
perbaikan museum dan tempat destinasi lainnya. Selain itu pembangunan


22

aksesibilitas menjadi salah satu agenda pembangunan yang dilakukan oleh
Pemprov Jawa Tengah. Pembangunan jalan di desa-desa wisata, serta
perluasan Bandara Achmad Yani di Semarang dan Bandara Adi Soemarno
di Solo, serta perbaikan pelabuhan Tanjung Mas, akses kapal cepat KMC
Kartini 1. Kegiatan pembenahan untuk menunjang pariwisata lainnya
adalah sertifikasi bagi pemandu wisata. Juga, lanjutnya, pembangunan
pusat jajanan dan oleh-oleh, pusat kerajinan, dan pusat informasi
pariwisata (Tourism Information Centre).
Ada beberapa hal yang menjadi alasan mengapa Visit Jateng 2013
dapat menjadi momen percepatan pertumbuhan ekonomi regional, antara
lain:
(1) Percepatan pembangunan infrastruktur
Dengan adanya Visit Jateng 2013, pemerintah akan melakukan
pembenahan dan pembangunan infrastruktur baru. Pembangunan
infrastruktur baru dapat berupa pembangunan jalan penghubung
antar, sedangkan pembenahan banyak dilakukan pada perbaikan
akses jalan menuju destinasi wisata. Disamping itu, percepatan
pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo juga menjadi fokus
pemerintah Jawa Tengah dalam meningkatkan aksesibilitas antar
wilayah dalam pariwisata.
Percepatan pembangunan infrastruktur untuk
mengakomodasi para wisatawan dalam sektor pariwisata, tidak
hanya dapat digunakan hanya untuk kepentingan wisata, namun
juga dapat digunakan untuk aksesibilitas sektor lain dalam kegiatan
ekonomi.
(2) Percepatan perputaran ekonomi dalam dan luar wilayah
Ketika wisatawan datang ke Jawa Tengah untuk berlibur, tentu saja
mereka tidak hanya akan mengunjungi satu wilayah atau satu
destinasi. Dalam perjalanannya, mereka akan melewati beberapa
wilayah dan mereka akan membeli makanan, souvenir atau
berbagai kebutuhan lainnya untuk mendukung kenyamanan dalam


23

berwisata. Perputaran ekonomi dalam wilayah tersebut akan
meningkat seiring banyaknya jumlah pengunjung.
Tidak hanya di satu wilayah, percepatan perputaran
ekonomi tidak menutup kemungkinan untuk wilayah lain. Hal
tersebut dikarenakan sumber daya ekonomi di setiap wilayah tidak
sama. Misalnya untuk Kota Semarang, masih bergantung pada
hasil pertanian pada Kab. Ungaran dan Ambarawa sehingga
apabila Kota Semarang mendapatkan banyak kunjungan pada saat
momen Visit Jateng 2013, perekonomian Kab. Ungaran dan
Ambarawa juga akan meningkat.
(3) Percepatan peningkatan arus investasi
Visit Jateng 2013, akan meningkatkan investasi di masing-masing
wilayah yang memiliki potensi pariwisata. Dengan demikian,
investasi tidak hanya terpusat di kota-kota besar, seperti Semarang,
Solo, dan Magelang, namun juga di beberapa kabupaten potensial
seperti Karanganyar, Kebumen, dan Kudus. Pertumbuhan ekonomi
yang pada awalnya terpusat di kota-kota besar akan berimbas pada
pemerataan.
Banyaknya muncul hotel, resort, vila, dan restauran di
wilayah-wilayah yang kurang strategis dari segi mobilitas, namun
potensial sebagai pendukung wisata, merupakan salah satu bukti
bahwa pertumbuhan ekonomi mulai tersebar di seluruh wilayah
Jawa Tengah.
(4) Percepatan peningkatan daya saing antar wilayah
Daya saing daerah sering dikaitkan dengan kemampuan suatu
daerah dalam memasarkan produk yang dihasilkan relatif terhadap
kemampuan daerah lain. Suatu daerah yang mampu bersaing
dengan daerah lain dalam memproduksi dan memasarkan barang
dan jasa disebut mempunyai daya saing tinggi. Dalam pengukuran
daya saing daerah menggunakan 9 (sembilan) indikator utama,
yaitu (1) perekonomian daerah, (2) keterbukaan, (3) sistem


24

keuangan, (4) infrastruktur dan sumber daya alam, (5) ilmu
pengetahuan dan teknologi, (6) sumber daya manusia, (7)
kelembagaan, (8) governance dan kebijakan pemerintah, dan (9)
manajemen dan ekonomi mikro. (Bappenas, 2007)
Dengan adanya Visit Jateng 2013, diharapkan daya saing
pada masing-masing daerah akan meningkat karena adanya
kompetisi secara tidak langsung dalam menarik para wisatawan
untuk mau berkunjung ke suatu kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Adanya perbaikan dari berbagai sektor, akan meningkatkan
competitiveness untuk masing-masing indikator daya saing.

3.3.1. Peluang, Ancaman, dan Implikasi Bisnis
Multiplier effect dalam adanya suatu momen, khususnya di sektor
pariwisata, memberikan dampak positif terhadap perekonomian wilayah.
Dengan adanya Visit Jateng 2013, seluruh stakeholder dari sektor
pariwisata akan secara cepat berbenah. Tidak hanya pemerintah melalui
pembangunan infrastruktur, pelaku swasta (seperti pemilik hotel dan
restoran, pengelola tempat wisata dan travel agent) akan segera berbenah
untuk dapat membuat nyaman para pengunjung. Selain itu, masyarakat
sekitar destinasi wisata juga memiliki kontribusi besar dalam sektor
pariwisata.
Meski Pura Group tidak bergerak di bidang pariwisata dan
turunannya, imbas dari Visit Jateng 2013 dapat dirasakan oleh perusahaan
tersebut. Lokasi pabrik Pura Group yang berada di wilayah Jawa Tengah,
memberikan keuntungan bagi perusahaan terkait momen tersebut.
Percepatan pembangunan infrastruktur menjadikan Pura Group dalam
mendistribusikan hasil produksi ke wilayah lain melalui jalan darat.
Peningkatan daya saing wilayah antar daerah menjadikan Pura Group
lebih fleksibel dalam mengurus perijinan terkait birokrasi dengan
pemerintah. Hal tersebut merupakan bentuk dari multiplier effects bagi
perusahaan.


25

Ancaman dari adanya Visit Jateng 2013 adalah meningkatnya
trafik jalur darat karena adanya peningkatan wisatawan yang masuk ke
wilayah Jawa Tengah. Namun hal tersebut tidak berpengaruh signifikan
terhadap bisnis Pura Group.
Implikasi bagi perusahaan, Pura Group dapat memanfaatkan
momen tersebut untuk memaksimalkan potensi perusahaan terkait
distribusi kepada para pelanggan Pura Group.

3.4. Fiskal dan Moneter
Kebijakan Fiskal merupakan kebijakan ekonomi dalam rangka
mengarahkan kondisi perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan
jalan mengubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan
moneter merupakan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui
bank sentral (Bank Indonesia) untuk mengendalikan agregat moneter
(seperti uang beredar, uang primer, atau kredit perbankan) dengan harapan
mempengaruhi sektor riil, khususnya menunjang pembangunan ekonomi.
(Ketut Nehen, 2002)
Kebijakan fiskal dan kebijakan moneter merupakan bagian integral
dari kebijakan makro ekonomi yang memiliki target yang harus dicapai
baik dalam jangka pendek dan jangka panjang. Pengelolaan kebijakan
fiskal dan moneter melalui koordinasi yang baik akan memberikan sinyal
positif bagi pasar dan menjaga stabilitas makro ekonomi. Stabilitas makro
ekonomi dapat dilihat dari adanya penurunan variabel makro ekonomi
pada saat krisis menyebabkan variabel makro ekonomi lainnya juga akan
terpengaruh. Penurunan nilai tukar rupiah sebagai imbas pasar keuangan
global yang mengalami krisis sehingga mempengaruhi variabel makro
ekonomi seperti inflasi dan tingkat SBI.
Inflasi adalah salah satu fundamental ekonomi yang penting dalam
perekonomian yang tidak bisa diabaikan, karena dapat menimbulkan
dampak yang negatif terhadap perekonomian dan kesejahteraan
masyarakat. Inflasi yang tinggi akan menyebabkanketidakstabilan


26

perekonomian. Kestabilan harga harus tercapai untuk menghindari dampak
buruk dari inflasi yang tinggi. Beberapa bukti empiris menunjukkan bahwa
pertumbuhan ekonomi disuatu negara hanya dapat dicapai melalui
pencapaian inflasi yang rendah.
Dalam suatu perekonomian, hubungan antara pertumbuhan
ekonomi dan inflasi saling berkaitan. Pencapaian inflasi yang tinggi akan
menyebabkan pertumbuhan ekonomi menjadi melambat. Sebaliknya jika
pencapaian inflasi relatif stabil maka dapat mendorong pertumbuhan
ekonomi. Apabila inflasi tidak dapat ditangani, maka dapat terjadi potensi
krisis ekonomi.
Kebijakan pemerintah untuk mengurangi alokasi subsidi bahan
bakar minyak dengan menaikkan harga bahan bakar minyak dalam negeri
dapat berpengaruh besar bagi iklim usaha di Indonesia. Kebijakan tersebut
dapat dilihat dalam dua sudut pandang. Pengurangan subsidi bahan bakar
minyak dapat dikatakan sebagai usaha pemerintah untuk mengurangi
defisit dalam APBN. Namun, di sisi lain, kenaikan harga bahan bakar
minyak dapat memicu efek domino, yaitu terjadinya kenaikan harga
barang-barang kebutuhan sehari dan harga barang-barang lain yang
sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan kenaikan harga bahan
bakar minyak. Akibatnya, akan terjadi inflasi yang cukup tinggi dan
penurunan daya beli masyarakat. Para pelaku usaha perlu mencermati
kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah sebagai tindakan
preventif terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi di masyarakat.

3.4.1. Peluang dan Ancaman Bisnis
Dalam rangka mengurangi tekanan transaksi berjalan dari
besarnnya impor barang modal, pemerintah telah menyiapkan program
pemberian insentif fiskal bagi industri yang memproduksi barang setengah
jadi (intermediate goods) dan korporasi berbasis penelitian dan
pengembangan. Dengan adanya insentif tersebut diharapkan
ketergantungan Indonesia terhadap impor akan semakin berkurang.


27

(Plasadana, 2013). Selain itu, menurut SHNews (2012), persiapan
penyusunan insentif Pajak Penghasilan (PPh) untuk investor padat karya
juga telah dilakukan. Langkah ini dilakukan pemerintah lantaran realisasi
tahun ini menunjukkan investasi berbasis padat karya hanya berkontribusi
9 persen dari total investasi yang masuk. Hal ini dapat dijadikan peluang
bagi Pura Group sebagai perusahaan padat karya dan bergerak pada barang
setengah jadi serta penelitian dan pengembangan untuk
mengoptimalisasikan insentif fiskal bagi bisnisnya.
Sebagai ancaman, kenaikan harga bahan bakar minyak akibat
pemotongan subsidi dalam APBN sangat mempengaruhi keberlangsungan
bisnis suatu perusahaan. Rencana penaikan harga bahan bakar minyak
bersubsidi oleh pemerintah dalam waktu dekat membuat industri kertas
dalam negeri semakin terpuruk. Berdasarkan Ketua Asosiasi Pulp dan
Kertas Indonesia, Misbahul Huda, dalam Bisnis Indonesia (2013)
menyebutkan biaya BBM berkontribusi 20% terhadap struktur
pembiayaan produksi produsen kertas. Dia memperkirakan penaikan harga
BBM subsidi sebesar 44% akan menaikkan ongkos produksi 2% hingga
3%. Selain itu, berdasarkan hasil analisis Kementerian Perindustrian,
penaikan harga BBM 44% dan tarif dasar listrik (TDL) pada awal tahun
lalu sebesar 10% akan memengaruhi kinerja sektor kertas dan barang
cetakan yakni turun hampir 1%. Khusus untuk penaikan BBM akan
menurunkan kinerja industri kertas 0,92%. (Bisnis Indonesia, 2013)
Ancaman lain yang muncul adalah rumitnya sistem perpajakan di
Indonesia. Sistem perpajakan di Indonesia menurut pelaku bisnis masih
timpang tindih, sehingga jumlah pajak yang dibayarkan kepada
pemerintah sangat membebani para pelaku usaha, khususnya usaha kecil
dan menengah. Meskipun industri kertas telah diberi keringanan melalui
insentif fiskal, hal tersebut masih belum dapat diambil manfaatnya karena
peraturan perhitungan pajak yang tidak baku.




28

3.4.2. Implikasi Bisnis
Terkait isu pengurangan subsidi bahan bakar minyak sebagai
bentuk kebijakan fiskal, Pura Group tidak memiliki imbas yang signifikan
dengan adanya momen tersebut. Hal ini dikarenakan Pura Group telah
secara mandiri melakukan pengadaan sumber energi melalui Pura Power
Plant dan bahan bakar nabati operasional industri.
Kebijakan insentif fiskal yang ditawarkan pemerintah juga belum
memiliki efek yang signifikan terhadap perusahaan, sehingga Pura Group
tidak memfokuskan kebijakan khusus pada isu tersebut.

3.5. Ekonomi Pembangunan
Isu mengenai pemekaran wilayah muncul sejak adanya otonomi
daerah. Dengan adanya otonomi daerah, pemerintah daerah berhak untuk
mengajukan pembentukan wilayah administratif baru, terlepas dari
provinsi asal. Pemekaran daerah yang didasari oleh ketidakpuasan atas
pelayanan pemerintah daerah tengah terjadi pada beberapa wilayah di
Indonesia. Implikasinya terhadap peningkatan roda perekonomian tentu
menjadi salah satu harapan agar para investor lebih leluasa untuk
melakukan kegiatan ekonomi di daerah (MIPI, 2013).
Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah (UU Nomor 32
Tahun 2004) memang memungkinkan rakyat di tiap daerah berjuang
mewujudkan daerah otonomi baru (DOB). Tidak hanya mengatur
perubahan tata kelola pemerintahan daerah yang bersifat pemekaran, UU
tersebuti juga mengatur tentang penggabungan dua daerah atau lebih.
Bahkan juga mengatur penghapusan suatu wilayah pemerintahan di
daerah.
Secara normatif diperlukan tiga syarat formal untuk pembentukan
daerah otonomi, yakni administratif, teknis, dan fisik kewilayahan. Syarat
administratif untuk pembentukan DOB tingkat pro-vinsi harus ada
persetujuan DPRD provinsi induk dan gubernur, persetujuan DPRD
kabupaten/kota dan bupati/wali kota yang akan menjadi wilayah provinsi


29

baru. Di samping itu, ada rekomendasi Mendagri. Untuk DOB tingkat
kabupaten/kota, diperlukan persetujuan DPRD dan bupati/wali kota daerah
yang bersangkutan, persetujuan DPRD provinsi dan gubernur, dan
rekomendasi Mendagri (Suara Merdeka, 2013).
Pemekaran daerah, akan memiliki berbagai dampak terhadap
bisnis. Terlebih pada perusahaan yang berada di wilayah urban, yang
mempertimbangkan strategi biaya faktor produksi yang rendah, seperti
tanah dan tenaga kerja pada khususnya. Oleh karena itu, pembahasan
pemekaran daerah menarik untuk dibahas dalam kaitannya dengan
lingkungan bisnis.
Jawa Tengah, sebagai provinsi maju yang berkontribusi 8,28% dari
Total GDP Nasional, mencoba untuk dapat lebih menggali potensi
ekonomi yang dimiliki. Dengan total penduduk sebanyak 32.64 juta jiwa
(BPS, 2011) dari 13,54% penduduk Indonesia, yang tersebar dalam 35
kota/kabupaten. Sejak dikeluarkannya Undang Undang Otonomi Daerah,
wilayah Jawa Tengah tidak melakukan pemekaran untuk semua wilayah.
Ada tiga wilayah yang direncanakan baik dari masyarakat maupun
pemimpin daerah setempat seperti: Provinsi Muria Raya, Provinsi
Banyumas, dan Provinsi Surakarta. (Bisnis Indonesia, 2013).
Rencana pembentukan provinsi Banyumas akan mengambil
wilayah Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten
Kebumen, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Brebes,
Kabupaten Tegal, Kabupaten Pemalang, dan Kota Tegal sebagai ibukota
provinsi. Namun, wacana tersebut kurang mendapat respons dari banyak
kalangan. Justru wacana yang kini menguat adalah Banyumas dipecah
menjadi dua daerah otonom, yakni Kab Banyumas dan Kota Purwokerto.
Pemekaran Banyumas sudah masuk dalam daftar dari 39 kabupaten/kota
se-Indonesia yang mengusulkan. Namun setelah keluarnya SE (Surat
Edaran) Mendagari akhir 2006 kembali surut. Sebab, Mendagri
mengisaratkan untuk sementara usulan pemekaran tidak direspons atau
dihentikan karena alasan pembiayaan. (Info Purwokerto, 2010)


30

Provinsi Surakarta menjadi wacana pembentukan selanjutnya.
Kabupaten/Kota yang kemungkinan akan bergabung meliputi: Kabupaten
Boyolali, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sragen,
Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri, dan Kota Surakarta sebagai
ibukota provinsi. Daerah Istimewa Surakarta atau Provinsi Surakarta
sebetulnya pernah berdiri sejak awal kemerdekaan hingga 16 Juni 1946.
Status hukumnya adalah dibekukan untuk sementara, sesuai dengan
terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 16/SD Tahun 1946. Latar belakang
dibentuknya Daerah Istimewa ini karena keistimewaan Surakarta yang
merupakan salah satu pusat kebudayaan Jawa yaitu Kasunanan Surakarta
dan Kadipaten Mangkunegaran, sehingga secara historis akan dibentuk
seperti Daerah Istimewa Yogyakarta (Solopos, 2012). Wacana tersebut
menguat setelah adanya permasalahan di keraton Solo, sehingga sejumlah
warga tak setuju dengan pembentukan DIS dan justru mengusulkan
Provinsi Surakarta. (Solopos, 2012).
Daerah Muria Raya menjadi provinsi ketiga dalam wacana
pembentukan provinsi baru. Kabupaten yang akan direncanakan
bergabung dalam provinsi ini adalah Kabupaten/Kota yang mungkin
bergabung yang meliputi: Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara,
Kabupaten Rembang, Kabupaten Blora, dan Kabupaten Pati sebagai
ibukota provinsi. Daerah ini merupakan daerah yang memiliki kapabilitas
ekonomi tinggi karena beberapa perusahaan raksasa di Indonesia seperti
Djarum, Pura Barutama, Garudafood, Dua Kelinci, terletak di daerah
tersebut. Selain itu, potensi agribisnis dan perikanan menjadi potensi
ekonomi lain dalam wilayah Muria. Namun, wacana pembentukan
Provinsi Muria Raya tidak terbukti karena tidak ada dukungan dari
masyarakat maupun pemerintah daerah setempat.

3.5.1. Peluang Bisnis
Dengan adanya pemekaran wilayah sebagai bagian dari otonomi
daerah, lingkungan perusahaan menjadi lebih kondusif karena adanya


31

pembangunan ekonomi wilayah yang tidak terpusat di kota/kabupaten
tertentu saja. Pembangunan ekonomi tersebut, tidak hanya terfokus pada
pembangunan infrastruktur, namun juga pembangunan sumber daya
manusia melalui pendidikan yang layak, serta pemenuhan fasilitas
kesehatan yang memadahi. Sarana dan prasarana yang mendukung
aktivitas bisnis perusahaan seperti sarana transportasi dan telekomunikasi
juga menjadi perhatian setelah adanya pemekaran wilayah.
Potensi daerah akan lebih terekspos oleh pemerintah di wilayah
pemekaran. Daerah urban pada umumnya tidak mendapatkan perhatian
dalam pengelolaan potensi daerah, baik itu potensi alam maupun potensi
ekonomi dari wilayah tersebut. Optimalisasi potensi dapat dimanfaatkan
dengan baik untuk meningkatkan daya saing wilayah, sehingga akan
bermanfaat juga dalam aktivitas bisnis.
Peluang lain adalah adanya kebijakan yang lebih strategis dari
bupati, walikota, maupun gubernur baru dari wilayah pemekaran.
Pemimpin baru di wilayah pemekaran lebih mengetahui permasalahan
industri atau perekonomian di wilayahnya, sehingga kebijakan yang
dikeluarkan tentu akan tepat sasaran. Tidak seperti kebijakan yang dibuat
oleh pemerintah pusat, pada umumnya mereka tidak mengetahui keadaan
lapangan dari wilayah urban.

3.5.2. Ancaman Bisnis
Di sisi administratif, perusahaan yang berada di daerah perbatasan
mungkin merasakan hal tersebut sebagai ancaman. Misalnya saja untuk
kluster industri tekstil dan produk tekstil di wilayah Kabupaten Semarang,
setelah adanya pemekaran, pengurusan perijinan dan birokrasi menjadi
berpindah di Ungaran dan Bawen. Meskipun jarak yang ditempuh lebih
dekat dengan lokasi perusahaan, namun hal tersebut akan membingungkan
bagi klien dan kolega perusahaan karena mengira lokasi perusahaan
berpindah kota.


32

Ancaman lain adalah kesiapan dari pemerintah daerah baru paska
pemekaran. Pada umumnya birokrasi dalam pemerintahan baru belum siap
dan belum berpengalaman dalam menangani masalah perijinan yang sulit
dan kompleks, sehingga membutuhkan waktu yang lama dalam
menyelesaikan tugas administratif. Tidak hanya itu, kebijakan yang
dilakukan oleh pemerinta baru mungkin tidak sesuai dengan lapangan
karena belum adanya pengalaman tersebut.
Selain itu, permasalahan pajak juga menjadi ancaman bagi pelaku
bisnis. Sejak adanya desentralisasi fiskal, pemerintah daerah berhak
menentukan pajak dan retribusi sendiri. Ada kemungkinan bahwa dengan
adanya pemekaran wilayah, pajak yang akan ditarik pemerintah akan lebih
tinggi untuk pembiayaan provinsi/kabupaten baru tersebut.

3.5.3. Implikasi Bisnis
Pura Group tidak menyusun suatu strategi terkait isu pemekaran
wilayah. Hal tersebut dikarenakan wacana pemekaran wilayah di daerah
perusahaan berada tidak ada pembicaraan lebih lanjut. Selain itu,
dukungan dari Gubernur Jateng Bibit Waluyo dalam Suara Merdeka
(2013), mencoba mengigatkan kembali bahwa warga Jateng jangan
menginginkan pemekaran karena tidak ada sumber dana yang dapat
membiayai daerah pemekaran. Dengan demikian, Pura Group tidak perlu
khawatir akan adanya pembentukan provinsi baru di wilayah Muria Raya.

3.6. Ekonomi Industri
Industri pulp dan kertas Indonesia mengalami perkembangan yang
sangat pesat. Sekitar tahun 1970-an Indonesia memiliki tujuh perusahaan
kertas dengan kapasitas produksi 50 ribu ton/tahun dan kini Indonesia
telah memiliki 85 perusahaan dengan kapasitas produksi sebesar 13 juta
ton/tahun. (Printmedia, 2012).
Kontribusi industri kertas dan barang cetakan meskipun kecil, tetap
memberikan pertumbuhan industri. Pada tabel 3.2 menunjukkan bahwa


33

industri kertas di Indonesia, memiliki pertumbuhan menurun dibandingkan
industri lain seperti industri makanan, industri alat angkut, dan sebagainya.
Pertumbuhan industri cukup stagnan pada tahun 2010 dan 2011. Hal
tersebut dikarenakan tingginya biaya terkait teknologi, menurunnya
permintaan pasar internasional, dan banyaknya kompetitor dalam industri
tersebut.

Tabel .3.2
Kontribusi Masing-Masing Sektor Industri terhadap Pertumbuhan Industri (%)
Sumber : BPS diolah Kemenprin (2012)


Ketua Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), dalam Bisnis
Indonesia (2013), menuturkan industri pulp dan kertas nasional
menduduki peringkat ke-9 di dunia untuk pulp dan peringkat ke-7 untuk
produksi kertas sekaligus membuktikan bahwa Indonesia masih mampu
bersaing di level global. Dia mengungkapkan peluang untuk menggenjot
pertumbuhan industri pulp dan kertas masih terbuka lebar karena saat ini
penggunaan hutan tanaman industri seluas 10 juta hektare baru mencapai
sekitar 4 juta hektare.
Pasar ekspor kertas juga sedang mengalami pertumbuhan yang
cukup signifikan. Maka dari itu, para produsen kertas akan melakukan
peningkatan kapasitas produksinya, salah satunya dengan menggencarkan


34

investasi. Dengan demikian, Pemerintah memperkirakan realisasi investasi
industri kertas dan barang cetakan akan tumbuh sekitar 8% dari realisasi
investasi tahun lalu sebesar Rp8,8 triliun. Dengan meningkatnya
permintaan kertas di pasar ekspor, maka telah membuat produsen
meningkatkan kapasitas produksinya. Hal ini membuat realisasi investasi
industri kertas mengalami kenaikan sebesar 8% dibandingkan tahun 2012.
(Neraca, 2013). Selain itu, adanya sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK)
akan meningkatkan kepercayaan para importir.
Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)
yang diolah Kemenperin, investasi di sektor industri kertas dan barang
cetakan pada tahun lalu untuk PMDN sebesar Rp7,56 triliun dengan 64
proyek. Sedangkan untuk PMA dari 57 proyek menghasilkan investasi
sebesar Rp1,30 triliun. Total investasi sektor industri manufaktur pada
2012 meningkat dari Rp99,6 triliun menjadi Rp155 triliun.
Sementara itu, kalangan dunia usaha yang diwakili oleh Asosiasi
Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) mengklaim bahwa kinerja industri
kertas dan pulp kurang menggembirakan sampai dengan pertengahan
2013. Hal ini lantaran krisis ekonomi di kawasan Eropa dan maraknya
kampanye hitam tantang produk-produk Indonesia. Ketua Umum APKI
Misbahul Huda mengungkapkan bahwa pada pertengahan tahun 2012
pernah terjadi penurunan permintaan sehingga berpengaruh terhadap
volume industri pulp dan kertas nasional yang turun 2-3%. (Neraca, 2013).

3.6.1. Peluang dan Ancaman Bisnis
Dengan permintaan pulp yang tinggi di pasar global, terutama
untuk kebutuhan industri kertas tulis, kertas tisu, kertas karton untuk
kemasan, dan sebagainya, akan dapat menjadi peluang bagi Pura Group.
Industri kertas terus berkembang sejalan dengan permintaan yang sangat
besar dari industri makanan-minuman, tekstil, elektronika, maupun
industri farmasi. Berbagai industri tersebut sangat membutuhkan kertas


35

karton untuk kemasan produk mereka yang dihasilkan oleh industri kertas
untuk pengemasan.
Persaingan bisnis yang ketat dalam industri tersebut, menjadikan
perusahaan harus memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan para
pesaingnya. Meskipun telah menjadi pemain lama, Pura Group harus
senantiasa melakukan inovasi dalam bisnisnya agar dapat bersaing dengan
pemain baru di industrinya. Jenis industri kertas dan turunannya
merupakan industri yang sangat kompetitif, dimana kualitas dan harga
yang ditawarkan kepada pelanggan menjadi penting untuk memenangkan
persaingan, serta industri tersebut tidak memiliki barrier to entry yang
besar dibandingkan industri lainnya.
Ancaman lain yang perlu diwaspadai adalah ancaman pemain dari
luar negeri yang masuk ke pasar Indonesia dan ancaman ketika Pura
Group akan meraih pasar ineternasional. Industri percetakan sekuriti di
dunia, memiliki kompetisi yang ketat dimana perang teknologi akan selalu
dilakukan untuk meraih pasar. Di Asia, pemain besar dalam industri ini
adalah China Banknote Printing dan Minting (CBPM) dan Security
Printing dan Minting Corporation of India. Selain itu ada De La Rue
(DLR) dari Inggris, Giesecke & Devrient (G&D) dari Jerman, dan
Oberthur dan Goznack dari Rusia. (FEUI, 2013).

3.6.2. Implikasi Bisnis
Keterlibatan Pura Group dalam Asosiasi Industri Pulp dan Kertas
Indonesia (APKI), Asosiasi Hologram, dan Asosiasi Pengusaha Indonesia
(APINDO), menjadikan perusahaan tersebut ikut mengambil langkah
strategis dalam industrinya. Langkah tersebut tidak hanya diwujudkan
dalam peran aktif pada pertemuan asosiasi, namun juga pada penyusunan
strategi kebijakan industri nasional. Hal tersebut dilakukan untuk
menghadapi peluang dan ancaman bisnis dari lingkungan ekonomi
industri.



36

3.7. Lingkungan Sosial
Keberterimaan masyarakat akan bisnis yang dibangun menjadi
tantangan bagi para pengusaha dalam menghadapi lingkungan sosial. Hal
ini dimaksudkan agar jalannya suatu bisnis dapat terhindar dari konflik-
konflik negatif yang nantinya akan merusak kinerja bisnis.
Dalam menghadapi konflik bisnis dengan lingkungan masyarakat,
perusahaan mengembangkan Corporate Social Responsibility (CSR). Tren
pengadaan program tanggung jawab sosial perusahaan diawali dengan
adanya peraturan pemerintah melalui Undang-Undang Persereoan
Terbatas, yang mewajibkan perusahaan untuk melaksanakan tanggung
jawab sosial perusahaan (Pasal 74 UU no 40 Tahun 2007). Dengan adanya
peraturan tersebut, beberapa perusahaan mulai membuat divisi khusus
yaitu divisi pengembang komunitas (community development) dimana
diharapkan dapat menjembatani perusahaan dengan masyarakat melalui
berbagai program.
Community Development (CD) atau pengembangan masyarakat
merupakan suatu proses yang dirancang untuk menciptakan kemajuan
kondisi ekonomi dan sosial warga masyarakat melalui partisipasi aktif,
dimana pada akhirnya akan menumbuhkan prakarsa dan kemandirian
masyarakat itu sendiri (Kementrian Lingkungan Hidup, 2011). Masyarakat
dalam proses pengembang komunitas harus percaya bahwa bekerja
bersama-sama dapat membuat perbedaan dan mengalamatkannya pada
kebutuhan berbagi mereka secara kolektif.
Dalam lingkungan bisnis, pengembang masyarakat dapat berasal
dari internal perusahaan maupun eksternal perusahaan. Di luar perusahaan,
pengembang masyarakat ini biasanya dilakukan oleh lembaga sosial
masyarakat (LSM), sedangkan dalam lingkup internal, perusahaan
mengembangkan sendiri pengembang masyarakat, dimana mereka adalah
orang-orang yang ditunjuk perusahaan (karyawan) untuk melaksanakan
program perusahaan. Disini, corporate community developer memiliki
peran penting dalam perusahaan yaitu sebagai penanggung jawab


37

keberhasilan program CSR dapat bermanfaat bagi masyarakat dan
perusahaan.

3.7.1. Peluang dan Ancaman Bisnis
Pura Group didirikan pada tahun 1908, jauh sebelum kota Kudus
berkembang. Lamanya perusahaan tersebut berada akan berpengaruh pada
keberterimaannya di lingkungan masyarakat. Karena Pura Group telah ada
sebelum masyarakat lokal maupun pendatang baru, maka potensi konflik
yang muncul sangat rendah.
Ancaman yang muncul dari lingkungan sosial di Pura Group
adalah perubahan pola interaksi sosial masyarakat. Beberapa tahun yang
lalu, masyarakat yang tinggal di wilayah sekitar perusahaan adalah warga
asli Kudus, dan pada umumnya perusahaan telah mengetahui interaksi
sosial masyarakat. Melalui pola interaksi yang telah diketahui oleh Pura
Group, penanganan masalah terkait konflik perusahaan dengan masyarakat
lebih mudah. Namun seiring berkembangnya mobilitas masyarakat,
banyaknya pendatang akan merubah pola interaksi sosial masyarakat di
sekitar lingkungan perusahaan. Perubahan interaksi sosial yang sangat
cepat mungkin tidak dapat dipetakan oleh Pura Group sehingga
penanganan konflik sosial akan semakin sulit.

3.7.2. Implikasi Bisnis
Dalam menghadapi peluang dan ancaman bisnis terkait lingkungan
sosial, Pura Group merekrut orang lokal dari wilayah perusahaan,
khususnya di daerah Kudus dan sekitarnya. Berbagai posisi telah
ditawarkan perusahaan untuk masyarakat lokal dan pada umumnya
ditempatkan di bagian produksi. Dengan demikian, para karyawan yang
berasal dari masyarakat lokal dapat juga berperan sebagai community
development untuk meminimalisir potensi konflik yang ada terkait
hubungan Pura Group dan masyarakat Kudus.


38

Selain itu, Pura Group juga mengadakan berbagai kegiatan
corporate social responsibility (CSR) sebagai salah satu bentuk perhatian
perusahaan terhadap masyarakat sekitarnya. Adapun program CSR yang
telah dilakukan seperti: pemberdayaan usaha masyarakat melalui
pendampingan usaha pengolahan kertas bekas pakai, santunan 1500 anak
yatim di Kabupaten Kudus dan konservasi karang dan ikan kerapu untuk
wilayah semenanjung Muria.

3.8. Lingkungan Budaya
Setiap kelompok masyarakat tertentu akan mempunyai cara yang
berbeda dalam menjalani kehidupannya dengan sekelompok masyarakat
yang lainnya. Cara-cara menjalani kehidupan sekelompok masyarakat
dapat didefinisikan sebagai budaya masyarakat tersebut (Fadzillah, 2011).
Budaya merupakan pola utuh perilaku manusia dan produk yang
dihasilkannya yang membawa pola pikir, pola lisan, pola aksi, dan artifak,
dan sangat tergantung pada kemampuan seseorang untuk belajar, untuk
menyampaikan pengetahunnya kepada generasi berikutnya melalui
beragam alat, bahasa, dan pola nalar.
Hampir semua pengamat budaya kita pernah menyatakan dan
bahkan menyepakati bahwa keberadaan budaya daerah tidak bisa
diabaikan terutama dalam kehidupan masyarakat warganya masing-
masing. Dikatakan demikian, karena budaya lokal memiliki peranan (role)
yang sangat menentukan dalam kehidupan masyarakatnya. Budaya daerah
--dan juga termasuk kesadaran sejarah-- pada dasarnya dapat dipandang
sebagai landasan bagi pembentukan jati diri bangsa (nation identity).
(Putra Mauaba, 1999)
Budaya nasional memiliki arti bahwa suatu cara bertindak tertentu
lebih disukai karena dinggap cocok dengan nilai-nilai budaya daripada
yang lain. Dalam praktik manajemen, ketidak sesuaian budaya nasional
yang telah dipercaya dan dianut oleh karyawan, akan menimbulkan rasa
tidak enak, tidak puas, tidak berkomitmen dan tidak menyukai. Karyawan


39

akan merasa tidak suka atau terganggu bila diminta oleh manajemen untuk
bertindak yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budayanya. (Masud, 2002)
Secara umum, ada beberapa tantangan dari pelaku bisnis terkait
pengaruh lingkungan budaya. Tantangan tersebut dapat digolongkan
menjadi dua, antara lain:
(1) Internal Organisasi.
a) Penyusunan Strategi
Dalam penyusunan strategi, lingkungan budaya menjadi
pertimbangan apakah akan melibatkan pasar di lingkungan tempat
perusahaan berada, atau lingkungan tempat perusahaan berada
hanya sebagai lokasi kantor saja sebagai strategi efisiensi.
b) Budaya Organisasi
Budaya organisasi berpengaruh besar terhadap lingkungan budaya
secara lebih luas, lokal maupun nasional. Jika perusahaan merekrut
orang-orang di sekitar perusahaan sebagai karyawan, maka
perusahaan harus menyesuaikan budaya masyarakat sekitar.
c) Praktik Manajemen dan Gaya Kepemimpinan
Akan ada perbedaan dalam praktik manajemen dan gaya
kepemimpinan suatu perusahaan antara budaya masyarakat sekitar,
dan pendatang. Misalnya perusahaan Korea, mungkin tidak bisa
mempraktikkan gaya manajemen dan kepemimpinan di Sumatera
yang lebih santai, atau budaya kerja individualis perusahaan
Amerika akan tidak sesuai dengan budaya Jawa yang guyub dan
rukun secara komunal.
d) Gaya Komunikasi
Perbedaan gaya berkomunikasi, mungkin merupakan salah satu
masalah permukaan dalam organisasi, dimana gaya bahasa,
intonasi, dan gestur akan memiliki makna yang lain dalam budaya
yang berbeda.
(2) Eksternal Organisasi
a) Keberterimaan Masyarakat dan Citra Organisasi


40

Secara eksternal, organisasi harus dapat diterima masyarakat untuk
meningkatkan citra organisasi.
b) Interaksi Organisasi dengan Masyarakat
Jika organisasi memiliki stakeholder yang kompleks dalam
lingkungan masyarakat, maka organisasi tersebut harus mulai
berfokus untuk mendalami dan dapat mengelola budaya sebagai
strategi keberlanjutan perusahaan.

Bedasarkan tantangan dari lingkungan budaya tersebut, para pelaku
bisnis pada umumnya menjawab dengan merumuskan strategi dalam
organisasinya, yaitu:
1. Menggunakan budaya lokal/nasional sepenuhnya dalam praktik
organisasi dan aktivitas bisnis
2. Mengadaptasi sebagian budaya lokal/nasional dalam praktik organisasi
dan sebagian lagi aturan main atau budaya organisasi ditentukan oleh
budaya dari pemilik atau budaya non lokal/nasional
3. Tidak menggunakan budaya lokal/nasional sepenuhnya dalam praktik
organisasi dan bisnis karena pasar dan klien dari perusahaan adalah
orang luar negeri, sehingga menerapkan sepenuhnya budaya dari
pasar/klien perusahaan.

3.8.1. Peluang dan Ancaman Bisnis
Karyawan di Pura Group pada umumnya berasal dari wilayah
sekitar perusahaan. Terkait dengan lokasi perusahaan yang berada di
Kudus, Jawa Tengah, maka budaya lokal yang dianut adalah budaya Jawa.
Terlebih Kudus bukan merupakan kota besar yang modern, sehingga
budaya daerah sangat melekat pada masyarakat di sekitarnya, dan hal
tersebut dibawa dalam lingkungan perusahaan. Meskipun pemilik dari
perusahaan berasal dari etnis Tionghoa, budaya yang ada di dalam
perusahaan masih kental.


41

Peluang dari adanya kemajemukkan budaya Jawa yang menjadi
mayoritas di Pura Group adalah adanya kemudahan dalam memetakan
karakteristik karyawan, sehingga dalam praktik manajemen akan
mempermudah pengelolaan sumber daya manusia. Praktik manajemen ini
berkaitan dengan bagaimana pemimpin dapat memberikan tugas kepada
bawahan, meningkatkan motivasi karyawan, melakukan penilaian kinerja
dan mengatasi konflik antar karyawan.
Karena kemajemukkan budaya Jawa tersebut, kendala yang
muncul adalah kurangnya perbedaan budaya yang menjadikan perusahaan
tersebut tidak dapat berkembang dari segi pemikiran dan inovasi
organisasi. Pura Group memiliki komitmen yang tinggi terhadap adanya
inovasi teknologi sehingga kebutuhan untuk perbedaan pemikiran baru
sangat diperlukan. Adanya pemikiran baru tersebut akan sulit ditemukan
apabila tidak ada orang-orang baru di dalam Pura Group, yang berasal dari
luar budaya Jawa.

3.8.2. Implikasi Bisnis
Untuk menghadapi tantangan dari faktor lingkungan budaya, Pura
Group kini lebih gencar dalam merekrut karyawan yang berasal dari luar
wilayah Kudus. Rekrutmen kini banyak dilakukan melalui website seperti
JobsDb dan Jobstreet, sehingga dapat menjaring para pelamar dari luar
Kudus.
Selain itu, optimalisasi juga dilakukan pada kantor-kantor cabang
diluar Kudus, seperti Semarang, Surabaya, dan Jakarta. Diharapkan dari
kantor-kantor cabang tersebut, dapat memberikan pemikiran baru untuk
inovasi produk Pura Group terkait interaksinya dengan pelanggan di luar
budaya Jawa.

3.9. Demografi
Untuk mengulas isu demografi, penulis memfokuskan pada
lingkungan demografi sekitar lokasi Pura Group yaitu Kabupaten Kudus.


42

Kudus sebagai kabupaten yang berkembang di wilayah Jawa Tengah,
memiliki jumlah penduduk Kabupaten Kudus pada tahun 2010 tercatat
sebesar 764.606 jiwa terdiri dari 379.020 jiwa laki-laki dan 385.586 jiwa
perempuan (BPS Kab.Kudus, 2012).
Berdasarkan data dari BPS Kab Kudus (2012), pada tahun 2011,
Kudus memiliki 1.119 perusahaan yang tersebar di sembilan daerah
adminsitratif. Jumlah tersebut meningkat 5,8% dari jumlah perusahaan di
tahun 2010 sebesar 1057 perusahaan. Selain itu, jumlah pekerja yang
bekerja di perusahaan tersebut sebanyak 121.648 orang, dimana 72,5%
diantaranya adalah pekerja wanita. Dengan demikian, secara rata-rata satu
perusahaan dapat menyerap 108 pekerja.
Pada pasar tenaga kerja, tingkat pendidikan di wilayah Kabupaten
Kudus, didominasi oleh lulusan SMA dan setingkat SMA sebesar 10.122
jiwa. Sedangkan untuk jenjang sarjana muda atau diploma, sebesar 612
jiwa, dan 1.309 jiwa untuk jenjang sarjana (S1 dan S2). (BPS, 2012).


Grafik 3.2
Jumlah Perusahaan yang Berlokasi di Kabupaten Kudus
Sumber: BPS Kab Kudus (2012)

922
964
1009
1057
1119
0
500
1000
1500
2007 2008 2009 2010 2011
Jumlah Perusahaan


43


Grafik 3.3
Jumlah Pekerja di Kabupaten Kudus
Sumber: BPS Kab Kudus (2012)

3.9.1. Peluang dan Ancaman Bisnis
Berlokasi di wilayah Kabupaten Kudus, Pura Group memiliki peluang
ketersediaan tenaga kerja potensial yang banyak, khususnya untuk tingkat
pendidikan SMA. Pada umumnya, pekerja dengan lulusan SMA
merupakan pekerja dengan tingkat pendidikan moderat dimana dapat
ditempatkan posisi pelaksana produksi untuk perusahaan padat karya.
Selain itu, peluang lain yang muncul akibat pemilihan lokasi
perusahaan adalah upah minimum regional yang moderat, yaitu sebesar Rp
990.000,- per bulan, tidak terlalu tinggi dibandingkan kota Semarang,
sebesar Rp 1.209.100,-.
Ancaman yang muncul adalah adanya mayoritas pekerja wanita di
Kudus. Hal tersebut menjadikan Pura Group tidak banyak merekrut
pekerja pria yang lebih fleksibel untuk ditempatkan pada posisi lapangan.
Pekerja wanita pada umumnya ditempatkan pada posisi dalam ruangan
sebagai bagian produksi.





100466 101394
108299
113494
121648
0
20000
40000
60000
80000
100000
120000
140000
2007 2008 2009 2010 2011
Jumlah Pekerja


44

Tabel 3.3
Peringkat Upah Minimum Regional Jawa Tengah
Sumber: kdpbiz.com


3.9.2. Implikasi Perusahaan
Implikasi bagi perusahaan terkait faktor demografi adalah
memanfaatkan potensi yang ada, yaitu tetap merekrut masyarakat sekitar
Kudus. Pertimbangan yang dilakukan adalah upah minimum kota yang
cukup kompetitif di wilayah tersebut, sehingga perusahaan dapat
mengurangi biaya produksi.

3.10. Teknologi Pemrosesan
Kemajuan perkembangan ekonomi di Indonesia khususnya dalam
sektor industri dan bisnis tidak akan pernah terlepas dari peran teknologi
yang mendukungnya. Konsep dasar pemilihan teknologi yang sangat biasa
dalam literatur ekonomi memakai model insentif harga, biasanya untuk
harga modal dan tenaga kerja untuk mencapai biaya minimum bagi satu
perusahaan untuk memproduksi sejumlah barang dan jasa tertentu (Ketut
Nehen, 2002). Pada perkembangannya, teknologi tidak hanya untuk
mendongkrak produktivitas namun juga menciptakan keinginan (wants)
bagi para pelanggan dalam memilih suatu produk. Semakin tinggi
teknologi yang ditawarkan kepada para pelanggan, semakin tinggi minat
pelanggan dalam membeli suatu barang.


45

Perkembangan teknologi yang cepat, akan mendorong para pelaku
bisnis untuk terus berinovasi. Banyaknya dorongan dari lingkungan
eksternal teknologi, mau tidak mau perusahaan harus berubah dari segi
produk hingga sumber daya manusianya. Beberapa perusahaan
menjadikan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan produktivitasnya,
dan beberapa diantaranya menjadikan teknologi proses tersebut sebagai
komoditasnya.
Industri pengolahan kertas memiliki karakteristik teknologi yang
tinggi dalam memproses bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau
barang jadi. Teknologi yang digunakan dalam proses produksi kertas
sangatlah kompleks dan di Indonesia sendiri, lebih difokuskan bagaimana
penanganan limbah kertas tersebut. Sedangkan untuk mesin pembuatan
kertasnya, para pelaku bisnis lebih memilih untuk mengimpor dari negara
lain. (Neraca, 2012).
Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) Kementerian Perindustrian
membantah jika industri pulp dan kertas nasional sebagai konsumen
teknologi ketimbang pencipta teknologi. Anggapan itu tidak benar
sepenuhnya, karena ada industri kertas nasional yang juga menciptakan
teknologi sendiri. (Tribun Jabar, 2012). Setiap industri kertas nasional
telah memiliki research and development. Namun pada umumnya belum
berjalan dengan baik karena sifatnya yang masih sederhana.
Teknologi dalam proses pengolahan kertas berubah seiring
perkembangan jaman dan permintaan pelanggan. Ketika dahulu kertas
dibuat hanya digunakan untuk menulis, kini permintaan masyarakat akan
kertas lebih kompleks seperti kertas dengan pengaman dan kartu pintar
(smart card). Setiap perubahan tersebut, menuntut para pelaku usaha
melakukan investasi yang besar terhadap teknologi pengolahan kertas.

3.10.1. Peluang dan Ancaman Bisnis
Kompleksitas teknologi dengan beragamnya kebutuhan masyarakat
akan kertas dan turunannya menjadi peluang Pura Group dalam teknologi


46

pemrosesan. Adanya diversifikasi bisnis yang dilakukan perusahaan,
membawa perusahaan lebih fokus dan siap menghadapi perubahan
teknologi pemrosesan terkini. Pura Group melakukan diversifikasi
usahanya berdasarkan produk yang dibuat, seperti divisi hologram, smart
card, printing, packaging, dan sebagainya. Dengan demikian, riset dan
pengembangan teknologi terkait proses produksi pembuatan produk dapat
dilakukan secara optimal.
Ancaman terkait teknologi pemrosesan ini adalah tingginya biaya
riset dan pengembangan. Semakin kompleks proses yang dilakukan dalam
membuat suatu produk, akan membawa perusahaan pada biaya yang tinggi
dan keberhasilan produk di pasar belum dapat ditentukan dalam waktu
yang singkat. Terlebih dengan cepatnya perubahan teknologi produk,
sehingga terkadang ketika penelitian dan pengembangan akan suatu
produk belum selesai atau belum berhasil dan tren teknologi telah
berganti, kemungkinan gagal atau mengalami kerugian sangat tinggi.
Dengan demikian, perusahaan harus dapat secara tepat dan tepat
menangkap momen dalam pengembangan teknologi pemrosesan.

3.10.2. Implikasi Bisnis
Dalam menghadapi peluang dan ancaman bisnis terkait inovasi
teknologi pemrosesan, Pura Group melakukan berbagai langkah strategis
dalam pengelolaan internal perusahaan. Adapun diantaranya:
1. Merekrut para pegawai yang inovatif, kaitannya dalam pengembangan
teknologi pemrosesan.
2. Menjadikan inovasi sebagai budaya perusahaan, sehingga ada
komitmen dari perusahaan untuk melakukan inovasi setiap saat.
3. Mematenkan produk hasil teknologi, sehingga tidak mudah ditiru oleh
kompetitor mengingat hasil penemuan teknologi sangat berharga.
4. Menjadikan hasil produk teknologi sebagai komoditas, misalnya Pura
Water Treatment, yang dijual kepada para pelaku industri kecil dan
menengah sehingga selain dapat digunakan oleh perusahaan sendiri,


47

penjualan dapat mengurangi biaya perusahaan terkait riset dan
pengembangan teknologi.

3.11. Teknologi Informasi
Kemajuan perkembangan ekonomi di Indonesia khususnya dalam
sektor industri dan bisnis tidak akan pernah terlepas dari peran teknologi
yang mendukungnya. Teknologi tidak hanya berupa dalam bentuk barang,
namun juga metode, ilmu pengetahuan, sistem, dan proses yang dapat
dimanfaatkan oleh manusia untuk mempermudah proses bisnis baik
industri maupun jasa. Teknologi dimanfaatkan oleh manusia dalam
penyempurnaan nilai tambah yaitu memproses bahan mentah maupun
barang setengah jadi agar menjadi barang jadi yang memiliki nilai tambah
yang jauh lebih tinggi. Dengan adanya teknologi maka akan mempercepat
serta memberikan hasil yang optimal dari suatu proses penambahan nilai.
Konsep dasar pemilihan teknologi yang sangat biasa dalam
literatur ekonomi memakai model insentif harga, biasanya untuk harga
modal dan tenaga kerja untuk mencapai biaya minimum bagi satu
perusahaan untuk memproduksi sejumlah barang dan jasa tertentu (Ketut
Nehen, 2002). Pada perkembangannya, teknologi tidak hanya untuk
mendongkrak produktivitas namun juga menciptakan keinginan (wants)
bagi para pelanggan dalam memilih suatu produk. Semakin tinggi
teknologi yang ditawarkan kepada para pelanggan, semakin tinggi minat
pelanggan dalam membeli suatu barang.
Dalam dua dekade terakhir, teknologi informasi menjadi perhatian
bagi para pelaku bisnis. Teknologi informasi didefinisikan sebaga seluruh
bentuk teknologi yang digunakan untuk menciptakan, menyimpan,
mengubah, dan menggunakan informasi dalam segala bentuknya (Mc
Keown, 2001). Ada dua komponen penting dalam teknologi informasi
yaitu adanya teknologi komputer dan komunikasi.
Teknologi informasi, memainkan peranan penting, salah satunya
dalam Business Process Reengineering. Bedasarkan M. Suyanto (2005)


48

ada empat wilayah BPR yang didukung dalam teknologi informasi, antara
lain (1) pengurangan waktu proses bisnis (cycle time) dan time to market
sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing, (2)
pemberdayaan pegawai dan kerja kolaborasi, sehingga para pegawai
leluasa untuk membuat keputusan sendiri dan saling terhubung dengan
rekan kerja, (3) manajemen Pengetahuan, dimana para stakeholder dapat
memiliki pengetahuan lebih melalui akses internet, (4) dapat berfokus
terhadap para pelanggan, dengan demikian perusahaan tidak disibukkan
dengan permasalahan administratif rutin terkait operasional bisnis.
Strategi TI hanyalah bagian dari strategi bisnis secara keseluruhan.
Dari perspektif perusahaan, teknologi informasi tidak berguna kecuali
benar dimanfaatkan untuk membawa tentang hasilnya ditentukan yang
kondusif menuju pembuatan keuntungan dalam pasar. Ketika pemikiran
strategis tidak didasarkan pada strategi bisnis tetapi terlalu dipengaruhi
oleh strategi TI, itu lebih mungkin bahwa sebuah perusahaan akan
dipandang sebagai pembuat inovator tepi, dan tetapi itu pada akhirnya
akan menderita secara finansial. Fenomena ini dimana ada strategi TI
menentukan strategi bisnis secara keseluruhan kadang-kadang
digambarkan sebagai "IT miopia" (Donovan, 2006). Oleh karena itu,
kesesuaian IT dan strategi bisnis diperlukan agar tercipta manfaat yang
optimal.

3.11.1. Peluang Bisnis
Sebagai perusahaan yang mengedepankan inovasi, menguasai
teknologi adalah suatu keharusan bagi Pura Group. Perkembangan
teknologi yang begitu pesat, menjadi peluang bagi perusahaan untuk terus
mengembangkan sistem informasi dan teknologi sebagai sistem
pendukung operasional perusahaan. Sistem informasi disusun untuk
mempermudah manusia dalam melakukan aktivitas dan mengambil
keputusan, dan pengembangan sistem informasi akan terus dilakukan


49

seiring berkembangnya kompleksitas aktivitas manusia, khususnya dalam
lingkungan bisnis.

3.11.2. Ancaman Bisnis
Ancaman dari teknologi informasi ada pada sumber daya manusia.
Penggunaan teknologi tidak terlepas dari karyawan/sumber daya manusia
sebagai brainware dalam pengambilan keputusan. Tanpa adanya
kemampuan dalam menguasai teknologi, para karyawan tidak dapat
melakukan proses pengambilan keputusan yang sudah terintegrasi IT.
Oleh karena itu, ancaman dari perusahaan adalah mencari IT Compatible
employees, yang dapat selalu memperbaharui kemampuan teknologi
informasi.
Selain itu, ancaman terkait teknologi informasi adalah
pembaharuan teknologi. Sebagai perusahaan yang memiliki dedikasi tinggi
terhadap teknologi, inovasi akan selalu dilakukan untuk menemukan hal-
hal baru, salah satunya teknologi informasi. Pembaharuan teknologi akan
erat kaitannya dengan biaya yang tinggi, sehingga hal tersebut menjadi
ancaman apabila pembaharuan tersebut tidak memberikan manfaat dari
segi ekonomi bagi perusahaan.

3.11.3. Implikasi Bisnis
Sebagai salah satu strategi bisnis, teknologi informasi di Pura
Group dikembangkan dalam bentuk sistem informasi manajemen. Sistem
informasi manajemen (MIS) adalah sistem atau proses yang menyediakan
informasi yang diperlukan untuk mengelola organisasi secara efektif. SIM
dan Informasi yang dihasilkannya umumnya dianggap komponen penting
dari pengambilan kebijakan dan wajar dalam keputusan bisnis.
(Comptroller, 1995).
Pengembangan sistem informasi manajemen dikembangkan
dengan dua cara, yaitu pengembangan untuk internal organisasi dan
eksternal organisasi. Pengembangan internal organisasi dilakukan sebagai


50

sistem pendukung operasional perusahaan, sedangkan eksternal organisasi
dilakukan sebagai layanan khusus kepada para pelanggan Pura Group
untuk mendukung bisnis yang dilakukan. Pengembangan sistem eksternal
organisasi ini, pada umumnya merupakan hasil dari penerapan
pengembangan sistem informasi internal organisasi yang telah
dimodifikasi sesuai dengan keinginan para pelanggannya.
Proyek pengembangan intern dilakukan oleh Pura Group sebagai
supporting system operasional perusahaan. Dalam proyek pengembangan
secara intern, peran MIS sangat besar yaitu dalam mengembangkan
infrastruktur yang ada di dalam perusahaan. Bedasarkan website resmi
Pura Group (2013), adapun hasil yang sudah dicapai, yaitu :
1. Wireless System
Wireless System adalah sistem jaringan komunikasi data, voice
dan intranet yang menghubungkan antara kantor pusat dengan unit
- unit yang ada di luar lingkup kantor pusat. Teknologi yang kita
pakai dalam wireless system dengan menggunakan frekuensi 2.4
GHz.
2. VOIP (Voice Over Internet Protocol)
Sistem jaringan komunikasi data dan voice yang menghubungkan
Kudus (kantor pusat) - Jakarta (Kantor Perwakilan PURA di Graha
Pura, Pancoran) dan Kudus (kantor pusat) Surabaya (Kantor
Perwakilan Pura di Ruko Darmo Permai) dengan menggunakan
jalur Lease Channel.
3. Absensi Barcode
Suatu sistem absensi yang menggunakan barcode sebagai data
masukan. Dengan sistem, menggesekkan barcode pada alat absensi
AR-3500, data absensi karyawan akan disimpan sementara pada
alat ini. Setelah dilakukan download data absensi tersebut dapat
diproses selanjutnya sebagai data absensi dan selanjutnya dapat
diintergrasikan ke dalam suatu paket software payroll.
4. Sistem Informasi Offset


51

Sistem Informasi ini dibuat untuk proses administrasi produksi
secara lengkap pada unit Offset.
5. Sistem Akuntansi dan Keuangan Pura Group (SAKTI)
Sistem ini dibuat agar dapat mengantisipasi kebutuhan Sistem
Akuntansi dan Keuangan Pura Group di masa yang akan datang
dan lebih mudah dikembangkan dan diintergrasikan. Pada tahap
selanjutnya akan dilakukan pengembangan aplikasi standar ini,
agar dapat mengantisipasi kebutuhan manajerial di tingkat
pengambil keputusan.
6. Sistem Informasi Produksi (Sisipro) TSS
Adalah sistem informasi yang dibangun untuk meningkatkan
efisiensi administrasi produksi di unit TSS. Berbeda dengan
SIMPG yang memuat hal-hal yang bersifat general administrasi di
pura, SISIPRO-TSS bersifat unik, karena hanya berisi administrasi
di unit TSS saja.
7. Web Intermart
Intermart adalah web intranet yang dirancang khusus sebagai
database, berita, personal agenda, dan hasil kerja Divisi Marketing
Internasional . Intermart bisa juga di akses lewat phonecell / HP
menggunakan teknologi GPRS WAP (Wireless Application
Protocol) . Web Intermart ini dapat dimanfaatkan oleh semua level
personal yang berkepentingan dan berhubungan dengan Divisi
Marketing Internasional, tentunya dengan tingkat / level akses
yang berbeda-beda.

Investasi teknologi di dalam bisnis akan menciptakan biaya yang
tinggi dalam organisasi. Oleh karena itu, pengembangan teknologi yang
telah dilakukan Pura Group di internal perusahaan, dikembangkan lagi
untuk pihak eksternal sehingga dapat mengurangi biaya investasi teknologi
dan menghasilkan laba.


52

Proyek pengembangan eksternal dari sistem informasi manajemen
di Pura Group dilakukan untuk membantu para klien dalam mempermudah
aktivitas bisnis mereka. Pengembangan sistem informasi dilakukan
melalui pembuatan perangkat lunak, yang kemudian dijadikan sebagai
komoditas bisnis lain dari perusahaan tersebut.
Adapun beberapa aplikasi yang telah dikembangkan Pura Group
dalam mempermudah para pelanggannya dalam berbisnis, antara lain:
1. LIMS (Laboratory Information Management System)
Sistem ini berisi informasi kegiatan yang ada di laboratorium
Pertamina UP IV Cilacap mulai dari entry data sampai proses
pelaporan berupa report dan trending. Sistem LIMS ini terdiri dari
dua aplikasi yaitu aplikasi desktop & aplikasi web.
2. Kartu Tanda Penduduk ( KTP ) Nasional
Sistem SIMDUK ini mampu memenuhi kebutuhan pelaporan dan
percetakan sesuai dengan peraturan Mendagri, mulai dari
pendaftaran penduduk sampai proses cetak KTP dan telah
dilaksanakan di kabupaten Rembang.
3. Sistem Monitoring Pita Cukai Hasil Tembakau
Sistem ini untuk monitoring hasil produksi kertas pita cukai dari
Pabrik Kertas Padalarang , Pura, Peruri dan Bea Cukai.
4. Layanan SMS 9900 Bandara Soekarno Hatta
Program layanan SMS Customer Service untuk Bandara Soekarno
Hatta merupakan kerjasama antara divisi MIS PT Pura Barutama
dengan PT. Angkasa Pura II Kantor Cabang Bandara Soekarno
Hatta. Layanan SMS meliputi pelayanan masalah informasi
penerbangan berupa jadwal dan status penerbangan dari dan ke
Bandara Soekarno Hatta dan pelayanan keluhan pelanggan
mengenai berbagai layanan dan fasilitas yang telah diberikan oleh
Bandara Soekarno Hatta termasuk masalah taksi bandara. Dengan
bekerja sama dengan dua operator terbesar di tanah air yaitu
Telkomsel dan Indosat melalui nomor layanan SMS 9900.


53


Dengan berbagai pengembangan produk teknologi informasi tersebut, Pura
Group memiliki nilai tambah bagi para pelanggannya, dimana perusahaan
tersebut tidak hanya berfokus pada produksi paper packaging, namun juga
memiliki integrasi vertikal yaitu produk sistem informasi teknologi untuk
mendukung bisnis utama.

3.12. Ekologi
Lingkungan menjadi fokus utama dalam masyarakat dunia dalam
dekade terakhir. Banyaknya pencemaran lingkungan oleh pelaku bisnis,
sering menjadi konflik bagi masyarakat di sekitar pabrik/perusahaan
berada. Oleh karena itu, pengelolaan limbah yang baik, dibutuhkan untuk
menghindari konflik antara masyarakat dan perusahaan. Disamping itu,
pengolahan limbah yang baik akan membawa sustainability lingkungan di
sekitar perusahaan agar tetap sehat dan produktif.
Kertas menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat dalam
kehidupan. Tidak hanya digunakan dalam dunia pendidikan, penggunaan
kertas secara massal, juga digunakan di dalam bisnis. Meskipun era digital
sudah menggantikan fungsi media cetak dalam kehidupan sehari-hari,
penggunaan kertas terus meningkat di setiap tahunnya. Pada tahun 2010,
Direktur Eksekutif Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Liana
Bratasida (Detik, 2010) menyebutkan pada tahun 1990 tingkat penggunaan
kertas mencapai 7,6 kilogram/kepala/kapita. Sepuluh tahun kemudian,
konsumsi kertas meningkat menjadi 23,19 kilogram/kepala/kapita dan
pada 2012 kembali meningkat menjadi 32 kilogram/kepala/kapita. Hal
tersebut membuktikan bahwa ada perkiraan peningkatan penggunaan
kertas lebih dari 30% tiap tahunnya.
Industri pulp dan kertas, memiliki tanggung jawab besar dalam
pengelolaan limbah kertas di dunia. Tanggung jawab dalam limbah kertas
tidak hanya sebatas produk jadi/akhir yaitu kertas bekas pakai, namun juga
dalam pengolahan dalam proses produksi. Pembuangan limbah kertas


54

tidak boleh hanya dibuang di alam terbuka, karena kandungan kimiawinya
akan merusak ekosistem yang ada di sekitarnya.

3.12.1. Peluang Binsis
Dari fakor ekologi, peluang Pura Group terkait pengadaan bahan
mentah sangat besar. Banyaknya potensi alam untuk bahan baku industri
kertas di Indonesia belum dioptimalkan oleh para pelaku bisnis.
Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan sendiri telah
mengalokasikan lahan untuk Hutan Tanaman Industri (HTI) seluas 8,89
juta ha yang akan mampu memenuhi bahan baku industri pulp saat ini.
Untuk rencana pembangunan HTI dan HTR (Hutan Tanaman Rakyat) baru
hingga tahun 2020 diperkirakan seluas 5,8 juta ha yang akan mendukung
pengembangan industri pulp dan kertas baru di Indonesia. Di tahun 2011,
dari total kebutuhan bahan baku sebesar 35,55 juta m3, sebagian besar
disuplai dari HTI. Dengan terealisasinya pembangunan HTI sebesar 5 juta
ha yang diharapkan dapat menghasilkan kayu sebesar 100 juta m3 per
tahun atau ekuivalen dengan 22,22 juta ton pulp. (SHNews, 2011)
Untuk bahan baku pembuatan kertas dengan pengaman, seperti
uang kertas misalnya, potensi bahan baku yang sedang dikembangkan
berasal dari pohon pisang abaka. Kulit pohon pisang abaka dijadikan serat
untuk bahan baku pakaian dan uang kertas dolar, serta jenis kertas
berkualitas tiggi lain. (Sulutpromo, 2012). Meski pernah dilakukan
penelitian untuk produksi kertas uang rupiah menggunakan abaka, namun
hasilnya kurang memuaskan. Harus ada riset yang berkelanjutan supaya
ada bahan baku percetakan mata uang bisa dihasilkan dari sumber hayati
dalam negeri. Selama ini, bahan baku untuk percetakan uang kertas
banyak mengandalkan pasokan dari luar negeri. (Solopos, 2012)

3.12.2. Ancaman Bisnis
Pabrik kertas menghasilkan limbah dalam volume yang sangat besar.
Karakteristik dari limbah pabrik kertas adalah warnanya yang kehitaman atau


55

abu-abu keruh, bau yang khas, kandungan padatan terlarut dan padatan
tersuspensi yang tinggi, COD yang tinggi dan tahan terhadap oksidasi
biologis. Pabrik kertas juga menghasilkan limbah beracun seperti :
1. limbah korosif yang dihasilkan dari penggunaan asam dan basa kuat
dalam proses pembuburan kertas
2. limbah pewarna dan tinta yang mengandung logam berat

Warna air limbah yang hitam tidak mudah terurai secara alami
sehingga meninggalkan warna yang persisten pada badan air penerima dan
akan menghambat fotosintesis dan proses pembersihan alami self purification.
Bahan kimia dalam air limbah pabrik kertas seperti sulfite, fenol, klorin, metal
merkaptan sangat membahayakan kehidupan biota perairan, dapat mengendap
ke dasar perairan dan mengganggu keseimbangan dan kelestarian kehidupan
perairan. Tingginya kebutuhan oksigen untuk menguraikan limbah pabrik
kertas akan menurunkan kadar oksigen terlarut (DO) dalam air dan dapat
menyebakan kondisi anoksik di perairan, sehingga tidak dapat dihuni lagi oleh
biota alami. (Kurnia, 2012)
Pada tahun 2012, Pura Group pernah dituntut oleh Warga Desa
Sidomulyo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, karena sungai Sungai Jajar
sebagai sumber air bagi masyarakat Kudus berwarna dan berbau karena polusi
yang ditimbulkan perusahaan tersebut. Meskipun menurut dinas Lingkungan
Hidup sungai tersebut tidak tercemar, namun menurut pengukuran oleh PT.
Sucofindo, kadar polusi air sungai melebihi batas (Iyaa.com, 2012). Warga
lainnya, Nur Sahid mengakui, saat ini limbah cair dari PT Pura Kudus
memang memiliki saluran tersendiri yang sudah dibuat secara permanen ke
wilayah Desa Gondoharum, Kecamatan Jekulo. Akan tetapi, lanjut dia, di titik
tertentu saluran tersebut masih terdapat beberapa lubang, sehingga limbahnya
tetap mengalir ke areal persawahan di Desa Sidomulyo.
Meskipun masalah tersebut sudah terselesaikan, pemilihan
pembuangan limbah air oleh Pura Group menjadi ancaman bagi perusahaan
tersebut.


56


3.12.3. Implikasi Bisnis
Pengolahan limbah kertas yang tidak tepat, akan menimbulkan
banyak dampak terhadap lingkungan alam dan sosial. Bagi perusahaan
kertas, pengelolaan limbah tersebut akan menimbulkan biaya lain dalam
proses produksi. Namun, apabila tidak ditangani, biaya untuk
memperbaiki lingkungan akan lebih besar daripada mengelola limbah
tersebut. Paradigma pengelolaan lingkungan di lingkungan industri mulai
berubah dari konsep end-pipe treatment menjadi zero waste. Konsep
zero waste diartikan sebagai konsep untuk mengupayakan agar suatu
kegiatan itu menghasilkan limbah dalam jumlah yang sekecil-kecilnya,
bahkan kalau bisa, tidak menghasilkan limbah sama sekali. Upaya ini
disebut sebagai minimisasi limbah.
Dalam minimisasi limbah terdapat tiga hal yang harus dilakukan,
yaitu perubahan bahan baku industri, perubahan proses produksi, dan
daur ulang limbah. Perubahan bahan baku dan perubahan proses produksi
dimaksudkan untuk menekan jumlah limbah yang dihasilkan, termasuk di
dalamnya adalah efisiensi pemakaian bahan-bahan penolong dalam proses
produksi. Bila dalam proses produksi ini masih menghasilkan limbah,
maka upaya minimisasi dilakukan dengan daur ulang atau pemanfaatan
kembali limbah yang dihasilkan. (Ali & Suciningtias, 2005)
Sebagai wujud dari komitmen perusahaan untuk menjaga agar
lingkungan sekitar tetap bersih dan sehat, Pura Group senantiasa berusaha
memberikan yang terbaik untuk menjalankan aktifitas bisnisnya dengan
cara-cara yang ramah lingkungan. Sebagai contoh, perusahaan telah
berinvestasi secara substansial di instalasi sistem pengolahan air limbah
dan berhasil menciptakan Puraqua Water Treatment.
Puraqua Water Treatment tidak hanya dijadikan sebagai penunjang
operasional perusahaan dalam mengolal limbah air, kini produk tersebut
menjadi paten dan dijadikan suatu komoditas bisnis oleh PT. Pura Group
untuk industri kecil dan menengah. Teknologi yang dikembangkan


57

diarahkan pada aplikasi pengolahan limbah industri kecil dan
menengah,dimana pasca pengolahan tersebut air limbah sudah aman untuk
lingkungan. Pada aspek domestik,juga didesain sedemikian rupa sehingga
teknologi tersebut dapat diaplikasikan dengan mudah oleh masyarakat.
Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan
polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini. Teknik-teknik
pengolahan air buangan yang telah dikembangkan tersebut secara umum
terbagi menjadi 3 metode pengolahan yaitu secara kimia, biologi, maupun
fisika. Untuk suatu jenis air buangan tertentu, ketiga metode pengolahan
tersebut dapat diaplikasikan secara sendiri-sendiri atau secara kombinasi.
Di PT. Pura Group sendiri, Air limbah sisa proses manufaktur
papan diproses secara biologis, sehingga dihasilkan air bersih yang telah
disaring yang lalu dialirkan kembali ke dalam siklus produksi. Lumpur
yang tersisa dari proses pemisahan tersebut lalu dikeringkan dan disimpan
untuk kebutuhan lain nantinya. (Website resmi Pura Group, 2013)

3.13. Legal dan Pemerintahan
Pemerintah selain sebagai regulator, juga berperan penting sebagai
pasar bagi para pelaku bisnis. Dengan adanya peraturan pemerintah
mengenai pengadaan barang dan jasa, Perpres no 54 tahun 2010, pelaku
bisnis dapat mengajukan tender dengan pemerintah pusat maupun daerah
untuk pengadaan barang maupun jasa.
Bagi para pelaku bisnis, bekerjasama dengan pemerintah dalam hal
pengadaan barang dan jasa seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, mereka
mendapatkan proyek yang besar untuk pengadaan kebutuhan pemerintah,
di sisi lain banyaknya tuntutan oleh pemerintah membuat kerjasama yang
dilakukan tidak win-win solution bagi pelaku bisnis.
Dalam proses pemilihan penyedia jasa, pemerintah menggunakan
beberapa metode pemilihan/seleksi antara lain : (1) Pelelangan/seleksi
umum yaitu suatu metoda pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan
secara terbuka dengan pengumuman secara luas melalui media massa, (2)


58

Pelelangan/seleksi terbatas yaitu suatu metode pemilihan penyedia
barang/jasa terbatas dalam hal jumlah penyedia jasa yang mampu
melaksanakan di yakini terbatas, (3) Pelelangan/seleksi langsung adalah
metode pemilihan penyedia barang/jasa dengan membandingkan
sekurang-kurangnnya 3 (tiga) penawaran, (4) Penunjukkan langsung
adalah metode pemilihan penyedia jasa untuk pekerjaan yang memenuhi
kriteria keadaan tertentu dan keadaan khusus, dengan cara penunjukkan
langsung terhadap 1 (satu) penyedia jasa.
Pengadaan Barang dan Jasa dalam Pemerintah, kini dilakukan
melalui e-Procurement. E-procurement merupakan proses pengadaan
barang/jasa yang pelaksanaannya dilakukan secara elektronik (berbasis
web/internet). E-procurement dilatarbelakangi oleh kelemahan-kelemahan
pengadaan dengan sistem konvensional yang dilakukan dengan langsung
mempertemukan pihak-pihak yang terkait pengadaan. (Wahyu, dkk,
2011). Pemilihan penyedia barang dan jasa dengan menggunakan sistem e-
Procurement diaplikasikan untuk mewujudkan tujuan pelaksanaan
pengadaan barang dan jasa pemerintah yang efektif, efisien, transparan,
adil atau tidak diskriminatif dan akuntabel (detiknas, 2013).

3.13.1. Peluang Bisnis
Sebagai pasar yang potensial dalam berbisnis, banyak peluang yang
dapat dimanfaatkan oleh para pelaku bisnis apabila kerjasama pengadaan
barang dan jasa dengan pemerintah dapat terlaksana. Adapun beberapa
peluang tersebut, antara lain:
1. Transaksi dalam Jumlah Besar
Pada umumnya transaksi pengadaan barang dan jasa, khususnya
melalui tender, merupakan transaksi yang besar. Dengan adanya
transaksi dalam jumlah besar, akan meningkatkan pemasukan dalam
jumlah besar, dan pada akhirnya akan meningkatkan keuntungan bagi
pelaku bisnis.
2. Keamanan Keberlangsungan Perusahaan


59

Berbisnis dengan pemerintah akan menciptakan hubungan kedekatan
dengan para pembuat kebijakan. Bukan sebagai praktik kolusi, bahwa
hubungan ini akan membawa perusahaan pada keamanan dalam
keberlangsungan usaha seperti kemudahan dalam pelayanan perijinan,
bahkan hingga kepada ranah kebijakan-kebijakan yang mungkin akan
mendukung keberlangsungan hidup perusahaan.
3. Meningkatkan Citra Perusahaan
Apabila kerjasama bisnis dengan pemerintah berjalan dengan sukses,
maka citra perusahaan di mata masyarakat akan meningkat. Setiap
kerjasama dengan pemerintah akan disorot oleh media masa, dan
keberhasilan tersebut akan menjadi perhatian publik.

3.13.2. Ancaman Bisnis
Disisi lain dalam meraih peluang tersebut, para pelaku bisnis juga
memiliki hambatan dalam bekerjasama dengan pemerintah. Adapun
beberapa hambatan umum dalam berbisnis dengan pemerintah, antara lain:
1. Sistem Kompleks
Sistem yang dimaksudkan disini adalah sistem pengajuan tender.
Sebelum mengajukan tender, biasanya pemerintah memberikan
kualifikasi-kualifikasi khusus yang harus dipenuhi, misalnya telah
melunasi SPT Pajak untuk beberapa tahun fiskal, memiliki NPWP
badan usaha, memiliki laporan bulanan pajak PPh 25, dan
sebagainya. Beberapa proyek juga terkadang memberikan
kualifikasi minimal pengalaman dalam pengadaan barang dan jasa.
Namun, sistem yang kompleks ini cukup terakomodir dengan
adanya e-Procurement pada website
https://www.lpse.depkeu.go.id/eproc/. Setelah melalui tahap
pendaftaran tender dan memenuhi syarat pra-kualifikasi, para
pelaku usaha akan dipertemukan dalam forum tender dengan
pemerintah sebelum pada akhirnya tercapai kesepakatan.


60

Adanya sistem baru ini memiliki peluang dan hambatan
bagi para pelaku usaha. Di satu sisi para pelaku usaha diberikan
rasa keadilan dalam persaingan tender, namun beberapa kualifikasi
mungkin akan menyulitkan bagi para pemain baru dalam tender
dengan pemerintah. Selain itu, isu-isu adanya jaringan orang
dalam juga masih menjadi isu terkini dalam memenangkan tender.
2. Bergantung dengan Kondisi Politik
Setelah terjadi kesepakatan antara pemerintah dengan pelaku
usaha, perjalanan kerjasama pengadaan barang dan jasa akan
sangat bergantung dengan iklim politik yang ada. Terlebih
banyaknya kepentingan yang bermain dalam politik, seperti partai
politik, KPK, dan pemerintah sendiri, dapat menjadi penghambat
proses pengerjaan proyek. Meskipun tidak banyak yang digagalkan
oleh keadaan politik yang tidak mendukung, namun hal tersebut
harus diwaspadai oleh pelaku bisnis. Misalnya saja kasus
pengadaan kertas uang oleh PT. Pura Barutama dan pada akhirnya,
tender dibatalkan karena isu suap salah satu Deputi Gubernur Bank
Indonesia. Hal tersebut tentunya akan sangat merugikan pelaku
bisnis.
3. Riskan terhadap Pemberitaan Negatif
Meski pelaku bisnis bermain bersih dalam kerjasama bisnis dengan
pemerintah, opini publik mengenai hal tersebut akan selalu
mengundang pertanyaan, dan seringkali opini publik tersebut
menjadi pemberitaan media masa secara negatif. Hal tersebut tidak
hanya akan mencoreng citra perusahaan, namun juga akan
berpengaruh pada proses pengerjaan selama pengadaan barang dan
jasa.
Tidak hanya berhenti dalam wacana publik, para pelaku
bisnis hendaknya siap akan inspeksi yang dilakukan oleh direktorat
jenderal keuangan dan komisi pemberantasan korupsi dalam
mengerjakan proyeknya. Pengerjaan proyek harus dilakukan secara


61

transparan, akuntabel, sesuai regulasi dan tidak mengundang
kontroversi.

3.13.3. Implikasi Perusahaan
Pura Group telah beberapa kali dipercaya oleh pemerintah untuk
membuat dokumen negara seperti uang rupiah, naskah ujian nasional,
kartu tanda penduduk, kartu surat ijin mengemudi, kartu keluarga dan
paspor. Hal tersebut tidak terlepas dari kepercayaan yang telah lama
dibangun oleh perusahaan.
Bentuk implikasi dalam menghadapi peluang dan ancaman dari
lingkungan pemerintahan dilakukan dengan cara peningkatan kualitas dan
kapasitas produksi. Dengan demikian, apabila mendapatkan pesanan
secara mendadak dan dalam waktu yang cepat, Pura Group dapat
menanganinya.
Selain itu, hubungan antara perusahaan dan pihak pemerintah tetap
selalu dijaga untuk meraih kepercayaan pemerintah akan kapabilitas
perusahaan. Keterlibatan Pura Group dalam beberapa kegiatan
Kementerian Industri dan Perdagangan merupakan salah satu bentuk
dalam menjaga hubungan kerjasama dengan pemerintah.












62

BAB IV
Kesimpulan dan Prospek Ekonomi Kedepan

4.1. Kesimpulan
Pura Group sebagai salah satu pemain dalam industri pengolahan
kertas dan turunannya, perlu untuk selalu memperhatikan dinamika
lingkungan eksternal bisnis dalam menyusun langkah-langkah strategis.
Setiap faktor dapat berpengaruh secara signifikan maupun tidak signifikan
terhadap kondisi perusahaan secara keseluruhan. Hal tersebut bergantung
pada seberapa besar peluang dan ancaman yang ditimbulkan
mempengaruhi implikasi bisnis perusahaan. Dengan analisis faktor
lingkungan eksternal perusahaan, maka pihak manajemen perusahaan
dapat memperoleh pertimbangan yang lebih matang sebelum menentukan
keputusan akan strategi perusahaan ke depan.
Analisis faktor eksternal perusahaan dari perspektif peluang dan
ancaman serta implikasinya terhadap bisnis perusahaan juga dapat
digunakan dalam penentuan arah perusahaan. Melalui analisis tersebut,
pihak manajemen akan dapat membuat perubahan arah perusahaan apabila
diperlukan. Selain itu, perkembangan faktor eksternal perusahaan dapat
digunakan untuk memproyeksikan posisi perusahaan di masa yang akan
datang. Perusahaan harus dapat menyikapi dengan bijak perubahan-
perubahan yang terjadi pada lingkungan bisnis. Kebijakan dan strategi
yang proaktif dan antisipatif dapat menjadikan perusahaan bertahan dan
terus maju di tengah persaingan yang semakin ketat.

4.2. Prospek Perusahaan di Masa Mendatang
Meskipun permintaan akan produk kertas dalam bentuk fisik mulai
bergeser pada digital, hal tersebut tidak menyurutkan prospek industri
kertas dan turunannya di masa yang akan datang. Permintaan produk
kertas akan selalu meningkat seiring dengan kebutuhan masyarakat yang


63

semakin variatif. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu inovasi dalam
pengolahan kertas yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Pura Group telah melakukan berbagai inovasi terkait permintaan
pasar akan perkembangan pasar di masa mendatang. Tidak hanya bermain
dalam bisnis pengolahan kertas dan percetakan konvensional, Pura Group
telah melakukan diversifikasi bisnis pada pembuatan kertas dengan
pengaman, teknologi informasi, dan teknologi untuk industri. Hal tersebut
membuat perusahaan dapat terus menjaga keberlanjutan bisnisnya apabila
nanti era kertas telah berganti pada era digital.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selalu positif dan didukung
oleh adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN menjadi momentum emas bagi
para pelaku bisnis. Demikian juga dengan Pura Group, diharapkan ada
potensi perluasan pasar dan pengembangan bisnisn di masa mendatang.
Namun perlu diperhatikan pula ancaman dari pesaing, sehingga
perusahaan tersebut tetap dapat bertahan di masa mendatang.
Pada akhirnya, Pura Group memiliki prospek yang cerah di masa
mendatang apabila tantangan dari lingkungan eksternal dapat dihadapi
dengan baik melalui penyusunan strategi yang tepat.















64

Daftar Referensi

Aziati, Fadzillah. 2011. Analisis Pengaruh Budaya Nasional, Kompetensi
Komunikasi Lintas Budaya, dan Budaya Organisasi terhadap Kompetensi
Negosiasi Berbasis PSA. Universitas Diponegoro, Semarang.

BAPPENAS. 2007. Pengembangan Ekonomi Daerah dan Sinergi Kebijakan
Investasi Pusat-Daerah. Diunduh dari <http://www.bappenas.go.id/get-file-
server/node/1284/> diakses pada diakses pada 9 Maret 2013, 14.00 WIB

Bisnis Indonesia. 2013. Visit Jateng 2013 Program Wisata Terganjal
Infrastruktur. 2 Januari 2013. Diunduh dari <http://www.bisnis-
jateng.com/index.php/2013/01/visit-jateng-2013-program-wisata-jateng-
terganjal-infrastruktur/> diakses pada diakses pada 8 Maret 2013, 20.10
WIB

Bisnis Indonesia. 2013. Wacana Pemekaran DAERAH OTONOM BARU di Kepri
(Bag. 3). 9 Januari 2013. Diunduh dari <http://www.bisnis-
kepri.com/index.php/2013/01/wacana-pemekaran-daerah-otonom-baru-di-
kepri-bag-3/> diakes pada 15 Maret 2013, 20.00 WIB

Bisnis Indonesia. 2013. Industri kertas: harga masih fluktuatif, pebisnis yakin
ekspor tetap tumbuh. 18 April 2013. Diunduh dari
<http://www.bisnis.com/industri-kertas-harga-masih-fluktuatifpebisnis-
yakin-ekspor-tetap-tumbuh>, diakses pada 27 Mei 2013.

Bisnis Indonesia. 2013. Kenaikan harga BBM, Industri kertas makin terjepit. 20
Juni 2013. Diunduh dari <http://www.bisnis.com/kenaikan-harga-bbm-
industri-kertas-makin-terjepit> diakses pada 20 Juni 2013.

BPS Jateng. 2013. Banyaknya Obyek Wisata/Taman Rekreasi Menurut
Kota/Kabupaten. Diunduh dari
<http://jateng.bps.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=8
42:09-02-01&catid=57:hotel-2012&Itemid=93> diakses pada diakses pada
8 Maret 2013, 20.10 WIB

BPS Jateng. 2013. Penduduk dan Ketenagakerjaan Jawa Tengah 2011. Diunduh
dari
<http://jateng.bps.go.id/index.php?option=com_content&view=section&id=
15&Itemid=87> diakes pada 15 Maret 2013, 20.05 WIB


65


BPS Kab.Kudus. 2012. Data Penduduk dan Tenaga Kerja Kabupaten Kudus tahun
2011. Diunduh dari <http://kuduskab.bps.go.id/index.php/penduduk?start=6>
diakses pada 3 Juni 2013.

Detik. 2011. KTT ASEAN 2011 Hasilkan Bali Concord III. 17 November 2011.
Diunduh dari
http://news.detik.com/read/2011/11/17/165144/1769604/10/ktt-asean-2011-
hasilkan-bali-concord-iii, diakses pada 10/3/2012, 07.30 WIB.

DETIKNAS. Pertemuan DeTIKNas Pembahasan e-Procurement. 31 Maret 2010.
Diunduh dari <
http://www.detiknas.org/index.php/flagship/c/10/75/Pertemuan-DeTIKNas-
Pembahasan-e-Procurement/> diakses pada 24 Februari 2013, 10.10 WIB.

Donovan, Edgardo. 2006. The Relationship between Business Strategy and
Information Technology Strategy. Touro University Intenational.

DJKPI. 2011. Indonesia Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. 8 April
2011. Diunduh dari
http://ditjenkpi.kemendag.go.id/website_kpi/index.php?module=news_detai
l&news_content_id=857&detail=true, diakses pada 10/3/2012, 07.30 WIB.

Global Competitiveness Report. 2012. Diunduh dari
http://www3.weforum.org/docs/WEF_GlobalCompetitivenessReport_2012-
13.pdf diakses pada 10/3/2012, 18.30 WIB.

Hidayat, Amin. 2012. Sekilas tentang PEMILU di Indonesia. 20 Januari 2012.
Diunduh dari <http://aminhidayatcenter.blogspot.com/2012/01/sekilas-
tentang-pemilu-di-indonesia.html>, diakses pada 11 Maret 2013, 17.08
WIB.

Info Purwokerto. 2010. Pemekaran Banyumas Menguat. 17 Juli 2010. Diunduh
dari <http://info-purwokerto-jateng.blogspot.com/2010/07/pemekaran-
banyumas-menguat.html> diakses pada 15 Maret 2013, 19.30 WIB

Jalal. 2010. Pengembangan Masyarakat: Konsep, Proposisi Keberhasilan dan Isu
dalam ISO 2006. Lingkar Studi CSR: Bogor.



66

Jurnal Nasional. 2012. Ekspor Pulp dan Kertas Ditargetkan Naik US$2,64 Miliar.
30 Mei 2012. Diunduh dari <http://www.jurnas.com/halaman/15/2012-05-
30/210617>, diakses pada 27 Mei 2013.

Kementerian Lingkungan Hidup. 2011. Pedoman CSR Bidang Lingkungan.
Jakarta

Koentjaraningrat. 2000. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan (cetakan
kesembilan belas), Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Kompas. 2012. Jateng Jadikan Pariwisata Sektor Unggulan. 25 Februari 2012.
Diunduh dari
<http://megapolitan.kompas.com/read/2012/02/25/20505585/Jateng.Jadikan
.Pariwisata.Sektor.Unggulan> diakses pada 9 Maret 2013, 13.22 WIB

Kumoro, Bawono. 2011. Ekonomi dan Kepemimpinan Indonesia di ASEAN. 28
Apriil 2011. Diunduh dari
http://suar.okezone.com/read/2011/04/28/58/450833/ekonomi-dan-
kepemimpinan-indonesia-di-asean, diakses pada 10/3/2012, 07.14 WIB.

Kuncoro, Mudrajad. 2010. Dasar-dasar Ekonomika Pembangunan, Edisi 5. UPP
STIM YKPN : Yogyakarta.

Layanan Pengadaan Secara Elektronik Kementerian Keuangan. Diunduh dari
<https://www.lpse.depkeu.go.id/eproc/> diakses pada 26 Februari 2013,
10.00 WIB.

Mulyawan, Wahyu. 2011. Peran-peran Pokok Pengembangan Komunitas. Dalam
http://klik-only.blogspot.com/2011/01/peran-peran-pokok-
pengembangan.html diakses pada 21 Februari 2013, 12.35 WIB

Manuaba, Putra. 1999. Budaya Daerah dan Jati Diri Bangsa. Jurnal Masyarakat,
Kebudayaan dan Politik, Th XII, No 4, Oktober 1999, 57-66.

Manurung, Adler dan Cahyanti. 2008. Pengaruh Peristiwa Politik terhadap
Sektor-Sektor Industri di Bursa Efek Jakarta. Diunduh dari
http://www.finansialbisnis.com/Data2/Riset/PENGARUH%20PERISTIWA
%20POLITIK%20TERHADAP%20SEKTOR-


67

SEKTOR%20%20%20%20%20%20INDUSTRI%20DI%20BURSA%20EF
EK%20JAKARTA.pdf diakses pada 11 Maret 2013, 17.08 WIB.

Marsiya, Metik. 2012. Jokowi dan UMR, Harkat dan Martabat Manusia
Indonesia. 18 Desember 2012. Diunduh dari
<http://birokrasi.kompasiana.com/2012/12/18/jokowi-dan-umr-awal-
memartabatkan-dan-penghargaan-manusia-indonesia--512142.html>,
diakses pada 11 Maret 2013, 17.08 WIB.

Masud, Fuad. 2002. Menggugat Manajemen Barat. BP UNDIP: Semarang.

McKeown, Patrick. 2001. Information Technology and Networked Ekonomi.
Thomson Learning.

MIPI. 2013. Implikasi Pemekaran Daerah bagi Dunia Usaha dan Perekonomian
Nasional. 26 Februari 2013. Diunduh dari
<http://mipi.or.id/component/k2/item/56-implikasi-pemekaran-daerah-bagi-
dunia-usaha-dan-perekonomian-nasional> diakes pada 16 Maret 2013,
10.34 WIB

Moleong, J. Lexie. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya:
Bandung

Nehen, Ketut. 2012. Perekonomian Indonesia. Udayana University Press :
Denpasar.

Neraca. 2012. Pemerintah Dorong Industri Pulp dan Kertas Terapkan Green
Industry. 21 November 2011. Diunduh dari
<http://www.neraca.co.id/harian/article/21842/Pemerintah.Dorong.Industri.
Pulp.dan.Kertas.Terapkan.Green.Industry> diakses pada 3 Juni 2013.

Neraca. 2013. Investasi Industri Kertas Ditaksir Tumbuh 8%. 4 Februari 2013.
Diunduh dari
<http://www.neraca.co.id/harian/article/24560/Investasi.Industri.Kertas.Dita
ksir.tumbuh.8> diakses pada 3 Juni 2013.

Rothaermel, F. T. (2012). Strategic Management: Concepts and Cases. McGraw-
Hill/Irwin, p. 56-61



68

Ruhiyat, Ahmad. 2009. Penerima Anugerah Teknologi Siddhakretya: Pura
Barutama, Perusahaan Keluarga Merambah Dunia. 17 Maret 2009.
Diunduh dari <http://jasa-cetakan.blogspot.com/2009/03/jacobus-tokoh-
percetakan.html>, diakses pada 26 Mei 2013.

Peraturan Presiden no 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa


Plasadana. 2013. Pemerintah Siapkan dua Program Insentif Fiskal. 29 Mei 2013.
Diunduh dari <http://plasadana.com/detail.php?id=4900> diakses pada 3
Juni 2013.

Printmedia. 2012. Sekilas tentang perkembangan industri grafika di Indonesia. 11
Oktober 2012.Diunduh dari < http://www.indonesiaprintmedia.com/kilas-
berita/164-sekilas-tentang-perkembangan-industri-grafika-di-indonesia.html
> diakses pada 3 Juni 2013.

Pura Group. 2013. Website Resmi. Diunduh dari
<http://v1.puragroup.com:8080/>

Pura Group. 2013. Fasilitas Penunjang: Management Information System. Dalam
official website. Diunduh dari
<http://v1.puragroup.com:8080/content.php?fl3nc=1&param=c2NtZD10Z
WNobm9sb2d5X3N1cHBvcnRpbmdfZmFjaWxpdHkmc25vZGVJZD01Nj
Mmc3R5cGU9&PHPSESSID=d1b21b9bc8d16096f79bac71ad643b56>
diakses pada 9 Maret 2013, 20.00 WIB.

Pura Group. 2013. Pemberitaan Media: Kerjasama. Diunduh dari
<http://v1.puragroup.com:8080/content.php?fl3nc=1&param=c2NtZD1tZW
RpYV9ldmVudHMmZm5vZGVJZD0xNDY%3D&PHPSESSID=6ba4f00f
b3bc9e5898a5a49870dc62bb>, diakses pada 3 Juni 2013.


Republika. 2011. Myanmar Ketua 2014, Pemimpin ASEAN Sudah Sepakat. 17
November 2011. Diunduh dari
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/11/11/17/lusyps-
myanmar-ketua-2014-pemimpin-asean-sudah-sepakat diakses pada
10/3/2012, 07.20 WIB.



69

SHNews. 2012. Membedah Potensi Industri Pulp and Kertas. 25 Juni 2012.
Diunduh dari <http://www.shnews.co/detile-3755-membedah-potensi-
industri-pulp-dan-kertas.html>, diakses pada 26 Mei 2013.

SHNews. 2012. Industri padat karya dijanjikan insentif pajak. 18 Desember 2012.
Diunduh dari <http://shnews.co/detile-12374-industri-padat-karya-
dijanjikan-insentif-pajak.html> diakses pada 3 Juni 2013.

Solopos. 2012. PERURI Perlu Riset Bahan Baku Uang Kertas. 8 Agustus 2012.
Diunduh dari <http://www.solopos.com/2012/08/08/peruri-perlu-riset-
bahan-baku-uang-kertas-317279>, diakses pada 3 Juni 2013.

Solopos. 2012. Kontroversi Daerah Istimewa Surakarta: Warga Solo Usulkan
Provinsi. 5 November 2012. Diunduh dari
<http://www.solopos.com/2012/11/05/kontroversi-daerah-istimewa-
surakarta-warga-solo-usulkan-provinsi-345157> diakes pada 15 Maret
2013, 19.30 WIB

Solopos. 2012. Anggota DPRD Jateng: Wacana Daerah Istimewa Surakarta
Jangan Emosional. 23 November 2012 Diunduh dari
<http://www.solopos.com/2012/11/23/anggota-dprd-jateng-wacana-daerah-
istimewa-surakarta-jangan-emosional-350387> diakes pada 15 Maret 2013,
19.30 WIB

Suara Merdeka. 2013. Dilema Pemekaran Daerah. 5 Januari 2013. Diunduh dari
<http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/01/05/21084
9/Dilema-Pemekaran-Daerah> diakes pada 15 Maret 2013, 19.00 WIB

Sulutpromo. 2012. Pisang Abaka Talaud, Bahan Baku Uang Kertas Dolar.
Diunduh dari <http://sulutpromo.com/en/komoditi/pisang-abaka-talaud,-
bahan-baku-uang-kertas-dolar/>, diakses pada 3 Juni 2013.

Suyanto, M. 2005. Teknologi Informasi untuk Bisnis.. Stimik AMIKOM
Yogyakarta.

Tempo. 2004. Perbaikan Iklim Investasi Butuh Pergantian Kepemimpinan
Nasional. 5 Februari 2004. Diunduh dari
<http://www.tempointeractive.com/hg/nasional/2004/02/05/brk,20040205-
42,id.html>, diakses pada 11 Maret 2013, 17.05 WIB.



70

The Swedish Forest Industries. Facts and Figures. Diunduh dari
<http://www.skogsindustrierna.org/MediaBinaryLoader.axd?MediaArchive
_FileID=27399b04-0666-4a63-b7e4-
3ab57a05fffd&FileName=BranschENG_2011.pdf>, diakses pada 26 Mei
2013.

Tribun Jabar. 2012. Industri Pulp dan Kertas Indonesia Bantah Penikmat
Teknologi. 20 November 2012. Diunduh dari
<http://jabar.tribunnews.com/2012/11/20/industri-pulp-dan-kertas-
indonesia-bantah-penikmat-teknologi> diakses pada 3 Juni 2013.

UU no 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Pemerintah Daerah

Wijaya, Wahyu Hary, Retno Indryani, dan Yusronia Eka Putri. 2010. Studi
Penerapan E-Procurement pada Proses Pengadaan di Pemerintah Kota
Surabaya. Paper. ITS: Surabaya.