Anda di halaman 1dari 5

Diabetes melitus tipe 2 terjadi akibat adanya resistensi insulin dimana

reseptor pada jaringan adipose dan otot tidak peka terhadap insulin. Adanya
penurunan sekresi insulin akibat mungkin adanya kerusakan sel di pancreas
secara relative. Pada penderita diabetes mellitus tipe 2 memiliki jumlah insulin
yang normal tetapi tetap mengalami hiperglikemia, hal ini dapat disebabkan
karena resistensi dari reseptor insulin sehingga tidak dapat berikaran dengan
insulin yang dihasilkan.
Pada DM tipe 2, sekresi insulin di fase 1 atau early peak yang terjadi dalam 3-
10 menit pertama setelah makan yaitu insulin yang disekresi pada fase ini adalah
insulin yang disimpan dalam sel beta (siap pakai) tidak dapat menurunkan glukosa
darah sehingga merangsang fase 2 adalah sekresi insulin dimulai 20 menit setelah
stimulasi glukosa untuk menghasilkan insulin lebih banyak, tetapi sudah tidak
mampu meningkatkan sekresi insulin sebagaimana pada orang normal. Gangguan
sekresi sel beta menyebabkan sekresi insulin pada fase 1 tertekan, kadar insulin
dalam darah turun menyebabkan produksi glukosa oleh hati meningkat, sehingga
kadar glukosa darah puasa meningkat. Secara berangsur-angsur kemampuan fase
2 untuk menghasilkan insulin akan menurun. Dengan demikian perjalanan DM
tipe 2, dimulai dengan gangguan fase 1 yang menyebabkan hiperglikemi dan
selanjutnya gangguan fase 2 di mana tidak terjadi hiperinsulinemi akan tetapi
gangguan sel beta. Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kadar
glukosa darah puasa dengan kadar insulin puasa. Pada kadar glukosa darah puasa
80-140 mg/dl kadar insulin puasa meningkat tajam, akan tetapi jika kadar glukosa
darah puasa melebihi 140 mg/dl maka kadar insulin tidak mampu meningkat lebih
tinggi lagi, pada tahap ini mulai terjadi kelelahan sel beta menyebabkan fungsinya
menurun. Pada saat kadar insulin puasa dalam darah mulai menurun maka efek
penekanan insulin terhadap produksi glukosa hati khususnya glukoneogenesis
mulai berkurang sehingga produksi glukosa hati makin meningkat dan
mengakibatkan hiperglikemi pada puasa. Faktor-faktor yang dapat menurunkan
fungsi sel beta diduga merupakan faktor yang didapat (acquired) antara lain
menurunnya massa sel beta, malnutrisi masa kandungan dan bayi, adanya deposit
amilyn dalam sel beta dan efek toksik glukosa (glucose toXicity).
Pada sebagian orang kepekaan jaringan terhadap kerja insulin tetap dapat
dipertahankan sedangkan pada sebagian orang lain sudah terjadi resistensi insulin
dalam beberapa tingkatan. Pada seorang penderita dapat terjadi respons metabolik
terhadap kerja insulin tertentu tetap normal, sementara terhadap satu atau lebih
kerja insulin yang lain sudah terjadi gangguan. Resistensi insulin merupakan
sindrom yang heterogen, dengan faktor genetik dan lingkungan berperan penting
pada perkembangannya. Selain resistensi insulin berkaitan dengan kegemukan,
terutama gemuk di perut, sindrom ini juga ternyata dapat terjadi pada orang yang
tidak gemuk. Faktor lain seperti kurangnya aktifitas fisik, makanan mengandung
lemak, juga dinyatakan berkaitan dengan perkembangan terjadinya kegemukan
dan resistensi insulin.
Terapi yang dapat diberikan kepada penderita diabetes mellitus ada dengan
pengaturan lifestyle dan pemberian beberapa golongan obat yang dapat membantu
mengatasi hiperglikemia apabila dengan pengaturan lifestyle tidak dapat
mengatasi. Pengaturan lifestyle adalah dengan pengaturan asupan makanan yang
masuk ke dalam tubuh dan cara ini difokuskan pada bagaimana pasien dengan
diabetes mellitus tipe 2 melakukan aktivitas fisik sehingga dapat mengurangi kada
glukosa dalam darah selain dengan adanya pengaturan diet.
Selain dengan mengatur lifestyle, pasien dengan diabetes mellitus tipe 2
dapat diberikan obat oral yang dapat menurunkan masalah hiperglikemia yang
terjadi pada pasien diabetes mellitus tipe 2. Obat-obatan ini bekerja dengan cara
memicu terjadinya rilis insulin (Insulin Secretaggues) dan menambah sensitivitas
insulin.
Obat-obat yang dapat memicu rilis insulin adalah obat-obat yang dapat
memblok kanal K
+
yang sensitive terhadap ATP sehingga depolarisasi tidak dapat
terjadi dan menyebabkan kanal K
+
tertutup dan memicu terbukanya kanal Ca
2+
.
Karena terbukanya kanal Ca
2+
ini menyebabkan ion Ca
2+
masuk ke dalam sel
pancreas dan konsentrasi ion Ca
2+
yang ada dalam sel pancreas semakin banyak.
Konsentrasi yang banyak ini dapat memberikan rangsangan kepada sel -pankreas
untuk merilis insulin lebih banyak untuk dikeluarkan pada jaringan untuk
mengatasi hiperglikemia. Contoh obat-obatan dengan mekanisme seperti ini
adalah obat-obatan golongan sulfonylurea. Obat golongan sulfonylurea diketahui
efektif untuk mengontrol kadar gula dalam tubuh. Tetapi selain efektif dapat
mengatasi hiperglikemia, obat ini juga dapat menyebabkan peningkatan berat
badan dan dapat mengakibatkan terjadi hipoglikemia.
Selain itu beberapa golongan obat dapat memberikan efek meningkatkan
sensitivitas insulin antara lain golongan biguanid (metformin). Metformin dalam
tubuh tidak memberikan efek meningkatkan sekresi insulin oleh sel -pankreas,
tetapi obat ini menurunkan kadar glukosa dalam jaringan dapat dan tidak dapat
menyebabkan hipoglikemia. Metformin merupakan pilihan utama yang digunakan
untuk pasien diabetes mellitus tipe 2, mekanisme aksi dari obat ini adalah dengan
mengurangi pembentukan glukosa di hepar. Obat ini tidak dapat menyebabkan
peningkatan berat badan sehingga dapat digunakan untuk pasien obesitas untuk
menurunkan berat badan mereka dan tidak dapat menyebabkan hipoglikemia
seperti pada sulfonylurea.
Thiazolidinedione merupakan ligan dari PPAR-. Pemberian obat
golongan thiazolidinedione dapat meningkatkan sensitifitas insulin pada jaringan
perifer dengan menstimulasi aktivitas periksosom proliferator reseptor gamma
(PPAR-). Salah satu efek samping dari penggunaan obat golongan
thiazolidinedione adalah terjadi peningkatan ambilan asam lemak bebas oleh
adiposity subkutan.
Obat-obat lain yang dapat diberikan untuk pasien diabetes mellitus tipe 2
adalah obat-obat yang dapat meningkatkan glucagon-like-peptide 1 yang dapat
meningkatkan rilis insulin dengan menghambat sekresi glucagon yaitu DPP-4
inhibitor. DPP-4 inhibitor mempunya struktur yang mirip dengan GLP-1 endogen
dan reseptor GLP aktif yang ada ada beberapa jaringan. DPP-4 inhibitor bekerja
dengan menghambat pengosongan lambung dan menekan nafsu makan sehingga
dapat menurunkan berat badan pada pasien diabetes mellitus 2.
Pada obat-obatan golongan inhibitor -glukosidase dapat digunakan untuk
terapi pada pasien diabetes mellitus tipe 2, misalnya Acarbose. Acarbose bekerja
dengan menghambat enzim -glukosidase pada dinding usus halus pada bagian
brush border. Apabila enzim -glukosidase dihambat maka pemecahan
karbohidrat menjadi glukosa akan berkurang, kadar glukosa dalam jaringan juga
akan menurun dan hiperglikemi dapat dihindarkan.
Pada kasus yang digunakan menyebutkan bahwa seorang wanita Hispanic
usia 47 tahun didiagnosis menderita diabetes mellitus tipe 2. Dari hasil
pemeriksaan dokter, wanita ini diresepkan metformin 500 mg/ 2x sehari dan
disarankan untuk melakukan aktivitas fisik dan menurunkan berat badan. Setelah
1 bulan berlangsung penggunaan metformin ditingkatkan menjadi 1000 mg/ 2x
sehari.

Gambar 1: Hasil pemeriksaan fisik dan Tes laboratorium
Setelah dilakukan follow up selama 1 tahun ternyata pasien tidak menaati
lifestyle yang disarankan dari tenaga kesehatan sehingga menyebabkan berat
badan pasien naik.
Pasien diberi glimepiride 4 mg/ hari dan pasien mulai melakukan diet
untuk menurunkan berat badannya. Dari hasil lab membuktikan bahwa dengan
pemberian glimepiride dan pengaturan lifestyle berat badan pasien turun menjadi
168 lb dan HbA1c turun menjadi 6.8%. Saat pasien tidak diet untuk beberapa saat,
HbA1c naik lagi sampai 8.1%. Karena hasil ini pasien diresepkan insulin eksogen,
Glargine yang digunakan pada waktu tidur sebanyak 10 unit. Pasien meminta
untuk meningkatkan 1 dosis setiap harinya dan FGP mencapai 100mg/ dL
sedangkan HbA1C mencapai 7.1%. Pada peresepan selanjutnya, pasien diberi
insulin sebanyak 28 unit dan hasilnya memberikan penurunan HbA1c menjadi
7.6% dan kadar gula dalam darah 130 mg/dL. Setelah beberapa saat insulin
ditingkatkan menjadi 47 unit sehingga memberikan hasil FPG 95-100 mg/dL,
HbA1c 6.6% dan tidak memberikan tanda-tanda adanya hipoglikemi. Dari hasil
akhir ini lifestyle dan penggunaan obat metformin, sulfonylurea dan insulin terus
dikontrol.