Anda di halaman 1dari 2

Pengingat Minum OAT

Angka kejadian tidak konversi TB (masih TB positif) yang didapatkan data


dari 2 bulan masa konversi ini semakin mempengaruhi angka daripada MDR
(MultiDrug Resistance) TBC. Ironis bisa dikatakan, kenapa program obat TBC
terbaru yang diberikan oleh pemerintah ini, yang sekarang obat TBC itu
dihomogenkan menjadi 1 macam OAT, yang sekarang dinamakan obat jenis FDC
(Fixed Dosed Combination) dan lebih sedikit dalam onset meminum obat ini tetapi
makin memperbanyak angka dari MDR dan tidak konversi/TBC positif ini.
Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten KLaten Tahun 2013, Jumlah penderita
TBC yg terdaftar sebanyak 132 orang, Jumlah pasien yang mengalami konversi (TBC
negative) sebanyak 80 orang, Jumlah pasien yang tidak mengalami konversi (TBC
positif) sebanyak 23 orang, jumlah pasien yang tidak melakukan pemeriksaan dahak
sebanyak 24 orang, default 4 orang, pindah 7 orang dan meninggal sebanyak 4 orang.
Bisa dilihat dari data DKK tersebut, hanya 61% yang bisa konversi dan ada hampir
7% yang tidak konversi. Mengapa bisa terjadi hal ini? Mengapa sudah dilakukan
pengobatan konversi selama 2 bulan masih ada yang tidak mengalami konversi atau
masih TBC positif?
Angka tersebut memberikan suatu pertanyaan besar bagi kita. Jika diteliti lagi
dari perilaku masyarakat sekarang, tidak hanya gaya hidup yang instan saja, tapi ada
yang malas dalam mematuhi untuk meminum obat atau bisa jadi dalam hal
keterlambatan dalam berobat dan terapi. Memang dulu sebelumnya OAT diberikan
secara terpisah yang terdiri dari Rifampicin, INH, Etambutol, Pirazinamid. Dengan
pengawasan PMO dalam meminum obat secara teratur dan memberikan hasil yang
memuaskan dalam kepatuhan minum obat. Perlu dikaji dalam hal ini apa ada
perbedaan dari sisi OAT yang diberikan secara terpisah atau langsung dengan FDC.
Secara teoritis, ada 5 faktor yang menyebabkan wabah MDR TBC, yang didapatkan
dari Buletin TBC dari Kemenkes RI ini yaitu antara lain (1) Pengobatan tidak
adekuat, (2) Pasien yang lambat terdiagnosis MDR TBC, (3) Pasien dengan TBC
resisten yang tidak bisa disembuhkan, (4) Pasien yang sudah diobati tetapi dengan
obat yang tidak adekuat, (5)Ko-Infeksi HIV. Menurut penelitian yang dilakukan oleh
Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK UI bersama RS
Persahabatan Jakarta ini didapatkan pasien MDR TBC dominan usia 25-34 tahun,
resisten terbanyak 77.2% karena resisten sekunder oleh pengobatan Rifampisin dan
Isoniazid dan yang resistensi primer hanya 22,8%. Pengobatan MDR TBC tidak
sesuai dengan rejimen, dosis dan lamanya terapi sehingga mempengaruhi
kesembuhan dari MDR TBC.
Kembali kita evaluasi mengenai cara onset meminum obat ini, apakah dari
pribadi pasien TBC ini sudah meminum obat secara teratur. Kadang tiap orang tak
bisa memungkiri, untuk meminum obat saja kadang malas dan bisa tidak tepat
waktunya untuk meminum obat. Maka dari hal itu, diperlukan suatu alat yang bisa
memberikan suatu pengingat dalam meminum obat, yang bisa lebih dekat dengan
pasien itu sendiri. Hal ini bagus, semakin berkembangnya jaman yang sekarang
android menyediakan banyak aplikasinya, informasi-informasi kesehatan dapat
dijangkau oleh banyak orang. Diharapkan akan ada aplikasi baru yang bisa diunduh
dimanapun dan kapanpun mengenai pengingat minum obat bagi penderita TBC.
Selain pengingat meminum OAT, diharapkan alat tersebut juga menyediakan
pengingat untuk pasien dalam mengenali gejala-gejala yang menjurus kearah
diagnosis TBC ini, agar mendeteksi dini gejala TBC serta pengingat waktu untuk
2ontrol ke RS/dokter. Pasti bagus juga bila ada alarm khusus bagi para pelanggar
remember OAT ini kalau melanggar waktunya untuk meminum obat dengan nada-
nada yang bisa dimungkinkan pasien ini malu dan ingin segera meminum obatnya.
Dengan hal ini, kita bisa setahap membantu kepada masyarakat secara langsung dan
membantu program MDGs dalam mengurangi angka mortalitas dan MDR TBC serta
meningkatkan kualitas bagi masyarakat pre atau pasca TBC. #IndonesiaMedika

Stop dan Kenali TBC sejak dini!




Rezita Oktiana Rahmawati (Rere)
Mahasiswi Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta