Anda di halaman 1dari 7

http://www.loker4uang.

com

30.GAMBAR HIDUP

Kira-kira waktu asar, Ramlan dan Rusdi bermain ke alun-alun, melihat


yang main bola.
“kalau itu saung apa kak, yang di tengah alun-alun?” kata Rusdi pada
kakaknya. “lihat sekarang ada suara musik di tengah alun-alun.”
“kata orang gambar hidup,” jawab Ramlan. “mari kita lihat gambarnya dari
luar.” Kemudian mereka berdua berangkat, mendekati musik. Rusdi sangat
menikmati gambar-gambar yang digantung di bilik-bilik.
“gambar ini yang disebut gambar hidup, kak?” kata Rusdi.
“bukan” jawab Ramlan, “itu hanya gambar contoh saja, menerangkan dari
sebagian gambar hidup.”
“jadi mana yang disebut gambar hidup, kak?” kata Rusdi.
“tentunya tidak dimainkan disiang hari gambar hidupnya,”jawab Ramlan.
“dimainkanya harus malam hari, lihat, nanti gambarnya akan terlihat dilayar yang
membentang.”
“wah, kakak suka bohong,” kata Rusdi. “itu hanya kain putih yang
membentang, tidak ada gambarnya.”
“tentu tidak ada gambarnya jika tidak pada waktunya,” jawab Ramlan.
“coba nanti sore, kita ajak bapak untuk nonton, jika kamu memang ingin tahu.”
Sesudah lama berkeliling disana, mereka berdua kemudian pulang. Mau
ajak bapaknya. Ketika dating, maka Rusdi bercerita, sebagaimana pengalaman
dia di alun-alun.
“mari, kalau kalian mau nonton,”kata bapaknya, “sebab bapak juga belum
tahu.”
Sesudah magrib berangkatlah pak Rusdi sekeluarga, beserta Murdiam
dan istrinya, berangkat ke alun-alun. Dari kejauhan sudah terlihat lampu-lampu
benderang di depan dangau seperti siang saja.
“itu, ditempat yang banyak orang ada gambar hidup, Rusdi.’ Kata pa
Rusdi.
“benar” jawab anaknya.
Ketika sudah sampai disana, kemudian Murdiam membeli karcis untuk
semuanya, lalu masuk ke ruangan, lalu duduk di kelas tiga. Disana sudah
terdapat orang-orang yang menonton. Rusdi dan Misnem tak henti-hentinya
berbicara, segala ditanya dan ditunjuk.
“wah, hebat! Tetabuhannya juga sangat mengenakan,” kata pak Rusdi
pada Murdiyam. “ tapi tak dapat dimengerti oleh saya, lagu apa itu, hanya
engak-engak, pet-pet dan dar-dar saja, tapi tidak terdengar dar dan dor.”
“ih, tentu jarang dipakai musik kita itu,” jawab Murdiyam.
Ketika sudah sampai waktunay main, kemudian lampu-lampu dimatikan,
orang-orang ramai bertepuk tangan dan berjeritan, tertanda suka.
“wah, ternyata lampu mati, apa karena sudah tidak ada minyaknya, ya
kak?” kata Rusdi.
“tentu sudah wajar, dik,” jawab Ramlan, “ kalau mau mulai, harus
dimatikan dulu lampunya, supaya jelas gambarnya. Coba, sebentar lagi
gambarnya akan keluar dari layer. Tuh lihat!”
Rusdi dan Misnem tercengang, matanya melotot, kaget karena tidak tahu
dari mana asalnya, tahu-tahu sudah ada gambar.
“wah.. wah…wah.!” Kata ibu Rusdi pada anak-anaknya, kenapa kan tadi
tidak ada gedung disana; dan ada kereta bolak-balik! Kenapa? Dating dari mana
asalnya jang?” Tanya ibu Rusdi pada Ramlan.
Rusdi dan Misnem hanya melotot saja, tidak bicara sedikit pun.
Ketika keluar gambar yang keduanya. Ketiga dan seterusnya, tidak terlalu
rebut yang kampungan itu, cumin bengong dan geleng-geleng kepala, seumur
hidup baru melihat yang begitu.
Sesudah beberapa gambar dimainkan, kemudian lampu-lampu
dinyalakan kembali, orang yang menonton sebagian sudah keluar, yang lainnya
tetap diam diasana.
“ini sudah beres? Ternyata oaring-orang pada keluar?” kata pak Rusdi
pada Murdiyam.
‘berhenti sebentar, nanti main lagi. Kita jangan mengikuti orang lain
keluar, seban sebentar lagi main lagi.”
Ketika bicara begitu, lampu dimatikan lagi dan tak lama kemudian muncul
lagi gambar bermacam-macam, yang kocak dan yang lainnya.
Jam sembilan permainan sudah beres, pak Rusdi dan yang lainya
kemudian pada pulang. Dating kerumahnya dan tak henti-hentinya bercerita,
menceritakan gambar-gambar yang terlihat tadi, begitu juga anak-anak yang tak
henti-hentinya rebut bercerita tak tentu.

31.YANG BAIK HATI

Hari minggu pagi-pagi, Ramlan, Rusdi dan pamannya duduk di depan


rumah sambil ngemil.
“bagaimana, jang, cerita dari paman dahulu, sudah diceritakan di
sekolah?” kata pamannya pada Ramlan.
“sudah, paman!” jawab Ramlan, “dan sekarang juga saya ingin diceritakan
lagi, cerita yang rame, untuk cerita nanti senin.”
“baik, jang! Banyak sekali cerita, asal kamu mau minta,” jawab
pamannya,”nanti sore berceritanya, sebab sekarang paman mau kerja dulu.
Maka paman berangkat, Ramlan dan Rusdi duduk seada-ada di teras.
Sore harinya, sesudah isya, berkumpul di tengah rumah, pamanya duduk
sambil bercerita, Ramlan dan Rusdi bersandar mendengarakan cerita.
Bengidi ceritanya;
Ada seorang raja tua, memiliki anak lelaki empat, yang sangat dicintai.
Suatu ketika raja sakit parah, bahkan sampai meninggal. Anak-anaknya
sangat bingung, karena belum adanya calon yang akan menggantikan raja.
Patih di Negara itu, bingung yang ana yang harus dijadikan raja, jika yang
paling tua dijadikan raja, takut anak-anak yang lainnya tak berterima dan jadi
permusuhan; jika anak yang ke dua dijadikan raja, bagimana adik-adiknya dan
begitu juga anak sulung. Oleh karena itu patih sangat bingung. Siang malam
patih dan para menteri hanya berunding memikirkan bagaimana jalanya. Lama-
lama patih terpikir akal yang bagus, katanya akan dipersa satu per satu, mana
yang paling baik hatinya; jika ada, maka ia yang terpilih yang akan jadi raja.
Suatu ketika ke empat putra raja dipanggil oleh patih: “tuan-tuan
sepeninggalnya raja, bapak dan para menteri, terhitung sudah bingung sekali,
bingung, siapa diantaranya dari kalian yang pantas dijadikan raja, karena terlihat
semuanya baik. Sekarang berdasar rembukan para menteri, tuan-tuan sekalian
akan dipilih siapa yang paling baik hatinya. Bila ditemukan, maka ia akan
dijadikan raja; tapi tak tahu siapa.
“Bagaimana tuan-tuan setuju dengan bila begitu?”
“tentu setuhu sekali,” jawab para putra, “bahkan saya tidak ada dendam
apa pun pada yang akan terpilih, mungkin begitu juga sudah milik dia untuk
meneruskan kerajaan, panutan keluarga semuanya.”
“bagaimana penawaran, bapak?” Tanya anak cikal.
“gampang sekali tentunya, tuan!” jawab patih, “bapak dan mentri sudah
membuat soal yang harus dijawab oleh tuan-tuan; nanti jika jawabanya dianggap
cocok oleh para mentri, maka dialah yang akan dijadikan raja. Besok tuan-tuan,
akan dibiarkan disuatu kamar, disana dalam mengisi soal akan diawasi oleh
para mentri”
“baiklah” jawab para putra.
Pada waktu ayng sudah ditentukan, mentri-mentri sudah bersedia, akan
memutuskan dan menyaksikan.
Pertama-tama putra tertua uang ditanya: “tuan! Coba sebutkan ada
berapa sifat yang buruk yang terdapat pada ayah kalian?”
“wah! Tentu banyak keburukan yang terdapat pada ayah: coba dengarkan
: “satu…..,dua…..,tiga…..”sampai ada duapuluh sifat.”
Patih bertanya pada putra yang ke dua.
“yang saya tahu, justru lebih banyak daripada kakak; coba dengarkan :
“satu…..,dua…..,tiga…..” sampai ada tiga puluh sifat.
“bagaimana sepengetahuan tuan-tuan” Tanya patih kepada putra bungsu.
“sang patih!” kata putra bungsu, “semoga tidak menjadikan patih murka,
walaupun saya tahu seribu keburukan sang raja. Saya tidak sanggup
menyebutkan satu per satu, sebab walaupun buruk, tapi dia adalah ayah kita;
menurut saya, walau buruk, ingin mengatakan baik saja. Jadi oleh sipa lagi
dianggap baik. Kecuali oleh putra dan keluarganya. Jadi walupun saya diperiksa
oleh siapapun, saya tidak akan mengatakan hal dari pertanyaan seperti itu.”
Putra bungsu dirangkul oleh patih dan para mentri sambil ditangisi: nah
inilah anak yang baik hati itu. Inilah raja untuk seisi Negara. Jadi inilah yang
akan menjadi raja disini.
Kakak-kakaknya yang tiga, tidak bicara dan tidak menyangkal, dari
kebaikan yang dimiliki oleh adiknya. Tak lama putra pertama berkata pada patih
dan para mentri, berterimakasih karena Negara sudah ada raja pengganti yaitu
adiknya.
Waktu itu, patih dan para mentri bersiap-siap untuk mengadakan pesta
pengangkatan raja.

32. MURID SEKOLAH BANDUNG

Pagi harinya Rusdi masuk sekolah, oleh ayahnya diantarkan dahulu pada
bapak guru. Daisana setiap murid baru sudah ditulis dalam buku oleh pak guru.
Di hari pertama masuk sekolah, pagi-pagi Rusdi dan Ramlan sudah
berangkat dari pemondokan.
Pukul tujuh mereka sudah berada di depan sekolah, Ramlan sudah
bertemu dengan teman sekolahnya. Pada hari itu, tentu Rusdi belum punya
kenalan, cumin sukurnya dai waktu sekolah desa ia termasuk anak yang pandai
bergaul; jadi datangnya ke sekolah tidak seperti anak kampung.
Waktu itu sudah ada tiga murid yang lama kenal dengan Rusdi, yang
kebanyakan sahabat Ramlan.
Sebelum pukul delapan, murid bari dipanggil oleh pak guru, disamakan
namanya apa sesuai dengan apa yang ada pada buku.
Dikarenakan pemikiran murid-murid baru tidak sama, pak guru harus
memeriksa muridnya masing-masing.
“mana Rusdi ?” kata pak guru.
“saya pak,”jawab Rusdi.
“Rusdi mendekatlah!”
Maka Rusdi duduk, dan memberi hormat dihadapan pak guru.
“kamu dulu sekolah dimana, Rusdi ?”
“saya dulu sekolah di kampung saja, pak,” jawab Rusdi.
“sudah kelas berapa?”
“saya baru kelas satu, pak.”
“bagaimana tahun sekarang kamu naik kelas?” Tanya pak guru.
“saya naik kelas, pak”
“baik” kata gurunya, “saya akan mencoba pengetahuan kamu waktu
dikelas satu, kalau tidak bisa tentu kamu tetap diam saja dikelas itu. Tapi jika
terlihat kemampuan kamu melebihi orang lain, serta sama dengan kemampuan
anak kelas dua di sini, tentu olehku kamu akan disimpan dikelas dua!”
“baik pak. Saya ikut aturan bapak.”jawab Rusdi.
Oleh perkataan Rusdi, guru sudah menyangka, bahwa anak itu lebih
pintar dari yang lain.
Murid-murid yang lain juga sama diperiksa oleh pak guru.
Waktu itu, sebagian ada yang dimasukan ke kelas dua.
Sebagian lagi ke kelas tiga dan sebagian ditempatkan dikelas satu.
Murid yang lama sudah masuk ke kelasnya masing-masing.
Hari itu tidak cepat-cepat belajar, tapi oleh pak guru dibagikan peralatan
sekolah.
Sedangkan murid baru diberi pelajaran percobaan, ada yang menulis,
membaca dan menghitung.
Di kelas satu, ternyata Rusdi paling pintar, dari teman-temanya.
Oleh gurunya dijanjikan dua atau tiga hari untuk duduk dikelas satu; jika
dalam waktu itu kemampuannya tetap baik dan layak di kelas dua, maka akan
dimasukan di kelas dua.
“Rusdi “kata pak guru, “waktu kamu sekolah didesa itu kamu kelas stu?”
“iya pak”jawab Rusdi.
“bagaumana kamu bisa lebih pintar dari teman-teman yang lain?”Tanya
pak guru.
“jika saya datang dari sekolah, maka saya akan membaca lagi apa-apa
yang telah diajarkan oleh pak guru, pak. Sebab saya dijanjikan oleh kakaku
Ramlan, jka saya tidak rajin belajar, maka saya tidak akan dapat masuk ke
sekolah ini, pak.”
“oh, jadi begitu! Mualai hari ini kamu saya simpan di kelas dua, tapi harus
tetap seperti dulu, janga dirubah, supaya cepat pintar seperti kakak kamu
Ramlan.!”
“baik, pak,” kata Rusdi.
Wah, sudah tidak ada tandingannya kebahagiaan Rusdi, dari mendapat
pengajaran yang lebih tinggi daripada sekolah desa, serta pak guru sejak saat
itu langsung saying pada dia, dari terlihat kemajuan yang berbeda dari teman
lainnya,