Anda di halaman 1dari 20

Dunia Islam Menghadapi Sinkretisme

Senin, 03 Juni 2013, 21:18 WIB


Komentar : 0

AA/WORLD BULETIN
Umat Islam menyambut Ramadhan dengan shalat berjamaah di Masjid. Masyarakat Dunia Islam saat ini
dituntut menguasai Bahasa Inggris bila ingin mempromosikan dan memperkaya dunia dengan nilai-nilai
Islami.
Umat Islam menyambut Ramadhan dengan shalat berjamaah di Masjid. Masyarakat Dunia Islam saat ini
dituntut menguasai Bahasa Inggris bila ingin mempromosikan dan memperkaya dunia dengan nilai-nilai
Islami.
A+ | Reset | A-
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Nashih Nashrullah

Pada zaman modern, beberapa contoh paling dramatis dari gerakan-gerakan sinkretis terbuka
ditemukan di Afrika Barat, Asia Selatan, dan Asia Tenggara.

Sinkretisme, seperti yang dijelaskan oleh John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern,
adalah fenomena bercampurnya praktik-praktik dan kepercayaan-kepercayaan dari sebuah agama
dengan agama lainnya sehingga menciptakan tradisi yang baru dan berbeda. Derajat identifikasinya
sangat beragam sehingga sulit membedakannya dengan praktik bid'ah yang diperdebatkan.

Pemahaman yang berbeda di kalangan Muslim tentang ajaran normatif tertentu dalam agama,
memunculkan persoalan pelik dalam menentukan manakah sinkretisme dan mana yang tidak.
Kontroversi ini menjadi sumber perdebatan pada abad ke-19 dan ke-20.

Pada zaman modern, beberapa contoh paling dramatis dari gerakan-gerakan sinkretis terbuka
ditemukan di Afrika Barat, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan bagian lain di mana umat Muslim
bersinggungan secara langsung dengan non-Muslim. Di Ghana, pada abad ke-19, raja penyembah
Ashanti bergantung kepada para pedagang Muslim untuk menjadi penghubung dalam kafilah dagang
dan sebagai ahli pembuat azimat kekuatan.

Di banyak bagian Afrika kala itu penyebaran sinkretisme memberikan kontribusi pada persepsi bahwa
Islam sebagai salah satu sumber kekuatan mistis. Dengan memfasilitasi penduduk untuk melakukan
ritual-ritual dan adat istiadat Islam, berarti pula sebagai jalan masuk penerimaan mereka terhadap
Islam. Praadaptasi sinkretis tampak memainkan peran penting yang serupa dalam perpindahan orang-
orang Hindu di Asia Selatan ke dalam Islam.

Seperti halnya di Asia Selatan, perkembangan Islam di Asia Tenggara pada masa modern juga memiliki
pengalaman serupa dalam tarik-menarik antara konsesi-konsesi kepada khazanah lokal di satu sisi, dan
upaya-upaya para reformis untuk menjaga kemurnian pesan Islam di sisi lain. Tradisi estetika pribumi
telah dipengaruhi dengan amat kuat oleh varian Asia Tenggara dari kisah Hindu Ramayana dan
Mahabharata.

Sebagaimana di Afrika dan Anak Benua India, sebagian penduduk asli Asia Tenggara, menafsirkan tradisi
sinkretis ini sebagai jalan untuk menolak sama sekali hubungan dengan Islam. Pada abad ke-19 di Jawa,
masih terdapat kantung-kantung permukiman Buddha yang di dalamnya terdapat ritual dan mitologi
setempat berupaya memasukkan pengaruh Islam, tapi menolak perpindahan sepenuhnya ke dalam
Islam.

Salah satunya ialah Ajisaka. Pahlawan kebudayaan dalam cerita rakyat Jawa yang amat dicintai. Di
banyak wilayah, gerakan sinkretis amat dihargai bukan sebagai sesuatu yang mampu bertahan hidup,
tetapi sebagai upaya-upaya baru dan dinamis untuk membentuk kembali tradisi-tradisi lokal dalam
berhadapan dengan upaya Muslim pembaru untuk mempersempit rentang kepercayaan yang
diperkenankan dengan memperkenalkan kriteria baru dalam lingkup Islam.










SINKRETISME
Presented by: Rusmanhaji
Apakah yang dimaksud dengan Singkretisme?
Sinkretisme adalah upaya untuk penyesuaian pertentangan perbedaan kepercayaan sementara
sering dalam praktek berbagai aliran berpikir. Istilah ini bisa mengacu kepada upaya untuk
bergabung dan melakukan sebuah analogi atas beberapa ciri-ciri tradisi, terutama dalam teologi dan
mitologi agama, dan dengan demikian menegaskan sebuah kesatuan pendekatan yang melandasi
memungkinkan untuk berlaku inklusif pada agama lain.
Sinkretisme juga terjadi umumnya di sastra, musik, memperwakilkan seni dan lain ekspresi budaya.
(Bandingkan konsep ekslektikisme.) Sinkretisme mungkin terjadi di arsitektur, sinkretik politik,
meskipun dalam istilah klasifikasi politik memiliki arti sedikit berbeda.
I. PENDAHULUAN

Salah satu sifat dari masyarakat Jawa adalah bahwa mereka religius dan bertuhan. Pada masa awal
kedatangan Islam di Kepulauan Nusantara khususnya di Jawa, masyarakat telah menganut dan
memiliki berbagai kepercayaan dan agama seperti animisme, dinamisme, Hindu, dan Budha. Pada
masa itu kepercayan dan agama tersebut telah melekat dan mendarah daging dalam
kehidupan masyarakat.Namun, dengan pengamatan selintas dapat diketahui dalam keberagamaan
rata-rata masyarakat Jawa adalah nominalis, dalam arti bahwa mereka tidak bersungguh-sungguh
dalam melaksanakan ajaran agamanya. Karena kurangnya keseriusan dalam memahami dan
mengamalkan agamanya, berakibat pada beberapa hal, yang antara lain mudahnya mereka untuk
tergiur dalam mengadopsi kepercayaan, ritual, dan tradisi dari agama lain, terutama tradisi asli pra
Hindu-Budha yang dianggap sesuai dengan alur pemikiran mereka, itulah salah satu dari beberapa
penyebab adanya sinkretisme agama di Jawa.[1] Dalam makalah kami selanjutnya akan dibahas
secara detail tentang sinkretisme tersebut.
Tulisan Beatty membela Geertz yaitu mencoba untuk menggambarkan bahwa Islam Jawa
hakikatnya adalah Islam sinkretik atau paduan antara Islam, Hindu/Budha dan kepercayaan
animistik. Melalui pendekatan multivokalitas dinyatakan bahwa Islam Jawa sungguh-sungguh
merupakan Islam sinkretik. Corak Islam Jawa merupakan pemaduan dari berbagai unsur yang telah
menyatu sehingga tidak bisa lagi dikenali sebagai Islam. Kenyataannya Islam hanya di luarnya saja,
akan tetapi intinya adalah keyakinan-keyakinan lokal. Melalui tulisannya yang bertopik Adam and
Eva and Vishnu: Syncretism in the Javanese Slametan digambarkan bahwa inti agama Jawa ialah
slametan yang di dalamnya terlihat inti dari ritual tersebut adalah keyakinan-keyakinan lokal hasil
sinkresi antara Islam, Hindu/Budha dan animisme.
Meskipun menemukan konsep baru dalam jajaran kajian agama-agama lokal, yaitu bagan
konseptual lokalitas, tetapi Mulder [2] tetap dapat dikategorikan sebagai kajian hubungan antara
Islam dan masyarakat dalam konteks sinkretisme. Ketidaksetujuan Mulder terhadap Geertz,
sesungguhnya merupakan perbedaan pandangan tentang Islam, Hindu/Budha dan animisme itu
bercorak paduan di antara ketiganya ataukah yang lain. Mulder sampai pada kesimpulan bahwa
hubungan itu bercorak menerima yang relevan dan menolak yang tidak relevan. Ternyata yang
dominan menyaring setiap tradisi baru yang masuk itu adalah unsur lokal. Jadi ketika Islam masuk
ke wilayah kebudayaan Jawa, maka yang disaring adalah Islam. Ajaran Islam yang cocok akan
diserap untuk menjadi bagian dari tradisi lokal sedangkan yang tidak cocok akan dibuang. Itulah
sebabnya Islam di Jawa hanya kulitnya saja tetapi intinya adalah tradisi lokal tersebut. Kajian-kajian
ini menggambarkan tentang bagaimana cara pandang sarjana Barat tentang Islam di Indonesia,
yang digambarkannya sebagai Islam nominal, yaitu Islam yang hanya di dalam pengakuan dan
bukan masuk ke dalam keyakinan dan penghayatan.[3]

II. RUMUSAN MASALAH

Dalam makalah ini saya akan mengambil beberapa rumusan masalah yang nantinya akan dibahas
dalam makalah ini, antara lain:
1. Apa Pengertian Sinkretisme?
2. Bagaimana Munculnya Islam Sinkretik dalam Masyarakat Jawa?
3. Apa Praktek-praktek Sinkretisme dalam Masyarakat Jawa?
4. Apa itu Pesantren Jawa dan Tradisi Maulid.?
5. Apakah ada Animisme?
6. Apa Dampak Asyura dan Kesyahidan Husen?
7. Apa Reaksi terhadap Usaha Sinkretisasi
III. PEMBAHASAN

1. A. Pengertian Sinkretisme
Secara etimologis, sinkretisme berasal dari kata syin dan kretiozein atau kerannynai, yang berarti
mencampurkan elemen-elemen yang saling bertentangan. Adapun pengertiannya adalah suatu
gerakan di bidang filsafat dan teologi untuk menghadirkan sikap kompromi pada hal yang agak
berbeda dan bertentangan.
Simuh menambahkan bahwa sinkretisme dalam beragama adalah suatu sikap atau pandangan yang
tidak mempersoalkan murni atau tidaknya suatu agama. Oleh karena itu, mereka berusaha
memadukan unsur-unsur yang baik dari berbagai agama, yang tentu saja berbeda antara satu
dengan yang lainnya, dan dijadikannya sebagai satu aliran, sekte, dan bahkan agama.[4]
Menurut Sumanto al-Qurtubi, proses sinkretisme menjadi tak terelakkan ketika terjadi perjumpaan
dua atau lebih kebudayaan/tradisi yang berlainan.[5]
Dalam menerangkan keberagaman masyarakat Jawa, kuncaraningrat membagi mereka menjadi dua,
yaitu agama Islam Jawa dan agama Islam Santri. Yang pertama kurang taat kepada syariat dan
bersikap sinkretis yang menyatukan unsur-unsur pra-Hindu, Hindu, dan Islam, sedangkan yang
kedua lebih taat dalam menjalankan ajaran agama Islam dan bersifat puritan.Namun demikian,
meski tidak sekental pengikut agama Islam Jawa dalam keberagamaan, para pemeluk Islam santri
juga masih terpengaruh oleh animisme, dinamisme, dan Hindu-Budaha.[6]

1. B. Munculnya Islam Sinkretik dalam Masyarakat Jawa.[7]
Ketika Islam masuk ke pulau Jawa ada dua hal yang perlu dicatat. Pertama, pada waktu itu hampir
secara keseluruhan dunia Islam dalam keadaan mundur. Dalam bidang politik, antara lain ditandai
dengan jatuhnya Dinasti Abbasiyah oleh serangan Mongol pada 1258M, dan tersingkirnya Dinasti Al
Ahmar di Andalusia (Spanyol) oleh gabungan tentara Aragon dan Castella pada 1492M. Di bidang
pemikiran. kalau pada masa-masa sebelumnya telah muncul ulama-ulama besar di bidang hukum,
teologi, filsafat, tasauf, dan sains, pada masa-masa ini pemikiran-pemikiran tersebut telah
mengalami stagnasi. Pada masa ini telah semakin berkembang pendapat bahwa pintu ijtihad telah
tertutup dan kelompok-kelompok tarekat sesat semakin berkembang di kalangan umat Islm.
Dan kedua, sebelum kedatangan Islam di Jawa, agama Hindu, Budha, dan kepercayaan asliyang
berdasarkan animisme dan dinamisme telah beruratakar di kalangan masyarakat Jawa. Oleh karena
itu, dengan datangnya Islam terjadi pergumulan antara Islam di satu pihak, dengan kepercayaan-
kepercayaan yang ada sebelumnya di pihak lain. Akibatnya, muncul dua kelompok dalam menerima
Islam. Pertama, yang menerima Islam secara total dengan tanpa mengingat pada kepercayaan-
kepercayaan lama. Dan Kedua, adalah mereka yang menerima Islam, tetapi belum dapat menerima
ajaran lama. Oleh karena itu, mereka mencampuradukan antara kebudayaan dan ajaran Islam
dengan kepercayaan-kepercayaan lama.
Sebagaimana telah disebutkan di atas, Islam yang berkembang di Indonesia mula-mula adalah Islam
shufi (mistik), yang salah satu ciri khasnya adalah sifatnya yang toleran dan akomodatif terhadap
kebudayaan dan kepercayaan setempat, yang dibiarkannya eksis sebagaimana semula, hanya saja
kemudian diwarnai dan diisi dengan ajaran Islam.
Sikap toleran dan akomodatif terhadap kepercayaan dan kebudayaan setempat, di satu sisi memang
dianggap membawa dampak negatif, yaitu sinkretisasi dan pencampuadukkan antara Islam di satu
sisi dengan kepercayaan-kepercayaan lama di pihak lain, sehingga sulit dibedakan mana yang benar-
benar ajaran Islam dan mana yang berasal dari tradisi. Namun aspek positifnya, ajaran yang
disinkretisasi tersebut telah menjadi jembatan yang memudahkan bagi masyarakat Jawa untuk
menerima Islam sebagai agama mereka yang baru. Dan sebaliknya, ajaran tersebut telah
memudahkan pihak Islam pesantren untuk mengenal dan memahami pemikiran budaya Jawa.

1. C. Praktek-praktek Sinkretisme dalam Masyarakat Jawa.[8]
Untuk lebih mengkongkritkan pengertian dan pemahaman tentang masalah sinkretisme, berikut ini
dinukilkan bebrapa contoh.
1. Penggabungan antara Dua Agama/Aliran atau Lebih. Menggabungkan dua agama atau lebih
dimaksudkan untuk membentuk suatu aliran baru, yang basanya merupakan sinkretisasi
antara kepercayan (lokal Jawa) dengan ajaran agama Islam dan agama lainnya. Sebagai
contoh dari langkah ini adalah ajaran Ilmu Sejati yang diciptakan oleh Raden Sujono alias
Prawirosudarso, yang berasal dari Madiun. Menurut pengakuannya, ajaran Ilmu Sejati
diasaskan pada kesucian yang dihimpun dari ajaran Islam, Kristen, dan Budha.
2. Dalam Masalah Kepercayaan
1. Konsep mengenai Kosmogoni dan Kosmologi
Dalam masyarakat Jawa telah beredar mite tentang penciptaan alam dan manusia. Walupun mite-
mite tersebut berbeda, tetapi di dalamnya terdapat satu persaman, semuanya menyebutkan Adam
sebagai manusia dan nabi pertama.
Salah satu mite menyebutkan bahwa Brahma adalah pencipta bumi, sedangkan Wisnu adalah
pencipa manusia. Setelah berhasil menciptakan bumi, Brahma berusaha menciptakan manusia.
Namun, setelah berusaha tiga kali dan gagal, ia menyuruh Wisnu untuk meneruskan usahanya yang
gagal.
Setelah manusia dan nabi pertama tercipta, sadarlah Wisnu bahwa seorang manusia Adam saja
belum memadai untuk mengisi dunia ini. Kemudian terpikirlah oleh Wisnu untuk mencarikan Adam
seorang teman, oleh karena itu, ketika Wisnu melihat setangkai teratai di atas kolam, maka ia
meminta untuk menjelma menjadi seorang perempuan sebagai teman adam, kemudian
menjelmalah ia menjadi perempuan cantik yang diberi nama Kana (Hawa).
Dari uraian di atas terlihat bahwa mite ini berusaha untuk mengkompromoikan ajaran Islam dengan
penyebutan Adam dan Hawa, dan ajaran Hindu dengan menyebut nama Brahma dan Wisnu dalam
penciptaan alam dan manusia.
1. Silsilah Raja-raja Mataram
Dalam Rangka menambah wibawa dan legitimasi raja-raja Mataram yang berasal dari orang biasa
(Ki Ageng Pemanahan), dibuatlah silsilah politik untuk menunjukkan bahwa dari garis ibu mereka
adalah keturunan para wali yang berujung pada Nabi Muhammad (silsilah penengen), dan dari garis
bapak mereka berasal dari keturunan para dewa sekaligus Nabi Adam (silsilah pengiwa).
Tulisan di atas menunjukkan sinkretisasi antara ajaran Islam dan Hindu, dengan mengaitkan bahwa
manusia adalah keturunan para dewa. Namun ternyata para dewa juga masih keturunan manusia
juga, yaitu Adam dan Sis.
c. Bidang Ritual
1). Upacara Midodareni
Bagi masyarakat tradisional, pergantian waktu dan perubahan fase kehidupan adalah saat-saat
genting yang perlu dicermati dan diwaspadai. Untuk itu mereka mengadakan upacara peralihan
yang berupa slametan, makan bersama (kenduri), prosesi dengan benda-benda keramat dan
sebagaimya. Begitu pula sebelum Islam datang, di kalangan masyarakat Jawa sudah terdapat ritual-
ritual keagamaan. Hal ini diwujudkan dalam bentuk slametan yang berkait dengan siklus kehidupan,
seperti kelahiran, kematian, membangun dan pindah rumah, menanam dan memanen padi, serta
penghormatan terhadap roh para leluhur dan roh halus. Ketika Islam datang ritual-ritual ini tetap
dilanjutkan, hanya isinya diubah dengan unsur-unsur dari ajaran Islam. Maka terjadilah islamisasi
Jawaisme (keyakinan dan budaya Jawa).
Upacara Midodareni misalnya, adalah suatu ritual yang dilangsungkan pada malam hari menjelang
hari perkawinan. Ritual ini dimaksudkan sebagai usaha keluarga pengantin untuk mendekati para
bidadari dan roh halus supaya melindungi kedua calon pengantin dari mara bahaya yang
menganggu jalannya perkawinan dan hari-hari sesudahnya. Dikalangan muslim yang taat dalam
beragama, ritual ini diisi dengan pembacaam Barzanji, kalimat toyyibah, dan tahlil.
2). Upacara Barokahan dan Sepasaran
Dalam Islam, ketika seorang bayi lahir, ayah ibunya disyariatkan untuk melaksanakan aqiqah,
dengan menyembelih seekor kambing kalau yang dilahirkan perempuan, dan duaekor kambing
kalau yang dilahirkan laki-laki. Namun kenyataan menunjukkan masyarakat muslim Jawa tidak
melaksanakan perintah ini. Sebagai gantinya mereka mengadakan upacara barokahan (diadakan
setelah bayi lahir ke dunia ni dengan selamat) dan sepasaran (ketika bayi berusia lima hari), dengan
harapan dan doa, agar anak yang dilahirkan tersebut akan menjadi orang linuwih di kemudian hari.
3) . Dalam Doa dan Mantera salah satu jasa Sunan Makhdum Ibrahim, yangdikenal sebagai Sunan
Bonang, dalam menyebarkan Islam di Jawa adalah mengganti nama-nama dewa-dewa yang terdapat
dalam mantera-mantera dan doa dengan nama nabi, malaikat, dan tokoh-tokoh terkenal di dalam
Islam. Dengan cara ini diharapkan masyarakat berpaling dari memuja dewa-dewa dengan
menggantinya dengan tokoh-tokoh yang berasal dari dunia Islam.
4). Menggabungkan Agama dengan Budaya Lokal
yang dimaksud dengan menggabungkan Islam dengan budaya lokal dalam konteks ini adalah
melaksanakan syariat Islam dengan kemasan budaya Jawa. Berbakti kepada kedua orang tua adalah
wajib. Dalam melaksanakan syariat ini masyarakat Jawa biasanya menggunakan media sungkem.

1. Pesantren Dan Tradisi Maulid
Peringatan Mawlid Nabi Muhammad SAW. sejak pertama kali diperkenalkan oleh seorang penguasa
Dinasti Fatimiyah (909-117.M.) sudah menimbulkan kontrofersi. Peringatan tersebut saat itu
memang masih dalam taraf ujicoba. Ujicoba kelayakan ini tanpak ketika penguasa Dinasti Fatimiyah
berikutnya melarang penyelenggaraan peringatan Mawlid tadi
2
. Peringatan Mawlid diadakan untuk
menegaskan bahwa keluarga Dinasti Fatimiyah adalah betul betul keturunan Nabi Muhammad
SAW. (ahl al-bayt). Penegasan hubungan geneologi ini sangat diperlukan untuk mengesahkan hak
keluarga Fatimiyah sebagai pewaris kekuasaan politiknya Nabi Muhammad.
Bukti lain bahwa keabsahan peringatan Mawlid masih diperdebatkan adalah, bahwa banyak ulama
dari berbagai madhhab secara eksplisit menunjukkan sikap pro dan kontra terhadap tradisi ini. Al-
Suyuti, seorang ulama dari madhhab Shafii, menulis kitab Husn al-Maqsid fi Amal al-
Mawlid untuk mengesahkan tradisi Mawlid. Sebaliknya, al-Fakihin, seorang ulama dari madhhab
Maliki, menolak peringatan Mawlid yang secara terurai dia jelaskan alasan alasannya dalam
kitabnya al-Mawrid fi Kalam al-Mawlid.[9]
Dalam era modern, peringatan Mawlid bukan hanya dipersoalkan oleh kelompok reformis-puritan,
seperti orang-orang Wahhabi yang dengan tegas mengharamkannya, tetapi juga oleh mereka yang
moderat. Argumen klise yang mereka ajukan adalah bahwa peringatan Mawlid tidak diperintahkan
dalam nass (teks) al-Quran, tidak pula dicontohkan oleh Rasul Allah dan juga tidak pernah
ditradisikan oleh para Salaf.[10]
Peringatan Mawlid berubah menjadi sebuah perayaan yang di selenggarakan hampir disetiap
kawasan Islam, setelah dipopulerkan oleh Abu Said al-Kokburi, Gubernur wilayah Irbil di masa
pemerintahan Sultan Salah al-Din al-Ayyubi. Peringatan yang sepenuhnya memperoleh dukungan
dari kelompok elit politik saat itu, diselenggarakan untuk memperkokoh semangat keagamaan umat
Islam yang sedang menghadapi ancaman serangan tentara Salib (Crusaders) dari Eropa. Namun
perlu disebutkan bahwa peringatan ini diselenggarakan dengan menyisipkan kegiatan hiburan,
dimana atraksi atraksinya melibatkan para musisi, penyanyi serta pembawa cerita (story tellers).
Ukuran kemeriahan peringatan bisa dilihat dari banyaknya jumlah pengunjung yang datang dari
berbagai kawasan, bahkan sampai dari luar wilayah kekuasaannya Abu Said al-Kokburi.[11]
E. Kepercayaan animisme
Animisme (dari bahasa Latin anima atau roh) adalah kepercayaan kepada makhluk halus
dan roh merupakan asas kepercayaan agama yang mula-mula muncul di kalangan manusia primitif.
Kepercayaan animisme mempercayai bahawa setiap benda di Bumi ini, (seperti kawasan
tertentu, gua, pokok atau batu besar), mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar semangat tersebut
tidak mengganggu manusia, malah membantu mereka dari semangat dan roh jahat dan juga dalam
kehidupan seharian mereka.
Diperkirakan bahwa di provinsi Kalimantan Barat masih terdapat 7,5 juta orangDayak yang
tergolong pemeluk animisme.
Selain daripada jiwa dan roh yang mendiami di tempat-tempat yang dinyatakan di atas, kepercayaan
animisme juga mempercayai bahawa roh orang yang telah mati bisa masuk ke dalam tubuh hewan,
misalnya suku Nias mempercayai bahwa seekor tikus yang keluar masuk dari rumah merupakan roh
daripada wanitayang telah mati beranak. Roh-roh orang yang telah mati juga bisa memasuki
tubuh babi atau harimau dan dipercayai akan membalas dendam orang yang menjadi musuh
bebuyutan pada masa hidupnya. Kepercayaan ini berbeda dengan kepercayaan reinkarnasi seperti
yang terdapat pada agama Hindu danBuddha, di mana dalam reinkarnasi, jiwa tidak pindah
langsung ke tubuh hewan lain yang hidup, melainkan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan
lain. Pada agama Hindu dan Buddha juga terdapat konsep karma yang berbeda dengan kepercayaan
animisme ini.
1. F. Asyura dan kesyahidan husein[12]
Abdul Hadi dalam artikelnya tang berjudul, W. M. Asura dan kesyahidan husein
Dalam hikayat Muhammad Ali Hanafiyah menulis, Kesyahidan Husein dikenal luas di dunia
Islam. Kematiannya yang mengenaskan, tubuh bersimbah darah, tangan terpotong dan kepala
terpisah dari badan, senantiasa diingat oleh banyak orang Islam. Hari wafatnya yang jatuh pada
tanggal 10 Muharam pun selalu diperingati di banyak negeri, baik yang mayoritas penduduknya
Sunni maupun Syiah. Semua itu menunjukkan bahwa tragedi Kerbela yang terjadi hampir tiga belas
abad yang lalu itu memiliki arti tersendiri bagi kaum Muslimin.
Di Indonesia kisah kesyahidan Amir Husein, demikian ia disebut dalam teks Melayu, telah dikenal
sejak masa awal pesatnya perkembangan Islam pada abad 13 15 M. Pada masa inilah hikayat
tersebut mulai dikarang dalam bahasa Melayu. Dua versi paling masyhur yang dijadikan sumber
penulisan versi-versi lain pada masa berikutnya ialah yang berjudul Hikayat Muhammad Ali
Hanafiyahh dan Hikayat Sayidina Husein. Yang disebut pertama dikarang sekitar abad ke-14 atau
15 M berdasarkan sumber Persia, sedangkan yang belakangan dikarang sekitar abad ke-17 M di
Aceh.
Dalam hikayat ini dijelaskan arti penting peringatan 10 Muharam, begitu juga cara pelaksanaannya.
Tetapi dalam kenyataan kemudian muncul dua bentuk penyelenggaraan yang berbeda. Yang
pertama, peringatan yang lebih bersahaja sebagaimana terdapat di Aceh, pulau Jawa, Madura dan
Sulawesi Selatan. Di Aceh peringatan 10 Muharam disebut Hari Asan dan Usin. Di Jawa dan Madura
disebut Hari Sura atau Asura. Sehari sebelum 10 Muharam tiba, orang melakukan puasa sunat. Esok
harinya penduduk membuat bubur merah yang dibagi-bagikan kepada tetangga atau kerabat.
Malam harinya diadakan pengajian, dan tidak jarang pula diadakan majlis untuk mendengarkan
pembacaan hikayat tragedi Kerbela dan perang Muhammad Ali Hanafiyah melawan Yazid.
Penyelenggaraan Hari Sura atau Hari Asan Usin jelas merujuk pada keterangan yang terdapat
dalam Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah.
Yang kedua, bentuk penyelenggaraan yang lebih kompleks dan mirip dengan perayaan 10 Muharam
di Iran dan India. Bentuk perayaan seperti ini dijumpai di Bengkulu dan Sumatra Barat , dan mulai
diadakan sejak akhir abad ke-18 M ketika Inggris menguasai Bengkulu dan bersamanya membawa
banyak orang Syiah dari India. Perayaan di Bengkulu dan Padang dimeriahkan dengan arak-arakan
tabut yang aneka ragam bentuknya melambangkan kesyahidan Husein dan pernikahannya dengan
Syahrbanum, putri khusraw Persia terakhir Yazgidird II yang setelah tertawan pasukan kaum
Muslimin pindah menganut agama Islam. Arak-arakan dimeriahkan dengan musik tambur yang
gemuruh. Ini menggambarkan suasana pasukan Husein dan Muhammad Ali Hanafiyah yang
dengan gagah berani maju ke medan perang. Sepuluh hari sebelum perayaan dimulai, diadakan
upacara ma` ambil tanah (mengambil tanah) dan pada ketika itulah tabut-tabut mulai dibuat
(Brakel 1975).

F. Reaksi terhadap Usaha Sinkretisasi.[13]
Dalam mengahadapi sinkretisasi ajaran-ajaran Islam dengan tradisi Jawa pra-Islam, paling tidak
telah muncul tiga pendapat. Di kalangan masyarakat Jawa terdapat orang-orang muslim taat, yang
kalau ditanya tentang landasan dalam mengamalkan ajaran-ajaran Islam, mereka menjawab
landasanya adalah al-Quran dan as-Sunnah. Namun meskipun mereka mempunyai landasan yang
sama, implementasi gagasan ini di lapangan berbeda antara satu kelompok dengan kelompok
lainnya.
Kelompok pertama adalah yang berusaha untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan baik dan
bersikap hati-hati dalam menyikapi tradisi dan budaya lokal, terutama yang dianggapnya berbau
takhayul, khurafat, dan syirik.bagiyang menerima pendapat ini, al-Quran dan as-Sunnah sudah
mengatur peri kehidupan serta semua tata cara ritual dan kepercayaan untuk semua pemeluk agama
Islam. Oleh karena itu bagi mereka, ritual dan kepercayaan yang tidak diajarkan didalm keduanya
tidak perlu, dan bahkan haram dikerjakan.
Kelompok kedua adalah kelompok moderat. Orang-orang yang berada dalam kelompok ini
beranggapan bahwa dalam berdakwah, seorang dai atau mubaligh harus menggunakan al-hikam
(cara-cara yang bijak). Oleh karena itu, dalam menghadapi masyarakat Jawa yang sudah kadung
mbalung sungsum dengan tradisi dan adat istiadat lama, tidak boleh digunakan cara-cara radikal
yang justru akan menjauhkan para mubaligh dari objek dakwah. Upacara slametan yang berkaitan
dengan siklus kehidupan yang tidak ada tuntunannya di dalam al-quran dan as-sunnah tidak
dilarang, tetapi dibiarkannya tetap berlangsung dengan dimodifikasi dan memasukkan unsur-unsur
Islam ke dalamnya.
Kelompok yang ketiga adalah mereka yang dapat menerima sinkretisme secara keseluruhan. Yang
menerima pemikiran ini, pertama, adalah mereka yang mengikuti langkah Empu Tantular dalam
menghadapi perbedaan ajaran agama yang satu dengan yang lain. Keyakinan mereka menyebutkan
bahwa semua agama beresensi sama, mereka beranggapan bahwa tidak ada salahnya apabila
pemeluk salah satu agama mengambil tata cara ritual dan kepercayaan agama lain dalam rangka
mendekatkan diri kepada Tuhannya. Dan yang kedua, adalah mereka yang kurang mendalam
pengetahuannya tentang Islam, sehingga tidak dapat membedakan antara ajaran agama Islam yang
sebenarnya dengan tradisi lokal yang sudah bercampur menjadi satu sehingga sulit dipilah-pilahkan
antara keduanya.

IV. KESIMPULAN
Sinkretisme Islam di Jawa lebih disebabkan, karena masyarakat Jawa sendiri yang sulit
meninggalkan tradisi-tradisi dan budaya lokal. Oleh sebab itu, terjadilah
percampuran/penggabungan antara proses atau ritual keagamaan yang dikemas dalam tradisi lokal
masyarakat Jawa.
Dalam menanggapi sinkretisme masyarakat Jawa terbagi menjadi tiga golongan, pertama, golongan
yang berusaha untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan baik dan bersikap hati-hati dalam
menyikapi tradisi dan budaya lokal, terutama yang dianggapnya berbau takhayul, khurafat, dan
syirik. Kedua, golongan moderat. Dan yang ketiga, golongan yang dapat menerima sinkretisme
secara keseluruhan.

V. PENUTUP
Demikianlan makalah ini kami buat, tentunya dengan segala kekurangannya, kami minta saran dan
kritik yang membangun dari para pembaca sekalian, demi kesempurnaan makalah
kami selanjutnya.dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Hadi dalam artikelnya yang berjudul, W. M. Asura Dan Kesyahidan Husein, 2011.
Ahimsakarya Press, Jogjakarta, 2003.
Annemarie Schimmel, And Muhammad is His Messenger (Chapel Hil Nort Caroline: Press, 19854).
149
Ibn Khallikan, Biographical Dictionary, Vol 2 (ter.) Bn. Mc.Guckin de Slane (Paris: Printed for the
Oriental Translation Fund of Great Britain andIreland.1842-1871). 539.
Ibtihadj Musyarof, Islam Jawa, Cet I, Tugu Publisher, Jogjakart, 2006.
M. Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa, Gama Media, Yogyakarta, 2000.
Niels Mulder, Agama, Hidup Sehari-hari dan Perubahan Budaya, Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta, 1999.
Nur Syam, Islam Pesisir, LKiS, Jogyakarta, 2005.
Sumanto Al-Qurtubi, Arus Cina-Islam-Jawa Bongkar Sejarah Atas Peranan Thionghoa dalam
Penyebaran Islam di Nusantara Abad XV & XVI, Inspeal


[1] Ibtihadj Musyarof, Islam Jawa, Cet I, Tugu Publisher, Jogjakart, 2006. hlm. 108

[2] Niels Mulder, Agama, Hidup Sehari-hari dan Perubahan Budaya, Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta, 1999.
[3] Nur Syam, Islam Pesisir, LKiS, Jogyakarta, 2005.

[4] M. Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa, Gama Media, Yogyakarta, 2000. hlm. 87-90
[5] Sumanto Al-Qurtubi, Arus Cina-Islam-Jawa Bongkar Sejarah Atas Peranan Thionghoa dalam
Penyebaran Islam di Nusantara Abad XV & XVI,Inspeal Ahimsakarya Press, Jogjakarta, 2003. hlm
67 ibid., hlm. 93-97
[6] op.cit., hlm. 90-93
[7] ibid., hlm. 93-97

[8] ibid., hlm. 97-108

[9] Lihat al-Suyuthi, Husn al-Maqsid fi Amal al-Mawlid (Dar al-Kutub al-Ilmiyah,1985), 45-61.

[10] Annemarie Schimmel, And Muhammad is His Messenger (Chapel Hil Nort Caroline: Press,
19854). 149
[11] Lihat Ibn Khallikan, Biographical Dictionary, Vol 2 (ter.) Bn. Mc.Guckin de Slane (Paris:
Printed for the Oriental Translation Fund of Great Britain andIreland.1842-1871). 539.

[12] Abdul Hadi dalam artikelnya tang berjudul, W. M. Asura dan kesyahidan husein
[13] ibid., hlm. 108-112

Sinkretisme Aliran dan Agama

Oleh: Hasna S. Rasyidah, Asma Khoirunnisa, Tias Nurul F dan Firdausi Nuzula

PENDAHULUAN
Sebagai makhluk sosial, setiap manusia ditakdirkan untuk hidup bersama manusia yang lainnya. Mereka
hidup bermasyarakat; saling membantu dalam kesulitan, saling menghormati hak asasi masing-masing,
juga saling bertoleransi. Di samping itu, sebagai makhluk yang beragama, manusia akan senantiasa
memenuhi konsekwensinya terhadap kepercayaan yang ia anut. Kedua status inilah; sebagai makhluk
sosial dan beragama sekaligus, yang akhirnya memungkinkan terjadinya kemiringan dan pembelotan
aqidah. Seseorang berusaha tetap beribadah sesuai kepercayaannya, tapi sekaligus ia bertoleransi
terhadap kepercayaan lain, sehingga akhirnya sedikit demi sedikit kepercayaan itu luntur dan menyatu
dengan apa yang tersebut dalam norma bermasyarakat sebagai kerukunan, kedamaian,
ketidakbertentangan dan beberapa istilah lain yang amat sosial. Hal-hal semacam inilah yang dimaksud
sebagai sinkretisasi, yang penjelasannya akan dikemukakan berikut ini.
PENGERTIAN
Secara etimologis, sinkretisme berasal dari kata syin dan kretiozein atau kerannynai, yang berarti
mencampurkan elemen-elemen yang saling bertentangan. Adapun pengertiannya adalah suatu gerakan
di bidang filsafat dan teologi untuk menghadirkan sikap kompromi pada hal yang agak berbeda dan
bertentangan. Adapun seorang tokoh Aliran Kepercayaan, Simuh, menambahkan bahwa sinkretisme
dalam beragama adalah suatu sikap atau pandangan yang tidak mempersoalkan murni atau tidaknya
suatu agama. Oleh karena itu, mereka berusaha memadukan unsur-unsur yang baik dari berbagai
agama, yang tentu saja berbeda antara satu dengan yang lainnya, dan dijadikannya sebagai satu aliran,
sekte, dan bahkan agama.[1]
Dalam pengertian yang lain yang serupa, sinkretisme adalah upaya untuk penyesuaian pertentangan
perbedaan kepercayaan, sementara sering dalam praktek berbagai aliran berpikir. Istilah ini bisa
mengacu kepada upaya untuk bergabung dan melakukan sebuah analogi atas beberapa ciri-ciri tradisi,
terutama dalam teologi dan mitologi agama, dan dengan demikian menegaskan sebuah kesatuan
pendekatan yang melandasi memungkinkan untuk berlaku inklusif pada agama lain.[2]
Istilah sinkretisme dalam hal agama oleh Berkhof dan Enklaar disebut "Mencampuradukkan agama-
agama ini disebut sinkretisme". Josh McDowell dalam bukunya menyebut
bahwa Syncretisticberarti tending to reconcile different beliefs, as philosophy and religion.[3]
Dari beberapa kutipan tersebut dapatlah dimengerti bahwa Sinkretisme dalam agama adalah usaha
penyatuan dan pencampuradukkan berbagai-bagai faham agama dengan kecenderungan untuk
mendamaikan faham-faham itu.
PEMBAHASAN
Sinkretisme berusaha menyatukan perbedaan-perbedaan dan pertentangan-pertentangan yang
signifikan antara beberapa paham yang berlainan. Paham di sini bisa berupa aliran, kepercayaan, bahkan
agama. Secara gamblang bisa dikatakan bahwa paham ini adalah usaha pluralisme agama. Sebut saja
begini, agama-agama yang berlainan di Indonesia ini; Hindu Budha, Kristen, Katolik dan Islam
bertentangan ajarannya, kemudian dicarilah dari masing-masing agama perbedaan yang mencolok yang
berpotensi menimbulkan perpecahan dan ketidaktoleran, dari situlah perbedaan itu akan dilebur dan
disatukan kembali menjadi sesuatu yang satu dan utuh, Semua Agama Benar.
Jika paham ini diterapkan sebagai sarana bertoleransi antar umat beragama, maka yang terjadi
selanjutnya adalah terbentuknya masyarakat yang harmonis karena terwujudya keserasian dan toleransi
antar mereka. Namun satu hal lain yang jauh lebih penting dipertimbangkan daripada sekedar
kerukunan adalah tergadaikannya iman dan konsekwensi kita sebagai muslim terhadap Allah SWT dan
Muhammad SAW beserta ajaran-ajarannya.
Sesungguhnya agama Islam dengan aqidah, syariah dan tuntunannya yang termaktub dalam al Quran
dan hadith adalah keseluruhan yang sempurna dan tidak membutuhkan reduksi, revisi, maupun
tambahan dari agama lainnya. Karena itu seorang muslim haruslah menjadikan agama ini sebagai satu-
satunya pedoman. Firman-Nya:


Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nimat-Ku
dan telah Kuridhai Islam jadi agama bagimu.
Ia juga berfirman:


Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dari urusan itu. Maka ikutilah syariat itu dan
janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.
Jelaslah dari ayat tersebut, bahwa syariat Islam adalah suatu perkara yang tauqifiyah, artinya berasal
dari Allah SWT. Dengan kata lain, segala hukum; halal, haram, mubah, makruh dan seterusnya adalah
hak Allah untuk menentukan dan menetapkannya.
Sinkretisme, jika diterapkan oleh umat berlainan agama (Yahudi, Nasrani dan Islam), maka ia akan
akan mengerucut pada suatu titik bernama Teologi Pluralis. Adapun jika diterapkan dalam suatu tradisi
Jawa yang agama aslinya adalah Islam, maka akan tercipta aliran Islam yang tidak lagi murni dan biasa
dikenal sebagai Islam Kejawen.
1. Teologi Pluralis
Allah Subhanahu wa Taala telah menerangkan dalam kitab-Nya bahwa Yahudi dan Nashrani
tengah bekerja keras utk menyesatkan kaum muslimin dari keislaman dan mengembalikan mereka
kepada kekufuran serta mengajak kaum muslimin utk menjadi Yahudi atau Nashrani. Allah Subhanahu
wa Taala berfirman:


Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekufuran
setelah kamu beriman karena dengki yang dari diri mereka sendiri setelah nyata bagi mereka kebenaran.
maka maafkanlah dan biarkanlah mereka sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguh Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Mereka juga berusaha menipu muslim seolah yang ditipu adalah orang-orang bodoh. Slogan mereka
yaitu bahwa agama-agama seperti Yahudi Nashrani dan Islam ibarat keberadaan empat madzhab fiqih di
tengah-tengah kaum muslimin, semua jalan pada hakekat menuju Allah. Slogan ini ternyata disambut
baik oleh kelompok wihdatul wujud Al-Ittihadiyyah Al-Hululiyyah.
Pada pertengahan pertama abad empat belas hijriyah mulailah seruan penyatuan agama itu
dikumandangkan setelah sekian lama mengakar di dada para penyokong yang menampakkan keislaman
namun menyembunyikan kekufuran dan kesesatan. Lahirlah gerakan sebuah organisasi yang disebut
dengan Freemasonry yakni sebuah organisasi Yahudi yang mengusung sloganLiberty
Egality dan Fraternity dan mempropagandakan persaudaraan universal tanpa memandang etnis bangsa
dan agama. Organisasi itu muncul di bawah baju seruan penyatuan tiga agama mengikis belenggu
fanatik dengan menyamakan keimanan kepada Allah maka semua adalah mukmin. Tercatat sebagai
orang yang ikut terlibat menyebarkan seruan ini adalah Jamaluddin bin Shafdar Al-Afghani pada tahun
1314 H di Turki dan juga diikuti oleh murid yang sangat gigih di dalam menyuarakan seruan ini yaitu
Muhammad Abduh bin Hasan At-Turkumani pada tahun 1323 H di Iskandariyah.[4]
Berbentuk apapun sampul yang mereka gunakan untuk menutup, tapi tetap saja inti dari semua
tindakan mereka adalah usaha pemurtadan ummat Islam.
Allah Subhanahu wa Taala berfirman:


Mereka tidak henti-henti memerangi kamu sampai mereka mengembalikan kamu dari agamamu
seandai mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agama lalu dia mati dalam
kekafiran maka mereka itulah yang sia-sia amalan di dunia dan di akhirat dan mereka itulah penghuni
neraka mereka kekal di dalamnya.
2. Islam Kejawen
Salah satu sifat dari masyarakat Jawa adalah bahwa mereka religius dan bertuhan. Pada masa
awal kedatangan Islam di Kepulauan Nusantara khususnya di Jawa, masyarakat telah menganut dan
memiliki berbagai kepercayaan dan agama seperti animisme, dinamisme, Hindu, dan Budha. Pada masa
itu kepercayan dan agama tersebut telah melekat dan mendarah daging dalam kehidupan masyarakat.
Namun, di samping itu dapat diketahui dalam keberagamaan rata-rata masyarakat Jawa adalah
nominalis, dalam arti bahwa mereka tidak bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ajaran agamanya.
Karena kurangnya keseriusan dalam memahami dan mengamalkan agamanya, berakibat pada beberapa
hal, yang antara lain mudahnya mereka untuk tergiur dalam mengadopsi kepercayaan, ritual, dan tradisi
dari agama lain, terutama tradisi asli pra Hindu-Budha yang dianggap sesuai dengan alur pemikiran
mereka, itulah salah satu dari beberapa penyebab adanya sinkretisme agama di Jawa.[5]
Selanjutnya, ketika Islam mulai memasuki Nusantara, mereka yang mendapatkan hidayah segera
memeluk agama Islam walau belum bisa dibilang sempurna karena kuatnya pengaruh Hindu, animisme
dan kepercayaan lain.
Disebutkan dalam sejarah, Sunan Sembilan atau yang lebih dikenal sebagai Wali Sanga memasukkan
ajaran-ajaran Islam melalui kebudayaan Jawa yang diadopsi dari Hindu, seperti misalnya; wayang,
gamelan dan lainnya. Usaha ini tidak bisa disalahkan karena memang kondisi waktu itu yang sulit untuk
menerima Islam sebagai agama yang rasionil dan dapat diterima oleh akal dan hati sekaligus. Namun
pada akhirnya seiring perkembangan jaman, tradisi tersebut tetap berlanjut namun nilai-nilai Islaminya
sudah luntur.
Seperti inilah yang akhirnya bertahan di era modern. Bertradisi kejawen, dengan dalih tetap beragama
Islam dan mengaku muslim, tapi bahkan syariat Islam dilanggar dan diacuhkan. Islamnya hanya sebatas
KTP, karena pada nyatanya ritual sesajen, mempercayai takhayul, orang pintar, berpuasa putih,
bersemedi, menerapkan ramalan (dalam istilah Jawa sering disebutprimbon), tetap berjalan dengan
terkadang melalaikan shalat dan berberat hati puasa Ramadhan.
Pada kenyataannya sebagian besar masyarakat Indonesia yang beragama apapun tidak lepas untuk
mempercayai keyakinan di luar ajaran agama yang dianutnya. Kepercayaan itu timbul seiring dengan
kejaian yang dialami seseorang. Karena ketidakmampuannya menyelesaikan masalah, maka ia mencari
jalan keluar yang mungkin dapat menolong, walaupun jalan itu tidak memiliki dasar di dalam agama
yang dipeluknya. Keyakinan itu akhirnya diadopsi ke dalam agama yang dipeluknya. Maka terjadilah
agama yang sinkretis, sebagaimana yang terjadi pada masyarakat muslim awam khususnya di Jawa.[6]
Tapi masalahnya, tidak bisa disalahkan juga terjadinya pecampuran semacam itu oleh masyarakat
awam, karena pada dasarnya undang-undang yang berlaku di Indonesia memperbolehkan warganya
untuk memeluk satu agama tapi sekaligus menganut beragam aliran. Dalam UUD 45 pasal 29, ayat 2
berbunyi: Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing
dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
Berikut ini contoh untuk lebih mengkongkritkan pengertian dan pemahaman tentang masalah
sinkretisme:
Bagi masyarakat tradisional, pergantian waktu dan perubahan fase kehidupan adalah saat-saat genting
yang perlu dicermati dan diwaspadai. Untuk itu mereka mengadakan upacara peralihan yang berupa
slametan, makan bersama (kenduri), prosesi dengan benda-benda keramat dan sebagaimya. Begitu pula
sebelum Islam datang, di kalangan masyarakat Jawa sudah terdapat ritual-ritual keagamaan. Hal ini
diwujudkan dalam bentuk slametan yang berkait dengan siklus kehidupan, seperti kelahiran, kematian,
membangun dan pindah rumah, menanam dan memanen padi, serta penghormatan terhadap roh para
leluhur dan roh halus. Ketika Islam datang ritual-ritual ini tetap dilanjutkan, hanya isinya diubah dengan
unsur-unsur dari ajaran Islam. Maka terjadilah islamisasi Jawaisme (keyakinan dan budaya Jawa).
Upacara Midodareni misalnya, adalah suatu ritual yang dilangsungkan pada malam hari menjelang hari
perkawinan. Ritual ini dimaksudkan sebagai usaha keluarga pengantin untuk mendekati para bidadari
dan roh halus supaya melindungi kedua calon pengantin dari mara bahaya yang menganggu jalannya
perkawinan dan hari-hari sesudahnya. Dikalangan muslim yang taat dalam beragama, ritual ini diisi
dengan pembacaam Barzanji, kalimat toyyibah, dan tahlil.[7]
Dengan munculnya sinkretisasi terutama sinkretisasi Islam di Jawa ini, paling tidak muncul beberapa
reaksi:

a. Golongan yang taat
Adalah yang berusaha untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan baik dan bersikap hati-hati dalam
menyikapi tradisi dan budaya lokal, terutama yang dianggapnya berbau takhayul, khurafat, dan syirik.
Bagi yang menerima pendapat ini, al-Quran dan as-Sunnah sudah mengatur peri kehidupan serta semua
tata cara ritual dan kepercayaan untuk semua pemeluk agama Islam. Oleh karena itu bagi mereka, ritual
dan kepercayaan yang tidak diajarkan di dalam keduanya tidak perlu, dan bahkan haram dikerjakan.
b. Golongan yang moderat
Orang-orang yang berada dalam kelompok ini beranggapan bahwa dalam berdakwah, seorang dai atau
mubaligh harus menggunakan al-hikam (cara-cara yang bijak). Oleh karena itu, dalam menghadapi
masyarakat Jawa yang sudah kadung mbalung sungsum, terlanjur menyatu, dengan tradisi dan adat
istiadat lama, tidak boleh digunakan cara-cara radikal yang justru akan menjauhkan para mubaligh dari
objek dakwah. Upacara slametan yang berkaitan dengan siklus kehidupan yang tidak ada tuntunannya di
dalam al-quran dan as-sunnah tidak dilarang, tetapi dibiarkannya tetap berlangsung dengan dimodifikasi
dan memasukkan unsur-unsur Islam ke dalamnya.
c. Golongan yang bersinkretis keseluruhan
Yang menerima pemikiran ini, pertama, adalah mereka yang mengikuti langkah Empu Tantular dalam
menghadapi perbedaan ajaran agama yang satu dengan yang lain. Keyakinan mereka menyebutkan
bahwa semua agama beresensi sama, mereka beranggapan bahwa tidak ada salahnya apabila pemeluk
salah satu agama mengambil tata cara ritual dan kepercayaan agama lain dalam rangka mendekatkan
diri kepada Tuhannya. Mereka kurang mendalami pengetahuannya tentang Islam, sehingga tidak dapat
membedakan antara ajaran agama Islam yang sebenarnya dengan tradisi lokal yang sudah bercampur
menjadi satu sehingga sulit dipilah-pilahkan antara keduanya.[8]
PENUTUP
Usaha penyatuan agama maupun aliran atau yang lebih akrab disebut dengan sinkretisme dengan
dalih mendamaikan antar umat beragama, menghilangkan kesenjangan, bertoleransi, meniadakan
peperangan hingga meleburkan kepercayaan satu dengan yang lain adalah paham yang batil. Paham
tersebut sama saja dengan istilah pluralisme agama atau teologi pluralis yang diserukan Yahudi untuk
menghancurleburkan Islam dan memurtadkan pemeluknya. Yang akibatnya, aqidah Islamiyah
tergadaikan, digantikan sesuatu yang bersifat omong kosong.
Dalam masyarakat Jawa, penerapan sinkretisme berupa penyatuan aliran kebatinan, tradisi Jawa, dan
Islam itu sendiri sehingga kerap kali ajaran Islam yang kalah karena keawaman masyarakat Jawa
memahami Islam sekaligus kefanatikan mereka terhadap tradisi yang diajarkan nenek moyang. Akhirnya,
Islam sunni, atau yang berdasarkan pada sunnah wa - l- jamaahdigantikan oleh apa yang dikenal sebagai
Islam Kejawen.
Dari situlah akhirnya tumbuh beberapa golongan yang bereaksi terhadap sinkretisasi Islam di Jawa;
Golongan yang taat, yang tidak mau sama sekali memasukkan nilai tradisi non-Islami apapun ke dalam
kemurnian agamanya. Golongan yang moderat, yakni yang mau bertoleransi terhadap tradisi Jawa dan
memanfaatkannya sebagai sarana dawah. Yang terakhir, Golongan awam yang menerima tradisi Jawa
sepenuhnya tanpa memedulikan bahayanya terhadap statusnya sebagai muslim.




[1] http://gengkantinbanget.blogspot.com/
[2] http://id.wikipedia.org
[3] http://www.sarapanpagi.org
[4] www.asysyariah.com
[5] http://gengkantinbanget.blogspot.com
[6] Akrim Mariyat, Ajaran Sinkretisme di Indonesia, Jurnal Tsaqafah, Ponorogo, Volume 4 Nomor 1
Zulqadah 1428
[7] http://gengkantinbanget.blogspot.com
[8] http://gengkantinbanget.blogspot.com
Posted by theologyfaculty at 2:58 AM