P. 1
DEMAM TIFOID

DEMAM TIFOID

|Views: 3,880|Likes:
Dipublikasikan oleh dr faiq
Ini adalah kuliah ilmu kesehatan anak tentang demam tifoid pada anak untuk mahasisiwa D3 ilmu kebidanan stikes. semoga bermanfaat
Ini adalah kuliah ilmu kesehatan anak tentang demam tifoid pada anak untuk mahasisiwa D3 ilmu kebidanan stikes. semoga bermanfaat

More info:

Published by: dr faiq on Nov 17, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/16/2013

pdf

text

original

ILMU KESEHATAN ANAK PROGRAM D3 ILMU KEBIDANAN STIKES MUHAMMADIYAH LAMONGAN Oleh: dr.

M Faiq Sulaifi

Definisi
 Demam tifoid adalah demam enterik yang disebabkan

oleh infeksi Salmonella typhi  Demam paratifoid adalah demam enterik yang disebabkan oleh infeksi non-typhoid Salmonella

Salmonella
 Salmonella (ingat: salmon) adalah bakteri gram

negatif, motil karena berflagel, menghasilkan H2S, non-fermenter laktosa.

Rose spots

Klasifikasi Salmonella

Patogenesis Penyakit
Penyebaran melalui fekaloral oleh makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh Salmonella Selama masa inkubasi Salmonella mengivasi jaringan limfatik dinding usus terutama Peyer’s patches Kemudian Salmonella memasuki darah dan menyebar ke liver, limpa, dan empedu.

Patogenesis Penyakit
Sehingga terjadilah fase bacteremia dengan munculnya tanda-tanda klinis karena efek endotoksin Pada periode bacteremia terjadi inflamasi akut yang berkembang akibat reaksi terhadap endotoksin Ini ditandai dengan nekrosis jaringan limfatik usus seperti Peyer’s patches dan ulserasi pada mukosa usus

Anatomi Peyer’s Patches
Peyer’s patches adalah organ limfatik sekunder di dinding intestinum

Anatomi Peyer’s Patches

Patogenesis Penyakit
Efek endotoksin Salmonella: a. typhoid cholecystitis b. red spots on the skin c. enlargement of the spleen d. myocardial damage and endocarditis e. liver and kidney damage f. reduced resistance to other infections

Patologi Anatomi
Postmortem specimen of small intestine. The Peyer's patches are prominent. There is ulceration and haemorrhage into most of them. The pathologist's finger identified the site of a perforation in the middle of the largest area of ulceration and haemorrhage.

Manifestasi Klinis
 Masa inkubasi biasanya 7-14 hari, kadang-kadang 3-30

hari, tergantung jumlah kuman yang menginfeksi  Gajala pada non typhoid Salmonellosis lebih ringan dari demam typhoid  Gejala klinis tergantung pada usia: a. Usia sekolah dan dewasa b. Balita dan bayi c. Neonatus

Manifestasi Klinis
 Pada usia sekolah dan dewasa:  Demam bersifat stepwise fashion dan unremitting, 

  

bisa mencapai 40 °C Gejala awal: demam, malaise, anoreksia, myalgia, nyeri kepala dan nyeri perut. Semuanya berlangsung lebih dari 2-3 hari Pada awalnya dijumpai diare kemudian diikuti konstipasi Dapat dijumpai letargi dan delirium bahkan stupor terutama pada minggu ke-2 Pada minggu kedua penyakit semakin berat

Manifestasi Klinis
 Lanjutan (usia sekolah dan dewasa):  Dapat dijumpai hepatomegali dan splenomegali  Kadang-kadang terjadi abdomen distended  Bisa dijumpai bradikardi relatif  50% pasien dijumpai bercak merah 2-4 mm pada

dinding perut dan dada (rose spot)  Kadang-kadang terjadi nausea dan vomiting. Jika terjadi pada minggu ke 2-3 menandakan komplikasi

Manifestasi Klinis
Fase-fase klinis pada dewasa dan anak usia sekolah

Manifestasi Klinis
Gambar rose spot

Manifestasi Klinis
 Pada balita dan bayi:  Relatif lebih jarang dari pada usia sekolah dan

dewasa pada daerah endemis  Penampakan klinis lebih ringan sehingga menyulitkan diagnosis  Dapat terjadi sepsis  Panas dan malaise lebih ringan sehingga sering terjadi misdiagnosis dengan infeksi virus  Lebih sering terjadi diare sehingga diagnosisnya mengarah ke gastroenteritis akuta

Manifestasi Klinis
 Pada neonatus:  Infeksi biasanya terjadi pada 3 hari pasca persalinan  Suhu sangat variatif bahkan bisa mencapai di atas

40,5°C  Gejala umum: vomiting, diare dan abdomen distended  Dapat terjadi kejang  Hepatomegali, ikterus, anoreksia dan BB dapat juga dijadikan tanda

Temuan Laboratorium

Komplikasi
 Penyulit demam tifoid: 1. 2. 3. 4. 5.

Perforasi intestinal Perdarahan intestinal Pnemonia Miokarditis Komplikasi serebral

Komplikasi
 Perdarahan intestinal dapat ditandai dengan: a.  suhu tubuh b.  tekanan darah c.  nadi  Perforasi intestinal dapat ditandai dengan: a. Munculnya tanda-tanda peritonitis

Diagnosis
 Diagnosis dapat ditegakkan dengan: a. Manifestasi klinis b. Peningkatan titer widal 4 kali dalam seminggu tetapi

tidak menyingkirkan penyakit lain c. Gold standar adalah kultur Salmonella typhi: 1. Kultur darah pada minggu pertama: 90%, minggu ke-3: 50% 2. Kultur feses dan kultur urin positif setelah minggu pertama (minggu ke-2)

Diagnosis Banding
 Pada stadium awal bisa di-misdiagnosis dengan

gastroenteritis, viral infection, bronchopneumonia  Pada sepsis dapat di –DD dengan infeksi lain seperti: tuberculosis, tularemia, leptospirosis, bruselosis, rickettsia dll.

Terapi
 Untuk yang sensitif: a. Kloramfenikol b. Tiamfenikol c. TMP-SMX  Untuk yang resisten: a. Sefalosporin generasi ke-3 b. Golongan quinolon

Terapi

Terapi
 Simptomatis: a. Anti piretik b. Tirah baring c. Diet rendah serat d. Roboransia

Pencegahan

Jazakunnallah Khairan

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->