Anda di halaman 1dari 41

Konsep Perancangan

4.1. Konsep Perancangan Urban Catalyst Kawasan Makro


Kabupaten Demak merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Lokasi Kabupaten Demak ini berbatasan langsung dengan Kota
Semarang dan masuk dalam kawasan Kedungsepur. Oleh karena itu, perkembangan Kabupaten Demak secara tidak langsung dipengaruhi oleh daerah
lain disekitarnya. Namun pada kenyataanya, Kabupaten Demak yang masuk dalam wilayah Kedungsepur justru tidak mengalami perkembangan yang
pesat atau dapat dikatakan sebagai kabupaten yang tertinggal. Hal tersebut dapat dilihat dari kondisi infrastuktur, fasilitas umum, perilaku masyarakat
lokal dan beberapa potensi yang belum dapat dikembangkan.
Kabupaten Demak memiliki beberapa potensi seperti pariwisata, industri UMKM dan pertanian yang tersebar di beberapa kecamatan.
Berdasarkan data yang didapat dari Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, terdapat beberapa jenis potensi pariwisata, yaitu meliputi 78 wisata religi dan 15
wisata lainnya. Potensi pertanian di Kabupaten Demak meliputi pertanian buah jambu air, belimbing, padi dan bawang merah. Sedangkan potensi UMKM
yang ada di Kabupaten Demak yaitu batik tulis karang melati, bedhug, sentra bordir, handycraft enceng gondok dan sentra industri sanggul. Banyaknya
potensi yang dimiliki Kabupaten Demak yang telah disebutkan sebelumnya, secara ideal seharusnya dapat digunakan sebagai penggerak perkembangan
kota namun hal tersebut belum dapat diterapkan pada Kabupaten Demak.
Kecamatan Demak merupakan pusat aktivitas atau dapat dikatakan sebagai city core Kabupaten Demak. Kecamatan Demak ini dipilih sebagai
wilayah studi makro karena Kecamatan Demak merupakan city core yang menjadi pusat aktivitas terutama aktivitas pemerintahan, pariwisata dan
ekonomi. Selain itu, sesuai dengan RTRW Kabupaten Demak, Kecamatan Demak merupakan hirarki 1 yang didalamnya terdapat kelengkapan fasilitas
umum, memiliki ketersediaan sarana dan prasarana yang lengkap dan memadai.
Sesuai dengan peran Kecamatan Demak sebagai wilayah dengan hirarki 1 nyatanya belum dapat mendongkrak perkembangan Kabupaten Demak.
Hal tersebut disebabkan karena Kecamatan Demak belum mampu mengembangkan pariwisata dan komponen pendukungnya seperti transportasi dan
penginapan sehingga belum mampu menjadi menjadi sektor ekonomi basis bagi perekonomian Kabupaten Demak. Untuk itu, diperlukan suatu
konsep urban catalyst sebagai media untuk mempercepat perkembangan kota khususnya badi Kabupaten Demak.
Konsep urban catalyst yang dipilih untuk mempercepat perkembangan Kecamatan Demak yaitu Kota Terpadu Berbasis Pariwisata. Pemilihan
sektor pariwisata sebagaiurban catalyst untuk mengembangkan Kecamatan Demak disebabkan karena adanya pariwisata unggulan seperti masjid agung,
alun-alun dan agrowisata. Selain itu, sektor pariwisata yang ada di Kecamatan Demak lebih menonjol dibandingkan dengan sektor lainnya. Konsep
terpadu ini dipilih untuk menciptakan suatu sistem yang utuh antara pariwisata dengan komponen pendukungnya seperti penginapan, perdagangan dan
transportasi.
Pariwisata Masjid Agung Demak dan agrowisata buah jambu air dan belimbing akan lebih berkembang jika adanya suatu rancangan disain yang
menarik dan menciptakan suatu atrkasi yang dapat menarik banyak pengunjung. Banyaknya pengunjung yang datang secara tidak langsung harus
ditunjang pula oleh kemudahan transportasi dan kenyamanan penginapan. Selain itu, pengunjung yang datang secara tidak langsung akan berbelanja
produk khas Kabupaten Demak. Uraian yang telah dijelaskan tersebut merupakan bentuk rencana keterpaduan yang akan diterapkan di Kecamatan
Demak. Dengan adanya keterpaduan sektor pariwisata tersebut diharapkan mampu menjadi sektor basis dan sekaligus mendongkrak perkembangan
Kabupaten Demak sehingga tidak lagi menjadi kota yang tertinggal.

4.2. Konsep Perancangan Urban Catalyst Kawasan Mikro
4.2.1. Justifikasi Pemilihan Konsep Perancangan Kawasan Mikro
Wilayah mikro yang dipilih yaitu Desa Betokan, Kecamatan Demak. Pemilihan Desa Betokan ini didasarkan pada potensi pertanian buah jambu air
dan belimbing yang ada. Desa Betokan terkenal dengan penghasil buah belimbing dengan ciri khas rasa tersendiri. Buah belimbing ini memiliki 3 jenis yang
dibedakan oleh warna buahnya yaitu kapur, kunir dan jingga. Awal mula atau embrio dalam mengembangkan buah belimbing ini dilakukan oleh penduduk
Desa Betokan.
Seiring dengan perkembangan waktu, penduduk Desa Betokan juga mengembangkan buah jambu yang berbeda dengan buah jambu pada
umumnya karena memiliki ukuran yang lebih besar, tebal dan manis. Buah jambu ini juga memiliki 3 jenis yaitu buah jambu delima, citra dan hijau. Buah
belimbing dan jambu kemudian menjadi ciri khas kabupaten Demak karena lebih unggul dan berbeda dengan wilayah lain.
Melihat adanya potensi perkebunan belimbing dan jambu di Desa Betokan, pada tahun 2000 atas persetujuan oleh Bupati Kabupaten Demak
Bapak Joko Wiji dibangunlah suatu agrowisata di Desa Demak dengan nama Kebun Bibit Holtikultura. Dalam agrowisata seluas 1 Ha dilengkapi dengan
bangunan kantor, jalan setapak, rumah bunga dan tentu saja tanaman buah belimbing dan jambu.
Kesuksesan pengembangan perkebunan belimbing dan jambu di Desa Betokan berbanding terbalik dengan agrowisatanya. Desa Betokan sebagai
embrio dibangunya agrowisata justru kalah berkembang dengan agrowisata Desa Tempuran yang berbatasan langsung dengan Desa Betokan. Hal
tersebut disebabkan karena kurang adanya greget atau respon dari masyarakat, jalan lingkungan yang kurang lebar dan jauh dari jalan utama serta
kuranya anggaran pemerintah Kabupaten Demak (APBD2).
Agrowisata Desa Betokan sudah dibahas dalam RTRW namun belum dibahas dalam anggaran pemerintah. Dengan adanya hambatan tersebut
menyebabkan agrowisata yang telah dibangun menjadi tidak terawat dan perkebunan yang ada di dalamnya disewakan pada penduduk sekitar untuk
dikelola secara individu. Namun, menurut pihak Dinas Pariwisata agrowisata ini masih ada kemungkinan dikembangkan lagi sehingga citra embrio buah
belimbing dan jambu tidak hilang dari Desa Betokan.
Untuk itu, diperlukan suatu konsep urban catalyst untuk mengembangkan agrowisata Desa Betokan yang pada saat ini mulai terbengkalai.
Konsep yang dipilih yaitu Fresh And Fun Betokan Kampoeng Agrotourism. Konsep Fresh and Fun ini dipilih untuk merancang suatu agrowisata dengan
nuansa yang asri dan menyenangkan. Konsep fresh ini dipilih untuk menciptakan suasana yang segar atau asri yang mana pengunjung juga dapat memetik
dan mencicipi buah dengan kondisi yang segar pula. Sedangkan konsep fun ini dimaksudkan untuk menciptakan rasa menyenangkan karena kelengkapan
wahana permainan dan fasilitas yang disediakan di dalam agrowisata. Konsep ini ditujukan agar agrowisata tidak terkesan monoton karena hanya bisa
memetik buah saja tetapi dibuat lebih inovatif dengan menyediakan wahana permainan lainnya.
Sedangkan pemilihan konsep Kampoeng Agrotourism ini dimaksudkan untuk melibatkan masyarakat dan petani buah sekitar dalam mendukung
perancangan agrowisata. Pelibatan masyarakat dan petani buah ini sangat dibutuhkan dalam keberlangsungan agrowisata. Bentuk keterlibatan
masyarakat yang direncanakan yaitu untuk mengolah buah belimbing dan jambu air menjadi produk makanan dalam bentuk UMKM. Selain itu, ada pula
kreasi barang-barang unik yang mencirikan buah belimbing dan jambu air sebagai oleh-oleh khas Desa Betokan. Bentuk dari keterlibatan petani buah
sekitar yaitu untuk mengadakan suatu training bertani buah belimbing dan jambu air yang dapat menghasilkan buah yang unggul.
Konsep perancangan yang telah dipilih ini dimaksudkan untuk mencapai 3 komponen utama dalam bidang pariwisata yaitu aksesibilitas, amenities
dan atraksi. Komponen aksesibilitas ini dicapai dengan pengaturan pintu masuk dan keluar pengunjung dengan sistem memutar untuk menghindari
kemacetan. Komponen amenities yang meliputi what to do?, what to eat? And what to buy? telah disediakan dalam agrowisata sehingga dapat dengan
mudah dilakukan pengunjung. Sedangkan komponen atraksi ini dikemas dalam bentuk training agriculture dan petik buah pada saat panen raya. Konsep
perancagan yang telah disusun ini diharapkan dapat menarik banyak pengunjung sehingga dapat lebih mengembangkan agrowisata yang ada.
Dasar pemilihan konsep Fresh and Fun Betokan Kampoeng Agrotourism tersebut selain berdasar pada permasalahan dan potensi yang ada juga
melalui penilaian dari beberapa indikator, yakni sebagai berikut :
Peningkatan sektor pariwisata melalui agrowisata Desa Betokan
Melalui pengembangan agrowisata di Desa Betokan, akan menambah alternatif kunjungan wisatawan ke Demak yang selama ini hanya identik dengan
wisata budaya dan religi. Agrowisata ini akan menawarkan sesuatu yang baru di Kabupaten Demak. Dengan demikian, diharapkan agrowisata ini mampu
menjadi magnet baru untuk menarik wisatawan datang ke Kabupaten Demak.
Peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Demak melalui kontribusi dari sektor pariwisata
Adanya agrowisata di Desa Betokan yang mampu menjadi daya tarik wisata bari bagi Kabupaten Demak dengan otomatis akan menghasilkan pendapatan
daerah. Oleh karena itu, penerapan konsep agrowisata Desa Betokan ini diharapkan mampu memacu perekonomian Kabupaten Demak melalui sektor
pariwisata.
Pengintegrasian agrowisata dengan aktivitas masyarakat Desa Betokan
Pada kondisi eksisting saat ini, masyarakat Desa Betokan yang bermata pencaharian sebagai petani masih cukup besar. Sebagian masyarakat juga banyak
membuka usaha perdagangan. Oleh karena itu, dengan pengembangan agrowisata di Desa Betokan tidak beresiko menimbulkan permasalahan terkait
aktivitas masyarakat. sebaliknya, pengembangan agrowisata di Desa Betokan dapat terpadu dengan aktivitas masyarakat Desa Betokan dan akan mampu
memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Betokan.
Pengendalian konversi lahan yang terjadi karena pertumbuhan kota dan kesesuaian penggunaan lahan
Pertumbuhan kota yang terjadi saat ini banyak berpengaruh pada perubahan penggunaan lahan. Pertumbuhan kota yang pada dasarnya merupakn upaya
untuk meningkatkan kesejahteraan wilayah pada akhirnya menimbulkan dampak kurang baik akibat perubahan guna lahan yang berujung pada konversi
lahan. Dengan pengembangan agrowisata di Desa Betokan ini, peningkatan kesejahteraan wilayah menimbulkan konversi lahan karena merupakan wisata
pada ruang terbuka. Untuk akomodasi pendukung, seperti penginapan dan rumah makan memanfaatkan rumah-rumah penduduk yang sudah ada
sehingga pembangunan yang akan dilakukan unruk menunjang aktivitas wisata dapat diminimalkan. Selain itu, penggunaan lahan sebagai agrowisata juga
tidak akan merubah penggunaan lahan pertanian seperti yang telah direncanakan dalam RTRW Kabupaten Demak.
Penciptaan lapangan kerja baru bagi masyarakat Desa Betokan
Pengembangan agrowisata tidak akan bisa berdiri sendiri tanpa adanya dukungan dati akomodasi penunjang. Dengan adanya pengadaan akomodasi
penunjang maka akan membuka kesempatan kerja baru bagi masyarakat sehingga dapat berdampak positif pula dalam peningkatan kesejahteraan
masyarakat Desa Betokan.
Pengintegrasian agrowisata dengan objek wisata lain untuk meningkatkan minat wisatawan berkunjung ke Demak
Pariwisata Kabupaten Demak saat ini identik dengan unsur budaya dan religi. Oleh karena itu, dengan adanya agrowisata ini akan melengkapi jenis
pariwisata yang ada serta memberikan warna baru bagi pariwisata Kabupaten Demak. Melalui integrasi agrowisata dengan objek lain di Kabupaten
Demak akan menambah kualitas paket wisata sehingga ditargetkan mampu menarik wisatawan lebih banyak.
Kemudahan aksesibilitas dan kemampuan pemenuhan akomodasi penunjang
Lokasi Desa Betokan yang berada pada jalur strategi Demak-Kudus akan mempermudah penyediaan akses keluar masuk sehingga pemerintah tidak perlu
menyediakan jalur baru, yang diperlukan adalah perbaikan kondisi pelayanan infrastruktur, terutama jaringan jalan.
4.2.2. Penerapan Konsep Perancangan Kawasan Mikro Pada Site Perancangan
Konsep yang telah dipilih dengan maksud untuk lebih mengembangkan agrowisata yang telah ada di Desa Betokan ini harus tergambar
dalam site perancangan. Dalam site perancangan ini, 3 komponen utama dalam pariwisata juga harus nampak.Komponen aksesibilitas yang akan dicapai
tergambar dalam 4 bentuk, yaitu:
1. Pelebaran jalan yang pada awalnya 3 meter menjadi 5 meter. Hal ini dimaksudkan agar dapat dilalui oleh mobil, motor dan bus.
2. Pengaturan sistem pintu keluar dan masuk dalam agrowisata untuk kendaraan terpisah. Pengaturan sistem ini dipilih untuk menghindari kemacetan
karena kendaraan yang hendak masuk tidak bertemu dengan kendaraan yang keluar sehingga lebih aksesibel.
3. Pembuatan lahan untuk parkir pada agrowisata yang dipisahkan antar jenis kendaraan seperti motor, mobil dan bus.
4. Pembuatan kelengkapan jalan yang meliputi jalur pedestrian dan jalur hijau selebar 1 meter, pepohonan peneduh dan jalan setapak di dalam agrowisata
yang lentur sehingga tidak terkesan monoton.
Komponen amanities pada site perancangan tergambar dalam 3 bentuk, yaitu:
1. What to do?
Konsep what to do? yang tergambar dalam site perancangan yaitu jika pengunjung ingin mengikuti kegiatan training agriculture yang diselenggarakan
yaitu dapat dilakukan pada gedung training centre agriculture. Pengunjung yang ingin memetik buah atau membeli bibit buah dapat mengunjungi gedung
pusat penjualan buah dan bibit buah. Pengunjung yang ingin melihat secara langsung proses pengolahan buah dapat mengunjungi gedung pusat
pengolahan buah yang lokasinya diluar agrowisata atau didekat permukiman penduduk. Di dalam agrowisata dilengkapi pula dengan mushola dan WC
yang mudah dijangkau. Selain itu, masih banyak lagi kegiatan yang dapat dilakukan pengunjung seperti berenang, outbond dan mencoba wahana
permaian perahu di danau buatan.
2. What to eat?
Konsep what to eat? yang tergambar dalam site perancangan yaitu berupa cafetaria yang ada di dalam agrowisata. Selain itu, dapat pula ditemui restoran
yang berada di luar agrowisata.
3. What to buy?
Konsep what to buy? yang tergambar dalam site perancangan yaitu dalam bentuk kios perdagangan yang ada di dalam agrowisata dan shopping
centre yang ada di luar agrowisata.
Sedangkan komponen atraksi pada site perancangan tergambar dalam 2 bentuk, yaitu:
1. Training agriculture yang dilakukan pada gedung training centre agriculture. Dalam kegiatan ini pengunjung akan dilatih untuk dapat membudidayakan
buah belimbing dan jambu air khas Betokan agar menghasilkan buah yang besar, padat dan manis.
2. Petik buah pada panen raya. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan nilai jual buah agar tidak jatuh pada saat panen raya.
Penerapan 3 komponen utama dalam pariwisata sekaligus dapat mencapai konsep pengembangan Fresh And Fun Betokan Kampoeng
Agrotourism. Dengan demikian perancangan kawasan agrowisata di Desa Betokan ini menjadi salah satu kalisator dalam pengembangan Kabupaten
Demak.



ANALISIS PERANCANGAN KAWASAN AGROWISATA

BAB V
ANALISIS PERANCANGAN KAWASAN AGROWISATA DESA BETOKAN


5.1 Analisis Aktivitas dan Kebutuhan Ruang
Dalam perancangan sebuah kawasan, kita tidak hanya memperhatikan bentuk dan estetika suatu kawasan tapi juga perlu mempertimbangkan
aktivitas yang berlangsung didalamnya, karena perancangan dilakukan untuk manusia agar dapat melakukan aktivitasnya dengan nyaman. Oleh karena
itu, dibutuhkan analisis aktivitas yang berlangsung sehingga tidak saling mengganggu satu sama lain. Wilayah perencanaan di Desa Betokan, Kecamatan
Demak merupakan wadah berkembangnya pertanian buah belimbing dan jambu air menjadi daya tarik agrowisata yang mampu menciptakan
perkembangan ekonomi perdagangan dan jasa di Kabupaten Demak. Selain itu juga terdapat aktivitas lain, berupa permukiman yang mendukung
agrowisata tersebut. Dari penjelasan di atas maka dapat dibuat pengelompokan aktivitas agar lebih memudahkan dalam perancangan wilayah
perencanaan.

5.1.1 Karakteristik Aktivitas Di Lokasi Perancangan Sebelum Penerapan Konsep
Desa Betokan dikenal sebagai embrio perkembangan pertanian buah belimbing dan jambu air. Sampai saat ini, buah belimbing dan jambu air ini
telah menjadi icon dan kebanggaanKabupaten Demak. Prospek pertanian buah belimbing dan jambu air yang menguntungkan ini kemudian mulai
dikembangkan di desa lainnya seperti Desa Tempuran. Walaupun mengembangkan komoditas jenis buah yang sama, tetapi hasil produksi Desa Betokan
tetap lebih unggul dan manis. Melihat adanya potensi pertanian di Desa Betokan tersebut, pada tahun 2000 Dinas Pariwisata Kabupaten Demak
mendirikan agrowisata yang diberi nama Kebun Bibit Hortikultura.
Agrowisata ini dibangun diatas lahan pemerintah dengan luas 1Ha. Agrowisata di Desa Betokan ini terdapat pertanian buah belimbing dan jambu
air, kantor pengelola dan rumah bunga. Agrowisata yang telah didirikan dan didisain oleh Dinas Pariwisata ini nyatanya tidak berkembang dengan baik.
Hal tersebut disebabkan karena tidak adanya dana APBD Kabupaten Demak untuk mengelola agrowisata tersebut. Tidak adanya pengelolaan yang baik
pada agrowisata menyebabkan tidak ada wisatawan yang datang untuk berkunjung. Kini, agrowisata di Desa Betokan terlihat tidak terawat dan lahan
pertanian buah yang ada di dalamnya disewakan kepada petani lokal untuk dikelola. Untuk itu, aktivitas yang terlihat pada wilayah studi hanya pertanian
yang meliputi penyiraman, pemupukan, pembibitan dan penyemprotan. Pada wilayah perancangan tidak terlihat pula aktivitas perdagangan yang terkait
dengan buah yang diproduksi.
5.1.2 Karakteristik Aktivitas Di Lokasi Perancangan Setelah PenerapanKonsep
Tidak berkembangnya agrowisata yang telah didirikan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Demak secara tidak langsung memberikan kerugian bagi
APBD. Hal ini disebabkan karena tidak ada wisatawan yang datang berkunjung sehingga tidak ada pemasukan bagi Dinas Pariwisata. Untuk itu, perlu
adanya disain perancangan kawasan agrowisata yang menarik dan inovatif. Konsep perancangan yang ditawarkan adalah Fresh and Fun Betokan
Kampoeng Agrowisata. Konsep perancangan yang telah dipilih ini dimaksudkan agar dapat menarik pihak swasta untuk berinvestasi yang digunakan
sebagai dana pengembangan mengingat bahwa tidak adanya dana yang diberikan APDB Kabupaten Demak.
Konsep perancangan yang telah dipilih ini secara tidak langsung akan menciptakan aktivitas baru yang belum dilakukan sebelumnya. Secara tidak
langsung, konsep perancangan ini sebagai pemberdayaan masyarakat terhadap aktivitas UMKM pengolahan produksi buah dan perdagangan. Dengan
mencipatakan aktivitas seperti yang dijelaskan diatas maka dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Selain itu, konsep perancangan ini
juga menciptakan aktivitas rekreasi yang tidak hanya memetik buah saja tetapi juga berenang, bermain wahana air dan outbond. Kemudian ada pula
aktivitas edukasi yaitu dengan mengikuti pelatihan pertanian buah belimbing dan jambu air khas Desa Betokan.
5.1.3 Analisis Karakteristik Pengguna
Desa Betokan yang berbatasan langsung dengan Desa Bintoro yang merupakan pusat kota Demak adalah daerah peruntukan permukiman dan
pertanian. Aktivitas utama di Desa Betokan secara keseluruhan adalah sebagai kawasan permukiman. Hal ini ditunjukan dengan bangunan-bangunan yang
ditemui pada wilayah studi. Sedangkan untuk aktivitas dominan pada wilayah perancangan yang diambil adalah pertanian buah yang akan dikembangkan
sebagai agrowisata Desa Betokan yang ditunjang oleh bebrapa aktivitas penunjang. Untuk merinci secara lebih jelas sistem aktivitas yang ada pada
wilayah perancangan, berikut tabel sistem aktivitas Desa Betokan :









Fungsi
Ruang
Kelompok
Aktivitas
Jenis
Aktivitas
Jenis Bangunan Pengguna
Utama
Pertanian
buah
Agrowisata Kebun buah
Masyarakat
pengelola dan
pengunjung
agrowisata
Penunjang Permukiman Hunian
Rumah dan
pekarangan
Masyarakat
Desa Betokan

Penginapan

Pengunjung
agrowisata
Pelayanan
Perdagangan
dan Jasa
Jual beli,
pemenuhan
akomodasi
Kios, toko, rumah
makan
Masyarakat
Desa Betokan
dan
pengunjung
agrowisata
Pendidikan Pelatihan
Latihan
bertani
buah
belimbing
dan jambu
iar
Bangunan dan lahan
pertanian
Masyarakat
Desa Betokan
dan
pengunjung
agrowisata
Rekreasi Rekreasi
Wahana
permainan
Kolam
renang,outbond,danau
Masyarakat
Desa Betokan
Tabel V.1
Analisis Karakteristik Pengguna

Aktivitas yang telah disebutkan pada tabel diatas dapat dijelaskan
pula melaui bagan dibawah ini.


Sumber : Analisis Kelompok 1 Studio Perancangan dan Pembangunan Kota, 2012
Gambar 5.1
Aktivitas Agrowisata Desa Betokan

Dari aktivitas-aktivitas yang ada di Desa Betokan, diperlukan suatu pemenuhan kebutuhan ruang untuk mewadahi aktivitas tersebut. Oleh karena
itu, perancangan yang akan diterapakan di kawasan agrowisata Desa Betokan adalah terhadap bangunan rumah, perancangan kebun buah, fasilitas
perdagangan, dan fasilitas lain yang terkait. Di samping perancangan bangunan, juga akan dilakukan perancanga akses jalan untuk memperbaiki
aksesibilitas keluar masuk kawasan agrowisata.


5.1.4 Analisis Kebutuhan Ruang
Dalam menyediakan wadah bagi aktivitas yang ada pada wilayah perancangan, yakni agrowisata Desa Betokan, maka diperlukan suatu
perencanaan ruang yang dibutuhkan sesuai dengan jenis aktivitasnya. Di bawah ini merupakan tabel kebutuhan ruang terkait perhitungan total luas ruang
yang dibutuhkan :
Tabel IV.2
Kebutuhan Ruang
Jenis
Aktivitas
Jenis
Bangunan
Jum
lah
Unit
Standar
kebutuhan
Luas per
Unit
Sirkula
si (30
%)
Keb.
Ruang
Pertanian
(Agrowisa-
ta)
Kebun buah 1 217.000

217.000
Gedung
agrowisata
1 600 180 780
dan
pengunjung
agrowisata
Jenis
Aktivitas
Jenis
Bangunan
Jum
lah
Unit
Standar
kebutuhan
Luas per
Unit
Sirkula
si (30
%)
Keb.
Ruang
Kolam renang 1 1.750

1.750
Gedung kolam
renang
1 400 120 520
Gedungtraining
centre
1 600 180 780
Gedung
Pengolahan
Buah
1 300 90 390
Total Kebutuhan Ruang untuk Aktivitas Agrowisata 221.220
Permukiman
Rumah dan
pekarangan
59 100 30 7.670
Total Kebutuhan Ruang untuk Aktivitas Permukiman 7.670
Perdagangan
dan Jasa
Kios
agrowisata
42 25 7,5 1.365
Kafetaria 2 200 60 520
Restoran 1 600 180 780
Pusat
Penjualan
Buah
1 300 90 390
Shopping
Centre
1 300 90 390
Total Kebutuhan Rumah untuk Aktivitas Perdagangan dan
Jasa
3.445
Pelayanan
Mushola 1 300 90 390
Toilet 40 4 1,2 208
Jenis
Aktivitas
Jenis
Bangunan
Jum
lah
Unit
Standar
kebutuhan
Luas per
Unit
Sirkula
si (30
%)
Keb.
Ruang
Parkir Bus 1 200 60 260
Parkir Mobil 1 270 81 351
Parkir Motor 1 154 46,2 200,2
Total Kebutuhan Ruang untuk Aktivitas Pelayanan 1.408,2
Total Kebutuhan Ruang 233.743,2
Sumber : Analisis Kelompok 1 Studio Perancangan dan Pembangunan Kota,

Luas lahan yang tersedia : 237.800 m
2

Total kebutuhan lahan : 233.743,2m
2

Building coverage : 60 %
Jumlah total kebutuhan lahan untuk agrowisata Desa Betokan adalah sebesar 233.743,2 m
2
dari total luas lahan sebesar 237.800 m
2
. Sisa lahan yang ada
merupakan jalan lingkungan yang mengakses masuk dan keluar agrowisata Desa Betokan.
Agrowisata
Kebun buah = (217.000 x 1 unit)
= 217.000 m
2

Gedung agrowisata = (600 x 1unit) + sirkulasi 30 %
=780m
2

Kolam renang = (1.750 x 1 unit) +sirkulasi 30 %
= 1.750 m
2

Gedung kolam renang
= ( 400x 1 unit) + sirkulasi 30 %
= 520 m
2

Gedung training centre
=(600x1unit)+sirkulasi 30%
= 780 m
2

Gedung Pengolahan Buah
= ( 300 x 1unit) + sirkulasi 30 %
= 390 m
2


Jumlah total kebutuhan ruang untuk aktivitas agrowisata adalah sebesar 221.220 m
2
atau 93,03 % dari total luas wilayah perancangan. Prosentase
ruang untuk aktivitas agrowisata Desa Betokan ini sangat besar karena agrowisata merupakan aktivitas yang dominan di Desa Betokan.
Hunian
Rumah =(100 m
2
x 59 unit) + sirkulasi 30%
= 7.670 m
2

Total kebutuhan ruang untuk hunian adalah 7.670 m
2
, atau sebesar 3,23 % dari total luas wlayah perancangan. Ruang hunian yang dirancang pada
kawasan agrowisata Desa Betokan ini akan dikhususkan bagi masyarakat Desa Betokan bermukim pada bagian dari wilayah perancangan serta
beraktivitas di sektor wisata tersebut.
Perdagangan dan Jasa
Kios agrowisata = (25 x 42 unit) + sirkulasi 30 %
= 1.365 m
2


Kafetaria = (200 m
2
x 2 unit) + sirkulasi 30 %
= 520 m
2

Restoran = (600 x 1 unit) + sirkulasi 30 %
= 780 m
2

Shopping Centre = (300 x 1 unit) + sirkulasi 30 %
= 390 m
2

Total ruang yang dibutuhkan bagi aktivitas perdagangan adalah sebesar 3.445 m
2
atau sebesar 1,45 % dari total wilayah perancangan. Fasilitas
perdagangan ini akan disebar di sekitar agrowisata untuk memudahkan akses pengunjung.
Pelayanan
Mushola = (300 m
2
x 1 unit) + sirkulasi 30%
= 390 m
2

Toilet = (4 m
2
x 40 unit) + sirkulasi 30%
= 208 m
2

Parkir Bus = (200 m
2
x 1 unit) + sirkulasi 30%
= 260 m
2

Parkir Mobil = (270 m
2
x 1 unit) + sirkulasi 30%
= 351 m
2

Parkir Motor = (154 m
2
x 1 unit) + sirkulasi 30%
= 200.2 m
2

Jumlah ruang yang diperlukan untuk aktivitas pelayanan 1.408,2 adalah sebesar 780 m
2
atau 0,59 % dari total wilayah perancangan.

URBAN DESIGN GUIDELINES KAWASAN AGROWISATA DESA
BETOKAN

6.1. Urban Design Guidelines Kawasan Agrowisata Desa Betokan
6.1.1. Pengaturan Aktivitas
Tabel VI.1
UDGL Pengaturan Aktivitas
Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan
Prescriptive
Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
Fungsi
Aktivitas
Kawasan
perancangan
adalah
agrowisata
Desa
Betokan
yang akan
dikembangk
an sebagai
katalisator
perkembang
an wilayah
Aktivitas utama di
dalam kawasan
perancangan
agrowisata adalah
pariwisata sehingga di
dalam agrowisata
selain disediakan
kebun buah dimana
pengunjung dapat
memetik sendiri hasil
panen juga disediakan
beberapa atraksi dan
Aktivitas utama agrowisata





Aktivitas permukiman
Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan
Prescriptive
Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
Kabupaten
Demak.
Aktivitas
yang
terdapat di
dalam
kawasan
agrowisata
Desa
Betokan ini
meliputi
aktivitas
utama,
aktivitas
permukiman
, aktivitas
penunjang,
serta
aktivitas
pelayanan.
wahana permainan,
seperti kolam renang,
danau buatan, dan
kolam air mancur.
Selain itu, di dalam
kawasan perancangan
juga didirikan
gedung training
centre untuk kegiatan
pelatihan kepada
kelompok petani Desa
Betokan.
Aktivitas permukiman
yang ada di sekitar
agrowisata adalah
permukiman berskala
rendah, yakni dengan
jumlah hanya sekitar
50 unit. Jumlah
tersebut telah
mengalami
pengurangan dari
jumlah sebelumnya
karena kepentingan
pariwisata sehingga
harus






Aktivitas perdagangan dan jasa
Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan
Prescriptive
Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
mempertahankan
luasan ruang terbuka.
Aktivitas penunjang
agrowisata Desa
Betokan yang paling
utama adalah aktivitas
perdagangan dan jasa.
Waktu beroperasi
aktivitas perdagangan
dan jasa adalah sama
dengan waktu
beroperasi agrowisata
Desa Betokan, yakni
mulai pukul 08.00-
22.00.

Aktivitas pelayanan
yang disediakan untuk
menunjang aktivitas
utama pada kawasan
agrowisata Desa
Betokan adalah
dengan menyediakan
sarana peribadatan
bagi pengunjung.
Selain itu, disediakan



Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan
Prescriptive
Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
pula lahan parkir untuk
kendaraan
pengunjung.
Aktivitas
Harian
Aktivitas
harian yang
ada di dalam
kawasan
agrowisata
Desa
Betokan
adalah petik
buah oleh
pengunjung.
Selain itu,
pengunjung
juga dapat
menummati
atraksi dari
pemandanga
n danau
buatan dan
memanfaatk
an wahana
kolam
renang yang
telah
Waktu operasi dari
aktivitas harian pada
kawasan agrowisata
Desa Betokan adalah
mulai pukul 08.00-
23.00. Untuk
pengunjung yang
menginap
di homestayDesa
Betokan dapat
menikmati
pemandangansunrise
pada pagi hari di
sekitar agrowisata.
Atraksi danau buatan


Kolam renang



Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan
Prescriptive
Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
disediakan.
Aktivitas
Khusus(event)
Aktivitas
yang hanya
dilakukan
pada waktu
tertentu
antara lain
petik masal
pada panen
raya, lomba
dan
pameran
buah, dan
pelatihan
bagi para
kelompok
tani.
Untuk petik masal
pada panen raya akan
dilakukan di kebun
buah di dalam
agrowisata.
Lomba dan pameran
buah akan
dilaksanakan di
halamanshopping
centreyang berada di
seberang agrowisata.
Pelatihan ketrampilan
bagi kelompok tani
akan dilaksanakan di
gedung training
centre yang telah
disediakan di dalam
agrowisata.
Panen raya dilakuakan minimal tiga kali
dalam setahun
Lomba dan pameran buah dilaksanakan
pada saat panen raya
Pelatihan ketrampilan kepada kelompok
petani dilaksanakan secara periodik setiap
empat bulan sekali
Sumber : Analisis Kelompok 1 Studio Perancangan dan Pembangunan Kota, 2012



6.1.2. Pola Tata Massa Bangunan
6.1.2.1. Rencana Peruntukan Lahan
Sesuai dengan jenis katalisator yang akan digunakan untuk mempercepat pengembangan wilayah, yakni agrowisata Desa Betokan, maka
peruntukan lahan utama adalah sebagai lahan pertanian buah sebagai lahan produksi buah dengan sirkulasi di dalamnya. Selain peruntukan lahan utama
sebagai lahan pertanian, lahan di kawasan perancangan agrowisata Desa Betokan sebagaian kecil juga digunakan sebagai lahan permukiman penduduk,
lahan perdagangan dan jasa, serta lahan untuk menampung aktivitas lain yang menunjang aktivitas agrowisata.
Penataan dari setuap peruntukan lahan telah diatur dengan pertimbangan untuk menghindari percampuran aktivitas yang mungkin terjadi pada
satu tempat untuk beberapa aktivitas yang berbeda, misalnya untuk menghindari terjadinya aktivitas perdagangan dan jasa yang bercampur dengan lahan
permukiman sehingga mengurangi sirkulasi. Namun meskipun demikian, setiap peruntukan lahan akan dihubungkan langsung satu sama lain untuk
mengoptimalkan fungsi dari setiap peruntukan lahan.
Tabel VI.2
UDGL Rencana Peruntukan Lahan
Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
Rencana
Peruntukan
Lahan
Lahan agrowisata
Desa Betokan
Permukiman
masyarakat
Perdagangan dan
jasa
Fasilitas pelayanan
Lahan peruntukan
agrowisata
dipergunakan
seluruhnya untuk
menampung aktivitas
pariwisata sehingga
di dalamnya
dilengkapi dengan
segala komponen
yang menunjang
aktivitas pariwisata,
seperti kebun buah,
kolam renang,
tempat duduk santai,
Peruntukan agrowisata

Peruntukan permukiman
Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
kolam air mancur,
danau buatan, dan
sebagainya.
Lahan permukiman
masyarakat yang
dialokasikan di sekitar
agrowisata
merupakan milik
masyarakat yang
mengelola langsung
agrowisata dan juga
petani agrowisata.
Lahan yang
diperuntukan sebagai
penampung aktivitas
perdagangan dan jasa
akan dialokasikan di
sekitar agrowisata.
Tujuan dari alokasi
lahan perdagangan
dan jasa ini adalah
untuk mewadahi
aktivitas penunjang
pariwisata, khususnya
perdagangan dan jasa
yang di dalamnya
akan digunakan untuk





Kelengkapan agrowisata



Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
transaksi penjualan
buah segar, buah
olahan, bibit
tanaman, dan barang
serta jasa lain yang
dibutuhkan oleh
wisatawan.
Jenis fasilitas yang
akan dialokasikan
pada kawasan
agrowisata Desa
Betokan adalah
fasilitas peribadatan
dan parkir yang
disediakan untuk
pengunjung.






Fasilitas restoran


Fasilitas peribadatan
Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines

Sumber : Analisis Kelompok 1 Studio Perancangan dan Pembangunan Kota, 2012

6.1.2.2. Ukuran Lahan
Untuk setiap peruntukan lahan, ukurannya disesuaikan dengan jenis aktivitas yang akan ditampung. Untuk aktivitas utama di kawasan agrowisata
Desa Betokan, yakni aktivitas pariwisata, lahan yang disediakan adalah sebesar 221.000 m
2
. Besarnya luas lahan yang disediakan untuk agrowisata ini telah
dipertimbangkan dengan perkiraan jumlah pengunjung hingga 20 tahun ke depan. Luas lahan agrowisata sebesar 221.000 m
2
tersebut sudah termasuk
dengan pertimbangan sirkulasi untuk pengunjung.
Selain diperuntukkan untuk lahan agrowisata, sebagian lahan di kawasan perancangan juga dialokasikan sebagai lahan permukiman, yakni seluas
6.500 m
2
. Jumlah lahan permukiman yang direncanakan untuk 20 tahun ke depan telah dikurangi dari jumlah lahan permukiman saat ini. Sebagai gantinya,
masyarakat yang mulanya tinggal di daerah yang dirancang diberikan ganti rugi senilai harga tanah dan bangunan. Dari total luas lahan yang sebesar
237.800 m
2
, sisa lahan yang telah digunakan sebagai lahan pertanian dan permukiman digunakan sebagai lahan untuk menampung aktivitas penunjang
dan pelayanan.
Tabel VI.3
UDGL Ukuran Lahan
Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
Ukuran Lahan Total lahan yang
dialokasikan untuk
lahan agrowisata
Alokasi lahan untuk
agrowisata Desa
Betokan yang


Lahan agrowisata
Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
Desa Betokan sesuai
proyeksi hingga 20
tahun ke depan
adalah seluas221.000
m
2
.
Luas kawasan
permukiman
masyarakat yang
direncanakan di
sekitar kawasan
sgrowisata Desa
Betokan adalah
sebesar 6.500 m
2
,
yakni lahan yang
menampung sekitar
50 unit rumah.
Untuk mendukung
aktivitas
perdagangan dan
jasa, lahan yang
dialokasikan adalah
sebesar 4.832
m
2
yang terdiri dari
kios, toko, rumah
makan, dan shopping
centre.
Untuk menampung
disiapkan adalah
sebesar 93,8% dari
total luas kawasan
perancangan. Hal ini
terkait dengan
aktivitas utama yang
akan dilakukan pada
wilayah prancangan
adalah aktivitas
pariwisata.
Luasan kawasan
permukiman
masyarakat di sekitar
kawasan agrowisata
yang sebesar 2,79%
dari total luas
kawasan
perancangan telah
dipertimbangkan
sesuai dengan
aktivitas yang
dominan, yakni
pariwisata. Pada
kondisi eksisting saat
ini, luas kawasan
permukiman yang ada
lebih besar daripada




Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
pelayanan bagi
pengunjung,
disediakan fasilitas-
fasilitas yang akan
ditempatkan pada
lahan seluas 2.340m
2
.
luas kawasan
permukiman yang
akan direncanakan
untuk proyeksi 20
tahun ke depan. Hal
ini dikaitkan dengan
kepentingan wisata
agro yang
memerlukan lebih
banyak ruang terbuka
sehingga beberapa
rumah penduduk
direlokasi di kawasan
yang agak jauh dari
agrowisata, tetapi
masih di dalam Desa
Betokan.
Besar lahan untuk
kawasan
perdagangan dan
jasa, yakni sebesar
2,03% dari total luas
kawasan
perancangan akan
dimanfaatkan untuk
menampung kios,
yoko, rumah makan,




Lahan Permukiman
Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
dan shopping centre.
Bangunan-bangunan
tersebut akan
diletakkan secara
tersebar supaya dapat
menjangkan seluruh
pengunjung dan juga
masyarakat yang
tinggal di sekitar
kawasan agrowisata.

Lahan yang
dialokasikan sebagai
wadah bagi aktivitas
pelayanan adalah
sebesar 0,98% dari
total kawasan
perancangan. Jenis
fasilitas yang akan
dibangun pada lahan
ini adalah sarana
peribadatan yang
berupa masjid dan
lahan parkir
kendaraan wisatawan
yang berkunjung ke
agrowisata.




Lahan Perdagangan dan Jasa
Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines




Lahan Aktivitas Pelayanan
Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines

Sumber : Analisis Kelompok 1 Studio Perancangan dan Pembangunan Kota, 2012



6.1.2.3. Jenis Bangunan dan Jumlah Tiap Bangunan
Jenis bangunan yang akan dirancang pada kawasan perancangan pada hakikatnya disesuaikan dengan aktivitas dan peruntukan lahannya. Untuk
menunjang aktivitas utama di kawasan agrowisata Desa Betokan, jenis bangunan yang dirancang adalah kantor pengelola agrowisata, gedung training
centre, toilet, gedung kolam renang, dan kafetaria. Sedangkan untuk aktivitas perumahan, jenis bangunan yang dirancang adalah bangunan rumah hunian
masyarakat. jumlah unit rumah yang dirancang di sekitar agrowisata Desa Betokan adalah sebanyak 50 rumah.
Untuk mendukung aktivitas penunjang seperti perdagangan dan jasa serta aktivitas pelayanan, jenis bangunan yang dirancang pada kawasan
perancangan meliputi gedung pusat penjualan bibit tanaman, shopping centre, gedung pusat pengolahan buah, restoran, kios perdagangan, dan masjid.
Berbagai jenis bangunan yang dirancang pada kawasan perancangan agrowisata semuanya telah disesuaikan dengan aktivitas yang harus ditampung di
dalamnya. Banyaknya bangunan untuk setiap fungsi bangunan adalah seperti yang telah dicantumkan dalam perhitungan kebutuhan data sebelumnya.
Tabel VI.4
UDGL Jenis Bangunan
Komponen
Panduan Rancang
Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
Jenis Bangunan
dan Jumlah Tiap
Bangunan
Bangunan yang
dirancang untuk
mendukung
aktivitas utama,
yaitu pariwisata
meliputi gedung
kantor pengelola
agrowisata, gedung
kolam renang, dan
kafetaria.
Untuk aktivitas
permukiman,
seperti pada
umumnya
bangunan yang
dirancang adalah
bangunan rumah.
Aktivitas
perdagangan yang
berfungsi
menunjang
Bangunan inti yang
berada di dalam
agrowisata masing-
masing memiliki
fungsi yang penting.
Gedung kantor
pengelola agrowisata
digunakan untuk
kegiatan para
pengelola ahrowisata,
seperti pertemuan
rutin dan untuk
menerima tamu
penting yang datang
ke agrowisata.
Gedung training
centredidirikan
sebagai tempat
pelatihan yang akan
diikuti oleh para
petani buah dari Desa




Bangunan rumah







Komponen
Panduan Rancang
Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
aktivitas pariwisata
akan didukung
dengan bangunan
yang meliputi kios,
toko, rumah
makan, gedung
pengolahan buah,
dan shopping
centre.
Untuk pelayanan
bagi pengunjung,
fasilitas yang
disediakan adalah
fasilitas
peribadatan yang
berupa bangunan
masjid.
Betokan. Pelatihan
diberikan dari
kerjasama pemerintah
dengan tenaga yang
ahli di bidang
pertanian. Gedung
kolam renang
merupakan tempat
yang disediakan bagi
pengunjung untuk
berganti pakaian
setelah dan sebelum
berenang. Kafetaria
yang didirikan di
dalam agrowisata
menyediakan
pelayanan jual beli
makanan, baik
makanan kecil
maupun makan
besar. Jumlah
bangunan yang
berada di dalam
agrowisata tersebut
masing-masing satu
unit.
Jenis bangunan yang

Komponen
Panduan Rancang
Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
terdapat pada
kawasan permukiman
adalah bangunan
rumah sederhana
dengan luas per
kavling sebesar 100
m
2
. Jumlah rumah
yang dirancang di
sekitar agrowisata
adalah sebanyak
59unit. Jumlah
tersebut sudah
dikurangi dari jumlah
rumah sebelum
perancangan seperti
yang telah dijelaskan
sebelumnya.
Bangunan yang
disediakan untuk
menunjang aktivitas
perdagangan dan jasa
akan disesuaikan
dengan kemampuan
beli pengunjung.
Jumlah dari masing-
masing bangunan
adalah 42 buah kios, 2
Komponen
Panduan Rancang
Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
buah kafetaria, 1 buah
restoran, 1 buah pusat
penjualan buah, dan 1
buah shopping centre.
Jumlah tersebut telah
diperimbangkan
dengan kapasitas
pengunjung yang
dapat ditampung oleh
masing-masing
bangunan.
Jenis fasilitas
peribadatan yang
disediakan bagi
pengunjung adalah
masjid. Jumlah masjid
yang akan disediakan
untuk kawasan
agrowisata adalah
sebanyak 3 unit
dengan luas masing-
masing 600 m
2
.
Sumber : Analisis Kelompok 1 Studio Perancangan dan Pembangunan Kota, 2012

6.1.2.4. Orientasi Bangunan
Dalam perancangan agrowisata Desa Betokan ini, panduan mengenai orientasi bangunan tidak terlalu dipertimbangkan karena tidak ada aktivitas
yang dipengaruhi oleh orientasi bangunan, seperti yang dipertimbangkan ketika merancang gedung sekolah. Kawasan perancangan yang akan didominasi
oleh aktivitas pariwisata tidak akan terpengaruh oleh orientasi bangunan. Begitu halnya dengan permukiman, orientasi bangunan tidak terlalu
mempengaruhi aktivitas di dalamnya. Hanya saja untuk menghindari kontak langsung dengan sinar matahari digunakan vegetasi di setiap rumah. Sama
halnya dengan permukiman, untuk menghindari kontak lansung dengan sinar matahari, maka di setiap kawasan perdagangan dan jasa ditanami vegetasi
yang bersifat perindang dan pelindung terhadap sinar matahari.
Tabel VI.5
UDGL Orientasi Bangunan
Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
Orientasi
Bangunan
Orientasi bangunan
dalam kawasan
perancangan
agrowisata Desa
Betokan tidak
begitu
dipertimbangkan
karena tidak ada
aktivitas yang
terpengaruh oleh
orientasi bangunan.
Jenis bangunan yang
ada di dalam kawasan
perancangan
agrowisata tidak
mewadahi aktivitas
yang berkaitan
dengan orientasi
bangunan. Oleh
karena itu, arah
bangunan pada
umumnya menghadap
jalan, tidak
mempertimbangkan
arah sinar
matahari.Hanya saja,
untuk menghindari
kontak langsung
dengan sinar matahari
dengan
memanfaatkan
tanaman vegetasi
Orientasi bangunan menghadap ke jalan

Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
yang berjenis
perindang.
Sumber : Analisis Kelompok 1 Studio Perancangan dan Pembangunan Kota, 2012

6.1.2.5. Fasade Bangunan
Unsur estetika dalam perancangan kawasan merupakan faktor pertimbangan yang sangat penting. Oleh karena itulah fasade bangunan
dimasukkan dalam komponen panduan rancang kawasan. Fasade bangunan atau keteraturan massa pada kawasan perancangan dapat dili hat dari
susunan massa bangunan rumah penduduk dan tatanan pohon pada agrowisata. Tujuan dari penerapan fasade bangunan pada perancangan kawasan
perancangan agrowisata adalah untuk meningkatkan nilai estetika agrowisata Desa Betokan sebagai kawasan pariwisata supaya dapat menarik serta
mendatangkan wisatawan dalam jumlah yang lebih banyak.
Tabel VI.6
UDGL Fasade Bangunan
Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
Fasade
Bangunan
Fasade bangunan
untuk kawasan
perancangan
agrowisata Desa
Betokan dapat dilihat
dari keteraturan
bangunan rumah-
rumah penduduk.
Keteraturan massa
bangunan dengan
pola grid ditata
sedemikian rupa
sehingga tampak
lebih teratur dan
memberikan kesan
rapi. Selain dari massa
bangunan, fasade
bangunan juga dapat
dilihat dari tatanan
kebun buah yang rapi
Keteraturan massa bangunan

Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
sehingga
meningkatkan nilai
estetika kawasan.
Sumber : Analisis Kelompok 1 Studio Perancangan dan Pembangunan Kota, 2012

6.1.2.6. Bentuk dan Bahan Bangunan
Untuk menambah keindahan pemandangan di sekitar kawasan agrowisata Desa Betokan, bentuk bangunan dirancang sedemikian rupa sehingga
dapat menimbulkan kesan yang lebih menarik. Bentuk bangunan untuk semua bangunan yang ada di kawasan perancangan akan dibuat tradisional yang
semi modern. Artinya semua bangunan dirancang dengan model tradisional tetapi sifatnya permanen. Hal demikian dimaksudkan untuk
menjaga image pedesaan yang dapat dirasakan secara visual oleh pengunjung dengan melihat bentuk bangunan. Untuk bahan bangunan yang digunakan
akan disesuaikan dengan bentuk bangunan yang dirancang.
Tabel VI.7
UDGL Rencana Peruntukan Lahan
Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design Guidelines
Bentuk dan
Bahan
Bangunan
Bentuk kawasan
perancangan
agrowisata Desa
Betokan dibuat
tradisional.
Bahan bangunan
untuk kawasan
perancangan
agrowisata Desa
Betokan adalah
bahan bangunan
Dengan bentuk tradisional
akan
mempertahankanimage pedes
aan secara visual dengan
dikombinasikan bahan
bangunan yang diperuntukan
bagi bangunan permanen
agarimage pedesaan tersebut
dapat bertahan dalam jangka
waktu yang lama.
Bentuk bangunan rumah

Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design Guidelines
yang diperuntukan
bagi bangunan
permanen
Sumber : Analisis Kelompok 1 Studio Perancangan dan Pembangunan Kota, 2012

6.1.2.7. Signage
Bagi kawasan pariwisata, sebuah penanda merupakan nyawa yang harus melekat supaya kawasan wisata tersebut dapat dijangkau oleh
pengunjung. Tanpa adanya penanda yang jelas untuk suatu kawasan wisata, maka wisatawan akan sulit mengenali objek wisata tersebut. Signage yang
akan digunakan sebagai penanda untuk kawasan agrowisata Desa Betokan adalah berupa billboard yang akan diletakkan di akses masuk utama dari jalan
utama. Sedangkan untuk pintu masuk di kawasan agrowisata, signage yang digunakan adalah patung buah jambu air dan belimbing. Selain itu, untuk
penanda di dalam kawasan agrowisata yang akan digunakan adalah penanda yang bersifat penunjuk arah, seperti papan nama dan arah menuju suatu
lokasi.
Tabel VI.8
UDGL Signage
Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
Signage Signage kawasan
perancangan
agrowisata Desa
Betokan berupa bill
board di jalan utama,
patung buah jambu
air dan belimbing,
dan penandan umum
seperti penunjuk arah
menuju suatu lokasi
Dengan adanya signage
di kawasan perancangan
agrowisata Desa
Betokan akan
menghidupkan kawasan
agrowisata Desa
Betokan sehingga
pengunjung akan
dengan mudah
mengenali dan
Penanda masuk kebun buah

Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
dan papan nama mengakses agrowisata
desa betokan. Tanpa
adanya signage,
pengunjung akan sulit
menemukan agrowisata
sehingga dapat
menyebabkan
penurunan jumlah
pengunjung.
Sumber : Analisis Kelompok 1 Studio Perancangan dan Pembangunan Kota, 2012

6.1.2.8. GSB, KDB, dan KLB
Garis Sempadan Bangunan (GSB)
Berdasarkan perhitungan jarak sempadan bangunan terhadap jalan pada kawasan agrowisata Desa Betokan diperoleh sebesar 12 meter. Jarak
tersebut telah dipertimbangkan berdasarkan kecapatan kendaraan dan jarak bangunan dari as jalan. Akan tetapi, dengan melihat kepadatan bangunan
yang relatif rendah, jarak bangunan terhadap sempadan jalan bisa dikurangi.
Koefisien Dasar Bangunan (KDB)
Menrurt perhitungan yang telah dilakukan untuk menetukan kriteria terukur, ketentuan koefisien dasar bangunan yang diperbolehkan untuk
kawasan agrowisata Desa Betokan adalah sebesar 70,14 %, yang artinya dari total luas lahan sebesar 23,78 hektar, area maksimal yang boleh tertutup
bangunan adalah sebesar 16,68 hektar dan area yang harus dipertahankan terbuka sebesar 7,1 hektar. Penetapan koefisien dasar bangunan tersebut
didasarkan pada pertimbangan luas kawasan, batas pengambilan air tanah, debit infiltrasi, serta luas area terbuka yang ada.


Koefisien Lantai Bangunan (KLB)
Ketinggian bangunan yang boleh diterapkan pada kawasan agrowisata Desa Betokan telah ditetapkan berdasarkan rumus Floor Area Ratio (FAR).
Dengan nilai FAR sebesar 1,43, maka berdasarkan Land Use Intensity (LUI) jumlah lantai bangunan maksimal yang diperbolehkan adalah sebanyak 6 lantai,
atau dengan ketinggian bangunan maksimal 24 meter.
Tabel VI.9
UDGL Rencana Peruntukan LahGSB, KDB, dan KLBan
Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
GSB, KDB dan
KLB
GSB
Jarak sempadan
bangunan terhadap
jalan pada kawasan
agrowisata Desa
Betokan diperoleh
sebesar 12 meter
KDB
Ketentuan koefisien
dasar bangunan yang
diperbolehkan untuk
kawasan agrowisata
Desa Betokan adalah
sebesar 70,14 %.
Dari23,78 hektar luas
lahan kawasan
agrowisata desa
betokan lahan
yang boleh tertutup
bangunan adalah 16,68
hektar dan luas lahan
yang harus
dipertahankan
terbukaadalah 7,1
hektar
GSB
Jarak bangunan
dengan as jalan
tersebut
dipertimbangkan
berdasarkan
kecepatan kendaraan
yang melewati jalan
tersebut, namun jika
kepadatan bangunan
tinggi jarak tersebut
dapat dikurangi.
KDB
Penetapan koefisien
dasar bangunan
tersebut didasarkan
pada pertimbangan
luas kawasan, batas
pengambilan air tanah,
debit infiltrasi, serta
luas area terbuka yang
ada.
KLB
Perhitungan KLB di
dasarkan

Komponen
Panduan
Rancang Kota
Design Guidelines
Keterangan Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
KLB
Dengan nilai FAR
sebesar 1,43 dan
berdasarkan Land Use
Intensity (LUI) Jumlah
lantai bangunan
maksimal yang
diperbolehkan adalah
sebanyak 6 lantai, atau
dengan ketinggian
bangunan maksimal 24
meter
pada rumusFloor Area
Ratio (FAR). Dengan
ketinggian bangunan
tersebut maka tidak
akan mengganggu
aliran angin dan
pencahayaan matahari
Sumber : Analisis Kelompok 1 Studio Perancangan dan Pembangunan Kota, 2012

6.1.2.9. Street Furniture
Dalam upaya melengkapi kelengkapan pada lokasi wisata di kawasan agrowisata Desa Betokan, street furniture merupakan hal yang tidak
boleh dilupakan. Kelengkapan street furniture yang diperlukan pada agrowisata Desa Betokan meliputi kursi-kursi santai, tempat sampah, lampu
penerang, serta papan petunjuk arah dan papan peringatan.






Tabel VI.10
UDGL Street Furniture
Komponen Design Guidelines Keterangan
Panduan Rancang
Kota
Prescriptive Design
Guidelines
Performance Design
Guidelines
Street Furniture Dalam
meningkatkan nilai
lingkungan kawasan
agrowisata Desa
Betokan, diperlukan
beberapastreet
furniture yang
meliputi kursi-kursi
santai, tempat
sampah, lampu
penerang, serta
papan petunjuk arah
dan papan
peringatan.
Pengaturan tata letak
dan jumlah street
furniture disesuaikan
dengan pembagian
aktivitas yang ada di
dalamnya
karenastreet
furniture ini sifatnya
melengkapi dan
menyediakan
pelayanan pendukung
yang dibutuhkan oleh
pengunjung.
Kursi Santai

Papan Penunjuk

Sumber : Analisis Kelompok 1 Studio Perancangan dan Pembangunan Kota, 2012



6.2. Traffic Management System Kawasan Agrowisata Desa Betokan
Tabel VI.11
UDGL Traffic Management System
Kompone
n
Design Guidelines Keterangan
Performance Prescriptive
Pola Jalan Pola jalan dalam kawasan
perancangan adalah linier dengan
2 arah dengan lebar jalan hanya 3
meter.

Lebar jalan untuk kawasan
perancangan akan dibuat
menjadi 5 meter agar dapat
dilewati 2 kendaraan dari 2
arah.
Jalan setapak


Sirkulasi Sirkulasi pada kawasan
perancangan dibagi menjadi 2
jenis, yaitu sirkulasi kendaraan
bermotor dan sirkulasi manusia
atau pejalan kaki.

Sirkulasi kendaraan
bermotor diatur dengan
ketentuan sebagai berikut:
- Kendaraan bermotordibatasi oleh
kendaraan seperti:mobil, motor,
dan bus.
- Kendaraan berat tidak
diperkenankan memasuki
kawasan untuk mengurangi polusi
udara dalam mendukung
terciptanya kawasan rekreasi yang
nyaman.

Kendaraan pribadi yang menuju
Ruang sirkulasi pejalan kaki
dan ruang sirkulasi
kendaraan
diberi barierberuapa
ruang hijau sebagai
peneduh sehingga
meningkatkan kenyamanan
pejalan kaki.
Tempat parkir
diperkenankan untuk setiap
kendaraan pribadi untuk
pengunjung agrowisata

Traffic management system

ke kawasanagrowisata disediakan
parkir komunal. Antara pintu
masuk ke kawasan agrowisata dan
pintu keluar dibedakan agar tidak
terjadi kemacetan.
Sirkulasi manusia atau pejalan
kaki, telah disediakan pedestrian
ways yang lebar dan nyaman.







Parkir Sistem perparkiran pada kawasan
perancanganmenggunakan parkir
off street yang
berupa areaparkir yang telah
disediakan.

Parkir kendaran bermotor
roda 4 adalah parkir dengan
sudut 90
Parkir kendaraan roda 2
adalah parkir
dengansudut 90

Pedestria
n ways
Pedestrian ways atau jalur pejalan
kaki terdapat di kawasan
agrowisata menuju ke kebun buah
untuk menikmati wisata petik
buah.
Lebar pedestrian 1 meter
yang dapat digunakan untuk
pengunjung agrowisata
mengelilingi kebun buah dan
melakukan wisata petik
buah.
Setiap pedestrianways dileng
kapi denganstreet
furniture berupa lampu
penerangan, bangku taman,
dan tong sampah.
Pedestrian



Sumber : Analisis Kelompok 1 Studio Perancangan dan Pembangunan Kota, 2012

6.3. Pengaturan Luar Kawasan Agrowisata Desa Betokan
6.3.1. Prasarana Umum
Penyediaan prasarana dalam perancangan kawasan agrowisata difokuskan penyediaan saluran drainase dan persampahan. Untuk saluran
drainase, sistem yang digunakan adalah drainase tertutup yang akan bermuara akhir ke Sungai Jajar. Sistem drainase tertutup dipilih karena dinilai lebih
tepat untuk kawasan pariwisata sekaligus sebagai strategi untuk meningkatkan nilai estetika kawasan. Sedangkan untuk pengelolaan persampahan,
sampah dari pengunjung dan masyarakat terlebih dahulu dikumpulkan di tong sampah dan akan diangkut secara berkala untuk dibawa ke TPS terdekat di
luar kawasan agrowisata Desa Betokan.


6.3.2. Rencana Pergerakan
Akses pergerakan di dalam kawasan agrowisata bagi pengunjung dan masyarakat dapat ditempuh melalui jalan lingkungan searah yang telah
direncanakan rutenya. Pergerakan keluar masuk kawasan agrowisata dapat dilakukan oleh pengunjung dan masyarakat dengan berbagai moda, mulai dari
sepeda, sepeda motor, mobil, hingga bus kecil. Untuk mendukung pergerakan di dalam kawasan agrowisata pula telah disediakan lahan parkir, mulai dari
parkir sepeda hingga parkir bus kecil. Selain itu, untuk mempermudah pergerakan menuju agrowisata, telah dipadukan dengan akses jalan utama Demak-
Kudus sebelum masuk ke kawasan agrowisata Desa Betokan.
6.3.3. Perkerasan Jalan
Untuk semua jalan di dalam kawasan agrowisata Desa Betokan, perkerasan jalan yang digunakan adalah jalan beton. Hal ini dimaksudkan untuk
memperpanjang umur jalan sehingga menghemat biaya pemeliharaan jalan. Sedangkan untuk jalan di dalam agrowisata menggunakan jalan setapak
karena hanya diakses oleh kaki manusia, sekaligus untuk menambah nilai estetika di dalam agrowisata.