Anda di halaman 1dari 1

Setelah dilakukan pembakuan larutan titrant NaOH dan HCl, selanjutnya dilakukan uji

kuantitatif untuk mengetahui kadar boraks dalam sampel yang diuji yaitu tahu. Pertama tama
sampel tahu ditimbang sebanyak 60 gram, kemudian digerus hingga halus. Selanjutnya larutkan
sampel dengan aquadest sebanyak 200 ml. Setelah itu disentrifugasi selama 15 menit pada
kecepatan 1500 rpm. Tujuan dari sentrifugasi ini adalah memisahkan boraks dengan senyawa
lain dimana boraks akan tertinggal dalam supernatan. Setelah terpisah, disaring supernatannya
dan dipipet sebanyak 25 ml ke dalam labu erlenmeyer. Percobaan yang dilakukan secara triplo
atau tiga kali agar hasil lebih akurat. Selanjutnya ditambahkan boraks sebanyak 0,6 gram ke
masing masing labu Erlenmeyer, hal ini dilakukan karena pada uji kualitatif sampel diketahui
tidak mengandung boraks. Oleh karena itu dalam pengujian kuantitatif ini perlu ditambahkan
boraks dengan jumlah yang diketahui untuk menghitung kadarnya. Setelah itu ditambahkan
beberapa tetes indicator ke dalam masing masing labu Erlenmeyer. Indikator yang digunakan
pada titrasi kali ini adalah fenolftalein hal ini dikarenakan rentang pH fenolftalein sesuai dengan
titik akhirnya.
Titrasi yang digunakan untuk menentukan kadar boraks dalam sampel digunakan titrasi
asidimetri. Titrasi asidimetri adalah titrasi antar larutan yang bersifat basa dengan larutan standar
asam. Pertama tama disiapkan 2 buah buret yang berisi larutan NaOH dan HCl yang telah
dibakukan. Selanjutnya masing masing labu dititrasi dengan buret yang berisi HCl hingga warna
pink pada larutan sampel menghilang. Menghilangnya warna pink pada larutan menandakan
sudah tercapai titik akhir.Hal ini dikarenakan titik akhir titrasi asidimetri dengan menggunakan
indicator fenolftalein ditandai dengan berubahnya warna larutan dari pink menjadi tidak
berwarna. Pada saat warna pink menghilang dilakukan pengecekan dengan cara memanaskan
masing masing larutan didalam labu dan dilihat perubahan warnanya. Jika timbul warna pink
kembali maka titrasi kembali dengan HCl hingga menjadi larutan bening. Hal ini dilakukan
untuk memastikan apakah analit telah mencapai titik akhir. Reaksi antara Natrium tetraborat
dengan HCl akan menghasilkan garam NaCl dan asam tetraborat yang sifatnya asam. Titrasi ini
dilakukan sebanyak 3 kali (triplo), dan volume HCl yang digunakan dalam titrasi adalah
sebanyak 4,9 ; 5,2 ; 4,7 ml. Setelah diperoleh larutan tidak berwarna yang stabil, ditambahkan 3
ml gliserol kemudian titrasi dengan NaOH 0,05 N. titrasi dengan NaOH ini digunakan sebagai
pembanding HCl. Volume NaOH yang digunakan dalam titrasi adalah sebanyak 12 ; 14 ; 11 ml.
Volume hasil titrasi ini kemudian dimasukkan dalam perhitungan untuk menentukan kadar
boraks. Hasil perhitungan rata rata kadarnya adalah 78,518%