Anda di halaman 1dari 19

+

Infeksi Jamur
Ridha Wahyutomo, Sp.MK
Jamur :
1. Yeast : sel ragi, sel tunggal
Beberapa ada yang yeast like
2. Filament, hifa :
Mold dan Mushroom
Dimorphic fungi : bentuk yeast dan filament,
tergantung lingkungan, mis. Blastomyces
dermatidis :
- di jaringan manusia (37
0
C) - yeast like cell
- pada suhu 25
0
C bentuk filamen.
+
..\Downloads\Animasi1\Overview of
the Fungal Cell
Structure_(360p).mp4

JAMUR
MIKOSIS
INFEKSI OPORTUNISTIK
Jamur patogen
Histoplasma, dermatophyta
Candidiasis
Aspergillosis
Phycomycetes
Fakt. Risiko:
DM,
keganasan,
AB excesive,
imunosupr.
Flora normal
candida,
cryptococcus
rhodotorula
geotrichium
Dari sekitar 200.000 spesies 100 spesies
sebabkan sakit pd manusia.
Ada 4 bentuk dasar penyakit jamur :
1. Mikosis sistemik
2. Mikosis sub kutaneus : bawah kulit.
3. Mikosis kutaneus : kulit, rambut, kuku.
4. Mikosis superfisialis : rambut

kolonisasi
Antibiotik
Vasc access
ICU stay >7hari
Kolonisasi Candida
CRF
Abdominal Surg.
1. Mikosis sistemik :
Karena inhalasi spora paru paru.
Menyerupai TBC nyebar abses /
granuloma.
. Cryptococcus neoformans
. Blastomyces dermatidis
. Histoplasma capsulatum
. Coccidioides immitis
. Paracoccidioides brasiliensis
2. Mikosis subkutaneus :
Karena inokulasi langsung dari spora /
filamen.
Mycetoma, luka kulit dg granula :
. Sporotrichum senckii
. Chromoblastomycosis
. Maduromycosis
3. Mikosis kutaneus :
Menyerang epidermis, rambut dan kuku
Dermatophyta :
. Trichophyton sp
. Microsporum sp
. Epidermophyton floccusum
4. Mikosis superfisialis :
Mengenai rambut dan kulit bagian
terluar.
Impact secara klinik tdk begitu penting.
. Tinea versicolor Pt versicolor
. Tinea nigra Cladosporium werneckii
. White piedra Trichosporon cutaneum
. Black piedra Piedraia hortai
Pendahuluan
Dermatomikosis superfisialis adalah infeksi jamur
pada kulit dan mukosa, meliputi:
Dermatofitosis oleh spesies dermatofita
Kandidosis oleh Candida spp.
Pitiriasis versikolor oleh Malassezia spp.

Tinea nigra oleh Exophiala wernicki
Piedra hitam dan putih: Piedraia hortae &
Trichosporon beigelii

jarang
sering
Pendahuluan (lanjtn)
Prevalensi dermatomikosis di dunia termasuk di Indonesia
masih tinggi, meskipun jenis obat antijamur (OAJ) bertambah

Secara umum, berbagai faktor berpengaruh
terhadap tingginya prevalensi:
Suhu, kelembaban, higiene
Genetik (pitiriasis versikolor, infeksi T.rubrum)
Iatrogenik: penggunaan antibiotik, kortikosteroid,
penggunaan imunosupresan
Kasus imunokompromais:
Usia (bayi, tua)
Diabetes melitus
HIV/AIDS, dsb.

Perbedaan jenis dermatofitosis di perkotaan dan
pedesaan
Kemungkinan a.l. akibat:
Perbedaan gaya hidup:
Penggunaan baju ketat, sepatu tertutup,
higiene perorangan
Perbedaan lingkungan pekerjaan:
Pekerjaan basah dan kering, di hawa panas
dan sejuk
Ketersediaan obat antijamur dan kesadaran untuk berobat.
JAMUR
MIKOSIS
INFEKSI OPORTUNISTIK
Fakt. Risiko:
DM,
keganasan,
AB excesive,
imunosupr.
Flora normal
Patogen
+
Kapan curiga?
Klinis
Demam walaupun tx a.b
Hemodinamik tak stabil
Imaging
F.R infeksi jamur