Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
Di negara berkembang seperti Indonesia, seiring dengan kemajuan
teknologi dan pembangunan, frekuensi trauma kepala cenderung makin
meningkat. Trauma kepala berperan pada hampir separuh dari seluruh kematian
akibat trauma, mengingat bahwa kepala merupakan bagian yang tersering dan
rentan terlibat dalam suatu kecelakaan. Kasus trauma kepala terutama melibatkan
kelompok usia produktif, yaitu antara 15!! tahun dan lebih didominasi oleh
kaum lakilaki dibandingkan perempuan. "enyebab tersering adalah kecelakaan
lalu lintas dan disusul dengan kasus jatuh terutama pada kelompok usia anak
anak.
Trauma kepala adalah cedera pada kepala yang dapat melibatkan seluruh
struktur lapisan, mulai dari lapisan kulit kepala atau tingkat yang paling #ringan$,
tulang tengkorak, duramater, %askuler otak, sampai jaringan otaknya sendiri& baik
berupa luka yang tertutup, maupun trauma tembus.
'ntuk rujukan penderita cedera kepala, perlu dicantumkan informasi
penting seperti( umur penderita, waktu, mekanisme cedera, status respiratorik dan
kardio%askuler, pemeriksaan minineurologis )*+,- terutama nilai respon motorik
dan reaksi cahaya pupil, adanya cedera penyerta, dan hasil +T ,can.
"ada penderita harus diperhatikan pernafasan, peredaran darah umum dan
kesadaran, sehingga tindakan resusitasi, anmnesa dan pemeriksaan fisik umum
dan neurologist harus dilakukan secara serentak. Tingkat keparahan trauma
kepala harus segera ditentukan pada saat pasien tiba di .umah ,akit.
1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Trauma Kapitis
+idera kepala atau trauma kapitis adalah cidera mekanik yang secara langsung
atau tidak langsung mengenai kepala yang mengakibatkan luka di kulit kepala,
fraktur tulang tengkorak, robekan selaput otak dan kerusakan jaringan otak itu
sendiri, serta mengakibatkan gangguan neurologis.
1

2.2 Anatomi
1. Kulit Kepala ),calp-
Kulit kepala terdiri dari 5 lapisanyang disebut ,+/0" yaitu(
1
a. ,kin atau kulit
b. +onnecti%e Tissue atau jaringan penyambung
c. /poneurosis atau galea aponeurotika yaitu jaringan ikat yang berhubungan
langsung dengan tengkorak
d. 0oose areolar tissue atau jaringan penunjang longgar
e. "erikarnium
Kulit kepala memiliki banyak pembuluh darah sehingga bila terjadi
perdarahan akibat laserasi kulit kepala akan menyebabkan banyak kehilangan
darah terutama pada anakanak atau penderita dewasa yang cukup lama
terperangkap sehingga membutuhkan waktu lama untuk mengeluarkannya.
1
1
1. Tulang Tengkorak
Tulang tengkorak atau kranium terdiri dari kal%arium dan basis kranii, di
regio temporal tulang tipis, namun disini dilapisi oleh otot temporalis. 2asis kranii
berbentuk tidak rata dan tidak teratur sehingga cedera pada kepala dapat
menyebabkan kerusakan pada bagian dasar otak yang bergerak akibat cedera
akselerasi dan deselerasi. .ongga tengkorak dasar dibagi atas tiga fosa yaitu
anterior, media dan posterior. 3osa anterior adalah tempat lobus frontalis, fosa
media tempat lobus temporalis dan fosa posterior adalah ruang bagi batang otak
bawah dan serebelum.
1,1
*ambar 1. Tulang tengkorak
1

4. 5eningen
,elaput meningen menutupi seluruh permukaan otak, terdiri dari tiga
lapisan yaitu( duramater, araknoid dan piamater. Duramater adalah selaput yang
keras, terdiri atas jaringan ikat fibrosa yang melekat erat dengan tabula interna
atau bagian dalam kranium. Duramater tidak melekat dengan lapisan dibawahnya
)araknoid-, terdapat ruang subdural.
1,4
"ada cedera kepala, pembuluh %ena yang berjalan pada permukaan otak
menuju sinus sagitalis superior di garis tengah atau disebut 2ridging %eins, dapat
4
mengalami robekan dan menyebabkan perdarahan subdural. /rteriarteri
meningea terletak antara duramater dan tabula interna tengkorak, jadi terletak di
ruang epidural. 6ang paling sering mengalami cedera adalah arteri meningea
media yang terletak pada fosa temporalis )fosa media-. Dibawah duramater
terdapat araknoid yang merupakan lapisan kedua dan tembus pandang. 0apisan
yang ketiga adalah piamater yang melekat erat pada permukaan korteks serebri.
+airan serebrospinal bersirkulasi diantara selaput araknoid dan piameter dalam
ruang sub araknoid.
1,4
!. 7tak
7tak manusia terdiri dari serebrum,serebelum dan batang otak. ,erebrum
terdiri atas hemisfer kanan dan kiri yang dipisahkan oleh falks serebri)lipatan
duramater yang berada di inferior sinus sagitalis superior-. 8emisfer otak yang
mengandung pusat bicara sering disebut sebagai hemisfer dominan. 0obus
frontalis berkaitan dengan fungsi emosi, fungsi motorik dan pada sisi dominan
mengandung pusat ekspresi bicara )area bicara motorik-.
*ambar 1. /natomi 7tak
4
!
0obus parietalis berhubungan dengan orientasi ruang dan fungsi sensorik.
0obus temporalis mengatur fungsi memori tertentu. 0obus occipitalis berukuran
lebih kecil dan berfungsi dalam penglihatan. 2atang otak terdiri dari
mesensefalon, pons dan medula oblongata. 5esensefalon dan pons bagian atas
berisi sistem akti%asi retikulasi yang berfungsi dalam kesadaran dan kewaspadaan.
"ada medula oblongata berada pusat %ital kardiorespiratorik yang terus
memanjang sampai medula spinalis di bawahnya. ,erebellum bertanggung jawab
dalam fungsi koordinasi dan keseimbangan terletak dalam fosa posterior,
berhubungan dengan medula spinalis batang otak dan kedua hemisfer serebri.
1
5. +airan serebrospinal
+airan serebrospinal dihasilkan oleh pleksus khoroideus dengan kecepatan
produksi sebanyak 49 ml:jam. "leksus khorideus terletak di %entrikel lateralis baik
kanan maupun kiri, mengalir melalui foramen monro ke dalam %entrikel tiga.
,elanjutnya melalui akuaduktus dari syl%ius menuju %entrikel ke empat,
selanjutnya keluar dari sistem %entrikel dan masuk ke ruang subaraknoid yang
berada diseluruh permukaan otak dan medula spinalis. +,, akan diserap ke dalam
sirkulasi %ena melalui granulasio araknoid yang terdapat pada sinus sagitalis
superior. /danya darah dalam +,, dapat menyumbat granulasio araknoid
sehingga mengganggu penyerapan +,, dan menyebabkan kenaikan tekanan intra
kranial )hidrosefalus komunikans-
1,!
5
*ambar 4. +airan serebrospinal pada otak
4
;. Tentorium
Tentorium serebelli membagi ruang tengkorak menjadi supratentorial dan
infratentorial. 5esensefalon menghubungkan hemisfer serebri dengan batang otak
berjalan melalui celah lebar tentorium serebeli yang disebut insisura tentorial.
<er%us oculomotorius)<.III- berjalan di sepanjang tentorium, dan saraf ini dapat
tertekan pada keadan herniasi otak yang umumnya dikibatkan oleh adanya massa
supratentorial atau edema otak. 2agian otak yang sering terjadi herniasi melalui
insisura tentorial adalah sisi medial lobus temporalis yang disebut girus unkus.
8erniasi 'nkus menyebabkan juga penekanan traktus piramidalis yang berjalan
pada otak tengah. Dilatasi pupil ipsilateral disertai hemiplegia kontralateral
dikenal sebagai sindrom klasik herniasi tentorial. =adi, umumnya perdarahan
intrakranial tedapat pada sisi yang sama dengan sisi pupil yang berdilatasi,
walaupun tidak selalu.
1
2.3 isio!o"i
;
1. Tekanan Intrakranial
2erbagai proses patologis yang mengenai otak dapat mengakibatkan
kenaikan tekanan intrakranial yang selanjutnya akan mengganggu fungsi otak
yang akhirnya berdampak buruk terhadap kesudahan penderita. Dan tekanan
intrakranial yang tinggi dapat menimbulkan konsekuensi yang mengganggu
fungsi otak dan tentunya mempengaruhi pula kesembuhan penderita. =adi,
kenaikan tekanan intrakranial )TIK- tidak hanya merupakan indikasi adanya
masalah serius dalam otak tetapi justru sering merupakan masalah utamanya. TIK
normal pada saat istirahat kirakira 19 mm8g )14; mm817-, TIK lebih tinggi
dari 19 mm8g dianggap tidak normal dan TIK lebih dari !9 mm8g termasuk
dalam kenaikan TIK berat. ,emakin tinggi TIK setelah cedera kepala, semakin
buruk prognosisnya.
1
1. Doktrin 5onroKellie
/dalah suatu konsep sederhana yang dapat menerangkan pengertian
dinamika TIK. Konsep utamanya adalah bahwa %olume intrakranial selalu
konstan, karena rongga kranium pada dasarnya merupakan rongga yang tidak
mungkin mekar. TIK yang normal tidak berarti tidak adanya lesi masa
intrakranial, karena TIK umumnya tetap dalam batas normal sampai kondisi
penderita mencapai titik dekompensasi dan memasuki fase ekspansional kur%a
tekanan%olume. <ilai TIK sendiri tidak dapat menunjukkan kedudukan pada
garis datar kur%a berapa banyak %olume lesi masanya.
1,5
>
*ambar !. Doktrin 5onroKellie, kompensasi Intrakranial terhadap masa
yang ekspansi.
5
4. /liran Darah 7tak )/D7-
/D7 normal ke dalam otak kirakira 59 ml:199 gr jaringan otak per menit.
2ila /D7 menurun sampai 1915 ml:199 gr:menit maka akti%itas ??* akan
hilang dan pada /D7 5 ml:199 gr:menit selsel otak mengalami kematian dan
terjadi kerusakan menetap. "ada penderita nontrauma, fenomena autoregulasi
mempertahankan /D7 pada tingkat yang konstan apabila tekanan arteri ratarata
591;9 mm8g. 2ila tekanan arteri ratarata dibawah 59 mm8g, /D7 menurun
curam dan bila tekanan arteri ratarata di atas 1;9 mm8g terjadi dilatasi pasif
pembuluh darah otak dan /D7 meningkat. 5ekanisme autoregulasi sering
mengalami gangguan pada penderita cedera kepala. /kibatnya, penderita
penderita tersebut sangat rentan terhadap cedera otak sekunder karena iskemia
sebagai akibat hipotensi yang tibatiba. ,ekali mekanisme kompensasi tidak
bekerja dan terjadi kenaikan eksponensial TIK, perfusi otak sangat berkurang,
@
terutama pada penderita yang mengalami hipotensi. Karenanya bila terdapat
hematoma intra cranial, haruslah dikeluarkan sedini mungkin dan tekanan darah
yang adekuat tetap harus dipertahankan.
1,!
2.# $e%anisme &an Patofisio!o"i
+idera kepala dapat terjadi akibat benturan langsung ataupun tidak
langsung pada kepala. Kelainan dapat berupa cidera otak fokal atau difus dengan
atau tanpa fraktur tulang tengkorak. +idera fokal dapat menyebabkan memar otak,
hematome epidural, subdural dan intraserebral. +idera difus dapat mengakibatkan
gangguan fungsi saja, yaitu gegar otak atau cedera struktural yang difus.
1
Dari tempat benturan, gelombang kejut disebar ke seluruh arah.
*elombang ini mengubah tekanan jaringan dan bila tekanan cukup besar, akan
terjadi kerusakan jaringan otak di tempat benturan yang disebut #coup$ atau
ditempat yang berseberangan dengan benturan )countre coup-.
1
*angguan metabolisme jaringan otak akan mengakibatkan oedem yang
dapat menyebabkan herniasi jaringan otak melalui foramen magnum, sehingga
jaringan otak tersebut dapat mengalami iskhemi, nekrosis, atau perdarahan dan
kemudian meninggal.
1
3ungsi otak sangat bergantung pada tersedianya oksigen dan glukosa.
+edera kepala dapat menyebabkan gangguan suplai oksigen dan glukosa, yang
terjadi karena berkurangnya oksigenisasi darah akibat kegagalan fungsi paru atau
karena aliran darah ke otak yang menurun, misalnya akibat syok. Karena itu, pada
cedera kepala harus dijamin bebasnya jalan nafas, gerakan nafas yang adekuat dan
hemodinamik tidak terganggu sehingga oksigenisasi cukup.
1
2.' (!as"o) *oma S+a!e ,(*S-
2.3
A
/espon $ata 01 ta1un 231 ta1un
! 5embuka mata
spontan
5embuka mata
spontan
4 5embuka mata oleh
perintah
5embuka mata oleh
teriakan
1 5embuka mata oleh
nyeri
5embuka mata oleh
nyeri
1 Tidak membuka mata Tidak membuka mata
/espon $otori% 01 ta1un 231 ta1un
; 5engikut perintah 2elum dapat dinilai
5 5elokalisasi nyeri 5elokalisasi nyeri
! 5enghindari nyeri 5enghindari nyeri
4 3leksi abnormal
)decortisasi-
3leksi abnormal
)decortisasi-
1 ?ktensi abnormal
)deserebrasi-
?ktensi abnormal
)deserebrasi
1 Tidak ada respon Tidak ada respon
/espon 4er5a! 6'ta1un 23' ta1un 232 ta1un
5 7rientasi baik
dan mampu
berkomunikasi
5enyebutkan
katakata yang
sesuai
5enangis kuat
! Disorientasi tapi
mampu
berkomunikasi
5enyebutkan
katakata yang
tidak sesuai
5enangis lemah
4 5enyebutkan
katakata yang
tidak sesuai
)kasar, jorok-
5enangis dan
menjerit
Kadangkadang
menangis:
menjerit lemah
1 5engeluarkan
suara
5engeluarkan
suara lemah
5engeluarkan
suara lemah
1 Tidak ada respon Tidak ada respon Tidak ada respon
<ilai tertinggi dari pemeriksaan *+, adalah 15 dan terendah adalah 4.
2erdasarkan nilai *+, trauma kapitis dapat dibagi atas (
Kategori *+, *ambaran klinik ,kening 7tak
Trauma kapitis
ringan
1415 "ingsan B 19
menit, defisit
<ormal
19
neurologis )-
Trauma kapitis
sedang
A11 "ingsan C 19
menit s:d B ;
jam, defisit
neurologis )D-
/bnormal
Trauma kapitis
berat
4@ "ingsan C ; jam,
defisit neurologis
)D-
/bnormal
2.7 K!asifi%asi Trauma Kapitis
7
,ecara klimis, trauma dibagi atas(
2.7.1 *ommutio *ere5ri ,"e"ar ota%-
*angguan fungsi otak traumatik yang mendadak, bersifat sementara tanpa
kelainan patologis yang nyata pada jaringan otak
Diagnosa
.iwayat trauma kepala
8ilang kesadaran E 49 menit )ratarata 1915 menit-
Disertai keluhan subjektif berupa rasa mual, muntah, pusing
Disertai atau tanpa amnesia retrograd:anterograd tidak lebih dari 1 jam
.efleks patologis )-
Tidak ada lesi struktural pada otak obser%asi dan konser%asi saja, karena
tidak ada defisit neurologis
"emeriksaan "enunjang
,ampai hari ke5 pasca trauma dapat dijumpai absolut:relatif limfositopenia.
Dapat disertai atau tanpa fraktur basis kranii. ??* normal dan rontgen normal:
Tata 0aksana
1 "erawatan
11
- 2ed rest hingga semua keluhan hilang
- 5obilisasi berangsurangsur, belajar duduk, berdiri, berjalan dan
selanjutnya dipulangkan dengan pesan kontrol seminggu setelah
meninggalkan rumah sakit
- 0ama perawatan juga dilakukan terhadap luka atau fraktur yang ada
- ,elama perawatan dilakukan obser%asi paling sedikit 1 F 1! jam terhadap
kesadaran, tekanan darah, nadi, pernafasan, gejala tekanan intrakranial
meningkat, defisit neurologis yang timbul progresif, pupil mata
- "asien pingsan harus dirawat, ??* G rontgen
1 5edikamentosa
- "engobatan terhadap luka dan perdarahan dengan antibiotik untuk
pencegahan (
/ntikoagulan
/mpisilin:amoksisilin
Tetrasiklin
/T, profilaksis
- 8emostatistika (
Karbasokrom <asulfonat )adona /+ 1>-
/sam treneksamat
- Hit. 21, 2; dan 211 untuk neurologis
- 7bat encephalotropik
- "engobatan simptomatik, hanya diperlukan pada keadaan terpaksa:sangat
diperlukan (
/nalgetika ( metampyron, paracetamol, asam mefenamat.
/ntimuntah ( metoklopramid, dimenhidrinat )dramamine-
TranIuiliJer ( diaJepam
"rognosa
^ ,embuh sempurna
11
^ ,embuh dengan gejala sisa berupa ,indroma +erebral "ost Traumatika,
meliputi (
<eurosis post traumatika
*angguan emosi, intelektual dan kecerdasan
+ephalgia:pusing:%ertigo
?pilepsi
*ejala tersebut timbul segera setelah trauma kapitisnya sembuh atau dapat
juga jauh sesudahnya.
/namnesa
Traumanya bagaimana
"enderita tertabrak mobil, terpelanting, kepala bagian depan terbentur
aspal langsung pingsan. Tidak ada lucide inter%al )masa bebas serangan
atau gejala-. 2ila tdk pingsan lalu pingsan hatihati kemungkinan
adanya epidural:subdural hematom.
"enderita sedang duduk tibatiba dipukul dari belakang. Kepala dalam
keadaan diam dipukul kerusakan besar. 0esi bentur lebih hebat
dari lesi kontra. 2ila terbentur di dahi tapi occipital lbh parah
kemungkinan jatuh terpelanting
,etelah sadar penderita merasa pusing, mual, muntah, ada darah keluar dari
hidung, mata, telinga.
"emeriksaan 3isik
"eriksa (
Tanda %ital
0ukaluka di tempat lain
"eriksa nn. +raniales n. HII G HIII yg sering
.efleks 2abinsky G +haddock
0umpuh jarang
14
.ontgen G ??*
2.7.2 *ontusio *ere5ri ,memar ota%-
*angguan fungsi otak traumatik yang disertai kelainan patologis yang
nyata pada jaringan otak
"atofisiologi
"roses patologi intrakranial pasca trauma terdapat berbagai tingkatan, mulai
dari perdarahan ringan sampai destruksi jaringan otak yang berat yang disusul
dengan kematian. 3aktor yang bertanggung jawab terhadap proses patologi tsb
adalah (
1 Kompresi yang mengakibarkan perubahan tekanan di dalam ruang tengkorak
1 Tension yang menimbulkan pergeseran )proses akselerasi dan deselerasi- isi
tengkorak dg akibat (
+edera aksonal difus
+edera polaris yang menyebabkan laserasi otak
"utusnya bridging %eins
1 ,hear, menyebabkan distorsi mendadak sehingga banyak pembuluh darah dan
saraf yang rusak.
"roses patologi ini bila tidak teratasi akan segera disusul dg terbentuknya edema
otak yang makin lama makin hebat, meningkatnya tekanan intrakranial dan
herniasi.
2entuk Klinik
,ecara klinis dapat dijumpai 4 bentuk (
+ontusio ringan
1!
+ontusio sedang
+ontusio berat, bahkan pada keadaan yg sangat berat dapat segera diakhiri
dengan kematian.
Diagnosa
.iwayat trauma kepala
8ilang kesadaran C 49 menit, dapat beberapa jam, hari, minggu, tergantung
derajat berat trauma
Keluhan subjektif )D-
Disertai amnesia, biasanya C 1 hari dan pada keadaan yang sangat hebat dapat
C > hari.
Dijumpai defisit neurologis, berupa refleks patologis )D- ( 2abinski atau
+hadock, kelumpuhan dan lesi saraf otak. "ada keadaan yang sangat berat
dimana edema otak sudah demikian hebat disertai meningkatnya tekanan
intrakranial maka akan didapatkan gejala:deserebrasi dan gangguan fungsi
%ital dengan prognosa infaust.
"emeriksaan "enunjang
O 0+, mengandung darah:Fanthochrom
O ??* abnormal. 5ulamula tampak akti%itas gelombang delta difus, kemudian
gelombang tsb terlokalisir di area contusio. "ada kasus yang berat ??*
abnormal ini dapat menetap sampai beberapa bulan, jadi perlu serial ??*
O .ontgen kepala sering dijumpai fraktur kranii
O +Tscan otak dapat dilihat adanya edema otak:perdarahan
Tata 0aksana
"rinsip ditujukan terhadap 1 hal yaitu efek primer dan sekunder. Tujuannya untuk
mencegah:mengatasi edema otak, menurunkan tekanan intrakranial serta
15
memperbaiki aliran darah ke otak sehingga otak terlindungi dari kerusakan lebih
lanjut dan proses penyembuhan dipercepat.
1 "erawatan
2ed rest total, dan lamanya tergantung keadaan klinis. 2ila keadaan
membaik, mobilisasi berangsur. "erawatan juga dilakukan terhadap
luka:fraktur yang ada. ,elama perawatan perhatian ditujukan pada (
- ,istem kardio%askuler
"engawasan sedini mungkin terhadap gangguan sirkulasi seperti tensi dan
nadi.
- ,istem respirasi
5enjamin jalan nafas yang lancar dan faal paru yang optimal (
0etakkan posisi penderita dalam keadaan terlentang atau miring
bergantian dengan kepala menoleh ke samping dengan sedikit ekstensi
sekitar 1949K
"emberian oksigen
Isap lendir, kalau perlu pasang pipa endotracheal atau tracheotomi.
- "emberian cairan dan elektrolit
5enjaga keseimbangan cairan elektrolit.
2iasanya pemberian cairan 14 hari pertama dibatasi 1599 cc serta
disesuaikan dengan keadaan jantung dan suhu. =ika febris maka
kenaikan 1K, jumlah cairan ditambah 1115L
+airan yang diberikan dapat berupa glukosa 5L dan <a+l 9,AL
dengan perbandingan 4(1
- <utrisi
1;
+ukup kalori. =umlah makanan harus disesuaikan dengan cairan, elektrolit
dan kalori yang dibutuhkan, diperhitungkan bersamasama dengan cairan
infus
- Infeksi
"erhatikan kemungkinan infeksi sekunder
1 5edikamentosa
- Terapi steroid
'ntuk mencegah:mengatasi edema otak diberikan kortikosteroid kuur,
yaitu deksametaJon parenteral
5ulamula 19 mg IH tiap ! jam
,elanjutnya
hari II ( 5 mg tiap ; jam
hari III ( 5 mg tiap @ jam
hari IH ( 5 mg tiap 11 jam
hari H ( 5 mg tiap 1! jam
- "emberian transIuiliJer )bila perlu- G analgetik harus hatihati beri yg
ringan saja. =angan lebih kuat dari parasetamol
- Terapi osmotik
'ntuk efek dehidrasi serebral, dapat diberikan
5anitol 19L, dapat diulang sesuai kebutuhan
*liserol 19L dalam larutan <a+l 9,AL
- Terapi diuretika
'ntuk menekan produksi 0+, dapat diberikan furosemide atau
asetoJolamide, tetapi dpt mengganggu keseimbangan asambasa dan
elektrolit
- Terapi homeostatistika
1>
'ntuk mengatasi:mencegah perdarahan lebih lanjut dapat diberikan
karbosokrom sodium sulfonat )adona /+ 1>-, asam traneksamat
- Terapi simptomatik
2ila febris, dikompres
5untah dapat diberikan sulfas atropine 9,15 mg subcutan
Kejang:sangat gelisah diberikan diaJepam IH
- Terapi profilaksis thdp infeksi
/ntibiotika ( ampisilin:amoksisilin, tetrasiklin
/T, profilaksis
- <eurotropik %itamin dan encephalotropics drugs
Hit. 21, 2;, 211, ? tablet
"yritinol 8+l tab:sirup, cutucholine )nicholin-
1 Terapi ,uportif
"sikoterapi diberikan pada penderita sadar.
Komplikasi
/kibat lanjut benturan, bila tidak segera diobati akan menimbulkan edema serebri
bertambah hebat, tekanan intrakranial meningkat dg akibat terjadinya herniasi
dan disusul dg kematian penderita.
"rognosa
Tergantung beratringan trauma
^ ,embuh sempurna
^ 5eninggal dunia akibat kerusakan otak difus dan permanen
^ 5emberikan gejala sisa, baik gejala neurofisik atau neuropsikologik
^ =arang menimbulkan sindroma serebral post traumatik
1@
2.7.3 Hematome Epi&ura!
8ematom yang terbentuk karena perdarahan yg terjadi antara tulang
tengkorak )tabula interna- dan duramater )duramater meningealis-, waktunya lebih
singkat ) 4 jam- dibanding hematom subdural.
"atofisiologi
"erdarahan di sini paling sering disebabkan pecahnya a.meningea media
akibat trauma kepala area temporoparietal yg biasanya disertai fraktur linier
horiJontal. "erdarahan tsb berlangsung cepat sekali sehingga defisit neurologis yg
timbul sangat progresif dan bila tidak teratasi maka penderita akan meninggal
akibat herniasi.
Diagnosa
.iwayat trauma kepala
,etelah trauma didapat suatu periode bebas gejala yg disebut lucid inter%al,
beberapa jam:hari )tidak lebih dari 4 hari-
0alu disusul dg penurunan kesadaran dan timbul gejala fokal serebral
progresif:gejala lateralisasi spt papil anisokor )midriasis homolateral-, kejang,
defisit neurologis spt hemipharese kontralateral dan refleks patologis )D-
Dilanjutkan dg peninggian tekanan intrakranial dg tandatanda ( cephalgia,
mual, muntah, pharese n.HI dupleks, papil edema.
"emeriksaan "enunjang
O 0+, jernih dg tekanan meninggi
O ??* normal, tampak perlambatan fokal sampai difus
O .ontgen kepala sering ditemui fraktur linier pada sisi hematom
O /rteriografi karotis terlihat hematom berupa area a%askuler berbentuk
kon%eks:semilunair:bulan sabit antara jaringan otak dan tulang kranium
O +tscan otak tampak hematom berupa area hiperdens
1A
Tata 0aksana
2egitu diagnosa ditegakkan segera kirim ke bagian bedah syaraf untuk
tindakan operatif segera.
Komplikasi
2ila tidak segera dioperasi, edema serebri akan bertambah hebat, tekanan
intrakranial makin meningkat. ,elanjutnya terjadi herniasi yg disusul dg kematian
penderita.
"rognosa
5ortalitas hampir 199L dan lebih dari 59L pada kasus yg diobati
disebabkan keterlambatan dlm menegakkan diagnosa dan sebagian lagi memang
karena beratnya kerusakan jaringan otak yg terjadi.
2.7.# Hematome Su5&ura!
8ematom yang terbentuk karena perdarahan yg terjadi antara duramater
dan arakhnoid )di dalam ruang sub arakhnoid-, waktunya lebih panjang jd msh
ada wkt untuk pengobatan:operasi.
"atofisiologi
8ematom terbentuk secara perlahanlahan bahkan dapat lama disebabkan
robeknya bridging %eins )%ena- akibat trauma kepala terutama daerah
frontoparietal, yg bisa meluas ke daerah temporal atau oksipital. *ejala klinik
timbul bila hematom cukup besar dan telah mengadakan pendesakan thdp otak.
2entuk Klinik
8ematom subdural akut )lucid inter%al 14 hari-
19
8ematom subdural subakut )lucid inter%al 11 minggu-
8ematom subdural kronis )lucid inter%al C 1 minggu-
Diagnosa
5irip dengan epidural. 2edanya perjalanan penyakitnya lebih lama, dapat
beberapa hari, minggu, bulan atau lebih lama lagi.
"emeriksaan "enunjang
O 0+, jernih dg tekanan meninggi mengandung darah:Fantochrom
O ??* abnormal, tampak perlambatan fokal sampai difus
O .ontgen kepala adanya pergeseran dari glandula "incalis
O /rteriografi karotis terlihat hematom berupa area a%askuler berbentuk
bikon%eks antara jaringan otak dan tulang kranium
Komplikasi
=ika diagnosa dapat segera ditegakkan dan tindakan operatif cepat dilakukan maka
komplikasi tidak akan terjadi.
"rognosa
^ 8ematom subdural akut ( mortalitas A9L
^ 8ematom subdural subakut ( mortalitas 19L dan kasus post operatif >5L
sembuh dengan baik
^ 8ematom subdural kronis ( biasanya post operatif bisa sembuh dengan baik
2.7.' Per&ara1an Su5ara%1noi&
"erdarahan ruang subarakhnoid yg terjadi karena (
"ecahnya pembuluh darah di daerah subarakhnoid
"ecahnya pembuluh darah di luar subarakhnoid yg kemudian mengisi ruang
subarakhnoid, mis ( contusio cerebri, perdarahan intraserebral.
11
?tiologi
<on traumatik
,pontan, akibat pecahnya aneurisma. Disebut perdarahan subarakhnoid
primer.
Traumatik
/kibat trauma kepala. Disebut perdarahan subarakhnoid sekunder.
"atofisiologi
"erdarahan yg mengisi ruang subarakhnoid akan mengiritasi selaput otak.
,edangkan pembuluh darah yang pecah akan menimbulkan daerah bagian
distalnya mengalami iskemik atau infark sehingga dijumpai defisit neurologis.
Diagnosa
*ejala dijumpai dari tingkat yg paling ringan sampai yang paling berat,
tergantung beratnya perdarahan yang terjadi.
Dimulai dengan keluhan sakit kepala ringan yang makin lama makin hebat
Kemudian disertai Tanda .angsang 5eningeal )T.5- ( kaku kuduk, kernig
sign )D-
,elanjutnya pada keadaan berat akan dijumpai (
*angguan kesadaran sampai koma
Defisit neurologis ( hemipharese, refleks patologis
Kejang ( rigiditas deserebrasi, gangguan pernapasan dan dilatasi pupil
"emeriksaan "enunjang
0+, mengandung darah:Fanthochrom
11
Tata 0aksana
1 "erawatan
2ed rest total
1 5edikamentosa
- 8emostatistika ( karbosokrom <asulfonat )adona /+-, asam treksamat
- 5etabolic acti%ator ( citicholine )nicholin-, pyritinol mesylate )hidrogin-
- <eurotonika ( %it. 21, 2;, 211, ? tab:injeksi
1 3isioterapi
2ila ada gejala sisa neurofisik spt hemipharese dpt dilakukan fisioterapi
"rognosa
"ada bentuk ringan, prognosa lebih baik daripada bentuk yang berat.
2ahkan pada bentuk yg berat sekali dapat menyebabkan kematian.
2.7.7 ra%tur *ranii
"embagian klinik
1. 3raktur cranii tertutup
a. 3raktur linier
b. 3raktur multiple
c. 3raktur impresi
Tanpa defisit neurologis
Dengan defisit neurologis
Tindakan operatif hanya pada fraktur impresi yg disertai defisit
neurologis, selebihnya hanya konser%atif.
1. 3raktur +ranii terbuka
a. ,egera kirim ke bagian bedah syaraf untuk tindakan operatif, kecuali
fraktur basis cranii sebagian besar dilakukan tindakan konser%atif.
14
2.7.8 ra%tur Basis *ranii
3raktur cranii terbuka:komplikata yg terjadi di dasar tengkorak
Diagnosa
.iwayat trauma kepala
Keluhan subjektif )D-
*ejala akibat fraktur tergantung lokalisasi, bisa di fossa cranii anterior atau
media.
*ejala penyerta ( comosio cerebri, contusio cerebri, hematome epidural atau
subdural
8ilang kesadaran D: bila )D- fraktur basis bersamasama combusio atau
contusio, tergantung kesadaran, bila )- fraktur basis murni tapi jarang
Khas (
"erdarahan:likwore dari hidung, mulut dan telinga. "ada telinga kadang
disertai cairan. Tulis serincirincinya telinga berdarah, lihat apa daun
telinganya robek, bila iya bukan fraktur basis. 2ila mulut berdarah krn ada
gigi yg lepas, juga bukan fraktur basis.
8ematom tgt letak kerusakan di fossa mana.
Kebiruan di sekitar kelopak mata )monocele hematome ( untuk satu mata &
Brill hematome ( untuk dua mata-
*ejala lesi nn.craniales )lesi n.IMMII hampir tdk pernah dijumpai-
.efleks 2abinski )D-
Defisit neurologis )-
Kelainan neurologis tergantung tempat fraktur, bisa terjadi gangguan
penciuman atau pendengaran periksa nn. craniales
Kebiruan di belakang telinga Battle sign
"emeriksaan "enunjang
O 0+, bercampur darah
O ??* sesuai dg jenis trauma kapitis penyertanya
1!
O .ontgen ;9L tdk terlihat karena daerah basis yang kompleks
Tata 0aksana
1 "erawatan
- 2ed rest total, kepala ditahan dg bantal pasir dg posisi perdarahan:likwore
di sebelah atas
- "erawatan thdp perdarahan:likwore, jika perlu konsul ke T8T
1 5edikamentosa
- 8emostatistika ( karbosokrom <asulfonat )adona /+-, asam treksamat
- /ntibiotik adekuat diberikan guna menghadapi ancaman komplikasi
meningitis ( ampisilin, amoksisilin. 8arus diberikan antibiotik dosis tinggi
karena pada fraktur basis terdapat celah yang memungkinkan terjadi
infeksi.
- =ika dengan contusio beri KI.
- 7batobat yg ditujukan untuk gejala penyerta
Komplikasi
Karena fraktur terbuka komplikasi yg srg terjadi meningitis.
"rognosa
Tergantung beratringannya fraktur yg terjadi dan jenis trauma kapitis penyerta.
^ ,embuh sempurna
5eninggalkan gejala sisa berupa lesi nn.+raniales dan sindroma cerebral post
traumatika.
/0*7.IT5? T./'5/ K?"/0/
19
15
2.8 Pemeri%saan penun9an"
7.:.12
1. oto /ont"en po!os
"ada trauma kapitis perlu dibuat foto rontgen kepala dan kolumna
%ertebralis ser%ikalis. 3ilm diletakkan pada sisi lesi akibat benturan. 2ila lesi
terdapat di daerah oksipital, buatkan foto anteriorposterior dan bila lesi pada
kulit terdapat di daerah frontal buatkan foto posterioranterior. 2ila lesi
terdapat pada daerah temporal, pariental atau frontal lateral kiri, film
diletakkan pada sisi kiri dan dibuat foto lateral dari kanan ke kiri. Kalau
diduga ada fraktur basis kranii, maka dibuatkan foto basis kranii dengan
kepala menggantung dan sinar rontgen terarah tegak lurus pada garis antar
angulus mandibularis )tulang rahang bawah-. 3oto kolumna %ertebralis
ser%ikalis dibuat anteriorposterior dan lateral untuk melihat adanya fraktur
atau dislokasi. "ada foto polos tengkorak mungkin dapat ditemukan garis
fraktur atau fraktur impresi. Tekanan intrakranial yang tinggi mungkin
menimbulkan impressions digitae.
2. *ompute Tomo"rafi% S+an ,*T3S+an-
1;
+T,can diciptakan oleh 8ounsfield dan /mbrose pada tahun 1A>1.
Dengan pemeriksaan ini kita dapat melihat ke dalam rongga tengkorak.
"otonganpotongan melintang tengkorak bersama isinya tergambar dalam foto
dengan jelas.!4 Indikasi pemeriksaan +T,can pada penderita trauma kapitis (
c.1. *+, E 15 atau terdapat penurunan kesadaran c.1. Trauma kapitis ringan
yang disertai dengan fraktur tulang tengkorak c.4. /danya tanda klinis fraktur
basis kranii c.!. /danya kejang c.5. /danya tanda neurologis fokal c.;. ,akit
kepala yang menetap.
3. $/I ,$a"neti+ /esonan+e Ima"in"-
5.I dapat memberikan foto berbagai kelainan parenkim otak dengan
lebih jelas.
2eberapa keuntungan 5.I dibandingkan dengan +T,can yaitu ( lebih
baik dalam menilai cedera subakut, termasuk kontusio, shearing injury, dan
sub dural hematoma, lebih baik dalam menilai dan melokalisir luasnya
kontusio dan hematoma secara lebih akurat karena mampu melakukan
pencitraan dari beberapa posisi, dan lebih baik dalam pencitraan cedera batang
otak. ,edangkan kerugian 5.I dibandingkan dengan +T,can yaitu(
membutuhkan waktu pemeriksaan lama sehingga membutuhkan alat
monitoring khusus pada pasien trauma kapitis berat, kurang sensitif dalam
menilai perdarahan akut, kurang baik dalam penilaian fraktur, perdarahan
subarachnoid dan pneumosefalus minimal dapat terlewatkan.
1>
BAB III
KESI$PULAN
Trauma kepala bisa menyebabkan kematian tetapi juga penderita bisa
mengalami penyembuhan total. =enis dan beratnya kelainan tergantung kepada
lokasi dan beratnya kerusakan otak yang terjadi.
Terjadinya trauma kepala, kerusakan dapat terjadi dalam dua tahap, yaitu
cedera primer yang merupakan akibat yang langsung dari ruda paksa dan cedera
sekunder yang terjadi akibat berbagai proses patologis yang timbul sebagai tahp
lanjutan dari kerusakan otak primer.
Kerusakan otak seringkali menyebabkan kelainan fungsi yang menetap,
yang ber%ariasi tergantung kepada kerusakan yang terjadi, apakah terbatas
)terlokalisir- atau lebih menyebar )difus-. Kelainan fungsi juga tergantung kepada
bagian otak mana yang terkena.
*ejala yang terlokalisir bisa merupakan perubahan dalam gerakan, sensasi,
berbicara, penglihatan, dan pendengaran. 2erbagai fungsi otal dapat dijalankan
ole beberapa area, sehingga area yang tidak mengalami kerusakan bisa
menggantikan fungsi dari area lainnya yang mengalami kerusakan.
1@
DATA/ PUSTAKA
1. 'tama, 8erry ,6, Diagnosis and Treatment of 8ead
Injury. )www.herryyudha.com:1911:9>:ciderakepaladiagnosadan.html-
1. /merican +ollage of ,urgeons, /d%ance Trauma 0ife
,uport 3or Doctors, >th ?dition. 'nited ,tates of /merica, 199!.
4. <etter 38, 5achado +/. /tlas of 8uman /natomy.
Hersion 4. Icon 0earning ,ystem 00+, 1994.
!. +husid, Neuroanatomi Korelatif dan Neurology
Fungsional, bagian dua. *ajah 5ada 'ni%ersity "ress, 199!.
5. <arayan .K, Nilberger =?, "o%lishock =T )eds-(
<eurotrauma. <ew 6ork, 5c*raw8ill, 199!.
;. *unawan, 2illy Indra, Trauma Kepala dalam
<eurologi II. 3akultas Kedokteran 'ni%ersitas ,riwijaya, "alembang.
>. 8arsono, Kapita Selekta Neurologi, edisi kedua. *ajah
5ada 'ni%ersity "ress, 1994.
1A
@. Iskandar =, Cedera Kepala, "T Dhiana "opuler.
Kelompok *ramedia, =akarta, 199>.
A. ,idharta ", 5ardjono 5, Neurologi Klinis Dasar,
Dian .akyat, =akarta, 1995.
19. 2ajamal /8. Perawatan Cidera Kepala Pra Dan
Intra umah Sakit. In ( "endidikan Kedokteran 2erkelanjutan Ilmu 2edah
,araf. 1995
49