Anda di halaman 1dari 19

KERANGKA KONSEPTUAL DAN PELAPORAN KEUANGAN, MANAJEMEN

LABA, KONSEKUENSI EKONOMIS LAPORAN KEUANGAN



PENDAHULUAN

Tujuan pelaporan keuangan diarahkan untuk memberikan informasi yang berguna
untuk mengambil keputusan-keputusan bisnis. Peran standar akuntansi (seperti SAK) menjadi
sangat penting supaya manajemen suatu badan usaha dapat menghasilkan informasi yang
berkualitas. Financial Accounting Standard Board (FASB) juga mengakui bahwa tujuan
pelaporan keuangan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, hukum, politik, lingkungan
sosial, karakteristik dan keterbatasan jenis informasi yang bisa disediakan oleh laporan
keuangan.
Terdapat fenomena manajemen laba (earnings management) dalam pelaporan
keuangan suatu badan usaha. Fenomena ini muncul karena standar-standar yang ditetapkan
regulator secara tidak langsung masih memberikan kesempatan kepada manajemen untuk
melakukan pilihan standar agar perlakuan akuntansi yaitu pengakuan dan pengukuran sesuai
dengan yang mereka inginkan. Salah satu prinsip akuntansi yang sangat bermanfaat dalam
menghasilkan informasi yang berkualitas yaitu prinsip akrual justru mengandung kelemahan,
yaitu memberikan peluang kepada manajemen untuk melakukan manajemen laba.
Terdapat beberapa pendapat tentang manajemen laba. Yang pertama, manajemen laba
terjadi ketika eksekutif suatu badan usaha menggunakan kebijakan dalam menyusun laporan
keuangan dan membentuk transaksi untuk mengubah laporan keuangan. Tujuannya adalah
memanipulasi besaran laba yang dilaporkan kepada para pemegang saham dan
mempengaruhi hasil perjanjian yang bergantung pada angka- angka akuntansi yang
dilaporkan. Kedua, memandang earnings management sebagai serangkaian langkah yang
dilakukan manajer untuk meningkatkan atau menurunkan jumlah laba yang dilaporkan dalam
tahun berjalan yang merupakan tanggung jawabnya tanpa menyebabkan penurunan atau
peningkatan keuntungan yang dicapai suatu badan usaha dalam jangka panjang. Pandangan
ini tidak saja terbatas pada perilaku manajer tetapi lebih luas yaitu mencakup seluruh
tindakan yang dilakukan manajemen dalam mengelola earnings, yang meliputi pemilihan
kebijakan akuntansi serta keputusan operasi perusahaan. Yang ketiga, menyatakan bahwa
salah satu motivasi manajemen laba adalah mengelabui kinerja ekonomi yang sebenarnya,
dan itu dapat terjadi karena terdapat ketidaksimetrian informasi antara manajemen dan para
pemegang saham suatu badan usaha. Motivasi manajemen laba lainnya adalah mempengaruhi
penghasilan (telah diatur dalam kontrak) yang bergantung pada angka-angka akuntansi yang
dilaporkan dengan asumsi bahwa manajemen memiliki kepentingan pribadi dan
kompensasinya didasarkan pada laba akuntansi. Adanya hubungan antara manajemen laba
dengan pemilihan metode akuntansi, maka manajemen laba dapat diartikan sebagai perilaku
manajer untuk bermain dengan komponen akrual diskresioner dalam menentukan besarnya
laba perusahaan.

I. KERANGKA KONSEPTUAL DAN PELAPORAN KEUANGAN
Kerangka kerja konseptual (conceptual framework) didefinisikan oleh FASB sebagai :
a coherent system of interrelated objectives and fundamentals that is expected to lead to
consistent standards and that prescribes the nature, function, and limits of financial
accounting and reporting.
Kerangka kerja konseptual (conceptual framework) adalah suatu sistem koheren yang terdiri
dari tujuan dan konsep fundamental yang saling berhubungan, yang menjadi landasan bagi
penetapan standar yang konsisten dan penentuan sifat, fungsi, serta batas- batas dari
akuntansi keuangan dan laporan keuangan
Yang dimaksud tujuan adalah tujuan pelaporan keuangan. Sedangkan fundamentals (kaidah-
kaidah pokok) adalah konsep-konsep yang mendasarai akuntansi keuangan, yakni yang
menuntun kepada pemilihan transaksi, kejadian, dan keadaan-keadaan yang harus
dipertanggungjawabkan, pengakuan dan pengukurannya, cara meringkas serta
mengkomunikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Konsep-konsep yang bersifat pokok atau fundamental, artinya bahwa konsep-konsep lainnya
mengalir dari konsep-konsep pokok tersebut yang diperlukan sebagai referensi berulang-
ulang dalam menetapkan, menafsirkan, dan menetapkan standar akuntansi keuangan dan
pelaporan.
Kebutuhan akan Kerangka Kerja Konseptual
1. Kerangka kerja konseptual akan meningkatkan pemahaman dan keyakinan pemakai
laporan keuangan atas pelaporan keuangan, dan akan menaikkan komparabilitas antar
laporan keuangan perusahaan.
2. Masalah-masalah yang baru akan dapat dipecahkan secara cepat jika mengacu pada
kerangka teori yang telah ada
Kerangka dasar ini merumuskan konsep yang mendasari penyusunan dan penyajian laporan
keuangan bagi para pemakai eksternal. Tujuan kerangka dasar ini adalah untuk digunakan
sebagai acuan bagi:
a. komite penyusun standar akuntansi keuangan, dalam pelaksanaan tugasnya;
b. penyusun laporan keuangan, untuk menanggulangi masalah akuntansi yang belum
diatur dalam standar akuntansi keuangan;
c. auditor, dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan disusun
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum; dan
d. para pemakai laporan keuangan, dalam menafsirkan informasi yang disajikan dalam
laporan keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansikeuangan.

Kerangka dasar ini membahas laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose
financial statements, yang selanjutnya hanya disebut "laporan keuangan"), termasuk laporan
keuangan konsolidasi. Laporan keuangan disusun dan disajikan sekurang- kurangnya setahun
sekali untuk memenuhi kebutuhan sejumlah besar pemakai. Beberapa di antara pemakai ini
memerlukan dan berhak untuk memperoleh informasi tambahan di samping yang tercakup
dalam laporan keuangan. Namun dem ikian, banyak pemakai sangat tergantung pada laporan
keuangan sebagai sumber utama informasi keuangan dan karena itu laporan keuangan
tersebut seharusnya disusun dan disajikan dengan mempertimbangkan kebutuhan mereka.
Laporan keuangan dengan tujuan khusus seperti prospektus, dan perhitungan yang dilakukan
untuk tujuan perpajakan tidak termasuk dalam kerangka dasar ini.
Kerangka dasar ini berlaku untuk laporan keuangan untuk semua jenis perusahaan
komersial, baik sektor publik maupun sektor swasta. Perusahaan pelapor adalah perusahaan
yang laporan keuangannya digunakan oleh pemakai yang mengandalkan laporan keuangan
tersebut sebagai sumber utama informasi keuangan perusahaan.
Struktur kerangka konseptual sama dengan struktur teori akuntansi yang didasarkan
pada proses penalaran logis. Yang dapat digambarkan dalam bentuk hierarki yang memiliki
beberapa tingkatan sebagai beikut:
1. Pada tingkatan teori tertinggi
Dalam kerangka konseptual menyatakan ruang lingkup dan tujuan pelaporan
keuangan
2. Pada tingkatan selanjutnya
Mendefinisikan dan mengidentifikasikan karakterisitik kualitatif dari informasi
keuangan dalam elemen laporan keuangan
3. Pada tingkat operasional yang lebih rendah
Berkaitan dengan prinsip-prinsip dan peraturan-peraturan tentang pengukuran dan
elemen laporan keuangan
Kerangka konseptual memiliki manfaat yang sangat besar bagi pemakainnya. Manfaat
dari kerangka konseptual antara lain adalah untuk membangun dan menghubungkan badan
pembuat konsep dengan tujuannya, menyediakan kerangka kerja untuk memecahkan
masalah-masalah praktis baru yang muncul (masalah yang belum ada standarnya),
meningkatkan pemahaman dan keyakinan pemakai laporan keuangan tentang pelaporan
keuangan, dan menaikkan daya banding laporan keuangan antar perusahaan.
Tujuan laporan keuangan adalah:
1. Menyediakan informasi keuangan bagi para pengguna dalam pengambilan keputusan
2. Untuk membantu investor dan kreditor potensial, serta pengguna lain dalam menilai
jumlah, waktu dan ketidakpastian arus kas masa depan.
Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan informasi keuangan yang disusun dan disajikan
sekurang-kurangnya setahun sekali untuk memenuhi kebutuhan sejumlah besar pemakai.
Laporan keuangan juga digunakan sebagai sumber utama informasi keuangan dank arena itu
laporan keuangan tersebut seharusnya disusun dan disajikan dengan mempertimbangkan
kebutuhan para pemakai.
Laporan keuangan merupakan salah satu proses dari pelaporan keuangan, dimana
laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan
perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya, sebagai
laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan
yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Perusahan pelapor adalah perusahaan
yang laporan keuangannya digunakan oleh pemakai yang mengandalkan laporan keuangan
tersebut sebagai sumber utama informasi keuangan perusahaan.
Pemakai dan Kebutuhan Informasi Laporan keuangan digunakan oleh pemakai yang
berbeda-beda, meliputi investor, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditor usaha,
pelaggan, pemerintah serta lembaga-lembaganya, dan masyarakat. Beberapa kebutuhannya,
meliputi :
a. Investor.
Informasi keuangan digunakan untuk membantu mereka menentukan apakah harus
membeli, menahan atau menjual investasi tersebut. Perusahaan juga tertarik pada informasi
yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar dividen
b. Karyawan.
Informasi keuangan digunakan untuk melihat stabilitas dan profitabilitas perusahaan,
serta untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, manfaat pensiun,
dan kesempatan kerja.
c. Pemberi Pinjaman.
Tertarik pada informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan
apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar saat jatuh tempo.
d. Pemasok dan kreditor lainnya.
Tertarik pada informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan
apakah jumlah yang terhutang akan dibayar saat jatuh tempo. Kreditor usaha berkepentingan
pada perusahaan dalam tenggang waktu yang lebih pendek daripada pemberi pinjaman
kecuali kalau sebagai pelanggan utama meraka tergantung pada kelangsungan hidup
perusahaan.
e. Pelanggan.
Berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup perusahaan,
terutama apabila mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan, atau tergantung
pada perusahaan.
f. Pemerintah.
Berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan karena itu berkepentingan dengan
aktivitas perusahaan dan untuk mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan kebijakan pajak
dan sebagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya.
g. Masyarakat.
Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan informasi
kecenderungan (trend) dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan serta rangkaian
aktivitasnya.

Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan dari laporan keuangan yakni menyediakan informasi yang berhubungan
dengan posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang
dapat bermanfaat begi pengguna laporan tersebut sebagai pengambilan keputusan di masa
yang akan datang. Laporan keuangan juga memperlihatkan bagaimana pertanggungjawaban
manajemen atas sumber daya yang telah dipercayakan kepada mereka sehingga mereka dapat
membuat keputusan ekonomi.
Asumsi Dasar
Acrual Basic (Dasar Aktual)
Dengan acrual basic ini, pengaruh transaksi diakui pada saat kejadian (bukan pada saat kas
diterima atau dibayar) dan dicatat dalam catatan akuntansi dan dilaporkan pada laporan
akuntansi periode bersangkutan.
Going Concern (Kelangsungan hidup)
Laporan keuangan disusun atas dasar asumsi bahwa perusahaan tersebut dapat
melanjutkan usahanya di masa yang akan datang. Oleh sebab itu perusahaan diasumsikan
tidak bermaksud mengurangi secara material skala uasahanya. Jika perusahaan tersebut akan
mengurangi skala usahanya, maka laporan keuangan mungkin harus disusun dengan dasar
yang berbeda dan dasar yang digunakan harus diuangkapkan.

Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan
Karakteristik kualitatif laporan keuangan menjadi ciri dari laporan keuangan agar dapat
dimengerti oleh pemakai laporan keuangan. Karakteristik Kuantitatif laporan keuangan terdiri
dari Understanding, Relevance, Reliability, dan Comparability.
Understanding (Dapat Dipahami)
Hal penting yang harus diperhatikan dalam menyusun laporan keuangan adalah
kemudahannya dipahami oleh pengguna laporan tersebut. Di mana pengguna laporan
keuangan tersebut diasumsikan menpunyai pengetahuan yang memadai mengenai aktivitas,
ekonomi, bisnis, dan akuntansi.
Relevance
Laporan keuangan yang disajikan bermanfaat ketika informasi tersebut mempunyai
relevansi dalam penngambilan keputusan dari pengguna laporan keuangan tersebut. Informasi
keuangan yang lalu biasanya sering digunakan dalam memprediksi posisi keuangan di masa
depan.
Reliability (Keandalan)
Suatu informasi keuangan yang dianggap reliable atau dikatakan andal ketika laporan
keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan
pemakainya sebagai penyajian yang tulus atau jujur (faithful representation).
Comparability (Dapat Dibandingkan)
Informasi tentang sebuah laporan keuangan akan lebih bermanfaat ketika dapat
diperbandingkan dengan informasi yang serupa menyangkut perusahaan lain. Sehingga
pengguna dapat membandingkan laporan keuangannya dengan laporan keuangan perusahaan
lain secara konsisten.
Consitence (Konsisten)
Apabila sebuah entitas mengaplikasikan perlakuan akuntansi yang sama untuk kejadian yang
serupa, dari periode ke periode, maka entitas tersebut dikatakan konsisten dalam
menggunakan standar akuntansi.
Unsur Laporan Keuangan
Posisi Keuangan
Aktiva, merupakan manfaat ekonomi yang diharapkan oleh perusahaan sebagai hasil dari
transaksi kejadian-kejadian masa lalu.
Kewajiban, merupakan utang perusahaan yang ditimbulkan dari peristiwa atau transaksi
masa lalu.
Aktiva Bersih, merupakan nilai residu atas aktiva perusahaan setelah dikurang dengan
kewajiban.
Kinerja (Laba Rugi)
Penghasilan, merupakan penambahan atau pemasukan aktiva atau penurunan kewajiban
yang menyebabkan kenaikan ekuitas yang berasal dari operasi utama perusahaan dan bukan
berasal dari pemilik.
Beban, merupakan penurunan aktiva atau penambahan kewajiban yang menyebabkan
penurunan ekuitas yang berasal dari operasi utama perusahaan dan bukan dari pembagian
kepada penanaman modal.

Pengukuran Unsur Laporan Keuangan
a. Historical Cost (Biaya Historis)
Aktiva dicatat sebesar pengeluaran kas atau setara dengan kas yang dibayar atau sebesar
nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aktiva tersebut pada saat
perolehan.dan kewajiban dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai penukar dari
kewajiban.
b. Current Cost (Biaya Kini)
Aktiva dinilai dalam jumlah kas atau setara dengan kas yang seharusnya dibayar bila
aktiva yang sama atau setara aktiva diperoleh sekarang. Kewajiban dinyatakan dalam jumlah
kas (atau setara kas) yang tidak didiskontokan yang mungkin akan diperlukan untuk
menyelesaikan kewajiban sekarang.
c. Realisable / Settlement Value (Nilai Realisasi / Penyelesaian)
Aktiva dinyatakan dalam jumlah kas atau setara dengan kas yang dapat diperoleh sekarang
dengan menjual aktiva dalam pelepasan normal dan kewajiban dinyatakan sebesar nilai
penyelesaian; yaitu, jumlah kas atau setara dengan kas yang tidak didiskontokan yang
diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal.
d. Present value (Nilai Sekarang)
Aktiva dinyatakan sebesar arus kas masuk bersih di masa depan yang didiskontokan ke
nilai sekarang dari pos yang diharapkan dapat memberikan hasil dalam pelaksanaan usaha
normaldan kewajiban dinyatakan sebesar arus kas keluar bersih di masa depan yang
didiskontokan ke nilai sekarang yang diharapkan akan diperlukan untuk menyelesaikan
kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal.
e. Revenue Recognition (Pengakuan Pendapatan)
Pendapatan dapat diakui pada saat pendapatan tersebut (1) Telah direalisasi atau dapat
direalisasi, dan (2) telah dihasilkan.
f. Matching Concept (Konsep Penandinagan)
Expenses (beban) ditandingkan dengan Revenue (pendapatan), karena pendapatan dapat
diperoleh karena adanya beban yang telah dikorbankan.


II. MANAJEMEN LABA
Scott (2006) mendefinisikan manajemen laba sebagai suatu cara penyajian laba yang
bertujuan untuk memaksimalkan utilitas manajemen dan atau meningkatkan nilai pasar
melalui pemilihan set kebijakan prosedur akuntansi oleh manajemen. Terdapat dua cara
pandang dalam memahami manajemen laba yang dilakukan manajer perusahaan: pertama,
bertujuan untuk memaksimalkan utilitas manajemen (opportunistic behavior). Kedua,
bertujuan untuk memberikan keuntungan kepada semua pihak yang terkait dalam kontrak
(efficient contracting).
Manajemen laba sebagai suatu proses mengambil langkah yang disengaja dalam batas
prinsip akuntansi yang berterima umum baik didalam maupun diluar batas General Accepted
Accounting Princisp (GAAP).
Pengertian lain tentang manajemen laba :
Manajemen laba merupakan suatu intervensi dengan tujuan tertentu dalam proses
pelaporan keuangan eksternal, untuk memperoleh beberapa keuntungan privat (sebagai
lawan untuk memudahkan operasi yang netral dari proses tersebut). Manajemen laba
adalah suatu proses yang dilakukan dengan sengaja dalam batasan General Addopted
Accounting Principles (GAAP) untuk mengarah pada tingkatan laba yang dilaporkan.
Manajemen laba adalah tindakan manajer yang menaikkan (menurunkan) laba yang
dilaporkan dari unit yang menjadi tanggung jawabnya yang tidak mempunyai hubungan
dengan kenaikan atau penurunan profitabilitas perusahaan dalam jangka panjang.
Manajemen laba terjadi ketika manajer menggunakan judgement dalam laporan keuangan
dan penyusunan transaksi untuk mengubah l aporan keuangan, sehingga menyesatkan
stakeholders tentang kinerja ekonomi perusahaan atau untuk mempengaruhi hasil yang
berhubungan dengan kontrak yang tergantung pada angka akuntansi.
Manajemen laba adalah campur tangan dalam proses pelaporan keuangan eksternal
dengan tujuan untuk menguntungkan diri sendiri. Manajemen laba adalah salah satu
faktor yang dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan, manajemen laba menambah
bias dalam laporan keuangan dan dapat mengganggu pemakai laporan keuangan yang
mempercayai angka laba hasil rekayasa tersebut sebagai angka laba tanpa rekayasa.
Manajemen laba merupakan area yang kontroversial dan penting dalam akuntansi
keuangan. Manajemen laba tidak selalu diartikan sebagai suatu upaya negatif yang
merugikan karena tidak selamanya manajemen laba berorientasi pada manipulasi laba.
Manajemen laba tidak selalu dikaitkan dengan upaya untuk memanipulasi data atau
informasi akuntansi, tetapi lebih condong dikaitkan dengan pemilihan metode akuntansi yang
secara sengaja dipilih oleh manajemen untuk tujuan tertentu dalam batasan GAAP. Pihak-
pihak yang kontra terhadap manajemen laba, menganggap bahwa manajemen laba
merupakan pengurangan dalam keandalan informasi yang cukup akurat mengenai laba untuk
mengevaluasi return dan resiko portofolionya.
Menurut Scott (2006) ada beberapa motivasi untuk melakukan manajemen laba, yaitu:
1. Motivasi Program Bonus
Menunjukkan secara empiris bahwa sebelum melakukan manajemen laba, manajer
mempunyai informasi dari dalam perusahaan atas laba bersih perusahaan. Penelitian
ini juga menunjukkan kecenderungan manajemen yang secara oportunistik mengelola
laba bersih untuk memaksimalkan bonus mereka berdasarkan program kompensasi
perusahaan. Membuktikan dan memprediksi metoda akuntansi yang akan dipilih
manajer. Penelitian ini merupakan perluasan dari bonus plan hypothesis. Jika pada
suatu tahun tertentu laba bersih perusahaan rendah (di bawah bogey) maka tindakan
manajer adalah menurunkan pendapatan, sehingga laba perusahaan akan menjadi
lebih rendah (taking a bath) yang bermaksud untuk mencapai bonus pada tahun
berikutnya. Sedangkan jika pada satu tahun tertentu laba bersih perusahaan tinggi
(diatas cap) maka tindakan yang dilakukan manajer adalah menurunkan pendapatan,
sehingga laba perusahaan akan menjadi lebih rendah. Tindakan ini dilakukan karena
manajer tidak akan mendapatkan bonus yang lebih tinggi dari target yang telah
ditentukan. Intinya manajer akan melakukan manajemen laba pada saat laba bersih
berada diantara bogey dan cap. Penelitian yang telah dilakukan oleh Cheng dan
Warfield (2005) menguji hubungan antara manajemen laba dengan insentif ekuitas.
Hasilnya adalah insentif ekuitas berkorelasi positif dengan manajemen laba. Artinya,
semakin tinggi insentif ekuitas yang diberikan kepada manajer, semakin tinggi
kejadian manajemen laba yang dilakukan oleh manajer. Ini terkait hubungan antara
kompensasi yang berdasarkan saham dan elemen insentif ekuitas lain dengan insentif
manajer untuk meningkatkan harga saham jangka pendek. Hasil penelitian Beneish
dan Vargus (2002) menunjukkan bahwa periode di mana akrual sangat tinggi
berhubungan dengan penjualan saham oleh insiders. Di waktu yang sama laba dan
return saham yang rendah mengikuti periode di mana terdapat akrual tinggi yang
disertai penjualan oleh insiders. Bergstresser dan Philippon (2006) menguji hubungan
antara manajemen laba dan CEO insentif dengan menggunakan pendekatan
discretionary accruals model Jones.
2. Motivasi Politik (Political Motivations)
Perusahaan besar yang aktivitasnya berhubungan dengan publik atau perusahaan yang
bergerak dalam industri strategis seperti minyak dan gas akan sangat mudah untuk
diawasi. Perusahaan seperti ini cenderung untuk mengelola labanya. Pada perioda
kemakmuran perusahaan menggunakan prosedur dan praktik-praktik akuntansi yang
meminimalkan laba bersih perusahaan. Sebaliknya, publik akan mendorong
pemerintah untuk meningkatkan peraturan untuk menurunkan profitabilitas mereka.
Contoh hasil penelitian yang lain pada industri perbankan, yaitu tingkat manajemen
laba dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adalah regulasi perbankan tentang
tingkat kesehatan, regulasi perbankan tentang kehati-hatian serta adanya asimetri
informasi yang merupakan peluang untuk dapat melakukannya
3. Motivasi Perpajakan (Taxation Motivations)
Motivasi penghematan pajak menjadi motivasi manajemen laba yang paling nyata.
Namun demikian, kewenangan pajak cenderung untuk memaksakan aturan akuntansi
pajak sendiri untuk menghitung pendapatan kena pajak. Seharusnya secara umum
perpajakan tidak mempunyai peran besar dalam keputusan manajemen laba.
4. Motivasi Perubahan Chief Executif Officer (Changes of CEO Mativations)
Manajemen laba juga terjadi disekitar waktu pergantian CEO. Hipotesis program
bonus memprediksi bahwa ketika waktu mendekati pengunduran diri CEO maka
tindakan yang dilakukan adalah memaksimalkan laba untuk meningkatkan bonus
mereka. Sedangkan CEO yang kinerjanya buruk akan melakukan manajemen laba
untuk memaksimalkan laba mereka dengan tujuan mencegah atau menunda
pemberhentian mereka. Motivasi melakukan manajemen laba juga dapat dilakukan
oleh CEO baru, terutama jika cost dibebankan pada tahun transisi, melalui
penghapusan operasi yang tidak diinginkan atau divisi yang tidak menguntungkan.
5. Initial Public Offering (IPO)
Perusahaan go public belum memiliki nilai pasar, dan menyebabkan manajer
perusahaan tersebut melakukan manajemen laba dalam prospektus mereka.
Nampaknya informasi akuntansi keuangan yang dimasukkan dalam prospektus
bermanfaat sebagai sumber informasi. Terdapat kemungkinan bahwa manajer
perusahaan go public akan mengelola prospektusnya dengan harapan dapat
menaikkan harga saham.
6. Motivasi Perjanjian Utang (Debt Covenants Motivations)
Manajemen laba dengan tujuan untuk memenuhi perjanjian utang timbul dari kontrak
utang jangka panjang. Perjanjian utang bertujuan melindungi peminjam terhadap
tindakan manajer. Pelanggaran terhadap covenant mengakibatkan cost yang tinggi
terhadap perusahaan, oleh karena itu manajer berusaha untuk menghindari terjadinya
pelanggaran terhadap covenant.

Pola-pola Manajemen Laba
Scott (2000) dalam Jaryanto (2008) membagi manajemen laba yang mungkin
dilakukan oleh para menejer perusahaan ke dalam empat jenis pola manajemen laba sebagai
berikut:
Cuci Bersih (Taking a Bath)
Pola ini terjadinya pada periode sulit, kondisi buruk yang tidak menguntungkan dan tidak
dapat dihindari lagi pada periode tersebut, ataupun pada saat terjadi reorganisasi, termasuk
pengangkatan CEO baru. Manajer melaporkan kerugian, mungkin dalam jumlah yang besar,
sebagai akibat dari penghapusan aktiva dan/atau pembebanan biaya-biaya masa depan
sekaligus pada periode tersebut dengan harapan laba pada periode-periode mendatang dapat
meningkat karena berkurangnya beban periode mendatang.
Menurunkan Laba (Income Minimization)
Pola ini dilakukan sebagai alasan politis pada periode laba yang tinggi dengan cara seperti
pada pola taking a bath, yaitu mempercepat penghapusan atas barang modal dan aktiva tak
berwujud, biaya iklan dan pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan, hasil akuntansi
untuk biaya eksplorasi, dan mengakui pengeluaran-pengeluaran lain sebagai biaya periode
tersebut. Hal ini dilakukan pada saat profitabilitas tinggi dengan maksud agar tidak mendapat
perhatian secara politis sekaligus sebagai upaya menyimpan laba sehingga jika laba periode
mendatang mengalami penurunan drastis dapat diatasi dengan mengambil simpanan laba
periode berjalan.
Menaikkan Laba (Income Maximization)
Pola ini dilakukan pada saat laba mengalami penurunan. Kebalikan dari income
minimization, income maximization dilakukan dengan cara mengambil simpanan laba
periode sebelumnya ataupun menarik laba periode yang akan datang, misalnya dengan
menunda pembebanan biaya. Pola ini dilakukan atas dasar motivasi bonus, motivasi
penghindaran pelanggaran perjanjian utang, pada saat penawaran saham perdana dan
musiman, ataupun untuk menghindari turunnya harga saham secara drastis.
Perataan Laba (Income Smoothing)
Income smoothing dilakukan dengan meratakan laba antar periode yang dilaporkan untuk
tujuan pelaporan eksternal, terutama bagi investor yang pada umumnya lebih menyukai laba
yang relatif stabil. Income smoothing bisa dikatakan pola perpaduan antara income
minimization dengan income maximization antar periode, dimana pada periode laba yang
tinggi, laba akan disimpan untuk digunakan pada periode laba yang rendah.
Alasan dilakukan manajemen laba
Manajemen laba dapat meningkatkan kepercayaan pemegang saham terhadap manajer.
Manajemen laba berhubungan eratdengan tingkat perolehan laba atau prestasi usaha suatu
organisasi, hal ini karena tingkat keuntungan atau laba dikaitkan dengan prestasi
manajemen dan juga besar kecilnya bonus yang akan diterima oleh manajer.
Manajemen laba dapat memperbaiki hubungan dengan pihak kreditor. Perusahaan yang
terancam default yaitu tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran utang pada
waktunya, perusahaan berusaha menghindarinya dengan membuat kebijakan yang dapat
meningkatkan pendapatan maupun laba. Dengan demikian akan memberi posisi
bargaining yang relatif baik dalam negoisasi atau penjadwalan ulang utang antara pihak
kreditor dengan perusahaan.
Manajemen laba dapat menarik investor untuk menanamkan modalnya terutama pada
perusahaan go publik pada saat IPO.

III. KONSEKUENSI EKONOMI LAPORAN KEUANGAN
Economic consequences adalah konsep yang menyatakan bahwa, walaupun
bertentangan dengan implikasi teori pasar modal efisien, pilihan kebijakan akuntansi dapat
mempengaruhi nilai perusahaan.
Zeff (1978) mendefinisikan economic consequences sebagai impak laporan akuntansi
terhadap perilaku pengambilan keputusan bisnis, pemerintah, dan kreditor. Esensi definisi
tersebut adalah bahwa laporan akuntansi dapat mempengaruhi (affect) keputusan nyata oleh
manajer dan pihak lain, tidak hanya sekedar menggambarkan (reflecting) hasil keputusan
yang dibuat.
Walaupun dengan implikasi kebijakan teori pasar modal efisien, tampak bahwa
pilihan kebijakan akuntansi memiliki konsekuensi ekonomi bagi pamakai laporan keuangan,
walaupun tidak secara langsung mempengaruhi aliran kas perusahaan.
Esensi dari economic consequences adalah bahwa kebijakan akuntansi dan perubahan
kebijakan akuntansi tersebut merupakan suatu permasalahan (matter), terutama permasalahan
bagi manajemen. Akan tetapi, apabila hal tersebut merupakan permasalahan bagi manajemen,
kebijakan akuntansi juga permasalahan bagi investor yang memiliki perusahaan karena
manajer dapat mengubah hasil operasi perusahaan sesungguhnya dengan melakukan
perubahan kebijakan akuntansi.
Economic consequences muncul karena perusahaan melakukan kontrak seperti
kompensasi eksekutif (executive compensation) dan kontrak utang (debt contract). Kebijakan
akuntansi yang digunakan dapat merupakan sumber informasi yang penting bagi investor.
Manajer dapat menggunakan sumber informasi berupa pilihan kebijakan akuntansi yang
dipilih sebagai signal tentang informasi dalam dari perusahaan.
Teori pasar modal efisien gagal menjelaskan perilaku pasar. Berdasarkan teori pasar
modal efisien, suatu perubahan akuntansi direaksi oleh pasar hanya apabila perubahan
akuntansi tersebut berpengaruh terhadap arus kas perusahaan. Economic consequences
diperlukan untuk mengetahui respon pasar atas perubahan kebijakan akuntansi walaupun
perubahan kebijakan akuntansi tersebut tidak berpengaruh secara langsung terhadap arus kas.
Karena itu, economic consequences merupakan salah satu anomali pasar modal efisien. Teori
akuntansi positif (Positive Accounting Theory/PAT) adalah penjelasan terhadap adanya
economic consequences.

KASUS PT INDOFARMA
Sejarah PT Indofarma Tbk.
PT Indofarma didirikan pada tanggal 26 Januari 1996 dan bergerak dalam pembuatan
obat-obatan dan bahan baku pembuat obat. Obat-obatan yang dibuat oleh PT Indofarma lebih
banyak dipasarkan secara tender dan dibeli pemerintah untuk diserahkan kepada rumah sakit-
rumah sakit milik pemerintah pusat, daerah, dan puskesmas. PT Indofarma dikenal sebagai
pembuat obat generik yang ditujukan untuk rakyat miskin.
Awalnya perusahaan ini dikenal sebagai Pabrik Obat Manggarai dan didirikan tahun
1918 di Jakarta. Pada Tahun 1950 pabrik obat ini diambil alih oleh negara dan dikelola oleh
Departemen Kesehatan RI lalu pada tahun 1979 namanya diganti menjadi Pusat Produksi
Farmasi Departemen Kesehatan dan pada tahun 1981 melalui Peraturan Pemerintah No 20
nama dan kelembagaannya diganti menjadi Peusahaan Umum (Perum) Indofarma dan sejak
1996 berganti badan hukum menjadi PT.

Latar Belakang Kasus PT Indofarma Tbk.
Yang melatar belakangi kasus PT. Indofarma yaitu karena setelah diadakan
pemeriksaan di kantor akuntan terhadap hasil laporan PT. Indofarma untuk tahun buku 2002
yang melaporkan adanya kerugian sebesar 60 milyar rupiah. Sedangkan banyak kalangan
yang mengatakan hingga akhir kuartal ketiga tahun 2002, Indofarma masih mencatatkan
keuntungan sebesar 86 milyar rupiah. Sehingga BAPEPAM menemukan indikasi adanya
penyembunyian informasi penting menyangkut kerugian selama dua tahun berturut-turut
yang diderita PT. Indofarma Tbk.
Kepala Biro Pemeriksaan dan Penyidikan Bapepam Abraham Bastari mengatakan
temuan ini terungkap setelah Institusinya memanggil sejumlah pihak, termasuk direksi dan
mantan direksi Indofarma karena BAPEPAM menduga ada sesuatu yang disembunyikan dan
tidak diungkapkan. Karena permasalahan inilah maka BAPEPAM meminta kepada tim untuk
secara detail meneliti khususnya yang berkaitan dengan barang-barang yang dihapus, asal-
usul dari pembelian barang itu,dan mengawasi apakah pembelian itu karena tindakan
kriminal atau salah manajemen.

Permasalahan Kasus: Manajemen Laba PT. Indofarma Tbk
Kasus ini bermula dari adanya penelaahan BAPEPAM mengenai dugaan adanya
Pelanggaran peraturan perundang-undangan dibidang pasar modal terutama berkaitan dengan
penyajian laporan keuangan yang dilakukan oleh PT. Indofarma Tbk. Berdasarkan hasil
penelitian BAPEPAM ditemukan bukti-bukti :
1. Nilai barang dalam proses dinilai lebih tinggi dari nilai yang seharusnya (overstated)
dalam penyajian dinilai persediaan barang dalam proses pada tahun buku 2001 sebesar
Rp. 28.870.000.000 ( Dua Puluh Delapan Milyar Delapan Ratus Tujuh Puluh Juta
Rupiah ), akibat overstated persediaan sebesar RP.28.870.000.000 tersebut, maka
penjualan akan Undestated sebesar Rp. 28.870.000000 dan laba bersih juga akan
mengalami overstated yang sama juga
2. Berdasarkan pasal 69 Undang-undang pasar modal no 8 tahun 1995 yang menyatakan
bahwa laporan keuangan yang disampaikan kepada BAPEPAM wajib disusun
berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum
3. Berdasarkan angka 2 huruf a peraturan BAPEPAM no. VIII. G. 7 tentang pedoman
penyajian laporan keuangan disebutkan bahwa manajemen emiten atau perusahan publik
bertangung jawab atas penyusunan dan penyajian laoran keuangan
4. Dalam PSAK kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan khususnya
berkaitan dengan materialistis, paragraf 30 menyatakan bahwa informasi dipandang
material kalau kelalaian atau kesalahan dalam mencatat informasi tersebut dapat
mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai yang diambil atas dasar laporan keuangan.
5. Dalam PSAK kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan khususnya
berkaitan dengan keandalan, paragraf 31 menyatakan bahwa agar bermanfaat, informasi
juga harus andal (realiable). Informasi memiliki kualitas andal dan bebas dari pengertian
yang menyesatkan.
6. PSAK No.1 paragraf 10 dinyatakan bahwa laporan keuangan harus menyajikan secara
wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, perubahan ekuitas dan arus kas perusahaan
dengan penerapan PSAK dalam catatan atas laporan keuangan.
7. Kepada direksi yang menjabat pada periode terbitnya laporan keuangan tahun periode
2001 diberikan sanksi administratif berupa denda sebesar Rp. 500.000.000 ( Lima Ratus
Juta Rupiah )

Pembahasan
Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) menemukan indikasi adanya
penyembunyian informasi penting menyangkut kerugian selama dua tahun berturut-turut
yang diderita PT Indofarma Tbk. Kepala Biro Pemeriksaan dan Penyidikan Bapepam
Abraham Bastari mengatakan temuan ini terungkap setelah institusinya memanggil sejumlah
pihak termasuk Direksi dan mantan Direksi Indofarma dimana diduga ada sesuatu yang
disembunyikan dan tidak diungkapkan. Bapepam pun telah memanggil jajaran manajemen
dua periode sebelumnya, yaitu ketika Eddy Pramono dan Gunawan Pranoto (sekarang
Direktur Utama Kimia Farma) menjabat sebagai Direktur Utama Indofarma. Pihak lain yang
turut diperiksa, yaitu jajaran manajemen PT Indofarma Global Medika--anak perusahaan
Indofarma. Selain itu, Bepapam juga telah memeriksa kantor akuntan publik Hadori dan
Rekan dengan Hadori Yunus sebagai auditornya yang telah mengaudit laporan keuangan
Indofarma 2003. Pemeriksaan dilakukan karena tahun lalu, Indofarma mengalami
pembengkakan kerugian dari sekitar 68 miliar rupiah berdasarkan laporan yang belum diaudit
menjadi sekitar 129,5 miliar rupiah setelah laporan diaudit.
Dalam penjelasannya ke publik, manajemen baru Indofarma mengatakan,
pembengkakan kerugian terjadi karena perusahaan obat pelat merah ini harus melakukan
hapus buku terhadap alat kesehatan yang dinilai sudah kadaluwarsa sehingga tidak bisa
dijual. Padahal jumlahnya mencapai puluhan miliar rupiah. Indofarma untuk tahun buku 2002
yang melaporkan adanya kerugian sebesar 59,8 miliar rupiah mengejutkan investor.Banyak
kalangan mempertanyakannya, karena hingga akhir kwartal ketiga 2002, Indofarma masih
mencatatkan keuntungan sekitar 88,6 miliar rupiah.
Perubahan mendasar yang terjadi pada tahun 2001 setelah perusahaan mendapat ijin
untuk go publik menjadikan PT Indofarma harus dikelola secara profesional, transparan, dan
harus tumbuh karena pasar menghendaki adanya deviden dan capital gain. Dan untuk
mendorong perubahan itulah direksi membeli mesin-mesin baru dan memproduksi produk-
produk terobosan bermerek khususnya Biofibra, Prolipid, Pro Uric, OBH Plus, dsb sehingga
pada akhir tahun meraup laba bersih perseroam setelah pajak sebesar 122,5 milyar rupiah.
Pada saat bersamaan di Indonesia muncul UU tentang otonomi daerah yang salah satu
dampaknya adalah perubahan pembelian obat yang tadinya dilakukan secara massal dan
terpusat pada pemerintah pusat sekarang dipesan langsung oelh pemerintah daerah. Selain itu
muncul pabrik-pabrik obat kecil baru yang tersebar di berbagai daerah. Akibatnya PT
indofarma harus membuka cabang-cabang baru didaerah dan memasarkan obatnya secara
lokal. Tender-tender kecilpun harus diikuti dan mulai ada gangguan produksi. Harga obat
yang sudah murah ternyata tidak diimbangi dengan biaya produksi yang efisien. Selain itu
pembukaan cabang-cabang baru berarti meningkatkan biaya mulai dari tempat, SDM, sistem,
komisi, teknologi. Selain hal diatas manajemen perusahaan mengalami sejumlah masalah
baik yang disengaja maupun tidak akibatnya pada laporan keuangan perusahaan pada tahun
2002 diketahui perusahaan mengalami kerugian 59,8 miliar rupiah.
Pada tahun itu juga diketahui sejumlah masalah diantaranya adalah harga jual yang
diterima perusahaan ternyata dibawah total biaya per unit, laporan akuntansi perusahaan
ternyata tidak dapat mendeteksi kerugian sejak dini sehingga direksi mengambil langkah
yang salah. Masalah lainnya yaitu ketika setahun sebelum dinyatakan untung, perusahaan
telah mengambil langkah-langkah kurang tepat yang berakibat pemborosan serta ada tradisi
pencatatan yang kurang tepat seperti angka penjualan yang sangat besar pada akhir tahun
akan tetapi disusul retur yang sangat besar pada awal tahun.
Permasalahan lain yaitu banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh para direksi PT
Indofarma. Adapun beberapa pasal yang dilanggar yaitu pasal 68, 69,(Standar Akuntansi) dan
107. Dalam pasal 68 disebutkan bahwa akuntan yang terdaftar di Bapepam wajib
menyampaikan pemberitahuan yang sifatnya rahasia paling lambat tiga hari kepada otoritas
pasar modal jika menemukan pelanggaran terhadap undang-undang atau hal yang dapat
membahayakan keuangan emiten. Pasal 107 mengatur ancaman penjara paling lama tiga
tahun dan denda 5 milyar rupiah kepada para pelanggar ketentuan perundangan, termasuk
didalamnya menyembunyikan informasi penting.

















KESIMPULAN

Tujuan laporan keuangan yang mana diarahkan untuk memberikan informasi yang
berguna untuk mengambil keputusan-keputusan bisnis. Peran standar akuntansi (seperti SAK)
menjadi sangat penting supaya manajemen suatu badan usaha dapat menghasilkan informasi
yang berkualitas.
Informasi laba membantu pemilik atau pihak lain dalam mengestimasikan kekuatan
laba untuk menaksir resiko dalam investasi dan kredit. Pentingnya informasi laba tersebut
harus disadari oleh pihak manajemen sebagai pihak penyusun laporan keuangan serta sebagai
pihak yang diukur kinerjanya. Informasi laba sebagaimana dinyatakan dalam Statement of
Financial Accounting Concepts (SFAC) Nomor 2 merupakan unsur utama dalam laporan
keuangan dan sangat penting bagi pihakpihak yang menggunakannya karena memiliki nilai
prediktif.






















DAFTAR PUSTAKA

Scott, W. R. 2006. Financial Accounting theory. Edisi Keempat. New Jersey: Prentice-
Hall, Inc.
Kieso, D. E., J.J. Weygandt, and T.D. Waterfield, Intermediate Accounting,
International Ed., John Wiley & Sons, 11
th
Ed.