Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai
metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah,
penemuan-penemuan, ketrampilan dalam rangkaian atau tahapan yang logis untuk
pengambilan suatu keputusan yang berfokus pada klien (Varney, 1997)
Manajemen kebidanan terdiri dari beberapa langkah yang berurutan yang dimlai
dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Langkah langkah
tersebut membentuk kerangka yang lengkap yang bisa diaplikasikan dalam semua situas.
Akan tetapi, setiap langkah tersebut bisa di pecah-pecah ke dalam tugas-tugas tertentu
dan semuanya bervariasi sesuai dengan kondisi klien.
Proses manajemen kebidanan merupakan pola pikir. Bidan dalam melaksanakan
asuhan kepada klien. Diharapkan dengan pendekatan pemecahan masalah yang
sistematis dan rasional, serta seluruh aktifitas atau tindakan yang diberikan oleh bidan
pada klien akan efektif, serta terhindar dari seluruh aktivitas atau tindakan yang bersifat
coba-coba yang akan berdampak kurang baik untuk klien. Untuk kejelasan langkah-
langkah di atas maka dalam pembahasan ini akan dijelaskan tentang penjelasan secara
detail dari setiap step yang dirumuskan oleh Varney.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa manajemen kebidanan itu ?
2. Apa saja langkah-langkah yang harus dilakukan saat asuhan kebidanan ?
3. Apa saja perubahan anatomi fisiologi pada ibu hamil saat trimester III ?
4. Apa kebutuhan yang diperlukan ibu hamil saat trimester III ?
5. Apa standart asuhan kebidanan itu ?
1.3 Tujuan
Dengan adanya makalah ini semoga bisa membantu para mahasiswa kebidanan
mengetahui tentang :
1. Manajemen kebidanan
2. Langkah-langkah dalam asuhan kebidanan
3. Perubahan anatomi fisiologi pada ibu hamil trimester III
4. Kebutuhan yang diperlukan ibu hamil saat trimester III
5. Standart asuhan kebidanan

2

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 MANAJEMEN KEBIDANAN
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai
metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-
penemuan, ketrampilan dalam rangkaian atau tahapan yang logis untuk pengambilan suatu
keputusan yang berfokus pada klien (Varney, 1997)
Manajemen kebidanan terdiri dari beberapa langkah yang berurutan yang dimlai
dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Langkah langkah tersebut
membentuk kerangka yang lengkap yang bisa diaplikasikan dalam semua situas. Akan tetapi,
setiap langkah tersebut bisa di pecah-pecah ke dalam tugas-tugas tertentu dan semuanya
bervariasi sesuai dengan kondisi klien.
Proses manajemen kebidanan-kerangka konsep.










Langkah-langkah
I. Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk menilai keadaan klien secara
keseluruhan
II. Mengintreprestasikan data untuk mengidentifikasi diagnosa/ masalah
III. Mengidentifikasi diagnosis/masalah potensial dan menganti-sipasi penanganannya
IV. Menetapkan kebutuhan akan tindaakn-segera, konsultasi, kolaborasi, dengan tenaga
kesehatn lain, serta rujukan berdasarkan kondisi klien
V. Menyusun rencana asuhan secar menyeluruh denga tepat dan rasional berdasarkan
keputusan yang dibuat pada langkah-langkah sebelumnya
VI. Melaksanakan langsung asuhan secara efisien dan aman
I
VII
II
VI
III
V IV
3

VII. Mengevaluasi keefektifan asuhan yang diberikan dengan mengulang kembali
manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif
Melihat kembali penjelasan diatas maka proses manajemen kebidanan merupakan pola
pikir. Bidan dalam melaksanakan asuhan kepada klien. Diharapkan dengan pendekatan
pemecahan masalah yang sistematis dan rasional, serta seluruh aktifitas atau tindakan yang
diberikan oleh bidan pada klien akan efektif, serta terhindar dari seluruh aktivitas atau
tindakan yang bersifat coba-coba yang akan berdampak kurang baik untuk klien. Untuk
kejelasan langkah-langkah di atas maka dalam pembahasan ini akan dijelaskan tentang
penjelasan secara detail dari setiap step yang dirumuskan oleh Varney.
Langkah I ( Pertama ) : Tahap Pengumpulan Data Dasar
Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari
semua sumber yang berkaitan dengan cara :
1. Anamnesa :
a. Bio data
b. Riwayat menstruasi
c. Riwayat kesehatan
d. Riwayat kehamilan,persalinan, & nifas
e. Biopsikososiospiritual
f. Pengetahuan klien
2. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda- tanda vital
3. Pemeriksaan khusus
a. Inspeksi
b. Palpasi
c. Auskultasi
d. Perkusi
4. Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium
b. Catatan terbaru & sebelumnya



4

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada formulir pengumpulan data :
- Kehamilan
- Persalinan
- Masa nifas
Bila klien mengalami komplikasi yang perlu dikonsultasikan kepada dokter dalam
manajemen kolaborasi bidan akan melakukan konsultasi.
Tahap ini merupakan langkah awal yang akan menentukan langkah berikutnya,
sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi akan menentukan proses
interpretasi yang benar atau tidak dalam tahap selanjutnya, sehingga dalam pendekatan ini
harus komprehensif meliputi data subjektif, objektif, dan hasil pemeriksaan sehingga dapat
menggambarkan kondisi atau masukan klien yang sebenarnya dan valid.Kaji ulang data yang
sudah dikumpulkan apakah sudah tepat, lengkap dan akurat.

Langkah II (kedua) : Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan
interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.
Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan
diagnosa dan masalah yang spesifik. Rumusan diagnosa dan masalah keduanya digunakan
karena masalah tidak dapat didefinisikan seperti diagnosa tetapi tetap membutuhkan
penanganan. Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami wanita yang
diidentifikasi oleh bidan sesuai dengan hasil pengkajian. Masalah juga sering menyertai
diagnosa. Sebagai contoh :
Diperoleh diagosa kemungkinan wanita hamil
Masalah : wanita tersebut tidak menginginkan kehamilannya
Contoh lain :
Wanita hamil trimester ke III
Merasa takut terhadap proses persalinan dan melahirkan yang sudah tidak dapat ditunda
lagi
Perasaan takut tidak termasuk dalam kategori nomenklatur standart diagnosa tetapi
tentu akan menciptakan suatu masalah yang membutuhkan pengkajian lebih lanjut dan
memerlukan suatu perencanaan untuk mengurangi rasa takut.
5

Diagnosa kebidanan
Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktik
kebidanan dan memenuhi standart nomenklatur diagnosa kebidanan.
Standart nomenklatur diagnosa kebidanan :
1. Diakui dan telah disyahkan oleh profesi
2. Berhubungan langsung dengan praktik kebidanan
3. Memiliki ciri khas kebidanan
4. Didukung oleh clinical judgement dalam praktik kebidanan
5. Dapat diseleseikan dengan pendekatan menagement kebidanan
Sebagai contoh rumusan diagnosa adalah :
Diagnosa Dasar
G1 PoAo
10 mg
Test Kehamilan
Hamil ke HPHT
GI PoAo Hamil
12 mg
Anemia ringan
HPHT
Hamil ke I
Palpasi
Auskultasi
USG
Hb 8,5 gr%
G1 Po Ao hamil
8 mg
Emisis gravidarum
Tes Kehamilan
HPHT
USG
Muni dan muntah 5x tidak nafsu makan
G11 P1 Ao hamil Hamil ke 2
6

26 mg hidramnion HPHT
Tinggi fundus uteri USG 30cm
Auskultasi jj (++)
G111 P11 Ao hamil
26 mg pre eklamsi
Hamil ke
HPHT
Palpasi
Auskultasi
TD
Laboratorium protein Urine (+)
Oedema
G4 P3 Ao hamil
32 mg Suspek plasenta previa
Hamil ke 4
HPHT
Perdarahan Pervaginam
Warna merah segar
Tidak ada kontraksi uterus
G2 P1 Ao hamil
34 mg Suspek Solutio Plasenta
Hamil ke 2
HPHT
Perut tegang
Perdarahan pervaginam warna merah tua
G3 P2 Ao hamil
36 mg KPD
Hamil ke 3
HPHT
Keluar air air
7

Tidak ada kontraksi uterus
Tidak ada pembukaan serviks

Contoh masalah
Masalah adalah :
Hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman klien yang ditemukan dari hasil pengkajian atau
yang menyertai diagnosa.
Contoh rumusan masalah
Masalah Dasar
Wanita tidak menginginkan kehamilannya Wanita mengatakan belum ingin hamil
Wanita hamil trimester III merasa takut Wanita mengatakan takut menghadapi
persalinan

Kebutuhan adalah :
Hal-hal yang dibutuhkan oleh klien dan belum teridentifikasi dalam diagnosa dan masalah
yang didapatkan dengan melakukan analisa data.
Contoh kebutuhan :
Kebutuhan Dasar
Ibu menyenangi binatang
Kebutuhannya :
- Penyuluhan bahaya binatang terhadap
kehamilan
- Pemeriksaan TORCH
Ibu mengatakan sekeluarga menyayangi
binatang

Kaji ulang apakah diagnosa dan masalah yang diidentifikasi sudah tepat
8

Langkah III (ketiga) : Mengidentifikasi Diagnosa atau masalah Potensial dan
Mengantisipasi Penanganannya
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosa potensial
berdasarkan diagnosa/ masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan
antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan
bersiap-siap mencegah diagnosa/ masalah potensial ini menjadi benar-benar terjadi. Langkah
ini, penting sekali dalam melakukan asuhan yang aman.
Contoh : seorang wanita dengan pembesaran uterus yang berlebihan. Bidan harus
mempertimbangkan kemungkinan penyebab pembesaran uterus yang berlebihan tersebut
(misalnya polyhidramnion, besar dari masa kehamilan, ibu dengan diabetes melitus, atau
kehamilan kembar)
Kemudian bidan harus melakukan perencanaan untuk mengantisipasinya dan bersiap-siap
terhadap kemungkinan tiba-tiba terjadi perdarahan postpartum yang disebabkan oleh atonia
uteri karena pembesaran uterus yang berlebihan.
Pada persalinan dengan bayi besar bidan sebaiknya juga mengantisipasi dan bersiap-
siap terhadap kemungkinan terjadinya distonia bahu dan juga kebutuhan untuk resusitasi.
Bidan juga sebaiknya waspada terhadap kemungkinan wanita menderita infeksi saluran
kencing yang menyebabkan tingginya kemungkinan terjadinya peningkatan partus prematur
atau bayi kecil. Persiapan yang sederhana adalah dengan anamnesa dan mengkajiriwayat
kehamilan pada setiap kunjungan ulang, pemeriksaan laboratorium terhadap simtomatik
terhadap bakteri dan segera memberi pengobatan jika infeksi saluran kencing terjadi.
Pada langkah ke 3 ini bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi masalah potensial
tidak hanya merumuskan masalah potensial yang akan terjadi tetapi juga merumuskan
tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosa potensial tidak terjadi. Sehingga langkah ini
benar,merupakan langkah yang bersifat antisipasi yang rasional/logis.
Kaji ulang apakah diagnosa atau masalah potensial yang diidentifikasi sudah tepat.
Langkah IV (keempat) : Menetapkan Kebutuhan Terhadap Tindakan Segera, untuk
Melakukan Konsultasi, Kolaborasi Dengan Tenaga Kesehatan
Lain Berdasarkan Kondisi Klien.
9

Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan/ untuk dikonsultasikan
atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.
Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan.
jadi manajemen bukan hanya selama asuhan primer periodik atau kunjungan prenatal saja,
tetepi juga selama wanita tersebut bersama bidan terus menerus, misalnya pada waktu wanita
tersebut dalam persalinan.
Data baru mungkin saja dikumpulkan dan dievaluasi. Beberapa data mungkin
mengidentifikasikan situasi yang gawat dimana bidan harus bertindak segera untuk
kepentingan keselamatan jiwa ibu atau anak (misalnya perdarahan kala III atau perdarahan
segera setelah lahir, distosia bahu,atau nilai APGAR yang rendah).
Dari data yang dikumpulkan dapat menunjukkan satu situasi yang memerlukan
tindakan segera sementara yang lain harus menunggu intervensi dari seorang dokter,
misalnya prolaps tali pusat. Situasi lainnya bisa saja tidak merupakan kegawatan tetapi
memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter.
Demikian juga bila ditemukan tanda-tanda awal dari preeklamsi, kelainan panggul,
adanya penyakit jantung, diabetes atau masalah medik yang serius, bidan perlu melakukan
konsultasi atau kolaborasi dengan dokter.
Dalam kondisi tertentu seorang wanita mungkin juga akan memerlukan konsultasi atau
kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lain seperti pekerja sosial, ahli gizi, atau seorang
ahli perawatan klinis bayi baru lahir. Dalam hal ini bidan harus mampu mengevaluasi kondisi
setiap klien untuk menentukan kepada siapa konsultasi dan kolaborasi yang paling tepat
dalam manajemen zsuhan klien.
Pada penjelasan di atas menunjukkan bahwa bidan dalam melakukan tindakan harus
sesuai dengan prioritas masalah / kebutuhan yang dihadapi kliennya. Setelah bidan
merumuskan tindakan yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi diagnosa / masalah
potensial pada step sebelumnya, bidan juga harus merumuskan tindakan emergency segera
yang harus dirumuskan untuk menyelamatkan ibu dan bayi. Dalam rumusan ini termasuk
tindakan segera yang mampu dilakukan secara mandiri secara kolaborasi atau bersifat
rujukan.
Kaji ulang apakah tindakan segera ini benar-benar dibutuhkan.
10

Langkah V (Kelima) : Menyusun Rencana Asuhan yang Menyeluruh
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-
langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah atau
diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi data yang
tidak lengkap dapat dilengkapi.
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa-apa yang sudah
teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan tetapi juga dari
kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang diperkirakan akan
terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling, dan apakah perlu merujuk
klien bila ada masalah-masalah yang berkaitan dengan sosial ekonomi-kultural atau masalah
psikologis. Dengan perkataan lain asuhan terhadap wanita tersebut mencakup setiap hal yang
berkaitan dengan semua aspek asuhan kesehatan. Setiap rencana dilaksanakan dengan efektif
karena klien juga akan melaksanakan rencana tersebut. Oleh karena itu, pada langkah ini
tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai dengan hasil pembahasan rencana
asuhan bersama klien kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya.
Semua keputusan yang dikembangkan dalam asuhan menyeluruh ini harus rasional
dan benar-benar valid berdasarkan pengetahuan dan teori yang up to date serta sesuai dengan
asumsi tentang apa yang akan dilakukan klien.
Kaji ulang apakah rencana asuhan sudah meliputi semua spek asuhan kesehatan terhadap
wanita.
Langkah VI (keenam) : Pelaksanaan Langsung Asuhan dengan Efisien dan Aman
Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan
pada langkah ke 5 dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan
seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien, atau anggota tim kesehatan lainnya.
Walau bidan tidak melakukannya sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk
mengarahkan pelaksanaannya ( misalnya memastikan langkah-langkah tersebut benar-benar
terlaksana.
Dalam situasi dimana bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang
mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam manajemen asuhan bagi klien adalah
tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh
11

tersebut. Manajemen yang efesien akan menyangkut waktu dan biaya serta meningkatkan
mutu dan asuhan klien.
Kaji ulang apakah semua rencana asuhan elah dilaksanakan.

Langkah VII (Ketujuh) : Mengevaluasi
Pada langkah ke VII ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah
diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi
sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam diagnosa dan masalah.
Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya.
Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut efektif sedang sebagian belum
efektif. Mengingat bahwa proses manajemen asuhan ini merupakan suatu kegiatan yang
berkesinambungan maka perlu mengulang kembali dari awal setiapa asuhan yang tidak
efektif melalui manajemen untuk mengidentifikasi mengapan proses manajemen tidak efektif
serta melakukan penyesuaian pada rencana asuhan tesebut.
Langkah-langkah proses manajemen umumnya merupakan pengkajian yang
memperjelas proses pemikiran yang mempengaruhi tindakan serta berorientasi pada proses
klinis, karena proses manajemen tersebut berlangsung di dalam situasi klinik dan dua langkah
terakhir tergantung pada klien dan situasi klinik, maka tidak mungkin proses manajemen ini
dievaluasi dalam tulisan saja.
2.2 PERUBAHAN ANATOMI FISIOLOGI PADA IBU HAMIL TRIMESTER III
a. Uterus
Berat uterus naik secara luar biasa dari 30 gram-1000 gram pada akhir kehamilan
empat puluh minggu. Pada kehamilan 28 minggu, TFU (Tinggi Fundus Uteri) terletak 2-3 jari
diatas pusat, Pada kehamilan 36 minggu tinggi TFU satu jari dibawah Prosesus xifoideus.
Dan pada kehamilan 40 minggu,TFU berada tiga jari dibawah Prosesus xifoideus. Pada
trimester III , istmus uteri lebih nyata menjadi corpus uteri dan berkembang menjadi segmen
bawah uterus atau segmen bawah rahim (SBR). Pada kehamilan tua, kontraksi otot-otot
bagian atas uterus menyebabkan SBR menjadi lebih lebar dan tipis (tampak batas yang nyata
antara bagian atas yang lebih tebal dan segmen bawah yang lebih tipis). Batas ini dikenal
sebagai lingkaran retraksi fisiologik. Dinding uterus diatas lingkaran ini jauh lebih tebal
daripada SBR.
12

b. Serviks
Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena hormon estrogen.
Akibat kadar estrogen yang meningkat dan dengan adanya hipervaskularisasi, maka
konsistensi serviks menjadi lunak. Serviks uteri lebih banyak mengandung jaringan ikat
yang terdiri atas kolagen. Karena servik terdiri atas jaringan ikat dan hanya sedikit
mengandung jaringan otot, maka serviks tidak mempunyai fungsi sebagai spinkter,
sehingga pada saat partus serviks akan membuka saja mengikuti tarikan-tarikan corpus
uteri keatas dan tekanan bagian bawah janin kebawah . Sesudah partus, serviks akan
tampak berlipat-lipat dan tidak menutup seperti spinkter.
Perubahan-perubahan pada serviks perlu diketahui sedini mungkin pada kehamilan,
akan tetapi yang memeriksa hendaknya berhati-hati dan tidak dibenarkan melakukannya
dengan kasar, sehingga dapat mengganggu kehamilan.
Kelenjar-kelenjar di serviks akan berfungsi lebih dan akan mengeluarkan sekresi lebih
banyak. Kadang-kadang wanita yang sedang hamil mengeluh mengeluarkan cairan
pervaginam lebih banyak. Pada keadaan ini sampai batas tertentu masih merupakan
keadaan fisiologik, karena peningakatan hormon progesteron. Selain itu prostaglandin
bekerja pada serabut kolagen, terutama pada minggu-minggu akhir kehamilan. Serviks
menjadi lunak dan lebih mudah berdilatasi pada waktu persalinan.
c. Ovarium
Ovulasi terhenti, fungsi pengeluaran hormon estrogen dan progesteron di ambil alih
oleh plasenta.
d. Vagina dan Vulva
Vagina dan vulva mengalami perubahan karena pengaruh esterogen.akibat dari
hipervaskularisi,vagina dan vulva terlihat lebih merah atau kebiruan. Warna livid pada
vagina atau portio serviks di sebut tanda chadwick.
e.Mammae
Mamae semakin tegang dan membesar sebagai persiapan untuk laktasi akibat
pengaruh somatotropin, estrogen dan progesteron.Pada payudara wanita terdapat striae
karena adanya peregangan lapisan kulit. Hal ini terjadi pada 50 % wanita hamil. Selama
trimester ini pula sebagian wanita mengeluarkan kolostrum secara periodik.
f.Sistem Endokrin
Hormon Somatomamotropin, esterogen, dan progesteron merangsang mammae
semakin membesar dan meregang, untuk persiapan laktasi
13

g.Sistem Kekebalan
Human chorionic gonadotropin dapat menurunkan respons imun wanita hamil. Selain
itu, kadar IgG, IgA, dan IgM serum menurun mulai dari minggu ke 10 kehamilan, hingga
mencapai kadar terendah pada minggu ke 30 dan tetap berada pada kadar ini hingga
trimester terakhir. Perubahan perubahan ini dapat menjelaskan penigkatan risiko infeksi
yang tidak masuk akal pada wanita hamil.
h. Sistem Perkemihan
Pada akhir kehamilan, bila kepala janin mulai turun kepintu atas panggul keluhan
sering kencing akan timbul lagi karena kandung kencing akan mulai tertekan kmbali.
Selain itu juga terjadi hemodilusi menyebabkan metabolisme air menjadi lancar.
Pada kehamilan tahap lanjut, pelvis ginjal kanan dan ureter lebih berdilatasi daripada
pelvis kiri akibat pergeseran uterus yang berat ke kanan akibat terdapat kolon
rektosigmoid di sebelah kiri.
2.3 KEBUTUHAN IBU HAMIL TRIMESTER III
2.3.1 Kebutuhan Gizi Ibu Hamil Trimester III ( 29-40 minggu )
Pada trimester ke 3 tubuh membutuhkan vitamin B6 dalam jumlah banyak
dibandingakn sebelum hamil. Vitamin ini dibutuhkan membentuk protein dari asam
amino , darah merah, saraf otak, dan otot-otot tubuh. Bila protin tercukupi, maka
kebutuhan vitamin B6 akan tercukupi pula. Makanan yang banyak mengandung
vitamin B6 ini antara lain ikan. Selain itu konsumsi juga bahan yang mengandung
omega 3 yang banyak terkandung dalam daging ikan tuna dan salmon. omega 3 juga
berperan dalam perkembangan otak dan retina janin.
Zink dibutuhkan bagi sistem imunologi atau kekebalan tubuh. Konsumsi zink
juga dapat menghindari lahirnya janin premature yang berperan dalam perkembangan
otak janin, terutama trimester terakhir. Diduga kekurangan zink menyebabkan bibir
sumbing. Makanan yang kaya zink antara lain daging sapi dan ikan.
Kalsium dibutuhkan pada trimester I hingga trimester III, karena merupakan zat
gizi penting selama masa kehamilan. Kebutuhan zat besi meningkat terutama pada awal
trimester ke II khamilan. Faktanya hampir 70% ibu hamil di Indonesia menderita
anemia. Sebab itu suplemen zat besi diupayakan untuk diberikan selama kehamilan
guna memenuhi kebutuhan zat besi.
14

Contoh menu makanan ibu hamil
Waktu Menu Gram
Ukuran Rumah
Tangga
Manfaat
Nutrisi
Pagi pukul
07.00
Nasi
goreng
Telur
dadar
Lalapan
tomat dan
ketumun
Sari jeruk
200
50
100

200
2gelas
1butir
1 gelas

1 gelas
Zat tenaga : 2
Zat
pembangun : 1
Zat pengatur :
1
Zat pengatur :
1
Pukul 10.00 Bubur
kacang ijo
Jus tomat
200
200
1 gelas
1 gelas
Zat
pembangun : 1
Zaty pengatuir
: 1

Pukul 15.00 Rujak
buah
Susu
200
200
1gelas
1gelas
Zat pengatur :
1
Zat
pembangun : 1


Malam pukul
18.00
Nasi
Ayam
bakar
200
100
2gelas
2potong
Zat tenaga : 2
Zat
15

Tempe
penyet
Lalapan
(kubis,
ketimun,
leunca)
Melon
50

100

100
2potong

1gelas

1 potong
pembangun : 2
Zat
pembangun : 1
Zat pengatur :
1
Zat pengatur :
1

Pukul 21.00 Susu 200 1gelas Zat
pembangun : 1

Berikut ini sederet zat gizi yang sebaiknya lebih diperhatikan
pada kehamilan trimester ke III ini, tentu tanpa mengabaikan zat gizi lainnya:
1. Kalori.
Kebutuhan kalori selama kehamilan adalah sekitar 70.000 -80.000 kilo kalori
(kkal), dengan pertambahan berat badan sekitar 12,5 kg. Pertambahan kalori ini
diperlukan terutama pada 20 minggu terakhir. Untuk itu, tambahan kalori yang
diperlukan setiap hari adalah sekitar 285-300 kkal.
Tambahan kalori diperlukan untuk pertumbuhan jaringan janin dan plasenta
dan menambah volume darah serta cairan amnion (ketuban). Selain itu, kalori juga
berguna sebagai cadangan ibu untuk keperluan melahirkan dan menyusui.
Agar kebutuhan kalori terpenuhi, Anda harus menggenjot konsumsi makanan
dari sumber karbohidrat dan lemak. Karbohidrat bisa diperoleh melalui serelia (padi-
padian) dan produk olahannya, kentang, gula, kacang-kacangan, biji-bijian dan susu.
Sementara untuk lemak, Anda bisa mengonsumsi mentega, susu, telur, daging
berlemak, alpukat dan minyak nabati.
2. Vitamin B6 (Piridoksin).
Vitamin ini dibutuhan untuk menjalankan lebih dari 100 reaksi kimia di dalam
tubuh yang melibatkan enzim. Selain membantu metabolisma asam amino,
16

karbohidrat, lemak dan pembentukan sel darah merah, juga berperan dalam
pembentukan neurotransmitter (senyawa kimia penghantar pesan antar sel saraf).
Semakin berkembang otak jianin, semakin meningkat pula kemampuan untuk
mengantarkan pesan.
Angka kecukupan vitamin B6 bagi ibu hamil adalah sekitar 2,2 miligram
sehari. Makanan hewani adalah sumber yang kaya akan vitamin ini.
3. Yodium.
Yodium dibutuhkan sebagai pembentuk senyawa tiroksin yang berperan
mengontrol setiap metabolisma sel baru yang terbentuk. Bila kekurangan senyawa
ini, akibatnya proses perekembagan janin, termasuk otaknya terhambat dan
terganggu. Janin akan tumbuh kerdil.
Sebaliknya, jika tiroksin berlebih, sel-sel baru akan tumbuh secara berlebihan
sehingga janin tumbuh melampaui ukuran normal. Karenanya, cermati asupa
yodium ke dalam tubuh saat hamil. Angka yang ideal untuk konsumsi yodium
adalah 175 mikrogram perhari.
4. Tiamin (vitamin B1), Riboflavin (B2) dan Niasin (B3).
Deretan vitamin ini akan membantu enzim untuk mengatur metabolisma
sistem pernafasan dan enerji. Ibu hamil dianjurkan untuk mengonsumsi Tiamin
sekitar 1,2 miligram per hari, Riboflavin sekitar 1,2 miligram perhari dan Niasin 11
miligram perhari. Ketiga vitamin B ini bisa Anda konsumsi dari keju, susu, kacang-
kacangan, hati dan telur.
5. Air.
Kebutuhan ibu hamil di trimester III ini bukan hanya dari makanan tapi juga
dari cairan. Ari sangat penting untuk pertubuhan sel-sel baru, mengatur suhu tubuh,
melarutkan danmengatur proses metabolisma zat-zat gizi, serta mempertahankan
volume darah yang meningkat selama masa kehamilan.
Jika cukup mengonsumsi cairan, buang air besar akan lancar sehingga
terhindar dari sembelit serta risiko terkena infeksi saluran kemih. Sebaiknya minum
8 gelas air putih sehari. Selain air putih, bisa pula dibantu dengan jus buah, makanan
berkuah dan buah-buahan. Tapi jangan lupa, agar bobot tubuh tidak naik berlebihan,
kurangi minuman bergula seperti sirop dan softdrink.



17

2.3.2 Kebutuhan Hubungan Seksual Pada Ibu Hamil Trimester III
Pada umumnya koitus diperbolehkan pada masa kehamilan jika dilakukan
dengan hati-hati. Pada akhir kehamilan, jika kepala sudah masuk kedalam rongga
panggul, koitus sebaiknya dihentikan karena dapat menimbulkan perasaan sakit dan
perdarahan.
Sebagian perempuan takut melakukan hubungan seksual saat hamil. Beberapa
merasa gairah seksualnya menurun karena tubuh mereka melakukan banyak
penyesuaian terhadap bentuk kehidupan baru yang berkembang di dalam rahim
mereka. Sementara di saat yang sama, gairah yang timbul ternyata meningkat. Ini
bukan kelainan seksual. Memang ada masanya ketika ibu hamil mengalami
peningkatan gairah seksual.
Pada Trimester ketiga minat menurun lagi Libido dapat turun kembali ketika
kehamilan memasuki trimester ketiga. Rasa nyaman sudah jauh berkurang. Pegal di
punggung dan pinggul, tubuh bertambah berat dengan cepat, nafas lebih sesak (karena
besarnya janin mendesak dada dan lambung), dan kembali merasa mual, itulah
beberapa penyebab menurunnya minat seksual. Tapi jika Anda termasuk yang tidak
mengalami penurunan libido di trimester ketiga, itu adalah hal yang normal, apalagi
jika Anda termasuk yang menikmati masa kehamilan. Anda juga termasuk beruntung
karena tidak perlu tersiksa oleh kaki yang membengkak, sakit kepala, atau keharusan
beristirahat total.
2.3.3 Kebutuhan Psikologis Ibu Hamil Trimester Iii
1. Support Keluarga Dan Tenaga Kesehatan
Trimester III merupakan periode menunggu dan waspada, karena pada periode
ini ibu merasa tidak sabar menunggu kelahiran bayinya. Gerakan bayi dan
membesarnya perut merupakan dua hal yang mengingatkan ibu terhadap bayinya.
Kadang- kadang ibu merasa khawatir anaknya lahir sewaktu-waktu. Ini
menyebabkan ibu meningkat kewaspadaannya terhadap timbulnya tanda dan gejala
terjadinya persalinan pada ibu meningkat. Seringkali ibu merasa khawatir atau
takut kalau-kalau bayi yang akan dilahirkannya tidak normal. Kebanyakan ibu juga
akan bersikap melindungi bayinya dan akan menghindari orang atau benda apa saja
yang dianggapnya membahayakan bayinya. Seorang ibu mungkin mulai merasa
takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang akan timbul pada waktu melahirkan.
18

Rasa tidak nyaman akibat kehamilan timbul kembali pada trimester ini dan
banyak ibu merasa dirinya jelek dan aneh. Di samping itu ibu mulai merasa sedih
karena akan berpisah dari bayinya dan kehilangan perhatian khusus yang diterima
selama kehamilan.
Keluarga dan suami dapat memberikan dukungan dengan memberikan
keterangan tentang persalinan yang akan ibu lalui dan itu hanya masalah waktu
saja. Tetap memberikan perhatian dan semangat pada ibu hamil selama menunggu
persalinannya. Bersama- sama mematangkan persiapan persalinan dengan tetap
mewaspadai komplikasi yang mmungkin terjadi.
Pada priode ini petugas kesehatan dapat memberikan dukungan dengan
memberikan penjelasan bahwa yang dirasakan ibu hamil normal. Kebanyakan ibu
hamil memiliki perasaan dan kekhawatiran yang serupa pada trimester ini .
menenangkan ibu dengan mengatakan bahwa bayinya saat ini merasa senang
berada dalam perut ibu dan tubuh ibu secara alamiah akan meyiapkan kelahiran
bayi. Apabila terjadi ketegangan atau kontraksi bukan berarti bayi akan segera lahir
membicarakan kembali dengan ibu bagaimana tanda tanda persalinan
sebenarnya. Menenangkan ibu dengan menyatakan setiap pangalaman kehamilan
bayi adalah unik, dan meyakinkan bahwa anda akan selalu berada bersama ibu
untuk membantu melahirkan bayinya.
Beberapa rasa ketidaknyamanan yang dirasakan Ibu hamil Trimester III:
a. Diare
b. Edema dependen
c. Nocturia
d. Gatal-gatal
e. Hemoroid
f. Keputihan keringat bertambah
g. Konstipasi
h. Mati rasa dan geli pada jari tangan dan laki
i. Nyeri ligamentum bundar
j. panas dalam
k. perut kembung
l. pusing
19

m. sakit kepala
n. sakit punggung atas dan bawah
o. varicositas pada kaki/vulva
2.4 STANDAR ASUHAN
2.4.1 Standar Asuhan Pada Ibu Hamil
Pernyataan Standar
Asuhan ibu hamil oleh bidan dilakukan dengan cara mengumpulkan data,
menetapkan diagnose rencana tindakan dan melaksanakannya untuk menjamin
keamanan dan keleluasaan serta kesejahteraan ibu & janin selama periode kehamilan.
Persyaratan
Bidan memiliki kemampuan dan keterampilan untuk memberikan asuhan ibu
hamil secara profesional. Tersedianya alat dan perlengkapan yang sesuai dengan
kebutuhan pemeriksaan, asuhan ibu hamil. Lingkungan yang mendukung keamanan
dan kenyamanan ibu selama dilakukan pemeriksaan serta pemberian asuhan.
Kegiatan Asuhan
1. Pengkajian Data
a. Anamnesis
1) Biodata (nama ibu, usia, alamat, pekerjaan, agama, pendidikan terakhir dn
identitas suami).
2) Riwayat kehamilan ini (HPHT, Gerak janin, masalah/keluhan).
3) Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu (jumlah kehamilan, jumlah
anak hidup,kelahiran premature, keguguran , jarak, Jenis persalinan, riwayat
pendarahan, tekanan darah tinggi, berat bayi lahir, masalah/kelahiran lain).
4) Riwayat kesehatan yang sedang dan pernah diderita (masalah kardiovaskuler,
hipertensi, diabetes, malaria, PMS atau yang lainnya).
5) Riwayat social ekonomi (status perkawinan, respon terhadap kehamilan dan
persalinan, riwayat KB, dukungan keluarga, pengambilan keputusan dalam
keluarga, gizi yang dikonsumsi, gaya hidup, rencana tempat dan penolong
persalinan).
b. Pemeriksaan fisik dan penunjang
1) Keadaan umum dan tanda vital (TB, BB, tekanan darah, nadi, suhu,
pernapasan).
2) Kepala dan leher (edema, mata : pucat/iktirik, pembesaran/tumor pada
kelenjar limpe/tiroid, penonjolan yugularis).
20

3) Payudara (bentuk, ukuran, simetris, tumor, keadaan puting susu, cairan yang
keluar, dan jaringan parut).
4) Abdomen dan uterus (bekas luka operasi, tinggi fundus uteri, denyut jantung
janin).
5) Ekstremitas (edema, pucat reflek).
6) Ano genital (luka, varises, pembengkakan, massa, pengeluaran cairan).
7) Panggul (pemeriksaan bimanual dilakukan atas adanya indikasi).
8) Darah (Haemoglobin, golongan darah).
9) Urin (urine lengkap, protein, glukosa).
2. Interpretasi Data
Data yang telah dikumpulkan di interpretasi untuk menegakkan diagnosa kehamilan,
mengidentifikasi masalah/kebutuhan.
Katagori Gambaran
Kehamilan sehat Ibu sehat
Tidak ada riwayat obstetri buruk
Ukuran uterus sama/sesuai dengan umur
kehamilan
Denyut jantung janin dalam batas normal
(120-160 x/menit)
Gerakan janin (+), setelah usia kehamilan
18-20 minggu hingga melahirkan.
Pemeriksaan fisik dan laboratorium
dalam batas normal (tinggi badan >145
cm, tekanan darah dibawah 140/90
mmHg, berat badan minimal 8 Kg selama
kehamilan, edema hanya pada
ekstremitas)
*kehamilan dengan masalah khusus Disertai dengan masalah keluarga atau
psikososial, kekerasan dalam rumah
tangga dan kebutuhan financial
Kehamilan dengan masalah kesehatan
yang membutuhkan rujukan untuk
konsultasi dan atau kerja sama
Disertai dengan hipertensi, anemia berat,
pre-eklampsia, pertumbuhan janin
terhambat, infeksi saluran kemih,
21

penanganannya penyakit kelamin dan kondisi lain-lain
yang dapat memperburuk krhamilannya
Kehamilan dengan kondisi
kegawatdaruratan obstetri dan kehamilan
dengan masalah khusus
Disertai dengan erdarahan, eklampsia,
ketuban pecah dini, atau kondisi-kondisi
kegawatdaruratan lain

Perencanaan dan Pelaksanaan
Setiap wanita sedikitnya empat (4) kalli kunjungan selama periode antenatal :
Satu (1) kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14 minggu).
Satu (1) kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14-28).
Dua (2) kali kunjungan selama trimester ketiga (antara 28-36 dan sesudah
minggu ke 36)
Bila ibu hamil mengalami msalah, tanda bahaya atau jika merasa khawatir dapat
sewaktu-waktu melakukan kunjungan.
Kunjungan Waktu Kegiatan
Trimester
pertama
Sebelum
minggu ke
14
1. Membina hubungan saling percaya antara bidan dan
ibu hamil.
2. Mendeteksi masalah dan mengatasinya.
3. Memberitahukan hasil pemeriksaan dan usia
kehamilan.
4. Mengajari ibu cara mengatasi ketidaknyamanan.
5. Mengajari dan mendorong perilaku yang sehat (cara
hidup sehat bagi wanita hamil, nutrisi, mengantisipasi
tanda-tanda bahaya kehamilan).
6. Menimbang BB, mengukur TD,memberikan imunisasi
Tetanus Toxoit, tablet besi.
7. Mulai mendiskusikan mengenai persiapan kelahiran
bayi dan kesiapan untuk menghadapi
kegawatdaruratan.
8. Menjadwalkan kunjungan berikutnya.
9. Mendokumentasikan pemeriksaan dan asuhan.
Trimester Sebelum Sama seperti diatas, ditambah menentukan tinggi fundus,
22

kedua minggu ke
28
kewaspadaan khusus mengenai pre-eklampsia (tanya ibu
tentang gejala-gejala pre-eklampsia, pantau tekanan darah,
evaluasi edema, eriksa urine untuk mengetahui
proteinuria).
Trimester
ketiga
Antara
minggu
28-36
Sama seperti pada hamil antara minggu 14-28, ditambah
palpasi abdominal untuk mengetahui apakah ada
kehamilan ganda.
Setelah 36
minggu
Sama seperti setelah 36 minggu, ditambah deteksi letak
janin, dan kondisi lain serta kontra indikasi untuk bersalin
di luar RS.
Apalagi ibu mengalami
masalah/ komplikasi/
kegawatdaruratan
Diberikan pertolongan awal sesuai dengan masalah yang
timbul ibu dirujuk ke SPOG untuk konsultasi/kolaborasi
dan melakukan tindak lanjut.

JADWAL PEMBERIAN IMUNISASI TETANUS TOXOID
Antigen Interval
(selang waktu minimal)
Lama
perlindungan
% Perlindungan
TT 1 Pada kunjuang antenatal
Pertama
- -
TT 2 4 minggu setelah TT 1 3 tahun 80
TT 3 1 - 6 bulan setelah TT 2 5 tahun 95
TT 5 1 tahun setelah TT 3 10 tahun 95
TT 6 1 tahun setelah TT 4 25 tahun/seumur
hidup
95
Keterangan : * apabila dalm waktu tiga (3) tahun WUS tersebut melahirkan maka
bayi yang dilahirkan akan terlindungi dari tetanus neonatorum.
Standar minimal asuhan antenatal 7T
1. (Timbang) berat badan.
2. Ukur (tekanan) darah.
3. Ukur (tinggi) fundus uteri.
4. Pemberian imunisasi (Tetanus Toxoid) lengkap, minimal dua (2) kali pemberian.
5. Pemberian (Tablet Besi) minimal, 90 tablet selama kehamilan.
6. (Tes) terhadap penyakit menular seksual.
23

7. (Temu) wicara dalam rangka persiapan rujukan.
Pemberian tablet zat besi
Dimulai dengan memberikan satu (1) tablet sehari sesegera mungkin setelah rasa
mual hilang.
Setiap ibu hamil minimal mendapat 90 tablet selama kehamilannya.
Tiap tablet besi mengandung FeSO
4
320 mg (zat besi 60 mg) dan Asam Folat 500 mg
ug.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, petugas memberi asuhan antenatal,
melakukan langkah sebagai berikut :
Kategori Kegiatan
Kehamilan normal 1. Menyapa ibu (dan juga keluarga yang mendampingi)
dan membuatna merasa nyaman.
2. Melakukan upaya untuk pencegahan infeksi.
3. Mendapatkan riwayat kehamilan, kesehatan ibu dan
mendengarkan dengan cermat hal-hal yang
diceritakan oleh ibu.
4. Melakukan pemerisaan fisik.
5. Melakukan/memintakan pemeriksaan laboratorium
sesuai kebutuhan.
6. Menganalisa hasil-hasil pemeriksaan untuk menilai
kondisi kehamilan.
7. Melakukan pendidikan kesehatan dan konseling
sesuai dengan kebutuhan ibu.
8. Melakukan upaya promosi kesehatan
9. Mempersiapkan kelahiran dan kegawatdaruratan
10. Menjadwalkan kunjungan ulang.
11. Mendokumentasikan hasil pemeriksaan dan asuhan
pada dokumen SOAP.
Kehamilan normal
dengan
masalah/kebutuhan
khusus
1. Memberikan seluruh asuhan antenatal seperti di atas.
2. Memberikan konseling khusus untuk mengatasi
masalah/kebutuhan ibu
3. Melanjutkan pemantauan kondisi ibu dan janin
selama kehamilan.
24

Kehamilan dengan
masalah
kesehatan/komplikasi
1. Memberikaan asuhan antenatal seperti pada
kehamilan normal dengan masalah/kebutuhan
khusus.
2. Merujuk ke dokter untuk konsultasi/koaborasi/
rujukan.
3. Menindak lanjut hasil konsultasi/kolaborasi/rujukan
Kehamilan dengan
kegawatdaruratan
1. Memberikan pertolongan awal sesuai dengan
masalah kegawatdaruratan kehamilan.
2. Merujuj ke DSPOG.
3. Mendampingi ibu terus menerus.
4. Memantau kondisi ibu dan janin.
5. Menindak lanjuti hasil konsultasi/kolaborasi/rujukan.

Pendokumentasian
a. Seluruh hasil pemeriksaan dan asuhan dicatat dengan lengkap, terperinci, jelas
dengan catatan yang berorientasi pada masalah.
b. Menggunakan metode SOAP (Subyektif, Obyektif, Analisis, Planning)
S (Subyektif) : memcatat sema keluhan pasien.
O (Obyektif) : mencatat hasil pemeriksaan.
A (Analisis) : mencatat diagnosa, masalah yang terjadi dan kebutuhan.
P (Planning) : merencanakan pelayanan yang akan diberikan.

Anda mungkin juga menyukai