Anda di halaman 1dari 23

DESAIN PEMBELAJARAN KIMIA

PENERAPAN DESAIN PEMBELAJARAN MODEL ADDIE DALAM


PEMBELAJARAN KIMIA



Dosen Penganmpu :
Dra. Wilda Syahri, M.Pd

Oleh :
Devi Murtiya Ningsih A1C111045
Dede Rian Saputra A1C1110
Hidayah Chuswatun A1C1110
Sonia Karlina A1C1110
Vivie Ariesta A1C1110


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2013
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan
bahwa pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Tujuan pendidikan dan pengajaran
diartikan sebagai suatu bentuk usaha untuk memberikan rumusan hasil yang
diharapkan dari siswa/mahasiswa sebagai subjek belajar, sehingga memberi arah
kemana proses belajar mengajar itu harus dibawa dan dilaksanakan.
Proses pembelajaran merupakan seperangkat kegiatan belajar yang dilakukan
siswa, dimana kegiatan belajar dilaksanakan oleh siswa di bawah bimbingan guru.
Guru bertugas merumuskan tujuan-tujuan yang hendak dicapai pada saat
mengajar, yang mana untuk mencapai tujuan pembelajaran, guru dituntut untuk
merancangkan sejumlah pengalaman belajar.
Media pendidikan memegang peranan penting dalam proses pembelajaran.
Penggunaan media pendidikan, dapat membantu pengajar/guru dalam
menyampaikan materi pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran sangat
ditentukan oleh dua komponen utama yaitu metode pengajaran dan media
pembelajaran. Kedua komponen ini saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
Ali, M (2005) menyatakan bahwa penggunaan media pembelajran dengan
bantuan komputer memiliki pengaruh yang signifikan terhadap daya tarik siswa
untuk mempelajari kompetensi yang diajarkan. Penggunaan media pembelajaran
dapat menghemat waktu persiapan mengajar, meningkatkan motivasi belajar
siswa, dan mengurangi kesalahpahaman siswa terhadap penjelasan yang diberikan
guru.
Salah satu model desain rencana pembelajaran adalah model ADDIE
(Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). Model ADDIE adalah jembatan
antara peserta didik, materi, dan semua bentuk media, berbasis teknologi dan
bukan teknologi. Model ini mengasumsikan bahwa cara pembelajaran tidak hanya
menggunakan pertemuaan kuliah, buku teks, tetapi juga memungkinkan untuk
menggabungkan belajar di luar kelas dan teknologi ke dalam materi pelajaran.
Dalam makalah ini, akan dibahas lebih lanjut bagaimana model desain
pembelajran ADDIE ini diterapkan dan dikembangkan dalam proses pembelajaran
khususnya mata pelajaran kimia.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana cara merancang dan menyusun pembelajaran kimia untuk
materi Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit berdasarkan model desain
pembelajaran ADDIE?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk memahami cara merancang dan menyusun pembelajaran kimia
untuk materi Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit berdasarkan model
desain pembelajaran ADDIE?













BAB II
PEMBAHASAN
RANCANGAN MEDIA PEMBELAJARAN LARUTAN ELEKTROLIT
DAN NONELEKTROLIT BERDASARKAN MODEL DESAIN
PEMBELAJARAN ADDIE


2.1 Rancangan Penggunaan Media Menggunakan Model ADDIE
Model pengembangan ADDIE merupakan model desain pembelajaran yang
berlandasan pada pendekatan sistem yang efektif dan efisien serta prosesnya yang
bersifat interaktif yakni hasil evaluasi setiap fase dapat membawa pengembangan
pembelajaran ke fase selanjutnya. Hasil akhir dari suatu fase merupakan produk
awal bagi fase berikutnya. Model ADDIE didasarkan pada lima proses belajar,
yaitu :
Analysis (Analisa)
Design (Desain / Perancangan)
Development (Pengembangan)
Implementation (Implementasi/Eksekusi)
Evaluation (Evaluasi/ Umpan Balik)
Kelima tahapan tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan dan harus selalu berurutan ketika di terapkan dalam pembelajaran di
dalam kelas.
Oleh karena itu dalam perancangan/penyusunan media pembelajaran yang
akan di gunakan untuk materi Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit berdasarkan
model ADDIE di dasarkan pada kelima tahapan di atas.
Berikut uraian dari kelima tahapan dalam mendesain media pembelajaran
dalam materi Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit


1. Analysis (Analisa)
Tahap analisis dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik dari
siswa, baik itu dari segi latar belakang, minat terhadap pembelajaran, gaya belajar,
dan lain-lainnya. Selain itu juga untuk mengkaji tentang kompetensi yang terdapat
dalam kurikulum serta menganalisis tentang setting (dimana media tersebut di
manfaatkan).
Untuk itu di lakukanlah observasi (pengumpulan data) dengan menggunakan
angket dengan tujuan untuk mengetahui dan mendapatkan keterangan serta
gambaran seperti apa siswa tersebut, bagaimana gaya belajarnya, apakah
keseluruhan lebih suka mendengar, melihat, melihat-mendengar, dan apakah
penggunaan media cocok untuk diterapkan serta observasi ini juga digunakan
untuk mengetahui mengenai media apa yang selama ini digunakan dalam
pembelajaran. Dengan demikian dapat diketahui media apa yang tepat yang harus
di kembangkan dan dikembangkan dalam proses pembelajaran kimia khususnya
materi Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit.
Identifikasi karakreristik siswa di lakukan terhadap siswa kelas sepuluh
semester dua. Hal ini di karenakan materi Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit
merupakan materi SMA kelas X semester 2. Adapun tujuan dari pembelajaran ini
sendiri yaitu dapat mengidentifikasi sifat-sifat larutan elektrolit dan non elektrolit.
Dari kegiatan analisis melalui angket ini terlihat bahwa ternyata dalam proses
pembelajaran, guru menjelaskan teori larutan elektrolit dan Nonelektrolit melalui
pembelajaran klasik (ceramah) saja, sehingga sebagian besar siswa masih merasa
bingung dan belum menguasai materi secara maksimal. Oleh karena itu, agar
siswa lebih mengerti dan memahami mengenai materi Larutan Elektrolit dan
Nonelektrolit ini di gunakanlah media pembelajaran berupa multimedia dengan
sebagai penunjang, yang di harapkan mampu menarik minat serta motivasi siswa
dalam belajar sehingga tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dapat terwujud.
Hal ini juga di dukung dengan adanya fasilitas yang memadai yang dimiliki
oleh sekolah. Sehingga bila dalam pembelajaran digunakan media maka hal ini
dapat dilakukan.
Penyususan media pembelajaran harus disesuaikan dengan karakteristik
siswa. Untuk itulah pentingnya observasi yang dilakukan di awal tadi, agar media
yang dikembangkan sesuai dengan kondisi dan karakter siswa.
Fleming dan Mills (1992) dalam Slamento (2003) mengajukan kategori gaya
belajar (Learning Style) VARK ( Visual, Auditory, Read-write, Kinestetic)
tersebut sebagai berikut :
1. Visual. Kecenderungan ini mencakup menggambarkan informasi dalam
bentuk peta, diagram, garfik, flow chart dan symbol visual seperti panah,
lingkaran, hirarki dan materi lain yang digunakan instruktur untuk
mempresentasikan hal-hal yang dapat disampaikan dalam kata-kata. Hal ini
mencakup juga desain, pola, bentuk dan format lain yang digunkan untuk
menandai dan menyampaikan informasi.
2. Aural atau Auditory Learning. Modalitas ini menggambarkan preferensi
terhadap informasi yang didengar atau diucapkan. Siswa dengan modalitas ini
belajar secara maksimal dari ceramah, tutorial, tape diskusi kelompok, bicara
dan membicarakan materi. Hal ini mencangkup berbicara dengan suara keras
atau bicara kepada diri sendiri.
3. Read Write
4. Kinestetic atau Tactile Learner. Berdasarkan definisi, modalitas ini
mengarah pada pengalaman dan latihan (simulasi atau nyata, meskipun
pengalaman tersebut melibatkan modalitas lain. Hal ini mencakup
demonstrasi, simulasi, video dan film dari pelajaran yang sesuai aslinya, sama
halnya dengan studi kasus, latihan dan aplikasi.

Dalam hal ini kami memilih media berupa power point, karena
penggunaan/pengoperasian yng lebih mudah sehingga materi pembelajaran lebih
mudah di pahami.




2. Design (Desain / Perancangan)
Pada tahap desain ini hal pertama yang dilakukan yaitu merumuskan tujuan
pembelajaran. Kemudian menentukan strategi pembelajaran yang tepat harusnya
seperti apa untuk mencapai tujuan tersebut.
Tujuan pembelajaran dalam pengembangan media Larutan Elektrolit dan
Nonelektrolit terdiri dari tujuan pembelajaran umum, yakni siswa/peserta didik
mampu memahami Larutan elektrolit dan Nonelektrolit, serta tujuan khusus,
yakni mampu mengelompokkan larutan ke dalam larutan elektrolit berdasarkan
sifat hantaran listriknya, mengelompokkan larutan ke dalam larutan non elektrolit
berdasarkan sifat hantaran listriknya, menjelaskan sifat-sifat larutan elektrolit dan
larutan non elektrolit, serta menjelaskan penyebab kemampuan larutan elektrolit
menghantarkan arus listrik.
Dalam hal ini ada banyak pilihan kombinasi metode/strategi serta media
pembelajaran yang dapat kita pilih yang paling relevan. Dalam materi Larutan
Elektrolit dan Nonelektrolit ini digunakan metode ceramah dan eksperimen. Guru
memberikan penjelasan mengenai materi ini di dukung dengan tayangan-tayangan
video. Di samping berisi materi pelajaran, video ini juga berisi latihan-latihan
soal, serta eksperimen yang di lakukan untuk menguji antara larutan elektrolit dan
nonelektrolit, sehinnga dapat membantu siswa untuk lebih memahami materi yang
di sampaikan.
Berdasarkan identifikasi tujuan dan materi, media yang kami pilih untuk
materi Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit ini yaitu power point. Pemilihan
media power point sebagai media pembelajaran karena power point memiliki
banyak keunggulan dibanding dengan yang lain, yaitu pengoperasian lebih
mudah, bisa digunakan pada semua komputer karena power point merupakan
progam dasar yang terdapat dalam setiap komputer. Adapun story board media
tersebut, yaitu :

Dari story board diatas, kemudian di tentukan background dari setiap
tampilan halaman, menentukan tampilan opening media, membuat animasi
gerakan, menentukan letak tombol yang akan di gunakan, menentukan letak
menu utama untuk masuk dalam materi pembelajaran, serta menentukan gambar,
grafik, serta audio yang mengiringinya.
3. Development (Pengembangan)
Setelah mengumpulkan semua materi yang dibutuhkan, yaitu meliputi materi
pelajaran Larutan elektrolit dan Nonelektrolit, gambar, audio, dan animasi,
langkah selanjutnya yaitu mengembangkan media dengan memadukan semua
materi tersebut sehingga membentuk sebuah multimedia interaktif yang siap di
gunakan dalam proses pembelajaran. Tahapan ini di kenal dengan tahapan
development (pengembangan).
Dalam pengembangan media diperlukan pengukuran dan penilaian terhadap
media yang telah dirancang (uji coba). Penilaian (uji coba) tersebut bertujuan
untuk mengumpulkan data sebagai dasar apakah media pembelajaran yang telah
di buat layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran sehingga dapat
menunjang tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
Penilaian ini meliputi penilain dari ahli materi dan ahli media. Media yang
telah dibuat di uji cobakan kepada ahli materi dan ahli media untuk diuji
keefektifannya, yaitu dengan memberikan angket. Validator menilai seluruh
tampilan yang terdapat dalam media pembelajaran, baik itu video, audio, gambar,
animasi, kemenarikan media (untuk ahli media), serta penilain materi pada media
ini yang meliputi kelengkapan informasi materi Larutan elektrolit dan
Nonelektrolit, kesesuaian video, gambar, dan animasi dengan materi, serta
kesesuaian latihan soal sebagai penunjang (untuk ahli materi).
Angket penilaian yang di berikan kepada ahli materi dan ahli media ini terdiri
atas 10 butir pertanyaan dengan alternatif jawaban yang terdiri dari empat kategori
(jawaban 4 di beri skor 3, jawaban 3 di beri skor 2, jawaban 2 di beri skor
1, dan jawaban 1 di beri skor 0). Tabel kriteria jawaban dapat dilihat pada tabel
di bawah ini.
4 3 2 1
Baik Cukup baik Kurang baik Sangat kurang baik
Sesuai Cukup sesuai Kurang sesuai Sangat kurang sesuai
Jelas Cukup jelas Kurang jelas Sangat kurang jelas
Menarik Cukup menarik Kurang menarik Sangat kurang menarik
Mudah Cukup mudah Kurang mudah Sangat kurang mudah
Tepat Cukup tepat Kurang tepat Sangat kurang tepat

Angket Tanggapan Ahli Media Terhadap Media Yang Digunakan
No Aspek yang di Nilai
Kriteria
4 3 2 1
1 Kesesuaian media power point dengan materi pelajaran
2 Kejelasan tulisan dan gambar yang terdapat dalam media power point
3 Kesesuaian peletakan menu dalam tampilan media power point
4 Petunjuk penggunaan media mudah untuk dipahami
5 Ketepatan evaluasi pada menu latihan
6 Kesesuaian animasi terhadap materi dalam media ini
7 Keefektifan media yang dikembangkan untuk kegiatan pembelajaran
8 Kemenarikan komposisi warna
9 Kemudahan memahami materi pelajaran dalam power point
10 Kemudahan pengoperasian media power point


Angket Tanggapan Ahli Materi Terhadap Media Yang Digunakan
No Aspek Yang Dinilai
Kriteria
4 3 2 1
1 Bahasa yang digunakan sederhana dan mudah dipahami
2 Kejelasan isi materi pembelajaran

Selain dari uji coba terhadap ahli materi dan ahli media, uji coba juga di
lakukan terhadap kelompok kecil (beberapa siswa) dan kelompok besar (seluruh
siswa 1 kelas). Uji coba kelompok kecil dilakukan dengan mengambil sampel dari
1 orang siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata, 1 orang siswa yang
memiliki kemampuan standar, dan 1 orang yang memiliki kemampuan dibawah
rata-rata. Dengan menggunakan sampel yang dengan perbedaan kemampuan
(inteligensi) ini di harapkan dapat mewakili homogenitas yang terdapat dalam
suatu kelas.
4. I mplementation (Implementasi/Eksekusi)
Implementasi merupakan langkah nyata untuk menerapkan sistem
pembelajaran yang sedang kita buat. Artinya, pada tahap ini semua yang telah
dikembangkan sedemikian rupa sesuai dengan peran atau fungsinya agar bisa
diimplementasikan. Misalnya, media pembelajaran Larutan Elektrolit dan
Nonelektrolit dalam bentuk macromedia flah 8, maka software (perangkat lunak)
tersebut harus sudah diinstal. Setelah itu barulah diimplementasikan sesuai
skenario atau desain awal.
Implementasi media pembelajaran yang telah di buat ini kemudian di uji
cobakan kepada siswa. Uji coba ini di lakukan dalam kelompok. Uji coba
kelompok dilakukan dengan mengambil satu sampel dari suatu kelas, yaitu
dengan memberikan pre-test (sebelum digunakan media), menyajikan media yang
3
Materi yang terdapat dalam media ini sudah tepat dalam rangka
pencapaian tujuan pembelajaran

4 Kesesuaian soal latihan dengan wacana dalam materi
5 Kejelasan petunjuk pengisian soal
6 Kesesuaian animasi dengan materi yang terdapat dalam media
7 Keefektifan pembelajaran dengan menggunakan media
8 Materi yang terdapat dalam media ini sudah lengkap dan jelas
9 Objek gambar yang tersedia dalam media ini sesuai dengan materi
10 Kesesuaian isi media dengan materi yang dipelajari
telah dibuat, memberikan post-test (setelah menggunakan media), kemudian
membandingkan antara hasil pre-test dengan post-test sebagai acuan seberapa
efektif media pembelajaran yang telah dibuat. Selain itu siswa juga di beri angket
untuk mengetahui bagaimana pendapat mereka terhadap materi yang disajikan
dalam media serta kualitas media yang di tampilkan.
Angket penilaian yang di berikan kepada siswa ini terdiri atas 10 butir
pertanyaan dengan alternatif jawaban yang terdiri dari empat kategori (jawaban
4 di beri skor 3, jawaban 3 di beri skor 2, jawaban 2 di beri skor 1, dan
jawaban 1 di beri skor 0). Tabel kriteria jawaban dapat dilihat pada tabel di
bawah ini.
4 3 2 1
Baik Cukup baik Kurang baik Sangat kurang baik
Sesuai Cukup sesuai Kurang sesuai Sangat kurang sesuai
Jelas Cukup jelas Kurang jelas Sangat kurang jelas
Menarik Cukup menarik Kurang menarik Sangat kurang menarik
Mudah Cukup mudah Kurang mudah Sangat kurang mudah
Tepat Cukup tepat Kurang tepat Sangat kurang tepat
Adapun aspek yang dinilai dalam angket ini yaitu :
Angket Tanggapan Siswa Terhadap Media Yang Digunakan
No Aspek yang Dinilai
Kriteria
4 3 2 1
1
Media menyajikan tampilan (warna, juruf, gambar, animasi) yang baik
dan menarik

2 Mudah dalam menggunakan media ini
3
Penggunaan media flash player sebagai media pembelajaran membuat
siswa lebih bersemangat untuk belajar

4 Bahasa yang digunakan mudah dipahami
5 Media ini memudahkan saya dalam mengerjakan soal evaluasi latihan
6 Latihan soal yang disajikan mudah dipahami
7 Tutorial atau materi mudah dimengerti dan dipahami
8 Urutan materi dalam media ini membingungkan
9 Sound effect atau musik mengganggu konsentrasi
10 Kejelasan materi yang disajikan
Data dari hasil angket tersebut di olah sedemikian rupa melalui perhitungan
untuk keseluruhan aspek sehingga akan di ketahui validitas ataupun kelayakan
media yang digunakan.
5. Evaluation (Evaluasi/ Umpan Balik)
Tahap evaluasi merupakan tahap dimana produk pengembangan media di
revisi untuk menarik kesimpulan dari hasil analisis data baik itu dari ahli media,
ahli materi, maupun siswa tentang produk yang divalidasi sebagai dasar dalam
perevisian.
Hasil revisi media pembelajaran oleh ahli media, ahli materi, dan siswa ini di
jadikan acuan apakah media interaktif yang dibuat efektif dan cocok digunakan
sebagai meia pembelajaran dalam materi Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit.
Keefektifan media pembelajaran ini dapat dilihat dari hasil persentase analisis
yang dilakukan oleh ahli media, ahli materi, dan siswa. Jika persentase diatas 70%
berarti media yang dibuat dapat digunakan sebagai media pembelajaran.
2.2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(Larutan Elektrolit Dan Non Elektrolit)
Nama Sekolah : SMA N 3 Kota Jambi
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/Semester : X/ 2
Alokasi Waktu : 245 menit

A. Standar Kompetensi
- Memahami sifat-sifat larutan non-elektrolit dan elektrolit, serta reaksi
oksidasi - reduksi
B. Kompetensi Dasar
- Mengidentifikasi sifat larutan non-elektrolit dan elektrolit berdasarkan data
hasil percobaan.
C. Indikator
1. Mengidentifikasi sifat-sifat larutan elektrolit dan nonelektrolit
2. Mengelompokkan larutan ke dalam larutan non elektrolit berdasarkan sifat
hantaran listriknya
3. Menyebutkan sifat-sifat larutan elektrolit dan non elektrolit

D. Tujuan Pembelajaran
Aspek Kognitif
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan siswa dapat :
1. Siswa dapat mengidentifikasi sifat-sifat larutan elektrolit dan non elektrolit
melalui eksperimen
2. Siswa dapat mengelompokkan larutan ke dalam larutan nonelektrolit dan
elektrolit berdasarkan sifat hantaran listriknya.
3. Siswa Menyebutkan sifat-sifat larutan elektrolit dan non elektrolit melalui
eksperimen
Asfek Afektif
Aspek afektif yang dikembangkan diantaranya:
1. Kemampuan menanggapi permasalahan yang diajukan guru.
2. Kemampuan bertanya dan menyusun pertanyaan.
3. Kemampuan menjawab pertanyaan yang diajukan guru.
4. Kemampuan menghargai pendapat orang lain.
5. Bertanggung jawab
Aspek Psikomotorik0
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan siswa terampil :
1. Merangkai alat uji daya hantar listrik
2. Menuangkan larutan kedalam gelas kimia
3. Mengukur larutan
E. Materi Ajar
LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT

Larutan adalah campuran homogen dari dua jenis atau lebih zat. suatu larutan
terdiri atas zat pelarut (solvent) dan zat terlarut (solute). Dilihat dari
kemampuannya dalam menghantarkan arus listrik larutan dibedakan menjadi 2
yaitu:
a. Larutan Elektrolit adalah larutan yang dapat terurai menjadi partikel partikel
yang bermuatan (ion positif dan ion negative),dan dapat menghantarkan arus
listrik. Larutan elektrolit pada alat uji elektrolit ditandai dengan lampu menyala
dan timbulnya gelembung gas pada salah satu atau kedua elektrodanya.
Larutan elektrolit dibedakan menjadi 2 yaitu:

Elektrolit kuat : seluruh molekulnya terurai menjadi ion-ion (terionisasi
sempurna). Karena banyak ion yang dapat menghantarkan arus listrik, maka
daya hantarnya kuat Lampu menyala terang, dan pada permukaan elektroda
terdapat banyak gelembung gas. Contoh : NaCl, H2SO4, HCl, HNO3, HBr,
HI, HClO4, NaOH, KOH, Ba(OH)2, Ca(OH)2, Sr(OH)2, NaCl. KCl,
Mg(NO3)2, dsb
Elektrolit lemah :. Lampu menyala redup/ tidak menyala dan pada
permukaan elektroda terdapat sedikit gelembung gas. Hal ini disebabkan
tidak semua larutan terurai menjadi ion-ion (ionisasi tidak sempurna)
sehingga dalam larutan hanya ada sedikit ion-ion yang dapat menghantarkan
arus listrik Contoh : HF, HNO2, HCN, H2S, CH3COOH, NH3, Al(OH)3,
Fe(OH)3 dsb

b. Larutan Non Elektrolit adalah larutan yang tidak dapat mengalami
ionisasi(terurai) menjadi partikel-partikel bermutan (ion positif dan ion negatif)
dan tidak dapat menghantarkan arus listrik. Hal ini ditandai lampu tidak
menyala pada alat uji elektrolit dan tidak terdapat gelembung gas pada
permukaan elektrodanya. Contoh : larutan gula, larutan UREA, larutan alkohol
dsb.

1. Larutan elektrolit dapat menghantarkan listrik

Hal ini untuk pertama kalinya diterangkan oleh Svante August
Arrhenius (1859-1927), seorang ilmuwan dari Swedia. Arrhenius menemukan
bahwa zat elektrolit dalam air akan terurai menjadi partikel partikel berupa atom
atau gugus atom yang bermuatan listrik. Karena secara total larutan tidak
bermuatan, maka jumlah muatan positif dalam larutan harus sama dengan muatan
negatif.
Atom atau gugus atom yang bermuatan listrik itu dinamai ion. Ion yang
bemuatan positif disebut kation, sedangkan ion yang bermuatan negatif disebut
anion. Pembuktian sifat larutan elektrolit yang dapat menghantarkan listrik ini
dapat diperlihatkan melalui eksperimen. Zat-zat yang tergolong elektrolit yaitu
asam, basa, dan garam. Contoh larutan elektrolit kuat : HCl, HBr, HI, HNO3, dan
lain-lain. Contoh larutan elektrolit lemah : CH3COOH, Al(OH)3 dan Na2CO3.

2. Larutan non elektrolit tidak dapat menghantarkan listrik.
Adapun larutan non elektrolit terdiri atas zat-zat non elektrolit yang tidak
dilarutkan ke dalam air tidak terurai menjadi ion (tidak terionisasi). Dalam
larutan, mereka tetap berupa molekul yang tidak bermuatan listrik. Itulah
sebabnya larutan non elektrolit tidak dapat menghantarkan listrik. Pembuktian
sifat larutan non elektrolit yang tidak dapat menghantarkan listrik ini dapat
diperlihatkan melalui eksperimen. Contoh larutan non elektrolit: Larutan Gula
(C12H22O11), Etanol (C2H5OH), Urea (CO(NH2)2), Glukosa (C6H12O6), dan
lain-lain.
Bagaimana larutan elektrolit atau zat elektrolit dapat menghantarkan arus
listrik???

Menurut Arrhenius bahwa dalam larutan elektrolit yang berperan
menghantarkan arus listrik adalah partikel-partikel bermutan (ion) yang bergerak
bebas didalam larutan. Contohnnya bila Kristal NaCl dilarutkan dalam air, maka
oleh pengaruh air NaCl terdissosiasi menjadi ion positif Na
+
(kation) dan ion Cl
-

(anion) yang bebas bergerak. Ion-ion inilah yang menghantarkan arus listrik
dalam larutan elektrolit melalui kedua ujung kawat (kutub electrode) pada alat uji
elekrolit.
Dari pengamatan tersebut diketahui bahwa ion-ion positif bergerak menuju ke
kutub negative dan ion-ion negatif bergerak ke kutub positif, jadi dapat
disimpulkan bahwa suatu zat dapat menjadi elektrolit bila didalam larutannya zat
tersebut terurai menjadi ion-ion yang bebas bergerak.
Kekuatan Elektrolit
Kekuatan suatu elektrolit ditandai dengan suatu besaran yang disebut derajat
ionisasi (). Elektrolit kuat memiliki harga = 1, sebab semua zat yang dilarutkan
terurai menjadi ion. Elektrolit lemah memiliki harga <1, sebab hanya sebagian
yang terurai menjadi ion. Adapun non elektrolit memiliki harga = 0, sebab tidak
ada yang terurai menjadi ion.
Elektrolit kuat : = 1(terionisasi sempurna)
Elektrolit lemah : 0 < < 1 (terionisasi sebagian)
Non Elektrolit : = 0 (tidak terionisasi)
Reaksi Ionisasi Elektrolit Kuat
Larutan yang dapat memberikan lampu terang, gelembung gasnya banyak,
maka laurtan ini merupakan elektrolit kuat. Umumnya elektrolit kuat adalah
larutan garam. Dalam proses ionisasinya, elektrolit kuat menghasilkan banyak ion
maka = 1 (terurai seluruhnya), pada persamaan reaksi ionisasi elektrolit kuat
ditandai dengan anak panah satu arah ke kanan. Perlu diketahui pula elektrolit
kuat ada beberapa dari asam dan basa.
Contoh : - NaCl
(aq)
Na
+
(aq)
+ Cl
-
(aq)

- KI
(aq)
K
+
(aq)
+ I
-
(aq)

- Ca(NO
3
)
2(g)
Ca
2+

(aq)
+ 2NO
3
-
(aq)


Di bawah ini diberikan kation dan anion yang dapat membentuk elektrolit kuat.
Kation : Na
+
, L
+
, K
+
, Mg
2+
, Ca
2+
, Sr
2+
, Ba
2+
, NH
4
+
Anion : Cl
-
, Br
-
, I
-
, SO
4
2-
, NO
3
-
, ClO
4
-
, HSO
4
-
, CO
3
2-
, HCO
3
-

Reaksi Ionisasi Elektrolit Lemah
Larutan yang dapat memberikan nyala redup ataupun tidak menyala, tetapi
masih terdapat gelembung gas pada elektrodanya maka larutan ini merupakan
elekrtolit lemah. Daya hantarnya buruk dan memiliki (derajat ionisasi) kecil,
karena sedikit larutan yang terurai (terionisasi). Makin sedikit yang terionisasi,
makin lemah elektrolit tersebut. Dalam persamaan reaksi ionisasi elektrolit lemah
ditandai dengan panah dua arah (bolak-balik) artinya tidak semua molekul terurai
(ionisasi tidak sempurna)
Contoh: - CH
3
COOH
(aq)
CH3COO
-
(aq)
+ H
+
(aq)

- NH
4
OH
(g)
NH
4
+
(aq)
+ OH
-
(aq)

Jenis-jenis larutan berserta sifatnya sebagai kesimpulan dari penjelasan di atas
diperlihatkan pada Tabel 1.1
Tabel 1.1: Perbedaan sifat larutan elektrolit kuat, elektrolit lemah dan non
elektrolit
Jenis
larutan
Sifat dan pengamatan
lain
Contoh Reaksi ionisasi
Elektrolit
Kuat
- Terionisasi sempurna
- Menghantarkan arus
listrik
- Lampu menyala terang
Erdapat gelembung gas
- NaCl
- HCl
- NaOH
- H
2
SO
4

- KCl
- NaCl Na
+
+ Cl
-

- HCl H
+
+ Cl
-

- NaOH Na
+
+ OH
-

- H
2
SO
4
2H
+
+ SO
4
2-

- KCl K
+
+ Cl
-

Elektrolit
Lemah
- Terionisasi sebagian
- Menghantarkan arus
listrik
- Lampu menyala redup
- Terdapat gelembung gas
- NH
4
OH
- HCN
- Al(OH)
3

- NH
4
OH NH
4
+
+ OH
-

- HCN H
+
+ CN
-

- Al(OH)
3
Al3
+
+ 3OH
-

Non
Elektrolit
- Tidak terionisasi
- Tidak menghantarkan
listrik
- Lampu tidak menyala
- Tidak ada gelembung gas
- C
6
H
12
O
6

- C
12
H
22
O
11

- C
6
(NH
2
)
2
C
2
H
5
OH
- C
6
H
12
O
6

- C
12
H
22
O
11

- C
6
(NH
2
)
2
C
2
H
5
OH

F. Strategi Pembelajaran
Pendekatan : Kontekstual
Model : STAD
Metode Pembelajaran : Ceramah dan eksperimen
G. Langkah-langkah Pembelajaran
1. Tatap Muka
Kegiatan Fase Kegiatan Alokasi Waktu
Awal/Pen
dahuluan
Orientasi
Guru mengucapkan salam dan
memperhatikan kesiapan siswa dalam
proses pembelajaran.

Apersepsi
Siswa dibimbing untuk mengingat kembali
tentang materi dengan bertanya kepada
siswa: apa yang dimaksud dengan
larutan? pernahkah kalian melihat larutan
yang dapat menghantarkan arus listrik ?
coba kalian sebutkan larutan apa saja yang
kalian temui dalam kehidupan sehari-hari
yang bersifat menghantarkan listrik dan
tidak menghantarkan listrik?

Motivasi
Guru memotivasi siswa dengan
mengajukan beberapa pertanyaan yang
berkaitan dengan daya hantar listrik pada
suatu benda.
10 menit


Pemberian Acuan
Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran
produk, proses, psikomotor, keterampilan
sosial, dan karakter

Inti Eksplorasi
- Guru menyampaikan konsep dasar dari
materi larutan eketrolit dan non elektrolit
- Siswa mendengarkan penjelasan guru
mengenai larutan elektrolit dan non
elektrolit
- Siswa diminta untuk menyimak
penjelasan guru dan melakukan
pengkajian terhadap konsep dasar dari
larutan elektrolit dan non elektrolit
melalui beberapa contoh larutan yang

ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Elaborasi

- Siswa berfikir dan menentukan contoh
dari apa saja larutan elektrolit dan non
elektrolit yang terdapat dalam kehidupan
sehari hari.
- Siswa bekerja keras dalam mengali
informasi tentang larutan yang ditemui
dalam kehidupan sehari-hari yang dapat
menghantarkan arus listrik dan yang
tidak dapat menghantarkan arus listrik.
- Siswa dengan rasa ingin tahu nya
bertanya atau berdiskusi dengan
temannya atau guru tentang larutan
elektrolit dan non elektrolit.








70 menit
Konfirmasi
- Guru memberikan tanggapan dan
simpulan berdasarkan materi yang telah
dibahas.
- Guru memberikan penguatan alasan
mengapa ada larutan yang dapat
menghantarkan arus listrik dan tidak ?


Evaluasi
Guru memberikan tugas kepada siswa sebagai
evaluasi untuk menguji pemahaman siswa
terhadap materi yang disampaikan

Penutup
Penghargaan
Memberikan penghargaan kepada
siswa/kelompok yang mengerjakan tugas
dengan benar

10 menit
Refleksi - Guru secara mandiri membimbing siswa
untuk membuat rangkuman dari materi
yang telah dibahas.
- Guru memberikan umpan balik terhadap
materi yang telah diajarkan secara
demokratis.
- Guru mengakhiri pelajaran dengan
menutup pertemuan dengan
mengucapkan salam.
2. Penugasan Terstruktur
Guru menugaskan siswa untuk membuat laporan hasil praktikum
H. Sumber Belajar
Alat : Seperangkat alat uji elektrolit
Bahan : Aquades, Air keran, Larutan garam, Larutan gula, Larutan asam
cuka, Air sabun, Air jeruk, Minyak tanah, Minyak kelapa
Sumber : Buku Paket Kimia (Erlangga) dan Modul Praktikum
I. Penilaian
Kognitif : Uji tertulis (pre-test) dan laporan
Psikomotorik : Keterampilan melakukan eksperimen, kerjasama, dan
kejujuran
No Kelompok Keterampilan dalam eksperimen Kerjasama Kejujuran
1 1
2 2
3 3
4 4

Keterangan : A : 90-100 D : 60-70
B : 80-90 E : 50-60
C : 70-80
Mengetahui,
(Kepala sekolah) (Guru Mata Pelajaran)

Lampiran
Soal pre test
1. Apa yang dimaksud dengan larutan elektrolit dan larutan non elektrolit?
(Skor 20)
2. Dari berbagai bahan yang akan diuji cobakan, coba prediksikan bahan mana
yang tergolong larutan elektrolit dan yang tergolong larutan non elektrolit?
(Skor 20)
3. Jelaskan mengapa larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik? (Skor
20)
Jawaban pre tes
1. Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik
sedangkan larutan non elektrolit adalah larutan yang tidak dapat
menghantarkan arus listrik
2. Larutan elektrolit : air aki,air jeruk,larutan asam cuka dsb
Larutan non elektrolit : air gila, akuadest
3. Karena pada larutan elektrolit terdapat ion-ion yang terurai secara sempurna
sehingga dapat menghantarkan arus listrik

LKS Praktikum
NO Bahan Nyala lampu Gelembung
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10







DAFTAR PUSTAKA

Pribadi, Benny A. 2009. Model Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: PT. Dian
Rakyat.

Suparman, Atwi. 2009. Desain Intruksional. Jakarta: Universitas Terbuka

http://Jtptiain-gdl-ziyadatula-5420-1-ziyadatu-3.pdf
ADDIE Instructional_Design_Model.Retrived December/20/2006.From
http://itsinfo.tamu.edu/workshops/handouts/pdf-handouts/addie.pdf

http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/macam-macam-gaya-belajar-
karakteristik.html