Anda di halaman 1dari 22

1

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
Kampus I I Ukrida Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta 11510
Thirumurugan a/l Nyanasegram
102009334 C4
thiru5000omega@hotmail.com

Premature Preterm Rupture Of
Membrane (pPROM)

Abstrak
Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya
melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya
melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu. Kejadian KPD
berkisar 5-10% dari semua kelahiran, dan KPD preterm terjadi 1% dari semua kehamilan. 70%
kasus KPD terjadi pada kehamilan cukup bulan. KPD merupakan penyebab kelahiran prematur
sebanyak 30%. PPROM terjadi dari usia kehamilan 24-37 minggu jauh lebih sulit untuk
mengelola dari ketuban pecah dini (PROM) pada term. Prematuritas adalah risiko utama bagi
janin, sementara infeksi morbiditas dan komplikasinya merupakan resiko maternal primer.
Semua rencana untuk pengelolaan PPROM jauh dari term harus meliputi keluarga dan tim medis
merawat kehamilan, termasuk tim medis neonatal dan ibu. Jauh dari istilah, PPROM seharusnya
hanya dirawat di NICU mana fasilitas tersebut tersedia dan mampu merawat neonatus. Karena
sebagian PPROM kehamilan melahirkan dalam waktu satu minggu ROM, ibu hamil harus
ditransfer ke fasilitas yang berkualitas dengan segera dan harus difasilitasi segera setelah
diagnosis.
Kata kunci: ketuban pecah dini, premature preterm rupture of membrane, infeksi
2

Pendahuluan
Selaput ketuban yang membatasi rongga amnion terdiri atas amnion dan korion yang
sangat erat kaitannya. Lapisan ini terdiri atas beberapa sel seperti sel epitel, sel mesenkim dan sel
trofoblast yang terikat erat dalam metrics kolagen. Selaput ketuban berfungsi menghasilkan air
ketuban dan melindungi janin terhadap infeksi.
Dalam keadaan normal, selaput ketuban pecah dalam proses persalinan. Ketuban pecah
dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan. Bila ketuban pecah dini
terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu, disebut ketuban pecah dini pada kehamilan
premature. Dalam keadaan normal 8-10% perempuan hamil aterm akan mengalami ketuban
pecah dini. Kejadian KPD berkisar 5-10% dari semua kelahiran, dan KPD preterm terjadi 1%
dari semua kehamilan. 70% kasus KPD terjadi pada kehamilan cukup bulan. KPD merupakan
penyebab kelahiran prematur sebanyak 30%.
Pecahnya selaput ketuban berkaitan dengan perubahan proses biokimia yang terjadi
dalam kolagenmatriks eksta seluler amnion, korion, dan apoptosis membrane janin. Membrane
janin dan desidua bereaksi terhadap stimuli, seprti infeksi dan peregangan selaput ketuban
dengan memproduksi mediator seperti prostaglandin, sitokinin dan protein hormone.














3


Skenario
Banjir kiriman
Ny. BCL G2 P1 A0 umur 27 tahun dengan kehamilan 8 bulan, datang ke UGD dengan keluhan
cairan banyak dari vagina sejak 8 jam yang lalu disertai nyeri perut dan pinggang bawah sejak 2
jam yang lalu. Pada pemeriksaan didapat: Keadaan umum baik, T 130/85 mm Hg, N 76/m, P
20x/m, fundus uteri pusat- processus xyphoideus, konsistensi uterus lunak kenyal, letak anak
memanjang, kepala dibawah, belum masuk panggul.

Hipotesis
Ny. BCL 27 tahun hamil 8 bulan dengan keluhan cairan banyak keluar dari vagina sejak 8 jam
lalu dan nyeri perut dan pinggang bawah sejak 2 jam lalu diduga mengalami Ketuban Pecah Dini
atau Premature Preterm Rupture Of Membrane (pPROM).
























4


Anamnesis
Anamnesis yang dilakukan dalam kasus ini adalah alloanamnesis kerana pasien dimasukkan ke
dalam UGD dengan keluhan nyeri pada perut bawah dan nyeri pinggang. Jika pasien dalam
keadaan yang mengizinkan, anamnesis dapat dilakukan langsung dari pasien iaitu
autoanamnesis. Alloanamnesis dapat diketahui data-datanya dari keluarga terdekat pasien seperti
suami atau ibu bapa pasien.

Anamnesis kehamilan mempunyai beberapa indikasi. Jika pasien berada dalam keadaan
mengizinkan dan baik, beberapa indikasi harus diambil perhatian oleh dokter. Indikasnya adalah
asuhan antenatal, deteksi dini suatu kondisi patologik dalam kehamilan, merencanakan
persalinan, persiapan penyelesian kehamilan dan kemajuan perkembangan kehamilan.

Langkah pertama jika didatangi pasien hamil ke dokter adalah mengetahui keluhan utama.
Pertama sekali diucapkan salam dan perkenalkan diri sebagai dokter yang bertugas waktu itu.
Kemudian, harus diciptakan suasana membantu dan menyenangkan dan dengan sopan, dokter
harus menanyakan identitas ibu yang terdiri daripada nama pasien, nama suami atau keluarga
terdekat, alamat, agama, pendidikan terakhir dan suku bangsa.

Seterusnya, kita menanyakan keluhan utama pasien dimulai dengan seperti berikut:
a) Haid
- Kapan hari pertama haid terakhir
- Menarche umur berapa
- Apakah haid teratur
- Nyeri haid
b) Kehamilan
- Berapa kali hamil
- Adakah komplikasi pada kehamilan terdahulu
- Apakah pernah keguguran, berapa kali, pada umur kehamilan berapa.
c) Persalinan
5

- Berapa kali bersalin
- Bagaimana persalinan terdahulu
- Kalau persalinan dengan sectio caesarea apa alasannya
d) Riwayat perkahwinan
- Berapa kali menikah
- Pernikahan sekarang sudah berapa lama
e) Keluhan sekarang, keluhan penyerta, riwayat penyakit terdahulu dan riwayat keluarga.
1


Pemeriksaan
Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital
Seperti pemeriksaan fisik lain pada umumnya, pengamatan dilakukan sejak pasien masuk ke
ruang pemeriksaan. Keadaan umum, sikap dan kesadaran pasien harus diamati dengan cermat.
Pemeriksaan umum dilakukan untuk mendapatkan tanda vital, keadaan alat-alat vital (jantung
dan paru-paru), tanda yang berhubungan dengan anemia dan kelainan alat-alat lain dari kepala
sampai kaki, perhatian lebih seksama ditujukan terhadap tanda-tanda yang berhubungan dengan
obstetric.

Pemeriksaan fisik obstetric
Pemeriksaan obstetric terdiri dari inspeksi, palpasi, auskultasi dan pemeriksaan dalam. Inspeksi
dilakukan pada abdomen dan vagina pasien. Inspeksi pada abdomen dilakukan dengan meminta
pasien dalam posisi terlentang dan kedua tangan disamping perut. Pasien diminta relax agar
dinding perut tidak tegang. Pada inspeksi, dilihat bahawa ada atau tidak pembesaran atau
penonjolan pada dinding perut, bila ada dicatat bentuk dan ukurannya. Perubahan warna kulit,
bekas luka/operasi dan juga diperhatikan warna biru di daerah umbilicus (tanda Cullen).

Palpasi dimulakan dengan:
Leopold 1
Pasien tidur telentang dengan lutut ditekuk. Pemeriksa berdiri disebelah kanan pasien
menghadap kearah kepala pasien. Uterus dibawa ketengah (kalau posisinya miring). Dengan
kedua tangan tentukan tinggi fundus. Dengan satu tangan tentukan bagian apa dari anak yang
6

terletak dalam fundus. Kepala berbentuk bulat, keras da nada ballottement. Bokong
konsistensinya lunak, tidak begitu bulat dan tidak ada ballottement. Pada letak lintang, fundus
kosong.

Leopold 2
Posisi pasien dan pemeriksa tetap. Kedua tangan pindah ke samping uterus. Dengan kedua belah
jari-jari uterus ditekan ketengah untuk menentukan di mana letak punggung anak: kanan atau
kiri. (punggung kanan memberikan tahanan terbesar) Pada letak lintang dipinggir kanan kiri
uterus terdapat kepala atau bokong.

Leopold 3
Posisi pasien dan pemeriksa tetap. Pemeriksa memakai tangan satu tangan menentukan apa yang
bagian bawah (kepala atau bokong). Bagian bawah coba digoyangkan, apakah masih bisa, berarti
bagian tersebut belum terpegang oleh panggul.(bagian terbesar kepala belum melewati pintu atas
panggul)

Leopold 4
Posisi pasien tetap. Pemeriksa menghadap kearah kaki pasien. Dengan kedua belah tangan
ditentukan seberapa jauh kepada masuk ke dalam panggul. Bila posisi tangan konvergen berarti
baru sebagian kecil kepala masuk panggul. Bila posisi tangan sejajat , berarti separuh dari kepala
masuk ke dalam rongga panggul. Bila posisi tangan divergen, berarti sebagian besar kepala
sudah masuk panggul. Leopold 4 tidak dilakukan kepala masih tinggi.

Pada auskultasi bisa didengar bermacam bunyi:
a) Dari anak: bunyi jantung, bising tali pusat, gerakan anak
b) Dari ibu: bising a.uterina, bising aorta, bising usus
Bunyi jantung anak dengan Doppler dapat didengar sejak umur kehamilan 12 minggu sedang
dengan stetoskop baru didengar pada umur kehamilan 26 minggu. Frekuensi bunyi jantung anak
antara 120-140 per menit. Karena letak janin normal dalam posisi kyphose, dan didepan dada
terdapat tangan maka bunyi jantung janin paling jelas terdengar didaerah punggung anak dekat
kepala. Pada presentasi kepala, tempatnya ialah dikiri atau kanan sedikit dibawah pusat. Bila
7

janin masih kecil, bunyi jantung anak dicari dengan Doppler digaris tengah diatas symphisis.
Frekuensi bunyi jantung anak didapat dengan menghitung jumlah denyut selama 15 detik
dikalikan 4. Untuk menentukan teratur tidaknya bunyi jantung anak, dihitung denyut selama lima
detik lalu berhenti selama 5 detik lalu dihitung lagi selama 5 detik lalu berhenti lagi selama 5
detik lalu dihitung lagi selama 5 detik. Hasil ketiga hitungan itu diperbandingkan, bila terdapat
perbedaan lebih dari 3 denyut, berarti denyut jantung anak tidak teratur. Bunyi jantung anak
terdengar seperti ketukan sedangkan bising pembuluh darah terdengar seperti tiupan. Bunyi
jantung anak yang tidak normal ialah kalau:
a) Frekuensi kurang dari 120 per menit
b) Frekuensi lebih dari 160 per menit
c) Irama denyut jantung anak tidak teratur
d) Bila 30 detik setelah kontraksi uterus denyut jantung belum kembali ke frekuensi
sebelum his. Keluarnya meconium juga merupakan tanda adanya hipoksia anak.

Pemeriksaan Dalam (Toucher)
Pertama sekali kita haruslah membersihkan tangan dan pastikan kuku dipotong pendek dan cuci
tangan dengan cairan antiseptic sampai 5 cm diatas siku. Diulang tiap kali akan melakukan
pemeriksaan dalam. Memakai sarung tangan steril. Tangan kiri membeberkan labia, tangan
kanan memegang kapas yang telah direndam cairan antiseptic, dihapuskan ke vulva dari atas ke
bawah (tangan jangan sampai menyentuh vulva). Ulangi dengan kapas yang baru.

Dengan labia tetap dibeberkan, jari telunjuk dan jari tengah dimasukkan ke vagina. Setelah jari
tangan masuk vagina, tangan kiri pindah ke perut pasien untuk menahan fundus. Jangan
mengeluarkan jari tangan yang berada di dalam vagina sampai pemeriksaan selesai.

Yang diperiksa adalah:
Cervix:
- Apakah cervix kaku atau lunak
- Apakah cervix seudah mendatar atau belum. Kalau belum, apakah panjang atau
pendek
- Apakah bibir cervix tebal atau tipis
8

- Berapa pembukaan.


Keadaan ketuban:
- Apakah ketuban masih ada atau tidak. Ketuban dibentuk oleh selaput tipis hingga
sukar diraba. Untuk memudahkan, tunggu sampai ada his: ketuban akan menonjol
seperti gelembung.
- Bagaimana keadaan ketuban: salah satu fungsi ketuban adalah membuka cervix,
karena itu ia seharusnya menonjol pada waktu his. Kalau tidak menonjol, berarti ia
sudah pecah atau melekat pada dinding uterus.
Menentukan presentasi dan posisi anak:
- Tentukan apa yang menjadi bagian terdepan: Kepala itu bulat dan keras dan teraba
sekat yaitu sutura. Bila yang teraba lunak, mungkin bokong atau muka, pada bokong
teraba os coccyges, sedangkan pada muka teraba orbita.
- Untuk menentukan posisi, kita raba dari bawah symphisis lalu ke bawah, pada
presentasi belakang kepala akan teraba sutura sagitalis, dengan menyusuri sutura
sagitalis kita dapat meraba ubun-ubun kecil, dengan demikian kita dapat menentukan
posisi anak.
Turunnya kepala:
Spina ischiadica diguna sebagai patokan. Bila bagian terdepan anak berada diatas spina
ischidiaca maka dipakai tanda (-), misalnya -3 berarti 3 cm di atas spina ischiadia. Ukurannya
dari -3 hingga +3.

Caput succedaneum:
Tentukan ada tidaknya caput succedaneum dan berapa besarnya. Kalau tidak ada caput berarti
his kurang kuat dan kalau kaput besar berarti his kuat atau pernah kuat.

Bagian anak yang menumbung:
Tentukan apakah ada bagian anak yang menumbung seperti tangan, kaki atau tali pusat.
Perbedaan kaki dan tangan adalah kaki tidak dapat diluruskan terhadap tungkai bawah, jari kaki
9

jauh lebih pendek dari kaki sedang jari tangan sama panjang dengan telapak tangan dan kaki
mempunyai 3 tonjolan tulang yaitu 2 mata kaki dan 1 tumit.
2



Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan speculum steril
Diagnosis akurat pemeriksaan dengan spekulum steril.
Pemeriksaan digital serviks harus dihindari kecuali persalinan segera untuk antisipasi
Pemeriksaan ini adalah kunci untuk membedakan ketuban pecah dini dari hiperemesis
hydrorrhea, vaginitis, meningkatkatnya sekresi vagina, dan inkontinensia urin. pemeriksa
harus mencari konfirmasi 3 temuan ciri khas yang berhubungan dengan ketuban pecah
dini (PROM), yaitu
Pooling, kumpulan cairan ketuban dalam fornix posterior.
Nitrazine tes, ujung kapas steril digunakan untuk mengumpulkan cairan dari fornix
posterior dan mnempelkannya pada kertas nitrazine (phenaphthazine).
Tes Ferning, cairan dari fornix posterior ditempatkan pada slide dan dibiarkan kering di
udara, cairan ketuban akan membentuk pola fernlike kristalisasi (bentuk pakis) pada
mikroskop.
Selama pemeriksaan spekulum, leher rahim harus diperiksa secara visual untuk
menentukan derajat dilatasi dan adanya prolaps tali. Jika pooling vagina signifikan,
cairan dapat dikumpulkan dan diperiksa untuk penentuan kematangan paru janin, jika
usia kehamilan lebih besar dari 32 minggu. Sekresi serviks juga harus dikirim untuk
kultur.
Jika tidak ada cairan bebas ditemukan, dry pad harus ditempatkan di bawah perineum
pasien dan diamati untuk kebocoran.
Tes konfirmatori lain untuk PROM termasuk hilangnya cairan diamati dari os servikal
ketika batuk pasien atau melakukan manuver valsava selama pemeriksaan spekulum dan
oligohydramnios pada pemeriksaan USG.
Jika pemeriksa masih tidak dapat mengkonfirmasi pecah ketuban dan sejarah pasien
sangat mencurigakan mengalami ketuban pecah dini, mungkin perlu untuk melakukan
10

amniosentesis dan menyuntikkan larutan encer dari zat warna carmine Evans biru atau
nila.
Hal ini dilakukan setelah pemindahan cairan ketuban untuk pengujian fisiologis jatuh
tempo, analisis untuk sel darah putih atau bakteri, dan mungkin kultur dan uji sensitivitas.
Setelah 15-30 menit, pemeriksaan pada dry pad perineum pasien akan menunjukkan
pewarnaan biru jika ketuban pecah.

Pemeriksaan USG
Pada keadaan oligohidramnion cairan amnion disebut berkurang bila kantung amnion
hanya terlihat di daerah tungkai bawah, dan disebut habis jika tidak terlihat lagi kantung
amnion.
Pada keadaan ini aktivitas gerakan janin menjadi berkurang. Struktur janin sulit dipelajari
dan ekstermitas tampak berdesakan.
Pengukuran diameter vertical yang terbesar pada salah satu kantung amnion, dilakukan
dengan mencari kantung amnion terbesar, bebas dari bagian tali pusat dan ekstermitas
janin, yang dapat ditemukan melalui transduser yang diletakkan tegak lurus terhadap
kontur dinding abdomen ibu.
Pengukuran dilakukan pada diameter vertical kantung amnion. Morbiditas dan mortalitas
perinatal meningkat bila diameter vertical terbesar kantung amnion < 2cm
(oligohidramnion) atau > 8 cm (polihidramnion)
Takikardi pada janin atau pelacakan nonreassuring jantung janin menjadi indikasi
chorioamnionitis, abrupsi, atau kompresi tali pusat.
Jika tes negatif, tapi tetap ada kecurigaan klinis ketuban pecah, pasien dapat diuji ulang
setelah istirahat beberapa lama
Amnioinfusion USG-dipandu indigo carmine juga dapat dilakukan. Caranya yaitu dengan
penempatan sebuah tampon di dalam vagina, dan setelah pengamatan lama, tampon akan
dihapus untuk melihat apakah bagian cairan biru terjadi dari leher rahim.
3





11

Diagnosis
Working Diagnosis
Working diagnosis yang kita dapati adalah preterm premature rupture of membrane (pPROM)
karena ibu BCL datang dengan keluhan cairan banyak keluar dari vagina sejak 8 jam lalu dan
nyeri perut dan pinggang bawah sejak 2 jam dan tanda-tanda vitalnya adalah normal.

Gejala pPROM
Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma air
ketuban berbau amis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes
atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau
kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila Anda duduk atau berdiri, kepala
janin yang sudah terletak di bawah biasanya mengganjal atau menyumbat kebocoran untuk
sementara.
Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat
merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.


Gambar 1 menunjukkan rupture amnionic sac
4



12


Differential Diagnosis
Inkontenisia urin
pPROM dibandingkan dengan diagnosis dengan inkontenisia urin karena pada kasus inkontenisia
urin bisa juga cairan keluar dari vagina tetapi DD ini dapat disngkirkan dengan menggunaka
kertas litmus untuk tes cairan yang keluar dari vagina. Cairan ini akan menunjukkan tes positive
pada kertas litmus biru karena urin bersifat acidic yang menukarkan warna dari biru ke merah.
4


Etiologi
Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya
tekanan intrauterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan
oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Selain itu ketuban pecah dini
merupakan masalah kontroversi obstetri. Penyebab lainnya adalah sebagai berikut :
1. Inkompetensi serviks (leher rahim)
Inkompetensia serviks adalah istilah untuk menyebut kelainan pada otot-otot leher
atau leher rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit membuka ditengah-
tengah kehamilan karena tidak mampu menahan desakan janin yang semakin besar. Adalah
serviks dengan suatu kelainan anatomi yang nyata, disebabkanlaserasi sebelumnya melalui
ostium uteri atau merupakan suatu kelainan congenital pada serviks yang memungkinkan
terjadinya dilatasi berlebihantanpa perasaan nyeri dan mules dalam masa kehamilan trimester
kedua atau awal trimester ketiga yang diikuti dengan penonjolan dan robekan selaput janin
serta keluarnya hasil konsepsi (Manuaba, 2002).
2. Peninggian tekanan inta uterin
Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihandapat
menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini. Misalnya :
a. Trauma : Hubungan seksual, pemeriksaan dalam, amniosintesis
b. Gemelli (Kehamilan kembar) adalah suatu kehamilan dua janin atau lebih. Pada
kehamilan gemelli terjadi distensi uterus yang berlebihan, sehingga menimbulkan
adanya ketegangan rahim secara berlebihan. Hal ini terjadi karena jumlahnya berlebih,
13

isi rahim yang lebih besar dan kantung (selaput ketuban ) relative kecil sedangkan
dibagian bawah tidak ada yang menahan sehingga mengakibatkan selaput ketuban tipis
dan mudah pecah. (Saifudin. 2002)
c. Makrosomia adalah berat badan neonatus >4000 gram kehamilan dengan makrosomia
menimbulkan distensi uterus yang meningkat atau over distensi dan menyebabkan
tekanan pada intra uterin bertambah sehingga menekan selaput ketuban, manyebabkan
selaput ketuban menjadi teregang,tipis, dan kekuatan membrane menjadi berkurang,
menimbulkan selaput ketuban mudah pecah. (Winkjosastro, 2006)
d. Hidramnion atau polihidramnion adalah jumlah cairan amnion >2000mL. Uterus dapat
mengandung cairan dalam jumlah yang sangat banyak. Hidramnion kronis adalah
peningaktan jumlah cairan amnion terjadi secara berangsur-angsur. Hidramnion akut,
volume tersebut meningkat tiba-tiba dan uterus akan mengalami distensi nyata dalam
waktu beberapa hari saja
3. Kelainan letak janin dan rahim : letak sungsang, letak lintang.
4. Kemungkinan kesempitan panggul : bagian terendah belum masuk PAP (sepalo pelvic
disproporsi).
5. Korioamnionitis Adalah infeksi selaput ketuban. Biasanya disebabkan oleh
penyebaranorganism vagina ke atas. Dua factor predisposisi terpenting adalah
pecahnyaselaput ketuban > 24 jam dan persalinan lama.
6. Penyakit Infeksi Adalah penyakit yang disebabkan oleh sejumlah mikroorganisme
yangmeyebabkan infeksi selaput ketuban. Infeksi yang terjadi menyebabkanterjadinya proses
biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga memudahkan ketuban
pecah.
7. Faktor keturunan (ion Cu serum rendah, vitamin C rendah, kelainan genetik)
8. Riwayat KPD sebelumya
9. Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
10. Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu.
5




14

Patofisiologi
Mekanisme Ketuban Pecah Dini
Ketuban pecah dalam persalinan secara umum disebabkan oleh kontraksi uterus dan
peregangan berulang. Selaput ketuban pecah karena pada daerah tertentu terjadi perubahan
biokimia yang menyebabkan selaput ketuban inferior rapuh, bukan karena seluruh selaput
ketuban rapuh. Terdapat keseimbangan anatara sintesis dan degradasi ekstraselular matriks.
Perubahan struktur, jumlah sel, dan katabolisme kolagen menyebabkan aktivitas kolagen berubah
dan menyebabkan selaput ketuban pecah. Faktor risiko untuk terjadinya Ketuban Pecah Dini
adalah berkurangnya asam askorbik sebagai komponen kolagen dan kekurangan tembaga dan
asam askorbik yang berakibat pertumbuhan struktur abnormal karean antara lain merokok.
Degradasi kolagen dimediasi oleh matriks metalloproteinase (MMP) yang dihambat oleh
inhibitor jaringan spesifik dan inhibitor protease. Mendekati waktu persalinan, keseimbangan
anatara MMP dan TIMP-1 mengarah pada degradasi proteolitik dari matriks ekstraselular dan
membrane janin. Aktivitas degradasi proteolitik ini meningkat menjelang persalinan. Pada
penyakit periodinitis di mana terdapat peningkatan MMP, cenderung terjadi Ketuban Pecah Dini.
Selaput ketuban sangat kuat pada kehamilan muda. Pada trimester ketiga selaput ketuban mudah
pecah. Melemahnya kekuatan selaput ketuban ada hubungannya dengan pembesaran uterus,
kontraksi rahim, gerakan janin. Pada trimester terakhir terjadi perubahan biokimia pada selaput
ketuban. Pecahnya ketuban pada kehamilan aterm merupakan hal fisiologis. Ketuban pecah dini
pada kehamilam premature disebabkan oleh adanya faktor-faktor eksternal, misalnya infeksi
yang menjalar dari vagin. Ketuban Pecah Dini Prematur sering terjadi pada polihidramnion,
inkompeten serviks, solusio placenta.
6

Epidemiologi
Risk Factors for Spontaneous Preterm Premature Rupture of Membranes
Maternal Factors
Preterm premature rupture of membranes (PROM) in a prior pregnancy (recurrence risk
is 16%32% as compared with 4% in women with a prior uncomplicated term delivery)
15

Antepartum vaginal bleeding
Chronic steroid therapy
Collagen vascular disorders (such as Ehlers-Danlos syndrome, systemic lupus
erythematosus)
Direct abdominal trauma
Preterm labor
Cigarette smoking
Illicit drugs (cocaine)
Anemia
Low body mass index (BMI < 19.8 kg/m
2
)
Nutritional deficiencies of copper and ascorbic acid
Low socioeconomic status
Unmarried status
Uteroplacental Factors
Uterine anomalies (such as uterine septum)
Placental abruption (may account for 10%15% of preterm PROM)
Advanced cervical dilatation (cervical insufficiency)
Prior cervical conization
Cervical shortening in the 2nd trimester (< 2.5 cm)
Uterine overdistention (polyhydramnios, multiple pregnancy)
Intra-amniotic infection (chorioamnionitis)
Multiple bimanual vaginal examinations (but not sterile speculum or transvaginal
ultrasound examinations)
Fetal Factors
Multiple pregnancy (preterm PROM complicates 7%10% of twin pregnancies)

Dalam keadaan normal, selaput ketuban pecah dalam proses persalinan. Ketuban pecah
dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan. Bila ketuban pecah dini
terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu, disebut ketuban pecah dini pada kehamilan
premature. Dalam keadaan normal 8-10% perempuan hamil aterm akan mengalami ketuban
pecah dini. Kejadian KPD berkisar 5-10% dari semua kelahiran, dan KPD preterm terjadi 1%
16

dari semua kehamilan. 70% kasus KPD terjadi pada kehamilan cukup bulan. KPD merupakan
penyebab kelahiran prematur sebanyak 30%.
7

Penatalaksanaan
1. Konservatif
o Rawat di rumah sakit
o Jika ada perdarahan pervaginam dengan nyeri perut, pikirkan solusioplasenta
o Jika ada tanda-tanda infeksi (demam dan cairan vagina berbau), berikanantibiotika sama
halnya jika terjadi amnionitosis
o Jika tidak ada infeksi dan kehamilan < 37 minggu:
Berikan antibiotika untuk mengurangi morbiditas ibu dan janin
Ampisilin 4x 500mg selama 7 hari ditambah eritromisin 250mg per oral 3x perhari
selama 7 hari.
o Jika usia kehamilan 32 - 37 mg, belum inpartu, tidak ada infeksi, beridexametason,
dosisnya IM 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 x, observasi tanda-tanda infeksi dan
kesejahteraan janin.
o Jika usia kehamilan sudah 32 - 37 mg dan sudah inpartu, tidak ada infeksi maka berikan
tokolitik ,dexametason, dan induksi setelah 24 jam.

2. Aktif
o Kehamilan lebih dari 37 mg, induksi dengan oksitosin
o Bila gagal Seksio Caesaria dapat pula diberikan misoprostol 25 mikrogram 50
mikrogram intravaginal tiap 6 jam max 4 x.
o Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi dan persalinan diakhiri.
Indikasi melakukan induksi pada ketuban pecah dini adalah sebagai berikut :
1) Pertiimbangan waktu dan berat janin dalam rahim. Pertimbangan waktuapakah 6, 12,
atau 24 jam. Berat janin sebaiknya lebih dari 2000 gram.
2) Terdapat tanda infeksi intra uteri. Suhu meningkat lebih dari 38c, dengan
pengukuran per rektal. Terdapat tanda infeksi melalui hasil
pemeriksaanlaboratorium dan pemeriksaan kultur air ketuban.

17

Penatalaksanaan lanjutan
1. Kaji suhu dan denyut nadi setiap 2 jam. Kenaikan suhu sering kali didahului kondisi ibu yang
menggigil.
2. Lakukan pemantauan DJJ. Pemeriksaan DJJ setiap jam sebelum persalinan adalah tindakan
yang adekuat sepanjang DJJ dalam batas normal. Pemantauan DJJ ketat dengan alat pemantau
janin elektronik secara kontinu dilakukan selama induksi oksitosin untuk melihat tanda gawat
janin akibat kompresi tali pusat atau induksi. Takikardia dapat mengindikasikan infeksiuteri.
3. Hindari pemeriksaan dalam yang tidak perlu.
4. Ketika melakukan pemeriksaan dalam yang benar-benar diperlukan, perhatikan juga hal-hal
berikut:
a. Apakah dinding vagina teraba lebih hangat dari biasa
b. Bau rabas atau cairan di sarung tanagn anda
c. Warna rabas atau cairan di sarung tangan
5. Beri perhatian lebih seksama terhadap hidrasi agar dapat diperoleh gambaran jelas dari setiap
infeksi yang timbul. Seringkali terjadi peningkatan suhu tubuh akibat dehidrasi.
8


Gambar 2 menunjukkan algoritma penatalaksanaan pPROM
8


18

Tabel 1 menunjukkan kunci management pprom
8


Clinical recommendation
Evidence
rating References
Antibiotics should be administered to patients with preterm PROM because
they prolong the latent period and improve outcomes.
A 2,24,25
Corticosteroids should be given to patients with preterm PROM between 24
and 32 weeks gestation to decrease the risk of intraventricular hemorrhage,
respiratory distress syndrome, and necrotizing enterocolitis.
A 21
Physicians should not perform digital cervical examinations on patients with
preterm PROM because they decrease the latent period. Speculum
examination is preferred.
A 17
Long-term tocolysis is not indicated for patients with preterm PROM,
although short-term tocolysis may be considered to facilitate maternal
transport and the administration of corticosteroids and antibiotics.
C 30
Multiple courses of corticosteroids and the use of corticosteroids after 34
weeks gestation are not recommended.
B 22,23

PROM = premature rupture of membranes.
A = consistent, good-quality patient-oriented evidence; B = inconsistent or limited-quality patient-oriented evidence; C
= consensus, disease-oriented evidence, usual practice, expert opinion, or case series. For information about the
SORT evidence rating system, see page 573 or http://www.aafp.org/afpsort.xml.

Komplikasi
Komplikasi yang timbul akibat Ketuban Pecah Dini bergantung pada usia kehamilan.
Dapat terjadi Infeksi Maternal ataupun neonatal, persalinan prematur, hipoksia karena kompresi
tali pusat, deformitas janin, meningkatnya insiden SC, atau gagalnya persalinan normal.
1. Persalinan Prematur
Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode laten tergantung
umur kehamilan. Pada kehamilan aterm 90% terjadi dalam 24 jam setelah ketuban pecah.
Pada kehamilan antara 28-34 minggu 50% persalinan dalam 24 jam. Pada kehamilan kurang
dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu.
2. Infeksi
Risiko infeksi ibu dan anak meningkat pada Ketuban Pecah Dini. Pada ibu terjadi
19

Korioamnionitis. Pada bayi dapat terjadi septikemia, pneumonia, omfalitis. Umumnya terjadi
korioamnionitis sebelum janin terinfeksi. Pada ketuban Pecah Dini premature, infeksi lebih
sering dari pada aterm. Secara umum insiden infeksi sekunder pada KPD meningkat
sebanding dengan lamanya periode laten.
3. Hipoksia dan asfiksia
Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat hingga terjadi
asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin dan derajat
oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin semakin gawat.
4. Syndrom deformitas janin
Ketuban Pecah Dini yang terjadi terlalu dini menyebabkan pertumbuhan janin terhambat,
kelainan disebabkan kompresi muka dan anggota badan janin, serta hipoplasi pulmonal.
9


Pencegahan
Pasien selama mengandung disarankan untuk menjaga diri dengan baik sehingga tidak ada
trauma yang menimpanya. Selain itu pasien disarankan jangan merokok atau mengambil narkoba
dan pengobatan yang terlarang seperti kortikosteroid jangka panjang. Jagalah hygiene dengan
baik supaya tidak terjadi infeksi di vagina.
10

Prognosis
Bergantung dari berat dan penanganannya, namun pada umumnya baik.




20

Kesimpulan
Pemeriksaan dalam dengan jari meningkatkan resiko infeksi dan tidak perlu
dilakukan pada wanita dengan pecah ketuban dini, karena ia akan diurussesuai kebutuhan
persalinan sampai persalinan terjadi atau timbul tanda dangejala korioamninitis. Jika timbul
tanda dan gejala korioamnionitis,diindikasikan untuk segera berkonsultasi dengan dokter
yang menangani wanita guna menginduksi persalinan dan kelahiran. Pilihan metode
persalinan (melalui vagina atau SC) bergantung pada usia gestasi, presentasi dan berat
korioamnionitis. Ketuban Pecah Dini dapat menimbulkan kecemasan pada wanita dan
keluarganya. Bidan harus membantu wanita mengeksplorasi rasa takut yang menyertai
perkiraan kelahiran janin premature serta risiko tambahan korioamnionitis. Rencana
penatalaksanaan yang melibatkan kemungkinan periode tirah baring dan hospitalisasi yang
memanjang harus didiskusikan dengan wanita dan keluarganya. Pemahaman dan kerja sama
keluarga merupakan hal yang penting untuk kelanjutan kehamilan.










21

Daftar Pustaka
1. Bickley LS. Ibu hamil. Bates Buku Ajar Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Penyakit
Kesehatan; Ed 8. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2009. 417-31
2. Manuaba IBG, Manuaba IAC, Manuaba IBG. Fisiologi kehamilan. Pengantar Kuliah
Obstetri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007. 208-19
3. Holmes HN. Uji hormon. Buku Pegangan Uji Diagnostik; Ed 3. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2010. 324-5
4. Hannah ME, Ohlsson A, Farine D, Hewson SA, Hodnett ED, Myhr TL, et al. Induction
of labor compared with expectant management for prelabor rupture of the membranes at
term. N Engl J Med 1996;334:1005-10.
5. Meis PJ, Ernest JM, Moore ML. Causes of low birth weight births in public and private
patients. Am J Obstet Gynecol 1987;156:1165-8.
6. Stuart EL, Evans GS, Lin YS, Powers HJ. Reduced collagen and ascorbic acid
concentrations and increased proteolytic susceptibility with prelabor fetal membrane
rupture in women. Biol Reprod 2005;72:230-5.
7. Savitz DA, Blackmore CA, Thorp JM. Epidemiologic characteristics of preterm delivery:
etiologic heterogeneity. Am J Obstet Gynecol 1991;164:467-71.
8. American Family Physician. Preterm Premature Rupture of Membranes: Diagnosis and
Management. Edisi 15 February 2006. Diunduh dari
http://www.aafp.org/afp/2006/0215/p659.html. 27 May 2012.
9. Soetomo Soewarto. Ketuban Pecah Dini. Ilmu Kandungan; Ed 2. Jakarta: Pt Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo; 2009. 678-679
10. Cunningham GF, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap CL, Hauth JC, Wenstrom KD. Antenatal
care. Obstetri William; Ed 21 (Vol 1). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2006.
23-8,138 -212.


22