Anda di halaman 1dari 25

LEMBAR PENILAIAN DAN PENGESAHAN

Semarang, 23 April 2014


Praktikan


Hendri lahagu
NIM: 26020113140118

Asisten Praktikum Asisten Praktikum


Kharisma Khabibillah Intan Lestari Dewi
NIM: 26020110120037 NIM: 26020112130022

No. Materi Nilai
1 Pendahuluan
2 Tinjauan Pustaka
3 Materi dan Metode
4 Hasil
5 Pembahasan
6 Penutup
7 Daftar Pustaka
8 Lampiran
TOTAL
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Lemak dan minyak adalah zat makanan yang dibutuhkan oleh
manusia. Selain itu lemak dan minyak merupakan sumber energi selain
karbohidrat dan protein. Lemak mempunyai sifat yaitu larut dalam
pelarut-pelarut organic tetapi tidak larut dalam air.
Lemak dan minyak terkandung dalam bahan makanan kita sehari-
hari dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Lemak yang kita gunakan
sehari-hari sebagian besar terdiri dari senyawa yang disebut trigliserida.
Berdasarkan strukturnya lemak berupa padat dan cair. Wujud padat dan
cairnya lemak dipengaruhi oleh tingkat kejenuhan asam lemak yang
terkandung di dalamnya. Asam lemak dibagi menjadi dua yaitu asam
lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh.
Minyak dibedakan menjadi dua yaitu minyak yang berasal dari
hewan disebut minyak hewani dan minyak yang berasal dari tumbuhan
disebut minyak nabati. Minyak hewani diperoleh dengan cara
memanaskan jaringan lemak hewan sedangkan minyak nabati diperoleh
dengan cara pemanasan atau ekstraksi dengan pelarut non polar.

1.2 Tujuan
a. Menentukan bilangan penyabunan sampel lemak / minyak ikan
b. Menentukan bilangan asam sampel lemak / minyak ikan

1.3 Manfaat
Manfaat dilaksanakannya praktikum ini adalah praktikan mengetahui
cara menentukan bilangan penyabunan dan bilangan asam lemak/minyak.
Praktikan dapat menggunakan alat-alat praktikum





II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Asam Lemak
Asam lemak merupakan asam organik yang terdiri atas rantai
hidrokarbon lurus yang pada satu ujung mempunyai gugus karboksil
(COOH) dan pada ujung lain gugus metil (CH3). Asam lemak dibedakan
menurut jumlah karbon yang dikandungnya yaitu asam lemak rantai
pendek, rantai sedang, rantai panjang, dan sangat panjang (Anna
poedjiadi,2005)
Asam lemak yang terdiri atas rantai karbon yang mengikat semua
hidrogen yang dapat diikatnya dinamakan asam lemak jenuh. Asam
lemak yang mengandung satu atau lebih ikatan rangkap dimana
sebetulnya dapat diikat tambahan atom hidrogen dinamakan asam lemak
tidak jenuh. Lipida hewani terutama mengandung asam lemak jenuh
rantai panjang, yaitu asam palmitatdan asam stearat. (Anna
poedjiadi,2005)
Asam lemak omega-3 yang mempunyai arti khusus dalam ilmu gizi
adalah alfa asam dokosaheksaenoat. Kekurangan asam lemak
menghambat pertumbuhan pada bayi dan anak-anak, kegagalan
reproduksi serta gangguan pada kulit, ginjal dan hati. Kekurangan asam
lemak omega-3 menimbulkan gangguan saraf dan penglihatan (Sunita
almatsier,2004)
2.2. Bilangan Penyabunan
Jumlah miligram KOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan 1
gram minyak atau lemak (Ketaren, 1986). Minyak yang memiliki berat
molekul rendah akan mempunyai bilangan penyabunan yang lebih tinggi
daripada minyak yang memiliki berat molekul tinggi (Andriani, dkk,
1992).
Menurut Ketaren (1986), angka penyabunan dalam minyak
dipengaruhi oleh adanya senyawa-senyawa yang tak tersabunkan dalam
minyak seperti sterol, pigmen, hidrokarbon, dan tokoferol yang dapat
mengurangi kekuatan oksidasi terhadap ikatan tidak jenuh asam lemak.
Karena bilangan penyabunan mengalami peningkatan, berarti minyak
hasil fermentasi tersusun dari trigliserida dengan berat molekul yang
relatif sama. Dengan demikian minyak yang dihasilkan mempunyai berat
molekul rendah.
2.3. Bilangan Asam
Menurut Tobing (2012), yang dimaksud dengan bilangan asam
adalah ukuran dari jumlah asam lemak bebas serta, dihitung berdasarkan
berat molekul dari asam lemak atau campuran asam lemak. Bilangan
asam dinyatakan sebagai jumlah milligram KOH 0,1 N yang digunakan
untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam 1 gram
minyak atau lemak.
2.4. Titrasi
Titrasi adalah suatu proses dalam analisis volumetrik dimana suatu
titran atau larutan standar (yang sudah diketahui konsentrasinya)
diteteskan melalui buret ke larutan lain yang dapat bereaksi dengannya
(belum diketahui konsentrasinya) sampai tercapai titik ekuivalen atau
titik akhir. Artinya, zat yang ditambahkan tepat bereaksi dengan zat yang
ditambahi. Zat yang akan ditentukan konsentrasinya disebut sebagai
titran dan biasanya diletakkan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat
yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai titer dan biasanya
diletakkan di dalam buret. Biasanya titer maupun titran berupa larutan
(Almatsier, 2003).

2.5. Sifat-sifat Lemak
2.5.1 Sifat Fisis Lemak
Berat jenis lemak lebih rendah daripada air, sehingga air
dan lemak tidak dapat bercampur. Semakin banyak mengandung
asam lemak rantai pendek dan ikatan tidak jenuh, maka
konsistensi lemak akan semakin cair. Sebaliknya semakin banyak
mengandung asam lemak jenuh dan rantai panjang maka
konsistensi lemak akan semakin padat (Almatsier, 2002)

2.5.2 Sifat Kimia Lemak
Minyak merupakan senyawa turunan ester dari gliserol dan
asam lemak dengan struktur umum adalah :

Reaksi yang penting pada minyak dan lemak adalah sebagai
berikut :
a. Hidrolisis
Dengan adanya air, lemak dapat terhidrolisis menjadi
gliserol dan asam lemak. Reaksi ini dipercepat oleh basa,
asam, dan enzim-enzim. Dalam teknologi makanan,
hidrolisis oleh enzim lipase sangat penting karena enzim
tersebut terdapat pada semua jaringan yang mengandung
minyak. Dengan adanya lipase, lemak akan diuraikan
sehingga kadar asam lemak bebas lebih dari 10%. Hidrolisis
sangat mudah terjadi dalam lemak dengan asam lemak
rendah (lebih kecil dari C14) seperti pada mentega, minyak
kelapa sawit dan minyak kelapa. Hidrolisis sangat
menurunkan mutu minyak goreng. Minyak yang telah
terhidrolisi, smoke point-nya menurun, bahan-bahan
menjadi coklat dan lebih banyak menyerap minyak. Selama
penyimpanan dan pengolahan minyak atau lemak asam
lemak bebas bertambah dan harus dihilangkan dengan
proses pemurnian dan deodorisasi untuk menghasilkan
minyak yang lebih baik mutunya (Winarno, 1992).
b. Oksidasi
Proses oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak
antara sejumlah oksigen dengan minyak aatau lemak.
Terjadinya reaksi oksidasi ini akan mengakibatkan bau
tengik pada minyak dan lemak. Oksidasi biasanya dimulai
dengan pembentukan peroksida dan hidroperoksida. Tingkat
selanjutnya ialah terurainya asam-asam lemak disertai
dengan konversi hidroperoksida menjadi aldehid dan keton
serta asam-asam lemak bebas (Ketaren, 1986).

c. Hidrogenasi
Hidrogenasi adalah reaksi kimia yang terdiri adisi
hidrogen pada ikan rangkap dua bagian asil yang tidak
jenuh. Reaksi ini sangat penting untuk industri, karena ini
memungkingkan perubahan minyak cair menjadi lemak
plastis untuk produksi margarin dan shortening. Umumnya,
hidrogenasi lemak tidak dilangsungkan sampai sempurna
dan lemak hanya dihidrogenasi sebagian. Pada kondisi ini,
hidrogenasi dapat bersifat selektif atau non-selaktif.
Keselektifan berarti bahwa hidrogen diadisikan dahulu pada
asam lemak yang paling tidak jenuh (DeMan, 1997).

2.6. Pelarut
2.6.1. Pelarut Polar
Menurut Arisworo (2004), pelarut polar adalah pelarut yang dapat
bercampur dengan air karena pelarut ini merupakan senyawa yang
terbentuk akibat adanya suatu ikatan antar electron pada unsur unsurnya.
2.6.2. Pelarut Semi Polar
Arisworo (2004), menyatakan bahwa pelarut semi polar tingkat
kepolarannya lebih rendah daripada pelarut polar. Senyawa semi polar
(pada tumbuhan seperti etil acetat, dan lainnya) dapat berikatan dengan
baik dengan pelarut ini.

2.6.3. Pelarut Non Polar
Arisworo (2004), mengartikan bahwa pelarut non polar adalah
pelarut yang dapat tercampur dengan lemak atau minyak seperti air dan
alcohol. Hal tersebut dapat terjadi karena senyawa yang terbentuk
disebabkan oleh adanya ikatan antar electron pada unsur unsur yang
membentuknya dimana unsure yg berkaitan tersebut memiliki nilai
elektronegatifitas yang hampir sama.

III. MATERI DAN METODE

3.1. Waktu dan Tempat
Hari, Tanggal : Kamis , 3 April 2014
Pukul : 13.00 16.00 WIB
Tempat :Laboratorium Kimia, jurusan Imu Kelautan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang

3.2. Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
No Nama Alat Gambar Satuan Fungsi


1.


Buret







ml
Sebagai
tempat titran
dalam proses
titrasi


2.


Statif







- Sebagai
penyangga
buret .


3.


Beker Gelas





ml
Sebagai
wadah untuk
pencampuran
larutan.

4.

Pipet Tetes


- Alat untuk
meneteskan
indicator PP


5.


Gelas Ukur









ml
Sebagai alat
untuk
mengukur
cairan etanol
dan NaOH
yang akan di
campurkan.


6.


Spatula



- Sebagai
pengaduk
saat
pemanasan
sampel.


7.


Erlenmeyer






ml Wadah
sample /
wadah titrat.


8.


Corong



- Alat untuk
membantu
memasukan
airan
kedalam
buret.


9.


Penjepit


- Alat untuk
membantu
mengangkat
Erlenmeyer
yang
dipanaskan.


10.


Kompor
Listrik


- Alat untuk
memanaskan
sampel.


11.


Timbangan
Digital




gram
Alat untuk
menimbang
sampel yang
akan
digunakan.

3.2.2 Bahan
No Nama Gambar Fungsi
1
1.

Minyak
ikan



Sampel
2

2.


NaOH
0,1 N










Titran
3
3.


HCl 0,5 N






Titran
4
4.


NaOH
etanolat




pencampur
5
5.


Indicator
fenolptalein


Untuk memberi
warna larutan




















1 gram minyak dimasukan kedalam
Erlenmeyer .
NaOH Etanolat 30 ml
dimasukan kedalam
erlenmeyer
Ditambahkan NaOH Etanolat
30 ml
Dipanaskan selama 15 menit
Didinginkan
Ditetesi PP sebanyak 2 tetes
Di titrasi dengan HCl 0,5 N
V1 V2
3.3 Metode
3.3.1 Diagram Alir
a. Penentuan Bilangan Penyabunan




























Ditambahkan etanol 10 ml
dalam erlenmeyer
Didinginkan
Dititrasi menggunakan
NaOH Volume awal di
catat sampai terjadi
perubahan warna pertama
Volume akhir di catat
Di hitung menggunakan rumus :

V2 V1. N NaOH. BM . NaOH
Berat minyak (gram)

Minyak ikan ditimbang
didalam Erlenmeyer
menggunakan timbangan
digital
10 ml etanol dimasukan
kedalam erlenmeyer
Dipanaskan selama 15
menit
b. Penentuan bilangan asam























3.3.2 Cara kerja
a. Penentuan Bilangan Penyabunan
i. Tabung erlenmayer disiapkan, kemudian minyak ikan
dimasukan ke dalamnya lalu ditimbang menggunakan
timbangan digital.
ii. NaOH etanolat ditambahkan sebanyak 30 ml ke dalam
tabung Erlenmeyer.
iii. Untuk larutan blanko tabung erlenmayer disiapkan
kemudian NaOH etanolat dimasukan sebanyak 30 ml.
iv. Kemudian kedua tabung dipanaskan diatas kompor
listrik selama kurang lebih 10 menit, setelah itu diangkat
dengan penjepit dan di dinginkan
v. Sebelum dilakukan titrasi larutan diberi indicator PP
sebanyak 2 tetes dengan bantuan pipet tetes.
vi. Titrasi dilakukan, amati perubahan warna pertama yang
terjadi. catat volume HCl pada buret untuk larutan
minyak ikan (V1) dan perubahan volume HCl pada
larutan blanko (V2)
vii. Data yang di dapat dimasukan kedalam perhitungan
untuk ditentukan bilangan penyabunannya:
(V

) N

BM

()

b. Penentuan Bilangan Asam
c. Tabung erlenmayer disiapkan, kemudian minyak
ikan dimasukan ke dalamnya lalu ditimbang
menggunakan timbangan digital.
d. Etanol ditambahkan sebanyak 10 ml ke dalam
tabung Erlenmeyer.
e. Untuk larutan blanko tabung erlenmayer disiapkan
kemudian etanol dimasukan sebanyak 10 ml.
f. Kemudian kedua tabung dipanaskan diatas kompor
listrik selama kurang lebih 10 menit, setelah itu
diangkat dengan penjepit dan di dinginkan.
g. Sebelum dilakukan titrasi larutan diberi indicator PP
sebanyak 2 tetes dengan bantuan pipet tetes.
h. Titrasi dilakukan, amati perubahan warna pertama
yang terjadi. catat volume NaOH pada buret untuk
larutan minyak ikan (V1) dan perubahan volume
NaOH pada larutan blanko (V2)
i. Data yang di dapat dimasukan kedalam perhitungan
penentuan bilangan asam :
(V

) N

BM

()




IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Bilangan penyabunan
Diketahui :
Berat minyak ikan
Larutan HCl yang terpakai pada
titrasi minyak + NaOHetanolat
(V
1
)
Larutan HCl yang terpakai pada
titrasi blanko (V
2
)
BM NaOH
N HCl
: 0.66 gram

: 44,1 ml

: 44,2 ml

: 40
: 0,5 N

Maka didapat :
=
(

()


=
(, , ) .
.
= ,
Awal Akhir





sample B; (kiri) erlenmeyer berisi
minyak ikan ditambah larutan
NaOH etanolat sebanyak 30 ml;
(kanan) erlenmeyer berisi larutan
NaOH etanolat saja sebanyak 30 ml
(larutan blanko).






Hasil titrasi bilangan penyabunan: (kiri)
larutan blanko NaOH etanolat berubah
warna dari merah muda menjadi
kecoklatan; (kanan) larutan minyak
ikan-NaOH etanolat berubah warna dari
merah muda keunguan menjadi bening
kekuningan.
4.1.2 Bilangan asam
Diketahui :
Berat minyak ikan
Larutan NaOH yang terpakai
pada titrasi minyak + etanol
(V
1
)Larutan HCl yang terpakai
pada titrasi blanko (V
2
)
Larutan NaOH yang terpakai
pada titrasi blanko (V
2
)
BM NaOH
N NaOH
: 0.68 gram


: 0,9 ml


: 1,3 ml
: 40
: 0,1 N

Biangan Pengaaman =
(V

) N

BM

()


=
(1,3 .9) .1 4
.47,68
= 2,353
Awal Akhir

Sample A; (kiri) erlenmeyer berisi
minyak ikan ditambah larutan
etanol sebanyak 10ml; (kanan)
erlenmeyer berisi larutan etanol
saja sebanyak 10 ml (larutan
blanko).

Hasil titrasi bilangan
pengasaman: (kiri) larutan blanko
etanol berubah warna dari bening
menjadi keunguan; (kanan) larutan
minyak ikan-etanol berubah warna
dari putih keruh menjadi merah
muda.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Penentuan Bilangan Penyabunan
Cara kerja percobaan pertama-tama mereaksikan 0,66 gram
minyak ikan yang ditambahkan 15 ml NaOH etanolat kemudian
dipanaskan kurang lebih 30 menit sehingga minyak ikannya pecah
dan bercampur, sehingga warna awalnya putih kekuningan. Kami
menggunakan NaOH etanolat karena larutan ini yang tersedia di
laboratorium. Warna putih kekuningan terjadi karena warna dasar
minyak ikan sendiri yang kuning dan warna NaOH bening. Setelah it
dipanaskan lalu ditetesi indicator pp sebanyak 2 tetes. Dan terjadi
berubah warna menjadi ungu atau pink, tetapi tidak pada percoban
kali ini, warna yang ungu atau pink tadi berubah menjadi bening.
Pristiwa ini terjadi karena alat-alat yang dipakai tidak bersih dan atau
karena indikator pp hanya bisa berubah warna ketika ph 8-9.
Kemudian dititrasi dengan larutan HCl sampai berubah warna.
Dari V1 dan V2 tersebut selanjutnya kami hitung bilangan
penyabunan dengan rumus yang telah ada, menggunakan N HCl 0,1
dan BM NaOH = 40. Jadi setelah kami hitung di lembar hasil, nilai
bilangan penyabunan yang diperoleh adalah 3,033 mol/gr dan
percobaan ini bersifat positif.
4.2.2 Penentuan Bilangan Asam
Cara kerja pada percobaan ini pertama-tama kami mencampur
0,68 gram minyak ikan yang dimasukkan kedalam 10 ml etanol.
Etanol biasanya bersifat higroskopis yaitu larut dalam air. tujuan
pemanasan disuhu yang tinggi untuk mepercepat pencampuran
antara minyak ikan dan etanol. Kemudian kami panaskan sampai
mendidih sehingga minyak dan etanol bercampur dan warnanya
berubah putih kekuningan. Setelah itu didinginkan dan ditambah 2
tetes indicator pp warnanya berubah jadi merah muda, hal ini
dilakukan untuk menentukan titik titrasi. Dan selanjutnya kami titrasi
menggunakan NaOH diperoleh volume 1.3 ml.
Pada larutan blanko setelah dititrasi ternyata membutuhkan
NaOH sebanyak 0,9 ml dan dapat dihitung bilangan asam yaitu
sebesar 2,353 mol/gram.

maka kegunaan dari penentuan penyabunan dan asam yaitu :
Bilangan penyabunan untuk menentukan berat molekul suatu lemak atau minyak
secara kasar.Bilangan asam untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat
dalam 1 gram minyak atau lemak. Besarnya bilangan asam tergantung dari
kemurnian dan umur minyak





















V. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dan metode yang telah
digunakan maka dapat disimpulkan bahwa:
a. Nilai bilangan penyabunan adalah 3,033 mol/gram.
b. Nilai bilagan asam adalah 2,353 mol/gram.

3.2 Saran
Dalam melakukan praktikum diusahakan mengetahui alat dan bahan
yang digunakan.
Sebelum praktikum dan sesudah praktikum diharapkan mencuci alat-
alat yang akan atau telah dipergunakan
Praktikan harus teliti dan cermat saat melakukn praktikum supaya
diperoleh hasil yang akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, sunita 2004. Prinsaip Dasar Ilmu Gizi. jakarta : Gramedia
Andriani, M., Setyaningramum, 1992, Pengaruh Variasi Perlakuan Enzimatis
Terhadap Rendemen dan Mutu Virgin Coconut Oil. Jurnal Kimia Dan
Tekhnologi UNS: Solo
Anna poedjiadi 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta Universitas indonesia press.
Ariworo, Djoko, 2004. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA,Biologi dan Fisika). Jakarta
:Gravindo Media Pratama.
DeMan, J. M. 1997. Kimia Makanan Edisi Ke-2. Bandung: ITB
Ketaren, S., 1986, Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan, UI-Press,
Jakarta
Tobing, Windy. 2012. Penentuan Bilangan Asam Dan Bilangan Penyabunan
Pada Asam Laurat Hasil Hidrolisis Palm Kernel Oil (Pko) Di Pt.Socimas
Medan. Medan. Universitas Sumatera Utara.
Winarno, I. G. (1992). Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
















LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM BIOKIMIA
ACARA II
UJI LEMAK/MINYAK

Oleh :
HENDRI ZAND F LAHAGU
26020113140118
Kelompok 4
Asisten :
KHARISMA KHABIBILLAH
26020110120037
INTAN LESTARI DEWI
26020112130022
PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
SEMARANG
2014
LAMPIRAN


Gambar 1. Larutan NaOH
etanolat 0,1 N.


Gambar 2. NaOH etanolat 0,1
dimasukkan kedalam buret sebagai titer
(larutan pentitrasi).


Gambar 3. Larutan HCl 0,5 N.


Gambar 4. Erlenmeyer, sebagai
wadah larutan saat proses reaksi
berlangsung.

Gambar 5. Erlenmeyer kosong
ditimbang untuk diketahui beratnya;
sample A (kiri) erlenmeyer untuk
proses bilangan asam dan sample B
(kanan) erlenmeyer .


Gambar 6. 3 butir minyak ikan
dimasukkan ke dalam erlenmeyer
kosong.

Gambar 7. Erenmeyer berisi
minyak ikan ditimbang kembali, untuk
mengetahui berat minyak ikan.


Gambar 8. Gelas ukur untuk
menentukan volume larutas yang akan
digunakan dalam reaksi.

Gambar 9. Sample A; (kiri)
erlenmeyer berisi minyak ikan
ditambah larutan etanol sebanyak
10ml; (kanan) erlenmeyer berisi
larutan etanol saja sebanyak 10 ml
(larutan blanko).










Gambar 10. Sample B; (kiri)
erlenmeyer berisi minyak ikan ditambah
larutan NaOH etanolat sebanyak 30 ml;
(kanan) erlenmeyer berisi larutan NaOH
etanolat saja sebanyak 30 ml (larutan
blanko).


Gambar 11. Seluruh
erlenmeyer dari kedua sample beserta
larutan blankonya dipanaskan di atas
kompor listrik selama 5-10 menit











Gambar 12. (Kiri) Erlenmeyer
berisi larutan blanko etanol setelah
dipanaskan; (Kanan) Erlenmeyer berisi
larutan minyak ikan dan NaOH etanolat
setelah dipanaskan.



Gambar 13. (Kiri) Erlenmeyer
berisi larutan blanko NaOH etanolat
setalah dipanaskan; (Kanan)
Erlenmeyer berisi larutan minyak ikan
dan etanol setelah dipanaskan
















Gambar 14. (Atas) larutan
blanko etanol dan larutan minyak ikan-
etanol ditambahkan indikator PP, tidak
terjadi perubahan warna; (Bawah)
larutan blanko NaOH etanolat dan
larutan minyak ikan-NaOH etanolat
ditambahkan indikator PP, berubah
warna menjadi keunguan.


Gambar 15.
Proses titrasi
bilangan asam:
(Kiri) proses titrasi
larutan blanko
etanol; (Kanan)
proses titrasi
larutan minyak
ikan-etanol;
dengan larutan
pentitrasi NaOH
0,1N.




Gambar 16. Proses titrasi
bilangan penyabunan: (Kiri) proses
titrasi larutan blanko NaOH etanolat;
(Kanan) proses titrasi larutan minyak
ikan-NaOH etanolat; dengan larutan
pentitrasi HCl 0,5N.