Anda di halaman 1dari 21

PERCOBAAN VI

Judul : Isolasi Alkaloid Piperidin Dari Lada Hitam


Tujuan : 1. Memahami prinsip dasar dan teknik isolasi dengan metode
ekstraksi kontinu
2. Mengetahui cara pemisahan dan pemurnian hasil isolasi
Hari/tanggal : Rabu / 7 Mei 2014
Tempat : Laboratorium Kimia PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin

I. DASAR TEORI
1.1 Lada
Tumbuhan lada (Piper ningrum L) termasuk tumbuhan semak atau perdu dan
sering kali memanjat dengan akar-akar pelekat. Tumbuhan lada ini dikenal dengan
beberapa nama antara lain piper, lada, merica, dan sakang. Dari perlakuan terhadap
buah lada dapat diperoleh lada hitam atau lada putih. Lada hitam di peroleh dari
buah lada yang belum masak, dikeringkan bersama kulitnya hingga kulitnya
berkeriput dan berwarna hitam .Lada putih berasal dari buah yang masak dan
kulitnya sudah dihilangkan dan dikeringkan sehingga warnanya putih
(Anwar,dkk.1994).

Gambar Lada Hitam
Sumber : (www.centeralhealth.com)

Lada hitam hidup subur di kawasan beriklim tropika yang panas dan lembab.
Lazimnya, lada hitam dibiak daripada keratan batang dan pembiakan menggunakan
biji jarang dilakukan. Sistem akar berkembang daripada akar adventitius yang
terbentuk pada bahagian buku keratan batang yang ditanam. Daun akan keluar pada
setiap buku semasa peringkat tumbesaran keratan pucuk utama. Akar adventitius
juga akan berkembang untuk membantu pucuk melekat pada tiang sokongan. Pada
setiap buku, mata tunas aksil tumbuh menjadi dahan sisi dan seterusnya akan
mengeluarkan sulur buah.
Bunga lada keluar pada buku yang bertentangan dengan setiap daun di dahan
sisi. Kebanyakan kultivar lada mempunyai bunga dwiseks yang kebiasaannya
mengalami pendebungaan sendiri. Buah lada yang lebih dikenali sebagai beri,
berwarna hijau dan berkeadaan lembut di peringkat awal pembentukan. Ia bertukar
ke warna hijau tua dan menjadi keras apabila matang. Kulit luar (eksokarpa)
berwarna kuning dan merah cerah dan menjadi lembut apabila masak. Setiap beri
lada mengandung biji tunggal yang diselaputi isi buah (mesokarpa). Lada hitam
terdiri daripada keseluruhan beri yang telah dikeringkan manakala lada putih adalah
biji lada.
Rasa pedas buah lada adalah disebabkan oleh kehadiran alkaloid piperine,
chavisine dan piperettine manakala minyak pati menghasilkan aroma lada. Kedua-
dua sebagian tersebut membentuk oleoresin yang dapat diperoleh melalui proses
ekstraksi pelarut. Kepedasan lada juga dipengaruhi oleh varieti dan persekitaran
penanaman lada.
Tumbuhan ini berumah dua (dioecious) sehingga dikenal pohon jantan dan
pohon betina. Daun berbentuk elips langsing. Buahnya berbentuk lonjong seperti
lemon, berwarna kuning, berdaging dan beraroma khas karena mengandung minyak
atsiri pada daging buahnya. Bila masak daging dan kulit buahnya membuka dan biji
akan terlihat terbungkus fuli yang berwarna merah. Satu buah menghasilkan biji
yangt berwarna coklat.
Biji lada mengandung minyak atsiri 7-14 %. Bubuk lada dipakai sebagai
penyedap untuk roti atau kue, puding, saus, sayuran. Minyak juga dipakai sebagai
campuran parfum atau sabun.

1.2 Klasifikasi Tanaman Lada
Berdasarkan sistem klasifikasi dari Cronquist dalam Pasuki (1994), klasifikasi
tanaman lada adalah sebagai berikut:
Divisi : Magndrophyta.
Kelas : Magnolipisida.
Anak Kelas : Magnolidae.
Bangsa : Piperales.
Suku : Piperaceae.
Marga : Piper.
Spesies : Piper ningrum L.
Piperin (1piperilpiperidin ) C
17
H
19
O
3
N merupakan alkaloid dengan inti
piperidin. Piperin berbentuk kristal berwarna kuning dengan titik leleh 127-
129,5
0
C, merupakan basa yang tidak optis aktif, dapat larut dalam alkohol, benzena,
eter, dan sedikit larut dalam air (Anwar,dkk.1994).
Piperin terdapat dalam beberapa spesies piper dan dapat dipisahkan baik dari
lada hitam maupun lada putih perdagangan piperin juga dapat ditemukan pada cabe
jawa. Kandungan piperin biasanya berkisar antara 5-92% (Anwar,dkk.1994).
Struktur piperin adalah sebagai berikut :

N
CO CH
HC CH
HC
O
O
CH
2


Timing dari London mengadakan penelitian bahwa lada hitam ternyata bukan
saja bermanfaat sebagai rempah penyedap makanan. Menurut sebuah penelitian
lada hitam juga memiliki potensi menjadi obat baru penyakit pigmen kulit yang
disebut vetiligo. Dalam istilah medis, vetiligo dikenal sebagai kondisi dimana
sebagian wilayah kulit kehilangan pigmen normal, sehingga permukaan kulit
memutih.
Seperti yang dipublikasikan dalam British Journal of Dernatoligy. Para
peneliti dari Kings Collage London berhasil mengungkapkan manfaat piperin,
kandungan utama yang membuat lada hitam terasa pedas dan gurih dalam
merangsang pigmentasi dalam kulit.
Vetiligo sendiri merupakan jenis penyakit kulit prevalensinya diperkirakan
cukup besar yakni menyerang satu diantara seratus orang. Sejauh ini, para dokter
mengobati vitiligo dengan menggunakan korti kosteroid yang dioleskan pada kulit.
Pengobatan lainnya yakni dengan teknik foto terapi yakni menggunakan radiasi
ultriviolet untuk menciptakan kembali pigmen kulit.
Namun begitu, dua metode pengobatan tersebut tingkat keberhasilannya
masih rendah. Menurut penelitian hanya kurang dari seperempat pasien saja yang
memiliki respon positif pada kortikosteroid. Sementara itu, tegangan radiasi UV
untuk menciptakan pegmentasi dalam jarak panjang dikhawatirkan memperbesar
resiko terkena kanker kulit.
Lada hitam merupakan suatu zat yang memiki kemampuan untuk melindungi
tubuh kita dari penyakit seperti jantung, kanker kolon (usus besar), sampai
mencegah penuaaan.

1.3 Metode Percobaan
a. Soxhletasi
Prinsip dari soxhletasi yaitu penyarian secara terus-menerus sehingga
penyarian lebih sempurna dengan pelarut yang relative sedikit. Jika penyarian telah
selesai maka pelarutnya diuapkan dan sisanya adalah zat yang tersari. Biasanya
pelarut yang digunakan yaitu pelarut yang mudah menguap atau yang mempunyai
titik didih rendah. Kelebihan dari soxhletasi yaitu, proses ekstraksi berjalan
sempurna, pelarut sedikit, prosesnya lebih cepat. Sedangkan kelemahannya yaitu
tidak dapat digunakan untuk isolasi senyawa yang termolabil atau bahan tambahan
yang peka terhadap suhu, dan memerlukan energi listrik.

b. Isolasi
Karakter dasar berbagai alkaloid digunakan untuk mengisolasinya. Alkaloid
diambil ke dalam larutan asam berair (umumnya asam hidroklorida, sitrat, atau
tartarat) dan komponen netral atau bersifat asam dari campuran asal dipisahkan
dengan ekstraksi pelarut. Setelah larutan berair dibasakan, maka alkaloid diperoleh
dengan ekstraksi ke dalam pelarut yang sesuai (Sastrohamodjojo, 1996).

c. Hidrolisis
Piperin merupakan amida (R-CONH
2
). Reaksi hidrolisis amida dapat
dilakukan baik dalam suasana asam maupun suasana basa. Dalam kedua kondisi
ini, asam dan basa berfungsi sebagai pereaksi dan bukan sebagai katalis. Dalam
suasana asam, terjadi penyelangan air terhadap amida sedangkan dalam suasana
basa terjadi penyerangan ion hidroksil terhadap atom karbon karbonil amida.

O
O
H
H
H
H
O
N
Isochavisin

O
O
H
O
N
Isopiperin
H
H
H


O
O
H
H
N
Chavisin
H
H
O

O
O
H
H
H
H
O
N
Piperin


Reaksi hidrolisis amida dalam suasana basa digambarkan sebagai berikut :
R C
O
NH
2
+
-
OH R C
O
-
NH
2
OH R C
O
O
-
NH
3
+



Reaksi hidrolisis dalam suasana asam digambarkan sebagai berikut :
R C
O
NH
2
+ H
+
R C
OH
NH
2
R C
OH
NH
2
HOH +
OH
2
R C
O
OH
+ NH
4
+

Hidrolisis piperin dapat dilakukan dengan menggunakan larutan 10% KOH-
etanol menjadi asam piperat.
Reaksi hidrolisis piperin digambarkan sebagai berikut :
N
CO CH
HC CH
HC
O
O
CH
2
KOH
CH
3
OH
N
H
Piperidin
+
CH
HC CH
HC
O
O
CH
2
HO
2
C
Asam Piperat

Oksidasi asam piperat dengan memutuskan ikatan rangkap didekat cincin
akan menghaasilkan senyawa piperonal yang merupakan bahan dasar pembuatan
parfum.

CH
HC CH
HC
O
O
CH
2
HO
2
C
Asam Piperat
KMnO
4
COOH
COOH
Asam Oksalat
+
O
H
2
C
O
CH
O
+
O
H
2
C
O
CH
O
Piperonal
Asam Piperonilat

Piperin dapat mengalami foto-isomerisasasi oleh sinar membentuk isomer
isochavisin (trans-cis), isopiperin (cis-trans) chavisin (cis-cis) dan piperin (trans-
trans).

d. Penentuan Titik Leleh
Jumlah terendah terakhir dari temperatur dimana kristal terakhir meleleh
disebut titik leleh. Pemurnian titik leleh oleh pengotor adalah konsentrasi dari efek
yang berbeda dalam tekanan uap dari campuran padat dan larutan. Titik leleh dari
substansi murni adalah temperatur padatan dan cairan memiliki tekanan uap yang
sama. Metode yang sering digunakan adalah melting point aparatus. Sampel
diletakkan pada kaca, lalu diatas penangas otomatis, titik leleh akan diukur dengan
termometer yang ada disebelahnya (Gibson, 1956).
Titik leleh dicapai saat pola molekul pecah dan padatan berubah menjadi cair.
Titik leleh suatu kristal adalah suhu dimana padatan mula-mula menjadi cair,di
bawah 1 atm. Senyawa murni keadaan padat menjadi cair sangat tajam (0,5
0
C)
sehingga suhu ini berguna untuk identifikasi (Wilcox,1995).

II. ALAT DAN BAHAN
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini, antara lain :
1. Batang pengaduk 1 buah
2. Corong Buchner 1 buah
3. Erlenmeyer 1 buah
4. Evaporator 1 set
5. Gelas kimia 2 buah
6. Gelas ukur 100 ml 1 buah
7. Hotplate 1 buah
8. Kaca arloji 2 buah
9. Labu pengenceran 1 buah
10. Neraca analitik 1 buah
11. Penangas air 1 buah
12. Pipet tetes 2 buah
13. Pipet volume 1 buah
14. Rangkaian alat refluks 1 set
15. Rangkaian alat soxletasi 1 set
16. Spatula 1 buah
17. Statif dan klem 1 set

Bahan-bahan yang diperlukan pada percobaan ini, antara lain :
1. Aquades
2. Batu didih
3. Benang gandir
4. Es batu
5. Etanol 95 %
6. HCl 6 M
7. Kertas lakmus merah dan biru
8. Kertas saring
9. Larutan 10 % KOH etanol
10. Serbuk lada hitam
11. Silika gel
12. Vaselin

III. PROSEDUR KERJA
a. Isolasi Piperin
1. Membersihkan kemudian menggiling lada hitam menjadi serbuk lada
2. Membungkus 90 gram serbuk lada dengan kertas saring dan memasukkan
kedalam alat soxhletasi
3. Melakukan ekstraksi selama 5 jam dengan menggunakan pelarut etanol
absolut
4. Menyaring ekstraktan dan melakukan evaporasi untuk memisahkan etanol
5. Memasukkan 30 ml larutan 10 % KOH etanol kedalam residu dan
melakukan penyaringan, mendiamkan larutan basa etanol semalam
6. Memisahkan kristal yang terbentuk dari larutan
7. Melakukan rekristalisasi dengan pelarut etanol 95 %
8. Mengukur titik leleh kristal yang terbentuk

b. Hidrolisis Piperin
1. Melakukan refluks 1 gram piperin dan 20 ml larutan 10 % KOH etanol
selama 3 jam
2. Melakukan penguapan etanol, mensuspensikan residu yang diperoleh
dengan air panas dan melakukan penetralan dengan HCl 6 M
3. Menyaring larutan dengan corong buchner kemudian mencuci padatan
dengan air dingin
4. Merekristalisasi dengan pelarut etanol sampai didapat titik leleh yang
konstan

IV. HASIL PENGAMATAN
No. Perlakuan Hasil Pengamatan

1.
2.
3.
4.
5.

6.
7.

8.
9.

10.
A. Isolasi Piperin
Menimbang serbuk pala
Mengukur pelarut etanol
Membungkus dengan kertas saring
Melakukan ekstraksi (soxhletasi)
Menyaring ekstraktan

Mengevaporasi
Memasukkan 30 mL larutan 10%
KOH-etanol ke dalam residu
Menyaring
Mendiamkan larutan

Menentukan titik leleh

90 g serbuk pala
225 mL etanol
Bungkusan sampel pala
Terjadi 3 siklus (95
0
C)
Filtrat : larutan coklat kehitaman
Residu : ekstrak lada
Ekstraktan berwarna hitam
Larutan hitam

Kristal
Kristal kering berbentuk jarum
berwarna kuning dengan berat 1 g
Titik leleh 129
0
C

1.

2.

3.
4.

5.

6.

B. Hidrolisis Piperin
Merefluks 1 g piperin dan 20 mL
larutan KOH-etanol selama 3 jam
Melakukan penguapan etanol

Memanaskan aquades
Mencampurkan ekstrak dengan
aquades
Mencampurkan HCl 6 M dengan
ekstrak secara hati-hati
Menyaring dengan buchner dan
mencuci padatan dengan air dingin

Larutan

Larutan berwarna kuning
kecoklatan (saat penguapan)

Larutan kuning keruh, pH = 13

Larutan mengental
Larutan sedikit bening, pH = 3
Serbuk (tidak menghasilkan kristal)

7.

8.
9.
Merekristalisasi dengan pelarut
etanol
Menimbang serbuk
Menentukan titik leleh
Filtrat berwarna kuning muda
keruh
Serbuk berwarna kuning muda
0,2 gram
Titik leleh 130
0
C



V. ANALISIS DATA
a. Isolasi Piperin
Pada percobaan ini, menggunakan metode ekstraksi kontinu untuk
memperoleh senyawa piperin dari lada hitam. Metode ekstraksi kontinu yang
dilakukan bertujuan untuk memperoleh hasil ekstrak yang lebih murni lagi. Lada
hitam yang digunakan dibersihkan dan dihaluskan hingga terbentuk serbuk lada
yang halus. Tujuan penghalusan lada hitam adalah agar zat-zat yang terkandung
di dalam lada hitam mudah melarut dalam pelarut yang digunakan. Hal ini
karena semakin halus serbuk, maka kelarutan akan meningkat karena semakin
banyak terjadi kontak dengan pelarut, sehingga semakin banyak zat yang dapat
terbentuk dan semakin efisien proses pemisahan atau ekstraksi yang terjadi.
Karena sampel yang digunakan dalam percobaan ini adalah lada hitam yang
berupa padatan, sehingga metode ekstraksi kontinu yang digunakan dengan cara
soxhletasi. Soxhletasi adalah suatu metode atau proses pemisahan suatu
komponen yang terdapat dalam zat padat dengan cara penyarian berulang-ulang
dengan menggunakan pelarut tertentu, sehingga semua komponen yang
diinginkan akan terisolasi. Bila penyarian ini telah selesai, maka pelarutnya
diuapkan kembali dan sisanya adalah zat yang tersari (Kusmardiyani dan
Namawi, 1992).
Sebelum melakukan soxhletasi, dilakukan tahap preparasi atau persiapan,
yaitu membungkus sampel serbuk lada hitam yang digunakan dengan kertas
saring sedemikian rupa sehingga berbentuk lonjong. Lalu diikat dengan benang
gandir agar serbuk tidak pecah atau keluar dari kertas saring pada saat proses
ekstraksi berlangsung. Fungsi penggunaan kertas saring adalah sebagai selimut
N
CO CH
CH CH
CH3 O
CH
2
O
HOCH
2
CH
3
ikatan hidrogen
berpori agar partikel-partikel serbuk yang berukuran lebih besar dari pori-pori
kertas saring dapat tertahan dalam kertas dan tidak ikut mengalir menuju labu
alas bulat, sehingga dapat mempermudah pelarut untuk menyerap piperin yang
terkandung di dalam sampel. Setelah serbuk dibungkus dengan kertas saring,
selanjutnya dimasukkan ke dalam tabung ekstraktor untuk selanjutnya
disoxhletasi.
Pelarut yang digunakan dalam proses soxhletasi pada percobaan ini adalah
etanol sebanyak 225 mL. Volume dari cairan penyari harus lebih besar
dibandingkan kapasitas dari tabung ekstraktor. Hal ini disebabkan untuk
mencegah habisnya cairan penyari pada labu alas bulat saat dilakukan
pemanasan yang kemudian akan membuat cairan penyari itu menguap.
Pelarut etanol digunakan untuk melarutkan zat yang diinginkan dari dalam
lada hitam, karena baik piperin maupun etanol memiliki kepolaran yang sama
yaitu bersifat polar sehingga etanol mampu melarutkan piperin sesuai dengan
prinsip like dissolved like. Dari literatur diperoleh bahwa piperin merupakan
senyawa alkaloid yang dapat larut dalam alkohol yaitu etanol, dimana antara
piperin dengan etanol mampu untuk membentuk ikatan hidrogen. Gambar ikatan
hidrogen antara piperin dan etanol adalah sebagai berikut:







Selanjutnya adalah melakukan proses ekstraksi selama beberapa hari. Pada
saat proses ekstraksi juga digunakan batu didih pada labu pelarut yang bertujuan
untuk menjaga tekanan dan suhu larutan supaya tetap stabil dan tidak terjadi
letupan selama proses ekstraksi berlangsung. Disamping itu, digunakan
penangas air yang suhunya dijaga diantara kisaran 70
o
C (jangan sampai air
dalam penangas mendidih). Hal ini dikarenakan jika suhu penangas lebih tinggi
dari titik didih piperin, ditakutkan justru piperin yang akan ikut menguap.
Proses yang terjadi selama soxhletasi adalah pelarut etanol dipanaskan
dalam labu bundar sehingga menguap. Setelah cairan penyari menguap, uap
akan didinginkan oleh kondensor sehingga terkondensasi menjadi molekul-
molekul air dan jatuh berupa cairan ke sampel (lada hitam). Molekul-molekul
cairan penyari ini akan mengisi seluruh tabung berpori dalam tabung ekstraktor
dan melarutkan analit yang berada di dalam serbuk simplisia dengan cara
menembus pori-pori kertas saring dan membawa keluar analitnya. Cairan
penyari yang berisi analit akan tertahan di dalam tabung ekstraktor sampai tinggi
cairan pada tabung ekstraktor sama dengan tinggi cairan pada pipa sifon. Setelah
tinggi cairan penyari pada kedua tabung tersebut sama, maka cairan penyari
akan turun secara bersamaan ke dalam labu alas bulat (Depkes RI, 1986). Ketika
cairan penyari yang telah menyari simplisia kembali masuk ke dalam labu alas
bulat, maka disebut satu sirkulasi (satu siklus).
Dari proses soxhletasi dihasilkan ekstrak lada hitam dan dalam proses pada
alat soxhlet ini mengalami 3 siklus yang kontinu menghasilkan larutan lada
hitam atau ekstraktan yang berwarna coklat kehitaman.
Ekstrak lada hitam tadi kemudian dievaporasi yang bertujuan untuk
memisahkan hasil ekstrak dengan pelarutnya, yakni etanol. Dalam evaporator
akan terjadi pemisahan ekstrak dari pelarutnya (etanol) dengan prinsip
pemanasan yang dipercepat oleh putaran labu bundar, pelarut dapat menguap 5-
10
o
C di bawah titik didih pelarutnya disebabkan adanya perubahan tekanan.
Dengan bantuan pompa vakum, uap larutan pelarut etanol akan menguap naik ke
kondersor dan mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan pelarut
etanol murni yang ditampung dalam labu bundar sebagai penampung pelarut,
sehingga diperoleh ekstrak larutan hitam pekat.
Selanjutnya, ekstrak yang pekat tadi ditambahkan dengan larutan KOH
dalam etanol dan diperoleh larutan berwarna hitam. Penambahan larutan KOH
dalam etanol bertujuan untuk memperoleh piperin dari ekstrak pekat tersebut,
dimana di dalam ekstrak tersebut terdapat komponen lain ketika ditambahkan
KOH-etanol yang menyebabkan piperin yang ada dalam ekstrak tersebut
bereaksi menjadi garam asam piperat dan dengan penambahan KOH-etanol
dapat mengeliminasi senyawa lainnya, karena dalam ekstak tersebut masih ada
zat pengotor. Masih terdapatnya zat pengotor ini disebabkan senyawa piperin,
merupakan senyawa alkaloid golongan amida yang dapat mengalami reaksi
hidrolisis baik dalam suasana asam maupun basa. Jadi penambahan larutan
KOH-etanol ini bertujuan untuk mengisolasi senyawa piperin dalam bentuk
garamnya, karena berdasarkan literatur dinyatakan bahwa senyawa golongan
alkaloid sering kali diisolasi dalam bentuk garamnya yaitu garam asam piperat.
Lalu filtrat yang ada disaring. Proses penyaringan bertujuan agar filtrat
dapat terpisah dari zat-zat pengotornya. Kemudian filtrat didiamkan dalam
larutan es selama satu malam agar terjadi pembentukan kristal piperin yang
sempurna. Hasil yang terbentuk tersebut disaring dengan corong buchner
sehingga dapat dihasilkan kristal yang sudah terpisah dari filtratnya.
Kristal yang diperoleh direkristalisasi menggunakan etanol, rekristalisasi ini
didasarkan pada prinsip perbedaan dalam kelarutan pada suatu pelarut tertentu
dan suhu tertentu. Pada suhu kamar, senyawa piperin dalam bentuk kristalnya
yang memang bersifat polar akan dapat melarut dalam etanol yang juga bersifat
polar. Ketika ditambahkan etanol sebagai pelarut, maka piperin yang ada akan
melarut dalam filtratnya, sedangkan zat pengotor seperti piperin yang bersifat
nonpolar atau kurang polar tidak larut dalam etanol akan tertinggal di dalam
residunya.
Selanjutnya, kristal yang diperoleh tadi ditimbang dan ditentukan titik
lelehnya. Berdasarkan percobaan dapat diperoleh massa kristal yang didapat
sebesar 1 g dan dari hasil perhitungan diperoleh persentase rendemen sebesar
1,1%. Dilihat dari warna kristal yang dihasilkan, yaitu berwarna kuning,
menunjukkan bahwa sudah sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa
kristal piperin merupakan kristal berwarna kuning. Jadi, dapat disimpulkan
bahwa kristal yang diperoleh di percobaan sudah murni.
N
C CH
HC CH
HC
O
O
CH
2
-
OOC CH
HC CH
HC
O
O
CH
2
garam Asam piperat
Piperidin
Piperin
+
N
OH
-
adisi
N
C CH
HC CH
HC
O
O
CH
2
O
O
O H
eliminasi
serah terima
elektron
Dari literatur, titik leleh piperin adalah 128-130
o
C (ChemNet), sedangkan
dalam percobaan diperoleh titik leleh sebesar 129
o
C yang menandakan bahwa
piperin yang dihasilkan sudah murni.

b. Hidrolisis Piperin
Dalam percobaan ini bertujuan untuk menghidrolisis piperin menjadi asam
piperat. Pada proses hidrolisis sebanyak 1 g piperin direaksikan dengan 20 mL
larutan 10% KOH-etanol. Larutan KOH-etanol digunakan agar reaksi
berlangsung dalam suasana basa. Selain itu penambahan KOH alkoholis juga
bertujuan untuk menghidrolisis ekstrak kental dari piperin menjadi Kristal
kalium piperinat dan piperidin (Bruneton, 1999).
Untuk menghomogenkan larutan maka piperin yang sudah dicampur
direfluks selama 3 jam dan suhu yang digunakan tidak boleh melebihi titik didih
etanol karena jika melebihi titik didih etanol maka etanol akan menguap dan
dikhawatirkan etanol habis sebelum proses refluks. Tujuan dari merefluks ini
agar terjadi reaksi hidrolisis secara sempurna.
Proses yang terjadi yaitu pelarut yakni KOH-etanol dimasukkan bersama
piperin ke dalam labu bundar, lalu memanaskan. Uap pelarut akan terkondensasi
di dalam kondensor menjadi molekul pelarut sehingga turun kembali menuju
labu bundar dan akan melarutkan kembali piperin yang berada dalam labu
hingga dasar dan seluruhnya secara berkesinambungan sehingga reaksi
berlangsung secara sempurna.
Pada proses ini terjadi reaksi sebagai berikut:












Pada saat merefluks digunakan batu didih yang berfungsi untuk menjaga
suhu dan tekanan dalam ruang alat refluks agar tetap konstan atau stabil,
sehingga tidak terjadi letupan-letupan ketika proses refluks berlangsung. Adapun
hasil refluks adalah larutan berwarna kuning kecoklatan. Warna kuning ini
menunjukan bahwa pada ekstrak tersebut mengandung piperin yang dihidrolisis.
Setelah melakukan refluks selama 3 jam, hasil refluks didinginkan terlebih
dahulu kemudian dilakukan penguapan dengan evaporator sehingga etanol
menguap. Ekstrak yang diperoleh ini selanjutnya dicampurkan dengan aquades
hingga diperoleh ekstrak yang berwarna kuning keruh dengan pH = 13, hal ini
menunjukkan bahwa larutan tersebut dalam suasana basa.



Reaksi hidrolisis amida dalam susasana basa adalah sebagai berikut:

N
CO CH
HC CH
HC
O
O
CH
2
KOH
CH
3
OH
N
H
Piperidin
+
CH
HC CH
HC
O
O
CH
2
HO
2
C
Asam Piperat Piperin


Seperti pada reaksi diatas hidrolisis piperin menghasilkan senyawa piperidin
dan asam piperat yang merupakan asam karboksilat. Reaksi hidrolisis ini
berlangsung lebih sempurna setelah melalui proses pengrefluksan dengan
pemanasan selama 3 jam. Adapun tahapan reaksi lengkapnya adalah sebagai
berikut:
CH
3
CH
2
OH

N
O
O H
2
C
CH
HC CH
HC C
O
piperin
+ OH
-
O
O H
2
C
CH
HC CH
HC CH
O
OH
O
O H
2
C
CH
HC CH
HC C
O
O
asam piperat
+
N
H
piperidin


Dari tahapan-tahapan reaksi ini terlihat bahwa dalam suasana basa terjadi
penyerangan ion hidroksil (OH
-
) terhadap atom karbon karbonil amida dan
dalam kondisi ini basa berfungsi sebagai pereaksi atau reaktan dan bukan
sebagai katalis.
Kemudian menetralkan dengan larutan HCl 6 M karena hidrolisis ini
berlangsung dalam keadaan basa sehingga harus dinetralkan. Larutan yang
dihasilkan sedikit bening (larutannya mengental) dengan pH=3, adapun reaksi
yang terjadi setelah penambahan HCl 6 M adalah sebagai berikut:

O
O H
2
C
CH
HC CH
HC C
O
asam piperat
OH
+ HCl pekat
O
O H
2
C
CH
HC CH
HC C
O
garam
Cl
+ H
2
O
air


Selanjutnya larutan tersebut disaring dengan penyaring buchner dan padatan
yang terbentuk (serbuk/tidak menghasilkan kristal) dicuci dengan air dingin,
setelah itu serbuk tersebut direkristalisasi dengan etanol. Rekristalisasi
merupakan salah satu cara pemurnian zat padat dari pengotornya dimana zat-zat
tersebut dilarutkan dalam suatu pelarut kemudian dikristalkan kembali dengan
pendinginan perlahan (Arsyad, 2011). Prinsip dasar dari proses ini adalah
perbedaan kelarutan antara zat yang dimurnikan dengan zat pencemarnya dan
hanya molekul-molekul yang sama yang mudah masuk ke dalam struktur
kristalnya, sedangkan molekul-molekul lain atau pengotor tetap di dalam larutan
atau berada di luar kristalnya (Keenan, 1999)
Adapun filtrat yang diperoleh adalah berwarna kuning muda keruh dan
endapannya (serbuknya) berwarna kuning muda. Endapan yang didapatkan dari
proses tersebut dikeringkan diatas kertas saring yang dilapisi dengan kasa,
kemudian disimpan di dalam desikator. Setelah kering, kristal yang didapat
kemudian ditimbang. Berdasarkan percobaan ini diperoleh massa endapan atau
kristal sebesar 0,2 g dan melalui perhitungan rendemen diperoleh persentase
yang dihasilkan sebesar 80%.
Dilihat dari persentase endapannya yang kurang dari 100% menunjukkan
bahwa percobaan yang dilakukan berhasil (kristal yang dihasilkan cukup murni
atau pengotor yang terdapat pada kristal dalam jumlah yang kecil) karena
persentase kristal tidak mungkin lebih dari 100%.
Kemudian dilakukan pengujian titik leleh kristal piperidin dan diperoleh
titik lelehnya adalah 130
o
C. Berdasarkan literatur titik leleh kristal piperidin
adalah 106
o
C (Merck Chemicals, 2014). Adanya titik leleh yang tidak sesuai
dengan literatur ini dikarenakan kristal yang terbentuk bukanlah kristal yang
murni sempurna (masih ada terdapat pengotor dalam kadar yang sedikit),
sehingga menaikkan titik leleh kristal piperidin yang diukur atau karena pada
saat pengukuran titik leleh piperidin tidak pada suhu standar 25
o
C melainkan
pada suhu ruangan 32
o
C.


VI. KESIMPULAN
1. Isolasi piperin dari lada hitam pada percobaan ini menggunakan proses ekstraksi
kontinu dengan cara soxhletasi dengan pelarut etanol karena piperin dan etanol
sama-sama bersifat polar.
2. Proses hidrolisis piperin dilakukan dalam suasana basa di mana OH
-
bertindak
sebagai pereaksi yang menyerang atom karbon karbonil amida.
3. Massa kristal piperin yang diperoleh pada isolasi piperin sebesar 1 gram dengan
persentase rendemen sebesar 1,1 % dan titik lelehnya sebesar 129
o
C. Sedangkan
massa kristal piperidin yang diperoleh pada hidrolisis piperin sebesar 0,2 g
dengan persentase rendemen sebesar 20 % dan titik lelehnya sebesar 130
o
C.





DAFTAR PUSTAKA

Anonim, tanpa tahun. Lada Hitam. (Online),
(http://www.centeralhealth.com/images/lada-hitam.jpg. diakses tanggal 25
Mei 2014)
Anwar, Chairil. dkk. 1996. Pengantar Praktikum Kimia Oganik. Jakarta : Depdikbud
Arsyad, M.N. 2001. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah. Jakarta: Gramedia.
Bruneton, J. 1999. Pharmacognosy, Phytochemistry, Medical Plant. 2
nd
edition. New
York: Intercept.Ltd
ChemNet. Tanpa Tahun. The Physical and Chemical Property of Piperine. (Online),
(http://www.chemnet.com/cas/id/94-62-2/Piperine.html. diakses pada 25 Mei
2014)
Depkes RI. 1986. Sediaan Galenik. Jakarta :Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Fessenden and Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid I. Jakarta : Erlangga.
Fessenden and Fessenden. 1991. Kimia Organik Jilid II. Jakarta : Erlangga.
Gibson, Charles, S. 1956. Essential Principles of Organic Chemistry. London :
Chambridge of The University Press.
Keenan, C.W. 1999. Kimia untuk Universitas Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Kusmardiyani, S. & Nawawi Asari. 1992. Kimia Bahan Alam. Yogyakarta : Pusat
antar Universitas Bidang Ilmu Hayati.
Lisnawati, 2004. Isolasi dan Karakterisasi Piperin dan Lada Hitam. Skripsi.
Banjarmasin : FKIP UNLAM.
Marck Chemicals. 2014. Piperidini. (Online),
(http://www.merckmillipore.com/indonesia/chemicals/piperidin/MDA_CHE
M-109724/p_xrOb.s1LJOMAAAEWveAfVhTl, diakses pada 25 Mei 2014)
Syahmani dan Rilia Iriani. 2012. Petunjuk Praktikum Kimia Organik. Banjarmasin :
FKIP UNLAM.
Wilcox, C.F. 1995. Experimental Organic Chemistry, 2
nd
edition. New Jersey :
Prentice Hall.

















N
C CH
HC CH
HC
O
O
CH
2
-
OOC CH
HC CH
HC
O
O
CH
2
garam Asam piperat
Piperidin
Piperin
+
N
OH
-
adisi
N
C CH
HC CH
HC
O
O
CH
2
O
O
O H
eliminasi
serah terima
elektron









LAMPIRAN

Perhitungan
1) Persentase piperin yang dihasilkan dari isolasi piperin

% Piperin % 100 x
Hitam Lada Massa
piperin Massa

= % 100
90
1
x
gram
gram

= 1,1 %

2) Persentase kristal piperin yang dihasilkan dari hidrolisis piperin

% Kristal piperidin % 100 x
piperin Massa
kristal Massa

= % 100
1
2 , 0
x
gram
gram

= 20 %

Pertanyaan
1) Tuliskan mekanisme reaksi hidrolisis piperin?

J awaban
Mekanisme reaksi hidrolisis piperin :