Anda di halaman 1dari 1

1.3.

Frekuensi Pelaksanaan Supervisi


Supervisi harus dilakukan dengan frekuensi yang berkala. Supervisi yang dilakukan hanya sekali bisa
dikatakan bukan supervisi yang baik, karena organisasi/lingkungan selalu berkembang. Oleh sebab
itu agar organisasi selalu dapat mengikuti berbagai perkembangan dan perubahan, perlu dilakukan
berbagai penyesuaian. Supervisi dapat membantu penyesuaian tersebut yaitu melalui peningkatan
pengetahuan dan keterampilan bawahan.
Tidak ada pedoman yang pasti mengenai berapa kali supervisi harus dilakukan. Yang digunakan
sebagai pegangan umum, supervisi biasanya bergantung dari derajat kesulitan pekerjaan yang
dilakukan, serta sifat penyesuaian yang akan dilakukan. Jika derajat kesulitannya tinggi serta sifat
penyesuaiannya mendasar, maka supervisi harus lebih sering dilakukan.

Berapa kali dalam satu tahun kepala sekolah melakukan tugas supervisi terhadap sekolah yang
dipimpinnya? dan supervisi yang seperti apakah yang dilakukan oleh kepala sekolah tersebut?
Jawab: adapun tugas supervisi di sekolah ini terbagi menjadi dua macam, yaitu :
Supervisi secara tidak langsung, yaitu supervisi yang meliputi pengawasan dan pembinaan yang
dilakukan dengan mengamati lingkungan serta warga sekolah, seperti melihat aktivitas guru, staf
kantor, pegawai, maupun para murid. Supervisi ini dilakukan kepala sekolah hampir setiap hari hari
aktif sekolah.
Supervisi secara langsung atau resmi, yaitu pengawasan dan pembinaan yang dilakukan secara
terprosedur dan terencana dalam program sekolah, seperti mengevaluasi program supervisi itu
sendiri kemudian melakukan pembinaan terhadap warga sekolah terutama guru. Supervisi ini
dilakukan kepala sekolah beberapa sekali dalam setahun, kemungkinan bisa dua sekali dalam
setahun
Secara umum, kegiatan atau usaha-usaha yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah sesuai dengan
fungsinya sebagai supervisor antara lain adalah:
1) Memotivasi para guru dan pegawai agar menjalankan tugasnya dengan baik.
2) Berusaha mengadakan dan melengkapi alat-alat perlengkapan sekolah termasuk media
instruksional yang mendukung kelancaran KBM.
3) Bersama guru-guru berusaha mengemabangkan, mencari, dan menggunakan metode-metode
mengajar yang lebih sesuai dengan tuntutan kurikulum.
4) Membina kerja sama yang harmonis diantara guru dan pegawai sekolah.
5) Berusaha mempertinggi mutu dan pengetahuan guru dan pegawai sekolah, antara lain dengan
mengadakan diskusi kelompok, menyediakan perpustakaan sekolah, dan sebagainya.
6) Membina hubungan kerja sama antara sekolah dengan BP3 atau POMG dan instansi-instansi
lain dalam rangka peningkatan mutu pendidikan siswa