Anda di halaman 1dari 14

SEJARAH PERADABAN ISLAM

PERADABAN ISLAM PADA MASA


BANI UMAYYAH DAN BANI ABBASIYAH

DISUSUN OLEH :
NAMA : MUHAMMAD IQBAL
NIM : 05 51 024

FAKULTAS DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH

PALEMBANG
2009
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di kala umat manusia dalam kegelapan dn kehilangan pegangan hidupnya, lahirlah
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Ketika menginjak usia 40 tahun, Nabi
Muhammad SAW lebih banyak bertahannuts, yang pada malam 17 Ramadhan / 06
Agustus 610 M di Gua Hiro, datanglah malaikat Jibril dengan membawa wahyu
pertama, yaitu surat Al-‘Alaq ayat 1-5. dengan wahyu tersebut beliau telah menjadi
rasul pilihan Allah yang bertugas menyampaikan perintah Allah kepada segenap umat
manusia. Semasa kerasulannya, beliau banyak membawa pengikut kepada ajaran Allah.
Hingga peradaban Islam pun tertanam pada hati segenap umatnya dan dalam
lingkungannya.
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, kekhalifahan dipegang oleh Khulafaur-
Rasyidin. Banyak upaya yang dilakukan pada masa-masa tersebut hingga pada masa
kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Dengan meninggalnya Khalifah Ali bin Abi Thalib,
maka bentuk pemerintahan kekhalifahan telah berakhir. Berubahnya bentuk
pemerintahan dari khalifah ke dinasti (kerajaan) tidak membuat ajaran Islam berubah
pula, melainkan peradabannya mengalami perkembangan yang pesat. Kemudian
dilanjutkan dengan bentuk pemerintahan dinasti (kerajaan), yaitu dinasti Bani Umayyah
dan dinasti Bani Abbasiyah.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskanlah permasalahan yang akan
dibahas dalam makalah ini, guna mempermudah pembahasan makalah ini.
1. Perkembangan kemajuan peradaban Islam pada masa Bani Umayyah dan
Bani Abbasiyah.

2
2. Kemunduran peradaban Islam pada masa Bani Umayyah dan Bani
Abbasiyah.
PEMBAHASAN

A. Perkembangan Peradaban Islam pada Masa Bani Umayyah dan Bani


Abbasiyah
1. Perkembangan Pada Masa Bani Umayyah
Dinasti Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan bin Harb bin
Umayyah. Muawiyah dapat menduduki kursi kekuasaan dengan berbagai cara,
siasat, dan tipu muslihat yang licik, bukan atas dasar demokrasi yang berdasarkan
atas hasil pilihan umat Islam.1 Dengan demikian, berdirinya dinasti ini bukan
berdasarkan hukum musyawarah.
Dinasti Bani Umayyah berdiri selama ± 90 tahun (40 – 132 H / 661 – 750 M),
dengan Damaskus sebagai pusat pemerintahannya. Dinasti Umayyah sangat bersifat
Arab Orientalis, artinya dalam segala hal dan segala bidang para pejabatnya berasal
dari keturunan Arab murni, begitu pula dengan corak peradaban yang dihasilkan
pada masa dinasti ini. Pada masa pemerintahan dinasti ini banyak kemajuan,
perkembangan, dan perluasan daerah yang dicapai, terlebih pada masa
pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik (86 – 96 H / 705 – 715 M).
Pada masa awal pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan ada usaha memperluas
wilayah kekuasaan ke berbagai daerah, seperti ke India dengan mengutus Muhallab
bin Abu Sufrah, dan usaha perluasan ke Barat ke daerah Byzantium di bawah
pimpinan Yazid bin Muawiyah. Selain itu juga diadakan perluasan wilayah ke
Afrika Utara. Juga mengerahkan kekuatannya untuk merebut pusat-pusat kekuasaan
di luar jazirah Arab, antara lain kota Konstantinopel.
Adapun alasan Muawiyah bin Abi Sufyan untuk terus berusaha Byzantium.
Pertama, Byzantium merupakan basis kekuatan agama Kristen Ortodoks, yang
1
Drs. Murodi, MA. Sejarah Kebudayaan Islam, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 2003), h. 41.

3
pengaruhnya dapat membahayakan perkembangan Islam. Kedua, orang-orang
Byzantium sering mengadakan pemberontakan ke daerah Islam. Ketiga, termasuk
wilayah yang mempunyai kekayaan yang melimpah.2
Walaupun keadaan dalam negeri bisa diatasi pada beberapa periode, akan tetapi
pada masa-masa tertentu seringkali dapat membahayakan keadaan pemerintah itu
sendiri. Pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan (65 – 86 H /
685 – 705 M) keadaan dalam negeri boleh dibilang teratasi. Begitu juga pada masa
Khalifah Walid bin Abdul Malik (86 – 96 H / 705 – 715 M), keadaan dapat teratasi.
Dengan keadaan yang demikian itu, kemajuan peradaban dapat dicapai, terutama
dalam bidang politik kekuasaan.
Khalifah Walid bin Abdul Malik berusaha memperluas daerahnya menuju
Afrika Utara, yaitu ke Maghrib Al-Aqsha dan Andalusia. Dengan kegigihan dan
keberanian panglima perang Musa bin Nushair, wilayah tersebut dapat dikuasai
sehingga ia diangkat sebagai gubernur Afrika Utara. Musa bin Nushair juga
mengutus Tharif bin Malik untuk mengintai keadaan Andalusia yang dibantu oleh
Julian. Keberhasilan dalam hal ini membuka peluang bagi Musa bin Nushair untuk
melakukan langkah berikutnya dengan mengirim Thariq bin Ziyad menyeberangi
lautan guna merebut daerah Andalusia. Tepat pada 711 M, Thariq bin Ziyad
mendarat di sebuah selat, yang kini selat tersebut diberi nama dengan namanya,
yakni Selat Jabal Thariq atau Selat Giblaltar.
Keberhasilan Thariq bin Ziyad memasuki Andalusia membuat peta perjalanan
sejarah baru bagi kekuasaan Islam. Sebab, satu persatu wilayh yang dilewatinya
dapat dengan mudah jatuh ke tangannya, seperti kota Cordova, Granada, dan
Toledo. Sehingga Islam dapat tersebar dan menjadi agama panutan bagi
penduduknya, walaupun tidak semua penduduk Andalusia masuk Islam. Tidak
hanya itu, Islam menjadi sebuah agama yang mampu memberikan motifasi para
pemeluknya untuk mengembangkan diri dalam berbagai bidang kehidupan sosial,
politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya. Andalusia pun mencapai kejayaan pada
masa pemerintahan Islam.

2
Ibid, h.41-42.

4
Kemajuan-Kemajuan yang Dicapai
Pertama, Bani Umayyah berhasil memperluas daerah kekuasaan Islam ke
berbagai penjuru dunia, seperti Spanyol, Afrika Utara, Suria, Palestina,
Semenanjung Arabia, Irak, sebagian kecil Asia, Persia, Afghanistan, Pakistan,
Rukhmenia, Uzbekistan dan Kirgis.3
Kedua, Islam memberikan pengaruh bagi kehidupan masyarakat luas. Sikap
fanatik Arab sangat efektif dalam membangun bangsa Arab yang besar sekaligus
menjadi kaum muslimin atau bangsa Islam. Setelah pada saat itu bangsa Arab
merupakan prototipikal dari bangsa Islam sendiri.4
Ketiga, telah berkembang ilmu pengetahuan secara tersendiri dengan masing-
masing tokoh spesialisnya. Antara lain, dalam Ilmu Qiro’at (7 qiro’at) yang terkenal
yaitu Ibnu Katsir (120H), Ashim (127H), dan Ibnu Amr (118H).5 Ilmu Tafsir
tokohnya ialah Ibnu Abbas (68H) dan muridnya Mujahid yang pertama kali
menghimpun tafsir dalam sebuah suhuf, Ilmu Hadits dikumpulkan oleh Ibnu Syihab
Az-Zuhri atas perintah Umar bin Abdul Aziz, tokohnya ialah Hasan Al-Basri
(110H), Sa’id bin Musayyad, Rabi’ah Ar-Ra’iy guru dari Imam Malik, Ibnu Abi
Malikah, Sya’bi Abu Amir bin Syurahbil. Kemudian Ilmu Kimia dan Kedokteran,
Ilmu Sejarah, Ilmu Nahwu, dan sebagainya.
Keempat, perkembangan dalam hal administrasi ketatanegaraan, seperti adanya
Lembaga Peradilan (Qadha), Kitabat, Hajib, Barid dan sebagainya.

2. Perkembangan Pada Masa Bani Abbasiyah


Daulah Abbasiyah didirikan pada tahun 132 H / 750 M, Abbasiyah merupakan
kelanjutan dari pemerintahan daulah Umayyah yang telah hancur di Damaskus.
Dinamakan Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini merupakan
keturunan Abbas, paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti Abbasiyah di samping
bercorak Arab murni, juga terpengaruh dengan corak pemikiran dan peradaban

3
Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya jilid I, (Jakarta: UI Press, 1985), cet V, h. 62
A. Hasyimi, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), cet V, h. 155.
4
Ibid.
5
Ibid, h. 184 – 185.

5
Persia, Romawi Timur, Msir, dan sebagainya. Juga dinasti Abbasiyah ini sistem
politiknya lebih bersifat demokratis dari pada dinasti Umayyah yang Orientalis.
Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mahdi (158 – 169 H / 775 – 785 M),
dinasti Abbasiyah memperluas kekuasaan dan pengaruh Islam ke wilayah Timur
Asia Tengah, dari perbatasan India hingga ke China. Saat itu umat Islam berhasil
memasuki selat Bosporus, sehingga membuat Ratu Irene menyerah dan berjanji
membayar upeti. Pada masa dinasti ini pula wilayah kekuasaan Islam sangat luas
yang meliputi wilayah yang telah dikuasai Bani Umayyah, antara lain Hijjaz,
Yaman Utara dan Selatan, Oman, Kuwait, Iran (Persia), Irak, Yordania, Palestina,
Libanon, Mesir, Tunisia, Al-Jazair, Maroko, Spanyol, Afghanistan, dan Pakistan.
Juga mengalami perluasan ke daerah Turki, wilayah-wilayah Armenia dan daerah
sekitar Laut Kaspia, yang sekarang termasuk wilayah Rusia. Wilayah bagian Barat
India dan Asia Tengah, serta wilayah perbatasan China sebelah Barat.

Kemajuan-Kemajuan dan Perkembangan yang Dicapai


Secara garis besar ada 2 faktor penyebab tumbuh dan berkembangnya peradaban
Islam, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari dalam
ajaran Islam bahwa ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits,
memiliki kekuatan yang luar biasa yang mampu memberikan motifasi bagi para
pemeluknya untuk mengembangkan peradabannya.
Sedangkan faktor eksternalnya, yaitu ajaran yang merupakan proses sejarah
umat Islam di dalam kehidupannya yang dijiwai oleh nilai-nilai ajaran Islam. Faktor
penyebab tersebut adalah semangat Islam, perkembangan organisasi ketatanegaraan,
perkembangan ilmu pengetahuan, dan perluasan Islam.6

Bentuk-Bentuk Peradaban Islam dan Tokoh-Tokohnya


a. Kota-Kota Pusat Peradaban
1) Kota Baghdad, merupakan ibu kota negara kerajaan Abbasiyah
yang didirikan oleh Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur (754 – 775 M) pada tahun
762 M. kota ini terletak di tepian sungai Tigris. Masa keemasan kota Baghdad

6
Drs. Murodi, MA, Op, Cit, h. 56.

6
terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid (786 – 809 M), dan
anaknya Al-Makmun (813 – 833M).
2) Kota Samarra, letaknya di sebelah timur sungai Tigris yang
berjarak lebih kurang 60 km dari kota Baghdad. Di kota ini terdapat 17 istana
mungil yang menjadi contoh seni bangunan Islam di kota-kota lain.7
b. Bangunan Tempat Pendidikan dan Tempat Peribadatan
1) Madrasah. Ada banyak madrasah, madrasah yang terkenal pada
zaman itu adalah Nizamiyyah, yang didirikan oleh Nizam Al-Mulk, seorang
perdana menteri pada tahun 456 – 486 H. Madrasah ini terdapat di banyak
kota, antara lain di Baghdad, Isfahan, Nisabur, Basrah, Tabaristan, Hara, dan
Musol.
2) Kuttab, yaitu sebagai lembaga pendidikan dasar dan menengah.
3) Majlis Muhadharah sebagai tempat pertemuan dan diskusi para
ilmuan.
4) Darul-Hikmah sebagai perpustakaan.
5) Masjid-masjid sebagai tempat beribadah dan sebagai tempat
pendidikan tingkat tinggi dan takahsush. Di antara masjid yang terkenal
adalah masjid Cordova, masjid Ibnu Touloun, masjid Al-Azhar, dan
sebagainya.
c. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Tokoh-Tokohnya
1) Filsafat, para tokoh filosuf pada masa itu adalah : Abu Ishak Al-
Kindi, Abu Nashr Al-Faraby, Ibnu Sina, Ibnu Bajah, Ibnu Thufail, Al-Ghazali,
dan Ibnu Rusydi.
2) Ilmu Kedokteran : Abu Zakaria Yuhana bin Masiwaih, Sabur bin
Sahal, Abu Zakaria Ar-Razy, dan Ibnu Sina.
3) Matematika, ahli matematika Islam yang terkenal ialah Al-
Khawarizmi, seorang yang menemukan angka nol (0), sedangkan angka 1, 2,
3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 0, disebut juga “Angka Arab”.8

7
Ibid, h. 58.
8
Ibid, h. 61.

7
4) Farmasi dan Kimia, di antara para ahli farmasi dan kimia pada
masa pemerintahan dinasti Abbasiyah adalah Ibnu Baithar.
5) Ilmu Perbintangan : Abu Mansur Al-Falaky, Jabir Al-Batany, dan
Rayhan Al-Bairuny.
6) Ilmu Tafsir (Tafsir Al-Ma’tsur : Ibnu Jarir Ath-Thabari, Ibnu
‘Athiyah Al-Andalusy, As-Sudai, Muqatil bin Sulaiman; dan Tafsir bir-Ra’yi :
Abu Bakar Asam, Abu Muslim Muhammad bin Bahar Isfahany, dan Abu
Yunus Abdussalam).
7) Ilmu Hadits : Imam Abu Abdullah Muhammad bin Abi Al-Hasan
Al-Bukhari (Imam Bukhari), Imam Abu Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qushairy
An-Naishbury (Imam Muslim), Ibnu Majah, Abu Dawud, An-Nasa’i.
8) Ilmu Kalam, di antara aliran ilmu kalam yang berkembang adalah
Jabariyah, Qadariyah Mu’tazilah, dan Asy’ariyah. Para pelopornya adalah
Jahm bin Sofwan, Ghilan Al-Dimisyqi, Wasil bin ‘Atha’, Al-Asy’ari, dan
Imam Ghazali.
9) Ilmu Bahasa : Sibawaih, Al-Kisai, dan Abu Zakaria Al-Farra.

B. Kemunduran Peradaban Islam pada Masa Bani Umayyah dan Bani


Abbasiyah
1. Kemunduran Pada Masa Bani Umayyah
Ada 7 faktor penyebab kemunduran kekuasaan Bani Umayyah, yaitu :9
a. Persoalan suksesi kekhalifahan
b. Sikap glamor penguasa
c. Perlawanan kaum Khawarij
d. Perlawanan dari kelompok Syi’ah
e. Meruncingnya pertentangan etnis
f. Timbulnya stratifikasi sosial
g. Munculnya kekuatan baru
9
Ahmad Fadlali dkk, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Pustaka Asatruss, 2004), h. 54–58.

8
Sedangkan kemunduran atau bahkan kehancuran peradaban Islam pada masa
Bani Umayyah ini oleh karena 2 sebab, yaitu :
a. Hancurnya kekuasaan Islam di Andalusia dan rendahnya semangat para
ahli dalam menggali budaya Islam
Kehancuran kekuasaan Islam di Andalusia pada 1492 M berdampak buruk
terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Para ahli tidak
banyak memiliki motivasi untuk mengkaji ilmu pengetahuan lagi. Karena
mereka sudah merasa putus asa skibat serangan yang dilakukan oleh para
penguasa Kristen, dan tindakan para penguasa tersebut terhadap peninggalan
peradaban Islam di Andalusia, seperti penghancuran pusat-pusat peradaban
Islam dan sebagainya.
Terlebih lagi banyak para ahli ilmu pengetahuan Islam banyak yang tewas
dibantai oleh tentara Kristen di Spanyol, sehingga peristiwa itu sangat
membekas dalam benak mereka. Akibatnya, banyak di antara para ilmuwan
Islam yang punya andil besar dalam pembentukan peradaban Islam di
Andalusia, melarikan diri ke wilayah Afrika Utara. Dalam situasi ini, Barat
Kristen terus berusaha membangun kepercayaan diri untuk mengembangkan
peradaban Eropa, sehingga bangsa Barat mencapai kejayaannya.
b. Banyaknya orang Eropa yang menguasai ilmu pengetahuan dari Islam
Di lembaga-lembaga pendidikan tinggi, tidak hanya orang-orang Islam yang
diberikan kesempatan mempelajari ilmu pengetahuan, tetapi juga kesempatan
itu diberikan kepada semua orang, termasuklah orang-orang Kristen Barat yang
tertarik untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh umat
Islam.
Ketertarikan karena metode ilmiah Islam, seorang pendeta Kristen Roma
anggota Ordo Fransiskan dari Inggris bernama Roger Bacon (1214 – 1292 M)
datang belajar bahasa Arab di Paris antara tahun 1240 – 1268 M. Melalui
kemampuan bahasa Arab dan bahasa Latinnya itu, ia dapat membaca naskah asli
dan terjemahan berbagai ilmu pengetahuan, terutama ilmu pasti. Buku-buku asli

9
dan terjemahan dibawanya ke Inggris pada Universitas Oxford, lalu
diterjemahkannya dengan menghilangkan nama pengarang aslinya, yang
kemudian dikatakannya sebagai hasil karyanya sendiri. Sejak saat itulah mulai
banyak bermunculan orang Eropa yang menterjemahkan buku-buku yang
dikarang oleh tokoh-tokoh Islam sebagai hasil karyanya sendiri.

2. Kemunduran Pada Masa Bani Abbasiyah


Di antara sebab-sebab kehancuran dinasti Abbasiyah adalah :
a. Melebihkan bangsa asing daripada bangsa Arab.
b. Kebijakan ganda Harun Ar-Rasyid yang telah mewasiatkan tahta khalifah
kepada dua anaknya (Al-Amin dan Al-Makmun) yang ketika itu menjabat
gubernur Khurasan.
c. Pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh para oposan seperti
pemberontakan orang-orang Arab, Syi’ah, Khawarij, intern keluarga Abbasiyah
dan sebagainya.
d. Ketergantungan kepada tentara bayaran.
e. Timbulnya kerajaan-kerajaan kecil yang bebas dari kekuasaan Bani
Abbasiyah, seperti dinasti Idrisiyah di Maroko, dinasti Aghlabiyah, dinasti
Thuluniyah, dinasti Ikhsyidi, dinasti Hamdaniyah, dan dinasti Thahiriyah.
f. Penyerangan bangsa Mongol (Tartar) yanng dipimpin oleh Hulaku Khan
pada 1258 M, khalifah dan keluarganya dibunuh serta ia mengumumkan secara
sepihak berakhirnya pemerintahan Bani Abbasiyah di Baghdad.

Sedangkan kemunduran / kehancuran peradaban Islam pada masa dinasti


Abbasiyah disebabkan oleh :
a. Hancurnya kerajaan Islam oleh serangan bangsa Mongol.
Selama ± 40 hari kota Baghdad dikepung pasukan Mongol yang dipimpin
oleh Hulaku Khan. Sehingga sejak bulan Februari 1258 M kota Baghdad
sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Hulaku. Sebagian kecil keluarga
khalifah berhasil melarikan diri ke Mesir. Jatuhnya Baghdad ke tangan bangsa

10
Mongol bukan saja mengakhiri kekuasaan khalifah Abbasiyah, tetapi juga
merupakan awal dari masa kemunduran politik peradaban Islam.
Hal itu karena Baghdad sebagai pusat kebudayaan Islam yang sangat kaya
dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap dibumihanguskan oleh
pasukan Mongol. Kemudian pasukan Mongol banyak melakukan penyerangan
ke daerah kekuasaan Islam dan menguasainya, seperti Syria Utara, dengan
melakukan hal yang sama sebagaimana pada Baghdad.
b. Hancurnya kehidupan dan ekonomi masyarakat karena perang
berkepanjangan.
Kerugian besar yang ditimbulkan akibat peperangan yang berkepanjangan,
terjadi pada masa perang Salib. Peperangan ini memakan waktu selama ± 2 abad
(1096 – 1297 M). Perang tersebut banyak menguras anggaran belanja negara,
dan perekonomian nasional secara keseluruhan. Jika uang tersebut dimanfaatkan
secara baik, dalam artian bukan untuk peperangan, maka dapat dipastikan
kesejahteraan rakyat akan terjamin.
c. Kuatnya pengaruh paham sufi dan taqlid10
Ilmu tasawuf merupaka ilmu hakikat yang pada intinya mengajrkan
penyerahan diri kepada Tuhan, meninggalkan kesenangan dunia, dan hidup
menyendiri untuk beribadah kepada Allah. Ilmu ini banyak berpengaruh dalam
kehidupan masyarakat Islam setelah serangan bangsa Mongol dan hancurnya
pusat peradaban Islam di Baghdad. Praktik Tasawuf mereka banyak yang telah
terpangaruh dengan praktik mistik ajaran agama lain, sehingga di sana
ditemukan adanya penyimpangan ajaran. Begitu pula soal Taqlid. Karena
masyarakat Islam tidak mau berijtihad lagi, akhirnya terikat dengan ajaran para
tokoh sebelumnya dan bertaqlid buta.

---o0o---

10
Drs. Murodi, MA, Op, Cit, h. 97.

11
KESIMPULAN

Bani Umayyah
Pada masa dinasti Bani Umayyah, peadaban Islam mengalami
perkembangan/kemajuan, yaitu :
1. Berhasil dalam memperluas daerah kekuasaan Islam ke
berbagai penjuru dunia, seperti Spanyol, Afrika Utara, Suria, Palestina,
Semenanjung Arabia, Irak, sebagian kecil Asia, Persia, Afghanistan, Pakistan,
Rukhmenia, Uzbekistan dan Kirgis.
2. Islam mempengaruh kehidupan masyarakat luas.
3. Ilmu pengetahuan, antara lain Ilmu Qiro’at, Ilmu Tafsir, Ilmu
Hadits, Ilmu Kimia dan Kedokteran, Ilmu Sejarah, Ilmu Nahwu, dan sebagainya.
4. Administrasi ketatanegaraan, seperti adanya Lembaga Peradilan
(Qadha), Kitabat, Hajib, Barid dan sebagainya.

Sedangkan kemunduran Bani Umayyah oleh karena : persoalan suksesi kekhalifahan,


sikap glamor penguasa, perlawanan kaum Khawarij, perlawanan dari kelompok Syi’ah,
meruncingnya pertentangan etnis, timbulnya stratifikasi sosial, dan munculnya kekuatan
baru. Hal tersebut membuat kemunduran pula pada peradaban Islam, seperti :
1. Hancurnya kekuasaan Islam di Andalusia dan rendahnya semangat para ahli dalam
menggali budaya Islam.
2. Banyaknya orang Eropa yang menguasai ilmu pengetahuan dari Islam.

Bani Abbasiyah
Sedangkan pada masa dinasti Bani Abbasiyah, peradaban Islam yang berkembang
adalah :

12
1. Baghdad dan Samarra menjadi kota pusat peradaban Islam.
2. Pendirian bangunan pendidikan dan peribadatan, seperti madrasah, masjid, Kuttab,
Majlis Muhadharah, dan perpustakaan.
3. Ilmu pengetahuan, antara lain : filsafat, kedokteran, matematika, farmasi dan kimia,
perbintangan, tafsir, hadits, kalam, dan ilmu bahasa.

Sedangkan kemunduran/kehancuran yang terjadi pada masa Bani Abbasiyah adalah :


1. Hancurnya kerajaan Islam oleh serangan bangsa Mongol.
2. Hancurnya kehidupan dan ekonomi masyarakat karena perang berkepanjangan.
3. Kuatnya paham sufi dan taqlid.

13
DAFTAR PUSTAKA

Arnold, Thomas. 1983. Sejarah Dakwah Islam. Jakarta: Wijaya.


Fadlali, Ahmad, dkk. 2004. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Pustaka Asatruss.
Hasyimi, A. 1995. Sejarah Peradaban Islam – Cetakan V. Jakarta: Bulan Bintang.
Mufrodi, Ali. 1997. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: Logos.
Murodi. 2003. Sejarah Kebudayaan Islam. Semarang: PT. Karya Toha Putra.
Nasution, Harun. 1985. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya – Jilid I Cetakan V. Jakarta:
UI Press.

14