Anda di halaman 1dari 27

KATA PENGANTAR

Dengan penuh suka cita saya mengucap syukur atas rakhmat yang telah
dilimpahkan-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan secara langsung dan tidak .
Terima kasih kepada Yth. Dosen Kepala Prodi Sastra Indonesia untuk membaca dan
perhatikan skripsi saya, Yth. Dosen Ibu Tjandra untuk revisi dan bantuannya dari awal
saya kerjakan skripsi ini, teman-teman kelas saya untuk dukungan mereka ketika saya
kerjakan skripsi ini, pendiri website Wikipedia untuk informasi yang bisa diakses secara
gratis dan langsung. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan semua
orang yang bantu saya dan menceritakan pengalaman mereka pada saat rezim Suharto
dan kekacauan yang terjadi pada bulan Mei 1998, dan juga kepada pihak-pihak lain yang
membantu saya selama proses penyusunan tugas ini.
I would like to give a big thank you to my family back in Canada, especially my
mother Diane Marie Boismier and my mémé Sarah Whitehead, who have supported me
in all of my endeavours thusfar and will likely support me in all of my future endeavours.
Atas perhatian pembaca, saya juga berterima kasih.

Yogyakarta, 05 Nopember, 2008

Dengan hormat saya, penulis tugas ini:

Christopher Allen Woodrich

-1-
PENDAHULUAN DAN TUJUAN PENULISAN
Sejarah orang keturunan China di Indonesia (selanjutnya disebut orang Tionghoa)
adalah sejarah yang sangat berwarnai dan bermakna. Walaupun orang Tionghoa termasuk
sebagian kecil penduduk Indonesia (menurut Sensus Nasional RI 2000, penduduk
Tionghoa di Indonesia berjumlah 1.739.000 jiwa (Chinese, 2008)), sebagian besar
perusahan di Indonesia dimilik mereka dan bukan orang “pribumi,” yaitu orang yang
tidak ada keturunan dari negara selain Indonesia; kata pribumi berarti ”lahir dari bumi”
dan suku ”pribumi” di antara lain termasuk orang Jawa, orang Sunda, orang Papua, dan
sebagainya (Lanti, 2006). Oleh sebab itu, pernah ada banyak kasus diskriminasi lawan
orang Tionghoa, baik oleh masyarakat maupun oleh pemerintah.
Terjadinya akte-akte diskriminatif lawan orang Tionghoa paling banyak pada saat
rezim Suharto di antara tahun 1966 dan tahun 1998; pada saat itu, banyak peraturan yang
menggusur orang Tionghoa ditentukan sebagai undang-undang (Indonsian, 2008).
Akhirnya pada tahun 1998 sekaligus revolusi lawan Suharto terjadi sebuah huru hara
penuh dengan kekerasan dan kejahatan kepada orang Tionghoa; kekerasan dan kejahatan
seperti perkosaan, perbunuhan, pencurian, dan sebagainya.
Sebenarnya sampai sekarang masih ada banyak kasus diskriminasi terhadap orang
Tionghoa, baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat secara umum; sampai sekarang
beberapa peraturan yang disebut dalam skripsi ini masih berlaku dan banyak orang
”pribumi” Oleh sebab itu, pelajaran tentang hal-hal yang terjadi pada saat rezim Suharto
itu sangat penting dipelajari supaya keadaan seperti itu bisa dihindari sebelum itu menjadi
sekeras dulu di masa-masa depan.
Penulisan ini ada dua tujuan utama, yaitu:
1: Menggambarkan diskriminasi lawan orang Tionghoa oleh pemerintah
RI pada saat rezim Suharto dengan cara menjelaskan beberapa peraturan
diskriminatif dan mendeskripsikan kekacauan di Indonesia pada bulan Mei 1998
berdasarkan sejarah dengan penelitian primer (yaitu wawancara) dan sekunder
(yaitu menggunakan sebagai sumber buku-buku dan hasil penelitian orang lain),
dan
2: Menganalisa peraturan-peraturan dan kekacauan tersebut dari aspek
kemanusiaan yang adil dan terhadap menurut beberapa definisi ”kemanusiaan,” di

-2-
antara lain Pernyataan Umum Hak Asasi Manusia oleh Perserikatan Bangsa-
Bangsa dan Pancasila.
Menurut saya kedua tujuan ini sangat berhubung dengan fakultas sastra karena
hal-hal yang terjadi pada saat itu adalah hal yang sangat berpengaruh sampai sekarang
baik dalam hidup sehari-hari dan pola pikir masyarakat Tionghoa maupun dalam karya
sastra yang mencerminkan rasa takut orang-orang pada saat itu.
Penulisan ini termasuk sumber primer dari wanwancara beberapa orang dan juga
dari sumber sekunder dari internet, buku, dan hasil penelitian orang lain lain.. Terlampir
dengan penulisan ini adalah catatan lengkap wawancara dengan Tabitha Sri Jeany SH,
MKn, seorang notaris Tionghoa, dan Wahyu Apri Wulan Sari, ST, seorang Jawa yang
kelihatan Tionghoa (Keterampilan I dan Keterampilan II). Web address atau judul /
pengarangnya sumber sekunder terlampir di Daftar Perpustakaan.
Skripsi ini sebenarnya jauh dari sempurna; demikian, saya mohon maaf apabila
terjadi kekurangan atau kalimat-kalimat yang tidak jelas. Demi perhatian pembaca, saya
ucap terima kasih.

LATAR BELAKANG
Analisis PERATURAN DAN KEKERASAN ANTI-TIONGHOA PADA SAAT
REZIM SUHARTO DAN HUBUNGANNYA DENGAN PANCASILA didasarkan
fakta-fakta berikut. Fakta-fakta ini tentang Pancasila, orang-orang Tionghoa, peraturan-
peraturan yang mengusur orang Tionghoa dari zaman rezim Suharto, dan Revolusi 1998,
khususnya huru hara yang terjadi pada saat itu.

Pancasila
Pancasila (berarti lima sila) adalah sebuah ideologi yang menjadi dasar hukum
Indonesia yang sangat penting. Pertama-tama digambarkan Suharto dalam pidatonya
pada tanggal 1 Juni 1945 saat BPUPKI (Badan Penyeledik Usaha-Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia) dan dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945 oleh PPKI
(Penelitian Persiapan Konstitusi Indonesia) pada tanggal 17 Agustus 1945 (Saafroedin,

-3-
63-84), Pancasila dianggap dasar-dasar hukum yang tertinggi (staatfundamentalnorm)
oleh filsofat dan ahli hukum Notonagoro dan menggambarkan bentuk ideal negara
Indonesia (Notonagoro). Kelima Pancasila yang menjadi staatfundamentalnorm berikut:
Sila 1: Ketuhanan yang Maha-Esa
Sila 2: Kemanusiaan yang adil dan beradab
Sila 3: Persatuan Negara Indonesia
Sila 4: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan / perwakilan, dan
Sila 5: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (Pancasila, 2008)
Oleh sebab Pancasila adalah dasar hukum tertinggi di Indonesia dan dituangkan
dalam Konstitusi RI (UUD 1945), semua peraturan dan undang-undang harus sesuai
dengan itu. Apabila sebuah undang-undang yang lebih rendah daripada Pancasila
melanggar apa yang ditentukan dalam Pancasila, undang-undang yang lebih rendah itu
harus diganti supaya undang-undang tersebut bisa sesuai dengan Pancasila; jika misalnya
undang-undang tersebut tidak diganti, itu dianggap tidak konstitusional (ilegal) dan
seharusnya segera dibatalkan oleh Mahkamah Agung Indonesia. Inilah informasi yang
sangat penting ketika kita menganalisis peraturan-peraturan yang ditentukan dalam
undang-undang oleh Suharto.
Orang Tionghoa di Indonesia
Orang Tionghoa adalah orang yang tinggal di Indonesia yang keturunan Cina.
Saat ini, sebagian besar orang Tionghoa tinggal di kota-kota berikut: Jakarta, Surabaya,
Medan, Pekan Baru, Semarang, Pontianak, Makassar, Palembang, dan Bandung.
Kebanyakan warga Tionghoa ikut agama Buddha, tetapi juga ada orang Tionghoa yang
beragama lain. Walaupun hanya sebagian kecil penduduk Indonesia adalah orang
Tionghoa (Menurut Sensus Nasional RI 2000, orang Tionghoa berjumlah 1.739.000
jiwa), mereka punya dampak besar di ekonomi Indonesia (Chinese, 2008). Pada tengah
abad ke-20, sebagian besar perusahaan dimiliki oleh orang Tionghoa (Indonesian, 2008).
Oleh sebab itu, Orang Tionghoa dapat sering didiskriminasikan.
Sebagian besar orang Tionghoa imigrasi ke Indonesia pada tiga saat, yaitu pada
abad ke-15, pada tengah abad ke-19, dan pada awal abad ke-20. Sebelum Zheng He
datang ke Indonesia pada awal abad ke-15, belum ada banyak orang Tionghoa ; namun

-4-
demikian, pernah ada beberapa duta besar dari Cina (Chinese, 2008), termasuk beberapa
yang mengajar agama Islam ke orang Indonesia. Ada kemungkinan sekurang-kurangnya
empat dari sembilan Wali Sanga berasal dari Cina (Wali Sanga, 2008).
Pada awal abad ke-15, Zheng He, seorang maritim dari Cina, telah sampai ke
Jawa dan turunkan beberapa anggota awak kapalnya di daerah yang sekarang kota
Semarang, termasuk wakil kaptennya Wang Jing Hong. Mereka membangun rumah di
Indonesia dan menikah dengan orang pribumi, dan mulai membangun koloni yang
sekarang menjadi Semarang. Itu mulanya sejarah tertulis orang Tionghoa di Indonesia
(Yayasan, 57 - 59).
Sebagian besar imigrasi dari Cina terjadi pada awal zaman kolonial Belanda di
antara abad ke-17 dan ke-19. Pada saat itu, banyak orang asli Cina imigrasi ke Indonesia
untuk mencari kemungkinan untuk perdagangan. Kolonis Belanda merupakan orang
Tionghoa sebagai pemimpin rakyat pribumi dan anggap mereka “lebih pintar, rajin, dan
mampu memimpin perkebunan Belanda;” orang Tionghoa diberi keistimewaan yang
banyak. Souw Beng Kong, yang juga disebut Kapitan Cina dan berasal dari Banten, telah
memulai program imigrasi untuk orang-orang dari Cina ke daerah Batavia. Itu membantu
Belanda menang atas kerajaan Banten (Chinese, 2008).
Walaupun orang Tionghoa telah diberi keistimewaan oleh orang Belanda,
hubungan antara rakyat mereka tidak selalu bagus. Pada tahun 1740, banyak orang
Tionghoa dibunuh oleh kolonis Belanda di Batavia karena kolonis Belanda curiga
penduduk-penduduk Tionghoa di Batavia ada rencana untuk mengikuti huru hara yang
berada di sekitara Jawa. Setelah itu, pemerintah Belanda semakin lama menjadi semakin
kasar kepada orang Tionghoa; oleh sebab itu banyak orang Tionghoa, contohnya Siauw
Giok Tjhan dan Liem Koen Hian, mulai mendukung gerakan merdeka Indonesia
(Chinese, 2008).
Orang Tionghoa juga berpengaruh pada saat perjuangan untuk kemerdekaan
Indonesia. Lima anggota BPUPKI adalah orang Tionghoa, yaitu Liem Koen Hian, Tan
Eng Hoa, Oey Tiang Tjoe, Oey Tjong Hauw, dan Drs. Yap Tjwan Bing. Apalagi, pada
saat Perang Merdeka Indonesia banyak orang Tionghoa berperang lawan Belanda sebagai
anggota korp-korp lokal (BPUPKI, 2008).

-5-
Namun demikian, pada saat rezim Sukarno dan Suharto peraturan Indonesia
menjadi sangat diskriminatif lawan orang Tionghoa. Beberapa peraturan pemerintah
ditentukan sebagai undang-undang, seperti PP 10/1959, yang melarang orang Tionghoa
dari punya perusahaan di luar kota. Orang Tionghoa tidak diterima di tenaga kerja selain
yang berhubungan dengan ekonomi, pahlawan-pahlawan Tionghoa dari masa Perang
Merdeka diekseskusi, dan yang protes dibunuh secara diam. Hal-hal buruk ini akhirnya
berklimaks dengan huru hara seluas Indonesia pada bulan Mei 1998 (Chinese, 2008).
Setelah keturunan Suharto sebagai Presiden RI, sebagian besar peraturan yang
mendiskriminasikan orang Tionghoa dibatalkan oleh Presiden Abdurahamman Wahid;
beliau juga menentukan Tahun Baru Cina sebagai hari raya nasional (Chinese, 2008).
Juga ada seorang Tionghoa, yaitu Kwik Kian Gie, yang menjadi Menteri Koordinator
Ekonomi dari 1999 sampai 2000 dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional &
Ketua Bappenas dari 2001 sampai 2004 (Kwik, 2008).

Peraturan-Peraturan Anti-Tionghoa
Berikut ada delapan contoh peraturan yang mendiskriminasikan orang Tionghoa
dari zaman rezim Suharto. Peraturan-peraturan berikut ada dampak masing-masing,
seperti Peraturan Pemerintah 127/U/Kep/12/1966, yang mewajibkan orang Tionghoa
memilih nama yang kedengaran seperti nama Indonesia. Peraturan yang dibatalkan
setelah keturunan Suharto pada tahun 1998 akan ditentukan di penjelasannya
(Indonesian, 2008).

127/U/Kep/12/1966
Peraturan Pemerintah 127/U/Kep/12/1966 adalah sebuah peraturan dari rezim
Suharto yang mewajibkan orang Tionghoa menggunakan nama yang kedengaran
Indonesia (Indonesia, 2008). Karena orang Tionghoa tidak mampu melawan peraturan
ini, mereka langsung pilih nama yang kedengaran Indonesia, seringnya didasarkan nama
Tionghoanya. Beberapa contoh nama Indonesia yang digunakan oleh orang Tionghoa
berikut:
Nama Keluarga Nama Keluarga Contoh nama Indonesia yang digunakan
(Pinyin) (Hokkien)

-6-
陈 (Chen) Tan, Tjhin Tandubuana, Tanto, Hertanto, Hartanto
黄 (Huang) Oei, Oey Wibowo, Wijaya, Winata, Widagdo, Winoto
韩 (Han) Han Handjojo, Handaya
江 (Jiang) Kang, Kong Kangean
李 (Li) Li, Lie, Lee Lijanto, Liman, Liedarto, Rusli, Lika
林 (Lin) Liem, Lim Halim, Salim, Limanto, Limantoro
劉/刘 (Liu) Lau, Lauw Mulawarman, Lawang, Lauwita
吕 (Lü) Loe, Lu Loekito, Luna, Lukas
王 (Wang) Ong, Wong Onggo, Ongko, Wangsadinata, Wangsa
杨 (Yang) Njoo, Nyoo, Jo, Yong Yongki, Yoso, Yohan
(Indonesian-sounding, 2008)
Setelah 127/U/Kep/12/1966 ditentukan sebagai hukum, nama Tionghoa tidak
boleh dinamakan dalam akte kelahiran. Oleh sebab itu, banyak orang Tionghoa yang lahir
setelah tahun 1966 langsung diberi nama yang kedengaran Indonesia; namun demikian,
mereka tetap juga diberi nama Tionghoa yang hanya digunakan sebagai nama panggilan
di rumah atau sehari-hari. Oleh sebab itu, orang yang paling dipengaruhi oleh
127/U/Kep/12/1966 adalah orang dari generasi lama (Keterampilan I).

37/U/IN/6/1967
Instruksi Kabinet Presendium 37/U/IN/6/1967 adalah sebuah peraturan yang
melarang izin tinggal atau bekerja untuk imigran Cina baru, isteri, dan anak mereka.
Instruksi Kabinet Presendium 37/U/IN/6/1967 Inpres No. 14/1967 juga membeku modal
yang didapat oleh orang “asing,” menutup sekolah “asing” kecuali sekolah untuk
keluarga diplomat, dan mengatur bahwa setiap sekolah harus ada mayoritas siswa-siswi
pribumi dengan proporsi tertentu. Instruksi Kabinet Presendium 37/U/IN/6/1967 juga
menentukan bahwa semua urusan Tionghoa akan ditanggungjawabkan oleh Menteri
Urusan Politik (Indonesia, 2008).

TAP MPRS No. 32/1966


TAP MP RS No. 32/1966 adalah sebuah peraturan dari yang melarang pergunaan
huruf-huruf Mandarin dalam koran dan majalah (Indonesia, 2008) Perturan TAP MP RS
No. 32/1966 dibatalkan setelah turunnya Suharto.

-7-
Inpres No. 240/1967
Perintah Presiden ini menyuruh para orang “asing” sesuai dengan budaya
Indonesia dan mendukung 127/U/Kep/12/1966 (Indonesia, 2008).

Peraturan Menteri Perumahan No.455.2-360/1988


Peraturan Menteri Perumahan No. 455.2-360/1988 membuat perbaikan dan
perbangunan kelenteng-kelenteng di Inonesia sangat sulit (Indonesia, 2008). Penjelesan
berikut:
“Dampak dari peraturan tersebut adalah mempersulit atau menghambat
berkembangnya kelenteng-kelenteng di Indonesia, karena pada saat itu (di
masa pemerintahan Soeharto) kelenteng-kelenteng tidak dianggap sebagai
suatu agama melainkan hanya suatu kepercayaan yang berhubungan
dengan tradisi orang Tionghoa yang harus dihilangkan bahkan dibasmikan
(Keterampilan I).”
Peraturan Menteri Perumahan ini dibatalkan setelah turunnya Suharto (Yayasan, 2008).

02/SE/Ditjen-PPGK/1988
Edaran Direktur Jenderal untuk Bimbingan Pers dan Gambar No. 02/SE/Ditjen-
PPGK/1988 lebih membatasi pergunaan huruf Mandarin di umum (Indonesia, 2008)
Edaran Direktur Jenderal ini dibatalkan setelah turunnya Suharto.

Instruksi Menteri Dalam Negeri X01/1977


Instruksi Menteri Dalam Negeri X01/1977 memberi hak ke pemerintah untuk
memberi kode istimewa kepada orang Tionghoa di KTP dan kartu identitas lain, yaitu
“A01” (Indonesia, 2008).

SE-06/Pres-Kab/6/1967
Surat Edaran Kabinet Presedium SE-06/Pres-Kab/6/1967 mewajibkan pergunaan
kata “Cina” (yang dianggap kata rasis oleh warga Tionghoa karena konotosinya tidak
bagus (Keterampilan I)) untuk mendeskripsikan orang dan budaya Tionghoa (Indonesia,

-8-
2008). Bagian yang menyaran perubahan kata “Tionghoa” ke kata “Cina” dalam semua
tugas pemerintah berikut:
“Maka untuk mencapai uniformitas dari efektivitas, begitu pula untuk
menghindari dualisme di dalam peristilahan di segenap aparat Pemerintah,
baik sipil maupun militer, ditingkat Pusat maupun Daerah kami harap agar
istilah ‘Cina’ tetap dipergunakan terus, sedang istilah ‘Tionghoa /
Tiongkok’ ditinggalkan.”

Kekerasan Lawan Orang Tionghoa Pada Revolusi 1998


Pada bulan Mei 1998 suasana Indonesia menjadi sangat kacau. Ekonominya
hancur; harga Rupiah turun, orang penganggur menjadi semakin banyak, dan penyediaan
makanan semakin sedikit. Oleh sebab itu, mahasiswa-mahasiswi mulai protes rezim
Suharto. Pada tanggal 12 Mei 1998, empat mahasiswa dari Universitas Trisakti yang
memprotes rezim Suharto telah ditembak mati saat demo. Huru hara mulai di luar
Universitas Trisakti pada tanggal 13 Mei 1998 setelah pemakaman empat-empat
mahasiswa tersebut. Pengacau-pengacau menarget kantor dan mobil polici dan militer
(Jakarta, 2008).
Pada tanggal 14 dan 15 Mei 1998 kekacauan tersebut menjadi semakin luas dan
cepat menjadi sebuah pogrom (kekaucauan yang menarget sebuah suku atau bangsa
tertentu). Orang Tionghoa dijadikan kambing hitam oleh masyarakat dengan dorongan
dari militer; kemudian perusahaan dan rumah warga Tionghoa dibakar atau dihancurkan
dengan cara lain. Apa lagi, orang-orang Tionghoa ditarget untuk perbunuhan dan
kekerasan/kejahatan lain (Jakarta, 2008). Dalam laporan mereka tentang kekacauan di
Indonesia pada tahun 1998, Deparlu AS menyatakan ini:
“Setelah huru hara tersebut, pernyataan tanpa bukti telah dinyatakan oleh
wanita-wanita Tionghoa bahwa mereka diperkosa en masse. Itu telah
menyeruh pemerintah RI mendirikan sebuah tim untuk cari fakta tentang
huru huru dan perkosaan tersebut. Pendapat tim tersebut adalah ada
anggota-anggota tentara yang dilibatkan, dan anggota-anggota tentara
tersebut kadang-kadang memprovokasikan huru hara secara sengaja. Apa
lagi, tim tersebut telah membuktikan 66 kasus perkosaan wanita, dengan

-9-
sebagian besar korban perkosaan wanita Tionghoa. Banyak akte-akte
kekerasan lawan wanita lain juga dibuktikan (State, 1999).”
Oleh sebab ketakutan kekerasan yang terjadi kepada mereka, banyak orang
Tionghoa larikan diri dan imigrasi ke negara-negara lain. Untuk menghindari kekacauan,
pemilik toko-toko menggunakan plakart yang menyatakan bahwa toko mereka “Milik
Pribumi” atau “Pro-Reformasi” (Jakarta, 2008).
Kekacauan tersebut tidak hanya terjadi di Jakarta. Di kota masing-masing, di
antara lain Surakarta, Surabaya, dan Semarang kekacauan juga terjadi. Akan tetapi, di
beberapa daerah (seperti di DIY) pemimpin daerahnya bisa meyakinkan keamanan
masyarakat (Keterampilan I).
Berikut adalah naratif dari Wahyu Apri Wulan Sari, seorang orang Jawa dengan
keturunan Jepang yang tinggal di Surakarta pada saat kekacauan Mei 1998.
“Saya melihat banyak sekali pertokoan, mall, pasar, semuanya di
bakar. Banyak bangkai mobil dan kendaraan bermotor lainnya yang
menjadi bangkai di jalan raya pada saat itu. Penjarahan juga ada di mana-
mana. Banyak rumah-rumah penduduk di Surakarta, khususnya penduduk
Tionghoa yang dijarah, dan dibakar. Bahkan ada banyak juga wanita yang
diperkosa; tapi tidak sebanyak di Jakarta.
Salah satu teman saya yang terkena serangan itu, Lina (dia adalah
warga keturunan Tionghoa yang memiliki toko buku terkenal di Solo,
namanya Toko Buku Sekawan. Tokonya dijarah), dia sendiri diperkosa,
dan orang tuanya dibuang keluar. Seisi tokonya dijarah penduduk.
Walaupun penjagaan dari para penduduk setempat sudah banyak
membantu, tapi ternyata itu semuanya tidak berhasil. Akhirnya Toko
Sekawan tersebut terbakar, seisinya. Dan Lina sendiri menjadi stress
berat, sampai saat ini. Dia sekarang masih berada di Rumah Sakit Jiwa
Kentingan, Surakarta..
Setiap saya dan keluarga saya berjalan di jalan dengan
menggunakan mobil atau kendaraan lain, dan kami hampir diserang
penduduk, kami selalu berkata, “Kami orang Jawa, kami Pro- Reformasi!,”
atau menyebutkan nama perusahaan kami yang dikenal dengan nama

- 10 -
Indonesianya. Rumah kami juga ditulisi dengan banner Pro-Reformasi,
yang jumlahnya banyak sekali.
Kami telah mencoba membantu orang Tionghoa. Dulu, sempat
kami membantu orang Tionghoa, yang rumahnya kebetulan berhadapan
dengan rumah tante saya di daerah Jagalan. Jagalan adalah salah satu
kampung Tionghoa di Solo. Mereka satu keluarga bertempat tinggal di
Vihara, walaupun mereka tidak terkena serangan apapun, tapi mereka
merasa takut akan serangan yang mungkin akan tiba-tiba terjadi. Akhirnya
mereka kami tampung di rumah tante selama beberapa hari, dan kebetulan
saat itu, saya dan keluarga saya ikut juga.
Awalnya kami semua takut untuk keluar rumah, bahkan kami berencana
untuk pindah ke luar kota, dan juga pindah sekolah. Solo benar-benar
seperti kota mati saat itu, tidak ada orang, cuma bangkai mobil dan motor,
dan juga pecahan kaca di mana-mana. Banyak gedung yang terbakar.
Sekolah-sekolah, termasuk sekolah saya pun, ditutup untuk beberapa
waktu, sampai menunggu pengumuman lebih lanjut dari pihak sekolah.
Lebih parahnya lagi, kami tidak bisa menemukan toko atau pasar yang
terbuka, jadi kami sempat kehabisan bahan makanan selama beberapa
hari. Suasana saat itu benar-benar seperti perang mendadak di kota Solo.
(Keterampilan II)”
Inilah keadaan yang tidak mungkin dilakukan dengan dukungan pemerintah yang
taati dan menghargai HAM dan Pancasila. Terjadinya huru-hara ini telah sangat
mempengaruhi orang Tionghoa. Penjelasan berikut:
”Untuk orang Tionghoa yang sudah trauma dengan kejadian di tahun 1998
dan bagi mereka belum ada perlindungan yang pasti, mereka
mengharapkan bahwa mereka bisa berhasil di Indonesia dan setelah itu
mereka secepatnya bisa berhasil untuk pindah dari Indonesia. Jadi,
istilahnya secepatnya kita kumpulkan uang dan secepatnya kita imigrasi ke
Negara lain karena Indonesia dianggap tidak aman, dan akibat dari
pemikiran ini, sangat merugikan bagi Negara Indonesia (Keterampilan I).

- 11 -
Analisa dari Pandangan Pancasila
Berikut adalah analisis saya tentang peraturan dan kekerasan tersebut dalam
pandangan Pancasila. Oleh sebab Pancasila itu sangat luas, ada banyak interpretasi beda
yang bisa didapat dari fakta-fakta tersebut. Bagian ini dibagai lima; satu bagian per sila.

Sila 1: Ketuhanan
Menurut saya apa yang terjadi pada saat rezim Suharto tidak sangat melanggar
Pancasilai. Alasan saya sangat simple: ketidakadilan dan kekerasan pada saat itu
didasarkan ras dan bukan agama. Akan tetapi, Peraturan Menteri Perumahan No.455.2-
360/1988 adalah peraturan yang membuat itu sangat sulit untuk orang Tionghoa yang
agamanya bukan agama Kristiani atau Islam mendapat atau membangun tempat suci
baru. Walaupun sebagian besar orang Tionghoa itu orang Buddha, masalah perbedaan
agama bukan alasan mengapa orang Tionghoa didiskriminasikan dalam peraturan-
peraturan Indonesia dan dijadikan kambing hitam pada saat huru hara.

- 12 -
Sila 2: Kemanusiaan
Menurut saya, sila kedua itu sangat dilanggar pada saat rezim Suharto. Oleh sebab
pemerintah Republik Indonesia mendiskriminasikan orang Tionghoa dengan cara
mementingkan orang “pribumi” maka pemerintah Indonesia tidak memberi keadilan
kepada orang Tionghoa. Dalam Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia,
Pasal 1 dan 2, dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, yaitu:
“Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak
yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul
satu sama lain dalam semangat persaudaraan.” dan
“Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan-kebebasan yang
tercantum di dalam Pernyataan ini tanpa perkecualian apapun, seperti ras,
warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pendapat yang
berlainan, asal mula kebangsaan atau kemasyarakatan, hak milik, kelahiran
ataupun kedudukan lain. Di samping itu, tidak diperbolehkan melakukan
perbedaan atas dasar kedudukan politik, hukum atau kedudukan
internasional dari negara atau daerah dari mana seseorang berasal, baik
dari negara yang merdeka, yang berbentuk wilayah-wilayah perwalian,
jajahan atau yang berada di bawah batasan kedaulatan yang lain.”
sudah dijelaskan bahwa sebuah pemerintah yang mengakui kemanusiaan dan Hak Asasi
Manusia (HAM) sebagai dasar negara harus memberi keseimbangan kepada semua
orang, baik warga negara negara tersebut maupun warga negara asing. Apabila sebuah
pemerintah tidak memberi keseimbangan kepada semua orang itu bukan kemansusiaan.

Sila 3: Persatuan
Apakah peraturan-peraturan dan kekacauan pada orang Tionghoa pada saat rezim
Suharto melanggar Sila Tiga sangat tergantung interpretasinya orang yang
menganalisisnya. Menurut saya, ketidakseimbangan yang dicerminkan dalam peraturan-
peraturan tersebut sudah jelas tidak sesuai dengan Sila Tiga. Akan tetapi, ada
kemungkinan orang lain anggap tujuan utama peraturan-peraturan tersebut, yaitu
asimilasi orang, budaya, bangsa, dsb. Tionghoa sebagai tujuan yang didasarkan Sila Tiga.

- 13 -
Contohnya, Instruksi Kabinet Presendium 37/U/IN/6/1967 adalah sebuah
Instruksi yang mewajibkan semua sekolah khusus orang asing ditutup (kecuali sekolah
untuk diplomat dan anaknya diplomat) dan siswa-siswi sekolah ditermasuk dalam
sekolah biasa dengan proporsi yang tertentu. Menurut saya, karena orang Tionghoa
termasuk definisi “orang asing” dalam Instruksi tersebut maka Instruksi ini tidak
mempersatukan Indonesia; sebenarnya Instruksi ini lebih memisah bangsa Indonesia.
Akan tetapi, karena tujuan utamanya asimilasi orang asing dalam budaya Indonesia
Instruksi ini bisa dianggap sebagai cara untuk mempersamakan masyarakat; demikian
tujuan utamanya bisa dianggap mengembangkan persatuan Indonesia.
Menurut saya, tujuan itu bukan yang utama untuk menilai apabila sebuah
peraturan melanggar Pancasila atau apabila peraturan itu adalah peraturan yang baik;
yang penting itu bagaimana cara peraturan tersebut coba sampai ke tujuannya. Marilah
kita lihat contoh lain: Adolf Hitler, seorang pemimpin Jerman dari tahun 1933 sampai
tahun 1945, sekarang dianggap penjahat paling buruk sedunia walaupun tujuannya tidak
jahat; tujuan utamanya mempersatukan Jerman dan membuat Jerman menjadi salah satu
negara yang paling mampu sedunia. Akan tetapi, caranya untuk lakukan itu adalah
pembunuhan orang-orang yang dianggap untermensch, atau orang yang tidak diinginkan;
akhirnya rezimnya telah membunuh sekitar 43 juta orang se-Eropa (Adolf, 2008).
Walaupun caranya rezim Suharto untuk mempersatukan Indonesia tidak seburuk itu
rezim Suharto masih menggunakan ketidakadilan untuk memaksa bangsa-bangsa
Indonesia menjadi satu. Menurut saya ini sudah jelas melanggar Sila Tiga karena ini tidak
menghargai perbedaan yang selalu ada dalam persatuan.

Sila 4: Demokrasi
Demokrasi adalah bentuk atau sistem pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut
serta memerintah dengan perantaraan wakilanya; itu juga dianggap pemerintahan rakyat
(Kamus, hal. 249). Dalam Sila Empat, demokrasi didefinisikan sebagai ”kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan.” Oleh sebab
demokrasi adalah pemerintahan rakyat, menurut saya rezim Suharto sangat melanggar
Sila Empat dengan perilakunya, seperti pembunuhannya orang yang protes peraturan-
peraturan yang mereka anggap tidak adil. Salah satu dasar demokrasi adalah kebebasan

- 14 -
untuk punya pendapat, seperti yang dituangkan dalam Pernyataan Umum tentang Hak-
Hak Asasi Manusia, Pasal 19, yaitu:
”Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan
pendapat; dalam hak ini termasuk kebebasan memiliki pendapat tanpa
gangguan, dan untuk mencari, menerima dan menyampaikan informasi
dan buah pikiran melalui media apa saja dan dengan tidak memandang
batas-batas (wilayah).”
Walaupun setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan
pendapat mereka, pada saat rezim Suharto orang yang mempunyai pendapat yang tidak
sesuai dengan atau kritis pemerintah Republik Indonesia ditangkap dan sering dieksekusi.
Menurut saya, kesulitan untuk orang Tionghoa dapat pekerjaan di tenaga kerja
selain yang berhubungan dengan ekonomi juga melanggar Sila Empat. Oleh sebab
demokrasi adalah sistem pemerintahan rakyat, semua orang harus punya kemampuan
untuk coba menjadi pemimpin atau wakil rakyat, bukan hanya ”pribumi;” karena pada
saat rezim Suharto orang Tionghoa tidak ada kemampuan itu, Sila Empat sangat
dilanggar.

Sila 5: Keadilan
Menurut saya, Sila Lima adalah sila yang paling dilanggar pada saat rezim
Suharto. diskriminasi secara umum sudah melanggar Pancasila karena diskriminasi
merendahkan sebuah budaya, bangsa, suku, ras, dsb.; apabila sebuah budaya, bangsa,
suku, ras, dan sebagainya dianggap lebih rendah daripada budaya, bangsa, suku, ras, dan
sebagainya lain itu tidak adil. Sudah sangat jelas bahwa rezim Suharto telah lakukan ini
kepada masyarakat Tionghoa.
Tidak ada satu pun peraturan yang melarang pergunaan huruf Sunda dalam koran
atau majalah, tidak ada satu pun peraturan yang membuat kesulitan untuk bangun atau
memperbaiki gereja, tidak ada satu pun peraturan yang menyuruh orang Lamaholot
menjawakan nama mereka, dan tidak ada satu pun peraturan yang menyuruh orang Papua
punya nomor identifikasi istimewa di KTP mereka. Akan tetapi, semua ketidakadilan-
ketidakadilan tersebut telah terjadi kepada orang Tionghoa, yaitu dalam peraturan TAP

- 15 -
MPRS No. 32/1966, Peraturan Menteri Perumahan No.455.2-360/1988, Peraturan
Pemerintah 127/U/Kep/12/1966, dan Instruksi Menteri Dalam Negeri X01/1977.

Kesimpulan dan Saran


Walaupun orang Tionghoa sangat berpengaruh dalam sejarah Indonesia orang
Tionghoa sering didiskriminasikan oleh orang-orang yang dianggap ”pribumi,” yaitu
orang dari suku yang sudah berribu-ribu tahun tinggal di Indonesia seperti orang Jawa
dan orang Sunda. Walaupun orang Tionghoa telah sangat membantu membentuk negara
Republik Indonesia dari zaman Wali Sanga sampai masa ketika lima orang Tionghoa
menjadi anggota BPUPKI orang Tionghoa sering dapat ketidakadilan dari pemerintah.
Kala paling buruk untuk orang Tionghoa itu saat rezim Suharto di antara tahun
1966 dan 1998; sekurang-kurangnya sembilan peraturan yang mendiskriminasikan orang
Tionghoa dijadikan hukum. Karena Pancasila adalah staatfundamentalnorm, seharusnya
peraturan-peraturan tersebut dibatalkan segara atau diganti supaya tidak melanggar
Pancasila. Ketidakadilan dan diskriminasi ini berakhir dengan orang Tionghoa dijadikan
kambing hitam pada saat kekacauan di bulan Mei 1998.

- 16 -
Kemudian, menurut saya setiap sila dilanggar oleh rezim Suharto dalam
hubunagnnya dengan orang Tionghoa, dengan Sila Lima yang paling sering dilanggar
dan Sila Satu yang paling jarang dilanggar. Inilah bukti bahwa rezim Suharto itu bukan
pemerintah yang tulus; menurut saya itu sangat munafik apabila sebuah pemerintah atau
rezim anggap Pancasila sebagai dasar negara tertinggi tetapi melanggarnya dengan
peraturan-peraturan yang sangat rendah.
Seharusnya pemerintah Indonesia minta maaf dari rakyat Tionghoa dan
membayar ganti rugi pada orang Tionghoa yang dipengaruhi oleh peraturan diskriminatif.
Pahlawan-pahlawati Tionghoa seperti Siauw Giok Tjhan harus diakui dalam buku sejarah
dan diberi hormat sebagai bangsawan oleh pemerintah RI. Semua peraturan tentang orang
Tionghoa yang melanggar HAM dan Pancasila seharusnya segera dibatalkan.
Menurut saya, seharusnya sebuah komite yang bukan sebagian pemerintah RI
harus dibuat supaya HAM warga-warga Indonesia, baik Tionghoa maupun pribumi, bisa
dijaga dan kelanggaran HAM dan Pancasila seperti apa yang telah terjadi saat rezim
Suharto tidak diulangi. Penjahat-penjahat dari kekacauaan 1998 harus ditangkap dan
dihukum sejauh-jauhnya.
Orang ”pribumi” harus belajar lebih memahami dan menghargai orang dengan
keturuan yang beda dari mereka. Di dunia ini semakin sering ada imigran ke negara-
negara lain; imigran-imigran biasanya coba dapat kesempatan untuk mulai hidup baru
yang lebih memuaskan. Menurut saya, apabila orang yang sudah tinggal di sebuah negara
tidak bisa menerima imigran-imigran seharusnya mereka tidak boleh pindah ke negara
lain; itulah keadilan.
Bagi orang Tionghoa, mereka harus bisa memaafkan orang-orang lain dan dapat
semangat cinta tanah air lagi. Rezim Suharto sudah tidak ada kekuasan lagi, dan
presiden-presiden post-reformasi lebih adil. Akan tetapi, mereka tetap harus menjaga diri
dan selalu ingat apa yang pernah terjadi kepada mereka supaya mereka bisa mengerti
bahwa kebebeasan itu tidak bisa didapat secara mudah.

- 17 -
Daftar Perpustakaan

”Adolf Hitler.” Wikipedia, The Free Encyclopedia. 19 Okt 2008, 22:13 UTC. 21 Okt
2008. <http://en.wikipedia.org/wiki/Adolf_Hitler>.

"Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia." Wikipedia, Ensiklopedia


Bebas Berbahasa Indonesia 12 Jul 2008, 05:02 UTC. 16 Okt 2008.
<http://id.wikipedia.org/w/BPUPKI>.

“Chinese Indonesian.” Wikipedia, The Free Encyclopedia. 13 Okt 2008, 13:56 UTC. 15
Okt 2008. <http://en.wikipedia.org/wiki/Chinese_Indonesian>.

Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta:
Balai Pustaka, 2005.

“Indonesian laws concerning Chinese-Indonesians.” Wikipedia, The Free Encyclopedia.


10 Sep 2008, 18:58 UTC. 15 Okt 2008.
<http://en.wikipedia.org/wiki/Indonesian_laws_ concerning_Chinese-Indonesians>.

- 18 -
“Indonesian-sounding names adopted by Chinese Indonesians.” Wikipedia, The Free
Encyclopedia. 15 Okt 2008, 00:32 UTC. 19 Okt 2008
<http://en.wikipedia.org/wiki/Indonesian-
sounding_names_adopted_by_Chinese_Indonesians>.

“Jakarta riots of May 1998.” Wikipedia, the Free Encyclopedia. 24 Agu 2008, 06:09
UTC. 19 Okt 2008. <http://en.wikipedia.org/wiki/Jakarta_Riots_of_May_1998>.

“Kwik Kian Gie.” Wikipedia, The Free Encyclopedia. 29 Agu 2008, 15:09 UTC. 16 Okt
2008. <http://en.wikipedia.org/wiki/Kwik_Kian_Gie>.

Lanti, Irman G. "Pribumi". November 12 2008.


<http://www.bookrags.com/research/pribumi-ema-05/>.

Notonagoro. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 (Pokok Kaidah Fundamentil


Negara Indonesia)” dalam Pancasila Dasar Falsafah Negara, Cetakan keempat.
Jakarta: Pantjuran Tudjuh, tanpa tahun.

“Pancasila (politics).” Wikipedia, The Free Encyclopedia. 13 Sep 2008, 17:35 UTC. 16
Okt 2008. <http://en.wikipedia.org/wiki/Pancasila_(politics)>.

Perserikatan Bangsa-Bangsa. PBB. Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia.


1948.

Saafroedin Bahar et al (eds), Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan


Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(PPKI). Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1995

State, U.S. Department of. Indonesia Country Report on Human Rights Practices for
1998. Federation of American Scientists. 26 Feb 1999. United Stated Department
of State. 19 Oct 2008 <http://www.fas.org/irp/world/indonesia/indonesia-
1998.htm>.

"Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor 06 Tahun 1967." Wikisource, . 16 Sep
2008, 03:21 UTC. 21 Okt 2008, 01:09
<http://id.wikisource.org/wiki/Surat_Edaran_Presidium_Kabinet_Ampera_Nomo
r_06_Tahun_1967>.

“Wali Sanga.” Wikipedia, The Free Encyclopedia. 16 Okt 2008, 06:26 UTC. 16 Okt
2008. <http://en.wikipedia.org/wiki/Wali_Sanga>.

Yayasan Sam Poo Kong, Klenteng Sam Poo Kong: A Brief History’s of Great Temple.
Semarang, 2008 Hal. 57 – 59.

- 19 -
Keterampilan I: Catatan Wawancara Tabitha Sri Jeany, SH, MKn
Tanya: Selemat Siang, Bu. Bolehkah saya minta nama lengkap Ibu dan curriculum vitae,
misalnya umur, tempat dan tanggal lahir, dan pekerjaan?
Jawab: Nama saya Tabitha Sri Jeany. Umur saya 30 tahun, dan saya lahir di Medan
tanggal 25 Desember, 1977. Pekerjaan saya sebagai Notaris dan PPAT di Kota
Yogyakarta.
Tanya: Oke, terima kasih Ibu. Apakah Ibu sadar bahwa dan setuju dengan kita sekarang
difilm? Filmnya hanya sebagai sumber, dan tidak akan digunakan sebagai
bagian tugas saya kecuali dengan izin tertulis dari Ibu.
Jawab: Boleh, silakan.
Tanya: Terima kasih Ibu. Saya sekarang membuat tugas tentang Peraturan dan
Kekerasan Anti-Tionghoa Pada Saat Rezim Suharto dan Hubungannya dengan

- 20 -
Pancasila. Saya ada beberapa pertanyaan untuk Ibu. Pertama-tama, bisakah Ibu
ceritakan pengalaman Ibu pada saat hura-hara lawan orang Tionghoa di
Indonesia pada tahun 1998?
Jawab: Sebenarnya kalau huru-hara lawan orang Tionghoa, bahasanya tidak benar. Hura-
hara itu adalah huru-hara kekerasan yang dilakukan terhadap warga Tionghoa
yang hidup di Indonesia, khususnya di Jakarta dan Solo, di mana kerusuhan itu
sangat terasa dan mengancam jiwa para warga Tionghoa.
Tanya: Dan bagaimanakah itu mempengaruhi Ibu sampai zaman sekarang?
Jawab: Seharusnya bukan mempengaruhi saya, tapi mempengaruhi pikiran warga
Tionghoa di Indonesia sampai zaman sekarang. Kalau dari saya sendiri, saya
harapkan bahwa kita bisa tinggal di Indonesia sampai selama-lamanya, sampai
cucu bahkan cicit kita, sampai kita meninggal pun dan dikubur di Indonesia. Tapi
untuk orang Tionghoa yang sudah trauma dengan kejadian di tahun 1998 dan bagi
mereka belum ada perlindungan yang pasti, mereka mengharapkan bahwa mereka
bisa berhasil di Indonesia dan setelah itu mereka secepatnya bisa berhasil untuk
pindah dari Indonesia. Jadi, istilahnya secepatnya kita kumpulkan uang dan
secepatnya kita imigrasi ke Negara lain karena Indonesia dianggap tidak aman,
dan akibat dari pemikiran ini, sangat merugikan bagi Negara Indonesia.
Tanya: Terus, Ibu bekerja sebagai Notaris sekarang. Apa spesialisasi Ibu?
Jawab: Notaris sebagai pejabat umum Negara, tugas utamanya adalah membuat
perjanjian pihak-pihak yang menghadap kepada saya, seperti perjanjian jual beli,
perjanjian sewa-menyewa, perjanjian kerjasama juga pendirian badan usaha dan
badan hukum lainnya.
Tanya: Maka Ibu bisa menjelaskan sedikit tentang peraturan-peraturan pemerintah yang
berhubungan dengan orang Tionghoa?
Jawab: Salah satu peraturan yang berhubungan dengan orang Tionghoa terasa bersifat
diskriminatif adalah seperti peraturan tentang keharusan bagi warga Tionghoa
memiliki Surat Keterangan Kewarganegaraan atau SKBRI, dan ini hanya berlaku
bagi orang Tionghoa yang lahir di Indonesia; sedangkan, untuk warga negara
yang dianggap pribumi itu tidak diperlukan.

- 21 -
Tanya: Terima kasih Ibu. Menurut saya, peraturan yang paling melanggar HAM orang
Tionghoa itulah 127/U/KEP/12/1966, yang menyuruh orang Tionghoa
mengindonesiakan nama mereka. Menurut Ibu, apa maksud utama peraturan
tersebut, dan bagaimanakah peraturan tersebut mempengaruhi Ibu?
Jawab: Terhadap saya sendiri, karena saya lahir tahun 1977, dan kedua orang tua saya
sebagai warga yang sadar dan taat hukum, maka mereka secara langsung telah
memberikan nama Indonesia pada saya, jadi tidak ada pengaruh harus ganti nama.
Tetapi hal tersebut bukan berarti saya tidak diberikan nama Tionghoa lagi, nama
Tionghoa diberikan sebagai nama panggilan sehari-hari di rumah atau dalam
hubungannya di dalam keluarga dan dengan sesame saudara. Namun kenyataanya
Peraturan ini sangat terasa bagi mereka yang awalnya menggunakan nama
Tionghoa, kemudian di haruskan merubah atau menganti nama mereka menjadi
nama yang dianggap lebih Indonesia. Nah kemudian, untuk nama Tionghoa yang
sebelumnya digunakan itu, hanya sebatas nama panggilan yang dipergunakan
untuk sehari-hari.
Tanya: Maka PP itu masih berlaku?
Jawab: Berlaku. Sebagaian peraturan yang bersifat diskrimitatif telah dicabut semasa Gus
Dur menjadi President.
Tanya: Ah, saya paham. Terus, karena Ibu berspesialisasi dengan hukum hak atas tanah
saya merasa bahwa Ibu akan bisa menjelaskan apa maksudnya Peraturan
Menteri Perumahan No.455.2-360/1988 tentang kelenteng-kelenteng di
Indonesia. Benar, kah? Apa maksud dan dampak dari peraturan tersebut?
Jawab: Dampak dari peraturan tersebut adalah mempersulit atau menghambat
berkembangnya kelenteng-kelenteng di Indonesia, karena pada saat itu, di masa
pemerintahan Soeharto, kelenteng-kelenteng tidak dianggap sebagai suatu agama
melainkan hanya suatu kepercayaan yang berhubungan dengan tradisi orang
tionghoa yang harus dihilangkan bahkan dibasmikan.
Tanya: Sebenarnya saya ingin minta penjelasan tentang beberapa peraturan lain, tapi
waktu kita terbatas. Demikian, saya akan tanya hanya satu pertanyaan lagi:
bagaimana pendapat Ibu tentang Keputusan Kabinet Presidium SE-06/Pres-
Kab/6/1967, yang mewajibkan pergunaan kata “Cina” sebagai ganti

- 22 -
“Tionghoa” untuk mendeskripsikan orang dan budaya Tionghoa? Saya tahu kini
kata “Cina” dianggap diskriminatif dan rasis oleh orang Tionghoa.
Jawab: Kabinet presedium tersebut itu sangat tidak adil. Peraturan itu kita bisa lihat
dalam buku ini (menunjukkan buku). Perubahan kata tionghoa menjadi kata
“Cina” ini sebenarnya ada tujuan untuk mendiskriminasi, yaitu untuk menghina.
Malahan, kata “Tionghoa” adalah kata untuk menghormati, karena konotasinya
orang yang bisa dipercaya, jauh dengan arti kata “Cina” yang mengandung
konotasi negatif.
Tanya: Terima kasih atas bantuan Ibu. Terakhir, saya minta Ibu menandatangani
catatan wawancara ini ketika sudah diprint. Tanda tangan Ibu akan menyatakan
bahwa semua hal yang tertulis di sini benar-benar berasil dari Ibu, dan bukan
rekaan.

Kami menyatakan bahwa semua hal tertulis di sini adalah hasil dari wawancara
yang terjadi pada tanggal 17 Oktober, 2008 dan bukan rekaan. Kami berjanji bahwa hasil
wawancara ini, yaitu film dan catatan, tidak akan digunakan oleh Pihak 1, pewawancara
Christopher Allen Woodrich, untuk hal selain tugas PERATURAN DAN KEKERASAN
ANTI-TIONGHOA PADA SAAT REZIM SUHARTO DAN HUBUNGANNYA
DENGAN PANCASILA tanpa izin tertulis dari Pihak 2, yang diwawancara Tabitha Sri
Jeany, SH,Mkn.

Pihak 1 Pihak 2
Pewawancara Yang Diwawancara

- 23 -
Christopher Allen Woodrich Tabitha Sri Jeany, SH, MKn

Keterampilan II: Catatan Wawancara Wahyu Apri Wulan Sari, ST


Tanya: Selamat Siang, Mbak. Bolehkah saya minta nama lengkap mbak dan curriculum
vitae, misalnya umur, tempat dan tanggal lahir, dan pekerjaan?
Jawab: Nama saya Wahyu Apri Wulan Sari. Umur saya 24 tahun, dan saya lahir di
Surakarta tanggal 26 April, 1984. Saya masih belum mempunyai pekerjaan, dan
saya masih mencari-cari.
Tanya: Oke, terima kasih Mbak. Tolong beritahu saya apa keturunanmu. Contohnya,
saya 25% German, 25% Irlandia, dan 50% Prancis.
Jawab: Saya adalah seorang Warga Negara Indonesia, yang dulunya nenek moyang saya
ada keturunan asal Asia Timur, yaitu Jepang, dari garis Ayah. Jadi kalau dihitung

- 24 -
dalam persen, kira-kira 25% Jepang dan 75% Jawa. Tapi nenek saya bukan
keturunan Ju-Gu-Hyan-Fu.
Tanya: Ah, saya bisa lihat bahwa mata Mbak agak sipit. Apakah Mbak sering dikirain
orang Tionghoa oleh orang-orang “pribumi?”
Jawab: Iya, tapi saya tetap enjoy dengan sebutan itu, dan saya tetap menerimanya. Ketika
mereka panggil aku “Cici” atau “Ce-ce” juga saya tidak keberatan, dan menurut
saya itu adalah panggilan sayang dari mereka. Dan saya menyukainya. Lagipula
tidak ada bedanya antara orang Tionghoa, atau orang keturunan, dan orang
pribumi asli, semuanya sama-sama Warga Negara Indonesia.
Tanya: Terus, pada saat terjadinya kekacauan pada bulan Mei 1998 Mbak ada di mana?
Jawab: Ketika itu, saya masih berada di sekolah saya di Surakarta; ketika itu saya masih
SMP kelas II. Nama sekolah saya adalah SMP Negeri III Surakarta. Saya berasal
dari kota Surakarta, di mana kota tersebut didiami oleh beberapa orang Jawa,
Tionghoa, dan beberapa orang Arab dan Pakistan.
Tanya: Terus, Mbak melihat dan mengalami apa saja pada saat itu? Keterjadiannya apa
di Surakarta?
Jawab: Saya melihat banyak sekali pertokoan, mall, pasar, semuanya di bakar. Banyak
bangkai mobil dan kendaraan bermotor lainnya yang menjadi bangkai di jalan
raya pada saat itu. Penjarahan juga ada di mana-mana. Banyak rumah-rumah
penduduk di Surakarta, khususnya penduduk Tionghoa yang dijarah, dan dibakar.
Bahkan ada banyak juga wanita yang diperkosa.
Tanya: Kira-kira seberapa wanita diperkosa?
Jawab: Tidak terlalu banyak, tidak sebanyak di kota Jakarta pada saat itu. Salah satu
teman saya yang terkena serangan itu, Lina (dia adalah warga keturunan
Tionghoa yang memiliki toko buku terkenal di Solo, namanya Toko Buku
Sekawan. Tokonya dijarah), dia sendiri diperkosa, dan orang tuanya dibuang
keluar. Seisi tokonya dijarah penduduk. Walaupun penjagaan dari para penduduk
setempat sudah banyak membantu, tapi ternyata itu semuanya tidak berhasil.
Akhirnya Toko Sekawan tersebut terbakar, seisinya. Dan Lina sendiri menjadi
stress berat, sampai saat ini. Dia sekarang masih berada di Rumah Sakit Jiwa
Kentingan, Surakarta.

- 25 -
Tanya: Terus, pengalaman Mbak sendiri apa pada saat itu?
Jawab: Setiap saya dan keluarga saya berjalan di jalan dengan menggunakan mobil atau
kendaraan lain, dan kami hampir diserang penduduk, kami selalu berkata, “Kami
orang Jawa, kami Pro- Reformasi!,” atau menyebutkan nama perusahaan kami
yang dikenal dengan nama Indonesianya. Rumah kami juga ditulisi dengan
banner Pro-Reformasi, yang jumlahnya banyak sekali.
Tanya: Terus, bagaimanakah keluarga Mbak membantu orang Tionghoa pada saat itu?
Apakah keluarga Mbak membantu, atau hanya duduk diam-diam?
Jawab: Dulu, sempat kami membantu orang Tionghoa, yang rumahnya kebetulan
berhadapan dengan rumah tante saya di daerah Jagalan. Jagalan adalah salah satu
kampung Tionghoa di Solo. Mereka satu keluarga bertempat tinggal di Vihara,
walaupun mereka tidak terkena serangan apapun, tapi mereka merasa takut akan
serangan yang mungkin akan tiba-tiba terjadi. Akhirnya mereka kami tampung di
rumah tante selama beberapa hari, dan kebetulan saat itu, saya dan keluarga saya
ikut juga.
Tanya: Terus, menurut Mbak bagaimana pengalaman orang Tionghoa telah
mempengaruhi mereka dan Mbak sendiri?
Jawab: Awalnya kami semua takut untuk keluar rumah, bahkan kami berencana untuk
pindah ke luar kota, dan juga pindah sekolah. Solo benar-benar seperti kota mati
saat itu, tidak ada orang, cuma bangkai mobil dan motor, dan juga pecahan kaca
di mana-mana. Banyak gedung yang terbakar. Sekolah-sekolah, termasuk sekolah
saya pun, ditutup untuk beberapa waktu, sampai menunggu pengumuman lebih
lanjut dari pihak sekolah. Lebih parahnya lagi, kami tidak bisa menemukan toko
atau pasar yang terbuka, jadi kami sempat kehabisan bahan makanan selama
beberapa hari. Suasana saat itu benar-benar seperti perang mendadak di kota Solo.
Tanya: Terus bagaimana pengaruh kepada orang Tionghoa, menurut Mbak?
Jawab: Mereka sempat tersingkirkan, dan dipojokkan di antara masyarakat. Semisal
seperti sebuah kasta, mereka benar-benar seperti berada di kasta yang paling
rendah di antara semuanya. Dan juga sempat ada gap antara tetangga. Orang Jawa
dan orang Tionghoa tidak mau saling menyapa dan bicara. Demikian juga ketika
di pasar tradisional, harga untuk mereka dipasang lebih tinggi dari biasanya.

- 26 -
Mereka sering dituduh kalau mereka adalah penyebab semuanya yang telah
terjadi.
Tanya: Terima kasih atas bantuan Mbak. Terakhir, saya minta Mbak menandatangani
catatan wawancara ini ketika sudah diprint. Tanda tangan Mbak akan
menyatakan bahwa semua hal yang tertulis di sini benar-benar berasil dari
Mbak, dan bukan rekaan.

Kami menyatakan bahwa semua hal tertulis di sini adalah hasil dari wawancara
yang terjadi pada tanggal 21 Oktober, 2008 dan bukan rekaan. Kami berjanji bahwa hasil
wawancara ini, yaitu catatan, tidak akan digunakan oleh Pihak 1, pewawancara
Christopher Allen Woodrich, untuk hal selain tugas PERATURAN DAN KEKERASAN
ANTI-TIONGHOA PADA SAAT REZIM SUHARTO DAN HUBUNGANNYA
DENGAN PANCASILA tanpa izin tertulis dari Pihak 2, yang diwawancara Wahyu Apri
Wulan Sari.

Pihak 1 Pihak 2
Pewawancara Yang Diwawancara

Christopher Allen Woodrich Wahyu Apri Wulan Sari, ST

- 27 -