Anda di halaman 1dari 48

Case Report I

Anak Perempuan Usia 6 bulan dengan


Bronchopneumoni dan CPSA


STASE ILMU KESEHATAN ANAK RSUD DR
HARJONO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
Nimas Dwoastuti
J5000090050
IDENTITAS
Nama lengkap : An. N
Tempat dan tanggal lahir : Ponorogo, 4-
09-2013
Nama ayah : Tn. S
Pekerjaan ayah : swasta
Nama ibu : Ny. N
Pekerjaan ibu : IRT
Alamat :Ponorogo
Masuk RS tanggal : 17-03-2014


Jenis kelamin :
perempuan
Umur anak : 6 bulan
Umur ayah : 35 tahun
Pendidikan ayah : SMA
Umur ibu : 34 tahun
Pendidikan ibu : SMA

Diagnosis masuk :
bronchopneumoni dg
ancaman gagal nafas+ sepsis

TANGGAL : 1 7 MARET 201 4
ANAMNESIS
Sesak nafas
KELUHAN UTAMA
Batuk , pilek , demam,
kejang
KELUHAN
TAMBAHAN
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien datang diantar oleh keluarganya ke IGD RSUD dr.Hardjono
Ponorogo dengan sesak nafas .
Dari alloanamnesis yang dilakukan dengan orangtua pasien
didapatkan keterangan sejak 2 hari ygll. Sesak lebih berat pada malam
hari. Sesak dirasakan terus-menerus semakin lama semakin memberat
dan tidak berkurang saat istirahat. Sesak diikuti dengan demam.
Demamnya naik turun .Kemudian satu hari SMRS pasien kejang 1x.
Kejang kira-kira lamanya 5 menit, kedua kaki dan tangan terasa kaku.
Saat kejang anak sadar. pasien menjadi kurang aktif dan sering merintih .
selain itu pasien juga batuk berdahak Batuk disertai dahak yang sulit
keluar. Dahak kental berwarna putih, lendir darah (-). Batuk dirasakan
terus menerus dan semakin memberat terutama pada malam hari. Batuk
dirasakan 2-3 kali sehari dengan lama. Pasien tidak muntah, konsumsi
ASI (-), tidak menangis. BAB (+) sebanyak 1 kali berwarna kuning dan
cair, kentut (+). BAK (+) berwarna kuning 1-2 kali sehari. Pasien pilek
(+), nyeri sendi (-), mimisan (-), bintik-bintik merah pada kulit (-).
Riwayat asma :
disangkal
Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat DM : disangkal
Riwayat alergi :
disangkal
Radiasi : disangkal
Riwayat hepatitis : disangkal
Riwayat keganasan : disangkal
Kesan : Tidak terdapat riwayat
penyakit yang di turunkan dari
keluarga
Riwayat penyakit
pada keluarga yang
diturunkan
Riwayat keluarga





Kesan : Tidak ada riwayat penyakit pada keluarga yang diturunkan yang berhubungan dengan
penyakit sekarang
1.

Keterangan :
: Laki-laki / ayah
: Perempuan / ibu
: Pasien


5
3
4
1
1
2

6
5
5
5
5
5
5
1
1
Riwayat Pribadi
Riwayat
kehamilan ibu
pasien
Ibu G3P2A1 hamil usia #3 tahun.
Ibu pasien mulai memeriksakan kehamilan ketika usia kehamilan 1
bulan dan selanjutnya rutin kontrol ke bidan sebulan sekali. Saat
kontrol ibu mendapat vitamin yang selalu dihabiskan. Selama hamil
ibu tidak pernah muntah-muntah yang dapat menggangu aktivitas
sehari-hari, tidak ada riwayat trauma, perdarahan maupun infeksi
selama hamil. Tekanan darah ibu selama kontrol dalam kisaran
normal yaitu 110/70. Berat badan ibu ditimbang dinyatakan normal.
Riwayat
persalinan ibu
pasien
Ibu pasien melahirkan anaknya yang pertama saat usia 33 tahun,
umur kehamilan 9 bulan, persalinan normal dibantu bidan, berat
badan lahir 2800 gram, pada saat lahir bayi langsung menangis, tidak
ditemukan cacat bawaan saat lahir, gerakan aktif, (+) kulit tampak
biru (-),
Kesan: Riwayat ANC baik, persalinan baik.
Riwayat makanan :
Diberi ASI sejak lahir sampai usia 1-6 bulan eksklusif
Makanan pengganti ASI belum diberikan

Kesan: kualitas cukup

Perkembangan dan kepandaian
Motorik kasar : 3 bulan (tengkurap), 6 bulan sudah mulai merangkak
Motorik halus : memegang mainan (4 bulan)
Bicara: bereaksi terhadap suara (1 bulan)
Personal sosial: belum dapat dinilai

Kesan : Perkembangan dan kepandaian baik




Kesan : pasien sudah mendapat imunisasi dasar
lengkap

Hepatitis B 4x Pada umur : 0, 2, 4, 6 bulan Di posyandu
BCG 1x Pada umur : 1 bulan Di posyandu
DPT 3x Pada umur : 2,4,6 bulan Di posyandu
Polio 4x Pada umur : 0, 2,4, 6 Di posyandu
Campak - Pada umur : 9 bulan -
Riwayat demam : disangkal
Riwayat kejang : disangkal
Riwayat diare : disangkal
Riwayat tifoid : disangkal
Riwayat perdarahan : disangkal

Kesan : tidak terdapat riwayat penyakit
dahulu
Ayah adalah seorang pekerja bangunan dan Ibu
adalah seorang Ibu Rumah Tangga dengan rata-
rata penghasilan Rp. 700.000,- per bulan.
kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Rumah terdiri dari ruang tamu, dapur dan 2
kamar. Rumah mempunyai cukup pintu, jendela
dan ventilasi. Kamar mandi berada di dalam
rumah. Air yang digunakan untuk kebutuhan
hidup berasal dari air sumur digunakan untuk
minum, memasak, mandi dsb. Belakang rumah
berupa area pemukiman. Pada depan rumah
terdapat jalan raya disertai dengan pepohonan.
Pembuangan air limbah rumah tangga dialirkan
ke selokan. Jarak rumah pasien dengan tetangga
10 meter. Tidak terdapat pabrik yang mencemari
lingkungan.
Sosial
Ekono
mi
Lingk
ungan
Kesan: keadaan sosial ekonomi kurang, lingkungan cukup
baik.
Serebrospinal : Demam (+)
Kardiopulmoner : Sianosis (-)
Respiratorius : Sesak (+ ), batuk (+), napas cuping hidung(+)
Gastrointestinal : Kembung (-), muntah (-), BAB normal.
Urogenital : BAK (N)
Integumentum : Ikterik (-), pucat (-), sianosis (-)
Muskuloskeletal : Eutrofi, sendi normal

Kesan : Terdapat gangguan sistem serebrospinal dan respiratorius
Kesadaran : Kompos mentis
Nadi : 176 x/menit
Suhu badan : 38,5
0
C
Pernapasan : 79 x/menit
Tipe : ThorkoAbdominal
Pola : teratur

Kesan : takikardi, takipneu, demam


Berat badan : 6,1 kg Tinggi badan : 58 cm
Berdasarkan WHO BB/U = <-3 SD
PB/U= -2SD sd + 2SD
BB/TB= -2 SD sd +2 SD

Kesimpulan status gizi : ( baik / cukup / sedang / kurang / kurang sekali )
Status Gizi
Kepala : Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), nafas
cuping hidung (+), lidah tifoid (-)
Leher : Simetris kanan-kiri, retraksi suprasternal (-),
deviasi trachea (-), JVP R0,
pembesaran kelenjar getah bening (-), pembesaran tiroid (-)
Thoraks : Simetris kanan-kiri, retraksi dinding dada (+),
ketinggalan gerak (-)

Kesan : terdapat gangguan respiratori

PEMERIKSAAN
KHUSUS
Jantung:
- Inspeksi : ictus cordis tidak tampak.
- Palpasi : ictus cordis kuat angkat.
- Perkusi : dalam batas normal.
- Auskultasi : bunyi jantung I-II reguler.
bising jantung tidak ditemukan






Kesan : Jantung dalam batas normal.
Paru-paru



KANAN PEMERIKSAAN KIRI


Depan
Ketinggalan gerak (-)
Retraksi dinding dada(+)
Inspeksi Ketinggalan gerak (-)
Retraksi dinding dada(+)
Fremitus (N) massa (-) Palpasi Fremitus (N) massa (-)
Sonor (+) Perkusi Sonor (+)
SDV (+)
Ronkhi basah kasar (+)
Auskultasi SDV (+)
Ronkhi basah kasar (+)

Belakang
Ketinggalan gerak (-) Inspeksi Ketinggalan gerak (-)
Fremitus (N) massa (-) Perkusi Fremitus (N) massa (-)
Sonor (+) Palpasi Sonor (+)
SDV (+)
Ronkhi basah kasar(+)
Auskultasi SDV (+)
Ronkhi basah kasar (+)
Kesan : Terdapat gangguan pernapasan
Abdomen : Inspeksi : lebih tinggi dengan dinding dada, venektasi (-)
Auskultasi : Peristaltik (+)
Perkusi : Timpani (+), meteorismus (-), perkusi liver 2 cm
dibawa arcus costae dextra ( hepatomegali)
Palpasi : Massa skibala (-), distensi (-), ascites (-) hepat
teraba 2 cm dibawah arcus costa e dextra,
permukaan rata, konsistensi kenyal padat tepi
tumpul, splenomegali(-)

Anogenital : Anus (+), kelainan (-)

Ekstremitas : Akral hangat (+), edema (-), sianosis (-), turgor
kulit (N), stiffness (-)

Kesan :terdapat hepatomegali
PEMERIKSAAN
NEUROLOGIS
TUNGKAI LENGAN
Kanan kiri Kanan kiri
Gerakan Bebas Bebas Bebas Bebas
Tonus + N + N + N + N
Trofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi
Clonus
(-) (-) (-) (-)
Reflek fisiologis : Patella (+), achilles (+)
Refleks patologis : Babinsky (-), Chaddock (-)
Meningeal sign : Kaku kuduk (-), Brudzinski I (-), Brudzinski II (-),
Kernig (-)
Sensibilitas : Normal

Kesan : Tidak terdapat gangguan neurologi
Kepala : Normosefal, rambut hitam tidak mudah dicabut
Bentuk : Mesosefal
Ubun-ubun : sudah menutup
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), edema palpebra (-
/-), reflek cahaya (+/+), mata cekung (-/-).
Hidung : Napas cuping hidung (+), sekret (-)
Telinga : Simetris kanan-kiri, serumen (-), hiperemis (-)
Mulut : Mukosa mulut kering (-), lidah kotor (-), perdarahan gusi (-),
moniliasis (-)
Pharing : Mukosa hiperemis (-), pseudomembran (-)
Gigi : Gigi sudah tumbuh

Kesan : Terdapat gangguan pernapasan
Hasil Laboratorium
Kesan : hasil
laboratorium
darah lengkap :
anemia
hipokromik
mikrositer
Parameter
Hasil
Nilai Normal
17 Maret 2014
WBC
#Lymph
#Monosit
#Gran
Lymph %
Monosit %
Gran %
HGB
RBC
HCT
MCV
MCH
MCHC
PLT
PCT
7,6
2,2
0,1
5,3
29,4
2,5
68,1
9,2
3,76
29,1
77
24,5
31,7
281
0,2

4.0 - 10.5 (x 10
3
/uL)
1.25 - 4.0 (x 10
3
/uL)
0.3 1.0 (x 10
3
/uL)
2.5 - 7.0 (x 10
3
/uL)
25.0 - 40.0 (%)
3.0 - 9.0 (%)
50.0 - 70.0 (%)
11.0 - 16.0 (g/dL)
3.50 - 5.50 (x10
6
/uL)
37.0 - 50.0 (%)
82.0 - 95.0 (fL)
27.0 - 31.0 (pg)
32.0 - 36.0 (g/dL)
150 - 300 (x 10
3
/uL)
0.108 - 0.282 (%)

Anamnesis Pemeriksaan fisik Laboratorium
17 Maret 2014 (HMRS)

Sesak nafas
Demam
Banyak berkeringat
Kejang
Batuk disertai dahak sejak 2 hari,
dahak sulit keluar, batuk
memberat pada malam hari
pilek
ASI (-)
BAB 1x sehari
BAK lancar
17 Maret 2014

Lemah
Akral hangat
Nafas cuping hidung
Retrasksi dada
Ronkhi basah kasar pada
kedua lapang paru dengan
punctum maksimum di
basal
Hepatomegali teraba 2 cm
dibawah arcus costae
dextra, permukaan rata,
konsistensi kenyal padat,
tepi tumpul
Suhu 38,5C
Nadi: 176 x/menit
RR: 79 kali/menit
17 Maret 2014

Anemia Hipokromik
Mikrositer


Aktif Inaktif
- Sesak nafas
- Demam
- Batuk berdahak
-Anemia
-Hepatomegali
- Pendidikan orangtua yang kurang
- Masalah ekonomi
Kemungkinan penyebab masalah (bisa berupa diagnosis
banding dari masalah yang ada) :


Bronchopneumoni
Bronkiolitis
CPSA
Rencana Pengelolaan
Rencana Tindakan :
Observasi tanda-tanda vital (TD, nadi, suhu, frekeuensi pernafasan)
Rencana Penegakan diagnosis :
Anamnesis
Pemeriksaan Fisik : KU , serebrospinal, kardiopulmonal, respiratory,
gastrointestinal, dan neurologis.
Pemeriksaan Lab : darah lengkap, hapusan darah tepi
Pemeriksaan rongent thorax
Rencana Terapi :
pasang NGT , puasakan
inj. Tridex 27 B + aminophilin 3 cc 20 tpm
inj meropenem 3 x 200 mg
Inj antrain 3 x 50 mg
Inj. Dexametason 3x 2 mg
terapi IRPD
Rencana Evaluasi :
Keadaan Umum
Tanda vital
Darah lengkap
Rongent thorak
Rencana Edukasi :
Menjelaskan kepada orang tua pasien tentang penyakit yang diderita
Menjelaskan unruk selalu menjaga kebersihan diri, lingkungan dan
keluarga.
Memotivasi untuk kontrol pasca opname di rumah sakit



Prognosis
- Quo ad vitam : dubia ad bonam
- Quo ad sanam : dubia ad bonam
- Quo ad fungsionam : dubia ad bonam


LEMBAR FOLLOW UP

SOAP TERAPI
18 Maret 2014
S : demam (+),kejang (+), sesak (+), batuk berdahak (+),
BAB hitam 2x lendir (+) cair (+) , BAK (+)
O : compos mentis, lemah
N 174 x/menit; S 38 C; RR 76 x/menit
K/L : conjunctiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), PKGB (-
/-)
Thorax : simetris (+/+), retraksi (+)
Pulmo/ SD Vesikuler (+/+), Rh (+/+), Wh (-/-)
Cor/ BJ 1-2 reguler, bising (-)
Abdomen : sejajar dinding dada, peristaltic (+)
meteorismus (-), hepatomegali (+)
Ekstremitas : akral hangat (+)




Infus RL 60 tpm 1jam selanjutnya
25 tpm
NGT , puasa
Injeksi meropenem 3x 200mg
Injeksi antrain 3x 50 mg
Injeksi dexametason 3x 2mg
Injeksi fenitoin 3x 25mg
Injeksi kalnex 3x 50 mg








19 Maret 2014
S : sesak (+), batuk berdahak (+), demam (-),BAB (+), BAK
(+)
O : compos mentis, lemah
N: 157 x/menit; S 36,7 C; RR 57 x/menit
K/L : conjunctiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), PKGB (-
/-)
Thorax : simetris, retraksi (+)
Pulmo/ SD Vesikuler (+/+), Rh (+/+), Wh (-/-)
Cor/ BJ 1-2 reguler, bising (-)
Abdomen : sejajar dinding dada, peristaltic (+)
meteorismus (-), hepatomegali (+)
Ekstremitas : akral hangat, bintik-bintik merah pada kulit (-),





Infus RL 20 tpm
NGT , puasa
Injeksi meropenem 3x 200mg
Injeksi dexametason 3x 2mg
Injeksi kalnex 3x 50 mg

20 Maret 2014
20 Maret 2014

S : sesak (+), batuk berdahak (+), demam (-),BAB (+), BAK
(+)
O : compos mentis, lemah
N: 157 x/menit; S 36,7 C; RR 57 x/menit
K/L : conjunctiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), PKGB (-
/-)
Thorax : simetris, retraksi (+)
Pulmo/ SD Vesikuler (+/+), Rh (+/+), Wh (-/-)
Cor/ BJ 1-2 reguler, bising (-)
Abdomen : sejajar dinding dada, peristaltic (+)
meteorismus (-), hepatomegali (-)
Ekstremitas : akral hangat (+)



Infus RL 20 tpm
NGT , puasa
Injeksi meropenem 3x 200mg
Injeksi dexametason 3x 2mg
Injeksi kalnex 3x 50 mg

21 Maret 2014
sesak (+), batuk berdahak (+), demam (-),BAB hitam cair 2x
(+), BAK (+)
O : compos mentis, lemah
N: 113 x/menit; S 36,1 C; RR 37 x/menit
K/L : conjunctiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), PKGB (-
/-)
Thorax : simetris, retraksi (+)
Pulmo/ SD Vesikuler (+/+), Rh (+/+), Wh (-/-)
Cor/ BJ 1-2 reguler, bising (-)
Abdomen : sejajar dinding dada, peristaltic (+)
meteorismus (-), hepatomegali (-)
Ekstremitas : akral hangat (+)

Infus RL 20 tpm
NGT , puasa
Injeksi meropenem 3x 200mg
Injeksi kalnex 3x 50 mg

22 Maret 2014
sesak (+), batuk berdahak (+), demam (-),BAB hitam cair 1x
(+), BAK (+)
O : compos mentis, lemah
N: 139 x/menit; S 36,4 C; RR 43 x/menit
K/L : conjunctiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), PKGB (-
Infus RL 20 tpm
NGT , puasa
Injeksi meropenem 3x 200mg
Injeksi kalnex 3x 50 mg






22 Maret 2014
sesak (+), batuk berdahak (+), demam (-),BAB hitam cair 1x
(+), BAK (+)
O : compos mentis, lemah
N: 139 x/menit; S 36,4 C; RR 43 x/menit
K/L : conjunctiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), PKGB (-
/-)
Thorax : simetris, retraksi (+)
Pulmo/ SD Vesikuler (+/+), Rh (+/+), Wh (-/-)
Cor/ BJ 1-2 reguler, bising (-)
Abdomen : sejajar dinding dada, peristaltic (+)
meteorismus (-), hepatomegali (-)
Ekstremitas : akral hangat (+)






Infus RL 20 tpm
NGT , puasa
Injeksi meropenem 3x 200mg
Injeksi kalnex 3x 50 mg



A. Kor plmonal
Penyakit jantung paru yang juga dikenal sebagai kor
pulmonal oleh WHO didefinisikan sebagai hipertrofi
ventrikel kanan dengan atau tanpa gagal jantung
kanan yang tejadi akibat penyakit paru, baik akibat
kelainan struktur (parenkim atau pembuluh darah
paru) maupun gangguan fungsi paru tidak termasuk
akibat gangguan pada bilik kiri atau penyakit
jantung bawaan (Sastroasmoro,1994) .
B. Epidemiologi
Di indonesia PJP kronik sering terdapat pd org dewasa
3-23% dari semua penderita penyekit jantung yg
dirawat.
Pada PJP akut dan subakut jarang terjadi pada anak-
anak maupun dewasa.

C. Etiologi

Penyakit yang menimbulkan hipoksia, hiperkapnia, asidosis, dan vasokontiksi pulmonal
(hipoventilasi alveolar)
I. Penyakit intrinsik (parenkim paru)
1. Penyakit paru obstruktif
a. Fibrosis kistik
b. Asma bronchial
c. Bronkiolitis
d. Obstruksi napas bagian atas kronik
e. Emfisema paru

2. Penyakit paru restriktif
a. Fibrosis interstitialis difus
b. Sindrom Wilson-Mikity
c. Pneumonitis kronik
d. TB
e. bronkiektasis
II. Faktor ekstrinsik
1. Penyakit neuro-muskular, poliomyelitis, sindrom Guillain Barre, distrofi muscular,
miastenia gravis
2. Deformitas dinding dada seperti kifoskoliosis, pektus ekskavatum, spondilitis,
torakoplasti
3. Obesitas
4. Kelainan congenital seperti hernia diafragmatika
5. Tinggal didaratan tinggi
6. Disfungsi pusat pernapasan akibat obat atau gangguan pada pusat pernapasan
Penyakit yang dapat menyebabkan obstruksi anatomik pembuluh darah paru
1. Intraluminal, seperti emboli paru multiple, hipertensi primer arteria pulmonalis atau
vasokontriksi reaktif arteria pulmonalis dan skistosomiasis
Ekstraluminal, seperti sarkoidosis, penyakit kolagen dan proteinosis alveoli paru (Sasrtoasmoro,1994).
D. Klasifikasi
1. Akut yaitu dilatasi dari ventrikel kanan dan terjadi
kenaikan dari tekanan paru. Hal ini berlangsung
secara mendadak dan tidak ada riwayat serupa
sebelumnya. Pada anak-anak terjadi blocking yang
terjadi secara mendadak dari pembuluh darah paru
misalnya terjadi pada anemia sel sabit yang
menyebabkan oklusi trombotik pada pembuluh
darah kapiler yang ada di paru. Karena hal tersebut
tekanan paru menjadi lebih tinggi memeberi kerja
yang lebih berat pada ventrikel kanan.
2. Subakut kor pulmonal adalah sindrom klinis yang sering jarang
terdiagnosis karena jarang terjadi. Gejala yang paling menonjol yaitu
a. perkembangan dypsnea yang mendadak dan progresif,
b. tidak adanya gangguan cardiopulmonary yang mendasari
terjadinya dypsnea,
c. kurangnya tanda-tanda fisik di dada untuk menjelaskan
terjadinya dyspnea,
d. tanda-tanda kegagalan sisi kanan jantung berkembang kemudian
dalam perjalan penyakit,
e. kurangnya respon terapi seperti terapi gagal jantung kongestif,
f. bukti gambaran rongent ada nya gambaran embolisasi paru,
kelainan pada elektrokardiografi yang menunjukan dilatasi
ventrikel kanan,
g. klinis yang muncul hanya dalam hitungan minggu atau bulan
(Gelfand et al, 1962).
3. Kronis : kor pulmonal kronis lebih sering terjadi
dibandingkan kor pulmonal akut dan subakut. Pada
kor pulmonal kronis terjadi kerusakan paru yang
bertahap dan menunjukan hipepertrofi dari ventrikel
kanan. Penyakit ini berjalan secara progresif,
kerusakan jantung selalu diikuti dengan eksaserbasi
dari infeksi paru.
E. Patogenesis
Penyakit paru
Penyumbatan a. pulmonalis
gg. a. pulmonalis
Pulmonry vaskular
menurun
Polisitemia
Viskositas darah
hipervolemia
Curah
jantung
menurun
Aliran darah
paru menurun
Hipertensi
pulmonal
Hipertrofi
ventrikel kanan
Penyakit
jantung
paru
F. Gejala klinis
Berbeda deengan PJP akut, PJP kronik bersifat silent
selama jantung masih dalam kompensasi, sehingaa PJP
tidak terdeteksi dalam waktu yang cukup lama. Karena
gejala klinis pada jantung baru diketahui setelah perjalanan
penyakit dasar telah lanjut maka Siassi (1971) dan Monset
Couchard (1975) memberikan beberapa kriteria untuk
tujuan klinik praktis menentukan PJP, yaitu bila dijumpai
satu atau lebih dari tanda-tanda berikut:
1. Hipertrofi ventrikel kanan pada EKG
2. PaO2 lebih rendah dari 50mmHg atau PaCO2 diatas 45
mmHg
3. Gagal jantung
4. Foto dada: konus pulmonalis menonjol
5. Kapasitas vital kurang dari 60% nilai seharusnya.

Apabila telah terjadi kor pulmonal biasanya anak
gelisah, takipneu dengan pernapasan yang dangkal
serta ortopne. Dapat terlihat sianosis ringan sampai
berat, jari-jari tabuh, muka sembab, hepatomegali,
asites, edem, tungkai. Tekanan vena jugularis
meningkat dengan refluks hepatojugular.
Pada pemeriksaan jantung didapatkan aktivitas
ventrikel kanan meningkat meskipun sering sulit
dipalpasi karena thoraks emfisematous. Detak
pulmonal biasanya teraba, yang menunjukan adanya
hipertensi pulmonal.
G. Pemeriksaan penunjang
Elektrokardiografi
Analisis Gas darah
Uji Faal Paru
Pemeriksaan Radiologis
Ekokardiografi
H. Diagnosis
Untuk menentukan diagnosis PJP dianjurkan melakukan serangkaian langkah seperti dibwah ini:
Tabel .1 protokol diagnosis PJP
Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
Foto thoraks dan EKG
Tes fungsi paru dan analisis gas darah
Ekokardiografi
Kateterisasi jantung kanan/ radionuklir (bila perlu)


I. Penatalaksanaan
Ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam penanggulangan PJP
1. Mencegah timbulnya PJP pada pasien dengan penyakit paru, misalnya dengan mengobati
infeksi yang ada secara adekuat.
2. Mencegah atau mengobati kegagaln pernapasan:
a. Memperbaiki fungsi paru
b. Mengurangi hipoksia arterial
c. Mengurangi hipertensi paru
3. Pengobatan terhadap gagal jantung kanan
Terapi penyakit primer bergantung padad kelainannya dapat diberikan antibiotic, bronkodilator,
ekspektoran, atau kortikosteroid. Sebagai bronkodilator diberikan golongan xantin, sebab selain
memepunyai efek bronkodilator, ia juga sebagai vasodilator a. pulmonalis, mempunyai efek
ionotropik, dan diuretik.
1. Digitalisasi
2. Oksigenasi
3. Diuretik
4. Vasodilator
5. Diet rendah garam untuk mencegah retensi cairan
J.Prognosis
Tekanan arteri pulmonalis
Gagal jantung
Usia
Daftar pustaka
DAFTAR PUSTAKA
Sastroasmoro S, Madiyono B, 1994. Buku Ajar Kardiologi
Anak. IDAI, Jakarta : Bina rupa Aksara .pp 391-403.
Gelfand ML, Tesler MA, 1962. Subacute Cor Pulmonale.
American Journal of Cardiology vol 10 issue 1 pp 38-45.
Royce SW, 1951. Cor Pulmonale in Infancy and early
Chilhood: Report on 34 Patients, with Spesial Refernce to the
Occurrence of Pulmonary Hearth Disease in Cystic Fibrosis
of the Pancreas. Official of the American Academy of
Pediatrics 8: pp 255-274.
Siassi B, Moss AJ, Dooley RR.clinical Recognation of Cor
Pulmonale cystic fibrotic. J pediatric 1971; 78: 794-805.
Monset Couchchard M, Masson CV, Moss AJ. Cor
pulmonale in children. Curr prob Ped 1975;67:198-203
TERIMA KASIH