Anda di halaman 1dari 7

Paper Ringkas

Menuju Kebijakan Tarif Telekomunikasi Yang


Adil Bagi Semua Pihak

Pertimbangan

• Telekomunikasi sudah menjadi kebutuhan penting bagi sebagian


besar masyarakat Indonesia.
• Penyelenggaraan telekomunikasi bersifat strategis dalam
pembangunan nasional.
• Telah terjadi perubahan dalam struktur pasar jasa
telekomunikasi, dari yang semula sepenuhnya monopoli, saat ini
tinggal beberapa jenis layanan saja yang masih dalam status
monopoli, selebihnya bersifat kompetisi.
• Pembangunan telekomunikasi berjalan lambat, rasio penyediaan
sambungan telepon dibandingkan jumlah populasi baru mencapai
<4%
• Di antara berbagai permasalahan yang dihadapi sektor
telekomunikasi, salah satunya adalah permasalahan penetapan
tarif.
• Diperlukan kebijakan tarif yang adil, yakni kebijakan penetapan
tarif yang menguntungkan semua pihak.

Kebijakan Tarif
• Undang – Undang Nomor 36/1999 pasal 27 dan 28 menetapkan:
o Susunan tarif penyelenggaraan jaringan telekomunikasi
dan atau tarif penyelenggaraan jasa telekomunikasi diatur
dengan Peraturan Pemerintah
o Besaran tarif penyelenggaraan jaringan telekomunikasi
dan atau jasa telekomunikasi ditetapkan oleh penyelenggara
jaringan telekomunikasi dan atau jasa telekomunikasi dengan
berdasarkan formula yang ditetapkan oleh Pemerintah.
• Peraturan Pemerintah Nomor 52/2000 dan 53/2000 mengatur
lebih kanjut mengenai formula tarif

1
Permasalahan
• Rencana PT. Telkom – sebagai penyelenggara jaringan dan jasa
telekomunikasi dominan - untuk menaikkan tarif telepon mendapat
keberatan dari berbagai pihak: masyarakat dan DPR.
• Adanya keberatan ini menjadikan Telkom “terpaksa” menunda
rencana investasi untuk membangun jaringan baru di daerah –
daerah yang belum terlayani.
• Masih di pihak operator penyelenggara jaringan dan jasa
telekomunikasi, kegagalan kenaikan tarif dikatakan sebagai
menyurutkan minat investor untuk masuk ke industri jasa
telekomunikasi di Indonesia.
• Sebaliknya di sisi masyarakat pengguna, tarif telepon di
Indonesia sudah dirasa mahal. Kenaikan seberapun besarnya akan
mengurangi kemampuan pelanggan untuk menggunakan
telekomunikasi.
• Keterlibatan DPR meski oleh sebagian masyarakat dianggap
‘menolong” masyarakat, namun oleh mereka yang memahami
peraturan dan perundangan dianggap telah ikut campur dalam
urusan pemerintahan.
• Pemerintah dalam hal ini, dinilai tidak tegas, apakah berpihak
kepada operator atau masyarakat, atau mendukung semua pihak
dengan secepat mungkin membuat kebijakan yang adil, sehingga
semua pihak merasa kepentingannya terakomodasi.

Kebijakan Tarif – Makro


• Kebijakan tarif memiliki dampak ke berbagai arah: dalam negeri,
luar negeri dan ke dalam perusahaan.
• Dalam merancang kebijakan tarif, Regulator perlu
memperhatikan prinsip keadilan, tidak menguntungkan salah satu
pihak saja, namun harus dapat mengakomodasi seoptimal mungkin
kepentingan semua stakeholder
• Kebijakan tarif yang ideal harus dapat mendukung beberapa
sasaran berikut:
o Masuknya para pemain baru (new entrants) ke dalam
industri jaringan dan jasa telekomunikasi.
o Meningkatnya penggunaan fasilitas dan jaringan
telekomunikasi.
o Tarif harus memiliki keterhubungan terhadap biaya yang
dikeluarkan untuk menghasilkan layanan.
o Menghasilkan pendapatan (revenue) yang mencukupi bagi
penyedia layanan (operator).

2
o Membantu keseimbangan stabilitas nasional dan
pertumbuhan ekonomi.
o Memfasilitasi pembangunan di bidang sosial yang
memperhatikan kepentingan semua pihak.

Kebijakan Tarif – Mikro


• Ada berbagai macam layanan telekomunikasi yang masing –
masing memiliki dasar perhitungan tarif yang berbeda
o Dari segi mobilitas, dibedakan antara telepon tetap dan
bergerak.
o Dari jangkauan, dibedakan antara lokal, jarak jauh, dan
internasional
o Dari aspek ketersambungan antar operator, dibedakan
antara sambungan intra-operator (trunk) dan sambungan antar-
operator (interkoneksi).
o Dari segi sumber panggilan dibedakan antara incoming
dan outgoing
o Dari segi layanan antar-operator nasional, dibedakan
antara single transit dan double transit.
• Berbagai variasi layanan sambungan yang memiliki implikasi
perbedaan tarif:
o Fixed to fixed network
o Fixed to national long distance network
o Fixed to international network
o Fixed to cellular mobile network
o Cellular to fixed network
o Cellular to national long distance network
o Cellular to international network
o One operator’s long distance to other operator’s long
distance network
Fixed to cellular fixed network
Cellular mobile to cellular fixed network
• Kombinasi dari berbagai variasi layanan telekomunikasi memiliki
implikasi biaya yang berbeda, namun demikian semuanya
dimuarakan pada formula tarif telepon tetap lokal yang menjadi
acuan bagi tarif jenis layanan lainnya. Di sinilah terjadi keunikan
(anomali kebijakan harga) dalam perhitungan tarif telekomunikasi,
karena, meski besaran biayanya berbeda – beda untuk berbagai
variasi konfigurasi dalam menghasilkan suatu jenis layanan, namun
harga yang ditawarkan kepada pelanggan haris tetap sama.
• Mengacu pada nilai – nilai yang berkembang di aras global,
dalam pasar yang kompetitif, kebijakan harga yang baik adalah
yang mengacu pada biaya (cost-based pricing)

3
• Beberapa hal mendasar dan penting yang harus diperhatikan
dalam menghitung biaya operasional layanan telekomunikasi antara
lain: total cost, variable cost, fixed cost, average cost, joint cost,
common cost, sunk cost, marginal cost, depreciation cost,
incremental cost, embedded cost, full allocated cost, cost of
network components, operation and maintenance costs,
amortization, cost of capital, cost of functional support, identifiable
direct and indirect cost, tax components, universal service
obligations, dan lain sebagainya. Semua jenis biaya ini dalam
berbagai magnitude dan kombinasi menjadi element penentu harga
layanan telekomunikasi.
• Selain berbagai jenis biaya di atas, permasalahan klasik dalam
metoda cost-based pricing, apakah biaya akan dihitung
berdasarkan:
o Historical costs: menggunakan dasar harga perolehan
barang dan jasa
o Current costs (market price): memperhitungkan lingkungan
yang terus berubah, menurunnya harga peralatan
telekomunikasi, depresiasi mata uang Rupiah, dan lain
sebagainya.
• Ada dua metoda penetapan tarif
o Metoda sederhana, disebut juga metoda pragmatik atau
metoda sintetik
 Operator tidak memiliki data yang diperlukan untuk
menghitung biaya fasilitas teknik dan semua pekerjaan yang
diperlukan dalam penyediaan suatu layanan, atau jika
operator menggunakan alasan lain untuk tidak melakukan
kajian biaya secara detail dalam menentukan tarif. Dengan
menggunakan pendekatan sintesa, operator menetapkan
beban tarif untuk sambungan lokal, jarak jauh dan
internasional. Metoda ini tidak mengatasi permasalahan
fundamental dalam penetapan tarif, karena hanya
berlandaskan sesuatu yang pernah dialami (posteriori) dan
menggunakan pengalaman semata.
o Metoda komplek, didasarkan pada kajian biaya, dan
disebut juga metoda analisis.
 Operator melakukan analisa semua biaya (seperti
amortisasi, beban keuangan, biaya tenaga kerja, biaya barang
dipakai habis, biaya perawatan, pajak, biaya yang dibebankan
oleh operator lain, dan lain sebagainya) yang diperlukan
dalam penyediaan suatu layanan. Metoda analisis
menekankan pentingnya menghitung biaya yang muncul dari
berbagai aktivitas (cost drivers) guna menghasilkan suatu
layanan, dengan basis rasionalitas dan jika diperlukan
menggunakan standar biaya. Operator mengumpulkan data

4
dari catatan akuntansi, dan jika hal ini masih kurang, masih
dapat melakukan kajian biaya untuk memperoleh informasi
yang dibutuhkan.
• Pertimbangan dan kriteria yang biasanya digunakan oleh
operator dalam menentukan besaran tarif:
o Biaya untuk masing – masing jenis layanan (digunakan
untuk menetapkan harga secararasional, serta dipakai untuk
menghitung tingkat profitabilitas)
o Konsep layanan (ruang lingkup, kebijakan harga, dan
karakteristik layanan)
o Kebutuhan Strategi pemasaran (transparan, pelanggan
mudah mengerti bahwa harg ayang dibayarkan nilainya lebih
kecil dari manfaat yang diterima)
o Implikasi sosial dan politik (penerapan price discrimination
policy)
o Kemungkinan pembebanan yang ditawarkan oleh
pemasangan sarana teknis (biaya panggilan dan administrasi
penagihan harus proporsional terhadap biaya untuk aktual untuk
memberikan setai layanan.
• Metoda pembebanan biaya penggunaan jasa telekomunikasi:
o Flat rate, sambungan percakapan dalam suatu area
geografis tertentu tidak dibebani biaya;
o Partial flat rate, penggunaan sejumlah tertentu unit
percakapan yang ditetapkan bebas biaya, selebihnya membayar;
o Message rate (metered untime call), panggilan kepada
atau percapakan di dalam satu area geografis tertentu dibebani
biaya tetap tanpa memperhitungkan durasi;
o Measured rate, panggilan dibebani biaya berdasarkan
ukuran, berdasarkan jarak, dan atau durasi;
o Periodic pulse metering (PPM), menggunakan alat pencatat
pemakaian, seperti di wartel;
o Repeal multi-metering, sama seperti PPM namun bedanya
penghitungan dilakukan secara incrmental (tidak linear);
o Time-of-day (Off-peak tarif), perbedaan tarif berdasarkan
masa penggunaan (jam sibuk versus jam normal);
o Klasifikasi bisnis atau residential.
• Selain faktor biaya, dalam menentukan model tarif
telekomunikasi, operator perlu memperhatikan faktor non-biaya
yang bersifat sosial seperti:
o Transparan, informasi yang digunakan dalam menentukan
tarif dapat dengan mudah diakses oleh publik guna keperluan
analisa;
o Kepraktisan, model pentarifan dapat diimplementasikan
pada berbagai kondisi permintaan yang berbeda dan masih tetap
memberikan manfaat bagi operator maupun pelanggan

5
o Kausalitas, model pentarifan menunjukkan hubungan
sebab-akibat antara biaya dan harga serta sumber daya yang
digunakan untuk menyediakan layanan dengan memperhatikan
faktor penentu biaya yang relevan.
o Efisiensi, model pentarifan harus memberikan manfaat
(output) yang lebih besar dibandingkan agregat input yang
diperlukan untuk menyediakan layanan tertentu.
o Income per capita atau Standar hidup (standard of living);
o Kelompok masyarakat yang disasar sebagai pelanggan,
dibedakan berdasarkan kota/pedesaan atau kaya/miskin,
perusahaan/individu, komersial/sosial, dan lain sebagainya;
o Tingkat penetrasi telepon (teledensity) pada masing –
masing wilayah; dan
o Elastisitas permintaan.

Simpulan
• Tarif tidak hanya menjadi urusan pemerintah - dalam hal ini
Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, selaku Regulator – dan
operator telekomunikasi, namun juga menjadi urusan banyak pihak.
• Tarif mempunyai implikasi ekonomi, sosial, dan politik
• Makin kuatnya desakan untuk adanya transparansi dalam
menetapkan kebijakan tarif, tidak hanya melibatkan Regulator dan
Operator, namun juga masyarakat pelanggan.
• Dalam konteks pasar yang kompetitif, dirasa perlu untuk
meninjau kembali formula tarif yang saat ini berlaku.
• Untuk menuju industri jaringan dan jasa telekomunikasi yang
efisien dan berdaya saing, pemerintah perlu mendorong
digunakannya formula kebijakan tarif yang berbasiskan biaya.
• Kebijakan tarif yang adil, adalah kebijakan penetapan tarif
telekomunikasi yang dapat memberi peluang operator untuk
tumbuh namun di sisi lain juga memperhatikan kepentingan sosial
ekonomi masyarakat majoritas Indonesia.

*****

Referensi:
1. Christopher T. Marsden, ed,(2000) Regulating The Global
Information Society.
2. Gorgoi Toure (2000), COSITU, The ITU model for th ecalculation
of telephone service costs, tariffs and interconnection charges.
3. Dr. Mohammad Abu Sayed Khan, Report on Tariff
Rebalancing.

6
7