Anda di halaman 1dari 16

Pornografi Anak Di Internet:

Ancaman Bagi Anak Indonesia

Sebuah Analisis Dan Usulan Kebijakan Terhadap


Fenomena Maraknya Pornografi Anak Di Internet.

Ditulis Oleh:
Mas Wigrantoro Roes Setiyadi

 Mahasiswa S3 Strategic Managemen, PSIM-FEUI


 Aktivis Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia
 Direktur Institute for Technology and Economics Policy Studies
(INSTEPS)
 Ketua Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL)
Jakarta 1 Juni 2006

1. Pendahuluan
Dekade terakhir banyak negara berkembang di dunia melihat Internet sebagai
sarana bagi upaya pembangunan ekonomi dan sumber daya manusia. Pada saat
bersamaan, tak dapat dihindari, suatu kenyataan bahwa Internet pada akhirnya juga
dimanfaatkan oleh para pihak yang hanya mementingkan diri sendiri, menggunakan
Internet untuk tindakan kejahatan, merusak moral, bahkan sebagai sarana melakukan
tindakan teror. Sampai pada titik ini, kewaspadaan diperlukan bagi siapa saja pengguna
Internet agar tidak terjebak sebagai korban, atau menjadikan dirinya sebagai pelaku
tindak kejahatan melalui Internet.
Penggunaan Internet yang sudah sedemikian meluas, dengan dorongan dan
dukungan dari pemerintah, bahkan menjadi sasaran pembangunan abad milenium
(Millenium Development Goals) yang dicanangkan pada forum World Summit
Information Society (WSIS) di tahun 2004 lalu, dipercaya memberikan manfaat besar
sekali. Petani, perajin dan pedagang kecil menengah yang semula mengalami kesulitan
dalam memasarkan produknya, menjadi memiliki peluang yang sama besarnya dengan
perusahaan multinasional ketika mereka sudah sama – sama memanfaatkan Internet.
Demikian pula layanan publik yang diberikan oleh instansi pemerintah. Di banyak negara
yang telah menerapkan electronic government, layanan publik menjadi lebih efisien,
kepuasan masyarakat meningkat, dan tentu saja peluang korupsi menjadi semakin kecil.
Selain manfaat, Internet juga mendatangkan mudharat bagi pengguna yang tidak
paham benar mengenai bahayanya ber-Internet (sebagai korban kejahatan Internet), atau
digunakan oleh mereka yang berniat jahat (pelaku kejahatan Internet). Kerusakan sosial
yang disebabkan Internet sudah mulai dirasakan sebagai ancaman bagi eksistensi Internet
itu sendiri, maupun bagi harmoni kehidupan masyarakat dunia. Berbagai fora dunia
memberikan perhatian besar bagi masalah penyipangan penggunaan Internet. Hal ini
dilakukan menyusul berjatuhannya korban dan kerugian yang jumlahnya ratusan milyar
dolar.
Kerugian tidak hanya berupa kerusakan perangkat dan jaringan seperti ketika
komputer diserang virus, atau jaringan akses disesaki dengan trafik Internet palsu, atau

2
dikirim program yang menghapus hard disk secara otomatis, atau dikirim rutin program
yang mengopy isi hardisk dan mengirimnya ke berbagai alamat email secara random;
atau kerugian ekonomi yang disebabkan oleh rusaknya sistem dan berhentinya layanan
bisnis; namun pada banyak kasus mulai mengarah kepada destruksi harmoni masyarakat,
karena makin maraknya konten Internet yang bersifat menghasut, memfitnah, berbohong,
dan yang lebih serius adalah digunakannya Internet untuk menayangkan gambar, suara
dan kalimat yang dapat digolongkan sebagai pornografi dengan pelaku dan sasaran anak
– anak. Bagi sementara pihak – kalangan paedofile - tayangan pornografi anak di Internet
dianggap sebagai hiburan untuk memuaskan birahi seksual yang hanya bisa terpenuhi
bila berhubungan dengan anak – anak di bawah usia 18 tahun. Namun demikian perilaku
menyimpang ini, berdampak psikologis yang merusak moral dan masa depan anak.
Di pihak lain, sejalan kecanggihan Teknologi Informasi dan Internet, dengan
kemampuannya mengkompresi data gambar ke dalam format MPEG memungkinkan
pengguna Internet men-download gambar serial (film) yang menyajikan pornografi
dengan mudah dan gratis. Tersedianya perangkat VCD dan atau DVD Burners,
digunakan oleh sebagian orang untuk menggandakan downloaded-file berisi tayangan
pornografi gratis tersebut ke dalam VCD atau DVD dan dijual sangat murah. Modus
penjualannya-pun tidak hanya dipasang di toko penjual VCD/DVD bajakan, namun mata
rantainya sudah sampai ke sekolah bahkan komplek perumahan.
Larangan pornografi anak sudah merupakan kebijakan universal, bahkan Amerika
Serikat dan Swedia yang paling liberal-pun sudah mengeluarkan Undang – Undang yang
melarang Pornografi Anak. Di kawasan APEC, dari 19 negara anggota (anggota APEC
ada 21, 2 di antaranya bukan berstatus negara), hanya Indonesia yang belum memiliki
Undang – Undang yang melarang pornografi anak. Akankah kita manusia dewasa
menganggap pornografi anak sebagai hiburan, atau ancaman bagi moralitas dan masa
depan anak Indonesia.

2. Bagaimana Internet Masuk ke Indonesia


2.1. Internet
Berawal dari kebutuhan untuk mengembangkan sekaligus melindungi dari bahaya
senjata nuklir, pada tahun 1964 Departemen Pertahanan Amerika Serikat membangun

3
jaringan komputer tanpa central hub, dan switching station1. Proyek yang diberi nama
Advanced Research Projects Agency (ARPA) ini semula bertujuan untuk memperbaiki
dan menyempurnakan kelemahan dari jaringan komputer yang sudah ada, ketika itu bila
central hub tidak berfungsi maka seluruh jaringan akan berhenti (down). Dalam konteks
pertahanan, jaringan komputer harus tetap berfungsi meskipun ada serangan bom nuklir
menghancurkan fasilitas komputer.
Perkembangan berikutnya, pada tahun 1980, ketika mulai muncul Personal
Computer (PC) timbul kebutuhan untuk menghubungkannya dalam jaringan komputer
yang lebih besar untuk saling – tukar informasi. Universitas California Berkeley adalah
lembaga yang pertama kali membangun jaringan kampus berprotokol Transmission
Control Protocol/Internet Protocol (TCP/IP) dengan sistem operasi UNIX. Jaringan
kampus ini kemudian berkembang dan mampu dihubungkan dengan jaringan lain milik
National Science Foundation (NSF) membentuk NSFNET. Dengan dipakainya NSFNET
oleh hampir semua perguruan tinggi di Amerika Serikat, maka mahasiswa dapat
menggunakan Internet, walau dalam prakteknya masih terbatas pada departemen – depar-
temen matematika, sains, dan computer science.
Pertumbuhan dan komersialisasi Internet mulai terlihat sejak tahun 1991 ketika
dibentuknya Commercial Internet Exchange (CIX), suatu organisasi swasta yang terdiri
dari 60 perusahaan Internet Access Providers bekerja sama membiayai pembangunan
jaringan fisik yang dihubungkan dengan jaringan milik publik (publicly-owned
networks), sehingga memungkinkan informasi komersial ditransmisikan melalui Internet.
Mengalirnya informasi komersial melalui Internet membawa dampak yang signifikan
dalam praktek bisnis. Melalui Internet kalangan bisnis dapat memasarkan produknya ke
seluruh dunia tanpa harus terhambat oleh dimensi ruang dan waktu. Dengan kata lain,
Internet mampu mengatasi hambatan perdagangan yang ditetapkan suatu negara terhadap
mitra dagang asing2.
Perkembangan berikutnya, penggunaan Internet mendorong perubahan pada
struktur organisasi perusahaan dari hirarkis kepada organisasi jaringan (network
organization), trend perubahan ini selanjutnya memungkinkan munculnya semakin
1
Cameron, Deb, The Internet: A Global Business Opportunity, 1st edition, 1994, Computer Technology
Research Corp.
2
Lester C Thurow, Buidling WEALTH,The New Rules for Individuals, Companies, and Nations in a
Knowledge-Based Economy,1999, Harper Collins.

4
banyak perusahaan baru yang menggunakan Internet sebagai basis usaha, menggantikan
pola bisnis tradisional3. Perusahaan – perusahaan ini menciptakan nilai (value) yang
diwujudkan dalam produk dan jasa yang dipasarkan melalui Internet.
Adanya Internet memungkinkan masyarakat untuk dapat berkomunikasi dalam
bentuk yang lebih bervariasi; tidak seperti telepon yang hanya mampu menyampaikan
suara, faksimili untuk text dan gambar, televisi untuk gambar dan suara namun tidak
dapat dua arah; melalui Internet, suara, text , dan gambar ditransmisikan secara
bersamaan dan terjadi komunikasi dua arah. Lebih lanjut, dampak dari kecanggihan
Internet ini adalah dimungkinkannya melakukan transaksi dagang secara elektronis
sehingga para pihak yang bertransaksi tidak perlu saling berhadapan dalam dimensi ruang
dan waktu yang bersamaan.

2.2. Nama Domain


Dalam Internet, setiap komputer terhubung ke jaringan memerlukan alamat
(address) yang unik dalam bentuk IP address. Pada mulanya pengalamatan menggunakan
kombinasi angka 32 digit, namun hal ini bukan merupakan hal yang mudah untuk diingat.
Pada dasarnya komputer sudah mampu mengenali alamat dalam bentuk IP address,
namun tidak demikian halnya dengan manusia, karena urutan angka yang membentuk
alamat sulit diingat. Untuk mengatasinya digunakanlah nama host (host name), sehingga
mempermudah manusia mengoperasikan jaringan komputer.
Sebagai contoh, http://www.yahoo.com dan http://204.71.200.72 adalah dua
Universal Resource Locater (URL) yang identik. Teknik pengalamatan di awal
munculnya Internet adalah menggunakan tabel. Masing – masing host/komputer
menyimpan daftar kombinasi nama komputer dan IP address, pada file yang dinamakan
HOSTS.TXT. File ini berisi nama dan IP address seluruh komputer yang terkoneksi ke
Internet. Setiap kali ada perubahan atau penambahan host baru file ini diperbaharui dan
dikirim ke seluruh anggota jaringan. Ketidak – praktisan muncul ketika host/komputer
yang terhubung ke Internet meningkat pesat mencapai puluhan ribu bahkan juta
sambungan.
Pada tahun 1984 Paul Mockapertis mengusulkan sistem data base pengalamatan
terdistribusi untuk menggantikan sistem pengalamatan sebelumnya yang menggunakan
3
Don Tapscott, ed, Creating Value in The Networked Economy, 1999, Harvard Business Review.

5
table alamat IP. Dengan sistem pemberian nama host yang terdistribusi ini masing –
masing organisasi anggota jaringan hanya bertanggung jawab terhadap database yang
berisi informasi jaringan miliknya saja. Sistem baru ini disebut Domain Name System
(DNS) dan berlaku hingga sekarang. Selain untuk memetakan IP address dan Nama
Host, DNS juga digunakan sebagai sarana bantu penyampaian electronic mail (e-mail).

2.3. World Wide Web


Perkembangan Internet tidak akan menjadi demikian besar seperti sekarang bila
tidak muncul aplikasi jaringan yang membentuk World Wide Web (www) yang
diciptakan oleh Tim Bernes-Lee dari The European Particle Physics Laboratory (CERN)
di Geneva, Swiss4. Berbeda dengan aplikasi sejenis yang muncul sebelumnya, www
memberikan suatu cara untuk mengintegrasikan berbagai aplikasi pencari (search engine)
ke dalam satu antarmuka (interface). www adalah suatu program client/server yang dapat
diakses oleh aplikasi pengurut (browser).
Sebelum berkembangnya www, Internet umumnya hanya digunakan oleh
kalangan akademisi dan riset. Pada tahun 1993 NCSA meluncurkan piranti lunak Mosaic,
suatu browser www dengan kemampuan grafik yang dapat digunakan pada seluruh
sistem operasi komputer yang - waktu itu - banyak dipakai seperti: X, PC/Windows, dan
Macintosh. Munculnya Mosaic semakin meningkatkan penggunaan Internet dan lalu
lintas data melalui www, pada tahun yang sama mencapai 342,000% dibandingkan
dengan pertumbuhan jenis browser lainnya seperti Gopher yang hanya mencapai 997%
saja5. Dunia bisnis dan media pun serta merta mulai memerhatikan Internet karena
perkembangan di atas. Hadirnya Mosaic ternyata menjadi titik belok perkembangan
Internet dari yang semula hanya digunakan oleh kalangan akademisi dan riset menjadi
digunakan oleh banyak orang untuk bisnis dan hiburan.

2.4. Website
Web browser menggunakan konsep Uniform Resource Locater (URL) untuk
mengakses layanan tertentu pada jaringan Internet. URL mengandung nama skema yang
digunakan diikuti oleh tanda titik dua dan string yang pengertiannya bergantung pada

4
Deb Cameron, The Internet, A Global Business Opportunity, Computer Technology Research Corp. 1994.
5
Onno W. Purbo, Adnan Basalamah, Ismail Fahmi, Achmad Husni Thamrin; TCP/IP, Standar, Desain,
dan Implementasi, edisi 6, 2001, Elex Media Komputindo.

6
skema yang digunakan. Contoh URL, misalnya: http://www.yahoo.com/Arts/Humanities/
Layanan www saat ini merupakan layanan yang paling populer di antara seluruh jenis
layanan jaringan komputer yang menggunakan protokol komunikasi Transmission
Control Protocol/Internet Protocol (TCP/IP) termasuk Internet6. Server www diakses
dengan menggunakan www browser seperti Netscape dan Internet Explorer dari
Microsoft. Protokol yang digunakan untuk layanan www ini adalah Hypertext Transfer
Protocol (HTTP).

2.5. Konfigurasi Internet


Internet sebagai jaringan komputer global menyambung berjuta komputer di
seluruh dunia. Pada level tertinggi, terdapat jaringan tulang punggung (backbone) berupa
jaringan serat optik antar-negara, antar-benua atau kombinasi dengan satelit yang
sehingga menjangkau seluruh wilayah di permukaan bola dunia ini. Kedua jaringan optik
dan satelit ini sebelumnya sudah dipakai untuk menyalurkan trafik telekomunikasi biasa.
Dengan demikian negara – negara yang memiliki akses ke jaringan serat optik antar-
benua atau satelit regional dan internasional dapat memiliki akses ke Internet.
Dari jaringan backbone (first tiers), trafik Internet diturunkan di suatu negara
melalui International Internet Gateway (IIG) yang dikelola oleh Network Access Provider
(NAP). Di beberapa negara seperti China, Singapore, Malaysia IIG dikuasai oleh negara,
jumlahnya juga dibatasi, dan trafik yang mengalir di dalamnya dimonitor. Di negara –
negara lain, seperti Jepang, Korea, Amerika Serikat, dan Eropa IG diselenggarakan oleh
swasta serta tidak ada pengawasan konten. Di Indonesia, semula IIG hanya ada 2, milik
Telkom dan Satelindo (yang kemudian dimerger dengan Indosat). Pemerintah dalam hal
ini Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Postel) kemudian mengeluarkan izin
NAP, sehingga pada saat ini ada 22 NAP yang beroperasi secara legal.
NAP tidak tidak melayani langsung akses Internet kepada pengguna akhir,
layanan pada level ketiga ini dilakukan oleh Penyedia Jasa Akses Internet (PJI) atau
Internet Service Provider (ISP). Pelanggan atau pengguna Internet terhubung ke Point of
Present atau Network Operating Center (NOC) yang dikelola oleh ISP. Sambungan ini

6
Dalam dunia komunikasi data komputer, diperlukan protokol untuk mengatur bagaimana sebuah
komputer berkomunikasi dengan komputer lainnya. TCP/IP adalah sekelompok protokol yang mengatur
komunikasi data komputer di Internet.

7
dapat menggunakan saluran telepon biasa (PSTN) dengan cara menghubungi nomor
telepon tertentu yang menjadi alamat POP, atau menggunakan saluran sewa (leased line)
seperti layanan Speedy, atau menggunakan transmisi radio gelombang mikro.
Sambungan dapat dilakukan dari rumah, kantor, warung Internet (warnet), atau dari
lokasi lain sepanjang tersedia sarana akses. Pada saat ini, akses ke Internet dapat
dilakukan menggunakan handphone, sehingga hambatan sambungan dapat diatasi.
Selain pengakses informasi, dalam konfigurasi Internet terdapat Penyedia
Layanan/Konten. Mereka tersambung ke Internet sama seperti pengakses informasi.
Perbedaannya, mereka menyediakan beragam konten sebagaimana dapat ditemukan di
Internet, seperti pengelola www.detik.com atau www.mastel.or.id dan lain sebagainya.
Selain penyedia konten terdapat pula penyedia jasa hosting atau co-location, yakni pihak
yang menyewakan lokasi untuk menempatkan konten dan atau server sehingga dekat
dengan Internet Exchange.

2.6. Pengelolaan Sumber Daya Internet


Secara umum sumber daya Internet ada dua: Nama Domain dan Alamat Internet
Protocol(IP Adress). Agar pemanfaatannya efektif dan efisien perlu dibuat pengaturan.
Pada tataran internasional lembaga yang mengatur sumber daya Iternet adalah Internet

8
Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN). Dibawah ICANN terdapat
pengelola pada tingkat regional, untuk wilayah Asia Pacific lembaga ini adalah Asia
Pacific Network Information Center (APNIC). APNIC mengoordinasikan pengelola di
tingkat negara, yang disebut Country-Code Top Level Domain (CC-TLD).
Di Indonesia pengelola sumber daya Internet sempat mengalami guncangan
karena perselisihan antar-pengelolanya. CC-TLD yang semula bernama IDNIC
(Indonesia Network Information Center) berfungsi hanya sebagai pencatat (registrar)
nama domain dengan akhiran .id sedangkan alokasi IP Adress dilakukan oleh Asosiasi
Penyedia Jasa Akses Internet Indonesia (APJII). Pengelolaan sumber daya Internet di
Indonesia sejak awal diselanggarakan oleh swasta dan kalangan akademisi hal in
disebabkan ketika Internet baru masuk Indonesia, tidak ada satupun pejabat pemerintah
yang memahami dan atau tertarik untuk ikut mengelolanya.
Keunikan Internet, kebijakan pemberian hak nama domain antar negara berbeda –
beda. Amerika Serikat membolehkan non-warga Amerika menggunakan akhiran .com
yang merupakan nama domain Amerika. Demikain juga negara – negara di Pasifik
Selatan. Kebijakan semacam ini memiliki dampak positif dan negatif bagi maju
kembangnya Internet termasuk damapk terhadap kontenyang bersifat negatif. Pengelola
nama domain Indonesia, tidak mengijinkan penggunaan .id di luar warga negara
Indonesia.

3. Kejahatan Internet
Sebagaimana dikemukakan di muka, karakter Internet yang netral pada akhirnya
menjadi tidak netral karena posisinya ditentukan oleh penggunanya. Ketika digunakan
untuk kebaikan jadilah Internet sebagai pahlawan, namun manakala digunakan untuk
tindak kejahatan jadilah Internet sebagai sarana canggih merugikan masyarakat. Satu hal
yang tidak dapat dielakkan, munculnya Internet ternyata juga memicu tumbuhnya jenis –
jenis kejahatan baru atau modus kejahatan baru yang sebelumnya tidak pernah ada.
Pelaku dan korban tidak harus berada pada dimensi ruang dan waktu yang sama,
seringkali seseorang tidak mengetahui atau merasa bahwa dirinya telah menjadi kejahatan
di Internet, seperti misalnya ketika nomor kartu kreditnya dicuri dan digunakan untuk
belanja di Internet. Atau seorang remaja yang diberi sajian tayangan porno, pada akhirnya
tanpa disadari menjadi kecanduan.

9
Pada perkembangannya, ternyata penggunaan internet tersebut membawa sisi
negatif, dengan membuka peluang munculnya tindakan-tindakan anti-sosial dan perilaku
kejahatan yang selama ini dianggap tidak mungkin terjadi. Sebagaimana sebuah teori
mengatakan: "crime is a product of society its self", yang secara sederhana dapat
diartikan bahwa masyarakat itu sendirilah yang melahirkan suatu kejahatan. Semakin
tinggi tingkat intelektualitas suatu masyarakat, semakin canggih pula kejahatan yang
mungkin terjadi dalam masyarakat itu.
Ada banyak jenis kejahatan di Internet yang perlu diwaspadai, seperti spyware,
spamming, pengiriman worm atau virus, pencurian identitas, gangguan terhadap privasi,
dan percabulan atau pornografi terutama pornografi menggunakan anak sebagai model.
Berdasarkan beberapa literatur serta prakteknya, kejahatan Internet memiliki karakter
yang khas dibandingkan kejahatan konvensional (Ari Juliano Gema, 2001), yaitu antara
lain:
• Perbuatan yang dilakukan secara ilegal, tanpa hak atau tidak etis tersebut terjadi
di ruang/wilayah maya (cyberspace), sehingga tidak dapat dipastikan yurisdiksi
hukum negara mana yang berlaku terhadapnya .
• Perbuatan tersebut dilakukan dengan menggunakan peralatan apapun yang bisa
terhubung dengan internet
• Perbuatan tersebut mengakibatkan kerugian materil maupun immateril (waktu,
nilai, jasa, uang, barang, harga diri, martabat, kerahasiaan informasi) yang cenderung
lebih besar dibandingkan kejahatan konvensional
• Pelakunya adalah orang yang menguasai penggunaan internet beserta aplikasinya
• Perbuatan tersebut seringkali dilakukan secara transnasional/melintasi batas
negara

4. Pornografi Anak
Pornografi anak tergolong kejahatan. Dengan demikian tayangan situs pornografi
anak di Internet juga merupakan tindak kejahatan. Persoalannya, pencegahan dan
penindakan terhadap pelaku kejahatan pornografi anak di Internet masih tergolong sulit

10
dilakukan. Berdasarkan penelitian dan pengamatan setidaknya ada tiga model pornografi
anak di Internet. Pertama, situs pornografi anak yang secara eksplisit menayangkan
gambar anak sebagai model dan menawarkan jasa seksual kepada orang dewasa. Kedua,
situs pornografi anak yang dikemas menggunanakan kamuflase seolah – olah
menawarkan layanan sosial semacam orang tua asuh, panti sosial, lembaga pendidikan
yang menghimpun anak telantar, dan lain sebagainya. Situs ini mengundang anak – anak
agar menjadi penerima layanan namun pada akhirnya dijebak dan dipromosikan kepada
para paedofile. Ketiga, situs pornografi anak atau milis, atau sarana tukar informasi
semacam ICQ, Yahoo Messenger, atau Chat Room yang dikelola oleh kalangan anak atau
remaja sendiri. Melalui media komunikasi ini anak-anak atau remaja bertukar informasi
seputar aktivitas seksual bahkan ada yang melakukan transaksi jasa seksual.
Maraknya pornografi anak di Internet diduga didorong oleh beberapa hal antara
lain namun tidak terbatas pada:
1. efektifitas tinggi, tayangan menjangkau seluruh dunia;
2. biaya sewa jaringan dan hosting makin murah;
3. makin mudah dalam membuat situs Internet, makin banyak orang yang dapat
membuat website;
4. merupakan peluang bisnis, bahkan sudah menjadi industri yang memberikan
keuntungan tinggi;
5. makin banyak peminatnya, disebabkan kebutuhan, atau hilang dan atau
berkurangnya keimanan dan ketaqwaan manusia;
6. belum ada regulasi yang melarang, atau kalaupun sudah ada penegakan
hukumnya lemah;
7. makin banyaknya pengguna Internet;
8. coba – coba, penasaran pengin tahu; dan
9. lemahnya bimbingan dan atau pengawasan dari orang tua, terutama untuk
pengguna Internet yang mengakses dari rumah.

5. Ancaman, Bukan Hiburan


Ada sekelompok orang yang menganggap pornografi anak di Internet merupakan
hiburan, pemenuhan dorongan syahwat. Mereka yang tergolong kelopok ini selalu
berusaha mencari cara agar kebutuhan seksualnya dapat dipenuhi melalui hubungan

11
seksual dengan anak – anak, atau membayangkan berhubungan seksual dengan anak –
anak. Dikatakan hiburan karena aktivitas seksual dengan anak diyakini sangat
memuaskan dibandingkan dengan bila mereka berhubungan dengan orang dewasa. Pada
umumnya anak – anak yang menjadi objek seksual tidak memiliki kekuatan atau
keberanian untuk menolak, sehingga posisinya benar – benar sebagai pelayan pemenuhan
nafsu seks orang dewasa. Para paedofile, tidak dituntut untuk memberikan kepuasan
seksual kepada anak – anak sebagaimana bila mereka berhubungan seks dengan orang
dewasa.
Di pihak lain, anak – anak yang kecanduan menikmati tayangan pornografi di
Internet, cenderung menganggap hal tersebut sebagai suatu hiburan dan lama kelamaan
malah sebagai suatu kelaziman. Ada proses kecanduan, terjerat ke dalam aktivitas yang
seolah mengasyikan, namun sebenarnya mengancam masa depan anak – anak. Bagi anak
– anak, pornografi yang menjadikan mereka aktor atau sasaran sejatinya merupakan
petaka, tidak saja bagi kelompok anak, tetapi juga bagi orang tua, masyarakat, negara dan
bangsa.
Tanpa disadari oleh anak – anak, mereka yang terlibat pornografi sebenarnya
mengalami dua tuna, potensi sebagai pelaku dan sekaligus sebagai korban. Pada
umumnya, tahap pertama anak – anak menjadi korban, baik sebagai model tayangan di
situs porno, sebagai objek pemuasan nafsu para paedofile , dan atau penikmat tayangan
pornografi yang tersaji di Internet. Setelah berlangsung beberapa lama, tanpa disadari
terjadi perubahan perilaku pada ketiga kelompok anak ini, peran sebagai model
dihayatinya dan ketika sudah muncul libido pada fisiknya mereka dapat menjadikan
teman sebaya sebagai objek pemuasan libido. Proses yang hampir serupa terjadi pada dua
kelomopk lainnya. Siksaan yang semula dirasakan, lama kelamaan dipersepsikan sebagai
kenikmatan. Kenikmatan ini perlu “dibagi” dengan teman sebaya, bukan dengan orang
dewasa karena mereka tidak punya kekuatan “membalas” kepada kelompok dewasa.
Adapun kelompok ketiga, bila menyaksikan tayangan situs porno sendirian,
kemungkinan yang terjadi adalah melakukan masturbasi/onani, atau kemudian keluar
mencari pelampiasan dengan sasaran sesuai kekuatan yang dimilikinya. Bila
menyaksikan ramai – ramai, untuk menyelesaikan rangsangan yang timbul dari pengaruh

12
situs porno, kecenderungannya melakukan masturbasi/onani bersama, atau dilanjutkan
dengan hubungan seks layaknya dilakukan oleh orang dewasa.

6. Dunia Melarang Pornografi Anak


Larangan pornografi anak bersifat universal. Berbeda dengan pornografi dewasa
yang acapkali menimbulkan pro-kontra ketika suatu negara hendak membuat peraturan
perundangan, penelitian membuktikan banyak negara – termasuk yang paling liberal
dalam persoalan pornografi – melarang tindakan anggota masyarakat melakukan aksi
pornogfai anak – anak. Yang dimaksud dengan pornografi anak adalah produk grafis
cetak dan elektronik yang menggambarkan bagian – bagian tertentu tubuh anak yang
dimaksudkan untuk merangsang libido dan atau yang menggambarkan aktivitas seksual
dengan anak sebagai modelnya.
Di lingkungan APEC, dari 19 negara anggota (anggota APEC ada 21 wilayah
ekonomi, 2 di antaranya bukan berstatus negara) Indonesia merupakan satu – satunya
negara yang belum secara eksplisit melarang pornografi anak – anak.
Di beberapa negara Eropa seperti Jerman, Belanda, Inggris, Perancis, Italy,
Finlandia, Swedia, dan lain – lain pornografi dewasa pada umumnya tidak dilarang.
Namun demikian, pornografi anak dilarang melalui undang – undang.
Larangan tidak terbatas pada menyediakan Undang – Undang saja, namun di
beberapa negara seperti China, Malaysia dan Singapura pemerintah setempat
mengharuskan trafik Internet dimonitor, khususnya guna mencegah konten internet yang
mengandung tayangan pornografi.

7. Kerangka Hukum Internet Di Indonesia


Rujukan hukum yang melarang tindakan tidak menyenangkan, kecabulan, dan
asusila sudah tersedia dalam KUHP. Namun demikian, selain hukumannya sangat ringan
untuk ukuran sekarang, penegakan hukumnyapun seringkali mengalami hambatan,
terutama ketika berhadapan dengan pornografi di Internet. Undang – undang
Perlindungan Anak juga sudah ada, tetapi belum memadai bagi perlindungan anak yang
disebabkan oleh ancaman tersamar yang muncul melalui tayangan pornografi anak –
anak di Internet.

13
Sejak tahun 1998, Pemerintah membuat RUU Informasi dan Transaksi Elektronik
(RUU-ITE) yang mengusulkan pengaturan dalam pemanfaatan Teknologi Informasi
termasuk Internet. Sampai hari ini RUU tersebut belum disahkan. Salah satu kekurangan
dalam RUU ini adalah secar aspesifik tidak mengatur masalah pornografi anak di
Internet. Global Internet Policy Initiative (GIPI) sebuah lembaga swadaya masyarakat
yang bergiat dalam advokasi kebijakan publik di bidang Teknologi Informasi, pada bulan
November 2003 mengirimkan naskah RUU Tindak Pidana Teknologi Informasi (RUU-
Tipiti) kepada jajaran DPR dengan harapan dapat dijadikan RUU usulan DPR. Dalam
RUU-Tipiti tersebut secara eksplisit diatur mengenai larangan pornografi anak – anak.
Beberapa aspek terkait dengan penyelenggaraan Internet yang perlu mendapat
perhatian pembuat kebijakan publik:
1. Hak Cipta (Copy Rights)
2. Hak Merek (Trademark)
3. Pencemaran nama baik (Defamation)
4. Fitnah, penistaan, penghinaan (Hate Speech)
5. Serangan terhadap fasilitas komputer (Hacking, Viruses, Illegal Access)
6. Pengaturan Sumberdaya Internet seperti IP-adress, Domain Name, dan lain – lain.
7. Kenyamanan Individu / Privasi (Privacy)
8. Prinsip kehati – hatian (Duty Care), termasuk dalam hal ini adalah negligence
9. Tindakan kriminal (Criminal Liability) biasa yang menggunakan TI sebagai alat.
10. Isu prosedural, seperti jurisdiksi, pembuktian, penyidikan, dan lain – lain
11. Kontrak / Transaksi elektronik dan tanda tangan digital/elektronik
12. Pornografi, termasuk pornografi anak - anak
13. Pencurian melalui Internet
14. Perlindungan konsumen
15. Pemanfaatan Internet dalam aktivitas keseharian manusia, seperti e-dagang, e-
penyelenggaraan-negara, e-perpajakan, e-pendidikan, e-layanan-kesehatan, dan lain
sebagainya.

8. Saran Kebijakan
Proses pembuatan UU-APP, UU-ITE, atau UU-TIPITI masih panjang, sementara
permasalahan penanggulangan dan pencegahan bahaya pornografi anak tidak bisa
ditunda. Memperhatikan proses pembuatan peraturan perundangan, kewenangan DPR

14
dan kewenangan yang dimiliki Pemerintah, beberapa langkah kebijakan perlu
dipertimbangkan untuk dapat ditindak – lanjuti.
1. Memasukkan klausa pelarangan aktivitas pornografi anak ke dalam substansi UU-
APP, ITE, dan undang – undang lain yang terkait;
2. Pemerintah, mengacu pada UU Telekomunikasi, UU Perlindungan Anak, dan UU
lain yang relevan dapat menerbitkan Peraturan Pemerintah yang substansinya
melarang penerbitan, penayangan konten pornografi anak di media massa temasuk di
Internet;
3. Menteri Komunikasi dengan kewenangan yang ada padanya, membuat Peraturan
Menteri yang mengharuskan setiap NAP, ISP, Warnet, Operator Jaringan dan Jasa
Telekomunikasi memasang filter guna mencegah konten pornografi anak;
4. Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi dengan kewenangan yang ada padanya
membuat Surat Keputusan Dirjen yang mengatur tentang standar layanan NAP, ISP
dan Warnet. Khusus untuk Warnet perlu ada standar lokasi, sehingga terlihat
transparan, para pemakainya dapat saling lihat, guna mencegah berlangsungnya
aktivitas seksual di dalam Warnet;
5. Menteri Pendidikan Nasional bekerja sama dengan Menteri Sosial beserta jajaran
di bawahnya melakukan edukasi dan sosialisasi anti-pornografi anak, ber-Internet
secara sehat
Selain langkah kebijakan tersebut di atas, perlu dihimbau kepada para orang tua
agar:
1. bagi yang sudah memiliki komputer dan akses Internet di rumahnya,
menempatkan komputer tersebut di ruang keluarga, atau ruang lain yang mudah
dilihat siapa saja, ketika seseorang sedang menggunakannya;
2. menggunakan software asli, dan secara rutin melakukan update, memasang anti
virus, agar komputer tidak disusupi virus, spam, trojan horse, spyware dan berbagai
malicious codes lainnya.
3. mendampingi anak ketika mereka sedang menggunakan komputer untuk
mengakses Internet;
4. ikut belajar menggunakan Internet agar mengengerti apa saja yang dilakukan anak
di Internet; dan

15
5. memasang perangkat software yang dapat mem-filter konten pornografi.

16