Anda di halaman 1dari 6

Cyberlaw: Apa dan Bagaimana

Ditulis Oleh: Mas Wigrantoro Roes Setiyadi

Pendahuluan
Perbincangan mengenai cyberlaw di Indonesia sudah mulai ramai sejak awal tahun 1998
menyusul makin maraknya pemanfaatan Internet di kalangan pemerintahan maupun
bisnis dan menjadi semakin intensif belakangan ini menyusul pembahasan Rancangan
Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (RUU ITE). Namun demikian, hingga hari
ini sebetulnya belum ada kesepahaman di antara pelaku dan mereka yang terlibat dalam
wacana cyberlaw mengenai apa dan bagaimana sebenarnya cyberlaw di Indonesia.
Kesepahaman mengenai definisi, sifat, ruang lingkup, substansi, dan daya - tindak
mengenai cyberlaw menjadi isu strategis mengingat dari tataran ini, akan ditindak lanjuti
dengan langkah – langkah konstruktif untuk membangun cyberlaw. Sayangnya
pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah dalam mempersiapkan apa yang mereka
sebut “cyberlaw” tidak menggunakan pola pengembangan kebijakan publik yang
sistematis, melainkan menggunakan pendekatan politis-pragmatis sehingga yang muncul
adalah suatu rancangan kebijakan berupa RUU yang hanya sepotong – sepotong
mengatur pemanfaatan teknologi yang sudah begitu luas penggunaannya di berbagai
aspek kehidupan manusia.

Munculnya diskursus cyberlaw tidak lepas dari fenomena konvergensi teknologi


informasi dan telekomunikasi yang wujudnya dengan mudah dikenali dalam bentuk
Internet. Ketika telekomunikasi masih didominasi oleh teknologi analog, kemampuan
yang dimilikinya masih relatif terbatas, baik dalam kelengkapan (features) maupun
berbagai jenis layanan yang dapat ditawarkan. Sebagai contoh, pesawat dan jaringan
telepon tetap (PSTN), ketika masih menggunakan teknologi analog tidak dapat
menyediakan fasilitas redial atau menyimpan nomor – nomor telepon tertentu. Dengan
teknologi digital, pesawat telepon rumah sudah lazim dilengkapi dengan fasilitas redial,
memory, bahkan dapat digunakan untuk mengirim dan menerima Short Message Services
(SMS), sebagaimana pada hand phone. Kemajuan dalam layanan telepon ini, menjadi
lazim sesudah teknologi telekomunikasi menggunakan teknologi digital yang menjadi
dasar dari sistem kerja komputer. Perkembangan lebih jauh dari pemanfaatan teknologi
komputer dalam telekomunikasi salah satunya ditandai dengan adanya layanan yang
berbeasis jaringan pintar (Intelligent Network), yakni pengendalian berbagai layanan
telekomunikasi yang dilakukan oleh sistem komputer dengan sedikit keterlibatan
manusia.

Di sisi lain, teknologi informasi yang semula hanya berbicara di wilayah teknologi digital
dan komputer beserta peripheral pendukungnya lambat laun bergeser ke pemenuhan
tantangan bagaimana satu sistem komputer dapat berkomunikasi dengan sistem komputer
lainnya. Dari sinilah muncul apa yang kemudian disebut Komunikasi Data, yang
mendasari dibangunnya Local Area Network (LAN). Untuk memenuhi kebutuhan
komunikasi antar-sistem komputer dalam wilayah geografis yang lebih luas, suatu LAN
tidaklah mencukupi. Sebagai solusinya maka digunakanlah teknologi telekomunikasi
untuk mendukung teknologi informasi. Muncullah kemudian Internet, suatu jaringan

1
komputer global di mana penggunanya dapat mengakses ke jaringan dari mana saja,
kapan saja dan dapat berbicara dengan siapa saja.

Internet merupakan revolusi dalam kehidupan manusia yang semakin menguatkan


pendapat bahwa teknologi informasi dapat memasuki berbagai aspek kehidupan manusia.
Selanjutnya, Internet dianggap memiliki dua peran: sebagai alat (means) dan sebagai
tujuan (ends). Hakikat alat adalah mempermudah pekerjaan, demikian pula dengan
Internet. Dalam berbagai hal, Internet mempermudah pekerjaan manusia. Karena
kemampuannya dalam mempermudah pekerjaan manusia dan dampaknya bagi perbaikan
tata sosial kemasyarakatan maupun perekonomian serta digunakannya penguasaan
teknologi informasi sebagai indikator kemajuan suatu bangsa, tak pelak penetrasi Internet
menjadi salah satu tujuan pembangunan berbagai negara. Dengan demikian Internet tidak
hanya sebagai alat, namun ia juga sebagai dambaan dari banyak manusia di bumi.

Sebagaimana lazimnya suatu alat yang bersifat netral, jika dipergunakan dengan baik
Internet dapat membawa manfaat bagi masyarakat luas. Namun sebaliknya, bila
digunakan oleh orang jahat yang berniat merugikan pihak lain, maka jadilah Internet alat
kejahatan yang tak kalah hebatnya dari senjata api atau bahkan bom yang mampu
menewaskan ribuan orang. Dari sinilah muncul pemikiran untuk mengurangi dampak
negatif dari pemanfaatan Internet oleh masyarakat. Berbagai upaya dapat dilakukan, dari
yang bersifat teknis seperti penggunaan teknik atau metoda pengamanan (security)
sampai yang non teknis seperti sosialisasi penggunaan Internet secara benar dan
bertanggung jawab. Namun demikian, semua upaya di atas dianggap belum cukup karena
belum sepenuhnya dapat melindungi pengguna Internet dari kejahatan. Oleh karena itu,
perlu dibuat ketetapan hukum berupa Undang – Undang di bidang pemanfaatan Internet
khususnya maupun teknologi informasi dan telekomunikasi pada umumnya.

Permasalahannya, sebagaimana disebutkan di depan bahwa konvergensi teknologi


informasi dan telekomunikasi yang berwujud Internet ini telah memasuki dan merasuki
berbagai aspek kehidupan manusia. Ekstremnya, tidak ada bagian dari aktivitas
kehidupan manusia yang tidak dapat difasilitasi teknologi informasi dan telekomunikasi.
Kegiatan pendidikan, pemerintahan, perbankan, asuransi, transportasi, penegakan hukum,
penegakan demokrasi, peneguhan agama, dan masih banyak lagi adalah area yang dapat
ditingkatkan kinerjanya menggunakan teknologi informasi dan telekomunikasi. Oleh
karena itu dampak yang dihasilkan adanya penyalah gunaan Internet menjadi lebih serius
dari yang diperkirakan semula. Jika semula orang mengira bahwa dampak dari penyalah
– gunaan Internet terbatas hanya pada aktivitas perdagangan elektronik (e-commerce),
yang terjadi adalah adanya ancaman bahaya dan atau kerugian pada hampir semua
kegiatan manusia yang menggunakan Internet.

Beberapa contoh kasus yang sudah sering kita dengar antara lain: penggunaan nama
domain yang berlanjut pada persidangan pidana dengan tuntutan praktek persaingan tidak
sehat, penipuan transaksi jual beli menggunakan kartu kredit milik orang lain yang
dilakukan melalui Internet (sering disebut carding), pemalsuan halaman depan situs
Internet suatu bank, dan lain – lain. Selain kasus – kasus tersebut, ada kekhawatiran dari
sementara kalangan yang selama ini menjalankan e-commerce mengenai tiadanya

2
perlindungan hukum atas suatu transaksi ekonomi yang dilakukan melalui Internet.
Demikian pula adanya keresahan dari masyarakat khususnya pengguna Internet mengenai
hilang atau berkurangnya nya privasi individu, sehingga dengan mudah orang dapat
mengetahui identitas pribadi orang lain yang sebenarnya hanya berhak diketahui oleh
pihak lain dengan seijin pihak pemiliknya.

Kepolisian sebagai salah satu pilar penegakan hukum, seringkali menghadapi hambatan
dalam penyelidikan dan penyidikan kasus – kasus sengketa maupun pidana di bidang
teknologi informasi ini. Pasalnya, alat bukti kejahatan mudah sekali hilang atau
dihilangkan. Lebih dari itu, ternyata, pengadilan belum menerima dan mengakui catatan
elektronik sebagai bukti yang sah di pengadilan. Padahal, tanpa bukti yang benar dan sah,
susah bagi hakim untuk menentukan putusan yang adil.

Implikasi pemanfaatan Internet secara negatif tidak hanya pada hukum pidana, namun
pula memasuki wilayah hukum perdata. Tidak hanya pada lingkup kecil kalangan praktisi
teknologi informasi semata, namun meluas pada berbagai sektor kegiatan. Oleh karena
itu, perlu kajian mendalam mengenai apa dan bagaimana tata aturan perundangan yang
dibutuhkan dalam pemanfaatan Internet.

Ruang Lingkup Cyberlaw


Secara teknis, perubahan yang signifikan dari pemanfaatan Internet dalam keseharian
hidup manusia adalah adanya perubahan pola hubungan dari yang semula menggunakan
kertas (paper) menjadi nirkertas (paperless). Selain paperless, Internet juga dapat
memfasilitasi suatu perikatan tanpa para pihak yang akan melakukan kontrak bertemu
secara fisik dalam dimensi ruang dan watu yang sama. Hambatan jarak dan waktu
menjadi bukan masalah lagi. Perubahan – perubahan ini membawa implikasi hukum yang
cukup serius bila tidak ditangani dengan benar.

Beberapa isu yang muncul dari kemampuan Internet dalam memfasilitasi transaksi antar
pihak ini antara lain: masalah keberadaan para pihak (reality), kebenaran eksistensi dan
atribut (accuracy), penolakan atau pengingkaran atas suatu transaksi (non-repudiation),
keutuhan informasi (integrity of information), pengakuan saat pengiriman dan
penerimaan, privasi, dan jurisdiksi.

Keberadaan para pihak yang bertransaksi perlu dipertegas mengingat bisa saja
“seseorang” yang menjadi lawan transaksi sebenarnya bukan orang sungguhan namun
sudah diganti dengan mesin atau sistem layanan otomatis. Oleh karena itu pengecekan
untuk mengetahui kebenaran eksistensi para pihak menjadi sangat penting. Jika tidak,
bisa saja seorang C mengaku sebagai A tanpa sepengetahuannya dan bertransaksi dengan
B. Karena tanpa mengecek kebenaran atribut mitra transaksinya, B memiliki potensi
untuk dirugikan oleh C, demikian pula dengan A yang namanya digunakan dalam
transaksi tersebut.

Dalam “dunia kertas” tidak mudah bagi seseorang untuk menolak atau tidak mengakui
bahwa ia telah berbuat sesuatu, karena adanya bukti fisik yang dapat digunakan sebagai

3
petunjuk bahwa seseorang telah melakukan sesuatu. Tidak demikian halnya dengan
“dunia nirkertas”. Seseorang dengan mudah bisa saja menolak bahwa ia telah berbuat
sesuatu di Internet karena tidak ada bukti fisik yang memaksanya untuk mengakui bahwa
ia telah berbuat sesuatu. Agar penolakan semacam ini tidak terjadi di dunia Internet,
secara teknis sudah mampu disediakan teknologi yang mampu membuktikan adanya
suatu transaksi. Namun ini masih belum cukup, dan perlu diperkuat dengan ketentuan
hukum dalam undang – undang. Ketentuan mengenai larangan pengingkaran suatu
transaksi melaui Internet ini disebut dengan non-repudiation.

Akibat dari perkembangan teknologi informasi yang menyebabkan perkembangan


interaksi di bidang sosial dan ekonomi berlangsung dalam dunia maya (cyberspace) maka
diperlukan pengaturan yang bersifat khusus, tidak lagi tertampung oleh hukum atau
peraturan perundang – undangan konvensional. Suatu pemahaman yang hanya meninjau
kegiatan e-commerce sebagai satu – satunya kegiatan di dalam cyberspace sehingga
secara kondisi logis pengaturan yang diperlukan terbatas pada kasus – kasus yang terjadi
di dalam kegiatan e-commerce, dapat diasumsikan sebagai terlalu menyederhanakan
permasalahan yang sedang dan akan muncul dalam kegiatan di dalam cyberspace secara
keseluruhan. Akibat dari pemahaman tersebut, seringkali muncul keliruan bahwa
cyberlaw adalah hanya semata – mata hukum yang mengatur kegiatan e-commerce1.

Dari sudut pandang secara praktis, dapat dipahami bahwa dalam kegiatan e-commerce
memerlukan sense of urgency untuk dicarikan jalan keluar atas akibat- akibat atau
permsalahan hukum yang muncul. Namun demikian, pada sisi lain, dengan
memperhatikan praktek di negara lain, nampaknya akan lebih bijaksana apabila tidak ada
pembatasan secara sempit ruanglingkup cyberlas itu sendiri2.

Dalam upaya mendapatkan informasi dan pemahaman yang menyeluruh tentang


cyberlaw sebagai suatu rezim hukum yang baru dengan bentuk pengaturan yang bersifat
khusus atas kegiatan – kegiatan di dalam cyberspace, Jonathan Rosenoer, dalam
Cyberlaw – The Law of Internet, sebagaimana dikutip Saefullah dan Budhijanto dan
pakar cyberlaw lainnya mengingatkan ruang lingkup dari cyberlaw antara lain mencakup:
1. Hak Cipta (Copy Rights)
2. Hak Merek (Trademark)
3. Pencemaran nama baik (Defamation)
4. Fitnah, penistaan, penghinaan (Hate Speech)
5. Serangan terhadap fasilitas komputer (Hacking, Viruses, Illegal Access)
6. Pengaturan Sumberdaya Internet seperti IP-adress, Domain Name, dan lain – lain.
7. Kenyamanan Individu / Privasi (Privacy)
8. Prinsip kehati – hatian (Duty Care), termasuk dalam hal ini adalah negligence
9. Tindakan kriminal (Criminal Liability) biasa yang menggunakan TI sebagai alat.
10. Isu prosedural, seperti jurisdiksi, pembuktian, penyidikan, dan lain – lain
11. Kontrak / Transaksi elektronik dan tanda tangan digital/elektronik
12. Pornografi, termasuk pornografi anak - anak

1
E.Saefullah Wirapradja, Danrivanto Budhijanto, Perspektif Hukum International Tentang Cyberlaw,
dalam Mieke Komar Kantaatamadja, et.al., Cyberlaw: Suatu Pengantar, ELIPS, 2001.
2
Ibid.

4
13. Pencurian melalui Internet
14. Perlindungan konsumen
15. Pemanfaatan Internet dalam aktivitas keseharian manusia, seperti e-perdagangan,
e-penyelenggaraan-negara, e-perpajakan, e-pendidikan, e-layanan-kesehatan, dan
lain sebagainya.

Common Ground
Sebagaimana dikatakan Jim Dempsey bahwa kebijakan publik dalam pengaturan
pemanfaatan Internet haruslah berdasarkan pada: (1) sekumpulan undang – undang yang
terkait (mix of laws), (2) pengaturan yang dibuat oleh industri terkait (industry self-
regulation), dan (3) standar teknis yang memberi kuasa kendali kepada penggunanya,
maka jika diamati dengan cermat, dalam berbagai bentuk pemanfaatan Internet baik
untuk aktivitas yang bersifat positif maupun negatif, ada tiga hal yang menjadi landasan
umum (common ground), yakni: Informasi Elektronik, Bukti Elektronik, dan Transaksi
Elektronik. Dikatakan sebagai landasan umum, karena ketiga hal ini menjadi esensi dari
pertukaran informasi antar-pihak yang dilakukan melalui media Internet. Lingkup
pengertian transaksi tidak sekedar pertukaran yang dapat dilihat secara fisik sebagaimana
terjadi pengertian konvensional, seperti jual dan beli, namun diperluas mencakup
pertukaran informasi elektronik melalui media elektronik (Internet). Adapun Bukti
elektronik menjelaskan adanya informasi elektronik yang dipertukarkan dalam transaksi
elektronik. Di atas tiga hal tersebut di atas barulah terletak berbagai keperluan dan
kondisi yang langsung dirasakan dan dilihat oleh manusia, apakah itu e-commerce,
pornografi, kejahatan melalui Internet, dan lain sebagainya.
m
e-

rn
n

ke
v
o
g

m
e-

it
r

n
a
i

l re-
np

k
oa

a
V
A

Y
R

j
P

e-
I
e-

p
o
g
n

d
a

e-

n
n
y
a

a
l

Bukti Elektronik
Transaksi Elektronik
Informasi Elektronik

Dengan demikian, menggunakan kerangka pikir diatas, dapat disimpulkan bahwa


Rancangan Undang – Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (RUU ITE) yang saat
ini sedang diproses oleh pemerintah, bukan merupakan satu – satunya cyberlaw yang
perlu dibuat di Indonnesia, karena menilik dari nama dan substansi secara umum, hany

5
amengatur tiga hal yang termasuk Common Ground. Dalam upaya memberikan
perlindungan hukum dari pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Internet)
secara negatif masih diperlukan adanya perangkat hukum lainnya yang khusus mengatur
pemanfaatan khusus dan atau lebih lanjut dari Internet, seperti e-perdagangan, e-
penyelenggaraan negara, e-kriminal, dan lain sebagainya termasuk hal – hal yang
menyangkut isu prosedural, seperti jurisdiksi, pembuktian, penyidikan, dan lain – lain.

Saran dan Langkah Selanjutnya


Memperhatikan kurangnya perangkat hukum yang mengatur masalah pemanfaatan
Teknologi Informasi (Internet) disarankan agar pemerintah dan stakeholder di bidang
Telematika perlu segera :
1. Melakukan inventarisasi berbagai peraturan perundangan yang sekiranya (dapat)
berhubungan atau menggunakan teknologi informasi.
2. Melakukan identifikasi pemanfaatan Teknologi Informasi (Internet) secara negatif
yang tergolong perdata dan pidana.
3. Menyusun peta kerangka penegakan hukum (semacam road map) di bidang
Teknologi Informasi (Internet)
4. Menyempurnakan Rancangan Undang – Undang yang mengatur masalah
common ground (RUU – ITE).
5. Menyusun atau memperbaiki undang – undang yang mengatur kegiatan manusia
yang berkaitan atau menggunakan Teknolgi Informasi (Internet).

Daftar Pustaka
1. Mieke Komar Kantaatamadja, et.al., Cyberlaw: Suatu Pengantar, ELIPS, 2001.
2. Assafa Endeshaw, Internet and E-Commerce Law, With a Focus on Asia-Pacific,
Prentice Hall, 2001.
3. Kelli Arena, et.al., Cybercrime: An International Problem For Every Lawyer,
Business & Country, Report on Annual Meeting of American Bar Association,
2002.
4. Asril Sitompul, SH., LL.M, Hukum Internet, Pengenalan Mengenai Masalah
Hukum di Cyberspace, Citra Aditya Bakti, 2001.
5. Yaman Akdeniz, Clive Walker and David Wall, eds., The Internet, Law and
Society, Longman, 2000
6. Douglas Thomas & Brian D. Loader, eds., Cybercrime: Law Enforcement,
Security and Surveillance in The Information Age, Routledge, 2000.
7. Jim Dempsey, Trust and Security in Cyberspace: The Legal and Policy
Framework For Addressing Cybercrime, Center for Democracy and Technologi,
2002 at www.internetpolicy.net