Anda di halaman 1dari 14

2.

KLASIFIKASI BIAYA
Informasi biaya yang lengkap dibutuhkan oleh manajemen untuk tujuan-tujuan tertentu antara lain:
perencanaan, pengukuran, pengendalian dan penilaian terhadap operasi perusahaan. Oleh karena itu,
biaya yang banyak ragamnya perlu diadakan penggolongan sesuai dengan kebutuhan manajemen. Ada
beberapa cara penggolongan biaya dimana masing-masing cara penggolongan dimaksudkan untuk
memenuhi kebutuhan yang berbeda (different cost for different purpose)

KLASIFIKASI UMUM

Informasi biaya yang lengkap dibutuhkan oleh manajemen untuk tujuan-tujuan tertentu antara lain:
perencanaan, pengukuran, pengendalian dan penilaian terhadap operasi perusahaan. Oleh karena itu,
biaya yang banyak ragamnya perlu diadakan penggolongan sesuai dengan kebutuhan manajemen. Ada
beberapa cara penggolongan biaya dimana masing-masing cara penggolongan dimaksudkan untuk
memenuhi kebutuhan yang berbeda (different cost for different purpose)

Beberapa pengklasifikasian biaya tersebut antara lain, berdasarkan :


1. Objek pengeluaran
2. Fungsi pokok dalam perusahaan
3. Hubungan biaya dengan produk yang dibiayai
4. Perilaku biaya dalam hubungannya dengan volume kegiatan
5. Hubungannya dengan pusat biaya
6. Periode pembukuan
7. Pusat pertanggungjawaban
8. Hubungannya dengan pengambilan keputusan

KLASIFIKASI BIAYA ATAS DASAR OBJEK PENGELUARAN

Berdasarkan cara ini, biaya digolongkan berdasarkan untuk apa suatu biaya itu dikeluarkan atau
berdasarkan objek yang dibiayai.

Misalnya penggolongan biaya berdasarkan objek pengeluaran pada perusahaan transportasi antara lain,
Biaya bahan bakar, biaya perbaikan, biaya pemeliharaan, biaya asuransi, biaya makan, dsb.

KLASIFIKASI BIAYA ATAS DASAR FUNGSI POKOK DALAM PERUSAHAAN

Penggolongan biaya ini dihubungkan dengan fungsi-fungsi yang ada dalam perusahaan. Dalam
perusahaan manufaktur terdapat tiga fungsi pokok, yaitu fungsi produksi, fungsi administrasi umum
dan fungsi pemasaran. Oleh karena itu, apabila didasarkan atas fungsi-fungsi pokok di dalam
perusahaan manufaktur biaya dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu:

1. Biaya Produksi
Biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang slap untuk dijual.
2. Biaya Pemasaran
Biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk, contoh, biaya promosi,
biaya iklan, gaji karyawan bagian yang melaksanakan kegiatan pemasaran, dan sebagainya.
3. Biaya Administrasi dan Umum
Biaya-biaya untuk mengkoordinasikan kegiatan produksi dan pemasaran produk.

KLASIFIKASI BIAYA ATAS DASAR OBJEK PENGELUARAN

Dalam hubungannya dengan produk yang dibiayai, biaya dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu :
1. Biaya Produksi Langsung
Biaya yang sejak terjadinya sudah mempunyai hubungan kausal (sebab akibat) dengan kesatuan
produk yang dibiayal. Apabila biaya produksi langsung tidak te@acli maka tidak akan ada produk yang dihasilkan

2. Biaya Produksi Tidak Langsung


Biaya produksi yang tidak mempunyai hubungan kausal dengan kesatuan produk yang dibiayai.
Biaya produksi tidak langsung pasti terjadi meskipun pada suatu saat tidak ada produk yang
dihasilkan.

Yang termasuk biaya produksi langsung adalah : Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.
Biaya produksi tidak langsung disebut juga Biaya Overhead Pabrik (BOP), contohnya adalah biaya
bahan penolong, upah tidak langsung, gaji pengawas pabrik, biaya penyusutan gedung pabrik,
penyusutan mesin dan biaya pemeliharaan mesin.
Dalam perusahaan manufaktur, biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung disebut Biaya
Utama (prime cost), sedangkan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead Pabrik (BOP) secara
bersama-sama disebut Biaya Konversi (conversion cost).
Biaya pemasaran dan biaya administrasi umum merupakan Biaya Komersial (commercial expense)
Hubungan antara kedua-penggolongan biaya yang terakhir diatas dapat digambarkan pada gambar 2.1
dibawah ini.

Biaya Produksi Langsung


Biaya Bahan Baku
Biaya Tenaga Kerja Biaya Utama
Biaya
Produksi Langsung

Biaya Konversi
Biaya Produksi Tidak
Langsung
Biaya Overhead Pabrik
Biaya Biaya Pemasaran

Biaya Komersial
Biaya Administrasi
dan Umum
KLASIFIKASI BIAYA ATAS DASAR PERILAKU BIAYA

Dalam hubungannya dengan volume kegiatan, biaya dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu
1. Biaya Tetap
Biaya yang jumlah totalnya tidak berubah atau tetap dalam kisaran volume kegiatan tertentu.
Contoh biaya tetap antara lain biaya penyusutan, biaya gaji mandor, biaya asuransi, dsb.
2. Biaya Variabel
Biaya yang jumlah totalnya berubah secara proporsional dengan perubahan volume kegiatan.
Contoh biaya variabel antara lain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung
3. Biaya Semi Variabel
Biaya yang jumlah totalnya berubah tidak proporsional dengan volume kegiatan. Contoh biaya
semi variabel antara lain biaya lembur karyawan, biaya rekening listrik, biaya rekening telepon,
dsb.

KLASIFIKASI BIAYA ATAS DASAR HUBUNGANNYA DENGAN PUSAT BIAYA


Pusat biaya (expense center) adalah pusat pertanggungjawaban yang prestasi manajernya diukur
berdasarkan masukannya. Contoh pusat biaya dalam perusahaan tekstil adalah departemen pintal,
departemen tenun dan departemen bengkel.
Dalam hubungannya dengan pusat biaya, maka biaya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu Biaya
langsung departemen dan Biaya tidak langsung departemen
1. Biaya langsung departemen
Biaya yang secara langsung dapat dibebankan kepada departemen tertentu. Misalnya gaji pegawai
di departemen pintal, biaya penyusutan mesin pintal adalah biaya langsung departemen pintal.
Sedangkan biaya penyusutan mesin tenun dan gaji pegawai departemen tenun adalah biaya
langsung departemen tenun.
2. Biaya tidak langsung departemen
Biaya yang manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu departemen. Misalnya departemen pintal
dan departemen tenun berada dibawah satu atap gedung pabrik, maka biaya penyusutan gedung
pabrik dan biaya pemeliharaan gedung pabrik tersebut digolongkan sebagai biaya tidak langsung
departemen pintal maupun departemen tenun.

KLASIFIKASI BIAYA ATAS DASAR PERIODE PEMBUKUAN

Dalam hubungannya dengan periode pembukuan, biaya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :
1. PENGELUARAN MODAL (CAPITAL EXPENDITURE)
Pengeluaran biaya yang manfaatnya dapat dinikmati untuk lebih dari satu periode akuntansi,
misalnya biaya perbaikan gedung sebesar Rp 10.000.000. apabila biaya perbaikan tersebut
jumlahnya dipandang relatif besar dan dapat menambah manfaat gedung tersebut, maka biaya ini
harus dianggap sebagai tambahan nilai investasi. Pengeluaran tersebut dikapitalisasi dan disusut
untuk beberapa periode.
2. PENGELUARAN PENGHASILAN (REVENUE EXPENDITURE)
Pengeluaran biaya yang manfaatnya hanya dinikmati pada periode yang bersangkutan, yaitu
periode terjadinya biaya tersebut. Contoh pengeluaran jenis ini adalah biaya pemeliharaan
bangunan, biaya pemeliharaan mesin dan serves kendaraan.
Suatu pengeluaran biaya digolongkan sebagai pengeluaran modal ataukah sebagai pengeluaran
penghasilan ditentukan manajer berdasarkan kriteria sebagai berikut:
1. Besarnya jumlah pengeluaran
2. Manfaat pengeluaran tersebut untuk masa yang akan datang
3. Kebijakan manajemen
KLASIFIKASI BIAYA ATAS DASAR PUSAT PERTANGGUNGJAWABAN
Klasifikasi biaya berdasarkan pusat pertanggungjawaban sangat panting dalam pengendalian biaya.
Manajemen ingin mengetahui dimana biaya terjadi dan siapa yang harus bertanggung jawab atas
pengeluaran biaya tersebut. Dengan mengetahui secara cermat biaya dan penanggung jawab biaya,
manajemen akan lebih mudah mengendalikannya.
Berdasarkan pusat pertanggungjawaban, biaya dapat dikelompokkan menjadi :
1. Biaya terkendali (controllable cost)
Merupakan biaya yang dikeluarkan oleh suatu pusat biaya misalnya, departemen atau bagian) dan
atas pengeluaran biaya tersebut seseorang harus mempertanggungjawabkannya. Sebagai contoh
adalah biaya iklan, merupakan tanggungjawab bagian pemasaran dan biaya ini adalah biaya
terkendali bagi departemen pemasaran.

2. Biaya tak terkendali (uncontrollable cost)


Adalah biaya yang tidak dapat dibebankan tanggungjawab pengeluarannya oleh seorang manajer
pusat biaya. Biaya penyusutan mesin misalnya, tidak dapat dipengaruhi dan bukan tanggungjawab
manajer pusat biaya.

Adanya keterkaitan antara penanggung jawab biaya dan jenis biaya serta tempat biaya merupakan
faktor penentu, apakah suatu biaya dapat terkendali atau tidak. Sehingga adakalanya, sekelompok
biaya terkendali di suatu tempat /pusat biaya, namun biaya yang sama tidak terkendali di tempat lain.

KLASIFIKASI BIAYA UNTUK PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Selain untuk mengumpulkan harga pokok, informasi biaya juga dapat digunakan sebagai alat
pengambilan keputusan. Sehubungan dengan itu dikenal biaya relevan yang memiliki kriteria (1)
biaya yang akan terjadi pada masa yang akan datang, dan (2) Biaya tersebut berbeda diantara alternatif
keputusan yang dipertimbangkan.
Apabila akuntan mencatat biaya untuk pengambilan keputusan antara relevan dan tidak relevan, berarti
menyalahi prinsip akuntansi. Sebab aturan akuntansi mengharuskan mencatat atau mengakui hanya
biaya historis (historical cost) Manajemen dapat menggunakan konsep biaya kesempatan (opportunity
cost) dalam pengambilan keputusan, namun tidak dapat menyajikan biaya ini dalam laporan rugi laba
untuk publik.
Meskipun ada perbedaan antara konsep biaya untuk penyajian laporan keuangan dengan kepentingan
pengambilan keputusan, namun konsep untuk pengambilan keputusan ini sangat panting dalam
membantu manajemen untuk pengambilan keputusan.
Berikut ini adalah konsep biaya untuk pengambilan keputusan tersebut:
1. Biaya masa lalu dan biaya masa yang akan datang (historical costs and future costs)
Pengambilan keputusan merupakan pemilihan berbagai alternatif untuk masa yang akan datang.
Oleh karena itu informasi biaya yang diperlukan sebagai dasar pengambilan keputusan adalah
biaya masa yang akan datang (future cost) Future cost adalah biaya yang dapat diperkirakan akan
terjadi dalam periode yang akan datang. Karena biaya ini merupakan biaya yang diharapkan akan
terjadi di masa yang akan datang, maka jumlahnya harus ditaksir dan terjadinya harus diramalkan.
Manajemen sangat berkepentingan dengan biaya masa yang akan datang ini, dengan alasan bahwa
biaya tersebut merupakan satu-satunya biaya yang dapat dikendalikan oleh manajemen. Biaya
historis hanya dapat diamati dan dinilai terjadinya. jika biaya historis, manajemen hanya dapat
mengajukan pertanyaan apa yang salah ?" di lain pihak, biaya masa yang akan datang dapat
direncanakan untuk dikurangi. jika biaya masa yang akan datang terlalu tin ', manajemen dapat
mengajukan pertanyaan: "apa yang dapat kamu lakukan terhadap hal ini
Apabila biaya masa yang akan datang tidak hanya sekedar diharapkan, tetapi dituangkan dalam
bentuk rencana kegiatan menyeluruh perusahaan untuk jangka waktu tertentu di masa yang akan
datang, biaya tersebut disebut “Biaya yang dianggarkan” (budgeted cost)

2. Biaya tunai dan biaya terbenam (out of pocket costs and sunk costs)
Biaya yang akan memerlukan pengeluaran kas sekarang atau dalam jangka waktu dekat sebagai
akibat dari keputusan manajemen disebut sebagai Out of Pocket Cost. Sebagai contoh manajemen
memutuskan untuk menerima pesanan pembuatan produk dari pelanggan. Dalam hal ini biaya
bahan baku dan tenaga kerja adalah contoh biaya tunai. BOP selain biaya depresiasi dan
amortisasi juga merupakan biaya tunai.
Biaya depresiasi aktiva tetap dalam pengambilan keputusan jangka pendek bukan merupakan biaya
tunai. Pembayaran kas (atau setidak-tidaknya kesanggupan untuk membayar kas) telah terjadi
pada masa lalu, yaitu pada saat aktiva tersebut diperoleh. Biaya depresiasi, deplesi dan amortisasi
merupakan biaya terbenam (sunk cost) dan bukan merupakan biaya yang relevan dalam
pengambilan keputusan jangka pendek.
Sunk cost merupakan biaya yang terjadi sebagai akibat dari pengambilan keputusan yang telah
lalu.

3. Biaya kesempatan (opportunity costs)


Opportunity cost adalah potensi keuntungan atau penghematan biaya yang dikorbankan sebagai
akibat dipilihnya alternatif tertentu. Sebagai contoh, suatu ruang usaha saat ini disewakan dengan
pendapatan sewa Rp 300.000 per bulan. Pimpinan mempertimbangkan akan menggunakannya
untuk keperluan perdagangan barang X dan menghentikan persewaan ruang toko usaha tersebut.
Dari hasil perdagangan barang X misalkan menghasilkan laba bersih sebesar Rp 375.000 dari
perhitungan disimpulkan bahwa pengehentian sewa dan menggunakan sendiri ruang toko tersebut
untuk perdagangan barang X me akan alternatif yang seharusnya dipilih.
Biaya sewa yang dikorbankan jika alternatif menggunakan sendiri ruang usaha merupakan contoh
dari opportunity cost.

4. Biaya tambahan (incremental costs)


Incremental cost adalah tambahan biaya yang akan terjadi jika suatu alternatif yang berkaitan
dengan perubahan volume kegiatan dipilih. Biaya tambahan merupakan informasi akuntansi
manajemen yang diperlukan oleh manajemen dalam pengambilan keputusan yang berhubungan
dengan penambahan atau pengurangan volume 'kegiatan. Sebagai contoh, volume produksi
perusahaan saat ini adalah 100.000 unit per tahun dengan total biaya produksi Rp 150.000.000.
suatu usulan telah disiapkan untuk menaikkan volume produksi menjadi 150.000 unit per tahun
dengan total biaya Rp 180.000.000. Dengan demikian biaya tambahan apabila alternatif untuk
menaikkan volume produksi tersebut dilakukan yaitu sebesar Rp 30.000.000. Jika biaya tambahan
dihubungkan dengan suatu alternatif diadakan yang kemungkinan akan dilaksanakan atau mungkin
juga tidak dilaksanakan oleh manajemen, biaya tambahan mungkin dapat terjadi mungkin juga
tidak. Apabila alternate yang diusulkan bukan merupakan penambahan kegiatan melainkan berupa
peniadaan suatu kegiatan yang sekarang ada, maka biaya tertentu yang ada saat ini dapat dihindari.
Biaya yang dapat dihindari ini disebut biaya yang dapat dihindari (avoidable cost), yaitu biaya
yang tidak akan terjadi jika suatu alternatif dipilih.
Sesungguhnya biaya yang dapat dihindari atau Biaya yang tidak dapat dihindari (unavoidable
cost) merupakan variasi biaya tambahan. Oleh karena itu biaya yang dapat dihindari sering
disebut dengan istilah penghematan biaya tambahan (incremental cost saving atau negative
incremental cost).
SOAL LATIHAN

1. Berdasarkan fungsi - fungsi pokok dalam perusahaan manufaktur, biaya dapat dikelompokkan
menjadi tiga jenis. Sebutkan dan berikan contohnya.
2. Menurut hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dikelompokkan menjadi dua
kelompok. Sebutkan dua kelompok biaya dalam hubungannya dengan produk dan sebutkan pula
dua kelompok biaya dalam hubungannya dengan departemen. Berikan contohnya masing-masing
kelompok biaya tersebut.
3. Menurut pusat pertanggungjawabannya, biaya dapat dikelompokkan menjadi dua jenis. Sebutkan
dan jelaskan kedua jenis biaya tersebut.
4. Jelaskan istilah - istilah berikut ini
a. Biaya produksi
b. Biaya utama (prime cost)
c. Biaya komersial
d. Biaya konversi
e. Opportunity cost Avoidable cost
g. Incremental cost
5. Sebutkan dan jelaskan dua kriteria dari biaya relevan (relevant cost)
3
PERILAKU BIAYA
Dalam usaha melaksanakan fungsi pengendalian, khususnya pengendalian biaya, dapat dipergunakan
berbagai cara atau instrumen. Beberapa cara (predetermined cost) telah dibahas pada akuntansi biaya.
Pembahasan saat ini adalah pengendalian biaya dengan cara memahami perilaku biaya, karena dengan
memahami perilaku biaya diharapkan manajer akan lebih mampu mempengaruhi biaya yang menjadi
tanggung jawabnya.

PERILAKU BIAYA

Perilaku biaya maksudnya adalah perubahan-perubahan yang mungkin terjadi terhadap suatu elemen
biaya tertentu sebagai akibat perubahan kondisi (volume kegiatan). Ditinjau dari perubahan volume
kegiatan, biaya dapat dibedakan menjadi Biaya Tetap dan Biaya Variabel. Namun diantara dua
macam biaya tersebut, ada biaya yang memiliki unsur tetap dan sekaligus unsur variabel. Biaya yang
memiliki dua unsur ini disebut Biaya Semi Variabel. Oleh sebab itu, penting juga untuk dibahas
mengenai biaya semi variabel. Pembahasannya akan lebih diarahkan pada masalah bagaimana cara
memisahkan unsur fixed dan unsur variabelnya. Sebab ada beberapa model analisis biaya untuk
pengambilan keputusan yang baru dapat dilaksanakan apabila biaya yang bersangkutan dapat
dipisahkan menjadi fixed dan variable.

PENGERTIAN BIAYA MENURUT PERILAKUNYA

Berdasarkan perilakunya, biaya dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu : Biaya Tetap, Biaya
Variabel dan Biaya Semi Variabel.

1. BIAYA TETAP (FIXED COST)


Adalah biaya yang jumlah totalnya tidak berubah, walaupun ada perubahan volume kegiatan,
sepanjang perubahan volume kegiatan tersebut masih dalam satu range output tertentu.

Contohnya, Biaya depresiasi mesin yang dihitung dengan metode galls lurus (straight line). Metode
ini membebankan biaya depresiasi yang sama untuk setiap periode, tidak melihat apakah periode yang
satu volume kegiatannya lebih besar dari periode yang lain. Bila pada suatu periode, volume
produksinya meningkat dari 100 menjadi 150 unit, biaya depresiasinya akan tetap sama. Tetapi bila
volume produksi dinaikkan menjadi 200 unit, mungkin biaya depresiasi akan berubah karena harus ada
penambahan mesin baru.
Walaupun ada perubahan, tetapi biaya depresiasi tersebut masih dikategorikan sebagai biaya tetap,
karena perubahan disebabkan oleh kenaikan di luar range output.
Dari uraian diatas terdapat beberapa ciri dari biaya tetap ini, yaitu :
a. Biaya ini jumlah totalnya tetap, walaupun ada perubahan volume pada range tertentu.
b. Biaya tetap per unit berubah-ubah atau turun naik sesuai dengan volume kegiatan. Bila
kegiatannya naik, maka biaya tetap per unit akan turun dan begitu juga sebaliknya.
c. Biaya tetap biasanya sudah given, artinya sulit kita pengaruhi karena mungkin akibat dari
keputusan yang telah ditetapkan pada masa yang lalu.
d. Biaya tetap mempunyai pengaruh 'angka panjang, sehingga keputusan yang diambil harus yang
lebih bersifat strategis jangka panjang. Keputusan jangka pendek tidak akan bermanfaat bagi
pengendalian jenis biaya ini jadi biaya tetap, adalah dilihat dari jumlah totalnya, bukan biaya per
unit.
Untuk kepentingan perencanaan, biaya tetap dapat dibedakan dalam dua tipe biaya tetap, yaitu
Committed Fixed Cost dan Discretionary Fixed Cost

a. Committed Fixed Cost


Adalah biaya tetap yang akan mengikat dalam jangka panjang. Biasanya berkaitan dengan
investasi dalam fasilitas. Biaya ini akan tetap dikeluarkan walaupun kegiatan dihentikan. Oleh
sebab itu aktivitas perencanaannya harus melihat kurun waktu yang panjang.
Akses terhadap keputusan yang menyangkut biaya ini terletak pada manajemen puncak, kecuali
bila memang diterapkan sistem pengendalian manajemen dengan membentuk pusat-pusat
investasi. Dalam hal ini committed fixed cost berupa semua biaya yang tetap dikeluarkan yang
tidak dapat dikurangi guna mempertahankan kemampuan perusahaan dalam memenuhi tujuan-
tujuan jangka panjangnya. Contoh biaya tetap jenis ini antara lain : depresiasi fasilitas pabrik,
biaya organisasi, pajak bumi dan bangunan, asuransi, sewa dan gaji karyawan utama.

b. Discretionary Fixed Cost


Adalah biaya tetap yang timbul dari perencanaan jangka pendek (tahunan) dan biaya yang tidak
dapat menggambarkan hubungan yang optimum antara masukan dengan keluaran (yang diukur
dengan volume penjualan, jasa atau produk). Discretionary fixed cost sering juga disebut dengan
istilah managed atau programmed cost. Discretionary fixed cost tidak dapat dihubungkan dengan
keluarannya, karena tidak adanya hubungan antara masukan dengan keluaran, atau adanya
perbedaan waktu keluaran yang diperoleh dengan biaya yang dikorbankan untuk memperoleh
keluaran.
Keputusan jangka pendek dapat mengurangi biaya ini. Manajemen tingkat menengah ke bawah
memiliki akses penuh terhadap jenis biaya ini. Contoh dari biaya tetap jenis ini antara lain : Biaya
promosi, biaya penelitian, biaya pelatihan, dan sebagainya.
Apakah suatu biaya dipandang sebagai committed fixed cost atau discretionary fixed cost,
tergantung pada falsafah manajemen yang digunakan dalam menghadapi kondisi sulit. Bila
dipandang sebagai committed fixed cost berarti akan tetap dipertahankan walaupun keadaan sulit.

Gambar 3.1 dibawah ini menggambarkan perilaku biaya tetap.

Biaya Range Relavan

Volume Kegiatan
Gambar 3.1. Biaya Tetap
BIAYA VARIABEL (VARIABLE COST)

Adalah biaya yang secara total berubah-ubah dan perubahannya proporsional dengan perubahan
volume kegiatan.
Proporsional maksudnya adalah perubahan tersebut sebanding atau teratur dengan perubahan volume
kegiatan itu sendiri. Misalnya volume kegiatan naik 10 %, maka biaya variabel juga naik sebanding
dengan kenaikan volume kegiatan tersebut yaitu 10 %.
Karena perubahan biaya variabel selalu sebanding dengan volume kegiatan, maka biaya variabel .per
unit selalu tetap. jadi apabila biaya tetap dilihat dari jumlah total, tetapi biaya variabel dilihat dari
jumlah per unitnya.
Contoh biaya variabel misalnya biaya bahan baku. Apabila tiap unit dibutuhkan 2 kg bahan baku
dengan nilai Rp l50.000, maka bila produksi 100 unit, total biaya bahan baku adalah Rp 15.000.000,
kemudian apabila volume produksi dinaikkan menjadi 150 unit (naik 50 %), maka total biaya bahan
baku menjadi Rp 22.500.000 (naik 50 %).
Untuk kepentingan perencanaan, biaya variabel dapat dibedakan dalam dua tipe, yaitu Engineered
Variable Cost dan Discretionary Variable Cost.
a. Engineered Variable Cost (true variable cost)
Engineered cost adalah biaya yang memiliki hubungan fisik tertentu dengan ukuran kegiatan
tertentu. Hampir semua biaya variabel merupakan engineered cost. Engineered variable cost
merupakan biaya yang antara masukan dengan keluarannya mempunyai hubungan erat dan nyata.
jika masukan (biaya) berubah maka keluaran akan berubah sebanding dengan perubahan masukan
tersebut, begitu juga sebaiknya jika keluarannya yang berubah.
Contoh Engineered variable cost adalah biaya bahan baku
b. Discretionary Variable Cost (step variable cost)
Merupakan biaya yang masukan dan keluarannya memiliki hubungan erat namun tidak nyata
(artifisial). jika keluaran berubah maka masukan akan berubah sebanding dengan perubahan
keluaran tersebut. Namun jika masukan berubah, keluaran belum tentu berubah dengan adanya
perubahan masukan tersebut. Dengan kata lain biaya ini merupakan biaya variabel yang
perilakunya tidak murni atau nyata , seperti pengertian variabel. Perubahannya bertingkat, untuk
dapat berubah dibutuhkan perubahan volume yang besar. Contoh dari jenis biaya ini adalah biaya
iklan dan biaya tenaga kerja langsung.
Gambar 3.2 dibawah ini menunjukkan perilaku biaya variabel

Biaya Biaya

Proportionately Step - Variable Cost


Variable Cost

Volume Kegiatan Volume Kegiatan

Gambar 3.2 Perilaku Biaya Variabel


3. BIAYA SEMI VARIABEL (SEMI VARIABLE COST)
Adalah biaya yang jumlah totalnya ikut berubah dengan adanya perubahan volume kegiatan, tetapi
perubahan biaya tersebut tidak proporsional dengan perubahan volume kegiatan.
Dalam biaya semi variabel ini terdapat unsur biaya tetap dan unsur biaya variabel. Apakah semi
variable cost dapat disebut sebagai semi fixed cost? tentu saja jawabannya tidak bisa. Karena
biaya ini mengalami perubahan, hanya saja perubahannya tidak teratur atau proporsional dengan
perubahan volume kegiatan.
Sifat semi variabel ini banyak ditemukan pada biaya overhead pabrik (BOP), misalnya biaya
pemeliharaan mesin, pada volume produksi 100 unit jumlahnya Rp 1.000.000, sedangkan pada
waktu volume produksi dinaikkan menjadi 150 unit (naik 50 %) jumlah biayanya Rp 1.250.000
(hanya naik 25 %).
Masalah yang perlu dibahas lebih lanjut adalah bagaimana cara memisahkan unsur tetap dan unsur
variabel dari biaya semi variabel tersebut. Pemisahan ini sangat diperlukan apabila kita ingin
menggunakan model-model analisis biaya tertentu. Misalnya analisis impas (break event), analisis
ini dapat dimanfaatkan apabila semua biaya dapat dipisahkan menjadi biaya tetap dan biaya
variabel.

Gambar 3.3 dibawah ini menunjukkan perilaku biaya semi variabel


Biaya
Biaya Semi Variabel

Volume Kegiatan

Gambar 3.3. Biaya Semi Variabel

PEMISAHAN BIAYA SEMI VARIABEL

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa pemisahan biaya semi variabel ini sangat penting
ketika perusahaan akan melakukan perencanaan atau dalam penggunaan model-model analisis biaya
untuk kepentingan tertentu, misalnya dalam analisis impas.
Berikut ini diberikan beberapa metode untuk memisahkan biaya semi variabel, antara lain: Metode
fungsi linier kuadrat terkecil, metode titik tertinggi dan terendah, metode biaya berjaga, metode grafis
I Scatter graph dan metode regresi berganda.

1. METODE FUNGSI LINIER/KUADRAT TERKECIL (LEAST SQUARE METHODS)


Metode kuadrat terkecil lebih obyektif dan tepat daripada metode lainnya, karena
memperhitungkan seluruh unsur data dan meniadakan faktor subjektivitas. Garis yang ditarik
dengan metode scatter graph ditentukan berdasarkan inspeksi visual sedangkan dengan metode
least square, ditentukan berdasarkan rumus matematis.
Metode ini menganggap bahwa hubungan antara volume kegiatan dengan biaya merupakan
hubungan linier, sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut:
Y = a + bx
y = biaya semi variabel b = biaya variabel
a = biaya tetap x = volume kegiatan

Kemudian dilakukan pengamatan terhadap biaya ini dalam berbagai volume kegiatan. Sebagai contoh
misalnya biaya pemeliharaan mesin dikaitkan dengan volume kegiatan dalam satuan jam mesin. Hasil
pengamatan selama 12 bulan adalah sebagai berikut:

Bulan Jumlah Biaya (Y) Jam Mesin (X) XY X2


1. Rp 750.000 6.000 Rp 4.500.000 Rp 36.000.000
2. Rp 715.000 5.500 Rp 3.932.500 Rp 30.250.000
3. Rp 530.000 4.000 Rp 2.252.000 Rp 18.062.500
4. Rp 600.000 4.000 Rp 2.400.000 Rp 16.000.000
5. Rp 600.000 4.500 Rp 2.700.000 Rp 20.250.000
6. Rp 875.000 7.000 Rp 6.125.000 Rp 49.000.000
7. Rp 800.000 6.000 Rp 4.800.000 Rp 36.000.000
8. Rp 1.000.000 8.000 Rp 8.000.000 Rp 64.000.000
9. Rp 800.000 6.000 Rp 4.800.000 Rp 36.000.000
10. Rp 750.000 6.000 Rp 4.500.000 Rp 36.000.000
11. Rp 550.000 4.500 Rp 2.475.000 Rp 20.250.000
12. Rp 600.000 4.500 Rp 2.700.000 Rp 20.250.000

a = ∑y - b ∑x b =
n∑xy - ∑x.∑y
n n∑x 2
- (∑x)2

8.570.000 − 0,115x66.250 12 x 49.185.000 - 66.250 x 8.570.000


a = b =
12 12x382.062.500 - (66.250) 2
= 79,27 = 0,115

Jadi Persamaannya Y = 79,27 + 0,115 x


Artinya : Biaya Variabel Rpll5 per jam mesin dan Biaya Tetap Rp 79.270 perbulan

2. METODE TITIK TERTINGGI DAN TERENDAH (HIGH LOW POINT METHODS)


Dalam metode ini pemisahan biaya semi variabel ke dalam biaya tetap dan biaya variabel dilakukan
dengan mengamati biaya tersebut pada saat volume kegiatan tertinggi (high) dan dibandingkan dengan
biaya pada saat volume kegiatan terendah (low).

Contoh : dengan menggunakan tabel sebelumnya diperoleh


Jumlah Biaya Jam Kerja
Titik tertinggi Rp 1.000.000 8.000
Titik terendah Rp 530.000 4.000
Selisih Rp 470.000 4.000
Rp. 470.000
Biaya Variabel = = Rp. 117,5 perjam
4.000 jam
Biaya Tetap = Total biaya semi variabel - biaya variabel
= Rp 1.000.000 - (8.000 x Rp 117.5) atau Rp 530.000 - (4.000 x Rp 117.5)
= Rp 60.000 per bulan

Setelah elemen biaya variabel dan biaya tetap dapat dipisahkan untuk selanjutnya biaya
pemeliharaan dapat disajikan sebesar Rp 60.000 per bulan ditambah dengan Rp 117,5 untuk setiap
jam pemeliharaan. Biaya pemeliharaan dapat juga disajikan dengan persamaan linier sebagai
berikut :

Y = Rp 60.000 + Rp 117,5 x

Metode titik tertinggi dan terendah sangat sederhana dan mudah dilakukan tetapi banyak
mengandung kelemahan, karena hanya menggunakan dua titik saja. Umumnya, dua titik tidak
cukup untuk menghasilkan hasil yang akurat dalam analisa biaya. Kelemahan dari metode ini
antara lain : pengambilan sampel yang tidak menyeluruh, tidak memperhatikan unsur penentu
secara menyeluruh dan mengabaikan fluktuasi musiman.

3. METODE BIAYA BERJAGA (STAND By COST METHODS)


Metode ini memisahkan biaya semi variabel kedalam biaya tetap dan biaya variabel dengan
mengasumsikan, bagaimana bila kegiatan produksi = 0, artinya dengan menggunakan contoh
diatas berapa biaya pemeliharaan yang tetap ada walaupun kegiatannya nol jam kerja mesin = 0).
Jumlah yang tetap terjadi/ada tersebut dianggap sebagai unsur tetap.
Apabila unsur fixed sudah diketahui, maka unsur variabelnya dapat dihitung dengan total biaya
pemeliharaan dikurangi unsur yang fixed.
Contoh : dari total biaya pemeliharaan Rp 1.000.000, biaya yang dikeluarkan walaupun jam kerja
= 0, diasumsikan misalnya Rp 150.000, berarti unsur variabelnya adalah Rp 850.000.

4. METODE GRAFIS / DIAGRAM PENCAR (SCATTERGRAPH)


Dalam metode ini untuk memisahkan unsur tetap dan unsur variabel dari suatu biaya semi variabel
dengan cara menetapkan titik-titik pengamatan atas biaya tersebut pada sebuah grafik dua dimensi
yang menggambarkan hubungan antara biaya (sumbu vertikal) dengan volume kegiatan (sumbu
horisontal). Gambar dari diagram pencar terlihat pada gambar 3.4 dibawah ini.

Biaya (Rp)

Biaya Variabel

Biaya Tetap

Volume Kegiatan
Gambar 3.4. Diagram Pencar
Untuk memahami metode ini, perlu dipahami beberapa tahapan
sebagai berikut
a. Tetapkan atau plot titik-titik pengamatan atas biaya semi variabel pada koordinatnya masing-
masing.
b. Buat garis yang paling seimbang diantara titik-titik yang telah di plot pada tahap a hingga
memotong sumbu vertikal. Titik potong ini menunjukkan besarnya biaya tetap. Garis ini
merupakan garis total biaya
c. Gambarkan garis biaya tetap mulai dari titik potong pada sumbu vertikal sejajar dengan sumbu
horisontal.
d. Biaya variabel merupakan selisih antara total biaya dengan biaya tetap.

5. METODE REGRESI BERGANDA (MULTIPLE REGRESSION)


Metode ini sebenarnya seperti metode kuadrat terkecil, tetapi memandang bahwa perilaku biaya
semi variabel tidak hanya dipengaruhi oleh satu unsur (variabel) saja, melainkan perlu kita
perhatikan pula faktor-faktor lain.
Misalnya biaya pemeliharaan pad contoh sebelumnya, tidak hanya dipengaruhi oleh jam kerja
mesin tetapi juga oleh banyaknya bahan baku. Sehingga persamaan regresinya menjadi:
Y = a + bx + cm X = Jam kerja
M = bahan baku

Tentu saja model perhitungan regresi sederhana seperti yang telah dibahas sebelumnya (least
square) menjadi tidak dapat lagi digunakan sepenuhnya dan perhitungannya menjadi lebih rumit.
Namun dengan bantuan software komputer untuk program statistik yang saat ini banyak tersedia,
perhitungan ini menjadi sangat mudah kita lakukan.

Pemahaman atas perilaku biaya perlu dilengkapi dengan pemahaman atas hubungan antara biaya,
volume dan laba (cost volume profit analysis). Kemudian diterapkan pada analisis break even
(analisis impas). Oleh sebab itu pada pembahasan berikutnya akan dilanjutkan dengan
pembahasan tentang cost volume profit analysis

SOAL LATIHAN

1. Sebutkan dan jelaskan klasifikasi biaya berdasarkan perilakunya


2. Ada dua tipe biaya tetap. Sebutkan dan jelaskan perilaku dua tipe biaya tetap tersebut.
3. Jelaskan yang dimaksud discretionary variable cost dan berikan contohnya.
4. Salah satu metode pemisahan biaya semi variabel ke dalam biaya tetap dan biaya variabel adalah
metode titik tertinggi dan terendah. jelaskan metode tersebut dan jelaskan pula kelemahannya jika
dipakai sebagai dasar estimasi biaya.
5. Apakah yang dimaksud range relevan dalam biaya tetap ? jelaskan.
6. Apakah dampak peningkatan volume terhadap
a. Biaya tetap per unit
b. Biaya variabel per unit
c. Biaya tetap total
d. Biaya variabel total
7. jumlah hari menginap dan beban perlengkapan pelayanan pada sebuah hotel selama 8 bulan adalah
sebagai berikut
Hari Tamu Beban Hari Tamu Beban
Bulan Bulan
Menginap Perlengkapan Menginap Perlengkapan
Januari 4.000 Rp 7.500.000 Mei 12.000 Rp 13.500.000
Februari 6.500 8.250.000 Juni 9.000 10.750.000
Maret 8.000 10.500.000 Juli 7.500 9.750.000
April 10.500 12.000.000 Agustus 9.500 11.250.000

Tamu menginap adalah ukuran aktivitas hotel secara keseluruhan. Sebagai contoh, tamu yang
menginap selama tiga hari dikategorikan tamu yang menginap 3 hari.
Diminta :
a. Dengan menggunakan high low point methods, tentukan rumus biaya untuk biaya perlengkapan
pelayanan
b. Dengan menggunakan yang telah anda buat, berapakah jumlah biaya perlengkapan pelayanan
yang akan terjadi bila tingkat hunian hotel adalah 1 1.000 hari tamu menginap.

8. Sebuah rumah sakit berkapasitas 450 tempat tidur. Tingkat hunian rata-rata 90 % per bulan. Pada
tingkat hunian ini, biaya operasi rumah sakit Rp 16.000 per pemakaian tempat tidur per hati
dengan anggapan sebulan 30 hari. jumlah biaya tersebut terdiri atas biaya tetap dan biaya variabel.
Selama bulan April tingkat hunian hanya 80 % dan biaya yang terjadi adalah Biaya operational
tetap Rp 79.350 dan Biaya operational semi variabel Rp 105.600
Diminta :
a. Identifikasikan biaya per pemakaian tempat tidur per hati yang variabel
b. Tentukan total biaya operasi per bulan
c. Misalkan tingkat hunian 80 %, berapakah total biaya operational yang diperkirakan akan
terjadi.
9. Dalam proses produksinya, sebuah pabrik harus memanaskan batang tembaga pada temperatur
yang sangat tin ' dengan menggunakan tenaga listrik. Kemudian setelah proses pemotongan,
lembaga tersebut diturunkan suhunya sampai pada tingkat tertentu dan untuk beberapa saat
dipertahankan pada suhu itu sambil menunggu proses berikutnya.
Manajemen ingin mengetahui unsur biaya variabel untuk pembangkit listrik yang digunakan
sebagai pemanas tembaga tersebut dan unsur biaya tetap selama menunggu proses selanjutnya.
Data yang berasal dari pengamatan selama tahun 2002 adalah sebagai berikut:

Kuantitas Kuantitas
Bulan Biaya Listrik Bulan Biaya Listrik
Tembaga Tembaga
Januari 900 Kg Rp 4.000.000 Juli 750 Kg Rp 3.600-000
Februari 650 Kg Rp 3.300.000 Agustus 600 Kg Rp 3.000.000
Maret 500 Kg Rp 2.500.000 September 850 Kg Rp 3.750.000
April 800 Kg Rp 3.500.000 Oktober 700 Kg Rp 3.250.000
Mei 1.000 Kg Rp. 4.500.000 Nopember 950 Kg Rp 4.000.000
Juni 1.200 Kg Rp 4.600.000 Desember 1.300 Kg Rp 5.000.000

Diminta
Coba identifikasikan unsur biaya listrik tersebut yang bersifat fixed dan variable dengan metode-
metode yang dapat digunakan. Mana diantara metode-metode tersebut yang paling baik.