Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam merupakan agama yang sempurna, yang mengatur semua aspek kehidupan manusia. Islam
tidak saja mengatur bagaimana hubungan manusia dengan Allah SWT (hablum minallah), yang
dikenal dengan aspek ibadah, namun Islam juga mengatur bagaimana hubungan manusia dengan
sesamanya (hablum minannas), yang dikenal dengan aspek muamalah.

Perdagangan merupakan aktivitas manusia yang terkait dengan masalah muamalah. Ketentuan
Islam terkait dengan masalah muamalah sangat tegas sebagaimana dijelaskan dalam suatu
kaedah fikih yang menyatakan bahwa prinsip dasar dalam Islam terkait dengan masalah
muamalah adalah boleh, selagi tidak ada dalil yang menunjukkan keharamannya.
Berdasarkan kaidah fikih ini dipahami bahwa Islam memberikan kelapangan yang sangat luas
kepada setiap muslim untuk melakukan berbagai aktivitas yang terkait dengan masalah
muamalah. Batasan kebolehan perbuatan tersebut adalah selagi tidak bertentangan dengan
ketentuan agama yang secara nyata telah ditegaskan oleh Allah akan keharamannya, ataupun
tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar yang telah ditetapkan agama.

Terkait dengan perdagangan atau yang disebut juga perniagaan atau jual beli sebagai salah satu
usaha yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari telah ditegaskan dalam Al
Quran Surat An-Nisa ayat 29 maknanya, Kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan suka
sama suka. Dari ayat tersebut dipahami bahwa perdagangan yang didasari oleh keridhaan antara
penjual dan pembeli merupakan bentuk muamalah yang dibolehkan dalam Islam.

Kebolehan untuk berdagang/jual beli ini juga ditegaskan Allah dalam surat dan ayat lain, seperti
dalam surat Al Baqarah ayat 275 yang maknanya, Dan, Allah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba. Berdasarkan ayat ini dipahami bahwa untuk memenuhi kebutuhan sehari-
hari, seorang muslim boleh melakukan perdagangan atau berdagang, namun demikian Allah juga
tegaskan keharaman bentuk transaksi yang sering dilakukan seseorang, yaitu praktik riba.

Walaupun secara umum telah ditegaskan kebolehan berdagang dalam Al Quran sebagaimana
terdapat dalam Surat Al Baqarah ayat 275 di atas. Namun, para ulama telah menetapkan
ketentuan dalam sebuah perdagangan sehingga transaksi yang dilakukan dalam sebuah
perdagangan dinyatakan sah dalam Islam. Ketentuan tersebut disebut juga dengan rukun dan
syarat perdagangan/jual beli.

Adapun rukun perdagangan/jual beli menurut jumhur ulama yaitu: (a) ada penjual; (b) ada
pembeli; (c) ijab qabul; dan (d) ada benda/barang yang diperdagangankan. Adapun syarat-syarat
perdagangan yang berkaitan dengan pihak-pihak pelaku perdagangan yaitu para penjual maupun
pembeli sebagai pelaku perdagangan harus memiliki kompetensi dalam melakukan aktivitas itu,
yakni dalam kondisi yang sudah akil baligh serta berkemampuan memilih. Tidak sah transaksi
yang dilakukan anak kecil yang belum nalar, orang gila atau orang yang dipaksa.

Adapun syarat perdagangan yang berkaitan dengan obyek perdagangan yaitu: Pertama, obyek
perdagangan tersebut harus suci, bermanfaat, bisa diserahterimakan, dan merupakan milik penuh
salah satu pihak. Tidak sah memperjualbelikan barang najis atau barang haram seperti darah,
bangkai dan daging babi. Karena, benda-benda tersebut menurut syariat tidak dapat digunakan.
Di antara bangkai, tidak ada yang dikecualikan selain ikan dan belalang. Dari jenis darah juga
tidak ada yang dikecualikan selain hati dan limpa, karena ada dalil yang mengindikasikan
demikian. Juga tidak sah menjual barang yang belum menjadi hak milik, karena ada dalil yang
menunjukkan larangan terhadap itu. Tidak ada pengecualian, melainkan dalam perdagangan
pesanan (as-salm).

Yakni, sejenis perdagangan dengan menjual barang yang digambarkan kriterianya secara jelas
dalam kepemilikan, dibayar di muka, yakni dibayar terlebih dahulu tetapi barang
diserahterimakan belakangan. Karena ada dalil menjelaskan disyariatkannya perdagangan ini.
Tidak sah juga menjual barang yang tidak ada atau yang berada di luar kemampuan penjual
untuk menyerahkannya seperti menjual malaqih, madhamin atau menjual ikan yang masih dalam
air, burung yang masih terbang di udara dan sejenisnya. Malaqih adalah anak yang masih dalam
tulang sulbi pejantan. Sedangkan madhamin adalah anak yang masih dalam tulang dada hewan
betina.
Ada pun perdagangan fudhuliy yakni orang yang bukan pemilik barang juga bukan orang yang
diberi kuasa, menjual barang milik orang lain, padahal tidak ada pemberian surat kuasa dari
pemilik barang. Ada perbedaan pendapat tentang perdagangan jenis ini. Namun, yang benar
adalah tergantung dari izin pemilik barang.

Kedua, mengetahui obyek yang diperjualbelikan dan juga pembayarannya, agar tidak terkena
faktor ketidaktahuan yang bisa termasuk menjual kucing dalam karung, karena hal itu
dilarang. Ketiga, tidak memberikan batasan waktu. Tidak sah menjual barang untuk jangka
waktu tertentu yang diketahui atau tidak diketahui. Seperti orang yang menjual rumahnya kepada
orang lain dengan syarat apabila sudah dibayar, maka perdagangan itu dibatalkan. Ini disebut
dengan perdagangan/ jual beli pelunasan (bai wafa).

Ada pun dalam masalah sighat (ijab dan qabul), para ulama fikih berbeda pendapat, di antaranya
berikut ini: Pertama, menurut ulama Syafiiyah, tidak sah akad perdagangan kecuali dengan
sighat (ijab qabul) yang diucapkan. Kedua, Imam Malik berpendapat bahwa perdagangan itu
telah sah dan dapat dilakukan secara dipahami saja. Ketiga, pendapat ketiga ialah penyampaian
akad dengan perbuatan atau disebut juga dengan aqad bi al-muathah yaitu: mengambil atau
memberikan dengan tanpa perkataan (ijab qabul), sebagaimana seseorang membeli sesuatu yang
telah diketahui harganya, kemudian ia mengambilnya dari penjual dan memberikan uangnya
sebagai pembayaran, seperti yang telah lazim kita laksanakan di mall atau supermarket sekarang
ini.

Secara umum, apabila suatu transaksi dalam perdagangan telah memenuhi rukun dan syaratnya,
maka perdagangan itu akan sah dalam pandangan hukum Islam. Demikian juga hal dengan
berbagai bentuk transaksi perdagangan yang muncul dewasa ini, selagi tidak bertentangan
dengan ketentuan dasar dan prinsip-prinsip agama, maka itu merupakan hal yang dibolehkan
oleh agama.













BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Sistem Perdagangan Dalam Islam
Perdagangan dalam kamus wikipwdia dapat didefinisikan sebagai kegiatan tukar menukar barang
atau jasa atau keduanya. Pada masa awal sebelum uang ditemukan, tukar menukar barang
dinamakan barter yaitu menukar barang dengan barang. Pada masa modern perdagangan
dilakukan dengan penukaran uang. Setiap barang dinilai dengan sejumlah uang. Pembeli akan
menukar barang atau jasa dengan sejumlah uang yang diinginkan penjual. Dan aktivitas
perdagangan ini merupakan kegiatan utama dalam sistem ekonomi yang diterjemahkan sebagai
sistem aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran, dan
konsumsi barang dan jasa.

Dalam pandangan Islam Perdangan merupakan aspek kehidupan yang dikelompokkan kedalam
masalah muamalah, yakni masalah yang berkenaan dengan hubungan yang bersifat horizontal
dalam kehidupan manusia. Meskipun demikian, sektor ini mendapatkan penekanan khusus dalam
ekonomi Islam, karena keterkaitannya secara langsung dengan sektor riil. Sistim ekonomi Islam
memang lebih mengutamakan sektor riil dibandingkan dengan sektor moneter, dan transaksi jual
beli memastikan keterkaitan kedua sektor yang dimaksud.

Keutamaan sistem ekonomi yang mengutamakan sektor riil seperti ini, pertumbuhan bukanlah
merupakan ukuran utama dalam melihat perkembangan ekonomi yang terjadi, tetapi pada aspek
pemerataan, dan ini memang lebih dimungkinkan dengan pengembangan ekonomi sektor riil.

Dalam Islam kegiatan perdagangan itu haruslah mengikuti kaidah-kaidah dan ketentuan yang
telah ditetapkan oleh Allah. Aktivitas perdagangan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan-
ketentuan yang digariskan oleh agama mempunyai nilai ibadah. Dengan demikian, selain
mendapatkan keuntungan-keuntungan materiil guna memenuhi kebutuhan ekonomi, seseorang
tersebut sekaligus dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Usaha perdagangan yang
didalamnya terkandung tujuan-tujuan yang eskatologis seperti ini dengan sendirinya mempunyai
watak-watak khusus yang bersumber dari tata nilai samawi. Watak-watak yang khusus itulah
merupakan ciri-ciri dari perdagangan yang Islami sifatnya, dan ini tentu saja merupakan
pembeda dengan pola-pola perdagangan lainnya yang tidak Islami.

Watak ini menjadi karakteristik dasar yang menjadi titik utama pembeda antara kegiatan
perdagangan Islam dengan perdagangan lainnya, yaitu perdagangan yang dilakukan atas dasar
prinsip kejujuran, yang didasarkan pada system nilai yang bersumber dari agama Islam, dan
karenanya didalamnya tidak dikenal apa yang disebut zero sum game, dalam pengertian
keuntungan seseorang diperoleh atas kerugian orang lain. Dengan kejujuran dan aspek spiritual
yang senantiasa melekat pada praktek-praktek pelaksanaannya, usaha perdagangan yang terjadi
akan mendatangkan keuntungan kepada semua pihak yang terlibat. Perdagangan yang dilakukan
dengan cara yang tidak jujur, mengandung unsur penipuan (gharar), yang karena itu ada pihak
yang dirugikan, dan praktek-praktek lain sejenis jelas merupakan hal-hal yang dilarang dalam
Islam.

B. Ayat-ayat dan Hadits tentang perdagangan :
Setiap kegiatan umat Islam dalam kehidupan baik secara vertikal maupun horizontal, telah diatur
dengan ketentuan-ketentuan agar sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah. Hal yang
mendasari setiap perbatan itu dilandaskan pada sumber-sumber hukum yang bersumber dari Al-
Quran dan Hadits. Dengan demikian perdagangan dalam islam juga berdasar dari landasan
hukum tersebut.

Tentang perdagangan di dalam Alquran dengan jelas disebutkan bahwa perdagangan atau
perniagaan merupakan jalan yang diperintahkan oleh Allah untuk menghindarkan manusia dari
jalan yang bathil dalam pertukaran seuatu yang menjadi milik di antara sesama manusia. Seperti
yang tercantum dalam Surat An-Nisa 29.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan
yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.

Dalam melakukan perniagaan, Allah juga telah mengatur adab yang perlu dipatuhi dalam
perdagangan, di mana apabila telah datang waktunya untuk beribadah, aktivitas perdangan perlu
ditingalkan untuk beribadah kepada Allah, surat Al-Jumah 11.

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya
dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah
lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah sebaik-baik pemberi rezki.

Dan dalam ayat lain seperti di surat An-Nur 37, dijelaskan bagaimana orang tidak lalai dalam
mengingat Allah hanya karena perniagaan dan jual beli.

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati
Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada
suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.

Demikain pula tata tertib dalam perdagangan juga telah digariskan di dalam Alquran, baik itu
perdagangan yang bersifat tidak tunai dengan tata aturannya, maupun cara berdagang tunai,
seperti yang tercantum dalam surat Al-Baqarah 282 berikut :

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah[179] tidak secara tunai untuk waktu
yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu
menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah
mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu
mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya,
dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang
lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka
hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari
orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan
dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang
seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila
mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai
batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan
persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu
itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka
tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu
berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang
demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah
kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

[179] Bermuamalah ialah seperti berjualbeli, hutang piutang, atau sewa menyewa dan
sebagainya.

Adab tentang perniagaan dengan jelas pula diatur, bahwa manusia tidak boleh berlebihan dalam
melakukan perdagangan sehingga melupakan kewajibannya terhadap Allah, seperti dijelaskan
dalam Surat At-Taubah 24 berikut :

Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu,
harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat
tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di
jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA". dan Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.


Dalam melakukan transaksi perdagangan Allah memerintahkan agar manusia melakukan dengan
jujur dan Adil. Tata tertib perniagaan ini dijelaskan Allah seperti tercantum dalam Surat Hud 84-
85. Demikian pula dalam Surat Al-Anam 152, yang mengatur tentang takaran dan timbangan
dalam perniagaan.

Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. ia berkata: "Hai
kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. dan janganlah kamu
kurangi takaran dan timbangan, Sesungguhnya Aku melihat kamu dalam keadaan yang baik
(mampu) dan Sesungguhnya Aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan."

Dan Syu'aib berkata: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan
janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat
kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.

Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga
sampai ia dewasa. dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. kami tidak
memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. dan apabila kamu
berkata, Maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu)[519], dan
penuhilah janji Allah[520]. yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.

[519] maksudnya mengatakan yang Sebenarnya meskipun merugikan kerabat sendiri.

[520] maksudnya penuhilah segala perintah-perintah-Nya.

Selain dalam Alquran, tentang perdagangan terdapat hadist yang menjelakan bahwa Allah tidak
akan mengajak sesorang berbicara, tidak dipandang, tidak disucikan dan mereka mendapatkan
siksa yang pedih apabila menipu dalam perniagaan. Seperti yang diriwayatkan dalam hadist
riwayat Bukhari dan Muslim.


3. Etika Perdagangan dalam Islam
Menurut Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi, beberapa hal yang dilarang dalam perdagangan
meliputi:
a Menjual Sesuatu yang Haram, Hukumnya Haram
Sabda Rasulullah : "Sesungguhnya Allah dan RasulNya telah mengharamkan memperdagangkan
arak, bangkai, babi dan patung." (HR. Bukhari dan Muslim)
"Sesungguhnya Allah apabila mengharamkan sesuatu, maka Ia haramkan juga harganya." (HR.
Ahmad dan Abu Daud)
b Menjual Barang yang Masih Samar, Ter-larang
Setiap aqad perdagangan ada lubang yang membawa pertentangan, apabila barang yang dijual itu
tidak diketahui atau karena ada unsur penipuan yang dapat menimbulkan pertentangan antara si
penjual dan pembeli atau karena salah satu ada yang menipu.
Kalau kesamaran itu tidak seberapa, dan dasarnya ialah urfiyah, maka tidaklah haram, misalnya
menjual barang-barang yang berada di dalam tanah, seperti wortel, lobak, dan sebagainya; dan
seperti menjual buah-buahan, misalnya mentimun, semangka dan sebagainya.
Begitulah menurut madzhab Malik, yang membolehkan menjual semua yang sangat dibutuhkan
yang kiranya kesamarannya itu tidak banyak dan memberatkan di waktu terjadinya aqad.
c Mempermainkan Harga
Islam memberikan kebebasan pasar, dan menyerahkannya kepada hukum naluri yang kiranya
dapat melaksanakan fungsinya selaras dengan penawaran dan permintaan. Justru itu kita lihat
Rasulullah s.a.w. ketika sedang naiknya harga, beliau diminta oleh orang banyak supaya
menentukan harga, maka jawab Rasulullah s.a.w.: "Allah-lah yang menentukan harga, yang
mencabut, yang meluaskan dan yang memberi rezeki. Saya mengharap ingin bertemu Allah
sedang tidak ada seorangpun di antara kamu yang meminta saya supaya berbuat zalim baik
terhadap darah maupun harta benda."
Akan tetapi jika keadaan pasar itu tidak normal, misalnya ada penimbunan oleh sementara
pedagang, dan adanya permainan harga oleh para pedagang, maka waktu itu kepentingan umum
harus didahulukan dari pada kepentingan perorangan. Dalam situasi demikian kita dibolehkan
menetapkan harga demi memenuhi kepentingan masyarakat dan demi menjaga dari perbuatan
kesewenang-wenangan dan demi mengurangi keserakahan mereka itu. Begitulah menurut
ketetapan prinsip hukum.
d Penimbun Dilaknat
Rasulullah s.a.w. melarang menimbun dengan ungkapan yang sangat keras.
Sabda Rasulullah : "Barangsiapa menimbun bahan makanan selama empat puluh malam, maka
sungguh Allah tidak lagi perlu kepadanya."
Dan sabdanya pula : "Tidak akan menimbun kecuali orang berbuat dosa." (Riwayat Muslim);
Perkataan khathiun (orang yang berbuat dosa) bukan kata yang ringan. Perkataan ini yang
dibawakan oleh al-Quran untuk mensifati orang-orang yang sombong dan angkuh, seperti
Fir'aun, Haaman dan konco-konconya. Al-Quran itu mengatakan yang artinya:
8. Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir'aun yang akibatnya Dia menjadi musuh dan Kesedihan
bagi mereka. Sesungguhnya Fir'aun dan Haaman beserta tentaranya adalah orang-orang yang
bersalah. (QS. al-Qashash : 8);
Rasulullah s.a.w. menegaskan tentang kepribadian dan ananiyah orang yang suka menimbun itu
sebagai berikut :
"Sejelek-jelek manusia ialah orang yang suka menimbun; jika dia mendengar harga murah,
merasa kecewa; dan jika mendengar harga naik, merasa gembira."
Dan sabdanya pula : "Saudagar itu diberi rezeki, sedang yang menimbun dilaknat."
e Mencampuri Kebebasan Pasar dengan Memalsu
Dapat dipersamakan dengan menimbun yang dilarang oleh Rasulullah s.a.w., yaitu : seorang kota
menjualkan barang milik orang dusun. Bentuknya --sebagai yang dikatakan oleh para ulama--
adalah sebagai berikut : Ada seorang yang masih asing di tempat itu membawa barang dagangan
yang sangat dibutuhkan orang banyak untuk dijual menurut harga yang lazim pada waktu itu.
Kemudian datanglah seorang kota (penduduk kota tersebut) dan ia berkata : Serahkanlah
barangmu itu kepada saya, biarkan sementara di sini untuk saya jualkan dengan harga yang
tinggi. Padahal seandainya si orang dusun itu sendiri yang menjualnya, sudah barang tentu lebih
murah dan dapat memberi manfaat pada kedua daerah dan dia sendiri akan mendapat untung
juga.
Bentuk semacam ini, waktu itu sudah biasa terjadi di masyarakat, sebagaimana yang dikatakan
oleh sahabat Anas r.a.: "Kami dilarang orang kota menjualkan barang orang dusun, sekalipun dia
itu saudara kandungnya sendiri."
Sabda Nabi saw : "Tidak boleh orang kota menjualkan untuk orang dusun; biarkanlah manusia,
Allah akan memberikan rezeki kepada mereka itu masing-masing." (HR. Muslim);
f Perkosaan dan Penipuan, Hukumnya Haram
Demi menjaga agar tidak adanya campur tangan orang lain yang bersifat penipuan, maka
dilarangnya juga oleh Rasulullah apa yang dinamakan najasyun (menaikkan harga) yang
menurut penafsiran Ibnu Abbas, yaitu : "Engkau bayar harga barang itu lebih dari harga biasa,
yang timbulnya bukan dari hati kecilmu sendiri, tetapi dengan tujuan supaya orang lain
menirunya." Cara ini banyak digunakan untuk menipu orang lain.
Kemudian agar pergaulan kita itu jauh dari sifat-sifat pemerkosaan dan pengelabuhan tentang
harga, maka :
Rasulullah s.a.w. melarang mencegat barang dagangan sebelum sampai ke pasar. (HR. Muslim,
Ahmad).
g Siapa yang Menipu, Bukan dari Golongan Kami
Islam mengharamkan seluruh macam penipuan, baik dalam masalah jual-beli, maupun dalam
seluruh macam mu'amalah.
Rasulullah s.a.w. pernah bersabda : "Dua orang yang sedang melakukan jual-beli dibolehkan
tawar-menawar selama belum berpisah; jika mereka itu berlaku jujur dan menjelaskan (ciri
dagangannya), maka mereka akan diberi barakah dalam perdagangannya itu; tetapi jika mereka
berdusta dan menyembunyikan (ciri dagangannya), barakah dagangannya itu akan dihapus."
(HR. Bukhari);
Dan beliau bersabda pula : "Tidak halal seseorang menjual suatu perdagangan, melainkan dia
harus menjelaskan ciri perdagangannya itu; dan tidak halal seseorang yang mengetahuinya,
melainkan dia harus menjelaskannya." (HR. Hakim dan Baihaqi);
h Banyak Sumpah
Lebih keras lagi haramnya, jika tipuannya itu diperkuat dengan sumpah palsu. Oleh karena itu
Rasulullah melarang keras para saudagar banyak bersumpah, khususnya sumpah palsu.
Rasulullah s.a.w. bersabda : "Sumpah itu menguntungkan perdagangan, tetapi dapat
menghapuskan barakah." (HR. Bukhari).

i Mengurangi Takaran dan Timbangan
Salah satu macam penipuan ialah mengurangi takaran dan timbangan. Al-Quran menganggap
penting persoalan ini sebagai salah satu bagian dari mu'amalah, dan dijadikan sebagai salah satu
dari sepuluh wasiatnya di akhir surat al-An'am, yaitu :
...penuhilah janji Allah. yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. (QS.
al-An'am : 152);
Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar.
Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. al-Isra' : 35);
1. Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, 2. (yaitu) orang-orang yang apabila
menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, 3. Dan apabila mereka menakar atau
menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. 4. Tidaklah orang-orang itu menyangka,
bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, 5. Pada suatu hari yang besar, 6. (yaitu) hari
(ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? (QS. al-Muthafifin : 1-6);
j Membeli Barang Rampokan dan Curian sama dengan Perampas dan Pencuri
Di antara bentuk yang diharamkan Islam sebagai usaha untuk memberantas kriminalitas dan
membatasi keleluasaan pelanggaran oleh si pelanggar, ialah tidak halal seorang muslim membeli
sesuatu yang sudah diketahui, bahwa barang tersebut adalah hasil rampokan dan curian atau
sesuatu yang diambil dari orang lain dengan jalan yang tidak benar. Sebab kalau dia berbuat
demikian, sama dengan membantu perampok, pencuri dan pelanggar hak untuk merampok,
mencuri dan melanggar hukum.
Rasulullah s.a.w. pernah bersabda sebagai berikut : "Barangsiapa membeli barang curian, sedang
dia mengetahui bahwa barang tersebut adalah curian, maka dia bersekutu dalam dosa yang
cacat." (HR. Baihaqi);
k Riba adalah Haram
Islam menutup pintu bagi orang yang berusaha akan mengembangkan uangnya itu dengan jalan
riba. Maka diharamkan riba itu sedikit maupun banyak, dan mencela orang-orang Yahudi yang
menjalankan riba padahal mereka telah dilarangnya.
Hai orang-orang yang beriman! Takutlah kepa da Allah, dan tinggalkanlah apa yang tertinggal
dari pada riba jika kamu benar-benar beriman. Apabila kamu tidak mau berbuat demikian, maka
terimalah peperangan dari Allah dan Rasul-Nya, dan jika kamu sudah bertobat, maka bagi kamu
adalah pokok-pokok hartamu, kamu tidak boleh berbuat zalim juga tidak mau dizalimi." (QS. al-
Baqarah : 278-279);
l Menjual Kredit dengan Menaikkan Harga
Apabila si penjual itu menaikkan harga karena temponya, sebagai mana yang kini biasa
dilakukan oleh para pedagang yang menjual dengan kredit, maka sementara fuqaha' ada yang
mengharamkannya dengan dasar, bahwa tambahan harga itu justru berhubung masalah waktu.
Kalau begitu sama dengan riba.
Tetapi jamhur ulama membolehkan, karena pada asalnya boleh, dan nas yang mengharamkannya
tidak ada; dan tidak bisa dipersamakan dengan riba dari segi manapun. Oleh karena itu seorang
pedagang boleh menaikkan harga menurut yang pantas, selama tidak sampai kepada batas
pemerkosaan dan kezaliman. Kalau sampai terjadi demikian, maka jelas hukumnya haram. Imam
Syaukani berkata : "Ulama Syafi'iyah, Hanafiyah, Zaid bin Ali, al-Muayyid billah dan Jumhur
berpendapat boleh berdasar umumnya dalil yang menetapkan boleh. Dan inilah yang kiranya
lebih tepat."

Macam-macam Saham dan Hukumnya

Saham dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang. Ditinjau dari segi kemampuan dalam hak
tagih atau klaim, saham dapat diklasifikasikan ke dalam dua jenis:

Jenis pertama, saham biasa (common stock)

Inilah saham yang paling banyak diperjual-belikan di pasar modal dan yang paling sering
menjadi tema pembahasan di masyarakat. Karakteristik saham biasa (common stock):
1. Tujuan investor atau pemilik saham jenis ini biasanya adalah ingin mendapatkan
pembagian deviden (keuntungan usaha perusahaan) atau memperoleh capital gain (selisih
harga beli dan jual) jika terjadi kenaikan harga.
2. Pemiliknya paling terakhir dalam mendapatkan bagian deviden dan hak atas harta
kekayaan perusahaan apabila perusahaan terkait mengalami kerugian atau pailit.
3. Pemiliknya hanya mendapatkan deviden bila perusahaan berhasil membukukan
keuntungan.
4. Pemegang saham memiliki hak suara dalam RUPS (rapat umum pemegang saham).
5. Pemilik saham berhak mengalihkan kepemilikan sahamnya kepada orang lain, dengan
cara-cara yang dibenarkan dalam.
Secara hukum dan prinsip syariat Islam, tidak mengapa jika Anda memiliki saham jenis ini.
Tentunya, dengan mengindahkan beberapa catatan yang akan disebutkan pada akhir tulisan ini.
Yang demikian itu dikarenakan perserikatan dagang dalam Islam dibangun di atas asas kesamaan
hak dan kewajiban, dan hal ini benar-benar terwujud pada saham jenis ini. Karenanya, tidak ada
keraguan bahwa menerbitkan dan memperjual-belikan saham jenis ini adalah halal. (Suq al-
Auraq al-Maliyah oleh Dr. Khursyid Asyraf Iqbal, hlm. 123; Ahkamut Ta'amul fil Aswaq al-
Maliyah oleh Dr. Mubarak bin Sulaiman al-Sulaiman: 1/148)

Jenis kedua, saham istimewa/preferen (preffered stock)

Sejatinya, saham preferen ini adalah gabungan antara saham biasa dengan obligasi. Karakteristik
saham istimewa merupakan gabungan antara karakteristik obligasi dan karakteristik saham biasa.
Karenanya, selain mendapatkan seluruh hak yang didapatkan oleh pemilik saham biasa, pemilik
saham jenis ini juga mendapatkan hak-hak yang biasanya diberikan kepada para kreditur dalam
obligasi.

Berikut ini adalah beberapa hak yang membedakan saham preferen dari saham biasa:
1. Mendapatkan deviden dalam jumlah yang terjamin dan tetap dalam persentase (suku
bunga). Pemegang saham jenis ini tetap menerima deviden, walaupun kinerja perusahaan
merugi.
2. Mendapatkan prioritas untuk mendapatkan dividen sebelum pemilik saham biasa.
3. Mendapatkan prioritas dalam hak suara dibanding pemilik saham biasa.

Para ulama ahli fikih zaman sekarang -sebatas yang saya ketahui- sepakat untuk mengharamkan
penerbitan dan memperjual-belikan saham jenis ini, dengan beberapa alasan berikut:
1. Para pemilik saham preferen tidak memiliki kelebihan yang menyebabkannya
mendapatkan perilaku istimewa ini. Padahal, keuntungan dalam usaha hanya diberikan
kepada pamilik modal dan atau keahlian, sedangkan pemegang saham preferen tidak
memiliki kelebihan dalam dua hal itu dibanding pemegang saham biasa. Ibnu Qudamah
berkata, "Seseorang berhak mendapatkan keuntungan dikarenakan ia memiliki andil
dengan modal atau keahlian. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk memberikan
persentase keuntungan yang melebihi total modal sekutu pasif. Sehingga, persyaratan
semacam ini tidak sah." (Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah, 7/139)
2. Keuntungan yang diberikan kepada pemilik saham preferen sejatinya adalah riba, karena
modal mereka terjamin dan tetap mendapatkan keuntungan, walaupun kinerja perusahaan
merugi. Tidak diragukan lagi, ini adalah kelaliman dan salah satu bentuk pengambilan
harta orang lain dengan cara-cara yang menyelisihi syariat. Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam telah bersabda,



"Penghasilan/keuntungan adalah imbalan atas kesiapan menanggung kerugian." (Hr. Ahmad,
Abu Daud, at-Tirmidzi, dan an-Nasai; oleh al-Albani dinyatakan sebagai hadits hasan)

Tidak heran bila badan fikih di bawah organisasi OKI, yaitu International Islamic Fiqih
Academy, dengan tegas menyatakan,


"Tidak boleh menerbitkan saham preferen yang memiliki konsekuensi pemberian jaminan atas
dana investasi yang ditanamkan, atau memberikan keuntungan yang bersifat tetap, atau
mendahulukan pemiliknya ketika pengembalian investasi atau pembagian deviden." (Sidang Ke-
7, Keputusan no. 63/1/7)

Saham Kosong

Ini adalah salah satu jenis saham yang sepantasnya Anda ketahui, selain kedua jenis yang telah
dibahas di atas.

Saham kosong biasanya diberikan atas kesepakatan pemegang saham lainnya kepada pihak-
pihak yang dianggap atau diharapkan berjasa pada perusahaan. Para penerima saham kosong ini
berhak mendapatkan deviden dari keuntungan bersih perusahaan. Akan tetapi, saham ini
memiliki berbagai perbedaan dari saham biasa:
1. Saham kosong tidak memiliki nilai nominal yang tertulis pada lembar saham, sehingga
haknya hanya sebatas mendapatkan dividen.
2. Pemegang saham kosong tidak berhak menghadiri RUPS dan juga tidak memiliki
wewenang untuk campur tangan dalam kebijaksanaan dan arah perusahaan.
3. Saham kosong bisa dihapuskan, baik secara keseluruhan atau sebagian saja.

Berdasarkan karakter saham kosong demikian ini, kebanyakan ulama kontemporer melarang
penerbitan saham kosong, dengan beberapa alasan berikut:

Alasan pertama. Saham kosong sejatinya adalah salah satu bentuk jual-beli jasa, sehingga
nominal nilai jualnya haruslah diketahui dan tidak dalam hitungan persentase dari keuntungan
yang tidak menentu jumlahnya. Dengan demikian, saham kosong ini tercakup oleh keumuman
hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berikut:


"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang jual-beli dengan cara melempar batu dan
jual-beli yang mengandung gharar (unsur spekulasi)." (Hr. Muslim)

Alasan kedua. Saham kosong sering kali menjadi ancaman masa depan perusahaan dan
merugikan para pemegang saham.

Alasan ketiga. Biasanya, saham kosong adalah pintu lebar untuk terjadinya praktik manipulasi,
suap, dan tindakan-tindakan tercela lainnya. (Suq al-Auraq al-Maliyaholeh oleh Dr. Khursyid
Asyraf Iqbal, hlm. 320--321 dan Al-Ashum was Sanadat wa Ahkamuha fil Fiqhil Islami, oleh Dr.
Ahmad bin Muhammad al-Khalil, hlm. 173--174)

Kapan Anda Halal memperjual-belikan Saham?

Setelah Anda mengetahui hukum asal penerbitan dan memperjual-belikan ketiga jenis saham di
atas, tidak sepantasnya Anda menutup mata dari fakta dan berbagai hal yang erat hubungannya
dengan saham. Dengan demikian, Anda dapat mengetahui hukum masalah ini dengan benar,
ditinjau dari segala aspeknya.

Berikut ini, saya ringkaskan berbagai persyaratan jual-beli saham yang telah dijelaskan ulama.

Syarat pertama. Perusahaan penerbit saham adalah perusahaan yang benar-benar telah
beroperasi. Saham perusahaan semacam ini boleh diperjual-belikan dengan harga yang
disepakati kedua belah pihak, baik dengan harga jual yang sama dengan nilai nominal yang
tertera pada surat saham atau berbeda.

Adapun saham perusahaan yang sedang dirintis, sehingga kekayaannya masih dalam wujud
uang, maka sahamnya tidak boleh diperjual-belikan kecuali dengan harga yang sama dengan
nilai nominal saham.

Ditambah lagi, pembayaran hendaknya dilakukan dengan cara kontan. Hal ini dikarenakan setiap
surat saham perusahaan jenis ini seutuhnya masih mewakili sejumlah uang modal yang
tersimpan, dan tidak mewakili aset perusahaan. Sehingga, bila diperjual-belikan lebih mahal atau
lebih murah dari nilai nominal saham, berarti telah terjadi praktik tukar-menukar mata uang
dengan cara yang tidak dibenarkan.

Syarat kedua. Perusahaan penerbit saham sepenuhnya bergerak dalam usaha yang dihalalkan
syariat, karena sebagai pemilik saham, seberapa pun besarnya, Anda adalah salah satu pemilik
perusahaan tersebut. Dengan demikian, tanggung jawab Anda atas setiap usaha perusahan
sebesar nilai saham Anda. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala,

,.
"Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (Qs. al-Maidah: 2)

Syarat ketiga. Perusahaan terkait tidak melakukan praktik riba, baik pada pembiayaan,
penyimpanan kekayaan, atau lainnya. Bila suatu perusahaan dalam pembiayaan atau
penyimpanan kekayaannya menggunakan konsep riba, maka Anda tidak dibenarkan untuk
membeli saham perusahaan tersebut.

Sebagai contoh, misalnya suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi perabotan
rumah tangga. Untuk membiayai usahanya, perusahaan tersebut memungut piutang dari bank
ribawi, tentunya dengan suku bunga tertentu. Karena itu, Anda tidak dibenarkan untuk membeli
saham perusahaan semacam ini. Ketentuan ini selaras dengan kaidah dalam ilmu fikih:


"Bila tercampur antara hal yang halal dengan hal yang haram, maka yang lebih dikuatkan adalah
yang haram."[1]

Syarat keempat. Penjualan dan pembeliannya dilakukan dengan cara-cara yang dibenarkan
dalam syariat. Dengan demikian, berbagai hukum yang berlaku pada jual-beli biasa berlaku pula
pada jual-beli saham. Misalnya, Anda tidak dibenarkan menjual kembali saham yang Anda beli
sebelum saham tersebut sepenuhnya diserah-terimakan kepada Anda. Dengan demikian, metode
jual-beli saham yang ada di masyarakat dan yang dikenal dengan sebutan "one day trading" atau
yang serupa adalah metode yang tidak dibenarkan.

Berikut ini adalah gambaran singkat tentang metode ini:

Pengusaha berinisial B, misalnya, membeli sejumlah surat saham dari Broker A dengan
pembayaran terutang, sedangkan surat saham yang telah dibeli tersebut tetap berada di tangan A
sebagai jaminan atas pembayaran yang terhutang, sehingga B belum sepenuhnya menerima surat
saham tersebut. Pada penutupan bursa saham di akhir hari, B berkewajiban menjual kembali
saham tersebut kepada A. Pembayaran antara keduanya pada kedua transaksi tersebut hanya
dilakukan dengan membayar selisih harga jual dari harga beli. Transaksi semacam ini termasuk
transaksi riba yang diharamkan dalam Islam.

: (

)
:

. : : :

Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhu, ia menuturkan, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda, 'Barangsiapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali
hingga ia selesai menerimanya.'"

Ibnu 'Abbas berkata, "Dan saya berpendapat bahwa segala sesuatu barang hukumnya seperti
hukum bahan makanan." Thawus berkata, "Aku bertanya kepada Ibnu 'Abbas, 'Bagaimana
sehingga bisa demikian adanya?" Ia menjawab, "Itu karena sebenarnya yang terjadi adalah
menjual dirham dengan dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda (sebatas kedok
belaka)." (Muttafaqun 'alaih)

Sebagaimana jual-beli ini juga dapat termasuk jual beli 'inah yang diharamkan dalam Islam.
Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


"Bila kalian telah (sibuk dengan) mengikuti ekor-ekor sapi (beternak), berjual-beli dengan cara
'inah dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan melekatkan kehinaan ditengkuk-tengkuk
kalian, kemudian kehinaan tidak akan dicabut dari kalian hingga kalian kembali kepada
keadaan kalian semula dan bertaubat kepada Allah." (Hr. Ahmad, Abu Daud, dan al-Baihaqi;
dinyatakan shahih oleh al-Albani)

Jual-beli 'inah ialah Anda menjual suatu barang kepada orang lain dengan pembayaran terutang.
Setelah jual-beli ini selesai, Anda kembali membeli barang tersebut dengan pembayaran kontan,
dan tentunya dengan harga yang lebih murah.

Pendek kata, saham tak ubahnya barang komoditi lainnya. Dalam proses jual-belinya tetap harus
mengindahkan berbagai hukum dan asas yang telah digariskan dalam Islam.

Berikut ini, saya nukilkan fatwa Badan Fikih Islam di bawah Organisasi Rabithah Alam
Islami/Liga Muslim Dunia (Muslim World League).

Segala puji hanya milik Allah. Salawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam, yang tiada nabi setelahnya, yaitu pemimpin kita sekaligus nabi kita
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, serta kepada keluarga dan sahabatnya.

Amma ba'du.

Sesungguhnya anggota rapat al-Majma' al-Fiqhi di bawah Rabithah Alam Islami, pada rapatnya
ke-14, yang diadakan di kota Mekkah al-Mukarramah, yang dimulai dari hari Sabtu tanggal 20
Sya'ban 1415 H dan yang bertepatan dengan tanggal 21 Januari 1995 M, telah membahas
permasalahan ini (jual-beli saham perusahaan, pen) dan kemudian menghasilkan keputusan
berikut:
1. Karena hukum dasar dalam perniagaan adalam halal dan mubah, maka mendirikan suatu
perusahaan publik yang bertujuan dan bergerak dalam hal yang mubah adalah dibolehkan
menurut syariat.
2. Tidak diperselisihkan akan keharaman ikut serta menanam saham pada perusahaan-
perusahaan yang tujuan utamanya diharamkan, misalnya bergerak dalam transaksi riba,
memproduksi barang-barang haram, atau memperdagangkannya.
3. Tidak dibolehkan bagi seorang muslim untuk membeli saham perusahaan atau badan
usaha yang pada sebagian usahanya menjalankan praktik riba, sedangkan pembelinya
mengetahui akan hal itu.
4. Bila ada seseorang yang terlanjur membeli saham suatu perusahaan sedangkan ia tidak
mengetahui bahwa perusahaan tersebut menjalankan transaksi riba, lalu di kemudian hari
ia mengetahui hal tersebut, maka ia wajib untuk keluar dari perusahaan tersebut.
Keharaman membeli saham perusahaan tersebut telah jelas, berdasarkan keumuman dalil-dalil
al-Quran dan as-Sunnah yang mengharamkan riba. Hal ini dikarenakan membeli saham
perusahaan yang menjalankan transaksi riba sedangkan pembelinya telah mengetahui akan hal
itu, berarti pembeli telah ikut ambil andil dalam transaksi riba.

Yang demikian itu karena saham merupakan bagian dari modal perusahaan, sehingga pemiliknya
ikut memiliki sebagian dari aset perusahaan. Sehingga, pada seluruh harta yang dipiutangkan
oleh perusahaan dengan mewajibkan bunga atau yang harta diutang oleh perusahaan dengan
ketentuan membayar bunga, pemilik saham telah memiliki bagian dan andil darinya.

Hal ini disebabkan orang-orang (pelaksana perusahaan, pen) yang mengutangkan atau menerima
piutang dengan ketentuan membayar bunga, sebenarnya adalah perwakilan dari pemilik saham,
dan hukum mewakilkan seseorang untuk melakukan pekerjaan yang diharamkan adalah tidak
boleh.

Semoga salawat dan salam yang berlimpah senantiasa dikaruniakan kepada Nabi Muhammad,
keluarga, dan sahabatnya. Serta segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.[2]

International Islamic Fiqih Academy, organisasi fikih internasional di bawah naungan OKI
(Organisasi Konferensi Islam), pada sidangnya yang ke-7, keputusan no. 63 (1/7) juga
memfatwakan hal yang sama.

Mungkin Anda berkata, "Bila hukum asal memperjual-belikan saham adalah halal, mengapa para
ulama menambahkan beberapa persyaratan lain agar suatu saham boleh diperdagangkan?

Saudaraku, tidak perlu heran, karena saham tidak berbeda dari berbagai harta kekayaan lainnya,
semisal padi, emas, hewan ternak, dan lainnya.

Walaupun berbagai harta ini halal untuk Anda perjual-belikan, tetapi tidak berarti Anda dapat
melakukannya sesuka Anda. Beberapa batasan dan ketentuan harus Anda indahkan, agar
peniagaan Anda selaras dengan syariat. Karenanya, Anda tidak dibenarkan untuk menukar-
tambahkan emas dengan emas, apa pun alasan Anda.


"Janganlah engkau jual emas ditukar dengan emas melainkan sama dengan sama, dan
janganlah engkau lebihkan sebagiannya di atas sebagian lainnya. Janganlah engkau jual perak
ditukar dengan perak melainkan sama dengan sama, dan janganlah engkau lebihkan
sebagiannya di atas sebagian lainnya. Serta janganlah engkau jual sebagiannya yang
diserahkan dengan kontan ditukar dengan lainnya yang tidak diserahkan dengan kontan." (Hr.
al-Bukhari dan Muslim)

Saudaraku, kemewahan dan kemajuan sarana dan prasarana lantai bursa, tempat
memperdagangkan saham, dan berbagai surat berharga lainnya tidak sepantasnya menjadikan
umat Islam silau sehingga melalaikan berbagai ketentuan syariat dalam perniagaan.

Tidak mengherankan bila berbagai hukum yang berlaku di pasar tradisional dengan berbagai
jenis komoditi perdagangan dan metode transaksinya juga berlaku pada lantai bursa. Hal ini
dikarenakan berbagai hukum syariat Islam senantiasa dikaitkan dengan inti setiap ucapan dan
tindakan, bukan dengan penampilan luar dan berbagai hal sekunder lainnya. Wallahu Ta'ala
a'lam bish-shawab.

Semoga salawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi
wa sallam, keluarga, dan sahabatnya. Amiin.



Fakta Saham
Saham bukan fakta yang berdiri sendiri, namun terkait pasar modal sebagai tempat
perdagangannya dan juga terkait perusahaan publik (perseroan terbatas/PT) sebagai pihak yang
menerbitkannya. Saham merupakan salah satu instrumen pasar modal (stock market).
Dalam pasar modal, instrumen yang diperdagangkan adalah surat-surat berharga (securities)
seperti saham dan obligasi, serta berbagai instrumen turunannya (derivatif) yaitu opsi, right,
waran, dan reksa dana. Surat-surat berharga yang dapat diperdagangkan inilah yang disebut
efek (Hasan, 1996).
Saham adalah surat berharga yang merupakan tanda penyertaan modal pada perusahaan yang
menerbitkan saham tersebut. Dalam Keppres RI No. 60 tahun 1988 tentang Pasar Modal, saham
didefinisikan sebagai surat berharga yang merupakan tanda penyertaan modal pada perseroan
terbatas sebagaimana diatur dalam KUHD (Kitab Undang-Undang Hukum Dagang
atau Staatbald No. 23 Tahun 1847). (Junaedi, 1990). Sedangkan obligasi (bonds, as-
sanadat) adalah bukti pengakuan utang dari perusahaan (emiten) kepada para pemegang obligasi
yang bersangkutan (Siahaan & Manurung, 2006).
Selain terkait pasar modal, saham juga terkait PT (perseroan terbatas, limited company) sebagai
pihak yang menerbitkannya. Dalam UU No. 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas pasal 1
ayat 1, perseroan terbatas didefinisikan sebagai badan hukum yang didirikan berdasarkan
perjanjian, yang melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam
saham, Modal dasar yang dimaksud, terdiri atas seluruh nilai nominal saham (ibid., pasal 24
ayat 1).
Definisi lain menyebutkan, perseroan terbatas adalah badan usaha yang mempunyai kekayaan,
hak, serta kewajiban sendiri, yang terpisah dari kekayaan, hak, serta kewajiban para pendiri
maupun pemiliknya (M. Fuad, et.al., 2000). Jadi sesuai namanya, keterlibatan dan tanggung
jawab para pemilik PT hanya terbatas pada saham yang dimiliki.
Perseroan terbatas sendiri juga mempunyai kaitan dengan bursa efek. Kaitannya, jika sebuah
perseroan terbatas telah menerbitkan sahamnya untuk publik (go public) di bursa efek, maka
perseroan itu dikatakan telah menjadi perseroan terbatas terbuka (Tbk).
Fakta Pasar Modal
Pasar modal adalah sebuah tempat di mana modal diperdagangkan antara pihak yang memiliki
kelebihan modal (pihak investor) dengan orang yang membutuhkan modal (pihakissuer/emiten)
untuk mengembangkan investasi. Dalam UU Pasar Modal No. 8 tahun 1995, pasar modal
didefinisikan sebagai kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan
efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan
profesi yang berkaitan dengan efek. (Muttaqin, 2003).
Para pelaku pasar modal ini ada 6 (enam) pihak, yaitu :
(1). Emiten, yaitu badan usaha (perseroan terbatas) yang menerbitkan saham untuk menambah
modal, atau menerbitkan obligasi untuk mendapatkan utang dari para investor di Bursa Efek.
(2). Perantara Emisi, yang meliputi 3 (tiga) pihak, yaitu : a. Penjamin Emisi (underwriter),
yaitu perusahaan perantara yang menjamin penjualan emisi, dalam arti jika saham atau obligasi
belum laku, penjamin emisi wajib membeli agar kebutuhan dana yang diperlukan emiten
terpenuhi sesuai rencana; b. Akuntan Publik, yaitu pihak yang berfungsi memeriksa kondisi
keuangan emiten dan memberikan pendapat apakah laporan keuangan yang telah dikeluarkan
oleh emiten wajar atau tidak.c. Perusahaan Penilai (appraisal), yaitu perusahaan yangberfungsi
untuk memberikan penilaian terhadap emiten, apakah nilai aktiva emiten wajar atau tidak.
(3). Badan Pelaksana Pasar Modal, yaitu badan yang mengatur dan mengawasi jalannya pasar
modal, termasuk mencoret emiten (delisting) dari lantai bursa dan memberikan sanksi kepada
pihak-pihak yang melanggar peraturan pasar modal. Di Indonesia Badan Pelaksana Pasar Modal
adalah BAPEPAM (Badan Pengawas dan Pelaksana Pasar Modal) yang merupakan lembaga
pemerintah di bawah Menteri Keuangan.
(4). Bursa Efek, yakni tempat diselenggarakannya kegiatan perdagangan efek pasar modal yang
didirikan oleh suatu badan usaha. Di Indonesia terdapat dua Bursa Efek, yaitu Bursa Efek Jakarta
(BEJ) yang dikelola PT Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (BES) yang dikelola oleh
PT Bursa Efek Surabaya.
(5). Perantara Perdagangan Efek. Yaitu makelar (pialang/broker) dan komisioner yang hanya
lewat kedua lembaga itulah efek dalam bursa boleh ditransaksikan. Makelar adalah perusahaan
pialang (broker) yang melakukan pembelian dan penjualan efek untuk kepentingan orang lain
dengan memperoleh imbalan. Sedang komisioner adalah pihak yang melakukan pembelian dan
penjualan efek untuk kepentingan sendiri atau untuk orang lain dengan memperoleh imbalan.
(6). Investor, adalah pihak yang menanamkan modalnya dalam bentuk efek di bursa efek dengan
membeli atau menjual kembali efek tersebut (Junaedi, 1990; Muttaqin, 2003; Syahatah &
Fayyadh, 2004).
Dalam pasar modal, proses perdagangan efek (saham dan obligasi) terjadi melalui tahapanpasar
perdana (primary market) kemudian pasar sekunder (secondary market). Pasar
perdana adalah penjualan perdana saham dan obligasi oleh emiten kepada para investor, yang
terjadi pada saat IPO (Initial Public Offering) atau penawaran umum pertama. Kedua pihak yang
saling memerlukan ini tidak bertemu secara dalam bursa tetapi melalui pihak perantara seperti
dijelaskan di atas. Dari penjualan saham dan efek di pasar perdana inilah, pihak emiten
memperoleh dana yang dibutuhkan untuk mengembangkan usahanya.
Sedangkan pasar sekunder adalah pasar yang terjadi sesaat atau setelah pasar perdana berakhir.
Maksudnya, setelah saham dan obligasi dibeli investor dari emiten, maka investor tersebut
menjual kembali saham dan obligasi kepada investor lainnya, baik dengan tujuan mengambil
untung dari kenaikan harga (capital gain) maupun untuk menghindari kerugian (capital loss).
Perdagangan di pasar sekunder inilah yang secara reguler terjadi di bursa efek setiap harinya.
Jual Beli Saham dalam Pasar Modal Menurut Islam
Para ahli fikih kontemporer sepakat, bahwa haram hukumnya memperdagangkan saham di pasar
modal dari perusahaan yang bergerak di bidang usaha yang haram. Misalnya, perusahaan yang
bergerak di bidang produksi minuman keras, bisnis babi dan apa saja yang terkait dengan babi,
jasa keuangan konvensional seperti bank dan asuransi, dan industri hiburan, seperti kasino,
perjudian, prostitusi, media porno, dan sebagainya. Dalil yang mengharamkan jual beli saham
perusahaan seperti ini adalah semua dalil yang mengharamkan segala aktivitas tersebut.
(Syahatah dan Fayyadh, Bursa Efek : Tuntunan Islam dalam Transaksi di Pasar Modal, hal. 18;
Yusuf As-Sabatin, Al-Buyu Al-Qadimah wa al-Muashirah wa Al-Burshat al-Mahalliyyah wa
Ad-Duwaliyyah, hal. 109).
Namun mereka berbeda pendapat jika saham yang diperdagangkan di pasar modal itu adalah dari
perusahaan yang bergerak di bidang usaha halal, misalnya di bidang transportasi,
telekomunikasi, produksi tekstil, dan sebagainya. Syahatah dan Fayyadh berkata,Menanam
saham dalam perusahaan seperti ini adalah boleh secara syariDalil yang menunjukkan
kebolehannya adalah semua dalil yang menunjukkan bolehnya aktivitas tersebut. (Syahatah
dan Fayyadh, ibid., hal. 17).
Tapi ada fukaha yang tetap mengharamkan jual beli saham walau dari perusahaan yang bidang
usahanya halal. Mereka ini misalnya Taqiyuddin an-Nabhani (2004), Yusuf as-Sabatin (ibid.,
hal. 109) dan Ali As-Salus (Mausuah Al-Qadhaya al-Fiqhiyah al-Muashirah, hal. 465).
Ketiganya sama-sama menyoroti bentuk badan usaha (PT) yang sesungguhnya tidak Islami. Jadi
sebelum melihat bidang usaha perusahaannya, seharusnya yang dilihat lebih dulu adalah bentuk
badan usahanya, apakah ia memenuhi syarat sebagai perusahaan Islami (syirkah Islamiyah) atau
tidak.
Aspek inilah yang nampaknya betul-betul diabaikan oleh sebagian besar ahli fikih dan pakar
ekonomi Islam saat ini, terbukti mereka tidak menyinggung sama sekali aspek krusial ini.
Perhatian mereka lebih banyak terfokus pada identifikasi bidang usaha (halal/haram), dan
berbagai mekanisme transaksi yang ada, seperti transaksi spot (kontan di tempat),
transaksioption, transaksi trading on margin, dan sebagainya (Junaedi, 1990; Zuhdi, 1993;
Hasan, 1996; Az-Zuhaili, 1996; Al-Mushlih & Ash-Shawi, 2004; Syahatah & Fayyadh, 2004).
Taqiyuddin an-Nabhani dalam An-Nizham al-Iqtishadi (2004) menegaskan bahwa perseroan
terbatas (PT, syirkah musahamah) adalah bentuk syirkah yang batil (tidak sah), karena
bertentangan dengan hukum-hukum syirkah dalam Islam. Kebatilannya antara lain dikarenakan
dalam PT tidak terdapat ijab dan kabul sebagaimana dalam akad syirkah. Yang ada hanyalah
transaksi sepihak dari para investor yang menyertakan modalnya dengan cara membeli saham
dari perusahaan atau dari pihak lain di pasar modal, tanpa ada perundingan atau negosiasi apa
pun baik dengan pihak perusahaan maupun pesero (investor) lainnya. Tidak adanya ijab kabul
dalam PT ini sangatlah fatal, sama fatalnya dengan pasangan laki-laki dan perempuan yang
hanya mencatatkan pernikahan di Kantor Catatan Sipil, tanpa adanya ijab dan kabul secara
syari. Sangat fatal, bukan?
Maka dari itu, pendapat kedua yang mengharamkan bisnis saham ini (walau bidang usahanya
halal) adalah lebih kuat (rajih), karena lebih teliti dan jeli dalam memahami fakta, khususnya
yang menyangkut bentuk badan usaha (PT). Apalagi, sandaran pihak pertama yang
membolehkan bisnis saham asalkan bidang usaha perusahaannya halal, adalah dalil al-Mashalih
Al-Mursalah, sebagaimana analisis Yusuf As-Sabatin (ibid., hal. 53). Padahal menurut
Taqiyuddin An-Nabhani, al-Mashalih Al-Mursalah adalah sumber hukum yang lemah, karena
kehujjahannya tidak dilandaskan pada dalil yang qathi (Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, Juz III
(Ushul Fiqih), hal. 437)
Kesimpulan
Menjual belikan saham dalam pasar modal hukumnya adalah haram, walau pun bidang usaha
perusahaan adalah halal. Maka dari itu, dengan sendirinya keberadaan pasar modal itu sendiri
hukumnya juga haram. Hal itu dikarenakan beberapa alasan, utamanya karena bentuk badan
usaha berupa PT adalah tidak sah dalam pandangan syariah, karena bertentangan dengan hukum-
hukum syirkah dalam Islam. Wallahu alam [ ] (www.konsultasi.wordpress.com)

DAFTAR PUSTAKA
1. http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=849
2. http://sondix.blogspot.com/2014/01/pengertian-sistem-perdagangan-dalam.html
3. http://www.metrojambi.com/v1/home/kolom/20560-perdagangan-dalam-al-quran-dan-
hadits-sistem-perdagangan-dalam-islam.html
4. http://konsultasi.wordpress.com/2007/09/14/jual-beli-saham-dalam-pandangan-islam/
5. http://pengusahamuslim.com/saham-dalam-timbangan-islam/