Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Udara merupakan faktor yang penting dalam kehidupan, namun dengan meningkatnya
pembangunan fisik kota dan pusat pusat industri, kualitas udara telah mengalami
perubahan. Udara yang dulunya segar, kini kering dan kotor. Keadaan ini apabila tidak segera
di tanggulangi dapat membahayakan kesehatan manusia, kehidupan hewan, serta tumbuhan.
Perubahan lingkungan udara disebabkan pencemaran udara, yaitu masuknya zat pencemar
(berbentuk gas gas dan partikel kecil / aerosol) kedalam udara. Zat pencemar masuk
kedalam udara dapat secara alamiah (asap kebakaran hutan, akibat gunung berapi, debu
meteorit, dan pancaran garam dari laut) dan aktivitas manusia (transportasi, industri
pembuangan sampah). Konsentrasi pencemaran udara di beberapa kota besar dan daerah
industri Indonesia menyebabkan adanya gangguan pernafasan, iritasi pada mata dan telinga,
timbulnya penyakit tertentu serta gangguan jarak pandang.
Di kota-kota besar, kontribusi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara
mencapai 60-70%. Sedangkan kontribusi gas buang dari cerobong asap industri hanya
berkisar 10-15%, sisanya berasal dari sumber pembakaran lain,misalnya dari rumah tangga,
pembakaran sampah, kebakaran hutan, dll. Sebenarnya banyak polutan udara yang perlu
diwaspadai, tetapi organisasi kesehatan dunia (WHO) menetapkan beberapa jenis polutan
yang dianggap serius.Polutan udara yang berbahaya bagi kesehatan manusia, hewan,serta
mudah merusak harta benda adalah partikulat yang mengandung partikel aspa dan jelaga,
hidrokarbon, sulfur dioksida, dan nitrogen oksida. Semuanya diemisikan oleh kendaraan
bermotor. WHO memperkirakan bahwa 70% penduduk kota di dunia pernah menghirup
udara kotor akibat emisi kendaraan bermotor, sedangkan 10% sisanya menghirup udara yang
bersifat marginal. Akibatnya fatal bagi bayi dan anak-anak. Orang dewasa yang beresiko
tinggi, misalnya wanita hamil, usia lanjut, serta orang yang telah memiliki riwayat penyakit
paru dan saluran pernapasan menahun. Celakanya, para penderita maupun keluarganya tidak
menyadari bahwa berbagai akibat negatif tersebut berasal dari polusi udara akibat emisi
kendaraan bermotor yang semakin memprihatinkan.
Demikian pentingnya masalah pencemaran udara khususnya oleh partikulat, maka
diperlukan upaya untuk mengendalikan pencemaran tersebut. Dalam makalah ini akan
dibahas mengenai gambaran umum tentang udara dan permasalahannya serta upaya
pengendalian pencemaran udara oleh partikulat.
1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas dapat rumuskan beberapa masalah, yaitu:
1. Apa definisi pencemaran udara?
2. Bagaimana kondisi kebersihan udara saat ini?
3. Apa penyebab terjadinya pencemaran udara?
4. Apa dampak terjadinya pencemaran udara?
5. Bagaimana pengendalian pencemaran udara oleh partikulat?
1.3 Tujuan
Pembahasan dibawah ini bertujuan untuk mengetahui gambaran secara umum tentang udara
dan permasalahanya serta mengetahui tentang upaya - upaya dalam pengendalian pencemaran
udara.













BAB II
PENCEMARAN UDARA OLEH PARTIKULAT

2.1 Jenis dan Sifat Partikulat
Partikulat merupakan partikulat-partikulat kecil padatan dan droplet cairan. Beberapa
partikulat dalam berbagai bentuk dapat melayang di udara. Bentuk dan komponen penyusun
partikulat tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.1. Bentuk dan Komponen Penyusun Partikulat
NO. KOMPONEN BENTUK
1. Karbon

2. Besi Fe
2
O
3
, Fe
3
O
4

3. Magnesium MgO
4. Kalsium CaO
5. Alumunium Al
2
O
3

6. Sulfur SO
2

7. Titanium TiO
2

8. Karbonat CO
3
-
9. Silikon SiO
2

10. Fosfor P
2
O
5

11. Kalium K
2
O
12. Natrium Na
2
O
13. Lain-lain

Sifat kimia masing-masing partikulat berbeda-beda, akan tetapi secara fisik ukuran partikulat
berkisar antara 0,0002 500 mikron. Pada kisaran tersebut partikulat mempunyai umum
dalam bentuk tersuspensi di udara antara beberapa detik sampai beberapa bulan. Umur
partikulat tersebut dipengaruhi oleh kecepatan pengendapan yang ditentukan dari ukuran dan
densitas partikulat serta aliran (turbulensi) udara. Secara umum kenaikan diamter akan
meningkatkan kecepatan pengendapan, dari hasil studi (Stoker dan Seager, 1972)
menunjukkan bahwa kenaikan diameter sebanyak 10.000 akan menyebabkan kecepatan
pengendapan sebesar 6 juta kalinya.

Partikulat yang berukuran 2 40 mikron (tergantung densitasnya) tidak bertahan terus di
udara dan akan segera mengendap. Partikulat yang tersuspensi secara permanen di udara juga
mempunyai kecepatan pengendapan, tetapi partikulat-partikulat tersebut tetap di udara karena
gerakan udara.
Sifat partikulat lainnnya yang penting adalah kemampuannya sebagai tempat absorbsi (sorbsi
secara fisik ) atau kimisorbsi (sorbsi disertai dengan interaksi kimia). Sifat ini merupakan
fungsi dari luas permukaan. Jika molekul terosorbsi tersebut larut di dalam partikulat, maka
keadaannya disebut absorbsi. Jenis sorbsi tersebut sangat menentukan tingkat bahaya dari
partikulat.
Sifat partikulat lainnya adalah sifat optiknya. Partikulat yang mempunyai diameter kurang
dari 0,1 mikron berukuran sedemikian kecilnya dibandingkan dengan panjang gelombang
sinar sehingga partikulat-partikulat tersebut mempengaruhi sinar seperti halnya molekul-
molekul dan menyebabkan refraksi. Partikulat yang berukuran lebih besar dari 1 mikron
ukurannya jauh lebih besar dari panjang gelombang sinar tampak dan merupakan objek
makroskopik yang menyebarkan sinar sesuai denganpenampang melintang partikulat
tersebut. Sifat optik ini penting dalam menentukan pengaruh partikulat atmosfer terhadap
radiasi dan visibilitas solar energi.
2.2 Sumber Polusi Partikulat
Berbagai proses alami mengakibatkan penyebaran partikulat di atmosfer, misalnya letusan
vulkano dan hembusan debu serta tanah oleh angin. Aktivitas manusia juga berperan
dalampenyebaran partikulat, misalnya dalam bentuk partikulat-partikulat debu dan asbes dari
bahan bangunan, abu terbang dari proses peleburan baja, dan asap dari proses pembakaran
tidak sempurna, terutama dari batu arang. Sumber partikulat yang utama adalah dari bakaran
bahan bakar kendaraan dan diikuti oleh proses-proses industri.
Terdapat hubungan antara ukuran partikulat polutan dengan sumbernya. Partikulat yang
berdiameter lebih besar dari 10 mikron dihasilkan dari proses-proses mekanis seperti erosi
angin, penghancuran dan penyemprotan, dan pelindasan benda-benda oleh kendaraan atau
pejalan kaki. Partikulat yang berukuran diameter 1 10 mikron biasanya termasuk tanah,
debu, dan produk-produk pembakaran dari industri lokal dan pada tempat-tempat tertentu
juga terdapat garam laut.
Partikulat yang berukuran antara 0,1 1 mikron terutama merupakan produk-produk
pembakaran dan aerosol fotokimia. Partikulat yang mempunyai diameter kurang dari 0,1
mikron belum diidentifikasi secara kimia, tetapi diduga berasal dari sumber-sumber
pembakaran. Untuk menyatakan konsentrasi partikulat adalah mikro gram per m3 (g/m3).
Untuk mengubah dari g/m3 menjadi ppm dengan dasar volume, diperlukan data mengenai
berat molekul partikulat tersebut. Karena komposisi partikulat bervariasi, maka sulit untuk
menentukan berat molekulnya.
2.3 Pengaruh Partikulat terhadap Lingkungan
2.3.1 Pengaruh terhadap Tanaman
Pengaruh partikulat terhadap tanaman terutama adalah dalam bentuk debunya,dimana debu
tersebut jika bergabung dengan uap air atau air hujan gerimis akan membentuk kerak yang
tebal pada permukaan daun, dan tidak dapat tercuci dengan air hujan kecuali dengan
menggosoknya. Lapisan kerak tersebut akan mengganggu proses fotosintesis pada tanaman
karena menghambat masuknya sinar matahari dan mencegah pertukaran CO2 dengan
atmosfer. Akibatnya petumbuhan tanaman menjadi terganggu. Bahaya lain yang ditimbulkan
dari pengumpulan partikulat padatanaman adalah kemungkinan bahwa partikulat tersebut
mengandung komponen kimia yang berbahaya bagi hewan yang memakan tanaman tersebut.
2.3.2 Pengaruh terhadap Manusia
Polutan partikulat masuk ke dalam tubuh manusia terutama melalui sistem pernapasan, oleh
karena itu pengaruh yang merugikan langsung terutama terjadi pada sistem pernafasan.
Faktor yang paling berpengaruh terhadap sistem pernafasan terutama adalah ukuran
partikulat, karena ukuran partikulat yangmenentukan seberapa jauh penetrasi partikulat ke
dalam sistem pernafasan.
Sistem pernafasan mempunyai beberapa sistem pertahanan yang mencegah masuknya
partikulat-partikulat, baik berbentuk padat maupun cair, ke dalam paru-paru. Bulu-bulu
hidung akan mencegah masuknya partikulat-partikulat berukuran besar, sedangkan partrikel-
partikulat yang lebih kecil akan dicegah masuk oleh membran mukosa yang terdapat di
sepanjang sistem pernafasan dan merupakan permukaan tempat partikulat menempel.
Pada beberapa bagian sistem pernafasan terdapat bulu-bulu halus (silia) yang bergerak ke
depan dan ke belakang bersama-sama mukosa sehingga membentuk aliran yang membawa
partikulat yang ditangkapnya keluar dari sistem pernafasan ke tenggorokan, dimana partikulat
tersebut tertelan. Partikulat yang mempunyai diameter lebih besar dari pada 5,0 mikron akan
berhenti dan terkumpul terutama di dalam hidung dan tenggorokan. Meskipun partikulat
tersebut sebagian dapat masuk ke dalam paru-paru tetapi tidak pernah lebih jauh dari
kantung-kantung udara atau bronchi, bahkan segera dapat dikeluarkan oleh gerakan silia.
Partikulat yang berukuran diameter 0,5 - 5,0 mikron dapar terkumpul di dalam paru-paru
sampai pada bronchioli, dan hanya sebagian kecil yang sampai pada alveoli. Sebagian besar
partikulat yang terkumpul di dalam bronchioli akan dikeluarkan oleh silia dalam 2 jam.
Partikulat yang berukuran diameter kurang dari 0,5 mikron dapat mencapai dan tinggal di
dalam alveoli. Pembersihan partikulat-partikulat yang sangat kecil tersebut dari alveoli sangat
lambat dan tidak sempurna dibandingkan dengan di dalam saluran yang lebih besar. Beberapa
partikulat yang tetap tertinggal di dalam alveoli dapat terabsorpsi ke dalam darah.
Partikulat-partikulat yang masuk dan tertinggal di dalam paru-paru mungkin berbahaya bagi
kesehatan karena tiga hal penting, yaitu :
1. Partikulat tersebut mungkin beracun karena sifat-sifat kimia dan fisiknya.
2. Partikulat tersebut mungkin bersifat inert (tidak bereaksi) tetapi jika tertinggal di
dalam saluran pernafasan dapat mengganggu pembersihan bahan-bahan lain yang
berbahaya.
3. partikulat-partikulat tersebut mungkin dapat membawa molekul-molekul gas yang
berbahaya, baik dengan cara mengabsorbsi atau mengabsorpsi, sehingga molekul-
molekul gas tersebut dapat mencapai dantertinggal di bagian paru-paru yang sensitif.
Karbon merupakan partikulat yang umum dengan kemampuan yang baik untuk
mengabsorbsi molekul-molekul gas pada permukaannya.
Partikulat-partikulat yang beracun biasanya tidak terdapat dalam jumlah tinggi di atmosfer,
kecuali aerosol asam sulfat, melainkan terdapat dalam jumlah sangat kecil. Tabel di bawah
ini memperlihatkan berbagai partikulat logam yang berbahaya yang biasanya terdapat dalam
jumlah kecil sekali. Tetapi konsentrasi tersebut dapat meningkat karena aktivitas manusia.
Tabel 2.2 Partikulat-partikulat logam yang berbahaya bagi kesehatan
NO. ELEMEN SUMBER PENGARUH
1. Nikel
Minyak diesel, minyak residu, batu
arang,asap tembakau, bahan kimia dan
katalis, baja dan logam lain
Kanker paru-paru (sebagai
karbonil)
2. Berilium Batu karang, industri tenaga nuklear
Keracunan akut dan khronis,
kanker
3. Boron
Batu arang, bahan pembersih,
kedikteran, industri gelas dan industri
lain
Tidak beracun kecuali dalam
bentuk boran
4. Germanium Batu arang Keracunan ringan
5. Arsenik
Batu arang, petroleum, deterjen,
pestisida
Kemungkinan kanker
6. Selenium Batu arang, sulfur
Karang gigi, karsinogenik pada
tikus, penting pada mamalia pada
dosis rendah
7. Titrium Batu arang, petroleum
Karsinogenik terhadap tikus jika
kontak dalamwaktulama
8. Merkuri
Batu arang, baterai elektrik, industri
lain
Kerusakan syaraf dan kematian
9. Vanadium
Petroleum, kimia dan katalis, baja, dan
logam lain
Tidak berbahaya pada konsentrasi
yang pernah ada
10. Kadmium
Batu arang, peleburan seng, pipa air,
asap tembakau
Penyakit jantung dan hipertensi
pada manusia, mengganggu
metabolisme seng dan tembaga
11. Antimoni Industri Memperpendek umur tikus
12. Timbal
Buangan mobil (dari bensin), cat
(sebelum 1948)
Kerusakan otak, konvulsi,
gangguan tingkah laku, kematian
2.3.3 Pengaruh terhadap Bahan Lain
Partikulat-partikulat yang terdapat di udara dapat mengakibatkan berbagai kerusakan
padaberbagai bahan. Jenis dan tingkat kerusakan yang dihasilkan oleh partikulat dipengaruhi
oleh komposisi kimia dansifat fisik partikulat tersebut. Kerusakan pasif terjadi jika partikulat
menempel atau mengendap pada bahan-bahan yang terbuat dari tanah sehingga harus sering
dibersihkan. Proses pembersihan sering mengakibatkan cacat pada permukaan benda-benda
dari tanah tersebut. Kerusakan kimia terjadi jika partikulat yang menempel bersifat korosif
atau partikulat tersebut membawa komponen lain yang bersifat korosif.
Logam biasanya tahan terhadap korosi di dalam udara kering atau di udara bersih yang hanya
mengandung sedikit air. Partikulat dapat merangsang korosi, terutama dengan adanya
komponen yang mengandung sulfur. Fungsi partikulat dalam merangsang kecepatan korosi
adalah karena partikulat dapat berungsi sebagai inti dimana uap air dapat mengalami
kondensasi, sehingga gas yang diserap oleh partikulat akan terlarut di dalam droplet air yang
terbentuk. Polutan partikulat juga dapat merusak bahan bangunan yang terbuat dari tanah, cat,
dan tekstil.
2.3.4 Pengaruh terhadap Radiasi Sinar Matahari dan Iklim
Partikulat yang terdapat di atmosfer berpengaruh terhadap jumlah dan jenis radiasi sinar
matahari yang dapat mencapai permukaan bumi. Pengaruh ini disebabkan oleh penyebaran
dan absorbsi sinar oleh partikulat. Salah satu pengaruh utama adalah penurunan visibilitas.
Sinar yang melalui objek ke pengamat akan diabsorbsi dan disebarkan oleh partikulat
sebelum mencapai pengamat, sehingga intensitas yang diterima dari objek dan dari latar
belakangnya akan berkurang.
Akibatnya perbedaan antara kedua intensitas intensitas sinar tersebut hilang sehingga
keduanya (objek dan latar belakang) menjadi kurang kontras atau kabur. Penurunan visibilitas
ini dapat membahayakan, misalnya pada waktu mengendarai kendaraan atau kapal terbang.
Jumlah polutan partikulat bervariasi dengan manusia atau iklim. Pada musim gugur dan salju,
sistem pemanas didalam rumah-rumah dan gedung meningkat sehingga dibutuhkan tenaga
yang lebih tinggi yang mengakibatkan terbentuknya lebih banyak partikulat.
Iklim dapat dipengaruhi oleh polusi partikulat dalam dua cara. Partikulat di dalam atmosfer
dapat mempengaruhi pembentukan awan, hujan dan salju dengan cara berfungsi sebagai inti
dimana air dapat mengalami kondensasi. Selain itu penurunan jumlah radiasi solar yang
mencapai permukaan bumi karena adanya partikulat dapat mengalami kondensasi. Selain itu
penurunan jumlah radiasi solar yang mencapai permukaan bumi karena adanya partikulat
dapat mengganggu keseimbangan panas pada atmosfer bumi. Suhu atmosfer bumi ternyata
menurun sedikit sejak tahun 1940, meskipun pada beberapa abad terakhir ini terjadi kenaikan
kandungan CO2 di atmosfer yang seharusnya mengakibatkan kenaikan suhu atmosfer.
Peningkatan refleksi radiasi solar oleh partikulat mungkin berperan dalam penurunan suhu
atmosfer tersebut.
2.4 Baku Mutu Pencemaran Udara
Baku mutu udara ambien adalah ukuran batas atau kadar zat, energi, dan/atau komponen
yang ada atau yang seharusnya ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya
dalam udara ambien. Tiap negara memiliki standar baku mutu udara yang berbeda. Pada
artikel ini akan dibahas perbedaan dari Standar Baku Mutu Udara Ambien Negara Amerika
Serikat, India dan Indonesia.

Berikut adalah tabel Baku Mutu Udara Ambien Nasional Pada Ketiga Negara tsb :

Indonesia Peraturan Pemerintah RI no 41 Tahun 1999


Amerika Serikat




India
2.5 Pembahasan
Standar baku mutu primer ditetapkan untuk melindungi kesehatan publik, termasuk
melindungi populasi sensitif seperti penderita asthma, anak-anak, dan orang berusia lanjut
sedangkan standar baku mutu sekunder ditetapkan untuk menjaga kesejahteraan kehidupan
publik seperti menghindari terjadinya penurunan visibilitas, kerusakan bangunan, dan
kematian hewan serta tumbuh-tumbuhan.Jika standar baku mutu ketiga negara tersebut
dibandingkan terdapat beberapa perbedaan, mulai dari banyaknya parameter yang dijadikan
standar, waktu pengukuran, dan baku mutu yang ditetapkan :
2.6 Parameter
Di Amerika hanya 6 parameter (CO, Partikulat, Timbal, SO2, NO2, dan Ozon) yang
digunakan sebagai standar baku mutu kualitas udara ambien, di India ada 12 paramater; CO,
Partikulat(PM10 dan PM25 dipisah menjadi 2 parameter), Timbal, SO2, NO2, Ozon,
Ammonia, Benzene, Arsenic, Ni, dan BaP(fasa partikulat). Untuk negara India, baku mutu di
spesifikasikan untuk dua area ; area industri dan area ekologi. Di Indonesia ada 13 parameter
; CO, Partikulat(PM10 dan PM25 dipisah menjadi 2 parameter), Timbal, SO2, NO2, Ozon
Hidrokarbon, TSP, Dustfall, dan Total Flourides. Khusus untuk kawasan Industri kimia dasar
juga ditambahkan parameter Flour Indeks, Khlorine dan Khlorine Dioksida, serta Sulphat
Index. Perbedaan jumlah parameter ini menunjukan kualitas udara pada tiap negara.
Sedikitnya jumlah paramater menunjukan sedikitnya jenis pencemar yang dimiliki negara tsb.
Namun jumlah paramater yang banyak juga memiliki sisi positif, negara tsb menjadi lebih
detail dalam menghadapi jenis jenis pencemar. Bisa diambil contoh Partikulat. Di Amerika
partikulat merupakan satu parameter sedangkan di India dan Indonesia partikulat dipisah
menjadi 2 parameter berdasarkan ukurannya, hal ini menunjukan dari parameter partikulat
Indonesia dan India lebih detail dan spesifik.
2.7 Waktu Pengukuran
Untuk waktu pengukuran, di Indonesia pada umumnya pengukuran baku mutu dilakukan
antara selang waktu 1 jam, 24 jam, dan 1 Tahun, kecuali Ozon dan Timbal( 1 jam dan 1
Tahun), serta partikulat yang memiliki standar baku mutu yang mirip dengan di Amerika.
Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam waktu pengukuran di India., yang berbeda adalah
waktu pengukuran annual di India yang menunjukan waktu pengukuran minimum 104 kali
setahun diukur 2 kali seminggu selama 24 jam. Penentuan waktu pengukuran disesuaikan
dengan prakiraan dampak yang akan terjadi kepada manusia dan lingkungan, baik yang
bersifat akut maupun kronis. Di Amerika dampak yang diperkirakan lebih terspesifikasi lagi
dengan membaginya menjadi dampak primer dan dampak sekunder. Di India waktu
pengukuran yang tertera lengkap dengan detail pengukurannya(durasi pengukuran, batasan,
dan syarat). Di Indonesia waktu pengukuran ditentukan dengan memperkirakan waktu
pencemar tersebut dapat menganggu kesehatan.
2.8 Satuan Nilai Baku Mutu
Untuk satuan nilai baku mutu, di Indonesia hampir seluruhnya menggunakan satuan g/Nm3.
Huruf N sebelum satuan volume mengindikasikan bahwa volume yang dimaksud adalah
volume gas pada keadaan normal yakni pada temperatur 25oC dan Tekanan 1 atm. Di
Amerika selain menggunakan satuan massa per volume seperti di Indonesia, juga digunakan
rasio satuan volume per volume seperti ppm(part per million) dan ppb(part per billion). Di
India mayoritas menggunakan satuan g/m3. Setelah dibandingkan, nilai baku mutu tiap
parameter di Indonesia, Amerika, dan India tidaklah sama, beberapa parameter di Amerika
memiliki nilai baku mutu yang lebih besar daripada di Indonesia dan India, begitu juga
sebaliknya. Penetapan nilai baku mutu disesuaikan dengan kondisi lingkungan di suatu
negara dan penelitian-penelitian yang telah dilakukan di negara tersebut. Semakin kecilnya
nilai baku mutu menunjukan semakin berbahayanya parameter tersebut bagi lingkungan
kesehatan. Negara yang menetapkan baku mutu rendah menunjukan negara yang siap dalam
aspek teknologi, sosial, ekonomi untuk menghadapi permasalahan pencemaran udara.

2.9 PERHITUNGAN KONSENTRASI PARTIKULAT
Untuk menentukan penyebaran pencemaran udara yang bersumber dari sumber titik (point
source), dapat digunakan model matematis yang disusun berdasarkan persamaan Gauss
Dispertion Model. Persamaan Gauss untuk penyebaran pencemar di udara sebagai berikut
(Wark dan Warner,1981):

2.9.1 Perhitungan total suspended solid (TSP)
Zatpadatataucair yang sangathalusdenganukuran (0,01-100 m) yang tersuspensi di
udara.
Volume udara yang dihisap

2

n

n
.
Keterangan:
V = volume yang terhisap(m
3
)
Q
1
= kecepatanaliranudaraawal (m
3
/mnt)
Q
2
= kecepatanudaraakhir(m
3
/mnt)
T = waktu sampling (mnt)
n = jumlah data pengukuran
1. Volume STP
s s
s

stp stp
stp

Keterangan:
Pstp = tekananstandar(1 atm/760mmHg)
Vstp = volume standar
Tstp = suhustandar (25o C/298 K)
2. Konsentrasipartikeltersuspensi

(s o) 10

stp

Keterangan:
C = konsentrasipartikeltersuspensi(g/m3)
Ws = berat filter fiber glasssetelahsampling(g)
Wo = berat filter fiber glasssebelumsampling(g)
106 = konversidari g menjadi (g)
3 Konversi canter untukpartikulat 24 jam

2
(
t
2
t
1
)
p

Keterangan:
C = konsentrasipartikeltersuspensi 24 jam
C2 =konsentrasipartikeltersuspensi 1 jam
t2 =1 jam
t1 =2 jam
P = konversi Canter = 0,18
2.9.2 PERHITUNGAN KONSENTRASI PM 10
Partikulat yang berukuran < 10 m (diameter aerodinamik)
1. Volume udara yang dihisap:
V =
n
)xT Q ... Q (Q
n 2 1
+ + +

Dimana:
V = Volume udara yang terhisap (m
3
)
Q
1
= Kecepatan udara awal (m
3
/mnt)
Q
2
= Kecepatan udara akhir (m
3
/mnt)
T = Waktu sampling (mnt)
N = Jumlah data pengukuran

1. Volume STP
s s
s

stp stp
stp

Dimana:
Pstp = tekanan standar (1 atm/760mmHg)
Vstp = volume standar
Tstp = suhu standar (25
o
C/298 K)

2. Konsentrasi partikel tersuspensi

(so) 10

stp

Dimana:
C = Konsentrasi partikel tersuspensi (g/m3)
Ws = Berat filter fiber glass setelah sampling (g)
Wo = Berat filter fiber glass sebelum sampling (g)
10
6
= Konversi dari g menjadi g
Konversi Counter
p
|
|
.
|

\
|
=
1
2
1 24
t
t
C C

Keterangan:
C
1
= Konsentrasi udara rata-rata dengan lama pencuplikan g/m3
t
1
= lama pencuplikan contoh 1 (24 jam)
t
2
= lama pencuplikan contoh 2 dari hasilpengukuran contoh udara (jam)
p = faktor konversi dengan nilai antara 0,17dan 0,2














BAB III
PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA OLEH PARTIKULAT
Pengendalian Pencemaran
Pengendalian pencemaran akan membawa dampak positif bagi lingkungan
karena hal tersebut akan menyebabkan kesehatan masyarakat yang lebih baik,
kenyamanan hidup lingkungan sekitar yang lebih tinggi, resiko yang lebih rendah,
kerusakan materi yang rendah, dan yang paling penting ialah kerusakan lingkungan
yang rendah. Faktor utama yang harus diperhatikan dalam pengendalian pencemaran
ialah karakteristik dari pencemar dan hal tersebut bergantung pada jenis dan
konsentrasi senyawa yang dibebaskan ke lingkungan, kondisi geografik sumber
pencemar, dan kondisi meteorologis lingkungan.
Pengendalian pencemaran udara dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
pengendalian pada sumber pencemar dan pengenceran limbah gas. Pengendalian pada
sumber pencemar merupakan metode yang lebih efektif karena hal tersebut dapat
mengurangi keseluruhan limbah gas yang akan diproses dan yang pada akhirnya
dibuang ke lingkungan. Di dalam sebuah pabrik kimia, pengendalian pencemaran
udara terdiri dari dua bagian yaitu penanggulangan emisi debu dan penanggulangan
emisi senyawa pencemar.
Alat-alat pemisah debu bertujuan untuk memisahkan debu dari alirah gas
buang. Debu dapat ditemui dalam berbagai ukuran, bentuk, komposisi kimia, densitas,
daya kohesi, dan sifat higroskopik yang berbeda. Maka dari itu, pemilihan alat
pemisah debu yang tepat berkaitan dengan tujuan akhir pengolahan dan juga aspek
ekonomisDebu/partikulat seperti telah diketahui memiliki berbagai macam variasi
baik dalam segi bentuk dan ukuran, yang bisa juga terkandung dalam larutan ataupun
berwujud debu kering, dengan rentang yang sangat besar baik dalam segi fisik dan
kimiawi.Debu dan asap yang tersuspensi di udara dapat dihilangkan dari aliran udara
dengan menggunakan beberapa alat pengendali. Terdapat tiga buah alat yang dapat
menyisihkan partikulat dari udara, yaitu :
- Cyclone
- Electrostatic Precipitator
- BaghouseFilter
Ketiga alat diatas memiliki spesifikasi dan efisiensi yang berbeda-beda, sehingga
digunakan untuk keperluan dan keadaan yang berbeda-beda disesuaikan dengan
karakteristik alat tersebut. Hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan alat
pengendali pencemaran partikulat adalah sebagai berikut :
- Konsep dasar pengendalian partikulat
- Distribusi ukuran partikulat
- Efisiensi pengendalian
1. CYCLONES
Cyclone merupakan alat mekanis sederhana yang digunakan untuk
menyisihkan partikulat dari aliran gas. Cyclone cukup efektif untuk menyisihkan
partikulat kasar dengan diameter >10mm. Prinsip penyisihan partikulat dari aliran gas
pada alat ini adalah dengan memanfaatkan gaya sentrifugal sehingga jika gaya
sentrifugalnya besar maka efisiensi penyisihan partikulat juga akan tinggi.Pada
umumnya cyclone dirancang dengan kesamaan geometris dimana perbandingan
dimensinya bersifat konstan untuk berbagai diameter (Diameter body = Do). Nilai
perbandingan ini akan menentukan apakah cyclone tersebut termasuk jenis
konvensional, efisiensi tinggi atau high throughput.Jenis-jenis cyclone secara garis
besar terbagi menjadi tiga, yaitu konvensional, efisiensi tinggi dan high throughput.
Dapat dilihat pada Tabel 2.6 berikut ini perbandingan dimensi untuk cyclone.


Gambar. 2.1Cyclone


Tipe Cyclone
Efisiensi Tinggi Konvensional High Throughput
1 2 3 4 5 6
Diameter casing (D/D) 1 1 1 1 1 1
Tinggi saluran inlet (H/D) 0.5 0.44 0.5 0.5 0.75 0.8
Lebar saluran inlet (W/D) 0.2 0.21 0.25 0.25 0.375 0.35
Diameter keluaran gas (D
e
/D) 0.5 0.4 0.5 0.5 0.75 0.75
Tinggi vortex (S/D) 0.5 0.5 0.625 0.6 0.875 0.85
Tinggi casing (L
b
/D) 1.5 1.4 2 1.75 1.5 1.7
Tinggi kerucut (L
c
/D) 2.5 2.5 2 2 2.5 2
Diameter keluaran debu (D
d
/D) 0.375 0.4 0.25 0.4 0.375 0.4
Efisiensi dari alat cyclone dipengaruhi oleh viskositas gas, lebar saluran inlet, kecepatan gas
inlet, densitas antara partikel dan gas, dan diameter partikel.
Efisiensi dari alat cyclone dapat dihitung berdasarkan persamaan berikut


dimana :

j
= efisiensi penyisihan untuk rentang partikel j
d
p
= karakteristik partikel pada rentang j
d
pc
= diameter yang dapat tersisihkan sebesar 50 %
Diameter yang dapat tersisihkan sebesar 50% (d
pc
) memiliki hubungan erat dengan dimensi
dari cyclone, d
pc
dapat dihitung berdasarkan persamaan berikut ini,


Dan efisiensi keseluruhan dari alat cyclone merupakan rerata untuk seluruh rentang ukuran
partikel yaitu,

o
=
j
m
j


2. Electrostatic Precipitator

Prinsip dari alat ini merupakan penyisihan partikel dari udara dengan pemberian
muatan gaya pada partikel dengan gaya elektrostatik.

Gambar. 2.2Electrostatic precipitator
Gaya elektrostatik yang diberikan pada partikel berasal dari korona (muatan listrik
yang sangat tinggi), sehingga partikel menjadi bermuatan listrik. Kemudian pada plat
pengumpul diberi muatan yang berbeda dari muatan yang diberikan pada partikel, sehingga
partikel akan menempel pada plat, yang selanjutnya akan meluruh menuju hopper.
Dalam menyisihkan debu pada alat elektrostatic precipitator dipengaruhi oleh kecepatan
udara, luas area pengumpulan, dan debit dari udara, yang dapat dilihat pada persamaan
berikut ini,
= 1 e
(-wA/Q

3. Baghouse Filter
Baghouse filter merupakan alat pengendali yang sangat baik untuk diapikasikan dalam
penyisihan debu yang memiliki ukuran kecil dimana diinginkan efesiensi penyisihan yang
cukup tinggi. Bahan yang digunakan pada baghouse filter biasanya berbentuk tabung atau
kantung.
Baghouse filter beroperasi dengan prinsip kerja yang hampir sama dengan vacuum cleaner.
Udara yang membawa debu partikulat yang ditekan melewati kantung-kantung yang terbuat
dari bahan yang spesifik. Sehingga ketika udara melewati bahan tersebut, debu akan
terakumulasi pada permukaan bahan tersebut, menghasilkan udara yang bersih. Bahan yang
digunakan berguna untuk menahan debu. Namun lapisan debu yang terakumulasi di
permukaan juga memiliki keuntungan dalam menciptakan efisiensi yang tinggi dalam proses
filtrasi partikel yang lebih kecil. ( Lapisan debu ini memiliki efek yang sangat penting bagi
bahan yang dirajut dibandingkan dengan bahan bulu kempa).
Dalam penggunaan baghouse filter terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan yang perlu
dicermati, sehingga penggunaan alat baghouse filter dalam menanggulangi partikulat di udara
akan efektif. Berikut ini adalah keuntungan dan kekurangan dari baghouse filter:
Keuntungan dari baghouse filter:
- Memiliki efisiensi yang tinggi walau untuk partikel yang sangat kecil
- Dapat dioperasikan pada berbagai jenis debu
- Dapat dioperasikan melebihi rentang volumetrik flow rate yang ada.
- Membutuhkan kehilangan tekan yang cukup
Kerugian dari baghouse filter:
- Membutuhkan area yang besar.
- Bahan yang digunakan dapat rusak akibat temperatur yang tinggi atau bahan yang
dapat menyebabkan korosif.
- Tidak dapat diaplikasikan pada daerah yang memiliki kelembaban tinggi: karena
dapat menyebabkan pori-pori bahan tertutup.
- Memiliki kemungkinan yang sangat tinggi terhadap terjadinya kebakaran.
Baghouse filter biasanya digunakan untuk menghilangkan debu dan asap dari aliran
udara dengan menggunakan bahan yang memiliki serat dengan diameter 100-150 , dan
ruang terbuka yang berada diantara serat tersebut antara 50-75. Ruang ini dapat dilewati
oleh debu yang sangat kecil. Sehingga ketika pada saat awal alat baghouse filter
diaplikasikan umunya debu yang kecil akan lolos dari bahan yg digunakan. Namun setelah
terjadinya impaksi, intersepsi dan difusi, maka partikel-partikel debu tersebut yang akan
menutup celah-celah kecil tersebut. Ketika celah tersebut telah dipenuhi partikulat dan
lapisan partikulat dipermukaan bahan telah terbentuk maka efisiensi baghouse filter akan
semakin meningkat.


Gambar 2.3Bahan yang digunakan untuk baghouse filter
Efisiensi pengumpulan partikel debu dengan penggunaan baghouse filter pada partikulat yang
memiliki ukuran 1mm atau kurang bisa mencapai 90%, proses filtrasi secara jelas tidak
hanya dengan mekanisme penyaringan biasa saja. Partikel yang kecil pada awalnya akan
tertangkap dan tertahan pada serat dari bahan karena adanya intersepsi, impingement, difusi,
pengendapan secara gravitasi, dan gaya tarik elektrostatik. Setelah debu terkumpul,
pengumpulan selanjutnya dilakukan dengan metode penyaringan seperti telah disebutkan
sebelumnya. Berikut ini adalah penjelasan detail tentang mekanisme filtrasi yang terjadi pada
Baghouse filter.


Gambar 2.4 Mekanisme Proses Filtrasi pada baghouse filter

Intersepsi langsung
Dalam kondisi normal aliran pada udara filtrasi yang ada biasanya bersifat laminer (11). Pada
kondisi laminer ini, partikel yang memiliki gaya inersia yang kecil akan bertahan pada suatu
streamline. Apabila streamline tersebut melewati suatu halangan, seperti serat dari bahan
filter, dalam jarak yang sama dengan radius dari partikel, partikel akan melakukan kontak
dengan penghalang tersebut dan akan melekat karena adanya gaya Van der Walls.
I mpingement
Pada partikel yang memiliki kelembaman yang cukup besar, partikel ini tidak akan mengikuti
arah arus aliran ketika arah arus aliran membelok dari arah garis edar ketika mendekati suatu
halangan. Kemungkinan dari partikel untuk melakukan kontak dengan permukaan
penghalang yang ada bergantung pada ukuran penghalang tersebut serta ukuran dan inersia
dari partikel. Seperti yang juga terjadi pada keadaan intersepsi langsung, penghalang yang
kecil cenderung lebih efektif sebagai pengumpul maka hal ini juga berlaku pada mekanisme
impingement atau impaksi.
Kelembaman dari suatu partikel dapat diukur dengan stopping distance. Stopping distance
merupakan jarak yang ditempuh oleh suatu partikel sebelum partikel sampai pada penghalang
ketika arah arus aliran berpindah cepat sebesar 90. Impaksi bukan merupakan faktor yang
penting dalam pengumpulan partikel yang memiliki ukuran lebih kecil dari 1 mikron.
Sedangkan impaksi merupakan hal yang perlu untuk dipertimbangkan dalam pengumpulan
partikel yang memiliki ukuran 2 mikron dan yang lebih besar
Untuk mengumpulkan partikel secara efektif dengan memanfaatkan gaya inersia, arah aliran
aerosol harus berubah cepat terhadap suatu jarak tertentu dari kolektor atau penghalang, yang
diperkirakan akan berukuran sama atau kurang dari stopping distance. Sehingga untuk
mengumpulkan partikulat secara efektif perlu untuk mendesain kolektor dengan dimensi
tegak lurus dengan arah aliran aerosol dengan ukuran yang sama dengan stopping distance
Pertimbangan teoritis menyatakan bahwa efisiensi pengumpulan untuk ukuran partikel
tertentu akan menurun apabila ukuran alat pengumpul meningkat.
Kecepatan arah aliran sangat penting dalam proses impaksi. Efisiensi pengumpulan akan
meningkat sejalan dengan meningkatnya kecepatan, dengan pertimbangan stopping
distancejuga akan meningkat seiring dengan meningkatnya kecepatan. Asumsi yang
dinyatakan pada hal ini adalah kecepatan partikel sama dengan kecepatan arah aliran udara,
dimana hampir pada kenyataannya benar. Ketika kecepatan udara sudah mulai berlebihan,
bagaimanapun juga kecepatan isapan akan meningkat secara bertahap, hal ini menyebabkan
gaya rekat menjadi berlebihan dan menyebabkan partikel yang terkumpul akan terbang
kembali dan efisiensi pengumpulan akan menurun.
Ukuran serat atau bahan filter pada umumnya dibandingkan dengan ukuran partikel yang
akan dikumpulkan. Contohnya serat pada katun dan wool memiliki ukuran diameter bukaan
antara 10 sampai 20 mm .Serat semacam ini cenderung terlalu besar untuk digunakan
menjadi instrumen pengumpul yang efektif untuk menyisihkan partikel yang memiliki ukuran
kecil sekali.
Efisiensi penyisihan untuk debu halus dan asap pada awal pengaplikasian memiliki efisiensi
yang rendah sampai pada saat lapisan telah terbentuk dipermukaan filter. Hal ini dinyatakan
berdasarkan beberapa eksperimen sebelumnya. Untuk waktu yang pendek ketika kantung
baru dipasang, atau seketika saat baru digunakan untuk pembersihan terdapat partikel yang
lolos dari bahan.
Difusi
Pada partikel yang berukuran sangat kecil, dengan ukuran yang hampir sama dengan ukuran
intermolecular, atau dapat dikatakan memiliki diameter kurang atau sekitar 0.1 sampai 0.2
mikron, difusi menjadi mekanisme yang paling dominan terjadi pada proses deposisi. Partikel
yang memiliki ukuran sekecil ini akan mengikuti arah aliran akibat timbulnya kolisi dengan
molekul gas, hasil dari gerak random Brown yang meningkatkan kemungkinan kontak antara
partikel dan permukaan pengumpul. Ketika beberapa partikel telah terkumpul, konsentrasi
gradien akan menjadi lebih sempurna yang akan menjadi gaya pendorong peningkatan
kecepatan deposisi . Kecepatan udara yang rendah dapat meningkatkan efisiensi dengan
meningkatkan waktu kontak dan menghasilkan kemungkinan kontak yang lebih lama dengan
permukaan kantung filter. Pengumpul atau halangan yang lebih kecil juga dapat
meningkatkan efisiensi pengumpulan

Elektrostatik.
Selama elektrostatik dengan tidak ragukan lagi memegang peranan dalam penangkapan dan
menyimpan partikel debu oleh baghouse filter, bukti ini tidak cukup untuk menyatakan
mekanisme ini secara kuantitatif. Berdasarkan Frederick (1961), elektrostatik tidak hanya
akan membatu proses filtrasi dengan menyediakan gaya tarik antara debu dan bahan, tetapi
juga memiliki efek dalam aglomerasi partikel, kemampuan pembesihan bahan, dan efisiensi
pengumpulan. Gaya ini memiliki sifat memberikan dorongan muatan menjadi efek friksi,
menyatakan polaritas, intensitas muatan, dan kecepatan disipasi muatan baik pada debu dan
media filter, dan hubungan antara keduanya dapat meningkatkan atau menghalangi proses
filtrasi. Gaya ini hanya menyatakan perbedan kualitatif saja. Sebagai contoh, bahan A
mungkin lebih baik daripada bahan B pada debu X, dimana bahan B lebih baik daripada
bahan A untuk debu Y. Gaya ini memberikan beberapa triboelektrik bahan filter yang akan
berguna untuk menjadi penduan dalam pemilihan bahan dengan sifat elektrostatiknya.
Mekanisme Pembersihan
Debu yang terakumulasi di media filter, akan menyebabkan meningkatnya kehilangan
tekan sampai batas tertentu. Setelah batas tersebut tercapai maka perlu dilakukan
pembersihan untuk mengurangi kehilangan tekan yang ada. Siklus pembersihan ini bisa
dilakukan secara manual, semi otomatis, ataupun sepenuhnya otomatis. Siklus secara
otomatis dapat dilakukan berdasarkan waktu tertentu atau ketika tekanan tertentu telah
tercapai. Pada beberapa alat pengendali seperti reverse-jetbaghouse , alat ini beroperasi
dengan pembersihan yang kontinu. Ketika proses pembersihan telah dimulai, harus dilakukan
sampai selesai dengan intensitas pembersihan yang cukup dan durasi waktu yang cukup
untuk memastikan pembersihan yang menyeluruh. Ketika pembersihan berlangsung
direkomendasikan blower dihentikan .
Dari seluruh metode yang ada terdapat dua metode pembersihan pada baghouse filter
yang telah digunakan secara luas yaitu reverse air, dan shaker baghouse filter. Pada kedua
alat ini terdapat kriteria dalam mendesain yaitu kecepatan maksimum filtrasi yang sangat
berhubungan dengan jenis industri apa yang akan ditangani.
Menurut dr.drh. Mangku Sitepoe (1997), ada lima dasar dalam mencegah atau memperbaiki
pencemaran udara berbentuk gas.
1. Absorbsi.
Melakukan solven yang baik untuk memisahkan polutan gas dengan
konsentrasi yang cukup tinggi. Biasanya absorbennya air, tetapi kadang-
kadang dapat juga tidak menggunakan air (dry absorben).

2. Adsorbsi.
Mempergunakan kekuatan tarik-menarik antara molekul polutan dan zat
adsorben. Dalam proses adsorbsi dipergunakan bahan padat yang dapat
menyerap polutan. Berbagai tipe adsorben antara lain Karbon Aktif dan
Silikat.

3. Kondensasi.
Dengan kondensasi dimaksudkan agar polutan gas diarahkan mencapai titik
kondensasi, terutama dikerjakan pada polutan gas yang bertitik kondensasi
tinggi dan penguapan yang rendah (Hidrokarbon dan gas organik lain).

4. Pembakaran.
Mempergunakan proses oksidasi panas untuk menghancurkan gas
Hidrokarbon yang terdapat di dalam polutan. Hasil pembakaran berupa
Karbon Dioksida dan air. Adapun proses pemisahannya secara fisik dikerjakan
bersama-sama dengan proses pembakaran secara kimia.

5. Reaksi kimia.
Banyak dipergunakan pada emisi golongan Nitrogen dan Belerang.
Membersihkan gas golongan Nitrogen, caranya dengan diinjeksikan Amoniak
yang akan bereaksi kimia dengan NOx dan membentuk bahan padat yang
mengendap. Untuk menjernihkan golongan Belerang dipergunakan copper
oksid atau kapur dicampur arang.





Sementara itu, pencegahan pencemaran udara berbentuk partikel dapat dilakukan
melalui enam konsep.

1. Membersihkan (Scrubbing).
Mempergunakan cairan untuk memisahkan polutan. Alat scrubbing ada berbagai
jenis, yaitu berbentuk plat, masif, fibrous, dan spray.

2. Menggunakan filter.
Dimaksudkan untuk menangkap polutan partikel pada permukaan filter. Filter yang
dipergunakan berukuran sekecil mungkin. Filter bersifat semipermeable yang dapat
dibersihkan, kadang-kadang dikombinasikan dengan pembersihan gas dan filter
polutan partikel.

3. Mempergunakan presipitasi elektrostatik.
Cara ini berbeda dengan cara mekanis lainnya, sebab langsung ke butir-butir partikel.
Polutan dialirkan di antara pelat yang diberi aliran listrik sehingga presipitator yang
akan mempresipitasikan polutan partikel dan ditampung di dalam kolektor. Pada
bagian lain akan keluar udara yang telah dibersihkan.

4. Mempergunakan kolektor mekanis.
Dengan menggunakan tenaga gravitasi dan tenaga kinetis atau kombinasi keduanya
untuk mengendapkan partikel. Sebagai kolektor dipergunakan gaya sentripetal yang
memakai siklon.

5. Program langit biru.
Yaitu program untuk mengurangi pencemaran udara, baik pencemaran udara yang
bergerak maupun stasioner. Dalam hal ini, ada tiga tindakan yang dilakukan terhadap
pencemaran udara akibat transportasi (baca: kendaraan bermotor), yaitu: Pertama,
mengganti bahan bakar kendaraan. Bahan bakar disel dan premium pembakarannya
kurang sempurna sehingga terjadi polutan yang berbahaya. Dalam program lagit biru,
hal ini dikaitkan dengan penggantian bahan bakar ke arah bahan bakar gas yang
memberikan hasil pembakaran lebih baik. Kedua, mengubah mesin kendaraan. Mesin
dengan bahan bakar disel diganti dengan mesin bahan bakar gas. Ketiga, memasang
alat-alat pembersihan polutan pada kendaraan bermotor.

6. Menggalakan penanaman pohon.
Mempertahankan paru-paru kota dengan memperluas pertamanan dan penanaman
berbagai jenis pohon sebagai penangkal pencemaran. Sebab tumbuhan akan menyerap
hasil pencemaran udara (CO2) dan melepaskan oksigen sehingga mengisap polutan
dan mengurangi polutan dengan kehadiran oksigen.

Bentuk pencegahan yang lain adalah membiasakan diri untuk mengkonsumsi
makanan mengandung serat tinggi. Serat makanan dapat menetralkan zat pencemar
udara dan mengurangi penyerapan logam berat melalui sistem pencernaan kita. Dan
yang paling penting pemerintah hendaknya komitmen terhadap mengganti bensin
bertimbal dengan bensin tanpa Timbal.





BAB IV
PENUTUP
2.1 Kesimpulan

1. Pengendalian pencemaran udara dapat dilakukan dengan dua cara
yaitupengendalian pada sumber pencemar dan pengenceran limbah gas.
Pengendalian pada sumber pencemar merupakan metode yang lebih efektif karena
hal tersebut dapat mengurangi keseluruhan limbah gas yang akan diproses dan
yang pada akhirnya dibuang ke lingkungan.
2. Teknologi yang digunakan dalam pengendalian pencemaran partikulat diudara
adalah dengan Cyclone ,Electrostatic Precipitator,BaghouseFilter.
3. Hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan alat pengendali pencemaran
partikulat adalah sebagai berikut :
- Konsep dasar pengendalian partikulat
- Distribusi ukuran partikulat
- Efisiensi pengendalian