Anda di halaman 1dari 4

PEREMPUAN ANEH ITU..??

“wuussss…” angin berhembus terasa panas ketika kaki ini turun dari bis kota, dalam
hati aku berseru… “akan kumulai dunia baru”. Hari ini adalah hari pertamaku
menginjakkan kaki di Jatinangor sebuah daerah yang berada di antara Bandung -
Sumedang, kawasan yang lebih dikenal sebagai kawasan Pendidikan. Kini telah ku
jejakkan kaki disini untuk melanjutkan study.

Ku lanjutkan langkah kaki lebih cepat lagi, sekali lagi ku naik sebuah angkot
untuk sampai ketempat yang aku tuju, yaitu rumah nenek, ya aku akan tinggal disana
selama menempuh pendidikan. Tanjung sari itulah tempat yang aku kan tuju sekarang,
Tanjung sari masih merupakan bagian dari kota Sumedang. Tak terasa esok adalah
hari pertama ku mengenakan seragam putih – abu-abu. Dalam angan ku telah berkhayal
sereibu satu macam kejadian yang akan kulalui, ku akan mendapat teman yang mungkin
akan sangat berlawan latar belakang, bahasa dan kepribadian. Ya, aku yang dapat
dikatakan berasal dari suku jawa harus bisa beradaptasi dengan kawan-kawan yang
yang berbeda suku.

Tak terasa pagipun menyapa, tok… tok…tok…. “Ade.. Bangun nak, sudah siang ..”
samar-samar terdengar suara nenk membangunkan. Aku pun dengan nada sedikit malas
menjawab “ iya…”. Kulipat selimut dan kubereskan tempat tidur, lantas aku bergegas
menuju kamar mandi, “uuhhhhh…” betapa dinginnya air ini menusuk kedalam tubuhku.
Aku pun lantas bergegas mengerinkan tubuh dan berseragam. Hari ini adalah hari
pertama OSPEK atau lebih dikenal MOS.

“ Ade, sarapan dulu nak…. Nenek sudah sediakannya diatas meja makan”. Dengan ramah
nenek berbicara, lalu berlalu ke dapur. Setelah selesai berseragam kulirik arloji
ku, waktu di arloji sudah menunjukkan pukul… 06.45 WIB. Padahal hari ini jadwal ku
masuk adalah pukul 07.00. tanpa sepengetahuan nenek aku pun bergegas bersepatu
lalu berangkat ke sekolah..

Oh betapa aku bingung hari pertama ku injakkan kaki disekolah aku seperti anak
ayam kehilangan induknya, tanpa tujuan dan tanpa arah yang pasti. Aku pun berusaha
untuk tidak kaku, aku merasa kesepian ditengah ramainya suasana. Ku coba mulai
mencari teman, kumelihat ada seorang lelaki sedang duduk sendiri, di tangga
sekolah. Aku pun mendekatinya. Lalu kami pun berkenalan, benar kata orang tak
kenal maka tak sayang. Begitulah setelah kami berkenalan rupanya ia seorang yang
humoris juga aku pun mulai tak merasa segan untuk bertanya, ia bernama Romy, dia
berasal dari Jatinangor. Dia pun mengajakku melihat-lihat gedung sekolah.
“TRING….TELOLELOLET… “. Bel berbunyi kami pun lantas berkumpul berbaris dilapangan
upacara, karena Bapak Kepsek akan mengumumkan pembagian Gugus, setelah sekian lama
aku menanti akhirnya namaku pun disebut juga, sayangnya aku tak satu gugus dengan
Romy ia mendapat Gugus “A” sedangkan aku mendapatkan Gugus “G”.

Dengan langkah yang ragu, akupun mulai melangkahkan kaki menuju kelas baruku, oh
suasana hatiku yang tadi pagi terasa kembali, andai aku satu gugus dengan Romy
mungkin aku tidak akan segugup ini, ada teman untuk mengobrol sekedar
menghangatkan suasana. Akhirnya kuambil keputusan duduk dibangku barisan paling
pojok belakang, tak lama kemudian kelas ini sudah dipenuhi siwa-siswi baru seperti
juga aku, namun mereka selalu menampakkan raut muka yang ceria, saling bercanda
ria dengan yang lainnya.

Dalam suasana yang begini aku hanya bisa tersenyum ketika teman-teman baru
memandang, entah senyumku seperti apa ku tak tahu karena sepertinya senyum pun
terasa hambar, sampai begitu lama aku duduk belum juga aku mendapatkan pasangan,
tiba-tiba suasana yang bgegitu ramai menjadi sepi senyap. Ketika seseorang masuk
yang ternyata ia adalah kakak kelas yang akan membimbing kami selama MOS, kakak
kelas pun memulai materi MOS dengan Perkenalan, Rupanya ia bernama James.
Konyolnya lagi aku yang emang berdasar suka nyeleneh, lantas berkata “ 007
dong..”. karuan saja teman-teman menatap kearahku, aku hanya bisa diam.

Sudah kuduga apa yang akan terjadi, pasti kakak kelas akan membuat perhitungan
denganku, benar saja ia pun melangkahkan kakinya menuju tempat aku duduk. Lantas
ia memandangku dan tersenyum lalu berkata. “ Bagus, Bagus…. Rupanya begitu yah
cara kamu mengakrabkan diri dengan Seniormu…”

Aku bingung harus menjawab apa, lantas ku jawab “maaf, kak… saya tidak bermaksud
apa-apa saya hanya berbicara secara spontan…”. Begitu gugupnya aku berbicara…

Tanpa aku duga teman-teman satu kelas menjawab bersamaan “Spontan…u…huuuy”. Aku
pun mendapatkan hukuman, hukuman yang aku dapatkan adalah bernyajnyi menggunakan
berbagai macam Vocal, kujalani hukuman itu. Dari depan kelas ternyata aku dapat
dengan jelas melihat satu-persatu wajah-wajah teman baru. Oh…. Manis-manis sekali,
akupun bernyanyi dengan santai, akhirnya… bel istirahat berbunyi…

Hukuman pun berhenti… entah apakah akan berlanjut apa tidak aku tidak terlalu
memikirkan itu. Akupun lantas memberanikan diri berkenalan dengan teman-teman
baru, oh.. rupanya teman-teman begitu ramah, begitu hangat dan dapat emnerima
keberadaanku ditengah-tengah mereka, “ edun, maneh… euy, kocak abis”. Agung,
temanku membesarkan hatiku. Aku hanya tersenyum “iyah…”. Istirahat pun berakhir,
akupun kembali duduk dibangku menanti hukuman apalagi yang akan terjadi, namun
tiba-tiba seseorang dengan setengah berlari masuk kedalam kelas ia masih
menggendong tasnya. Lalu ia menghampiriku dan berkata. “punten a, abdi Sahdan
gugus “G”, Panginten aya keneh tempat kangge abdi calik”. Aku pun tersenyum dan
menjawab.. “silahkan, mangga…”. Sekarang aku duduk tidak sendirian lagi. MOS hari
ini telah kulewati dengan bermacam kejadian.

Siang ini pulang sekolah aku langsung kerumah, belum juga aku membuka pagar rumah
nenek… dari belakang ku sudah ada suara menegur… “ Ade, kenapa Sarapannya tidak
dimakan…? Oh, rupanya nenek yang menegurku, “maaf nek, tadi pagi saya buru-buru
dan takut terlambat ke sekolah”. Hanya itu yang bisa kujawab. “ya sudah, segera
ganti pakaianmu cepat makan siang, makan siang sudah nenek simpan di Lemari, nenek
mau pergi mengaji dahulu ke Masjid Baik-baik dirumah..” pesan nenek, sambil
berlalu.

Segera kulepas sepatu dan berganti seragam serta melepas lelah dan penat,
kuhabiskan satu piring nasi goring yang sudah nenek hidangkan. Setelah makan
siang, lantas kunyalakan televisi “ah… menjemukan tidak ada acara yang bagus”
batin ku mengeluh. Televisi pun kumatikan, aku pun beranjak dari tempat duduk
menuju ke teras depan memandang indahnya panorama alam disekitar rumah nenek,
rumah nenek berada disekitar bukit-bukit yang indah dipandang mata. Udaranya yang
sejuk dan nyanyian kicau burung masih dapat terdengar dengan merdu membuatku
seolah terhanyut olerh suasana.

Hari ini adalah hari kedua ku berseragam putih – abu-abu, hari kedua tak seperti
hari pertama telah kudapatkan teman-teman baru, ada Sahdan, Agung, Usep, Rizki
Bintang dan Irfan yang begitu langsung akrab denganku, merekalah yang mebuatku
optimis untuk bisa tetap bertahan di Rantau. Ada satu perempuan yang menarik
perhatianku, semnjak kemarin ia terus saja memperhatikanku, senyumnya begitu
indah, sejukkan jiwa. Namanya Esti, ku tahu namanya ketika seorang teman
memanggilnya, aku memang belum begitu mengenal satu persatu nama dan wajah teman-
teman, namun perempuan ini sungguh berbeda, “ah, bagai punuk merindukan bulan
pikirku”. Sungguh aku tak menyangka… hari ini materi MOS adalah Permainan dan aku
pun mendapat bagian satu kelompok dengannya, memang benar-benar indah wajahnya,
dipandang dari dekat memang begitu jelas dsebentuk kesuasaan tuhan.
Aku pun mencoba mengajaknya bicara, “kenalkan, nama saya Ade. Wong Cirebon”.
Dengan logat cirebon yang kental saya memperkenalkan diri. “ o… saya Esti, Esti
harianty.. dari Jatinangor”. Suaranya begitu halus, bagaikan suara seorang ibu
yang sedang menina bobokan bayinya. Ah.. hari ini sungguh menyenangkan bagiku.

Sepulang sekolah, aku tidak kemana-mana. Aku langsung rebahkan tubuh ku dalam-
dalam keranjang, sambil membayang seraut wajah yang indah dipandang. Tak terasa
akupun tertidur.

ini adalah hari terakhir aku MOS, sekarang kakak-kakak kelas itu sudah tidak
begitu menakutkan bagiku, malah kini aku sudah akrab dengan beberapa dari mereka.
Ya, ada Teh Indri, Teh Hanny dan dan Teh Eyos yang aku kenal. Mereka begitu ramah
kepadaku sehingga akupun tidak segan untuk bertegur-sapa dengan mereka. Materi MOS
kali ini ada pengakraban, Kakak-kakak kelas sengaja meninggalkan kami agar bisa
lebih mendekatkan diri antara satu dan lainnya. Momen ini tak aku sia-siakan,
sifat nyelenehku tiba-tiba muncul, akupun tak canggung lagi untuk iseng kepada
teman, Novi, Astri, Murni, Inbdri, Annissa.. meraka adalah yang aku isengi.

“Sep, balik Sakola main yu ah, ka rumah kamu”. Agung membuka obrolan.
“hayu…hayu… saya ingin tahu juga nich rumah kamu”… Rizki dan Bintang menimpali
bersamaan.
“ya, saya mah hayu-hayu wae atuh..”. begitu polosnya Usep menjawab.
Kimni Agung memandang ke arahku dan Sahdan, “Maraneh rek ngarilu, moal ?”. Aku dan
Sahdan saling pandang dan kami pun menjawab “ya, Boleh”.

Sesuai rencana, sepulang sekolah kamipun menuju rumah Usep. Rumah Usep berada
disekitar kawasan Gunung Manglayang, banyak tumbuhan tumbuh dengan subur disana.
“Sep, cai Kalapa kayanya enak sech..”. aku berujar sambil memandang kelapa yang
bergelayutan dihalaman rumah Usep. “yah, nanti saya ambilkan. Mari masuk kedalam
gubuk saya”. Dengan nada merendah Usep berbicara pada kami.

Kamipun masuk kedalam rumah, betapa sejuknya istirahat dirumah Usep. Rumah Usep
belum sepenuhnya bangunan gedong permanen, karena rumahnya masih berdinding bilik
bambu.. dan masih berbentuk rumah panggung… angin yang terasa begitu sejuk… tanpa
ada polusi, tidak seperti dikota yang sudah terkontaminasi keadaan udaranya.
Seorang ibu setengah baya pun mengahmpiri kami, sambil membawa makanan dan
minuman. Lalu ia berkata “mangga… dileueut”. “ayo… ayo… dimakan, makanan kampung”.
Usep pun menawari kami….

Bersambung….

Lanjutan…..

“oh… segar sekali minuman ini sep”. Rizki memulai pembicaraan sambil meneguk
segelas air yang dihidangkan…
“minum mah, minum ajah… bilang ajah kalo haus….” Agung menimpali.
Kami berempat hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah mereka…
“ De, gimana nih perasaan kamu sekolah di Jatinangor ?” Usep bertanya padaku,
kuhanya menjawab “Yah, saya senang disini, disini teman-teman ramah dan ceweknya
juga cantik-cantik.
Setelah kami rasa cukup melepas lelah kami berenam pun beranjak menuju kebun
jagung milik Usep, jalanan menuju kebun sungguh indah sekali, sepanjang perjalanan
kami, di kiri dan kanan menagalir selokan kecil yang berair sangat jernih.

Kami pun lantas mencari jagung yang sudah agak tua, lalu kami berenam
membakarrnya.

Hari ini sungguh melelahkan……


Matahri timur menyapa paginya jatinangor, sambil mata sedikit terpejam kubuka
horden jendela, sunbgguh silau ketika sinar mentari itu menyapa kedua mataku. Aku
pun melangkahkan kakiku kemamar mandi….

“e..e…e… Kumaha ieu teh incu nenek, Kunaoan baru bangun…??tiba-tiba nenek menegur
ku. Sambil tersenyum ku jawab pertanyaan nenek “ iya nek, hari ini sudah mulai
belajar jadi anak kelas satu sudah mulai berangkat siang “.
“oh… kitu nya… ya udah atuh cepat mandi lalu sarapan “. Nanek berkata sambil
mengelus pundakku.
“iyah nek”. Aku pun berlalu menuju kamar mandi. Sungguh aku bersyukur memiliki
nenek yang sangat baik dan sayang padaku.

“TRING….TELOLELOLET… “.
Bel berbunyi, seluruh siswa kelas satu pun masuk kedalam kelas masing-masing
termasuk juga aku. Aku pun masuk kedalam kelas, dimana didalam kelas begitu riuh.
Aku langsung tepuk punggung Agung. “Gung, ada apa ini kok pada rebut ?’ aku
bertanya kepadanya.
“oh, itu si Murni Ulang tahun. Udah ngucapin belum ?” Agung balik Tanya padaku,
aku hanya menjawab “oh, iya “. Sambil berlalu menuju tempat dudukku.

Seorang Guru perempuan masuk kedalam kelas, Ibu guru itu berbadan sintal, dan
masih cukup muda, berkulit putih dan sering sekali tersenyum.
“anak-anak perkenalkan nama ibu, ibu Unay.” Ibu itu memperkenalkan namanya, “mulai
sekarang ibu yang akan menjadi wali kelas kalian, ibu mengajar materi Ekonomi”.
Lanjutnya.
“bolehkah ibu tahu nama dan asal kalian ?”. lalu ibu guru membuka sebuah buku
Absensi, mulai membacakan satu persatu nama siswa dan tibalah saat namaku disebut.
“Ade Engkos” saya pun mengacungkan tangan lalu menjawab
“Saya, Bu”.
“Asal sekolah dan alamat ?” ibu guru bertanya lagi. Tanpa berpikir panjang aku pun
menjawab “SMPN Cirebon. Bu”. Ibu guru itu sedikit berkerut dahi, lalu berujar
“Cirebon, ooo… iya…iya… Terasi yah”. Dalam hati aku menggerutu “Sialan, apakah
orang-orang disana hanya tahu Terasi saja jika bicara tentang Cirebon”. Aku pun
menjawab “iyah, bu”.
“sekarang tinggal dimana, dan dengan siapa? Lanjut ibu guru.
“saya sekarang tinggal bersama nenek saya di tanjung sari bu”. Ketika ibu itu akan
bertanya kembali bel berbunyi, jam pelajaran pertama pun berakhir, akhirnya aku
bisa tarik nafasku dalam-dalam.

Bersambung……