Anda di halaman 1dari 153

1

KARYA TULIS ILMIAH


ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. Y DENGAN KASUS
MALARIA DI RUANG MELATI RSUD Dr. M. YUNUS
BENGKULU TAHUN 2012

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan


Program Pendidikan DIII Keperawatan

Disusun Oleh :
RINA FEBRIYANI
NIM : 20091048

AKADEMI KESEHATAN SAPTA BAKTI BENGKULU


PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
2012

HALAMAN PENGESAHAN
KARYA TULIS ILMIAH
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. Y DENGAN KASUS
MALARIA DI RUANG MELATI RSUD Dr. M. YUNUS
BENGKULU TAHUN 2012
OLEH
RINA FEBRIYANI
NIM : 20091048
Telah diuji dan Dipertahankan Di Hadapan Tim Penguji
Karya Tulis Ilmiah AKKES Sapta Bakti Bengkulu
Pada tanggal 06 September 2012
Dan Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat Untuk Diterima
Pembimbing I

Pembimbing II

Ns. Resdi Budaya, S.kep


Penguji I

Hj. Djusmalinar, SKM, M.Kes


Penguji II

Ns.Fourni Ardiansyah S.Kep

Elinofia, S.Kp, MM

Bengkulu, 06 September 2012


Mengetahui,
Direktur AKKES Sapta Bakti Bengkulu

Hj. Djusmalinar, SKM, M.Kes


NIDN : 02-0106-5502

RINGKASAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. Y DENGAN KASUS
MALARIA DI RUANG MELATI RSUD Dr. M. YUNUS
BENGKULU TAHUN 2012
Prodi/Jurusan Keperawatan Tahun 2012.
Rina Febriyani, Ns. Resdi Budaya, S.Kep, Hj. Djusmalinar, SKM, M.Kes.
Sebagian besar daerah di Indonesia masih merupakan daerah endemik
infeksi malaria, salah-satunya yaitu daerah Bengkulu. Data yang di peroleh dari
Rekam Medik RSUD Dr. M. YUNUS Bengkulu terlihat mengalami peningkatan
setiap tahunnya dari tahun 2009 (1.276 penderita), pada tahun 2010 (1.325
penderita), Sedangkan pada tahun 2011 (1.356 penderita), di mana kasus malaria
menduduki peringkat ke 1 dari 10 penyakit terbesar di Ruang Rawat Inap RSUD
Dr. M. Yunus Bengkulu pada tahun 2011. Ditinjau dari kejadian penyakit malaria
maka perawat mempunyai peranan penting dalam memberikan pelayanan
keperawatan yang meliputi peningkatan derajat kesehatan klien, pencegahan
penyakit, penyembuhan dan pemulihan kesehatan klien dan menggunakan
pendekatan proses keperawatan. Tujuan studi kasus ini adalah untuk memperoleh
gambaran dan informasi dalam pelaksanaan asuhan keperawatan klien dengan
kasus malaria dengan menggunakan metode deskriptif yang berupa studi kasus.
Penyakit malaria ini memerlukan perawatan yang teliti dan observasi yang cermat
terhadap semua kemungkinan yang mungkin akan terjadi salah satunya anemia
yang merupakan akibat dari penyakit malaria. Menurut teori, masalah yang
ditemukan pada pasien dengan penyakit malaria adalah : perubahan perfusi
jaringan, aktual/resiko tinggi gangguan elektrolit, hipertermi, aktual/resiko ketidak
seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, nyeri dan ketidak nyamanan,
gangguan aktivitas, resiko penularan penyakit. Diagnosa keperawatan yang tidak
diangkat yaitu : Diagnosa resiko tinggi gangguan elektrolit berhubungan dengan
diuresis osmotik, diaforesis, karena tidak ditemukan tanda-tanda kekurangan
cairan yang berat pada Ny.Y. Setelah itu perawat menyusun intervensi yang
disesuaikan dengan tinjauan teori menurut Muttaqin (2011), Kemudian rencanarencana tersebut penulis implementasikan pada klien dan keluarga. Pada evaluasi
dari 6 diagnosa keperawatn yang telah disusun sesuai dengan masalah utama,
selama melakukan lima hari perawatan pada Ny.Y dimana hasil akhir dari evaluasi
didapatkan bahwa semua masalah yang ada dapat teratasi. Pasien dengan penyakit
malaria harus mendapatkan perawatan secara teliti dan memerlukan observasi
yang cermat, karena penyakit malaria ini bila tidak segera diatasi dengan cepat
dan tanggap dapat menyebabkan komplikasi yang lebih berat.
Kata Kunci : Asuhan Keperawatan, Malaria
Daftar Pustaka: (2006-2011)

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukur senantiasa penulis hanturkan
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala kenikmatan dan kasih sayang-Nya
kepada penulis sehingga penulisan Karya Tulis Ilmiah ini dapat berjalan dengan
baik dan lancar.
Karya Tulis Ilmiah ini merupakan salah satu untuk memenuhi persyaratan
memperoleh gelar Diploma III Keperawatan Akademi Kesehatan Sapta Bakti
Bengkulu dengan judul ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. Y DENGAN
KASUS MALARIA DI RUANG MELATI RSUD DR. M YUNUS BENGKULU
TAHUN 2012.
Dalam penuulisan Karya tulis ilmiah ini, penulis banyak mendapatkan
bantuan baik moril maupun spiritual dan juga saran dari berbagai pihak yang
sangat bermanfaat bagi penulis, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terimakasih antara lain kepada yang terhormat :
1. Ibu Hj. Djusmalinar, SKM, M.Kes selaku Direktur Sapta Bakti Bengkulu
yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengukuti
pendidikan di Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu.
2. Ketua program studi keperawatan ibu Ns. Siti Nurhadini, s.Kep, MPH. Ibu
Ns. Indaryani, S.Kep selaku ketua pelaksana ujian Karya Tulis Ilmiah dan
seluruh dosen dan staf pengajar Akkes Sapta Bakti Bengkulu yang telah
membantu saya untuk mendapatkan fasilitas dalam menyelesaikan Karya
Tulis Ilmiah.
3. Bapak Dr. Zulman Zuri Amran selaku Direktur RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu yang mana telah memberikan bantuan berupa data dan izin

kepada saya dalam melaksanakan penelitian di wilayah kerja yang Bapak


pimpin.
4. Ns. Resdi Budaya, S.Kep selaku dosen pembimbingg 1 (satu) dan Hj.
Djusmalinar, SKM, M.Kes sebagai pembimbing II(dua) dengan kesibukan
beliau masih bersedia memberikan waktu, tenaga dan pikiran untuk
membimbing saya secara telaten dan penuh kesabaran dalam meyelesaikan
Karya Tulis Ilmiah ini.
5. Ns.Fourni Ardiansyah S.Kep selaku dosen penguji 1 (satu) dan Elinofia,
S.Kp, MM selaku dosen penguji 2 (dua) atas kesediaanya menguji dan
menyempurnakan Karya Tulis Ilmiah ini.
6. Andi Afrizal S.Kep selaku kepala ruangan beserta seluruh staf perawat di
ruangan Melati RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
7. Kepada pasien Ibu Yurneli beserta keluarga.
8. Teman-teman seperjuangan di Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu.
9. Kedua orang tua saya yang telah memberikan dukungan, motivasi, cinta,
dan doanya yang hampir seluruh waktunya untuk kesuksesan pendidikan
saya. Juga kepada kakak dan adik saya yang telah memberikan dukungan
semangat kepada saya. Pada kesempatan ini saya juga mengucapkan
terimakasih yang tak dapat saya uraikan dengan kata-kata.
10. Semua pihak yang telah banyak memberikan bantuan

dalam

menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.


Kepada semua pihak yang telah membantu proses penyelesaian Karya
Tulis Ilmiah ini semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan Hidayah-Nya dan
membalas kebaikan yang telah diberikan dengan pahala yang setimpal. Akhirnya
semoga Karya Tulis Ilmiah

ini bermanfaat bagi kita semua khusunya bagi

perkembangan dunia keperawatan.

Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat memenuhi tujuan yang diharapkan,
maka dari itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat
membangun guna kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini. Peneliti berharap Karya
Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi peneliti maupun bagi pembaca sekalian, semoga
Allah SWT, melimpahkan rahmat dan karunia-Nya. Amiiin.

Bengkulu, 15 agustus 2012

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ..................................................................................

HALAMAN PENGESAHAN......................................................................

ii

RINGKASAN..............................................................................................

iii

KATA PENGANTAR ..................................................................................iv


DAFTAR ISI................................................................................................

vii

DAFTAR TABEL........................................................................................

ix

DAFTAR GAMBAR...................................................................................

DAFTAR SINGKATAN/ISTILAH..............................................................

xi

DAFTAR LAMPIRAN................................................................................xii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..........................................................................
B. Tujuan Penulisan.......................................................................
C. Manfaat Penulisan.....................................................................
D. Metode Penulisan......................................................................
BAB II TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Teori Penyakit..............................................................
1. Pengertian.............................................................................
2. Anatomi Fisiologi.................................................................
9
3. Etiologi.................................................................................
15
4. Manifestasi Klinis................................................................
18
5. Patofisiologi.........................................................................
21
6. Komplikasi...........................................................................
25
7. Pemeriksaan Diagnostik......................................................
26
8. Penatalaksanaan....................................................................

1
7
8
8
9
9

28
B. Konsep Teori Asuhan Keperawatan..........................................

31

BAB III TINJAUAN KASUS


A. Pengkajian Keperawatan...........................................................
B. Diagnosa Keperawatan..............................................................
C. Intervensi Keperawatan.............................................................

52
67
68

D. Implementasi Keperawatan.......................................................
E. Evaluasi.....................................................................................

76
101

BAB IV PEMBAHASAN
A. Pengkajian Keperawatan...........................................................
B. Diagnosa Keperawatan..............................................................
C. Intervensi Keperawatan.............................................................
D. Implementasi Keperawatan.......................................................
E. Evaluasi.....................................................................................

106
110
115
115
116

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ..............................................................................
B. Saran..........................................................................................

117
119

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................

121

LAMPIRAN.................................................................................................
DAFTAR TABEL

Nomor
Tabel 2.1

Judul Tabel
Manifestasi klinis infeksi plasmodium.......................
19

Tabel 2.2

Analisa Data................................................................

Tabel 2.3

37
Intervensi Keperawatan..............................................

Tabel 3.1

41
Data penunjang...........................................................

Tabel 3.2

57
Penatalaksanaan Medis...............................................

Tabel 3.3

58
Kebiasaan Sehari-hari.................................................

Tabel 3.4

59
Analisa Data................................................................

Tabel 3.5

61
Intevensi Keperawatan................................................
65

Halaman

Tabel 3.6

Implementasi Keperawatan.........................................
73

Tabel 3.7

Evaluasi.......................................................................
99
DAFTAR GAMBAR

Nomor
Gambar 2.1

Judul Gambar

Halaman

Morfologi stadium-stadium plasmodium vivax di


dalam darah.................................................................
9

Gambar 2.2

Limpa dan hati...........................................................


14

Gambar 2.3

Tanda-tanda

nyamuk

malaria

bila

hinggap/

menggigit letak kepala lebih rendah dibanding


badannya (menungging).............................................
16
Gambar 2.4

Sedian darah tepi sedian hapus tipis pada


masing-masing parasit
plasmodium........................................
17

Gambar 2.5

Siklus hidup plasmodium penyebab malaria..............


21

10

11

DAFTAR SIGKATAN/ISTILAH
MDGS

: Millenium Development Goals

HIV

: Human Immunodeficiency Virus

AIDS

: Acquired Immuno Deficiency Syndrome

BAPPENAS RI : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional


WHO

: World Health Organisation

Kemenkes RI

: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia

API

: Annual Parasite Incidence

CFR

: Case Fatality Rate

P.

: Plasmodium

USG

SGPT

: Serum Glutamic Piruvic Transaminase

SGOT

: Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase

DDR

: Dikke Droppel

Hb

: Haemoglobin

TTV

: Tanda-tanda vital

TD

: Tekanan darah

BB

: Berat badan

TB

: Tinggi badan

GGA

: Gagal Ginjal Akut

RSUD

: Rumah Sakit Umum Daerah

CTZ

: Chemoreseceptor trigger zone

5HT3

: 5-hydroxytriptamine

Ultra Sono Grafi

12

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran1

: Satuan Acara Penyuluhan Malaria

Lampiran 2

: Lembar surat izin pengambilan data dan studi kasus KTI dari
AKKES Sapta Bakti Bengkulu.

Lampiran 3

: Lembar surat permohonan izin melakukan penelitian dari


Kepala Bidang Pendidikan RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.

Lampiran 4

: Lembar surat permohonan izin mengambil data awal penelitian


dari Rekam Medik RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.

Lampiran 5

: Lembar surat permohonan izin melakukan penelitian dari


Kepala Bidang Keperawatan RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.

Lampiran 6

: Lembar surat permohonan izin melakukan penelitian dari


Kepala IRNA RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.

Lampiran 7

: Lembar surat pemohonan izin dari Kepala Ruangan Melati.

Lampiran 8

: Lembar surat keterangan selesai penelitian dari RSUD Dr. M.


Yunus Bengkulu.

Lampiran 9

: Lembar konsultasi bimbingan KTI.

13

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Deklarasi Millenium Development Goals merupakan kesepakatan
para kepala negara dan perwakilan dari 189 negara dalam sidang persatuan
bangsa-bangsa di New York pada bulan september 2000 menegaskan
kepedulian utama masyarakat dunia untuk bersinergi dalam mencapai
Tujuan Pembangunan Millenium Development Goals (MDGs) pada tahun
2015. Terdapat delapan (8) tujuan pembangunan Millenium Development
Goals pada tahun 2015 yaitu : Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan,
Mencapai pendidikan dasar untuk semua, Mendorong kesetaraan gender
dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak,
meningkatkan kesehatan ibu, Memerangi HIV/AIDS, Malaria dan
penyakit menular lainya, Memastikan kelestarian lingkungan hidup, dan
membangun kemitraan global untuk pembangunan. Tujuan Millenium
Development Goals (MDGs) adalah menempatkan manusia sebagai fokus
utama pembangunan yang mencakup semua komponen kegiatan yang
tujuan akhirnya ialah kesejahteraan masyarakat (BAPPENAS, 2011).
Keberhasilan pembangunan Indonesia sangat ditentukan oleh
ketersediaan sumberdaya manusia yang berkualitas, dimana pembangunan
sektor kesehatan merupakan salah satu unsur penentu. Untuk mendapatkan
sumber daya manusia yang berkualitas, masyarakat harus bebas dari
berbagai penyakit, termasuk penyakit malaria (Kepmenkes RI, 2009).
1

14

Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit dari


genus plasmodium yang ditularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk
jenis anopheles betina, penyakit ini dapat menyerang segala ras, usia, dan
jenis kelamin (Irianto, 2011). Menurut Safar Rosdiana (2009) dikenal
empat spesies dari genus plasmodium yang hidup sebagai penyebab
penyakit malaria pada manusia yaitu : Plasmodium falcifarum,
Plasmodium vivax, Plasmodium malariae, dan Plasmodium ovale. Berbeda
dengan penyakit-penyakit yang lain, malaria tidak dapat disembuhkan
meskipun dapat diobati untuk menghilangkan gejala-gejala penyakit.
Malaria menjadi penyakit yang sangat berbahaya karena parasit dapat
tinggal dalam tubuh manusia seumur hidup (Sembel, 2009).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 41%
populasi dunia dapat terinfeksi malaria. Setiap tahun terdapat 300 500
juta penderita mengalami penyakit serius dan sekurang-kurangnya 1-2,7
juta diantaranya meninggal karena malaria (S embel, 2009).
Malaria merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang
dapat menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi yaitu
bayi, anak balita, ibu hamil, selain itu malaria secara langsung dapat
menyebabkan demam, anemia, splenomegali, dan dapat menurunkan
produktivitas kerja. Sebagian besar daerah di Indonesia masih merupakan
daerah endemik infeksi malaria, Indonesia bagian timur seperti Papua,
Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan dan bahkan beberapa
daerah di Sumatra seperti Lampung, Bengkulu, Riau. Daerah di Jawa dan
Bali pun walaupun endemitas sudah sangat rendah, masih sering dijumpai

15

letupan kasus malaria, dan tentu saja hal ini disebabkan mudahnya
transportasi untuk mobilisasi penduduk, sehingga sering menyebabkan
timbulnya malaria import (Harijanto, 2011).
Tujuan pengendalian malaria didaerah-daerah yang endemik malaria
adalah menurunkan serendah-rendahnya dampak malaria terhadap
kesehatan masyarakat dengan menggunakan semua sumber daya yang
tersedia. Pengendalian dapat dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan
mengendalikan nyamuk anopheles yang menjadi vektor penyakit.
Seseorang

seharusnya

menghindari

dari

gigitan

nyamuk

dengan

menggunakan pakaian lengkap (tangan dan kaki tertutup), tidur ditempat


tidur yang memakai kelambu, memakai obat penolak nyamuk,
menghindari untuk mengunjungi lokasi-lokasi yang rawan malaria.
Pengendalian nyamuk secara kimia dapat dilakukan dengan menggunakan
insektisida, yaitu penyemprotan dalam rumah dan sekitar rumah untuk
membunuh nyamuk dewasa atau membunuh jentik-jentik nyamuk dengan
larvasida atau menebar ikan pemakan jentik nyamuk. Pengendalian secara
sanitasi yaitu membersihkan sarang-sarang pembiakan nyamuk (Sembel,
2009).
Program eliminasi malaria di Indonesia tertuang dalam keputusan
Menteri Kesehatan RI No 293/MENKES/SK/IV/2009. Pelaksanaan
pengendalian malaria menuju eliminasi dilakukan secara bertahap dari satu
pulau atau beberapa pulau sampai seluruh pulau tercakup guna

16

terwujudnya masyarakat yang hidup sehat yang terbebas dari penularan


malaria sampai tahun 2030 (Kemenkes RI, 2011).
Annual Parasite Incidence (API) Nasional menunjukan penurunan
dari tahun 2008-2009 yaitu 2,47 per 1.000 penduduk menjadi 1,85 per
1.000 penduduk. Sesuai Target Rencana Strategis Kementrian Kesehatan
tahun 2010-2014 malaria merupakan salah satu penyakit yang ditargetkan
untuk menurunkan angka kesakitanya dari 2 menjadi 1 per 1.000
penduduk, sehingga masih harus dilakukan upaya efektif untuk
menurunkan angka kesakitan 0,85 per 1.000 penduduk dalam waktu 4
tahun, agar target Rencana Strategis Kesehatan tahun 2015 tercapai
(Kemenkes RI, 2011).
Angka kesakitan penyakit malaria di ukur dengan menggunakan
malaria klinis dalam bentuk Angka Kesakitan Annual Positive Incidence
(API ), artinya indikator ini menyatakan kesakitan berdasarkan gejala
klinis bukan berdasarkan pemeriksaan laboratorium. Angka kesakitan
malaria dalam bentuk API di Provinsi Bengkulu pada tahun 2010 sebesar
14,2 per 1000 penduduk, sedangkan Case Fatality Rate (CFR)nya adalah
0,01, untuk angka kesakitan (API) tersebut mengalami kenaikan dari tahun
2009 yang hanya 10,18 per 1000 penduduk. Jumlah penderita malaria
tanpa pemeriksaan sediaan darah di Provinsi Bengkulu pada tahun 2010
sebanyak 32.463 penderita, sedangkan dengan pemeriksaan sediaan darah
sebanyak 24.419 penderita (Profil Dinkes Propinsi Bengkulu, 2011).

17

Kota Bengkulu merupakan daerah endemis malaria, Tahun 2010


jumlah penderita malaria tanpa pemeriksaan sedian darah sebanyak 16,929
orang dan penderita dengan pemeriksaan sediaan darah sebanyak 7,335
orang. Sedangkan angka kesakitan malaria di ukur dengan Annual Positive
Incidence (API), di ketahui angka kesakitan positif

malaria di kota

Bengkulu adalah 23,8 per 1000 penduduk. Angka ini lebih tinggi dari
Angka Kesakitan Propinsi dan Nasional yaitu 16 per 1000 penduduk.
Sesuai target Rencana Strategis Kementrian Kesehatan tahun 2010-1014
target Indonesia Sehat 2015 sebesar 1 per 1000 penduduk, dalam hal ini
Dinas Kesehatan Kota Bengkulu akan terus memprioritaskan program
pemberatasan penyakit menular khususnya pemberantasan penyakit
malaria diberbagi sektor (Profil Dinkes Kota Bengkulu, 2011).
Tingginya angka kesakitan malaria, tidak terlepas dari keadaan
geografis Kota Bengkulu yang berawa-rawa dan daerah pinggir pantai.
Tempat ini merupakan tempat perindukan nyamuk anopheles penyebar
penyakit malaria. Salah satu upaya yang telah dilakukan untuk
menurunkan angka kesakitan malaria adalah pembagian kelambu gratis
bagi keluarga yang memiliki anak balita dan ibu hamil, peningkatan
pemberantasan sarang nyamuk (PSN), dan penyuluhan kesehatan
khususnya tentang penyakit malaria seperti pola prilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS), dan cara pencegahan dari gigitan nyamuk (Profil DinKes
Kota Bengkulu, 2011).

18

Berdasarkan data yang di peroleh dari data rekam medik RSUD Dr.
M. YUNUS Bengkulu dari tahun 2009 tercatat kasus malaria sebanyak
1.276 penderita, pada tahun 2010 jumlah kasus malaria 1.325 penderita,
Sedangkan pada tahun 2011 sebanyak 1.356 penderita, di mana kasus
malaria menduduki peringkat ke 1 dari 10 penyakit terbesar di Ruang
Rawat Inap RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu pada tahun 2011. Dari data di
atas terlihat adanya peningkatan kasus malaria setiap tahunnya. Di ruang
Rawat Inap Melati dan Kenanga RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu pada
tahun 2011 malaria merupakan penyakit dengan jumlah penderita
terbanyak dimana kasus malaria menduduki peringkat ke 1 dari 10
penyakit terbesar yang ada diruang Melati dan Kenangan, tercatat kasus
malaria diruang melati pada tahun 2011 sebanyak 300 penderita (Medical
Record, 2012).
Di tinjau dari tingginya angka kejadian serta komplikasi yang dapat
ditimbulkan oleh penyakit malaria maka perawat mempunyai peranan
penting dalam memberikan pelayanan keperawatan yang merupakan
bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan pada ilmu dan kiat
keperawatan serta pengalaman biologi, psikologi, sosiologi, spiritual yang
komprehensif, ditunjukan kepada individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat, baik sakit maupun sehat yang meliputi peningkatan derajat
kesehatan klien, pencegahan penyakit, penyembuhan dan pemulihan
kesehatan klien dan menggunakan pendekatan proses keperawatan
(Praptianingsih, 2006). Semua itu dapat di berikan dalam bentuk asuhan

19

keperawatan. Asuhan keperawatan di laksanakan mulai dari pengkajian,


diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, sampai evaluasi yang
mana kita dapat memberikan bantuan kepada klien dalam memenuhi
kebutuhanya, mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut, mengatasi
respon penyakit yang di deritanya sehingga masalah klien dapat dikurangi
ataupun teratasi.
Berdasarkan uraian diatas maka Penulis berkeinginan, melakukan
studi kasus bagaimana menerapkan Asuhan Keperawatan pada Nn.Y
dengan malaria di Ruang Rawat Inap Melati di RSUD Dr. M Yunus
Bengkulu.
B.

Tujuan Penulisan
1.

Tujuan Umum
Memperoleh informasi dan gambaran pelaksanaan asuhan keperawatan
klien dengan kasus Malaria di Ruang Rawat Inap Melati di RSUD Dr. M
Yunus Bengkulu Tahun 2012.

2.

Tujuan Khusus
a. Mampu menjelaskan konsep teori Malaria.
b. Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan kasus Malaria.
c. Mampu menentukan diagnosa keperawatan pada klien dengan kasus
Malaria.
d. Mampu membuat intervensi keperawatan pada klien dengan kasus
Malaria.
e. Mampu melakukan tindakan keperawatan / implementasi pada pasien
dengan kasus Malaria.
f. Mampu melakukan evaluasi proses keperawatan pada pasien dengan
kasus Malaria.

20

g. Mampu menganalisa kesenjangan maupun kesamaan antara teori


dengan aplikasi asuhan keperawatan pada klienn dengan Malaria.
h. Mampu menyimpulkan hasil pelaksanaan asuhan keperawatan pada
klien dengan kasus Malaria .
C.

Manfaat Penulisan
1. RSUD Dr. M Yunus Bengkulu
Hasil studi kasus ini dapat memberikan masukan bagi para tenaga
kesehatan khususnya perawat dalam rangka meningkatkan mutu
pelayanan asuhan keperawatan pada pasien.
2. Institusi pendidikan/Akademik
Dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi lingkungan akademik
khususnya prodi DIII Keperawatan tentang asuhan keperawatan pada
kasus malaria.
3. Peneliti selanjutnya
Informasi yang di dapat dari penulis ini berguna sebagai bahan literatur
atau referensi dalam melakukan studi kasus selanjutnya.

D.

Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan karya tulis ilmiah ini adalah metode
deskriptif dengan pendekatan studi kasus.

21

BAB 11
TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Teori Penyakit
1. Pengertian
Malaria merupakan infeksi parasit pada sel darah merah yang
disebabkan oleh suatu protozoa spesies plasmodium yang ditularkan ke
manusia melalui air liur nyamuk (Handayani wiwik, 2008).
Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang di sebabkan oleh
plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukanya
bentuk aseksual didalam darah. Infeksi malaria memberikan gejala berupa
demam, menggigil, anemia dan splenomegali (Harijanto, 2009).
Malaria adalah suatu penyakit infeksi dengan demam berkala yang
disebabkan oleh parasit Plasmodium (termasuk protozoa) dan ditularkan
oleh nyamuk Anopheles betina (Zulkoni Akhsin, 2009).
2. Anatomi Fisiologi
Gambar 2.1 : Morfologi stadium-stadium plasmodium vivax didalam
darah.

Sumber:
(http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/60/Plasmodi
um_vivax.jpg).

22

Darah merupakan komponen esensial makluk hidup yang berada


dalam ruang vascular, karena peranannya sebagai media komunikasi antar
sel ke berbagai bagian tubuh dengan dunia luar karena fungsinya
membawa oksigen dari paru-paru kejaringan dan karbon dioksida dari
jaringan keparu-paru untuk dikeluarkan, membawa zat nutrient dari
saluran cerna ke jaringan kemudian menghantarkan hormone dan materimateri pembekuan darah (Tarwoto, 2008).
a. Karakteristik darah (Tarwoto, 2008)
1) Warna
Darah arteri berwarna merah muda karena banyak oksigen yang
berikatan dengan hemoglobin dalam sel darah merah. Darah vena
berwarna merah tua/gelap karena kurang oksigen dibanding
dengan darah arteri.
2) Viskositas
Viskositas darah lebih tinggi dari pada viskositas air yaitu
sekitar 1.048 sampai 1.066.
3) pH
pH darah bersifat alkalin dengan pH 7.35 sampai 7.45 (netral
7.00).
4) Volume
Pada orang dewasa volume darah sekitar 70 sampai 75 ml/kg BB,
atau sekitar 4 sampai 5 liter darah.
5) Komposisi
a) Plasma darah yaitu bagian cair darah (55%) yang sebagian
besar terdiri dari air (92%), 7% protein, 1% nutrien, hasil
metabolisme, gas pernapasan, enzim, hormon-hormon, faktor
pembekuan dan garam-garaman organic. Protein-protein
dalam plasma terdiri dari serum albumin (alpha-1 globulin,

23

alpha-2 globulin, beta globulin dan gamma globulin),


fibrinogen, protombine dan protein esensien untuk koagulasi.
Serum albumin dan gamma globulin sangat penting untuk
mempertahankan tekanan osmotik koloid, dan gamma
globulin juga mengandung antibody (immunoglobulin)
seperti IgM, IgG, IgA, IgD dan IgE untuk mempertahankan
tubuh terhadap mikroorganisme.
b) Sel-sel darah/ butir-butir darah (bagian padat) kira-kira 45%,
terdiri atas eritrosit atau sel darah merah (SDM) atau red
blood cell (RBC), leukosit atau sel darah putih (SDP) atau
white blood cell (WBC), dan trombosit platelet. Sel darah
merah merupakan unsur terbanyak dari sel darah (44%)
sedangkan sel darah putih dan trombosit 1% . sel darah putih
terdiri dari basofil, eosinofil, neutrofil, limfosit, dan monosit.
b. Struktur sel darah
1) Sel darah merah
Sel darah merah berbentuk cakram bikonkaf dengan diameter
sekitar 7,5 mikron, tebal bagian tepi 2 mikron dan bagian
tengahnya 1 mikron atau kurang, tersusun atas membran yang
sangat tipis sehingga sangat mudah terjadi diffusi oksigen,
karbondioksida dan sitoplasma, tetapi tidak mempunyai inti sel.
Sel darah merah matang mengandung 200-300 juta hemoglobin
(terdiri hem merupakan gabungan protoporfirin dengan besi dan
globin adalah bagian dari protein yang tersusun oleh 2 rantai alfa
dan 2 rantai beta) dan enzim-enzim seperti G6PD (glucose 6

24

phosphate dehydogenase). Hemoglobin mengandung kira-kira


95% besi dan berfungsi membawa oksigen dengan cara mengikat
oksigen dan diedarkan ke seluruh tubuh untuk kebutuhan
metabolisme. Kadar normal hemoglobin tergantung usia dan jenis
kelamin. Hemoglobin adalah protein berpigmen merah yang
terdapat dalam sel darah merah. Normalnya dalam darah pada
laki-laki 15,5g/dl

dan pada

wanita 14,0g/dl (Susan

Hinchliff,1996). Rata-rata konsentrasi hemoglobin pada sel darah


merah 32g/dl.
2) Sel darah putih
Pada keadaan normal jumlah sel darah putih atau leukosit 500010000 sel/mm3. Leukosit terdiri dari 2 kategori yaitu yang
bergranulosit dan yang agranulosit.
3) Trombosit
Trombosit merupakan sel tak berinti, berbentuk cakram dengan
diameter 2-5 um, berasal dari pertunasan sel raksasa berinti
banyak megakariosit yang terdapat dalam sumsum tulang. Pada
keadaan normal jumlah trombosit sekitar 150.000-300.000/mL
darah dan mempunyai masa hidup sekitar 1-2 minggu atau kirakira 8 hari. Trombosit tersusun atas substansi fospolifid yang
penting dalam pembekuan dan juga menjaga keutuhan pembuluh
darah serta memperbaiki pembuluh darah kecil yang rusak.
Trombosit diproduksi di sumsum tulang kemudian sekitar 80%
beredar disirkulasi darah hanya 20% yang disimpan dalam limpa
sebagai cadangan.
c. Hemopoisis (hematopoisis)

25

Hemopoisis adalah proses pembentukan dan pematangan darah.


Organ-organ yang penting dalam hemopoisis adalah:
1) Limpa
Limpa berada dibawah diafragma sebelah kiri dari lambung.
Tersusun atas 3 tipe jaringan yaitu white pulp, red pulp dan
marginal pulp, yang semua berperan dalam keseimbangan
pembentukan dan pemecahan sel darah. Selama pembentukan
darah, limpa menghancurkan sel darah merah yang sudah tua
dengan cara memfagosit, membantu metabolisme besi dengan
cara memecah hemoglobin.
2) Hati
Hati merupakan organ sangat penting dalam eritropoisis, terutama
jika produksi sel darah merah dalam susum tulang tidak normal.
Hati merupakan tempat utama produksi dari faktor pembekuan
darah dan protrombin, menghasilkan empedu, mengaktifkan
vitamin k .

26

Gambar 2.2 : Limpa dan hati


d. Fungsi darah
1) Transport internal
Darah membawa berbagai macam substansi untuk fungsi
metabolisme.
a) Respirasi. Gas oksigen dan karbondioksida dibawah oleh
hemoglobin dalam sel darah merah dan plasma, kemudian
terjadi pertukaran gas di paru-paru.
b) Nutrisi, nutrient/zat gizi diabsorpsi dari usus, kemudian
dibawa dalam plasma kehati dan jaringan-jaringan lain yang
digunakan untuk metabolisme.
c) Sekresi. Hasil metabolisme dibawa plasma kedunia luar
melalui ginjal.
d) Mempertahankan air, elektrolit dan keseimbangan asam basa
dan juga berperan dalam hemoestasis.
e) Regulasi metabolisme, hormon dan enzim atau keduanya
mempunyai efek dalam mengaktivitas metabolisme sel,
dibawa dalam plasma.
2) Proteksi tubuh terhadap bahaya mikroorganisme, yang merupakan
fungsi dari sel darah putih.
3) Proteksi terhadap cedera dan perdarahan
Proteksi terdahap respon peradangan local terhadap cedera
jaringan.

Pencegahan

perdarahan

merupakan

fungsi

dari

trombosit karena adanya faktor pembekuan, fibrinolitik yang ada


dalam plasma.
4) Mempertahankam temperatur tubuh
Darah membawa panas dan bersirkulasi keseluruh tubuh. Hasil
metabolisme juga menghasilkan energi dalam bentuk panas
(Tarwoto, 2008).
3. Etiologi

27

Penyebab infeksi malaria ialah plasmodium, Plasmodium ini pada


manusia menginfeksi eritrosit (sel darah merah) dan mengalami
pembiakan aseksual di jaringan hati dan di eritrosit. Pembiakan seksual
terjadi pada tubuh nyamuk yaitu anopheles betina (Harijanto, 2009).
Genus Plasmodium merupakan penyebab penyakit malaria yang
mempunyai keunikan karena memiliki 2 hospes, yakni manusia sebagai
hospes intermediate dan nyamuk anopheles sebagai hospes definitif.
Genus plasmodium mempunyai 4 spesies penting dalam parasitologi
medik, yaitu : Plasmodium falcifarum (malaria tertiana maligna)
menyebabkan malaria tropika yang sering menyebabkan penyakit malaria
berat/malaria otak dengan kematian. Plasmodium vivax penyebab malaria
tertiana benigna. Plasmodium

malariae penyebab malaria kuartana.

Plasmodium ovale (malaria tertiana ovale), jenis ini jarang sekali


dijumpai, umumnya banyak di Afrika dan Pasifik Barat (Muslim, 2009).

Gambar 2.3 : Tanda-tanda nyamuk malaria bila hinggap/menggigit letak


kepala lebih rendah dibanding badannya (menungging).
Terdapat empat spesies parasit malaria pada manusia, yaitu
Plasmodium falcifarum, yang paling banyak menimbulkan kematian,

28

Plasmodium vivax, Plasmodium ovale dan Plasmodium malariae. Ciri


khas morfologi plasmodium pada hapusan darah adalah sebagai berikut :
Plasmodium falcifarum : gametosit berbentuk pisang; Plasmodium vivax :
trofozoit berbentuk amuboid dengan sel darah merah yang terinfeksi
membesar ukurannya; Plasmodium ovale : sel darah merah yang terinfeksi
bentuknya tidak teratur dan bergerigi; Plasmodium malariae : trofozoit
dewasa berbentuk pita (band-form) (Soedarto, 2009).

29

Gambar 2.4 : Sedian darah tepi sedian hapus tipis pada masing-masing
parasit plasmodium.
Selain di tularkan melalui gigitan nyamuk, malaria dapat menjangkiti
orang lain melalui bawaan lahir dari ibu ke anak, yang disebabkan karena
kelainan pada sawar plasenta yang menghalangi penularan infeksi vertikal.

30

Metode penularan lainya adalah melalui jarum suntik, yang banyak terjadi
pada pengguna narkoba suntik yang sering bertukar jarum secara tidak
steril. Model penularan infeksi yang terakhir adalah melalui tranfusi darah.
Disebutkan dalam literatur bahwa melalui metode ini, hanya akan terjadi
siklus eritrositer. Siklus hati tidak terjadi karena tidak melalui sporozoit
yang memerlukan siklus hati (Widoyono, 2008).
4. Manifestasi klinis
Malaria mempunyai gambaran karakteristik demam periodik, anemia
dan splenomegali. Masa inkubasi bervariasi pada masing-masing
plasmodium (tabel 1). Keluhan prodromal dapat terjadi sebelum terjadinya
demam berupa : kelesuhan, malaise, sakit kepala, merasa dingin di
punggung, nyeri sendi dan tulang, demam ringan, anoreksia (hilang nafsu
makan), perut tidak enak, diare ringan dan kadang-kadang merasa dingin.
Keluhan prodromal sering terjadi pada Plasmodium vivax dan ovale,
sedang pada plasmodium falcifarum dan malariae keluhan prodromal tidak
jelas bahkan gejala dapat mendadak.
Gejala yang klasik yaitu terjadinya trias malaria serangan paroksimal
secara berurutan : periode dingin (15-60 menit) : mulai menggigil,
penderita sering membungkus diri dengan selimut atau sarung dan pada
saat menggigil sering seluruh badan bergetar dan gigi-gigi saling terantuk,
diikuti dengan meningkatnya temperatur, diikuti dengan periode panas :
penderita muka merah, nadi cepat, dan panas badan tetap tinggi beberapa
jam, diikuti dengan keadaan berkeringat ; kemudian periode berkeringat :
penderita berkeringat banyak dan temperatur turun, dan penderita merasa
sehat. Trias malaria lebih sering terjadi pada infeksi plasmodium vivax,

31

pada plasmodium falcifarum menggigil dapat berlangsung berat ataupun


tidak ada. Periode tidak panas berlangsung 12 jam pada plasmodium
falcifarum, 36 jam pada plasmodium vivax dan ovale, 60 jam pada
plasmodium malariae.
Tabel 2.1 Manifestasi klinis infeksi plasmodium
Plasmodium

Tipe
panas
(jam)
24,36,48

Relaps

Recru
densi

Manifestasi klinis

Falcifarum

Masa
inkubasi
(hari)
12 (9-14)

Gejala
gastrointestinal
,
hemolisis, anemia,
ikterus,
splenomegali,
hepatomegali,
hemoglobinuria,
algid malaria, gejala
serebral,
edema
paru, hipoglikemia,
gangguan
kehamilan, kematian

Vivax

13(12-17)

48

Gejala
gastrointestinal,
gangguan
kehamilan, anemia,
splenomegali.

Ovale

17(16-18)

48

Malariae

28(18-40)

72

Gejala
gastrointestinal,
anemia,
splenomegali.
Gejala
gastrointestinal,
Sindroma nefrotik,
splenomegali,
anemia
jarang
terjadi.

32

Keterangan :
Masa inkubasi

: Masa antara masuknya sporozoit ke dalam tubuh


hospes sampai timbulnya gejala demam.

Relapse atau rechute : ialah berulangnya gejala klinik atau parasitemia


yang lebih lama dari waktu diantara serangan
periodik dari infeksi primer yaitu setelah periode
yang lama dari masa latent (sampai lima tahun),
biasanya karena infeksi tidak sembuh atau oleh
bentuk luar eritrosit (hati) pada malaria vivax atau
ovale (plasmodium berdiam dalam hati : hipnozoit).
Serangan primer

: yaitu keadaan mulai dari akhir masa inkubasi dan


mulai terjadi serangan paroksimal yang terdiri dari
dingin/menggigil, panas dan berkeringat. Serangan
paroksimal ini dapat pendek atau panjang tergantung
dari perbanyakan parasit dan keadaan immunitas
penderita.

Periode latent

: yaitu periode tanpa gejala dan tanpa parasitemia


selama terjadinya infeksi malaria. Biasanya terjadi
diantara dua keadaaan paroksimal.

Recrudescense

: yaitu berulangnya gejala klinik dan parasitemia


dalam masa 8 minggu sesudah berakhirnya serangan
primer.

Recrudescense

dapat

terjadi

berupa

33

berulangnya gejala klinik sesudah periode laten dari


serangan primer (Harijanto, 2009).
5) Patofisiologi
Gambar 2.5 : Siklus hidup plasmodium penyebab malaria.

Parasit malaria dalam siklus hidupnya membutuhkan dua hospes.


Melalui aliran darah, nyamuk anopheles betina menginokulasi sporozoit ke
dalam tubuh manusia1. Sporozoit menginfeksi sel hati2, berkembang biak
menjadi skizon3. Lalu pecah dan mengeluarkan merozoit (p. Vivax, dan
p.ovale memiliki stadium dorman4. (hipnozoit) berdiam dalam hati dan
dapat kambuh kembali untuk menginvasi kembali dalam darah beberapa
minggu atau satu tahun kemudian) sesudah memperbanyak diri dalam hati

34

ini

(exo-erythrocytic

schizogony)A.

Selanjutnya

parasit

memasuki

perkembang biakan secara aseksual dalam eritrosit (erythrocytic


schizogony)B. Merozoit mengifeksi sel darah merah 4. Stadium ring,
trofozoit matur selanjutnya menjadi skizon, yang akan menghasilkan
merozoit5. Beberapa parasit berubah menjadi bentuk stadium sexual
erythrocytic (gametosit)6. Pada stadium parasit dalam darah muncul gejala
klinis penyakit ini. Gametosit, jantan (mikrogametosit) dan betina
(makrogametosit), masuk nyamuk dalam tubuh nyamuk anopheles melalui
darah yang terhisap7. Dalam tubuh nyamuk, parasit memperbanyak diri
dengan cara sporogonic cycleC. Di dalam tubuh nyamuk, mikrogamet
melakukan penetrasi ke makrogamet untuk menghailkan zigot8. Zigot
bergerak dan memanjang (ookinet)9. Keluar dari dinding lambung nyamuk
untuk berkembang menjadi ookista10. Ookista tumbuh, matang dan
mengeluarkan sporozoit11. Selanjutnya hidup berdiam dalam pada kelenjar
liur nyamuk. Sporozoit siap diinokulasikan ke tubuh manusia lainnya dan
kembali melangsungkan siklus hidupnya1 (Muslim, 2009).

35

WOC : Siklus pada nyamuk anoph eles betina dan pada manusia
Orang sakit malaria
Digigit nyamuk anopheles
Parasit masuk ke lambung nyamuk
Makro dan mikro gametosit membentuk zigot
Ookinet menembus dinding nyamuk
Membentuk ookista yang kemudian pecah
Sporozoit dilepaskan
Menyebar keseluruh organ nyamuk termasuk kelenjar ludah nyamuk
Nyamuk mengigit orang sehat

Resiko terjadi
penularan
penyakit

Sporozoit menuju hati


Sporozoit matang menjadi skizon
Skizon pecah
Melepaskan merozoit

Sebagian tetap dihati meneruskan


Siklus eksoeritrosit

sebagian masuk ke aliran darah dan


menginfeksi eritrosit

Trofozoit muda
Beberapa parasit berubah
menjadi bentuk stadium
sexual erythrocytic (mikro
dan makro gametosit)

Trofozoi tua
Skizon pecah

Merozoit memasuki eritrosit baru


Siklus terjadinya berulang ke eritrosit baru
Malaria
Sumber :

Widoyono, 2009
Zulkoni akhsin, 2010
Harijanto, 2009

36

WOC : siklus pada manusia sampai menimbulkan tanda dan gejala


Malaria
Induksi sitolisi sel darah merah
Pelepasan produk metabolik toksik ke dalam aliran darah
Jumlah skizon yang pecah dalam sirkulasi darah ,
penekanan proses hematopoiesis, dan
peningkatan pembersihan sel darah merah di limpa
Plasmodium mencapai jaringan serebral

Anemia dan hipovolemi

Sumbatan kapiler pembuluh darah otak

Respon musculoskeletal

anemia

Oedema serebri

penurunan aliran darah Anoksia otak

Kelemahan fisik umum, malaise


Gangguan aktivitas sehari- hari

Penurunan perfusi jaringan


Respons imflamasi sistemik
Sirkulasi endoksin
pada hipotalamus

Mialgia, artralgia

Diaforesis poli uri

Perubahan regulasi temp


Nyeri dan
ketidaknyamanan

Muncul demam
Hipertermi

Aktual/Resiko tinggi
Gangguan elektrolit
(hiponatremi,
Hipokalemi)

P. mencapai sirkulasi saluran cerna


Pelepasan serotonin 5HT3 ke dalam usus halus
Saraf vagus menyampaikan rangsangan ke CTZ, syaraf eferen dan kortek serebral
Pusat Muntah (Postrema medula oblongata)
Mual, muntah, anoreksia
Intake nutrisi tidak adekuat
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
Sumber : Muttaqin, 2011

37

6. Komplikasi
Menurut Widoyono (2008) komplikasi yang dapat terjadi pada
penyakit malaria sebagai berikut :
a. Malaria serebral (malaria otak) adalah malaria dengan penurunan
kesadaran. Penilaian derajat kesadaran dilakukan bardasarkan Skala
Koma Glasgow (GCS, Glasgow Coma Scale). Pada orang dewasa
GCS 11, sedangkan pada anak berdasarkan Blantyre Coma Scale 3,
atau koma >30 menit setelah serangan kejang yang tidak disebabkan
oleh penyakit lain.
b. Anemia berat (Hb <5 gr% atau hematokrit <15%) pada keadaan
hitung parasit >10.000/uL. Bila anemia hipokromik mikrositik, harus
dikesampingkan adanya anemia defisiensi besi, talasemia, atau
hemoglobinopati lainnya.
c. Gagal ginjal akut (urin <400 mL/24 jam pada orang dewasa atau <1
mL/kgBB/jam pada anak setelah dilakukan rehidrasi, dengan kreatinin
darah meningkat >3 mg%).
d. Edema paru atau acute respiratory distress syndrome (ARDS).
e. Hipoglikemia : gula darah <40 mg%.
f. Gagal sirkulasi atau syok : tekanan sistolik <70 mmHg, disertai
keringat dingin.
g. Perdarahan spontan dari hidung, gusi, alat pencernaan dan atau
disertai kelainan laboratorik adanya gangguan koagulasi intravaskuler.
h. Kejang berulang >2 kali per 24 jam setelah pendinginan pada
hipertermia.
i. Asidema (pH <7,25) atau asidosis (bikarbonat plasma <15 mmol/L).
j. Hemoglobinuria makroskopik karena infeksi malaria akut (bukan
karena obat antimalaria pada seseorang dengan defisiensi Glukosa-6Posfat Dehidrogenase) (Widoyono, 2008).
7. Pemeriksaan diagnostik
a. Pemeriksaan mikroskopis

38

Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan darah yang menurut


teknis pembuatannya dibagi menjadi preparat darah (SDr, sediaan
darah) tebal dan preparat darah tipis, untuk menentukan ada tidaknya
parasit malaria dalam darah. Melalui pemeriksaan ini dapat dilihat
jenis plasmodium dan stadiumnya (P. falciparum, P. vivax, P. malariae,
P. ovale, tropozoit, skizon, dan gametosit) serta kepadatan parasitnya.
Kepadatan parasit dapat dilihat melalui dua cara yaitu semikuantitatif dan kuantitatif. Metode semi-kuantitatif adalah menghitung
parasit dalam LPB (lapang pandang besar) dengan rincian sebagai
berikut:
(-)
: SDr negatife (tidak ditemukan parasit dalam 100 LPB)
(+)
: SDr positif 1 (ditemukan 1-10 parasit dalam 100 LPB)
(++) : SDr positif 2 (ditemukan 11-100 parasit dalam 100 LPB)
(+++) : SDr positif 3 (ditemukan 1-10 parasit dalam 1 LPB)
(++++) : SDr positif 4 (ditemukan 11-100 parasit dalam 1 LPB)
Penghitungan kepadatan parasit secara kuantitatif pada SDr
tebal adalah menghitung jumlah parasit per 200 leukosit. Pada SDr
tipis, penghitungan jumlah parasit per 1000 eritrosit.
b. Tes diagnostik cepat (RDT, rapid diagnostic test)
Metode ini mendeteksi adanya antigen malaria dalam darah
dengan cara imunokromatografi. Dibandingkan uji mikroskopis, tes
ini mempunyai kelebihan yaitu hasil pengujian dengan cepat dapat
diperoleh, tetapi lemah dalam hal spesifisitas dan sensitivitasnya.
c. Pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction)
Dengan menggunakan pemeriksaan PCR spesifisitas dan
sensitivitasnya dapat ditingkatkan. Keunggulan tes ini walaupun
jumlah

parasit

yang

dapat

dideteksi

sangat

sedikit

dapat

mengidentifikasi infeksi ringan dengan sangat tepat dan dapat

39

dipercaya. Hal ini penting untuk studi epidemiologi dan eksperimental


dan belum untuk pemeriksaan rutin.
d. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi umum
penderita, meliputi pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit,
jumlah leukosit, eritrosit, dan trombosit. Bisa juga dilakukan
pemeriksaan kimia darah (gula darah, SGOT, SGPT) serta
pemeriksaan rontgen dan USG untuk melihat apakah terjadi
pembesaran hati dan limpa dan pemeriksaan lainya sesuai indikasi
8.

(Widoyono, 2008).
Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Keperawatan
1) Pemantauan tanda-tanda vital (TD, nadi, pernafasan, dan suhu).
2) Cairan dan elektrolit
Pemberian cairan merupakan bagian yang penting dalam
penanganan malaria, biasanya diberikan cairan 1500-2000 cc/hari
apalagi bila sudah terjadi malaria berat. Pemberian cairan yang
tidak adekuat akan menyebabkan timbulnya nekrosis tubuler akut.
Sebaliknya pemberian cairan yang berlebihan dapat menyebabkan
udema paru. Cairan yang biasa digunakan adalah dextrose 5%
untuk menghindari hipoglikemi khususnya pada pemberian kina.
Bila dapat diukur kadar elektrolit (natrium), dipertimbangkan
pemberian NaCl bila diperlukan.
3) Nutrisi
Pada pasien malaria makanan biasa atau makanan lunak.
Diit lunak yang diberikan mengandung protein, energy dan zat

40

gizi lainnya. Makanan yang diberikan dalam bentuk mudah


dicerna , rendah serat dan tidak mengandung bumbu yang tajam.

41

4) Eliminasi
Pada pasien malaria biasanya tidak mengalami gangguan
eliminasi tapi pada malaria berat terjadi gangguan eliminasi BAK
yaitu hemoglobinuria dan gangguan eliminasi BAB yaitu diare.
5) Aktifitas dan istirahat
Malaria biasa tidak perlu istirahat mutlak hanya aktivitas
yang dibatasi, mengatur posisi yang nyaman bagi pasien.
6) Bila terjadi anemia diberi tranfusi darah.
7) Memberikan kompres hangat pada pasien (hindari kompres
alcohol dan air es) dan bila pasien menggigil berikan selimut.
b. Penatalaksanaan non medis
1) Menggunakan kelambu pada waktu tidur.
2) Mengolesi tubuh dengan obat anti gigitan nyamuk.
3) Menggunakan pembasmi serangga.
4) Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi. Letak tempat
tinggal diusahakan jauh dari kandang ternak.
5) Mencegah penderita malaria dari gigitan nyamuk agar infeksi
tidak menyebar lebih jauh.
6) Membersihkan tempat hinggap atau istirahat nyamuk dan
memberantas sarang nyamuk.
7) Hindari keadaan rumah yang lembab, gelap, kotor dan pakaian
yang bergantungan serta genangan air.
8) Membunuh jentik nyamuk dengan menyemprotkan obati anti atau
menebarkan ikan pemakan jentik.
9) Melestarikan hutan bakau sebagai habitat ikan di rawa-rawa
sepanjang pantai (Irianto, 2011)
c. Penatalaksanaan medis
Berdasarkan suseptibilitas (rentan) berbagai stadium parasit
malaria terhadap obat malaria, maka obat malaria dibagi lima
golongan, yaitu :

42

1) Skizontisida jaringan primer, proguanil, pirimetamin dapat


membasmi parasit praeritrosit, sehingga mencegah masuknya
parasit ke dalam eritrosit; digunakan sebagai profilaksis kausal.
2) Skizontisida jaringan sekunder; primakuin dapat membasmi
parasit daur eksoeritrosit dan bentuk-bentuk jaringan plasmodium
vivax dan ovale dan digunakan untuk pengobatan radikal infeksi
ini bagi anti relaps.
3) Skizontisida darah; membasmi parasit yang berhubungan dengan
penyakit akut disertai gejala klinik. Skizontisida dapat mencapai
penyembuhan klinis suprasif bagi keempat spesies plasmodium.
Skizontisida darah juga membunuh bentuk eritrosit stadium
seksual plasmodium vivax, ovale dan malariae. Skizontisida
darah yang ampuh adalah kina, klorokuin, dan amodiakuin,
sedangkan

yang

pirimetamin.
4) Gametositosida:

efeknya

terbatas

menghancurkan

adalah

semua

proguanil

stadium

dan

seksual,

termasuk stadium gametosit plasmodium falcifarum, juga


mempengaruhi perkembangan parasit malaria dalam nyamuk
Anopheles

betina.

Beberapa

obat

gametositosida

bersifat

sporontosida. Primakuin adalah gametositosida untuk keempat


spesies, sedang kina, klorokuin, dan amodiakuin adalah
gametositosida untuk plasmodium vivax, ovale dan malariae.
5) Sporontosida: mencegah atau menghambat gametosit dalam darah
untuk membentuk ookista dan sporozoit dalam nyamuk
Anopheles. Obat ini mencegah transmisi penyakit malaria dan

43

disebut juga obat anti sporogonik. Obat-obatan yang termasuk


dalam golongan ini ialah primakuin dan poquanil.
Obat-obat malaria yang terdaftar di Dit. Jen. Pom dan memenuhi
standar untuk program pemberantasan penyakit malaria Dep. Kes.
Adalah klorokuin, S-P, kina, primakuin dan beberapa antibiotika yang
beredar diindonesia. Obat baru halofantrin, artemisin (qinghaosu) dan
derivatnya: artemeter, artesunat, arte-ater, pironaridin, atovakuan,
yinghausu (arteflen) (Safar Rosdiana, 2009).
B. Konsep Teori Asuhan Keperawatan
Proses keperawatan adalah suatu metode yang sistematis dan
terorganisasi dalam pemberian asuhan keperawatan, yang difokuskan pada
reaksi dan respons unik individu pada suatu kelompok atau perorangan
terhadap gangguan kesehatan yang dialami, baik, aktual, maupun
potensial. Proses keperawatan juga dapat diartikan sebagai pendekatan
yang digunakan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan, sehingga
kebutuhan dasar klien dapat teratasi. Proses keperawatan terdiri dari lima
tahap, yaitu : pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi, dan
1.

evaluasi (Deswani, 2009).


Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dalam asuhan keperawatan dan
landasan proses keperawatan. Oleh karena itu dibutuhkan pengkajian yang
cermat guna mengenal masalah klien seperti mengumpulkan semua
informasi yang bersangkutan dengan masa lalu dan saat ini, data objektif
dan subjektif dari klien, keluarga, masyarakat, lingkungan, atau budaya.
Keberhasilan asuhan keperawatan sangat tergantung kecermatan dan
ketelitian dalam pengkajian (Deswani, 2009).

44

Pengkajian :
a. Identitas pasien
Terdiri dari: nama pasien, umur, pendidikan, agama, pekarjaan, alamat
serta penanggung jawab pasien. Biasanya malaria diderita oleh
seorang yang tinggal di daerah atau lingkungan endemic malaria.
b. Data riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan klien saat masuk rumah sakit, keluhan saat dikaji :
demam yang hilang timbul, menurunnya nafsu makan, sakit
kepala,mual, muntah, lemah, menggigil, malaise, nyeri sendi dan
tulang, berkeringat.
2) Riwayat kesehatan yang lalu
Menggambarkan kesehatan pasien sebelumnya, apakah pasien
pernah mempunyai riwayat penyakit malaria atau meminum obat
malaria, apakah pernah bepergian dan bermalam didaerah
endemik.
3) Riwayat kesehatan keluarga
Menggambarkan adakah anggota keluarga yang mengalami
penyakit malaria, riwayat penyakit genetik, dan congenital dalam
keluarga.
4) Riwayat kebiasaan sehari-hari
a) Pola nutrisi
Menggambarkan keluhan pasien berupa: mual, muntah terus
menerus, sering juga muntah darah.
b) Pola eliminasi
BAK : pada malaria berat warna air kencing menjadi seperti
teh, dan volume air kencing yang berkurang sampai tidak
keluar air kencing sama sekali.

45

BAB : Kemungkinan terjadinya berak darah.

46

c) Pola istirahat dan tidur


Pada umumnya didapat keluhan berupa adanya gangguan
istirahat dan tidur yang disebabkan oleh nyeri kepala, mual,
muntah dan demam menggigil.
d) Pola aktivitas
Pada umumnya penderita malaria terdapat kelemahan atau
kelelahan saat melakukan aktivitas dikarenakan pasien
mengalami mual, muntah dan nyeri kepala.
e) Personal hygiene
Pada umumnya personal hygiene pada penderita malaria
masih cukup baik dan bersih.
c. Pemeriksaan Fisik
(Inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi)
1) Keadaan umum
Di kaji penampilan dan tingkat kesadaran.

Terjadi gangguan

kesadaran, kelemahan atau kelumpuhan otot.


2) Tanda-tanda vital
Pasien mengalami demam 37,50C - 400C, penurunan tekanan
darah, nadi berjalan cepat dan lemah, serta frekuensi nafas
meningkat.

47

3) Pemeriksaan fisik
a) Pernapasan
Inspeksi : Frekuensi pernapasan meningkat, bentuk dada
simetris/tidak dan ada/tidak benjolan atau bekas
luka.
Auskultasi : Suara nafas vesikuler.
Palpasi :
Pergerakan dinding

dada

simetris/tidak,

ada/tidak benjolan dan nyeri tekan.


Resonan.

Perkusi :
b) Pencernaan
Inspeksi : Mukosa bibir kering dan pecah-pecah, abdomen
simetris/tidak, ada/tidak luka operasi.
Auskultasi : Bising usus (+)
Palpasi :
Ada/tidak benjolan dan nyeri tekan, ada/tidak
pembesaran hepar atau limfa.
Timpani

Perkusi :
c) Penglihatan
Inspeksi : Konjungtiva palpebra pucat.
Palpasi :
Ada/tidak benjolan dan nyeri tekan.
d) Pengecapan : Mulut terasa pahit
e) Pendengaran : Tidak ada gangguan pada pendengaran
f) Kardiovaskuler
Inspeksi : ada/tidak bekas operasi dan benjolan.
Palpasi :
Ada/tidak nyeri tekan dan pembengkakan
jantung.
Perkusi :
Redup pada bagian jantung.
Auskultasi : Bunyi jantung I dan bunyi jantung II normal.
g) Perkemihan : volume air kencing berkurang, warna seperti
teh.
h) Reproduksi : Tidak ada masalah pada sistem reproduksi.
i) Moskuloskeletal : Terjadi kelemahan pada otot.
j) Intergument : Warna ikterik / kekuningan / tampak pucat.
d. Riwayat Psikologis dan Spiritual
1) Psikologi
Menggambarkan tentang reaksi pasien terhadap penyakit yang di
alami, cemas dan harapan pasien mendapatkan dukungan dari
orang - orang terdekat pasien.

48

2) Spiritual
Kepercayaan yang di anut pasien, kebiasaan beribadah, dan
sejauh mana kepercayaan tersebut mempengaruhi kehidupan
pasien.
e. Pemeriksaan penunjang
1) USG : pada penderita malaria kronis terdapat pembesaran limpa
2) Rontgen : pada penderita malaria kronis terlihat pembesaran hati
dan

limpa.

49

3) Laboratorium
a) Hitung leukosit darah rendah atau normal (n : 4.000-10.000
mm3)
b) Jumlah trombosit sering menurun terutama pada malaria
berat (n : 150.000-400.000 sel/mm3)
c) Laju endap darah sangat tinggi (>5-15 mm/jam)
d) Hemoglobin darah rendah (<10 gr/dl)
e) Plasmodium terlihat dalam sediaan, DDR (+).
f. Analisa data
Tabel 2.2 Analisa Data
Data focus
Masalah

N
o
1 Ds : Klien mengeluh kepala terasa pusing
Do :
TTV : Tensi darah hipotensi, nadi cepat
Terdapat sianosis
Akral dingin
Kulit pucat
Klien tampak gelisah
Hb dibawah normal
Conjungtiva anemis
Mukosa bibir tampak kering
Hasil pemeriksaan DDR (+)

Perubahan perfusi
jaringan

Ds : klien mengatakan bahwa klien tidak nafsu


makan dan perutnya mual,dan pernah muntah
>1x
Do :
Porsi makan yang dihabiskan terlihat
hanya 3 sendok makan
Keadaan umum tampak lemah
BB klien di bawah normal/biasanya
Tinggi badan tidak seimbang dengan BB
Klien tampak pucat
Mukosa bibir tampakk kering

Resiko
ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan

Ds : Klien mengatakan merasa mual, dan


muntah > 3x, tidak ada keinginan untuk minum.
Do :
TTV : TD : hipotensi, nadi : takikardi,

Aktual/resiko tinggi
gangguan elektrolit

50

suhu >380C.
Tugor kulit tidak elastis
Haluaran urin tidak adekuat
Intake dan output tidak seimbang
Membran mukosa kering

Ds : klien mengeluh tubuhnya terasa panas,


panas yang dirasakan hilang timbul.
Do :
Pada palpasi klien teraba panas
Suhu >370C
Hasil pemerikasaan DDR (+)
Klien tampak gelisah
Mukosa bibir tampak kering

Hipertermi

Ds : klien mengatakan tubuhnya terasa lemas


Do :
Klien tampak lemah
Aktivitas klien hanya ditempat tidur
Semua kebutuhan klien dibantu oleh
keluarga dan perawat
Kekuatan otot

Gangguan aktifitas

<4444 <4444
<4444 <4444
6

Ds : klien mengeluh tubuhnya terasa nyeri pada


persendian tulang dan juga otot, tubuh terasa
pegal-pegal.
Do :
Klien tampak meringis kesakitan
Klien tampak gelisah
Sakala nyeri (1-5)= <2

Nyeri dan
ketidaknyamanan

Ds : klien dan keluarga mengatakan tidak tahu


tentang apa penyakit malaria dan cara penularan
penyakit malaria.
Do :
Keluarga dan klien tidak menjawab ketika
ditanya tentang cara penularan penyakit
malaria dan hanya mengelengkan kepala.

Resiko penularan
penyakit malaria.

51

2.

Keluarga dan klien tidak mengetahui cara


pencegahan malaria.
Keluarga bertanya tentang apa penyakit
yang di derita keluarganya.

Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah menganalisis data subjektif dan
objektif yang telah diperoleh pada tahap pengkajian untuk menegakan
diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan melibatkan proses berpikir
kompleks tentang data yang dikumpulkan dari klien, keluarga, rekam
medik, dan pemberi pelayanan kesehatan lain (Deswani, 2009).
Diagnosa keperawatan pada pasien dengan malaria berdasarkan dari
tanda dan gejala yang timbul menurut Muttaqin (2011) adalah :
1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen
seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam
tubuh.
2. Aktual/resiko ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan

dengan

intake

yang

tidak

dekuat

anorexia,

mual/muntah.
3. Aktual/risiko tinggi gangguan elektrolit berhubungan dengan diuresis
osmotik, diaforesis.
4. Hipertermi berhubungan

dengan

peningkatan

metabolisme,

efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus.


5. Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
6. Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan respons inflamasi
sistemik, mialgia, artralgia.
7. Resiko penularan penyakit malaria berhubungan dengan kurang
pengetahuan tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan dan
pola hidup.

52

3.

Intervensi keperawatan
Intervensi keperawatan adalah panduan untuk perilaku spesifik yang
diharapkan dari klien, dan atau tindakan yang harus dilakukan oleh
perawat. Intervensi dilakukan untuk membantu klien mencapai hasil yang
diharapkan (Deswani, 2009)
Terhadap perencanaan meliputi :
a. Menentukan proritas masalah
Menentukan prioritas masalah menurut maslow memberikan
kerangka kerja yang berguna dalam menentukan masalah prioritas,
dengan prioritas utama diberikan pada kebutuhan fisik diikuti oleh
kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah. Tahap prioritas masalah
menurut maslow adalah meliputi : kebutuhan fisiologi, kebutuhan
rasa aman dan kenyamanan, kebutuhan cinta dan mencintai,
kebutuhan harga diri, dman kebutuhan pencapaian tujuan pribadi
(Deswani, 2009)
Prioritas keperawatan untuk pasien dengan diagnosa malaria
dapat meliputi :
1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan
komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen
dan nutrient dalam tubuh.
2. Aktual/risiko tinggi gangguan elektrolit berhubungan dengan
diuresis osmotik, diaforesis.
3. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme,
efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus.
4. Aktual/resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan intake yang tidak dekuat ; anorexia,
mual/muntah.

53

5. Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan respons


inflamasi sistemik, mialgia, artralgia.
6. Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
7. Resiko penularan penyakit malaria berhubungan dengan kurang
pengetahuan tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan
dan pola hidup.
b. Menetapkan intervensi keperawatan
1) Menetapkan tujuan
Tujuan keperawatan ditulis berdasarkan pada standar
perawatan dan merupakan tujuan dalam mengatasi masalah klien.
2) Menetapkan kriteria hasil
Untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan yang di terapkan
pada standar, maka dibuatlah kriteria hasil. Kriteria hasil
ditegakkan untuk masing-masing masalah klien sesuai dengan
rencana tindakan yang disusun (Doengoes, 2000).
Adapun perencanaan keperawatan yang dapat diisusun pada

No
1

klien dengan malaria menurut Muttaqin (2011) ialah :


Tabel 2.3 Intervensi Keperawatan
Diagnosa
Tujuan dan
Intervensi
Rasional
keperawatn
kriteria hasil
Perubahan
Tujuan
: 1. Memeriksa
1. Memantau
setelah
tanda-tanda
perfusi
perkembangan
dilakukan
vital.
jaringan
tekanan darah
perawatan
berhubungan
dan perubahan
dalam waktu
dengan
pada
tekanan
4x24jam tidak
penurunan
nadi. Hipotensi
terjadi
komponen
akan
penurunan
tingkat
seluler yang
berkembang
kesadaran
dan
di perlukan
bersamaan
dapat
untuk
dengan kuman
mempertahank
pengiriman
yang
an
cardiac
oksigen dan output secara
menyerang
nutrient
darah.
adekuat guna 2. Catat adanya
dalam tubuh. meningkatkan
keluhan pusing.
perfusi
2. Keluhan pusing
jaringan.
merupakan

54

Kriteria hasil :
Tanda-tanda
vital normal 3.
Klien tidak
mengeluh
pusing
Klien tidak
gelisah
Tidak
terdapat
4.
sianosis
Kulit segar
Hemoglobi
n normal
Akral
hangat
Conjungtiva
ananemis
5.
Mukosa
bibir
tampak
lembab
Hasil
pemeriksaa
n DDR (-)

manifestasi
penurunan
suplai darah ke
jaringan otak.

Kurangi
aktivitas yang
merangsang
3. Respons
timbulnya
valsava
akan
respons
valsava/
meningkatkan
aktivitas.
beban jantung
sehingga akan
menurunkan
Tingkatkan
curah jantung
tirah baring.
ke otak.

4. Menurunkan
beban
kerja
miokard
dan
konsumsi
oksigen,
Observasi
memaksimalkan
perubahan
efektifitas dari
sensori
dan
perfusi jaringan.
tingkat
kesadaran
pasien
yang 5. Bukti
aktual
menunjukan
terhadap
penurunan
penurunan
perfusi
otak
aliran darah ke
(gelisah,
jaringan
confuse/bingun
serebral adalah
g,
apatis,
somnolen).
adanya
perubahan
respons sensori
dan penurunan
tingkat
kesadaran pada
fase
akut.
6. Kolaborasi
Adanya
Pemberian
transfusi darah
kegagalan harus
PRC (packed
dilakukan
red cells).
monitoring

55

ketat.

Aktual/risiko
tinggi
gangguan
elektrolit
berhubungan
dengan
diuresis
osmotik,
diaforesis.

6. Jalur yang paten


penting untuk
pemenuhan lisis
darah sebagai
intervensi
kedaruratan.
Tujuan
: 1. Ukur/
catat 1. Penurunan
setelah
haluaran urine
haluaran
urin
dilakukan
dan
catat
akan
perawatan
intake-output
menyebabkan
dalam waktu
pasien.
hipovolemi.
4x24jam tidak
terjadi
2. Observasi
2. Hipotensi,
hiponatremi
tandatanda
dan hipokalemi
vital.
takikardi atau
atau
kondisi
demam
dapat
hiponatremi
menunjukan
dan
respon terhadap
hipokalemi.
atau
efek
kehilangan
Kriteria hasil :
cairan
TTV
dalam 3. Palpasi denyut
batas normal
nadi perifer.
3. Denyut
yang
Turgor
kulit
lemah
mudah
elastis
hilang dan dapat
Haluaran urin
menyebabkan
adekuat
klien
Intake
dan 4. Anjur
hipovolemi.
banyak minum
output
lebih kurang 4. Dengan banyak
seimbang
2000-3000
Membran
minum
dapat
cc/hari.
mukosa
menggantikan
lembab
cairan
yang
Klien
tidak 5. Observasi
hilang.
turgor
kulit
mengeluh
dan membran
mual
dan
5. Menunjukan
mukosa.
muntah
kehilangan
6. Kolaborasi
cairan/
pemberian
dehidrasi.
cairan
parenteral.
6. Mencegah

56

terjadinya
kekurangan
cairan
dan
elektrolit serta
menggantikan
cairan
tubuh
yang hilang.

7. Kolaborasi
untuk
pemberian
obat
sesuai
7. Antipiretik:
indikasi
seperti
mengontrol
antipiretik,
demam,
antiemetik,
menurunkan
dan elektrolit.
kehilangan
cairan
tidak
terlihat.
Anti
emetik: untuk
mengurangi
mual
dan
muntah.
Elektrolit:
menggantikan
elektrolit yang
hilang.
3

Hipertermi
berhubungan
dengan
peningkatan
metabolisme,
dehidrasi,
efek langsung
sirkulasi
kuman pada
hipotalamus.

Tujuan
: 1.
Setelah
dilakukan
perawatan
dalam waktu
4x24jam
terjadi
penurunan
suhu tubuh dan
panas
tidak
berulang.

Evaluasi TTV 1. Sebagai


pada
setiap
pengawasan
pergantiann sif
terhadap adanya
atau setiap ada
perubahan
keluhan
dari
keadaan umum
klien.
klien sehingga
dapat dilakukan
penanganan dan
perawatan
secara cepat dan
tepat.

Kriteria hasil : 2.
Pada
palpasi
tubuh teraba
tidak panas

baju
Anjurkan klien 2. Dengan
yang tipis dan
untuk
menyerap
memakaikan
keringat
pakaian yang
diharapkan klien
tipis dan dapat

57

Suhu tubuh
normal
Mukosa
bibir
3.
lembab
DDR (-)
Klien tidak
gelisah
Klien
mampu
menjelaskan
kembali
pendidikan
kesehatan
yang
diberikan.
Klien
4.
mampu
termotivasi
untuk
melaksanak
an
penjelasan
yang telah
diberikan.
5.

menyerap
keringat.

tidak gerah dan


panas
tubuh
akan turun.

3. Pemberian
Anjurkan
selimut
memberikan
digunakan untuk
selimut
bila
mengurangi
menggigil.
ketidak
nyamanan pada
saat demam dan
menggigil
sebagai respon
sekunder
dari
hipertermi.
Beri kompres 4. Terjadi
vasodilatasi
dengan
air
pembuluh darah,
hangat - hangat
sehingga terjadi
kuku
pada
penguapan
aksila,
lipat
(evaporasi).
paha,
dan
temporal bila
terjadi panas.
Berikan klien
banyak minum
2000-3000
cc/hari.

6. Kolaborasi
untuk
pemberian
cairan infus.

5. Dengan banyak
minum
dapat
menggantikan
cairan
yang
hilang.
6. Pemberian
cairan
infus
dapat mencegah
terjadinya
kekurangan
cairan
serta
untuk mengganti
cairang
tubuh
yang hilang.

58

7. Kolaborasi
7. Anti
piretik
untuk
dapat
pemberian
merangsang
antipiretik, anti
hipotalamus
malaria,
dan
untuk
antii biotik.
menurunkan
suhu
tubuh,
pemberian anti
malaria
dapat
membunuh
parasit/plasmodi
um
penyebab
malaria,
antibiotik untuk
mengatasi
infeksi.
8. Atur
lingkungan
yang
konduksif.

Aktual/
Resiko
ketidakseimb
angan nutrisi
kurang dari
kebutuhan
tubuh
berhubungan
dengan intake
yang
tidak
dekuat:
anorexia,

8. Kondisi ruang
kamar
yang
tidak
panas,
tidak bising, dan
sedikit
pengunjung
memberi
efektivitas
terhadap proses
penyembuhan.

Tujuan
: 1. Kaji
1. Tingkat
Setelah
pengetahuan
pengetahuan
dilakukan
klien tentang
dipengaruhi
perawatan
intake nutrisi.
oleh
kondisi
dalam waktu
sosial ekonomi
5x24jam klien
klien. Perawat
dapat
mengunakan
mempertahank
pendekatan
an kebutuhan
yang
sesuai
nutrisi
yang
dengan kondisi
adekuat.
individu klien.
Dengan

59

mual/muntah.

Kriteria hasil :
Berat
badan
klien normal
seimbang
dengan
tinggi badan
Klien mampu
menghabiska
n
porsi
makan yang
disajikan
Keadaan
umum klien
membaik
Mual, muntah
2.
berkurang
Mukosa bibir
tampak
lembab

mengetahui
tingkat
pengetahuan
tersebut,
perawat dapat
lebih
terarah
dalam
memberikan
pendidikan
yang
sesuai
dengan
pengetahuan
klien
secara
efisien
dan
efektif.
Anjurkan klien
agar
makan 2. Untuk
makanan dalam
mengurangi
keadaan
perasaan pahit
hangat.
pada lidah.

3. Anjurkan klien
3. Untuk
untuk makan
mengurangi
makanan lunak
perasaan tegang
dalam
porsi
pada lambung
kecil
tapi
sehingga tidak
sering
terjadi mual dan
muntah.
4. Diskusikan
makanan yang
disukai klien
dan masukan
dalam
diet
murni.
5. Kolaborasi
pemberian obat
anti emetik.

4. Dapat
meningkatkkan
masukan
makanan klien.

5. Anti
emetik
dapat
mengurangi
mual
dan

60

muntah.

6. Monitor
perkembangan
berat badan.

Nyeri
dan
ketidaknyama
nan
berhubungan
dengan
respons
inflamasi
sistemik,
mialgia,
artralgia.

6. Penimbangan
berat
badan
dilakukan
sebagai evaluasi
terhadap
intervensi yang
diberikan.
1. Pendekatan
dengan
menggunakan
relaksasi
dan
nonfarmakologi
lainya
telah
menunjukan
keefektifan
dalam
mengurangi
nyeri.

Tujuan
: 1. Jelaskan dan
Setelah
bantu
klien
dilakukan
dengan
perawatan
tindakan
dalam waktu
pereda nyeri
4x24jam
nonfarmakolo
terjadi
gi
dan
penurunan
noninvasif.
keluhan nyeri
dan
ketidaknyaman
an.
2. Lakukan
2.
Kriteria hasil :
manajemen
nyeri
Secara
keperawatan
subjektif
melaporkan
Istirahatka Istirahat secara
nyeri
berkurang
n
klien
fisiologis akan
atau
dapat
pada saat
menurunkan
diadaptasi
nyeri
kebutuhan
Skala nyeri 0-1
muncul.
oksigen
yang
(1-4). Dapat
diperlukan
mengidentifi
untuk
kasi aktivitas
memenuhi
yang
kebutuhan
meningkatka
metabolisme
n
atau
basal.
menurunkan
nyeri
Ajarkan
Meningkatkan
Klien
tidak
teknik
intake oksigen
gelisah
relaksasi
sehingga akan

61

pernafasan
dalam pada
saat nyeri
muncul.

menurunkan
nyeri sekunder
dari
iskemia
spina.

Manajemen
lingkungan,
Lingkungan
yang
tenang,
batasi
pengunjung
,
istirahatkan
klien.

Lingkungan
yang
tenang
akan
menurunkan
stimulus nyeri
eksternal
dan
pembatasan
pengunjung
akan membantu
meningkatkan
kondisi oksigen
ruangan yang
akan berkurang
apabila banyak
pengunjung
yang berada di
ruangan.
Istirahat
akan.menurunk
an
kebutuhan
oksigen
jaringan perifer.

3. Pengetahuan
3. Tingkatkan
mengenai
hal
pengetahuan
yang akan di
tentang sebabrasakan
sebab nyeri.
membantu
mengurangi
nyerinya
dan
dapat
membantu
mengembangka
n
kepatuhan
klien terhadap

62

rencana
terapeutik.
6

Gangguan
aktivitas
berhubungan
dengan
kelemahan
fisik.

Tujuan
: 1.
Setelah
dilakukan
perawatan
dalam 5x24jam
klien
dapat
melakukan
aktivitas sesuai
dengan
2.
kemampuan.

Observasi
1. Untuk
respons klien
mengidentifikasi
terhadap
indikasi
aktivitas.
kemajuan atau
penyimpangan
dari hasil yang
diharapkan.

Awasi tanda 2. Agar


tanda
vital
mengetahui
selama
dan
perubahan
Kriteria hasil :
sesudah
kelemahan dan
aktivitas.
kekuatan pada
Klien mampu
pasien.
melakukan
3. Tingkatkan
aktivitas
tirah baring.
3. Tirah
baring
sendiri
meningkatkan
Badan
klien
istirahat
dan
tidak lemah
ketenangan klien
lagi
dan
serta
kekuatan otot
menyediakan
membaik
energi
yang
Tanda-tanda
digunakan
untuk
vital dalam
penyembuhan.
batas normal
4. Atur
posisi
pasien
4. Agar klien bisa
senyaman
beristirahat dan
mungkin
memulihkan
kesehatan.
5. Berikan
bantuan dalam 5. Membantu klien
aktivitas
bila perlu, untuk
sehari-hari bila
meninggkatkan
perlu.
kepercayaan diri

6. Libatkan

bila klien dapat


melakukan
aktivitas sendiri.

63

keluarga dalam
pemenuhan
6. Membangun
kebutuhan
hubungan yang
klien.
kooperatif antara
perawat
dan
keluaraga.
7

Resiko
penularan
penyakit
malaria
berhubungan
dengan
kurang
pengetahuan
tentang
penyakit
malaria,
kebersihan
lingkungan
dan
pola
hidup.

Tujuan
: 1. Beri
1. Klien
dan
Setelah
penjelasan
keluarga dapat
dilakukan
tentang apa itu
menjelaskan
perawatan
penyakit
kembali
dan
dalam waktu
malaria, cara
menentukan
3x24jam
penularan
pencegahan
penularan
penyakit
penyakit
penyakit
malaria
dan
malaria secara
malaria tidak
pencegahanya.
dini.
terjadi.
2. Anjurkan
2. Dengan
keluarga
dan
Kriteria hasil :
lingkungan
klien
untuk
yang bersih dan
Klien dan
memelihara
nyaman
keluarga
dan
nyamuk tidak
dapat
meningkatkan
akan
menjelaskan
kebersihan
diri
berkembang
kembali apa
dan
biak.
itu penyakit
lingkunganya.
malaria dan
cara
penularan
penyakit
malaria.

3. Anjurkan klien
dan keluarga 3. Akan mencegah
untuk
terjadi
membasmi
penularan.
Klien dan
sarang
Keluarga
nyamuk atau
dapat
tempat
menyebutka
berkembang
n
cara
biak nyamuk.
pencegahan
malaria.

64

65

BAB III
TINJAUAN KASUS

No. RM

568642

Ruangan

Melati

Tanggal masuk

17-juni-2012

Tanggal pengkajian

18-juni-2012, pukul 10.00 WIB

Diagnosa medis

Malaria

A. PENGKAJIAN
1. Identitas klien
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Pendidikan
Agama
Alamat

:
:
:
:
:
:

Ny.Y
46 Tahun
Perempuan
SMA/FARMASI
Islam
Perumnas Jl. Jeruk 7 no 50 Lingkar Timur
Bengkulu
2. Identitas Penanggung Jawab
Nama
: Tn.H
Umur
: 48 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan
: SMA
Agama
: Islam
Alamat
: Perumnas Jl. Jeruk 7 no 50 Lingkar Timur
Bengkulu
Hubungan dengan Keluarga : Suami
3. Keluhan utama
a. Riwayat kesehatan52
Sekarang
:
Klien dibawa oleh keluarga ke IGD RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu pada tanggal 17 juni 2012 pukul 10.00 WIB dengan
keluhan demam dirasakan sejak 1 minggu yang lalu, keluhan
menggigil baru dirasakan sejak kemarin (16 juni 2012 ),
merasa mual, muntah satu kali, tubuh terasa panas, sering

66

berkeringat, kepala pusing, seluruh tubuh dirasakan sakit dan


pegal-pegal. Tiga hari yang lalu klien sudah minum obat yang
di beli di warung yaitu paracetamol guna menurunkan panas
tetapi tidak ada perubahan. Tanda tanda vital : TD : 120/80
mmHg, Nadi : 86 x/menit, Pernafasan : 22 x/menit, Suhu :
380C, Berat badan : 49 kg, Tinggi badan : 155 cm.
Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 18 juni 2012
pukul 10.00 WIB, keadaan umum klien masih tampak lemah,
mukosa bibir terlihat kering, conjungtiva anemis, klien
mengeluh terasa nyeri pada daerah persendian tulang dan juga
otot, skala nyeri 3 (1-5), tubuh terasa pegal-pegal, merasa
mual, nyeri pada uluh hati, lidah terasa pahit, tidak ada nafsu
makan, sakit kepala, panas pada tubuh sering dirasakan hilang
timbul dan sering berkeringat, keluhan menggigil sudah
berkurang tidak seperti pada saat pertama masuk. Klien juga
mengeluh bahwa hasil labornya haemoglobin rendah yaitu 7,5
gr/dl menurut saran dokter untuk tranfusi darah 3 kantong,
untuk menormalkan Hb. Klien tampak pucat, akral teraba
dingin, ekstremitas atas terpasang infus dan sedang dilakukan
transfusi. Tanda vital : TD :110/70 mmHg, Nadi : 90 X/menit,
Pernafasan : 22 x/menit, Suhu : 370C.
b. Riwayat Kesehatan Dahulu
:
Sebelumnya klien pernah mengalami demam seperti
sekarang ini dengan diagnosa yang sama yaitu Malaria pada
dua tahun yang lalu dan dirawat selama 3 hari di ruang Melati

67

RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu. Riwayat operasi caesaria : 1


(satu) kali karena melahiran kembar pada tahun 2003.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
:
Dalam keluarga Ny.Y terdapat keluarga yang pernah
mengalami penyakit malaria yaitu suaminya, anak pertama dan
anak kedua.
4. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Lemah
Tekanan darah
: 100/70 mmHg
Nadi
: 90 x/menit

68

Suhu
: 370C
Pernapasan
: 22 x/menit
Pemeriksaan head to toe :
a. Kepala : (pemeriksaan secara inspeksi, palpasi, perkusi,
Auskultasi)
Rambut :
Inspeksi : Distribusi rambut merata, warna rambut hitam,
kulit kepala terlihat bersih, terlihat banyak
rambut yang gugur pada bantal tempat tidur
klien.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.
Mata :
Inspeksi : Fungsi penglihatan kurang klien menggunakan
kacamatan, letak simentris, sklera anikterik,
conjungtiva anemis, sekret tidak ada, pupil
isokor, reflek cahaya positif.
Telinga :
Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada pengeluaran cairan
serumen, tidak ada penumpukan serumen, tidak
Palpasi :

ada gangguan pendengaran.


Tidak ada nyeri tekan.

69

Hidung :
Inspeksi : Bentuk simetris, klien mampu membedakan
bau-bauan, mukosa kering, benjolan tidak ada,
polip

tidak

ada,

tidak

ada

tanda-tanda

peradangan.
Tidak ada nyeri tekan.

Palpasi :
Mulut :
Inspeksi : Mukosa bibir terlihat kering, lidah terlihat kotor,
tidak ada lesi, tidak ada stomatitis, lidah terasa
pahit, tidak ada karies.
b. Leher :
Inspeksi :
Palpasi :
c. Thorak :
Inspeksi :

Tidak ada pembesaran vena jugularis, tidak ada


pembesaran kelenjar tyroid.
Tidak ada nyeri tekan.
Bentuk simetris, tidak ada benjolan atau bekas luka

operasi, tidak ada alat bantu pernafasan.


Auskultasi : Irama jantung teratur, bunyi jantung 1 normal,
bunyi jantung II normal, bunyi nafas vesikuler,
Palpasi :
Perkusi :

tidak ada wheezing, tidak ada ronchi.


Tidak ada nyeri tekan.
Redup, resonan pada lapang paru.

70

d. Abdomen :
Inspeksi : Terlihat distensi, tidak ada benjolan, terdapat bekas
luka operasi.
Auskultasi : Bising usus 12 x/menit.
Palpasi :
Nyeri tekan epigastrik (+), tidak ada pembesaran

5.

hepar atau limpa.


Perkusi :
Timpani.
e. Ekstermitas :
Atas :
Akral dingin, udema tidak ada, tangan kiri
terpasang infus dan sedang transfusi darah.
Bawah:
Akral dingin, tidak ada varises, klien jarang
menggerakan kakinya karena masih merasa lemah.
Kekuatan otot ekstremitas atas dan bawah :
4444 4444
4444 4444
Data Psikologi :
Saat dikaji ekspresi wajah klien terlihat cemas terhadap penyakit
yang dialami, dan klien berharap cepat sembuh.

71

72

6.

Data Sosial Ekonomi :


Klien adalah seorang wanita karier yang bekerja di balai POM
dikarenakan klien sedang sakit perkerjaan klien jadi terganggu dan
klien tidak dapat masuk kerja. Klien mengatakan kebiasaan seharihari klien sebelum tidur klien menggunakan obat seprot nyamuk,
klien tidur tidak menggunakan kelambu, klien mengatakan pada
ventilasi rumah tidak terpasang kawat kasa, klien juga tidak
memiliki kandang ternak, klien tinggal pada wilayah pemukiman
yang padat, tidak terdapat genangan air pada sekitar rumah klien,
namun hanya terdapat selokan didepan rumah namun telah ditutup
dengan semen dan hanya terbuka sedikit, klien mengatakan keadaan
sekitar lingkungan rumahnya kurang bersih karena klien sibuk
dengan pekerjaan dan mengurus anak-anaknya sehingga tidak terlalu
memperhatikan keadaan rumah.

7.

Data Spiritual :
Kepercayaan yang dianut klien adalah agama islam, klien rajin
beribadah sewaktu dirumah namun selama dirumah sakit klien tidak
melakukan ibadah seperti : sholat dikarenakan fisiknya lemah. Bagi
klien sakit yang dideritanya adalah cobaan yang diberikan oleh
ALLAH SWT dan pasti akan ada hikmahnya di kemudian hari.

73

8.

Data penunjang : tanggal 17 juni 2012, pukul 10.30 WIB.


Tabel 3.1 Data Penunjang

Jenis pemeriksaan
Hematologi :
Hemaktokrit
Haemoglobin
Leokosit
Trombosit

Hasil

Satuan

Nilai Rujukan

L 23
L 7,5
H 17,4
320.000

%
Gr/dl
10^3/l
Sel/mm3

40 54
12.0 16.0
4.0 10.0
150.000 400.000

Malaria/DDR :
Plasmodium vivax

(+) Positif

(-) Negatif

Kimia klinik :
Ureum serum
Kreatinin serum

29.0
0.6

Mg/dl
Mg/dl

20 -40
0.5 -1.2

Glukosa sewaktu :
Glukosa sewaktu

H 167

Mg/dl

70 120

9.

Penatalaksanaan Medis :
Tabel 3.2 Penatalaksanaan Medis
Terapi tanggal 17 juni 2012
Terapi tanggal 18 juni 2012
Intra vena :
Intra vena :
Infus RL 20 tts/menit
Infus RL 20 tts/menit
D5% 20 tts/menit
D5% 20 tts/menit
Ondan sentron 1 x 1
Transfusi 1 k
Ranitidin 2 x 1
Pre transfusi :
Cefotaxime 2 x 1
NaCl
Obat oral :
Dexamethasone
Paracetamol 3 x 1
Dhipinehidramine
Dexanta sirup 3 x 1
Cefotaxime 2 x 1
Neorodex 2 x 1
Obat oral :
Vometa 3 x 1
Malarex (4) (4) 2
Omeparazole 1 x 1
Dexanta sirup 3x1
Malarex (4) 4 2
Vometa 3x1
Neorodex 2 x 1
Omeparazole 1 x 1
Paracetamol 3 x 1

Terapi tanggal 19 juni 2012


Intra vena :
Infus RL 20 tts/menit

Terapi tanggal 20 juni 2012


Intra vena :
Infus RL 20 tts/menit

74

D5% 20 tts/menit
Transfusi 1 k
Pre transfusi :
NaCl
Dexamethasone
Dhipinehidramine
Cefotaxime 2 x 1
Obat oral :
Malarex (4) (4) (2)
Dexanta sirup 3x1
Vometa 3x1
Neorodex 2 x 1
Omeparazole 1 x 1
Paracetaamol 3 x 1

D5% 20 tts/menit
Transfusi 1 k
Pre transfusi :
NaCl
Dexamethasone
Dhipinehidramine
Cefotaxime 2 x 1
Obat oral :
Clobazam untuk malam 1
x1
Neorodex 2 x 1
Omeparazole 1 x 1
Donperidon 3 x 1
Dexanta sirup 3x1
Paracetamol 3x1

Terapi tanggal 21 juni 2012


Intra vena :
Infus RL 20 tts/menit
D5% 20 tts/menit
Cefotaxime 2 x 1
Obat oral :
Clobazam 1 x 1
Neorodex 2 x 1
Omeparazole 1 x 1
Donperidon 3 x 1
Scopamin 3 x 1

Terapi tanggal 22 juni 2012


Intra vena :
Infus RL 20 tts/menit
D5% 20 tts/menit
Cefotaxime 2 x 1
Obat oral :
Clobazam 1x1
Neorodex 2x1
Omeparazole 1x1
Donperidon 3x1
Scopamin 3x1
Paracetamol 3x1

75

10. Kebiasaan sehari hari


Tabel 3.3 Kebiasaan sehari-hari
Kebiasaan
Dirumah

Dirumah sakit

Nutrisi :
A. Makan
- Pola makan
- Porsi
- Jenis makanan

B.

- Pantangan
- Kesulitan
Minum
Jenis
Frekuensi
Kesulitan

3x sehari

3 x sehari

1 porsi

3 sendok makan

Nasi, lauk, sayur, dan Bubur, nasi, buah, susu,


buah

sayur

Tidak ada

Makanan yg pedas

Tidak ada

Mual, nyeri pada uluh


hati, lidah terasa pahit

Air putih, sirup, dan teh

Air putih, susu

1750 cc 2000 cc /hari

1500 1750 cc / hari

Tidak ada

Mual

Pola BAB
Konsistensi
Bau
Warna
Kesulitan

1 x sehari

1x sehari

Lembek

Lembek

Khas

Khas

Kuning

Kuning

Pola BAK

Tidak ada

Tidak ada

4 5 x sehari

3 -4 x sehari

Kuning

Kuning

Tidak ada

Tidak ada

2 x sehari

2 x (dilap oleh ibu

Eliminasi :

Frekuensi
Warna
Kesulitan

Personal Hygiene
Mandi

dengan air hangat).


Istirahat / tidur :
Frekuensi
Kesulitan

6 8 jam / hari

4-6 jam / hari

76

Tidak ada

Tubuh
panas

sering
ketika

terasa
malam

hari, sering berkeringat,


nyeri pada sendi tulang
dan otot, tubuh terasa
pegal-pegal
tidur

sehingga
menjadi

terganggu.
Klien dapat melakukan Klien
mengatakan

Pola aktivitas

aktivitas sendiri seperti tubuhnya


mandi,

makan

aktivitas lainya.

lemah.

dan Aktivitas klien seperti


makan,

minum,

personal hygiene dan


eliminasi dibantu oleh
keluarga dan perawat.
11.

Status nutrisi
BB

: 49 kg

TB

: 155 cm

IMT : Indeks Masa Tubuh


IMT :

BB Kg
TB2 (m)

49 kg
(1,55 m)2

49 kg
2.4025 m

: 20.4 (Normal)

77

Ket : <20
20 -25

12.
N
o
1

Underweight

Normal

25 30 :

overweight

>30

obesitas

Analisa Data
Data focus

Tabel 3.4 Analisa Data


Interprestasi data

Ds : Klien mengeluh
kepalanya terasa
pusing.
Do :
Keadaan umum : Lemah
TTV :
Tensi darah : 110/70
mmHg
Nadi : 90 x/menit
Pernafasan : 22
x/menit
Suhu : 370C
Akral dingin
Kulit pucat
Klien tambak gelisah
Hb : 7,5 Gr/dl
Conjungtiva anemis
Mukosa bibir tampak
kering
Hasil pemeriksaan DDR
(+)

Ds : klien mengeluh
tubuhnya terasa
panas, panas yang
dirasakan hilang
timbul, dan paling
sering muncul ketika
malam hari.

Invasi parasit malaria

Masalah
Perubahan perfusi
jaringan

Jumlah skizon yang pecah


dalam sirkulasi
meningkat, penekanan
proses hematopoiesis, dan
peningkatan pembersihan
sel darah di limpa
Anemia dan hipovolemi
(penurunan aliran darah)
Plasmodim mencapai
jaringan serebral
Sumbatan kapiler
pembuluh darah otak
oedema serebri
anoksia otak
Penurunan perfusi
jaringan
Invasi parasit malaria
Jumlah skizon yang pecah
dalam sirkulasi
meningkat, penekanan
proses hematopoiesis, dan
peningkatan pembersihan

Hipertermi

78

Do :
Tubuh klien teraba panas
Suhu 380C
Hasil pemerikasaan DDR
(+)
Klien tampak gelisah
Mukosa bibir tampak
kering

sel darah di limpa

Respons imflamasi
sistemik
Peningkatan sirkulasi
endoktoksin pada
hipotalamus
Perubahan regulasi
temperatur
Muncul demam

Ds : Klien mengatakan
bahwa klien tidak
nafsu makan dan
perutnya terasa
mual,dan pernah
muntah 1x, lidah
terasa pahit dan uluh
hati terasa nyeri.
Do :
Porsi makan yang
dihabiskan terlihat
hanya 3 sendok makan
Keadaan umum tampak
lemah
BB : 49 kg
Tinggi badan : 155 cm
Klien tampak pucat
Mukosa bibir tampak
kering

Hipertermi
Invasi parasit malaria

Resiko
ketidakseimbanga
Jumlah skizon yang pecah n nutrisi kurang
dalam sirkulasi
dari kebutuhan
meningkat, penekanan
proses hematopoiesis, dan
peningkatan pembersihan
sel darah di limpa
Respon intestinal
P. mencapai sirkulasi
saluran cerna
Pelepasan serotonin 5HT3
ke dalam usus halus
Saraf vagus
menyampaikan
rangsangan ke CTZ,
syaraf eferen dan kortek
serebral
Pusat Muntah (Postrema
medula oblongata)

79

Mual, muntah, anoreksia


Intake nutrisi tidak
adekuat
Perubahan nutrisi kurang
dari kebutuhan
4

Ds : klien mengeluh
tubuhnya terasa nyeri
pada persendian danjuga
otot tubuh terasa pegalpegal.
Do :
Klien tampak meringis
kesakitan
Klien taampak gelisah
Skala nyeri 3 (1-5)

Invasi parasit malaria

Nyeri dan
ketidaknyamanan

Jumlah skizon yang pecah


dalam sirkulasi
meningkat, penekanan
proses hematopoiesis, dan
peningkatan pembersihan
sel darah di limpa
Respons imflamasi
sistemik

Ds : Klien mengatakan
tubuhnya terasa
lemas.
Do :
Klien tampak lemah
Aktivitas klien hanya
ditempat tidur
Semua kebutuhan klien
dibantu oleh keluarga
dan perawat
Kekuatan otot
4444 4444
4444 4444

Mialgia, artralgia
Invasi parasit malaria
Jumlah skizon yang pecah
dalam sirkulasi
meningkat, penekanan
proses hematopoiesis, dan
peningkatan pembersihan
sel darah di limpa, intake
yang kurang
Anemia dan hipovolemi,
kekurangan energi
Respon muskuloskeletal
Kelemahan fisik umum,
malaise

Gangguan
aktifitas

80

Ds : Klien dan keluarga


mengatakan tidak
tahu tentang penyakit
malaria dan cara
penularan penyakit
malaria.

Gangguan aktivitas
sehari-hari
Invasi parasit malaria

Resiko penularan
penyakit malaria.

Kurang informasi tentang


cara penularan penyakit
malaria

Do :
Resiko penularan
Keluarga dan klien tidak
penyakit
menjawab ketika
ditanya tentang cara
penularan penyakit
malaria dan cara
pencegahanya,
keluarga dan klien
hanya mengelengkan
kepala.
Keluarga bertanya
tentang apa penyakit
yang di derita
keluarganya.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen
seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam
tubuh.
b. Hipertermia

berhubungan

dengan

peningkatan

metabolisme,

efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus.


c. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan

dengan

intake

yang

tidak

dekuat

anorexia,

mual/muntah.
d. Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan respons inflamasi
sistemik, mialgia, artralgia.
e. Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.

81

f. Resiko penularan penyakit malaria berhubungan dengan kurang


pengetahuan tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan dan
pola hidup.

82

C. Intervensi Keperawatan
D.

Tabel 3.5 Intervensi Keperawatan


K.

L.

M.

N.

O.1. Memeriksa tanda-tanda 1.


vital.
T.
U.
V.
W.
P.
X.
Q.
Y.
Tanda-tanda
vital 2. Catat adanya keluhan
pusing.
2.
normal
Z.
Klien tidak mengeluh
AA.
pusing
AB.
Klien tidak gelisah
3. Kurangi aktivitas yang
Tidak
terdapat
merangsang timbulnya
respons
valsava/ 3.
sianosis
aktivitas.
Kulit segar
AC.
Hemoglobin normal
AD.
Akral hangat
4. Tingkatkan
tirah
Conjungtiva
baring.
ananemis
AE.
4.
Mukosa bibir tampak
AF.
AG.
lembab

araf
Memantau perkembangan
AS.
AT.
tekanan
darah
dan
AU.
perubahan pada tekanan
AV. R
nadi.
Hipotensi
akan
ina f
berkembang
bersamaan
dengan
kuman
yang
menyerang darah.
AN.
Keluhan pusing merupakan
manifestasi
penurunan
suplai darah ke jaringan
otak.
AO.
Respons
valsava
akan
meningkatkan
beban
jantung sehingga akan
menurunkan curah jantung
ke otak.
AP.
Menurunkan beban kerja
miokard dan konsumsi

83

AH.
Hasil
pemeriksaan
5. Observasi perubahan
DDR (-)
sensori dan tingkat
R.
kesadaran pasien yang
S.
menunjukan penurunan
5.
perfusi otak (gelisah,
confuse/bingung,
apatis, somnolen).
AI.
AJ.
AK.
6. Kolaborasi Pemberian
transfusi darah PRC
(packed red cells).
AL.
AM.
6.

oksigen, memaksimalkan
efektifitas
dari
perfusi
jaringan.
AQ.
Bukti
aktual
terhadap
penurunan aliran darah ke
jaringan serebral adalah
adanya perubahan respons
sensori dan penurunan
tingkat kesadaran pada fase
akut. Adanya kegagalan
harus dilakukan monitoring
ketat.
AR.
Jalur yang paten penting
untuk pemenuhan lisis
darah sebagai intervensi
kedaruratan.

84

AW.
AX. 1 AY. Hipert BA. Tujuan : Setelah 1. Evaluasi TTV pada 1.
8
juni ermi
dilakukan
perawatan
setiap pergantian sif
2012
berhubungan dalam waktu 4x24 jam
atau setiap ada keluhan
dengan
terjadi penurunan suhu
dari klien.
peningkatan
tubuh dan panas tidak
CA.
metabolisme, berulang.
CB.
BB.
efek langsun
CC.
BC.
Kriteria
hasil
:
g
sirkulasi
2. Anjurkan klien untuk 2.
kuman pada Pada palpasi tubuh
memakaikan
pakaian
teraba
tidak
panas
hipotalamus.
yang tipis dan dapat

Suhu
tubuh
normal
AZ.
menyerap keringat.
Mukosa bibir lembab
CD.
DDR (-)
CE.
Klien tidak gelisah
3. Anjurkan memberikan 3.
Klien
mampu
selimut bila menggigil.
menjelaskan kembali
CF.
pendidikan kesehatan
CG.
yang diberikan.
CH.
Klien
mampu
CI.
termotivasi
untuk
CJ.
melaksanakan
CK.
penjelasan yang telah 4. Beri kompres dengan air 4.
diberikan.
hangat - hangat kuku
BD. pada aksila, lipat paha,
BE. dan temporal bila terjadi

Sebagai
pengawasan
DK.
DL.
terhadap adanya perubahan
DM.
keadaan
umum klien
DN. R
sehingga dapat dilakukan
ina f
penanganan dan perawatan
secara cepat dan tepat.
DB.
Dengan baju yang tipis dan
menyerap
keringat
diharapkan klien tidak
gerah dan panas tubuh akan
turun.
DC.
Pemberian
selimut
digunakan
untuk
mengurangi
ketidak
nyamanan pada saat demam
dan menggigil sebagai
respon
sekunder
dari
hipertermi.
DD.
Terjadi
vasodilatasi
pembuluh darah, sehingga
terjadi
penguapan
(evaporasi).

85

BF. panas.
BG.
CL.
BH.
5. Berikan klien banyak 5.
BI. minum
2000-3000
BJ. cc/hari.
BK.
CM.
BL.
6. Kolaborasi
untuk 6.
BM. pemberian cairan infus.
CN.
BN.
CO.
BO.
CP.
BP.
CQ.
BQ.
7. Kolaborasi
untuk 7.
BR.
BS. pemberian antipiretik,
BT. anti malaria, dan anti
BU. biotik.
CR.
BV.
CS.
BW.
CT.
BX.
CU.
BY.
CV.
BZ.
CW.
8. Atur lingkungan yang 8.
konduksif.
CX.

DE.
DF.
Dengan banyak minum
dapat menggantikan cairan
yang hilang.
DG.
Pemberian cairan infus
dapat mencegah terjadinya
kekurangan cairan serta
untuk mengganti cairang
tubuh yang hilang.
DH.
Anti
piretik
dapat
merangsang
hipotalamus
untuk menurunkan suhu
tubuh,
pemberian
anti
malaria dapat membunuh
parasit/plasmodium
penyebab
malaria,
antibiotik untuk mengatasi
infeksi.
DI.
Kondisi ruang kamar yang
tidak panas, tidak bising,
dan sedikit pengunjung

86

CY. memberi
CZ. terhadap
DA. penyembuhan.

efektivitas
proses
DJ.

DO.
DP.
1 DQ. Resik
DS.
1. Kaji pengetahuan klien 1.
8
juni o
tentang intake nutrisi.
2012
ketidakseimb
DX.
angan nutrisi
DY.
kurang dari
DT.
DZ.
kebutuhan
DU.
EA.
tubuh
Berat badan klien normal EB.
berhubungan
seimbang
dengan EC.
dengan
ED.
tinggi badan
intake yang Klien
mampu EE.
tidak dekuat:
menghabiskan
porsi EF.
anorexia,
EG.
makan yang disajikan
mual/muntah. Keadaan umum klien
EH.
DR. membaik
EI.

Tingkat
pengetahuan
dipengaruhi oleh kondisi
sosial
ekonomi
klien.
Perawat
mengunakan
pendekatan yang sesuai
dengan kondisi individu
klien. Dengan mengetahui
tingkat
pengetahuan
tersebut, perawat dapat
lebih
terarah
dalam
memberikan
pendidikan
yang
sesuai
dengan
pengetahuan klien secara
efisien dan efektif.

EY.
EZ.
FA.
FB.
ina f

87

FC.

FD.

EJ.
EP.
Mual, muntah berkurang
Mukosa bibir tampak 2. Anjurkan klien agar 2. Untuk mengurangi perasaan
makan makanan dalam
pahit pada lidah.
lembab
EQ.
DV. keadaan hangat.
ER.
EK.
DW.
3. Untuk mengurangi perasaan
3. Anjurkan klien untuk
tegang
pada
lambung
makan makanan lunak
sehingga tidak terjadi mual
dalam porsi kecil tapi
dan muntah.
sering
ES.
EL.
4. Dapat
meningkatkkan
4. Diskusikan
makanan
masukan makanan klien.
yang disukai klien dan
ET.
masukan dalam diet
EU.
murni.
EV.
EM.
5. Anti
emetik
dapat
5. Kolaborasi pemberian
mengurangi
mual
dan
obat anti emetik.
muntah.
EN. EW.
EO.
6. Penimbangan berat badan
6. Monitor perkembangan
dilakukan sebagai evaluasi
berat badan.
terhadap intervensi yang
diberikan.
EX.
FE.
FG.
1. Jelaskan dan bantu 1. Pendekatan
dengan
GF.
GG.
klien dengan tindakan
menggunakan relaksasi dan

88

FF.

pereda
nyeri
FH. nonfarmakologi
dan
FI. noninvasif.
FK.
Secara
subjektif
manajemen 2.
melaporkan
nyeri 2. Lakukan
nyeri keperawatan
berkurang atau dapat
FL.
diadaptasi
Istirahatkan
klien
Skala nyeri 0-1 (1-4).

pada saat nyeri


Dapat mengidentifikasi
muncul.
aktivitas
yang
FM.
meningkatkan
atau
FN.
menurunkan nyeri
FO.
Klien tidak gelisah
FP.
FJ.
Ajarkan
teknik

relaksasi pernafasan
dalam pada saat
nyeri muncul.
FQ.
Manajemen

lingkungan,
Lingkungan
yang
tenang,
batasi
pengunjung,
istirahatkan klien.

nonfarmakologi lainya telah


GH.
GI.
R
menunjukan
keefektifan
ina f
dalam mengurangi nyeri.
FY.
FZ.
GA.
Istirahat secara fisiologis
akan
menurunkan
kebutuhan oksigen yang
diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan
metabolisme
basal.
GB.
Meningkatkan
intake
oksigen sehingga akan
menurunkan nyeri sekunder
dari iskemia spina.
GC.
Lingkungan yang tenang
akan menurunkan stimulus
nyeri
eksternal
dan
pembatasan
pengunjung
akan
membantu

89

FR.
FS.
FT.
FU.
FV.
FW.
FX.

meningkatkan
kondisi
oksigen ruangan yang akan
berkurang apabila banyak
pengunjung yang berada di
ruangan. Istirahat akan
menurunkan
kebutuhan
oksigen jaringan perifer.
3. Tingkatkan
GD.
pengetahuan
tentang 3. Pengetahuan mengenai hal
sebab-sebab nyeri.
yang akan di rasakan
membantu
mengurangi
nyerinya
dan
dapat
membantu mengembangkan
kepatuhan klien terhadap
rencana terapeutik.
GE.
GJ.

GK.

GL.
GN. Tujuan : Setelah 1. Observasi respons klien 1.
dilakukan
perawatan
terhadap aktivitas.
GM.
dalam 5x24 jam klien
GR.
dapat
melakukan
GS.
aktivitas sesuai dengan
GT.
kemampuanya.
2. Awasi tanda tanda 2.
GO.
vital selama dan sesudah
GP. aktivitas.

Untuk
mengidentifikasi
HJ.
HK.
indikasi kemajuan atau
HL.
penyimpangan dari hasil
HM.
yang diharapkan.
Rina f
HE.
Agar mengetahui perubahan
kelemahan dan kekuatan
pada pasien.

90

HN.

HO.

GU.
HF.
Klien mampu melakukan
3. Tingkatkan tirah baring. 3. Tirah baring meningkatkan
aktivitas sendiri
GV. istirahat dan ketenangan
Badan klien tidak lemah
GW. klien serta menyediakan
lagi dan kekuatan otot
GX. energi yang digunakan untuk
membaik
GY. penyembuhan.
Tanda-tanda vital dalam
GZ.
HG.
batas normal
4. Atur
posisi
pasien 4. Agar klien bisa beristirahat
GQ.
senyaman mungkin
dan memulihkan kesehatan.
5. Berikan bantuan dalam 5. Membantu klien bila perlu,
aktivitas sehari-hari bila
untuk
meninggkatkan
perlu.
kepercayaan diri bila klien
HA. dapat melakukan aktivitas
HB. sendiri.
HC.
HH.
6. Libatkan keluarga dalam 6. Membangun hubungan yang
pemenuhan kebutuhan
kooperatif antara perawat
klien.
dan keluaraga.
HD.
HI.
HP.
HQ.
1. Beri penjelasan tentang 1. Klien dan keluarga dapat HZ.
apa
itu
penyakit
menjelaskan kembali dan IA.
malaria, cara penularan
menentukan
pencegahan IB.
IC.
HR. penyakit malaria dan
penyakit malaria secara
ina f
HS. pencegahanya.
dini.
HU.
HW.
Klien dan keluarga

91

dapat
menjelaskan 2.
kembali
apa
itu
penyakit malaria dan
cara
penularan
penyakit malaria.
HT.
Klien dan Keluarga 3.
dapat
menyebutkan
cara
pencegahan
malaria.

Anjurkan keluarga dan 2.


klien untuk memelihara
dan
meningkatkan
kebersihan diri dan
lingkunganya.
HV.
Anjurkan klien dan 3.
keluarga
untuk
membasmi
sarang
nyamuk atau tempat
berkembang
biak
nyamuk.

Dengan lingkungan yang


bersih dan nyaman nyamuk
tidak akan berkembang
biak.
HX.
HY.
Akan mencegah terjadi
penularan.

D. Implementasi Keperawatan
ID. Tabel 3.6 Implementasi Keperawatan
II.
Respon hasil

IE.
IK. IT.
18/
IL. 06/2012
10.
IM. IU.
00 WIB
IN.
IO.
IP.
IQ.
IR.

IV.IW.
IX.
IY.
IZ.
JA.
JB.
JC.
JD.

IJ.
Paraf

Perkenalan kepada pasien dan kluarga - Klien


dan
keluarga
menerima JM.
pasien
(informed
consent),
kedatangan perawat dan ikut JN.
memperkenalkan nama : Rina Febriyani,
memperkenalkan diri dan bersedian JO.
dari AKKES Sapta Bakti Bengkulu yang
untuk dilakukan perawatan. Selama JP. Ri
sedang melakukan study kasus tentang
berada dirumah sakit. Klien
na
malaria, dan meminta ibu/ Ny.Y sebagai
memperkenalkan nama bahwa
f
klien dalam pengambilan kasus, untuk
nama klien adalah Ny.Y.
dilakukan perawatan selama ibu dirawat
dirumah sakit dr. M. Yunus Bengkulu
JH.

92

IS.

JQ. KQ.
18/
1 06/2012
11.
JR. KR.
00 WIB
JS.
JT.
JU.
JV.
JW.
JX.
JY.
JZ.
KA.
KB.
KC.
KD.
KE.
KF.
KG.
KH.

JE. diruang melati.


JF.JG.
- Melakukan
pengkajian
pengumpulan data.

JI.
JJ.
atau
JK.
- Klien memberi semua informasi yang
dibutuhkan.
JL.
dan 1. TTV :
NB.
MN.TD : 110/70 mmHg
NC.
MO.Nadi : 90 x/menit
ND.
MP. RR : 22 x/menit
NE.
MQ.Suhu : 37 0C
MR. Klien mengatakan tubuhnya Rina f

KS. Perubah 1. Memeriksa tanda-tanda vital


menanyakan keluhan klien.
an
perfusi
LQ.
jaringan
LR.
berhubungan
LS.
dengan
LT.
penurunan
LU.
sering merasakan panas dan
komponen
LV.
berkeringat. Malam tadi tubuh klien
seluler yang di LW.
terasa panas klien menjadi susah
perlukan untuk LX.
untuk tidur, seluruh tubuh dirasakan
LY.
pengiriman
pegal-pegal dan terasa nyeri pada
LZ.
oksigen
dan
persendian dan otot skala nyeri 3
MA.
nutrient dalam 2. Menanyakan adanya keluhan pusing.
(1-5).
tubuh.
MB.
MS.
KT.
MC.
2. Klien mengeluh kepalanya terasa
KU.
3. Menyarankan kepada klien untuk
pusing.
KV. mengurangi aktivitas yang merangsang
MT.
KW. timbulnya respon valsava/aktivitas.
3. Klien mau mendengarkan anjuran
KX.
MD.
perawat dan klien hanya beristirahat
KY.
4. Menganjurkan klien untuk meningkatkan
ditempat tidur.

93

KI.
KJ.
KK.
KL.
KM.
KN.
KO.
KP.

NF. NG.
18/
06/2012
2
NH.
11.
30 WIB

KZ. tirah baring.


MU.
LA.
ME.
4. Klien mau mendengarkan anjuran
LB.
MF. perawat dan klien tidur dengan satu
LC.
5. Observasi perubahan sensori dan tingkat
bantal.
LD. kesadaran pasien yang menunjukan
MV.
LE. penurunan
perfusi
otak
(gelisah,
5. Klien tampak gelisah.
LF. confuse/bingung, apatis, somnolen).
MW.
LG.
MG.
LH.
6. Memantau tetesan transfusi darah.
MX.
LI. (Pemberian transfusi darah PRC (packed
MY.
LJ. red cells).
MZ.
LK.
MH.
6. Transfusi darah telah diberikan.
LL.
MI.
Pada pukul 10.00 WIB. Sebelum
LM.
MJ.
tranfusi darah terlebih dahulu
LN.
MK.
diberikan, NaCl, dexamethasone,
LO.
ML.
LP.
Dhipinehidramine. Dengan tetesan
MM.
30 gtt/menit. Transfusi darah PRC
habis pukul 13.00 WIB langsung
ganti dengan NaCL dengan tetesan
20 gtt/menit.
NA.
NI.
Hiperter 2. Menganjurkan klien untuk menggunakan 2. Klien mengatakan iya bila tubuhnya NZ.
pakaian yang tipis dan dapat menyerap
mi berhubungan
terasa
panas
klien
akan OA.
keringat
bila
tubuh
terasa
panas.
dengan
menggunkan pakaian yang tipis dan OB.
NK.
peningkatan
menyerap keringat.
OC.
NL.
metabolisme,
NT.
Rina f

94

efek langsung
3.
sirkulasi kuman
pada
hipotalamus.
4.
NJ.

5.
6.

7.

OD.
OE.
18/
06/2012
OF.
12.

OG. Resiko
ketidakseimban

1.

Menganjurkan klien untuk menggunakan 3. Klien mengatakan iya bila tubuh


selimut bila tiba-tiba tubuh menjadi
kedinginan atau menggigil klien
dingin dan menggigil.
akan menggunakan selimut.
NM.
NU.
Menganjurkan klien untuk melakukan 4. Klien mengatakan iya klien akan
kompres air hangat bila tubuh terasa
melakukan kompres dengan air
panas.
hangat bila tubuhnya nanti terasa
NN.
panas.
NO.
NV.
Menganjurkan klien untuk banyak
5. Klien mengatakan iya klien akan
minum 2000-3000cc/hari / 9 gelas/hari.
NP. banyak-banyak minum
NW.
Melaksanakan pemberian cairan infus.
6.
Cairan
infus
telah
di
berikan
NQ.
NR. berdasarkan terapi yaitu RL dan
NS. D5% dengan tetesan 20 gtt/menit.
Melaksanakan
pemberian
obat
NX.
antipiretik, anti malaria, dan anti biotik 7. Klien mengatakan klien akan
meminum obatnya tepat waktu
sesuai instruksi yang telah diberikan
obat klien pada hari ini yaitu
malarex 4-(4)-2, paracetamol 3x1,
cefotaxime 2x1.
NY.
Mengkaji pengetahuan klien tentang 1. Klien mengatakan makanan yang PR.
intake nutrisi.
sehat terdiri dari empat sehat lima PS.

95

00 WIB

gan
nutrisi OI.
sempurna,
yang
mengandung PT.
kurang
dari OJ.
karbohidrat,
protein,
lemak, PU.
kebutuhan tubuh OK.
vitamin, mineral dan air yang Rina f
berhubungan
OL.
cukup.
Minum
sebanyak
8
dengan intake OM.
gelas/hari, makan secara teratur
yang
tidak
ON. 3x/hari. Klien membeli makanan
dekuat:
OO.
tambahan yang dibeli diluar seperti
anorexia,
OP.
buah, roti dan khasiat sari kurma
mual/muntah.
OQ.
(untuk menyembuhkan anemia)
OH.
OR.
yang dialami Ny.Y.
PM.
OS.
2.
Klien langsung memakan makanan
2. Menganjurkan klien agar makan
yang telah diantar oleh ahli gizi
makanan dalam keadaan hangat.
(makan siang).
OT.
PN.
OU.
3. Menganjurkan klien untuk makan 3. Klien terlihat hanya menghabiskan
3 sendok makan. mual (+), muntah
makanan lunak dalam porsi kecil tapi
(-), lidah terasa pahit nyeri pada
sering.
uluh hati.
OV.
PO.
OW.
4. Diskusikan makanan yang disukai klien 4. Klien mengatakan selera makan
bubur ayam. Dan sudah diberikan
dan masukan dalam diet murni.
OX.
oleh keluarga namun klien hanya
OY.
makan 2 sendok. Dengan alasan
OZ.
keluhan yang sama lidah terasa

96

PV.
PW.
18/
06/2012
PX.
13.
15 WIB

PA.
pahit, nyeri pada uluh hati, mual
PB.
(+), muntah (-).
PC.
PP.
5.
Melaksanakan pemberian obat anti 5. Klien sudah meminum obat sesuai
emetik.
dengan instruksi dokter. Vometa
PD.
3x1 PO untuk mengurangi mual,
PE.
omeparazole untuk menghambat
PF.
produksi asam lambung 1x1,
PG.
dexanta
sirup
3x1
untuk
PH.
menetralkan
asam
lambung.
PI. Neorodex sebagai multivitamin B1,
PJ.
B6 dan B12 pemberian 2x1 PO.
PK.
PQ.
6.
Berat badan klien 49 kg.
6. Memonitor perkembangan berat badan
klien.
PL.
PY.
1. Menjelaskan dan membantu klien 1. Klien mau untuk melakukan saran QJ.
dengan
tindakan
pereda
nyeri
perawat dengan meredakan nyeri QK.
PZ. nonfarmakologi dan noninvasif.
secara
alami
tanpa
dengan QL.
QA. menggunakan obat pereda nyeri.
QM.
QB.
QE.Rina f
2. Mengajarkan teknik manajemen nyeri 2. Klien mengerti dan paham cara
keperawatan, dengan menganjurkan
meredakan nyeri yaitu dengan
klien beristirahat bila merasakan nyeri,
beristirahat saat nyeri muncul,
mengajarkan teknik relaksasi pernafasan
menarik nafas dalam pada saat

97

QN. QP.
18/
5 06/2012
13.
QO. QQ.
30 WIB
QR.

dalam pada saat nyeri muncul, dan


terasa
nyeri,
dan
mengatur
mengatur kenyamanan dan lingkungan
kenyamanan tubuh dan lingkungan.
QF.
klien seperti membatasi pengunjung
QG.
untuk tidak terlalu ramai demi
QH.
kenyamanan klien.
QI.
QC.
3. Meningkatkan pengetahuan klien tentang 3. Ny.Y mengerti dengan apa penyakit
yang di alaminya tubuhnya terasa
sebab-sebab nyeri mengapa Ny.Y bisa
sakit dan pegal-pegal disebabkan
terasa sakit pada sendi dan tulang, dan
parasit malaria yang terdapat dalam
juga pada otot, seluruh tubuh terasa
tubuhnya sehingga menimbulkan
pegal-pegal itu semua karena penyakit
gejala.
yang Ny.y alami yaitu malaria keluhan
tersebut merupakan respon dari proses
penyakit malaria.
QD.
QS.
1. Mengobservasi respons klien terhadap 1. Klien mengatakan apabila dibawa RU.
aktivitas.
duduk/ berdiri seperti ingin RV.
QT.QU.
kekamar mandi kepala terasa RW.
QV. pusing. Jadi klien hanya berbaring RX.
QW.
ditempat tidur.
Rina f
QX.
RN.
2. Mengawasi tanda-tanda vital selama dan 2. Klien mengatakan apabila setelah di
sesudah aktivitas.
bawa duduk atau beraktivitas
QY.
seperti kekamar mandi denyut
QZ.
jantung berdebar-debar cepat dan

98

RA.
RB.
RC.
RD.

RY. RZ.
19/
2 06/2012

kuat. Namun sebaliknya bila di


bawa tiduran atau istirahat denyut
jantung normal.
RO.
RP.
RE.
3. Klien mau menerima saran perawat
3. Menganjurkan klien untuk meningkatkan
klien tidur untuk beristirahat.
tirah baring.
RQ.
RF.
4. Klien tidur dengan satu bantal, dan
4. Mengatur posisi klien senyaman
menggunakan selimut.
mungkin.
RR.
RG.
5. Membantu klien saat klien mau
5. Memberikan bantuan dalam aktivitas
kekamar mandi.
RS.
sehari-hari bila perlu.
6. Keluarga menerima saran perawat,
RH.
setiap kebutuhan dan aktivitas klien
6. Memberitahukan
keluarga
untuk
di bantu oleh keluarga seperti
membantu dalam memenuhi kebutuhan
membantu mengantar klien untuk
klien dan memberikan bantuan dalam
kekamar mandi, membantu untuk
aktivitas klien.
RI. menyuapi makanan, membantu
RJ. memenuhi kebutuhan kebersihan
RK. tubuh klien seperti mengelap tubuh
RL. klien.
RT.
SC.
Hiperter 1. Memeriksa tanda-tanda vital dan 1. TTV :
UG.
TR.
TD
:
110/70
mi berhubungan
menanyakan keluhan klien.
UH.

99

SA.
08.
30 WIB
SB.

dengan
peningkatan
metabolisme,
efek langsung
sirkulasi kuman
pada
hipotalamus.
SD.

SE.
SF.
SG.
SH.
SI.
SJ.
SK.
SL.
SM.
SN.
SO.
SP.
SQ.
SR.
SS.
ST.
SU.
SV.
2.
2. Menganjurkan klien untuk menggunakan
pakaian yang tipis dan dapat menyerap
keringat.
SW.
SX.
3.
3. Menganjurkan klien untuk menggunakan
selimut bila tubuh tiba-tiba terasa

TS.
Nadi : 84 x/menit
UI.
TT.
RR : 20 x/menit
UJ.
TU.
Suhu : 380C
Rina f
TV.
Mukosa bibir tampak
kering, conjungtiva anemis.
TW.
Klien mengeluh malam
tadi tidur pukul 24.00WIB dan
terbangun jam 03.00WIB pagi
klien terbangun karena tubuh
berkeringat sampai baju klien
basah, sendi dan otot terasa sakit
skalanyeri 3(1-5), tubuh terassa
pegal dan tubuh terasa panas, dan
dianjurkan oleh perawat untuk
melakukan kompres air hangat
dan meminum paracetamol namun
panas tubuh tidak kunjung turun .
TX.
Klien mengganti pakaian dengan
dibantu keluarga menggunakan
pakaian yang tipis dan menyerap
keringat.
TY.
Klien
mengangguk
tanda
menyetujui dan menerima saran

100

dingin/menggigil.

4.

5.

6.

7.

SY.
SZ.
Menganjurkan keluarga untuk memberi 4.
kompres air hangat pada aksila, lipat
paha, dan temporal pada klien agar panas
klien turun.
TA.
Menganjurkan klien banyak minum 5.
2000-3000 cc/hari.
TB.
TC.
TD.
TE.
TF.
TG.
Melaksanakan pemberian cairan infus.
TH.6.
TI.
Melaksanakan pemberian antipiretik, anti
7.
malaria dan anti biotik.
TJ.
TK.
TL.
TM.
TN.

perawat bila tubuh menggigil


gunakan selimut.
TZ.
Keluarga ikut berpartisipasi dalam
perawatan klien dan memberikan
kompres pada daerah yang di
anjurkan.
UA.
Klien menerima saran perawat dan
akan banyak minum. Keluarga
meletakan air minum yang
diisikan kedalam botol dan
diletakan disamping tubuh klien.
Bila sewaktu-waktu klien ingin
minum mudah untuk dijangkau.
UB.
Cairan infus sudah diberikan yaitu
RL dengan tetesan 20 gtt/menit.
UC.
Klien telah melakukan minum
obat sesuai dengan terapi yang
diberikan
yaitu
meminum
paracetamol 3x1 sebagai anti
piretik PO, malarex 4-4-(2) PO
sebagai anti malaria, cefotaxime

101

TO.
TP.
TQ.

UK. UL.
19/
4 06/2012
UM.
09.
00 WIB

UO.

vial IV diberikan 2x1 oleh perawat


pada pukul 18.00-06.00 sebagai
anti biotik.
UD.
8. Mengatur lingkungan yang kondusif.
8. Mengantikan laken dan sarung
bantal klien, menghidupkan kipas
angin, membatasi pengunjung.
Dan menganjurkan keluarga untuk
mengganti kompres dengan yang
hangat kembali bila sudah terasa
dingin.
UE.
UF.
UN.
1. Menganjurkan klien untuk meredakan 1. Keluarga langsung memberikan US.
nyeri pada sendi dan otot, pegal-pegal
bantuan kepada klien dengan UT.
pada tubuh dengan tindakan pereda nyeri
melakukan pemijatan pada tubuh UU.
nonfarmakologi dengan melakukan
klien dan kompres air hangat UV.
pemijatan/masase.
masih dilanjutkan.
Rina f
UP.
UR.
2. Menganjurkan
klien
untuk 2. Klien menerima saran perawat dan
memperagakan teknik manajemen nyeri
langsung memperagakan.
keperawatan yang telah diajarkan, untuk
beristirahat bila nyeri muncul, teknik
relaksasi pernafasan dalam.
UQ.

102

UW. UX.
19/
3 06/2012
UY.
09.
15 WIB

VR. VS.
19/
5 06/2012
VT.
11.

VA. Resiko
2.
ketidakseimban
gan
nutrisi
kurang
dari 3.
UZ.
kebutuhan tubuh
berhubungan
dengan intake
yang
tidak
dekuat:
4.
anorexia,
mual/muntah.
VB.
5.

Menganjurkan klien untuk makan 2.


makanan dalam keadaan hangat.
VC.
Menganjurkan klien untuk makan 3.
makanan lunak dalam porsi kecil tapi
sering.
VD.
VE.
VF.
Mendiskusikan makanan yang disukai 4.
klien dan masukan dalam diet murni.
VG.
Melaksanakan pemberian obat anti 5.
emetik.
VH.
VI.

Keluarga langsung memberikan VN.


klien makan, menyuapi klien.
VO.
VJ.VP.
Klien terlihat hanya menghabiskan VQ.
4 sendok makan, klien mengeluh Rina f
merasa tidak enak diperut, merasa
mual, lidah terasa pahit, dan tersa
nyeri pada uluh hati.
VK.
Klien mengatakan tidak berselera
makan.
VL.
Klien telah meminum obat sesuai
dengan terapi yang di berikan
yaitu : vometa 3x1 untuk
mengurangi mual, omeparazole
1x1 PO untuk menghabat produksi
asam lambung, dexanta sirup 3x1
sebagai penetral asam lambung,
neorodex 2x1 PO sebagai
multivitamin B1, B6, B12.
VM.
VV.
1. Mengobservasi respons klien terhadap 1. Klien mengatakan apabila diibawa WI.
aktivitas.
duduk ataupun berdiri kepala WJ.
VW.
VX. terasa pusing.
WK.

103

00 WIB
VU.

2.

3.

4.

5.

WM.WN.
19/
1 06/2012
WO.
12.
00 WIB

WQ.
1.

WP. WR.
WS.
WT.
WU.
WV.
WW.

2.

VY.
WE.
WL.
Membantu klien untuk meningkatkan 2. Klien mau mendengarkan saran Rina f
tirah baring, untuk memenuhi kebutuhan
perawat dan klien tidur dengan 1
istirahat dan tidur klien.
bantal.
VZ.
WF.
Mengatur posisi pasien senyaman 3. Merapikan tempat tidur klien,
mungkin.
menghidupkan kipas angin.
WG.
WA.
4.
Slalu
mengontrol
keadaan
klien
Memberikan bantuan kepada klien dalam
dan membantu klien bila klien
aktivitas sehari-hari.
WB. meminta pertolongan.
WH.
WC.
5. Keluaga siap membantu setiap
Memberitahu keluarga untuk membantu
aktivitas klien.
memenuhi keperluan dan aktivitas klien.
WD.
Memeriksa tanda-tanda vital kliendan 1. TTV :
YN.
YA.
TD
:
110/70
mmHg
menanyakan keluhan pasien.
YO.
YB.
Nadi
:
90
x/menit
XM.
YP.
YC.
RR : 20 x/menit
XN.
YQ.
YD.
Suhu : 370C
XO.
Rina f
YE. Klien mengatakan setelah
XP.
dilakukan kompres dan meminum
XQ.
paracetamol panas pada tubuh
XR.
dirasakan turun.
XS.
YF.
Mencatat adanya keluhan pusing.

104

WX.
WY.
WZ.
XA.
XB.
XC.
XD.
XE.
XF.
XG.
XH.
XI.
XJ.

3.

4.

5.
XK.
XL.
6.

XT.
2. Klien mengeluh kepalanya terasa
XU. pusing apalagi bila dibawa berdiri
XV. atau duduk.
Menganjurkan klien untuk banyakYG.
banyak beristirahat dan kurangi aktivitas. 3. Klien menerima saran perawat dan
XW. klien hanya berbaring ditempat
XX. tidur untuk beristirahat.
Menganjurkan klien untuk meningkatkan
YH.
tirah
baring
dan
banyak-banyak 4. Klien menerima saran perawat klien
beristirahat.
sangat ingin untuk tidur namun
XY. susah sekali.
Mengobservasi perubahan sensori dan
YI.
tingkat kesadaran klien.
5. Klien tampak gelisah.
XZ.
YJ.
Melaksanakan pemberian transfusi darah
YK.
PRC.
6. Transfusi darah PRC telah di
berikan pada pukul 13.00 WIB,
sebelum di beri transfusi terlebih
dahulu telah diberikan NaCl,
dexamethasone, Dhipinehidramine.
Dengan tetesan transfusi 30
gtt/menit.
YL. Transfusi selesai pukul 16.00
WIB dan langsung digantikan
dengan NaCL dengan 20 gtt/menit.

105

YR. YS.
20/
2 06/2012
YT.
08.
30 WIB

YM.
dan 1. TTV:
AAQ.
TD : 110/70 Mmhg
AAR.
Nadi : 90 X/Menit
YW. AAD.
AAS.
AAE.
RR
:
20
X/Menit
YX.
AAT.
AAF.
Suhu : 370C
YY.
Rina f
AAG.
Klien mengeluh malam
YZ.
tadi klien susah untuk tidur klien
ZA.
tidur jam 1 dan terbangun jam 3 dan
ZB.
tidak bisa tidur lagi sampai
ZC.
sekarang, dikarenakan tubuh klien
ZD.
terasa panas, selalu berkeringat
ZE.
hingga pakaian yang klien gunakan
ZF.
lembab. tubuh klien dirasakan
ZG.
pegal-pegal dan terasa nyeri pada
ZH.
persendian dan otot skala nyeri 3
ZI.
(1-5).
ZJ. AAH.
ZK.
2. Klien setuju dengan saran perawat,
2. Menganjurkan klien bila tubuh terasa
dan klien mengatakan malam tadi
panas dihari-hari berikutnya gunakan
klien telah menggunakan pakaian
pakaian yang tipis dan menyerap
yang tipis dan menyerap keringat
keringat.
namun tetap juga tubuh terasa panas
ZL. dan berkeringat hingga pakaian
ZM. menjadi lembab.
ZN.

YU. Hiperter 1. Memeriksa tanda-tanda


mi berhubungan
menanyakan keluhan klien.
dengan
peningkatan
metabolisme,
efek langsung
sirkulasi kuman
pada
hipotalamus.
YV.

vital

106

ZO.
AAI.
3. Menganjurkan klien untuk bila tubuh 3. Klien mengatakan malam tadi telah
terasa panas lakukan kompres dengan air
dikompres dengan menggunakan air
hangat.
hangat. Setelah beberapa jam
ZP. setelah
pengompresan
panas
ZQ. dirasakan turun.
ZR.
AAJ.
4. Menganjurkan klien banyak minum 4. Klien mengatakan iya klien akan
banyak-banyak minum.
2000-3000 cc/hari atau sebanyak 9
AAK.
gelas/hari.
AAL.
ZS.
5. Infus yang terpasang RL dengan
5. Melaksanakan pemberian cairan infus.
ZT. tetesan 20 gtt/menit.
ZU.
AAM.
6. Melaksanakan
pemberian
obat 6. Klien mengatakan akan meminum
antipiretik, anti malaria, dan antibiotik.
obat yang dii berikan tepat waktu
ZV. dan rutin paracetamol 3x1 PO
ZW. sebagai anti piretik, cefotaxime vial
ZX. IV 2x1 diberikan oleh perawat
ZY. pukul 06.00 dan 18.00 sebagai anti
ZZ. biotik. clobazam 1x1 diminum
AAA.sebelum tidur malam nanti sebagai
AAB.obat penenang agar bisa tidur.
AAC.
AAN.
7. Mengatur lingkungan yang konduksif.
7. Merapikan tempat tidur klien,

107

menghidupkan
kipas
membatasi pengunjung.

AAU.
AAV. 20/
4 06/2012
AAW. 09.
00 WIB

ABD.ABE. 20/
3 06/2012
ABF. 09.
30 WIB

angin,

AAO.
AAP.
AAX.
1. Mebantu klien dengan tindakan pereda 1. Klien dan kluarga mengerti dengan AAZ.
nyeri non farmakologi dan invansif
apa yang dikatakan perawat ABA.
seperti melakukan masase/pemijatan
keluarga langsung mengoleskan ABB.
AAY.
pada seluruh tubuh klien atau dengan
minyak kayu putih pada tubuh klien ABC.
mengoleskan minyak kayu putih pada
dan klien meminta untuk dilakukan Rina f
tubuh klien.
pengerikan.
Dan
kluargapun
melakukan permintaan klien.
ABG. Resiko
2. Menganjurkan klien untuk makan 2. Keluarga langsung memberikan ABW.
ketidakseimban
makanan dalam keadaan hangat.
klien makan, klien makan masih
gan
nutrisi
ABI. dibantu disuapi oleh keluarga.
ABX.
kurang
dari
ABJ.
ABS.
ABY.
kebutuhan tubuh 3. Menganjurkan klien untuk makan 3. Klien terlihat dapat menghabiskan 6 ABZ.
berhubungan
makanan lunak dalam porsi kecil tapi
sendok makan bagian dari Rina f
dengan intake
sering.
makanan yang diberikan.
ABT.
yang
tidak
ABK.
4.
Klien
mengatakan
klien
selera
dekuat:
4. Diskusikan makanan yang disukai klien
bubur kacang hijau, lalu meminta
anorexia,
dan masukan dalam diet murni.
ABL.keluarga untuk membeli bubur
mual/muntah.
hijau,
klien
terlihat
ABH.
ABM.kacang
ABN.menghabiskan 4 sendok bubur
ABO.kacang hijau, klien mengeluh

108

ACA.ACB. 20/
5 06/2012
ACC. 10.
00 WIB
ACD.

ACF.

ABP.perutnya terasa mual dan terasa


ABQ.nyeri pada uluh hati.
ABU.
ABR.
5. Melaksanakan
pemberian
obat 5. Klien meminum obat rutin sesuai
dengan terapi yang diberikan
antiemetik dan multivitamin.
omeparazole 1x1 PO sebagai
penghambat
produksi
asam
lambung, dexanta sirup 3x1 PO
sebagai penetral asam lambung,
domperidon 3x1 PO sebagai obat
anti emetik, neorodex 2x1 PO
sebagai multivitamin B1, B6, B12.
ABV.
ACE.
1. Mengobservasi respon klien terhadap 1. Klien mengatakan klien sudah bisa ACT.
aktivitas.
duduk apabila duduk di atas tempat ACU.
ACG.tidur kepala klien sudah tidak ACV.
ACH.merasa pusing lagi, tapi klo dibawa ACW.
ACI. berjalan seperti ke kamar mandi Rina f
ACJ.kepala menjadi pusing.
ACK.
ACQ.
4. Mengatur posisi pasien senyaman 4. Meletakan bantal sebagai sandaran
mungkin.
dibelakang tubuh klien agar klien
ACL.dapat tahan lama untuk duduk.
ACM.
ACR.
5. Memberikan bantuan dalam aktivitas 5. Klien
mengatakan
senang

109

sehari-hari klien bila perlu.

ACX.ACY. 20/
1 06/2012
ACZ. 11.
00 WIB

mendapatkan bantuan dari perawat


ACN.setiap hal yang dibutuhkan dapat
ACO.minta tolong kepada perawat dan
ACP.merasa diperhatikan.
6. Menganjurkan keluarga untuk membatu 6. eluarga bersedia membantu setiap
aktivitas klien dan memenuhi
setiap aktivitas yang dibutuhkan klien.
kebutuhanya.
ACS.
ADA. Perubaha 1. Memeriksa tanda-tanda vital klien dan 1. TTV :
AEV.
AEH.
TD
:
110/70
mmHg
n
perfusi
keluhan klien.
AEW.
AEI.
Nadi
:
82
x/menit
jaringan
ADQ.
AEX.
AEJ.
RR : 20 x/menit
berhubungan
ADR.
AEY.
AEK.
Suhu : 370C
dengan
ADS.
Rina f
AEL.
Klien
mengatakan
penurunan
ADT.
tubuhnya sudah merasa lebih
komponen
ADU.
enakan, nyeri terasa berkurang
seluler yang di
ADV.
setelah diberi minyak kayu putih
perlukan untuk
ADW.
dan dikerik skala nyeri 1 (1-5).
pengiriman
ADX.
AEM.
oksigen
dan
ADY.
2. Klien mengatakan apabila dibawa
nutrient dalam 2. Mencatat adanya keluhan pusing.
duduk atau tidur kepalanya tidak
tubuh.
ADZ.terasa pusing namun bila dibawa
ADB.
AEA.berjalan atau berdiri kepala terasa
ADC.
AEB.pusing.
ADD.
AEC.
AEN.
ADE.
AED.

110

ADF.
ADG.
ADH.
ADI.
ADJ.
ADK.
ADL.
ADM.
ADN.
ADO.
ADP.

AEZ.AFA. 20/
6 06/2012
AFB. 13.
00 WIB

3. Menganjurkan klien untuk mengurangi 3. Klien menerima saran dari perawat


aktivitas yang merangsang timbulnya
klien mengatakan akan beristirahat.
respon valsava/aktivitas.
AEO.
AEE.
AEP.
4.
Klien
mengatakan
klien
ingin
sekali
4. Menganjurkan
klien
untuk
bisa tidur namun sulit.
meningkatkan tirah baring.
AEQ.
AEF.
5. Mengobservasi perubahan sensori dan 5. Klien tampak gelisah.
AER.
tingkat kesadaran klien.
AES.
AEG.
6. Transfusi darah telah di berikan
6. Melaksanakan pemberian PRC
pada pukul 12.00 WIB, sebelum
trasfusi diberikan terlebih dahulu
diberikan NaCl, dexamethasone,
Dhipinehidramine. Dengan tetesan
transfusi 30 gtt/menit.
AET.
Transfusi selesai pukul
14.15 WIB dan langsung digantikan
dengan NaCL dengan 20 gtt/menit.
AEU.
AFC. Resiko
1. Memberikan
pendidikan
kesehatan 1. Klien dan keluarga mendengarkan AFG.
penularan
tentang apa itu malaria, bagaimana cara
penjelasan perawat tentang penyakit AFH.
penyakit malaria
penularan malaria, apa gejala malaria,
yang dideritanya dengan baik dan AFI.
berhubungan
apa akibat penyakit malaria dan
mengangguk tanda mengerti. Klien AFJ.
dengan kurang
bagaimana pencegahan malaria. Media
dan kluarga juga mengajukan Rina f

111

pengetahuan
tentang penyakit
malaria,
kebersihan
lingkungan dan
pola hidup.
AFD.
AFK.AFL. 21/
1 06/2012
AFM. 09.
00 WIB

yang digunakan berupa leaflet.


AFE.

AFN. Perubaha 1. Memeriksa tanda-tanda vital.


n
perfusi
jaringan
berhubungan
dengan
penurunan
komponen
seluler yang di
perlukan untuk
pengiriman
oksigen
dan
nutrient dalam
tubuh.

2. Mencatat adanya keluhan pusing.

pertanyaaan
apakah
penyakit
malaria menular melalui semakan
atau seminum dengan klien yang
menderita penyakit malaria. Ketika
di evaluasi klien dapat mengulang
kembali
materi
yang
telah
disampaikan.
AFF.
1. TTV :
TD : 110/70 mmHg
AFO.AGN.
AGO.
Nadi :80 x/menit
AFP.
AGP.
RR : 20 x/menit
AFQ.
AGQ.
Suhu : 370C
AFR.AGR.
Klien
mengatakan
AFS.malam tadi setelah meminum obat
AFT.clobazam sebelum tidur klien bisa
AFU.tidur dengan nyenyak dari jam
AFV.23.00- 05.00. Tubuh klien masih
AFW.dirasakan sering berkeringat namun
AFX.sudah tidak merasa panas lagi. Dan
AFY.tubuh klien merasa lebih enakan
AFZ.dan tidak terasa sakit lagi ataupun
AGA.pegal-pegal skala nyeri 0 (1-5).
AGB.AGS.
AGC.
2. Klien mengatakan kepalanya sudah
tidak merasa pusing lagi baik duduk

AGW.
AGX.
AGY.
AGZ.
Rina f

112

3.

5.

6.
AHA.
AHB. 21/
3 06/2012
AHC. 09.
30 WIB

AHD. Resiko
1.
ketidakseimban
gan
nutrisi
kurang
dari 2.
kebutuhan tubuh
berhubungan
dengan intake
yang
tidak 3.

AGD.ataupun berdiri namun apabila


AGE.berjalan ke kamar mandi masih
AGF.diperlukan bantuan karena tubuh
AGG.klien masih merasa lemah.
AGH.
AGT.
AGI.
3. Klien mau mendengarkan saran
Menganjurkan klien untuk sedikit
perawat dan klien langsung
beraktivitas atau mengubah posisi seperti
mengubah posisinya dari tidur
duduk jangan bebaring terus.
menjadi duduk dengan bantal
AGJ.disandarkan dibelakang tubuh.
AGU.
AGK.
5.
Klien
tampak
tenang
namun
lemah
AGL.
(composmentis).
Mengobservasi perubahan sensori dan
AGV.
tingkat kesadaran klien.
6. Hasil labor klien pada tanggal
AGM.
21/06/2012 yaitu 9 gr/dl.
Memeriksa hasil Labor haemoglobin
klien.
Menganjurkan klien untuk makan 1. Klien langsung memakan makanan AIG.
makanan dalam keadaan hangat.
yang telah disediakan oleh ahli gizi. AIH.
AHF.
AIA.
AII.
Menganjurkan klien untuk makan 2. Klien terlihat menghabiskan AIJ.
makanan lunak dalam porsi kecil tapi
makanan yang ada.
Rina f
sering.
AIB.
AHG.
AIC.
3.
Klien
mengatakan
klien
selera
Diskusikan makanan yang disukai klien

113

dekuat:
anorexia,
mual/muntah.
AHE.

AIK.AIL.

21/

dan masukan dalam diet murni.

makan nasi dengan sayur santan


AHH.dan ikan sambal, keluargapun
AHI.memberikan
makanan
yang
AHJ.diinginkan klien, klien terlihat dapat
AHK.mengahabiskan 6 sendok makan.
AHL.
AID.
4. Melaksanakan pemberian obat anti 4. Klien mengatakan akan meminum
emetik.
obat yang diberika tepat waktu dan
AHM.
rutin obat yang tersedia untuk hari
AHN.ini yaitu omeparazole 1x1 PO
AHO.sebagai pengahambat produksi
AHP.asam lambung, donperidon 3x1 PO
AHQ.sebagai anti emetik, scopamin 3x1
AHR.PO sebagai anti nyeri, neorodex 2x1
AHS.PO
sebagai
multivitamin
AHT.B1,B6,B12, cefotaxime vial IV
AHU.diberikan oleh perawat 2x1 pada
AHV.pukul 06.00WIB dan 18.00 WIB
AHW.
sebagai antibiotik dan clobazam
AHX.diminum sebelum tidur malam nanti
AHY.sebagai obat penenang.
AHZ.
AIE.
5. Berat badan klien tetap 49 kg.
5. Monitor perkembangan berat badan.
AIF.
AIN.
1. Mengobservasi respons klien terhadap 1. Klien mengatakan klo berjalan AIR.

114

5 06/2012
AIM. 10.
15 WIB

AIV.AIW. 21/
6 06/2012
AIX. 11.
00 WIB
AIY.

AIO.

aktivitas.
AIP.

AIZ. Resiko
1. Mengingatkan kembali kepada klien dan 1.
penularan
keluarga apa itu malaria, bagaimana cara
penyakit malaria
penularan malaria, apa gejala malaria,
berhubungan
apa akibat penyakit malaria dan
dengan kurang
bagaimana pencegahan malaria.
pengetahuan
AJA.
tentang penyakit
AJB.
malaria,
AJC.
kebersihan
AJD.
lingkungan dan
AJE.
pola hidup.
AJF.
AJG.
AJH.
AJI.
AJJ.
AJK.
AJL.
AJM.
AJN.

seperti mau kekamar mandi masih AIS.


diperlukan bantuan walau sudah AIT.
tidak merasa pusing lagi ketika AIU.
berjalan namun tubuh masih terasa Rina f
lemah .
AIQ.
Klien
menyebutkan
malaria AJV.
disebabkan
oleh
parasit AJW.
(plasmodium)
ditularkan AJX.
kemanusia
melalui
gigitan AJY.
nyamuk. Gejala malaria dapat Rina f
berupa menggigil, tidak nafsu
makan, tubuh terasa panas dan
dapat mengakibatkan anemia
karena sel darah merah hancur
dirusak
oleh
parasit.
Cara
pencegahan
malaria
dengan
menghindar dari gigitan nyamuk
seperti
tidur
menggunakan
kelambu, menggunakan obat
penolak nyamuk, menggunakan
pakaian tertutup bila perlu,
memasang kawat kasa pada
ventilasi
dan
membersihkan
sarang nyamuk atau lingkungan.

115

AJZ.AKA. 22/
1 06/2012
AKB. 08.
30 WIB

AJO. AJR.
2. Menganjurkan keluarga dan klien 2. Keluarga dan klien mengangguk
tanda menyetujui saran perawat
untuk
memelihara
dan
dan
keluarga
pun
tampak
meningkatkan kebersihan diri dan
membersihkan lingkungan sekitar
lingkungan,
karena
dengan
tempat tidur klien.
lingkungan yang nyaman nyamuk
AJS.
tidak akan berkembang biak.
AJT.
AJP.
3. Mengajurkan
klien
untuk 3. Klien mengatakan iya ketika
pulang nanti klien dan keluarga
membasmi sarang nyamuk atau
akan menjaga kesehatan dan
tempat
perkembangbiakan
kebersihan lingkungan dengan
nyamuk yang ada disekitar rumah
lebih baik lagi agar terhidar dari
pada saat pulang nanti seperti
penyakit malaria atau penyakit
menimbun genangan air, jangan
lainya.
terlalu banyak pakaian yang
AJU.
bergantungan.
AJQ.
AKC. Perubaha 1. Memeriksa tanda-tanda vital dan 1. TTV
AKJ.
AKD.
TD
:120/70
mmHg
n
perfusi
menanyakan keluhan klien.
AKK.
AKE.
Nadi
:
84
x/menit
jaringan
AKL.
AKF.
RR : 20 x/menit
berhubungan
AKM.
AKG.
Suhu : 370C
dengan
AKH.
Klien
mengatakan Rina f
penurunan
tubuhnya sudah merasa lebih baik AKN.
komponen
sudah tidak merasa pegal-pegal lagi AKO.
seluler yang di
AKP.

116

perlukan untuk
pengiriman
oksigen
dan
nutrient dalam
tubuh.

AKQ.
AKR. 22/
3 06/2012
AKS. 09.
00 WIB
AKT.

ataupun nyeri pada sendi dan otot,


kepala sudah tidak terasa pusing
lagi. Tubuh sudah tidak terasa panas
lagi
dan
berkeringat
agak
berkurang. Malam tadi klien
nyenyak tidur klien tidur dari jam
22.00 WIB-05.00WIB.
AKI.
AKU. Resiko
2. Menganjurkan klien untuk makan 2. Klien langsung memakan makanan AMB.
ketidakseimban
makanan dalam keadaan hangat.
yang telah disediakan oleh ahli gizi. AMC.
gan
nutrisi
AKV.
ALV.
AMD.
kurang
dari
AKW.
ALW.
AME.
kebutuhan tubuh 3. Menganjurkan klien untuk makan 3. Klien
tampak
menghabiskan Rina f
berhubungan
makanan lunak dalam porsi kecil tapi
seluruh makanan yang disajikan
dengan intake
sering.
oleh ahli gizi. Mual (-), muntah (-)
ALX.
yang
tidak
AKX.
4.
Klien
mengatakan
klien
selera
dekuat:
4. Mendikusikan makanan yang disukai
makan
bubur
ayam,
lalu
anorexia,
klien dan masukan dalam diet murni.
mual/muntah.
AKY.keluargapun pergi membelikan
AKZ.bubur ayam untuk klien dan terlihat
ALA.klien dapat menghabiskan semua
ALB.bubur ayam yang dibeli. Klien
ALC.mengatakan perutnya sudah merasa
ALD.enakan sekarang sudah tidak ada
ALE.rasa mual ataupun nyeri pada uluh

117

AMF.AMG. 22/
5 06/2012
AMH. 10.
00 WIB

AMJ.

ALF.hati.
ALY.
ALG.
5. Melaksanakan pemberian obat anti 5. Klien mengatakan akan meminum
obat yang diberika tepat waktu dan
emetik.
ALH. rutin obat yang tersedia untuk hari
ALI. ini yaitu omeparazole 1x1 PO
ALJ. sebagai pengahambat produksi
ALK. asam lambung, donperidon 3x1 PO
ALL. sebagai anti emetik, scopamin 3x1
ALM.PO sebagai anti nyeri, neorodex
ALN. 2x1 PO sebagai multivitamin
ALO. B1,B6,B12, cefotaxime vial IV
ALP. diberikan oleh perawat 2x1 pada
ALQ. pukul 06.00WIB dan 18.00 WIB
ALR. sebagai antibiotik dan clobazam
ALS. diminum sebelum tidur malam
ALT. nanti sebagai obat penenang.
ALZ.
ALU.
6. Berat badan klien 49 kg, tinggi
6. Memonitor perkembangan berat badan
badan 155 cm.
klien.
AMA.
AMI.
1. Mengobservasi respons klien terhadap 1. Klien mengatakan
sudah bisa AML.
aktivitas.
berjalan kekamar mandi sendiri AMM.
AMK.
tanpa bantuan, makan sendiri dan AMN.
mengganti pakaian sendiri. Klien AMO.

118

AMP.AMQ. 22/
6 06/2012
AMR. 11.
00 WIB

mengatakan tubuh klien sudah Rina f


merasa lebih kuat dan tidak lemah
lagi seperti kemarin. (Klien hari ini
sudah boleh pulang oleh dokter dan
melakukan perawatan dirumah/
rawat jalan. Karena keadaan klien
sudah tampak membaik).
AMS. Resiko
1. Mengingatkan kembali kepada klien bila 1. Klien dan keluarga mengatakan iya AMU.
penularan
pulang
nanti
diharapkan
dapat
bila pulang kerumah nanti klien dan
penyakit malaria
melakukan pencegahan dari gigitan
keluarga akan lebih menjaga
berhubungan
nyamuk seperti yang telah diajarkan,
kesehatanya agar tidak mudah sakit.
dengan kurang
menjaga kebersihan diri dan lingkungan
Klien akan melakukan saran
pengetahuan
dan bila muncul tanda dan gejala demam
perawat
akan
melakukan
tentang penyakit
diharapkan keluarga dan klien dapat
pencegahan terhadap penyakit
malaria,
menerapkan cara penatalaksaan seperti
malaria dengan menghindar dari
kebersihan
yang telah diajarkan.
gigitan nyamuk dan membrantas
lingkungan dan
sarang nyamuk dan lebih menjaga
pola hidup.
kebersihan lingkungan. Keluarga
mengatakan
trimakasih
telah
memberi
pengalaman
dalam
merawat nanti apabila dikemudian
hari ada yang sakit insyaallah klien
akan menggunakan cara-cara yang
telah diajarkan.
AMT.

119

AMV.
AMW. 22/
06/2012
AMX. 13.
00 WIB

AMY.

Membantu meng off infus klien dan - Klien tampak senang sudah bisa
mengantar klien pulang.
pulang klien diantar pulang dengan
menggunakan korsi roda dan klien
dan keluarga telah menebus resep
obat yang telah diberikan oleh
dokter untuk perawatan dirumah
berupa omeparazole 1x1 PO,
donperidon 3x1 PO, scopamin 3x1
PO, neorodex 2x1 PO, paracetamol
3x1 PO. Dan klien sudah tahu cara
meminum obat tersebut dirumah
dan tujuan dari masing-masing obat
karena sudah dijelaskan cara
pemberianya oleh dokter.
AMZ.
ANE.

ANA.
ANB.
ANC.
AND.
Rina f

E. Evaluasi
ANF.

Tabel 3.7 Evaluasi


ANJ.
ANK.
Paraf

ANL.

ANM.

ANN.
ANP. S :
Klien mengatakan sudah tidak merasakan
sakit kepala lagi.
ANQ. O:
- TTV :
ANR.
TD : 100/70 mmHg

ANZ.
AOA.
AOB.
AOC.

120

ANS.
Nadi : 80 x/menit
ANT.
Pernafasan: 20 x/menit
ANO.
ANU.
Suhu : 370C
- Akral teraba hangat
- Kulit tampak segar
- Haemoglobin 9 Gr/dl
- Conjungtiva ananemis

AOD.

ANV.
ANW. A :
Masalah perubahan perfusi jaringan
berhubungan
dengan
penurunan
komponen
seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen
dan nutrient dalam tubuh dapat teratasi.
ANX.
ANY. P :
Intervensi dihentikan.
AOE.
AOF. Hipertermia berhubungan dengan AOH. S :
Klien mengatakan malam tadi setelah
peningkatan metabolisme, efek langsung
meminum obat clobazam sebelum tidur klien bisa
sirkulasi kuman pada hipotalamus.
tidur dengan nyenyak dari jam 23.00- 05.00. Tubuh
AOG. klien masih dirasakan sering berkeringat namun
sudah tidak merasa panas lagi.
AOI. O :
- TTV :
AOJ.
TD : 100/70 mmHg
AOK.
Nadi : 80 x/menit
AOL.
Pernafasan: 20 x/menit
AOM.
Suhu : 370C

AOS.
AOT.
AOU.
AOV.

121

AOW.

Pada palpasi tidak panas lagi


Mukosa bibir terlihat lembab
AON.
AOO. A :
Masalah hipertermi berhubungan dengan
peningkatan metabolisme, dehidrasi, efek langsung
sirkulasi kuman pada hipotalamus dapat teratasi.
AOP.
AOQ. P :
Intervensi dihentikan
AOR.
AOX.
AOY. Resiko ketidakseimbangan nutrisi APA. S : Klien mengatakan perutnya sudah merasa
kurang
dari
kebutuhan
tubuh
enakan sekarang sudah tidak ada rasa mual ataupun
berhubungan dengan intake yang tidak
nyeri pada uluh hati.
dekuat ; anorexia, mual/muntah.
APB. O :
AOZ. - Mual (-), Muntah (-)
- Keadaan umum membaik
- Klien tampak menghabiskan seluruh makanan
yang disajikan oleh ahli gizi.
- Berat badan : 49 kg
- Tinggi badan : 155 cm
APC.
APD. A :
Masalah resiko ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake yang tidak dekuat ; anorexia, mual/muntah
dapa teratasi.
APE.
APF. P :
Intervensi dihentikan.

APH.
API.
APJ.
APK.

122

APL.

AQA.

APG.
APM.
APN. Nyeri
dan
ketidaknyamanan APP. S :
Klien mengatakan tubuhnya sudah merasa
berhubungan dengan respons inflamasi
lebih enakan dan tidak terasa sakit lagi ataupun
sistemik, mialgia, artralgia.
pegal-pegal, skala nyeri 0 (1-5).
APO.
APQ. O :
- Keadaaan umum klien tampak baik, dan klien
tampak tenang.
- Klien tidak meringis kesakitan lagi.
APR.
APS. A :
Masalah Nyeri dan ketidaknyamanan
berhubungan dengan respons inflamasi sistemik,
mialgia, artralgia, diaforesis, dapat teratasi.
APT.
APU. P :
Intervensi di hentikan.
APV.
AQB.
AQC. Gangguan aktivitas berhubungan AQE. S :
Klien mengatakan sudah bisa berjalan
dengan kelemahan fisik.
kekamar mandi sendiri tanpa bantuan, makan sendiri
AQD. dan mengganti pakaian sendiri. Klien mengatakan
tubuh klien sudah merasa lebih kuat dan tidak lemah
lagi seperti kemarin.
AQF. O :
- Klien tampak dapat melakukan aktivitasnya
sendiri
- Klien tampak lebih segar dan tidak terlihat lemah
- Kekuatan otot

APW.
APX.
APY.
APZ.

AQN.
AQO.
AQP.
AQQ.

123

AQR.

AQG.
5555 5555
AQH.
5555 5555
AQI.
AQJ. A :
Masalah Gangguan aktivitas berhubungan
dengan kelemahan fisik dapat teratasi.
AQK.
AQL. P :
Intervensi dihentikan.
AQM.
AQS.
AQT. Resiko
penularan
penyakit AQV. S :
Klien dan keluarga dapat menjelaskan
malaria berhubungan dengan kurang
dengan bahasanya sendiri tentang penyakit malaria
pengetahuan tentang penyakit malaria,
cara penularan, penatalaksanaan yang dapat
kebersihan lingkungan dan pola hidup.
dilakukan dalam mengatasi demam malaria dan
AQU. pencegahan penyakit malaria.
AQW. O :
- Klien dan keluarga dapat menjelaskan kembali
cara-cara penularan penyakit malaria.
- Klien dan keluarga dapat menjelaskan kembali
tentang cara-cara pencegahan penyakit malaria.
AQX.
AQY. A :
Masalah Resiko penularan penyakit
malaria berhubungan dengan kurang pengetahuan
tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan dan
pola hidup dapat teratasi.
AQZ.
ARA. P :
Intervensi dihentikan.

ARC.
ARD.
ARE.
ARF.

124

ARB.
ARG.

ARH. Catatan perkembangan pulang :


ARI.

Tanggal 22 juni 2012 Ny.Y atas order dan saran dari dokter sudah diperbolehkan pulang untuk rawat jalan, keadaan

umum membaik :
ARJ.
TTV :TD :120/70 mmHg
ARK.
Nadi : 84 x/menit
ARL.
RR : 20 x/menit
ARM.
Suhu : 370C
ARN. Obat yang diberikan omeparazole 1x1 PO, donperidon 3x1 PO, scopamin 3x1 PO, neorodex 2x1 PO, Paracetamol
3x1. Dan klien sudah tahu cara meminum obat tersebut dirumah dan tujuan dari masing-masing obat karena sudah dijelaskan
cara pemberianya.
ARO.
ARP.

125

ARQ.
ARR.

BAB IV

PEMBAHASAN
ARS.

ART. Dari hasil pelaksanaan asuhan keperawatan pada Ny. Y dengan


kasus Malaria di ruang melati RSUD Dr.M.YUNUS Bengkulu pada tahun 2012
yang dimulai dari tanggal 18 juni 2012 sampai 22 juni 2012 ditemukan beberapa
persamaan atau kesenjangan antar teori yang ada dengan data yang di dapatkan.
A. Pengkajian Keperawatan
ARU.
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan.
Dalam mengumpulkan data ditemukan beberapa kesenjangan dan persamaan
antara lain : pada riwayat kesehatan sekarang, pada Ny.Y ditemukan keluhan
Demam dirasakan sejak satu minggu yang lalu, tubuh menggigil merasa
kedinginan, merasa mual yang disertai dengan muntah, nyeri pada uluh hati,
lidah terasa pahit, tidak ada nafsu makan, kepala terasa pusing, tubuh terasa
panas, sering berkeringat, seluruh tubuh dirasakan sakit (nyeri pada
persendian dan juga otot) dan pegal-pegal,tubuh terasa lemah, dan klien
mengeluh hasil labor haemoglobinnya rendah yaitu 7,5 gr/dl. Keluhan yang
dialami oleh Ny.Y tersebut sama dengan manifestasi klinis yang dapat
ditimbulkan oleh malaria pada tinjauan teoritis. Akan tetapi ada beberapa
gejala pada tinjauan teoritis yaitu pembesaran limpa (splenomegali) dan
pembesaran hepar (hepatomegali) pada kasus Ny.Y tidak penulis temukan.
Menurut penulis hal ini disebabkan oleh malaria yang diderita Ny.Y belum
terlalu berat sehingga belum terjadi komplikasi lebih lanjut dimana belum

126

terjadi kerusakan parenkim hati yang menyebabkan hepar dan limpa


terkompensasi.
ARV.

Pada riwayat kesehatan dahulu Ny.y ditemukan bahwa

Ny.Y dua tahun yang lalu pernah dirawat di RS selama tiga hari dengan
alasan penyakit yang sama yaitu malaria. Berdasarkan tinjauan toritis bahwa
malaria merupakan penyakit yang sewaktu-waktu dapat kambuh kembali di
sebabkan oleh parasit malaria yaitu plasmodium vivax dan ovale memiliki
stadium dormant (hipnozoit) berdiam dalam hati dan dapat kambuh kembali
untuk menginvasi kembali kedalam darah beberapa minggu atau 1 tahun
kemudian, ini sama dengan yang dialami oleh Ny.Y yaitu penyakit malaria
yang diderita mengalami kekambuhan (Muslim, 2009).
ARW.
Pada riwayat kesehatan keluarga terdapat keluarga Ny.Y
yang perna mengalami penyakit malaria yaitu suaminya, anak pertama dan
anak kedua. Berdasarkan tinjauan teoritis menurut pendapat Handayani wiwik
(2008) bahwa malaria merupakan infeksi parasit pada sel darah merah yang
disebabkan oleh suatu protozoa spesies plasmodium yang ditularkan ke
manusia melalui air liur nyamuk. Pada
keluarga Ny.Y sepertinya sudah terjadi
10
6

penularan penyakit malaria antar keluarga sehingga terdapat keluarga selain


Ny.Y yang pernah mengalami penyakit malaria.
ARX.
Pada pengkajian kebiasaan hidup sehari-hari Ny.Y pada
kebutuhan nutrisi Ny.Y selama dirumah sakit hanya makan 3sendok makan
setiap makan beda dengan selama dirumah sewaktu sehat klien dapat
menghabiskan 1 porsi makan. Klien menemukan kesulitan saat makan yaitu
perut terasa mual, nyeri pada uluh hati, lidah terasa pahit. Pada kebutuhan
istirahat dan tidur Ny.Y kurang dari kebutuhan yang seharusnya/ biasanya

127

sebanyak 6-8 jam menjadi 4-6 jam hal tersebut dikarenakan tubuh Ny.Y
sering terasa panas, sering berkeringat, terasa nyeri pada sendi tulang dan
otot, tubuh terasa pegal sehingga klien menjadi susah untuk tidur. Pada
kebutuhan aktivitas klien klien hanya berada ditempat tidur semua aktivitas
klien di bantu oleh keluarga di karenakan klien mengalami kelemahan fisik.
Berdasarkan tanda dan gejala menurut pendapat Harijanto (2009) bahwa
manifestasi klinis pada malaria serupa dengan yang dialami Ny.Y yaitu
merasa mual, muntah, tidak nafsu makan, terasa lesuh/lemah, demam yang
dirasakn hilang timbul, nyeri pada sendi tulang dan otot, tubuh terasa pegalpegal sehingga menyebabkan terganggunya kebutuhan istirahat dan tidur
Ny.Y.
ARY.

Berdasarkan data sosial ekonomi yang didapatkan pada

pengkajian Ny.Y adalah seorang wanita karir yang bekerja di balai POM,
dikarenakan klien sedang sakit pekerjaan klien menjadi terganggu dan klien
tidak dapat masuk kerja. Benar menurut pendapat Harijanto (2011) bahwa
malaria merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat menurunkan
produktivitas kerja.
ARZ.
Pada tinjauan kasus hasil laboratorium Ny.Y ditemukan
beberapa persamaan pada tinjauan teoritis seperti leukosit darah tinggi :
17.400/mm3 (N = 4.000 10.000/mm3), Peningkatan jumlah leukosit ini
(disebut Leukositosis) menunjukkan adanya proses infeksi, hemoglobin
rendah (7,5 gr/dl) berdasarkan menurut pendapat zulkoni akhsin (2009)
malaria dapat menyebabkan anemia dikarenakan sel darah merah lisis akibat
siklus hidup parasit dan penghancuran sel darah merah baik yang terinfeksi

128

maupun tidak terinfeksi oleh limpa. Hemaktokrit rendah (23%) menunjukan


penurunan persentase konsentrasi eritrosit dalam plasma darah.
ASA.
Adapun kesenjangan yang ditemukan pada

hasil

laboratorium Ny.Y yaitu trombosit normal (320.000 sel/mm3) ini mengalami


kesenjangan dengan yang ada pada tinjauan teori yang seharusnya pada
tinjauan teori jumlah trombosit sering menurun (N = 150.000- 400.000
sel/mm3) menurut penulis penyakit malaria yang diderita oleh Ny.Y belum
mengalami penghancuran trombosit yang berlebihan sehingga tidak terjadi
trombositopenia (jumlah trombosit sering menurun terutama pada malaria
berat). Pada pemeriksaan ureum serum dan kreatinin serum pada Ny.Y
normal yaitu ureum serum 29.0 mg/dl (N= 20-40 mg/dl) dan kreatinin serum
0.6 mg/dl (N= 0.5-1.2 mg/dl), ini menunjukan bahwa fungsi ginjal pada Ny.Y
masih baik dan Ny.Y belum mengalami komplikasi lebih lanjut dari penyakit
malaria yang diderita, yang mana menurut widoyono (2008) komplikasi yang
dapat terjadi pada penyakit malaria adalah GGA (urin <400Ml/24jam, dengan
kreatinin darah >3 Mg/dl). Pada pemeriksaan glukosa sewaktu/BBS pada
Ny.Y tinggi yaitu 167 mg/dl (N=70-120 mg/dl) ini menunjukan bahwa Ny.Y
hiperglikemia sedangkan menurut widoyono (2008) komplikasi yang dapat
terjadi pada malaria adalah Hipoglikemia gula darah <40mg/dl menurut
penulis Ny.Y tidak mengalami hipoglikemia disebabkan penggunaan glukosa
oleh parasit belum terlalu banyak sehingga tidak terjadi insufiensi insulin
sehingga tidak terjadi hipoglikemia.
B. Diagnosa keperawatan

129

ASB.

Pada diagnosa keperawatan penulis hanya menganalisa data

yang diperoleh dari pengkajian sebelum menegakan diagnosa keperawatan.


Dalam asuhan keperawatan secara teori penulis menemukan 7 diagnosa
keperawatan yang muncul pada pasien malaria berdasarkan dari tanda dan
gejala yang timbul menurut Muttaqin, 2011 adalah :
1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen
seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam
tubuh.
2. Aktual/risiko tinggi gangguan elektrolit berhubungan dengan diuresis
osmotik, diaforesis.
3. Hipertermi
berhubungan

dengan

peningkatan

metabolisme,

efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus.


4. Aktual/resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake yang tidak dekuat ; anorexia, mual/muntah.
5. Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan respons inflamasi
sistemik, mialgia, artralgia.
6. Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
7. Resiko penularan penyakit malaria berhubungan dengan kurang
pengetahuan tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan dan pola
hidup.
ASC. Sedangkan pada tinjauan kasus, penulis hanya menemukan 6
diagnosa keperawatan yang terdiri dari :
1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen
seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam
tubuh.
ASD. Penulis menegakkan diagnosa ini karena menemukan data bahwa
klien mengeluh kepalanya terasa pusing, akral teraba dingin, kulit pucat,
klien tampak gelisah, conjungtiva anemis, mukosa bibir tampak kering,

130

Hb : 7,5 gr/dl, hasil pemeriksaan DDR (+), TTV : TD :110/70 mmHg,


Nadi : 90 x/menit, pernafasan : 22 x/menit, suhu : 37 0C, yang bearti sel
darah merah lisis akibat siklus hidup parasit malaria yaitu plasmodium,
semakin banyak jumlah skizon yang pecah di dalam darah maka semakin
banyak jumlah merozoit yang keluar yang akan menyerang eritrosit baru
sehingga menyebabkan anemia (Zulkoni akhsin, 2009).
2. Hipertermia
berhubungan
dengan
peningkatan

metabolisme,

efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus.


ASE. Diagnosa ini ditegakkan berdasarkan data bahwa klien mengeluh
tubuhnya terasa panas, suhu : 380C, pada palpasi tubuh terasa panas,
klien tampak gelisah, mukosa bibir tampak kering dan hasil pemeriksaan
DDR (+), yang berati sudah terdapat plasmodium dalam darah yang
menyebabkan peningkatan sirkulasi endoktoksin pada hipotalamus,
sehingga terjadi perubahan regulasi temperatur pada termoregulator yang
mengakibatkan peningkatan suhu tubuh (Muttaqin, 2011).
3. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake yang tidak dekuat ; anorexia, mual/muntah.
ASF. Diagnosa ini ditegakakan berdasarkan data bahwa klien
mengatakan tidak nafsu makan dan perutnya terasa mual dan muntah 1x,
porsi makan yang dihabiskan terlihat hanya 3 sendok makan, keadaan
umum tampak lemah, klien tampak pucat, mukosa bibir tampak kering,
BB :49 kg, TB :155 cm, karena tidak terjadi penurunan berat badan yang
signifikan, dan berat badan klien masih berada dalam batas normal sesuai
dengan umur dan tinggi badan klien, penulis hanya mengangkat diagnosa
ini sebagai resiko.

131

ASG. Mual dan muntah yang disebabkan adaanya plasmodium yang


mencapai sirkulasi gastrointestinal bila tidak segera diatasi dapat
mengakibatkan penurunan berat badan karena intake nutrisi yang tidak
adekuat secara oral, sedangkan yang berada pada tubuh berkurang karena
output melalui muntah yang berlebihan (Muttaqin, 2011).
4. Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan respons inflamasi
sistemik, mialgia, artralgia, diaforesis.
ASH. Diagnosa ini penulis tegakkan karena efek dari respons inflamasi
sistemik parasit pada tubuh menyebabkan terasa pegal-pegal, dan nyeri
pada sendi tulang dan otot (Muttaqin, 2011).
5. Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
ASI. Diagnosa ini penulis tegakan karena efek dari proses penyakit pada
sistem muskuloskletal yang dikarenakan oleh anemia dan kurangnya
asupan nutrisi klien mengakibatkan kelemahan fisik sehingga klien
membutuhkan bantuan dalam melakukan aktivitasnya berdasarkan
tinjauan teoritis menurut Harijanto (2009) bahwa Keluhan prodromal
pada malaria salah satunya berupa kelesuhan.
6. Resiko penularan penyakit malaria berhubungan dengan kurang
pengetahuan tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan dan pola
hidup.
ASJ. Diagnosa ini ditegakkan karena keluarga mengatakan tidak
mengetahui

tentang

penyakit

malaria,

cara

penularan

maupun

pencegahannya. Kurangnya pengetahuan keluarga menyebabkan ia


banyak bertanya mengenai keadaan penyakit yang diderita.
ASK.
Diagnosa resiko tinggi gangguan elektrolit berhubungan
dengan diuresis osmotik, diaforesis, tidak penulis angkat karena tidak
ditemukan tanda-tanda kekurangan cairan yang berat pada Ny.Y seperti turgor

132

kulit klien masih baik, haluaran urine adekuat, terpasang infus RL dan D5%
(1:1) 20 tt/ menit, klien masih mau minum sehingga defisit volume cairan
tidak terjadi.
ASL.

Dari pengkajian keperawatan yang penulis lakukan penulis

menemukan diagnosa baru yang tidak ada pada tinjauan teori yaitu gangguan
istirahat dan tidur berhubungan dengan hipertermi dan nyeri pada sendi
tulang dan otot, namun diagnosa ini tidak penulis angkat karena menurut
penulis klien tidak dapat tidur disebabkan hipertermi. Sedangkan tujuan dari
dilakukannya tindakan keperawatan adalah untuk mencegah terjadinya
komplikasi dan mengatasi masalah yang menjadi prioritas agar masalah lain
yang ditimbulkan dapat teratasi (deswani, 2009). Jadi penulis mengangkat
masalah hipertermi dan gangguan rasa nyaman nyeri yang menjadi prioritas
karena dapat menimbulkan masalah lain pada klien yaitu kebutuhan istirahat
dan tidur menjadi terganggu.
C. Perencanaan keperawatan
ASM.

Intervensi keperawatan yang penulis susun pada studi kasus

telah mengacu pada asuhan keperawatan secara teoritis dengan disesuaikan


pada prioritas masalah keperawatan yang dirumuskan. Penulis membuat
intervensi dan prioritas waktu dengan menyesuaikan pada masalah
keperawatan yang ditemukan dan sesuai dengan kemampuan yang dipunyai
oleh penulis untuk menyelesaikan/ mengatasi masalah dengan memanfaatkan
fasilitas yang ada. Intervensi yang ada pada tinjauan teoritis menurut
Muttaqin (2011) dapat direncanakan pada kasus.
D. Implementasi keperawatan

133

ASN.
dari

rencana

Implementasi merupakan pengolahan data dan perwujudan


tindakan

keperawatan,

meliputi

tindakan

yang

telah

direncanakan oleh perawat dalam membantu klien. Dalam melakukan


tindakan keperawatan harus memperhatikan kenyamanan dan keadaan klien.
Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan pada Ny.Y dengan penyakit
malaria di ruang rawat inap melati RSUD dr. M.Yunus Bengkulu, penulis
melakukanya selama lima hari perawatan dan yang dilakukan adalah sesuai
dengan perencanaan.
ASO.

Pelaksanaan tindakan perawatan pada klien dapat dilakukan

dengan baik karena faktor yang mendukung dalam pelaksanaan asuhan


keperawatan ini. Adapun faktor pendukung lain antara lain :
1. Adanya kerja sama dan kolaborasi antar tim kesehatan yang lain dan
yang paling mendukung adalah kerjasama antara penulis dan keluarga.
2. Karena adanya motivasi yang kuat dari keluarga untuk kesembuhan klien
sehingga keluarga selalu mendukung dan melaksanakan anjuran perawat.
E. Evaluasi keperawatan
ASP.

Evaluasi merupakan bagian akhir dari proses keperawatan,

yang digunakan sebagai alat ukur berhasil atau tidaknya tindakan


keperawatan kepada klien, sesuai dengan diagnosa, tujuan dan kriteria hasil.
Dari 6 diagnosa keperawatan yang telah disusun sesuai dengan masalah
utama, selama melakukan lima hari perawatan pada Ny.Y dengan penyakit
malaria sejak tanggal 18 juni 2012 sampai 22 juni 2012 dapat dikatakan
berhasil, dimana hasil akhir dari evaluasi didapatkan bahwa semua masalah
yang ada dapat teratasi pada tanggal 21 dan 22 juni 2012.

134

ASQ.

ASR.

135

ASS.

AB V
AST.

ENUT
UP
A. Kesimpulan
ASU. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :
1. Malaria merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh parasit
dari genus plasmodium yang ditularkan pada manusia melaluit gigitan
nyamuk jenis anopheles betina, penyakit ini dapat menyerang segala
ras, usia, dan jenis kelamin. Dikenal empat spesies dari genus
plasmodium yang hidup sebagai penyebab penyakit malaria pada
manusia yaitu : Plasmodium falcifarum, Plasmodium vivax,
Plasmodium malariae, Plasmodium ovale. Berbeda dengan penyakitpenyakit lain, malaria tidak dapat disembuhkan meskipun dapat
diobati untuk menghilangkan gejala-gejala penyakit. Malaria menjadi
penyakit yang sangat berbahaya karena parasit dapat tinggal dalam
tubuh manusia seumur hidup. Adapun tanda dan gejala yang dapat di
timbulkan oleh malaria berupa demam periodik, anemia dan
splenomegali.
2. Dari pengkajian yang dilakukan pada Ny.Y dengan penyakit malaria,
penulis mendapatkan data-data pengkajian meliputi : identitas pasien,
riwayat kesehatan sekarang, riwayat kesehatan masa lalu, riwayat
kesehatan keluarga, pemeriksaan fisik, data psikologi, data sosial

136

ekonomi, data spiritual, data penunjang, penatalaksanaan medis, dan


kebiasaan sehari-hari klien.
3. Setelah data-data tersebut terkumpul, penulis menganalisa data yang
telah ditemukan untuk menemukan masalah keperawatan klien,
setelah itu penulis menyusun diagnosa keperawatan untuk menunjang
proses keperawatan dan ditemukan enam diagnosa keperawatan pada
Ny.Y.
4. Berdasarkan diagnosa keperawatan, penulis menyusun intervensi yang
disesuaikan dengan tinjauan 11
teori menurut Muttaqin (2011) dengan
7

mempertimbangkan prosedur kebijakan dan fasilitas diruangan rawat


inap tempat klien dirawat, serta disesuaikan juga dengan kemampuan
5.

penulis dan keadaan klien.


Kemudian rencana-rencana tersebut penulis implementasikan pada klien
dan keluarga, sekaligus mengevaluasi setiap respon hasil atau kemajuan

6.

klien setelah dilakukan tindakan keperawatan.


Pada evaluasi di semua tindakan keperawatan dikategorikan berhasil
karena dari enam diagnosa yang disusun sesuai masalah pada Ny.Y

7.

menunjukan bahwa semua masalah dapat teratasi dengan baik.


Analisa antara konsep teori dan kasus yang telah ditemukan pada Ny.Y
yang tentunya terdapat beberapa kesenjangan dan persamaan yang

8.

semuanya telah dibahas di bab pembahasan.


Dari proses keperawatan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan
bahwa pada Ny.Y mengalami penyakit malaria, setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama lima hari penyakit malaria yang di sebabkan oleh
plasmodium vivax dan telah menyebabkan anemia pada Ny.Y dapat
teratasi begitupun dengan gejala yang lain seperti hipertermi, nyeri pada

137

sendi tulang dan otot, tubuh terasa pegal-pegal, merasa mual yang disertai
muntah, tidak nafsu makan dan kelesuhan sudah tidak dirasakan lagi.
B. Saran
ASV. Berdasarkan

kesimpulan

diatas

maka

penulis

memberikan

alternatif pemecahan masalah yang berupa saran-saran, yaitu untuk


mencapai asuhan keperawatan yang optimal.
1. RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
ASW.
Diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
dengan memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas sebagai
standar praktek keperawatan yang berlaku dan dapat meningkatkan
sarana dan prasarana kesehatan yang ada di RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu untuk dapat menunjang pengobatan dan perawatan pada
pasien dengan penyakit malaria yang dirawat di RSUD dr. M. Yunus
Bengkulu dan dapat meningkatkan sumber daya manusia dengan
banyak mengadakan pelatihan-pelatihan ataupun seminar mengenai
masalah malaria sehingga menambah ilmu dan wawasan para perawat.
2. Institusi pendidikan/Akademik
ASX.
Kepada pihak akademik diharapkan dapat lebih
memperluas dalam pemberian materi tentang malaria dan dapat
menambah buku-buku tentang Malaria edisi terbaru sehingga peneliti
selanjutnya tidak kesulitan mencari untuk referensi.
3. Penulis selanjutnya
ASY.
Diharapkan pada penulis selanjutnya yang berminat untuk
meneliti masalah ini lebih jauh dan mendalam hendaknya untuk
meneliti masalah ini dengan menggunakan tempat yang berbeda
dengan teknik yang lain sehingga diperoleh keragaman hasil

138

penelitian yang berkaitan dengan penyakit malaria seperti Hubungan


prilaku pencegahan malaria terhadap kejadian malaria. Faktor faktor
risiko yang mempengaruhi kejadian malaria dengan menggunakan
metode penelitian observasional.
ASZ.

139

ATA. DAFTAR PUSTAKA


ATB. BAPPENAS RI : Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium
Indonesia. Jakarta, BAPPENAS RI, 2011. http://www.lap-pemb-mileniumind-2010.pdf 26 juli 2012 pukul 21.13 WIB.
ATC.
ATD. Deswani : Proses Keperawatan dan berfikir kritis. Jakarta, Salemba
Medika, 2009.
ATE.
ATF. Dinas Kesehatan Kota Bengkulu : Profil Kesehatan Kota Bengkulu Tahun
2010. Bengkulu, Dinkes Kota Bengkulu, 2011.
ATG.
ATH. Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu : Profil Kesehatan Propinsi Bengkulu
2010. Bengkulu, Dinkes Propinsi Bengkulu, 2011.
ATI.
ATJ. Doenges, E, Marillynn,. Marry, Frances, Moorhous, et a.l. : Rencana
Asuhan Keperawatan, edisi 3. Jakarta, Buku Kedokteran EGC, 2010.
ATK.
ATL. Handayani wiwik : Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan
Sistem Hematologi. Jakarta, Salemba Medika, 2008.
ATM.
ATN. Harijanto : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakart, Interna Publishing,
2009.
ATO.
ATP. Irianto : Parasitologi Berbagai Penyakit yang Mempengaruhi Kesehatan
Manusia. Bandung, Yrama Widya, 2011.
ATQ.
ATR. Kementrian Kesehatan RI : Epidemiologi Malaria di Indonesia. Jakarta,
Kemenkes RI, 2011. http://www.BULETIN MALARIA.pdf. 24 juli 2012
pukul 16.15 WIB.
ATS.
ATT. Mentri Kesehatan RI : Eliminasi malaria di Indonesia. Jakarta, Menkes RI,
2009.
http://www.KEPMENKES__NO___293_THN_2009_TTG__ELIMINASI_M
ALARIA.pdf. 24 juli 2012 pukul 16.01 WIB.
ATU.
ATV. Muslim : Parasitologi untuk keperawatan. Jakarta, Buku Kedokteran EGC,
2009.
ATW.
ATX. Muttaqin : Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan Keperawatan
Medikal Bedah. Salemba Medika, Jakarta, 2011.
ATY.
ATZ. Praptianingsih : Kedudukan Hukum Perawat dalam Upaya Pelayanan di
Rumah sakit. Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2006.
AUA.
AUB. Safar Rosdiana : Parasitologi Kedokteran Protozoologi Helmintologi
Entomologi. Bandung, Yrama Widya, 2009.

140

AUC.
AUD. Sembel : Entomologi Kedokteran. Yogyakarta, CV ANDI OFFSET, 2009.
AUE.
S
oedarto
:
Pengob
atan
Penyak
it
Parasit.
Jakarta,
CV
Sagung
Seto,
2009.
AUF.
AUG. Tarwoto : Keperawatan Medikal Bedah Gangguan sistem Hematologi.
Jakarta, Agung Wijaya, 2008.
AUH.
AUI. Widoyono : Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan
Pemberantasanya. Jakarta, Erlangga, 2008.
AUJ.
AUK. Zulkoni akhsin : Parasitologi. Yogyakarta, Nuha Medika, 2009.
AUL.

141

AUM.

142

AUN. SATUAN ACARA PENYULUHAN


AUO.
AUP.

okok
Bahasa
n
:
Malaria
AUQ.

ub
Pokok
Bahasa
n
:
Bersam
a

Kita

Beranta
s
Malaria
AUR.
asaran
:
Pasien

143

yang
mender
ita
malaria
AUS.
ari

H
/

tanggal
:
Rabu,
20 juni
2012
AUT.

aktu
:
13.00
13. 50
WIB
AUU.
empat
:
Ruang
melati
RSUD

144

dr.

M.

Yunus
AUV. Bengkulu
A. Tujuan Instruksional Umum
AUW.

Setelah diberikan penyuluhan diharapkan sasaran dapat memahami

dan mengerti apa itu malaria, bagaimana cara penularan malaria, apa gejala
malaria, apa akibat penyakit malaria, bagaimana pencegahan malaria.
AUX. B. Tujuan Instruksional Khusus
AUY.
1.
2.
3.
4.
5.

Setelah dilakukan penyuluhan sasaran dapat menjelaskan kembali :

Apa itu malaria


Bagaimana cara penularan malaria
Apa gejala malaria
Apa akibat penyakit malaria
Bagaimana pencegahan malaria.

AUZ. C. Materi
1.
2.
3.
4.
5.

Apa itu malaria


Cara penularan malaria
Tanda dan gejala malaria
Akibat pnyakit malaria
Cara pencegahan malaria

AVA. D. Alat Bahan / Media Penyuluhan


1. Media penyuluhan :
a. Leaflet
AVB. Sumber : Departemen Kesehatan RI Pusat Promosi Kesehatan
AVC. E. Metode Penyuluhan
1. Ceramah
2. Tanya Jawab
AVD. F. Evaluasi Penyuluhan
1. Persiapan

145

a. Menyiapkan materi penyuluhan


b. Menyiapkan Leaflet
2. Proses
AVE.

Memberi penyuluhan materi tentang malaria

3. Hasil
a. Sasaran mengetahui apa itu malaria
b. Sasaran mengetahui bagaimana cara penularan malaria
c. Sasaran mengetahui apa gejala malaria
d. Sasaran mengetahui apa akibat malaria
e. Sasaran mengetahui bagaimana mencegah malaria
AVF.

146

AVG. G. Lampiran
1. Materi
2. Leaflet
H. Kegiatan / Proses Penyuluhan
AVH.
AVI.
W
N
aktu
o

AVJ.

Kegiatan Penyuluhan

AVM.
AVN. 5 AVO. Kegiatan awal
1. Memberikan salam pembuka
1
menit
dan memperkenalkan diri
2. Kontrak waktu
3. Menjelaskan cakupan materi
yang akan disampaikan
4. Menjelaskan tujuan

AVK. Kegiatan
Sasaran

AVP.
AVQ. Menjawab

AVL. M
edia
dan
Alat
AVW.
AVX.

salam
AVR.
AVS. Memberi
pendapat
AVT. Memperha
tikan
AVU.
AVV. Memperha

tikan
AVY.AVZ. 1 AWA. Kegiatan Inti
AWB.
AWU.
1. Menjelaskan materi tentang AWC. Memperha AWV. L
2 0 menit
malaria :
tikan
eaflet
a. Apa itu malaria
AWD.
b. Cara penularan malaria
AWE.
c. Tanda dan gejala malaria
AWF.
d. Akibat pnyakit malaria
AWG.
e. Cara pencegahan malaria
AWH.
2. Melakukan kegiatan evaluasi
AWI.
a. Menanyakan
kepada AWJ.
AWK. Menjawab
sasaran salah satu materi
AWL.
yang telah disampaikan.
AWM.
b. Reinforcement positif atas AWN.
AWO.
jawaban.
AWP. Memperha
c. Menyimpulkan
atau
tikan
meluruskan jawaban
AWQ.
3. Memberi kesempatan kepada
AWR. Bertanya
sasaran untuk bertanya
tentang
materi
4. Memberikan
reinforcement
yang
telah

147

positif atas sasaran


5. Menjawab pertanyaan
sasaran

dijelaskan
dari AWS.
AWT. Memperha

tikan
AWW.
AWX. 5 AWY. Kegiatan Akhir
AWZ.
AXI.
1. Melakukan evaluasi sesuai AXA. Menjawab
3
menit
AXB.
kompetensi dasar, menanyakan
AXC.
materi (kognitif), dan evaluasi AXD.
AXE. Memperha
(sikap).
2. Menyimpulkan materi secara tikan
AXF.
ringkas
AXG.
3. Penutup
AXH. Menjawab
a. Mengucapkan salam
salam
AXJ.
AXK.
Bengk
ulu, 20
juni
2012
AXL.
Penyuluh
AXM.
AXN.
(Rina
Febria
ni)
NIM :
200910
48
AXO.
AXP.

148

AXQ.

149

AXR.

ATERI
AXS.
A. Apa penyakit malaria?
AXT. Penyakit malaria adalah penyakit menular, disebabkan oleh parasit
dari genus plasmodium. Terdapat empat spesies plasmodium penyebab
malaria

pada

manusia

plasmodium

falcifarum,

plasmodium

vivax,

plasmodium malariae dan plasmodium ovale, yang ditularkan oleh nyamuk


malaria (anopheles). Penyakit malaria dapat menyerang semua orang baik
laki-laki maupun perempuan, pada semua golongan umur, dari bayi sampai
orang dewasa.
B. Bagaimana penularan malaria?
AXU.Penyakit malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk malaria
(anopheles). Bila nyamuk anopheles menggigit orang yang sakit malaria,
maka parasit akan ikut terhisap bersama darah yang terhisap bersama darah
penderita. Dalam tubuh nyamuk, parasit tersebut berkembang biak. Sesudah 7
14 hari apabila nyamuk tersebut menggigit orang sehat, maka parasit akan
ditularkan kepada orang sehat tersebut. Didalam tubuh manusia parasit akan
berkembang biak, menyerang sel-sel darah merah. Dalam waktu kurang lebih
12 hari, orang tersebut akan sakit malaria.
AXV. Selain

ditularkan

melalui

gigitan

nyamuk,

malaria

dapat

menjangkiti orang lain melalui bawaan lahir dari ibu ke anak. Metode
penularan lain melalui jarum suntik, yang banyak terjadi pada pengguna

150

narkoba suntik yang sering bertukar jarum secara tidak steril. Model
penularan infeksi yang terakhir adalah melalui transfusi darah.
C. Apa gejala malaria
1. Gejala malaria ringan
a. Demam menggigil secara berkala dan biasanya disertai sakit kepala
b. Pucat karena kurang darah
c. Kadang-kadang dimulai dengan badan terasa lemah, mual/muntah,
tidak nafsu makan
d. Gejala spesifik daerah, misalnya pada anak-anak disertai dengan
diare
2. Gejala malaria berat
a. Kejang-kejang
b. Kehilangan kesadaran (mengigau, bicara salah, tidur terus, diam saja,
tingkah laku berubah)
c. Kuning pada mata
d. Panas tinggi
e. Kencing warna teh tua
f. Nafas cepat
g. Muntah terus
h. Pingsan sampai koma
D. Apa akibat penyakit malaria
1. Penderita mengalami kekurangan darah (anemia) karenaa sel darah
merah hancur dirusak oleh parasit dan berakibat :
a. Daya tahan tubuh menurun hingga mudah terkena infeksi penyakit
lain
b. Daya kerja kurang
c. Pertumbuhan otak pada anak-anak terhambat terutama pada masa
dalam kandungan sampai usia balita
d. Anak sekolah sering tidak masuk dan sulit menangkap pelajaran
begitu juga dengan orang dewasa menjadi sering tidak masuk kerja
dan susah untuk berkonsentrasi.
2. Pada ibu hamil dapat menyebabkan :
a. Bayi lahir mati
b. Bayi lahir dengan berat badan rendah
c. Bayi anemia
d. Ibu hamil meninggal

151

3. Pembuluh darah otak tersumbat menyebabkan:


a. Kejang-kejang
b. Kehilangan kesadaran
c. Pingsan sampai koma
d. Menjadi hilang ingatan
e. Meninggal bila tidak segera diobati
E. Bagaiman mencegah malaria ?
1. Menghindari gigitan nyamuk :
a. Tidur memakai kelambu anti nyamuk yang tahan 2 sampai 5 tahun,
b.
c.
d.
e.
f.
g.

yang dapat dicuci sampai 20 kali


Pakai obat anti nyamuk
Pakai obat oleh anti nyamuk
Pasang kawat kasa di setiap ventilasi
Menjauhkan kandang ternak dari rumah
Jangan berada diluar rumah pada malam hari
Apabila keluar rumah sebaiknya memakai pakaian yang tertutup
(menggunakan baju lengan panjang atau memakai obat anti nyamuk

oles.
2. Pengobataan pencegahan :
AXW.

Dua hari sebelum berangkat ke daeraah malaria, minum

obat doksisiklin 1x1 kapsul/hari sampai dua minggu setelah keluar dari
lokasi tersebut.
3. Membersihkan lingkungan
a. Membersihkan lingkungan
b. Menimbun genangan air
c. Membersihkan lumut
d. Mengalirkan air yang tergenang
4. Menebar ikan pemakan jentik
AXX.Menekan kepadatan nyamuk dengan menebarkan ikan pemakan
jentik : kepala timah, nila merah, gupi, mujair dll.
AXY.

152

AXZ.

153

AYA.