Anda di halaman 1dari 22

MENGHITUNG KURS VALUTA ASING

Pengertian Kurs Valuta Asing


Kurs adalah jumlah satuan mata uang yang harus diserahkan untuk mendapatkan satu
satuan mata uang asing.


Sistem Kurs Valuta Asing
1. Sistem Kurs Tetap (fixed exchange ratesystem)Yakni sistem kurs yang ditetapkan
oleh pemerintah
2. Sistem Kurs Bebas (freety-floating exchange ratesystem)Yakni sistem kurs yang
ditentukan oleh pasar, tanpa campur tangan pemerintah
3. Sistem Kurs Mengambang terkendali (managed floating exchange rate system)Yakni
sistem kurs yang ditentukan oleh pasar pada kisaran tertentu, jika kurs melebihi
kisaran tersebut maka pemerintah ikut campur tangan.


Menghitung Kurs Valuta Asing
Dalam menghitung nilai tukar valuta asing, dikenal 2 macam kurs, yaitu ; kurs jual dan
kurs beli.
Perlu dipahami bahwa kata jual dan beli disini adalah dilihat dari sudut pandang
bursa atau bank tempat menukar valuta asing.Dan bukan dari sudut orang/pihak yang
menukar valuta asing.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut :


Inflasi
Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum
dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh
berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di
pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya
ketidaklancaran distribusi barang.
[1]
Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses
menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan
tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu
menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap
terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-
memengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan
persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak
cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP
Deflator.
Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan
hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10%
setahun; inflasi sedang antara 10%30% setahun; berat antara 30%100% setahun; dan
hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100%
setahun.

INFLASI dan DEFLASI

A. Pengertian Inflasi

Banyak pengertian inflasi yang dapat kita jumpai pada beberapa sumber. Diantaranya:


v Inflasi adalah kenaikan harga secara umum
Inflasi dikatakan sebagai suatu proses kenaikan harga, yaitu adanya kecenderungan bahwa
harga barang meningkat secara terus-menerus.
v Inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu.
Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya,
tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi
v Inflasi adalah suatu proses atau peristiwa kenaikan tingkat harga barang-barang secara
umum.
Dikatakan tingkat harga secara umum karena barang dan jasa itu banyak sekali jumlah dan
jenisnya. Ada kemungkinan harga sejumlah barang turun banyak barang lainnya yang justru
naik harganya. Kenaikan satu dua barang saja bukan merupakan inflasi, kecuali bila kenaikan
harga barang tersebut meluas pada sebagian besar harga barang-barang lainya.

Definisi Inflasi menurut para ahli :

Ekonom Parkin dan Bade
Inflasi adalah pergerakan ke arah atas dari tingkatan harga. Secara mendasar ini berhubungan
dengan harga, hal ini bisa juga disebut dengan berapa banyaknya uang (rupiah) untuk
memperoleh barang tersebut.

Menurut Nopirin (1987:25)
Proses kenaikan harga-harga umum barang-barang secara terus menerus selama peride
tertentu.

Menurut Samuelson dan Nordhaus (1998: 578-603)
Inflasi dinyatakan sebagai kenaikan harga secara umum. Jadi tingkat inflasi adalah tingkat
perubahan harga secara umum yang dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut:
Rate of inflation (year t) = Price level (year t)- price level (year t-l) rice level (year t-l)
Ada tiga komponen yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan telah terjadi inflasi, Prathama
dan Mandala (2001:203)
1) Kenaikan harga

Harga suatu komoditas dikatakan naik jika menjadi lebih tinggi darpada harga periode
sebelumnya.
2) Bersifat umum

Kenaikan harga suatu komoditas belum dapat dikatakan inflasi jika kenaikan tersebut tidak
menyebabkan harga secara umum naik.
3) Berlangsung terus menerus

Kenaikan harga yang bersifat umum juga belum akan memunculkan inflasi, jika terjadi
sesaat, karena itu perhitungan inflasi dilakukan dalam rentang waktu minimal bulanan.

B. Macam-Macam Inflasi

1. Berdasarkan tingkat kualitas parah atau tidaknya
Ada beberapa inflasi berdasarkan tingkat kualitas parah atau tidaknya yaitu:
a) Inflasi ringan

Inflasi ringan atau inflasi merangkak (creeping inflation)adalah inflasi yang lajunya kurang
dari 10% per tahun,inflasi seperti ini wajar terjadi pada negara berkembang yang selalu
berada dalam proses pembangunan.
b) Inflasi sedang

Inflasi ini memiliki ciri yaitu lajunya berkisar antara 10% sampai 30% per tahun.Tingkat
sedang ini sudah mulai membahayakan kegiatan ekonomi.Perlu diingat laju inflasi ini secara
nyata dapat dilihat garak kenaikan harga.Pendapatan riil masyarakat terutama masyarakat
yang berpenghasilan tetap seperti buruh ,mulai turun dan kenaikan upah selalu lebih kecil bila
dibandingkan dengan kenaikan harga.
c) Inflasi berat

Inflasi berat adalah inflasi yang lajunya antara 30% sampai 100%.Kenaikan harga sudah sulit
dikendalikan.Hal ini diperburuk lagi oleh pelaku-palaku ekonomi yang memanfaatkan
keadaan untuk melakukan spekulasi.
d) Inflasi liar (hyperinflation)

Inflasi liar adalah inflasi yang lajunya sudah melebihi dari 100% per tahun. Inflasi ini terjadi
bila setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan
uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi yang tidak terkendali
(Hyperinflastion).
2. Inflasi Berdasarkan Penyebabnya
a) Inflasi karena tarikan permintaan atau inflasi permintaan (demand full inflation)

Inflasi ini merupakan inflasi yang disebabkan oleh besarnya permintaan masyarakat akan
barang-barang. Permintaan total yang berlebihan biasanya dipicu oleh membanjirnya
likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada
tingkat harga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait dengan permintaan
terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor
produksi tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian
menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan
dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full
employment dimanana biasanya lebih disebabkan oleh rangsangan volume likuiditas dipasar
yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas di pasar juga disebabkan oleh banyak faktor selain
yang utama tentunya kemampuan bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang,
kebijakan suku bunga bank sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor
industri keuangan.

b) Inflasi karena kenaikan biaya-biaya produksi (cost push inflation)

Inflasi ini terjadi karena adanya perubahan tingkat penawaran. Kelangkaan produksi dan/atau
juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada
perubahan yang meningkat secara signifikan. Adanya ketidak-lancaran aliran distribusi ini
atau berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata permintaan normal dapat memicu
kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaan-penawaran, atau juga karena
terbentuknya posisi nilai keekonomian yang baru terhadap produk tersebut akibat pola atau
skala distribusi yang baru. Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat berbagai hal
seperti adanya masalah teknis di sumber produksi (pabrik, perkebunan, dll), bencana alam,
cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi tsb, aksi spekulasi
(penimbunan), dll, sehingga memicu kelangkaan produksi yang terkait tersebut di pasaran.
Begitu juga hal yang sama dapat terjadi pada distribusi, dimana dalam hal ini faktor
infrastruktur memainkan peranan yang sangat penting.

Jenis inflasi ini dibedakan menjadi dua :

Inflasi yang disebabkan karena kenaikan harga (price push inflation) karena kenaikan harga
bahan-bahan baku dan kenaikan upah/gaji, misalnya OPEC menaikan harga minyak;
Inflasi yang disebabkan karena kenaikan upah (wages cosh inflation) misalnya karena
kenaikan gaji pegawai negeri yang diikuti usaha-usaha swasta pula, maka harga-harga barang
barang lain juga ikut naik.Biasanya inflasi karena kenaikan upah atau gaji sangat ditakuti
karena akan bias menimbulkan inflasi secara berkelanjutan.Karena upah naik, harga-harga
akan naik. Karena harga barang naik, maka upah harus dinaikkan dan ini kemungkinan akan
terus berkelanjutan.
3. Inflasi Berdasarkan Asalnya
Inflasi dari segi asalnya dapat dibedakan sebagai berikut :
a) Inflasi yang berasal dalam negeri seperti defisit anggaran belanja Negara yang terus
menerus.

Dalam keadaan seperti ini biasanya pemerintah mengintruksikan Bank Indonesia mencetak
uang baru dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan pemerintah.Selain itu inflasi dari
dalam negeri juga dapat disebabkan oleh adanya gagal panen dan sebagainya.
b) Inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation).

Inflasi ini timbul karena adanya karena adanya inflasi dari luar negeri yang mengakibatkan
naiknya harga barang-barang impor. Inflasi seperti ini biasanya banyak dialami oleh negara-
negara yang sedang berkembang yang notabene sebagian besar usaha produksinya
mempergunakan bahan dan alat dari luar negeri yang timbul karena dari adanya perdagangan
internasional.
4. Kondisi inflasi menurut Samuelson (1998:581), berdasarkan sifatnya inflasi dibagi menjadi
tiga bagian yaitu
1) Merayap {Creeping Inflation)

Laju inflasi yang rendah (kurang dari 10% pertahun), kenaikan harga berjalan lambat dengan
persentase yang kecil serta dalam jangka waktu yang relatif lama.
2) Inflasi menengah {Galloping Inflation)

Ditandai dengan kenaikan harga yang cukup besar dan kadang-kadang berjalan dalam waktu
yang relatif pendek serta mempunyai sifat akselerasi yang arrinya harga-harga minggu/bulan
ini lebih tinggi dari minggu/bulan lalu dan seterusnya.
3) Inflasi Tinggi {Hyper Inflation)

Inflasi yang paling parah dengan dtandai dengan kenaikan harga sampai 5 atau 6 kali dan
nilai uang merosot dengan tajam. Biasanya keadaan ini timbul apabila pemerintah mengalami
defisit anggaran belanja.

C. Penyebab Inflasi

Inflasi selalu dihubungkan dengan jumlah uang yang beredar.Ada beberapa teori yang
menjelaskan tentang penyebab terjadinya inflasi.
1). Teori Kuantitas

Teori ini adalah teori yang tertua yang membahas tentang inflasi, tetapi dalam
perkembangannya teori ini mengalami penyempurnaan oleh para ahli ekonomi Universitas
Chicago, sehingga teori ini juga dikenal sebagai model kaum moneteris (monetarist models).
Teori ini menekankan pada peranan jumlah uang beredar dan harapan (ekspektasi)
masyarakat mengenai kenaikan harga terhadap timbulnya inflasi. Inti dari teori ini adalah
sebagai berikut :
1. Inflasi hanya bisa terjadi kalau ada penambahan volume uang beredar, baik uang
kartal maupun giral.
2. Laju inflasi juga ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang beredar dan oleh
harapan (ekspektasi) masyarakat mengenai kenaikan harga di masa mendatang.
Teori ini hampir sama dengan teori kuantitas keduanya berpendapat bahwa tingkat harga
terutama ditentukan oleh jumlah uang yang beredar. Hal ini terlihat karena hubungan antara
jumlah uang dan nilai uang,bila jumlah uang bertambah maka harga-harga akan naik.Ini
berarti nilai uang menurun karena daya belinya menjadi rendah. Menurut teori kuantitas
harga-harga adalah proporsi langsung dari jumlah uang yang beredar atau sering di tulis
sebagai berikut.

P = k . M
Keterangan :
P : tingkat harga
k : proporsi tertentu
M : jumlah uang

Tokoh yang sependapat dengan teori kuantitas adalah Irving Fisher yaitu yang dikenal Teori
Jumlah Peredaran Uang (Quantity Theory of Money).Beliau mengemukakan rumus untuk
membuktikan bahwa jumlah uang yang dibayarkan oleh pembeli akan sama dengan jumlah
uang diterima oleh penjual yaitu :

MV = PT
Keterangan :
M : Jumlah uang yang beredar
V : Kecepatan perputaran uang
P : Tingkat harga
T : Banyaknya transaksi

2). Teori Keynes

Teori Keynes memiliki pandangan bahwa yang paling menentukan kestabilan kehidupan
ekonomi nasional adalah permintaan masyarakat (effective demand), hal ini terkait dengan
produksi dan kapasitas produksi yang tersedia.Rendahnya kapasitas barang yang diproduksi
berakibat harga barang menjadi naik,akibatnya timbul lagi inflasi.
Dasar pemikiran model inflasi dari Keynes ini, bahwa inflasi terjadi karena masyarakat ingin
hidup di luar batas kemampuan ekonomisnya, sehingga menyebabkan permintaan efektif
masyarakat terhadap barang-barang (permintaan agregat) melebihi jumlah barang-barang
yang tersedia (penawaran agregat), akibatnya akan terjadi inflationary gap. Keterbatasan
jumlah persediaan barang (penawaran agregat) ini terjadi karena dalam jangka pendek
kapasitas produksi tidak dapat dikembangkan untuk mengimbangi kenaikan permintaan
agregat. Oleh karenanya sama seperti pandangan kaum monetarist, Keynesian models ini
lebih banyak dipakai untuk menerangkan fenomena inflasi dalam jangka pendek. Dengan
keadaan daya beli antara golongan yang ada di masyarakat tidak sama (heretogen), maka
selanjutnya akan terjadi realokasi barang-barang yang tersedia dari golongan masyarakat
yang memiliki daya beli yang relatif rendah kepada golongan masyarakat yang memiliki daya
beli yang lebih besar. Kejadian ini akan terus terjadi di masyarakat. Sehingga, laju inflasi
akan berhenti hanya apabila salah satu golongan masyarakat tidak bisa lagi memperoleh dana
(tidak lagi memiliki daya beli) untuk membiayai pembelian barang pada tingkat harga yang
berlaku, sehingg permintaan efektif masyarakat secara keseluruhan tidak lagi melebihi
supply barang (inflationary gap menghilang)

3). Teori Strukturalis

Teori ini menitik beratkan pada Negara-negara yang sedang berkembang. Menurut teori ini
yang mempengaruhi perekonomian ada dua hal penting yang dapat menimbulkan inflasi yaitu
:
a) Ketidakelastisan Penerimaan Ekspor.
Nilai ekspor tumbuh secara lamban di banding pertumbuhan sector-sektor lain. Adapun
penyebabnya yaitu :

Dipasar dunia,harga barang-barang ekspor dari negara tersebut semakin memburuk.
Produksi barang-barang ekspor tidak responsif terhadap kenaikan harga.
b) Ketidakelastisan penawaran atau produksi Bahan Makanan di dalam Negeri.

Produksi bahan makanan dalam negeri tidak tumbuh secepat pertambahan penduduk dan
pendapatan per kapita.Hal ini menyebabkan harga bahan makanan di dalam negeri cenderung
untuk naiksehingga melebihi kenaikan harga barang-barang lain.Dampak yang ditimbulkan
yaitu timbulnya tuntutan karyawan untuk mendapatkan kenaikan upah dan gaji.Naiknya upah
dan gaji menyebabkan kenaikan ongkos produksi yang memacu kenaikan harga barang pula.
Inflasi dapat disebabkan oleh kombinasi dari empat faktor:

1. Persediaan Uang yang bertambah The supply of money goes up.
2. Supply dari barang yang berkurang
3. Permintaan terhadap uang tersebut menurun
4. Permintaan untuk barang barang lain naik. (Donny S. Makalew)
D. Pengaruh Inflasi

Inflasi dapat menyebabkan prekonomian tidak berkembang secara normal. Dalam kaitanya
dengan pertumbuhan ekonomi, inflasi dapat membawa pengaruh sebagai berikut :
a) Inflasi mendorong penanaman modal spekulatif

Pada saat inflasi, para pemilik modal cenderung melakukan investasi spekulatif,misalnya
dengan cara membeli tanah,rumah,atau menyimpan barang-barang berharga yang lebih
menguntungkan bila dibandingkan melakukan investasi produktif yang belum tentu akan
memberikan kontribusi positif untuk selanjutnya.
b) Inflasi menimbulkan ketidakpastian keadaan ekonomi di masa depan.

Inflasi akan semakin berkembang bila tidak di kendalikan. Gagal mengendalikan inflasi akan
menimbulkan ketidakpastian ekonomi serta sulit di ramalkan sehingga akan dapat
mengurangi kegairahan pengusaha untuk mengembangkan kegiatan ekonomi.
c) Inflasi menimbulkan masalah neraca pembayaran

Inflasi menyebabkan harga barang-barang impor lebih murah bila dibandingkan dengan harga
barang produksi dalam negeri.Maka impor berkembang lebih cepat,tetapi ekspor akan
bertambah lambat.Dengan demikian arus modal ke luar negeri akan lebih banyak dari pada
yang masuk ke dalam negeri.Keadaan seperti ini akan mengakibatkan terjadinya defisit
neraca pembayaran dan kemerosotan nilai mata uang dalam negeri.

E. Akibat Inflasi

Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi.
Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat
mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat
orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam
masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan
perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak
bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga
meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau
karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi
harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.
Secara singkat dapat di pilah akibat buruk dari inflasi tersebut.

1. Kesenjangan Distribusi Pendapatan

Dalam keaadaan inflasi nilai harta tetap seperti tanah, rumah, bangunan, pertokoan dan
sebagainya akan mengalami kenaikan harga. Kenaikan harga tersebut seringkali lebih cepat
dari kenaikan inflasi itu sendiri. Sebaliknya pendapatan riil penduduk berpengahasilan rendah
merosot. Dengan demikian maka inflasi memperlebar kesenjangan distribusi pendapatan
antara anggota-anggota masyarakat.
2. Pendapatan Riil Merosot

Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil
contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya
cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 -atau tiga belas tahun
kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya
tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.Dari hal tersebut biasanya dalam masa
inflasi kenaikan harga cenderung selalu mendahului kenaikan pendapatan.Dengan demikian
inflasi cenderung menimbulkan kemerosotan pendapatan riil sebagian besar tenaga kerja.Ini
berarti kemakmuran masyarakat merosot.
3. Nilai Riil Tabungan Merosot

Bagi masyarakat yang menyimpan sebagian kekayaannya dalam benatuk deposito dan
tabungan di Bank, dalam masa inflasi nilai riil tabungan tersebut akan merosot, tidak hanya
itu masyarakat yang memegang uang tunai pun akan dirugikan karena penurunan nilai
riilnya. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga,
nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan
sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang
diperoleh dari tabungan masyarakat.
4. Bagi orang yang meminjam uang dari bank (debitur),

inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih
rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang
meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah
jika dibandingkan pada saat peminjaman.
5. Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi
daripada kenaikan biaya produksi.

Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya
terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi
hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan
produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila
tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut
(biasanya terjadi pada pengusaha kecil).
Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara,
mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif,
kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran,
dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

F. Cara Mengatasi Inflasi

Inflasi merupakan penyabab keresahan masyarakat dan mengakibatkan kekhawatiran
pemerintah. Oleh sebab itu pemerintah berusaha menekan inflasi serendah-rendahnya karena
inflasi tidak dapat dihapuskan sama sekali.
Inflasi ada yang disahkan (validated),yaitu inflasi yang dibiarkan secara terus menerus karena
pemerintah mengizinkan penambahan suplai uang misalnya karena defisit anggaran dengan
mencetak uang baru.Jika inflasi yang yang terjadi tidak disertai dengan kenaikan suplai uang
,maka inflasi itu disebut inflasi yang tidak disahkan.
Inflasi dapat menguntungkan orang lain,sehingga menimbulkan ketegangan social.Oleh sebab
itu,tiap-tiap Negara berusaha menghindari inflasi dengan melakukan kebijakan-
kebijakan.Untuk mengatasi inflasi Bank sentral memainkan peranan penting dalam
mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan
tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan
yang independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar
bank sentral -termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan
bahwa bank sentral yang kurang independen salah satunya disebabkan intervensi
pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian
akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi.
Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga
sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban
mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai
sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal
(kurs). Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia,
termasuk oleh Bank Indonesia.
Secara umum terdapat dua kebijakan yang dilakukan untuk menekan laju inflasi diantaranya
kebijakan moneter dan kebijakan fiskal.

1. Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter adalah tindakan atau kebijakan yang diambil oleh penguasa moneter
biasanya bank sentraluntuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar sehingga akan terjadi
perubahan jumlah uang yang beredar yang pada akhirnya akan mempengaruhi kegiatan
ekonomi masyarakat. Ada beberapa macam kebijakan moneter yaitu :
a) Politik Diskonto

Politik diskonto (discount policy) adalah politik bank sentral untuk mempengaruhi peredaran
uang dengan jalan menaikan dan menurunkan tingkat bunga.Dengan menaikan tingkat bunga
diharapkan jumlah uang yang beredar di masyarakat akan berkurang, karena orang akan lebih
banyak menyimpan uangnya di Bank dari pada menjalankan investasi.Sebaliknya,Bank
sentral akan menurunkan suku bunga jika timbul deflasi (yang akan dibahas lebih dalam pada
halaman berikutnya).Dengan diturunkannya suku bunga diharapkan masyarakat akan
menarik uangnya dari bank karena bunga tidak memadai.
b) Kebijakan Pasar Terbuka

Untuk memperkuat politik diskonto,kebijakan lain juga di jalankan yaitu dengan politik pasar
terbuka (open market policy) yaitu dengan jalam membeli atau menjual surat-surat
berharga.Dengan membeli surat-surat berharga di harapkan uang yang beredar di masyarakat
bertambah,selanjutnya bila apabila dengan menjual surat-surat berharga diharapkan uang
beredar di masyarakat dapat tersedot dari masyarakat.
c) Kebijakan Persediaan Kas (cash ratio policy)

Bank sentral pada umumnya menentukan cash ratio yaitu angka perbandingan minimum
antara uang tunai yang dimiliki oleh bank umum dengan jumlah uang giral (cek.giro dan
sebagainya) yang dikeluarkan oleh bank yang bersangkutan.
d) Perubahan Cadangan Minimum

Perubahan cadangan minimum yang dimiliki oleh bank-bank umum dapat mempengaruhi
jumlah uang yang beredar.Apabila ketentuan cadangan minimum diturunkan ,jumlah uang
yang beredar cenderung naik dan sebaliknya jika cadangan minimum dinaikan jumlah uang
yang beredar cenderung turun.
2. Kebijakan Fiskal
a) Pengaturan Pengeluaran Pemerintah

Pengaturan pengeluaran sangat perlu di lakukan. Dalam hal ini diharapkan penggunaan
anggaran negara agar sesuai dengan perencaan.Kalau pembelajaan Negara melampui batas
yang telah ditentukan akan mendorong terjadinya pertambahan uang yang beredar begitu juga
sebaliknya.
b) Menaikan Tarif Pajak

Saat terjadi inflasi uang beredar lebih banyak.Jumlah uang beredar tersebut dapat dikurangi
dengan jalan menaikan tariff pajak.Jika tariff pajak dinaikkan uang yang dibelanjakan oleh
masyarakat berkurang.Namun harus diperhatikan agar tidak terjadi ketimpangan atau
ketidakadilan perlu diperhatikan golongan masyarakat mana yang dinaikkan pajaknya.
c) Mengadakan Pimjaman Pemerintah

Pemerintah dapat mngadakan pinjaman pemerintah bauik dengan jalan paksaan ataupun
tidak,untuk mengurangi uang yang beredar di masyarakat.Cara yang paling ampuh dilakukan
untuk menyukseskan kebijakan ini yaitu dengan jalan membekukan simpanan yang dimiliki
oleh masyarakat yang ada di bank.Dapat juga ditempuh dengan jalan memotong gaji pegawai
negeri untuk di tabung.
3. Kebijakan Non-Moneter
a) Menaikan Hasil Produksi

Kenaikan hasil produksi dapat memperkecil laju inflasi.Kenaikan hasil produksi dapat
dilakukan dengan cara kebijakan penurunan bea masuk.Hal ini akan berakibat impor barang
meningkat.Pertambahan jumlah barang di dalam negericenderung menurunkan harga.
b) Kebijakan Upah

Kebijakan upah adalah tindakan menstabilkan upah dan gaji dengan cara gaji tidak sering
dinaikan.Kenaikan gaji dan upah akan menimbulkan kenaikan daya beli.Hal ini pada
akhirnya menaikan permintaan terhadap barang-barang secara keseluruhan.Apabila hal ini
terjadi,maka akan menimbulkan inflasi.
c) Pengaman harga dan distribusi barang

Pemerintah harus dapat mengendalikan kenaikan harga berbagai macam barang. Oleh karena
itu,pemerintah menetapkan harga maksimum (harga eceran tertinggi), melakukan
pengamanan harga, menetapka sanksi yang cukup berat.Apabila penetapan harga tidak
disertai dengan pengamanan yang baik,maka tidak akan memberikan hasil yang diharapkan.
Namun, kadang-kadang pengamanan harga oleh pemerintah sering menimbulkan pasar yang
tidak diinginkan.(pasar gelap).

G. Menghitung Laju Inflasi

1. GNP Deflator

GNP Deflator adalah rasio GNP (Gross National Product) nominal pada tahun tertentu
terhadap GNP riil pada tahun tersebut. Hal ini merupakan ukuran inflasi dari periode dimana
harga dasar untuk perhitungan GNP riil digunakan sampai GNP sekarang.Perhitungan cara
ini melibatkan semua barang yang di produksi.
GNP Deflator = (GNP Nominal : GNP Riil) x 100%
2. Indeks Harga Konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI)

Indeks Harga Konsumen berfungsi mengukur biaya pembelian kelompok barang dan jasa
yang di anggap mewakili belanja konsumen. Biasanya, kelompok barang yang digunakan
masyarakat dapat berubah. Hal ini disesuaikan dengan pola konsumsi yang ada.
Inflasi yang diukur dengan IHK di Indonesia dikelompokan ke dalam 7 kelompok
pengeluaran (berdasarkan the Classification of individual consumption by purpose
COICOP), yaitu :
1) Kelompok Bahan Makanan
2) Kelompok Makanan Jadi, Minuman, dan Tembakau
3) Kelompok Perumahan
4) Kelompok Sandang
5) Kelompok Kesehatan
6) Kelompok Pendidikan dan Olah Raga
7) Kelompok Transportasi dan Komunikasi.
Perbedaan IHK dan GNP Deflator sebagai berikut :
a) GNP Deflator mengukur harga barang lebih besar daripada IHK.
b) IHK mengukur biaya pembelian yang relative sama dari tahun ke tahun.Hal ini
tergantung jenis dan jumlah barang yang di produksi.
c) IHK secara langsung mencakup barang impor,sedangkan GNP Deflator hanya
mencakup barang yang di produksi dalam negeri.

3. Indeks Harga Produsen (IHP)

Indeks Harga Produsen (IHP) ini mengukur harga barang yang dibeli oleh produsen,yang
meliputi bahan mentah dan barang setengah jadi.IHP juga digunakan untuk mengukur indeks
harga pada awal distribusi.Kenaikan IHP dapat dijadikan tanda kenaikan IHK.
4. Indeks biaya hidup atau cost-of-living index (COLI).
5. Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur harga dari komoditas-komoditas
tertentu.
6. Indeks harga barang-barang modal


DEFLASI

A. Pengertian Deflasi

Dalam ekonomi, deflasi adalah suatu periode dimana harga-harga secara umum jatuh dan
nilai uang bertambah. Deflasi adalah kebalikan dari inflasi. Bila inflasi terjadi akibat
banyaknya jumlah uang yang beredar di masyarakat, maka deflasi terjadi karena kurangnya
jumlah uang yang beredar. Ada pula deflasi didefinisikan sebagai meningkatnya permintaan
terhadap uang berdasarkan jumlah uang yang berada di masyarakat.
B. Penyebab Deflasi
Ada beberapa hal yang dapat menjadi penyebab deflasi :
1. Menurunnya Persediaan Uang di Masyarakat.

Menurunnya jumlah persediaan uang di masyarakat ini cenderung disebabkan karena
sebagian besar masyarakat menyimpan uangnya di bank.Masyarakat menyimpan uangnya di
bank kemungkinan disebabkan oleh tingkat suku bunga yang tinggi karena dapat memberikan
keuntungan yang cukup tinggi.Sehingga dengan demikian persediaan uang yang ada di
masyarakat semakin berkurang.Jika persediaan uang lebih sedikit bila dibandingkan dengan
jumlah barang maka akan dapat menimbulkan deflasi.
2. Meningkatnya Persediaan Barang

Kadang kala produksi barang tidak bisa di bendung apabila permintaan barang
meningkat.Produsen cenderung terus meningkatkan produksinya pada saat kondisi seperti
itu.Jika jumlah barang yang diproduksi tersebut tidak habis terjual kepada konsumen dan
produksi tetap dilakukan sedangkan permintaan akan barang semakin berkurang maka akan
dapat meningkatkan jumlah persediaan barang di masyarakat akibatnya harga barang tersebut
semakin menurun karena jumlahnya banyak.
3. Menurunnya Permintaan Akan Barang.

Apabila permintaan akan suatu barang menurun sedangkan produksi tetap dilakukan maka
cenderung hal tersebut akan menurunkan tingkat harga barang yang bersangkutan.

C. Pengaruh dan Akibat Deflasi

1. Penurunan persediaan uang

Deflasi dapat menyebabkan menurunnya persediaan uang di masyarakat dan akan
menyebabkan depresi besar (seperti yang dialami Amerika dulu) dan juga akan membuat
pasar Investasi akan mengalami kekacauan.
2. Memperlambat aktivitas ekonomi

Dikarenakan harga barang mengalami penurunan, konsumen memiliki kemampuan untuk
menunda belanja mereka lebih lama lagi dengan harapan harga barang akan turun lebih jauh.
Akibatnya aktivitas ekonomi akan melambat dan memberikan pengaruh pada spiral deflasi
(deflationary spiral).
3. Dampak susulan dari melesunya kegiatan ekonomi adalah banyak pekerja yang akhirnya
mengalami PHK karena pemiliki bisnis tidak sanggup membayar gaji karyawannya. Dengan
demikian pendapatan yang diterima masyarakat menjadi sedikit dan jumlah uang yang
beredar di masyarakat semakin berkurang.

4. Dari sisi investasi, deflasi juga mengakibatkan melesunya investasi di sektor riil maupun di
lantai bursa. Akibatnya ini akan menambah berat kelesuan ekonomi dikarenakan tidak ada
lagi aktivitas bisnis yang berjalan.

5. Deflasi juga dapat menyebabkan suku bunga disuatu negara menjadi nol persen. Lalu
diikuti juga dengan turunnya suku bunga pinjaman di bank. Ini memang merupakan langkah
paliatif untuk mencegah masyarakat menyimpan uangnya di bank yang dapat membuat
peredaran uang semakin kecil.

Selain itu juga ada dampak positif dan negatif dari deflasi adalah sebagai berikut.
a) Baik, deflasi akan membuat orang menyimpan uang sehingga uang benar-benar
dihargai dan jaminan keamanan sosial politik. Orang akan banyak berinvestasi langsung dan
ketersediaan barang terjamin. Akibatnya nilai mata uang akan menguat.
b) Buruk. deflasi akan membuat jatuh nilai properti. Orang lebih suka mendepositokan
uangnya di bank atau pasar modal daripada beli properti yang tidak naik. Karena harga terus
turun maka produsen cenderung kurang berminat memproduksi barang. Kesempatan kerja
berkurang karena banyak PHK. Pajak tidak dapat ditarik oleh pemerintah sehinga pendapata
negara berkurang. Kegiatan perekonomian secara keseluruhan mengalami kemunduran.

D. Cara Mengatasi Deflasi

Salah satu cara menanggulangi deflasi adalah dengan menurunkan tingkat suku bunga.
Deflasi dapat diibaratkan jatuh sakitnya seseorang karena jarang berolah raga. Apabila
seseorang pada dasarnya memiliki kaki normal namun malas menggunakannya, maka ini
akan mengakibatkan menyusutnya otot-otot kaki yang jarang digunakan tersebut. Dalam
jangka waktu lebih lama orang tersebut akan tidak dapat berjalan sama sekali berhubung otot
sudah terlalu lemah untuk digunakan. Apabila keadaan ini justru didiamkan, bukan tidak
mungkin akan mengalami kelumpuhanselamanya.

Hal ini parallel dengan inflasi. Cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan melatih
kembali otot-otot yang sudah lama tidak digunakan. Meski memakan waktu lama, hal ini
adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan kekuatan otot yang melemah. Dengan kata
lain untuk mencegah deflasi menjadi krisis ekonomi besar, pemerintah dan semua pihak yang
terkait harus bersepakat untuk memulai kembali kegiatan ekonomi yang sempat terhenti
karena salah urus tersebut. Tentu saja ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Lazim
dikatakan oleh para analis eknonomi bahwa deflasi merupakan kondisi krisis moneter yang
sebenarnya tidak memiliki obat yang efektif. Apabila pada inflasi Bank Sentral dapat
menaikkan suku bunga untuk menahannya, menurunkan suku bunga bahkan hingga nol
persen bukanlah jalan keluar bagi deflasi. Pasalnya ini akan membuat pemasukan pemerintah
menjadi nol juga atau bahkan negative. Akibatnya, biaya impor menjadi terbebani sementara
ekspor tidak menunjukkan kenaikan signifikan berhubung melemahnya mata uang
disebabkan oleh aksi spekulan semata-mata.

Cara yang paling lazim digunakan adalah memberikan stimulus ekonomi berupa bantuan
likuiditas ke sektor bisnis. Dengan demikian diharapkan kegiatan ekonomi kembali berputar.
Pemerintah juga dapat memotong pajak dan meningkatkan belanjanya sendiri untuk
menggairahkan perekonomian. Dari sisi Bank Sentral, pemerintah juga dapat meningkatkan
peredaran uang di masyarakat dengan membeli surat hutang sektor swasta dan
menukarkannya dengan uang tunai. Selain itu, juga dapat dilakukan dengan memotong suku
bunga. Namun seperti dijelaskan di atas, memotong suku bunga bukanlah jalan keluar yang
sesungguhnya tetapi hanya sekedar pengobatan sementara untuk menggairahkan ekonomi
dan mengharapkan harga bergerak naik dengan sendirinya.

Selain itu kebijakan moneter dan fiskal juga dapat di terapkan oleh pemerintah.
1. Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter adalah tindakan atau kebijakan yang diambil oleh penguasa moneter
biasanya bank sentraluntuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar sehingga akan terjadi
perubahan jumlah uang yang beredar yang pada akhirnya akan mempengaruhi kegiatan
ekonomi masyarakat.Ada beberapa macam kebijakan moneter yaitu :
a) Politik Diskonto

Politik diskonto (discount policy) adalah politik bank sentral untuk mempengaruhi peredaran
uang dengan jalan menurunkan tingkat bunga.Dengan menurunkan tingkat bunga diharapkan
jumlah uang yang beredar di masyarakat akan bertambah ,karena orang akan lebih banyak
menarik uangnya di Bank dari pada menjalankan investasi.
b) Kebijakan Pasar Terbuka

Untuk memperkuat politik diskonto,kebijakan lain juga di jalankan yaitu dengan politik pasar
terbuka (open market policy) yaitu dengan jalam membeli atau menjual surat-surat
berharga.Dengan membeli surat-surat berharga di harapkan uang yang beredar di masyarakat
bertambah,sehingga uang yang beredar dimasyarakat semakin bertambah.
c) Politik Persediaan Kas (cash ratio policy)

Bank sentral pada umumnya menentukan cash ratio yaitu angka perbandingan minimum
antara uang tunai yang dimiliki oleh bank umum dengan jumlah uang giral (cek.giro dan
sebagainya) yang dikeluarkan oleh bank yang bersangkutan.Pada saat deflasi pemerintah
akan mengurangi persediaan uang kas.Sehingga uang kas yang beredar di masyarakat akan
semakin meningkat.
d) Perubahan Cadangan Minimum

Perubahan cadangan minimum yang dimiliki oleh bank-bank umum dapat mempengaruhi
jumlah uang yang beredar.Apabila ketentuan cadangan minimum diturunkan ,jumlah uang
yang beredar cenderung naik dan sebaliknya jika cadangan minimum dinaikan jumlah uang
yang beredar cenderung turun.Jadi pada saat deflasi pemerintah lewat bank sentral akan lebih
baik menurunkan cadangan minimum.
2. Kebijakan Fiskal
a) Pengaturan Pengeluaran Pemerintah

Pengaturan pengeluaran sangat perlu di lakukan. Dalam hal ini diharapkan penggunaan
anggaran negara agar sesuai dengan perencaan. Kalau pembelajaan negara melampui batas
yang telah ditentukan akan mendorong terjadinya pertambahan uang yang beredar di
masyarakat. Meski demikian diharapkan pembelanjaan negara tidak melampui batas yang
telah ditentukan.
b) Menurunkan Tarif Pajak

Saat terjadi deflasi uang beredar sedikit dimasyarakat. Jumlah uang beredar tersebut dapat
ditambah dengan jalan menurunkan tarif pajak. Jika tariff pajak diturunkan uang yang
dibelanjakan oleh masyarakat cenderung meningkat. Sehingga dengan demikian uang akan
lebih banyak kemasyarakat.
c) Mengadakan Pimjaman Pemerintah
Pemerintah dapat mengadakan pinjaman pemerintah baik dengan jalan paksaan ataupun
tidak,untuk menambah uang yang beredar di masyarakat. Cara yang paling ampuh dilakukan
untuk menyukseskan kebijakan ini yaitu dengan jalan mencairkan simpanan yang dimiliki
oleh masyarakat yang ada di bank lebih banyak.Jika, dalam keadaan deflasi.

3. Kebijakan Non-Moneter
a) Menurunkan Hasil Produksi

Menurunkan hasil produksi dapat memperkecil laju deflasi.Penurunan hasil produksi dapat
dilakukan dengan cara memberikan batasan terhadap produsen. Pengurangan jumlah barang
di dalam negeri cenderung menaikan harga.
b) Kebijakan Upah

Kebijakan upah adalah tindakan menstabilkan upah dan gaji dengan cara gaji sering
dinaikan.Kenaikan gaji dan upah akan menimbulkan kenaikan daya beli.Hal ini pada
akhirnya menaikan permintaan terhadap barang-barang secara keseluruhan.Apabila hal ini
terjadi,maka akan menimbulkan inflasi. Jadi untuk kebijakan ini resiko yang harus dihadapi
cukup besar karena sedikit saja mengalami kesalahan inflasi akan membayangi.




Tingkat Bunga
Bunga adalah imbal jasa atas pinjaman uang. Imbal jasa ini merupakan suatu kompensasi
kepada pemberi pinjaman atas manfaat kedepan dari uang pinjaman tersebut apabila
diinvestasikan. Jumlah pinjaman tersbut disebut "pokok utang" (principal). Persentase dari
pokok utang yang dibayarkan sebagai imbal jasa ( bunga ) dalam suatu periode tertentu
disebut "suku bunga"

Bunga sederhana
Bunga sederhana: merupakan hasil dari pokok utang, suku bunga per periode, dan lamanya
waktu peminjaman.
Rumusan bunga sederhana yaitu: c=pbw, dimana c (bunga sederhana) merupakan hasil dari p
(pokok utang), b (bunga), dan w (waktu). Contohnya: Wiki meminjam Rp 230.000.000 untuk
membeli sebuah mobil baru, dengan suku bunga sebesar 9.5% per tahun dan masa pinjaman
adalah 5 tahun maka bunganya adalah
Rp. 230.000.000 * 0.095 * 5 = Rp. 109.250.000
Bunga sederhana untuk pinjaman Wiki adalah Rp. 109.250.000, maka total pembayaran
pokok utang ditambah bunganya adalah Rp. 339.250.000.
Contoh lainnya, misalnya pokok utangnya adalah Rp. 100.000 :
Utang kartu kredit dimana dikenakan biaya sebesar Rp. 1.000 per harinya maka
1.000/100.000 = 1%/perhari.
Obligasi swasta dimana pembayaran kupon bunga pertamanya adalah sebesar Rp 3.000
setelah 6 bulan sejak tangal penerbitan obligasi dan pembayaran kupon keduanya adalah
Rp. 3.000 pada saat akhir tahun maka hasilnya adalah : (3.000+3.000)/100.000 =
6%/year.
Bunga Deposito yang dibayarkan pada akhir tahun sebesar Rp. 6.000 maka
perhitungannya adalah : 6.000/100.000 = 6%/year.
Bunga berbunga[sunting | sunting sumber]
Bunga berbunga atau disebut juga bunga majemuk: nilai pokok utang ini akan berubah
terus setiap akhir suatu periode dengan penambahan perhitungan bunga . misalnya pokok
hutang adalah 1.000 dengan bunga 5%/tahun maka periode tahun pertama pokok hutangnya
menjadi 1000+(1.000*5%) = 1.050. Pada periode tahun berikutnya maka perhitungannya
menjadi 1050+(1050*5%)= 1.102,50.
Suku bunga tetap dan mengambang[sunting | sunting sumber]
"Suku bunga tetap" adalah suku bunga pinjaman tersebut tidak berubah sepanjang masa
kredit.
"Suku bunga mengambang" adalah suku bunga yang berubah-ubah selama masa kredit
berlangsung dengan mengikuti suatu kurs referensi tertentu seperti
misalnya LIBOR dimana cara perhitungannya dengan menggunakan sistem penambahan
marjin terhadap kurs referensi.
Kombinasi atas suku bunga tetap dan mengambang ini dimungkinkan serta sering digunakan.
Misalnya pada suatu kredit pemilikan rumah dimana disepakati bahwa hingga tahun ketiga
bunganya adalat tetap yaitu 8.5% dan bunga untuk tahun selanjutnya akan ditetapkan sebesar
2% di atas LIBOR.
PENGERTIAN TINGKAT BUNGA

Menurut Karl dan Fair suku bunga adalah pembayaran bunga tahunan dari suatu
pinjaman, dalam bentuk persentase dari pinjaman yang diperoleh dari jumlah bunga yang
diterima tiap tahun dibagi dengan jumlah pinjaman. Pengertian suku bunga adalah harga
dari pinjaman.Suku bunga dinyatakan sebagai persentase uang pokok per unit waktu.Bunga
merupakan suatu ukuran harga sumber daya yang digunakan oleh debitur yang harus
dibayarkan kepada kreditur.
1. Fungsi Suku Bunga
Adapun fungsi suku bunga menurut adalah :
a. Sebagai daya tarik bagi para penabung yang mempunyai dana lebih untuk diinvestasikan.
b. Suku bunga dapat digunakan sebagai alat moneter dalam rangka mengendalikan
penawaran dan permintaan uang yang beredar dalam suatu perekonomian. Misalnya,
pemerintah mendukung pertumbuhan suatu sektor industri tertentu apabila perusahaan-
perusahaan dari industri tersebut akan meminjam dana. Maka pemerintah memberi tingkat
bunga yang lebih rendah dibandingkan sektor lain.
c. Pemerintah dapat memanfaatkan suku bunga untuk mengontrol jumlah uang beredar. Ini
berarti, pemerintah dapat mengatur sirkulasi uang dalam suatu perekonomian.
2. Pengukuran Tingkat Bunga
Instrument pasar utang di bagi menjadi empat jenis, yaitu pinjaman sederhana,
pinjaman dengan pembayaran tetap, obligasi kupon, dan obligasi tanpa kupon atau obligasi
diskonto.Keempat instrument pasar utang ini dapat digunakan untuk mengukur tingkat
bunga.Tingkat bunga pasar utang berbeda dengan tingkat bunga bank sentral karena tingkat
bunga bank sentral merupakan salah satu instrument kebijakan moneter, tetapi tingkat
bunga bank sentral terintegrasi dengan tingkat bunga pasar utang.
a. Pinjaman Sederhana
Pinjaman sederhana ( simple loan ) adalah sejumlah pinjaman debitur yang dibayar
kembali pada waktu jatuh tempo ditambah bunga pinjaman. Dari pinjaman sederhana
tingkat bunga dihitung sebagai berikut :
R = (TP LV)/ LV x 100 %
Dimana :
R = tingkat bunga nominal
TP = total pembayaran
LV = nilai pinjaman
Misalkan bank membuat pinjaman sederhana terhadap pelanggan atau debitur bank
senilai Rp. 100 juta dengan waktu jatuh tempo satu tahun.Debitur atau pelanggan bank
tersebut membayar kembali pinjaman ditambah bunga sebesar Rp. 110 juta sesudah satu
tahun.Berdasarkan persamaan di atas, tingkat bunga dari pinjaman tersebut adalah 10
persen per tahun.
b. Pinjaman Pembayaran Tetap
Pinjaman pembayaran tetap ( fixed payment loan ) adalah sejumlah pinjaman debitur
yang dibayar setiap periode di tambah bunga pinjaman dengan jumlah tetap, biasanya per
bulan. Masalah dalam pinjaman pembayaran tetap adalah menentukan pembayaran tetap
awal tahun. Formula pinjaman pembayaran tetap adalah :
LV = FP/(1+R) + FP/(1+R)
2
+ + FP/(1+R)
T

LV = FP x (1-1/(1+R)
T
)/R
Di mana:
FP = jumlah pembayaran tetap
T = periode waktu jatuh tempo
Misalkan bank memberikan pinjaman sebesar Rp. 100 juta dengan pembayaran tetap
selama 20 tahun dan tingkat bunga 12 persen per tahun. Jumlah pembayaran tetap per
tahun selama 20 tahun adalah Rp. 13,388 juta atau Rp. 1,116 juta per bulan [ 100 =
(FP/0,12) x (1-1/1,12
20
.
c. Obligasi Kupon
Obligasi kupon ( cupon bond ) artinya penerbit atau penjual obligasi membayar bunga
tetap (coupon payment ) kepada pemegang obligasi setiap tahun dan nilai nominal pada
waktu jatuh tempo. Masalah umum pada obligasi kupon, dimana system pembayaran
hamper sama dengan pinjaman pembayaran tetap, yaitu :
P = C/(1+R) + C/(1+R)
2
+ + C/(1+R)
n
+ F/(1+R)
T

P = C x (1-1/(1+R)
T
)/R + F/(1+R)
T

Dimana :
P = harga obligasi kupon
C = kupon obligasi
F = nilai nominal obligasi
d. Obligasi Tanpa kupon atau Obligasi Diskonto
Obligasi diskonto ( discount bond atau zero-coupond bond ) adalah obligasi tanpa kupon
yang dibeli dibawah harga nominal dan dibayar kembali besar nominal sesudah jatuh
tempo. Metode perhitungan tingkat bunga dari obligasi diskonto atau tanpa kupon mirip
dengan perhitungan pinjaman sederhana, yaitu :
R = (F P) / P
Misalkan bila nominal dari satu tahun obligasi jangka pendek pemerintah sebesar Rp. 5
juta dengan harga pembelian Rp. 4,5 juta. Tingkat bunga berdasarkan Persamaan di atas
adalah 11,11 persen [(5-4,5)/4,5].
Dari contoh diatas di tunjukan bahwa harga obligasi dengan tingkat bunga berhubungan
negative. Jika tingkat bunga naik maka harga obligasi turun, sebaliknya jika tingkat bunga
turun maka harga obligasi naik
3. Ukuran Lain Dari Tinggkat Bunga
Pengukuran tingkat bunga paling akurat adalah tingkat hasil jatuh tempo atau YTM.
Ukuran lain dari tingkat bunga ada 2 yaitu Current yield[R
C
] dan yield on a discount
basis atau discount yield[R
DB
] masing masing adalah :
R
c
= C/P
R
DB
= (F P)

/F x 360/ Hari jatuh tempo
4. Tingkat Bunga Nominal Dan Riil
Suku bunga nominal adalah suku bunga yang bisa kita lihat di bank atau media
cetak.Suku bunga nominal cenderung naik seiring dengan angka inflasi.
Suku bunga riil adalah suku bunga setelah dikurangi dengan inflasi ( suku bunga riil =
suku bunga nominal ekspektasi inflasi).
Persamaan fisher menjelaskan bahwa tingkat bunga nominal adalah tingkat bunga riil
di tambah ekspektasi inflasi, yaitu :
1 + R = (1 + r)(1 +
c
)
1 + R = 1 + r +
c
+ r
c
, dimana r
c
0
R = r +
c
atau r = R -
c


Dimana :
r = tingkat bunga riil
R = tingkat bunga nominal

c
= tingkat ekspektasi inflasi
Perbedaan tingkat bunga riil dan tingkat bunga nominal penting karena tingkat bunga
riil menjelaskan biaya riil dari pinjaman dan merupakan indicator penting untuk intensif
meminjam dan member pinjaman. Sejalan dengan pengertian tingkat bunga riil maka
tingkat bunga nominal merupakan ukuran dari pertumbuhan uang .obligasi dimana
pembayaran tingkat kupon dan pokok utang disesuaikan dengan perubahan tingkat inflasi
disebut obligasi berindeks.

Pengertian Suku Bunga (Interest rate)
Perubahan tingkat suku bunga akan berdampak pada perubahan jumlah investasi di suatu
negara, baik yang berasal dari investor domestik maupun dari investor asing, khususnya pada
jenis invesatsi portfolio yang umunya berjangka pendek. Perubahan tingkat suku bunga ini akan
berpengaruh pada perubahan jumlah permintaan dan penawaran di pasar uang domestik.
Apabila dalam suatu negara terjadi peningkatan aliran modal masuk (capital inflows) di luar
negeri, hal ini menyebabkan terjadinya perubahan nilai tukar mata uang negara tersebut
terhadap mata uang asing di pasar valuta asing (dalam Madura, 2000, p. 101).
Adapun pengertian suku bunga (interest rate) (dalam Samuelson dan Nordaus, 1992, p.500 ):
a. Interest adalah pembayaran yang dilakukan atas penggunaan sejumlah uang.
b. Interest rate adalah jumlah interest yang dibayarkan per unit waktu atau orang harus
membayar untuk kesempatan meminjam uang.
c. Karakteristik pinjaman dari tingkat suku bunga yang berbeda dapat dilihat dari :
1. Term or maturity
Merupakan jangka waktu atau jatuh tempo, dimana mereka harus membayarnya.
2. Risk
Beberapa pinjaman pada umumnya tidak beresiko, sementara yang lain mengandung tingkat
inflasi spekulasi yang tinggi.
3. Liquidity
Aktiva dikatakan likuid apabila dapat diubah dalam bentuk tunai (cash) secara cepat dan dengan
kerugian nilai yang sedikit pula.
4. Administrative costs.
Biaya administrasi yang dibebankan pada para peminjam atas kelalaian dan urusan administrasi.

d. Suku bunga diskonto adalah tingkat suku bunga yang dibayar oleh Bank-bank umum apabila
meminjam uang dari Bank Sentral. Menurut Weston dan Copeland (1998, p. 184), suku bunga
dalam keseimbangan suatu pasar merupakan harga suatu waktu, dimana harga tersebut adalah
hasil pengembalian yang menyamakan pinjaman dan pemberian pinjaman dalam kegiatan
ekonomi. Suatu tingkat suku bunga akan cenderung naik apabila jumlah uang lebih sedikit dan
permintaan terhadap uang lebih banyak. Begitu pula sebaliknya, tingkat suku akan cenderung
turun apabila jumlah uang lebih banyak/besar dan permintaan terhadap uang lebih sedikit.
Sedangkan teori paritas suku bunga merupakan salah satu teori yang penting mengenai
penentuan tingkat bunga dalam sistem devisa bebas. Teori ini pada dasarnya bahwa tingkat
bunga di suatu negara akan cenderung sama dengan tingkat bunga di negara lain, setelah
diperhitungkan perkiraan laju depresiasi mata uang suatu negara dengan negara lain.
Berdasarkan Shapiro ( 1994, p. 164 ) bahwa yang dimaksud dengan Interest Parity adalah suatu
kondisi di mana perbedaan tingkat suku bunga sama dengan perbedaan forward di pasar yang
efisien dengan asumsi tidak ada biaya transaksi (no transaction cost).

Tipe-tipe Suku Bunga
Ada 2 tipe suku bunga, yaitu :

1. Real interest rate
Koreksi atas tingkat inflsi dan didefinisikan sebagai nominal interest rate dikurangi dengan
tingkat inflasi.
Real rate = Nominal rate Rate of inflation
2. Nominal interest rate.
Tingkat suku bunga yang biasanya tertera di rekening koran dimana mereka memberikan tingkat
pengembalian untuk setiap investasi yang dilakukan.

Peran Suku Bunga dalam Perekonomian
Tingkat bunga menentukan jenis-jenis investasi yang akan memberi keuntungan kepada para
pengusaha. Para pengusaha akan melaksanakan investasi yang mereka rencanakan hanya apabila
tingkat pengembalian modal yang mereka peroleh melebihi tingkat bunga. Dengan demikian
besarnya investasi dalam suatu jangka waktu tertentu adalah sama dengan nilai dari seluruh
investasi yang tingkat pengembalian modalnya adalah lebih besar atau sama dengan tingkat
bunga.
Apabila tingkat bunga menjadi lebih rendah, lebih banyak usaha yang mempunyai tingkat
pengembalian modal yang lebih tinggi daripada tingkat suku bunga. Semakin rendah tingkat
bunga yang harus dibayar para pengusaha, semakin banyak usaha yang dapat dilakukan para
pengusaha. Semakin rendah tingkat bunga semakin banyak investasi yang dilakukan para
pengusaha (Sukirno, 1998)