Anda di halaman 1dari 12

Latar Belakang

Pada dasarnya, sel mengandung dua asam nukleat yaitu DNA dan RNA. DNA terletak
pada kromosom, dijumpai di nukleus, mitokondria dan kloroplas. Sedangkan RNA dijumpai di
nukleus, sitoplasma, dan ribosom. DNA ada dalam setiap sel makhluk hidup. Zat ini disebut
cetak biru kehidupan karena memiliki peranan yang sangat penting, yaitu sebagai pembawa
informasi hereditas yang menentukan struktur protein dan proses metabolisme lain. DNA bisa
mengalami denaturasi dan renaturasi. Banyak hal yang mempengaruhi prosestersebut, antara lain
suhu yang tinggi, pH ekstrim, kandungan elektrolit Na+ atau K+ dan komposisi basa C-G.
(Hays, 2005).
Untuk mendapatkan DNA murni dari suatu sel dalam jaringan tubuh makhluk hidup dapat
dilakukan suatu teknik isolasi DNA. Zubaidah (2004: 38) menyatakan bahwa isolasi DNA dapat
dilakukan dengan berbagai cara, akan tetapi pada setiap jenis maupun bagian tanaman dapat
menimbulkan masalah berbeda, antara lain karena adanya senyawa polifenol dan polisakarida
dalam konsentrasi tinggi yang dapat menghambat pemurnian DNA dan juga mempengaruhi
enzim-enzim seperti polimerase, ligase, endonuklease restriksi, atau enzim untuk kegiatan
molekuler lain yang dapat menyebabkan DNA tidak dapat digunakan untuk aplikasi penelitian.

1.2 Tujuan
- Untuk mengetahui cara atau metode mengisolasi DNA pada buah
- Untuk mengetahui keefektifan deterjen dan buah pada percobaan isolasi DNA.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DNA merupakan persenyawaan kimia yang paling penting pada makhluk hidup, yang
membawa keterangan genetik dari sel khususnya atau dari makhluk dalam keseluruhannya dari
satu generasi ke generasi berikutnya. Molekul DNA terdapat pada nukleus, mitokondria, plastida
dan sentriol. Molekul DNA pada nucleus memiliki bentuk sebagai benang lurus dan tidak
bercabang, sedangkan DNA yang terletak pada mitokondria dan plastida berbentuk lingkaran
(Suryo, 2012 : 59).
DNA pada makhluk hidup dapat diisolasi secara sederhana. Pengisolasian DNA secara
sederhana dapat dilakukan dengan memecahkan dinding sel, membran plasma dan membran inti
baik secara mekanik maupun secara kimiawi. Isolasi DNA merupakan suatu teknik yang
digunakan untuk memperoleh DNA murni, yaitu tanpa protein dan RNA dari suatu sel dalam
jaringan.
Pemecahan dinding sel secara mekanik dapat dilakukan dengan pemblenderan atau
penggerus menggunakan mortar dan pistil. Sedangkan secara kimiawi dapat dilakukan dengan
pemberian detergen. Penambahan sabun cair dan garam dapur adalah untuk melisiskan membran
inti untuk mengeluarkan isi inti sel yang berisi DNA.
Setelah menunggu beberapa saat terjadi presipitasi pada lapisan atas bukan lapisan bawah,
yang menunjukkan bahwa DNA tidak larut dalam etanol tetapi larut dalam air. Ketika molekul
DNA terlarut, mereka tersebar dalam larutan sehingga tidak terlihat. Ketika molekul tersebut
berpindah kedalam larutan yang bukan pelarut meraka akan berkumpul/ menggumpal sehingga
dapat dilihat. Presipitat DNA terlihat seperti serabut-serabut putih yang terkumpul diatas
permukaan larutan karena masa jenis etanol lebih kecil dari pada masa jenis air. Etanol yang
digunakan harus benar-benar dingin dan berasal dari lemari pendingin, hal ini bertujuan untuk
menyempurnakan presipitasi. Apabila etanol yang digunakan kurang dingin, maka
mengakibatkan pembentukan presipitat kurang sempurna.
DNA (Deoxyribose Nucleic Acid) adalah master molecul (molekul utama) yang mengkode
semua informasi yang dibutuhkan untuk proses metabolisme dalam setiap organisme (Jamilah,
2005). DNA ini tersusun atas 3 komponen utama yaitu gula deoksiribosa, basa nitrogen dan
fosfat yang tergabung membentuk nukleotida (Istanti, 1999). Molekul DNA ini terikat
membentuk kromosom, dan ditemukan di nukleus, mitokondria dan kloroplas. DNA yang
menyusun kromosom ini merupakan nukleotida rangkap yang tersusun heliks ganda (double
helix), dimana basa nitrogen dan kedua benang polinukleotida saling berpasangan dalam
pasangan yang tetap melalui ikatan hidrogen dan antara nukleotida yang satu dengan nukleotida
yang lain dihubungkan dengan ikatan fosfat. DNA terdapat di dalam setiap sel makhluk hidup
dan disebut sebagai cetak biru kehidupan karena molekul ini berperan penting sebagai
pembawa informasi hereditas yang menentukan struktur protein dan proses metabolisme lain
(Jamilah, 2005).
DNA dapat mengalami denaturasi dan renaturasi. Selain itu DNA juga bisa diisolasi.
Zubaidah (2004) dalam Jamilah (2005) menyatakan bahwa isolasi DNA dapat dilakukan melauli
tahapan-tahapan antara lain: preparasi esktrak sel, pemurnian DNA dari ekstrak sel dan
presipitasi DNA. Meskipun isolasi DNA dapat dilakukan dengan berbagai cara, akan tetapi pada
setiap jenis atau bagian tanaman dapat memberikan hasil yang berbeda, hal ini karena adanya
senyawa polifenol dan polisakarida dalam konsentrasi tinggi yang dapat menghambat pemurnian
DNA. Jika isolasi DNA dilakukan dengan sampel buah, maka kadar air yang pada masing-
masing buah berbeda, dapat memberi hasil yang berbeda pula. Buah dengan kadar air tinggi akan
menghasilkan isolat yang berbeda jika dibandingkan dengan buah berkadar air rendah. Semakin
tinggi kadar air maka sel yang terlarut di dalam ekstrak akan semakin sedikit, sehingga DNA
yang terpretisipasi juga akan sedikit.
Proses isolasi DNA diawali dengan proses ekstraksi DNA. Hal ini bertujuan untuk
memisahkan DNA dengan partikel lain yang tidak diinginkan. Proses ini harus dilakukan dengan
hati-hati, sehingga tidak menyebabkan kerusakan pada DNA. Untuk mengeluarkan DNA dari
sel, dapat dilakukan dengan memecahkan dinding sel, membran plasma dan membran inti baik
dengan cara mekanik maupun secara kimiawi. Cara mekanik bisa dilakukan dengan
pemblenderan atau penggerus menggunakan mortar dan pistil. Sedangkan secara kimiawi dapat
dengan pemberian yang dapat merusak membran sel dan membran inti, salah satunya adalah
deterjen.
Penambahan deterjen dalam isolasi DNA dapat dilakukan karena deterjen dapat
menyebabkan rusaknya mebran sel, melalui ikatan yang dibentuk melalui sisi hidrofobik deterjen
dengan protein dan lemak pada membran membentuk senyawa lipid protein-deterjen
kompleks. Senyawa tersebut dapat terbentuk karena protein dan lipid memiliki ujung hidrofilik
dan hidrofobik, demikian juga dengan deterjen, sehingga dapat membentuk suatu ikatan kimia
(Machmud, 2006).

BAB III
METODE KERJA
3.1 Alat dan Bahan
Alat Bahan
- Tabung Reaksi
- Rak tabung reaksi
- Gelas kimia
- Gelas ukur
- Batang Pengaduk
- Spatula
- Pipet Volumetrik
- Pipet tetes
- Cawan petri
- Corong
- Buah Pisang
- Buah Pepaya
- Buah Strawberry
- Buah Tomat
- Deterjen Rinso dan Attack
- Aquadest
- Etanol 96%
- Batu es
3.2 Prosedur Kerja

Attack dan Rinso


- Dilarutkan kedalam 60 ml aquades
- Diaduk pelan selama 15 menit.


- Dimasukkan kedalam
mesin blender
- Kemudian diblender
selama 40 detik



- Dicampurkan dengan masing-
masing 4 mL jus buah




100 gram dagingbuah di tambah 100 ml Aquades.








4 mlMasing-masinglarutan sabun








1 spatula garamdapur






- Ditambahkan
- kemudian diaduk selama 10 menit sampai diperoleh campuran yang homogen.
Campuranyangdihasilkanpada pointsebelumnya



- Disaring sebanyak dua kali penyaringan



- Dimasukkan kedalam
tabung reaksi dan
- Ditambahkan 5 mL etanol
96% dingin






















6 ml hasilpenyaringan








Meliputiwaktuyangdiperlukan,,warnasertabanyaksedikitnya
DNA yangterbentuk.







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
No
.
Buah Perlakuan
Hasil Pengamatan
Warna Bentuk Waktu Jumlah
1. Pepaya
Rinso Keruh ke-orange-
an
Benang yang
menggumpal
65 s ++++
Attack Fasa ke-3 keruh,
fasa ke-4 bening
4 fasa: kabut
(atas),
gumpalan
(fasa 2), fasa
ke-3 dan 4
larutan keruh
dan bening
145 s +++
2. Pisang
Rinso Fasa bawah
bening, fasa atas
kabut
Benang yang
menggumpal,
kabut
25 s +++
Attack Fasa bawah
bening, fasa atas
kabut
benang 33,74 s ++
3.
Strawber
i
Rinso Kelabu Kabut 1 s ++
Attack Putih Kabut 1 s +++
4. Tomat
Attack Keruh Kabut
berbenang
42,97 s +++
Rinso Putih Kabut,
serabut
120 s +++


4.2 Pembahasan
Praktikum ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh macam buah dan jenis deterjen
terhadap kualitas DNA yang dihasilkan dalam proses isolasi. Buah yang digunakan dalam proses
isolasi DNA ini adalah buah buah pepaya, tomat, strawberry dan pisang. Sedangkan jenis
deterjen yang dipakai adalah deterjen bubuk Attack dan Rinso. Halyang pertama kami lakukan
yaitu, menyiapkan buah-buahan yang akan diblender. Sumber DNA ini diblender bertujuan untk
merusak membran sel, dinding sel dan membrane inti sehingga DNA bisa keluar dari sel dan
masuk ke larutan. Setelah diblender, ekstrak buah ditambah garam dapur dan kemudian diaduk
selama 10 menit. Kemudian disaring serta ditambah etanol absolute dingin. Penambahan NaCl
bertujuan untuk memudahkan pemisahan benang-benang DNA dari larutan sehingga benang-
benang DNA tersebut akan mudah diamati.
Untuk buah pepaya, DNA yang paling banyak ditemukan pada filtrate yang berisi larutan
Attack yang juga mempunyai waktu pembentukan benang-benang DNA relatif paling cepat
diantara yang lainnya. Untuk rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan benang-
benang pada larutan Attack ini adalah 14,5 detik. Sedangkan yang banyak terbentuk setelah pada
larutan Attack adalah pada larutan Rinso yang mempunyai rata-rata waktu pembentukan benang-
benang DNA 6,5 detik.
Untuk pada sumber DNA yang lain yaitu buah pisang, DNA yang paling banyak
ditemukan pada filtrate yang berisi larutan Attack namun mempunyai waktu pembentukan
benang-benang DNA relatif agak lama diantara yang lainnya. Untuk rata-rata waktu yang
dibutuhkan untuk pembentukan benang-benang pada larutan Attack ini adalah 33,47 detik.
Sedangkan pada larutan rinso mempunyai rata-rata waktu pembentukan benang-benang DNA 2,5
detik.
Adapun pada sumber DNA selanjutnya yaitu buah Strawberry, DNA yang paling banyak
ditemukan pada filtrat yang berisi larutan Attack dan Rinso yang keduanya memiliki kadar
ketebalan DNA yang sama dan mempunyai waktu pembentukan benang-benang DNA yang
sama pula, yaitu untuk rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan benang-benang pada
kedua larutan 1 menit. Sedangkan pada sumber DNA terakhir yaitu buah tomat, pada saat
pembentukan benang-benang nya memiliki waktu yang berbeda. Pada larutan Attack waktu
pembentukan benangnya dibutuhkan selama 42 detik, sedangkan pada larutan Rinso waktu
pembentukan benangnya selama 1,20 detik.
Dari analisis di atas maka dapat disimpulkan bahwa masing-masing sumber DNA
menghasilkan DNA yang berbeda-beda. Selain itu, memiliki waktu pembentukan benang-benang
DNA yang berbeda pula berdasarkan larutan deterjennya.. Bentuk DNA yang dihasilkan pada
pengamatan kali ini adalah berupa benang-benang DNA yang berwarna putih dan berwarna
kelabu. Perbedaan waktu ini dapat dipengruhi oleh beberapa factor selain perbedaan deterjen dan
sumber DNA, juga dapat dipengaruhi kekurang ketelitiannya praktikan dalam mengamati DNA
yang terbentuk.

BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan, bahwa :
- Isolasi DNA pada dasarnya dapat dilakukan dengan merusak dinding dan membrane sel dan juga
membrane inti. Perusakan ini dapat dilakukan dengan pemblenderan, penggerusan atau yang
lainnya. Namun dalam praktikum kali ini digunakan dengan cara pemblenderan
- DNA dapat diisolasikan dari sumber DNA berupa buah dengan penambahan larutan deterjen,
etanol serta garam untuk membantu presipitasi DNA.
- Hasil isolasi DNA sangat dipengaruhi oleh jenis buah. Terbukti dari hasil pengamatan, pada
masing-masing buah didapatkan hasil yang berbeda.


DAFTAR PUSTAKA
Istanti, Annie. 1999. Biologi Sel. Malang: jurusan Biologi FMIPA UM.
Jamilah. 2005. Pengaruh Berbagai Macam Deterjen, Penambahan Garam dan Ekstrak Nanas
(Ananas Comusus) terhadap Hasil Isolasi DNA Berbagai Macam Buah sebagai Topik Praktikum
Mata Kuliah Genetika. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Prtogram Sarjana Biologi.