Anda di halaman 1dari 3

TANAH LATOSOL

Tanah Latosol disebut juga sebagai tanah Inceptisol. Tanah ini terdapat di daerah abu,
tuf dan fan vulkan, pada ketinggian 10-1000 meter dari permukaan laut, dengan bentuk
wilayah yang berombak, bergelombang, berbukit hingga bergunung. Tanah ini mempunyai
lapisan solum tanah yang tebal sampai sangat tebal, yaitu dari 130 cm sampai 5 meter bahkan
lebih, sedangkan batas antara horizon tidak begitu jelas. Warna dari tanah latosol adalah
merah, coklat sampai kekuning-kuningan. Kandungan bahan organiknya berkisar antara 3-9
% tapi biasanya sekitar 5% saja. Tanah latosol adalah tanah yang banyak mengandung zat
besi dan aluminium. Reaksi tanah berkisar antara, pH 4,5-6,5 yaitu dari asam sampai agak
asam. Proses hidrolisis dan oksidasi berlangsung sangat intensif, sehingga basa-basa seperti
Ca, Mg, K, dan Na cepat dibebaskan oleh bahan organik. Oleh karena itu, tanah Latosol
memiliki kejenuhan basa rendah dan KTK yang sangat rendah.
Tekstur seluruh solum tanah ini umumnya adalah liat, sedangkan strukturnya remah
dengan konsistensi adalah gembur. Struktur yang remah diakibatkan oleh dominsai mineral
liat kelompok kaolinit pada Latosol, karena kaolinit memiliki sifat plastisitas dan kohesi
sangat rendah. Plastisitas dan kohesi yang sangat rendah ini merangsang drainase dalam yang
sangat baik, sehingga memungkinkan pengolahan tanah dilakukan setelah hujan lebat tanpa
menyebabkan kerusakan sifat fisik yang berat. Kenampakan warna bisa untuk melihat unsur
haranya, semakin merah biasanya semakin miskin. Pada umumnya kandungan unsur hara ini










Gambar Tanah Latosol
dari rendah sampai sedang. Mudah sampai agak sukar merembes air, oleh sebab itu infiltrasi
dan perkolasinya dari agak cepat sampai agak lambat, daya menahan air cukup baik dan agak
tahan terhadap erosi.
Tanah Latosol terbentuk melalui proses latosolisasi. Latosolisasi: proses pembentukan
tanah latosol (merah); dengan syarat daerah memiliki suhu dan curah hujan yang tinggi.
Proses latosolisasi terjadi di bawah pengaruh curah hujan dan suhu yang tinggi di daerah
tropik. Proses pelapukan terjadi sangat intensif dengan gaya-gaya hancuran bekerja lebih
cepat dan pengaruhnya lebih ekstrim daripada daerah dengan curah hujan dan suhu sedang.
Pelapukan dan pencucian sangat intensif dan mineral silikat cepat hancur. Pada banyak
tempat di daerah tropik, musim basah dan kering terjadi silih berganti. Hal ini berakibat
semakin meningkatnya kegiatan kimia dalam tanah. Latosol umumnya telah mengalami
perkembangan lanjut, solum tebal, batas horizon yang baur, lapisan atas sedikit mengandung
bahan organik, lapisan bawah yang berwarna merah, kadar fiksasi liat yang agak tinggi
sampai tinggi dan hampir merata pada semua horizon. Horizon B kaya akan seskuioksida.
Daerah penyebaran dari tanah latosol atau inceptisol ini yaitu di daerah dengan tipe
iklim Afa-Ama (menurut Koppen), sedangkan menurut Schmidt-Fergusson pada tipe hujan
A, B, dan C dengan curah hujan sebesar 2000-7000 mm/tahun, tanpa atau mempunyai bulan-
bulan kering yang kurang dari 3 bulan. Tanah latosol adalah tanah yang dihasilkan dari
erupsi gunung berapi. Karena Indonesia dilewati oleh rangakaian pegunungan sirkum pasifik
dan sirkum mediterania, maka di Indonesia terdapat banyak gunung berapi. Imbasnya, tanah
latosol di Inodnesia tersebar luas. Tanah latosol tersebar di Sumatera Utara, Sumatera Barat,
Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan
Selatan, dan Papua.
Pada umumnya tanah Latosol ini kadar unsur hara dan organiknya cukup rendah,
sedangkan produktivitas tanahnya dari sedang sampai tinggi. Tanah ini memerlukan input
unsur hara yang memadai. Tanaman yang bisa ditanam di daerah ini adalah padi
(persawahan), sayur-sayuran dan buah-buahan, palawija, kemudian kelapa sawit, karet,
cengkeh, kopi dan lada. Secara keseluruhan tanah Latosol atau Inceptisol ini mempunyai
sifat-sifat fisik yang baik akan tetapi sifat-sifat kimianya kurang baik.

Tanah bereaksi masam sampai sangat masam dan fiksasi ion fosfat tinggi. Masalah
kemasaman ini akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Tanah yang terlalu masam akan
memicu unsur-unsur yang kurang aktif bergerak menjadi aktif bergerak. Hal ini berakibat
unsur yang kurang dibutuhkan tanaman justru akan terserap oleh tanaman dan menjadi racun
bagi tanaman. Pemberian kapur untuk mengatasi kemasaman kurang nyata pengaruhnya
karena kapasitas pertukaran basa rendah sehingga penambahan bahan kapur akan
meninggalkan efek residu yang sangat terbatas atau kecil.
Permasalahan pada tanah latosol yang miskin bahan organik pada umumnya
menyebabkan produksi tanaman tidak sesuai dengan yang diharapkan, antara lain disebabkan
faktor tanah yang kekurangan unsur hara tersedia. Hal ini dapat diatasi dengan meningkatkan
kemampuan tanah untuk menjerap unsur hara dengan pemberian asam humik. Asam humik
merupakan hasil akhir dari proses dekomposisi bahan organik yang bersifat stabil.
Mekanisme kerja dari asam humik pada prinsipnya sebagai jembatan penghubung antara
koloid tanah dan unsur hara yang diberikan.