Anda di halaman 1dari 4

BATASAN

Rinitis Alergika secara klinis didefinisikan sebagai gangguan fungsi hidung, terjadi
setelah paparan alergen melalui peradangan mukosa hidung yang diperantarai IgE.

PATOFISIOLOGI
Gejala rinitis alergika dapat dicetuskan oleh beberapa faktor :
Alergen
Alergen hirupan merupakan alergen terbanyak penyebab serangan gejala rinitis
alergika. Tungau debu rumah, bulu hean, dan tepung sari merupakan alergen
hirupan utama penyebab rinitis alergika dengan bertambahnya usia, sedang pada
bayi dan balita, makanan masih merupakan penyebab yang penting.
Polutan
!akta epidemiologi menunjukkan baha polutan memperberat rinitis. "olusi
dalam ruangan terutama gas dan asap rokok, sedangkan polutan di luar termasuk
gas buang disel, karbon oksida, nitrogen, dan sulfur dioksida. #ekanisme
terjadinya rinitis oleh polutan akhir$akhir ini telah diketahui lebih jelas.
Aspirin
Aspirin dan obat anti inflamasi non steroid dapat mencetuskan rinitis alergika
pada penderita tertentu.

%ecara klasik rinitis alergika dianggap sebagai inflamasi nasal yang terjadi dengan
perantaraan IgE. "ada pemeriksaan patologi, ditemukan infiltrat inflamasi yang terdiri
atas berbagai macam sel. "ada rinitis alergika selain granulosit, perubahan kualitatif
monosit merupakan hal penting dan ternyata IgE rupanya tidak saja diproduksi lokal
pada mukosa hidung. Tetapi terjadi respons selular yang meliputi: kemotaksis,
pergerakan selektif dan migrasi sel$sel transendotel. "elepasan sitokin dan kemokin
antara lain I&$', I&$(), eota*in dan RA+TE% berpengaruh pada penarikan sel$sel
radang yang selanjutnya menyebabkan inflamasi alergi.
Akti,asi dan deferensiasi bermacam$macam tipe sel termasuk: eosinofil, sel -./
0
T,
sel mast, dan sel epitel. Alergen menginduksi %el Th$1, selanjutnya terjadi
peningkatan ekspresi sitokin termasuk di dalamnya adalah I&$), I&$/, I&$2, I&$3, I&$
(4 yang merangsang IgE, dan sel #ast. %elanjutnya sel #ast menghasilkan I&$/, I&$
2, I&$5, dan tryptase pada epitel. #ediator dan sitokin akan mengadakan upregulasi
I-A#$(. 6hemoattractant I&$2 dan RA+TE% menyebabkan infiltrasi eosinofil,
basofil, sel Th$1, dan sel #ast. "erpanjangan masa hidup sel terutama dipengaruhi
oleh I&$2.
"elepasan mediator oleh sel$sel yang diaktifkan, di antaranya histamin dan cystenil$
leukotrien yang merupakan mediator utama dalam rinitis alergika menyebabkan
gejala rinorea, gatal, dan buntu. "enyusupan eosinofil menyebabkan kerusakan
mukosa sehingga memungkinkan terjadinya iritasi langsung polutan dan alergen pada
syaraf parasimpatik, bersama mediator Eosinophil Derivative Neurotoxin 7E.+8 dan
histamin menyebabkan gejala bersin.
Terdapat hubungan antara system imun dan sumsum tulang. !akta ini membuktikan
baha epitel mukosa hidung memproduksi Stem Cell Factor 7%-!8 dan berperan
dalam atraksi, proliferasi, dan akti,asi sel #ast dalam inflamasi alergi pada mukosa
hidung. 9ipereakti,itas nasal merupakan akibat dari respons imun di atas, merupakan
tanda penting rinitis alergika.

GEJALA KLINIS/Symptom
#anifestasi utama adalah rinorea, gatal hidung, bersin$bersin dan sumbatan hidung.
"embagian rinitis alergika sebelum ini menggunakan kriteria aktu pajanan menjadi
rinitis musiman 7seasonal allergic rhinitis8, sepanjang tahun (perenial allergic
rhinitis8, dan akibat kerja 7occupational allergic rhinitis8. Gejala rinitis sangat
mempengaruhi kualitas hidup penderita. Tanda$tanda fisik yang sering ditemui juga
meliputi perkembangan ajah yang abnormal, maloklusi gigi, allergic gape 7mulut
selalu terbuka agar bisa bernafas8, allergic shiners 7kulit berarna kehitaman dibaah
kelopak mata baah8, lipatan tran,ersal pada hidung 7transverse nasal crease8, edema
konjungti,a, mata gatal dan kemerahan. "emeriksaan rongga hidung dengan
spekulum sering didapatkan sekret hidung jernih, membrane mukosa edema, basah
dan kebiru$biruan 7boggy and bluish8.
"ada anak kualitas hidup yang dipengaruhi antara lain kesulitan belajar dan masalah
sekolah, kesulitan integrasi dengan teman sebaya, kecemasan, dan disfungsi
keluarga. 6ualitas hidup ini akan diperburuk dengan adanya ko$morbiditas.
"engobatan rinitis juga mempengaruhi kualitas hidup baik positif maupun negatif.
%edatif antihistamin memperburuk kualitas hidup, sedangkan non sedatif antihistamin
berpengaruh positif terhadap kualitas hidup. "embagian lain yang lebih banyak
diterima adalah dengan menggunakan parameter gejala dan kualitas hidup, menjadi
intermiten ringan$sedang$berat, dan persisten ringan$sedang$berat.

CARA PEMERIKSAAN/DIAGNOSA
.iagnosis rinitis alergika berdasarkan pada keluhan penyakit, tanda fisik dan uji
laboratorium. 6eluhan pilek berulang atau menetap pada penderita dengan riayat
keluarga atopi atau bila ada keluhan tersebut tanpa adanya infeksi saluran nafas atas
merupakan kunci penting dalam membuat diagnosis rinitis alergika. "emeriksaan fisik
meliputi gejala utama dan gejala minor. :ji laboratorium yang penting adalah
pemeriksaan in ,i,o dengan uji kulit goresan, IgE total, IgE spesifik, dan pemeriksaan
eosinofil pada hapusan mukosa hidung. :ji "ro,okasi nasal masih terbatas pada
bidang penelitian.

DIAGNOSA BANDING
Rinitis alergika harus dibedakan dengan :
(. Rinitis ,asomotorik
1. Rinitis bakterial
). Rinitis ,irus

PENYULIT
%inusitis kronis 7tersering8
"oliposis nasal
%inusitis dengan trias asma 7asma, sinusitis dengan poliposis nasal dan sensiti,e
terhadap aspirin8
Asma
;bstruksi tuba Eustachian dan efusi telingah bagian tengah
9ipertyopi tonsil dan adenoid
Gangguan kognitif

PENATALAKSANAAN
"enatalaksanaan rinitis alergika meliputi edukasi, penghindaran alergen,
farmakoterapi dan imunoterapi. Inter,ensi tunggal mungkin tidak cukup dalam
penatalaksanaan rinitis alergika, penghindaran alergen hendaknya merupakan bagian
terpadu dari strategi penatalaksanaan, terutama bila alergen penyebab dapat
diidentifikasi. Edukasi sebaiknya selalu diberikan berkenaan dengan penyakit yang
kronis, yang berdasarkan kelainan atopi, pengobatan memerlukan aktu yang lama
dan pendidikan penggunaan obat harus benar terutama jika harus menggunakan
kortikosteroid hirupan atau semprotan. Imunoterapi sangat efektif bila penyebabnya
adalah alergen hirupan. !armakoterapi hendaknya mempertimbangkan keamanan
obat, efektifitas, dan kemudahan pemberian. !armakoterapi masih merupakan andalan
utama sehubungan dengan kronisitas penyakit. Tabel ) menunjukkan obat$obat yang
biasanya dipakai baik tunggal maupun dalam kombinasi. 6ombinasi yang sering
dipakai adalah antihistamin 9( dengan dekongestan.

Pemili!n "#!$%"#!$!n
"emilihan obat$obatan dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa hal antara lain
:
(. ;bat$obat yang tidak memiliki efek jangka panjang.
1. Tidak menimbulkan takifilaksis.
). <eberapa studi menemukan efektifitas kortikosteroid intranasal. #eskipun
demikian pilihan terapi harus dipertimbangkan dengan kriteria yang lain.
/. 6ortikosteroid intramuskuler dan intranasal tidak dianjurkan sehubungan dengan
adanya efek samping sistemik.