Anda di halaman 1dari 5

Chlorpheniramin maleat (CTM)

Chlorpheniramin maleat atau lebih dikenal dengan CTM merupakan salah satu
antihistaminika yang memiliki efek sedative (menimbulkan rasa kantuk). Namun, dalam
penggunaannya di masyarakat lebih sering sebagai obat tidur dibanding antihistamin sendiri.
Keberadaanya sebagai obat tunggal maupun campuran dalam obat sakit kepala maupun
influenza lebih ditujukan untuk rasa kantuk yang ditimbulkan sehingga pengguna dapat
beristirahat.

Efek samping ini menguntungkan bagi pasien yang memerlukan istirahat namun dirasa
menggangu bagi mereka yang dituntut melakukan pekerjaan dengan kewaspadaan tinggi.
Oleh sebab itu, pengguna CTM atau obat yang mengandung CTM dilarang mengendarai
kendaraan. Jadi sebenarnya rasa kantuk yang ditimbulkan setelah penggunaan CTM
merupakan efek samping dari obat tersebut. Sedangkan indikasi CTM adalah sebagai
antihistamin yang menghambat pengikatan histamin pada resaptor histamin.

Definisi

Klorfeniramin maleat adalah turunan alkilamin yang merupakan antihistamin dengan indeks
terapetik (batas keamanan) cukup besar dengan efek samping dan toksisitas yang relatif
rendah. Klorfeniramin maleat merupakan obat golongan antihistamin penghambat reseptor H
1

(AH
1
).Pemasukan gugus klor pada posisi para cincin aromatik feniramin maleat akan
meningkatkan aktifitas antihistamin.

Berdasarkan struktur molekulnya, memiliki gugus kromofor berupa cincin pirimidin, cincin
benzen, dan ikatan C=C- yang mengandung elektron pi () terkonjugasi yang dapat
mengabsorpsi sinar pada panjang gelombang tertentu di daerah UV (200-400 nm), sehingga
dapat memberikan nilai serapan.

Mekanisme Kerja Obat

Menurut Dinamika Obat (ITB,1991),CTM merupakan salah satu antihistaminika H
1
(AH
1
)
yang mampu mengusir histamin secara kompetitif dari reseptornya (reseptor H
1
) dan dengan
demikian mampu meniadakan kerja histamin.

Di dalam tubuh adanya stimulasi reseptor H
1
dapat menimbulkan vasokontriksi pembuluh-
pembuluh yang lebih besar, kontraksi otot (bronkus, usus, uterus), kontraksi sel-sel endotel
dan kenaikan aliran limfe. Jika histamin mencapai kulit misal pada gigitan serangga, maka
terjadi pemerahan disertai rasa nyeri akibat pelebaran kapiler atau terjadi pembengkakan
yang gatal akibat kenaikan tekanan pada kapiler. Histamin memegang peran utama pada
proses peradangan dan pada sistem imun.
CTM sebagai AH
1
menghambat efek histamin pada pembuluh darah, bronkus dan bermacam-
macam otot polos. AH
1
juga bermanfaat untuk mengobati reaksi hipersensitivitas dan
keadaan lain yang disertai pelepasan histamin endogen berlebih. Dalam Farmakologi dan
Terapi edisi IV (FK-UI,1995) disebutkan bahwa histamin endogen bersumber dari daging
dan bakteri dalam lumen usus atau kolon yang membentuk histamin dari histidin.

Indikasi:
Pengobatan pada gejala-gejala alergis, seperti: bersin, rinorrhea, urticaria, pruritis, dll.

Kontra Indikasi:Dapat memperburuk asma bronkial, retensi urin, glaukoma

Sediaan:
- Tablet Chlorpheniramini maleas 4 mg

Efek Samping: Efek samping yang sering terjadi adalah sedatif ( rasa ngantuk), gangguan
saluran cerna, mulut kering, dan kesukaran miksi.

Takaran Pemakaian:
Dewasa: 3 - 4 kali sehari 0.5 - 1 tablet.
Anak-anak 6 - 12 tahun: 0.5 dosis dewasa.
Anak-anak 1 - 6 tahun: 0.25 dosis dewasa

Perhatian:
Selama minum obat ini, jangan mengendarai kendaraan bermotor atau menjalankan mesin.
obat ini memiliki interaksi dengan alkohol, depresan syaraf pusat, anti kolinergik

Penyimpanan:
Simpan di tempat yang kering dan tertutup rapat.



GUAIFENESIN
Gliseril Guaiakolat (Guaifenesin / GG)



nama dagang

Gliseril guaikolat


dosis
Dosis dewasa :
liquid/syrup, dosis secara oral 200 to 400 mg setiap
4 jam; dosis maksimum 2400 mg/hari
Dosis anak-anak :
12 tahun keatas : liquid/syrup, dosis secara
oral 200 sampai 400 mg setiap 4 jam; dosis
maksimum 2400 mg/hari.
6-12 tahun : liquid/syrup, dosis secara oral
100 sampai 200 mg setiap 4 jam; dosis
maksimum 1200 mg/hari.
2-6 tahun : liquid/syrup, dosis secara oral
50 sampai 100 mg setiap 4 jam; dosis
maksimum 600 mg/hari
2 tahun kebawah perlu penyesuaian dosis
secara individual, pada umumnya
digunakan dosis 25 sampai 50 mg secara
oral setiap 4 jam; dosis maksimum 300
mg/hari.
Cara pemberian :
Secara oral : minum bersama dengan segelas penuh
air, dapat digunakan bersamaan atau tidak bersama
makanan


indikasi

Produksi sputum yang tidak normal. Batuk.

kontraindikasi

Hipersensitivitas terhadap produk guaifenesin

efek samping

Efek samping yang sering muncul adalah mual dan
muntah

interaksi

Dengan Obat Lain : -
Dengan Makanan : -


mekanisme kerja
GG memiliki aktivitas sebagai ekspektoran dengan
meningkatkan volume dan mengurangi kekentalan
sputum yang terdapat di trakhea dan bronki. Dapat
meningkatkan reflek batuk dan memudahkan untuk
membuang sputum. Akan tetapi bukti objektif
masih sedikit.


bentuk sediaan

Tablet, Larutan

parameter monitoring

1. Produktivitas batuk, konsistensi dan volume
sputum.
2. Tingkat keparahan batuk
3. Efek samping (nausea, mengantuk).


stabilitas penyimpanan
Serbuk Guaifenesin cenderung menggumpal pada
saat penyimpanan.
Simpan dalam wadah yang tertutup rapat.


informasi pasien

Gunakan segelas air untuk membantu menelan