Anda di halaman 1dari 11

SIFAT RIYA

DALAM KEHIDUPAN



PENGERTIAN RIYA
Riya berasal dari kata ruyah (penglihatan) sebagaimana
sumah berasal dari kata samu (pendengaran) dari
sekedar makna bahasa ini bisa difahami bahwa riya
adalah ingin diperhatikan atau dilihat orang lain. Dan
para ulama mendefiniskan riya adalah menginginkan
kedudukan dan posisi di hati manusia dengan
memperlihatkan berbagai kebaikan kepada mereka.
Dari segi syara, imam Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam
kitabnya Fathul Bari mengatakan bahwa ria adalah
Ibadah yang dilakukan dengan tujuan atau maksud agar
dapat dilihat orang lain sehingga memuja pelakunya.

Allah berfirman dalam Surah Ar Rum ayat 41 :
Artinya : Telah tampak kerusakan di darat dan di laut
disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah
merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka kenbali (ke jalan yang benar). (QS. Ar
Rum : 41 )


Perilaku/Sikap tergantung pada
persepsi seseorang tentang
kehidupan
PERSEPSI tentang KEHIDUPAN
AQIDAH
Konsekuensi & Pengaruh Aqidah
Islam Dalam Kehidupan
Kenikmatan beramal bukan berdasarkan pujaan
dari seseorang, melainkan terletak pada
keikhlasan kita dalam melakukannya. Kita tidak
akan merasa lebih letih, kecewa, atau merasa
rugi dengan apa yang telah dilakukan apabila
segala sesuatunya kita perbuat karena Allah
semata, kita meyakini bahwa Allah melihat
semua yang kita lakukan. Firman Allah :
Artinya : Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan. (QS. At-Taubah : 16 )



Sifat Riya Yang Perlu
Diwaspadai
Memang keinginan seorang hamba tersebut untuk selain Alloh. Dia ingin
dan senang apabila diketahui oleh orang lain bahwa ia telah melakukan hal
tersebut dan sama sekali tidak meniatkan ikhlas untuk Alloh azza wa jalla,
kita berlindung kepada Alloh dari yang seperti itu. Jenis ini termasuk nifak.
Pada awalnya niat dan tujuan hamba tadi untuk Alloh, namun apabila
dilihat oleh manusia ia tambah giat dalam ibadahnya dan memperindah
seindah-indahnya. Ini termasuk syirik yang tersembunyi. Nabi sholallohu
alaihi wasallam bersabda : Wahai sekalian manusia,
jauhilah kesyirikan yang tersembunyi! Para shahabat bertanya, Wahai
Rosulullah, apa itu syirik yang tersembunyi? Beliau menjawab, Seseorang
bangkit melakukan sholat kemudian dia bersungguh-sungguh memperindah
sholatnya karena dilihat manusia.
Itulah yang disebut dengan syirik yang tersembunyi. [HR. Ibnu Khuzaimah
dan Baihaqi]

Bahaya sifat riya

Setiap manusia mempunyai kecenderungan ingin dipuji, dan keinginan itu
merupakan proses pembentukan riya dalam diri seseorang. Sifat riya sangat
lembut dan halus, bagaikan gumpalan asap yang memenuhi jiwa dan
mengalir kesegenap pembuluh darah, dampaknya dapat menutup
pandangan akal dan iman seseorang. Bila sifat itu dibiarkan berkembang
mewarnai hidupnya, maka sudah dapat dipastikan, tidak mampu
membendung riya menjelma jadi syirik. Sabda Nabi saw. yang diriwayatkan
oleh Adz Dzahabi. Maka takutlah kamu sekalian akan riya, karena
sessungguhnya riya itu adalah menyekutukan (syirik) kepada Allah
Sifat riya sangat berbahaya bagi orang yang menjalankan ibadah, karena
menelusup ke sela-sela niat. Padahal niat merupakan pangkal dari murni
tidaknya suatu ibadah. Bila amal ibadah seseorang tidak mencerminkan
kemurnian (keikhlasan), akan sia-sia. Sebab, Allah tidak pernah menyuruh
hamba-hamba-Nya untuk berbuat ibadah, kecuali yang dilandasi niatan
ikhlas (murni).


LANJUTAN NYA
Sesungguhnya setiap amal ibadah seorang hamba, tidak dilihat dari
sisi lahiriahnya, melainkan apa yang terlintas dalam hatinya, yaitu
niatan ikhlas. Barangsiapa mencampur adukkan niat ibadah
dengan keinginan nafsunya, sekalipun surga yang diinginkannya,
niscaya gugurlah segala amal ibadahnya. Pahala dan surga adalah
makhluk Allah. Mengapa masih mengharap sesuatu selain Allah.
Maka perumpamaan orang (yang beramal serta riya) itu seperti
batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa
hujan lebat, Allah menjadikan dia bersih (tidak bertanah) (Al
Baqarah : 264 )
Penawar sifat riya

Penawar sifat riya sesungguhnya ada pada
diri orang yang bersangkutan. Yaitu
dengan menyingkirkan segala keinginan
yang bersifat duniawi maupun ruhani,
karena semua itu hanyalah hiasan bagi
orang yang sedang menuju Allah.

Pengaruh Aqidah dalam
kehidupan individu
Menjadikan pribadi yang pemberani
(kisah Saad bin Muadz ra. & Umair bin
Al Humam Al Anshori ra.)
Membentuk Pribadi yang Bertaqwa
(Umar bin Abdul Aziz ra.)
Menjadikan Pribadi yang memiliki hati
& keyakinan yang teguh, tidak
tergoyahkan (QS. Ali Imron: 190-191)
Diciptakan?
SEBELUM
DUNIA
DI
DUNIA
Dibangkitkan ?
SETELAH
DUNIA
Aturan ?
Hisab ?
AQIDAH RASIONAL
Training Metode Dakwah Tanpa Kekerasan
Wassalam
SELAMAT
MENGARUNGI SAMUDRA KEHIDUPAN
Berlandaskan
Akidah ISLAM