Anda di halaman 1dari 8

http://prodiikelautanunirow.blogspot.

com/2
011/08/potensi-limbah-udang-sebagai-
penyerap.html

POTENSI LIMBAH UDANG SEBAGAI
PENYERAP LOGAM BERAT (TIMBAL,
KADMIUM, DAN TEMBAGA) DI
PERAIRAN
Oleh : Marganof P. 062030111
Abstrak
Pencemaran lingkungan perairan yang disebabkan oleh logam-logam berat seperti
kadmium, timbal dan tembaga yang berasal dari limbah industri sudah lama
diketahui. Untuk menghilangkan bahan pencemar perairan tersebut hingga kini masih
terus dikembangkan.Penggunaan biomaterial merupakan salah satu teknologi yang
dapat dipertimbangkan, mengingat meterialnya mudah didapatkan dan membutuhkan
biaya yang realtif murah sebagai bahan penyerap senyawa beracun dalam air limbah.
Limbah udang yang berupa kulit, kepala, dan ekor dengan mudah didapatkan
mengandung senyawa kimia berupa khitin dan khitosan. Senyawa ini dapat diolah dan
dimanfaatkan sebagai bahan penyerap logam-logam berat yang dihasilkan oleh limbah
industri. Hal ini dimungkinkan karena senyawa khitin dan khitosan mempunyai sifat
sebagai bahan pengemulsi koagulasi, reaktifitas kimia yang tinggi dan menyebabkan
sifat polielektrolit kation sehingga dapat berperan sebagai penukar ion (ion exchanger)
dan dapat berpungsi sebagai absorben terhadap logam berat dalam air limbah.
Kata kunci : logam berat, khitin, khitosan, koagulasi, absorben



BAB I. PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG
Pembangunan yang pesat dibidang ekonomi disatu sisi akan meningkatkan kualitas hidup
manusia, yaitu dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, tetapi di sisi lain akan berakibat
pada penurunan kesehatan akibat adanya pencemaran yang berasal dari limbah industri dan
rumahtangga. Hal ini karena kurangnya atau tidak memadainya fasilitas atau peralatan untuk
menangani dan mengelola limbah tersebut.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan maka berkembang pulalah industri-
industri.Akibatnya lingkungan menjadi salah satu sasaran pencemaran, terutama sekali lingkungan
perairan yang sudah pasti terganggu oleh adanya limbah industri, baik industri pertanian maupun
industri pertambangan. Kebanyakan dari limbah itu biasanya dibuang begitu saja tanpa
pengolahan terlebih dahulu.

Saat ini budidaya udang telah berkembang dengan pesat sehingga udang dijadikan
komoditas ekspor non migas yang dapat dihandalkan dan merupakan biota laut yang
bernilai ekonomis tinggi. Udang pada umumnya dimanfaatkan sebagai bahan makanan
yang memiliki nilai gizi tinggi. Udang di Indonesia pada umumnya diekspor dalam bentuk
beku yang telah dibuang kepala, ekor dan kulitnya. Limbah udang dapat dimanfaatkan
menjadi senyawa kitosan. Namun sampai saat ini limbah tersebut belum diolah dan
dimanfaatkan secara maksimal sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan khususnya
bau dan estetika lingkungan yang buruk.
Salah satu pencemaran pada badan air adalah masuknya logam berat. Peningkatan
kadar logam berat didalam perairan akan diikuti oleh peningkatan kadar zat tersebut dalam
organisme air seperti kerang, rumput laut dan biota laut lainnya. Pemanfaatan organisme ini
sebagai bahan makanan akan membahayakan kesehatan manusia.
Berbagai metode seperti penukar ion, penyerapan dengan karbon aktif (Rama, 1990)
dan pengendapan secara elektrolisis telah dilakukan untuk menyerap bahan pencemar
beracun dari limbah, tetapi cara ini membutuhkan biaya yang sangat tinggi dalam
pengoperasiannya. Penggunaan bahan biomaterial sebagai penyerap ion logam berat
merupakan alternatif yang memberikan harapan. Sejumlah biomaterial seperti lumut (Low et
al., 1977), daun teh (Tan dan Majid, 1989, sekam padi (Munaf, 1997), dan sabut kelapa
sawit (Munaf, 1999), begitu juga dari bahan non biomaterial seperti perlit, tanah gambut,
lumpur aktif dan lain-lain telah digunakan sebagai bahan penyerap logam-logam berat
dalam air limbah.
Kulit udang yang mengandung senyawa kimia khitin khitosan merupakan limbah
yang mudah didapat dan tersedia dalam jumlah yang banyak, yang selama ini belum
termanfaatkan secara optimal.

Dengan adanya sifat-sifat khitin dan khitosan yang dihubungkan dengan
gugus amino dan hidroksil yang terikat, maka menyebabkan khitin khitosan mempunyai
reaktifitas kimia yang tinggi dan menyebabkan sifat polielektrolit kation sehingga dapat
berperan sebagai penukar ion (ion exchanger) dan dapat berperan sebagai absorben
terhadap logam berat dalam air limbah (Hirano, 1986). Karena berperan sebagai penukar
ion dan sebagai absorben maka khitin dan khitosan dari limbah udang berpotensi dalam
memecahkan masalah pencemaran lingkungan perairan dengan penyerapan yang lebih
murah dan bahannya mudah didapat.
Udang merupakan anggota filum Arthropoda, sub filum Mandibulata dan tergolong
dalam kelas Crustacea (Jasin, 1987). Seluruh tubuh terdiri dari ruas ruas yang terbungkus
oleh kerangka luar atau eksoskeleton dari zat tanduk atau kitin dan diperkuat oleh bahan
kapur kalsium karbonat (Soetomo, 1990). Sebagian besar limbah udang yang dihasilkan
oleh usaha pengolahan udang berasal dari kepala, kulit dan ekornya. Kulit udang
mengandung protein (25%- 40%), kitin (15%-20%) dan kalsium karbonat (45%-50%)
(Marganof, 2003).
Kandungan kitin dari kulit udang lebih sedikit dibandingkan dengan kulit atau
cangkang kepiting. Kandungan kitin pada limbah kepiting mencapai 50%-60%, sementara
limbah udang menghasilkan 42%-57%, sedangkan cumi-cumi dan kerang, masing-masing
40% dan 14%-35%. Namun karena bahan baku yang mudah diperoleh adalah udang, maka
proses kitin dan kitosan biasanya lebih memanfaatkan limbah udang (Annonim, 2003).
Isolasi kitin dari limbah udang dilakukan secara bertahap. Tahap awal dimulai
dengan pemisahan protein (deproteinasi) dengan larutan basa, demineralisasi, tahap
pemutihan (bleancing) dengan aseton dan natrium hipoklorit. Sedangkan untuk transformasi
kitin menjadi kitosan dilakukan tahap deasetilasi dengan basa berkonsentrasi tinggi,
pencucian, pengeringan dan penepungan hingga menjadi kitosan bubuk. Kitin merupakan
zat padat yang tak berbentuk (amorphous), tak larut dalam air, asam anorganik encer, alkali
encer dan pekat, alkohol, dan pelarut organik lainnya dan bersifat polikationik.
Secara kimiawi kitin merupakan polimer berantai lurus dengan nama lain -(1- 4)-2-
asetamida-2-dioksi-D- glukosamin (N-asetil-D-Clukosamin) yang dapat dicerna oleh
mamalia. Kitosan merupakan kitin yang dihilangkan gugus asetilnya dengan menggunakan
basa pekat sehingga bahan ini merupakan polimer dari D-glukosamin. Perbedaan antara
kitin dan kitosan didasarkan pada kandungan nitrogennya. Bilan nitrogen kurang dari 7%,
maka polimer disebut kitin dan apabila kandungan total nitrogenya lebih dari 7% maka
disebut kitosan. Kitosan yang disebut juga dengan β-1,4-2 amino-2-dioksi-D-glukosa
merupakan senyawa yang tidak larut dalam air, sedikit larut dalam HCl, HNO3, dan H3PO4
dan tidak larut dalam H2SO4. Kitosan tidak beracun, mudah mengalami biodegradasi dan
bersifat polielektrolitik. Disamping itu kitosan dapat dengan mudah berinteraksi dengan zat-
zat organik lainnya seperti protein. Oleh karena itu, kitosan relatif lebih banyak digunakan
pada berbagai bidang industri terapan dan industri kesehatan (Zakaria, 2000).
Kitosan yang ada di pasar Indonesia berasal dari Korea, India dan Jepang. Dengan
besarnya potensi limbah udang untuk dimanfaatkan, Indonesia sebagai negara penyedia
udang seharusnya mampu mengolah limbah udang yang dihasilkan secara maksimal
menjadi kitosan, Kitosan dapat dimanfaatkan dalam pengolahan limbah cair industri, karena
kitosan memiliki sifat dapat menyerap logam berat dan menjernihkan limbah cair industri.
Pencemaran air dari industri tekstil dapat berasal dari buangan air proses produksi, buangan
sisa-sisa pelumas dan minyak, buangan bahan-bahan kimia sisa proses produksi, sampah
potongan kain, dan lainnya. Pewarnaan dan pembilasan menghasilkan air limbah yang
berwarna dengan COD (Chemical Oxyden Demand) tinggi dan bahan-bahan lain dari zat
warna yang dipakai, seperti fenol dan logam. Jenis limbah yang dihasilkan industri tekstil
adalah, logam berat terutama Arsenik, kadmium (Cd), krom (Cr), timbal (Pb), tembaga (Cu),
zinc atau seng (Zn), Hidrokarbon terhalogenasi (dari proses dressing dan finishing), zat
warna dan pelarut organik (Kementerian Lingkungan Hidup, 2003).
Prinsip yang digunakan untuk mengolah limbah cair secara kimia ádalah
menambahkan bahan kimia (koagulan) yang dapat mengikat bahan pencemar yang
dikandung air limbah, kemudian memisahkannya (mengendapkan atau mengapungkan).
Pada umumnya bahan seperti aluminium sulfat (tawas), fero sulfat, poli amonium khlorida
atau poli elektrolit organik dapat digunakan sebagai koagulan dan flokulan. Industri tekstil
menggunakan logam berat sebagai bahan pengikat warna agar warna yang dihasilkan
menjadi lebih terang dan indah. Bahkan ada beberapa industri tekstil yang menggunakan
logam berat sebagai bahan pewarna. Sehingga untuk mengolah limbah cair yang dihasilkan
memerlukan suatu proses yang ramah lingkungan.

1.2. TUJUAN
a. pertama, mengetahui potensi limbah udang sebagai bahan baku pembuatan kitosan.
b. Kedua, mengetahui proses koagulasi logam berat dalam limbah cair industri tekstil.Ketiga,
mengetahui nilai tambah dalam usaha pengolahan limbah udang menjadi kitosan

BAB II. BAHAN DAN METODE

Isolasi kitin dari limbah udang dilakukan secara bertahap. Tahap awal dimulai dengan
pemisahan protein (deproteinasi) dengan larutan basa, demineralisasi, pemutihan
(bleancing) dengan aseton dan natrium hipoklorit. Sedangkan untuk transformasi kitin
menjadi kitosan dilakukan tahap deasetilasi dengan basa berkonsentrasi tinggi, pencucian,
pengeringan dan penepungan hingga menjadi kitosan bubuk. Proses pembuatan kitosan
dari limbah udang disajikan dalam Gambar 1 sebagai berikut,


Gambar 1. Diagram Alir Metode Isolasi kitin dan kitosan dari Limbah Udang (Marganof,
2002)

Prinsip yang digunakan untuk mengolah limbah cair secara kimia adalah
menambahkan bahan kimia (koagulan) yang dapat mengikat bahan pencemar yang
dikandung air limbah, kemudian memisahkannya (mengendapkan atau mengapungkan).
Umumnya zat pencemar industri tekstil terdiri dari tiga jenis yaitu padatan terlarut, padatan
koloidal, dan padatan tersuspensi (forlink, 2000).
Terdapat tiga tahapan penting yang diperlukan dalam proses koagulasi yaitu, tahap
pembentukan inti endapan, tahap flokulasi, dan tahap pemisahan flok dengan
cairan. Koagulasi dan flokulasi merupakan salah satu proses yang umum dilakukan dalam
pengolahan limbah cair ndustri. Koagulasi adalah proses penambahan bahan kimia atau
koagulan kedalam air limbah dengan maksud mengurangi daya tolak menolak antar partikel
koloid, sehingga partikel-partikel tersebut dapat bergabung menjadi flok-flok kecil. Flokulasi
adalah proses penggabungan flok-flok kecil hasil proses kuagulasi menjadi flok-flok
berukuran besar sehingga mudah mengendap (Mujiadi, S. dan Nieke, K. 2002).
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam pembahasan, ada tiga hal yang dibahas yaitu, pertama, potensi limbah udang
sebagai kitosan. Kedua, mekanisme koagulasi logam berat limbah cair industri tekstil oleh
kitosan, dan ketiga, potensi ekonomi produksi kitosan.

3.1. Potensi Limbah Udang Sebagai Kitosan
Dari usaha pengolahan udang dihasilkan limbah udang sebesar 30% - 75% yang
terbuang percuma tanpa diolah bahkan menyebabkan pencemaran. Jumlah tersebut sangat
besar untuk ukuran limbah industri. Udang bukan merupakan satu- satunya sumber kitin.
Rajungan merupakan hewan laut yang cangkangnya juga mengandung kitin bahkan lebih
besar daripada udang. Namun ada beberapa faktor yang mendasari pemilihan udang
sebagai bahan baku pembuatan kitosan. Pada Tabel 1 menunjukkan perbandingan antara
udang dan rajungan sebagai bahan baku pembuatan kitosan.

Tabel 1. Perbandingan Produksi Kitosan Dari Udang dan Rajungan


Sum
ber:
*
BPS
, **
Mar
ganof, (1997), *** Hartati, Tri,Rakhmadioni, dan Loekito, (2002).

Proses pengolahan udang lebih mudah daripada rajungan walaupun rajungan
memiliki kandungan kitin lebih besar daripada udang. Dengan persediaan bahan baku yaitu
limbah udang yang besar dengan kandungan kitin yang rendah dapat menghasilkan kitosan
yang lebih banyak daripada dengan menggunakan limbah rajungan yang bahan baku yaitu
limbahnya sedikit walaupun kitin yang dihasilkan lebih banyak dari udang. Dengan
mempetimbangkan faktor faktor di atas, maka dapat diketahui bahwa limbah udang sangat
berpotensi untuk diolah menjadi kitosan. Dengan mempertimbangkan faktor faktor di atas,
maka dapat diketahui bahwa limbah udang sangat berpotensi untuk diolah menjadi kitosan.

3.2. Mekanisme Koagulasi Logam Berat Limbah Cair Industri Tekstil oleh Kitosan
Adanya logam berat di perairan, berbahaya baik secara langsung terhadap
kehidupan, maupun efeknya secara tidak langsung terhadap kesehatan manusia. Hal ini
berkaitan dengan sifat-sifat logam berat (PPLH-IPB, 1997, Sutamihardja dkk, 1982) yaitu:
1. Sulit didegradasi, sehingga mudah terakumulasi dalam lingkungan perairan
dan keberadaannya secara alami sulit terurai (dihilangkan)
2. Dapat terakumulasi dalam organisme termasuk kerang, ikan dan akan
membahayakan kesehatan manusia yang mengkonsumsi organisme tersebut
3. Mudah terakumulasi di sedimen, sehingga konsentrasi selalu lebih tinggi dari
konsentrasi logam dalam air. Disamping itu sedimen mudah tersuspensi karena
pergerakan masa air yang akan melarutkan kembali logam yang dikandungnya ke
dalam air, sehingga sedimen menjadi sumber pencemar potensial dalam skala waktu
tertentu.
Kitosan bersifat polikationik dapat mengikat lemak dan logam berat pencemar.
Kitosan yang memiliki gugus amina yaitu adanya unsur N bersifat sangat reaktif dan bersifat
basa. Prinsip koagulasi kitosan adalah penukar ion dimana garam amina yang terbentuk
karena reaksi amina dengan asam akan mempertukarkan proton yang dimiliki logam
pencemar dengan elektron yang dimiliki oleh nitrogen (N). Limbah cair yang mengandung
logam berat apabila direaksikan dengan reagen yaitu kitosan khususnya dengan gugus
aminanya maka akan berubah menjadi koloid dan koloid inilah yang disebut flok. Proses
koagulasi logam berat oleh kitosan dapat dilihat dalam Gambar 1.
Gambar 2. Mekanisme Pengikatan Logam Berat oleh Kitosan (Inoue, Kazuharu dan Baba,
1994)


Contoh tersebut menggunakan logam Cu atau tembaga. Dimana terjadi pengikatan
Cu oleh gugus N dan O. Logam Cu tersebut akan terikat atau terserap, terkumpul dan
Parameter Udang Rajungan

Jumlah produksi tahun 1997
Kandungan kitin
Limbah yang dihasilkan industri pengolahan

398.190 ton*
42%-57%**
30%-75%***
16.433 ton*
50%-60%**
25%-50%***
terjadilah flokulasi flokulasi logam. Kitosan dengan kemampuan daya ikat atau daya
serapnya mampu dijadikan koagulan yang tidak berbahaya. Polielektrolit merupakan bagian
dari polimer khusus yang dapat terionisasi dan mempunyai kemampuan untuk membuat
terjadinya suatu flokulasi dalam medium cair. Kitosan merupakan salah satu contoh dari
polielektrolit.
Koagulasi yang disebabkan oleh polielektrolit meliputi empat tahap yaitu:
1) dispersi dari polielektrolit dalam suspensi,
2) adsorbsi antara permukaan solid-liquid,
3) kompresi atau pemeraman dari polielektrik yang teradsorbsi
4) koalisi atau penyatuan dari masing masing polielektrik yang telah terlingkupi oleh partikel
untuk membentuk flokulasi flokulasi kecil dan berkembang menjadi flokulasi yang lebih
besar.
Keempat proses tersebut digambarkan dalam Gambar 2.

Gambar 3. Tahap Tahap Koagulasi Polielektrolit Kitosan (Kennedy, dkk. 2001)


Logam berat dan logam lain secara keseluruhan dalam larutan elektrolit merupakan
partikel bermuatan positif, sedangkan kitosan adalah polielektrolit bermuatan negatif, reaksi
antara kedua partikel akan menuju pada arah penghilangan gradien muatan dan terbentuk
senyawa produk yang tidak bermuatan. Mekanisme Koagulasi perbedaan muatan
ditunjukkan oleh Gambar 3.

Gambar 4. Mekanisme Koagulasi Perbedaan Muatan (Kennedy, dkk. 2001)


3.3. Potensi Ekonomi Produksi Kitosan
Menurut BPPT (2004) perhitungan dan kelayakan tekno-ekonomis untuk
memproduksi kitosan dengan asumsi umur peralatan 10 tahun adalah sebagai berikut :
- Kapasitas produksi 2 ton kitosan per bulan dan 5 ton kitin per bulan
- Biaya investasi Rp 7,7 milyar
- NPV (Net Present Value) dengan I atau bunga = 20 % = Rp. 3,4 milyar
- IRR (Internal Rate of Return)= 36,70 %
- Payback period minimal = 3,5 tahun
- BEP (Break Event Point) : kapasitas produksi kitin 37 ton/tahun; 2,2 ton kitosan/tahun
- Biaya produksi rata-rata per kilogram : Rp. 47.950
- Harga jual kitin Rp. 51.000 per kilogram, kitosan Rp. 170.000 per kilogram.

Sedangkan dengan limbah udang yang didapatkan sebesar 298.642,25 ton per
tahun maka kitin yang diolah adalah sebesar 170. 226 ton per tahun atau 14.185 ton per
bulan. Menurut penelitian rata-rata hasil deasetilasi kitin menjadi kitosan adalah berkisar
antara 6,04% dan 11,33% (Hartati, 2002), Hal ini menunjukkan bahwa kitosan yang
dihasilkan setiap bulannya antara 856,774 ton sampai 1607,16 ton. Apabila dikonversikan
dengan kapasitas produksi peralatan versi BPPT maka akan sama dengan 428,387 sampai
dengan 803,58 kali kapasitas produksi peralatan tersebut. Bila kitosan diproduksi secara
massal dengan nilai investasi Rp. 7,7 miliar per 2 ton kitosan berarti senilai dengan Rp.

3,298 triliun sampai dengan Rp. 6,187 triliun. Dengan investasi yang sangat besar tersebut
akan dihasilkan keuntungan yang berlipat ganda kira-kira sebesar Rp. 104,56 milyar sampai
Rp. 196,15 milyar per bulan. Secara logika tanpa menggunakan analisa numerik, dengan
peningkatan laba berarti BEP maupun payback period semakin mengecil, balik modal akan
semakin cepat.
Bila Indonesia mampu memproduksi kitosan maka dapat memenuhi kebutuhan
dalam negeri tanpa harus mengimpor dan tidak menutup kemungkinan dapat memenuhi
kebutuhan luar negeri melalui ekspor. Proyek produksi kitosan di Indonesia belum
digalakkan secara luas, Produksi kitosan merupakan suatu proyek besar yang harus
dibangun secara serius, mengingat keuntungan ekonomis yang diberikan.

BAB IV. KESIMPULAN

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa:
1) Limbah Udang memiliki potensi yang besar untuk diolah menjadi kitosan karena
ketersediaan limbah udang sebagai bahan baku cukup besar dan mudah diolah daripada
material lainnya,
2) Dengan gugus amina dan hidroksil yang dimiliki, kitosan memiliki kemampuan untuk
menyerap logam berat yang terdapat dalam limbah cair industri tekstil sebagai sisa dari
proses pewarnaan dengan metode penukar ion,
3) Selain sebagai koagulan yang ramah lingkungan, kitosan memberikan nilai lebih dalam
usaha produksinya. Dalam skala industri kitosan mampu memberikan keuntungan
ekonomis yang besar. Produksi kitosan secara tidak langsung mampu meningkatkan taraf
hidup masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Annonimous. (2003). Biokatalis Mampu Kurangi Polutan Limbah.. Harian Umum Sore Sinar
Harapan, Minggu, 10 April 2005.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. (2004). Teknologi Proses Kitin Kitosan.
[http://www.bppt.go.id] dikunjungi 9 April 2005
Brotowidjoyo, M. (1989). Zoologi Dasar. Erlangga. Jakarta
Dorfner, K dan Hartomo, A. (1993). Iptek Penukar Ion. Andi offset. Yogyakarta forlink.
(2000).Paket Terapan Teknologi Bersih. [forlinkdml.or.id/pterapb/textile].
dikunjungi 11 Januari 2005
Haliman, R. (2003). Status Terkini Budi Daya Udang Penaeid di Indonesia. Hayati. Vol 10(IV). hal
151-153
Hartati, F., Tri, S., Rakhmadioni., dan Loekito, A. (2002). Faktor Faktor yang Berpengaruh Terhadap
Deproteinasi Dalam Pembuatan Kitin Dari Cangkang Rajungan (Portunus
pelagicus). Biosain.. vol 2(1).
Inoue, K., Kazuharu, Y., dan Baba, Y. (1994). Adsorbtion Of Metal Ion On Chitosan and Chemically
Modif2ied Chitosan and Their Application To Hidrometalurgy. Biotechnology and Bioactive
Polymers., Gebelein, C., Carraher (Edd). Plenum Publishing. New York
Jasin, M. (1989). Zoologi Invertebrata. Sinar Harapan. Surabaya Kementerian Lingkungan Hidup
Republik Indonesia. (2003).
Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah. [http://www. menlh.go.id/usaha kecil/] dikunjungi 11
Maret 2005
Kennedy, J ., Marion, P., David, T.,dan Marisa. (1994). Recovery Of Proteins From Whey Using
Chitosan As A Coagulant. Biotechnology and Bioactive Polymers. Gebelein, C., Carraher
(Edd). Plenum Publishing. New York
Krissetiana, H. (2004). Kitin dan Kitosan Dari Limbah Udang. Suara Merdeka. Senin, 31 Mei 2004.
Kristanto, P. (2002). Ekologi Industri. Andi. Yogyakarta
Langgeng, W dan Setyo, W. (2004). Kebijakan itu Menuai Persoalan Harian Umum Suara
Merdeka. Selasa, 10 Agustus 2004
Marganof. (2003). Potensi Limbah Udang Sebagai Penyerap Logam Berat (Timbal, Kadmiun dan
Tembaga) di Perairan. [http://rudyct.topcities.com/pps702_71034/ marganof.htm] dikunjungi
10 April 2005.
Mujiadi, S, dan Nieke K. (2001). Kemampuan Koagulan Poli Aluminium Khloride Untuk Menurunkan
Warna Effluent Pengolahan Limbah P.T Sier.Jurnal Purifikasi.vol 2 (V). Hal 271-276.
Munaf, E dan R. Zein 1999. Pemanfaatan Sabut Kelapa Sawit untuk Menyerap Ion Logam
Kadmium dan Kromium Dalam Air Limbah. Jurnal Kimia Andalas. 5 (1) : 10-14
Rama, D.P., and Rama Krisha Naidu, G. 1990. Enrichment of Trace Metals in Water on Acivated
Carbon. Analyst. 115 : 1469 - 1471
Soetomo, M. (1990). Teknik Budidaya Udang Windu. Sinar Baru. Bandung Malaysia. (2000). Kajian
ke Atas Kitosan Diteruskan. [http://www.ukm.my] dikunjungi 19 Desember 2004
Wardana, W. (2001). Dampak Pencemaran Lingkungan. Andi. Yogyakarta
Widodo, A dan Muslihatin,W. (2005). Kitosan Dari Sisa Udang Sebagai
Koagulan Limbah Cair Industri Tekstil. Karya Tulis Ilmiah Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya.