Anda di halaman 1dari 26

5

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Customer Relationship Management (CRM)
CRM adalah strategi bisnis untuk memilih dan me-manage pelanggan sehingga dapat
mengoptimasi long-term value. CRM memerlukan customer-centric business
philosophy dan culture untuk mendukung marketing, sales dan service yang efektif.
CRM sebagai strategi bisnis tidaklah barang baru karena telah diakui bahwa
komponen kritis dari semua jenis bisnis adalah pelanggan.

Alasan CRM sangat populer adalah kekuasaan telah berpindah kepada customer,
perusahaan tidak bisa mempermainkan switching cost karena persaingan telah sangat
terbuka.

CRM adalah kombinasi antara proses bisnis dan teknologi yang mencari cara untuk
memahami pelanggan dari berbagai sisi, CRM berarti menawarkan produk yang
tepat kepada customer yang tepat pada saat yang tepat dan harga yang tepat melalui
touch point yang tepat (Kalakota and Robinson, 1999 )

At it’s core, CRM is an enterprise-wide mindset, mantra and set of business
processes and policies that are designed to acquire, retain and service customer.
Broadly speaking, CRM includes the customer-facing business process of Marketing,
sales and customer service (Greenberg, 2001)

CRM packages serve primarily to automate the various customer touch points within
an enterprise.Enterprise must possess extensive knowledge of customer buying
patterns, channel preferences, and historical contact information. This requires
collecting and analyzing data to provide a comprehensive, cohesive and centralized
view of a customer (Greenberg, 2001).

CRM is a comprehensive set of purposes and technologies for managing the
relationships with potential and current customers and business partner across
marketing, sales, and service regardless of the communication channe. In short,
CRM is about knowing your customer. It’s about creating and growing relationship
with your customer. It’s about remembering customer preferences and forging long
term relationship with them by delivering exceptional service and product offerings
tailored to them. CRM is not technology, though. Technology is CRM enabler
(Greenberg, 2001)

6
2.1.1 Tujuan Customer Relationship Management
Tujuan Customer Relationship Management (Kalakota and Robinson, 1999):
• Menggunakan hubungan yang ada sekarang (existing) untuk
menambah penghasilan
• Menggunakan informasi yang terintegerasi untuk pelayanan yang
memuaskan
• Membuat proses dan prosedur penjualan lebih berulang
• Menghasilkan value untuk customer dan meningkatkan kesetiaan
• Implementasi strategi solusi yang lebih proaktif

Sementara menurut Drucker

(Barnes, 2003), tujuan Customer Relationship
Management sama seperti tujuan sebuah perusahaan, yakni: untuk menciptakan nilai
(value) bagi pelanggan dan kesejahteraan bagi karyawan. Karena tujuannya adalah
penciptaan nilai, maka perusahaan harus mengerti nilai-nilai yang diharapkan oleh
pelanggan, dan ketika perusahaan ingin mengerti nilai yang diharapkan pelanggan,
pertama kali perusahaan harus menetapkan apa yang dihargai pelanggan melalui riset
pelanggan.
2.1.2. Tiga Fase Customer Relationship Management
Ada tiga fase CRM, yaitu: akusisi, peningkatan, dan pengikatan (Kalakota and
Robinson, 1999):
• Akusisi pelanggan baru: Perusahaan mengakusisi/mendapatkan pelanggan
baru dengan cara promosi produk/jasa. Value yang ditawarkan ke pelanggan
adalah produk yang berkualitas superior dengan pelayanan yang istimewa
• Meningkatkan tingkat keuntungan dari pelanggan yang ada: Perusahaan
meningkatkan hubungan dengan pelanggan dengan melakukan cross-selling
dan up-selling, value yang ditawarkan ke pelanggan adalah kenyamanan yang
lebih dengan harga yang murah
• Mengikat pelanggan menjadi pelanggan seumur hidup: Tahap ini berfokus
pada adaptasi pelayanan yang disediakan, yakni menyediakan apa yang
dibutuhkan pelanggan, bukan apa yang dibutuhkan pasar.


7
Tiga fase di atas saling berkaitan, tetapi melakukan semuanya secara bersamaan akan
melelahkan bagi perusahaan. Sehingga disarankan perusahaan hanya berfokus pada
salah satu fase saja (Kalakota and Robinson, 1999).

Dalam melakukan tiap fase di atas, digunakan metode-metode yang berbeda:
Direct Marketing, Sales Force Automation, Cross Selling & Upselling, Customer
Support dan Proactive support. Tiga fase di atas diperlukan untuk membangun
konstruksi CRM secara menyeluruh sebagaimana terlihat di arsitektur CRM di
gambar 2.1 berikut.



Gambar 2-1. Arsitektur CRM

2.2. Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction)
Kepuasan pelanggan adalah istilah yang menggambarkan tingkat kepuasan yang
dialami pelanggan ketika mengkonsumsi produk/jasa yang dikeluarkan oleh
produsen. Untuk mencapai kepuasan pelanggan, perusahaan tidak hanya
menciptakan produk, tetapi menciptakan nilai (value) bagi pelanggan (Barnes, 2003).

Kepuasan adalah: tanggapan pelanggan atas terpenuhinya kebutuhannya. Hal itu
berarti penilaian bentuk keistimewaan dari suatu barang atau jasa, kepuasan
memberikan tingkat kenyamanan yang terkait dengan pemenuhan suatu kebutuhan,
termasuk pemenuhan kebutuhan di bawah harapan atau pemenuhan kebutuhan
melebihi harapan pelanggan (Barnes, 2003).



Kepuasan pelanggan adalah suatu emosi yang dihasilkan dari penilaian-penilaian atas
serangkaian pengalaman. Penilaian-penilaian ini terdiri dari berbagai proses yang
berbeda-beda yang memicu respon-respon afektif

(Barnes, 2003)

8

Gambar 2-2. Hasil yang diperoleh dari Penciptaan nilai

Kepuasan pelanggan adalah target yang berubah-ubah, perusahaan perlu memikirkan
tentang kebutuhan-kebutuhan yang dibawa pelanggan pada masing-masing transaksi
dengan suatu perusahaan. Masing-masing pelanggan memasuki situasi jual beli
dengan serangkaian kebutuhan pada tingkat yang berbeda-beda.

Susan Fournier dan David Glen Mick baru-baru ini menggambarkan lima
kesimpulan penting tentang kepuasan pelanggan (Barnes, 2003):
1. Kepuasan pelanggan adalah suatu proses yang aktif dan dinamis
2. Kepuasan pelanggan seringkali memiliki dimensi sosial yang kuat
3. Nilai (value) dan emosi adalah komponen integral dari kepuasan
4. Proses kepuasan tergantung pada konteks, maksudnya pelanggan dapat
menggunakan kata “tergantung” dalam menjawab, kepuasan pelanggan
ditentukan oleh berbagai paradigma, model dan mode
5. Kepuasan produk selalu berkaitan dengan kepuasan dan kualitas hidup itu
sendiri

Kepuasan pelanggan adalah sesuatu hal yang menyebabkan seorang pelanggan
kembali dan kembali lagi kepada perusahaan yang telah bertransaksi sebelumnya.
9
Kepuasan diartikan sebagai suatu keadaan dalam diri seseorang yang telah berhasil
mendapatkan sesuatu yang menjadi kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-
keinginannya. Makna kebutuhan adalah: kondisi seseorang untuk memiliki sesuatu
yang tidak dipunyai, dan sesuatu itu wajib baginya, sedangkan makna keinginan:
kondisi seseorang yang merasakan kekurangan terhadap sesuatu yang lazim bagi
dirinya (Sulastiyono, 1999).

Berdasarkan penjelasan di atas, kunci untuk memberikan kepuasan kepada tamu
adalah berusaha mengetahui apa yang dibutuhkan dan apa yang diinginkan tamu.
2.2.1. Elemen-elemen penyusun Kepuasan Pelanggan
Irawan dalam Indonesia Customer Satisfaction Index menyatakan bahwa kepuasan
pelanggan ditentukan oleh 5 hal (Irawan, 2004)
1. kualitas produk
2. jasa pelayanan
3. faktor emosional
4. harga dan biaya
5. kemudahan mendapatkannya

Barnes dalam Secret of Customer Relationship Management menulis pula 5 pemicu
kepuasan pelanggan (Barnes, 2003):
1. Produk atau jasa inti
2. Sistem dan Pelayanan pendukung
3. Performa teknis
4. Elemen-elemen interaksi dengan pelanggan
5. Elemen emosional (dimensi afektif pelayanan)
2.3. Kepariwisataan dan Perhotelan
2.3.1. Kepariwisataan
Menurut Norval, wisata adalah kegiatan memasuki wilayah di negara asing atau
wilayah lain di negara sendiri dengan tujuan apapun, asal bukan untuk tinggal
menetap atau melakukan usaha yang teratur, dan mengeluarkan uangnya di
negara/tempat yang dikunjungi, serta tidak mendapatkan uang dari negara/tempat
yang dikunjungi (Sulastiyono, 1999)
10
Sementara Mc Intosh dan Goelder mendefinisikan pariwisata sebagai sekumpulan
fenomena dan hubungan yang tumbuh dari interaksi antara wisatawan dan pengusaha
dengan pemerintah dan masyarakat tuan rumah. Interaksi terjadi dalam suatu proses
dimana pemerintah dan masyarakat berusaha untuk mempengaruhi para wisatawan
agar bersedia singgah ke daerahnya (Sulastiyono, 1999)

Pariwisata termasuk gejala ekonomi karena adanya permintaan/demand dari pihak
wisatawan dan penawaran/supply dari pemberi jasa pariwisata (biro perjalanan,
penginapan, rumah makan) atas produk dan berbagai fasilitas terkait (Sulastiyono
1999).

Di Indonesia kepariwisataan didefinisikan dalam UU RI no.9 Tahun 1990 sebagai
segala sesuatu yang terkait dengan wisata, selanjutnya disebutkan “Usaha pariwisata
adalah kegiatan yang bertujuan menyelenggarakan jasa pariwisata atau
mengusahakan objek dan daya tarik wisata, usaha sarana pariwisata dan usaha lain
yang terkait di bidang tersebut” (Sulastiyono, 1999).
2.3.2. Perhotelan
Sementara makna hotel menurut Hotel Proprietors Act, 1956: “Suatu perusahaan
yang dikelola oleh pemiliknya dengan menyediakan pelayanan makanan, minuman
dan fasilitas kamar kepada orang-orang yang sedang melakukan perjalanan dan
mampu membayar uang dalam jumlah yang wajar sesuai pelayanan yang diterima
tanpa adanya perjanjian khusus
1
”.

Di Indonesia, mengacu pada SK Menparpostel No. KM 37/PW.340/MPPT-86
tentang Peraturan Usaha dan Penggolongan Hotel, ayat (b) disebutkan bahwa: “Hotel
adalah suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian ataupun seluruh
bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, makanan dan minuman serta jasa
penunjang lain bagi umum yang dikelola secara komersial”.

Sementara Bab 1, Pasal 1, Ayat (a) menerangkan makna kata ‘akomodasi’:
“Akomodasi adalah wahana untuk menyediakan pelayanan jasa penginapan yang
dilengkapi dengan pelayanan makan dan minum serta jasa lainnya”.

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa hotel adalah (Sulastiyono, 1999):
1. Suatu jenis akomodasi
2. Menggunakan sebagian atau seluruh bangunan yang ada
3. Menyediakan jasa penginapan, makanan dan minuman serta jasa penunjang
lainnya
4. Disediakan bagi umum

1
Tanpa ada perjanjian khusus yang dimaksud adalah perjanjian seperti membeli barang yang disertai
dengan perundingan-perundingan sebelumnya
11
5. Dikelola secara komersial, yang dimaksud dikelola secara komersial adalah
dikelola dengan memperhitungkan untung atau ruginya, serta bertujuan
mendapatkan keuntungan berupa uang sebagai tolok ukurnya.

Pengertian hotel menurut Keputusan Menparpostel tersebut berbeda dengan
penginapan atau losmen, dimana dalam Keputusan Menparpostel disebutkan bahwa
penginapan atau losmen tidak termasuk dalam pengertian hotel. Penginapan atau
losmen adalah: “Suatu usaha komersial yang menggunakan seluruh atau sebagian
dari bangunan yang khusus disediakan bagi setiap orang untuk memperoleh
pelayanan sewa kamar untuk menginap”. Dengan demikian beda antara
penginapan/losmen dengan hotel adalah bahwa penginapan atau losmen tidak
menyediakan pelayanan makanan dan minuman, serta jasa penunjang lainnya
(Sulastiyono, 1999).
2.3.2.1. Fasilitas usaha hotel
Fasilitas usaha hotel yang disyaratkan Menparpostel adalah:
1. Kamar tidur (kamar tamu), pada dasarnya ada 4 jenis:
a. Single room: Kamar untuk 1 orang yang dilengkapi dengan 1 buah
tempat tidur berukuran single untuk 1 orang
b. Twin room: Kamar untuk 2 orang yang dilengkapi dengan 2 buah
tempat tidur, masing-masing berukurang single
c. Double room: Kamar yang dilengkapi dengan 1 buah tempat tidur
berukuran double (untuk 2 orang)
d. Double-double: Kamar untuk 4 orang, yang dilengkapi dengan 2
kamar tamu, dan dengan 2 tempat tidur berukuran double (untuk 2
orang)

Adapun fasilitas standar untuk masing-masing jenis kamar adalah:
• Kamar mandi privat (bath room)
• Tempat tidur
• Ruang tidur
• Almari pakaian (cupboard)
• Telepon
• Radio dan televisi
• Meja rias/tulis (dressing table)
• Rak untuk menyimpan koper (luggage rack)
• Asbak, korek api, handuk, alat tulis (stationeries)
12
Menurut fasilitasnya, kamar dibedakan menjadi
• Standard room
• Superior room
• Moderate
• Suite room
• Executive suite room
• Penhouse
2. Makanan dan minuman
3. Pelayanan penunjang lain seperti:
a. Tempat-tempat rekreasi
b. Fasilitas olah raga
c. Fasilitas dobi (loundry)dsb.
2.3.2.2. Klasifikasi usaha hotel
Menurut SK No. KM 37/PW.340/MPPT-86 yang dikeluarkan oleh Departemen
Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, penggolongan hotel ditandai dengan bintang,
disusun mulai dari hotel berbintang 1 sampai dengan yang tertinggi hotel berbintang
5. Secara garis besar kriteria yang digunakan untuk penggolongan hotel tersebut
didasarkan pada unsur-unsur persyaratan berikut:

1. Fisik
a. Besar/kecilnya hotel atau banyak/sedikitnya jumlah kamar tamu
i. Hotel kecil, hotel dengan <25 kamar
ii. Hotel sedang, hotel yang memiliki kamar antara 25-100
iii. Hotel menengah, hotel yang memiliki kamar antara 100-300
iv. Hotel besar, hotel yang memiliki >300 kamar

b. Kualitas, lokasi dan lingkungan bangunan
Untuk lokasi maka pembagian hotel umumnya dibagi menjadi 3
sebagai berikut:
i. Hotel Transien: Hotel yang letak/lokasinya di tengah kota,
sehingga jenis tamu yang menginap sebagian besar adalah
untuk urusan bisnis dan turis
ii. Hotel Residensial: Hotel yang pada dasarnya merupakan
rumah-rumah berbentuk apartemen dengan kamar-kamarnya,
dan disewakan secara bulanan atau tahunan. Hotel residensial
juga menyediakan kemudahan-kemudahan seperti layaknya
hotel, seperti restoran, pelayanan makanan yang diantar ke
kamar, dan pelayanan kebersihan kamar.
iii. Hotel resor: Hotel yang letak/lokasinya di tempat-tempat
wisata, menyediakan tempat-tempat rekreasi dan juga ruang
serta fasilitas konferensi untuk tamu-tamunya
13
c. Fasilitas yang tersedia untuk tamu: seperti ruang penerima tamu, dapur,
toilet dan telepon umum
d. Perlengkapan yang tersedia, baik untuk tamu, karyawan
e. Kualitas bangunan, seperti kualitas lantai, dinding, tingkat kekedapan
terhadap api, tingkat kekedaoan terhadap suara yang datang dari dalam
maupun luar hotel
f. Tata letak ruang dan ukuran ruang
2. Operasional/Manajemen
a. Struktur organisasi dengan uraian tugas dan manual kerja yang tertulis
bagi masing-masing jabatan yang tercantum dalam organisasi
b. Tenaga kerja, spesialisasi dan tingkat pendidikan karyawan
disesuaikan dengan persyaratan peraturan penggolongan hotel
3. Pelayanan
a. Keramahtamahan, kesopanan dan mengenakan pakaian seragam hotel
b. Pelayanan diberikan dengan mengacu pada kebutuhan-kebutuhan dan
keinginan-keinginan tamu
c. Untuk hotel bintang 4 dan 5, pelayanan dibuka 24 jam

Untuk penggolongan bintang 1 sampai 5, pihak pemilik hotel harus memenuhi semua
klausul persyaratan yang termuat dalam buku SK Menparpostel No. KM
37/PW.340/MPPT-86 setebal 125 halaman.
2.4. Linear Programming
Linear programming/Pemrograman Linear berkenaan dengan optimasi (minimasi atau
maksimasi) fungsi linear yang memenuhi kumpulan batasan/constraints yang berupa
persamaan/pertidaksamaan linear. Pemrograman Linear pertama kali disusun oleh
George B. Dantzig tahun 1947 ketika sedang mengerjakan projek sebagai
Mathematical Advisor Comptoller di USAF yang bertujuan mengembangkan alat
perencanaan untuk kegiatan Pelatihan dan supplai logistik.

WinQSB mendefinisikan Linear Programming adalah: “An LP or ILP problem
involves one linear objective function and limited number of linear constraints.
Decision variables may be bounded with limited values. All decision variables for an
LP problem are considered continuous in nature; that is, any real value within the
bounds. Decision variables for an ILP problem may be restricted to integer (whole)
values or binary (0 or 1) values”

LP atau ILP melibatkan 1 fungsi tujuan (objective function) linear dan beberapa
fungsi batasan (constraints) linear. Variabel keputusan dibatasi oleh nilai-nilai
tertentu, semua variabel keputusan untuk LP asalnya kontinyu yang berarti dapat
berupa pecahan bilangan real, sementara untuk ILP dibatasi untuk integer saja atau
binary (0 atau 1).
14

Linear programming banyak dikenal orang karena:
1. Kemampuannya untuk memodelkan keputusan manajemen yang kompleks
dan penting
2. Kemampuannya untuk menghasilkan solusi dalam jangka waktu yang tidak
terlalu lama

Definisi dasar:
Minimimasi c
1
x
1
+ c
2
x
2
+ ... + c
n
x
n
(Fungsi Tujuan)
Subjek To a
11
x
1
+ a
12
x
2
+ ... + a
1n
x
n
≥ b
1

a
21
x
1
+ a
22
x
2
+ ... + a
2n
x
n
≥ b
2

. . . . .
. . . . .
. . . . .
a
m1
x
1
+ a
m2
x
2
+... + a
mn
x
n
≥b
m

x
1
, x
2
, . . . . . . . , x
n
≥ 0

Asumsi linear programming:
1. Proporsionalitas: Misalnya ada variabel X
j
, kontribusinya ke cost adalah C
j
X
j

dan kontribusinya terhadap konstrain ke-i adalah A
ij
X
j
. Ini berarti bahwa jika
nilai X
j
dikalikan dua maka kontribusinya ke cost dan constraints akan
menjadi 2X lipat pula. Atau dengan kata lain tidak akan ada penghematan juga
cost tambahan jika menggunakan aktivitas Xj dalam jumlah berapapun, atau
tidak ada setup cost jika akan memulai aktivitas.
2. Additivitas: Asumsi ini menjamin bahwa cost total adalah penjumlahan dari
cost individual, dan kontribusi total kepada constraint ke-i adalah
penjumlahan dari kontribusi individual dari aktivitas-aktivitas individu. Atau
dengan kata lain tidak ada efek substitusi atau interaksi antara aktivitas
3. Divisibilitas: Asumsi ini menjamin bahwa variabel keputusan dapat dibagi ke
level pecahan manapun sehingga nilai non-integer dimungkinkan untuk
variabel keputusan (apabila bukan Integer-Linear-Programming)
4. Deterministik: koefisien c
j
, a
ij
dan b
i
diketahui secara deterministik. Semua hal
yang berbau probabilistik atau stokastik yang biasanya selalu muncul dalam
demand, costs, price, resource availabilities, usage diasumsikan diwakili oleh
nilai-nilai yang didapat dari ekivalensi deterministik dan jika perlu
menggunakan beberapa macam asumsi.
2.4.1. Metode Simpleks
Metode simpleks adalah metode pemecahan programa linear dengan cara mengetahui
titik-titik ekstrim lalu mengenumerasi titik-titik ekstrim sebagai calon solusi hingga
diketahui optimalitas tercapai, atau didapat nilai optimal tidak terikat (unbounded).
15
Kunci dari metode simpleks adalah mengenali optimalitas dari titik-titik ekstrim yang
telah diketahui tanpa harus mengerti semua titik-titik ekstrim secaral global.

Langkah-langkah metode simpleks
TAHAP INISIALISASI

Pilih basic feasible solution awal dengan basis B

LANGKAH-LANGKAH UTAMA

1. Selesaikan persamaan Bx
b
= b (dengan solusi yang unik x
b
= B
-1
b=b

), dimana
x
B
= b

, x
N
= 0, dan z = c
B
x
B
.
2. Selesaikan persamaan wB = c
B
(dengan solusi yang unik w=c
B
B
-1
). (vektor w
disebut sebagai vektor dari simplex multiplier, karena komponennya adalah
pengali/multiplier dari baris A yang ditambahkan ke fungsi objektif). Lalu
hitung z
j
-c
j
= wa
j
-c
j
untuk semua variabel non-basic (hal ini dikenal dengan
nama pricing operation). Jika z
k
-c
k
≤ 0 maka berhenti dengan BFS sekarang
sebagai hasil optimal. Jika tidak maka lanjutkan ke langkah 3, dengan x
k

sebagai variabel masuk.
3. Pecahkan sistem dengan By
k
= a
k
(dengan solusi yang unik y
k
=B
-1
a
k
). Jika
yk≤ 0 maka berhenti, dan simpulkan bahwa kondisi optimal unbounded
sepanjang garis, jika yk tidak lebih kecil atau sama dengan 0 maka lanjutkan
ke langkah 4
4. Biarkan x
4
memasuki basis, indeks r dari variabel penghalang x
Br
yang
meninggalkan basis ditentukan dengan tes rasio minimum. Update basis B
dimana a
k
menggantikan a
Br
, update set index R, dan ulangi langkah 1

Atau dapat pula diungkapkan seperti berikut sebagaimana terdapat di help WinQSB:
Jika permasalahan LP didefinisikan sebagai berikut:

Maksimalimasi atau minimasi CX
S/T AX = b
X≥0

Dimana X adalah vektor variabel keputusan, C adalah vektor koefisien fungsi
objektif, A adalah matriks teknologi dan b adalah vektor right-hand sides (RHS). n
adalah jumlah variabel dan m adalah jumlah konstrain.

Untuk semua iterasi simpleks, Aj adalah kolom dari A(i,j) untuk i = 1 sampai m, B
adalah matriks yang mengandung kolom Aj untuk semua variabel basis dan V adalah
16
vektor koefisien fungsi objektif untuk semua variabel basis. D adalah matriks invers
dari B. Sehingga koefisien harga yang tereduksi menjadi

C
j
- Z
j
=C
j
- V D A
j
untuk j=1 sampai n.

1. Dapatkan satu solusi feasible atau solusi artifisial terlebih dahulu
2. Hitung Cj-Zj untuk semua variabel
3. Pilih Entering variable dengan Cj - Zj paling positif untuk maksimasi atau
yang paling negatif untuk minimasi. Jika tidak dua-duanya maka lanjutkan ke
langkah (6).
4. Gunakan aturan rasio minimum untuk memilih variabel yang meninggalkan
basis. Jika tidak ada yang terpilih maka problem unbounded dan prosedur
dihentikan prosedur dihentikan.
5. Lakukan pivot operation pada matriks yang baru. Ulangi ke langkah (2)
6. Jika variabel artifisial memiliki solusi yang tidak 0. LP tidak fisibel atau solusi
optimal telah tercapai.
2.5. Goal Programming
Pemrograman Linear standar telah dijelaskan di bagian 2.4, tetapi dalam kebanyakan
kasus pemodel dihadapkan pada suatu kasus dimana fungsi objektif tidak hanya satu,
tetapi bervariasi, misalnya: meningkatkan keuntungan, meningkatkan pangsa pasar,
mempertahankan harga sekarang, meningkatkan moral pekerja, meningkatkan prestise
perusahaan. Karena itulah diperkenalkan sebuah metode yang disebut Goal
Programming/ Pemrograman Tujuan, Goal Programming tidaklah mungkin
mengoptimasi semua fungsi tujuan yang saling bertentangan, yang dapat dilakukan
hanyalah solusi kompromis yang didasarkan pada beban masing-masing dari fungsi
tujuan.

Goal programming hampir mirip dengan Pemrograman linear, akan tetapi berbeda
pada fungsi tujuannya yang tidak hanya satu, dan Pengambil keputusan harus
mempertimbangkan semua tujuan tersebut.

Software WinQSB mendefinisikan Goal Programming adalah:

“A GP or IGP problem involves one or more linear goals (objective functions) and
limited number of linear constraints. The goals are prioritized or ordered”

Goal Programming melibatkan 1 atau lebih linear goal (fungsi objektif) dan jumlah
tertentu dari linear constraints (fungsi batasan linear). Fungsi tujuan diprioritaskan
menurut urutan tertentu

Bentuk standar dari Goal Programming adalah:
17

Maksimasi atau Minimasi C
11
X
1
+ C
12
X
2
+ ... + C
1n
X
n
(Goal level 1)
Maksimasi atau Minimasi C
21
X
1
+ C
22
X
2
+ ... + C
2n
X
n
(Goal level 2)
... dst.
Subject to: A
11
X
1
+ A
12
X
2
+ ... + A
1n
X
n
≤b
1
,
A
21
X
1
+ A
22
X
2
+ ... + A
2n
X
n
≥ b
2
,
A
31
X
1
+ A
32
X
2
+ ... + A
3n
X
n
= b
3
,
... dst.
a ≤ X
1
≤ b, 0 ≤ X2 ≤ ∞ , ..., dst.

Ada 2 cara yang dipakai untuk mengoptimasi beberapa fungsi tujuan yang saling
bertentangan, yakni cara Pembobotan (weighting method) dan Pemrioritasan
(preemptive method)

Di metode weighting, sebuah fungsi objektif dibuat untuk merekap semua fungsi
objektif yang ada, sementara di metode preemptive fungsi tujuan di diurutkan menurut
orde kepentinganya, lalu model diselesaikan 1 demi 1 menggunakan satu fungsi
tujuan dimulai dengan yang memiliki prioritas tertinggi, yang bermakna bahwa nilai
optimum dari goal yang lebih penting tidak terdegradasi oleh goal dengan prioritas
yang lebih rendah. Metode preemptive dan weighting di atas adalah metode yang
berbeda atau dengan kata lain kedua cara tersebut tidak akan menghasilkan hasil yang
sama. Akan tetapi tidak satu pun dari kedua metode tersebut dapat ditasbihkan
menjadi yang terbaik, karena setiap teknik didesain untuk memuaskan hal-hal yang
berbeda yang berkaitan dengan preferensi pengambil keputusan.

2.5.1. Metode weighting
Misalnya sebuah formulasi model memiliki goal berjumlah n dan goal ke i adalah:
Minimasi , 1, 2,..,
i
G i n =
Metode weighting membuat 1 buah fungsi yang merupakan rekapitulasi dari fungsi-
fungsi goal di atas:
Minimasi
1 1 2 2
.....
n n
wG w G w G + + +
Dimana w
i
, i = 1,2,..,n adalah bobot positif yang mencerminkan preferensi pengambil
keputusan mengenai kepentingan relatif tiap goal

2.5.2. Metode Preemptive
Di metode preemptive goal yang berjumlah n diurutkan berdasarkan rangking yang
bobot-bobot tersebut ditentukan oleh pengambil keputusan sehingga menjadi seperti
berikut:
Minimasi
1 1
G ρ = (Prioritas paling tinggi)
18
Minimasi
2 2
G ρ = (Prioritas paling rendah)
Variabel
1
ρ adalah komponen variabel deviasi
i
s
+
atau
i
s

untuk goal ke-i
Prosedur untuk mencari solusi dimulai dengan memecahkan satu permasalahan untuk
sekali waktu, dengan goal awal adalah G
1
dan goal akhir adalah G
n
. proses dilakukan
demikian agar solusi yang didapat dari goal dengan prioritas yang lebih rendah tidak
mendegradasi solusi yang telah ditemukan dengan goal yang memiliki prioritas yang
lebih tinggi. Yang bermakna bahwa untuk 1 i ≥ , jika ( )
i
z G adalah fungsi optimum
dari goal G
i
maka optimisasi dari goal berikutnya ( )
j
G j i > tidak akan pernah
memberikan solusi yang memperburuk nilai ( )
i
z G . Taha menjelaskan cara untuk
menyelesaikan Goal Programming dengan metode Preemptive sebagai berikut:

Step 0 : Identifikasi goal dari model dan urutkan menurut urutan prioritas :
1 1 2 2
...
n n
G G G ρ ρ ρ = > = > > = , set i = 1
Step i : Selesaikan LP
i
yang meminimasi G
i
dan biarkan
*
i i
ρ ρ = , definisikan nilai
optimum untuk variabel deviasi
i
ρ . Jika i = n maka berhenti LP
n
telah
menyelesaikan semua goal, atau jika belum maka tambahkan sebuah konstrain
*
i i
ρ ρ = untuk permasalahan dengan G
i
untuk memastikan bahwa bahwa nilai
i
ρ tidak akan terdegradasi pada permasalahan berikutnya, set i=i+1, ulangi
step i
2.6. Model Keputusan Analytic Hierarchy Process (AHP)
2.6.1. Pengertian AHP
Metode AHP atau Proses Analisis Berhierarki merupakan salah satu metode
pengambilan keputusan dimana faktor-faktor logika, intuisi, pengalaman,
pengetahuan, emosi dan rasa dicoba untuk dioptimasikan dalam suatu proses yang
sistematis dan memiliki justifikasi kuantitatif. Metode ini mulai dikembangkan oleh
Thomas L. Saaty, seorang ahli matematika yang bekerja pada Universitas Pitssburgh
di Amerika Serikat, pada awal tahun 1970-an.

AHP yang dikembangkan oleh Saaty dapat memecahkan masalah yang kompleks
dimana aspek atau kriteria yang diambil cukup banyak, kompleksitas dalam
permasalahan dapat disebabkan oleh: struktur masalah yang belum jelas,
ketidakpastian persepsi pengambil keputusan serta tidak tersedianya data statistik
yang akurat atau bahkan tidak ada sama sekali. Adakalanya timbul masalah
pengambilan keputusan yang dirasakan dan diamati perlu diambil keputusannya
segera, tetapi variasinya rumit sehingga datanya tidak mungkin dapat dicatat secara
numerik, hanya kualitatifnya saja yang dapat diukur, yakni berdasarkan persepsi,
19
pengalaman dan intuisi. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa model-model
lainnya ikut dipertimbangkan pada saat proses pengambilan keputusan.

Kelebihan AHP dibandingkan dengan lainnya adalah:
1. Struktur yang bertingkat (hierarki) sebagai konsekuensi dari kriteria
yang dipilih sampai kriteri yang paling dalam
2. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi
inkonsistensi berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh para
pengambil keputusan
3. Memperhitungkan daya tahan atau ketahanan output analisis
sensitivitas pengambilan keputusan

Kelemahan-kelemahan penggunaan AHP adalah
1. Responden yang dilibatkan harus memiliki pengetahuan yang cukup/expert
mengenai permasalahan dan mengenai AHP itu sendiri
2. AHP tidak dapat diterapkan pada sebuah masalah yang memiliki perbedaan
cara pandan yang sangat tajam/ekstrim di kalangan responden
2.6.2. Proses Pengembangan Pendapat Manusia Dalam Membuat Keputusan
Proses pengembangan pendapat manusia ketika harus mengambil keputusan menurut
Carl Jung, merupakan kombinasi dari 4 fungsi, yakni: Intuisi, Berpikir, Perasaan dan
Penginderaan.

Orang yang membuat keputusan berdasar pada intuisinya akan cenderung untuk
bersikap holistik dalam mengambil keputusan akan tetapi kurang teliti dalam merinci
hal-hal yang kecil. Penyelesaian masalah dilakukan mengikuti gerak hati (intuisi)
tanpa mampu mengembalikannya ke dalam data.

Orang yang menggunakan penginderaan sebagai dasar membuat keputusan akan
cenderung melihat permasalahan apa adanya, berdasarkan atas fakta, juga memiliki
kecenderungan untuk teliti terhadap detil tatapi lupa akan keterkaitan masalah yang
lebih luas.

Orang yang membuat keputusan atas dasar pikirannya akan cenderung untuk
mendekati masalah dengan cara analitis, mengutamakan ketepatan, logika dan akan
cenderung untuk memproses informasi dari awal sampai akhir, kerap mengabaikan
aspek emosi atau aspek perasaan dari suatu situasi sehingga seringkali tampak kurang
berperasaan atau kurang peka terhadap perasaan orang lain.

Sedangkan orang yang menggunakan perasaannya dalam membuat keputusan akan
cenderung untuk kurang menyukai analisis yang bersifat intelektual, lebih peka
20
terhadap perasaan dan cenderung untuk mengikuti orang lain dalam hal suka ataupun
tidak suka.

Keempat fungsi di atas digunakan oleh manusia dalam mengembangkan model
pengambilan keputusan, dan digunakan pula dalam mengembangkan model AHP
secara sistematis.
2.6.3. Langkah-Langkah Dalam Metode AHP
Pada dasarnya langkah-langkah dalam metode AHP meliputi:
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan
2. Membuat struktur hierarki yang diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan
dengan subtujuan-subtujuan, kriteria dan kemungkinan alternatif-alternatif
pada tingkat kriteria yang paling bawah
3. Membuat matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi
relatif atau pengaruh tiap elemen terhadap masing-masing tujuan atau kriteria
yang setingkat diatasnya.
4. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh judgment
seluruhnya sebanyak n * [(n-1)/2] buah dengan n adalah banyak elemen yang
dibandingkan.
5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya, jika tidak konsisten maka
pengambilan data diulangi.
6. Mengulangi langkah 3,4,5 untuk seluruh tingkat hierarki
7. Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan berpasangan, nilai
eigen merupakan bobot setiap elemen. Langkah ini untuk mensintesis
judgement dalam penentuan prioritas elemen-elemen pada tingkat hierarki
terendah sampai pencapaian tujuan
8. Memeriksa konsistensi hierarki, jika nilainya > 10 % maka penilaian dan
judgement harus diperbaiki.
21
Tabel 1. Pedoman pemberian nilai pada PWCJM

Intensitas
kepentingan
Keterangan Penjelasan
1 Kedua elemen sama
pentingnya
Dua elemen mempunyai
pengaruh yang sama
besar terhadap tujuan
3 Elemen yang satu sedikit
lebih penting dari pada
elemen yang lain
Pengalaman dan
penilaian sedikit
menyokong satu elemen
dibandingkan elemen
lainnya
5 Elemen yang satu sedikit
lebih cukup dari pada
elemen yang lainnya
Pengalaman dan
penilaian sangat kuat
menyokong satu elemen
dibandingkan atas
elemen lainnya
7 Satu elemen jelas lebih
penting dari pada elemen
lainnya
Satu elemen yang kuat
disokong dan
dominannya telah terlihat
dalam praktek
9 Satu elemen mutlak
penting dari pada elemen
lainnya
Bukti yang mendukung
elemen yang satu
terhadap elemen lain
memiliki tingkat
penegasan tertinggi yang
mungkin menguatkan
2,4,6,8 Nilai-nilai antara 2 nilai
pertimbangan yang
berdekatan
Nilai ini diberikan bila
ada 2 kompromi di antara
2 pilihan

Kebalikan
Jika untuk aktivitas i mendapat satu angka bila
dibandingkan dengan aktivitas j, maka j memiliki
nilai kebalikannya bila dibandingkan dengan i


Pada dasarnya formulasi matematis pada model AHP dilakukan dengan menggunakan
suatu matriks. Misalkan dalam suatu subsistem operasi terdapat n elemen operasi,
yakni elemen A
1
, A
2
, ...., A
n
, maka hasil perbandingan secara berpasangan elemen-
elemen operasi tersebut akan membentuk matriks perbandingan sebagai berikut:


22
A
1
A
2
... A
n

A
1
a
11
a
12
... A
1n

A
2
a
21
a
22
... A
2n

... … … … …
A
n
a
n1
a
n2
... a
nn


Matriks A (n * n) adalah matriks resiprokal. Diasumsikan ada n elemen, yakni: w
1
,
w
2
, .., w
n
yang akan dinilai secara perbandingan. Nilai perbandingan secara pasangan
antara (wi, wj) dapat direpresentasikan seperti matriks tersebut, dengan notasi:

1
2
( , ); , 1, 2,...,
w
a i j i j n
w
= =
Dalam hal ini matriks perbandingan adalah matriks A dengan unsur-unsurnya adalah
a
ij
, dengan i,j = 1,2,...,n. Unsur-unsur tersebut diperoleh dengan membandingkan satu
elemen operasi dengan elemen operasi lainnya untuk tingkat hierarki yang sama,
matriks tersebut disebut Pairwise Comparison Judgment Matrices (PCJM).

Bila vektor pembobotan elemen-elemen operasi dinyatakan sebagai vektor W, dengan
W = (W
1
,W
2
,...,W
n
), maka nilai intensitas kepentingan elemen operasi A
1
terhadap A
2

= W
1
/W
2
= a
12
, sehingga matriks dapat ditulis ulang menjadi seperti berikut:

A
1
A
2
... A
n

A
1
w
1
/w
1
w
1
/w
2
... w
1
/w
n

A
2
W
2
/w
1
W
2
/w
2
... W
2
/w
n
... … … … …
A
n
W
n
/w
1
W
n
/w
2
... W
n
/w
n

Nilai-nilai w
i
/w
j
dengan i,j = 1,2,...,n diperoleh dari expert. Bila matriks ini dikalikan
dengan vektor kolom W = W
1
, W
2
, ..,W
n
maka diperoleh hubungan.

AW = nW...........(1)

Dalam teori matriks, formula tersebut menyatakan bahwa W adalah eigenvektor dari
matriks A dengan eigenvalue = n. Bila ditulis secara lengkap maka persamaan
tersebut akan terlihat seperti berikut:

23

1 1 1
1 2
1 1
2 2 2
2 2
1 2
1 2
...
...
* *
... ...
... ... ... ...
...
n
n
n n
n n n
n
w w w
w w w
w w
w w w
w w
w w w n
w w
w w w
w w w
⎛ ⎞
⎜ ⎟
⎜ ⎟
⎛ ⎞ ⎛ ⎞
⎜ ⎟
⎜ ⎟ ⎜ ⎟
⎜ ⎟
⎜ ⎟ ⎜ ⎟
=
⎜ ⎟
⎜ ⎟ ⎜ ⎟
⎜ ⎟
⎜ ⎟ ⎜ ⎟
⎜ ⎟ ⎜ ⎟
⎜ ⎟
⎝ ⎠ ⎝ ⎠
⎜ ⎟
⎜ ⎟
⎝ ⎠

Variabel n pada persamaan di atas dapat digantikan secara umum dengan sebuah
vektor λ sebagai berikut:

AW = λ W.................(2)

Dimana λ = ( λ
1
, λ
2
,... λ
n
). Setiap λ
n
yang memenuhi persamaan (2) disebut
eigenvalue, sedangkan vektor W yang memenuhi persamaan (2) disebut eigenvektor.

Karena matriks A adalah matriks resiprokal dengan nilai a
ii
= 1 untuk semua i, maka


1
n
i
i n λ
=
=

..............(3)
Apabila matriks A adalah matriks yang konsisten maka semua eigenvalue bernilai 0
kecuali 1 yang bernilai = n. Bila matriks A adalah matriks yang tak konsisten, variasi
kecil atas a
ij
akan membuat nilai eigenvalue terbesar/ λ
maksimal
tetap dekat dengan n,
dengan eigenvalue lainnya mendekati 0.

Nilai λ
maksimal
dapat dicari dengan persamaan berikut:

AW = λ
maksimal
W.............(4)

Atau

[A- λ
maksimal
I] = 0..................(5)
Dimana I adalah matriks identitas.

Nilai vektor bobot W dapat dicari dengan mensubstitusikan nilai λ
maksimal
ke dalam
persamaan (4). Dalam prakteknya, konsistensi tidak mungkin didapat. Nilai a
ij
akan
menyimpang dari rasio wi/wj, dengan demikian persamaan (1) tidak akan terpenuhi.
Deviasi λ
maksimal
dari n merupakan suatu parameter Consistency Index (CI) yang
rumusnya sebagai berikut:


max
-n
1
CI
n
λ
=

..............(6)
24
Nilai CI tidak akan berarti bila tidak terdapat acuan untuk menyatakan apakah CI
menunjukkan suatu matriks yang konsisten. Saaty memberikan acuan dengan
melakukan pembandingan acak terhadap 500 buah sampel, Saaty berpendapat bahwa
suatu matriks yang dihasilkan dari pembandingan yang dilakukan secara acak
merupakan matriks yang mutlak tidak konsisten. Dari matriks tersebut didapatkan
pula nilai Consistency Index (CI) yang disebut Random Index (RI). Dengan
membandingkan CI dan RI akan didapatkan sebuah rasio yang disebut Consistency
Ratio (CR) melalui rumus:


CI
CR
RI
= ...............(7)
Dari 500 buah sampel matriks acak dengan skala perbandingan 1-9, Saaty
mendapatkan nilai rata-rata RI sebagai berikut:

Tabel 2. Tabel RI dari berbagai Orde Matriks

Orde Matriks 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
RI 0 0 0,58 0,9 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,49

Orde Matriks 11 12 13 14 15
RI 1,51 1,48 1,56 1,57 1,59

2.6.4. Perhitungan Matematis dalam AHP (Direct Comparison)
Perhitungan matematis dalam AHP akan dicontohkan dengan studi kasus perhitungan
yang dilakukan Prof. T.L. Saaty untuk menentukan perguruan tinggi yang dimasuki
oleh anaknya. Anaknya merasa kesulitan dalam memilih 1 dari 3 perguruan tinggi
yang menerimanya sebagai mahasiswa, Prof. Saaty memutuskan untuk membuat
suatu hierarki seperti berikut:

25


Keterangan:
PBM : Proses Belajar Mengajar
LP : Lingkungan Pergaulan
KS : Kehidupan Sekolah
PK : Pendidikan Kejuruan
KUA : Kualifikasi Yang Diminta Sekolah
KM : Mutu Pendidikan Musik

Gambar 2-1. Hierarki keputusan

Setelah penyusunan hierarki selesai, langkah selanjutnya adalah melakukan
pembandingan antara elemen dengan memperhatikan pengaruh elemen pada level di
atasnya. Pembandingan tersebut dilakukan dengan level 1-9, matriks perbandingannya
seperti berikut ini:

Tabel 3. Matriks Pair Wise Comparison Judgment Matrix

PBM LP KS PK KUA KM
PBM 1 4 3 1 3 4
LP ¼ 1 7 3 1/5 1
KS 1/3 1/7 1 1/5 1/5 1/6
PK 1 1/3 5 1 1 1/3
KUA 1/3 5 5 1 1 3
KM ¼ 1 6 3 1/3 1



26
Nilai pada tabel di atas disintesiskan dengan menjumlahkan angka-angka yang
terdapat pada tiap kolom. Setelah itu angka dalam tiap sel dibagi dengan jumlah pada
kolom yang bersangkutan, kegiatan ini akan menghasilkan matriks yang dinormalkan
sebagai berikut:

Tabel 4. Matriks PWCJM yang dinormalkan

PBM LP KS PK KUA KM Rata-rata
PBM 6/19 23/66 1/9 5/46 45/86 8/19 0,3
LP 3/38 2/23 7/27 15/46 3/86 2/19 0,15
KS 2/19 1/80 1/27 1/46 3/86 1/57 0,04
PK 6/19 2/69 5/27 5/46 15/86 2/57 0,14
KUA 2/19 17/39 5/27 5/46 15/86 6/19 0,22
KM 3/38 2/23 2/9 15/46 5/86 2/19 0,15

Langkah pertama untuk menghitung konsistensi adalah dengan melakukan perkalian
matriks matriks perbandingan * vektor prioritasnya. Yang dapat dilihat sebagai
berikut:
1 4 3 1 3 4 0, 3 2, 4
1/ 4 1 7 3 1/ 5 1 0,15 1,11
1/ 3 1/ 7 1 1/ 5 1/ 5 1/ 6 0, 04 0, 26
*
1 1/ 3 5 1 1 1/ 3 0,14 0, 94
1/ 3 5 5 1 1 3 0, 22 1, 84
1/ 4 1 6 3 1/ 3 1 0,15 1,10
⎛ ⎞ ⎛ ⎞ ⎛ ⎞
⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟
⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟
⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟
=
⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟
⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟
⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟
⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟
⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟
⎝ ⎠ ⎝ ⎠ ⎝ ⎠


Selanjutnya nilai masing-masing sel pada vektor hasil perkalian tersebut dibagi
dengan nilai masing-masing sel pada vektor prioritas sehingga diperoleh hasil berikut:
2, 4 0, 3 7,88
1,11 0,15 7, 45
0, 26 0, 04 6, 75
0, 96 0,14 6, 76
1, 84 0, 22 8, 31
1,1 0,15 7, 5
⎛ ⎞ ⎛ ⎞ ⎛ ⎞
⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟
⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟
⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟
÷ =
⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟
⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟
⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟
⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟
⎜ ⎟ ⎜ ⎟ ⎜ ⎟
⎝ ⎠ ⎝ ⎠ ⎝ ⎠

Nilai λ
maksimal
dapat dapat dicari dengan perhitungan sebagai berikut:


max =
7, 88 7, 45 6, 75 6, 76 8, 31 7, 5
6
λ
+ + + + +

Sedangkan nilai Consistency Index (CI) didapat dengan perhitungan:

27

max
7, 44 6
0, 29
1 6 1
n
CI
n
λ − −
= = =
− −

Berdasarkan tabel RI, untuk jumlah elemen 6 RI adalah 1,24. Maka nilai Consistency
Ratio (CR) adalah:


0, 29
0, 23
1, 24
CI
CR
RI
= = =
Nilai 0,23 ini menyatakan bahwa rasio konsistensi dari hasil penilaian pembandingan
memiliki rasio sebesar 23 % sehingga penilaian di atas tidak dapat diterima dan harus
diulang kembali karena lebih besar dari 10%.
2.6.5. Model AHP dengan pengukuran absolut (Rating Method).
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa dalam penyusunan PCJM
diperlukan pembandingan antar elemen dengan jumlah n(n-1)/2. jika jumlah elemen
yang akan dievaluasi jumlahnya kecil (7 atau kurang) elemen dapat dinilai dengan
mengacu pada tiap kriteria.

Tetapi jika jumlah elemen yang dinilai besar, metode direct comparison akan sulit dan
memakan banyak sumber daya. Sebagai contoh untuk 20 elemen, n(n-1)/2 akan
menjadi 190 total penilaian yang diperlukan. Jumlah yang besar yang diperlukan tadi
adalah keterbatasan dari metode AHP dasar. Ada cara yang dapat dilakukan untuk
mengurangi jumlah penilaian yang diperlukan.

Liberatore (1987) menggunakan penambahan 1 level hierarki dari pendekatan AHP
biasa. Jika pendekatan AHP biasa memiliki 3 level hierarki seperti berikut:
1. Tujuan
2. Kriteria
3. Alternatif

Maka pendekatan model Liberatore menambahkan level penghitungan skala rating
untuk mengurangi jumlah penilaian yang diperlukan. Sehingga level pengambilan
keputusan Liberatore akan menjadi 4 level berikut:
1. Tujuan
2. Kriteria
3. Skala Rating
4. Alternatif

Pada prakteknya level ke-4 tidak akan muncul, karena proposal tidak dinilai
berpasangan dari tiap kriteria, tetapi dinilai melalui skala lima poin. Liberatore
menggunakan skala 5 poin, yakni (Dari besar ke kecil): Outstanding (O), Good (G),
Average (A), Fair (F), Poor (P). Kelima skala ini akan dibandingkan satu dengan
lainnya kemudian dicari bobot lokalnya. Berikut ini adalah PCJM dari kelima skala
28
tersebut mengikuti skala 1-9 dari Saaty, berdasarkan penelitian Liberatore dan M.C.Y.
Tam et.al (2000)

2.7. Time Value of Money, Interest, dan Ekivalensi
2.7.1. Time Value of Money dan Interest
Uang memiliki nilai waktu, artinya nilai uang tergantung kapan uang tersebut
diterima. Sejumlah uang yang diterima di masa yang akan datang nilainya lebih kecil
dibandingkan dengan jumlah uang yang sama apabila diterima saat ini.

Perubahan nilai waktu dari uang dinamakan interest, interest adalah harga/cost karena
menggunakan kapital, interest merupakan kompensasi yang dibayarkan kepada
peminjam (lender, owner). Menurut Riggs: Interest adalah biaya karena menunggu,
akan tetapi untuk ekonom teknik, interest lebih cocok dikatakan sebagai hasil
produktif yang dapat dihasilkan dari penggunaan efisien resource uang tersebut.
Sehingga interest dapat disebut sebagai ukuran produktivitas yang diharapkan dari
sebuah resource uang yang bersangkutan.

Interest adalah perbedaan antara jumlah uang semula (principal) yang dipinjam atau
diinvestasikan, dengan jumlah uang terakhir yang akan dibayarkan atau yang akan
diterima.
Sehingga pada kasus investasi:
Interest = total amount accumulated – original investment
Sementara pada kasus peminjaman uang:
Interest = present amount owned – original loan

Gambar 2-4. Ilustrasi tentang Interest

Periode waktu yang paling umum digunakan untuk menyatakan interest rate adalah 1
tahun, tetapi dapat juga dinyatakan dalam waktu kurang dari 1 tahun. Beberapa
alternatif jangka waktu yang sering digunakan adalah:
29
Tabel 5. Periode interest

Interest period Cara interest di kalkulasi
Semi-annual 2 X per tahun, atau sekali tiap 6 bulan
Quarterly 4 X per tahun, atau sekali tiap 3 bulan
Monthly 12 X per tahun
Weekly 52 X per tahun
Daily 365 X per tahun
Continuous Untuk jangka waktu tertentu yang pendek.

Penghitungan interest memiliki 2 metode, metode Simple dan metode Compound:

1. Simple : Metode simple menghitung bunga berdasar jumlah pokoknya
saja/principle, sehingga mengabaikan penambahan karena bunga sebelumnya
di dalam periode pembungaan.
Sehingga untuk metode Simple, jumlah interest dapat dihitung dengan rumus:
Interest = (principal) * (Number of periods) * (interest rate) = P*n*i
2. Compound : Dalam metode compound, interest dari sebuah investasi dihitung
dari jumlah pokok ditambah jumlah total yang telah terakumulasi oleh interest
periode sebelumnya. Metode konvensional untuk menghitung interest adalah
metode compound, metode simple jarang dipakai.
Rumus untuk menghitung interest dengan metode compound adalah:
Interest = (Principal) * ((1 + interest rate))
number of periods
= p* (1+i)
n

2.7.2. Ekivalensi
Banyak keputusan-keputusan teknis (engineering decision) melibatkan biaya (costs)
dan manfaat (benefits) yang terjadi pada berbagai horison waktu yang berbeda.
Karena itu untuk menjadikannya sebagai pembanding, dibutuhkan suatu cara agar
nilai-nilai yang berbeda tersebut menjadi ‘sama’, karena itu dikenal sebuah metode
yang disebut ekivalensi. Menurut Fraser, Bernhardt dan Jawkes, ada 3 konsep yang
menjadi dasar perbandingan biaya dan manfaat pada berbagai horison waktu yang
berbeda:

1. Mathematical equivalence: ekivalensi adalah konsekuensi dari fungsi
matematis antara waktu dan uang.
2. Decision equivalence: ekivalensi adalah konsekuensi dari pengabaian decision
maker atas beberapa bagian dari cara memandang sebuah keputusan
3. Market equivalence: Ekivalensi adalah konsekuensi dari kemampuan untuk
merubah sebuah cash flow ke dalam bentuk lain, tanpa cost apapun.

30
Formula-formula bunga majemuk:

i = Bunga per periode (interest rate per interest period)
n = jumlah periode bunga (number of interest period)
P = jumlah uang saat ini (present sum of money)
F = Jumlah uang di masa yang akan datang (future sum of money)
A = Annual Equivalent

Ada beberapa rumus yang berguna untuk menghitung ekivalensi

(1 )
n
F P i = +
(1 )
n
P F i

= +
(1 ) 1
n
i
F A
i
⎡ ⎤ + −
=
⎢ ⎥
⎣ ⎦
, sehingga dapat ditulis juga
(1 ) 1
n
i
A F
i
⎡ ⎤
=
⎢ ⎥
+ −
⎣ ⎦

(1 ) 1
(1 )
n
n
i
P A
i i
⎡ ⎤ + −
=
⎢ ⎥
+
⎣ ⎦
, sehingga dapat ditulis juga
(1 )
(1 ) 1
n
n
i i
A P
i
⎡ ⎤ +
=
⎢ ⎥
+ −
⎣ ⎦


2.7.3. Cash flow
Cash flow atau aliran kas adalah deskripsi dari kas yang masuk dan keluar, biasanya
digambarkan melalui sebuah grafik yang terdiri dari garis horisontal yang
menandakan horison waktu, dan garis vertikal yang berpangkal pada garis horisontal
yang memiliki nilai-nilai positif dan negatif, positif menandakan pendapatan
(benefits), negatif menandakan pengeluaran (costs). Contoh grafiknya seperti berikut:


Gambar 2-2. Grafik Cash flow