Anda di halaman 1dari 17

1. Bagaimana anatomi dari jalan lahir?

JALAN LAHIR LUNAK
OVARIUM
TUBA UTERINA
UTERUS  tempat implantasi ajnin, memberi nutrisi jalin, jalan lahir lunak.
Kontraksi dari uterus mempengaruhi persalinan
Janin terlalu besar menyebabkan rupture uteri
VAGINA

JALAN LAHIR KERAS
Pelvis  dari 2 os coxae, os sacrum, os coccygis

Diameter Eksterna:
a. D. intertrocanterica 29 cm
b. D. intercristarum 26 cm
c. D. interspinosum 23 cm
d. Conjugate externa 18 cm
e. D. oblique 12,5 cm

Diameter Interna
PAP:
- Conjugata vera 11 cm
Digunakan conjugate smile dikurangi 1 – 1,5 cm
- D. transversa 13 cm
- D. oblique 12,75 cm
PTP:
- D. AP 11 cm
- D. transversa 10,5 cm
PBP:
- D. AP 11,5 cm
- D. transversa 10 cm

BIDANG HODGE
i. Melewati dari PAP
ii. Melewati tepi bawah simfisis pubis sejajar hodge 1
iii. Melewati kedua spina ischiadica sejajar hodge 1
iv. Melewati juncture sacrococcygea sejajar hodge 1

BENTUK PELVIS
Caldwell Moloy:
- Antropoid
- Gynecoid  normal pada wanita
- Platypelloid
- Android  pada laki-laki
Turner:
- Dolicopellic
- Mesatipellic
- Brachypellic
- Platypellic

2. Apa saja kriteria panggul sempit?
1. Saat dilakukan VT teraba promontorium. N: -
2. Saat VT dapat meraba 2/3 linea terminalis/inominata
3. Saat VT teraba kedua spina ischiadica
4. Saat VT teraba os. coccygis

3. Bagaimana fisiologi dari persalinan?
Penyebab mulainya persalinan belum diketahui dengan pasti dan sampai saat ini masih merupakan teori-
teori yang kompleks.
6,7,8,9

Beberapa teori yang dikemukakan adalah:
a. Penurunan kadar progesteron
Progesteron menimbulkan relaksasi otot-otot rahim, sebaliknya estrogen meningkatkan sensitivitas otot
rahim. Selama kehamilan terdapat keseimbangan antara kadar progesteron dan estrogen didalam darah,
tetapi pada akhir kehamilan terjadi penurunan kadar progesteron sehingga timbul kontraksi uterus.
Pendapat lain mengatakan bahwa dengan bertambah tuanya plasenta mengakibatkan terjadinya
penurunan kadar progesteron dan estrogen dalam darah, dimana hal ini diduga sebagai pencetus proses
persalinan.
b. Teori oksitosin
Pada akhir masa kehamilan terjadi peningkatan jumlah reseptor oksitosin dijaringan desidua dan
miometrium, sehingga merangsang pelepasan prostaglandin yang menyebabkan timbulnya kontraksi
uterus.
c. Peregangan otot-otot
Diduga persalinan terjadi apabila uterus telah meregang sampai batas tertentu. Seperti pada kandung
kemih dan lambung, bila terjadi peregangan dinding kandung kemih dan lambung karena pertambahan
volume maka timbul kontraksi untuk mengeluarkan isinya.
d. Penekanan bagian terbawah janin
Penekanan oleh bagian terbawah janin pada serviks, segmen bawah rahim, dan pleksus frankenhauser
disekitar serviks dan vagina dapat menimbulkan kontraksi uterus.
e. Teori prostaglandin
Peningkatan kadar prostaglandin yang dihasilkan oleh desidua dalam air ketuban dan darah ibu hamil
sebelum melahirkan atau selama persalinan diduga menjadi salah satu penyebab dimulainya proses
persalinan.
f. Teori imunologi
Imunitas merupakan salah satu faktor yang bekerja sinergis dalam fenomena toleransi maternal terhadap
janin.
Wiknjosastro H. Fisiologi Dan Mekanisme Persalinan Normal. Edisi Ketiga.Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawiharjo
4. Bagaimana pembagian KALA pada persalinan?


5. Mengapa bisa terjadi partus tak maju? Bagaimana kriteria partus tak maju?
KRITERIA PARTUS TAK MAJU
Partus lama adalah fase laten lebih dari 8 jam. Persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih, bayi belum lahir.
Dilatasi serviks di kanan garis waspada persalinan aktif (Syaifuddin, AB., 2002).

Pada prinsipnya persalinan lama dapat disebabkan oleh :
2. His tidak efisien (adekuat)
3. Faktor janin (malpresenstasi, malposisi, janin besar)
4. Faktor jalan lahir (panggul sempit, kelainan serviks, vagina, tumor0 Faktor-faktor ini sering saling berhubungan.

KRITERIA PARTUS MACET
Bila ditemukan tanda-tanda obstruksi
- Bayi hidup lahirkan seksio sesarea
- Bayi mati lahirkan dengan kraniotomi embriotomi
Apa saja faktor yang mempengaruhi persalinan?
Ada beberapa faktor yang berperan dalam persalinan yaitu :
Tenaga atau Kekuatan (power) ; his (kontraksi uterus), kontraksi otot dinding
perut, kontraksi diafragma pelvis, ketegangan, kontraksi ligamentum
rotundum, efektivitas kekuatan mendorong dan lama persalinan.
Janin (passanger) ; letak janin, posisi janin, presentasi janin dan letak plasenta.
Jalan Lintas (passage) ; ukuran dan tipe panggul, kemampuan serviks untuk
membuka, kemampuan kanalis vaginalis dan introitus vagina untuk
memanjang.
Kejiwaan (psyche) ; persiapan fisik untuk melahirkan, pengalaman persalinan,
dukungan orang terdekat dan intregitas emosional.

APA SAJA YANG MEMPENGARUHI KONTRAKSI UTERUS?
DM, Anemia, penyakit jantung, asma

MACAM-MACAM MALPRESENTASI JANIN!
a. Letak Sungsang
1) Pengertian
Letak Sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala difundus uteri
dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. (Hanifa Wiknjosastro, 2007 : h 606).
Persalinan pada bayi dengan presentasi bokong (sunsang) dimana bayi letaknya sesuai dengan sumbu
badan ibu, kepala berada pada fundus uteri sedangkan bokong merupakan bagian bawah (didaerah
PAP/simpisis). (

2) Etiologi
letak janin dalam uterus tergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan didalam uterus. Pada
kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu, jumlah air ketuban relative lebih banyak, sehingga
memungkinkan janin bergerak dengan leluasa. Dengan demikian janin dapat menempatkan diri dalam
presentasi kepala, letak sungsang atau letak lintang. Pada kehamilan trimester akhir janin tumbuh dengan
cepat dan jumlah air ketuban relative berkurang. Karena bokong dengan kedua tungkai yang melipat lebih
besar dari kepala, maka bokong dipaksa untuk menempati ruangan yang lebih luas difundus uteri, sedangkan
kepala berada diruangan yang lebih kecil disegmen bawah uterus. Dengan demikian dapat dimengerti
mengapa pada kehamilanbelum cukup bulan frekuensi letak sungsang lebih tinggi, sedangkan pada
kehamilan cukup bulan janin ditemukan sebagian besar dalam presentasi kepala. Factor – factor lain yang
memegang peranan dalam terjadinya letak sungsang diantaranya ialah : multiparitas, hamil kembar,
hidramnion, hidrochepalus, plasenta previa dan panggul sempit. Letak sungsang kadang juga disebabkan
oleh kelainan uterus, dan bentuk uterus. Plasenta yang terletak didaerah kornu fundus uteri dapat pula
menyebabkan letak sungsang, karena lasenta mengurangi luas ruengan didaerah fundus.

3) Jenis – jenis Letak sungsang
Jenis-jenis letak sungsang yakni : presentasi bokong, presentasi bokong kaki sempurna, presentasi
bokong kaki tidak sempurna, dan presentasi kaki.

4) Diagnosis
Menurut Sumarah, (2008 : h 123), diagnosis letak sungsang, yaitu ;
a) Pemeriksaan palpasi Leopold ;
· Leopold I : fundus teraba kepala, bulat keras dan melenting
· Leopold II : bagian kanan kiri teraba bagian kecil dan punggung janin
· Leopold III : teraba bokong, agak built, lunak, dan tidak melenting
b) Pemeriksaan auskultasi : letak DJJ yang paling jelas terdengar diatas pusat.
c) Pemeriksaan Rontgen : kesan terlihat bayangan kepala difundus
d) Pemeriksaan dalam (VT) teraba sacrum, anus, tuber isciadicumkadang-kadang kaki atau lutut.

5) Prognosis
prognosis dari persalinan sungsang (presentasi bokong adalah ;
a) Prognosis bagi janin
Dapat menimbulkan asfiksia, karena adanya gangguan peredaran darah plasenta setelah bokong dan
perut lahir dimana tali pusat terjepit antara kepala dan panggul.
b) Prognosis bagi ibu
Resiko terkena infeksi karena robekan perineum yang lebih besar dan karena tindakan yang dilakukan,
ketuban pecah dini, dan partus lama.

b. Letak Lintang
1) Pengertian
Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang didalam uterus dengan kepala pada sisi
yang satu sedangkan bokong pada sisi yang lain. (Hanifa Wiknjosastro, 2007 : 622).
Letak lintang adalh letak janin dengan posisi sumbu panjang tubuh janin memotong atau tegak lurus
dengan sumbu panjang ibu. (Sumarah, 2008 : h 141)

2) Etiologi
Sebab terpenting terjadinya letak lintang adalah multiparitas disertai dinding uterus dan perut yang
lembek. Pada kehamilan premature(letak janin belum menetap), hidramnion dan kehamilan kembar, janin
sering dijumpai dalam keadaan letak lintang. Keadaan – keadaan lain yang dapat menghalangi turunnya
kepala kedalam rongga panggul seperti misalnya panggul sempit, tumor didaerah panggul dan plasenta
previa dapat pula mengakibatkan letak lintang. Demikian pula kelainan bentuk rahim, seperti misalnya uterus
arkuatus atau uterus subseptus, juga merupakan penyebab terjadinya letak lintang.
3) Diagnosis
Menurut Sumarah (2008 : h 142)
a) Inspeksi : Abdomen biasanya melebar kearah samping dan fundus uteri melebar diatas umbilicus.

b) Palpasi :
- Leopold I : fundus uteri tidak ditemukan bagian janin
- Leopold II : teraba ballotemen kepala pada salah satu fosa iliaka dan teraba bokong pada fosa iliaka yang lain.
- Leopold II dan IV : tidak ditemukan bagian janin, kecuali pada saat persalinan berlangsung dengan baik dapat teraba bahu
didalam panggul.
c) Pada pemeriksaan dalam teraba bagian yang bergerigi yaitu tulang rusuk pada dada janin diatas PAP pada
awal persalinan. Pada persalinan lebih lanjut teraba klavikula. Posisi aksila menunjuk kemana arah bahu janin
menghadap tubuh ibu. Bila persalinan terus berlanjut bahu janin akan masuk rongga panggul dan salah satu
lengan sering menumbung (lahir terlebih dahulu) kedalam vagina dan vulva.

4) Prognosis
prognosis dari letak lintang adalah :
a) Prognosis bagi ibu
- Rupture uteri
- Robekan jalan lahir
b) Prognosis bagi janin
- Kematian janin
- Tali pusat menumbung
- Trauma
- Sepsis akibat bagian janin menumbung (Sumarah, 2008 : h 144)

c. Presentasi Muka
1) Pengertian
Presentasi Muka adalah hiperekstensi sehingga ubun-ubun kecil menempel pada punggung dan
petunjuknya adalah dagu.
Presentasi muka ialah keadaan dimana kepala dalam kedudukan defleksi maksimal, sehingga oksiput
tertekan pada punggung dan muka merupakan bagian terendah menghadap kebawah.

2) Etiologi
Presentasi muka disebabkan oleh terjadinya ekstensi yang penuh dari kepala janin, penolong akan
meraba muka bayi : mulut, hidung dan pipi. (Saifudin AB, 2007 : h 194)
Menurut Sumarah (2008 : h 140), penyebab lain pada presentasi muka:
a) Panggul sempit
b) Perut yang menggantung pada multipara menyebabkan punggung janin menggantung kedepan atau kearah
lateral. Vertebra torakal dan servikal menjadi ekstensi.
c) Leher terdapat lilitan tali pusat
d) Pada janin dengan anensephalii
3) Diagnosa

a) Palpasi abdomen : os occipitalmenonjol jelas, kepala teraba lebih besar
b) Pemeriksaan pelvic : tak teraba 2 fontanel/fontanel anterior, tetapi teraba lunak, mata, hidung, mulut
(perabaan lembut),
c) Hasil Radiologi menunjukkan kepala hiperekstensi, tulang-tulang muka berada pada atau dibawah PAP.

6. Mengapa dari riwayat persalinan didapatkan inpartu kala 1 fase laten selama 10 jam?

7. Apa maksud dan interpretasi status internus normal, status obs kontraksi 1x/ 10 menit selama 10
detik?
HIS menunjukkan tidak adekuat.

8. Apa interpretasi dari Leopold bayi 1 intrauterine letak lintang dorsoinferior?
 Terdapat 1 janin dalam rahim
 Letak janin abnormal  karena teraba tahanan memanjang

9. Interpretasi dari DJJ 12-12-12?
NORMAL!

10. Adakah hubungan antara TBJ 4000 gram dengan status pasien?
Faktor pasenger terlalu besar sehingga mempengaruhi proses persalinan.

11. Apa interpretasi dari px VT: pembukaan 3 cm, eff 60%, bagian bawah teraba tahanan memanjang,
tak ada bagian menumbung?
a. Pembukaan 3 cm: serviks membuka selebar 3 cm
b. Eff 60%: penipisan serviks tidak sesuai dengan pembukaan. Seharusnya pada eff ini sudah
mencapai pembukaan 6 -7 cm
c. Tahanan memanjang: punggung
d. Tidak ada bagian menumbung: tidak ada bagian bulat (kepala)

12. Mengapa terjadi portio edem?
13. Promontorium teraba, line inominata teraba < 1/3 lingkaran, spina ischiadica menonjol?
Merupakan kriteria dari panggul sempit.

14. Apakah ada hubungan dengan BB ibu 55 kg, TB 145 cm dengan kondisi pasien?
Pada wanita dengan tinggi badan yang kurang dari normal ada kemungkinan memiliki kapasitas
panggul sempit, namun bukan berarti seorang wanita dengan tinggi badan yang normal tidak dapat
memiliki panggul sempit.
(Winkjosastro H.2007.Ilmu Kebidanan Edisi Ketiga. Jakarta: YBP-SP.)

15. Apa saja pemeriksaan lab yang dilakukan oleh dokter?
16. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dilakukan?
17. Kelainan apa saja yang mungkin terjadi pada kala 1?
Kelainan his pada primigravida tua
Klasifikasi Ada 3
o inersia uteri
kontraksi uterus lebih aman,singkat,dan jarang daripada biasanya.keadaan umum penderita
biasanya baik dan rasa nyeri tidak seberapa. Selama ketuban masih utuh umumnya tidak
berbahaya, baik bagi ibu maupun janin, kecuali persalinan lama. Keadaan ini disebut inersia uteri
primer atau hypotonik uterine contraction.
o hipertonik uterine contaction
HIS terlampau kuat. His yang terlalu kuat dan terlalu efisien menyebabkan persalinan selesai dalm
waktu yang sangat singkat. Partus yang sudah selesai kurang dari 3 jam dinamakan partus
presipitatus. Bahaya partus presipitatus bagi ibu adalah terjadinya perlukaan luas pada jalan lahir,
khususnya vagina dan perineum. Bayi bisa mengalami perdarahan dalam tengkorak karena bagian
bagian tersebut mengalami tekanan kuat dalam waktu yang singkat.
o incoordinant uteri contraction
sifat His berubah, tonus otot terus meningkat yang menyebabkan rasa nyeri yang lebih dan lama
bagi ibu dapat pula menyebabkan hipoksia pada janin. Kontraksinya tidak berlangsung seperti
biasa karena tidak ada sinkronisasi kontraksi bagian atas, tengah, dan bawah. Hal ini bisa
menyebabkan his tidak efisien dalam mengadakan pembukaan. Dan pada persalinan yang lama
dengan ketuban yang sudah lama pecah, kelainan His ini dapat menyebabkan spasmus sirkuler
setempat, sehingga tejadi penyempitan kavum uteri pada tempat itu, yang disebut lingkaran
konstriksi.
(Sarwono Prawirohardjo, “Ilmu Kebidanan”, BP-SP : Jakarta)
Etiologi kelainan His :
a) faktor herediter
b) faktor emosi (ketakutan) khususnya pada inersia uteri
c) peregangan rahim yang berlebih pada kehamilan ganda ataupun hidramnion menyebabkan inersia
uteri
d) kelainan pembentukan uterus pada masa embrional, misalnya uterus bikornis unikolis.
(Sarwono Prawirohardjo, “Ilmu Kebidanan”, BP-SP : Jakarta)

Penanganan :
o inersia uteri
setelah diagnosis inersia uteri ditegakkan, harus diperiksa keadaan servik, presentasi aerta posisi
janin, turunnya kepala janin dalam panggul, dan keadaan panggul. Jika ada CPD maka langsung
lakukan seksio sesarea. Keadaan umum penderita diperbaiki sementara dan kosongkan kandung
kencing dan retum. Apabila kepala atau bokong janin sudah masuk ke dalam panggul, penderita
disuruh jalan2 supaya his menjadi kuat. Jika ketuban belum pecah bisa dilakukan pemecahan
ketuban, karena setelah tindakan ini persalinan tidak boleh berlangsung terlalu lama.
Pemberian oksitisin 5 satuan dimasukkan dalam larutan glukosa 5% dan berikan secara intravena
dengan kecepatan 12 tetes per menitdan dapat perlahan2 dinaikkan menjadi 50 tetes per menit.
Tapi jika tetap uterus tidak berkontraksi dengan baik lakukan seksio sesarea.
Kontra indikasi pemberian oksitosi adl pada panggul sempit, ibu yang pernah seksio sesarea,
miometomi, grande multipara.
Efek samping pemberian oksitosin dapat menimbulkan incoordinate uterine action.
o hipertonik uteri contaction
biasanya pada ibu yang pernah partus presipitatus kemungkinan akan terjadi lagi, sehingga pada
saat akan mendekati persalinan harus diawasi dengan baik, dan episiotomi dilakukan pada waktu
yang tepat untuk menghindari ruptur perinei.
o Incoordinate uterine action
Hanya dapat diobati secara simtomatis karena belum ada obat yang dapat memperbaiki koordinasi
fungsional atara bagian2 uterus. Usaha yang dilakukan adalah mengurangi tonus otot dan
mengurangi ketakutan penderita. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian analgetik seperti
morfin dan petidin. Persalinan tidak boleh lama apalagi ketuban sudah pecah maka harus segera
lakukan seksio sesarea.
(Sarwono Prawirohardjo, “Ilmu Kebidanan”, BP-SP : Jakarta)

 Passage
1. Kelainan panggul
Panggul ibu terlalu sempit
Kelainan bentuk ada 3
 Kongenital
 Outlet sempit(funnel pelvic)
 Male type pelvic
 Just minor pelvic
 Kelainan penyakit tulang panggul(rachirtis,osteomalasia,TBC tulg)
 Kelainan tulg belakang(lordosis,skoliosis,kifosis,spondilolistesis)
( Sinopsis Obstetri, Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH )
2. Disproporsi cephalopelvic
Ada beberapa kemungkinan:
 Imbsng sefalo-pelvik baik : partus dapat direncanakan pervaginam, namun demikian
His, posisi kepala dan keadaan serviks harus diperhatikan selama partus.
 Disproporsi sefalo-pelvik : janin tidak dapat dilahirkan secara normal pervaginam, bila
anak hidup lakukan seksio sesarea.
 Kemungkinan disproporsi : imbang baik atau dapat terjadi disproporsi.
( Sinopsis Obstetri, Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH )

3. Kelainan jalan lahir lunak
 Distosia serviks
Adalah terhalangnya kemajuan persalinan karena kelainan pada serviks uteri.
Klasifikasi kelainan pada serviks uteri :
a) Serviks kaku
Suatu keadaan dimana seluruh serviks kaku. Keadaan ini sering dijumpai pada
primigravida tua, atau karena adanya parut2 bekas luka atau nbekas infeksi atau pada
karsinoma servisis.
Jika setelah diberi obat valium dan petidin tidak merubah sifat kekakuan, tindakan kita
adalah melakukan seksio sesarea.
b) Serviks gantung
Suatu keadaan dimana ostium uteri eksternum dapat terbuka lebar, sedang OUI tidak
mau membuka.
Bila observasi keadaan tetap dan tidak ada kemajuan OUI maka pertolongan yang tepat
adl seksio sesarea.
c) Serviks konglumer
Suatu keadaan dimana OUI dapat terbuka sampai lengkap sdg OUE tidak mau membuka.
Keadaan ini biasanya ditemui pada ibu hamil dgn prolaps uteri disertai serviks dan portio
yang panjang.
Penanganan : perlebar OUE dgn sayatan menurut Durhsen yaitu sayatlah masing2
selebar 1-2 cm shgg pembukaan menjadi lengkap (10cm) dan partus dapat dipimpin atau
diselesaikan dengan ekstraksi vakum atau forsep.
d) Edema serviks
Bila dijumpai edema yang hebat pada serviks dan disertai hematoma serta nekrosis
maka ini mrpkan tanda adanya obstruksi. Bila syarat2 untuk ekstraksi vakum atau forsep
tidak dipenuhi lakukan seksio sesarea.
( Sinopsis Obstetri, Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH )
 Kelainan lain pada jalan lahir lunak :
a) Tumor jalan lahir lunak, seperti kista vagina, polip serviks, mioma uteri, & kista ovarii
b) Kandung kemih yang penuh atau batu kandung kemih yang besar
c) Rectum yang penuh dengan tumor
d) Ginjal yang turun ke dalam rongga pelvis
e) Kelainan2 bentuk uterus, seperti uterus bikornis, uterus septus, uterus arkuatus
( Sinopsis Obstetri, Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH )

 Passanger
1. Kelainan letak kepala

2. Kelainan letak sungsang
Klasifikasi :
a) Letak bokong dengan kedua tungkai terangkat keatas
b) Letak sungsang sempurana : letak bokong dimana kedua kaki ada disamping bokong
c) Letak sungsang tidak sempurna : dimana selain bokong bagian yang terendah juga kaki atau
lutut.
( Sinopsis Obstetri, Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH )

Etiologi :
a) Fiksasi kepala pada PAP tidak baik atau tidak ada, misalnya pada panggul sempit,
hidrosefalus, anensefali, plasenta previa, tumor2 pelvis
b) Janin mudah bergerak, seperti pada hidramnion, multipara, janin kecil
c) Gemeli
d) Kelainan uterus
e) Sebab yang tidak diketahui
( Sinopsis Obstetri, Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH )

3. Kelainan letak lintang
Yaitu bila sumbu memanjang janin menyilang sumbu memanjang ibu secara tegak lurus atau
mendekati 90 °.
Etiologi :
Penyebab tersering LL merupakan kombinasi dari berbagai faktor, sering pula penyebabnya
tetap merupakan sutau misteri. Faktor2 tsb adl :
a) Fiksasi kepala tidak ada, karena panggul sempit, hidrosefalus, anesefalus, plasenta previa,
dan tumor2 pelvis
b) Janin mudah bergerak, seperti pada hidramnion, multipara, janin kecil
c) Gemeli
d) Kelainan uterus
e) Pelvic kidney dan kandung kemih serta rectum yang penuh.
( Sinopsis Obstetri, Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH )

4. Kelainan bentuk dan besar janin
Etiologi :
a) Kehamilan posterm
b) Wanita dengan habitus endolen
c) Orang tua yang besar
d) Eritroblastosis
e) Hipertiroidisme
f) DM gestasional
( Sinopsis Obstetri, Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH )
Pertumbuhan janin yang besar
janin besar adalah yang BB melebihi 4500 gram.
prognosis:
pada panggul normal janin dgn BB 4000-4500 gr umumnya tidak menimbulkan kesulitan
dalam persalinan. Distosia akan diperoleh bila janin lebih dari 4500-5000 gr atau kepala yang
sudah keras dan bahu yang lebar. Apabila CPD ini dibiarkan makaa terjadi kesulitan baik pada
ibu maupun pada janin.
( Sinopsis Obstetri, Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH )
Penanganan :
a) Pada CPD dilakukan seksio sesarea
Pada kesukaran melahirkan bahu dan janin hidup dilakukan episiotomi yang cukup lebar
atau bahu diperkecil dengan mlakukan kleidotomi unilateral auat bilateral. Setelah
dilahirkan dijahit kembali dengan baik dan untuk cedera post kleidotominya dikonsulkan
ke bagian bedah.
( Sinopsis Obstetri, Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH )




18. Apa hubungan status ibu G1 P0 A0 dengan keluhan?
19. Apa yang dimaksud dengan partograf?
Partograf adalah catatan grafik mengenai kemajuan persalinan untuk memantau keadaan ibu dan
janin, untuk menentukan adanya persalinan abnormal yang menjadi petunjuk untuk tindakan bedah
kebidanan dan menemukan disproporsi kepala panggul (CPD) jauh sebelum persalinan menjadi macet
(Sumapraja,1993).
Sedangkan menurut (WHO,1994) partograf merupakan suatu sistem yang tepat untuk memantau
keadaan ibu dan janin dari yang dikandung selama dalam persalinan waktu ke waktu.

20. Apa saja yang dapat dicatat dalam partograf?
Informasi tentang ibu
A. Identitas pasien. Bidan mencatat nama pasien, riwayat kehamilan, riwayat
persalinan, nomor register pasien, tanggal dan waktu kedatangan dalam
"jam" mulai dirawat, waktu pecahnya selaput ketuban. Selain itu juga
mencatat waktu terjadinya pecah ketuban, pada bagian atas partograf secara
teliti.
14

B. Kesehatan dan kenyamanan janin
Bidan mencatat pada kolom, lajur dan skala angka pada partograf adalah untuk
pencatatan:
(1) Hasil pemeriksaan DJJ setiap 30 menit atau lebih sering jika ada tanda-tanda
gawat janin. Setiap kotak menunjukkan waktu 30 menit. Skala angka di
sebelah kolom paling kiri menunjukkan DJJ. DJJ dicatat dengan memberi
tanda titik pada garis yang sesuai dengan angka yang menunjukkan DJJ.
Kemudian hubungkan titik yang satu dengan titik lainnya dengan garis tidak
terputus;
(2) Warna dan adanya air ketuban, penilaian air ketuban setiap kali melakukan
pemeriksaan dalam, dan nilai warna air ketuban jika selaput ketuban pecah.
Mencatat temuan-temuan ke dalam kotak yang sesuai di bawah lajur DJJ,
menggunakan lambang-lambang seperti berikut: (a) U jika ketuban utuh atau
belum pecah; (b) J jika ketuban sudah pecah dan air ketuban jemih; (c) M jika
ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur mekonium; (d) D jika
ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur darah; (e) K jika ketuban
sudah pecah dan tidak ada air ketuban atau "kering";
(3) Molase atau penyusupan tulang-tulang kepala janin, menggunakan lambang-
lambang berikut ini: (a) 0 jika tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura
dengan mudah dapat dipalpasi; (b) 1 jika tulang-tulang kepala janin hanya
saling bersentuhan; (c) 2 jika tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih,
tapi masih dapat dipisahkan; (d) 3 jika tulang-tulang kepala janin tumpang
tindih dan tidak dapat dipisahkan. Hasil pemeriksaan dicatat pada kotak yang
sesuai di bawah lajur air ketuban.
C. Kemajuan persalinan
kolom dan lajur kedua pada partograf adalah untuk pencatatan kemajuan
persalinan. Angka 0-10 yang tertera di tepi kolom paling kiri adalah besarnya
dilatasi serviks. Setiap angka/kotak menunjukkan besarnya pembukaan serviks. Kotak yang satu
dengan kotak yang lain pada lajur di atasnya,
menunjukkan penambahan dilatasi sebesar 1 cm. Skala angka 1-5
menunjukkan seberapa jauh penurunan kepala janin. Masing-masing kotak di
bagian ini menyatakan waktu 30 menit. Kemajuan persalinan meliputi:
(1) Pembukaan serviks, penilaian dan pencatatan pembukaan serviks dilakukan
setiap 4 jam atau lebih sering dilakukan jika ada tanda-tanda penyulit. Saat
ibu berada dalam fase aktif persalinan, catat pada partograf hasil temuan dari
setiap pemeriksaan dengan simbol "X". Simbol ini harus ditulis di garis waktu
yang sesuai dengan lajur besarnya pembukaan serviks di garis waspada.
Hubungkan tanda "X" dari setiap pemeriksaan dengan garis utuh atau tidak
terputus;
(2) Pencatatan penurunan bagian terbawah atau presentasi janin, setiap kali
melakukan pemeriksaan dalam atau setiap 4 jam, atau lebih sering jika ada
tanda-tanda penyulit. Kata-kata "turunnya kepala" dan garis tidak terputus
dari 0-5, tertera di sisi yang sama dengan angka pembukaan serviks. Berikan
tanda "--" pada garis waktu yang sesuai. Hubungkan tanda " " dari setiap
pemeriksaan dengan garis tidak terputus.
(3) Garis waspada dan garis bertindak, garis waspada dimulai pada pembukaan
serviks 4 cm. dan berakhir pada titik dimana pembukaan lengkap, diharapkan
terjadi laju pembukaan 1 cm per jam. Pencatatan selama fase aktif persalinan
harus dimulai di garis waspada.

D. Pencatatan jam dan waktu, meliputi:
(1) Waktu mulainya fase aktif persalinan, di bagian bawah pembukaan serviks
dan penurunan, tertera kotak-kotak yang diberi angka 1-16. Setiap kotak
menyatakan waktu satu jam sejak dimulainya fase aktif persalinan;
(2) Waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan, dibawah lajur kotak untuk waktu
mulainya fase aktif, tertera kctak-kotak untuk mencatat waktu aktual saat
pemeriksaan dilakukan. Setiap kotak menyatakan satu jam penuh dan
berkaitan dengan dua kotak waktu tiga puluh menit pada lajur kotak di
atasnya ataii lajur kontraksi di bawahnya. Saat ibu masuk dalam fase aktif
persalinan, catat pembukaan serviks di garis waspada. Kemudian catat waktu
aktual pemeriksaan ini di kotak waktu yang sesuai. Bidan mencatat kontraksi
uterus pada bawah lajur waktu yaitu ada lima lajur kotak dengan tulisan
"kontraksi per 10 menit" di sebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak
menyatakan satu kontraksi. Setiap 30 menit, raba dan catat jumlah kontraksi
daiam 10 menit dan lamanya kontraksi dalam satuan detik. Nyatakan jumlah
kontraksi yang terjadi dalam waktu 10 menit menggunakan simbol:a). ░ bila
kontraksi lamanya kurang dari 20 menit; b) bila kontraksi lamanya 20 menit
sampai dengan 40 menit; c) ▓ bila kontraksi lamanya lebih dari 40 menit.
14,19

E. Mencatat obat-obatan dan cairan intravena (IV)
yang diberikan dalam kotak yang sesuai dengan kolom waktu. Untuk setiap
pemberian oksitosin drip, bidan harus mendokumentasikan setiap 30 menit
jumlah unit oksitoksin yang diberikan per volume cairan (IV) dan dalam
satuan tetesan per menit (atas kolaborasi dokter), catat semua pemberian
obat-obatan tambahan dan/atau cairan IV.

F. Kesehatan dan kenyamanan ibu
ditulis dibagian terakhir pada lembar depan partograf berkaitan dengan
kesehatan dan kenyamanan ibu, meliputi:
(1) Nadi, tekanan darah dan temperatur tubuh, angka di sebelah kiri bagian
partograf berkaitan dengan nadi dan tekanan darah ibu. Nilai dan catat nadi
ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan atau lebih sering jika dicurigai
adanya penyulit menggunakan simbol titik (•). Pencatatan tekanan darah ibu
dilakukan setiap 4 jam selama fase aktif persalinan atau lebih sering jika
dianggap akan adanya penyulit menggunakan simbol pencatatan temperatur
tubuh ibu setiap 2 jam atau lebih sering jika suhu tubuh meningkat ataupun
dianggap adanya infeksi dalam kotak yang sesuai.
(2) Volume urin, protein atau aseton, ukur dan catat jumlah produksi urin ibu
sedikitnya setiap 2 jam atau setiap kali ibu berkemih spontan atau dengan
kateter. Jika memungkinkan setiap kali ibu berkemih, lakukan pemeriksaan
adanya aseton atau protein dalam urin.
20

G. Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya
Catat semua asuhan lain, hasil pengamatan dan keputusan klinik di sisi luar
kolom partograf, atau buat catatan terpisah tentang kemajuan persalinan.
Cantumkan juga tanggal dan waktu saat membuat catatan persalinan.
Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik mencakup: 1) jumlah cairan per
oral yang diberikan; 2) keluhan sakit kepala atau pengelihatan kabur; 3)
konsultasi dengan penolong persalinan lainnya (spesialis obgin, ataupun
dokter umurn); 4) persiapan sebelum melakukan rujukan; 5) upaya rujukan.
Formulir partograf yang digunakan di Puskesmas PONED kota Medan adalah
partograf WHO yang dimodifikasi (APN). Bidan dikatakan kompeten dalam melaksanakan suatu
prosedur apabila
penampilan keterampilan klinik mencapai (85% - 100%). Makin dipatuhi suatu
protokol, maka indikator pencapaian yang ditetapkan adalah dengan
pencatatan secara konsisten dan benar sesuai prosedur standar pelayanan
obstetrik dan neonatal diatas pada formulir partograf sewaktu pemantauan
kemajuan persalinan.

21. Apa fungsi dari partograf?
untuk mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks dengan
pemeriksaan dalam. Disamping itu untuk mandeteksi apakah proses persalinan berjalan secara
normal sehingga dapat mendeteksi secara dini setiap kemungkinan terjadinya partus lama. Partograf
juga dipakai untuk memantau kemajuan persalinan dan membantu petugas kesehatan (Spesialis
Obgin, bidan, dokter umum, residen/PPDS obgin dan mahasiswa kedokteran).dalam mengambil
keputusan klinik dan jika digunakan dengan tepat maka partograf akan membantu penolong
persalinan untuk mencatat kemajuan persalinan, kondisi ibu dan janin, mencatat asuhan yang
diberikan selama persalinan dan kelahiran, sebagai informasi untuk identifikasi dini penyulit
persalinan serta informasi mengambil keputusan klinik yang sesuai dan tepat waktu.

22. Apa komplikasi yang mungkin terjadi pada janin, ibu, dan persalinan?

23. Bagaimana penanganan yang tepat untuk pasien dengan kondisi tersebut?
Lakukan amniotomi dan induksi persalinan dengan oksitosin dan prostaglandin. Lakukan penilaian
tiap 4 jam. Jika pasien tdk masuk pada fase aktif dilakukan pemberian oksitosin selama 8 jam atau
lakukan seksiosesarea.
Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, Jakarta 2002