Anda di halaman 1dari 7

Glukosa Darah dan Diabetes mellitus

Glukosa Darah
Glukosa merupakan hal terpenting berperan dalam penyedia energy
di dalam tubuh. Glukosa tersebut diperoleh dari karbohidrat baik
monosakarida, disakarida maupun polisakarida yang dikonsumsi yang di
dalam hati akan dikonversikan menjadi glukosa. Dalam tubuh manusia
glukosa diserap oleh usus halus yang akan terdistribusi ke semua sel dalam
tubuh melalui aliran darah. Penyimpanan glukosa di dalam tubuh tidak
hanya tersimpan dalam bentuk glikogen di dalam otot dan hati namun
tersimpan dalam plasma darah dalam bentuk glukosa darah ( blood glucose)
(Irawan MA, 2007). Jumlah glukosa yang diambil dan dilepaskan hati untuk
digunakan jaringan perifer bergantung pada keseimbangan fisiologi
beberapa hormone yaitu hormone yang menurunkan kadar glukosa darah
(insulin) dan hormone yan meningkatkan glukosa darah (glukoagon). Kedua
hormone tersebut disekresi dalam sel-sel pancreas yaitu sel beta pulau
langerhans mensekresi insulin dan sel alfa pulau langerhans mensekresi
glucagon (Schteingart DE, 2006).
Keadaan pasca penyerapan kadar glukosa darah mamalia termasuk
manusia dan tikus yaitu antara 4,5 – 5,5 mmol/L. setelah mengkonsumsi
karbohidrat, kadar meningkat menjadi 6,7 – 7, 2 mmol/L, dan pada saat
kelaparan kadar turun menjadi 3,3 – 3,9 mmol/L. Kadar glukosa darah
manusia dalam keadaan normal lebih spesifik yang tidak makan dalam tiga
sampai empat jam terakhir sekitar 90 mg/dL sedangkan setlah makan
walaupun banyak makanan karbohidrat kadar jarang melebihi 140 mg/dL.
Keadaan penurunan mendadak glukosa darah akan menyebabkan kejang
karena otak bergantung pada pasokan glukosa. Jika terjadi peningkatan
glukosa darah atau hiperglikemi hormone insulin akan berperah dalam
penyeimbangan agar tidak mengganggu keseimbngan tubuh sendiri.
Penurunan glukosa darah tersebut dengan cara meningkatkan pemindahan
glukosa ke dalam jaringan adipose dan otot dengan merekrut pengangkut
glukosa dari bagian sel ke membrane plasma (Bender DA dan Mayes PA,
2009 ; Guyton dan Hall, 2008 ; IDF, 2007).
Kadar glukosa serum puasa normal yaitu 70 sampai 110 mg/dl,
dalam keadaan meningkat atau hiperglikemi jika lebih dari 110 mg/dl
sedangkan keadaan menurun atau hipoglikemi kurang dari 70mg/dl.
Glukosa difiltrasi oleh glomerulus ginjal dan hamper keseluruhannya
direabsorbsi oleh tubulus ginjal selama kadar glukosa dalam plasma tidak
melebihi 160 – 180 mg /dl. Apabila konsentrasi melebihi kadar tersebut
glukosa dapat keluar bersama urin dan keadaan tersebut disebut glikosuria
(Schteingart DE, 2006).

Diabetes mellitus
Definisi Diabetes Melitus:
Menurut American Diabetes Asosiation (ADA), Diabetes mellitus
(DM) merupakan kelompok penyakit metabolik dengan cirri khas
hiperglikemia yang disebabkan karena adanya kelainan kerja insulin, sekresi
insulin atau keduanya (ADA, 2013). Hiperglikemia kronik pada diabetes
dapat berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, kegagalan beberapa
organ tubuh, terutama pada ginjal, saraf, mata, jantung dan pembuluh darah.
Secara umum diabetes mellitus juga dapat dikatakan sebagai kumpulan
problema kimiawi dan anatomik akibat dari sejumlah factor dimana terdapat
gangguan fungsi insulin dan defisiensi insulin absolute atau relative
(Purnamasari, 2009).
Gejala Diabetes Melitus :
Gejala yang biasanya diderita pasien Diabetes Melitus secara umum
meliputi sering mulai mendadak merasakan haus, berat badan turun, poliuria
dan kelelahan. Selain itu didapatkan gejala umum dehidrasi, pusing, jantung
berdenyut cepat, pandangan mata kabur, infeksi. Apabila dalam
pemeriksaan penyaring rutin didapati juga glikosuria ( Barnes DE, 2012 ;
Saputra L, 2009).
Diagnosis Diabetes Melitus:
Diagnosis Diabetes Melitus didasarkan pada pemeriksaan
konsentrasi glukosa darah. Ada beberapa gejala dari Diabetes Melitus seperti
gejala klasik berupa poliuria, polidipsia, polifaga dan penurunan berat badan
yang tidak jelas penyebabnya sedangkan gejala lainnya seperti lemah badan,
kesemutan, gatal, mata kabur, disfungsi ereksi pada pria dan pruritus vulvae
pada wanita. Diagnosis tersebut dapat ditegakkan melalui beberapa langkah
:
1. Gejala klasik DM + glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/dL (11,1
mmol/L)
Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada
suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir.
2. Atau
Gejala klasik DM + glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dL (7,0
mmol/L)
Puasa diartikan pasien tidak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8
jam.
3. Glukosa plasma 2 jam pada TTGO ≥ 200 mg/dL (11,1 mmol/L)
TTGO dilakukan dengan standart WHO, menggunakan beban
glukosa yang setara dengan 75 gram glukosa anhidrus yang
dilarutkan ke dalam air.
(Purnamasari , 2009)
Apabila terdapat risiko DM namun tidak menunjukkan adanya gejala
DM dilakukan pemeriksaan penyaring. Pemeriksaan penyaring dapat
dilakukan melalui pemeriksaan kadar gluosa darah sewaktu maupun kadar
glukosa darah puasa. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menemukan pasien
DM, TGT, maupun GDPT sehingga dapat ditangani lebih dini dan secara
tepat. TGT dan GDPT merupakan tahapan sementara menuju DM dan
merupakan factor resiko untuk terjadinya DM. Pemeriksaan penyaring
dianjurkan dilakukan apabila saat pemeriksaan untuk penyakit lain atau
general check-up.
Tabel 2. Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan
penyaring dan diagnosis DM (mg/dL)
Bukan Belum
DM
DM pasti DM
Konsentrasi
glukosa
Plasma vena

<100

100 - 199

≥ 200

darah sewaktu
(mg/dL)
Darah
kapiler <90 90 - 199 ≥ 200
Konsentrasi
glukosa
Plasma vena

<100

100 - 125

≥ 126

darah puasa
(mg/dL)

Darah
kapiler <90 90 - 99 ≥ 100
(PERKENI, 2011)

Klasifikasi Diabetes Melitus :
Beberapa jenis diabetes pada seseorang sering tergantung pada saat
individu mengalami keadaan tertentu yang dialami saat didiagnosis.
Misalnya diabetes mellitus gestasional dimana pasien akan mengalami
hiperglikemia berkelanjutan setelah melahirkan dan bisa ditentukan menjadi
Diabetes tipe 2 dan masih banyak contoh lainnya. Hal tersebut untuk dokter
dan pasien merupakan hal yang kurang penting dari pada memahami
patofisiologi hiperglikemianya sendiri agar terapi lebih efektif.
1. Diabetes Melitus Tipe I
Pada tipe ini terdapat defisiensi absolute insulin dengan penyebab
paling umum yaitu destruksi sel beta pancreas yang disebabkan oleh
autoimun. Pada keadaan ini pemberian insulin sangat penting, karena
jika pasien tidak menerima insulin maka pasien akan mengalami
dehidrasi akibat hiperglikemia berat dan ketoasidosis. Hiperglikemia
berat dan ketoasidosis bila tidak diobati akan menyebabkan koma
dan kematian dengan cepat. DM tipe 1 juga memiliki kecenderungan
genetic yang kuat dan terdapat beberapa gen yang rentan. Pasien DM
dengan tipe ini sangat rentan mengalami komplikasi mikroavaskuler
seperti neuropati, retinopati, dan nefropati. Selain itu dapat juga
mengalami penyakit arteri koroner dan aterosklerosis meskipun
kurang umum (Kidambi, S dan Patel SB, 2008).
2. Diabetes Melitus Tipe II
Diabetes mellitus tipe 2 merupakan gangguan metabolism yang
melibatkan kelebihan berat badan dan resistensi insulin. Pasien DM
tipe ini pada awalnya pancreas memproduksi insulin akan tetapi
tubuh kesulitan untuk menggunakan hormone pengendali glukosa
darah tersebut. Peran gangguan sekresi insulin oleh sel beta pancreas
dan resistensi insulin perifer masih belum diketahui pasti. Akhirnya
pancreas tidak dapat menghasilkan cukup insulin untuk memenuhi
kebutuhan tubuh tersebut. Diabetes tipe ini merupakan bentuk paling
umum dinegara maju. Diabetes tipe 2 dahulu disebut diabetes onset
dewasa dan non- insulin – dependent diabetes melitus (NIDDM).
Istilah tersebut tidak akurat karena pengembangan penyakit
menjadikan anak - anak dapat mengalami dan beberapa pasien butuh
terapi insulin ( Kumar V dkk, 2007 ; Riaz S, 2009).
3. Diabetes Melitus Tipe Lainnya
Beberapa tipe diabetes mellitus pada tipe ini yaitu :
a. Defek genetic fungsi sel beta : pada kromosom 12, kromosom 7,
kromosom 20, kromosom 13, kromosom 17, kromosom 2, DNA
mitokondrial dan yang lain.
b. Defek genetic kerja insulin : resistensi insulin tipe A,
leprechaunism, sindrom Rabson – Mendenhall, diabetes
lipoatropihic, dan yang lain.
c. Penyakit eksokrin pancreas : pancreatitis, trauma /
pancreatectomy, neoplasia, fibrosis kistik, hemoshromatosis,
pancreatopathy fibrocalculus, dan yang lain.
d. Endokrinopati : acromegali, chushing’s syndrome, glucagonoma,
pheochromacytoma, hipertiroid, somatostatinoma,
aldosteronoma, dan lainnya.
e. Karena obat dan zat kimia : vacor, pentamidin, asam nicotin,
glucocorticoids, hormone tiroid, diazoxide, agonis b-adrenergik,
thiazid, dilantin, g-interferon dan lainnya.
f. Infeksi : rubella congenital, cytomegalovirus, dan lainnya
g. Sebab imunologi yang jarang : stiff-man syndrome, antibody
reseptor anti insulin dan yang lainnya.
h. Sindrom genetic lain yang berkaitan dengan Diabetes Melitus :
syndrome down, syndrome klinefelter, syndrome turner,
syndrome wolfram, ataxia friedreich, chorea Huntington,
porhyria, dan yang lainnya.
(ADA, 2012)
4. Diabetes Melitus Gestasional
Diabetes mellitus gestasional seperti namanya diabetes ini timbul
pada kehamilan. Hal tersebut akan beralih ke metabolisme dan ke
gejala normal setelah melahirkan, meskipun dapat juga berisiko
menjadi diabetes tipe 2 antara 7 – 13 kali lebih tinggi pada diabetes
gestasional dibantingkan normoglikemik. Oleh karena hal tersebut
diabetes tipe ini harus dibedakan dari diabetes yang sudah ada pada
wanita yang hamil. Efek dari diabetes ini meliputi eklampsia,
kesulitan melahirkan, retardasi pertumbuhan intrauterus,
makrosomia, hipoglikemia neonatl dan gangguan pernafasan
(Anonim, 2010).