Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Havighurst (1961) mengartikan tugas perkembangan merupakan suatu tugas
yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila
tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam
menuntaskan tugas berikutnya, sementara apabila gagal maka akan menyebabkan
ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan
masyarakat dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya.
Tugas perkembangan ini berkaitan dengan sikap, perilaku atau keterampilan
yang seyogyanya dimiliki oleh individu sesuai dengan usia atau fase
perkembangannya, seperti tugas yang berkaitan dengan perubahan kematangan,
persekolahan, pekerjaan, pengalaman beragama dan hal lainnya sebagai prasyarat
untuk pemenuhan dan kebahagiaan hidupnya.
Menurut Elizabeth Hurlock (1999) tugas-tugas perkembangan anak usia 4 – 5 tahun
adalah sebagai berikut:
1. Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan yang umum
2. Membangun sikap yang sehat mengenal diri sendiri sebagai makhluk yang
sedang tumbuh
3. Belajar menyesuaikan diri dengan teman seusianya
4. Mulai mengembangkan peran social pria atau wanita yang tepat
5. Mengembangkakn keterampilan-keterampilan dasar untuk membaca, menulis,
dan berhitung
6. Mengembangkkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan
sehari-hari.
7. Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tingkatan nilai
8. Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok social dan lembaga-
lembaga
9. Mencapai kebebasan pribadi
Penampilan maupun gerak gerik anak usia prasekolah mudah dibedakan
dengan anak yang berada dalam tahapan sebelumnya. a) Anak prasekolah umumnya
aktif. Mereka telah memiliki penguasaan atau kontrol terhadap tubuhnya dan sangat
menyukai kegiatan yang dilakukan sendiri. b) Setelah anak melakukan berbagai
kegiatan, anak membutuhkan istirahat yang cukup, seringkali anak tidak menyadari
bahwa mereka harus beristirahat cukup. Jadwal aktivitas yang tenang diperlukan anak.
c) Otot-otot besar pada anak prasekolah lebih berkembang dari kontrol terhadap jari
dan tangan. Oleh karena itu biasanya anak belum terampil, belum bisa melakukan
kegiatan yang rumit, seperti mengikat tali sepatu. d) Anak masih sering mengalami
kesulitan apabila harus memfokuskan pandangannya pada obyek-obyek yang kecil
ukurannya, itulah sebabnya koordinasi tangan masih kurang sempurna. e) Walaupun
tubuh anak lentur, tetapi tengkorak kepala yang melindungi otak masih lunak (soft)

B. Tujuan
1. Mengetahui Konsep diri dan perkembangan kognitif anak prasekolah
2. Mengetahui tentang gender pada anak prasekolah
3. Mengetahui tentang aspek bermain pada anak prasekolah


























BAB II
TINJAUN TEORI

A. Developing self
1. Konsep diri dan perkembangan kognitif
Self Concept adalah gambaran total dari diri kita. Self concept itu sendiri
adalah sesuatu yang kita percayai mengenai siapa kita atau dengan kata lain adalah
gambaran total dari kemampuan kita dan sifat-sifat kita. Self concept adalah gambaran
deskripsi dan evaluasi mental dari kemampuan dan sifat seseorang.
Perasaan mengenai self concept itu sendiri juga memiliki aspek-aspek sosial :
anak-anak menganggap self-image mereka itu sebagai penilaian orang lain terhadap
mereka. Gambaran diri menjadi sebuah fokus pada masa kanak-kanak sebagaimana
anak-anak mengembangkan kewaspadaan diri mereka. Self-concept menjadi lebih jelas
ketika mereka memiliki kemampuan kognitif dan peningkatan dalam tugas
perkembangan mulai dari anak-anak, remaja, dan dewasa.
a. Changes in Self Defenition : The 5 to 7 shifts
Perkembangan self-concept terjadi seiring dengan perubahan pada self-
defenition, yaitu serangkaian karakteristik dimana anak-anak menggambarkan diri
mereka sendiri.
Pada umur antara 5 sampai 7 tahun, pernyataan mengenai gambaran diri pada
anak-anak itu termasuk pada tahap single representation, yaitu tahap pertama dari
teori Piaget dimana anak-anak menggambarkan diri mereka secara individual, satu
dimensi, dan terpotong-potong dan tidak memiliki kaitan ciri-ciri pada setap
pernyataannya. Hal ini terjadi karena anak-anak masih memiliki kapasitas memory
yang terbatas sehingga dia tidak dapat membedakan setiap aspek dirinya pada
suatu waktu. Dan dia tidak dapat membedakan antara Real self yaitu dirinya
sendiri, dan ideal self yaitu bagaimana seharusnya dirinya itu. Pada umur sekitar 5
atau 6 tahun, anak-anak mulai bisa menrangkaikan setiap kalimat dengan sebuah
hubungan yang ada pada dirinya. Tahap ini disebut dengan representational
mappings yaitu hubungan yang logis antara gambaran dirinya. Dan tahap yang
ketiga adalah representational systems yang merupakan tahap pada masa kanak-
kanak tengah, dimana anak-anak mulai mengintegrasikan berbagai fitur-fitur
spesifik pada dirinya menjadi sebuah hal yang umum yang merupakan konsep
multidimensi.
Contohnya seperti “Saya bermain dengan baik di hoki, tetapi saya tidak terlalu
cocok di aritmatika”.
b. Cultural Differences in Self Description
Penelitian mengatakan bahwa budaya mempengaruhi konsep diri anak-anak.
Orangtua mengajarkan melalui pembicaraan sehari-hari, ide-ide budaya, dan
kepercayaan tentang bagaimana mendefenisikan diri. Contohnya, orang tua Cina
cenderung meningkatkan aspek interdependent yang mana merupakan perilaku
yang pantas dan memiliki sense of belonging yang tinggi terhadap komunitas.
Orangtua Amerika Eropa cenderung meningkatkan aspek Independent yang mana
merupakan sisi individualitas, ekspresi diri, dan self-esteem. Perbedaan nilai-nilai
budaya itu mempengaruhi anak-anak untuk menerima diri mereka sendiri dalam
setiap budaya. Studi banding terhadap 180 anak prasekolah Eropa Amerika dan
Cina, anak TK dan anak kelas 2 Sekolah Dasar (Wang, 2004) menemukan bahwa
anak-anak menyerap gaya budaya yang berbeda tentang self-defenition pada usia 3
sampai 4 tahun, dan berkembang seiring usia. Anak-anak Eropa Amerika
cenderung mendeskripsikan mereka dalam hal atribut pribadi dan kepercayaan,
sebagaimana anak Cina lebih membicarakan tentang kategori sosial dan lebih
berhubungan dengan orang lain.
 Harga Diri (Self-Esteem)
Harga diri adalah penilaian yang dibuat seseorang tentang kelayakan dirinya
yang didasari oleh kemampuan kognitif yang tumbuh untuk menjelaskan diri
seseorang.
 Perubahan Perkembangan dalam Harga Diri
Dalam sebuah studi di Belgia (Verschueren, Buyck, dan Marcoen,
2001), para periset mengukur representasi diri anak usia 5 tahun dengan
menggunakan dua pengukuran yaitu :
1. Self Perception Profile for Children (persepsi spesifik mengenai
penampilan)
2. Puppet Interview (interview dengan menggunakan boneka)
 Ketergantungan Harga Diri : Pola “Ketidakberdayaan”
Anak yang memiliki harga diri yang tinggi memiliki motivasi diri untuk
sukses, sedangkan anak yang memiliki harga diri yang rendah akan
memiliki emosi yang negatif dan cenderung pasrah pada keadaan
dimana mereka menemukan kesulitan. Pola “ketidakberdayaan” ini
tergantung oleh pola asuh dan keadaan lingkungan. Misalnya dalam
menegur anak kita harus menggunakan kata-kata yang tidak
menyakitkan.
 Pemahaman dan Pengaturan Emosi
Pada masa awal kanak-kanak, memahami dan mengatur emosi dapat membantu
kompetensi sosial anak. Hal ini sangat berpengaruh dalam mengatur perilaku
dan persaan mereka bahkan akan mempengaruhi tipe permainan yang akan
mereka mainkan. Hubungan dalam keluarga sangat mempengaruhi
perkembangan pemahaman emosi. Pada masa awal kanak-kanak ini mereka
mampu memahami bahwa emosi berrkaitan dengan pengalaman dan keinginan
meskipun demikian mereka belum memiliki pemahaman yang penuh mengenai
emosi seperti kebanggaan dan mereka mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan emosi yang bertentangan.
 Emosi yang Diarahkan pada Diri Sendiri
Emosi yang diarahkan pada diri sendiri itu seperti rasa bersalah, rasa
bangga, aib dan menerima perilaku yang ditetapkan orangtua. Anak
pada usia 4 sampai 5 tahun tidak akan mengetahui dan menyadari akan
rasa bangga atau malu, sedangkan anak yang berusia 5 sampai 6 tahun
akan mengetahui bahwa orang disekitar mereka merasakan bangga atau
malu terhadap tindakkan mereka. Anak yang berumur 6 sampai 7 tahun
juga akan dapat merasakan malu atau bangga terhadap diri mereka
sendiri meskipun tanpa adanya penilaian secara langsung dari orang
lain.
 Emosi-Emosi yang Bersamaan
Anak kecil akan merasa kebingungan untuk memahami perasaan
mereka dalam mengalami reaksi emosi yang berbeda pada saat
bersamaan. Perbedaan dalam memahami emosi ini terjadi pada anak
usia 3 tahun. Anak pada usia 3 tahun dapat membedakan ekspresi
senang dan ekspresi sedih.
2. Erikson : initiative vs guilt
Inisiatif vs rasa bersalah merupakan tahap ketiga dalam perkembangan
psikososial. Pada tahap ini jika anak dalam melakukan sesuatu dan diberi tanggapan
yang positif dari orang disekitarnya maka inisiatif akan muncul, tetapi jika anak
melakukan sesuatu hal dan mendapat respon negatif dari orang sekitar maka rasa
bersalah akan muncul.

B. GENDER
Gender identity adalah kesadaran seseorang akan jiwa mereka kearah perempuan
atau kelaku-lakian. Gender merupakan aspek penting dalam mengembangkan konsep diri.
1. Perbedaan Gender
Perbedaan gender berbeda dengan perbedaan jenis kelamin. Perbedaan gender
merupakan perbedaan psikososial antara laki-laki dan perempuan, sedangkan
perbedaan jenis kelamin merupakan perbedaan fisik antara pria dan wanita. Perbedaan
utama pada gender berada pada perilaku yang lebih agresif dari anak laki-laki
ketimbang anak perempuan. Secara psikososial anak perempuan lebih bersifat empatik
dan suka menolong. Pada masa kanak-kanak awal, dan juga pada masa praremaja dan
remaja, anak perempuan cenderung mengggunakan bahasa yang lebih responsif
daripada anak laki-laki.
Skore test kecerdasan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antar gender.
Namun, dalam hal kemampuan spesifik anak pereempuan cenderung lebih baik dalam
kemampuan verbal, sedangkan laki-laki cenderung lebih baik dalam hal penalaran
sains.
Sebagai batita anak laki-laki dan perempuan memiliki kecenderungan yang sama
untuk melakukan perilaku-perilaku tertentu seperti memukul,mengigit, tantrum, dan
memiliki kemungkingan untuk menunjukkan tempramen yang “sulit”. Tapi, perilaku
ini akan bertahan sampai masa remaja, ketika anak perempuan lebih rentan mengalami
kecemasan dan depresi. Hal yang paling penting adalah bahwa perbedaan gender ini
hanya valid pada kelompok besar anak.
2. Berbagai Sudut Pandang Perkembangan Gender
Perbedaan gender disebabkan oleh adanya perbedaan pengalaman dan pengharapan
sosial yang ditemui anak laki-laki dan perempuan sejak mereka lahir. Pengalaman-
pengalaman ini berhubungan dengan tiga aspek identitas gender :
 Peran Gender (gender roles) : peran kepribadian yang dianggap sesuai oleh
suatu budaya terhadap laki-laki atau perempuan.
 Penipean Gender (gender typing) : proses dilekatkannya peran gender terhadap
anak-anak. Biasanya terjadi pada masa awal kanak-kanak dan setiap anak-anak
memiliki peran gender yang berbeda.
 Stereotip Gender (gender stereotypes) : Tanggapan yang sudah melekat tentang
perbedaan prilaku peran pria dan wanita. Misalnya, semua perempuan dianggap
pasif dan bergantung, sedangkan semua laki-laki dianggap agresif dan mandiri.

Empat sudut pandang perkembangan gender :
a. Pendekatan Biologis
Faktanya pada usia 5tahun, otak anak laki-laki lebih besar sepuluh persen
dibandingkan anak perempuan, hal ini disebabkan karena anak laki-laki memiliki
gray matter yang lebih banyak pada korteks serebrum, sedangkan anak perempuan
memiliki kepadatan neuron yang lebih tinggi. Perbedaan ini berhubungan dengan
kelancaran bahasa, karena anak perempuan memiliki corpus callosum yang lebih
besar, koordinasi yang lebih baik antara otak kiri dan otak kanan mungkin dapat
menjelaskan kenapa anak perempuan memiliki kemampuan verbal yang lebih
tinggi.
b. Pendekatan Psikoanalisis
Pada usia empat tahun biasanya anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang lebih
besar yang menyebabkan anak-anak lebih sering bertanya. Proses ini menurut
Freud adalah proses identifikasi (identification). Identifikasi dalam teori aliran
Freud merupakan proses dimana anak mengadopsi sekumpulan karakteristik
keyakinan, sikap, nilai, dan prilaku dari orangtua dengan jenis kelamin yang sama.
Tahap ini merupakan perkembangan kepribadian yang penting pada masa kanak-
kanak awal.


c. Pendekatan Kognitif
Dalam teori ini pembentukan gender seorang anak dilakukan berdasarkan
pencarian aktif dari si anak akan petunjuk mengenai gender dalam dunia sosial
mereka. Menurut Kohlberg, gender yang diperoleh tergantung pada konstanta
gender atau sering disebut konstanta kategori jenis kelamin. Konstanta gender
merupakan kesadaran anak bahwa jenis kelaminnya akan selalu tetap. Konstanta
gender tumbuh dalam tiga tahap: identitas, stabilitas, dan konsistensi gender.
d. Pendekatan Berdasarkan Sosialisasi
Dalam teori pendekatan sosialisasi, anak memperoleh peran gender dari
pengamatan mereka terhadap orangtua, guru, teman sebaya, dan institusi
masyarakat. Pembentukan peran gender diperoleh dari :
 Pengaruh keluarga
 Pengaruh teman sebaya
 Pengaruh budaya

C. BERMAIN : Urusan pada Masa Kanak-Kanak Awal
Bermain merupakan hal yang penting bagi anak karena melalui bermain, dapat
merangsang indera anak, belajar menggunakan otot-otot mereka, mengoordinasikan
gerakan dan penglihatan, memperoleh penguasaan tubuh, dan memperoleh keterampilan
baru.
1. Tingkat Kognitif dari Permainan
Piaget mengidentifikasikan tiga permainan, yaitu :
 Permainan fungsional (functional play) dimana melibatkan pergerakan otot
yang berulang-ulang secara aktif.
 Permainan konstruktif (contructive play) dimana menggunakan benda untuk
membuat rumah-rumahan atau krayon untuk menggambar.
 Permainan pura-pura (pretend play) dimana melibatkan orang-orang atau
situasi khayalan. Biasanya permainan ini juga disebut permainan khayalan,
drama, atau imajinatif.
2. Dimensi Sosial Bermain
Tokoh : Mildred B. Parten (1932). Tipe permainan awal : bermain paling tidak sosial
menjadi yang paling sosial.
 Unoccupied Behavior (prilaku tidak terlibat)
Anak tidak ikut bermain, anak hanya mengamati semua dengan
ketertarikan sementara.
 Onlooker Behavior (prilaku sebagai penonton
Anak tidak ikut bermain, hanya mengamati anak-anak yang sedang
bermain, berbicara, bertanya, dan memberi saran kepada pemain. Terfokus
akan pengamatan terhadap anak-anak yang bermain, bukan apapu yang
dianggapnya menarik.
 Solitary I ndependent Play (bermain sendiri dan mandiri)
Anak bermain sendiri dengan permainannya yang berbeda dengan anak-
anak disekitarnya dan tidak berkeinginan untuk bergabung dengan anak-anak
yang lain.
 Parallel Play (bermain secara paralel)
Anak bermain sendiri tapi diantara anak-anak lain yang sedang
bermain. Mainan yang digunakan serupa dengan yang digunakan anak lain,
tetapi tidak berkeinginan bermain dengan cara yang sama dan tidak berusaha
untuk mempengaruhi permainan anak lain.
 Associative Play (bermain dengan anak lain)
Membicarakan tentang permainannya, pinjam-meminjam mainan,
saling mengikuti dan mengontrol para pemain. Mereka bermsain bersama,
tetapi tidak ada tujuan dan peraturan peran setiap oemain dan cenderung
bermain sesuka hati. Tujuan bermain adalah untuk bersama dengan anak lain
dan bukan pada aktivitas itu sendiri
 Cooperative Or Organized Supplementary Play
Bermain dalam gruop teratur untuk satu tujuan yag sama, beberapa anak
mengontrol permainan dan memberi petunjuk. Setiap aak memiliki peran yang
berbeda dan saling melengkapi.
Pada awalnya, Parten beranggapan bahwa perkembangan dan petumbuhan
seorang anak akan mempengaruhi cara bermain anak. Semakin berkembang
dan bertumbuh maka anak itu akan bermain semakin interaktif dan kooperatif.
 Reticent Play (keengganan bermain) disebabkan oleh rasa malu.
Anak bermain disekitar anak lain yang sedang bermain,
mengelilingi pemain tanpa tujuan. Hal tersebut sebagai awalan
sebelum bermain dengan permainan anak lain. Anak cenderung
disenangi dan memiliki masalah prilaku yang relatif lebih sedikit.
 Imaginative Play (bermasin imajinatif) merupakan tipe bermain
pada anak usia prasekolah yang lebih sosial. Anak-anak pura-pura
sendiri dan membuat suatu permainan drama yang melibatkan anak
lain. Contohnya, anak bermain dengan permianannya sendiri, dia
memainkan peran mainan yang satu dengan yang lain.







BAB III
TINJAUN KASUS
KASUS
An. A anak umur 5 tahun, masuk Rumah Sakit dengan keluhan panas tinggi, malas makan,
merasa mual dan muntah, dan mengeluh susah tidur. Sebelumnya klien telah mengalami panas
tinggi sejak 2 hari yang lalu, tapi klien tidak mau dibawa ke Rumah Sakit karena klien takut
dan cemas dengan Rumah Sakit. Sehingga orang tuanya harus membujuk dengan susah payah
agar klien mau dibawa ke Rumah Sakit karena panasnya semakin tinggi. Ketika klien di
Rumah Sakit, klien menangis dan menjerit histeris. Klien mengatakan bahwa dia ingin pulang
saja tidak mau dirawat di Rumah Sakit. Di rumah sakit klien tampak gelisah dan susah tidur.
Klien juga tampak pucat, bibir kering dan konjungtiva anemis. Ketika perawat mengajak klien
berbicara klien hanya diam dan bersembunyi pada ibunya. Ny.N mengatakan bahwa anaknya
pernah mengalami trauma karena sebelumnya pernah masuk rumah sakit juga dan di beri obat
melalui suntikan tapi anak merasa kesakitan saat disuntik, sejak saat itu klien takut dengan
rumah sakit dan segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah sakit. Sebelum klien
mengalami sakit, klien termasuk anak yang aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
Serta klien juga suka bermain dengan teman-teman sebaya yang berada disekitar rumahnya.
Saat klien masuk rumah sakit didapatkan TTV, TD: 220/60, S: 38,6
0
C, N: 100x/menit, RR:
28X/menit. BB: 14 kg, TB: 100 cm. Diagnose medis: Demam Berdarah (DBD).









Lampiran 2
PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA
Psikososial

RUANG RAWAT : TANGGAL DIRAWAT:

I. IDENTITAS
Inisial : An. A (P) Tanggal pengkajian : 16 0ktober 2013
Umur : 5 tahun No. Rekam Medik :
Alamat lengkap : Perum mega permai Informan : keluarga
II. ALASAN MASUK
Klien mengeluh demam, sakit kepela, mual, muntah, dan malas makan, juga
mengeluh susah tidur
III. Faktor Predisposisi
1. Pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu ? Ya Tidak
2. Pengobatan sebelumnya
Berhasil Kurang berhasil Tidak berhasil
3. Pelaku / usia Korban / usia Saksi / usia
Aniaya fisik

Aniaya seksual

Penolakan

Kekerasan dalam keluarga

Tindakan kriminal
Jelaskan No. 1, 2, 3 : ……………………………………………………..
Masalah Keperawatan : ……………………………………………………..




4. Adakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa?
V






Masalah keperawatan untuk point 1,2 dan 3 adalah :
 Respon pasca trauma
 Sindroma trauma perkosaan
 Resiko Prilaku kekerasan
 Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
 Gangguan Pertumbuhan dan perkembangan
 Gangguan proses keluarga

Ya Tidak
hubungan keluarga gejala riwayat pengobatan/perawatan
…………………. …………….. ………………………
…………………. …………….. ………………………
Masalah Keperawatan : ……………………………………………………





5. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan
Sebelumnya klien juga pernah masuk rumah sakit, mendapatkan suntikan pada tangan
kanannya dan klien merasa kesakitan semenjak itu klien takut pada jarum suntik serta
hal yang berhubungan dengan rumah sakit
Masalah keperawatan : Gangguan proses keluarga







IV. Fisik
1. Tanda-tanda vital : TD 120/60 Nadi 100 Suhu : 38,6 pernafasan: 28
2. Ukuran : TB : 100 BB: 14kg
3. keluhan fisik Ya :…….. Tidak :…………..
Jelaskan : ………………………………………………………………….
Masalah Keperawatan : ……………………………………………………



Masalah keperawatan :
 Ketidak efektifan koping keluarga: Ketidak mampuan
 Ketidak efektifan koping keluarga: Penurunan
 Koping keluarga: Potensial pertumbuhan


Masalah keperawatan :
 Gangguan Pertumbuhan dan perkembangan
 Gangguan proses keluarga
 Respon pasca trauma
 Sindroma trauma perkosaan
 Berduka disfungsional

Masalah keperawatan :
 Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
 Kerusakan integritas kulit
 Perubahan volume cairan
 Perubahan eliminasi feses, dll.



V. Psikososial
1. Genogram










Keterangan: : Laki-laki

: Perempuan

: Klien

2. Konsep diri
a. Citra tubuh :
b. Identitas diri : klien anak terakhir dari 3 bersaudara
c. Peran diri : klien anak usia 5
th
yang masih suka bermanja-manjaan dengan
orang tuanya
d. Ideal diri : klien biasanya suka bermain dengan teman sebaya tetapi
sekarang tidak bisa karena sakit
e. Harga diri :
Masalah keperawatan :…………………………………………………….


Masalah keperawatan :
 Gangguan citra tubuh.
 Gangguan identitas diri
 Gangguan Harga diri
 Harga diri rendah kronis
 Harga diri rendah situasional



3. Hubungan Sosial
a. Orang terdekat:orang terdekat pasien adalah ibunya
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok / masyarakat: klien senang bermain dengan
teman sebayanya
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain : Setelah An.A masuk rumah
sakit, An.A sering diam dan tak bisa bermain seperti biasanya
 Masalah keperawatan : Hambatan interaksi social






4. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan : An.A menganut agama yang sama dengan orang tuanya yaitu
islam
b. Kegiatan ibadah: An.A belum mengerti dengan kewajibannya menjalanka ibadah
Masalah keperawatan :…………………………………………………….



VI. Mekanisme Koping
Koping Adaptif :
 Bicara dengan orang lain.
 Mampu menyelesaikan masalah.
 Teknik relaksasi
 Aktivitas konstruktif
 Olah raga, dll.
Masalah keperawatan :
 Hambatan komunikasi
 Hambatan komunikasi verbal
 Hambatan interaksi social
 Isolasi social.

Masalah keperawatan :
 Distress spiritual.

Koping maladaptif :
 Minum alkohol
 Reaksi lambat/berlebih.
 Bekerja berlebihan
 Menghindar (V)
 Mencederai diri, dll.
Masalah Keperawatan : ………………………………………….




VII. Masalah Psikososial dan Lingkungan
 Masalah dengan dukungan kelompok, uraikan : Tidak ada
 Masalah berhubungan dengan lingkungan, uraikan : Tidak ada
 Masalah dengan pendidikan, uraikan : Tidak ada
 Masalah dengan pekerjaan, uraikan : Tidak ada
 Masalah dengan perumahan., uraikan : Tidak ada
 Masalah ekonomi, uraikan : Tidak ada
 Masalah dengan pelayanan kesehatan, uraikan : Tidak ada
 Masalah lainnya, uraikan :……………………………………………..
Masalah Keperawatan : -









VIII. Kurang Pengetahuan tentang :
Masalah Keperawatan :
 Ketidakefektifan Koping individual
 Gangguan penyesuaian diri
Masalah Keperawatan :
 Isolasi social
 Hambatan interaksi social.
 Gangguan konsep diri
 Ketidakmampuan / ketidakberdayaan
 Gangguan pemeliharaan kesehatan
 Prilaku sehat
 Konflik peran orang tua

 Penyakit jiwa Sistim pendukung
 Faktor predisposisi Penyakit fisik
 Koping Obat-obatan.
 Lainnya :……………………………………………………………..
Masalah Keperawatan :………………………………..





IX. Aspek Medik
Diagnosa medik : anak mengalami DBD
Terapi medik :……………………………………………………..
X. ANALISA DATA
DATA MASALAH
DS:
- An.A mengatakan tidak mau
ke rumah sakit
- Ny.N mengatakan khususnya
An.A takut dengan rumah sakit

DO:
- An.A menangis ketakutan
- Tampak gelisah dan sulit tidur
DS:
- klien mengeluh panas tinggi
- klien mengeluh susah tidur
DO :
- Tampak gelisah
- Suhu 38,6
0
C
DS:
Ansietas








Hipertermi





Perubahan nutrisi kurang dari
Masalah Keperawatan :
 Kurang pengetahuan
 Ketidakefektifan penatalaksanaan Program terapeutik.
 Ketidakpatuhan


- Klien mengeluh mual dan
muntah
DO:
- Tidak nafsu makan
- Konjungtiva anemis
- Bibir kering
kebutuhan tubuh


XIII. DAFTAR MASALAH :
Ansietas
hipertermi
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

XIV. POHON MASALAH :

Isolasi sosial


Ansietas


Penyakit DBD

XI. Daftar Diagnosis Keperawatan
……………………………….
………………………………….
…………………………………





DAFTAR PUSTAKA

Papalia & Olds, 2004, Human Development, New York : McGraw-Hill Book Co
Papalia, Olds, & Feldman, 2009, Human Development – Perkembangan Manusia, Jakarta :
Salemba Humanika, edisi 10 buku 1