Anda di halaman 1dari 10

[1

]

ANALISIS KETERKAITAN MEDIUM YANG DOMINAN DALAM PROSES
PENGENDAPAN MATERIAL PIROKLASTIK GUNUNG UNGARAN
TERHADAP TIPE PIROKLASTIK DEPOSIT YANG DIHASILKAN

Disusun oleh: Agustin Kusuma Wardhani (21100111140083), Teknik Geologi


SARI

Gunung Ungaran merupakan gunung api tipe strato yang terletak di Pulau Jawa. Hasil
penelitian di lapangan menjumpai bahwa litologi yang menyusun Kompleks Gunung
Ungaran didominasi oleh batuan asal gunung api atau endapan piroklastik. Komposisi batuan
tersebut tersusun atas batupasir vulkanik, breksi piroklastik, dan tuff. Dari komposisi
batuannya tersebut, maka proses geologi Kompleks Gunung Ungaran lebih didominasi oleh
aktivitas gunung api daripada aktivitas sedimenter.
Batuan piroklastik di Gunung Ungaran merupakan hasil aktivitas vulkanisme Gunung
Ungaran sendiri. Jadi, Kompleks Gunung Ungaran adalah kompleks gunung api purba.
Material piroklastik yang dominan dalam komposisi penyususn Kompleks Gunung Ungaran
merupakan hasil dari berbagai mekanisme pengendapan yang diakibatkan dan dipengaruhi
oleh adanya medium pengendapan yang berbeda-beda pula

Kata kunci: Gunung Ungaran, vulkanisme, endapan piroklastik, medium pengendapan


PENDAHULUAN

Gunung Ungaran adalah gunung berapi
yang terletak di Pulau Jawa, Indonesia
dengan ketinggian 2.050 mdpl.
Litologi Ungaran Tua didominasi oleh
satuan breksi vulkanik. Satuan Breksi
Vulkanik Ungaran Tua oleh beberapa
peneliti dikenal dengan nama Formasi
Notopuro, yang pertama kali dikemukakan
oleh Van Bammelen (1949) dengan nama
Notopuro beds. Beberapa peneliti menyebut
satuan yang banyak mengandung
konglomerat dan batupasir dikenal dengan
sebagai Formasi Damar. Penulis
menganggap bahwa seluruh endapan pada
satuan ini bersumber pada Gunung Ungaran
Tua, baik sebagai endapan vulkanik,
endapan piroklastik maupun endapan
fluvio-vulkanik. Dengan penamaan ini,
diharapkan dapat dengan mudah
dibayangkan konteks sejarah geologi pada
saat itu.
Satuan ini terbentuk oleh batulempung,
batuan breksi vulkanik dan batupasir
vulkanik. Batulempung, abu-abu hitam,
berukuran butir lempung-lanau, banyak
mengandung fosil tumbuhan. Merupakan
alas pada satuan ini.
Breksi vulkanik, kelabu coklat, fragmen
andesit, kerikil-bongkah, menyudut-
menyudut tanggung, dengan sortasi yang
buruk, fragmen mengambang dalam masa
dasar. Fragmen terdiri dari basal, andesit
dan batuapung.
Batupasir vulkanik, berciri berwarna
abu-abu agak kecoklatan, memiliki ukuran
butir pasir halus sampai berukuran
kerikilan, memiliki bentuk butir yang
menyudut atau angular hingga membulat
tanggung, dengan sortasi antara buruk
hingga sedang, tertanam pada masa dasar
[2]

lempung dan gelas, komposisi mineral :
lithic, kwarsa, min opak.
Van Bammelen (1949) menentukan
bahwa Satuan Breksi Piroklasik Notopuro
yang mempunyai kemiripan dengan satuan
ini mempunyai umur Plistosen Tengah-
Atas. Berdasarkan dari yang didapat dari
pentarikhan umur menggunakan metode
C14 pada endapan batulempung (bagian
alas satuan) yang mengandung fosil kayu
didapat umur 20.150 tahun (BP, 1950) atau
pada kala Pliosen Atas.
Pada bagian selatan satuan ini lebih
banyak didominasi oleh endapan-endapan
breksi piroklastik, ke arah utara bergradasi
membentuk sekuen endapan breksi laharik,
konglomerat dan batupasir vulkanik
endapan fluviatil, serta batulempung
endapan rawa.
Satuan lainnya adalah Satuan Endapan
Vulkanik Ungaran Muda. Oleh Van
Bammelen (1941 dan 1949) diberi nama
Young Ungaran yang merupakan hasil
endapan aktifitas Gunungapi Ungaran
Muda, generasi ketiga dari pertumbuhan
Gunung Ungaran, di mana pemunculannya
berhubungan erat dengan proses
gravitasional collapse.
Luas penyebaran Endapan Vulkanik
Ungaran Muda secara umum meliputi
sekitar pusat erupsi Gunung Ungaran yang
membentuk kerucut Gunung Ungaran
sampai lereng bawah, yang dibatasi oleh
sesar melingkar (ring fault).
Ciri litologi Endapan Vulkanik Ungaran
Muda adalah berupa breksi laharik, abu-
abu, masif, kerikil-bongkah, bentuk butir
membulat-membulat tanggung, sortasi
buruk, kemas terbuka, fragmen : andesit,
basalt, masa dasar berupa batupasir
vulkanik.
Batupasir vulkanik, abu-abu keputihan,
kerikil-pasir halus, bentuk butir menyudut-
menyudut tanggung, pemilihan buruk-
sedang, mineral feldspar, kwarsa, lithic,
mineral opak, lempung dan gelas.
Umur dari satuan batuan ini
berdasarkan pertumbuhan dari Gunungapi
Ungaran Muda berumur Kala Pliosen Atas-
Holosen (Bemmelen, 1949).
Gunung Ungaran Muda, seperti
Gunungapi lainnya membentuk busur
magmatik Jawa, merupakan gunungapi sub-
aerial, yang terbentuk di atas busur
kepulauan. Endapan-endapan yang
dihasilkannya, seperti breksi laharik atau
batupasir vulkanik diendapkan di darat.
Hubungan stratigrafi Satuan Breksi
Ungaran Muda dengan Satuan Breksi
Ungaran Tua yang terletak di bawahnya
memperlihatkan adanya selang
pengendapan, jika dilihat secara
vulkanostratigrafi.
Intrusi andesit membentuk morfologi
bukit-bukit kecil, di sekitar sesar normal
yang membatasi Satuan Vulkanik Ungaran
Tua dengan Satuan Vulkanik Ungaran
Muda (luas <1%). Pada umumnya intrusi
ini, batuannya mengalami pelapukan yang
cukup kuat dan banyak terpotong oleh
kekar-kekar (shear fractures).
Aktivitas fase termuda gunung berapi
ini adalah berupa susunan timbunan basalt
dan batu andesit yang melingkar dengan
garis tengah 19 km yang memotong gunung
berapi ungaran tua dan sedimen ketiga. Dua
generasi kubah Andesit telah terbentuk
sejak adanya lapisan ke empat di sekitar
lingkaran patahan dan sisi-sisi gunung.


GEOLOGI REGIONAL

1. Fisiografi Regional
Pulau Jawa secara fisiografi dan
struktural, dibagi atas empat bagian
utama (Bemmelen, 1970) yaitu: –
Sebelah barat Cirebon (Jawa Barat) –
Jawa Tengah (antara Cirebon dan
Semarang) – Jawa Timur (antara
Semarang dan Surabaya) – Cabang
sebelah timur Pulau Jawa, meliputi
[3]

Selat Madura dan Pulau Madura Jawa
Tengah merupakan bagian yang sempit
di antara bagian yang lain dari Pulau
Jawa, lebarnya pada arah utara-selatan
sekitar 100 – 120 km. Daerah Jawa
Tengah tersebut terbentuk oleh dua
pegunungan yaitu Pegunungan Serayu
Utara yang berbatasan dengan jalur
Pegunungan Bogor di sebelah barat dan
Pegunungan Kendeng di sebelah timur
serta Pegunungan Serayu Selatan yang
merupakan terusan dari Depresi
Bandung di Jawa Barat.
Gunung Ungaran merupakan
gunung api kuarter yang menjadi bagian
paling timur dari Pegunungan Serayu
Utara. Daerah Gunung Ungaran ini di
sebelah utara berbatasan dengan dataran
aluvial Jawa bagian utara, di bagian
selatan merupakan jalur gunung api
Kuarter (Sindoro, Sumbing, Telomoyo,
Merbabu), sedangkan pada bagian timur
berbatasan dengan Pegunungan
Kendeng. Bagian utara Pulau Jawa ini
merupakan geosinklin yang memanjang
dari barat ke timur (Bemmelen, 1970).
2. Stratigrafi Regional
Secara lebih rinci, fisiografi
Pegunungan Serayu Utara dibagi
menjadi tiga bagian yaitu bagian barat
(Bumiayu), bagian tengah
(Karangkobar) dan bagian timur
(Ungaran). Dalam Bemmelen (1970)
diuraikan bahwa stratigrafi regional
Pegunungan Serayu Utara bagian timur
(Gunung Ungaran dan sekitarnya) dari
yang tertua adalah sebagai berikut:
 Lutut Beds
Endapan ini berupa konglomerat
dan batugamping dengan fosil
berupa Spiroclypeus, Eulipidina,
Miogypsina dengan penyebaran
yang sempit. Endapan ini menutupi
endapan Eosen yang ada di
bawahnya. Endapan ini berumur
Oligo-Miosen.
 Merawu Beds
Endapan ini merupakan endapan
flysch yang berupa
perselangselingan lempung
serpihan, batupasir kuarsa dan
batupasir tufaan dengan fosil
Lepidocyclina dan Cycloclypeus.
Endapan ini berumur Miosen
Bawah.
 Panjatan Beds
Endapan ini berupa lempung
serpihan yang relatif tebal dengan
kandungan fosil Trypliolepidina
rutteni, Nephrolepidina ferreroi
PROV., N. Angulosa Prov.,
Cycloclypeus sp.,
Radiocyclocypeus TAN.,
Miogypsina thecideae formis
RUTTEN. Fosil yang ada
menunjukkan Miosen Tengah.
 Banyak Beds
Endapan ini berupa batupasir tufaan
yang diendapkan pada Miosen Atas.
 Cipluk Beds
Endapan ini berada di atas Banyak
Beds yang berupa napal yang
berumur Miosen Atas.
 Kapung Limestone
Batugamping tersebut diendapkan
pada Pliosen Bawah dengan
dijumpainya fosil Trybliolepidina
dan Clavilithes sp. Namun fosil ini
kelimpahannya sangat sedikit.
 Kalibluk Beds
Endapan ini berupa lempung
serpihan dan batupasir yang
mengandung moluska yang
mencirikan fauna cheribonian yang
berumur Pliosen Tengah.
 Damar Series
Endapan ini merupakan endapan
yang terbentuk pada lingkungan
transisi. Endapan yang ada berupa
tuffaceous marls dan batupasir
tufaan yang mengandung fosil gigi
[4]

Rhinocerous, yang mencirikan
Pleistosen awal-Tengah.
 Notopuro Breccias
Endapan ini berupa breksi vulkanik
yang menutupi secara tidak selaras
di atas endapan Damar Series.
Endapan ini terbentuk pada
Pleistosen Atas.
 Alluvial dan endapan Ungaran
Muda
Endapan ini merupakan endapan
alluvial yang dihasilkan oleh proses
erosi yang terus berlangsung
sampai saat ini (Holosen). Selain itu
juga dijumpai endapan breksi
andesit yang merupakan produk
dari Gunung Ungaran Muda.
Menurut Budiardjo et. al. (1997),
stratigrafi daerah Ungaran dari yang tua
ke yang muda adalah sebagai berikut:
1. Batugamping volkanik
2. Breksi volkanik III
3. Batupasir volkanik
4. Batulempung volkanik
5. Lava andesitik
6. Andesit porfiritik
7. Breksi volkanik II
8. Breksi volkanik I
9. Andesit porfiritik
10. Lava andesit
11. Aluvium
3. Tatanan Tektonik
a. Tektonik Regional
Perkembangan tektonik pulau Jawa
dapat dipelajari dari pola-pola
struktur geologi dari waktu ke
waktu. Secara geologi pulau Jawa
merupakan suatu komplek sejarah
penurunan basin, pensesaran,
perlipatan dan vulkanisme di bawah
pengaruh stress regime yang
berbeda-beda dari waktu ke waktu.
Pola Meratus di bagian barat
terekspresikan pada Sesar
Cimandiri, di bagian tengah
terekspresikan dari pola penyebarab
singkapan batuan pra-Tersier di
daerah Karang Sambung.
Sedangkan di bagian timur
ditunjukkan oleh sesar pembatas
Cekungan Pati, “Florence” timur,
“Central Deep”.
Pola Sunda berarah Utara-Selatan,
di bagian barat tampak lebih
dominan sementara perkembangan
ke arah timur tidak terekspresikan.
Pola Jawa di bagian barat pola ini
diwakili oleh sesar-sesar naik
seperti sesar Beribis dan sear-sear
dalam Cekungan Bogor. Di bagian
tengah tampak pola dari sesar-sesar
yang terdapat pada zona Serayu
Utara dan Serayu Selatan. Di
bagian Timur ditunjukkan oleh arah
Sesar Pegunungan Kendeng yang
berupa sesar naik.
Pola Jawa menunjukkan pola
termuda dan mengaktifkan kembali
seluruh pola yang telah ada
sebelumnya (Pulunggono, 1994).
Data seismik menunjukkan bahwa
pola sesar naik dengan arah barat-
timur masih aktif hingga sekarang.
Fakta lain yang harus dipahami
ialah bahwa akibat dari pola
struktur dan persebaran tersebut
dihasilkan cekungan-cekungan
dengan pola yang tertentu pula.
Penampang stratigrafi yang
diberikan oleh Kusumadinata, 1975
dalam Pulunggono, 1994
menunjukkan bahwa ada dua
kelompok cekungan yaitu
Cekungan Jawa Utara bagian barat
dan Cekungan Jawa Utara bagian
timur yang terpisahkan oleh
tinggian Karimun Jawa.
Kelompok cekungan Jawa Utara
bagian barat mempunyai bentuk
geometri memanjang relatif utara-
selatan dengan batas cekungan
berupa sesar-sesar dengan arah
[5]

utara selatan dan timur-barat.
Sedangkan cekungan yang terdapat
di kelompok cekungan Jawa Utara
Bagian Timur umumnya
mempunyai geometri memanjang
timur-barat dengan peran struktur
yang berarah timur-barat lebih
dominan.
Tumbukkan antara lempeng Asia
dengan lempeng Australia
menghasilkan gaya utama kompresi
utara-selatan. Gaya ini membentuk
pola sesar geser (oblique wrench
fault) dengan arah baratlaut-
tenggara, yang kurang lebih searah
dengan pola pegunungan akhir
Cretasisus.
Pada periode Pliosen-Pleistosen
arah tegasan utama masih sama,
utara-selatan. Aktifitas tektonik
periode ini menghasillkan pola
struktur naik dan lipatan dengan
arah timur-barat yang dapat
dikenali di Zona Kendeng.
Posisi pulau Jawa dalam kerangka
tektonik terletak pada batas aktif
(zona penunjaman) sementara
berdasarkan konfigurasi
penunjamannya terletak pada jarak
kedalaman 100 km di selatan
hingga 400 km di utara zona
Benioff. Konfigurasi memberikan
empat pola busur atau jalur
magmatisme, yang terbentuk
sebagai formasi-formasi batuan
beku dan volkanik. Empat jalur
magmatisme tersebut menurut
Soeria Atmadja dkk., 1991 adalah :
1. Jalur volkanisme Eosen hingga
Miosen Tengah, terwujud
sebagai Zona Pegunungan
Selatan.
2. Jalur volkanisme Miosen Atas
hingga Pliosen. Terletak di
sebelah utara jalur Pegnungan
Selatan. Berupa intrusi lava dan
batuan beku.
3. Jalur volkanisme Kuarter Busur
Samudera yang terdiri dari
sederetan gunungapi aktif.
4. Jalur volkanisme Kuarter Busur
Belakang, jalur ini ditempati
oleh sejumlah gunungapi yang
berumur Kuarter yang terletak
di belakang busur volkanik
aktif sekarang.
Batuan Pra-Tersier di pulau Jawa
hanya tersingkap di Ciletuh, Karang
Sambung dan Bayat. Dari ketiga
tempat tersebut, batuan yang dapat
dijumpai umumnya batuan beku
dan batuan metamorf. Sementara
itu, batuan yang menunjukkan
aktifitas magmatisme terdiri atas
batuan asal kerak samudra seperti,
peridotite, gabbro, diabase, basalt
toleit. Batuan-batuan ini sebagian
telah menjadi batuan metamorf.
Data-data yang menunjukkan
adanya aktifitas magmatisme pada
Eosen ialah adanya Formasi
Jatibarang di bagian utara Jawa
Barat, dike basaltik yang memotong
Formasi Karang Sambung di daerah
Kebumen Utara, batuan berumur
Eosen di Bayat dan lava bantal
basaltik di sungai Grindulu Pacitan.
Formasi Jatibarang merupakan
batuan volkanik yang dapat
dijumpai di setiap sumur pemboran.
Ketebalan Formasi Jatibarang
kurang lebih 1200 meter. Sementara
di daerah Jawa Tengah dapat
ditemui di Gunung Bujil yang
berupa dike basaltik yang
memotong Formasi Karang
Sambung, di Bayat dapat ditemui di
kompleks Perbukitan Jiwo berupa
dike basaltik dan stok gabroik yang
memotong sekis kristalin dan
Formasi Gamping-Wungkal.
[6]

Pulau Jawa terentuk oleh rangkaian
gunungapi yang berumur Oligosen-
Miosen Tengah dan Pliosen-
Kuarter. Batuan penyusun terdiri
atas batuan volkanik berupa breksi
piroklastik, breksi laharik, lava,
batupasir volkanik tufan yang
terendapkan dalam lingkungan
darat dan laut. Pembentukan
deretan gunungapi berkaitan erat
dengan penunjaman lempeng
samudra Hindia pada akhir
Paleogen. Menurut Van Bemmelen
(1970) salah satu produk aktivitas
volkanik saat itu adalah Formasi
Andesit Tua.
Posisi jalur magmatisme pada
periode ini berada di sebelah utara
jalur magmatisme periode
Oligosen-Miosen Tengah. Pada
periode in aktivitas magmatisme
tidak terekspresikan dalam bentuk
munculnya gunungapi, tetapi
berupa intrusi-intrusi seperti dike,
sill dan volkanik neck. Batuannya
berkomposisi andesitik.
Pada periode aktifitas kuarter ini
magmatisme muncul sebagai
kerucut-kerucut gunungapi. Ada
dua jalur rangkaian gunungapi yaitu
: jalur utama terletak di tengah
pulau Jawa atau pada jalur utama
dan jalur belakang busur.
Gunungapi pada jalur utama
ersusun oleh batuan volkanik tipe
toleitik, kalk alkali dan kalk alkali
kaya potasium. Sedangkan batuan
volkanik yan terletak di belakan
busur utama berkomposisi
shoshonitik dan ultra potasik
dengan kandungan leusit.
Gunung Ungaran merupakan
magmatisme belakang busur yang
terletak di Kota Ungaran, Jawa
Tengah dengan ketinggian sekitar
2050 meter di atas permukaan laut.
Secara geologis, Gunung Ungaran
terletak di atas batuan yan
tergabung dalam Formasi batuan
tersier dalam Cekungan Serayu
Utara di bagian barat dan Cekungan
Kendeng di bagian utara-timur.
Gunung Ungaran merupakan
rangkaian paling utara dari deretan
gunungapi (volcanic lineament)
Gunung Merapi-Gunung Merbabu-
Gunung Ungaran. Beberapa peneliti
menyatakan bahwa fenomena itu
berkaitan dengan adanya patahan
besar yan berarah utara-selatan.
Komposisi batuan yang terdapat di
Gunung Ungaran cukup bervariasi,
terdiri dari basal yang mengandung
olivin, andesit piroksen, andesit
hornblende dan dijumpai juga
gabro. Pada perkembangannya,
Gunung Ungaran mengalami dua
kali pertumbuhan, mulanya
menghasilkan batuan volkanik tipe
basalt andesit pada kala Pleistosen
Bawah. Perkembangan selanjutnya
pada Kala Pleistosen Tengah
berubah menjadi cenderung bersifat
andesit untuk kemudian roboh.
Pertumbuhan kedua mulai lagi pada
Kala Pleistosen Atas dan Holosen
yang menghasilkan Gunung
Ungaran kedua dan ketiga. Saat ini
Gunung Ungaran dalam kondisi
dormant.
b. Tatanan Tektonik Daerah Ungaran
Gunung Ungaran selama
perkembangannya mengalami
ambrolan-tektonik yang diakibatkan
oleh pergeseran gaya berat karena
dasarnya yang lemah. Gunung
Ungaran tersebut memperlihatkan
dua angkatan pertumbuhan yang
dipisahkan oleh dua kali robohan
(Zen dkk., 1983). Ungaran pertama
menghasilkan batuan andesit di
Kala Pliosen Bawah, di Pliosen
[7]

Tengah hasilnya lebih bersifat
andesit dan berakhir dengan
robohan. Daur kedua mulai di Kala
Pliosen Atas dan Holosen. Kegiatan
tersebut menghasilkan daur ungaran
kedua dan ketiga.
Struktur geologi daerah Ungaran
dikontrol oleh struktur runtuhan
(collapse structure) yang
memanjang dari barat hingga
tenggara dari Ungaran. Batuan
volkanik penyusun pre-caldera
dikontrol oleh sistem sesar yang
berarah barat laut-barat daya dan
tenggara-barat daya, sedangkan
batuan volkanik penyusun post-
caldera hanya terdapat sedikit
struktur dimana struktur ini
dikontrol oleh sistem sesar regional
(Budiardjo et al. 1997).

METODOLOGI
1. Pendekatan Penelitian
Dalam penulisan paper ini, penulis
menggunakan pendekatan empiris.
Yaitu pendekatan dengan menggunakan
fakta yang objektif, secara hati-hati
diperoleh, benar-benar terjadi, dan data
ini diperoleh dari lapangan.
2. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian
lapangan (field research) dan deskripsi
laboratorium mengenai batuan
piroklastik dimaksudkan untuk
mendapatkan data primer, sehingga
diperoleh data yang benar dan dapat
dipertanggungjawabkan kebenerannya.
Selain itu, penelitian juga merupakan
penelitian kepustakaan (library
research). Penulis akan mendapatkan
data dari literatur berupa buku-buku,
makalah, artikel dan tulisan-tulisan
lainnya yang membahas mengenai
batuan piroklastik Gunung Ungaran
yang menjadi pokok bahasan dalam
paper ini.
3. Jenis Data
Data kualitatif adalah data yang berupa
angka-angka. Adapun data kuantitatif
yang dimaksud adalah data berupa
kemiringan lereng, luas wilayah
penyebaran suatu litologi, ketinggian
tempat, umur geologi, dan ukuran
batuan yang menyusun daerah tersebut.
Sedangkan data kualitatif adalah data
yang didapat dari suatu metode
penelitian yang bertujuan untuk
membuat pemaparan secara sistematis,
faktual, dan akurat mengenai fakta-
fakta dan sifat-sifat pada objek
penelitian sesuai dengan permasalahan
yang diteliti. Adapun yang menjadi data
kualitatif dalam paper ini yaitu data
yang bersumber dari hasil pengumpulan
data yang diinterpretasikan ke dalam
kata-kata sehingga tersusun paper ini.
4. Sumber Data
Sumber data terbagi dua yaitu data
primer dan data sekunder. Data primer
yaitu data yang langsung didapat
langsung oleh penulis tanpa perantara.
Yaitu data yang didapat langsung dari
lapangan dan deskripsi laboratorium.
Sedangkan data sekunder yaitu data
yang didapat oleh perantaraan dalam
artian data yang didapat sudah tersedia
sebelumnya tanpa harus terjun langsung
pada responden. Contohnya data-data
yang didapat penulis dari literatur dan
referensi lain.
5. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan metode
pengumpulan data berupa studi
lapangan dan studi pustaka. Studi
lapangan dilakukan di Daerah
Kendalisodo sebagai bagian dari
Gunung Ungaran dan studi pustaka
didapatkan dari berbagai referensi untuk
mendapatkan data yang lebih akurat.
6. Objek Penelitian
Objek penelitian yang menjadi fokus
dalam penelitian ini adalah batuan
[8]

piroklastik, khususnya yang merupakan
hasil erupsi dari Gunung Ungaran.
7. Metode Analisis Data
Penulis dalam menganalisis data
menggunakan fakta-fakta di lapangan
tentang litologi yang ditemukan,
menggunakan data-data mengenai
karakteristik batuan piroklastik yang
didapatkan dari deskripsi laboratorium,
dan dengan menggunakan studi pustaka
untuk meningkatan akurasi data yang
telah didapat di lapangan.


DESKRIPSI LABORATORIUM

Dari hasil deskripsi laboratorium
terhadap enam sampel batuan piroklastik,
maka didapatkan data sebagai berikut:
Batuan nomor F-2 berwarna abu-abu,
memiliki struktur vesikuler pumice, dan
memiliki tekstur glassy. Batuan ini adalah
Pumice (Thorpe and Brown, 1985).
Batuan nomor 42 berwarna putih,
berstruktur masif, dan memiliki tekstur
fragmental. Komposisisnya tersusun atas
100% fragmen batuan. Batuan ini memiliki
sortasi baik, dan keseluruhannya tersusun
atas material piroklastik berupa tuff dan
lapili. Batuan ini adalah Tuff Lapili (Fisher,
1966).
Batuan nomor Lntg 2, dari kenampakan
megaskopisnya, memiliki warna coklat
muda, struktur masif, dan tekstur glassy.
Batuan ini memiliki sortasi baik dan
keseluruhan mineral penyusunnya adalah
material piroklastik berupa tuff. Batuan ini
adalah Tuff (Fisher, 1966).
Batuan nomor T-7 berwarna hitam,
berstruktur masif, dan bertekstur glassy.
Komposisi mineralnya tersusun atas 100%
gelasan. Batuan ini adalah Obsidian
(Thorpe and Brown, 1985).
Batuan nomor 1 berwarna kuning.
Memiliki struktur vesikuler scoriaa karena
terlihat adanya kenampakan lubang-lubang
gas pada saat pembekuan. Komposisi
mineralnya berupa gelasan. Batuan ini
bernama Scoriaa (Thorpe and Brown,
1985).
Batuan nomor 46 berwarna abu-abu dan
memiliki struktur vesikuler scoriaa.
Teksturnya glassy dan komposisi
mineralnya tersusun atas 100% gelasan.
Batuan ini bernama Scoriaa (Thorpe and
Brown, 1985).


DESKRIPSI LAPANGAN

Pada deskripsi lapangan yang
dilaksanankan pada tanggal 2 November
2012 pada pukul 13.00 WIB sampai dengan
selesai di daerah Coblong dan Kendalisodo.
Pada STA 1 di daerah Coblong
ditemukan litologi berupa tuff, dengan
kenampakan megaskopis berwarna keabu-
abuan, memiliki tekstur klasik, ukuran butir
0,02-0,08 mm, memiliki kenampakan butir
menyudut tanggung-membulat tanggung.
Komposisi mineral yang terdapat pada
litologi ini yaitu berupa kuarsa, lempung,
dan gelas.
Pada STA 2 LP 1 di daerah
Kendalisodo, ditemukan litologi
menunjukkan warna abu-abu kecoklatan,
struktur masif, hipokristalin, porfiritik,
tersusun oleh kristal-kristal plagioklas,
piroksen, hornblende, biotit, dan kuarsa
berukuran 0,4-1,3 cm. Batuan ini adalah
andesit, namun telah mengalami oksidasi
dan berasosiasi dengan sulfur sehingga
mengalami oksidasi dan akhirnya berwarna
kemerahan. Tidak jauh dari LP 1,
ditemukan litologi berupa andesit dan
mineral lempung. Mineral penyusunnya
yaitu hornblende dan kuarsa. Mineral-
mineral yang ditemukan di STA ini terlihat
lebih jelas dan tidak masif dibandingkan
yang ditemukan di LP sebelumnya.


[9]

PEMBAHASAN

Batuan piroklastik adalah adalah batuan
yang dihasilkan oleh proses lisenifikasi
bahan-bahan lepas yang dilemparkan dari
pusat vulkanik selama erupsi yang bersifat
eksplosif. Bahan-bahan jatuhan kemudian
mengalami litifikasi baik sebelum
ditransport maupun rewarking oleh air atau
es. (W.T. Huang, 1962)
Dalam perkembangannya, dikenal tiga
jenis tipe endapan piroklastik menurut
mekanisme pengendapannya. Tiga jenis tipe
endapan tersebut yaitu endapan piroklastik
jatuhan, endapan piroklastik aliran, dan
endapan piroklastik surge. Masing-masing
memiliki karakteristiknya sendiri.
Endapan Jatuhan (Pyroclastic Fall)
Endapan piroklastik jatuhan yaitu onggokan
piroklastik yang diendapkan melalui
medium udara. Piroklastik yang dilontarkan
secara ledakan dan melalui medium udara
sementara akan tersuspensi yang
selanjutnya jatuh ke bawah dan
terakumulasi membentuk endapan
piroklastik jatuhan. Dilihat dari lapisan pada
endapan piroklastik ini menunjukkan sortasi
yang baik (well sorted) dengan ketebalan
lapisan yang teratur dan mengikuti
permukaan yang ditutupi (mantle bedding).
Biasanya jarang dijumpai lapisan yang
masif, bahkan juga jarang ditemukan
gradasi normal. Endapan ini umumnya akan
berlapis baik, dan pada lapisannya akan
memperlihatkan struktur butiran bersusun.
Endapan ini meliputi aglomerat, breksi
piroklastik, tuff dan lapili
Endapan Aliran ( Pyroclastic Flow)
Endapan piroklastik aliran adalah aliran
panas dengan konsentrasi tinggi, dekat
permukaan, mudah bergerak, dalam
medium gas yang dihasilkan magma sendiri
dan partikel terdispersi yang dihasilkan oleh
erupsi volkanik. Selain itu, juga terdapat
pengaruh medium air yang mengangkut
bahan piroklastik saat keluar dari pusat
erupsi, sehingga bahan bahan piroklastik
tersebut telah mengalami pengangkutan
sebelum mengalami pelapukan. Hal ini
meliputi hot avalanche, glowing avalanche,
lava collapse , hot ashes avalanche. Aliran
umumnya berlangsung pada suhu tinggi
antara 500°-650°C dan temperaturnya
cenderung menurun selama pengalirannya.
Penyebaran pada bentuk endapan sangat
dipengaruhi oleh morfologi, sebab sifat-sifat
endapan tersebut adalah menutup dan
mengisi cekungan. Bagian bawah
menampakkan morfologi asal dan bagian
atasnya datar. Dilihat dari lapisan yang
dibentuk menunjukkan sortasi yang buruk
dengan ketebalan lapisan yang tidak teratur
dan menipis pada tinggian dan menebal
pada cekungan. Biasanya dijumpai lapisan
yang sudah masif dengan gradasi normal
pada endapan yang berasal dari suspensi
turbulen dan menutupi bagian laminasi.
Endapan Surge (Pyroclastic Surge)
Endapan piroklastik surge merupakan suatu
awan campuran dari bahan padat dan gas
(uap air) yang mempunyai rapat massa
rendah dan bergerak dengan kecepatan
tinggi secara trubulensi di atas permukaan.
Umumnya endapan piroklastik surge
mempunyai pemilahan yang baik, berbutir
halus dan berlapis baik. Endapan ini
mempunyai strutur pengendapan primer
seperti laminasi dan perlapisan
bergelombang hingga planar. Yang paling
khas dari endapan ini adalah mempunyai
struktur silang siur, melensa dan bersudut
kecil . Endapan surge umumnya kaya akan
keratan batuan kristal.
Sebagai gunung berapi, Gunung
Ungaran menghasilkan material material
piroklastik. Material piroklastik yang
dihasilkan dari erupsi Gunung Ungaran
didominasi oleh batupasir vulkanik, dengan
karakteristik berwarna abu-abu keputihan,
kerikil-pasir halus, bentuk butir menyudut-
menyudut tanggung, pemilihan buruk-
[10]

sedang, mineral feldspar, kwarsa, lithic,
mineral opak, lempung dan gelas.
Breksi piroklastik, kelabu, ukuran
fragmen 2-5 cm, bentuk butir menyudut-
menyudut tanggung, pemilihan buruk,
kemas terbuka, masa dasar berupa tuf
pasiran.
Tuf, keabu-abuan, tekstur klasik,
ukuran butir 0,02-0,08 mm, menyudut
tanggng-membulat tanggung, komposisi
mineral utama, kwarsa, lempung, gelas.
Ketiganya merupakan tipe endapan
piroklastik jatuhan. Seperti telah disebutkan
dalam analisis sebelumnya, bahwa endapan
piroklastik jatuhan dalam mekanisme
pengendapannya dipengaruhi oleh medium
udara sehingga mengakibatkan material
piroklastik yang terlontar secara eksplosif
tersuspensi dan selanjutnya akan jatuh dan
membentuk endapan. Karena dalam
pengendapannya didominasi oleh
pengangkutan oleh medium udara, maka
material yang terlontar akan mempunyai
ukuran butir yang relatif sama. Ukuran butir
yang relatif sama ini akan mempengaruhi
sortasi batuan itu sendiri. Sortasi yang
dihasilkan adalah sortasi yang baik, akibat
antar butir dengan ukuran yang sama akan
saling mengunci. Selain itu, juga akan
terlihat kenampakan lapisan yang teratur
dan mengikuti permukaan yang ditutupi.
Endapan ini umumnya akan berlapis baik
dan pada lapisannya akan memperlihatkan
struktur butiran bersusun.
Berdasarkan analisis ini, maka berarti
bahwa dominansi medium udara pada
daerah ini dalam pengendapan material
piroklastik sangat besar dibanding medium
lainnya misalnya saja medium air dan
medium padat. Hal ini dipengaruhi oleh
kondisi geologi daerah tersebut di mana
daerah yang terdapat aliran air terletak
relatif jauh dari pusat erupsi sehingga
material tersebut tidak sempat terangkut
oleh medium air, dan pada akhirnya yang
berpengaruh besar dalam pengendapan
material piroklastik dalam erupsi Gunung
Ungaran adalah medium udara. Karena
begitu keluar dari pusat erupsi, material
piroklastik ini akan terangkut oleh udara
yang mengiringi proses erupsi. Namun,
bukan berarti tidak ada pengaruh medium
air dan medium lainnya. Tetap ada
pengaruh dari medium air yang
menghasilkan endapan piroklastik aliran,
hanya saja tidak sedominan endapan
piroklastik yang berupa jatuhan.


KESIMPULAN

Gunung Ungaran merupakan gunung
berapi tipe strato. Aktivitas gunung api ini
berlangsung dalam beberapa periode.
Selama aktivitasnya, Gunung Ungaran telah
bererupsi secara eksplosif menghasilkan
batuan gunung api berupa batupasir
vulkanik, breksi piroklastik, dan tuff.
Material material ini diinterpretasikan
sebagai endapan piroklastik jatuhan, di
mana endapan piroklastik jatuhan ini dalam
mekanisme pengendapannya didominasi
oleh medium udara.


REFERENSI

http://edwinry.blogspot.com/2011/12/pirokl
astik-abu-vulkanik-abu-vulkanik.html
(diakses Sabtu, 17 November 2012
pukul 23.50 WIB)
http://gemparbumi.blogspot.com/2012/05/b
atuan-piroklastik.html (diakses
Minggu, 18 November 2012 pukul
05.30 WIB)
http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Ungar
an (diakses Minggu, 18 November
2012 pukul 05.45 WIB)
http://nationalinks.blogspot.com/2008/11/bb
atuan-piroklastik-batuan-unik.html
(diakses Minggu, 18 November 2012
pukul 05.50 WIB)