Anda di halaman 1dari 16

STEP 7

1. Bagaimana anatomi dari jalan lahir?
JALAN LAHIR KERAS
ANATOMI DAN JENIS PANGGUL
Panggul menurut anatominya dibagi dalam 4 jenis pokok. Jenis-jenis panggul ini dengan ciri-ciri
pentingnya ialah: (2)
1. Panggul ginekoid, dengan pintu atas panggul yang bundar, atau dengan diameter transversa yang
lebih panjang sedikit dari pada diameter antero-posterior dan dengan panggul tengah serta pintu
bawah panggul yang cukup luas.
2. Panggul antropoid, dengan diameter antero-posterior yang lebih panjang dari pada diameter
transversa dan dengan arkus pubis menyempit sedikit.


3. Panggul android, dengan pintu atas panggul yang berbentuk seperti segitiga, berhubungan dengan
penyempitan kedepan, dengan spina ischiadica menonjol kedalam dan dengan arcus pubis
menyempit.
4. Panggul platipelloid, dengan diameter antero-posterior yang jelas lebih pendek dari pada diameter
transversa pada pintu atas panggul, dan dengan arcus pubis yang luas.


2. Apa saja kriteria panggul sempit?
Panggul disebut sempit apabila ukurannya 1-2 cm kurang dari yang normal. Kesempitan panggul bisa
pada inlet (pintu atas panggul), mid pelvis (ruang tengah panggul), outlet ( dasar panggul atau pintu
bawah panggul), kombinasi dari inlet,mid pelvis atau outlet. (3)

1. Kesempitan pintu atas panggul (pelvic inlet)
a. Pembagian tingkatan panggul sempit
1. Tingkat I : C.V = 9-10 cm = borderline
2. Tingkat II : C.V = 8-9 cm = relative
3. Tingkat III : C.V = 6-8 cm = Ekstrim
4. Tingkat IV : C.V = 6 cm =Mutlak (absolut)

b. Pembagian menurut tindakan
1. C.V = 11 cm……...………Partus Biasa
2. C.V = 8-10 cm……………Partus percobaan
3. C.V = 6-8 cm …………….SC primer
4. C.V = 6 cm ………………..SC mutlak (absolut)
Inlet dianggap sempit bila C.V kurang dari 10 cm atau diameter transversa kurang dari 12 cm. Karena
yang biasa diukur adalah conjugata Diagonalis (C.D) maka inlet dianggap sempit bila C.D kurang dari
11,5 cm.

2. Kesempitan Midpelvis
Terjadi bila:
a. Diameter interspinarum 9 cm, atau
b. Kalau diameter transversa ditambahkan dengan diameter sagitalis posterior kurang dari 13,5 cm.

Kesempitan midpelvis hanya dapat dipastikan dengan rontgen pelvimetri. Dengan pelvimetri klinik,
hanya dapat dipikirkan kemungkinan kesempitan midpelvis kalau:
-spina menonjol, partus akan tertahan disebut midpevic arrest
-side walls konvergen
-ada kesempitan outlet
Midpelvis contraction dapat memberi kesulitan sewaktu partus sesudah kepala melewati pintu atas
panggul. Adanya kesempitan ini sebetulnya merupakan kontraindikasi untuk forsep karena daun
forsep akan menambah sempitnya ruangan.
3. Kesempitan outlet

Adalah bila diameter transversa dan diameter sagitalis posterior <15 cm. Kesempitan outlet,
meskipun bisa tidak menghalangi lahirnya janin, namun dapat menyebabkan perineal rupture yang
hebat, karena arkus pubis sempit sehingga kepala janin terpaksa melalui ruangan belakang.


SUMBER:
1. Cunningham,G. Distosia (persalinan abnormal dan disproporsi fetofelvic),Profitasari at all . Obstetri
Williams. Edisi 21 . volume 1. Jakarta . EGC. 2004. Bab 18. Hal: 467-468.
2. Wiknjosastro,H. distosia karena kelainan panggul, Saifuddin,BA. Rachimhadi,T. ilmu kebidanan.
Edisi 3. Yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo. Jakarta. 2006. Bab 7. Hal; 637-647.
3. Mochtar,R. panggul sempit (pelvic contraction), Lutan,D. Synopsis obstetri: edisi 2. Jakarta. EGC.
1998. Bab 9. Hal: 332-328.

3. Bagaimana fisiologi dari persalinan?
2.4. Tanda Persalinan
2.4.1. Tanda Permulaan Persalinan
Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki
bulannya atau minggunya atau harinya yang disebut kala pendahuluan (preparatory stage of
labor). Ini memberikan tanda-tanda sebagai berikut :
a. Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul
terutama pada primigravida. Pada multipara tidak begitu terlihat, karena kepala janin
baru masuk pintu atas panggul menjelang persalinan.
b. Perut kelihatan lebih melebar dan fundus uteri menurun.
c. Perasaan sering-sering atau susah kencing (polakisuria) karena kandung kemih tertekan
oleh bagian terbawah janin.
d. Perasaan sakit di perut dan di pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi
lemah dari uterus (false labor pains).
e. Serviks menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresinya bertambah bisa
bercampur darah (bloody show).

2.4.2. Tanda in-partu
a. Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur.
b. Keluar lendir bercampur darah yang lebih banyak karena robekan-robekan kecil pada
serviks.
c. Dapat disertai ketuban pecah dini.
d. Pada pemeriksaan dalam, serviks mendatar dan terjadi pembukaan serviks.

2.5. Tahap Persalinan
Tahap persalinan meliputi 4 fase/kala :
2.5.1. Kala I : Dinamakan kala pembukaan, pada kala ini serviks membuka sampai terjadi
pembukaan 10 cm. Proses membukanya serviks dibagi atas 2 fase :
a. Fase laten berlangsung selama 7-8 jam pembukaan terjadi sangat lambat sampai
mencapai ukuran diameter 3 cm.
b. Fase aktif dibagi dalam 3 fase yaitu fase akselerasi dalam waktu 2 jam, pembukaan 3 cm
tadi menjadi 4 cm dan fase dilatasi maximal dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung
sangat cepat dari 4 menjadi 9 cm dan fase deselerasi pembukaan menjadi lambat
kembali dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap 10 cm. Kala I ini
selesai apabila pembukaan serviks uteri telah lengkap. Pada primigravida kala I
berlangsung kira-kira 12 jam sedang pada multigravida 8 jam. Pembukaan primigravida
1 cm tiap jam dan multigravida 2 cm tiap jam.
2.5.2. Kala II : Kala pengeluaran karena berkat kekuatan his dan kekuatan mengedan janin
didorong keluar sampai lahir. Kala ini berlangsung 1,5 jam pada primigravida dan 0,5 jam pada
multipara.
2.5.3. Kala III : Kala uri/plasenta terlepas dari dinding uterus dan dilahirkan. Prosesnya 6-15
menit setelah bayi lahir.
2.5.4. Kala IV : Observasi dilakukan mulai lahirnya plasenta selama 1 jam, hal ini dilakukan
untuk menghindari terjadinya perdarahan postpartum. Observasi yang dilakukan melihat
tingkat kesadaran penderita, pemeriksaan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi dan
pernapasan), kontraksi uterus dan terjadinya pendarahan.

SUMBER : UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

PENGATURAN HORMON PERSALINAN!
KONTROL ENDOKRIN PADA PERSALINAN
Dalam minggu-minggu terakhir kehamilan, dua proses menandai mendekatnya persalinan. Kontraksi
uterus yang biasanya tidak nyeri dan menjadi semakin sering, dan segmen bawah uterus dan serviks
menjadi lebih lunak dan tipis, suatu proses yang dikenal sebagai penipisan atau "pematangan".
Meskipun tanda-tanda ini tidak jarang palsu, permulaan persalinan biasanya akan segera terjadi bila
kontraksi menjadi teratur setiap 2-5 menit, dan persalinan dalam waktu kurang dari 24 jam. Kesulitan
mengidentifikasi peristiwa inisiasi tunggal pada persalinan manusia mengesankan bahwa terdapat
lebih dari satu faktor yang berperan.

Steroid-steroid Seks
Progesteron sangat penting untuk pemeliharaan kehamilan dini, dan hilangnya progesteron akan
mengakibatkan berakhirnya kehamilan. Progesteron menyebabkan hiperpolarisasi miometrium,
mengurangi amplitudo potensial aksi dan mencegah kontraksi efektif. Progesteron mengurangi
reseptor-reseptor adrenergik alfa, menstimulasi produksi cAMP, dan menghambat sintesis reseptor
oksitosin. Progesteron juga menghambat sintesis reseptor estrogen, membantu penyimpanan
prekursor prostaglandin di desidua dan membran janin, dan
menstabilkan lisosom-lisosom yang mengandung enzim-enzim pembentuk prostaglandin. Estrogen
merupakan lawan progesteron untuk efek-efek ini dan mungkin memiliki peran independen dalam
pematangan serviks uteri dan membantu kontraktilitas uterus. Jadi rasio estrogen : progesteron
mungkin merupakan suatu parameter penting. Pada sejumlah kecil pasien, suatu peningkatan rasio
estrogen : progesteron telah dibuktikan mendahului persalinan.
Jadi untuk sebagian individu, suatu penurunan kadar progesteron ataupun peningkatan estrogen
dapat memulai persalinan. Telah dibuktikan bahwa suatu peningkatan rasio estrogen : progesteron
meningkatkan jumlah reseptor oksitosin dan celah batas miometrium; temuan ini dapat menjelaskan
kontraksi efektif terkoordinasi yang mencirikan persalinan sejati.


Oksitosin
Infus oksitosin sering diberikan untuk menginduksi ataupun membantu persalinan. Kadar oksitosin ibu
maupun janin keduanya meningkat spontan selama persalinan, namun tidak satupun yang dengan
yakin dapat dibuktikan
meningkat sebelum persalinan dimulai. Data-data pada hewan mengesankan bahwa peran oksitosin
dalam mengawali persalinan adalah akibat meningkatnya kepekaan uterus terhadap oksitosin dan
bukan karena peningkatan kadar hormone dalam plasma. Bahkan wanita dengan diabetes insipidus
masih sanggup melahirkan
tanpa penambahan oksitosin : jadi hormon yang berasal dari ibu bukan yang paling penting di sini.

Prostaglandin
Prostaglandin F2-alfa yang diberikan intra-amnion ataupun intravena merupakan suatu abortifum
yang efektif pada kehamilan sedini 14 minggu. Pemberian prostaglandin E2 pervagina akan
merangsang persalinan pada kebanyakan wanita hami trimester ketiga. Amnion dan korion
mengandung asam arakidonat dalam kadar tinggi, dan desidua mengandung sintetase prostaglandin
yang aktif. Prostaglandin hampir pasti terlibat dalam pemeliharaan proses setelah persalinan dimulai.
Prostaglandin agaknya juga penting dalam memulai persalinan pada beberapa keadaan, misalnya
pada amnionitis atau bila selaput ketuban "dipecahkan" oleh dokter. Prostaglandin agaknya
merupakan bagian dari jaras akhir bersama" dari persalinan.

Katekolamin
Katekolamin dengan aktivitas adrenergic alfa-2 menyebabkan kontraksi uterus, sementara adrenergic
beta-2 menghambat persalinan. Progesteron meningkatkan rasio reseptor beta terhadap reseptor
alfa di miometrium, dengan demikian memudahkan berlanjutnya kehamilan. Tidak ada bukti bahwa
perubahan-perubahan katekolamin ataupun reseptornya mengawali persalinan, namun tampaknya
perubahan-perubahan seperti ini membantu mempertahankan persalinan bila sudah dimulai. Obat
adrenergik beta ritodrin telah dibuktikan bermanfaat dalam penatalaksanaan persalinan prematur.
Obat-obat adrenergik alfa tidak bermanfaat untuk induksi persalinan dikarenakan efek samping
kardiovaskular yang ditimbulkannya.
http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2010/05/endokrinologi_kehamilan.pdf

4. Bagaimana pembagian KALA pada persalinan?
1. Kala I
Kala I adalah persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan serviks hingga
mencapai pembukaan lengkap (10 cm). Persalinan kala I dibagi menjadi dua fase yaitu fase laten dan
fase aktif.
a. Fase laten persalinan
Fase laten adalah fase yang lambat yang ditandai dengan : dimulai sejak awal kontraksi yang
menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap, pembukaan kurang dari 4 cm dan
biasanya memerlukan waktu selama 8 jam pada saat primipara.
b. Fase aktif persalinan
Fase aktif adalah fase dimana ditandai dengan : frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnya
meningkat (kontraksi dianggap adekuat atau memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10
menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih, serviks membuka dari 4 ke 10 cm biasanya dengan
kecepatan 1 cm atau lebih per jam hingga pembukaan lengkap 10 cm, dan terjadi penurunan bagian
terbawah janin.
- Fase laten  pembukaan 1 – 3, normalnya lebih lama. Berapa lama? (7 – 8 jam)
- Fase aktif  pembukaan 4 – 10, normalnya lebih cepat dari fase laten. Berapa lama? (6 – 7
jam)

2. Kala II
Kala II adalah persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir
dengan lahirnya bayi. Kala II dikenal juga sebagai kala pengeluaran.
Penanganan kala II :
1) Memberikan dukungan terus menerus kepada ibu dengan cara : mendampingi ibu agar merasa
nyaman, menawarkan minum, mengipasi, dan memijat ibu.
2) Menjaga kebersihan diri meliputi : ibu tetap dijaga kebersihan agar terhindar dari infeksi, jika ada
darah lendir atau cairan ketuban segera dibersihkan.
3) Mengipasi dan masase untuk menambah kenyamanan bagi ibu.
4) Memberikan dukungan mental untuk mengurangi kecemasan atau ketakutan ibu dengan cara :
menjaga privasi ibu, penjelasan tentang prosedur dan kemajuan persalinan, penjelasan tentang
prosedur yang akan dilakukan dan keterlibatan ibu.
5) Mengatur posisi ibu dalam membimbing mengedan dapat dipilih posisi berikut : posisi jongkok.,
menungging, tidur miring, setengah duduk,
6) Menjaga kandung kemih tetap kosong, ibu dianjurkan berkemih sesering mungkin.
7) Memberikan cukup minum : memberi tenaga dan mencegah dehidrasi.
(Prawirohardjo, 2002).

3. Kala III
Kala III adalah persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhirnya dengan lahirnya plasenta dan
selaput ketuban.
Manajemen aktif kala III terdiri dari 3 langkah utama :
a. Pemberian suntikan oksitosin.
b. Melakukan peregangan tali pusat terkendali.
c. Pemijatan fundus uteri (masase).
Tujuan manajemen aktif kala III adalah untuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih efektif
sehingga memperpendek waktu kala III persalinan dan mengurangi kehilangan darah dibandingkan
dengan penatalaksanaan fisiologis.

4. Kala IV
Kala IV adalah persalinan dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir dua jam setelah itu.
Pemantauan pada kala IV sangat penting terutama untuk menilai apakah terdapat risiko atau terjadi
perdarahan pasca persalinan. (Depkes, 2002).

5. Mengapa bisa terjadi partus tak maju? Bagaimana kriteria partus tak maju?
Kala I : Dinamakan kala pembukaan, pada kala ini serviks membuka sampai terjadi pembukaan
10 cm. Proses membukanya serviks dibagi atas 2 fase :
a. Fase laten berlangsung selama 7-8 jam pembukaan terjadi sangat lambat sampai
mencapai ukuran diameter 3 cm.
b. Fase aktif dibagi dalam 3 fase yaitu fase akselerasi dalam waktu 2 jam, pembukaan 3 cm
tadi menjadi 4 cm dan fase dilatasi maximal dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung
sangat cepat dari 4 menjadi 9 cm dan fase deselerasi pembukaan menjadi lambat
kembali dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap 10 cm. Kala I ini
selesai apabila pembukaan serviks uteri telah lengkap. Pada primigravida kala I
berlangsung kira-kira 12 jam sedang pada multigravida 8 jam. Pembukaan primigravida
1 cm tiap jam dan multigravida 2 cm tiap jam.
SUMBER : UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

2.8. Partus Tak Maju
Partus tak maju yaitu persalinan yang ditandai tidak adanya pembukaan serviks dalam 2
jam dan tidak adanya penurunan janin dalam 1 jam.
Partus tak maju (persalinan macet) berarti meskipun kontraksi uterus kuat, janin tidak
dapat turun karena faktor mekanis. Kemacetan persalinan biasanya terjadi pada pintu atas
panggul, tetapi dapat juga terjadi pada ronga panggul atau pintu bawah panggul.
Partus tak maju yaitu suatu persalinan dengan his yang adekuat yang tidak menunjukan
kemajuan pada pembukaan serviks, turunnya kepala dan putar paksi selama 2 jam terakhir.

2.8.1. Penyebab Partus Tak Maju
Penyebab partus tak maju yaitu :
a. Disproporsi sefalopelvik (pelvis sempit atau janin besar)
Keadaan panggul merupakan faktor penting dalam kelangsungan persalinan, tetapi yang
penting ialah hubungan antara kepala janin dengan panggul ibu. Besarnya kepala janin dalam
perbandingan luasnya panggul ibu menentukan apakah ada disproporsi sefalopelvik atau tidak.
Disproporsi sefalopelvik adalah ketidakmampuan janin untuk melewati panggul. Panggul
yang sedikit sempit dapat diatasi dengan kontraksi uterus yang efisien, letak, presentasi,
kedudukan janin yang menguntungkan dan kemampuan kepala janin untuk mengadakan
molase. Sebaliknya kontraksi uterus yang jelek, kedudukan abnormal, ketidakmampuan kepala
untuk mengadakan molase dapat menyebabkan persalinan normal tidak mungkin.
Kehamilan pada ibu dengan tinggi badan < 145 cm dapat terjadi disproporsi sefalopelvik,
kondisi luas panggul ibu tidak sebanding dengan kepala bayi, sehingga pembukaannya berjalan
lambat dan akan menimbulkan komplikasi obstetri.
Disproporsi sefalopelvik terjadi jika kepala janin lebih besar dari pelvis, hal ini akan
menimbulkan kesulitan atau janin tidak mungkin melewati pelvis dengan selamat. Bisa juga
terjadi akibat pelvis sempit dengan ukuran kepala janin normal, atau pelvis normal dengan
janin besar atau kombinasi antara bayi besar dan pelvis sempit. Disproporsi sefalopelvik tidak
dapat didiagnosis sebelum usia kehamilan 37 minggu karena sebelum usia kehamilan tersebut
kepala belum mencapai ukuran lahir normal. Disproporsi sefalopelvik dapat terjadi :
i. Marginal (ini berarti bahwa masalah bisa diatasi selama persalinan, relaksasi sendi-sendi
pelvis dan molase kranium kepala janin dapat memungkinkan berlangsungnya kelahiran
pervaginam).
ii. Moderat (sekitar setengah dari pasien-pasien pada kelompok lanjutan ini memerlukan
kelahiran dengan tindakan operasi).
iii. Definit (ini berarti pelvis sempit, bentuk kepala abnormal atau janin mempunyai ukuran
besar yang abnormal, misalnya hidrosefalus, operasi diperlukan pada kelahiran ini).

b. Presentasi yang abnormal
Hal ini bisa terjadi pada dahi, bahu, muka dengan dagu posterior dan kepala yang sulit
lahir pada presentasi bokong.

b.1. Presentasi Dahi
Presentasi Dahi adalah keadaan dimana kepala janin ditengah antara fleksi maksimal
dan defleksi maksimal, sehingga dahi merupakan bagian terendah. Presentasi dahi terjadi
karena ketidakseimbangan kepala dengan panggul, saat persalinan kepala janin tidak dapat
turun ke dalam rongga panggul sehingga persalinan menjadi lambat dan sulit.
Presentasi dahi tidak dapat dilahirkan dengan kondisi normal kecuali bila bayi kecil atau
pelvis luas, persalinan dilakukan dengan tindakan caesarea. IR presentasi dahi 0,2% kelahiran
pervaginam, lebih sering pada primigravida.

b.2. Presentasi Bahu
Bahu merupakan bagian terbawah janin dan abdomen cenderung melebar dari satu sisi
kesisi yang lain sehingga tidak teraba bagian terbawah anak pada pintu atas panggul
menjelang persalinan. Bila pasien berada pada persalinan lanjut setelah ketuban pecah, bahu
dapat terjepit kuat di bagian atas pelvis dengan satu tangan atau lengan keluar dari vagina.
Presentasi bahu terjadi bila poros yang panjang dari janin tegak lurus atau pada sudut
akut panjangnya poros ibu, sebagaimana yang terjadi pada letak melintang. Presentasi bahu
disebabkan paritas tinggi dengan dinding abdomen dan otot uterus kendur, prematuritas,
obstruksi panggul.

b.3. Presentasi Muka
Pada presentasi muka, kepala mengalami hiperekstensi sehingga oksiput menempel
pada punggung janin dan dagu merupakan bagian terendah. Presentasi muka terjadi karena
ekstensi pada kepala, bila pelvis sempit atau janin sangat besar. Pada wanita multipara,
terjadinya presentasi muka karena abdomen yang menggantung yang menyebabkan punggung
janin menggantung ke depan atau ke lateral, seringkali mengarah kearah oksiput.Presentasi
muka tidak ada faktor penyebab yang dapat dikenal, mungkin terkait dengan paritas tinggi
tetapi 34% presentasi muka terjadi pada primigravida.
c. Abnormalitas pada janin
Hal ini sering terjadi bila ada kelainan pada janin misalnya : Hidrosefalus, pertumbuhan
janin lebih besar dari 4.000 gram, bahu yang lebar dan kembar siam.
d. Abnormalitas sistem reproduksi
Abnormalitas sistem reproduksi misalnya tumor pelvis, stenosis vagina kongenital,
perineum kaku dan tumor vagina.

2.9. Tanda Partus tak maju
Pada kasus persalinan macet/tidak maju akan ditemukan tanda-tanda kelelahan fisik
dan mental yang dapat diobservasi dengan :
a. Dehidrasi dan Ketoasidosis (ketonuria, nadi cepat, mulut kering)
b. Demam
c. Nyeri abdomen
d. Syok (nadi cepat, anuria, ekteremitas dingin, kulit pucat, tekanan darah rendah) syok dapat
disebabkan oleh ruptur uterus atau sepsis.

SUMBER : UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

6. Apa saja faktor yang mempengaruhi persalinan?
Ada beberapa faktor yang berperan dalam persalinan yaitu :
1. Tenaga atau Kekuatan (power) ; his (kontraksi uterus), kontraksi otot dinding perut, kontraksi
diafragma pelvis, ketegangan, kontraksi ligamentum rotundum, efektivitas kekuatan
mendorong dan lama persalinan.
2. Janin (passanger) ; letak janin, posisi janin, presentasi janin dan letak plasenta.
3. Jalan Lintas (passage) ; ukuran dan tipe panggul, kemampuan serviks untuk membuka,
kemampuan kanalis vaginalis dan introitus vagina untuk memanjang.
4. Kejiwaan (psyche) ; persiapan fisik untuk melahirkan, pengalaman persalinan, dukungan orang
terdekat dan intregitas emosional.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19884/4/Chapter%20II.pdf

APA SAJA YANG MEMPENGARUHI KONTRAKSI UTERUS?

Letak plasenta!!!
MACAM-MACAM MALPRESENTASI JANIN!


7. Mengapa dari riwayat persalinan didapatkan inpartu kala 1 fase laten selama 10 jam?
>8 jam artinya menunjukkan partus tak maju, kemungkinan karena beberapa factor:
Kontraksi uterus kurang adekuat, bayi yang besar, panggul ibu yang sempit, letak melintang si
janin.

8. Apa maksud dan interpretasi status internus normal, status obs kontraksi 1x/ 10 menit
selama 10 detik?q
HIS menunjukkan tidak adekuat.

9. Apa interpretasi dari Leopold bayi 1 intrauterine letak lintang dorsoinferior?
 Terdapat 1 janin dalam rahim
 Letak janin abnormal  karena teraba tahanan memanjang

10. Interpretasi dari DJJ 12-12-12?
NORMAL!

11. Adakah hubungan antara TBJ 4000 gram dengan status pasien?
Faktor pasenger terlalu besar sehingga mempengaruhi proses persalinan.

12. Apa interpretasi dari px VT: pembukaan 3 cm, eff 60%, bagian bawah teraba tahanan
memanjang, tak ada bagian menumbung?
a. Pembukaan 3 cm: serviks membuka selebar 3 cm
b. Eff 60%: penipisan serviks tidak sesuai dengan pembukaan. Seharusnya pada eff ini
sudah mencapai pembukaan 6 -7 cm
c. Tahanan memanjang: punggung
d. Tidak ada bagian menumbung: tidak ada bagian bulat (kepala)

13. Mengapa terjadi portio edem?


14. Promontorium teraba, line inominata teraba < 1/3 lingkaran, spina ischiadica menonjol?
Merupakan kriteria dari panggul sempit.

15. Apakah ada hubungan dengan BB ibu 55 kg, TB 145 cm dengan kondisi pasien?
TB badan ibu pendek merupakan factor resiko panggul sempit.

16. Apa saja pemeriksaan lab yang dilakukan oleh dokter?
UNTUK INDIKASI SC:
Pemeriksaan diagnostik pada SC adalah hitung darah lengkap, golongan darah (ABO) dan
mencocokkan silang tes coombs urinalis: menentukan kadar albumin/ glukosa, kultur:
mengidentifikasi adanya virus herves simpleks tipe II, pelvimetri menentukan CPD,
Amniosintesis: mengkaji matunitas paru janin, ultrasonografi, melokalisasi plasenta:
menentukan pertumbuhan kedudukan janin, tes stresskontraksi natau tes nonstress: mengkaji
respon janin terhadap gerakan/ stress dari pola kontraksi uterus/ pola abnormal, pemantauan
elektroniik kontinue memastikan status janin/ aktivitas uterus (1).

17. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dilakukan?
o USG

18. Kelainan apa saja yang mungkin terjadi pada kala 1?
Gangguan persalinan secara klinis dibagi menjadi :
Lebih lambat dari kemajuan persalinan yang normal (“protraction disorder”) dan atau
Terhentinya kemajuan persalinan (“arrest disorder”)
American College of Obstetricians and Gynecologist


19. Apa hubungan status ibu G1 P0 A0 dengan keluhan?

20. Apa yang dimaksud dengan partograf?
21. Apa saja yang dapat dicatat dalam partograf?
22. Apa fungsi dari partograf?
Partograf adalah lembaran observasi untuk memantau kemajuan persalinan. Tujuan utama dan
penggunaan partograf adalah :
1) Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks melalui
pemeriksaan dalam.
2) Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal. Dengan demikian juga dapat
melakukan deteksi secara dini setiap kemungkinan terjadinya partus lama.

Partograf harus digunakan :
1) Partograf akan membantu penolong persalinan dalam memantau, mengevaluasi dan membuat
keputusan klinik baik persalinan normal maupun yang disertai dengan penyulitan.
2) Selama persalinan dan kelahiran di semua tempat (rumah sakit, klinik bidan dan lain-lain).
3) Semua penolong persalinan yang memberikan asuhan kepada ibu selama persalinan dan
kelahiran dicatat secara rutin ke dalam partograf.

Semua asuhan, pengamatan dan pemeriksaan harus dicatat ke dalam partograf.
1) Denyut jantung janin : setiap ½ jam.
2) Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus : setiap ½ jam.
3) Nadi : setiap ½ jam.
4) Pembukaan serviks : setiap 4 jam.
5) Penurunan : setiap 4 jam.
6) Tekanan darah dan temperatur tubuh : setiap 4 jam.
7) Produksi urin, aseton dan protein : setiap 2 sampai 4 jam.
(Depkes RI, 2002).

23. Apa komplikasi yang mungkin terjadi pada janin, ibu, dan persalinan?
2.8.2. Komplikasi Persalinan yang Terjadi Pada Partus Tak Maju
a. Ketuban pecah dini
Apabila pada panggul sempit, pintu atas panggul tidak tertutup dengan sempurna oleh
janin ketuban bisa pecah pada pembukaan kecil. Bila kepala tertahan pada pintu atas panggul,
seluruh tenaga dari uterus diarahkan ke bagian membran yang menyentuh os internal,
akibatnya ketuban pecah dini lebih mudah terjadi.
b. Pembukaan serviks yang abnormal
Pembukaan serviks terjadi perlahan-lahan atau tidak sama sekali karena kepala janin
tidak dapat turun dan menekan serviks. Pada saat yang sama, dapat terjadi edema serviks
sehingga kala satu persalinan menjadi lama.
Namun demikian kala satu dapat juga normal atau singkat, jika kemacetan persalinan
terjadi hanya pada pintu bawah panggul. Dalam kasus ini hanya kala dua yang menjadi lama.
Persalinan yang lama menyebabkan ibu mengalami ketoasidosis dan dehidrasi.
Seksio caesarea perlu dilakukan jika serviks tidak berdilatasi. Sebaliknya, jika serviks
berdilatasi secara memuaskan, maka ini biasanya menunjukan bahwa kemacetan persalinan
telah teratasi dan kelahiran pervaginam mungkin bisa dilaksanakan (bila tidak ada kemacetan
pada pintu bawah panggul).
c. Bahaya ruptur uterus
Ruptur uterus, terjadinya disrupsi dinding uterus, merupakan salah satu dari
kedaruratan obstetrik yang berbahaya dan hasil akhir dari partus tak maju yang tidak dilakukan
intervensi. Ruptur uterus menyebabkan angka kematian ibu berkisar 3-15% dan angka
kematian bayi berkisar 50%.
Bila membran amnion pecah dan cairan amnion mengalir keluar, janin akan didorong ke
segmen bawah rahim melalui kontraksi. Jika kontraksi berlanjut, segmen bawah rahim akan
merengang sehingga menjadi berbahaya menipis dan mudah ruptur. Namun demikian
kelelahan uterus dapat terjadi sebelum segmen bawah rahim meregang, yang menyebabkan
kontraksi menjadi lemah atau berhenti sehingga ruptur uterusberkurang.
Ruptur uterus lebih sering terjadi pada multipara jarang terjadi, pada nulipara terutama
jika uterus melemah karena jaringan parut akibat riwayat seksio caesarea. Ruptur uterus
menyebabkan hemoragi dan syok, bila tidak dilakukan penanganan dapat berakibat fatal.
d. Fistula
Jika kepala janin terhambat cukup lama dalam pelvis maka sebagian kandung kemih,
serviks, vagina, rektum terperangkap diantara kepala janin dan tulang-tulang pelvis mendapat
tekanan yang berlebihan. Akibat kerusakan sirkulasi, oksigenisasi pada jaringan-jaringan ini
menjadi tidak adekuat sehingga terjadi nekrosis, yang dalam beberapa hari diikuti dengan
pembentukan fistula. Fistula dapat berubah vesiko-vaginal (diantara kandung kemih dan
vagina), vesiko-servikal (diantara kandung kemih dan serviks) atau rekto-vaginal (berada
diantara rektum dan vagina). Fistula umumnya terbentuk setelah kala II persalinan yang sangat
lama dan biasanya terjadi pada nulipara, terutama di negara-negara yang kehamilan para
wanitanya dimulai pada usia dini.
e. Sepsis puerferalis
Sepsis puerferalis adalah infeksi pada traktus genetalia yang dapat terjadi setiap saat
antara awitan pecah ketuban (ruptur membran) atau persalinan dan 42 hari setelah persalinan
atau abortus dimana terdapat gejala-gejala : nyeri pelvis, demam 38,5 c atau lebih yang diukur
melalui oral kapan saja cairan vagina yang abnormal, berbau busuk dan keterlambatan dalam
kecepatan penurunan ukuran uterus.
Infeksi merupakan bagian serius lain bagi ibu dan janinya pada kasus partus lama dan
partu tak maju terutama karena selaput ketuban pecah dini. Bahaya infeksi akan meningkat
karena pemeriksaan vagina yang berulang-ulang.

2.8.3. Pengaruh Partus tak maju Pada Bayi
a. Perubahan-perubahan tulang-tulang kranium dan kulit kepala
Akibat tekanan dari tulang-tulang pelvis, kaput suksedaneum (benjolan atau
pembengkakan KGB) yang besar atau pembengkakan kulit kepala sering kali terbentuk pada
bagian kepala yang paling dependen dan molase (tumpang tindih tulang-tulang kranium) pada
kranium janin mengakibatkan perubahan pada bentuk kepala. Selain itu dapat terjadi
sefalhematoma atau penggumpalan darah di bawah batas tulang kranium, terjadi setelah lahir
dan dapat membesar setelah lahir.
b. Kematian Janin
Jika partus tak maju dibiarkan berlangsung lebih dari 24 jam maka dapat mengakibatkan
kematian janin yang disebabkan oleh tekanan yang berlebihan pada plasenta dan korda
umbilikus. Janin yang mati, belum keluar dari rahim selama 4-5 minggu
mengakibatkanpembusukan sehingga dapat mencetuskan terjadinya koagulasi intravaskuler
diseminata (KID) keadaan ini dapat mengakibatkan hemoragi, syok dan kematian pada
maternal.
SUMBER : UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

24. Bagaimana penanganan yang tepat untuk pasien dengan kondisi tersebut?
PENANGANAN
Apabila pada pemeriksaan antenatal ditemukan letak lintang, sebaiknya diusahakan mengubah
menjadi presentasi kepala dengan versi luar. Meskipun versi luar berhasil janin akan dapat
memutar kembali oleh karena itu dianjurkan menggunakan korset dan dilakukan pemeriksaan
antenatal ulangan untuk menilai letak janin. Pada seorang primigravida bila versi luar tidak
berhasil sebaiknya segera dilakukan seksio sesaria. Sikap ini berdasarkan pertimbangan-
pertimbangan sebagai berikut :
1. Bahu tidak dapat melakukan dilatasi pada serviks dengan baik, sehingga seorang
primigravida kala I menjadi lama dan pembukaan serviks sukar menjadi lengkap.
2. Karena tidak ada bagian besar janin yang menahan tekanan intrauterin pada waktu his,
maka lebih sering terjadi pecah ketuban sebelum pembukaan serviks sempurna dan dapat
mengakibatkan terjadinya prolapsus funikuli.
3. Pada primigravida versi ekstraksi sukar dilakukan.
Pada keadaan hamil diusahakan jadi letak membujur dengan melakukan versi luar pada
primigravida yaitu pada usia kehamilan 34 minggu atau multigravida pada usia kehamilan 36
minggu.
Versi luar adalah upaya yang dilakukan dari luar untuk dapat mengubah kedudukan janin
menjadi kedudukan lebih menguntungkan dalam persalinan pervaginam. Berdasarkan
ketetapan tersebut dikenal bentuk versi luar :
1. Versi Sefalik : melakukan perubahan kedudukan janin menjadi letak kepala.
2. Versi podalik : perubahan kedudukan janin menjadi letak bokong (sungsang).
Kontraindikasi versi luar
Ketuban sudah pecah.
Penderita mempunyai hipertensi
Rahim pernah mengalami pembedahan : seksio sesaria, pengeluaran mioma uteri.
Penderita pernah mengalami perdarahan selama hamil.
Pernah mengalami tindakan operasi pervaginam.
Terdapat faktor resiko tinggi kehamilan: kasus infertilitas, sering mengalami keguguran,
persalinan prematuritas atau kelahiran mati, tinggi badan kurang dari 150 cm, mempunyai
deformitas pada tulang panggul/ belakang.
Pada kehamilan kembar.
Syarat versi luar dapat berhasil dengan baik :
Dilakukan pada usia kehamilan 34-36 minggu
Pada inpartu dilakukan sebelum pembukaan 4 cm.
Bagian terendah belum masuk atau masih dapat dikeluarkan dari PAP.
Bayi dapat dilahirkan pervaginam
Ketuban masih positif utuh.