Anda di halaman 1dari 34

Mari bergabung dengan komunitas Wikipedia bahasa Indonesia!

Paskah
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Artikel ini tentang hari raya Kristiani. Untuk Paskah Yahudi (Pesakh), lihat Paskah Yahudi
Untuk kegunaan lain dari Paskah, lihat Paskah (disambiguasi).
Paskah


Portal Kristen
Paskah (bahasa Latin: Páscha, bahasa Yunani: Πάσχα, Paskha; bahasa Aram: Pasḥa; dari bahasa Ibrani:
Pesaḥ
[1]
) adalah perayaan terpenting dalam tahun liturgi gerejawi Kristen. Bagi umat Kristen, Paskah
identik dengan Yesus, yang oleh Paulus disebut sebagai "anak domba Paskah"; jemaat Kristen hingga saat ini
percaya bahwa Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan
[a]
, dan pada hari yang ketiga
[b]
bangkit dari antara orang
mati. Paskah merayakan hari kebangkitan tersebut dan merupakan perayaan yang terpenting karena
memperingati peristiwa yang paling sakral dalam hidup Yesus, seperti yang tercatat di dalam keempat Injil di
Perjanjian Baru. Perayaan ini juga dinamakan Minggu Paskah, Hari Kebangkitan, atau Minggu
Kebangkitan.
Paskah juga merujuk pada masa di dalam kalender gereja yang disebut masa Paskah, yaitu masa yang dirayakan
dulu selama empat puluh hari sejak Minggu Paskah (puncak dari Pekan Suci) hingga hari Kenaikan Yesus
namun sekarang masa tersebut diperpanjang hingga lima puluh hari, yaitu sampai dengan hari Pentakosta (yang
artinya "hari kelima puluh" - hari ke-50 setelah Paskah, terjadi peristiwa turunnya Roh Kudus). Minggu pertama
di dalam masa Paskah dinamakan Oktaf Paskah oleh Gereja Katolik Roma. Hari Paskah juga mengakhiri
perayaan Pra-Paskah yang dimulai sejak empat puluh hari sebelum Kamis Putih, yaitu masa-masa berdoa,
penyesalan, dan persiapan berkabung.
Paskah merupakan salah satu hari raya yang berubah-ubah tanggalnya (dalam kekristenan disebut dengan
perayaan yang berpindah
[2]
) karena disesuaikan dengan hari tertentu (dalam hal ini hari Minggu), bukan tanggal
tertentu di dalam kalender sipil. Hari raya-hari raya Kristen lainnya tanggalnya disesuaikan dengan hari Paskah
tersebut dengan menggunakan sebuah formula kompleks. Paskah biasanya dirayakan antara akhir bulan Maret
hingga akhir bulan April (kekristenan ritus Barat) atau awal bulan April hingga awal bulan Mei (kekristenan
ritus Timur) setiap tahunnya, tergantung kepada siklus bulan. Setelah ratusan tahun gereja-gereja tidak
mencapai suatu kesepakatan, saat ini semua gereja telah menerima perhitungan Gereja Aleksandria (sekarang
disebut Gereja Koptik) yang menentukan bahwa hari Paskah jatuh pada hari Minggu pertama setelah Bulan
Purnama Paskah, yaitu bulan purnama pertama yang hari keempat belasnya ("bulan purnama" gerejawi) jatuh
pada atau setelah 21 Maret (titik Musim Semi Matahari/vernal equinox gerejawi)
Minggu Paskah bukan perayaan yang sama (namun masih berhubungan) dengan Paskah Yahudi (bahasa Ibrani:
פ atau Pesakh
[1]
)
[3][c]
dalam hal simbolisme dan juga penanggalannya. Bahasa Indonesia tidak memiliki istilah
yang berbeda untuk Paskah Pesakh (Yahudi) dan Paskah Paskha (Kristen) sebagaimana beberapa bahasa Eropa
yang mempunyai dua istilah yang berbeda, oleh sebab itu kata Paskah dapat memiliki dua arti yang berbeda di
dalam bahasa Indonesia.
Banyak elemen budaya, termasuk kelinci Paskah, telur Paskah, dan mengirim kartu Paskah telah menjadi
bagian dari perayaan Paskah modern, dan elemen-elemen tersebut biasa dirayakan oleh umat Kristen maupun
non-Kristen.
Paskah dalam kekristenan
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kebangkitan Yesus
Bagian dari seri tentang
Kekristenan



"The Resurrection", Johann Heinrich Tischbein, 1778.
Paskah merupakan perayaan tertua di dalam gereja Kristen, penghubung antara Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru. Paus Leo Agung (440-461) menekankan pentingnya Paskah dan menyebutnya festum festorum - perayaan
dari semua perayaan, dan berkata bahwa Natal hanya dirayakan untuk mempersiapkan perayaan Paskah.
Menurut tradisi Sinoptik
[4]
, Paskah menunjuk pada Perjamuan Kudus, yang didasari dari Perjamuan Malam,
perjamuan perpisahan antara Yesus dan murid-murid Yesus
[3][5]
. Pada malam itu sebelum Yesus dihukum mati,
Yesus memberikan makna baru bagi Paskah Yahudi. Roti
[d]
dilambangkan sebagai tubuh Yesus dan anggur
dilambangkan sebagai darah Yesus, yaitu perlambangan diri Yesus sebagai korban Paskah
[6]
. Rasul Yohanes
dan Pauluslah yang mengaitkan kematian Yesus sebagai penggenapan Paskah Perjanjian Lama (Yesus wafat
pada saat domba-domba Paskah Yahudi dikorbankan di kenisah atau Bait Allah)
[7]
. Kematian dan kebangkitan
Yesus inilah yang kemudian diasosiasikan dengan istilah Paskah dalam kekristenan.
Karena Paskah dirayakan oleh gereja-gereja Kristen dengan suatu sakramen Ekaristi/Perjamuan Kudus, maka
sakramen tersebut dapat pula disebut sebagai Perjamuan Paskah Kristen
[1]
, atau Perjamuan Kudus Jumat
Agung
[3]
, yang berbeda dari Perjamuan Paskah Yahudi. Banyak gereja Kristen saat ini merayakan perjamuan
tersebut lebih dari setahun sekali agar jemaat gereja selalu diingatkan akan peristiwa Paskah.
[3]

Di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kata Paskah disebutkan sebanyak 80 kali dalam 72 ayat
[8]

sementara di dalam terjemahan BIS disebutkan sebanyak 86 kali dalam 77 ayat
[9][10]
.
Paskah pada gereja mula-mula


Sebuah fresko (gambar dinding) yang menggambarkan kisah kebangkitan; karya Fra Angelico, di Florence,
Italia.
Gereja mula-mula memperingati peristiwa kebangkitan Yesus dengan perjamuan sederhana dan berdoa
[e]
.
Kemudian dalam perjalanan misinya, Paulus terus mengingatkan jemaat gereja mula-mula akan pentingnya
peristiwa kebangkitan Yesus
[f]
dan perkataan Yesus pada waktu Perjamuan Malam Terakhir
[11]
. Sumber yang
paling awal yang menulis tentang Paskah adalah Melito dari Sardis yang menulis homili berjudul Peri Pascha
(Tentang Paskah)
[12]
. Orang-orang Kristen pada zaman tersebut menapak tilas jalan salib (Via Dolorosa) yang
dilalui oleh Tuhan Yesus. Kematiannya diperingati sebagai korban keselamatan dalam tradisi Yahudi (bahasa
Ibrani: Zerah Syelamin)
[13]
.
Orang Kristen Yahudi terus merayakan Paskah Yahudi, namun mereka tidak lagi mengorbankan domba Paskah
karena Kristus dianggap sebagai korban Paskah yang sejati. Perayaan ini diawali dengan berpuasa hingga Jumat
jam 3 sore (ada yang melanjutkan hingga pagi Paskah). Perbedaan timbul di seputar tanggal Paskah. Orang
Kristen Yahudi dan jemaat provinsi Asia merayakannya pada hari yang bersamaan dengan Paskah Yahudi,
yaitu sehari setelah tanggal 14 Nisan (bulan pertama) menurut kalender mereka - kematian Yesus pada 15 Nisan
dan kebangkitan Yesus pada 17 Nisan - tanpa mempedulikan harinya
[14]
; namun orang Kristen non-Yahudi yang
tinggal di Kekaisaran Romawi dan juga gereja di Roma dan Aleksandria merayakannya pada hari pertama, yaitu
hari Minggu - hari kebangkitan Yesus, tanpa mempedulikan tanggalnya
[g]
. Metode yang kedua inilah yang
akhirnya lebih banyak digunakan di gereja
[h][15]
, dan penganut metode yang pertama perlahan-lahan mulai
tergusur. Uskup Viktor dari Roma pada akhir abad ke-2 menyatakan perayaan menurut tanggal 14 Nisan adalah
bidat dan mengucilkan semua pengikutnya
[16][17]
. Beberapa metode penghitungan yang lain di antaranya oleh
beberapa uskup di Galia yang menghitung Paskah berdasarkan tanggal tertentu sesuai kalender Romawi, yaitu
25 Maret memperingati kematian Yesus dan 27 Maret memperingati kematian Yesus
[18]
karena sejak abad ke-3
tanggal 25 Maret dianggap sebagai tanggal penyaliban
[19]
. Namun metode yang terakhir ini tidak digunakan
lama. Banyak kalender di Abad Pertengahan yang mencatat tanggal perayaan ini (25 dan 27 Maret) untuk
alasan historis, bukan liturgis
[20]
. Kaum Montanis di Asia Minor merayakan Paskah pada hari Minggu pertama
setelah 6 April
[21]
. Berbagai variasi perhitungan tanggal Paskah tersebut terus berlangsung hingga abad ke-4.
Perselisihan seputar penghitungan hari Minggu Paskah yang tepat tersebut akhirnya dibahas secara resmi pada
Konsili Nicea I pada tahun 325 yang memutuskan bahwa hari Paskah adalah hari Minggu, namun tidak
mematok hari Minggu tertentu. Kelompok yang merayakan Paskah dengan perhitungan Yahudi dinamakan
"Quartodeciman" (bahasa Latin untuk 14) (Nisan) dan dikucilkan dari gereja
[i]
. Uskup Aleksandria kemudian
ditugaskan untuk mencari cara menghitung tanggal Paskah, karena kota itu dianggap sebagai otoritas tertinggi
untuk hal-hal yang berhubungan dengan astronomi, dan sang uskup diharapkan dapat memutuskan hasilnya
untuk diikuti keuskupan-keuskupan yang lain. Namun hasil yang diperoleh tidak memuaskan, terutama untuk
gereja-gereja Latin. Banyak gereja masih memakai cara mereka sendiri-sendiri, termasuk gereja di Roma.
Akhirnya baru pada abad ke-7 gereja-gereja berhasil mencapai kesepakatan mengenai perhitungan tanggal
Minggu Paskah
[17]
. (lebih lanjut lihat #Tanggal Paskah)
Paskah menurut kalender liturgi
Pada kekristenan ritus Latin (Barat), Paskah menandai berakhirnya masa Pra-Paskah, yaitu 40 hari (tidak
termasuk hari Minggu) menjelang Minggu Paskah. Sepekan sebelum Minggu Paskah disebut sebagai Pekan
Suci. Hari Minggu sebelum Minggu Paskah, yaitu hari pertama Pekan Suci, adalah hari Minggu Palem yang
memperingati masuknya Yesus ke kota Yerusalem menaiki seekor keledai. Tiga hari terakhir sebelum Minggu
Paskah disebut sebagai Kamis Putih atau Kamis Suci, Jumat Agung, dan Sabtu Suci atau Sabtu Sunyi, yang
ketiganya sering disebut sebagai Trihari Suci atau Triduum Paskah; Kamis Putih memperingati Perjamuan
Malam terakhir Yesus, Jumat Agung memperingati kematian Yesus, dan Sabtu Suci memperingati hari pada
saat Yesus di dalam kuburan.
Banyak gereja yang mulai merayakan Paskah semalam sebelumnya, yaitu dengan kebaktian Malam Paskah.
Pada beberapa negara, Minggu Paskah dirayakan selama dua hari hingga Senin Paskah, dan hari-hari dalam
sepekan setelah Minggu Paskah, yang disebut dengan Pekan Paskah, masing-masing diberi akhiran Paskah,
seperti "Selasa Paskah", "Rabu Paskah", hingga Oktaf Paskah, yaitu hari Minggu setelah Minggu Paskah. 40
hari (yang kemudian diperpanjang menjadi 50 hari atau 7 minggu) setelah Paskah biasa disebut dengan masa
Paskah yang diakhiri dengan hari Pentakosta (hari ke-50).
Pada kekristenan ritus Oriental (Timur), masa persiapan Paskah dikenal dengan nama masa Puasa Besar dan
dimulai sejak Senin Bersih selama 40 hari (termasuk hari Minggu). Pekan terakhir dalam masa persiapan itu
disebut dengan Pekan Palma, yang berakhir dengan hari Sabtu Lazarus. Sehari setelah itu adalah Minggu
Palma, Pekan Suci, lalu Minggu Paskah. Pada Sabtu tengah malam menjelang Minggu Paskah perayaan Paskah
resmi dimulai, yang terdiri atas Matins, Jam-jam Paskah, dan Liturgi Surgawi Paskah; dengan demikian liturgi
tersebut dijamin merupakan liturgi pertama Minggu Paskah, sesuai gelarnya sebagai festum festorum - perayaan
dari semua perayaan. Pekan setelah Minggu Paskah disebut sebagai Pekan Terang, sedangkan masa setelah
Minggu Paskah hingga Minggu Para Orang Kudus (hari Minggu setelah Pentakosta) disebut sebagai
Pentakostarion.
Paskah pada gereja modern
Di dalam gereja-gereja Kristen, terutama ritus Latin, perayaan dimulai pada hari Jumat Agung. Gereja-gereja
biasanya menyelenggarakan kebaktian pada hari tersebut, umat Katolik Roma biasanya juga berpuasa pada hari
ini. Kebaktiannya diliputi dengan perasaan duka karena memperingati sengsara penderitaan dan kematian Yesus
di kayu salib. Gereja-gereja Protestan biasanya melanjutkan kebaktian dengan sakramen Perjamuan Paskah
untuk memperingati Perjamuan Malam Terakhir Yesus; lagu-lagu sendu seperti "Jangan Lupa Getsemani"
[22]

juga dinyanyikan. Sang pastor atau pendeta kadang-kadang memberikan kotbah singkat. Gereja-gereja Katolik
Roma biasanya tidak melakukan sakramen Perjamuan Kudus pada hari ini, sakramen pengakuan dosa dan
pengurapan orang sakit. (lebih lengkapnya lihat Jumat Agung)
Pada hari Sabtunya gereja-gereja Katolik dan beberapa gereja Anglikan dan Lutheran juga menyelenggarakan
kebaktian malam Paskah. Dalam kebaktian itu sebuah lilin Paskah dinyalakan untuk melambangkan Kristus
yang bangkit; Exultet atau proklamasi Paskah dinyanyikan; ayat-ayat Alkitab dari Perjanjian Lama yang
menceritakan keluarnya bangsa Israel dari Mesir dan nubuatan tentang Mesias dibacakan. Bagian kebaktian ini
mencapai puncaknya dengan menyanyikan Gloria dan Alleluia, dan Injil tentang kisah kebangkitan dibacakan.
Sama seperti kebaktian Jumat Agung, sang pastor atau pendeta kadang-kadang juga menyampaikan kotbah
sesudah pembacaan Alkitab. Bagi gereja Katolik Roma, malam ini biasanya juga digunakan untuk sakramen
baptisan kudus, malam penerimaan anggota jemaat gereja yang baru. Untuk anggota jemaat yang lain, mereka
juga menerima percikan air suci sebagai lambang perbaruan iman kepercayaan mereka. Kebaktian pada gereja-
gereja Katolik Roma kemudian dilanjutkan dengan sakramen Konfirmasi. Kebaktian kemudian diakhiri dengan
sakramen Ekaristi. Kebaktian malam Paskah ini memiliki bermacam-macam variasi. Beberapa gereja
mengadakannya pada


"Auferstehung", Hermann Stenner, 1914
Umat Protestan biasanya menggabungkan kebaktian malam Paskah dengan kebaktian Minggu pagi, yaitu
mengikuti kisah di Injil yang menceritakan para wanita yang datang ke kubur Yesus pada pagi-pagi benar pada
hari pertama minggu itu
[23]
. Ada gereja yang menyelenggarakannya pada sekitar subuh (kebaktian subuh), dan
biasanya dilangsungkan di luar ruangan seperti halaman gereja atau taman di dekat gereja, namun banyak pula
yang merayakannya setelah matahari terbit. Kebaktian Minggu untuk memperingati kebangkitan Yesus ini (baik
bersama-sama atau berbeda dari kebaktian subuh tersebut) dirayakan dengan sikap penuh sukacita, termasuk
lagu-lagu yang dinyanyikan juga lagu yang bernuansa kemenangan
[24]
. Gereja-gereja yang cukup besar ada
yang menggunakan instrumen-instrumen tiup (trompet, dll) untuk melengkapi instrumen-instrumen yang biasa
digunakan. Kebanyakan gereja juga mendekorasi ruang ibadah dengan hiasan-hiasan dan bunga-bungaan
(contohnya Bakung Paskah)
Etimologi


Sebuah ikon Rusia yang menggambarkan kebangkitan Yesus
Istilah Paskah dalam bahasa-bahasa Latin biasanya diturunkan dari salah satu dari dua sumber: Paskha atau
Pesakh dan Estre/Eostre atau Easter
[25]
. Dalam bahasa-bahasa Slavia, biasanya istilah yang digunakan memiliki
arti "Hari Agung".
Bahasa-bahasa Semitik, Roman, Keltik, Jermanik, dan Indonesia
Istilah Yunani untuk Paskah, paskha/pascha, tidak ada hubungannya dengan kata kerja paschein, "menderita",
meskipun para penulis simbolis sering menghubungkan keduanya; kata tersebut berasal dari bentuk bahasa
Aram untuk kata dalam bahasa Ibrani pesach. Orang Yunani menyebut Paskah pascha anastasimon; Jumat
Agung pascha staurosimon. Kata setara yang digunakan di dalam bahasa Latin adalah Pascha resurrectionis
dan Pascha crucifixionis. Di dalam buku liturgi Katolik Romawi perayaannya diberi nama Dominica
Resurrectionis; di buku liturgi Mozarabik In Lætatione Diei Pasch Resurrectionis; di buku liturgi Ambrosius In
Die Sancto Paschæ.. Bahasa-bahasa Romans telah mengambil istilah Ibrani-Yunani tersebut: Latin, Pascha;
Italia, Pasqua; Spanyol, Pascua; Perancis, Pâques. Beberapa negara-negara Keltik dan Teutonik juga
menggunakannya: Skotlandia, Pask; Belanda, Paschen (kata dalam bahasa Belanda yang betul sebenarnya
adalah Pasen); Denmark dan Norwegia, Påske; Swedia: Påsk (Huruf å merupakan huruf 'a' berganda dan dieja
/o/, ejaan alternatifnya adalah Paaske atau Paask.); Islandia: Páskar; Faroe: Páskir; bahkan di beberapa provinsi
Jerman di Rhein Hulu menggunakan istilah Paisken, bukan Ostern. Istilah tersebut, terutama di Spanyol dan
Italia, mengalami perluasan makna dan memiliki makna tambahan "keheningan" dan digunakan untuk
perayaan-perayaan lainnya, Pascua florida (Minggu Palem); Pascua de Pentecostes (Pentakosta); Pascua de la
Natividad (Natal); Pascua de Epifania (Epifani) di Spanyol; Pasko (Natal); Pasko ng Pagkabuhay (Paskah
Kebangkitan) di Filipina. Di beberapa wilayah di Perancis kebaktian Komuni Pertama juga disebut dengan
Pâques, tidak peduli kapan dilangsungkannya.
[17]

Orang-orang Kristen berbahasa Arab atau bahasa Semitik lainnya kebanyakan menggunakan istilah Pesaḥ.
Istilah bahasa Arab untuk perayaan ini: حصف لا دي ع ʿĪd al-Fiṣḥ, [ʕiːd ælfisˤħ] memiliki akar kata F-Ṣ-Ḥ, yang
masih kognasi dengan Ibrani P-S-Ḥ. Bahasa Arab juga menggunakan istilah ةماي ق لا دي ع ʿĪd al-Qiyāmah, [ʕiːd
ælqiyæːmæh], yang berarti "perayaan kebangkitan", walaupun istilah ini lebih jarang digunakan.
Bahasa Indonesia menggunakan istilah Paskah. Demikian juga bahasa Melayu, bahasa Jawa, dan bahasa-bahasa
Nusantara lainnya.
Bahasa-bahasa Anglo-Saxon
Dalam bahasa Inggris, istilah Easter (Paskah) menurut Bede berasal dari bahasa Saxon, yaitu kata Ēastre atau
Ēostre (Templat:IPA-ang) yang masih berhubungan dengan Estre, seorang dewi bangsa Teutonik, dewi cahaya
fajar dan musim semi, yang perayaannya berdekatan dengan perayaan Paskah, yang sudah tidak dikenal lagi
pada zaman Bede, bahkan di "Edda"
[26]
; bahasa Anglo-Saxon, termasuk Inggris: eâster, eâstron
[27][28]
; Jerman
Kuna: ôstra, ôstrara, ôstrarûn; Jerman: Ostern. April disebut easter-monadh. Bentuk plural eâstron digunakan,
karena perayaannya berlangsung selama tujuh hari. Seperti bentuk plural dalam bahasa Perancis Pâques, istilah
tersebut diterjemahkan dari bahasa Latin Festa Paschalia, seluruh Oktaf Paskah.
[17]

Bahasa-bahasa Slavia
Di dalam bahasa-bahasa Slavia istilah yang digunakan biasanya berarti "Hari Agung" atau "Malam Agung".
Polandia dan Ceko, Wielkanoc dan Velikonoce yang berarti "Malam(-malam) Agung"; Ukrainia, Великдень
(Velykden); Bulgaria, Великден (Velikden); Belarusia, Вялікдзень (Vyalikdzyen) yang berarti "Hari Agung".
Serbia, Bosnia, dan Kroasia menggunakan istilah Uskrs yang berarti "Kebangkitan". (Tiga istilah yang
digunakan dalam aksara Sirilik dan Latin: Ускрс->Uskrs, Васкрс->Vaskrs, Вeликден->Velikden)
Rusia adalah perkecualian; ia menggunakan istilah Пасха (Paskha) yang meminjam dari bentuk Yunani melalui
bahasa Gereja Slavonia Lama
[29]
.
Paskah dalam berbagai bahasa

Tanggal Paskah
Paskah (dan perayaan lain yang berhubungan) yang merupakan hari terpenting dalam kalender gerejawi disebut
sebagai perayaan yang berpindah, yang berarti perayaannya tidak terpaku pada tanggal tertentu di dalam
kalender Gregorian maupun Julian (yang sama-sama mengikuti perputaran matahari dan keempat musim)
melainkan dihitung menurut kalender suryacandra seperti kalender Ibrani. Hal inilah yang mendasari ilmuwan-
ilmuwan mempelajari astronomi secara sistematis.
[30]

Di dalam kalender Gregorian, Paskah selalu jatuh pada hari Minggu antara 22 Maret dan 25 April
(inklusif).
[30][31]
Hari berikutnya, Senin Paskah, merupakan hari libur di banyak negara dengan tradisi Kristen
yang kuat. Untuk negara-negara yang mengikuti kalender Julian untuk perayaan-perayaan keagamaan, Paskah
juga jatuh pada hari Minggu antara 22 Maret (KJ) dan 25 April (KJ), yang dalam kalender Gregorian adalah 4
April-8 Mei (inklusif).
Tanggal Paskah yang tepat pernah menjadi pokok perdebatan. Di dalam Konsili Nicaea I pada 325 diputuskan
bahwa seluruh umat Kristen akan merayakan Paskah pada hari yang sama, yang akan dihitung secara berbeda
dari perhitungan umat Yahudi untuk menentukan tanggal Paskah Yahudi. Karena tidak adanya catatan
keputusan konsili yang selamat hingga zaman modern, ada kemungkinan bahwa konsili tersebut tidak
memutuskan cara tertentu untuk menghitung tanggal Paskah. Epifanius dari Salamis menulis pada pertengahan
abad ke-4:
...kaisar...menghimpun dewan dengan 318 uskup...di kota Nicea...Dalam konsili tersebut mereka juga
menyetujui suatu kanon gerejawi, dan pada saat yang bersamaan menitahkan berkenaan dengan Paskah
(Yahudi) bahwa diperlukan adanya satu permufakatan tentang perayaan hari Tuhan yang suci dan
teramat penting tersebut. Karena hal tersebut diperingati secara berbeda-beda oleh orang-orang...
[32]

Pada tahun berikutnya, cara perhitungan yang dikerjakan oleh gereja Aleksandria menjadi standar perhitungan.
Secara perlahan sistem tersebut mulai tersebar ke gereja-gereja Kristen di Eropa. Gereja Roma meneruskan
penggunaan siklus kalender suryacandra yang berusia 84 tahun sejak akhir abad ke-3 hingga 457. Gereja Roma
terus menggunakan caranya sendiri hingga abad ke-6 saat metode Aleksandria telah dikonversikan ke kalender
Julian oleh Dionysius Exiguus. Gereja mula-mula di Britania dan Irlandia juga menggunakan metode Roma
yang lama tersebut hingga Sinode Whitby tahun 664 saat mereka mulai menggunakan metode Aleksandria.
Gereja-gereja di belahan barat Eropa menggunakan metode Roma hingga akhir abad ke-8 pada masa
pemerintahan Karel yang Agung, lalu mereka menggunakan metode Aleksandria. Namun demikian, sejak
Gereja Katolik mulai menggunakan kalender Gregorian menggantikan kalender Julian sejak 1582 dan Gereja
Ortodoks Timur tetap berpegang pada kalender Julian, maka perayaan Paskah kembali dirayakan secara
berbeda, dan perbedaan itu tetap ada hingga saat ini.
Perhitungan
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Computus
Metode penghitungan computus paschalis sejak dulu dianggap sangat penting bahkan Durandus mengatakan
bahwa seorang pastor tidak layak disebut pastor jika tidak tahu (cara menghitung) computus paschalis.
[33]

Perhitungan dasar yang berlaku sejak Zaman Pertengahan adalah Paskah dirayakan pada hari Minggu setelah
bulan purnama pertama setelah hari pertama musim semi (vernal equinox). Kalimat tersebut sebenarnya tidak
tepat benar dengan sistem perhitungan gerejawi.
Dalam perhitungan gerejawi, gereja-gereja Kristen menggunakan 21 Maret sebagai awal tanggal perhitungan
Paskah, dari sana dicari kapan bulan purnama berikutnya, dst. Bagi gereja-gereja Ortodoks yang masih
menggunakan kalender Julian, tanggal yang digunakan juga 21 Maret, namun dalam kalender Julian, sebagai
akibatnya terdapat perbedaan-perbedaan seperti yang tampak pada bagan di kanan.
Perhitungan yang kompleks tersebut kira-kira dapat disederhanakan sebagai berikut:
Paskah ditentukan berdasarkan siklus suryacandra. Satu bulan dalam penanggalan candra (bulan) terdiri dari
bulan-bulan sepanjang 30 hari dan 29 hari, berselang-seling, dengan satu bulan tambahan yang ditambahkan
secara berkala agar pas dengan penanggalan surya (matahari). Dalam setiap tahun surya (1 Januari hingga 31
Desember), bulan candra dimulai dengan sebuah purnama gerejawi yang jatuh pada periode 29 hari di antara 8
Maret hingga 5 April (inklusif) dan dinamakan "bulan candra Paskah" tahun tersebut. Paskah adalah hari
Minggu ke-3 dalam bulan candra Paskah, atau dengan kata lain hari Minggu setelah hari ke-14 bulan candra
Paskah. Hari ke-14 itu sendiri dinamakan purnama Paskah, walaupun hari ke-14 pada bulan candra dapat
berbeda dengan purnama astronomis hingga 2 hari lamanya.
[j]
Karena purnama gerejawi jatuh pada tanggal 8
Maret hingga 5 April (>8 Maret & <=5 April), purnama Paskah atau hari ke-14-nya pasti jatuh pada tanggal 21
Maret hingga 18 April (>21 Maret & <=18 April).


Persentase distribusi tanggal Paskah (Siklus 5.700.000 tahun)
Dengan demikian Paskah menurut kalender Gregorian akan memiliki 35 kemungkinan hari - antara 22 Maret
hingga 25 April (inklusif)
[k]
. Terakhir kali Paskah jatuh pada tanggal 22 Maret adalah pada tahun 1818 dan
berikutnya adalah tahun 2285. Terakhir kali Paskah jatuh pada tanggal 25 April adalah pada 1943 dan
berikutnya adalah tahun 2038. Siklus perputaran tangan-tanggal Paskah berulang tepat setiap 5.700.000 tahun;
19 April merupakan tanggal Paskah yang tersering, yang terjadi 220.400 kali, atau 3.9%, dibanding dengan
median tanggal-tanggal lainnya sebanyak 189.525 kali atau 3.3%. Paskah menurut kalender Julian seringkali
(sekitar 50%) dirayakan 1 minggu setelah kalender Gregorian, karena tidak adanya penyesuaian perhitungan
tanggal seperti yang dilakukan di kalender Gregorian. Namun tidak jarang pula selisih waktunya hingga 3-4
minggu.
Untuk menghindari perbedaan cara perhintungan Paskah, gereja Katolik telah membuat tabel tanggal Paskah
menurut aturan di atas. Seluruh gereja yang merayakan Paskah merayakannya sesuai dengan tanggal di tabel.
Beberapa algoritma yang digunakan untuk menghitung Paskah antara lain perhitungan Gregorian, algoritma
Gauss, algoritma Gregorian anonim, dan algoritma Julian Meeus.
Hubungan dengan penanggalan Paskah Yahudi
Paskah Yahudi juga menggunakan kalender suryacandra untuk menghitung tanggal perayaan. Minggu Paskah
biasanya jatuh sekitar seminggu setelah hari pertama Paskah Yahudi (tanggal 15 Nisan pada penanggalan
Yahudi). Namun karena perbedaan sistem penghitungan tanggal suryacandra antara kalender Yahudi dan
Gregorian
[l]
, dalam siklus 19 tahun Paskah Yahudi jatuhnya satu bulan setelah hari Minggu Paskah, yaitu tahun
ke-3, 11, dan 14 dalam siklus 19 tahun kalender Gregorian (atau tahun ke 19, 8, dan 11 berturut-turut pada
siklus 19 tahun kalender
Karena dalam kalender Yahudi modern tanggal 15 Nisan tidak pernah jatuh pada hari Senin, Rabu, atau Jumat,
seder tanggal 15 Nisan tidak pernah jatuh pada malam Kamis Putih. Seder kedua, yang diperingati oleh
sebagian komunitas Yahudi sebagai malam Paskah (Yahudi) kedua, dapat jatuh pada Kamis malam.
Reformasi penanggalan Paskah
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Reformasi penanggalan Paskah
Dalam sebuah kongres Pan-Ortodoks tahun 1923, uskup-uskup Gereja Ortodoks Timur bertemu di
Konstantinopel di bawah kepemimpinan Patriark Meletios IV. Di dalam kongres tersebut para uskup
menyetujui Perubahan kalender Julian. Aslinya, kalender ini akan dapat menentukan tanggal Paskah
berdasarkan perhitungan astronomis yang berlandaskan meridian Yerusalem.
[34][35]
Namun negara-negara yang
menggunakan revisi tersebut hanya menggunakan revisi-revisi hari-hari raya yang memiliki tanggal tetap pada
kalender Julian, revisi rumus perhitungan tanggal Paskah tidak pernah diterapkan di keuskupan Ortodoks
manapun.
Pada pertemuan puncak Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD) di Aleppo, Suriah pada 1997, DGD
mengusulkan reformasi penghitungan Paskah yang akan mempersatukan kembali kedua sistem yang ada
(Barat/Gregorian dan Timur/Julian) dengan pengetahuan ilmu astronomis modern yang menghitung equinox
musim semi astronomis dan bulan purnama di meridian Yerusalem, dan juga mengikuti Konsili Nicea I tentang
penanggalan Paskah pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama.
[36]
DGD melampirkan tabel di samping.
Perubahan yang diusulkan DGD ini akan menyelesaikan masalah penanggalan dan menghilangkan perbedaan di
antara gereja-gereja (ritus) Timur dan Barat. Reformasi ini diusulkan mulai digunakan sejak 2001, namun
hingga kini hal tersebut belum digunakan oleh anggota manapun.
Perayaan Paskah
Tradisi Paskah Kristen
Anak Domba
Di antara simbol-simbol Paskah Kristiani yang populer, anak domba adalah yang paling penting dalam
perayaan agung ini. Yesus Kristus sebagai "Anak Domba Paskah", sebagaimana yang diungkapkan Paulus
dalam 1 Korintus 5:7, dengan bendera kemenangan, dapat dilihat dalam lukisan-lukisan yang dipasang di
rumah-rumah keluarga Eropa.
Doa paling kuno untuk pemberkatan anak domba ditemukan dalam buku ritual abad ketujuh biara Benediktin di
Bobbio, Italia. Dua ratus tahun kemudian Roma mempergunakannya dan sesudah itu, selama berabad-abad
kemudian, menu utama santap malam Paus pada Hari Raya Paskah adalah anak domba panggang. Setelah abad
kesepuluh, sebagai ganti anak domba utuh, disajikan potongan-potongan daging yang lebih kecil.
Tradiri kuno anak domba Paskah juga mengilhami umat Kristiani untuk menyajikan daging anak domba sebagai
hidangan populer pada masa Paskah. Hingga sekarang, daging anak domba disajikan sebagai menu utama
Minggu Paskah di berbagai daerah di Eropa timur. Tetapi, seringkali bentuk-bentuk anak domba kecil terbuat
dari mentega, roti atau pun gula-gula menggantikan sajian daging anak domba, dan menjadi hidangan utama
jamuan Paskah.
Tuguran
Tuguran adalah tradisi penting dalam Gereja Katolik Roma, yang mencakup puasa sampai 40 jam mulai Jumat
pagi sebelum Paskah. Hari Sabtu tengah malam mereka berbuka puasa, dengan menyanyikan kidung rohani,
membaca kitab suci dan melakukan ritual dengan roti dan anggur. Misa fajar pada Minggu Paskah merupakan
salah satu bentuk tuguran.
Acara musik Paskah
Di kota Winston-Salem, negara bagian North Carolina, AS terdapat sebuah jemaat Gereja Persaudaraan
Moravia yang memiliki tradisi Paskah tahunan. Mulai hari Minggu pukul dua dini hari, para anggota gereja
Moravia kota tersebut datang ke sebuah kuburan bersejarah bernama God's Acre untuk menyambut kebangkitan
Yesus diiringi dengan koor alat-alat musik yang berjumlah hingga 500 alat musik. Acara ini sudah
dilangsungkan setiap tahun selama lebih dari dua abad dan telah menarik ribuan turis setiap tahunnya sehingga
kota Winston-Salem diberi julukan "Kota Paskah" (Easter City).
Salubong
Di Filipina yang mayoritasnya Katolik Roma, pada hari Minggu Paskah paginya diselenggarakan dengan
perayaan yang penuh sukacita, yang dikenal dengan nama Salubong (Pertemuan). Pada festival tersebut patung
raksasa Maria dan Yesus, dan beberapa orang suci lainnya, diarak di jalanan yang m. Perayaan kemudian
dilanjutkan dengan misa Paskah.
Misa sehari penuh
Di New Mexico, AS setiap tahun, sampai 50 ribu orang berbaris di jalan-jalan di negara bagian tersebut untuk
mencapai sebuah gereja kecil berumur 200 tahun pada fajar Hari Paskah. Ada yang berjalan sejauh 165
kilometer. Gereja ini menyelenggarakan misa sehari penuh tanpa henti, memberikan sakramen komuni suci
untuk semua umat yang datang.
Gua Maria
Di Nusa Tenggara Timur, Indonesia setiap menjelang Paskah, puluhan ribu peziarah mengunjungi Kapel Tuan
Ma di Kota Larantuka, untuk menghormati Mater Dolorosa atau patung Bunda Maria. Selain hari Paskah,
patung ini tidak diperkenankan dilihat untuk umum. Puluhan ribu umat Katolik dari berbagai daerah rela
mengantre berjam-jam untuk dapat masuk dalam Kapel Tuan Ma. Di kapel itu, digelar upacara Muda Tuan atau
pembersihan patung Bunda Maria. Selesai upacara, pintu-pintu kapela dibuka dan umat diperbolehkan masuk
untuk memberikan penghormatan kepada Mater Dolorosa. Di dalam kapela, para peziarah menyalakan lilin
sambil menyanyikan lagu-lagu untuk memuji Mater Dolorosa. Patung Mater Dolorosa hanya dapat dilihat
setahun sekali pada saat menjelang Paskah.


Sebuah prosesi kebangkitan di Sulmona, Italia
Prosesi kebangkitan
Di Polandia, prosesi kebangkitan (Rezurekcja) dimulai pada misa Paskah pagi pada saat lonceng-lonceng gereja
dibunyikan dengan suara nyaring untuk memperingati kebangkitan Yesus. Tradisi yang lain adalah Święconka,
yakni pemberkatan keranjang Paskah oleh pastor pada Sabtu Suci.
Kota Sevile di Spanyol biasanya menyelenggarakan perayaan Paskah yang sangat meriah. Selama Pekan Suci,
prosesi demi prosesi berlangsung di kota tersebut (total 58 prosesi selama Pekan Suci 2007) yang tidak jarang
diikuti oleh 3000 orang per prosesi. Pemain musik ikut dalam iring-iringan tersebut. Prosesi yang paling
terkenal adalah pada Jumat Agung malam.
Selain di Seville, kota-kota lainnya di Spanyol juga terkenal akan tradisi festival Paskah mereka, seperti kota
Málaga, León, Cartagena, Castille, dll. Negara-negara lain yang memiliki tradisi Paskah yang kuat antara lain
Italia, Malta, negara-negara Amerika Tengah dan Amerika Latin.
Telur Paskah
Karena telur tidak diperkenankan untuk dimakan selama masa Pra-Paskah, maka pada hari Paskah telur kembali
disantap bersama-sama, dan pada mulanya diberi warna merah untuk melambangkan sukacita Paskah. Tradisi
ini tidak hanya ditemukan di gereja-gereja Latin, tapi juga Oriental. Pemberian makna simbolis yang
mengkaitkan telur dengan kelahiran baru diperkirakan baru diciptakan lama setelah tradisi ini ada. Tradisi ini
diduga berasal dari/dipengaruhi oleh paganisme. Pada beberapa negara, orang tua-orang tua baptis memberikan
telur Paskah kepada anak-anak baptis mereka. Telur yang bewarna biasanya digunakan sebagai mainan anak-
anak. Di Amerika Serikat terdapat permainan yang cukup populer, yang dikenal dengan sebutan "egg-picking"
(mengambil telur). Permainan yang lain misalnya "egg-rolling" (menggelindingkan telur) yang dilakukan anak-
anak pada Senin Paskah di halaman Gedung Putih di Washington.
[17]

Prosesi membangunkan orang
Di Puy, Perancis, ada tradisi Paskah yang tidak diketahui sejak kapan mulainya, yaitu pada saat menyanyikan
mazmur Matins seorang penyanyi yang menjadi bagian dari koor tersebut absen, maka beberapa penyanyi dan
seorang pendeta akan berjalan membawa salib prosesi dan air suci, lalu pergi ke rumah penyanyi yang absen
tadi, sambil menyanyikan lagu "Haec Dies", lalu memerciknya dengan air suci jika ia masih berada di tempat
tidur, lalu menuntunnya ke gereja. Sebagai hukuman atas absennya, ia harus membuatkan makan pagi untuk
sang konduktor. Tradisi yang serupa juga ditemui di Nantes dan Angers pada abad ke-15; sinode melarangnya
pada 1431 dan 1448
[17]
.


Hidangan Paskah orang Slowakia
Pemberkatan makanan
Di Gereja-gereja Latin dan Oriental, ada tradisi untuk memberkati makanan yang selama masa Pra-Paskah tidak
boleh disantap sebelum memakannya pada hari Paskah, terutama daging, telur, mentega, dan keju
[37]
. Mereka
yang makan makanan tersebut sebelum diberkati, menurut kepercayaan pada masa lampau, akan dihukum oleh
Tuhan
[38]
.
Pemberkatan rumah
Pada malam Paskah rumah-rumah diberkati
[39]
. untuk memperingati tradisi membubuhkan darah domba Paskah
di tiang pintu rumah. Pendeta paroki-paroki (di Eropa) mengunjungi rumah-rumah di keparokiannya; tempat
tinggal Paus juga diberkati pada hari ini oleh Paus sendiri
[40]
.
Tradisi Paskah sekuler
Paskah saat ini telah menjadi salah satu hari raya yang penting secara ekonomi, terlihat dari banyaknya
penjualan kartu Paskah, telur Paskah yang terbuat dari cokelat, serta pernak-pernik serta makanan-makanan
bertemakan Paskah lainnya. Berawal dari Eropa dan Amerika Serikat, tradisi-tradisi Paskah yang sekuler mulai
menyebar ke negara-negara lainnya di dunia, termasuk yang populasi Kristennya sedikit. Hotel-hotel dan pusat-
pusat perbelanjaan banyak mengambil tema Paskah yang terlepas dari unsur kekristenannya.
Di banyak negara-negara berbahasa Inggris seperti Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru tradisi Paskah
yang berlangsung biasanya di seputar telur Paskah. Menghias telur Paskah pada hari Sabtu dan berburu telur-
telur tersebut yang disembunyikan pada hari Minggunya. Selama lebih dari 100 tahun, anak-anak datang ke
halaman Gedung Putih pada hari Senin Paskah, untuk ikut berburu telur Paskah.
Di berbagai daerah di Jerman kelinci-kelinci Paskah dalam bentuk kue-kue dan gula-gula mulai populer di
Jerman Selatan, dan sekarang kue dan gula-gula tersebut amat disukai anak-anak di berbagai macam negara.


Berski saat liburan Paskah di Norwegia
Ski
Di negara-negara Skandinavia seperti Norwegia, Finlandia, Swedia, dan Denmark, banyak orang yang
menjalankan tradisi lama ber-ski pada hari Paskah. Tradisi yang lain adalah mendandani anak-anak kecil
dengan kostum untuk meminta permen ke tetangga-tetangga mereka.


Api Paskah di Balve, Jerman
Api Paskah
Di bagian utara dan timur Belanda (Twente dan Achterhoek) dan di Jerman Utara (Osterfeuer), api Paskah
(Paasvuur) dinyalakan pada Minggu Paskah malam.
Pada zaman dahulu, api Oster dinyalakan di atas gunung (gunung Easter/Osterberg) dan dinyalakan dari api
yang baru pada kayu nodfyr; Ini merupakan tradisi pagan yang menyebar di benua Eropa yang melambangkan
dimulainya musim semi dan berakhirnya musim dingin. Para uskup gereja mengeluarkan larangan terhadap
penyalaan api ini
[41]
, namun tidak berhasil menghapuskan tradisi non-Kristen ini. Gereja lalu mengadopsi
upacara ini, dan memberi lambang yang baru, yaitu memperingati "tiang api" yang menuntun bangsa Israel
keluar dari Mesir dan kebangkitan Yesus; api Paskah yang baru ini dinyalakan pada hari Sabtu Suci dari batu
api, melambangkan batu penutup kubur yang digulingkan ketika Yesus bangkit. Di beberapa tempat di Eropa
sebuah lambang musim dingin dilemparkan ke api, namun di Rhine, Tyrol, dan Bohemia, yang dilemparkan ke
api adalah lambang Yudas
[42]

Olahraga dan perayaan
Jemaat Yunani dan Rusia, setelah melewati masa Pra-Paskah mereka yang panjang, merayakan Paskah dengan
olahraga-olahraga populer; di mana-mana ada musik, tari-tarian, dan aktivitas-aktivitas lainnya. Di Rusia orang-
orang boleh berkunjung ke menara lonceng gereja dan membunyikan sendiri loncengnya khusus pada hari
tersebut, sebuah kesempatan yang jarang dilewatkan oleh penduduk setempat
[17]
.
Bola tangan
Bola tangan merupakan salah satu kegiatan Paskah yang dilakukan di Perancis dan Jerman
[43]
. Bola dapat
melambangkan matahari. Para uskup, pendeta, dan biarawan, setelah melewati masa Pra-Paskah yang ketat,
biasa bermain bola tangan sepanjang pekan Paskah
[44]
. Kegiatan ini disebut dengan nama libertas Decembrica,
karena sebelumnya pada bulan Desember para tuan biasa bermain bola dengan pelayan-pelayan dan gembala-
gembala ternak mereka. Permainan bola tangan tersebut kemudian disambung dengan tari-tarian yang bahkan
diikuti oleh para uskup dan biarawan. Di Inggris, permainan bola ini juga merupakan olahraga favorit Paskah,
namun saat ini tradisi-tradisi tersebut telah menghilang
[45]
.


Pancuran Paskah di Jerman yang dihiasi dengan telur-telur Paskah
Festival Paskah
Kota Salzburg di Austria setiap tahunnya mengadakan Festival Paskah Salzburg (Salzburger Osterfestspiele),
yaitu festival opera dan musik klasik selama pekan Paskah. Festival itu telah berlangsung sejak 1967 dan
diperkuat oleh Die Berliner Philharmoniker (Orkestra Filharmonik Berlin), Gustav Mahler Jugendorchester
(Orkestra Muda Gustav Mahler), dll.
Kelinci Paskah
Kelinci Paskah merupakan simbol pagan dan selalu merupakan simbol kesuburan
[17][26]

Kontroversi seputar Paskah
Di Amerika Serikat terdapat beberapa kelompok yang mengusulkan penggantian istilah Jumat Agung dan
Paskah (Good Friday dan Easter) menjadi Liburan Musim Semi (Spring Holiday). Istilah ini sudah digunakan
pada beberapa sekolah-sekolah negeri di AS. Hal ini dipandang oleh kaum Kristiani sebagai usaha untuk
sekularisasi perayaan keagamaan
[46]
.
Catatan
a.
^
Penyaliban ini dirayakan pada hari Jumat Agung.
b.
^
Jumat (hari I), Jumat sore-Sabtu sore (hari II), Sabtu sore-Minggu pagi (hari III). Umat Yahudi
menghitung hari dimulai ketika matahari tenggelam.
c.
^
Yaitu perayaan selama delapan hari yang memperingati keluarnya bangsa Yahudi dari tanah Mesir
yang dipimpin oleh nabi Musa, sebagaimana tertulis dalam kitab Keluaran di dalam Alkitab.
d.
^
Roti yang digunakan di sini adalah roti biasa yang beragi. cf. Lukas 22:19 menggunakan kata roti
(dalam bahasa Yunaninya arton, dari kata artos - roti biasa beragi - dan bukan azumos - roti tidak
beragi). SarapanPagi: Perayaan Paskah dan Perjamuan yang Terakhir
e.
^
“Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul
untuk memecahkan roti dan berdoa.” Kisah Para Rasul 2:42
f.
^
"Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga
kepercayaan kamu." 1 Korintus 15:14
g.
^
Mulanya gereja Roma dan Aleksandria sama-sama merayakan Paskah pada hari Minggu pertama
setelah purnama pertama setelah hari pertama musim semi. Hari pertama musim semi di Roma jatuh
pada 25 Maret, di Aleksandria pada 21 Maret. Di Antiokhia Paskah dirayakan pada hari Minggu
pertama setelah Paskah Yahudi (14 Nisan).
h.
^
Ini juga merupakan salah satu alasan hari Sabat orang Kristen jatuh pada hari Minggu, bukan hari
Sabtu seperti Sabbath orang Yahudi
i.
^
Mereka masih eksis hingga abad ke-4, ketika akhirnya Yohanes Krisostomos dan Nestorius, uskup
Konsantinopel, menolak kelompok ini, seperti yang dicatat oleh sejarawan gereja Socrates Scholasticus
dalam bukunya: Socrates. "Historia Ecclesiastica". 6.11. dan 7.29. di The Ecclesiastical History of
Socrates, Bell and Sons, London, 1874, p. 318.
j.
^
Menurut perhitungan astronomis titik Musim Semi Matahari, yaitu hari pertama musim semi,
sebenarnya dapat jatuh pada 20-21 Maret, namun konvensi gereja menetapkan tanggal 21 Maret untuk
membantu perhitungan. cf. Montes, Marcos J. "Calculation of the Ecclesiastical Calendar" Diakses pada
2008-01-12
k.
^
Paskah adalah hari Minggu pertama setelah (tidak pernah pada) tanggal 21 Maret, yaitu 22 Maret; jika
18 April merupakan hari Minggu, maka Paskah harus diundur selama sepekan (tujuh hari) hingga 25
April (baik kalender Gregorian maupun Julian).
l.
^
Perbedaannya yaitu penjadwalan penambahan bulan tambahan (bulan embolismik) setiap beberapa
tahun agar tahunnya sama dengan penanggalan surya.

Id.wikipedia.org/wiki/paskah
Diakses pada pukul 23.53 WIB, 16 Mei 2014
Apakah “Paskah (Easter)”?

Versi Cetakan


Banyak orang Kristen sadar bahwa kata “Paskah (Easter)” tidak muncul dalam naskah bahasa asli Ibrani
maupun Yunani. Pada kenyataannya, satu-satunya tempat yang dapat ditemukan adalah di dalam Alkitab bahasa
Inggris, King James Version, yang tertulis:
Kisah Para Rasul 12:4
Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-
masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah (Easter) ia menghadapkannya ke
depan orang banyak.
Bagian ini menggambarkan rencana Herodes untuk menghukum mati Petrus “sehabis Paskah (Easter).” Kata
Yunani untuk “Paskah (Easter)” adalah pascha, yang menunjuk kepada perayaan Yahudi Paskah yang dirayakan
dari hari ke 14 hingga ke 21 bulan Nisan (Kel. 12:18). Dalam terjemahan KJV, tampaknya bahwa “Kisah Para
Rasul sudah jatuh ke tangan seorang penerjemah yang memberlakukan prinsip pemilihan, bukan sesuatu yang
paling benar, tetapi padanan kata yang paling lazim.” Dalam hal ini, fakta bahwa Paskah (Easter) sudah dikenal
baik oleh pembaca abad 17 menjelaskan bagaimana kata itu masuk ke dalam terjemahan KJV, tetapi itu tidak
menolong kita untuk mengerti bahwa Paskah (Passover) dan Paskah (Easter) adalah dua hal berbeda, dan apa
yang dimaksudkan oleh Kisah Para Rasul adalah Paskah (Passover) dan bukan “Paskah” (Easter). Versi Alkitab
modern semuanya menerjemahkan pascha dengan “Paskah” (Passover).
Apa yang kita kenal pada hari ini sebagai perayaan Paskah (Easter) berkembang setelah masa Perjanjian Baru.
Perjanjian Baru tidak menyinggung sebuah perayaan Kristen di mana kematian dan kebangkitan Kristus
dirayakan, tetapi apa yang sungguh kita lihat adalah beberapa orang Kristen mula-mula terus merayakan
perayaan Paskah (Passover). Dalam perjalanan Paulus ke Yerusalem di mana dia ditangkap dan dipenjarakan,
sekitar akhir tahun 50 M, atau 30 tahun setelah kelahiran Jemaat Kristen, banyak orang-orang Kristen di
Yerusalem bangga terhadap fakta bahwa mereka mempertahankan Hukum Taurat.
Kisah Para Rasul 21:20
Mendengar itu mereka memuliakan Tuhan. Lalu mereka berkata kepada Paulus: "Saudara, lihatlah, beribu-ribu
orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat.
Bagi orang-orang Kristen yang “rajin”, mereka taat memelihara Hukum Taurat melalui memperingati perayaan
Paskah (Passover), yang menjadi perayaan peringatan. Bukan lagi berhubungan dengan waktu penantian untuk
penebusan dengan Tuhan di masa depan, tetapi berkaitan dengan peringatan bahwa Dia sudah menyediakan
pembayaran bagi dosa-dosa umat-Nya melalui Kristus. Ini adalah topik yang sangat sensitif bagi orang Kristen
mula-mula, karena tidak semua orang Yahudi yang bertobat dan menjadi Kristen merasa nyaman dengan ide
bahwa Kristus sudah menggenapi hukum Taurat dan mereka tidak perlu lagi berkewajiban untuk memelihara
hukum Taurat. Kemudian Surat-surat Jemaat yang diberikan oleh Tuhan kepada Paulus memperjelas bahwa
tidak perlu lagi berpartisipasi dalam perayaan Yahudi (Kol. 2:16-17). Paulus telah menimbulkan kekacauan
dengan mengajarkan hal-hal seperti “bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya” (Gal. 6:15). Tuntutan yang
diajarkan Paulus kepada petobat-petobat adalah ” melepaskan hukum Musa” telah membuat seluruh kota
Yerusalem berada dalam kegemparan dan mengakibatkan penahanannya (Kis. 21:21).
Sementara itu banyak orang Yahudi yang menjadi Kristen mempertahankan kebiasaan memperingati perayaan
Paskah (Passover), hal itu mungkin membuat petobat orang bukan Yahudi tertarik untuk memperingati
perayaan yang sama sekali tidak diwajibkan oleh Tuhan. Ketika Kekristenan mulai menyebar ke seluruh dunia,
orang-orang Kristen bukan Yahudi mulai merayakan kematian dan kebangkitan Kristus hampir sama dengan
cara orang Yahudi. Namun sayang, seperti yang sering terjadi dengan perdebatan Yahudi-bukan Yahudi,
banyak desakan yang menggiring Kekristenan bertentangan secara radikal dengan mereka yang ingin
mempertahankan akar Kekristenan secara Yahudi. Pada akhirnya, perayaan kematian dan kebangkitan Kristus
disisipi oleh unsur-unsur yang kurang berkaitan dengan perayaan Yahudi atau peristiwa sebenarnya dari
kematian Kristus.
Kontroversi Tanggal
Selama berabad-abad, tanggal perayaan kebangkitan Kristus sangat diperdebatkan. Orang-orang Kristen Yahudi
mula-mula, khususnya yang tinggal di Israel, Siria, dan Timur Tengah, secara alami ingin merayakannya pada
tanggal 14 bulan Nisan, tanggal Paskah (Passover). ”Jemaat-jemaat di Asia Kecil (mengikuti tradisi Yohanes
bahwa kematian Yesus terjadi pada saat pembunuhan domba Paskah [Passover]) yang dirayakan orang Kristen
Pascha pada tanggal 14/15 bulan Nisan, tanpa mempedulikan tanggal itu jatuh pada hari apa.” Praktik ini
menyajikan suatu situasi yang menarik bagi Jemaat. Orang-orang Kristen itu yang mempertahankan tanggal
Yahudi melihat kepada orang-orang Yahudi untuk menentukannya. ”Dalam Yudaisme, kalender yang berlaku
adalah berdasarkan bulan. Setiap bulan, termasuk Nisan, mencakup fase bulan, dan Paskah (Passover) jatuh
pada tanggal 14 bulan itu, yaitu pada saat bulan purnama.

Kata “Paskah” (Easter)
pada dasarnya diadopsi
oleh Jemaat dari
penyembahan berhala.
Penetapan tanggal ini adalah sebuah proses rahasia yang dijaga di dalam Bait Yahudi
dan kemudian dalam sinagoge, dan Kristus memperingati perayaan berdasarkan
kalkulasi ini.” Agar merayakan kematian dan kebangkitan Kristus pada tanggal
Paskah (Passover) yang tepat selama setahun, Jemaat harus bergantung pada orang
Yahudi, sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan. Bukan saja Jemaat harus
memperoleh tanggal itu dari orang Yahudi, tetapi fakta bahwa tanggal 14 bulan Nisan
dapat menjadi satu hari dalam seminggu yang tidak menarik bagi mereka juga.
“Paskah Ibrani (Passover) jatuh pada suatu hari dalam seminggu, dan ini tidak cocok dengan orang Kristen.
Mereka menghendaki suatu Minggu Kudus yang dimulai dengan Minggu Palem, yang diteruskan dengan Jumat
Agung dan diakhiri oleh Minggu Paskah (Easter), memperingati kebangkitan.” Orang-orang Kristen itu yang
berselisih untuk merayakan Paskah (Easter) pada tanggal 14 bulan Nisan dikenal sebagai ”Quarto-
decimanians,” sebagian besar tinggal di bagian Timur Kerajaan Romawi. ”Orang-orang Kristen di barat
merayakan Paskah (Easter) pada hari Minggu, di bagian Timur yang banyak dianut oleh Quartodecimanian dan
lebih memilih tanggal 14 setiap bulan. Ini adalah awal perpecahan yang membagi Gereja Orthodoks Timur
dengan Katolik Roma.” Jadi tanggal untuk merayakan kebangkitan termasuk di antara kontroversi secara
Kristologi yang luar biasa di Dewan Nicaea pada tahun 325. Ketika Yesus Menjadi Tuhan, oleh Richard
Rubenstein, menggambarkan suasana dewan Nicaea ini.
“Satu pertanyaan pokok adalah ini: Sejauh manakah nilai dan kebiasaan dunia kuno yang masih berlaku yang
memimpin pemikiran dan tindakan dalam kerajaan Kristen? Beberapa orang Kristen, di antara mereka adalah
Arius dan Eusebius dari Nicodemia, memiliki kesadaran yang lebih kuat tentang kelanjutan sejarah
dibandingkan yang lain …. Sebaliknya, anti-Arius mengalami kehadiran mereka seperti keretakan yang nyata
dengan masa lalu. Sesungguhnya mereka menuntut agar Kekristenan „diperbarui‟ melalui mengaburkan atau
bahkan menghapuskan perbedaan yang sudah lama diterima antara Bapa dan Anak.”
Dengan semangat yang sama untuk memisahkan diri dari masa lalu, dewan dengan suara bulat memutuskan
bahwa perayaan Kebangkitan tidak akan berdasarkan tanggal Yahudi, tetapi akan jatuh pada hari Minggu
mengikuti bulan purnama setelah musim semi. Menarik sekali, perayaan hari Minggu sama sekali masih
memberikan kesempatan bagi Jemaat untuk merayakan hari yang sama seperti orang Yahudi. Sekali lagi, bagian
Timur dan Barat menangani situasi itu secara berbeda. Bagian Barat menetapkan suatu peraturan bahwa jika
tanggal itu bertepatan dengan Paskah Yahudi (Passover), Jemaat akan menunggu minggu depan untuk
merayakannya. Sebaliknya, bagian Timur terus merayakan meskipun tanggal itu bertepatan dengan Paskah
Yahudi (Passover).
Hingga hari ini masih terdapat ketidaksepakatan mengenai tanggal perayaan Paskah (Easter). Protestan dan
Katolik Roma menetapkan tanggal Paskah (Easter) secara bersamaan, tetapi sehubungan dengan metode
kalkulasi yang berbeda, Gereja Orthodoks Timur merayakannya berbeda tanggal hingga lima minggu dari
jemaat-jemaat Barat. Hasrat untuk mencapai kesatuan Kristen, dalam beberapa tahun terakhir ini, sudah
mengajukan ide tentang sebuah tanggal universal yang tetap bagi semua gereja Kristen.
Unsur Penyembahan Berhala
Bukan rahasia lagi bahwa banyak dari perayaan Paskah (Easter) modern sudah berkembang dari sumber
penyembahan berhala. Kata “Paskah” (Easter) sendiri pada dasarnya diadopsi oleh Jemaat dari penyembahan
berhala.
Kata Inggris Paskah (Easter) dan bahasa Jerman Ostern berasal dari asal mula yang umum ( Eostur, Eastur,
Ostara, Ostar), di mana bagi penduduk Normandia berarti musim dari terbitnya (berkembangnya) matahari,
musim kelahiran baru. Kata itu dipakai oleh nenek moyang kita untuk menunjukkan Perayaan Kehidupan Baru
pada musim semi. Akar yang sama ditemukan dalam nama tempat di mana matahari terbit (Timur, Ost). Maka
kata Paskah (Easter), pada awalnya berarti perayaan matahari bersemi, yang terbit di bagian Timur dan
membawa kehidupan baru di atas bumi. Simbolisme ini dialihkan kepada arti supernatural dari Paskah (Easter)
kita ...”
Pandangan umum lainnya yang diajarkan oleh Bede, sejarawan Inggris pada awal abad 8, adalah bahwa kata itu
berasal dari “Eastre,” seorang dewi Musim Semi bangsa Jerman yang menerima persembahan di bulan April.
Sementara kedua penjelasan itu masuk akal, jelas bahwa kata “Easter” bukan alkitabiah.
Encyclopedic Dictionary of Religion menyatakan bahwa kebiasaan telur Paskah (Easter) mungkin didasarkan
pada pengikut aliran kesuburan di masa kuno (Indo-Eropa), gabungan Persia tentang telur dan musim semi, atau
fakta bahwa beberapa orang Kristen mula-mula berpantang terhadap telur selama masa empat puluh hari
sebelum Paskah (Easter). Tidak sulit dilihat bagaimana orang-orang Kristen dapat mengadopsi telur sebagai
simbol kubur Kristus, atau bahkan hidup mereka yang baru di dalam Dia. Lebih jauh lagi, kelinci adalah
sebelum-Kristen dan menunjukkan kesuburan berhubungan dengan pertumbuhan yang pesat dalam reproduksi.
Kelinci sama sekali tidak diadopsi sebagai bagian dari perayaan Paskah (Easter) “Kristen,” tetapi itu sudah
menjadi simbol dalam banyak kebudayaan. Misalnya Natal, perayaan Paskah (Easter) telah sangat menyimpang
dari peringatan asal tentang kematian Tuhan kita pada tanggal 14 bulan Nisan.
Keseimbangan
Sebagai orang Kristen modern, kita harus memutuskan bagaimana menarik sebuah dunia yang sudah kehilangan
minat terhadap keaslian sejati dari iman kita. Apakah kita harus menghakimi hari-hari libur modern sebagai
penyembahan berhala yang tidak disukai? Atau apakah kita dengan segenap hati harus menerima kebudayaan
kita melalui suatu sikap kerelaan? Sebagaimana dengan begitu banyak hal dalam dunia modern kita, kita harus
menemukan keseimbangan yang membuat kita melatih kerohanian sejati namun masih tercakup dalam budaya
asal kita.
Bayangkan Anda mengatakan kepada orang-orang yang Anda kasihi pada waktu Natal, “Maafkan saya, saya
tidak memberikan hadiah karena saya seorang Kristen.” Atau pada hari Paskah (Easter), ”Saya tidak merayakan
kebangkitan Tuhan pada hari Paskah (Easter) karena saya bukan penyembah berhala.” Jelas, ada beberapa
tingkat pernyataan yang mengada-ada yang dapat dijangkau melalui berusaha menghindari semua unsur non-
Kristen dari kebudayaan kita. Misalnya, dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh The Restored Church of
God berjudul ”Asal usul Paskah (Easter) yang Sesungguhnya,” penulis menyatakan unsur penyembahan berhala
dari perayaan Paskah (Easter) modern, tetapi kita percaya dia menjelaskan terlalu jauh di dalam semangatnya
yang berapi-api untuk menghindari unsur-unsur penyembahan berhala itu. Berkenaan dengan kebaktian subuh,
dia berkata, ”Merayakan kebaktian subuh adalah hal yang serius bagi Tuhan! Dia sangat membenci praktik
yang buruk ini di mana pada akhirnya Dia akan menghancurkan semua yang mempertahankannya (Yeh. 9)!”
Apakah ini Tuhan yang sama yang mengilhami ayat berikut ini?
1 Korintus 8:7 dan 8
“Ada orang, yang karena masih terus terikat pada berhala-berhala, makan daging itu sebagai daging
persembahan berhala. Dan oleh karena hati nurani mereka lemah, hati nurani mereka itu dinodai olehnya.
Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan
kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan."
Tuhan sudah menunjukkan bahwa bukan peragaan dari luar yang dikehendaki-Nya, tetapi pengabdian dari
dalam hati. Kita tahu bahwa Tuhan tidak membangkitkan Yesus dari kematian pada hari Minggu pagi (kejadian
sesungguhnya hari Sabtu antara jam 3 sore dan matahari terbenam), tetapi apakah Tuhan tidak menghormati
hati orang-orang yang mengalami kesulitan bangun pagi di hari Minggu Paskah (Easter), berpakaian, dan pergi
ke tempat kebaktian untuk berdoa, menyanyi dan meneguhkan kebangkitan Tuhan? Kita percaya Dia
menghormatinya.
Alkitab memakai kata yang menarik yang menunjuk kepada kemampuan kita untuk menghubungkan keadaan
yang tidak disinggung secara spesifik – kebebasan (1 Kor.8:9). Ingatlah, bersama dengan kebebasan datanglah
tanggung jawab. Bukanlah dosa jika mempunyai pohon Natal, atau menyembunyikan beberapa telur di halaman
belakang rumah agar anak-anak mencarinya. Mohon dimengerti, kami tidak berkata bahwa mengetahui
kebenaran adalah tidak berharga, namun kami merasa Anda dapat mengenal kebenaran dan tetap merayakan
banyak kebiasaan modern. Misalnya, seorang Kristen dapat mengetahui bahwa Kristus tidak dilahirkan dalam
bulan Desember dan bahwa orang-orang Kristen mula-mula tidak mempunyai pohon Natal, dan tetap memiliki
pohon Natal. Dia dapat mengetahui bahwa Kristus disalibkan pada hari Paskah Yahudi (Passover) tetapi tetap
menunjukkan pengabdiannya kepada Tuhan dalam Kebaktian Subuh. Apa yang harus kita perbuat sebagai
orang Kristen adalah mengajar diri kita sendiri dan orang lain tentang kebebasan sejati yang sudah diberikan
Kristus kepada kita. Banyak orang Kristen sangat diberkati untuk mengambil kesempatan di mana Paskah
(Easter) memberikan hormat kepada Tuhan dan kebangkitan-Nya, dan kita beranggapan bahwa hal itu tidak
masalah bagi Tuhan (dan Tuan Yesus).
Sementara kita mempertimbangkan bagaimana bentuk penghormatan kepada Tuhan dalam musim ini, mungkin
sangat menolong untuk mengingat kata-kata dari Paulus dalam Roma.
Roma 14:5 dan 6
Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap
semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. Siapa yang berpegang
pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan.
Tuhan sudah memberikan kebebasan dari segala keterikatan kepada kita. Jangan biarkan arti sesungguhnya dari
Paskah (Easter) ini hilang dalam timbunan telur dan kelinci dalam dunia sekular (dan coklat – di mana orang
Kristen mula-mula tidak memilikinya), tetapi ingatlah bahwa lebih banyak arti yang sesungguhnya dari
kematian dan kebangkitan Tuhan yang berbicara tentang kebebasan yang sekarang kita miliki untuk
merayakannya dari hati kita, dan berdoa dan bernyanyi untuk memberkati dan menghormati Dia, meskipun kita
melakukannya di hari yang bukan “Paskah (Passover).” Semoga kita memuji Tuhan setiap hari, selama-
lamanya.

www.truthortradition.com/bahasa/modules/php?name.

Asal-usul Penetapan 25 Desember sebagai Hari NATAL - Oleh Ioanes
Rakhmat
7 Desember 2010 pukul 0:36
Sesungguhnya, tidak seorang pun tahu kapan persisnya Yesus dari Nazaret dilahirkan ke dalam dunia ini. Tidak
ada suatu Akta Kelahiran zaman kuno yang menyatakan dan membuktikan kapan dia dilahirkan. Tidak ada
seorang saksi hidup yang bisa ditanyai.

Berlainan dari tuturan kisah-kisah kelahiran Yesus yang dapat dibaca dalam pasal-pasal permulaan Injil Matius
dan Injil Lukas, sebetulnya pada waktu Yesus dilahirkan, bukan di Betlehem, tetapi di Nazaret, tidak banyak
orang menaruh perhatian pada peristiwa ini. Paling banyak, ya selain ayah dan ibunya, beberapa tetangganya
juga ikut sedikit disibukkan oleh kelahirannya ini, di sebuah kampung kecil di provinsi Galilea, kampung
Nazaret yang tidak penting.

Baru ketika Yesus sesudah kematiannya diangkat menjadi sang Mesias Kristen agung oleh gereja perdana, atau
sudah dipuja dan disembah sebagai sang Anak Allah, Raja Yahudi, dan Juruselamat, disusunlah kisah-kisah
kelahirannya sebagai kelahiran seorang besar yang luar biasa, seperti kita dapat baca dalam pasal-pasal awal
Injil Matius dan Injil Lukas (keduanya ditulis sekitar tahun 80-85 M). Penulis Injil Kristen tertua intrakanonik,
yakni Injil Markus (ditulis tahun 70 M), sama sekali tidak memandang penting untuk menyusun sebuah kisah
kelahiran Yesus.

Dalam tuturan penulis Injil Lukas, kelahiran Yesus diwartakan sebagai kelahiran seorang tokoh Yahudi yang
menjadi pesaing Kaisar Agustus, yang sama ilahi dan sama berkuasanya, yang kelahiran keduanya ke dalam
dunia merupakan “kabar baik” (euaggelion) untuk seluruh bangsa karena keduanya adalah “Juruselamat” (sōtēr)
dunia (bdk Lukas 2:10,11 dan prasasti dekrit Majelis Provinsi Asia tentang Kaisar Agustus yang dikeluarkan
tahun 9 M). Dalam tuturan penulis Injil Matius, kanak-kanak Yesus yang telah dilahirkan, yang diberitakan
sebagai kelahiran seorang Raja Yahudi, telah menimbulkan kepanikan pada Raja Herodes Agung yang
mendorongnya untuk memerintahkan pembunuhan semua anak di Betlehem yang berusia dua tahun ke bawah
(Matius 2:2, 3, 16).

Dalam kisah-kisah kelahiran Yesus dalam kedua injil inipun, bahkan dalam seluruh Perjanjian Baru, tidak ada
suatu catatan historis apapun yang menyatakan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Jika
demikian, bagaimana tanggal 25 Desember bisa ditetapkan sebagai hari kelahiran Yesus, hari Natal? Dalam
kebudayaan kuno Yahudi-Kristen dan Yunani-Romawi, ada dua cara yang dapat dilakukan untuk menetapkan
hari kelahiran Yesus.


Cara pertama

Seperti dicatat dalam dokumen Yahudi Rosh Hashana (dari abad kedua), sudah merupakan suatu kelaziman di
kalangan Yahudi kuno untuk menyamakan hari kematian dan hari kelahiran bapak-bapak leluhur Israel. Dengan
sedikit dimodifikasi, praktek semacam ini diikuti oleh orang-orang Kristen perdana ketika mereka mau
menetapkan kapan Yesus Kristus dilahirkan. Sebetulnya, praktek semacam ini berlaku hampir universal dalam
orang menetapkan hari kelahiran tokoh-tokoh besar dunia yang berasal dari zaman kuno. Dalam kepercayaan
para penganut Buddhisme, misalnya, hari kelahiran, hari pencapaian pencerahan (samma sambuddha) dan hari
kematian (parinibbana) Siddharta Gautama sang Buddha dipandang dan ditetapkan (pada tahun 1950 di Sri
Langka) terjadi pada hari yang sama, yakni Hari Waisak atau Hari Trisuci Waisak.

Ketika orang-orang Kristen perdana membaca dan menafsirkan Keluaran 34:26b (bunyinya, “Janganlah engkau
memasak anak kambing dalam susu induknya”), mereka menerapkannya pada Yesus Kristus. “Memasak anak
kambing” ditafsirkan oleh mereka sebagai saat orang Yahudi membunuh Yesus; sedangkan frasa “dalam susu
induknya” ditafsirkan sebagai hari pembenihan atau konsepsi Yesus dalam rahim Bunda Maria. Dengan
demikian, teks Keluaran ini, setelah ditafsirkan secara alegoris, menjadi sebuah landasan skriptural untuk
menetapkan bahwa hari kematian Yesus sama dengan hari pembenihan janin Yesus dalam kandungan ibunya,
sekaligus juga untuk menuduh orang Yahudi telah bersalah melanggar firman Allah dalam teks Keluaran ini
ketika mereka membunuh Yesus.

Kalau kapan persisnya hari kelahiran Yesus tidak diketahui siapapun, hari kematiannya bisa ditentukan dengan
cukup pasti, yakni 14 Nisan dalam penanggalan Yahudi kuno, dan ini berarti 25 Maret dalam kalender
Gregorian. Sejumlah bapak gereja, seperti Klemen dari Aleksandria, Lactantius, Tertullianus, Hippolytus, dan
juga sebuah catatan dalam dokumen Acta Pilatus, menyatakan bahwa hari kematian Yesus jatuh pada tanggal
25 Maret. Demikian juga, Sextus Julianus Afrikanus (dalam karyanya Khronografai, terbit tahun 221), dan
Santo Agustinus (menulis antara tahun 399 sampai 419), menetapkan 25 Maret sebagai hari kematian Yesus.
Dengan demikian, hari pembenihan janin Yesus dalam rahim Maria juga jatuh juga pada 25 Maret.

Kalau 9 bulan ditambahkan pada hari konsepsi Yesus ini, maka hari kelahiran Yesus adalah 25 Desember.
Sebuah traktat yang mendaftarkan perayaan-perayaan besar keagamaan, yang ditulis di Afrika dalam bahasa
Latin pada tahun 243, berjudul De Pascha Computus, menyebut tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran
Yesus. Hippolytus, dalam Tafsiran atas Daniel 4:23 (ditulis sekitar tahun 202), menyebut tanggal 25 Desember
sebagai hari kelahiran Yesus. Sebuah karya yang ditulis dengan tangan, dalam bahasa Latin, pada tahun 354 di
kota Roma, yang berjudul Khronografi, juga menyebut 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus Kristus.

Meskipun banyak dokumen dari abad ketiga sampai abad keempat menyebut tanggal 25 Desember sebagai hari
kelahiran Yesus Kristus, tidak semua orang pada waktu itu menyetujui adanya perayaan hari Natal. Origenes,
teolog Kristen dari Aleksandria, misalnya, dalam karyanya Homili atas Kitab Imamat, menyatakan bahwa
“hanya orang-orang berdosa seperti Firaun dan Raja Herodes yang merayakan hari ulang tahun mereka.” Begitu
juga, seorang penulis Kristen bernama Arnobus pada tahun 303 memperolok gagasan untuk merayakan hari
kelahiran dewa-dewi.

Pada sisi lain, kalangan Montanus menolak kalau kematian Yesus jatuh pada 25 Maret; bagi mereka Yesus
wafat pada 6 April. Dengan demikian 6 April juga hari konsepsi Yesus dalam kandungan Maria, ibunya. Kalau
setelah 6 April ditambahkan 9 bulan, maka hari kelahiran Yesus jatuh pada 6 Januari. Di kalangan Gereja Timur
(yang berbahasa Yunani), berbeda dari Gereja Barat (yang berbahasa Latin), hari Natal tidak dirayakan pada 25
Desember, tetapi pada 6 Januari.


Cara kedua

Sebelum kekristenan lahir dan tersebar di seantero kekaisaran Romawi dan kemudian dijadikan satu-satunya
agama resmi (religio licita) kekaisaran melalui dekrit Kaisar Theodosius pada tahun 381, orang Romawi
melakukan penyembahan kepada Matahari (= heliolatri).

Dalam heliolatri ini, Dewa Matahari atau Sol menempati kedudukan tertinggi dan ke dalam diri Dewa Sol ini
terserap dewa-dewa lainnya yang juga disembah oleh banyak penduduk kekaisaran, antara lain Dewa Apollo
(dewa terang), Dewa Elah-Gabal (dewa matahari Syria) dan Dewa Mithras (dewa perang bangsa Persia).

Heliolatri, yakni pemujaan dan penyembahan kepada Dewa Sol sebagai Dewa Tertinggi, menjadi sebuah
payung politik-keagamaan untuk mempersatukan seluruh kawasan kekaisaran Romawi yang sangat luas,
dengan penduduk besar yang menganut berbagai macam agama dan mempercayai banyak dewa.

Pada tahun 274 oleh Kaisar Aurelianus Dewa Sol ditetapkan secara resmi sebagai Pelindung Ilahi satu-satunya
atas seluruh kekaisaran dan atas diri sang Kaisar sendiri dan sebagai Kepala Panteon Negara Roma.
Menyembah Dewa Sol sebagai pusat keilahian berarti menyentralisasi kekuasaan politik pada diri sang Kaisar
Romawi yang dipandang dan dipuja sebagai titisan atau personifikasi Dewa Sol sendiri.

Dalam heliolatri ini tanggal 25 Desember ditetapkan sebagai hari perayaan religius utama untuk memuja Dewa
Sol, hari perayaan yang harus dirayakan di seluruh kekaisaran Romawi. Ketika winter solstice, saat musim
dingin ketika matahari (Latin: sol) tampak “diam tak bergeming” (Latin: sistere) di titik terendah di kaki langit
Eropa sejak tanggal 21 Desember, persis pada tanggal 25 Desember matahari mulai sedikit terangkat dari kaki
langit dan mulai sedikit demi sedikit beranjak naik ke atas, seolah sang Sol ini hidup atau lahir kembali.
Peristiwa astronomikal ini ditafsir secara religius sebagai saat Dewa Sol tak terkalahkan, bangkit dari kematian,
yang dalam bahasa Latinnya disebut sebagai Sol Invictus (=Matahari Tak Terkalahkan). Dengan demikian,
tanggal 25 Desember dijadikan sebagai Hari Kelahiran Dewa Sol Yang Tak Terkalahkan, Dies Natalis Solis
Invicti. Karena Kaisar dipercaya sebagai suatu personifikasi Dewa Sol, maka sang Kaisar Romawi pun menjadi
Sang Kaisar atau Sang Penguasa Tak Terkalahkan, Invicto Imperatori, seperti diklaim antara lain oleh Kaisar
Septemius Severus yang wafat pada tahun 211.

Nah, ketika kekristenan disebarkan ke seluruh kekaisaran Romawi, para pemberita injil dan penulis Kristen,
sebagai suatu taktik misiologis mereka, mengambil alih gelar Sol Invictus dan mengenakan gelar ini kepada
Yesus Kristus sehingga Yesus Kristus menjadi Matahari Tak Terkalahkan yang sebenarnya. Mereka memakai
teks-teks Mazmur 19:5c-6 (“Ia memasang kemah di langit untuk Matahari yang keluar bagaikan Pengantin laki-
laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya.”), Maleakhi
4:2 (“… bagimu akan terbit Surya Kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya.”) dan Lukas 1:78-19 (“Oleh
rakhmat dan belas kasihan Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya Pagi dari tempat yang tinggi.”)
sebagai landasan skriptural untuk menjadikan Yesus Kristus sebagai Sol Invictus yang sebenarnya.

Dengan jadinya Yesus Kristus sebagai Sol Invictus baru, maka tanggal 25 Desember sebagai hari natal Dewa
Sol juga dijadikan hari Natal Yesus Kristus. Seorang penulis Kristen perdana, Cyprianus, menyatakan, “Oh,
betapa ajaibnya: Allah Sang Penjaga, Pemelihara dan Penyelenggara telah menjadikan Hari Kelahiran Matahari
sebagai hari di mana Yesus Kristus harus dilahirkan.” Demikian juga, Yohanes Krisostomus, dalam khotbahnya
di Antikohia pada 20 Desember 386 (atau 388), menyatakan, “Mereka menyebutnya sebagai „hari natal Dia
Yang Tak Terkalahkan‟. Siapakah yang sesungguhnya tidak terkalahkan, selain Tuhan kita…?”

Selanjutnya, mulai dari Kaisar Konstantinus yang (menurut sebuah mitologi Romawi) pada 28 Oktober 312
melihat sebuah tanda salib dan sebuah kalimat In Hoc Signo Vinces (=“Dengan tanda ini, kamu menang”) di
awan-awan, perayaan keagamaan yang memuja Sol Invictus pada 25 Desember diubah menjadi perayaan
keagamaan untuk merayakan hari Natal Yesus Kristus. Dengan digantinya Dewa Sol dengan Yesus Kristus
sebagai Sol Invictus yang sejati, dan tanggal 25 Desember sebagai hari Natal Yesus Kristus, sang Kaisar
berhasil mengonsolidasi dan mempersatukan seluruh wilayah negara Roma yang di dalamnya warga yang
terbesar jumlahnya adalah orang Kristen, yang, menurut Eusebius, adalah warga “Gereja Katolik yang sah dan
paling kudus” (Eusebius, Historia Ecclesiastica 10.6).

Dan sejak itu juga, para uskup/paus sama-sama mengendalikan seluruh kekaisaran Roma di samping sang
Kaisar sendiri; ini melahirkan apa yang disebut Kaisaropapisme. Kalau sebelumnya heliolatri menempatkan
Dewa Sol sebagai Kepala Panteon yang menguasai seluruh dewa-dewi yang disembah dalam seluruh negara
Romawi dan sebagai pusat kekuasaan politik, maka ketika Yesus Kristus sudah menjadi Sol Invictus pengganti,
sang Kristus inipun mulai digambarkan sebagai sang Penguasa segalanya (=Pantokrator), yang telah menjadi
sang Pemenang (=Kristus Viktor) di dalam seluruh kekaisaran Romawi.


Penutup

Jelas sudah, tanggal 25 Desember bukanlah hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. Seperti telah dinyatakan
pada awal tulisan ini, kembali perlu ditekankan bahwa sesungguhnya tidak ada seorang pun di dunia pada
zaman kuno dan pada masa kini mengetahui kapan persisnya Yesus dari Nazaret dilahirkan. Ketika Yesus baru
dilahirkan, dia bukanlah seorang penting apapun. Hanya beberapa orang saja yang memedulikannya. Hanya
ketika dia sudah diangkat menjadi sang Kristus gereja dan dipercaya sebagai sang Juruselamat dunia, dia baru
menjadi penting dan kisah-kisah hebat tentang kelahirannya pun disusun.

Pada zaman gereja awal dulu, orang tidak sepakat kapan persisnya Yesus dilahirkan, meskipun berbagai cara
penghitungan telah diajukan; dan juga orang tidak selalu sependapat bahwa hari kelahiran Yesus Kristus perlu
dirayakan. Siapapun, dengan suatu pertimbangan teologis kultural, pada masa kini dapat menetapkan sendiri
hari Natal Yesus Kristus buat dirinya dan buat komunitas gerejanya. Sebetulnya, cara merayakan Natal Yesus
Kristus yang sebenarnya adalah dengan menjelmakan kembali dirinya, terutama bela rasanya, dalam seluruh
gerak kehidupan orang yang menjadi para pengikutnya di masa kini.


Sumber <http://www.apakabar.ws/content/view/3449/88888889/>


Natal
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Untuk kegunaan lain dari Natal, lihat Natal (disambiguasi).
Artikel ini merupakan hari raya Kristen yang didasarkan atas peristiwa Kelahiran Yesus
Natal

Kisah Natal menyebutkan kelahiran Yesus di sebuah
kandang di Betlehem.
Dirayakan Mayoritas umat Kristen
Jenis Kristen
Makna
Merayakan kelahiran Yesus (Isa
Almasih)
Tanggal
25 Desember (seluruh dunia)
6 Januari (Armenia)
7 Januari (Ortodoks Timur dan
Katolik)
Perayaan
kebaktian gereja, berkumpul
dengan keluarga, memberi
hadiah
Berhubungan
dengan
Adven; Kelahiran Yesus,
Epifani

Portal Kristen
Natal (dari bahasa Portugis yang berarti "kelahiran") adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap
tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Natal
dirayakan dalam kebaktian malam pada tanggal 24 Desember; dan kebaktian pagi tanggal 25 Desember.
Beberapa gereja Ortodoks merayakan Natal pada tanggal 6 Januari (lihat pula Epifani).
Dalam tradisi barat, peringatan Natal juga mengandung aspek non-agamawi. Beberapa tradisi Natal yang
berasal dari Barat antara lain adalah pohon Natal, kartu Natal, bertukar hadiah antara teman dan anggota
keluarga serta kisah tentang Santa Klaus atau Sinterklas.
Daftar isi
 1 Etimologi
 2 Kelahiran Yesus menurut Alkitab
 3 Asal-mula peringatan Natal
 4 Sejarah
o 4.1 Tanggal
o 4.2 Tahun
 5 Tradisi
 6 Makna Lilin Dalam Natal
 7 Ekonomi
 8 Sosial
 9 Referensi dan pranala luar
o 9.1 Bacaan lebih lanjut
 10 Lihat pula
Etimologi
Kata “natal” berasal dari ungkapan bahasa Latin Dies Natalis (Hari Lahir). Dahulu juga dipakai istilah Melayu-
Arab Maulid atau Milad. Pada negara-negara yang berbahasa Arab, hari raya ini disebut dengan Idul Milad.
Dalam bahasa Inggris perayaan Natal disebut Christmas, dari istilah Inggris kuno Cristes Maesse (1038) atau
Cristes-messe (1131), yang berarti Misa Kristus. Christmas biasa pula ditulis Χ'mas, suatu penyingkatan yang
cocok dengan tradisi Kristen, karena huruf X dalam bahasa Yunani merupakan singkatan dari Kristus atau
dalam bahasa Yunani Chi-Rho.
Dalam Alkitab bahasa Indonesia sendiri tidak dijumpai kata "Natal", yang ada hanya kelahiran Yesus.
Kelahiran Yesus menurut Alkitab
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kelahiran Yesus
Tahun Liturgi
Gereja Ritus Barat
 Adven
 Natal
 Epifani
 Masa Biasa
 Masa Pra-Paskah
o Rabu Abu
 Pekan Suci
o Minggu Palma
o Trihari Suci/
Masa Sengsara
 Kamis Putih
 Jumat Agung
 Sabtu Suci
o Paskah
 Asensi
 Pentakosta
Gereja Ritus Timur
 Eksaltasi Salib
 Puasa Natal
 Natal
 Teofani
 Puasa Besar
 Paskah
 Pentakosta
 Transfigurasi
 Tertidurnya Theotokos
 Perlindungan Bunda Allah
Kotak ini:
 lihat
 bicara
 sunting


Orang majus mengunjungi Yesus, diperingati pada Malam Kedua Belas setelah kelahirannya pada hari Natal.
(Epifani)
Cerita kelahiran Yesus dalam Injil Perjanjian Baru ditulis dalam kitab Matius (Matius 1:18-2:23) dan Lukas
(Lukas 2:1-21).
Menurut Lukas, Maria mengetahui dari seorang malaikat bahwa dia telah mengandung dari Roh Kudus tanpa
persetubuhan. Setelah itu dia dan suaminya Yusuf meninggalkan rumah mereka di Nazaret untuk berjalan ke
kota Betlehem untuk mendaftar dalam sensus yang diperintahkan oleh Agustus, Kaisar Romawi pada saat itu.
Karena mereka tidak mendapat tempat untuk menginap di kota itu, bayi Yesus dibaringkan di sebuah palungan
(malaf)
[1][2]
. Kelahiran Kristus di Betlehem Efrata, Yudea, di kampung halaman Daud, nenek moyang Yusuf,
memenuhi nubuat nabi Mikha (Mikha 5:1-2). (Di Israel purba mereka mengenal ada dua kota Betlehem, kota
Betlehem satunya lagi berada di tanah Zebulon.)
Matius mencatat silsilah dan kelahiran Yesus dari seorang perawan, dan kemudian beralih ke kedatangan orang-
orang majus dari Timur -- yang diduga adalah Arabia atau Persia -- untuk melihat Yesus yang baru dilahirkan.
Orang-orang bijak tersebut mula-mula tiba di Yerusalem dan melaporkan kepada raja Yudea, Herodes Agung,
bahwa mereka telah melihat sebuah bintang -- yang sekarang disebut Bintang Betlehem -- menyambut kelahiran
seorang raja. Penelitian lebih lanjut memandu mereka ke Betlehem Yudea dan rumah Maria dan Yusuf. Mereka
mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur kepada bayi Yesus. Ketika bermalam, orang-orang majus itu
mendapatkan mimpi yang berisi peringatan bahwa Raja Herodes merencanakan pembunuhan terhadap anak
tersebut. Karena itu mereka memutuskan untuk langsung pulang tanpa memberitahu Herodes suksesnya misi
mereka. Matius kemudian melaporkan bahwa keluarga Yesus kabur ke Mesir untuk menghindari tindakan Raja
Herodes yang memutuskan untuk membunuh semua anak di bawah dua tahun di Betlehem untuk
menghilangkan saingan terhadap kekuasaannya. Setelah kematian Herodes, Yesus dan keluarga kembali dari
Mesir, tetapi untuk menghindar dari raja Yudea baru (anak Herodes Agung, yakni Herodes Arkhelaus) mereka
pergi ke Galilea dan tinggal di Nazaret.
Sisi lain dari cerita kelahiran Yesus yang disampaikan oleh kitab Injil Lukas adalah penyampaian berita itu oleh
para malaikat kepada para gembala. Dalam Injil Matius dicatat bahwa ada orang-orang Majus dari Timur datang
ke Yudea karena melihat sebuah bintang yang besar bersinar di atas wilayah Yerusalem. Mereka mengikuti
bintang itu hingga ke kota Betlehem, tempat kelahiran Yesus. Beberapa astronom dan sejarawan telah berusaha
menjelaskan gabungan sejumlah peristiwa angkasa yang dapat ditelusuri yang mungkin dapat menerangkan
penampakan bintang raksasa yang tidak pernah dilihat sebelumnya itu, pendapat yang paling kuat adalah dari
Johannes Kepler, yang menerangkan bahwa Bintang Natal atau Bintang Betlehem itu secara astronomik adalah
konjungsi planet Jupiter dan Saturnus pada konstalasi Pisces. Dan konjungsi ini memang benar terjadi pada
bulan Desember tahun 7 SM. Mula-mula orang-orang Majus itu bertanya-tanya kepada penduduk Yerusalem,
kemudian mereka dibawa menghadap raja Herodes. Raja Herodes bertanya kepada ahli kitab, di mana Mesias
akan dilahirkan. Berdasarkan Alkitab, Mesias akan dilahirkan di Betlehem dan informasi ini dipakai untuk
membantu para orang majus mengetahui letak di mana Yesus dilahirkan. Herodes minta akan setelah bertemu
bayi itu agar mereka kemudian dapat melaporkan kepada Herodes. Tetapi karena mengetahui niat Herodes yang
jahat , para orang majus tidak kembali melaporkan kepada Herodes.
Asal-mula peringatan Natal
Peringatan hari kelahiran Yesus tidak pernah menjadi perintah Kristus untuk dilakukan. Cerita dari Perjanjian
Baru tidak pernah menyebutkan adanya perayaan hari kelahiran Yesus dilakukan oleh gereja awal. Klemens
dari Aleksandria mengejek orang-orang yang berusaha menghitung dan menentukan hari kelahiran Yesus.
Dalam abad-abad pertama, hidup kerohanian anggota-anggota jemaat lebih diarahkan kepada kebangkitan
Yesus. Natal tidak mendapat perhatian. Perayaan hari ulang tahun umumnya – terutama oleh Origenes –
dianggap sebagai suatu kebiasaan kafir: orang orang seperti Firaun dan Herodes yang merayakan hari ulang
tahun mereka. Orang Kristen tidak berbuat demikian: orang Kristen merayakan hari kematiannya sebagai hari
ulang tahunnya.
Tetapi di sebelah Timur orang telah sejak dahulu memikirkan mukjizat pemunculan Allah dalam rupa manusia.
Menurut tulisan-tulisan lama suatu sekte Kristen di Mesir telah merayakan "pesta Epifania" (pesta Pemunculan
Tuhan) pada tanggal 4 Januari. Tetapi yang dimaksudkan oleh sekte ini dengan pesta Epifania ialah munculnya
Yesus sebagai Anak Allah – yaitu pada waktu Ia dibaptis di sungai Yordan. Gereja sebagai keseluruhan bukan
saja menganggap baptisan Yesus sebagai Epifania, tetapi terutama kelahiran-Nya di dunia. Sesuai dengan
anggapan ini, Gereja Timur merayakan pesta Epifania pada tanggal 6 Januari sebagai pesta kelahiran dan pesta
baptisan Yesus.
Perayaan kedua pesta ini berlangsung pada tanggal 5 Januari malam (menjelang tanggal 6 Januari) dengan suatu
tata ibadah yang indah, yang terdiri dari Pembacaan Alkitab dan puji pujian. Ephraim dari Syria menganggap
Epifania sebagai pesta yang paling indah. Ia katakan: “Malam perayaan Epifania ialah malam yang membawa
damai sejahtera dalam dunia. Siapakah yang mau tidur pada malam, ketika seluruh dunia sedang berjaga jaga?”
Pada malam perayaan Epifania, semua gedung gereja dihiasi dengan karangan bunga. Pesta ini khususnya
dirayakan dengan gembira di gua Betlehem, tempat Yesus dilahirkan.
Sejarah
Perayaan Natal baru dimulai pada sekitar tahun 200 M di Aleksandria (Mesir). Para teolog Mesir menunjuk
tanggal 20 Mei tetapi ada pula pada 19 atau 20 April. Di tempat-tempat lain perayaan dilakukan pada tangal 5
atau 6 Januari; ada pula pada bulan Desember. Perayaan pada tanggal 25 Desember dimulai pada tahun 221
oleh Sextus Julius Africanus, dan baru diterima secara luas pada abad ke-5. Ada berbagai perayaan keagamaan
dalam masyarakat non-Kristen pada bulan Desember. Dewasa ini umum diterima bahwa perayaan Natal pada
tanggal 25 Desember adalah penerimaan ke dalam gereja tradisi perayaan non-Kristen terhadap (dewa)
matahari: Solar Invicti (Surya tak Terkalahkan), dengan menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Sang Surya
Agung itu sesuai berita Alkitab (lihat Maleakhi 4:2; Lukas 1:78; Kidung Agung 6:10).
Tanggal


Yusuf, Maria, dan bayi Yesus
Ada pendapat yang berkata bahwa tanggal 25 Desember bukanlah tanggal hari kelahiran Yesus.
[rujukan?]

Pendapat ini diperkuat berdasarkan kenyataan bahwa pada malam tersebut para gembala masih menjaga
dombanya di padang rumput. (Lukas 2:8). Pada bulan Desember tidak mungkin para gembala masih bisa
menjaga domba-dombanya di padang rumput sebab musim dingin pada saat tersebut telah tiba jadi sudah tidak
ada rumput yang tumbuh lagi. Para pendukung tanggal kelahiran bulan Desember berpendapat meski musim
dingin, domba-domba tetap tinggal di kandangnya di padang rumput dan tetap dijaga oleh gembala, dan meski
tidak ada rumput, padang rumput tetaplah disebut padang rumput.
Ada juga pendapat yang berkata bahwa perayaan Natal bersumber dari tradisi Romawi pra-Kristen, peringatan
bagi dewa pertanian Saturnus jatuh pada suatu pekan di bulan Desember dengan puncak peringatannya pada
hari titik balik musim dingin (winter solstice) yang jatuh pada tanggal 25 Desember dalam kalender Julian.
Peringatan yang disebut Saturnalia tersebut merupakan tradisi sosial utama bagi bangsa Romawi. Agar orang-
orang Romawi dapat menganut agama Kristen tanpa meninggalkan tradisi mereka sendiri, atas dorongan dari
kaisar Kristen pertama Romawi, Konstantin I, Paus Julius I memutuskan pada tahun 350 bahwa kelahiran Yesus
diperingati pada tanggal yang sama. Namun pandangan ini disanggah oleh Gereja Ritus Timur, karena Gereja
Ritus Timur sudah merayakan kelahiran Yesus sejak abad ke-2, sebelum Gereja di Roma menyatakan perayaan
Natal pada tanggal 25 Desember.
Oleh karena itu, ada beberapa aliran Kristen yang tidak merayakan tradisi Natal karena dianggap berasal dari
tradisi kafir Romawi, yaitu aliran Gereja Yesus Sejati, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, Gereja Baptis Hari
Ketujuh, Perserikatan Gereja Tuhan, kaum Yahudi Mesianik, dan Gereja Jemaat Allah Global Indonesia. Saksi-
Saksi Yehuwa juga tidak merayakan Natal.
Ada sejumlah naskah kuno yang mencatat bahwa Yesus ditempatkan di rahim Maria tanggal 25 Desember.
[3]

Penafsiran Kitab Hagai mengindikasikan tanggal itu merupakan tanggal datangnya Yesus ke dalam rahim
Maria, yaitu Hagai 2:18-20:

Perhatikanlah mulai dari hari ini dan selanjutnya--mulai dari hari yang kedua puluh empat bulan
kesembilan. Mulai dari hari diletakkannya dasar bait TUHAN perhatikanlah apakah benih masih
tinggal tersimpan dalam lumbung, dan apakah pohon anggur dan pohon ara, pohon delima dan
pohon zaitun belum berbuah? Mulai dari hari ini Aku akan memberi berkat!

Tanggal 24 bulan ke-9 (Kislev) dalam kalender Yahudi jatuh sekitar tanggal 25 Desember dalam kalender
Gregorian.

Meskipun kapan Hari Natal jatuh masih menjadi perdebatan, agama Kristen pada umumnya sepakat untuk
menetapkan Hari Natal jatuh setiap tanggal 25 Desember dalam Kalender Gregorian ini didasari atas kesadaran
bahwa penetapan hari raya liturgis lain seperti Paskah dan Jumat Agung tidak didapat dengan pendekatan
tanggal pasti namun hanya berupa penyelenggaraan kembali acara-acara tersebut dalam satu tahun liturgi, yang
bukan mementingkan ketepatan tanggalnya namun esensi atau inti dari setiap peringatan tersebut untuk dapat
diwujudkan dari hari ke hari.
Tahun
Tahun kalender Masehi diciptakan pada abad ke-6 oleh seorang biarawan yang bernama Dionysius Exignus.
Tahun Masehi yang kita gunakan sekarang ini disebut juga anno Domini (Tahun Tuhan).
Bagaimana ia bisa mengetahui bahwa Tuhan Yesus dilahirkan pada tahun 1 SM? Ia mengambil data dari catatan
sejarah yang menyatakan bahwa pada tahun 754 kalender Romawi itu adalah tahun ke 15 dari pemerintahan
Kaisar Tiberius seperti yang tercantum di Lukas 3:1-2. Data inilah yang dijadikan patokan olehnya untuk
mengawali tahun 1 SM.
Di samping itu ia juga mengambil data dari Lukas 2:1-2 yang menyatakan bahwa Kirenius (Gubenur dari Siria)
pertama kali menjalankan program sensus.
Walaupun demikian masih juga orang yang meragukannya, sebab menurut sejarahwan Yahudi yang bernama
Flavius Yosefus, raja Herodes meninggal dunia pada tahun 4 SM sehingga konsekuensinya tanggal lahir Yesus
harus dimundurkan sebanyak empat tahun. Tapi teori ini pun tidak benar, sebab ia menganalisa tahun tersebut
berdasaran adanya gerhana bulan pada tahun saat Herodes meninggal dunia yang terjadi di Yerusalem pada
tanggal 13 Maret tahun 4 SM.
Tradisi
Banyak tradisi perayaan Natal di barat yang merupakan pengembangan kemudian dengan menyerap unsur
berbagai kebudayaan. Pohon natal di gereja atau di rumah-rumah mungkin berhubungan dengan tradisi Mesir,
atau Ibrani kuno. Ada pula yang menghubungkannya dengan pohon khusus di taman Eden (lihat Kejadian 2:9).
Tetapi dalam kehidupan pra-Kristen Eropa memang ada tradisi menghias pohon dan menempatkannya dalam
rumah pada perayaan tertentu. Tradisi “Pohon Terang” modern berkembang dari Jerman pada abad ke-18.
[4]

Terdapat pula tradisi mengirim Kartu Natal, yang dimulai pada tahun 1843 oleh John Callcott Horsley dari
Inggris. Biasanya dengan gambar yang berhubungan dengan kisah kelahiran Yesus Kristus dan disertai tulisan:
Selamat Hari Natal dan Tahun Baru. Dewasa ini orang memakai teknologi informasi (email) berkirim kartu
Natal elektronik.
Juga dalam rangka perayaan Natal dikenal di Indonesia tradisi Sinterklaas, yang berasal dari Belanda. Tradisi
yang dirayakan pada tanggal 6 Desember ini, berhubungan dengan St. Claus (Santa Nikolas), seorang tokoh
legenda, yang mengunjungi rumah anak-anak pada malam dengan kereta salju terbang ditarik beberapa ekor
rusa kutub membagi-bagi hadiah. Dalam dunia modern, perayaan Natal secara sekuler lebih menekankan aspek
saling memberi hadiah Natal, sehingga ada yang beranggapan Santa Nikolas makin lebih penting daripada
Yesus Kristus. Dalam tradisi Sinterklass Belanda – tokoh yang digambarkan oleh suatu iklan minuman Amerika
sejak tahun 1931 sebagai seorang tua gendut, bercambang putih dan berpakain merah dengan sepatu bot, ikat
pinggang hitam, dan topi runcing lembut ini – menjadi bagian dari acara keluarga (untuk mendisiplin anak-
anak) dengan mengunjungi rumah-rumah disertai pembantu berkulit hitam (Zwarte Pit) yang memikul karung
berisi hadiah untuk anak yang baik; tetapi karung itu juga tempat anak-anak nakal dimasukkan untuk dibawa
pergi. Yang sering kita lihat juga Natal dimeriahkan dengan banyak cahaya lampu berkelap-kelip. Selain untuk
menambah semarak perayaan, ini juga memiliki pemahaman cahaya yang ada, maksudnya adalah Kristus akan
mengusir kuasa kegelapan.
[5]

Berbeda dengan tradisi perayaan Natal di barat, perayaan Natal ritus timur banyak mengandung aspek rohani
seperti puasa, bermazmur, membaca Alkitab, dan puji-pujian. Di Gereja-gereja Arab, boleh dibilang tidak ada
perayaan Natal tanpa didahului puasa. Gereja Ortodoks Syria melakukan persiapan Natal dengan berpuasa
selama 10 hari. Sementara di Gereja Ortodoks Koptik puasanya lebih lama lagi, yaitu sejak minggu terakhir
November. Jadi, sekitar 40 hari. Waktu iftar (buka puasa) pada tanggal 7 Januari pagi. Puasa pra-Natal ini
disebut dengan puasa kecil (Shaum el-Shagir). Meskipun agak berbeda dalam tradisi, secara prinsip cara ini
tidak jauh berbeda dengan cara berpuasa Gereja-gereja Orthodoks lain.
Makna Lilin Dalam Natal


Lilin
Dalam masa Natal, Lilin menggambarkan atau memberikan gambaran tentang Kristus.
[6]
Kristus dilambangkan
sebagai terang bagi dunia yang gelap.
[6]
Di dalam Alkitabpun tertulis tentang terang, di dalam Perjanjian
Lama,Yesaya 9 : 1-6, “terang yang besar”, sedangkan di dalam Perjanjian Baru, Yohanes 1 : 1-18,” terang
manusia”.
[6]

Bukan hanya di dalam peribadahan saja, di rumah-rumah dan di toko-toko kerap di hias dengan lampu-lampu
yang kelap-kelip, hal ini muncul sejak zaman patristik sebagai gambaran akan terang yang mengalahkan
kegelapan.
[6]
Penggunaan lilin dan lampu-lampu kelap-kelip merupakan pengaruh dari pesta cahaya Yahudi
atau Hanukah.
[6]
Hari raya Hanukkah dirayakan sekitar masa Adven dan Natal, dan terkadang sering
diplesetkan dengan istilah Natal Yahudi.
[6]

Ekonomi
Natal biasanya merupakan stimulus ekonomi tahunan terbesar di berbagai negara di dunia. Penjualan barang-
barang meningkat tajam di berbagai area retail, dan pada musim Natal orang-orang membeli berbagai hadiah,
dekorasi, dan persediaan Natal. Industri yang bergantung pada penjualan di musim Natal antara lain kartu Natal,
pohon Natal, dan lain-lain.
Selain kegiatan ekonomi terbesar, Hari Natal di berbagai negara Barat merupakan hari paling sepi bagi dunia
bisnis; hampir semua toko retail, institusi bisnis dan komersial tutup, dan hampir semua industri berhenti
beroperasi. Studio-studio film merilis berbagai film berbiaya tinggi pada musim Natal untuk menghibur orang-
orang, yang sedang berlibur.
Sosial
Selama puasa, jemaat gereja-gereja Koptik, seperti Gereja Koptik Sayidah el-Adzra‟ (Santa Maria), di Madinat
al-Tahrir, Imbaba, Kairo mempunyai kebiasaan hanya makan sekali sehari dengan menu makanan semacam
tempe (dari kacang-kacangan), namanya tamiya atau falafel yang dimakan dengan sepotong roti dan air putih.
Karena itu, uang belanja yang biasanya mereka belikan daging dan menu lumayan mewah lainnya dikumpulkan
dan diserahkan langsung kepada orang orang miskin yang dikoordinasi oleh Gereja.
[rujukan?]


Id.wikipedia.org/wiki/natal

BULAN MARIA DAN BULAN ROSARIO. SAMA ATAU BEDA?
Beberapa tahun yang lalu, ibu saya pulang dari doa rosario lingkungan dengan membawa sebuah “PR”. Malam
itu, sebelum doa rosario lingkungan dimulai, ketua lingkungan kami menjelaskan bahwa bulan Mei adalah
bulan Maria, sedangkan bulan Oktober adalah bulan Rosario. Nah, kemudian ketua lingkungan kami
menugaskan setiap umatnya untuk mencari penjelasan mengapa bulan Mei disebut sebagai bulan Maria,
sedangkan bulan Oktober disebut bulan Rosario. Ibu saya menugaskan saya untuk menjawab PR tersebut, dan
reaksi pertama saya adalah : “Lho, memangnya beda ya? Bukannya bulan Mei dan bulan Oktober sama-sama
disebut sebagai bulan Rosario? Sepertinya waktu sekolah dulu diajarkannya seperti itu deh,,,” Rasa penasaran
membawa kami kepada pencarian di dunia maya, dan disana akhirnya kami mendapatkan jawaban dari PR itu.
Bulan Mei dan Bulan Oktober memang dikhususkan untuk menghormati Bunda Maria, namun bulan Mei
disebut sebagai bulan Maria, sedangkan bulan Oktober disebut bulan Rosario. Apa sebabnya? Ternyata ada
sejarahnya lho.. Pada negara-negara empat musim, terutama yang terletak di bagian utara bumi, bulan Mei
adalah awal musim semi, yang dianggap sebagai permulaan kehidupan. Bulan ini dikaitkan dengan Bunda
Maria yang adalah Ibu dari kehidupan. Sejak abad ke-13, bulan Mei sudah diperkenalkan sebagai bulan Maria,
namun mulai menyebar ke seluruh dunia, sejak devosi ini populer di kalangan para Yesuit sejak abad ke-18.
Ada pula sumber yang mengatakan bahwa pada awalnya di Italia dan Jerman, bulan Mei dikhususkan untuk
penghormatan dewa-dewa. Namun sejak mereka percaya kepada Kristus, kebiasaan ini tetap dilanjutkan, namun
bukan lagi kepada dewa-dewa, melainkan untuk menghormati Bunda Maria.
Pada tahun 1809, Paus Pius VII dipenjarakan oleh pasukan Napoleon. Di dalam penjara, Paus memohon
dukungan doa dari Bunda Maria agar dapat dibebaskan oleh penjara. Paus juga berjanji, apabila ia dibebaskan,
ia akan mendedikasikan perayaan untuk menghormati Bunda Maria. Pada tanggal 24 Mei 1814, Paus Pius VII
dibebaskan dari penjara. Dan pada tahun berikutnya, ia mengumumkan hari perayaan kepada Bunda Maria
sebagai penolong umat Kristen. Pada 30 April 1965, Paus Paulus VI, melalui ensiklik Mense Maio (In the
Month of May; dalam bulan Mei), menyatakan bahwa Bulan Mei dipersembahkan sebagai bulan peringatan
Bunda Allah, juga menegaskan bahwa penghormatan kepada Bunda Maria pada bulan Mei merupakan
kebiasaan yang amat bernilai.
Nah, lantas mengapa bulan Oktober disebut sebagai bulan Rosario? Ini tidak lepas dari sejarah Perang Salib.
Pada tahun 1571, pasukan Turki Ottoman melakukan ekspansi di benua Eropa. Muncul kabar angin yang
berhembus, bahwa jika pasukan Turki menguasai Eropa akan mengakibatkan musnahnya agama Kristen di
Benua Eropa. Pada saat itu, tentara Kristen kalah baik dalam hal jumlah, maupun dalam persenjataan. Don Juan,
salah seorang pemimpin pasukan Kristen di Austria berdoa Rosario dalam menghadapi ancaman ini. Paus Pius
V yang memimpin Gereja pada waktu itu juga meminta seluruh Gereja berdoa rosario kepada Bunda Maria
untuk membantu tentara Kristen. Dan pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama-sama dengan umat
beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore sepanjang hari untuk mendoakan pertempuran di
Lepanto (Teluk Korintus). Dalam pertempuran ini, pada awalnya tentara Kristen sempat kalah, tetapi kemudian
mereka berhasil membalik keadaan, hingga akhirnya berhasil menang. Kemenangan ini memiliki arti penting
karena sejak kekalahan Turki di Lepanto, pasukan Turki tidak melanjutkan usaha menguasai Eropa.
Pada tahun 1573, Paus Gregorius XIII menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai Pesta Santa Perawan Maria Ratu
Rosario sebagai ucapan syukur atas bantuan Bunda Maria bagi kemenangan di Lepanto. Pesta ini awalnya
hanya dilakukan oleh gereja-gereja yang altarnya didekasikan bagi Bunda Maria. Namun pada tahun 1716, Paus
Klemens XI menyebarluaskan perayaan ini hingga ke seluruh dunia.
Paus Leo XIII menetapkan bulan Oktober sebagai bulan Rosario pada tanggal 1 September 1883. Bapa suci
meminta agar seluruh umat mendoakan rosario dan Litani Santa Perawan Maria dari Loreto pada setiap hari di
bulan Oktober agar Gereja mendapat bantuan Bunda Maria dalam menghadapi aneka bahaya yang mengancam.
Pada 22 September 1891, Paus Leo XIII menerbitkan ensiklik October Mense (the month of October; bulan
Oktober), yang menyatakan bahwa bulan Oktober dikhususkan kepada Santa Perawan Maria, Ratu Rosario.
Demikianlah latar belakang mengapa bulan Mei disebut sebagai bulan Maria dan bulan Oktober sebagai bulan
Rosario. Mari kita mencintai Bunda Maria yang senantiasa mendoakan dan menyertai Gereja sampai akhir
zaman.
Sumber :
http://www.hidupkatolik.com/2012/09/17/wajibkah-berdoa-litani-santa-perawan-maria
http://katolisitas.org/5430/mei-dan-oktober-sebagai-bulan-maria
http://denetria.wordpress.com/2008/10/01/bulan-maria-bulan-rosario/

Mei dan Oktober sebagai bulan Maria
15
By Stefanus Tay & Ingrid Tay on Oct 19, 2012 · Tanya-Jawab, TJ: Bunda Maria
Secara tradisi, Gereja Katolik mendedikasikan bulan- bulan tertentu untuk devosi tertentu. Bulan Mei yang
sering dikaitkan dengan permulaan kehidupan, karena pada bulan Mei di negara- negara empat musim
mengalami musim semi atau musim kembang. Maka bulan ini dihubungkan dengan Bunda Maria, yang menjadi
Hawa yang Baru. Hawa sendiri artinya adalah ibu dari semua yang hidup, “mother of all the living” (Kej 3:20).
Devosi mengkhususkan bulan Mei sebagai bulan Maria diperkenalkan sejak akhir abad ke 13. Namun praktek
ini baru menjadi populer di kalangan para Jesuit di Roma pada sekitar tahun 1700-an, dan baru kemudian
menyebar ke seluruh Gereja.
Pada tahun 1809, Paus Pius VII ditangkap oleh para serdadu Napoleon, dan dipenjara. Di dalam penjara, Paus
memohon dukungan doa Bunda Maria, agar ia dapat dibebaskan dari penjara. Paus berjanji bahwa jika ia
dibebaskan, maka ia akan mendedikasikan perayaan untuk menghormati Bunda Maria. Lima tahun kemudian,
pada tanggal 24 Mei, Bapa Paus dibebaskan, dan ia dapat kembali ke Roma. Tahun berikutnya ia
mengumumkan hari perayaan Bunda Maria, Penolong umat Kristen. Demikianlah devosi kepada Bunda Maria
semakin dikenal, dan Ketika Paus Pius IX mengumumkan dogma “Immaculate Conception/ Bunda Maria yang
dikandung tidak bernoda” pada tahun 1854, devosi bulan Mei sebagai bulan Maria telah dikenal oleh Gereja
universal.
Paus Paulus VI dalam surat ensikliknya, the Month of Mary mengatakan, “Bulan Mei adalah bulan di mana
devosi umat beriman didedikasikan kepada Bunda Maria yang terberkati,” dan bulan Mei adalah kesempatan
untuk “penghormatan iman dan kasih yang diberikan oleh umat Katolik di setiap bagian dunia kepada Sang
Ratu Surga. Sepanjang bulan ini, umat Kristen, baik di gereja maupun secara pribadi di rumah,
mempersembahkan penghormatan dan doa dengan penuh kasih kepada Maria dari hati mereka. Pada bulan ini,
rahmat Tuhan turun atas kita … dalam kelimpahan.” (Paus Paulus VI, the Month of May, 1)
Sedangkan penentuan bulan Oktober sebagai bulan Rosario, berkaitan dengan pertempuran di Lepanto pada
tahun 1571, di mana negara- negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman yang menyerang agama Kristen, dan
terdapat ancaman genting saat itu, bahwa agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki
telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Don Juan (John)
dari Austria, komandan armada Katolik, berdoa rosario memohon pertolongan Bunda Maria. Demikian jugaa,
umat Katolik di seluruh Eropa berdoa rosario untuk memohon bantuan Bunda Maria di dalam keadaan yang
mendesak ini. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa
rosario di basilika Santa Maria Maggiore. Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di
Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto. Walaupun nampaknya mustahil, namun pada akhirnya
pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober. Kemudian, Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario
dalam Misa di Vatikan setiap tanggal 7 Oktober. Kemudian penerusnya, Paus Gregorius XIII, menetapkan
tanggal 7 Oktober itu sebagai Hari Raya Rosario Suci.
Demikianlah sekilas mengenai mengapa bulan Mei dan Oktober dikhususkan sebagai bulan Maria. Bunda
Maria memang terbukti telah menyertai Gereja dan mendoakan kita semua, para murid Kristus, yang telah
diberikan oleh Tuhan Yesus menjadi anak- anaknya (lih. Yoh 19:26-27). Bunda Maria turut mengambil bagian
dalam karya keselamatan Kristus Putera-Nya, dan bekerjasama dengan-Nya untuk melindungi Gereja-Nya
sampai akhir jaman.

http://katolisitas.org/5430/mei-dan-oktober-sebagai-bulan-maria