Anda di halaman 1dari 8

Berjalan di Sekitar Ginza

Cerpen: Kurnia Effendi (Sumber: Media Indonesia, Edisi
03/12/2006)
SUDAH empat kali aku menyusuri trotoar yang sama, di tepi
jalan raya di sekitar Ginza, ketika langit mempertemukan
sejumlah awan dengan kandungan hujan. Mulai dari sculpture
berpuncak jam di ujung perempatan hingga restoran John
Manjuro di Ginza Nine. Lalu berbalik arah melalui sisi yang lain,
melewati toko buku Fukuya yang menempatkan kitab-kitab
sastra dan filsafat dekat dengan jendela.
Keiko. Sesungguhnya, di mana kita hendak berjumpa?
Cuaca sedikit muram oleh sisa hujan semalam. Hari menjelang
siang, namun orang-orang berjalan dengan jaket merapat.
Angin berembus seperti mengirim sisa serpih salju dalam
bentuk debu dingin. Beberapa taksi kosong meluncur di tengah
lalu lintas yang bergerak malas.
Aku masih berharap Keiko datang serupa tokoh dalam
dongeng. Muncul dari pintu toko fashion Pal Ziteri. Dari kaca
etalase yang membentang lebar tampak terpajang kimono
rajutan warna merah jambu. Barangkali dia tiba lebih dulu dan
masuk ke toko busana itu, memilih baju musim panas yang
sebentar lagi menggantikan musim gugur. Mungkin dia bisa
sedikit bahagia, menambah rona merah pada pipinya. Selalu
kuingat rekah kelopak sakura setiap kali membayangkan bibir
mungilnya tersenyum.
Sudah pukul sebelas. Tampak dari lingkaran jejak matahari
yang terlindung mendung, mendaki langit kelabu. Sebentar lagi
tiba waktu makan siang dan kafe-kafe akan dipenuhi
pengunjung. Lambungku terasa perih. Untunglah, di Lo Spazio
sempat kunikmati skutel dan omelet sebagai menu sarapan.
Kutinggalkan Keio Plaza agak tergesa karena khawatir Keiko
menunggu. Aku berjalan di antara iringan manusia yang
bergegas menuju stasiun, mirip sebatang dahan kering yang
terbawa arus sungai. Setelah lepas dari subway, kukenakan
topi untuk berjaga-jaga dari gerimis.
Aku tak pernah ingin kamu menunggu! Percayalah!
Aku selalu khawatir, udara dingin akan membuat kulitnya lebih
pucat. Meskipun aku paling suka dengan warna lengannya
yang lebih sering terbuka daripada terlindung sweater.
Kupandang gemas bulu-bulu lembut di lengannya yang
meremang saat angin mengembus santer. Kadang-kadang,
bahkan, ada pikiran untuk menyusuri bagian itu dengan bibirku.
***
SEBAIKNYA kugunakan telepon untuk menghubunginya!
Meskipun Keiko selalu pesan agar aku tidak menempuh jalan
itu. Tapi, bukankah kita tidak semata bermaksud makan siang
di Ginza? Ada serangkaian rute yang lebih jauh, yang akan kita
tempuh. Dan itu tentu memerlukan waktu, juga keberanian.
Lihatlah, aku telah berani memutuskan untuk menunggunya di
sini. Tapi telepon selulernya tidak aktif.
Ah, kadang-kadang aku tak percaya dengan jalan yang kupilih
ini. Seharusnya aku tidak mengulang kunjungan ke Kyoto dua
minggu lalu. Tapi entah mengapa, serasa ada yang
memanggilku untuk melihat Negeri Matahari Terbit ini melalui
detail masa silamnya.
Di situlah aku mengenalmu, Keiko.
Umurnya masih muda, kurasa, tapi parasnya tampak lebih
murung dibanding perempuan seusianya. Mula-mula aku
memandangnya dengan hasrat nakal. Tapi ketika mata kami
saling bersitatap, mendadak aku tidak tega membayangkan
mengulum bibirnya yang merekah merah jambu seperti kuntum
sakura.
Mataku menangkap kegelisahan dari raut wajahnya. Aku
tersenyum. Berusaha menjalin komunikasi dari jarak empat
meter dengan bahasa mata yang bersahabat. Semakin
kutangkap gundah yang membuat parasnya sedikit muram.
Jangan-jangan ia sedang sakit, pikirku. Siapa tahu ia salah
seorang peserta piknik yang terpaksa memisahkan diri, karena
kepalanya pening. Atau janji bertemu seseorang di resto ini, di
antara uap aroma salmon panggang. Pada matanya yang sipit,
kutangkap getaran kegelisahan.
Bolehkah aku mendekatimu?
Ternyata kemudian ia tersenyum. Aku sempat menoleh ke
belakang, mungkin ada seseorang yang menjadi tujuan
senyumnya. Namun tak ada siapa pun selain dinding
lambrisering kayu agatis. Aku pun membalas senyumnya
dengan isyarat: Bolehkah aku duduk di sebelahmu? Ia
mengangguk, menyambut uluran kata-kata bersahabat dari
mataku. Aku pun pindah duduk di depannya, menatap
wajahnya.
“Namaku Harry Sarjono, dari Solo.” Aku memperkenalkan diri.
“Solo?”
“Central Java, Indonesia.”
“O,” perempuan itu mengangguk. “Hirayama Keiko.”
“Nama yang indah.”
Ia tersenyum. Antara setuju dan tidak. Karena nama indah
belum tentu dimiliki oleh perempuan dengan nasib yang indah.
“Would you like to help me?,” katanya kemudian.
“If you don’t mind.”
“Tentu. Apa yang dapat kubantu?” Aku terperanjat dengan
keterusterangannya. Teringat film The Last Samurai,
perempuan Jepang dalam kisah itu sama sekali tidak berani
bersuara, bahkan untuk membela kematian suaminya.
“Aku harus ke rumah sakit. Perlu setengah jam untuk
menempuh yang terdekat.”
Ah, benar dugaanku. Dia sedang sakit. Tapi, dengan siapa dia
datang ke Kyoto?
“Apakah kamu perlu pamit dengan teman-temanmu?”
Ia menggeleng. “Tidak usah. Aku tadi pergi sendiri.”
“Kalau begitu, ayo berangkat!” Aku memanggil pramusaji dan
membayar minuman. Kemudian segera mengiringi Keiko keluar
dari resto yang ramai itu. Untuk menuju rumah sakit terdekat,
kami memilih naik taksi.
“Apa yang kamu rasakan? Kulihat wajahmu pucat.” Aku
meminta sopir untuk mempercepat perjalanan.
“Entahlah. Aku hanya ingin pergi sejauh-jauhnya.” Keiko
memejamkan mata.
“Hai, apa yang terjadi padamu? Kenapa kita ke rumah sakit?”
Aku memandang heran kepadanya. Perempuan muda
berwajah mungil itu tak pantas menerima penderitaan yang
membuatnya perlu minggat.
“Aku mau menggugurkan kandungan,” katanya dingin.
Astaga! Ucapannya membuat sekujur tubuhku seolah beku.
Belum sampai setengah jam mengenalnya, telah kumasuki
pusaran persoalan. Aku tercengang. Siapa yang telah
menghamilinya? Kekasihnya? Suaminya? Atau penjahat telah
memerkosanya?
“Dia tak hendak menikah denganku,” ujarnya sedih.
“Kenapa? Bukankah semestinya kalian saling mencintai?”
Dalam kepalaku berkecamuk semacam badai kecil. Mereka
pasti sepasang kekasih!
“Benar. Tapi dia harus menikah dengan orang lain.” Kini
matanya mulai basah.
“Tentu ada yang tak beres dengan hubungan kalian. Campur
tangan atau paksaan dari pihak lain. Orang tua? Rasanya itu
hanya terjadi di negeriku tempo dulu….”
“Ceritanya panjang. Menyangkut utang budi dan sesuatu yang
sangat rumit. Kupikir aku masih bisa memilih jalan yang lebih
masuk akal ketimbang bunuh diri.” Keiko tersedu.
Secara impulsif, tanganku terulur ke belakang kepalanya. Lalu,
seperti telah bertahun-tahun saling mengenal, Keiko
menyusupkan wajahnya ke dadaku. Tangisnya pecah. Air
matanya tumpah. Dan kini kemejaku basah.
“Apakah kamu punya saudara, Keiko?” bisikku.
“Ada seorang kakak, laki-laki, tapi sudah setahun meringkuk di
penjara,” suaranya mulai serak. “Narkoba.”
Kutahan rasa terkejutku untuk kesekian kali. Tapi, aku tak
harus percaya. Boleh jadi ini awal sebuah penipuan. Tentu ia
akan kecewa luar biasa, karena aku hanya seorang akuntan
yang mendapat kesempatan pelatihan di kantor pusat, di
Tokyo, selama dua bulan. Mengapa memilih korban orang
asing yang justru memperumit keadaannya?
“Di mana kamu tinggal?” Kuusap air matanya, sekaligus
terkenang adikku yang mungkin seusia dengannya. “Maaf,
apakah kamu masih memiliki orang tua?”
“Hanya seorang ibu, yang kecewa karena ditinggal pergi Ayah.
Entah apa yang diharapkan dari seorang bekas geisha.” Keiko
menggeleng. “Aku tinggal di Ginza.”
“Kalau begitu kita pulang ke Ginza. Kita ke stasiun.”
“Tidak!” protes Keiko keras. “Aku mau ke rumah sakit. Kalau
memang tak mau menolongku, aku bisa pergi sendiri!”
“Tenanglah, Keiko. Itu bukan satu-satunya jalan keluar. Banyak
cara untuk melepaskan diri dari masalah, tanpa harus
mengorbankan makhluk yang tak berdosa.”
Keiko melepaskan diri dari pelukan. Ia membalikkan badan,
wajahnya rebah ke jendela dengan rambut masai menutupi
pipi. Taksi terus melaju di atas highway dengan kecepatan
seratus kilometer per jam. Untuk beberapa saat kubiarkan
suasana sunyi. Mimpi apa aku semalam? Di awal aku terpikat
wajah Keiko, terbit hasrat untuk tidur dengannya di bawah
lampu temaram, iringan musik syahdu Kitaro, dan aroma
parfum Issey Miyake. Memasuki pusaran ombak nasibnya,
justru ingin kulindungi dia.
“Keiko, dengarlah!” Kusentuh lembut pangkal lengannya yang
terbuka, dengan bulu-bulu halus keemasan. Bergetar
perasaanku. “Aku yang akan bertanggung jawab, asal tidak
kamu lanjutkan niatmu untuk aborsi.”
Perlahan Keiko memutar badan. Ia menatapku dengan sinar
mata yang ganjil. Disibak rambutnya, lalu menggeleng. “Aku
hanya minta bantuanmu mengantar ke rumah sakit. Selebihnya
menjadi tanggung jawabku sendiri.”
Ternyata keras kepala juga! Kunilai perempuan ini pintar,
karena tak semua warga Jepang menguasai bahasa Inggris
dan mau bicara dengan orang asing tanpa bahasa Jepang.
Tapi, apakah yang disampaikan sepanjang jalan hanyalah fiksi
semata?
“Keiko, mungkin aku bukan lelaki yang pantas dipercaya. Tapi
kamu telah memilihku. Maka sebaiknya percayalah kepadaku.”
“Percaya untuk apa?”
“Jika kamu tak mau pulang ke rumah, kita menuju hotel
tempatku menginap.”
Usulku membuatnya terbelalak.
“Maaf, aku akan minta kamar dengan dua tempat tidur.”
Keiko memandang dengan cahaya mata sayu. “Tapi kamu
bukan siapa-siapa. Aku tidak tahu siapa kamu. Aku hanya
minta tolong menemani.”
Kututup mulutnya dengan tangan. Aku menatap serius pada
sepasang matanya.
“Kamu akan segera tahu siapa aku, asalkan tidak ke rumah
sakit. Jangan
khawatir.”
Aku tidak menunggu jawaban atau protesnya. Segera kuminta
taksi mengubah arah menuju stasiun. Kami akan mengejar
jadwal kereta api Nozomi, agar tak sampai tiga jam tiba di
Tokyo. Menuju Keio Plaza.
***
KINI hampir jam dua belas. Kegelisahanku memuncak. Tak
mungkin Keiko tak datang tanpa suatu aral. Aku menyesal
telah membiarkan dia pamit pulang ke Ginza. Bukankah dia
lebih aman berada di kamar hotel? Aku ikut pelatihan hanya
sampai jam tiga sore, selebihnya kami bisa menghabiskan
waktu di bar, atau tetap diam di kamar.
Apakah… apakah karena kemarin malam kami telah
mengarungi pengalaman yang melampaui batas? Bukankah
kita sepasang manusia yang memiliki perasaan dan hasrat
seperti yang lain? Ketika hujan menampar kaca jendela hotel,
muncul alasan untuk bergabung dalam satu tempat tidur.
Ketika selimut gagal mencegah hawa dingin yang mencakar
kulit, embusan napasnya hangat menyapu leher. Dan ternyata
kelopak bibirnya yang mirip kuntum sakura itu bergetar ketika
kucium. Semula kami merasa kedinginan, namun berakhir
dengan pakaian yang berserakan di lantai.
Aku mengusap rambut di keningnya sambil menyampaikan
maaf. Keiko tersenyum. Cahaya temaram lampu tidur membuat
wajahnya berwarna kuning telur. Kemudian ia sembunyikan
wajahnya ke leherku. Sebagian besar kulit tubuhnya menempel
di kulit tubuhku, sampai tiba pagi.
Di meja breakfast, Keiko menjadi pendiam. Seperti embun
yang tertahan pada pangkal daun. Mungkin ia melamunkan
sesuatu. Ini baru terjadi setelah selama lebih sepekan
bersama-sama. Karena biasanya dia ungkapkan segala
sesuatu yang mengganggu perasaannya. Sebagaimana cerita
cintanya mengalir seperti air ke hilir.
“Apa yang kamu pikirkan, Keiko?” Kusuapkan buah prune ke
mulutnya.
Ia mengunyah sebentar. “Aku mau pulang. Aku pasti dicari
ibuku.”
“Benar itu keinginanmu? Bukan karena marah padaku?”
Keiko menggeleng perlahan.
“Aku akan mengantarmu. Agar kamu tidak berubah pikiran di
tengah jalan.” Aku tersenyum. Tapi Keiko cemberut. Dan
ternyata aku juga suka melihatnya cemberut.
“Aku akan pulang sendiri. Kamu harus bekerja. Percayalah,
pasti aku akan sampai ke rumah. Aku lebih hafal tempat di
sini.”
Tentu.
Tapi, sesungguhnya karena aku ingin terus bersamamu.
Mungkinkah aku telah mencintainya? “Kalau begitu, kita jalan
bersama ke stasiun.”
Ya. Akhirnya, tiga hari yang lalu Keiko meninggalkanku. Di
stasiun subway kami berjanji akan bertemu lagi hari Sabtu di
sekitar Ginza. Antara sculpture berpuncak jam sampai restoran
John Manjuro. Tidak hanya janji bertemu, tetapi merencanakan
perjalanan yang lebih jauh.
Tapi kamu tak kunjung tiba, Keiko.
Apakah aku terlambat? Padahal aku sudah sampai di jalan ini
sejak pukul tujuh pagi. Berdiri menunggu di ujung perempatan.
Menunggu sambil membaca judul-judul buku puisi di jendela
toko buku Fukuya. Atau sengaja berdiri di depan kedai suvenir
sembari memandang jalan raya. Kuteliti setiap taksi yang
berhenti.
Aku ingin mengajakmu makan dimsum di restoran John
Manjuro. Kubayangkan mulutmu yang serupa kuntum sakura
itu mengunyah udang mentah dari mangkuk tembikar basah.
Aku akan mencium mulut yang belum selesai mengunyah itu.
Sebagian remah udang dalam mulutmu akan masuk ke dalam
mulutku. Membayangkan Keiko tertawa, dengan sepasang
mata menghilang. Lalu kupandangi bulu-bulu halus keemasan
yang meremang di kulit lengannya.
Kembali lambungku meruyak oleh panggilan lapar. Tapi aku
terus berjalan di sepanjang trotoar, di sekitar Ginza. Karena
aku takut kehilangan kesempatan melihat Keiko datang. Aku
masih berharap Keiko muncul serupa tokoh dalam dongeng.
Tentu dengan baju tanpa lengan, meski angin dingin santer
bertiup. Seperti mengirim sisa serpih salju dalam bentuk debu
dingin.
Mungkin aku benar-benar mencintaimu, Keiko.
***