Anda di halaman 1dari 1

Tugas dr.

Bestari J Budiman, SpTHT-KL
Oleh: Putri Mira Magistri – 1010312009
1. Patogenesis super infeksi staphylococcus sehingga menyebabkan terjadinya rinosinusitis
kronis
Patofisiologi dasar penyakit rinosunisitis kronis adalah adanya suatu gangguan mukosa
di dan sekitar ostium di regio meatus media akibat reaksi radang pada hidung yang
berkelanjutan. Patogenesis dari rinosinusitis kronis berawal dari adanya suatu inflamasi dan
infeksi yang menyebabkan dilepasnya mediator seperti vasoactive amine, protease,
arachidonic acid metabolit, immune complex, dan lainnya.
Bila adakelainan anatomi seperti deviasi atau spina septum, konka bulosa atauhipertrofi
konka media maka celah yang sempit itu akan bertambah sempit sehingga memperberat
gangguan yang ditimbulkannya. Hal tersebut menyebabkan terjadinya kerusakan mukosa
hidung dan akhirnya menyebabkan disfungsi mukosiliar yang mengakibatkan stagnasi
mukosa sehingga bakteri semakin mudah untuk berkolonisasi dan infeksi akan kembali
terjadi. Bila sumbatan berlangsung terus akan terjadihipoksia dan retensi lendir sehingga
bakteri anaerob akan berkembang baik. Transudat yang terbentuk sebagian diresorbsi oleh
submukosa sehingga akan menambah udema submukosa dan sebagian lagi akan
terperangkap didalam rongga sinus. Tekanan oksigen yang rendah jugaakan mengganggu
fungsi sinus dimana kelumpuhan gerak silia ini akanmenambah timbunan transudat didalam
rongga sinusTransudat yang tertimbun, kadar oksigen yang terendah, gerak silia yang
berkurang dan sempitnya ostium merupakan kondisi yang baik untuk pertumbuhan kuman.
Infeksi dapat terjadi dari bakteri Staphylococcus. Bakteri ini normalnya ditemukan pada
kulit dan sesekali pada hidung. Staphylococcus memproduksi superantigen yang dapat
mengakibatkan respon inflamasi. Respon imun terhadap adanya Staphylococcus dapat
mencetuskan terjadinya polip nasal